It's All About Choi.
Main Cast:
-Choi Kibum
-Choi Siwon
Other Cast:
-Choi Jiyoung
-Choi Donghae
Others…
Genre: GENDERSWITCH, very bit romance, full of typos, dll…
Author: Muftia Parasati
WARN: If u hate SiBum, just click "Back".
If u won't read this, just click "Back".
Need more warning?
.
-Story Start-
.
.
.
Choi's mansion
7.30 AM
Kibum mulai merasa muak dengan sarapan di hadapannya. Mimpi kemarin malam benar-benar membuatnya pusing. Kibum bahkan sulit melupakan sosok Siwon yang muncul dalam mimpinya. Sudut hatinya merasa bahwa itu adalah mimpi indah, namun perasaan Kibum mengatakan itu adalah mimpi yang mengerikan karena ucapan Siwon bisa sampai ke mimpinya.
Donghae yang melihat raut masam Kibum bertanya kepada Kibum. "Kemarin mimpi buruk, hm? Wajahmu kusut sekali, Bum. Waeyo?"
Kibum menggeleng pelan.
Jiyoung yang juga menyadari raut masam Kibum itu mengusap punggung Kibum pelan. "Kau sakit, ya? Benar kata Hae, wajahmu kusut. Ayolah sayang, kau bisa cerita pada kami."
Kibum menegang ketika mendengar ucapan Jiyoung barusan.
'Aku tidak bisa menceritakan mimpi memalukan itu pada keluargaku.' Gumam Kibum dalam hati.
"Kau tidak perlu merasa malu dengan mimpimu. Itu hanya bunga tidur. Cerita saja, Appa ingin tahu mimpimu." Seunghyun menyamankan posisi duduknya di samping Donghae. Setetes keringat dingin mengaliri pelipis Kibum.
'Kenapa Appa bisa tahu apa yang kupikirkan?' Kibum mulai merasa panik. Kini ia merasa diintimidasi oleh keluarganya sendiri.
Selang beberapa menit berlalu, Kibum tidak berbicara sepatah katapun. Mulutnya terasa kaku dan berat untuk digerakkan. Membuat Donghae jengah dan menggeser kursinya.
"Sudahlah, sepertinya mimpi Kibummie memang memalukan. Dia sampai berkeringat dingin. Appa sebaiknya berangkat, sudah siang." Sahut Donghae sambil berjalan keluar ruang makan. Seunghyun mengerjap lalu melihat jam tangan yang melingkar di lengan kirinya.
"Ah, benar. Youngie, aku berangkat dulu. Bummie, jangan pikirkan mimpimu itu. Cukup pikirkan rencanamu ke depannya, oke?" kata Seunghyun sambil berjalan mendekati Jiyoung dan mencium bibir Jiyoung.
"Hati-hati, jagi." Jiyoung menatap kepergian Seunghyun dari tempatnya duduk di samping Kibum.
"Eomma, mianhae." Bisik Kibum. Tangannya saling bertaut, memainkan jemari masing-masing. Jiyoung berbalik menatap Kibum.
"Kalau Kibummie tidak mau cerita, tidak apa-apa. Eomma dan Appa tidak marah, kok. Mungkin Hae memang agak kesal, tapi biarkan saja anak itu. Kau bisa menceritakannya kalau kau mau, eomma menunggumu, sayang." Kata Jiyoung lembut. Tangannya bergerak mengusap surai malam Kibum lembut.
Kibum menatap Jiyoung. Bibir merahnya membentuk senyum manis, lalu bergerak memeluk Jiyoung. "Gomawo, eomma. Kibum sayang eomma."
Jiyoung mengusap punggung Kibum. "Nado, jagi."
.
.
Sharp City Building
08.45 AM
Changmin menatap heran kepada Siwon yang senyum-senyum sendiri sambil menikmati sarapannya. Entah kesurupan apa, hampir sejak Changmin bertemu Siwon di lobby apartemen mereka, Siwon terus saja tersenyum aneh seperti itu.
"Siwon hyung, kau kenapa sih? Jangan membuatku takut." Seru Changmin. Siwon terkekeh, lalu menengadah menatap langit-langit ruang kerja milik Hankyung yang mereka masuki secara diam-diam.
"Tadi malam aku bermimpi. Indah sekali, Min. Entah kenapa kurasa perkataanku padanya benar terjadi." Gumam Siwon. Changmin menaikkan sebelah alisnya.
"Dia? Siapa?"
Siwon tersenyum lembut. "Choi Kibum. Kemarin malam aku menghubunginya. Aku dimarahinya, haha. Lucu juga."
Changmin membulatkan bibirnya. "Lantas? Hyung mimpi apa?"
Siwon nyengir lebar kepada Changmin sambil menggaruk kepalanya. "Aku lupa. Tapi mimpi itu meninggalkan bekas indah di hatiku! Makanya kupikir mimpi itu indah sekali, Min." jelas Siwon, menangkis gerutuan tajam yang mungkin saja terlontar dari namja jangkung di sampingnya itu. Changmin menggeleng prihatin.
Kemudian, pintu ruang kerja Hankyung terbuka. Menampakkan sepasang namja dan yeojya yang sangat teramat dikenali Siwon dan Changmin.
"Kalian berdua? Apa yang kalian lakukan disini?"
Changmin tersenyum lebar, menampilkan mismatch di kedua matanya. "Karena bangun kesiangan, kami memutuskan untuk mencari makan. Dan karena tidak nyaman makan di jalan, akhirnya kami memutuskan untuk makan disini." Jelasnya panjang lebar.
"Tapi, di ruangan ini? Kau 'kan punya ruanganmu sendiri, Min!" jerit Heechul frustasi. Changmin mengangkat bahunya.
"Mian, noona. Tapi, karena ruangan Hankyung hyung yang paling memungkinkan untuk ditempati, jadi…" Siwon tidak melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah, Heenim. Biarkan saja mereka." Sahut Hankyung di belakang Heechul. Hankyung membimbing Heechul masuk ke ruangannya dengan mendorong pelan punggung Heechul. Sembari mendorong punggung Heechul, bibir Hankyung menciumi surai coklat terang Heechul yang menurutnya wangi. Membuat Changmin cemberut entah karena apa.
Heechul dan Hankyung duduk di sofa yang berada agak jauh dengan sofa tempat Siwon dan Changmin duduk. Pasangan kekasih itu duduk sangat berdekatan dengan tangan Hankyung yang melingkar di pinggang ramping Heechul dan kepala Heechul yang terbaring di bahu Hankyung. Sekilas, mereka nampak sangat romantis. Changmin menutup matanya melihat kemesraan HanChul yang kadang sedikit 'lewat'.
"Kau ini. Sudah sering nonton kaset yadong bersama Eunhyuk noona dan Donghae hyung kenapa masih menutup mata? Dasar pabbo." Kata Siwon. Changmin tidak menggubrisnya.
"Siwon-ah, bisa kau hubungi para calon model yang lulus seleksi kemarin? Katakan pada mereka, seleksi selanjutnya diadakan lusa nanti jam 8 pagi." Kata Hankyung.
"Kenapa bukan Changmin saja?" tanya Siwon.
"Aku tahu kau ingin menghubungi Kibum lagi." sahut Heechul, membuat Siwon merona merah dan Changmin terkikik pelan.
"Baiklah…"
.
Siwon's room
09.10 AM
"Seleksi berikutnya akan diadakan lusa nanti…"
"Ya, jam 8 pagi di tempat yang sama, nona…"
"Maaf? Juri? Masih seperti kemarin juga, nona…"
"Ya. Terima kasih atas pengertian Anda…"
Siwon menghela napas setelah semua kontestan yang lolos audisi sudah dihubunginya. Oh, nampaknya belum semuanya. Karena di ponsel Siwon, nomor ponsel Kibum belum dihubunginya lagi setelah kemarin malam.
Siwon sedikit bimbang ketika hendak menelpon Kibum. Ia takut Kibum memarahinya dan menjauhinya. Tapi bukannya ia menelpon hanya untuk memberitahu seleksi?
'Aish, pabboya Choi Siwon. Buat apa aku memikirkan dia? Toh hubunganku dengannya hanya antara juri dan kontestan.' Pikir Siwon. Namun isi hatinya sangat berlawanan dengan apa yang ada di hatinya.
Siwon mengacak rambutnya kesal. 'Apa mungkin aku menyukai yeojya itu…?'
"Siwon-ah, kau sudah menghubungi semua kontestan?" kata Heechul sambil masuk ke ruangan Siwon.
"Ah-ehm, belum semua, noona." Jawab Siwon, gugup. Heechul terkekeh, lalu menepuk kepala Siwon pelan.
"Ayolah, Tuan Choi! Kau pasti belum menghubungi Kibum, 'kan?" tembak Heechul, tepat sasaran. Pipi maskulin Siwon langsung dijalari rona merah tipis, membuat namja tampan itu nampak seperti yeojya. Membuat Heechul tergelak karena respon Siwon.
"Aku benar? Ya ampun, Siwon!" Heechul menatap tak percaya pada Siwon yang duduk di sofa di ruangannya. Ia bersimpuh di hadapan Siwon. "Kau menyukainya, ya?"
Siwon membelalakkan matanya. "Mana mungkin!"
"Kalau begitu kenapa mukamu merah begitu? Cepat telepon dia! Cukup beritahu seleksi minggu depan dan tugasmu selesai!" titah Heechul, sebelum berdiri lalu meninggalkan Siwon yang tengah dilanda frustasi.
Karena Heechul sudah bertitah seperti itu, jadilah Siwon mengambil ponselnya dan mencari nama Kibum. Ketika sudah menemukannya, Siwon mengumpulkan segenap keberaniannya lalu menghubungi Kibum.
Tut…
Tut…
Tut…
Tut…
Klik!
'Ini dia!' Siwon menjerit dalam hati. "Ehm, yeoboseyo?"
"Ne, yeoboseyo? Ada apa menelponku, Siwon-ssi?"
Siwon terdiam sejenak. Memori ingatan di kepalanya mencoba merangkum suara Kibum di otaknya.
"Siwon-ssi?"
"Ah, ne.. aku cuma mau memberitahu, lusa nanti seleksi berikutnya akan dilakukan jam 8 pagi. Dan tolong… jangan terlambat."
"Oh, baiklah. Terima kasih informasinya. Ah, ngomong-ngomong, Siwon-ssi…"
"Y-ya?" Siwon mulai merasa gugup.
"Tanggung jawab. Kata-katamu kemarin membuatku mimpi buruk. Itu saja, sampai jumpa."
Tut.
Siwon menghela napas lega setelah Kibum memutuskan telepon secara sepihak. Tapi ada satu hal yang mengganjal pikirannya.
"Tanggung jawab?" tanya Siwon entah pada siapa. "Memangnya aku menghamilinya? Tapi, dia bilang kata-kataku membuatnya mimpi buruk. Ada apa?"
Siwon mulai bertanya-tanya sendiri. Memori Siwon mulai berkelana mundur, mengingat percakapannya dengan Kibum melalui telepon.
Oh ya, jangan lupa mimpikan aku, Kibum-sshi.
Siwon membulatkan bibir jokernya. "Ah, yang waktu itu!" serunya. Siwon kembali memasang senyum anehnya, sepertinya mimpi indahnya dengan mimpi buruk Kibum saling berkaitan.
"Hyung! Kau sudah selesai? Hankyung hyung memanggilmu!" seru Changmin dari luar ruangan Siwon. Siwon tersadar dari lamunannya lalu berteriak menjawab Changmin.
"Ne!"
.
.
.
TBC
.
A/N:
Ini epep sbnrnya blom selesai lho… Cuma krna temen author yg baca maksa buat apdet, jdinya ini deh…
Ada yg salah? Typo? Review ya. Apa yg harus diperbaikin di epep ini? Bilang ya. Lewat review :D
Yg review dikasih pahala AMIN~!
Yaudah, author pamit ya. Harus ninggalin ripiu. Dadah~
