Akhirnya bisa update!
Terima kasih sebelumnya untuk : vivi yuuki, seiichiro raika, Haruchi Nigiyama, Fuyuzakura-hime
Atas review kalian saya jadi lebih bersemangat.. ^^
Ini balasan Review anonym.. yang sedang online saya balas via PM.
vivi yuuki : makasih banyak ya udah dibilang bagus^^
tapi maaf karena tidak bisa update cepat...
untuk chapter ini bagaimana? apakah kurang panjang?^^
reviewnya ya...
seiichiro raika: amin. saya harap saso juga tenang di alam sana T.T
hehe. baca saja chapter ini kalau mau tau apa yang akan terjadi ^^
makasih buat reviewnya ya.. silahkan mampir lagi..
ya.. kita mulai saja ceritanya!
Disclaimer :
Naruto Masashi Kishimoto
Warning :
AU, OOC, cerita gaje, alur campur aduk, misstypo dan typo bertebaran dimana-mana…
Pairing :
SasuSaku slight SaIno slight SasoSaku =='
FEEL CLOSE TO YOU
CHAPTER 3 :
::NEW STUDENT::
Enjoy it!
Cerita sebelumnya :
Sakura kehilangan Sasori di musim dingin. Dia bertemu pemuda misterius yang sangat ramah pada malam hari saat pikirannya sedang kalut. Esoknya Sakura juga bertemu pemuda yang sama di sekolahnya. Tetapi pemuda itu bersikap dingin dan kasar kepada Sakura, berbeda dengan pemuda yang ditemuinya semalam. Tapi jelas-jelas mereka orang yang sama. Tapi kenapa?
"Minggir!" bentak pemuda itu dingin pada Sakura. Sakura terdiam membeku.
Ino segera sadar dari kehisterisannya saat melihat pemuda tampan itu. Tetapi dia panik saat tidak mendapati Sakura di sampingnya. Ino kebingungan sekaligus terkejut ketika dia melihat sahabatnya itu berdiri tepat dihadapan pemuda tampan yang baru datang tadi.
Ino hendak menerobos kerumunan itu untuk menjemput sahabatnya tetapi sangat sulit. Dia hampir jatuh juga, tetapi tidak karena tiba-tiba ada seseorang yang menolongnya. Ketika menoleh didapatinya sesosok pemuda yang tinggi, berkulit putih pucat dengan menyunggingkan senyum yang –aneh. Pemuda itu membawa seperangkat alat melukis di tangan kirinya. Dan menopang tubuh Ino dengan tangan kanannya. Ino terperanjat sekaligus terpesona pada pemuda dihadapannya itu. Dia tak bisa berkata-kata hingga suara pemuda itu membuyarkan keterkejutannya.
"Maaf.." ujar pemuda itu pada Ino.
"Eh? I..iya?" Ino tersadar dan langsung blushing.
"Kau tidak apa-apa kan?" Tanya pemuda itu.
"Ti..Tidak apa-apa," jawab Ino gugup.
"Sai!" Dari kejauhan terdengar suara memanggil. Pemuda yang menolong Ino itu berbalik ke asal suara itu.
"Iya, tunggu!" jawab pemuda yang bernama Sai itu.
"Lain kali hati-hati ya?" Sai tersenyum pada Ino dan berlalu meninggalkannya. Ino menatap kepergian Sai dengan pandangan takjub, dia sangat terpesona. Hatinya berdebar-debar, apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Tanya Ino dalam hati. Untuk sementara gadis berambut panjang pirang dan dikuncir itu masih bergelut dengan pikirannya sendiri.
Sakura masih terdiam di tempat. Sementara pemuda itu mulai hilang kesabarannya.
"Sasuke-sama, anda melupakan tas anda," seru seorang perempuan berambut merah dan berkacamata yang tiba-tiba datang tergopoh-gopoh sembari menenteng sebuah tas. Perempuan itu menuju ke tempat pemuda yang ada dihadapan Sakura itu.
"Tch, tas ya," celetuk pemuda yang ternyata adalah Sasuke itu.
"Iya Sasuke-sama," jawab perempuan itu sambil menyerahkan tasnya.
"…" Sasuke menerimanya tanpa mengatakan apapun. Perempuan itu tersenyum kemudian pandangan matanya tertuju pada Sakura. Sinar matanya langsung berubah tidak ramah.
"Hey.. Kau menghalangi jalan Sasuke-sama!" bentak perempuan itu pada Sakura. Sakura langsung tersadar dari lamunannya.
Kemudian dari arah gerbang masuklah Naruto dan Hinata. Mereka berdua heran dengan apa yang terjadi. Lebih heran lagi karena yang sedang jadi pusat perhatian adalah Sakura dan pemuda dengan model rambut pantat ayam. Naruto segera berlari ke arah TKP.
"Ada apa Sakura?" Tanya Naruto pada Sakura. Dan melemparkan pandangan penasaran pada Sasuke dan perempuan berambut merah itu yang terlihat asing di matanya.
"Gadis itu menghalangi jalan Tuan muda kami!" bentak perempuan berambut merah itu.
"Apa?" Naruto masih kebingungan.
"Berisik! Kembalilah Karin!" perintah Sasuke pada wanita itu.
"Ba..Baik Sasuke-sama." Perempuan bernama Karin itu langsung mundur mengikuti perintah tuannya.
"Kau kasar sekali," celetuk Naruto pada Sasuke.
"Bukan urusanmu Dobe," balas Sasuke datar.
"Kau panggil aku apa? Dasar Teme!" Naruto naik darah mendengar perkataan pemuda itu. Dia hendak mengahajar pemuda dihadapannya itu. Tetapi langsung terhenti ketika melihat Sakura melangkah maju ke tempat Sasuke. Sasuke memasang tampang cuek.
Sakura semakin mendekat. Semua yang ada disana langsung diam, menunggu apa yang akan terjadi. Sasuke hanya membuang muka.
Sejurus kemudian Sakura menyambar tangan Sasuke. Sasuke agak terkejut, tetapi masih memasang ekspresi dingin untuk menjaga imejnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke datar.
"…" Sakura tak menjawab. Sasuke kini yang heran pada gadis dihadapannya itu. Sakura kemudian merogoh saku blazer yang dia kenakan dan mengambil sesuatu. Benda berwarna abu-abu keluar dari dalamnya yang ternyata adalah sarung tangan. Sakura mengenggamnya sebentar, lalu meletakkannya dalam genggaman tangan Sasuke.
"Terima kasih," ucap Sakura sambil menyunggingkan senyum. Sasuke hanya menatap gadis itu penuh dengan keheranan, dan jauh dari lubuk hatinya pemuda itu merasakan sesuatu yang lain, perasaan yang belum pernah dimilikinya selama ini. Tetapi hal itu segera Sasuke tepiskan. Dan melihat benda yang diserahkan Sakura barusan.
"Sarung tangan. Ini kenapa bisa ada padamu?" Tanya Sasuke pada Sakura dengan ekspresi yang hanya berubah sedikit.
"…" Sakura tak menjawab dan langsung berbalik menuju kelas. Semua yang melihat insiden itu juga dibuat terheran-heran atas sikap Sakura. Sementara Sasuke terpaku sambil menggenggam sarung tangan kesayangan miliknya itu. Sarung tangan dengan motif Uchiha, jelas-jelas miliknya. Terlebih lagi kenapa bisa ada ditangan gadis yang baru dikenalnya itu?
~XXX~
Lorong menuju kelas..
"Hey Sakura. Kau kenapa? Pemuda tadi itu siapa?" Tanya Naruto masih keheranan.
"Aku tidak apa-apa, dan aku tidak tahu siapa dia, Naruto.," balas Sakura menyembunyikan kesedihannya.
"Masa? Lalu benda tadi?" Naruto bertanya lagi, dia penasaran.
"Bukan apa-apa," balas Sakura pendek. Dan berjalan mendahului Naruto dan Hinata. Menghindari pertanyaan Naruto tentang pemuda tadi, yang benar-benar membuat Sakura kecewa atas sikapnya kepadanya.
"Dia kenapa?" Tanya Naruto pada Hinata.
Hinata hanya menggeleng.
"Aneh," celetuk Naruto.
"Sudahlah Naruto. Biarkan Sakura tenang dulu." Hinata menenangkan.
"Hinata, Naruto!" Teriak sebuah suara. Hinata dan Naruto yang merasa namanya dipanggil segera berbalik.
"Ino?" Tanya Hinata dan Naruto bersamaan. Ino terengah-engah menghampiri kedua orang itu.
"Kenapa kau lari-lari?" Tanya Hinata dengan polosnya.
"Aku mengejar kalian, karena dari tadi kupanggil-panggil kalian tak merespon," jawab Ino masih dengan terengah dan dia mulai mengatur nafasnya.
"Hehehe.. Maaf, kami tidak tahu," balas Naruto dengan cengiran disambut deathglare dari Ino.
"Eh? Ma..maaf ya Ino. Membuatmu begini." Hinata menyesal.
"Ah, tidak apa-apa Hinata. Lalu bagaimana dengan Sakura?" Tanya Ino pada keduanya.
"Dia aneh," jawab Naruto.
"Iya, kurasa juga begitu," dukung Hinata.
"Heh?" Ino menggeleng tak mengerti. Jelas saja, dari tadi dia kan terus melamun membayangkan Sai dan tidak tahu apa yang terjadi.
"Masalah dengan pemuda tadi," lanjut Hinata.
"Pemuda aneh yang ingin sekali kutonjok," balas Naruto geram. Ino hanya manggut-manggut tak mengerti. Lalu dia segera meminta penjelasan dan juga menyuruh Naruto dan Hinata untuk menceritakan perihal kematian Sasori juga.
~XXX~
Di kelas 2-1, kelas Sakura, Naruto, Hinata dan Ino..
Sakura merenung, dia masih memikirkan kejadian tadi. Segera setelah itu pikirannya melayang membayangkan Sasori. Kelas padahal sebentar lagi di mulai. Tapi Sakura tak menunjukkan tanda-tanda untuk menyelesaikan kesibukannya itu. Naruto, Hinata dan Ino sahabatnya hanya bisa melihat Sakura dengan tatapan sedih bercampur keheranan.
Bel sudah berbunyi sejak tadi tetapi guru yang harusnya mengajar belum datang juga. Para siswa mulai mengeluh. Setelah lama menunggu, kemudian guru yang dimaksud datang juga.
"Maaf semua. Tadi ada urusan sebentar," jelas guru yang tampan tetapi berwajah sayu itu dengan cengiran. Tetapi tentu saja tidak terlihat karena sebagian mukanya tertutup, dan hanya menyisakan matanya saja. Anak-anak sih cuek saja mendengarnya karena sudah biasa bagi gurunya ini untuk terlambat. Kakashi Hatake, dialah guru yang dimaksud.
"Berdiri! Beri salam!" seru Neji langsung mengkomando teman-temannya. Semua mengikuti perintahnya kecuali Sakura yang pikirannya masih melayang jauh. Tetapi sang guru tidak menyadari itu.
"Pagi ini sekolah kita kedatangan murid baru. Dan murid itu akan masuk ke kelas ini," ujar Kakashi-sensei menerangkan.
"Eh? Murid baru?" Naruto terkejut.
"Membosankan," keluh Shikamaru.
"Wah… Ini menarik!" Lee terdengar bersemangat.
"Kumohon kalian bisa tenang," pinta Kakashi-sensei.
Semua terdiam, menunggu dengan penasaran siapa dan bagaimana murid baru itu. Sekali-sekali terdengar bisik-bisik dari belakang. Sakura tak peduli hal itu, pikirannya kini sudah terbang entah kemana.
"Baiklah. Silahkan masuk."
Kemudian masuklah sesosok pemuda tampan berambut emo model pantat ayam, mata onyx dan mengenakan setelan rapi seragam Konoha Gakuen High School. Para gadis disana langsung histeris kecuali Hinata dan Sakura. Sementara para cowok hanya bersikap biasa saja. Tetapi lain hal dengan Naruto, dia malah geram melihat murid baru itu.
"Hey, kau Teme!" Naruto menggebrak meja membuat semua mata memandangnya terkecuali Sakura.
"Ada apa Naruto?" tegur Kakashi-sensei.
"Tch, aku sekelas dengan Dobe itu ya," ujar Sasuke sinis.
"Apa? Kuhajar kau!" Naruto bersiap tetapi dihentikan oleh Kiba dan Neji yang kebetulan duduk di dekat kursinya.
"Tenanglah Naruto!" perintah Kakashi-sensei. Kemudian Naruto kembali duduk di kursinya meski harus menahan geram.
"Ok, sekarang perkenalkan dirimu anak muda," lanjut Kakashi-sensei pada si murid baru.
"Hn. Uchiha Sasuke," jawabnya singkat tanpa basa-basi. Pandangan pemuda itu kemudian menyapu seluruh isi ruangan kelas. Dia melemparkan tatapan sinis pada Naruto yang dari tadi sudah bergetar karena marah. Lalu pandangannya tertuju pada gadis berambut pink yang tengah melamun tak memperhatikannya. Gadis itu duduk di dekat jendela. Siluetnya terlihat begitu berpendar karena biasan cahaya matahari pagi yang menerobos dari jendela mengenai tubuhnya. Dia adalah Sakura Haruno, cewek aneh yang dia temui tadi pagi. Tanda tanya besar masih memenuhi benak Sasuke. Tetapi kemudian Sasuke bisa mengendalikan pikirannya dan memasang ekspresi dingin lagi.
"Perkenalan yang cukup singkat. Baiklah, duduklah di kursi kosong yang ada di sana. Di seberang bangku gadis berambut pink itu," tunjuk Kakashi pada Sakura.
"Hn," sahutnya singkat tanpa mengucapkan terima kasih. Kemudian Sasuke berjalan dengan angkuhnya menuju kursi miliknya.
~XXX~
Waktu istirahat..
Semua murid segera keluar kelas. Kecuali Hinata, Ino, Sasuke dan tentunya Sakura. Ino dan Hinata bergegas ke tempat Sakura duduk. Tetapi sekilas sebelum ke tempat Sakura, mereka memperhatikan Sasuke yang sedang duduk diam sambil membaca buku di kursinya. Hinata tidak berniat untuk mengobrol dengan Sasuke, dia takut dengan pemuda itu. Tetapi Ino memaksa mampir sebentar.
"Hey… " sapa Ino kepada Sasuke dengan senyum manis yang dia buat. Sasuke hanya mengernyitkan alis sedikit.
"Boleh kenalan kan? Aku Yamanaka Ino, dan ini temanku Hyuuga Hinata," lanjut Ino dengan akrabnya.
"Salam kenal," ujar Hinata gugup setelah Ino memperkenalkan dirinya.
"Uchiha Sasuke,"jawab Sasuke singkat.
"Uhm. Dan gadis berambut pink itu Haruno Sakura." Tunjuk Ino pada Sakura yang masih asyik melamun. Sasuke mengarahkan pandangannya pada Sakura.
"Hn, begitu ya." Sasuke sedikit mengubah ekspresi begitu melihat Sakura.
"Sudah ya. Aku mau ke tempat Sakura dulu." Lalu Ino dan Hinata beranjak ke tempat Sakura.
"Sasori.." bisik Sakura lirih. Dan tepat saat itu kedua sahabatnya telah menghampirinya. Tetapi Sakura tidak sadar juga. Ino dan Hinata saling berpandangan.
"Sakura…" panggil Ino menyadarkan sahabatnya itu sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajah Sakura. Sakura langsung terkesiap, lamunannya buyar.
"Eh.. Ng? Ada apa Ino, Hinata?" Tanya Sakura spontan.
"Kau itu dari tadi melamun terus!" bentak Ino.
"Enggak kok." Sakura mengelak.
Kedua sahabatnya itu hanya bisa menghela nafas melihat reaksi Sakura.
"Kalian, kenapa di sini? Pelajaran kapan mulai?" Tanya Sakura, dia kelihatan seperti orang linglung.
"Sakura, kita sedang istirahat," jawab Hinata.
"Dan itu berarti sudah sejak tadi pelajaran di mulai," tambah Ino.
"Eh, masa?" Sakura semakin bingung. Begitu melihat arloji yang dia kenakan Sakura langsung terlonjak.
"Maaf teman-teman," ujar Sakura seraya menunduk.
"Iya sudah. Tak apa kok Sakura. Lebih baik kita ke kantin yuk, aku lapar," ajak Ino.
Sakura mengangguk dan mereka bertiga pun beranjak. Langkah Sakura terhenti seketika saat dia melihat sosok pria di bangku seberang.
"Dia Uchiha Sasuke. Murid baru di kelas ini," terang Ino seolah tahu maksud Sakura.
Sasuke yang sedang asyik membaca buku itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Emerald dan onyx bertemu lagi. Tetapi Sakura segera membuang muka.
"Ayo," ajak Sakura pada dua sahabatnya itu tanpa mempedulikan Sasuke. Padahal biasanya Sakura akan sangat senang jika ada teman baru, dia akan sangat antusias untuk mengajak orang itu berkenalan.
Kedua sahabatnya tak bisa banyak berkomentar. Bingung akan sikap Sakura yang begitu aneh. Sedangkan Sasuke entah mengapa malah terus memandang kepergian gadis itu dengan ekor matanya.
~XXX~
Saat Sasuke tengah asyik membolak-balik halaman bukunya itu tiba-tiba dia bersin keras lagi.
"Hatchi,,,!" Dia menggosok hidungnya seraya menutup buku itu.
'Eh? Aku sedang disekolah ya? Sepertinya tadi dia yang memulai, kurasa akan sulit untuk hari pertama ini,' celetuk Sasuke dalam hati. Sasuke kini melepaskan pandangan yang memperlihatkan keadaan kelas yang masih kosong saat itu. Tak ada orang lain di kelasnya selain dirinya sendiri.
Kemudian dari pintu masuk kelas datanglah serombongan anak laki-laki. Salah satunya berambut spike pirang, dan terlihat begitu cerewet tetapi bersemangat. Pemuda kedua terlihat memasang ekspresi malas, rambutnya di kuncir, dan sesekali menguap. Pemuda yang ketiga, badannya sangat besar dan terlihat suka makan karena di tangan dan mulutnya penuh dengan makanan. Lalu pemuda beralis tebal dengan potongan rambut bob terlihat begitu norak dan hiperaktif. Dan terakhir pemuda dengan mantel yang sangat tebal sedang membawa-bawa seekor anjing di kepalanya.
Sasuke berniat menyapa kelima orang itu dan dilakukannya.
"Hey.. Boleh kita berkenalan?" sapa Sasuke ramah.
Pemuda berambut spike kuning itu mengernyit. Dan segera terlonjak ketika melihat orang yang mengajaknya berkenalan itu.
"Kau, Teme!" bentak Naruto.
"Hah?" Sasuke terkejut.
"Hey Naruto, jangan bicara seperti itu," hardik pemuda yang membawa anjing itu.
"Tidak usah dipikirkan. Dia memang seperti itu. Kenalkan aku Akimichi Chouji," jelas pemuda gendut itu sambil masih asyik mengunyah kripik kentangnya.
"Iya, dia memang suka seenaknya. Aku Rock Lee. Salam kenal," sapa si alis tebal bersemangat.
"Aku Inuzuka Kiba," jawab pemuda bermantel itu, "dan ini Akamaru," tunjuk pemuda bernama Kiba itu pada anjing yang sedang bertengger santai di atas kepalanya.
"Guk.. guk.." Akamaru menyalak seperti memberikan salam kepada Sasuke. Sasuke balas tersenyum, dirinya juga suka anjing ternyata (?)
"Nara Shikamaru. Salam kenal," lanjut pemuda yang terlihat pemalas setelah dari tadi diam.
Naruto masih dongkol, tetapi setelah didesak Lee akhirnya dia mau juga berkenalan.
"Uzumaki Naruto," jawab Naruto singkat.
"Aku Uchiha Sasuke."
Naruto merasa ada yang berbeda dari pemuda dihadapannya itu. Karena penasaran Naruto tak segan bertanya.
"Kau tidak memanggilku Dobe?" Tanya Naruto spontan.
"Dobe? Kelihatannya cocok untukmu," balas Sasuke menyeringai. Naruto mulai kesal lagi. Tetapi dia tahu pemuda di hadapannya itu berubah lebih baik setidaknya daripada saat bertemu pertama kali atau saat kelas mulai tadi. Dan diapun tersenyum lebar kepada Sasuke. Sasuke hanya membalasnya dengan senyuman tipis saja.
"Apa aku tadi membuat masalah?" Tanya Sasuke tiba-tiba membuat yang lain terkejut.
"Sepertinya tidak," Shikamaru dan Chouji menjawab bersamaan karena mereka tidak tahu tentang insiden yang terjadi tadi pagi.
"Aku tidak tahu," jawab Lee sambil sok mikir.
"Yah sedikit," balas Kiba langsung melirik Naruto. Mungkin yang dia maksud kejadian di kelas tadi?
"Tentu saja!" jawab Naruto geram. Keempat temannya langsung melihatnya dengan tatapan –apa yang sebenarnya terjadi– kepada Naruto. Sementara Sasuke hanya sedikit mengernyitkan alisnya. Lalu menyeringai lebih pada dirinya sendiri.
"Yah, terkadang diriku ini sering merepotkan," jawab Sasuke membuat mereka semua terbengong-bengong.
"Hey, maksudmu apa?" Tanya Naruto semakin penasaran dengan pemuda yang bernama Sasuke itu.
"Kau juga akan tahu pada saatnya nanti," jawab Sasuke dengan senyum misterius ala detektif dan kembali ke tempatnya duduk.
~XXX~
Di kantin..
"Ah~, kenyang juga!" Ino telah selesai dengan makanannya kemudian menepuk-nepuk perutnya. Sedangkan Hinata tinggal sedikit lagi. Sementara Sakura tidak memakan apapun.
"Ehm, Ino, Hinata. Aku ke kamar mandi dulu ya," ujar Sakura.
"Tunggu Sakura. Mau kutemani?" tawar Ino.
"Tidak usah," balas Sakura berhenti sebentar lalu berpikir.
"Kalian duluan saja masuk kelas," lanjut Sakura lagi.
Ino mengernyitkan alisnya. Sakura jadi salah tingkah, sementara Hinata sudah selesai dari kegiatannya dan ikut angkat bicara.
"Benar tidak apa-apa Sakura?" Tanya Hinata dengan ekspresi khawatir.
"Tidak kok. Ehm, aku cuma sebentar," elak Sakura. Ino semakin curiga melihat tingkah gadis pink itu.
"Uhm, ya sudah. Bagaimana Ino?" Tanya Hinata pada Ino. Tak disangka, Ino hanya mengangguk mempersilahkan Sakura pergi.
Sakura tersenyum tipis. Lalu beranjak dan pergi.
Setelah Sakura berbelok. Ino segera memberi isyarat pada Hinata yang disambut anggukkan dari gadis berambut indigo itu.
~XXX~
Sakura berjalan menyusuri koridor kelas 3. Ternyata dia hanya berbohong kalau akan ke toilet. Sakura kini ada di depan kelas 3-3. Kelas khusus untuk anak-anak berbakat dan mempunyai jiwa seni tinggi. Kelas tempat Sasori seharusnya berada, tempat Sasori belajar. Tetapi sosok itu kini tidak tampak. Dan tidak mungkin akan kembali. Sakura menjulurkan kepalanya ke dalam kelas itu. Dia berpikir mungkin saja bisa menemukan Sasori di dalam sana.
"Hey Sakura," sapa seorang pemuda dengan rambut merah dan mata kecoklatan yang sedang menyunggingkan senyum ke arah Sakura dari dalam kelas itu. Pemuda itu terlihat bercahaya.
"Sa.. Sasori!" Sakura langsung menghambur ke tempat pemuda itu berada, tak disadarinya air matanya telah menetes dari sudut mata emeraldnya yang indah. Air mata itu adalah air mata bahagia dan kerinduan.
"Jangan menangis," seru pemuda itu pada gadisnya. Sakura menghapus air matanya. Lalu gadis itu tersenyum, senyumnya terkembang memancarkan aura kehidupan dengan mata emeraldnya yang bersinar indah membuat gadis itu terlihat benar-benar cantik. Sasori kemudian membalas senyuman gadis itu dengan senyumannya yang juga menawan. Sakura langsung blushing.
Kemudian dia mendekat dan berniat memeluk pemuda itu. Tetapi setelah ditengok, sosok Sasori telah menghilang dari pandangannya. Lagipula setelah disadarinya ternyata kelas itu terlihat lengang tanpa ada seorangpun di sekitarnya. Air mata Sakura langsung jatuh lebih deras dari sebelumnya, air mata kesedihan tepatnya. Sosok tadi tentu saja itu hanya ilusi dan bayang-bayang. Atau bisa saja arwah pemuda berambut merah itu yang mampir karena ingin menenangkan kekasihnya yang sedang bersedih. Siapa yang tahu(?)
"Seandainya keajaiban itu ada," gumam gadis pink itu pada dirinya sendiri. Kepalanya menunduk, dilihatnya kursi yang diduduki oleh Sasori tadi –bukan, tepatnya bayangan Sasori.
"Ng?" Sakura langsung mengernyitkan alisnya. Ada sesuatu yang mengusiknya.
Meja itu benar-benar milik Sasori! Tempat duduk Sasori saat kelas biasanya. Sakura telah mengenal meja itu karena beberapa kali Sakura sering berkunjung ke tempat Sasori walau hanya sebentar. Dia melihat ada ukiran yang bertuliskan Sakura dan Sasori di sisi pojok atas meja itu. Dan itu Sakura yang mengukirnya sendiri saat dia sedang duduk-duduk menunggu Sasori mengerjakan piketnya sepulang sekolah. Sasori sempat marah-marah saat tahu perbuatan iseng yang Sakura lakukan itu. Sementara Sakura hanya tertawa senang melihatnya. Benar-benar gadis yang usil ya? Saat itu disana hanya ada mereka berdua saja. Dan Sakura mengingat jelas kejadian itu. Segala hal yang berhubungan dengan Sasori tidak akan pernah Sakura lupakan. Sampai kapanpun, karena Sasori adalah satu-satunya cowok yang mengisi hatinya.
"Jangan-jangan dia melihatku," gumam Sakura lagi. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas, dan dia merosot jatuh terduduk ke lantai.
"Dia tidak ingin aku bersedih," lanjut Sakura masih bicara pada dirinya sendiri. Kemudian Sakura menghela nafasnya setelah menyadari kenyataan. Meskipun berat dia harus menerimanya.
Lalu Sakura berdiri dan berjalan keluar dari ruang kelas yang mengingatkannya pada Sasori itu. Sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu Sakura sempat berbalik dan bergumam, "Terima kasih Sasori." Sakura tersenyum seraya keluar dari tempat itu.
Saat di ambang pintu tiba-tiba.
BRUKK…
Sakura tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Sakura segera meminta maaf, tetapi begitu mendongakkan kepala, mata emeraldnya langsung membulat besar. Orang yang ditabraknya tadi juga telah bangkit.
"!" Sakura hampir terpekik, tangannya otomatis membekap mulutnya sendiri. Sakura tak percaya apa yang dilihatnya. Pemuda dengan rambut merah yang sama seperti Sasori. Apakah ini ilusi lagi?
-TO BE CONTINUED-
Selesai juga chapter 3!
Semoga kalian menikmatinya..
Sekali lagi sebelum berpisah saya mohon…
~REVIEW~
