Ichizuki…

Gomen…kalo tiba" berhenti ditengah jalan. Sudah sebulan g' apdet nih. Maaf ya bagi yg udah nunggu. *padahal g' ada yang nunggu*

Setelah menjalani ulangan semester, akhirnya bisa apdet lagi deh.

Sebenarnya seminggu setelah apdet chap 7, q mau nglanjutin lagi, tapi karena nasibku yg terkena flu mata, jd q tidak bisa buat cerita dulu. Malah sampai sekarang baru bisa apdet.

Sebelumnya, terimakasih karena sudah mau review fict Ichi dan mau memberikan kritik dan saran. Dan terimakasih kepada Uzukaze touru yang sudah mengoreksi fict ini.

Ok, cukup untuk alasannya. Qt langsung saja.

Happy Reading…

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

WAY OUT

By Ichizuki_Takumi

Pairing : SasuNaru, SasuSaku, NaruSaku

Rated : T

Genre : Angst/Humor

Warning : AU, OOC, MPREG, Straight, BL, Alur cepat, Bahasa sulit di mengerti

DON'T LIKE! DON'T READ !

Chapter 8

"Sialan!"

*Bruk* Terlihat Sasuke menghempaskan tubuhnya untuk duduk di sofa ruang tamu. Naruto sang istri-*Plak* maksudnya sang suami yang berjalan dibelakangnya hanya tersenyum gaje.

"Ada apa?" tanya Sakura yang baru saja keluar dari dapur.

"Oh, tidak apa-apa kok," ujar Naruto, kemudian dia duduk dikursi yang ada di depan Sasuke.

"Emm?" Sakura mengangkat sebelah alisnya karena merasa ada yang aneh. Kemudian dia juga ikut duduk dikursi yang berbeda.

'Kiba sialan. Awas saja kau,' batin Sasuke. Terlihat hawa membunuh yang keluar dari keliling Sasuke.

Flashback ON

Sasuke memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, tepat didepan beberapa gerombolan orang yang sedang mangkal disana. *bukan ojek*. Kemudian dia turun dari mobilnya dan mendekati salah seorang dari mereka.

"Yo, Sas! Tumben kau datang kemari, kesambet?"

"Simpan candaanmu, Kiba. Aku sedang membutuhkan bantuanmu," kata Sasuke datar.

"Haaa? Seorang Uchiha ternyata juga butuh bantuan ya? Badai apa yang membuatmu minta bantuan padaku?" ujar Kiba.

*Cklek*

Pintu mobil Sasuke terbuka, perlahan menampilkan seorang wanita cantik bak dewi yang turun dari khayangan. Begitulah kira-kira pikiran Kiba dkk.

"Suit-suuiiittt…" Kiba bersiul sambil menepuk pelan pundak Sasuke tapi pandangannya tetap tertuju pada wanita (pria) itu. Teman-teman Kiba masih terpaku oleh kecantikan orang tersebut, siapa lagi kalau bukan Naruto.

Kiba berjalan mendekati Naruto kemudian meraih tangannya dan mencium punggung tangannya lembut. Suara musik seriosa mengalun indah mengiringi langkah Kiba.

"Will you marry me?"

"Jngan bercanda."

*Sciuuuutt…* Perkataan Sasuke menghentikan alunan indah yang membuat suasana romantis itu menjadi suasana mencekam.

"Singkirkan tanganmu," kata Sasuke sambil melepaskan tangan Kiba dari Naruto.

"Kau kenapa sih, Sas? Akukan Cuma mau kenalan," ujar Kiba.

Naruto terlihat cengok oleh perlakuan Kiba barusan.

'Apa dia bodoh?' batin Naruto.

"Oh, jadi ini ya, yang membuatmu merendahkan harga diri seorang Uchiha dihadapanku?" tanya Kiba pada Sasuke. "Boleh juga," ujar Kiba sambil melihat Naruto dari bawah sampai atas.

"Jaga sikapmu," ujar Sasuke. Kemudian dia berdiri didepan Naruto untuk menutupinya dari pandangan mesum Kiba.

"Heh," Kiba menyeringai karena perbuatan Sasuke tersebut. "Selingkuhanmu ya? Pantas saja kau datang menemuiku, ingin cari perlindungan? Khu khu khu…" ujar Kiba, diikuti tawa sinisnya.

"Dia istriku, namanya Naruto," ujar Sasuke singkat.

"Apa? Jangan bercanda, mau kau kemanakan si Sakura?" tanya Kiba yang sedikit terkejut.

"Dia bohong," sekarang Naruto-lah yang angkat bicara.

"Heh, sudah ku duga…" belum sempat Kiba melanjutkan perkataannya, Naruto segera memotongnya.

"Tapi, aku adalah suaminya," ujar Naruto tegas.

"WAPUUAAA?" ujar Kiba dkk cengok. Sasuke hanya menyeringai melihat keterkejutan mereka.

Kiba membalikkan badannya, ia menyandarkan tangan kanannya pada motor yang ada didepannya, sementara tangan kirinya memegang dadanya yang berdenyut cepat.

"Kiba, tenangkan dirimu," ujar Lee, salah seorang dari gerombolan yang ada disana.

"Dunia mau kiamat," ujar Kiba syok.

"Hn."

Mendengar ucapan dari Sasuke, Kiba mencoba menghilangkan rasa keterkejutannya itu. Kemudian dia membalikkan badannya untuk menghadap Sasuke.

"Tidak masalah, aku rela kok jadi selingkuhanmu, Naru-chan," ujar Kiba dengan suara yang menggoda. Dan itu sukses membuat SasuNaru + gerombolan Kiba ingin muntah berjamaah.

"Ayo kita pulang," ujar Sasuke sambil menarik Naruto menuju ke mobil. Tetapi langkah Sasuke terhenti karena lengan bajunya ditarik oleh Naruto.

Naruto menatap Sasuke dengan pandangan memohon. Sasuke yang melihat tatapan itu hanya merutuki dirinya.

'Haahh…' hela Sasuke dalam hati. "Baiklah," ujar Sasuke datar.

"Kiba," ujar Sasuke.

"Kau mengizinkannya, baiklah aku akan menjaganya dengan baik dan-"

"Kau bisa tenang?"

"Ok-ok, kau itu emosian ya."

"Terserah. Sekarang aku perlu bantuan."

"Ya, aku sudah tau."

"Dengarkan dulu," seru Sasuke yang mulai jengkel dengan kelakuan Kiba.

"Iya-iya. Apa?"

"Aku mau pinjam itu," ujar Sasuke sambil menunjuk motor yang ada dibelakang Kiba.

"Akamaru? Kau mau pinjam Akamaru?" tanya Kiba.

"Terserah nama motor itu apa, yang penting aku mau meminjamnya sebentar."

"Boleh sih, tapi ada syaratnya," ujar Kiba.

"Hn."

"Mudah saja, aku hanya ingin mendapatkan satu siuman hangat dari Naru-chan," sesaat suasana hening. Terlihat Sasuke yang sedang berpikir, sementara Naruto tidak memperdulikan pembicaraan mereka. Yang saat ini jadi perhatiannya adalah sebuah motor yang ada didepannya, yang diberi nama oleh pemiliknya dengan nama Akamaru.

"Kau…" ujar Sasuke mengambil jeda sebentar.

"Hhh," Kiba menyeringai sambil memandang lurus bola mata hitam Sasuke.

"Kau mau aku laporkan pada tunanganmu?" ancam Sasuke.

"Apa? Jadi kau tau aku punya tunangan?"

"Atau kau mau aku laporkan sekalian pada kakaknya, Neji?"

"Dari mana kau tau ha?" ujar Kiba gelagapan.

"Jangan remehkan jaringan Uchiha."

"Cih, sial," umpat Kiba. "Ok, kau boleh meminjamnya."

"Hn, sekarang apa yang kau inginkan, Naruto?" tanya Sasuke pada Naruto.

"Emm, karena aku sedang hamil-"

"UAPAA?" teriak Kiba dkk lagi serempak, yang memotong perkataan Naruto.

"Hn."

"Mana mungkin seorang lelaki hamil," seru Kiba yang masih terkejut.

"Hn, kenyataan," ujar Sasuke sambil mengelus lembut perut Naruto yang tidak lagi berotot buncit, karena otot-ototnya mulai mengendur.

'Kamisama, kenapa kau menciptakan seorang uke yang sesempurna ini? Dan kenapa kau memberikannya pada manusia dingin seprti dia?' batin Kiba. Muka Kiba mulai memerah melihat pasangan mesra yang ada didepannya itu.

"Sekarang bagaimana Naruto?" tanya Sasuke.

"Kau saja ya yang menaikinya. Yah, hitung-hitung sebagai perwakilanku," ujar Naruto manja.

"Baiklah kalau begitu. Kiba, dimana kira-kira tempat yang luas untuk naik ini?"

"Tenang, dibelakang gedung ini ada lahan kosong," ujar Kiba sambil menunjuk gedung yang ada di belakang mereka.

"Hn."

Merekapun menuju kesana, termasuk teman-teman Kiba. Sesampainya disana, Sasuke segera memacu motor Kiba dan mendapat sorakan penyemangat dari Naruto dan teman-teman Kiba. Tak lupa Naruto menyiapkan ponsel kamera untuk memotret Sasuke yang sedang beraksi.

Merasa diperhatikan sang istri-*Dhiesh* maksudnya suami, Sasuke memulai aksinya dengan gaya-gaya andalannya.

'Sudah lama aku tidak menaiki motor kaya begini. Tapi demi Naruto aku akan melakukan apapun. Akan aku berikan pertunjukan yang menakjubkan untukmu Naruto,' Batin Sasuke. Kemudian Sasuke melirik Naruto untuk melihat apakah dia sedang diperhatikan olehnya atau tidak. Tapi yang dia lihat justru sebaliknya.

-Mari kita zoom terlebih dahulu-

"Naruto, ada kotoran di rambutmu. Biar ku ambil," ujar Kiba sambil mendekatkan wajahnya disamping telinga Naruto. dia pun mengambil selembar daun kering yang menempel belakang rambut Naruto.

"Terimakasih Kiba," ujar Naruto setelah Kiba menegakkan badannya kembali.

-kembali ke Sasuke-

Disudut pandang Sasuke, kejadian itu terlihat seperti Kiba yang sedang mencium pipi Naruto.

'Kurang ajar kau Kiba, mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan?' seru Sasuke dalam hati.

Karena merasa kesal Sasuke mengeratkan pegangannya pada gas sehingga tanpa sadar gas itu tertarik dan membuat kecepatan motor meningkat.

*BRUUAAAKK* glundung…glungung…

Semua perhatian tertuju pada Sasuke. Dan tanpa pikir panjang Naruto segera mengabadikan momen yang mungkin hanya satu kali seumur hidup.

Saat itu terlihat Sasuke jungkir balik diatas tumpukan ban bekas yang ada di pinggir lahan itu. Kepalanya berada dibawah sementara badan dan kakinya berada diatas tumpukan ban bekas yang tidak terlalu tinggi. Motor yang ditumpanginya terjatuh tak jauh dari tumpukan itu.

"BUAHAHAHAHAHA….." suara tawa dari penonton tak luput mendapat death-glare dari sang Uchiha, tetapi hal itu tidak dipedulikan oleh mereka.

Setelah mengambil beberapa foto, Naruto ikut tertawa keras.

"Hahahaha, baru kali ini aku lihat pantat ayam yang mencium tanah, Hahahaha.." tawa Kiba lah yang paling keras diantara mereka.

Hancur sudah harga diri seorang Uchiha Sasuke dihadapan Kiba yang bdoh itu. Begitulah kira-kira pikiran Sasuke.

End of Flashback

"Oh, jadi begitu ceritanya, hi hi hi," ujar Sakura sambil tersenyum setelah mendengar cerita dari Naruto tentang kejadian yang sebenarnya.

"Lihat ini," kata Naruto sambil menyodorkan ponselya pada Sakura.

"Ini, ha ha ha ha," tawa Sakura tidak bisa dibendung lagi setelah melihat hasil jepretan Naruto.

"Benarkan, hahahaha, jarang-jarang bisa lihat pantat ayam yang lagi joging."

"Apa maksudmu, Dobe. Hapus foto itu," perintah Sasuke.

"Tidak, enak saja. Aku sudah susah-susah mendapatkannya," ujar Naruto sambil memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celana.

"Cih, aku mau tidur," ujar Sasuke akhirnya, setelah melihat puppy-eyes milik Naruto.

'Yee..' seru Naruto dalam hati.

"Tidak apa nih?" tanya Sakura pada Naruto.

"Tenang saja, tidak apa-apa kok. Mau lihat lagi?" tanya Naruto pada Sakura.

"Boleh, hehehe."

Naruto pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

"Lihat, ini saat dia mengendarai motor itu."

"Wah, keren ya."

"Keren sih keren, tapi kalau akhirnya kaya gini, apanya yang keren?" ujar Naruto sambil melihat lagi foto nista itu.

"Hahahahahaha," tawa mereka berdua pun meledak.

Selang beberapa menit mereka hanya terdiam memandangi foto nista Sasuke. Tawa mereka sudah berhenti karena terlalu capek untuk tertawa lagi.

"Naruto," ujar Sakura akhirnya.

"Ya," kata Naurto tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

"A-ku boleh minta sesuatu tidak?" tanya Sakura.

"Kau ngidam?" tanya Naruto antusias.

"Sepertinya begitu," ujar Sakura.

"Benarkah? Akhirnya aku bisa juga berguna untuk istri sendiri," ujar Naruto.

"Kau itu," ujar Sakura seraya tersenyum manis.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Naruto.

"Sebenarnya…"

-!p_q!-

Disinilah mereka. Tempat dimana badan doble berkumpul. Kenapa demikian? Tentu saja karena disini adalah tempat para ibu hamil berkumpul.

"Dobe, kenapa kau mengajakku kesini?" bisik Sasuke di telinga Naruto.

"Ssstt…Sakura sedang ngidam, jadi turuti saja apa maunya," bisik Naruto.

"Kenapa ditempat seperti ini?"

"Mana ku tau? Lebih baik kau diam saja, Teme."

"Hn."

"Baiklah, para ibu hamil, mari kita mulai pertemuan kali ini," ujar Sakura yang sukses mendapat perhatian dari orang-orang yang berada disana.

"Ibu hamil?" tanya Naruto. "Terus, kenapa dia ada disini?" tanya Naruto sambil menunjuk Ino yang berada diantara kerumunan ibu hamil.

"Ketahuan ya?" ujar Ino sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.

"Jelas saja ketahuan," ujar Naruto.

"Hehe, aku kesini untuk merawat kalian kok," terang Ino.

"Huh, alasan," gumam Naruto.

"Ok, karena semua sudah berkumpul, acaranya akan segera dimulai," lanjut Sakura karena tadi terpotong oleh percakapan antara Naruto dan Ino. "Mari kita memasuki ruangan," ujar Sakura.

Mereka pun berjalan mengikuti instruksi dari Sakura.

"Naruto, karena kau laki-laki, jadi ruanganmu di sebelah sana," ujar Sakura.

"Memangnya apa yang akan kalian lakukan?" tanya naruto bingung.

"Kami akan melakukan terapi bagi ibu hamil."

"Lalu apa salahnya aku masuk ruangan yang ini? Akukan juga hamil."

"Tidak boleh, karena terapi ini akan memperlihatkan perut mereka," jelas Sakura.

"Ya sudah aku kesana saja," wajah Naruto memerah. "Terus, apa yang aku lakukan disana?"

"Kau juga akan melakukan terapi. Ini buku instruksinya, kau suruh saja Sasuke untuk menerangkannya padamu," kata Sakura sambil memberikan buku instruksi yang berjudul 'Senam Sehat Ala Ibu Hamil' yang ada disampulnya, kepada Sasuke.

"Hn."

Merekapun memasuki ruangan masing-masing.

Sesampainya disana, Naruto langsung memperagakan apa yang ada dibuku. Terkadang dia menggunakan alat olahraga yang sudah disediakan disana.

Sementara itu.

"Baiklah, semua, kita akan menyaksikan sesuatu yang mungkin akan memacu adrenalin kita. Bagi yang tidak kuat melihatnya, disarankan segera duduk dikursi terapi yang ada disana. Nantinya kalian akan mendapat perawatan dari perawat kepercayaan kita, Ino," ujar Sakura dan mendapat tepukan tangan dari ibu hamil lainnya.

"Mari kita lihat acara hari ini," ujar Ino sambil memencet remot untuk menghidupkan sebuah televisi yang ada disana. "Ini sudah sampai tahap berapa?" tanya Ino pada Sakura.

"Satu tahap lagi," ujar Sakura. "Nah, ini dia saatnya," ujar Skaura. Semua yang ada disana merapatkan tempat duduk mereka untuk melihat apa yang sedang terjadi.

-Ditempat SasuNaru-

"Apa benar instruksinya seperti ini?" tanya Naruto sambil bersemu merah.

"Hn," ujar Sasuke. Saat ini Naruto sedang berada dalam pangkuan Sasuke, dengan tangan Sasuke yang mengelus lembut perut Naruto.

'Ada yang aneh disini. Lalu gerakan apa ini, jangan anggap aku bodoh. Meski aku tidak tau senam untuk ibu hamil, tapi mana ada gerakan aneh seperti ini,' batin Sasuke. 'Ya, pasti itu tujuannya. Baiklah aku mengerti. Akan aku turuti kemauan kalian, terutama kau, Sakura.'

Wajah Naruto semakin merona merah mendapat perlakuan tersebut. Melihat itu Sasuke tidak tinggal diam, dia mendekatkan wajahnya pada telinga Naruto dan meniupnya pelan.

"Fuuuhhhh."

"Hiiii…Apa yang kau lakukan, Teme?" tanya Naruto sambil menutup telinganya yang ditiup Sasuke.

"Kau manis Naruto," ujar Sasuke menggoda.

"Tidak usah bicara gombal, Teme," sangkal Naruto.

"Aku serius lho," kata Sasuke sambil mencium tengkuk Naruto.

"Kau kenapa sih?"

"Apa kau keberatan melakukan ini pada suamimu sendiri?"

"Huh, apa boleh buat," ujar Naruto pasrah.

Sasuke tak henti-hentinya menyeringai melihat wajah pasrah Naruto.

'Terimakasih…Sakura.'

-Dilain tempat-

"Kyaaaa," jeritan itu tak henti-hentinya mereda.

"Apa aku bilang, Seme pasti beraksi," ujar Sakura.

Semua yang berada disana menampilkan wajah yang sama, yaitu mulut yang terbuka dengan tangan yang menutupi hidungnya.

"Aku tidak percaya ini, tapi akhirnya keinginanku terkabul juga," ujar Tenten, salah seorang ibu hamil.

"Benar, mana mungkin suami kita memberikan pemandangan indah seperti ini?" sahut Matsuri.

"Bagus sekali kerjamu Sakura. Kau memang pantas menjadi muridku," ujar Tsunade. Saat ini dia sedang hamil tua.

"Lihat itu," ujar Shizune yang sukses membuat perhatian para ibu hamil + Ino tertuju pada layar TV.

Saat itu terlihat Sasuke yang memberikan ciuman mautnya pada Naruto, dengan tangan yang meraba kemana-mana.

"Kkyyyaaaaaa…" jeritan mereka semakin keras saat melihat kejadian itu.

"Kau dengar teriakan, Teme?" tanya Naruto setelah melepas ciumannya.

"Aku tidak dengar apa-apa, Dobe. Mungkin hanya perasaanmu," ujar Sasuke. kemudian dia melanjutkan kembali aksinya yang terganggu.

'Akan aku buat kalian puas melihat kami,' batin Sasuke disertai seringaian licik.

"Cepat ambil tisu," ujar Ino.

"Aku minta tisunya," ujar Tsunade.

Mereka melanjutkan melihat adegan itu dengan kotak tisu dimasing-masing orang.

"Sakura, kau sudah merekamnya kan?" tanya Ino.

"Ahh, aku lupaaa…" jerit Sakura.

"Cepat rekam sekarang," ujar Ino.

"Iya…" Sakura pun menyalakan alat rekamnya untuk merekam kejadian itu.

Sungguh kumpulan ibu hamil (baca: Fujoshi) yang mencari kepuasan diri.

Mari kita tinggalkan saja kumpulan orang-orang bodoh ini *Plak* maksudnya kumpulan ibu hamil ini.

\($_$)/ === -^_^-

5 bulan telah berlalu.

Kehidupan keluarga UUH semakin tentram. Kecuali si kepala keluarga tentunya. Kenapa? Karena dia harus merawat dan memenuhi permintaan kedua istri -Puih- maksudnya suami-istrinya.

Semakin hari permintaan mereka semakin menjadi. Segala upaya selalu Sasuke lakukan untuk memenuhi keinginan mereka.

Dari Naruto yang selalu meminta sesutu yang aneh-aneh. Seperti meminta kawanan Sasuke untuk tinggal bersama dirumahnya. Dan itu hanya bertahan tidak sampai sehari karena Sasuke tidak tahan melihat teman-temannya. Dia mengusir semua ayam yang ada dirumahnya, yang selalu memberikan hadiah berupa kotoran ayam dirumah mereka.

Naruto juga suka mengumpulkan anak ayam dan menaruhnya dikurungan yang ada dibelakang rumahnya.

Memakan telur ayam hasil ternak sendiri, dan bicara dengan ayam yang sedang bertelur.

Sasuke menjadi muak dibuatnya, dan dia langsung menjual semua ayam yang berada dirumahnya. Mengetahui hal itu, Sasuke langsung mendapat jitakan dari sang suami, yaitu Naruto.

Setelah ayam-ayamnya dijual, permintaan Naruto semakin aneh.

Dia selalu meminta sesuatu yang berhubungan dengan kehamilan. Pernah suatu ketika dia membawa kucing tetangga yang sedang hamil untuk tinggal beberapa hari di rumahnya.

Flashback

"Sejak kapan kau hamil? Siapa ayah dari anak yang kau kandung? Enak tidak jadi kucing yang mengandung? Anakmu nanti akan kau beri nama siapa? Kira-kira berapa bulan lagi kau akan melahirkan?" tanya Naruto pada seekor kucing yang tidur tak jauh darinya. Karena tidak ada respon, Naruto mencoba membangunkan sang kucing.

"Hei, bangun, aku sedang bicara padamu," ujar Naruto sambil mengguncang tubuh kucing itu.

"Meeooonng…" kucing itu pun mencakar tangan Naruto yang membangunkannya. Kemudian kucing itu berlari menghampiri Sasuke yang mendekat kearah Naruto.

"Ada apa, Dobe?" tanya Sasuke sambil mnggendong si kucing dan berjalan mendekati Naruto.

"Purr," kucing yang ada di gendongan Sasuke mendengkur senang.

'Kurang ajar kucing itu,' batin Naruto sambil menggembungkan pipi dan mengalihkan pandangannya.

*Ctaarrr*

'Kenapa bulu kudukku berdiri ya? Seperti ada yang mengawasiku,' batin Sasuke.

Di luar rumah terlihat seekor kucing yang menatap Sasuke lewat jendela dengan tatapan membunuhnya.

End of Flashback

Masih banyak lagi permintaan Naruto yang tidak masuk di akal , itu menurut Sasuke.

Lain Naruto, lain lagi dengan Sakura.

Dia selalu meminta Sasuke dan Naruto untuk bermesraan di depannya, sementara dia memegang ponselnya. (tentunya untuk mengambil gambar).

Hal itu memang sangat menguntungkan untuk Sasuke, tapi tidak untuk Naruto. Dia selalu terengah-engah setiap mendapat ciuman maut dari sang seme.

Ingin sekali Naruto menolak ciuman Sasuke, tapi apa boleh buat, itu adalah permintaan dari sang istri. Sebagai suami yang baik, seharusnya dia sanggup memenuhi permintaan sang istri kan.

Bagitulah hari-hari UUH family.

Hari ini di ruang tamu. Terlihat Naruto yang sedang duduk disofa di temani Sasuke yang duduk didepannya. Sasuke duduk dibawah sambil menonton acara TV.

Penampilan Naruto sangat berbeda dengan yang dulu. Rambutnya agak panjang sampai leher, dia mengenakan baju terusan daster. Dia mulai memakai daster sejak 2,5 bulan yang lalu. Sebabnya tentu saja karena semua pakaiannya sudah tidak muat untuk ia kenakan. Awalnya dia menolak untuk memakai pakaian itu, tapi karena bujukan dari Sakura, dia jadi mau mengenakannya. Apalagi Sakura juga menemaninya untuk memakai daster, jadi dia sedikit tidak merasa malu.

"Pagi," ujar Sakura pada Sasuke dan Naruto.

"Pagi," kata Naruto.

"Hn," ucap Sasuke.

"Kau ngidam lagi, Naruto?" tanya Sakura saat melihat Naruto sedang meremas-remas rambut ayam Sasuke.

"Hehe, begitulah, kau mau coba?" tawar Naruto.

"Tidak, aku sedang ada urusan."

"Kau mau kerja, Sakura?" tanya Naruto.

"Kali ini aku mau meminta izin untuk cuti hamil," ujar Sakura.

"Kau masih kuat, Sakura?"

"Tentu saja."

"Tak kusangka, ternyata seorang wanita lebih kuat dari pria. Aku saja sudah tidak kuat jalan lama-lama," ujar Naruto.

"Hihihi…" senyum Sakura. "Ya sudah, aku berangkat dulu ya."

"Ya," ujar Naruto.

"Adududuh, Dobe, kau tidak perlu menjambak rambutku kan?" tanya Sasuke pada Naruto.

"Wa, maaf. Aku hanya tidak menyangka Sakura sekuat itu."

"Hn."

Naruto membelai lembut rambut orang yang ada dihdapannya.

'Rambut yang seperti pantat ayam ini ternyata lembut juga,' batin Naruto. 'Ku pikir dia menggunakan gel atau semacamnya, ternyata asli ya.'

'Wangi ini, bau khas Sasuke, cocok sekali digunakan olehnya. Bau mint yang menyeruak masuk di dalam hidungku, membuat pernapasanku ketagihan.'

'Warna rambutnya yang hitm kelam, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Rambutnya lembut,' batin Naruto.

"Aw. Kubilang jangan trik rambutku, Dobe," ujar Sasuke sedikit kesal.

"Hehehe…kelepasan," Naruto hanya tertawa renyah.

"Dasar."

Tok! Tok! Tok!

"Biar aku yang buka," ujar Sasuke seraya berjalan menuju pintu depan. Naruto hanya mengangguk menyetujui.

*Cklek-ngeek

"Ya,"

*Ngeeekk

"Hei-hei, apa itu perlakuanmu untuk seorang tamu?" tanya seseorang dan mendorong pintu yang akan di tutup kembali oleh Sasuke.

"Cih, ada perlu apa kau kemari, baka Aniki?" tanya Sasuke ketus.

"Setidaknya biarkan aku masuk dulu, my otouto," ujar kakak Sasuke, yaitu Uchiha Itachi.

"Hn," Sasuke pun memasuki rumahnya dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Itachipun mengikutinya di belakang dan duduk di sofa yang berbeda.

"Siapa, Sas?" tanya Naruto yang datang dari ruang tengah dan duduk disamping Sasuke.

"Hn? Istrimu ganti warna rambut ya?" tanya Itachi.

"Dia bukan Sakura," ujar Sasuke datar.

"Kenalkan, Uzumaki Naruto," ujar Naruto sambil menjabat tangan Itachi.

"Uchiha Itachi, kakak Sasuke," ujar Itachi. "Hmm, selingkuhan?" tanya Itachi lagi.

"Bukan, baka, dia istriku."

"Apa? Jadi kau menikah lagi? Kenapa kau tidak mengabariku?" tanya Itachi.

"Aku tidak membutuhkan tamu sepertimu."

"Kau memang tidak berubah baka otouto."

"Hn."

"Tak ku sangka wanita pilihanmu manis juga," ujar Itachi sambil memandang wajah Naruto.

"Aku bukan cewek. Aku cowok."

"APUAA?" seru Itachi OOC setelah mendengar pernyataan dari Naruto.

"Hn," Sasuke menyeringai sambil meraih pinggang Naruto dan mencium pipinya lembut. Sepertinya Naruto sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu.

"Aku tidak percaya, aku sampai berteriak seperti itu mendengar berita ini," ujar Itachi. "Kalau dia cowok, kenapa dia bisa…apa dia…"

"Ya, dia transgender."

"Pantas. Tapi aku tidak menyangka, ada cowok semanis ini," mendengar ucapan Itachi, Naruto menggembungkan pipinya. "Yang lebih tak kupercayai…ternyata kau 'Homo' ya," ujar Itachi menekankan kata Homo sambil memberi tanda petik dengan kedua jari tangannya.

"Sebaiknya kau percaya, karena ini kenyataan," ujar Sasuke datar.

"Lalu, Sakura?"

"Hn, kami masih suami-istri," ujar Sasuke. "Apa maksud kedatanganmu kemari?" lanjut Sasuke karena pertanyaannya tadi belum dijawab.

"Izinkan aku tinggal beberapa hari disini," ujar Itachi.

"Tidak."

"Dua hari."

"Tidak,"

"Satu hari?" tawar Itachi.

"Tidak ada kamar kosong disini."

"Aku bisa tidur sama Naru-chan."

"Ku hajar kau," geram Sasuke.

"Tenang-tenang, akukan hanya bercanda," ujar Itachi menenangkan.

"Sudahlah, Sas, diakan kakakmu sendiri," ujar Naruto.

"Hn," ujar Sasuke tenang. "Kenapa kau harus menginap disini? Kau sudah punya rumah sendiri kan?" tanya Sasuke.

"Hehe…"

"Jangan bilang kau sedang bertengkar dengan istrimu."

"Yah, mau gimana lagi. Dei-chan kalau sedang marah sangat mengerikan sih."

"Terserah."

"Hari ini kau tidak kerja?"tanya Itachi.

"Hn."

"Terus yang mengurus perusahaanmu siapa?"

"Benar juga, Teme. Selama ini kan kau selalu di rumah?" ujar Naruto.

"Aku sudah menyerahkan semuanya pada Gaara. Tenang saja, dia dapat dipercaya," ujar Sasuke.

"Oh, jadi kau takut sang istri kabur ya?"

"Hn, karena aku sangat mencintainya," ujar Sasuke. Muka Naruto bersemu merah mendengar perkataan Sasuke.

"Ok, mari kita ke kamar, Naru-chan. Kau mau jadi selingkuhanku?" ujar Itachi setelah mendekati Naruto dan menggenggam tangannya.

*Bletak*

Itachi sukses mendapat jitakan dari Sasuke.

"Aku kan hanya bercanda, tidak usah sekeras itu," ujar Itachi sambil mengusap kepalanya.

"Siapa suruh," ujar Sasuke ketus.

"Kau terlalu over, baka otouto."

"Hn," ujar Sasuke. 'Mau bagaimana lagi, semua orang menawarkan diri jadi selingkuhannya. Mana mungkin aku tinggal diam begitu saja,' batin Sasuke kesal.

*TBC*

Gomen kalau terlalu pendek.

Terimakasih atas dukungannya selama ini. Tanpa dukungan kalian, mungkin Ichi tidak akan bisa sampai sejauh ini.

Chap" selanjutnya mungkin akan dipercepat alurnya. Dan Ichi ingin segera menyelesaikan fict ini. Padahal niatnya hanya beberapa chap saja, tapi malah lebih dari perkiraan.

Sekali lagi terimakasih. *nunduk*

Baca terus ya.

Dan jangan lupa tinggalkan review agar Ichi dapat mengetahui berapa banyak yang berminat membaca fict ini.

Sekian untuk kali ini.

-Arigatou-