Hore! Lagi-lagi update…!

Terima kasih author ucapkan untuk :

iyulquiorra, Ella-cHan as NaGi-sAn, Ran Uchiha, May Kazami, VLouchi Hisagi, Youichi HiKaRi dan akasuna no hataruno teng tong yang telah mereview di chapter kemarin!

Saya ucapkan terima kasih juga bagi para reader yang mungkin tidak sempat review.. Arigatou all.. karena kalian saya jadi semangat!

Sebelumnya kita balas review dulu yuk! yang onlen Ririn balas via PM...

- iyulquiorra : hehe, arigatou.. ini udah update^^ Makasih jga ya reviewnya… =)

- May Kazami : BINGO! Tepat sekali! Makasih reviewnya ya~ ^^

-Youichi HiKaRi : ga apa-apa kok.. Youi-chan lucu sekali!^^ di chap itu memang sedih T.T

Tapi selanjutnya tidak ada yang meninggal kok kelihatannya, kecuali kalo author sedang berubah pikiran *dibakar chara*. Makasih ya buat reviewnya…^^ update~

Cerita di mulai!


Disclaimer :

Naruto Masashi Kishimoto

Warning :

AU, OOC

Pairing :

SasuSaku slight SaIno slight SasoSaku =='

Author :

Ririn Kiseki (Cross)

FEEL CLOSE TO YOU

CHAPTER 4 :

::SOMETHING::


Cerita sebelumnya :

Di Konoha Gakuen High School tempat Sakura bersekolah datang murid baru bernama Uchiha Sasuke. Pemuda yang sangat misterius, pertemuannya dengan Sakura membuat Sakura drop lagi karena sikapnya yang sinis. Dia juga berhasil membuat Naruto marah-marah. Sakura mengacuhkan pemuda itu dan dia diam-diam ke kelas Sasori. Di sana Sakura bertemu bayang-bayang Sasori. Tetapi setelahnya dia merasa lega dan dapat tersenyum karena tidak ingin kesedihannya mengganggu Sasori. Setelah dari kelas Sasori tak sengaja Sakura bertabrakan dengan seseorang dan betapa terkejutnya Sakura ketika melihat orang itu.

"Gaara, kau tidak apa-apa kan?" Tanya seorang pemuda berambut kuning dikuncir yang Sakura kenal dengan nama Deidara. Dia teman sekelas sekaligus teman kerja part timenya Sasori di kafe 'Akatsuki'.

Pemuda yang dipanggil Gaara itu bangkit. Dia mengibas-ngibaskan seragamnya yang kotor karena jatuh. Benar sekali! Pemuda bernama Gaara itu perawakannya mirip seperti Sasori memang. Tetapi dia memasang muka dingin tanpa ekspresi. Rambut merahnya itu yang menegaskan penampilannya seperti Sasori.

"Hn," jawab pemuda itu pada Deidara tanpa mengubah ekspresi. Sakura masih jatuh terduduk di ambang pintu itu dengan membekap mulutnya. Dia memperhatikan pemuda itu, sebelumnya dia tak pernah melihat pemuda yang bernama Gaara itu. Ataukah dia yang kurang pergaulan saja. Mungkin pilihan kedua yang paling tepat.

Ino dan Hinata yang sedari tadi mengikuti Sakura segera menghampiri gadis pink itu yang masih terduduk.

"Sakura!" teriak mereka bersamaan dan menuju ke arah Sakura. Deidara yang baru melihat kehadiran Sakura matanya langsung bersinar terang.

"Sakura. Sudah lama tak bertemu ya," sapa pemuda bernama Deidara itu. Sakura dibantu berdiri oleh Ino dan Hinata. Sementara Gaara hanya melemparkan tatapan dingin pada gadis pink itu.

"Ehm iya," jawab Sakura sekenanya. Dirinya masih syock dengan sosok yang berdiri di hadapannya itu.

"Kau sedang apa?" Tanya Deidara lagi. Tentu saja, karena teman Sasori yang paling akrab dengan Sakura hanya Deidara dan Tobi. Selebihnya yang lain bersikap dingin karena kebanyakan adalah cowok-cowok yang cool.

"Aku…" Sakura bingung mau menjawab apa. Ino dan Hinata juga tidak tahu harus melakukan apa.

"Jangan-jangan kau?" Deidara mengajukan pertanyaan secara tidak langsung yang tentu bisa ditebak oleh Sakura. Sakura hanya mengangguk dan mencoba tersenyum. Raut muka pemuda berambut kuning panjang itu langsung berubah.

"Kenapa begitu cepat ya," gumamnya pada dirinya sendiri.

Gaara yang sedari tadi diam kini mulai memperhatikan Sakura.

"Baiklah, kami permisi dulu ya Dei-senpai, dan err… Gaara-senpai," ujar Sakura sambil sedikit mengingat nama pemuda berambut merah itu saat Deidara menegurnya. Sakura langsung mengajak Ino dan Hinata pergi dari tempat itu.

BRUKK

Ino yang tidak melihat jalan karena ditarik Sakura dengan tiba-tiba terjatuh karena menubruk sesuatu.

*Maaf ya kalau banyak adegan tubruk-menubruk di sini. Entah kenapa author suka adegan seperti ini ==*

"Aduh!" Rintih Ino sambil memegangi bahunya.

"Maaf, aku tidak sengaja," ujar sebuah suara yang pernah Ino dengar itu. Ino langsung mengalihkan pandangan menuju asal suara itu. Matanya langsung berbinar-binar ketika mendapati sosok si pemilik suara.

"Tidak apa-apa kok," jawab Ino dengan slow motion karena terpesona melihat sosok di depannya itu. Tentu saja, siapa lagi kalau bukan Sai yang sedang dilihatnya.

"Syukurlah," pemuda itu langsung tersenyum ramah. Ino hanya mengangguk.

"Sepertinya kita pernah bertemu?" tanya Sai ramah pada Ino.

"Iya tadi pagi," jawab Ino masih terpesona.

"Benar juga dan dalam peristiwa yang sama. Perkenalkan namaku Sai," lanjut pemuda itu ramah sambil membantu Ino berdiri dengan uluran tangannya. Ino langsung menyambut uluran tangan itu dengan senang hati.

"Ino Yamanaka," jawab Ino ikut memperkenalkan diri. Sai tersenyum lagi pada Ino dan sukses membuat muka Ino menjadi merah padam.

Sakura dan Hinata hanya memperhatikan mereka berdua dengan tatapan penuh tanda tanya.

KRINGGGG

Kesenangan Ino tiba-tiba dibuyarkan oleh bunyi bel. Dalam hati dia merutuk.

"Kalau begitu sudah ya. Sampai jumpa," tegur Sai sambil menyunggingkan senyum kemudian berlari memasuki kelas yang ternyata kelas 3-3 kelas Sasori juga.

"Oh Tuhan, kenapa ada pria sekeren itu," gumam Ino pada dirinya sendiri. Sakura dan Hinata yang melihat tingkah Ino itu langsung sweatdrop. Lalu mereka segera menyeret gadis itu untuk kembali ke kelas.

Gaara dan Deidara yang sejak tadi juga masih berada di ambang pintu, segera masuk ke kelas yang sama dengan Sai. Tetapi sebelum itu Gaara sempat menatap Sakura lagi.

Setibanya Sakura, Ino dan Hinata di kelas, ternyata guru yang sedang mengajar juga telah datang. Umino Iruka-sensei, guru pelajaran Sejarah kelas 2. Mereka bertiga lalu segera mengetuk pintu dan meminta ijin masuk. Iruka-sensei langsung mengijinkan. Ino dan Hinata kemudian menuju ke kursinya masing-masing. Tetapi tidak dengan Sakura, dia masih saja terkejut ketika melihat Sasuke. Begitupula dengan Sasuke.

'Hey, dia gadis yang semalam,' batin Sasuke. Dan diapun mencoba tersenyum pada Sakura. Sakura yang melihat itu terbelalak. Senyum yang sama dengan yang ditunjukkan pemuda itu padanya tadi malam. Tetapi Sakura masih belum bisa menerima perlakuan Sasuke tadi pagi sehingga gadis pink itu hanya diam tak memberikan respon.

Sasuke tidak tahu bagaimana pribadi Sakura dan kejadian apa yang menimpanya tadi pagi. Sejak bertemu dengan gadis itu dunianya jadi berbeda, meski gadis itu tidak pernah meresponnya sekalipun. Dalam hati Sasuke bertekad untuk membuat gadis itu melihatnya. Oke, ini hanya berlaku untuk Sasuke yang baik sedangkan sisi buruknya kita tidak tahu bagaimana dengan pikirannya nanti.

Sejarah, pelajaran yang menurut sebagian besar orang membosankan. Anak-anak terlihat lesu bahkan ada beberapa yang menguap lebar, sedangkan Shikamaru malah sudah terlelap di kursinya dengan posisi menopang kepalanya di meja.

Tetapi ini tidak berlaku bagi Sakura dan saya! *Author suka sekali pelajaran Sejarah XD*

Sakura yang telah sadar dengan dunianya mengikuti pelajaran itu dengan tekun seperti biasanya. Lalu bagaimana dengan Sasuke? Pemuda itu malah tidak memperhatikan apa yang diajarkan sang guru, dia malah asyik memperhatikan gerak-gerik Sakura.

Sakura merasakan ada seseorang yang menatapnya. Dia kemudian mengarahkan pandangan mencari siapa orang yang melihatnya itu. Ah lagi-lagi emerald dan onyx bertemu. Tapi kali ini berbeda, emerald itu serasa terhipnotis oleh tatapan sang pemilik bermata onyx itu. Begitu sadar bel tanda pelajaran Sejarah itupun telah berakhir.

~XXX~

Sakura merebahkan diri di kamarnya. Dia sangat lelah sekali hari ini. Pikiran tentang Sasori telah menguras energinya ditambah lagi dengan pemuda aneh murid baru di kelasnya. Kemudian tanpa sadar gadis itu telah terhanyut ke alam mimpi.

Waktu yang sama di kediaman Uchiha

"Fuh… Capek sekali hari ini!" ujar seorang pemuda berambut emo kemudian langsung melemparkan tasnya begitu saja dan duduk santai di sofa.

"Sasuke-sama, apakah saya perlu menyiapkan air hangat untuk tuan mandi sekarang?" tawar Suigetsu sang butler.

"Nanti saja Suigetsu, aku sedang ingin istirahat dulu," tolak Sasuke.

"Baiklah tuan," jawabnya kemudian membungkuk dan pergi. Sasuke kemudian mengingat apa yang terjadi kemarin.

~FLASHBACK~

TING TONG!

Suara bel dibunyikan. Meskipun baru saja tiba di rumahnya setelah pulang dari Amerika, Sasuke segera beranjak untuk membuka pintu rumahnya itu. Dia punya banyak pelayan tetapi dia lebih memilih melakukan sendiri dan bersikap sederhana, seperti membukakan pintu untuk tamu. Kebalikan dengan sisi lain dirinya yang ingin segalanya sempurna dan mewah.

"Halo!"

"…" Sasuke membelalak sempurna setelah mendapati siapa tamunya itu.

"Kau tidak mempersilakan aku masuk?" tutur tamu itu pada Sasuke yang masih terlihat bengong.

"Yamato.." desis Sasuke.

"Tidak sopan memanggil pamanmu seperti itu Sasu-kun," tegur Yamato sambil tersenyum. Sasuke sedikit memberengut.

"Hahaha. Sudahlah, terserah kamu," ujar Yamato setelah melihat ekspresi keponakannya itu.

Sasuke sejujurnya sudah sangat rindu dengan pamannya itu, tetapi dia gengsi untuk mengungkapkannya.

Kemudian keduanya segera menuju ruang tamu. Setelah pelayan membuatkan minuman untuk mereka, pembicaraan pun segera dimulai.

"Dimana kakakmu?" Tanya Yamato sambil menyesap pelan Earl grey yang baru saja disajikan.

"Dia belum pulang, masih di kantor mungkin," jawab Sasuke agak berpikir.

"Begitu ya? Dia memang selalu sibuk. Kau juga baru tiba dari Amerika 'kan?" Yamato berbasa-basi.

"Iya. Lalu paman ke sini ada urusan apa?" Tanya Sasuke cepat.

"Lima tahun tidak bertemu setelah kau pulang dari Amerika sikapmu jadi agak seperti 'dia' ya," ujar Yamato yang disambut deathglare Sasuke. Sasuke berpikir, apakah sikapnya begitu ketus ya.

"Aku ke sini karena ingin menitipkan sesuatu padamu Sasuke. Kau pasti tahu kenapa tiba-tiba saja disuruh pulang oleh kakakmu padahal kau sedang sibuk dengan studymu di Amerika," jelas Yamato sambil meletakkan cangkir tehnya ke meja. Sasuke hanya mengangkat alisnya sedikit kemudian mengangguk.

"Kau harus menjaga benda ini dengan baik. Dan kau juga harus menemukan pasangannya yang entah dimana keberadaanya sekarang," lanjut Yamato sambil menyerahkan benda yang dimaksud itu lalu contoh gambar pasangan benda tersebut.

"Tapi paman, kenapa?" Tanya Sasuke agak ragu. Dia memperhatikan benda dan gambar itu sebentar kemudian kembali menatap pamannya lagi.

"Kalau benda itu sampai jatuh ke tangan yang salah, keluarga kita bisa hancur. Dan hanya kekuatan benda itu yang dapat mengendalikan sisi buruk yang kau miliki itu Sasuke. Kau yang terpilih," jelas Yamato.

"Lalu bagaimana aku bisa menemukannya paman? Jepang ini begitu luas," ujar Sasuke frustasi.

"Tenanglah keponakanku, ini tidak terlalu buruk. Sementara kau jalani saja kehidupanmu seperti biasa dengan bersekolah. Aku telah mendaftarkanmu ke Konoha Gakuen High School. Ku dengar ada orang mengatakan bahwa benda itu ada di Konoha ini," jelas Yamato tenang.

"Aku masih tidak mengerti paman." Sasuke menggeleng.

"Sudahlah, coba kau tanyakan saja pada kakakmu langsung nanti. Karena paman masih ada urusan," ujar Yamato sambil melirik arlojinya.

"Ng? Baiklah." Sasuke menjawab sekenanya.

"Ok, sampai jumpa keponakanku yang manis," ledek Yamato dan segera melangkang pergi meninggalkan kediaman Uchiha itu.

Sasuke hanya memandang kepergian pamannya itu masih dengan agak kebingungan. Dirapikannya 'benda-benda' itu dan disimpannya rapat. Lalu kemudian dia segera meletakkan barang-barang bawaannya dari Amerika ke kamar dan mengambil mantelnya. Pemuda itu berniat mencari udara segar setelah perjalanan yang panjang dari Amerika tepatnya Los Angeles ke Jepang meskipun hari telah larut.

Saat di jalan pemuda itu melihat seorang gadis berambut pink yang sedang berjalan sendirian. Tetapi gadis itu cukup menarik hati dan minat Sasuke.

~END OF FLASHBACK~

Sasuke menimang-nimang benda itu dan melihat dengan teliti gambar pasangannya kemudian setelah puas dia segera memasukkan keduanya ke kantongnya.

"Akasuna Sasori?" gumam Sasuke pelan.

Lalu pemuda itupun terlelap di kursi duduknya.

~XXX~

Begitu Sakura terbangun dari tidurnya hari sudah menjelang petang. Betapa terkejutnya gadis itu dan langsung segera menuju ke kamar mandi lalu turun ke dapur membantu ibunya menyiapkan makan malam.

Selesai makan malam gadis itu kemudian membereskan piring-piringnya. Kemudian mencucinya. Setelah semuanya selesai Sakura segera memakai jaket dan topinya kemudian keluar rumah. Sakura senang sekali berjalan-jalan sambil memandang bintang. Hal ini sering dia lakukan bersama Sasori selama setahun ini. Tetapi malam ini dan malam seterusnya akan terus sendirian, pikir Sakura.

Angin malam yang terasa dingin membelai lembut gadis berambut merah muda itu. Aroma bunga yang semerbak di malam hari ini menandakan puncak musim semi akan segera datang. Bintang-bintang bertaburan di langit dan sang putri malam telah menampakkan senyumannya dalam bentuk yang sempurna.

"Sakura!" Tiba-tiba ada sebuah suara yang menyapanya. Sakura menoleh, didapatinya Deidara yang sedang melambaikan tangan kepadanya dan seorang lagi dengan rambut menyala merah di kegelapan.

Sakura sempat terkejut tetapi segera sadar setelah keduanya mendekat. Pemuda berambut merah itu —Gaara.

"Malam-malam begini sedang apa?" Tanya Deidara menyelidik.

"Hanya sedang mencari udara segar saja," balas Sakura ramah sambil sedikit melirik ke arah Gaara. Tatapannya tetap saja dingin seperti sebelumnya.

"Lalu senpai juga, malam-malam begini sedang apa?" Tanya Sakura lebih tepatnya pada Deidara.

"Kami sedang—" Deidara belum menyelesaikan kata-katanya karena tiba-tiba dirinya dikejutkan oleh sebuah dorongan dan teriakan.

"Kyaaaa…. Dei-senpai! Maafkan Tobi!" lanjut suara yang terdengar seperti anak-anak itu membuat suasana yang tadi sepi kini menjadi ramai.

Deidara yang terjatuh segera saja bangkit dan langsung memasang muka angker.

"TOBI! Kau yang pertama mencoba ini!" Deidara mengejar Tobi dan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya kemudian berteriak sambil menyeringai, "Arts is bang!"

Terdengarlah bunyi-bunyi keras dan ledakan. Bagaimana nasib Tobi ya?

Itulah keahlian dan keistimewaan dari Deidara sebagai seorang ahli seni. Dia pandai sekali membuat bentuk-bentuk dari tanah liat kemudian menanamkan petasan atau peledak di dalamnya. Sebenarnya agak berbahaya tetapi ini dinilai juga sebagai seni oleh pihak sekolah sehingga mereka memasukkan Deidara ke kelas khusus seni. Walau terkadang pemuda blonde berambut panjang itu sering meledakkan alat-alat praktikum.

Sakura sekarang hanya berdiri bertatapan dengan Gaara. Gadis pink itu merasa tidak nyaman. Tetapi tak lama setelah itu dari arah Tobi datang tadi kemudian muncullah beberapa orang.

"Berisik!" gerutu seorang pemuda berambut kuning dengan pierching-pierching di telinga dan beberapa di hidung, sangar sekali tetapi pemuda itu cukup tampan juga —Pein sang leader.

"Mereka anak buahmu, hentikan donk!" Kini seorang wanita yang menyahut —Konan.

"Bodoh, mempermalukan dewa saja. Agama mereka apa sih?" ujar seorang pemuda lagi dengan rambut kecoklatan lurus yang tersisir rapi —Hidan.

"Hanya membuang-buang uang saja untuk bahan-bahannya dan tidak menguntungkan. Padahal aku sudah menasehatinya untuk berhemat," sahut seorang pria lagi yang terlihat tua dan agak mengerikan —Kakuzu.

Sakura hanya sweatdrop melihat datangnya rombongan yang tiba-tiba itu. Mereka adalah rombongan pekerja dari kafe 'Akatsuki', meskipun tidak semuanya datang tetapi hal ini begitu mengejutkan bagi Sakura.

"Kalian sedang apa?" Tanya Sakura masih sweatdrop.

"Hanya sedang lewat saja," balas Hidan santai. Sakura hanya ber'oh' ria.

"Sebenarnya ada titipan untukmu Sakura," si gadis yang bernama Konan itu angkat bicara.

"Apa itu?" Tanya Sakura penasaran.

"Ini." Konan menyodorkan sesuatu itu pada Sakura.

"Untuk siapa?" Tanya Sakura linglung.

"Untukmu," sahut si leader angkat bicara.

"Datang ya, acaranya seminggu lagi," jelas Konan.

"Baiklah," jawab Sakura mantap.

Kemudian melihat suasana yang seperti ini Sakura segera berpamitan, dia lebih suka suasana sepi untuk saat ini. "Aku pulang dulu ya, terima kasih."

Deidara dan Tobi telah kembali dari kesibukan mereka yang tadi. Dengan kondisi Tobi yang mengenaskan, tubuh yang agak gosong dan pakaian compang-camping. Anak itu kemudian menangis. Deidara yang melihat itu akhirnya kasihan juga.

"Kau yakin menyerahkannya padahal Sasori sudah pergi?" Tanya Konan pada Pein.

"Begitulah," jawab Pein dengan ekspresi datar.

"Acara yang disiapkan dengan membuang-buang uang harus dimanfaatkan, walau sebelumnya aku tak setuju," tambah Kakuzu sang bendahara atau kasir.

"Perhitungan sekali. Anggap saja ini sebagai penghargaan bagi anggota kita yang telah mendahului kjita. Semoga Dewa menerimanya," ujar Hidan seraya berdoa.

Deidara yang sibuk dengan Tobi kemudian bergumam, "Semoga dengan ini kau akan tenang Sasori."

Gaara hanya diam saja.

"Hey? Kenapa kau diam saja anak baru?" Tegur Kakuzu tak memperhatikan perkataan Hidan.

~XXX~

Sambil berjalan Sakura melihat benda itu. Sebuah tiket, tiket masuk kafe 'Akatsuki'. Tiket untuk mendapat pelayanan gratis dan sepuasnya sesuai keinginan. Mungkin kalau beberapa minggu yang lalu dia akan sangat menginginkannya, karena Sakura sangat ingin dilayani oleh Sasori. Meski sebagai pacarnya dia belum pernah sekalipun makan ke sana. Kafe itu memberikan pelayanan layaknya putri bangsawan bagi para gadis, sehingga banyak gadis yang suka ke sana. Oleh karena itu kebanyakan anggota kafe itu laki-laki kecuali Konan.

Angin kencang tiba-tiba berhembus menerbangkan topi yang Sakura kenakan. Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya sebentar karena matanya sedikit terkena debu.

"Eh? Topiku mana?' tanyanya kebingungan. Kemudian ada yang memungutkan topi itu.

"Hey, ini milikmu?" ujar pemuda emo itu sambil menyerahkan topi kepada Sakura. Sakura hanya terdiam. Pemuda itu memasangkan topi pada Sakura dan kemudian tersenyum lembut.

"Kenapa?" Tanya Sakura pelan. Dia masih tidak yakin.

"Tidak ada," jawabnya singkat.

Sakura sebenarnya enggan berhadapan dengan pemuda itu tetapi dia juga tidak tahu kenapa tapi rasanya nyaman. Senyuman dan tatapan dari mata onyx milik pemuda itu kembali menyedotnya.

"Sudah malam kan. Sebaiknya kau pulang. Mau ku antar lagi?" tawarnya ramah. Sakura hanya mengangguk.

Setelah sampai di depan rumahnya Sakura langsung masuk. Membiarkan pemuda itu diam.

"Hatchi!" Udara malam yang dingin membuat pemuda itu bersin. Lalu ekspresinya kemudian segera berubah dingin. Dengan segera pemuda itu melangkah pergi dari tempat berpijaknya. Sebelum itu pemuda itu sempat melirik papan di rumah itu yang bertuliskan 'Haruno' dengan huruf Hiragana.

—TO BE CONTINUED—

OK! CHAPTER 4 SELESAI..

Apakah cerita ini agak aneh ==?

PLEASE REVIEW YA…kritik, saran, diterima^^

SUPAYA AUTHOR LEBIH BERSEMANGAT…

ARIGATOU^^