Kembali dengan saya Ririn author baru yang gaje XD…
Chapter 2 update!
Disclaimer : Naruto itu punya bang Masashi Kishimoto.. dan saya itu keponakannya, jadi saya bisa bebas minjem charanya donk! *digampar bang Kishi karena ngaku-ngaku*
Warning : AU, OOC, cerita gaje, alur campur aduk, dan segala hal yang buruk lainnya..! *halah*
Pairing : maaf bagi SakuSasu FC, untuk edisi kali ini hanya akan penuh SasoSaku.. jadi nikmati sajalah XD *dihajar SasuSaku FC*
Don't like don't read…!
TO NIGHT I FEEL CLOSE TO YOU
CHAPTER : 2
I LOST HIM WITH MY FEEL
Cerita minggu lalu :
Sakura mengambil cincin Hinata yang jatuh ke tengah danau beku musim dingin. Sasori yang penasaran segera menghampiri Hinata. Setelah berhasil memungut cincinnya, Sakura melambai pada Hinata. Tetapi dia langsung terlonjak senang begitu melihat ada Sasori juga di sana. Tiba-tiba es tempat Sakura berpijak retak! Sakura tenggelam… Sasori tanpa pikir panjang berlari untuk menyelamatkan Sakura…
Sasori terus melaju, dia tak memikirkan resiko yang akan dia hadapi di depan sana. Yang terpikir hanyalah keselamatan Sakura.
Blup… Blup…
Suara air yang beradu dengan nafas Sakura.
"To…blup… long…blup" Sakura mencoba bersuara. Tetapi malah semakin banyak air yang terminum olehnya. Air dingin itu memenuhi paru-paru Sakura, membuat Sakura sesak nafas.
'Apa yang akan terjadi padaku?' batin Sakura pada dirinya.
'Akankah aku mati di sini?' dia membatin lagi. Kakinya kram tak bisa digerakkan, apalagi suhu air yang tak memungkinkan itu semakin memperparah keadaan Sakura.
'Tuhan. Jika aku mati sekarang, ijinkan aku melihat Sasori sekali lagi saja,' batin Sakura. Seluruh tubuh Sakura sudah mulai mati rasa, mengginggil karena dinginnya air.
Sementara itu Sasori masih berlari. Es di seluruh danau itu mulai retak karena hentakan kaki Sasori. Dalam pikiran Sasori hanya ada Sakura.
'Tuhan, jangan sampai terjadi hal buruk dengan Sakura. Jika itu terjadi aku harap bukan dia yang mengalaminya, biar aku saja yang menanggungnya. Tolong biarkan aku menyelamatkannya,' Sasori meneriakkan sekeras-kerasnya permohonan itu dalam hatinya. Tak pernah seumur hidupnya Sasori sepanik ini. Dia juga tak pernah merendah, ini semua dia lakukan demi Sakura.
"To…tolong!" sayup-sayup Sasori mendengar Hinata berteriak. Tapi dia tidak peduli, yang sekarang jadi prioritas adalah menyelamatkan Sakura.
"To…long…!" Hinata berteriak sekuat tenaga. Dia tidak ingin kedua sahabatnya itu –Sakura dan Sasori– celaka. Sayangnya tak ada seorangpun yang lewat. Apalagi titik-titik salju mulai turun. Hinata semakin histeris, air matanya tak dapat di bendung lagi. Yang bisa dia lakukan hanya berdoa, berdoa dan berdoa.
Sakura mulai kehilangan kesadarannya. Dirinya terus tenggelam ke dalam danau. Untung saja ada sepasang tangan yang menggapainya. Samar-samar dia melihat sang penyelamatnya, seorang pemuda berambut merah yang tak lain adalah Sasori.
Sasori segera berusaha membawa tubuh Sakura yang sudah tak sadarkan itu ke pinggir danau. Sekarang seluruh permukaan danau sudah benar-benar retak dan menjadi air. Hanya ada beberapa bongkah es besar yang tertahan dan masih mengapung di sana. Sasori berusaha berenang sambil membawa Sakura diantara dinginnya es yang menusuk kulitnya.
Neji yang tidak sengaja lewat disitu melihat sepupunya sedang berdiri di pinggir danau. Dia disuruh ayah Hinata –Hyuuga Hiashi– untuk memanggil Hinata pulang karena sudah terlalu lama main. Maka, segera saja Neji menghampirinya.
"Hinata …" belum selesai Neji mengatakan maksudnya dia melihat Hinata gemetar dan menangis.
"A.. ada apa?" Neji tampak bingung. Baru kali ini dia menghadapi seorang perempuan yang menangis.
Hinata tak bergeming, pandangannya terus tertuju ke tengah danau tempat terjadinya insiden mengerikan tadi. Pandangan mata Neji kemudian mengikuti arah yang dilihat oleh Hinata. Neji terkejut mendapati danau itu telah retak dan menampakkan air esnya yang jelas-jelas terlihat dingin itu. Lebih terkejut lagi dia ketika mendapati dua sosok manusia yang sedang berada di tengah danau itu. Seorang pemuda berambut merah yang dikenalnya dengan nama Sasori dan seorang gadis berambut merah muda yang sedang di dekap dalam pelukan pemuda itu dengan satu tangan sambil berenang dengan tangan yang lain yang tak lain adalah Sakura.
Neji yang melihat ada orang yang butuh bantuan itu tanpa pikir panjang langsung menceburkan diri ke danau. Hinata yang baru menyadari kehadiran Neji langsung terpekik kaget dan semakin takut. Neji adalah perenang handal, dia juga tergabung dengan regu penolong. Sehingga kejadian seperti ini sudah biasa dia alami.
"Sasori!" Neji berusaha memanggil Sasori. Sasori langsung mengedarkan pandangan ke asal suara. Ketika mendapati sosok Neji tak jauh di depannya Sasori seketika berhenti berenang. Neji menghampiri mereka berdua.
"Neji… Tolong bawa Sakura ke tepian. Aku akan menyusul di belakangmu," ujar Sasori ke pada Neji.
"Baiklah!" Neji segera membawa Sakura ke tepi danau. Akan tetapi entah kenapa Sasori tidak segera mengikuti Neji. Ternyata kakinya terjebak bongkahan salju yang besar. Sasori berusaha menarik kakinya, tapi tak berhasil. Sekarang dirinya juga sudah mulai mati rasa, pandangannya kabur. Tetapi dalam hati dia bersyukur karena Sakura telah selamat.
Sementara itu salju turun semakin deras. Seluruh pemandangan di sekitar danau mulai memutih. Kelihatannya sebentar lagi aka nada badai salju. Hinata bersorak girang ketika mendapati Sakura telah dibawa ke tepian oleh Neji. Sakura telah sadar dan terbatuk-batuk, untung saja tidak banyak air yang masuk paru-parunya. Tubuhnya menggigil hebat. Sedangkan Neji sedang berusaha mengatur nafas, sulit sekali berenang dalam keadaan seperti tadi. Dia butuh lebih banyak oksigen.
Sasori masih saja terjebak di tengah danau itu. Dia sudah pasrah menerima apapun. Tiba-tiba asmanya kambuh. Iya, Sasori punya penyakit asma! Cuaca sedang buruk seperti ini, tentu saja memperparah kondisinya. Apalagi tadi pagi dia tidak sempat minum obat karena buru-buru ke tempat kerja part timenya. Hari itu hari terakhir dia kerja part time di musim dingin, dia ingin segera menyelesaikannya dan pergi berkencan dengan Sakura. Sasori kerja part time bukan karena dia kekurangan, tetapi karena dia ingin sekali memberi hadiah ulang tahun untuk Sakura dari hasil kerja kerasnya sendiri, karena 2 minggu lagi tanggal 28 Maret hari ulang tahun kekasihnya itu.
"Hhh..kelihatannya hh… aku akan hh.. berakhir disini," gumam Sasori pada dirinya sendiri masih dengan menahan sesak yang sangat di dadanya.
"Se..lamat.. hh.. ting.. hh..gal.. hh Sakura… Aishiteru," ujar Sasori kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir.
^XXX^
Sakura yang telah sadar sepenuhnya langsung terkejut karena tak mendapati Sasori dimanapun. Perasaannya tidak enak.
"Sasori?" Sakura mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Neji dan Hinata saling berpandangan.
"Tadi dia bilang ada di belakangku." Neji menimpali dengan masih berusaha untuk menghirup Oksigen dari lingkungan sekitar. Dia kemudian mencoba menengok ke belakangnya, ke arah danau tepatnya. Tetapi suasana sudah berkabut, putih, tak ada yang terlihat. Sosok pemuda berambut merah itu telah hilang di telan kabut.
"Sial!" gertak Neji. Dia pun segera berenang menembus kabut itu untuk memastikan keberadaan Sasori. Tapi harapan Neji pupus. Dia tak melihat Sasori di dekat danau atau tepinya. Kemudian Neji segera berenang lebih jauh, ke tengah. Samar-samar dia melihat ada sosok, sosok Sasori yang sudah diam tak bergerak di tengah-tengah danau.
"Hei.. Sasori!" Neji berusaha memanggilnya. Tapi tak ada jawaban. Neji mulai curiga terjadi sesuatu dengan pemuda berambut merah itu. Segera saja Neji mempercepat kayuhannya. Sesampainya di tempat Sasori betapa terkejutnya Neji.
Tubuh Sasori telah mendingin. Detak jantungnya tak terdengar padahal Neji sudah berusaha merasakan nadinya. Yang lebih buruk lagi tubuh itu sudah tidak bernafas. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari sosok pemuda di depannya itu. Meskipun begitu Neji tetap berusaha membawa Sasori. Saat akan menarik tubuhnya, Neji merasakan ada yang mencengkeram kuat pemuda itu. Neji baru sadar kalau Sasori terjebak dalam bongkahan es di sampingnya itu. Neji berusaha melepaskan sosok yang sudah tak bernyawa itu dari bongkahan es yang menjebaknya. Dan akhirnya berhasil.
Di tempat Sakura dan Hinata.
Sakura sudah merasakan perasaan tak enak sejak tadi dia tidak melihat Sasori. Sakura merasa sangat merindukan Sasori saat itu juga. Sakura tidak bisa menunggu dengan tenang, bahkan dia sempat akan melompat mengejar Neji ke danau, tetapi dia ditahan oleh Hinata. Itu karena kondisi Sakura sedang tidak baik saat ini. Akhirnya Sakura mencoba menunggu kedatangan Sasori bersama Neji. Lama, terasa lama dia menunggu seperti itu. Meskipun tubuhnya masih lemah, Sakura tetap saja memaksakan diri untuk bangun.
Dari kejauhan tampak dua sosok manusia yang menuju tepi danau.
"Sasori!" Sakura terpekik senang melihat Sasori ditarik Neji.
'Tapi ada yang aneh dengan Sasori,' batin Sakura.
'Deg!' Tiba-tiba jantung Sakura berdetak sangat cepat, sebuah pikiran buruk terlintas di benaknya.
'Tidak-tidak mungkin..' ujar inner Sakura. Sakura terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, hal itu membuat Hinata heran.
Kemudian Neji dan Sasori sudah tiba ketepian. Hinata merawat sepupunya yang tampak kelelahan itu. Sedangkan Sakura menghampiri tubuh Sasori. Benar, ada yang ganjil dengan Sasori. Tapi Sakura berusaha menyadarkan kekasihnya itu. Saat memegang tangan Sasori, Sakura terlonjak. Sangat, sangat dingin seperti tak ada kehidupan.
"Sas… Sasori.. Bangun," Sakura mencoba membangunkan Sasori. Sasori tak bergeming. Sakura kemudian menggoncang-goncangkan tubuh Sasori, tapi percuma saja sudah tak ada roh dalam tubuh itu.
Tanpa sadar sudut mata Sakura telah basah, air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Sakura mendekap Sasori.
"Ini tidak mungkin!" Sakura memekik.
Neji yang telah pulih kondisinya menatap Sakura dan berucap, "Maaf Sakura…"
Sakura hanya bisa tertegun mendengarnya, dia sangat syock. Sementara itu Hinata mendengar kenyataan buruk itu hanya bisa memeluk sepupunya dan menangis di dadanya.
Sakura mengalihkan pandangannya dan menatap Sasori lagi. Wajah yang teduh, rambut merah, senyum yang tersungging itu terlihat dari sosok pemuda yang sudah tidak bernyawa dalam dekapannya itu.
Sayup-sayup Sakura mendengar suara Sasori.
"Selamat tinggal Sakura… Aishiteru."
Sakura tergerak untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Sasori. Semakin dekat dan akhirnya bibirnya menyentuh bibir Sasori. Mereka berdua berciuman, tepatnya Sakura yang mencium. Mustahil Sasori yang melakukannya karena tubuh itu sudah tidak bernyawa. Sakura tak mempedulikan apa yang sedang dia lakukan saat ini, yang penting Sakura bisa merasakan kehangatan dari ciuman yang Sasori berikan itu. Meskipun sesungguhnya rasa dinginlah yang akan dirasakan manusia normal apabila menghadapi mayat. Tetapi lain halnya, karena menurut Sakura, Sasori tetaplah Sasori. Orang yang paling dia cintai. Dan merupakan bagian hidupnya. Setelah melepas ciumannya, air mata Sakura semakin deras mengalir.
"Aishiteru yo Sasori…!" teriak Sakura di tengah badai salju yang sedang melanda saat itu.
Sosok mereka berempat lenyap tertutup kabut putih dan badai salju. Menyisakan segala kesedihan di tempat yang bernama danau Iwase itu. Kenangan menyedihkan yang tidak akan pernah terlupakan oleh sosok gadis 16 tahun, Haruno Sakura. Kekasihnya menghilang, pergi meninggalkan dunia. Bersama kepergian Sasori, hilang juga perasaan Sakura tentang cinta, cinta dengan lawan jenis. Perasaan dalam hati mengenai cinta. Cintanya hanya untuk Sasori untuk selamanya, itulah pikiran dalam hati Sakura.
~~END OF FLASHBACK~~
-TO BE CONTINUED-
Gomen… untuk chapter kali ini hanya bisa meneruskan flashback yang kemarin…
Tapi saya janji… chapter depan akan membahas habis tentang Sasuke XD… juga pairing SasuSaku..
Sejujurnya saya lebih suka pairing SasoSaku daripada SasuSaku… *digampar SasuSaku FC*
Tapi saya suka keduanya kok… haha,, ^^a *readers : dasar plinplan*
Ya sudah.. tanpa banyak omong lagi… silahkan klik biru-biru yang dibawah…
Mohon reviewnya bagi author baru yang geblek ini XP….
