Ichizuki…

Happy Reading…

Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

WAY OUT

By Ichizuki_Takumi

Pairing : SasuNaru, SasuSaku, NaruSaku

Rated : T

Genre : Angst/Humor

Warning : AU, OOC, MPREG, Straight, BL, Alur cepat, Bahasa sulit di mengerti

DON'T LIKE! DON'T READ !

Chapter 9

SASUKE POV

Belum sampai sehari Itachi disini, tapi dia sudah membuatku geram. Dia selalu saja mencari masalah dengan mendekati Naruto. Meskipun aku sudah memisahkannya, tapi tetap saja dia bersikeras untuk mendekati Naruto. Sebenarnya apa maunya.

Sore ini udara begitu sejuk. Tapi angin semilir yang menggelitik kulit dan menyejukkan itu, tak bisa meredakan panas yang menyulut di hatiku. Wajahku sedikit memerah menahan marah dengan apa yang aku lihat saat ini.

Baru saja aku pulang dari perjalananku mencari apa yang sedang diidamkan Naruto dan Sakura. Tapi aku sudah melihat pemandangan yang memuakkan.

Ingin tahu apa yang aku lihat? Saat ini diruang keluarga, baka Itachi sedang duduk di sebuah sofa sambil menonton acara TV dengan ditemani oleh Naruto dan Sakura. Hal ini memang wajar. Seorang tamu ditemani oleh tuan rumahnya, wajar bukan? Tapi yang membuatku sangat amat marah, kenapa tangan Itachi harus merangkul mereka berdua. Naruto disisi kanan dan Sakura disisi kiri. Sungguh pemandangan yang memuakkan.

"Bakaaa~…" geramku. Enak saja, aku yang suami mereka saja belum pernah melakukan hal seperti itu.

Dapat kupastikan Naruto, Itachi, dan Sakura langsung menoleh kebelakang, melihat diriku yang sudah dihiasi dengan kedutan yang bertengger di dahi.

"Oh, ada tamu," ujar Itachi dengan nada yang seakan-akan dirinyalah sang tuan rumah.

"Apa yang kau lakukan disini? Cepat pulang sana," kataku dengan nada di bawah rata-rata (kesal).

"Hei, kaukan sudah mengijinkanku untuk tinggal disini selama sehari," ujar Itachi meminta pertanggung jawaban atas ijinku tadi pagi.

"Aku berubah pikiran," ujarku ketus. 'Dan enyahlah dari hadapanku, ********,' batinku. Ya, hanya dalam pikiran, karena aku tidak ingin Naruto maupun Sakura mendengar kata-kata kasar itu dan nantinya akan berpengaruh pada janin dalam kandungan mereka. Ayah macam apa yang memberi contoh kepada anaknya perbuatan yang jelek.

"Tapi,-"

"Tidak ada tapi-tapian," potongku sebelum Itachi memberikan alasannya.

"Oh," ujarnya pasrah. Dia terlihat tertunduk sedih dan mulai berdiri dari tempatnya duduk.

"Tunggu," ujar Naruto sambil meraih tangan Itachi, tanda memintanya untuk berhenti. "Sasuke, kau tidak usah sekasar itukan?" ujar Naruto padaku.

"Iya Sasuke, meski bagaimanapun dia itu kakakmu," sekarang Sakura yang berkomentar.

Dapat kulihat seringai tipis bertengger di sudut bibir Itachi. "Tidak apa, Naruto, Sakura, aku baik-baik saja," ujarnya dengan nada yang dibuat-buat.

"Aniki disini saja. Kalau tidak disini, kemana lagi Aniki mau pergi," ujar Naruto. Kau terlalu polos Naruto. Apa kau tidak tahu, kalau dia juga punya banyak teman disini.

"Ya, Itachi niisan. Hanya Sasuke keluargamu yang berada disini, yang lainnya berada di luar kota kan?" ujar Sakura memastikan. Kau juga Sakura. Sepertinya kau tertular penyakit bodohnya si Dobe.

"Tidak apa, lagi pula sepertinya Sasuke sudah tidak menerimaku disini," ujar Itachi sok tegar.

"Rumah ini selalu terbuka untukmu," ujar Naruto, dan mendapat anggukan dari Sakura.

"Benarkah?" ujar Itachi dengan mata berbinar. "Baiklah kalau kalian memaksa," lanjut Itachi. Dia terduduk kembali diantara Naruto dan Sakura. Senyum kemenangan menghiasi bibirnya, dan itu membuatku muak.

"Kalau dia tidak pergi, aku yang akan pergi," ujarku yang mulai muak melihat drama singkat itu.

"Silahkan," ujar Naruto ketus.

Sial, kali ini kau menang Itachi. Lihat saja, akan ku balas kau.

"Hn," ujarku singkat. Aku berjalan ke depan mereka, menyerahkan barang yang sedari tadi ku bawa.

"…" tak ada reaksi dari mereka. Mereka hanya diam menunggu apa yang akan aku lakukan.

Aku meletakkan sesuatu yang seperti keranjang bayi -hanya saja ukurannya lebih kecil- di atas meja. Isinya adalah kucing tetangga bersama anak-anaknya yang sedang tertidur. Kucing itu kemarin baru saja melahirkan anaknya, jadi Naruto ingin menemuinya dan menanyakan hal-hal bodoh yang sering dia tanyakan pada si kucing. Tidak lupa, lagi-lagi aku mendapat cakaran dan lirikan tajam dari –apa ya istilahnya, suami mungkin- suami kucing ini.

Di tangan kiriku terdapat tas plastik dan aku juga meletakkannya diatas meja. Tas itu berisi sarang madu yang masih berisi madu segar, karena diambil langsung dari peternakannya, dan sukses membuatku mendapat dua sengatan di kepala. Masih agak nyut-nyutan sih, tapi tak apa untuk suami dan istriku.

Aku meletakkan tas yang lumayan besar dari punggungku di atas meja. Tentu saja tas itu berisi sesuatu yang diinginkan Naruto dan Sakura yang bahkan aku tidak ingin mengingat bagaimana aku mendapatkannya.

Setelah kuletakkan semua benda yang aku bawa, aku segera beranjak dari sana. Ku lirik sejenak wajah Itachi yang masih menyeringai. 'Cih,' langsung kualihkan pandanganku dari muka licik Itachi. Dan berjalan menjauh menuju pintu.

End of SASUKE POV

"Apa tidak apa, kita berbuat seperti ini pada Sasuke?" tanya Sakura pada Naruto.

"Entahlah," jawab Naruto yang memang tidak tahu hal yang dilakukannya ini benar atau tidak.

"Tidak apa, dia itu anak yang keras kepala. Jadi tidak mungkin dia akan marah hanya karena ini," hibur Itachi.

"Benar juga," ujar Naruto lirih.

ooooO0Ooooo

Sasuke berjalan menyusuri koridor sebuah gedung. Hanya tempat ini yang terpikirkan olehnya. Gedung Uchiha Corp. Mungkin menurut kalian, pikiran si bungsu Uchiha ini pendek dengan pergi ke kantor. Kenapa bukan ke danau saja kemudian terjun kesana. Tapi ke puncak gedung kantor Uchiha Corp mungkin boleh juga, mengetahui berapa tingkat kantor itu menjulang.

Tapi bukan bunuh diri yang ada di pikiran Sasuke saat ini, dia masih punya akal sehat waras. Saat ini dia ingin meminta nasehat dari temannya yang mungkin sedang berada di kantornya.

Sasuke membuka pintu kantor yang diketahui adalah ruangan milik direktur. Dua orang yang sedang duduk berhadapan menoleh memandang Sasuke.

"Lama tak jumpa, Sasuke," ujar Gaara yang duduk di kursi direktur.

"Hn," ujar Sasuke singkat.

"Kau sudah selesai dengan urusanmu? Gara-gara kau aku jadi jarang berkencan dengan Gaara," ujar Neji, pria yang duduk dihadapan kekasihnya.

"Hn, aku ada perlu denganmu Neji," ujar Sasuke sambil duduk di kursi kosong yang berada disamping Neji.

"Kenapa? Kalau tentang Naruto, kau tanya saja pada sahabatya," ujar Neji sambil menunjuk Gaara dengan ibu jarinya.

"Bukan," Sasuke menyandarkan punggungnya di kursi dengan mata yang terpejam.

"Kelihatannya kau lelah sekali," ujar Gaara yang melihat wajah pucat sasuke.

"Hn. Aku capek sekali," ujar Sasuke dengan suara yang lirih.

Suasana menjadi tenang, ternyata Sasuke yang tadi hanya berniat menyamankan diri, jadi tertidur di kursi.

"Sepertinya dia ketiduran," ujar Gaara.

"Ya, dia ini memang bodoh. Dari dulu dia selalu memaksakan diri untuk memenuhi keinginan Naruto," lirih Neji.

"Kau tahu sejak dulu?" tanya Gaara pada Neji.

"Hn, lebih tepatnya sebelum aku mengenalmu. Saat itu aku berpacaran dengan kakaknya, Itachi."

"Apa," seru Gaara. Gaara langsung menutup mulutnya karena takut membangunkan Sasuke.

"Maaf baru memberi tahumu sekarang. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu," ujar Neji dan sukses membuat wajah Gaara memerah.

"Sepertinya kita harus memindahkan Sasuke," ujar Gaara yang menyadari posisi Sasuke hampir terjatuh dari kursinya.

"Ya, kau benar. Pasti tubuh akan sakit kalau tidur dengan posisi seperti itu," balas Neji.

Mereka mengangkat Sasuke ke sofa yang berada di ruangan itu. Merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya dengan selimut yang di minta dari OB. Dengkuran halus terdengar saat Neji dan Gaara duduk di lain sofa yang berada di dekat Sasuke.

"Dia kalau tertidur, seperti bayi," ujar Neji sambil memandang wajah Sasuke.

"Hn, berbeda sekali dengan saat dia terbangun. Biasanya wajahnya itu selalu tertekuk, sampai aku ingin tertawa saat melihatnya," ujar Gaara.

"Kau berani sekali ya, menertawai wajah Uchiha," Neji meminum kopinya yang tadi sudah disediakan oleh OB.

"Hn, sifatnya kekanak-kanakan sih, apalagi kalau menyangkut Naruto. Meski ku akui dia selalu bersikap dewasa dan dapat menuntaskan semua masalah sendirian," terang Gaara.

"Ya, dia memang pekerja keras. Harga dirinya tinggi juga ya," ujar Neji setelah meneguk kopi yang diminumnya.

"Hn," Gaara tersenyum lembut memandang Sasuke, tentu saja Neji juga memandang Sasuke dengan senyuman yang tak kalah lembut.

-ooooO0Ooooo-

Sebuah mata hitam mengerjap, mencoba menyesuaikan dengan ruangan yang remang dari lampu luar gedung.

'Sepertinya aku ketiduran,' batin Sasuke, si pemilik mata sehitam batu onyx.

Dia mencoba mendudukkan badannya dengan sedikit peregangan karena tidur di tempat yang tidak semestinya.

'Pantas saja badanku pegal semua, aku tidur di sofa.'

"Kau sudah bangun," ucap suara dari arah datangnya cahaya –jendela-.

Terlihat dua orang pemuda yang sedang berdiri menghadap jendela yang membingkai seluruh sisi kanan ruangan itu. Dua sosok itu tetap memfokuskan penglihatannya pada pemandangan yang terhampar di hadapannya. Suasana malam di kota Konoha, dengan lampu berwarna-warni yang menghiasi seluruh pelosok kota. Jalanan yang masih ramai akan kendaraan dan orang yang berlalu lalang.

"Hn," jawab Sasuke singkat. "Jam berapa sekarang?" tanya Sasuke pada sosok yang sedang membelakanginya.

"Kau tidur lelap sekali Sasuke, hampir dua jam kau tidur disitu," ujar sosok berambut panjang tanpa mengalihkan pandangannya dari luar.

Sasuke mendengus karena pertanyaannya tidak dijawab. "Jawab saja pertanyaanku," ujar Sasuke ketus.

"Sekarang tepat pukul 19.00," ujar sosok berambut merah sambil melihat jam yang menempel di tangan kirinya. "Kau tidak pulang?" tanyanya kemudian.

'Bagaimana aku mau pulang, aku sudah bilang akan pergi dari rumah itu. Kalau aku pulang begitu saja, mau dibawa kemana harga diriku ini?' batin Sasuke. "Hn. Aku masih ada perlu dengan Neji," ujar Sasuke sambil melirik tajam pada sosok berambut panjang yang sedari tadi memunggunginya.

Sosok yang bernama Neji itu akhirnya membalikkan badannya dan menatap mata onyx bocah Uchiha yang masih terduduk di sofa. "Hahaha, ternyata kau gigih juga ya kalau hanya ingin menemuiku. Tapi maaf, aku masih punya Gaara, tapi kalau mau kau bisa menunggu," ujar Neji yang lengsung mendapat death glarer dari sang Uchiha. "Maaf-maaf, cuma bercanda. Lagi pula aku tidak akan melepaskan uke-ku ini," ujar Neji sambil merangkul pinggang Gaara yang ada disebelahnya, dan mendapat sikutan yang lumayan keras dari sosok berambut merah itu.

"Hh," Sasuke mendengus kesal menyaksikan dua sejoli yang menurutnya sedang bermesraan itu. "Langsung saja. Saat ini Itachi sedang berada di rumahku. Jadi, aku ingin tanya," ujar Sasuke dengan sedikit jeda disela perkataannya.

Neji dan Gaara mendekat dan mendudukkan diri di sofa yang ada di hadapan Sasuke sambil memperhatikan suara yang dilontarkan oleh sang Uchiha.

"Apa…kelemahan Itachi," tanya Sasuke dengan nada yang serius.

Neji dan Gaara sweatdropp mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasuke. "Apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih serius? Kau menyuruhku menunggu disini hanya untuk mendengar hal itu?" geram Neji dengan kedutan yang menghiasi dahinya.

"Aku tidak menyuruhmu untuk menungguku disini," ujar Sasuke datar.

'Kurang ajar Uchiha satu ini. Sudah menyuruh orang menunggu, tidak berterimakasih malah memutar balikkan omongan orang,' batin Neji. "Haahh, aku pikir ini pembicaraan yang akan menyangkut hidup mati seseorang, ternyata hanya pembicaraan konyol yang kau tanyakan," ujar Neji sambil menghela napas untuk menurunkan emosinya.

"Tidak usah bertele-tele," ujar Sasuke ketus.

"Cih, kau memang tidak sabaran," dengus Neji. "Baiklah, aku akan cerita sedikit tentang Itachi," kata Neji yang memulai ceritanya. "Sebenarnya Itachi itu biseksual, dia menyukai lawan jenisnya sekaligus menyukai sesama jenis."

"Hn, aku tahu itu," potong Sasuke.

"Ya, kau memang sudah tahu. Tapi yang perlu kau ketahui," Neji memberi jeda pada perkataannya. "Dia selalu bersikap beringas pada pasangan sesama jenisnya, atau bisa dibilang, A..gre..sif.." ujar Neji dengan penekanan di akhir katanya.

"Lalu," ujar Sasuke tenang.

"Yah, kesimpulannya dia tidak akan berbuat diluar batas pada pasangan lawan jenis, jadi kau tidak perlu khawatir pada keadaan Sakura. Tapi," Neji melirik Sasuke dengan sedikit seringaian di sudut bibirnya. "Kau taukan."

Sasuke menelan ludahnya dengan paksa. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang terjadi kalau Itachi dan Naruto dibiarkan bersama.

"Bagaimana ya, dengan keadaan Naruto?" ujar Neji yang sukses menyulut hawa panas dari diri Sasuke.

"Apa maksudmu, Neji," ujar Gaara yang sedari tadi hanya mendengar percakapan mereka.

"Hn, temanmu dalam bahaya. Tapi saat ini dia sedang hamil ya, jadi tidak usah terlalu khawatir. Itachi tidak mungkin menyerang orang yang sedang hamil," hibur Neji.

"Lalu, apa yang harus ku lakukan untuk mengusirnya dari rumahku?" tanya Sasuke.

"Aku punya penengahannya," ujar Neji dengan seringai yang tak lepas dari bibirnya.

ooooO0Ooooo

Saat ini di kediaman UUH, terlihat Naruto yang masih menyalakan tv dengan lampu yang sudah dimatikan semua. Suara tv itu memang terlalu lirih, hal itu dia lakukan agar Sakura yang sudah tertidur tidak terbangun karenanya. Dia duduk di sofa sambil memencet tombol pada remote control untuk menemukan mana acara tv yang menarik.

'Hampir pukul 22.00, kenapa Sasuke belum pulang juga ya,' batin Naruto disela acara pencet-memencet remot tv.

Tiba-tiba dari belakang ada sepasang tangan yang menjulur memeluk leher Naruto.

"Sasuke," ujar Naruto yang sedikit terkejut. Naruto akan menolehkan kepalanya sebelum sosok yang berada di belakang Naruto mencegahnya untuk menoleh. Hal itu membuat Naruto pasrah, mengingat dia adalah suaminya sendiri.

Awalnya sosok yang ada di belakang Naruto hanya membelai rambut pirang yang sedikit menjuntai ke leher, tapi lama-kelamaan belaian itu menjadi sebuah kecupan disana sini. Tangan putih itu menyingkirkan rambut yang ada di leher Naruto, dan kemudian mencium leher si pirang sampai tertoreh warna merah disana.

Hal itu terus dia lakukan berulang-ulang sampai saat dia menemukan bibir mungil milik Naruto. Sosok itu segera mencium bibir Naruto. dagu Naruto sedikit terangkat karena posisinya yang sedang duduk di sofa. Dengan pelan Naruto melingkarkan kedua tangannya di leher sosok yang sedang menciumnya.

'Tunggu dulu, kenapa rambut Sasuke memanjang? Apa dia memanjanhkan rambut?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. Saat dia ingin melepaskan ciumannya sosok itu malah memperdalam ciuman mereka.

Naruto segera membuka matanya karena merasa ada yang tidak beres. Sapphire bertemu onyx. Dalam nuansa gelap dengan cahaya yang minim dari tv, Naruto hanya dapat melihat mata hitam yang sedang berkilat tajam memandang mata biru miliknya.

'Tatapan ini berbeda dengan milik Sasuke. Mata onyx ini memang berbeda dengan milik Sasuke,' seru Naruto dalam hati.

Tiba-tiba lampu utama ruangan itu menyala, membuat Naruto dan sosok itu memicingkan mata agar terbiasa dengan cahaya terang. Sosok itu akhirnya melepaskan ciumannya dari Naruto. Setelah sedikit mengerjapkan mata, Naruto akhirnya dapat melihat sosok yang ada di hadapannya.

"I…tachi niisan," ujar Naruto yang begitu terkejut. "Kenapa?" tanya Naruto tidak percaya. Orang yang sedari tadi dianggapnya sebagai Sasuke ternyata adalah Itachi.

"Itachi, beraninya kau," geram Sasuke, orang yang tadi menyalakan lampu karena melihat gerakan yang mencurigakan. "Rasakan ini," seru Sasuke sambil menghadiahkan sebuah bogem mentah pada pipi putih Itachi.

*Dhieess', Itachi langsung tersungkur dengan sedikit darah yang mengalir di sudut bibirnya.

"Cih, kau datang juga…Baka otouto," dengus Itachi. 'Mengganggu,' batin Itachi kesal.

"Sasuke," ujar Naruto yang tambah terkejut karena suaminya menyaksikan perbuatan nista yang telah dilakukannya. "M-maafkan aku," ujar Naruto sambil menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk.

Sasuke memandang Naruto dan mendapati bekas tanda merah yang tertoreh di lehernya. Emosinya memuncak, dia tidak bisa menahan emosinya lagi, serasa dia ingin membunuh Itachi saat itu juga. "K-kau, ********, **** **, ****, sialan kau," akhirnya kata-kata sumpah serapah yang dia tahan selama ini keluar juga dari bibirnya. Sasuke menarik kerah baju yang dipakai Itachi, dia mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Itachi yang dalam posisi terjepit seperti itu tetap memasang seringaiannya, hal itu membuat Sasuke semakin geram dengan tingkah Itachi yang seakan tidak merasa bersalah.

Mendengar ada yang ribut-ribut seperti itu, akhirnya membuat Sakura terbangun dari tidurnya. "Astaga, Sasuke," seru Sakura yang kini berada di ruangan yang sama dengan mereka. Tetapi Sasuke tidak mempedulikan seruan Sakura. 'Ada apa ini, kenapa Sasuke memukul Itachi niisan,' batin Sakura. "N-Naruto," ujar Sakura pada Naruto yang terduduk melihat kebalik sofa memunggungi Sakura.

"Sa..kura," Naruto membalikkan badannya. Air mata Naruto mengalir, mukanya memerah karena perasaan yang bercampur aduk.

"Astaga, lehernya," lirih Sakura saat melihat leher Naruto yang memerah. 'Sekarang aku tahu kenapa Sasuke semarah ini. Pasti ini karena ulah Itachi niisan,' batin Sakura. Kemudian Sakura menghampiri Naruto dan memeluknya untuk menenangkan suaminya itu. "Sudahlah, Naruto," hibur Sakura sambil mengelus rambut halus Naruto.

"Hiks…" isak Naruto di dalam pelukan Sakura.

Sedari tadi Sasuke dan Itachi saling berpandangan, dengan tangan Sasuke yang mulai menggantung di udara. Lama berdiam seperti itu, Itachi semakin memperlebar seringaian di bibirnya, hal itu membuat hati Sasuke menjadi buta. Kini ia tidak peduli apakah orang yang ada di hadapannya ini keluarganya atau bukan.

"Tunggu," sebuah suara berhasil menghentikan tindakan Sasuke yang akan meninju muka Itachi. Kini pandangan mereka yang berada di ruangan itu terfokus pada pemilik suara yang menginterupsi tindakan Sasuke. "Biar aku yang urus, Sasu-chan," ujar seorang wanita cantik berambut pirang pucat yang panjangnya sepundak. Wanita itu berjalan mendekati Sasuke dan Itachi.

Sasuke beniat melepaskan Itachi, tapi saat melihat ekspresi wajah Itachi dia jadi sweatdropp. *Tanya kenapa?* Saat ini yang dilihat Sasuke adalah wajah Itachi yang mengeluarkan puppy eyes-nya. Wajah yang sedari tadi membuatnya geram karena selalu mengeluarkan seringaian, ternyata saat melihat istrinya dia langsung bertingkah sok manis seperti ini. Uchiha mana yang melakukan hal memalukan semacam ini. Selamat Sasuke, kau sudah menemukannya, orang itu kini tepat berada di hadapanmu, dia kakakmu sendiri, Uchiha Itachi.

'Kenapa orang bodoh seperti ini harus menyandang nama Uchiha. Mempermalukan leluhur Uchiha saja,' batin Sasuke. Sasuke melepaskan kerah baju Itachi dan berdiri dengan tenang. "Silahkan nona Dei-chan," ujar Sasuke dengan tangan mempersilahkan seperti pelayan. Rasanya geli sendiri saat mengucapkan kata itu, tapi apa boleh buat, Sasuke tidak ingin memperpendek hidupnya.

"Hehe," Deidara mendengus dengan seringaian yang mengerikan di bibirnya.

"Kaing-kaing," (sebuah suara sebagai back ground menggambarkan keadaan Itachi saat ini) seperti anjing kecil yang ketakutan dengan tangan yang menutupi kedua matanya dan ekor yang bergerak semakin cepat. Begitulah kira-kira gambaran Itachi saat ini.

"Sasu chan, bolehkah aku meminjam ruangan sebelah?" tanya Deidara dengan senyuman bak nona bangsawan.

"Apapun untukmu, nona," ujar Sasuke sambil membungkukkan sedikit badannya ke depan.

"Terimakasih, Sasu chan," ujar Deidara, kemudian dia memandang Itachi. "Pa-chan (papa), ayo ikut ma-chan (mama)," ujar Deidara sambil berjalan menuju ruang sebelah dan diikuti oleh Itachi di belakangnya.

"…"

Hening beberapa saat.

"Dasar pachan, beraninya kau ninggalin machan sendirian dirumah apa kau tidak tahu bagaimana capeknya mengurusi gagak-gagakmu yang kelewat kolot itu dan kenapa kau ninggalin kerjaanmu di kantor hari ini, karena kau, semua pekerjaanmu aku yang mengerjakannya seharian ini, dasar *******,*****,*****,********, bla…bla…bla…." Seru -atau mungkin- teriak Deidara tanpa jeda.

Teriakan yang tiba-tiba terdengar itu membuat UUH family cengok dibuatnya. Naruto yang sudah tenang sejak masuknya Deidara, jadi sedikit takut dengan wanita yang telah menjadi istri Itachi itu.

*Ctar…ctar…*

"Adaw…huhuhu…ampun Dei-chan, macan."

"Apa kau bilang, aku macan?"

"Bukaaann, maksudku mama chan."

*Ctarr…brak…bruk…dhiesss*

Mendengar suara tersebut membuat UUH family mengalirkan keringat dinginnya. Semuanya terpaku di tempat, tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun.

*Cklek, ngeeekkk*

Pintu ruang sebelah akhirnya terbuka. UUH family masih terpaku di tempat, tidak berani mengambil langkah seikit pun.

"Terimakasih Sasu chan sudah meminjamkan ruangan ini," ujar Deidara ramah pada Sasuke.

"Sama-sama," ujar Sasuke. UUH family masih memandang pintu ruangan yang sudah terbuka itu.

Deidara pun menyadari hal itu. "Hohoho, aku lupa. Pa chan, ayo keluar, Sasu chan sudah menunggu," ujar Deidara sambil menghadap ke pintu.

"Iya, ma-chan," ujar Itachi dengan nada tenang dari dalam ruangan. Akhirnya Itachi pun keluar dari ruangan itu. Dia berjalan keluar dengan angkuh. Seringaian lebar bertengger kembali di bibirnya. Tangannya mengelus rambut untuk merapikannya, dia berjalan bagaikan bangsawan yang sudah di tunggu oleh putri-putri cantik dari pelosok kota.

Melihat hal itu, UUH family hanya menahan tawanya.

'Hahahaha…keren-keren ternyata takut istri,' pikir Naruto dan Sakura.

'Bhuubhhh, sok keren, muka lebam semua masih pasang seringaian,' batin Sasuke. 'Ide Neji untuk mendatangkan istri Itachi ternyata benar juga. Itu memang satu-satunya kelemahan Itachi,' pikir Sasuke.

'Kenapa Dei-chan ada disini…huweeee…' teriak Itachi dalam hati, tapi di luarnya dia masih tetap menjaga penampilan.

"Silahkan duduk, nona," ujar Sasuke sopan pada Deidara.

"Wah, ternyata sekarang kau sopan sekali ya, Sasu chan," ujar Deidara sambil berjalan menuju sofa dan diikuti oleh Itachi di belakangnya.

'Hn, kau pikir aku jadi seperti ini juga gara-gara siapa,' batin Sasuke kesal mengingat ancaman Deidara dulu.

"Sasu chan, siapa dia? Sebelumnya aku belum pernah melihatnya," ujar Deidara sambil menunjuk Naruto yang duduk diantara Sasuke dan Sakura.

"Dia Naruto, istriku," ujar Sasuke tanpa menoleh pada Naruto. "Ouch," Sasuke mengaduh karena kakinya diinjak oleh Naruto.

"Maaf, sebenarnya aku suaminya," ujar Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan cengiran yang terpampang di bibirnya.

"Kau…laki-laki, tapi-?" tanya Deidara tidak percaya. Air mata mulai mengalir di pipi putih milik Deidara. UUH family bingung karenanya.

Melihat hal itu Itachi langsung memeluk Deidara. "Sudahlah, Dei chan," ujar Itachi sambil mengelus rambut Deidara dengan lembut. Wajah Itachi yang sejak tadi menampilkan seringaian, kini meredup melihat sang istri yang menangis di pelukannya.

"Itachi nii," ujar Naruto meminta penjelasan.

"Sebenarnya… sudah satu setengah tahun kami menikah…" Itachi mengambil jeda sejenak. Mendengar hal itu, Sasuke jadi mengerti kenapa Deidara jadi seperti itu. "…tapi kami belum juga di karuniai putra," ujar Itachi dengan tangan yang masih terus mengelus rambut Deidara.

Naruto dan Sakura yang mendengar cerita Itachi menundukkan kepalanya tanda bersimpati.

Hening beberapa saat.

Setelah mengalami gejolak dalam hati, akhirnya Naruto angkat bicara. "Dei nii," ujar Naruto lirih. Semua mata tertuju pada Naruto. "Kalau mau, kau boleh merawat anakku." Semua terkejut mendengar perkataan Naruto, terutama Sasuke sang suami, dia membelalak tak percaya.

"Bolehkan…Sasuke," ujar Naruto meminta persetujuan Sasuke.

'Apa maksudmu, Naruto. Apa kau rela menyerahkan anak kita begitu saja?' batin Sasuke.

"Naruto, kau, yakin," ujar Sakura yang tak kalah terkejutnya.

"Ya, aku yakin. Lagi pula aku ini laki-laki, apa yang akan aku katakan nanti kalau anakku mengetahui kalau ternyata aku laki-laki bukannya perempuan," jelas Naruto.

'Aku mengerti,' batin Sasuke. "Baiklah kalau begitu, aku akan mendukung semua keputusanmu," ujar Sasuke sambil mengelus rambut Naruto. Sasuke memandang Naruto dengan pandangan yang lembut.

"Be..narkah, Naruto?" tanya Deidara tak percaya. Dia tidak mengira kalau Naruto akan menyerahkan anaknya pada Deidara. Naruto mengangguk mengiyakan. "Terimakasih Naruto…terimakasih," seru Deidara sambil menggenggam kedua tangan Naruto.

"Iya," ucap Naruto ceria.

TBC