Huaa! Maaf karena terlalu lama update! *Nangis gaje*

Ririn kemarin-kemarin ada problem dengan kesehatan, jadi baru sekarang update..

Semoga para readers bisa maklum ya..

Makasih sebelumnya untuk : VLouchi Hisugi, YoUicHi HiKaRi,Ella-cHan as NaGi-sAn, Akasuna no hataruno teng tong, Ran Uchiha, Nakamura Kumiko-chan, yang telah mereview untuk chapter kemarin.. saya balas lewat PM ya…

Balesan Review yg ga login…

YoUicHi HiKaRi : hoho.. boleh kok.. ririn juga panggil Youi-chan boleh kan^^, ehm. Kalau masalah benda itu masih belum dibongkar di chapter ini. Gomen ya… dan masalah rambut hehe, chapter kemarin nulisnya spontan..haduh maaf ya… ini chapter lima update.. silahkan baca ya Youi-chan. Sankyuu for review ^^


DISCLAIMER :

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

PAIRING :

SASUSAKU

WARNING :

AU, OOC

AUTHOR :

RIRIN KISEKI (CROSS)

CHAPTER 5 :

::SEARCHING::


PREVIOUS :

Sasuke bertemu pamannya, Yamato. Dan dia menyerahkan sebuah 'benda' milik Uchiha kepada keponakannya itu. Sasuke harus mencari pasangan dari 'benda' itu. Dilain pihak para anggota kafe Akatsuki menemui Sakura, dan pemuda bernama Gaara yang sosoknya benar-benar misterius juga bergabung dalam kelompok itu entah karena alasan apa.

Let's go to reading!

Friday, 27 Maret 20XX

Sudah enam hari sejak pamannya datang. Dan Sasuke sudah berusaha untuk mencari 'benda' pasangan itu. Tetapi belum dapat ditemukannya. Menurut Itachi kakaknya dia pernah mendengar bahwa 'benda' itu dipegang oleh seseorang bermarga Akasuna.

Akhirnya Sasuke memutuskan untuk bertanya pada Naruto perihal Akasuna.

"Dobe, kau tahu mengenai klan Akasuna?"

Naruto langsung tersedak kuah mienya. Bukan karena dirinya dipanggil Dobe. Panggilan itu sudah akrab baginya. Tetapi karena pertanyaan yang baru saja Sasuke lontarkan itulah yang membuatnya terkejut. Sasuke cuek, kemudian segera menyodorkan segelas air. Mereka sedang makan di kafetaria saat itu.

"Teme, apa tadi yang kau bilang?" Tanya Naruto setelah menenggak habis air itu.

"Hn?" Sasuke sudah kehilangan mood untuk bicara.

"Ehm.. itu… Sedikit." Naruto masih ragu untuk menjawabnya. Sasuke mengangkat alisnya.

"Jadi kau tahu?"

"Begitulah," jawab Naruto singkat.

Satu-satunya Akasuna yang dikenal Naruto adalah Sasori. Tetapi Naruto belum mengenal pemuda itu lebih jauh karena pemuda itu juga terlihat misterius dan dingin. Kalau saja Sakura bukan pacar Sasori, mungkin saja Naruto tidak akan pernah berhubungan dengan pemuda bernama Akasuna Sasori itu dan hanya tahu mengenai prestasinya saja di sekolah.

"Ceritakan padaku," pinta Sasuke. Mendengar itu Naruto gentian mengangkat alis.

"Memangnya ada apa Teme?"

"Sudahlah, cepat ceritakan!" perintah Sasuke.

"Iya.. iya! " Naruto akhirnya mengiyakan, dia tidak suka didesak.

"Akasuna Sasori," gumam Naruto. Sasuke kemudian memandang Naruto dengan tatapan yang menuntut penjelasan.

"Akasuna Sasori adalah siswa dari kelas seni yang berprestasi. Sangat pandai membuat kerajinan dari kayu, karyanya benar-benar diakui oleh banyak pihak. Dia duduk di kelas 3-3," terang Naruto lalu menghela nafas sebentar kemudian melanjutkan.

"Tetapi—" Naruto belum menyelesaikan kalimatnya dan pada saat itu dia melihat Sakura lewat. Sasuke kemudian mengalihkan pandangannya juga pada gadis itu. Sasuke sangat penasaran padanya, tetapi Sakura terlihat selalu menghindari pemuda itu sejak pertemuan pertama mereka.

Sakura yang tentu saja tidak sengaja mendengar pembicaraan Naruto dan menyebut-nyebut nama Sasori itu langsung terpekur dan berdiri mematung di tempat.

"Ups!" Naruto langsung membekap mulutnya. Dia tidak sengaja mengatakan itu, lagi-lagi di hadapan Sakura. Entah kenapa tiap kali Sakura mendengar nama itu hatinya kembali dijalari kesedihan. Padahal selama seminggu ini gadis pink itu sudah terlihat ceria.

Sasuke menjadi semakin penasaran. Sementara itu, Ino dan Hinata yang sedang mengambil makanan tampak terkejut dengan apa yang terjadi.

"Sakura, kau kenapa?" Tanya Ino khawatir. Hinata melihat Naruto. Dan kelihatannya gadis berambut indigo itu tahu apa yang sedang terjadi ketika melihat ekspresi kepanikan di wajah kekasihnya itu.

"Naruto, apa yang terjadi?" Tanya Hinata langsung.

"Itu, aduh maaf. Aku tidak sengaja menyebutnya lagi," sahut Naruto panik. Lalu dia berdiri dan meninggalkan meja, menuju Sakura. Kemudian segera meminta maaf. "Maafkan aku Sakura."

Ino yang mendengarnya langsung memberikan deathglare pada Naruto dan menggandeng Sakura ke meja yang jauh dari tempat pemuda berambut spike dan pemuda berambut emo. Hinata hanya menggeleng kepala dan berbisik pada Naruto. "Jangan ulangi lagi ya." Semburat merah langsung tercipta diantara keduanya setelah bisikan tadi meskipun mereka sedang dalam kondisi seperti itu. Lalu Hinata segera saja menyusul kedua sahabatnya yang telah mendahuluinya.

Sasuke melihat hal barusan dengan tatapan ganjil, perubahan ekspresi Sakura yang tiba-tiba. Sangat ganjil dan ada sesuatu yang aneh. Sejak pertama kali masuk dia sudah ingin bertanya apa yang terjadi, tetapi tidak ada satu orangpun yang mau menjelaskan padanya.

"Ada apa?" Tanya Sasuke penasaran.

"Ti..Tidak apa-apa kok," jawab Naruto setelah kembali, dengan gelengan kepala yang dirasa Sasuke sangat berlebihan.

"Hn. Kalau begitu lanjutkan yang tadi," desak Sasuke.

"Tadi… Ehm.. maaf Sasuke. Sepertinya aku harus pergi, ada urusan dengan Kiba," elak Naruto begitu melihat deathglare dari Ino lagi. Dan kebetulan pada saat itu Kiba sedang lewat, lalu segera diseretnya pemuda dengan anjingnya itu jauh-jauh dari kantin.

"Cih, aneh sekali," gumam Sasuke sambil mendengus kesal.

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa Sasuke bisa makan bersama Naruto kan?

Itu karena Naruto lah yang menyeret Sasuke dan mengajaknya makan. Tidak mungkin Sasuke meski dalam kondisi baik sekalipun mau melakukan itu kalau tidak karena dipaksa. Tahu sendiri kan Sasuke lebih senang melakukan segala sesuatu sendirian. Dan pemuda ini cenderung menyendiri. Apalagi kalau berkaitan dengan dirinya yang punya kepribadian lain, dia tidak ingin membuat masalah dengan dirinya itu, yang juga lebih suka menyendiri.

Paling tidak Sasuke sudah tahu memang benar bahwa ada Akasuna yang bersekolah disini dan ada di kelas 3-3. Kemudian pemuda itu beranjak untuk mencari buruannya.

~XXX~

"Arg, sial!" bentak Sasuke kemudian segera menghempaskan diri ke sofa. Butler setianya yaitu Suigetsu segera menghampiri tuannya.

"Apakah ada sesuatu yang perlu saya siapkan segera untuk Anda, Sasuke-sama," ujar Suigetsu hormat.

"Tidak. Pergilah!" bentak Sasuke. Suigetsu yang mendengarnya langsung mundur. Mungkin mood tuannya sedang tidak baik. Tetapi sesungguhnya Sasuke masih dalam kondisi baik.

"Kenapa aku bertemu dengannya disini?" Sasuke bertanya pada dirinya sendiri.

"Ada apa Sasuke?" Tanya sebuah suara yang terdengar berwibawa itu. Sasuke segera melayangkan pandangan ke asal suara. Dilihatnya kakaknya sedang berdiri di tangga menunggu jawaban atas pertanyaanya barusan. Tetapi tidak ada tanda-tanda Sasuke ingin menjawab.

Pemuda berambut emo itu malah mengalihkan pandangan ke pigura foto yang ada di ruang tamu. Foto keluarganya. Saat dia masih kecil, bersama kakak, ayah dan ibunya. Ayahnya, Fugaku Uchiha dan ibunya, Mikoto Uchiha telah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil lima tahun yang lalu. Sebenarnya kecelakaan yang dialami kedua orang tuanya itu tidak wajar, seperti sesuatu yang disengaja. Lagipula pada saat itu Sasuke kecil juga ikut dalam mobil itu. Tetapi Sasuke selamat.

Saat ditanya, Sasuke menjawab bahwa dia merasa ada yang mendorongnya untuk melompat keluar lewat jendela yang terbuka sebelum mobil itu meledak dan terjatuh ke jurang. Semenjak itulah muncul kepribadian lain dalam diri Sasuke. Sepertinya kecelakaan itu telah membangunkan sisi lain dari dirinya. Tidak bisa dibilang sisi jahat karena kepribadiannya yang lain itu cenderung lebih dingin tidak jahat. Kepribadian lain milik Sasuke itu juga mempunyai suatu kemampuan khusus pelindung. Dan tak lain, sisi dari dirinya itulah yang telah menyelamatkan Sasuke dari musibah kecelakaan itu.

Tetapi kata pamannya suatu saat nanti sisi lainnya bisa saja memberontak dan meminta jiwanya sendiri dalam tubuh Sasuke dan dikuasai kegelapan. Sehingga keadaan Sasuke yang sesungguhnya atau lebih tepatnya kepribadian baiknya itu bisa saja menghilang. Mengingat karena akhir-akhir ini sisi lain Sasuke sering menampakkan diri dan merebut kesadarannya. Dulu hanya sebulan dua kali, sedangkan saat ini hanya dalam kurun waktu satu minggu sudah tiga kali sisi lainnya sering muncul. Sungguh sangat merepotkan.

Belum dijelaskan secara gamblang bagaimana proses perubahan kepribadian ini. Banyak juga yang tidak tahu karena Sasuke tidak terlalu bergaul. Tetapi pasti sudah banyak yang menyadarinya. Bahwa, pertukarannya terjadi melalui bersin. Tetapi ini bukan bersin biasa karena flu atau udara dingin, ini bersin yang memang memicu kontraksi seluruh syaraf milik Sasuke sehingga memudahkan pertukaran posisi. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh sebagian klan Uchiha. Dan hanya dapat terbangun ketika Uchiha itu pernah atau hampir menghadapi kematian, seperti yang dialami Sasuke.

Hal yang sama juga pernah terjadi kepada leluhurnya yang terdahulu, Madara Uchiha. Salah satu benda pusaka keluarganya juga jatuh ke tangan pihak musuh akibat hal tersebut. Dan akhirnya menggoyahkan kekuasaan klan Uchiha dalam kerajaan bisnisnya. Tetapi kemudian keadaan itu pulih setelah benda pusaka itu dapat direbut kembali dan Uchiha dapat mempertahankan kekuasaannya kembali di dunia bisnis. Dan pada akhirnya yang meneruskan bisnis keluarganya saat ini setelah kedua orangtuanya meninggal adalah kakaknya, Uchiha Itachi. Ini karena Yamato menolak untuk menjalankannya, dia lebih suka berpetualang. Sedangkan Sasuke dikirim untuk study ke Amerika.

Itachi, pemuda tampan berambut panjang dengan guratan di kedua pipinya itu mendekati adik semata wayangnya. Kemudian duduk di depan sosok yang paling disayanginya itu. Sasuke kembali menatap kakaknya. Emosinya yang tadi menggebu sedikit mereda.

"Lalu apa kau mau menceritakan kepada Aniki apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Itachi seraya menyiapkan posisi.

"Baiklah Aniki," ujar Sasuke kemudian menghela nafas sebentar.

"Ada berita baik sekaligus berita buruk. Dan ada juga hal yang membuatku kesal hari ini," lanjut Sasuke. Itachi sedikit mengangkat alis mendengar apa yang baru adiknya bicarakan itu.

"Ceritakanlah," ujar Itachi pelan.

"Aniki yakin tidak sibuk?" Sasuke agak ragu.

"Aniki akan selalu meluangkan waktu untukmu Sasuke. Apakah kau meragukannya?" Itachi membalik pertanyaan. Sesungguhnya Sasuke masih enggan untuk bicara, tetapi dia akan menyerah kalau telah berhadapan dengan kakak yang disayanginya itu.

"Akasuna Sasori," ujar Sasuke.

"Jadi benar dia sekolah ditempatmu?" Sasuke mengangguk.

"Bagus itu. Lalu bagaimana?" tambah Itachi lebih memfokuskan pendengarannya.

"Tapi, dia sudah meninggal," jawab Sasuke datar. Itachi langsung menegakkan tubuhnya, sedikit terkejut —ralat— tapi sangat terkejut dan itu dia sembunyikan dengan ekspresi tenangnya.

"Kenapa?" Tanya Itachi sedikit bergumam agak berpikir dan lebih pada dirinya sendiri.

"Entahlah, setiap ditanya perihal itu mereka yang mengetahuinya sangat tertutup dan tak mau menjelaskannya."

"Mengejutkan, keberadaan klan Akasuna memang sangat sulit dilacak dan mereka cenderung menyembunyikan diri."

"Hn, lalu bagaimana dengan 'benda' pusaka itu Aniki?" Tanya Sasuke cepat.

"Mungkin saja ada petunjuk. Coba cari informasi lain Sasuke!" tegas Itachi kemudian segera beranjak pergi setelah melihat jam. Dengan begini berarti mengakhiri pembicaraan serius mereka berdua. Tetapi sebelum pergi Itachi sempat bertanya, "Lalu apa hal yang membuatmu sebal Ototou-ku?"

"Itu. Temanku dulu sewaktu SMP di Amerika ternyata dia juga tinggal disini!" dengus Sasuke sebal.

"Lalu apa masalahmu?" Tanya Itachi sambil mengenakan mantel bepergiannya.

"Dia itu rivalku!" ujar Sasuke sambil bersungut-sungut. Itachi tersenyum melihat ekspresi adiknya itu.

"Namanya?" Itachi penasaran.

"Sabaku Gaara," dengus Sasuke.

Itachi tertegun setelah mendengar nama itu.

"Kau akrab dengannya?"

"Menurutmu?" Sasuke malah balik Tanya.

"Baiklah. Aniki pergi dulu ya," ujar Itachi mengabaikan. Kemudian pemuda itu menyentil pelan dahi Sasuke dan segera pergi. Sasuke tersenyum samar.

"Sabaku," gumam Itachi sambil lalu.

~XXX~

"Hey Naruto sini!" lambai seorang gadis berambut kuning panjang dan di sampingnya seorang gadis berambut indigo. Naruto segera berlari ke arah dua gadis itu sambil terengah.

"Naruto, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Hinata khawatir.

"Eh, tidak kok Hinata. Maaf terlambat," jawab Naruto sambil.

"Baiklah tak apa. Tapi awas kalau lain kali terlambat lagi!" ancam Ino kemudian menjitak kepala kuning Naruto. Sang empunya kepala hanya bisa mengaduh.

"Sepertinya sudah sore, sebaiknya kita segera berangkat," ujar Hinata menengahi.

"Oke. Ayo kita berangkat!" teriak Naruto bersemangat.

"Huh, kau itu bersemangat sekali. Kita kan hanya mau pergi untuk membelikan kado Sakura," sewot Ino.

"Segala sesuatu memang harus dijalani dengan penuh semangat, apapun itu!" tegas Naruto. Hinata dan Ino kemudian tersenyum mendengar perkataan Naruto barusan. Begitulah Uzumaki Naruto.

~XXX~

Sakura menimbang-nimbang tiket dari kafe 'Akatsuki' ditangannya. Besok adalah hari berlakunya. Sakura masih ragu, akan datang atau tidak. Pikirannya kemudian melayang jauh entah kemana. Dan salah satu yang dia pikirkan tentu saja siapa lagi kalau bukan Sasori. Dan hey, pemuda berambut emo itu, Sasuke Uchiha?

"Akh, kenapa aku memikirkan pemuda aneh itu sih!" umpat Sakura pada dirinya sendiri.

'Tapi dia baik,' ujar inner Sakura.

"Tidak! Dia tak ingat pernah bertemu denganku!" tegas Sakura.

'Mungkin saja dia lupa waktu itu. Kan baru sekali bertemu,' bela inner Sakura.

"Tetapi kan tidak harus bersikap seperti itu!"

'Kau hanya belum mengenalnya saja.'

"Dia begitu menyebalkan!"

'Kau hanya mau menghindar kan?' tukas inner Sakura.

"Tidak, aku hanya tidak ingin berurusan lebih jauh dengannya,"

'Bilang saja kau tidak ingin jatuh cinta lagi, kau sebenarnya tertarik bukan dengan pemuda itu?'

"Kata siapa?"

'Aku ini kata hatimu bodoh!'

"Huh, lupakan!" Sakura kemudian beranjak dari bednya, dia sudah lelah berdebat dengan dirinya sendiri.

"Sakura!" Panggil ibu Sakura.

"Iya Kaa-san. Ada apa?" Tanya Sakura kemudian turun ke bawah.

"Belikan minyak wijen dan telur ya. Uangnya ada di meja," ujar Ibu Sakura masih sibuk di dapur.

"Baik Kaa-san! Aku berangkat!" Sakura segera beranjak pergi.

Setelah sampai di toko. Sakura langsung membeli apa yang di pesan ibunya. Akan tetapi saat akan pulang dia melihat ada nenek-nenek yang kelihatannya kesulitan menyeberang jalan. Segera saja dihampirinya nenek itu.

"Eh, Nenek Chiyo!" Sakura terkejut setelah melihat siapa nenek itu. Sudah lama dia tidak bertemu dengannya.

"Sakura, lama tidak bertemu. Kau sehat kan?" tanyanya penuh perhatian.

"I..iya nek. Aku sehat. Maaf ya lama tidak menjenguk nenek," ujar Sakura merasa bersalah.

"Tidak apa-apa. Nenek baik-baik saja kok walau kini sendiri," jawab wanita tua itu sambil menerawang.

"Tidak lagi nek. Nanti aku akan sering menjenguk nenek!" janji Sakura.

"Anak baik. Kalau begitu kapan-kapan mampirlah ke rumah sebentar," ujar Nenek Chiyo.

"Baik nek!" sahut Sakura mantap. Kemudian dia segera mengantar nenek Chiyo ke rumahnya dan dirinya pulang ke rumah sebelum ibunya mengomel banyak karena lamanya dia berbelanja.

Sakura segera keluar setelah makan malam usai. Dia hendak ke rumah Nenek Chiyo sekarang. Tetapi di depan rumah Sakura telah berdiri pemuda berambut emo itu. Sakura tak menghiraukannya dan langsung pergi melewatinya. Pemuda itu kemudian mengikutinya. Sakura merasa risih diikuti begitu terus.

"Kau kenapa sih selalu mengikutiku!" bentak Sakura.

"Free time," ujar pemuda yang adalah Sasuke itu dengan santainya.

"Seperti stalker tahu!" tuduh Sakura.

"Hn." Sasuke cuek saja. Sakura mengomel tak jelas.

Karena marah-marah begitu Sakura tak melihat ada tiang di depannya. "A—" Dan dahinya langsung membentur tiang itu. "—was!" Sasuke terlambat memperingatkannya.

"Aduh!" Teriak Sakura kesakitan. Sasuke segera mendekat dan memeriksa keadaan Sakura.

"Memar," gumamnya sambil menyentuh dahi Sakura. Tapi tangan itu ditepis Sakura.

"Aku tidak apa-apa!" ujar Sakura ketus kemudian segera berjalan lagi.

"Bodoh!" Sasuke segera menarik Sakura mendekatinya. Sasuke memijat-mijat pelan dahi Sakura. "Kalau dibiarkan nanti bisa membiru. Kau jadi tambah jelek tahu!" gertak Sasuke. Membuat Sakura sebal tetapi membiarkan apa yang dilakukan pemuda itu. Nafas yang hangat, sentuhan yang lembut dan tatapan yang damai, itulah yang kini Sakura dapat dari seorang Sasuke uchiha. Dan tanpa Sakura sadari ternyata begitu nyaman berada di dekat pemuda itu.

"Baiklah, sudah selesai. Sebaiknya kau pulang," perintah Sasuke.

"Makasih. Tapi aku masih ada urusan lain," timpal Sakura.

"Mau apa?" Tanya Sasuke menyelidik.

"Bukan urusanmu!" jawab Sakura ketus.

"Benarkah? Baiklah kuantar," balas Sasuke enteng.

"Kau… Sudahlah!" Akhirnya Sakura membiarkan Sasuke mengikutinya.

~XXX~

Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah sederhana. Sakura segera menekan bel. Dan Sasuke berdiri santai di dekatnya. Tak berapa lama mereka menunggu akhirnya sang pemilik rumah membukakan pintunya. Tampaklah seorang nenek tua renta dengan banyak keriput di wajahnya. Tetapi kondisi nenek itu sangat sehat dan prima yang bisa di dengar dari suaranya yang bersemangat, "Sakura!"

"Akhirnya kau datang, tapi kenapa malam-malam begini?" lanjutnya sambil mengernyitkan alis yang telah memutih dimakan usia itu.

"Ehm, hanya main saja nek. Sesuai perintah nenek juga kan tadi," cengir Sakura. Sasuke terpana melihat gadis di sampingnya itu. Selama ini Sasuke belum pernah melihat langsung Sakura bicara lepas karena mengingat betapa dinginnya gadis itu padanya sejak pertama bertemu.

"Hahaha, dasar anak nakal. Mirip sekali dengannya," ujar Nenek Chiyo sambil menjitak pelan kepala Sakura. Kemudian segera saja Nenek Chiyo menyadari kehadiran Sasuke. Dan muka nenek itu langsung berubah setelah melihat dengan teliti ke arah pemuda itu, wajah yang sudah tidak asing lagi!

"Sakura siapa dia?" Tanyanya dengan sedikit menyelidik.

"Owh. Dia teman sekelasku. Anak pindahan, jadi belum banyak tahu daerah ini. Aku bertugas mengajaknya berkeliling agar lebih mengenal yang lain," dusta Sakura. Sasuke berjengit mendengarnya dan sebenarnya hendak buka mulut untuk bicara tetapi dengan segera Sakura melemparkan tatapan —apa aku harus bilang kalau kau sedang menguntitku— pada Sasuke. Pemuda itu akhirnya memilih diam.

"Dia Uchiha Sasuke nek," tambah Sakura lagi. Mata Nenek Chiyo segera melebar setelah mendengar nama itu.

UCHIHA

Melihat ekspresi lain dari Nenek Chiyo, Sakura jadi sangat khawatir.

"Nenek kenapa?"

"Ti… Tidak," jawab Nenek Chiyo terbata. "Ehm, lebih baik kalian masuk dulu saja," lanjut Nenek Chiyo dan mempersilahkan keduanya untuk masuk tapi masih dengan ekspresi yang tidak terduga.

Sakura dan Sasuke kemudian duduk manis di kursi ruang tamu. Sedangkan Nenek Chiyo sedang menuju dapur. Sakura tak biasa dengan keadaan ini, biasanya dia yang selalu membantu Nenek Chiyo bila ada tamu. Tetapi kini dia yang menjadi tamu, dan lagi sekarang dia sedang bersama temannya yang aneh itu, Sasuke uchiha.

Sasuke menebarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu. Menatap setiap ornament dan hiasan dinding yang ada. Rumah yang begitu sederhana jika dilihat dari luarnya. Tetapi di dalam sangat berbeda. Ada banyak boneka pajangan yang terlihat seperti hidup, karya seni yang luar biasa. Sasuke kemudian menghampiri boneka-boneka itu karena tertarik. Sasuke mengambil sebuah boneka bentuk kaisar dan mengamatinya. Ukiran dan goresannya setiap sudutnya sungguh mendetil, dan terasa halus apabila disentuh. Pastilah pembuatnya bukan sembarang perajin kayu, ini pekerjaan seorang professional.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sakura tiba-tiba dan sudah disampingnya.

"Melihat-lihat," jawab Sasuke datar. Kemudian mengambil boneka kayu yang lain. Sakura hanya menatapnya. Sasuke merasakan tatapan gadis itu dan mengalihkan pandangan padanya.

"Kau melihatku?" Tanya Sasuke langsung.

"T..tidak kok. Siapa juga!" elak Sakura kemudian hendak melengos pergi.

"Sakura, dia nenekmu ya?" Tanya Sasuke tiba-tiba . Sakura langsung terlonjak mendengar pertanyaan yang itu. Dia bingung harus menjawab apa, bohong atau tidak. Tapi kenapa harus bohong?

"Nenek Chiyo bukan nenekku. Tapi dia sudah kuanggap sebagai nenek sendiri. Dia neneknya Sas—"

PRANGG

Terdengar suara benda pecah belah. Sakura segera berlari diikuti Sasuke. Dan melihat apa yang terjadi.

-TO BE CONTINUED-

Akhirnya selesai juga chap 5!

Kritik dan Saran diterima!

Please Review…^^