Ichizuki…
Happy Reading…
Chapter 7
Pairing : SasuNaru, SasuSaku, NaruSaku
Rated : T
Genre : Angst/Humor
Warning : AU, OOC, MPREG, Straight, BL, Alur cepat, Bahasa sulit di mengerti
DON'T LIKE! DON'T READ !
"Naruto..."
"Ya?"
"Kau…ha…mil…"
"Se…lamat…ya…"
Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
WAY OUT
By Ichizuki_Takumi
Naruto POV
'DEG' Jantungku berdetak lebih kencang.
"Ha…..ha…ha ha ha hahahhha….." tawaku. Sakurapun juga ikut tertawa. Bahkan Sasuke yang biasanya dingin juga ikut tertawa. Tapi satu yang perlu di garis bawahi. Kami tidak tertawa karena bahagia, tetapi kami tertawa kengerian. Tidak percaya dengan apa yang terjadi. Apalagi aku yang mengalaminya. Laki-laki mana yang tidak terkejut dengan berita seperti itu?
End of Naruto POV
"Ha..ha..ha..kau pasti bercandakan Sakura?" tanya Naruto di sela tawanya.
"Ha..ha..aku tidak bercanda lho..."
"…"
"…"
"…"
Hening….
Kini pikiran Naruto sedang berada di galaxy Andromeda jarak yang sangat-sangaaaat jauh dari bumi kita. Tiba-tiba pikiran Naruto kembali lagi dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.
"Tidak-tidak-tidaaaak…. Tidak mungkin aku hamil. Hanya perempuan yang hamil. Aku ini laki-laki!" seru Naruto histeris.
"Sudahlah Naruto, tenangkan dirimu."
"Apa kau bilang, Teme? Tenang? Kau pikir bisa tenang kalau kau di vonis seperti itu?"
"Ambil hikmahnya saja?" ujar Sasuke santai.
"Emang ada hikmahnya?" tanya Naruto yag sedikit tenang.
"Hn."
"Apa?"
"Mungkin saja kau sebenarnya perempuan?" mendengar komentar Sasuke, Naruto dan Sakura sweatdroped berjamaah.
'Tak ku sangka, Sasuke yang bisanya pintar, jadi bodoh begini kalau manyangkut masalah Naruto,' batin Sakura.
"Benarkah?" ternyata Naruto percaya begitu saja dengan ucapan Sasuke.
'Apa suami-suamiku ini tidak ada yang normal?' batin Sakura. 'Mereka memang tidak normal, sampai pikiran mereka juga ikut tidak normal.'
"Mungkin saja," ujar Sasuke.
Mendengar ucapan Sasuke, Naruto pun hendak membuka resleting celananya, tapi dia langsung berbalik membelakangi Sasuke dan Sakura saat mata mereka mengikuti gerakan tangan Naruto.
"Teme, tapi aku masih punya *piiiip* (di sensor)" ujar Naruto saat melihat dibalik resletingnya, tanpa menurunkan celana.
'Naruto bodoooh…mengatakan hal seperti itu di depan wanita. Meskipun aku ini istrinya, tetap saja jangan mengatakan hal itu. Dasar tidak tau malu!' batin Sakura yang wajahnya memerah.
"Apa iya? Coba, mana ku lihat?" Sasuke berjalan mendekati Naruto.
'Ini dia, sang seme beraksi. Mana ponselku, mana-mana?' inner Sakura. 'Ah, ini dia ketemu,' Sakurapun merekam apa yang ada didepannya, meski di punggungi.
"Hmm…benar juga," ujar Sasuke yang melihat dari sela pundak Naruto.
"Iya kan?"
"Tapi punyamu kecil."
*Blusshh* wajah Sakura merah padam.
"Yang pentingkan aku punya."
"Biar ku pegang."
'Aku tidak tahan lagi…. Hidungku mau keluar (maksudnya darahnya)' inner Sakura yang masih terus merkam, tangan kirinya kini menutupi lubang hidungnya agar tidak mimisan.
"Hei…apa-apaan kau? Jangan sembarangan pegang punya orang, dasar mesum!" seru Naruto saat tangan Sasuke akan beraksi. Naruto langsung menutup resletingnya dan berbalik.
"Sakura, kau sakit?" tanya Naruto saat melihat wajah Sakura yang merah padam dan melihat tetesan darah yang mengalir dari balik tangannya.
"T-tidak…" ujar Sakura gelagapan. Dia menyimpan kembali ponselnya dan mengambil tisu yang ada di meja untuk mengelap darahnya.
Naruto pun sadar dengan apa yang terjadi barusan, wajahnya ikut memerah. 'Sial, aku mengatakan hal seperti itu di depan Sakura. Kurang ajar si Teme, aku telah terjebak olehnya. Dasar Teme Mesuuuumm…' teriak Naruto dalam hati.
"Duduklah," ujar Sasuke sambil menuntun Naruto untuk duduk disampingnya. "Tidak usah di pikirkan lagi, itu hanya akan menjadi beban untukmu. Lebih baik besok kita periksakan saja keadaanmu, mungkin saja hal ini hanya kebetulan."
"Emm," Naruto mengangguk.
"Sakura, besok kau juga ikut. Kau tidak bisa memeriksa dirimu sendirikan?" tanya Sasuke pada Sakura. Sakura mengangguk sebagai jawaban.
"Eh, tapi kenapa aku tidak di periksa oleh Sakura saja?" tanya Naruto.
"Kau bodoh atau apa Dobe?" bibir Naruto manyun mendengar ucapan Sasuke. "Besok bukan jadwal prakteknya Sakura. Apa kau belum hafal juga setelah selama ini?"
"Uhh," jantung Naruto serasa tertusuk.
"Sudah-sudah, kalian ini," kata Sakura. "Kebetulan sekali besok ada dokter laki-laki yang praktek."
"Laki-laki? Apa ada? Ini dokter kandungan lho, Sakura," kata Naruto.
"Kalau hanya dokter kandungan, yang laki-laki juga ada. Tapi kalau dokter bersalin, mungkin jarang ada," terang Sakura.
"Oh…" Naruto hanya ber'oh' ria. "Baiklah kalau begitu, aku jadi tidak malu karena yang memeriksaku bukan perempuan."
"Hn," kata Sasuke. *Entah apa maksud 'Hn'-nya.
Siang hari di hari berikutnya, UUH family pun tiba di RS Konoha.
"Sakura?" seru seorang wanita yang memanggil Sakura. Sakura menghentikan langkahnya kemudian menoleh. SasuNaru pun ikut menoleh mengikuti arah pandangan Sakura.
"Ino, ada apa?"
"Harusnya aku yang tanya, hari ini kan tidak ada jadwal untukmu?"
"Aku tau. Aku kesini karena ada urusan lain."
"Apa?" tanya Ino penasaran.
"A-aku mau periksa…." Ucapan Sakura pun terpotong.
"Kau hamil, Sakura," teriak Ino kaget. Setelah mendapat anggukan dari Sakura, Ino langsung memeluk sahabatnya itu. "Selamat ya…aku tidak menyangka kau akan hamil diusia yang semuda ini."
"Kau jangan nyindir, masa umur 21 tahun masih muda?"
"Ya iyalah, kau pikir berapa seharusnya seorang perempuan menikah?"
"Umm, 25?"
"Yup, jadi kau itu masih muda, Sakura. Oh iya, ngomong-ngomong siapa yang jadi ayahnya?" tanya Ino menggoda.
"Umm…itu…" wajah Sakura memerah.
"Aku," seru Naruto bangga.
"Eh, ternyata kalian juga ikut ya? Maaf, tadi aku tidak melihat kalian. Malah keasyikan ngobrol, hahaha…" UUH family hanya sweatdroped mendengar ucapan Ino. "Jadi kamu ayah dari bayi yang dikandung Sakura?" kata Ino pada Naruto. "Sepertinya kau kalah cepat, Sasuke," lanjutnya.
"Hn, tidak juga," kata Sasuke dengan seringainya.
"Ha?" kata Ino tak mengerti.
Sasuke pun menarik pinggang Naruto untuk mendekat. "Aku akan menjadi ayah dari bayi di dalam sini," kata Sasuke sambil mengelus perut Naruto.
"Apaan sih, Teme? Malu tau…" kata Naruto sambil melepas pelukan Sasuke.
Ino diam seribu bahasa. Tidak tau mau berkata apa.
"Sasuke, Naruto, kalian duluan saja. Ruang prakteknya ada di ujung lorong setelah belokan itu," kata Sakura sambil menunjukkan arahnya. "Nanti aku akan tunggu kalian di ruang perawat."
"Hn." Sasuke dan Naruto pun meninggalkan Sakura dan Ino.
"Hei Ino, tidak usah sekaget itukan kalau Naruto hamil?" ujar Sakura pada Ino yang masih terpaku memandang kepergian SasuNaru.
"Sakura?" lirih Ino.
"Ya?"
"Kyaaaa…..Sakura kau beruntung sekali punya suami-suami seperti mereka," teriak Ino. Sekarang Sakura lah yang bengong. "Aku tidak bisa membayangkan kau tiap hari di suguhi pemandangan mesra mereka berdua."
"Ha? Aku pikir kau tadi kaget mendengar Naruto yang hamil," kata Sakura memastikan.
"Kalau yang itu sih aku memang sedikit kaget. Tapi yang bikin aku lebih kaget adalah adegan mesra mereka tadi..."
"Ku pikir apa, ternyata…"
"Sakura?"
"Apa?" jawab Sakura malas.
"Aku boleh minta foto mereka berdua? Kau pasti punya kan? boleh ya?" kata Ino dengan puppy-eyes.
"Tatapanmu mengerikan, Ino."
"Huh, biarin. Tapi kamu pasti punyakan?"
"Memangnya kenapa? Jangan-jangan kau mau memeletnya?"
"Jangan ngawur. Begini-negini aku tidak percaya dengan hal begituan."
"Trus buat apa?"
"Hehe…untuk koleksi…"
"Kau suka mengoleksi begituan?" tanya Sakura ngeri.
"Yup. Terserah kau mau berkata apa, tapi jangan bilang siapa-siapa."
"Ino… ternyata kita sama," kata Sakura terharu.
"Benarkah?"
"Emm," Sakura menganggukkan kepalanya.
"Kyaaa…" jerit mereka sambil berpelukan.
"Tak ku sangka kau juga seorang fujoshi. Sejak kapan kau jadi fujoshi? Setahuku dulu kau paling anti dengan hal seperti itu?"
"Huh, salahkan saja pada suami-suamiku, gara-gara mereka aku jadi seperti ini."
"Jadi…"
"Apa?" tanya Sakura bingung. "Oh…itu…" kata Sakura setelah mengerti maksud Ino.
"Hehe…" Ino hanya nyengir kuda.
"Akan ku tunjukkan semuanya padamu. Ingat, hanya padamu."
"Yeeiiyy…"
Sakura dan Ino asyik dengan kegemaran mereka itu. Sampai Ino lupa memberitahukan sesuatu (yang mungkin penting) pada Sakura.
Di sisi lain, Sasuke dan Naruto sedang berjalan menuju tempat yang tadi di tunjukkan oleh Sakura.
"Dobe."
"Apa?"
"Aku ke toilet dulu."
"Jangan lama-lama."
"Hn," Sasuke berbelok kearah yang berbeda dengan Naruto. dia menuju ke toilet yang paling dekat dengan tempat itu.
Naruto terus berjalan sampai disebuah tempat yang dirasa benar dengan petunjuk Sakura.
"Permisi?" kata Naruto sambil memasuki ruangan. "Saya sudah membuat janji dengan dokter Sai," lanjutnya sambil berjalan mendekati orang yang duduk di balik meja kerjanya.
"Oh, anda Tuan Uzumaki Naruto? Silahkan duduk," ucap Dokter yang bernama Sai.
"Jangan panggil saya tuan, saya masih 21 tahun," jelas Naurto sambil duduk di kursi yang sudah disediakan untuk pasien.
"Kalau begitu Naruto-kun, ada yang bisa saya bantu?" kata Sai sambil berjalan mendekati Naruto.
"Saya mau, gyaaa…. Apa yang kau lakukan?" teriak Naruto saat merasakan telinganya di jilat. Naruto langsung berdiri dan menempel pada meja yang ada didepannya. Tetapi Naruto langsung menyesali hal itu, karena kini dia malah terkunci oleh kedua lengan Sai. *Inilah yang ingin di katakana Ino pada Sakura. Kalau dokter Sai itu 'Gay"*
"Ada apa manis?"
"Ma-manis?" Naruto membeo.
"Tidak usah takut padaku, aku tidak akan menyakitimu kok," ujar Sai sambil menyingkirkan kursi yang ada di depannya dengan kaki.
"Hei, jangan mendekat," seru Naruto sambil mendorong dada bidang Sai.
"Kau sangat manis, bolehkah aku mencicipinya?" tanya Sai. Kini tangannya berada di pinggang Naruto, sementara tangan kirinya menahan kedua tangan Naruto yang memberontak. Ternyata tenaga Sai lebih kuat dibandingkan dengan Naruto.
Naruto terus memundurkan badannya sampai punggungnya hampir menyentuh meja. Sai tambah tidak tahan dengan orang yang ada didepannya, bibirnya yang merah, dan matanya yang terpejam, menambah semangat Sai untuk segera merasakannya.
*Bletak!*
Sebuah jitakan keras mendarat di kepala Sai, dan itu sukses menghentikan perbuatan Sai.
"Apa yang kau lakukan?" geram Sasuke, dengan tangannya yang terkepal.
Naruto yang mendengar suara Sasuke langsung membuka matanya dan melihat ke arah Sasuke.
"Sasuke?" seru Naruto girang. Begitu merasa pegangan Sai melonggar, dia langsung mendorong tubuh Sai dan berlari di balik punggung Sasuke.
"Oh, apa kabar?" kata Sai sambil tersenyum.
"Aku bilang apa yang kau lakukan, Sai?" tanya Sasuke lagi.
"Kau mengenalnya, Teme?" tanya Naruto yang melihat dari punggung Sasuke.
"Kau tidak berubah ya, Sasuke? Masih seperti dulu," kata Sai. Naruto manyun karena merasa tidak dihiraukan.
"Kau juga. Selalu merebut milik orang lain."
"Hihihi…kau bisa saja, tapi sekarang aku sedikit berubah lho."
"Hn, yang benar saja."
"Ngomong-ngomong pria manis itu siapamu?" tanya Sai sambil berjalan menuju tempat duduknya. Sebelum mendudukkan diri dia mempersilahkan Sasuke dan Naruto duduk.
"Jangan bilang aku manis," geram Naruto.
"Aku suaminya," kata Sasuke sambil duduk di depan Sai yang diikuti oleh Naruto.
"Benarkah? Kau memang selalu beruntung ya?" kata Sai, tak lupa dengan senyum palsunya. "Dari dulu kau selalu di kelilingi wanita, dan sekarang sudah menikah dua kali, dengan laki-laki semanis ini pula," Sai mengambil jeda beberapa detik. "Oh iya, sekarang dimana Sakura? Apa kau sudah menceraikannya?" tanya Sai.
"Dia masih jadi istriku," kata Sasuke datar.
"Oh, jadi kau membagi waktu untuk mereka? Apa tidak lelah?"
"Asal kau tau, aku selalu memberikan waktuku untuk Naruto, meski ini terlihat tidak adil, tapi aku memang tidak bisa membagi hatiku."
"Apa kau tidak kasihan pada perasaan Sakura yang tulus padamu?"
"Hn, aku sudah membicarakan hal ini padanya, dan dia mengerti itu."
"Begitu ya?" kata Sai. "Kau dengar Naruto-kun?" tanya Sai pada Naruto. Naruto yang di panggil namanya jadi merinding. "Ternyata Sasuke sifatnya seperti itu. Kalau kau berminat, aku mau jadi penggantinya?"
"Ti-tidak usah. Aku sudah cukup mengalami hal ini dengan orang mesum seperti dia, tidak usah diganti dengan orang mesum lainnya," kata Naruto, dan sukses mendapatkan death-glare dari Sasuke.
"Saya harap anda berubah pikiran, Naruto-kun." Kata Sai dengan senyum palsunya. "Baiklah, apa maksud kedatangan anda kemari?" tanya Sai. "Apa Sakura sedang hamil?" lanjutnya.
"Hn, dia memang hamil, tapi aku kesini untuk memeriksakan dia," kata Sasuke sambil menunjuk Naruto yang ada disampingnya.
"Emn? Dia hamil? Tak ku sangka keberuntungan selalu berpihak kepadamu, Sasuke."
"Hn. Tapi entahlah, dia hamil atau tidak. Karena itulah aku datang kemari utuk memeriksanya."
"Oh, mari Naruto-kun~," kata Sai dengan nada yang menggoda.
"I…ya.." kata Naruto tergagap.
Sai menyuruh Naruto untuk berbaring di ranjang pasien yang tak jauh dari tempat duduk mereka. Tidak mau menyiakan kesempatan, Sai menuntun Naruto berbaring dengan memegang tangannya. Tidak hanya itu, dia bertindak sewajar mungkin untuk menyentuh Naruto. Kening Sasuke berkedut melihat istri- ehm, suaminya di sentuh dokter mesum itu.
"Sai, jangan macam-macam. Lepaskan tanganmu darinya," seru Sasuke. Kemudian dia berjalan mendekati mereka untuk mengawasi kerja Sai yang tidak benar.
"Hihi…kau terlalu over, Uchiha."
"Hn."
Setelah memeriksa Naruto, mereka duduk kembali, kemudian Sai menjelaskan semua hasilnya pada SasuNaru.
"Ternyata benar, Naruto-kun memang hamil."
"APA? aku beneran hamil?" teriak Naruto. Dua orang lainnya hanya menutup telinga mendengar teriakan dari Naruto.
"Ya, lebih tepatnya sudah satu bulan," Kata Sai.
"Kenapa bisa terjadi?" tanya Naruto.
"Emm…istilah biologinya, hemafrodit."
"Hema apa? hemaf-Robi? Rombongan babi, maksudmu?" (maaf bagi yang namanya Robi).
"Hahaha, kau lucu ya, Naruto-kun. Hemafrodit itu artinya anda memiliki dua sel kelamin, yaitu jantan dan betina."
"Huh, aku benci Biologi," umpat Naruto. "Jadi maksudmu aku banci?"
"Bukan begitu. Orang yang punya sel kelamin ganda, tidak berarti dia banci. Bisa saja dia memang cowok tulen atau cewek tulen."
"Kenapa ini terjadi padaku? Apa cuma aku yang mengalami hal seperti ini?"
"Bukan kamu saja kok Naruto-kun," mendengar ucapan Sai, mata Naruto langsung berbinar-binar. "Ada warga Amerika yang mengalami nasib yang sama denganmu. Dia seorang homosek, dan sekarang sudah mempunyai anak." (anggap saja begitu)
"Benarkah? Kalau begitu, aku akan merawat baik-baik anak dalam perutku ini," kata Naruto sambil mengelus perutnya lembut. Sasuke tersenyum melihat kelakuan Naruto, senyum paling tulus yang pernah dia berikan.
"Kalau begitu, kami permisi, Sai," ucap Sasuke.
"Terimakasih atas kunjungannya," kata Sai dengan senyumnya. "Lain kali datang lagi ya?" lanjutnya.
"Kami tidak akan datang lagi!" seru Naruto saat keluar ruangan.
"Ha-ha…" Sai serasa ingin pundung di pojokan. Ternyata cinta pandangan pertama hanya bertepuk sebelah tangan.
Satu Minggu berlalu. Naruto yang bisanya ceria jadi pemarah dan tukang suruh, meski perutnya belum membesar.
"Teme, mana mangga mudanya?" seru Naruto.
"Ini, lagi ku kupas."
"Huh…" sungut Naruto.
"Sakura, kenapa si Dobe jadi seperti ini?" tanya Sasuke pada Sakura yang duduk di hadapannya.
"Oh, itu biasa untuk ibu hamil," kata Sakura menahan tawa. Jarang-jarang bisa melihat Sasuke yang disuruh-suruh.
"Lalu kenapa kau tidak sepetiku?" sekarang Narutolah yang bertanya.
"Wajar sih, karena terkadang ada juga lho, istrinya yang hamil tapi suaminya yang ngidam," jelas Sakura.
"Pantas saja, permintaan Dobe ini aneh-aneh. Sampai aku sendiri bingung mau mencarikannya kemana," kata Sasuke.
"Hei Teme, aku masih disini. Kalau berniat menyindirku, jangan didepanku," kata Naruto.
"Memangnya Naruto ngidam apa saja?" tanya Sakura.
"Tiga hari setelah memeriksakan dia, dia meminta aku mencium kucing tetangga, dan aku mendapat cakaran dari pacar kucing itu."(anggap seperti itu")
"Itu karena aku ingin meneliti, apakah hewan juga akan terpesona padamu."
"Terimakasih Dobe, sepertinya penelitianmu berhasil, sampai aku selalu di bututi kucing itu tiap keluar rumah."
Naruto bangga, karena analisanya ternyata memang benar. Sakura yang mendengarnya, sebisa mungkin menahan tawa.
"Hari berikutnya, dia meminta Pizza Italy yang dicampur dengan gudheg Jogja. Ujung-ujungnya aku juga yang makan."
"Salah sendiri, kau kelamaan mencarinya, aku jadi tidak selera lagi."
"Hari berikutnya dia membuang semua persediaan tomatku, hanya untuk melemparkannya pada pohon yang sudah diberi tanda."
"Aku kan ingin melatih ketepatanku dalam melempar. Huh…"
"Kemarin dia menyuruhku mencari jamur keabadian. Sebenarnya kau dapat hal seperti itu darimana Dobe?"
"Dari komik," kata Naruto yang merasa tak bersalah.
"Bodoh, itu tidak mungkin ada. Dan sebagai gantinya kau menyuruhku mencari semut hamil."
"Aku hanya ingin tau bagaiman cara jalan semut yang hamil."
"Dasar bodoh. Sekarang kau ngidam apa lagi? Jangan harap aku akan menurutinya."
"Hihihihi…kau memang aneh Naruto. Padahal baru satu minggu kau di vonis hamil," kata Sakura sambil tertawa geli.
"Apa boleh buat, Sakura. Pemikiran itu datang begitu saja."
"…"
"…"
"…"
"Teme~,"
"Apa? Aku tidak akan menurutinya," kata Sasuke. Dia mengalihkan pandangannya dari Naruto yang sudah mengeluarkan puppy-eyes-nya.
"Turuti saja, Sasuke. Apa kau ingin anakmu nanti jadi tukang ngiler?"
"Huh, baiklah. Lagi pula aku tidak akan membiarkan keluarga Uchiha jadi tukang ngiler," kata Sasuke. "Terkadang aku berpikir, apa jadinya anakku nanti? Ibunya saja seperti ini."
"Biarin…" sungut Naruto.
"Kau minta apa?"
"A…ku ingin naik motor kaya punyanya mas Tukul."
"Tidak, jangan seperti dia. Aku tidak ingin punya anak yang mirip sama Tukul!" *Maaf ya, mas Tukul*
"Aku hanya ingin naik motornya Teme. Kau tidak usah histeris seperti itu, kan?"
"Hn."
"Ya sudah, kau antarkan saja Sasuke. Kasihankan Naruto kalau kau tidak menurutinya."
"Hn. Ayo, Dobe."
"Yeiiyy, makasih Teme."
*TBC*
