DISCLAIMER :
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
PAIRING :
SASUSAKU slight PeinKonan
WARNING :
AU, OOC, gaje, ga nyambung sama judul, dll T,T
AUTHOR :
RIRIN KISEKI (CROSS)
CHAPTER 6 :
::SAKURA'S BIRHTDAY (PART 1)::
PRANGG
Suara benda pecah belah itu terdengar dari arah dapur. Sakura segera berlari diikuti Sasuke. Dan melihat wanita tua itu.
"Nenek kenapa?" Sakura terlihat sangat panik.
"Tidak apa-apa kok Sakura. Tadi hanya licin saja," jawab Nenek Chiyo enteng.
"Tapi… Astaga! Tangan Nenek terluka!" Sakura melihat tangan Nenek Chiyo yang mengeluarkan darah itu. Segera berlari ke ruang keluarga untuk mencari kotak obat.
Sasuke masih di dapur dan berniat membantu Nenek Chiyo berdiri. Tetapi tiba-tiba saja Nenek Chiyo berkata.
"Benar kau Uchiha?" Tanya Nenek itu dengan wajah serius.
"Ng?" Sasuke mengangkat alis sedikit. Kemudian mengangguk.
"Aku punya sesuatu untukmu."
~XXX~
"Temari, apa kau sudah mendapatkan sesuatu?" Tanya Kankurou seraya duduk di samping gadis itu.
"Belum, sistemnya sulit diterobos," jawab Temari masih sibuk mengutak-atik laptopnya.
"Huf, kalau tidak cepat nanti ayah bisa marah," tegas Kankurou sambil menghela nafas,
"Bodoh! Kau pikir mudah melakukannya! Kalau begitu kenapa tak kau sendiri yang melakukan pekerjaan ini!" bentak Temari. Kankurou langsung ciut dan membiarkan kakaknya itu bekerja. Kemudian terdengar suara pintu diketuk. Kankurou segera bangkit untuk membukakan pintu.
"Oh, Gaara. Kau sudah pulang ya?" Pertanyaan retoris Kankurou hanya dijawab anggukan oleh Gaara.
"Bagaimana?" Tanya pemuda berambut merah itu.
"Maksudmu?" Tanya Kankurou lagi sambil melirik Temari yang masih sibuk. "Kurasa masih belum," jawab pemuda dengan wajah penuh coretan itu sambil mengangkat bahu.
"Hn, begitu," jawab Gaara dingin kemudian pemuda berambut merah itu segera ke kamarnya. Kankurou kemudian duduk di samping Temari mengamati apa yang dilakukan kakaknya itu. Setelah menunggu cukup lama dan dengan mengantuk Kankurou terbangun karena sebuah teriakan.
"Yeah, aku berhasil!" Temari bersorak.
"Temari, apa yang kau temukan?" Tanya Kankurou penasaran sambil mengucek sedikit matanya.
"Ini!" jawab Temari kemudian memperlihatkan sesuatu kepada Kankurou.
"I..ini? Ternyata benda itu…"
"Iya benar!" jawab Temari bersemangat.
"Kau yakin?" Tanya Kankurou agak tidak percaya.
"Tentu saja!"
~XXX~
"Aduh, dimana ya kotak obatnya!" Sakura kebingungan karena kotak obatnya tidak ada di tempat.
"Ah, aku ingat!" Kemudian gadis itu segera berlari menuju kamar Sasori. Sebelum memasukinya gadis itu sedikit tertegun. Dia menahan nafas sebentar kemudian membukanya perlahan.
"Masih sama ya," gumam gadis itu melemparkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Tetapi kemudian dia segera sadar kalau Nenek Chiyo segera butuh bantuan. Tanpa pikir panjang Sakura segera mencarinya, ternyata benar ada. Kotak obat itu ada di atas meja belajar Sasori.
Sakura langsung berlari ke tempat Nenek Chiyo dan Sasuke berada. Tetapi gadis itu tidak menemukan keduanya.
"Eh? Mereka kemana?" tanyanya kebingungan.
Sakura tidak menemukan keduanya dimanapun, dan akhirnya gadis itu memutuskan untuk membersihkan tempat itu.
"Akhirnya selesai~!" ujar Sakura. "Tapi kemana ya Nenek, padahal dia sedang terluka," gumam Sakura.
Tetapi segera setelah itu kedua orang yang Sakura maksud sudah berdiri di ambang pintu. Sakura sangat terkejut.
"Ne..nenek darimana?" Tampaklah nada khawatir dari ekspresi gadis itu. "Lalu, luka nenek," ujar Sakura sambil memeriksa tangan Nenek Chiyo yang sudah dibalut asal-asalan itu. "Astaga nek, nanti bisa infeksi," lanjutnya kemudian mengobati luka itu.
"Hehe, maaf membuatmu cemas Sakura. Tadi ada keperluan sebentar," jawab Nenek Chiyo.
Sedangkan Sasuke hanya membuang muka.
Sebenarnya Sakura ingin tahu lebih lanjut tetapi dia sedang tidak mau banyak bicara pikirannya masih saja kacau kalau mengingat Sasori. Setelah selesai melakukan tugasnya dan menikmati teh sambil ngobrol dengan Nenek Chiyo sebentar, Sakura memutuskan untuk pulang karena hari juga sudah cukup malam.
"Jadi, cucu Nenek itu namanya Sasori?" Tanya Sasuke. Sakura langsung tertegun mendengarnya. Setiap kali mendengar nama itu dada Sakura terasa sakit. Sasuke yang mengetahui perubahan ekspresi Sakura langsung tahu apa maksudnya. Semua hal yang selama ini ditutupi telah membuatnya mengerti. Bahwa Sasori adalah orang penting bagi Sakura tetapi dia belum tahu apa hubungan mereka. Dan lagi pemuda berambut emo itu sudah mendapatkan sesuatu yang menarik.
Paling tidak ini akan sedikit meringankan beban pikirannya.
Tiba-tiba Sakura berhenti. Sasuke yang baru menyadarinya langsung berbalik dan mendekati Sakura. Ekspresi Sakura yang dia tunjukkan sama dengan waktu pertama kali mereka bertemu. Sasuke yang tidak tahan melihat ekspresi gadis itu langsung segera memeluknya. Mendekapnya lebih dalam, ke dadanya yang bidang itu. Sakura menumpahkan segala kesedihannya kepada pemuda itu, dan terisak perlahan. Sasuke mengelus pelan rambut bubble gum Sakura. Mungkin butuh waktu bagi Sakura untuk menceritakan apa yang ada di dalam hatinya, tetapi Sasuke percaya suatu saat nanti gadis itu akan melakukannya. Dan mereka bisa menjadi lebih dekat. 'Feel close to you Sakura-chan,' gumam Sasuke dalam hati.
Setelah cukup lama berdiri di sana dan setelah Sakura cukup merasa tenang akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Dan ketika sampai di kediaman keluarga Haruno , Sasuke segera berpamitan. Sakura merasa tenang karena pemuda itu. Tanpa ada yang mengetahui termasuk orang yang bersangkutan, gadis manis itu menyunggingkan senyum kepada Sasuke.
~XXX~
"Pein!" tiba-tiba ada yang menggedor-gedor pintu kantor Pein dengan kerasnya. Sang leader yang saat itu tengah asyik tenggelam dalam Koran yang dia baca langsung mengalihkan pandangan ke pintu dan beranjak membukakannya.
"Ada apa?" tanyanya dengan ekspresi datar.
"Rencana berubah!" seru Konan.
"Ng?" Pein melemparkan tatapan tak mengerti meski masih dengan ekspresi datar pada gadis kertas di depannya itu.
"Kita dapat order besar!" teriaknya kepada sang leader.
"Kenapa bisa?" tanyanya lagi sambil tetap dengan ekspresi datar.
"Sedang ada masalah apa ini, malam-malam ribut-ribut?" Tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Konan. Konan yang terkejut refleks langsung memeluk Pein. Dan ini membuat wajah leader yang sedingin es itu sedikit mengubah ekspresi, ada sedikit semburat merah di pipinya.
"Pein-sama dan Konan-sama!" teriak suara lain yang seperti anak-anak.
Konan dan Pein langsung memalingkan muka dan melepas pelukan yang tidak sengaja itu.
"Pein-sama. Ma..maaf," ujar Konan malu-malu.
"Tidak apa-apa," jawab Pein masih dengan memalingkan muka. Kemudian Konan segera menoleh ke samping dan tiga tanda siku-siku muncul di pelipisnya.
"Apa sih kau Zet! Mengagetkan tahu!" bentak Konan pada Zetsu yang tadi membuatnya melakukan adegan terlarang itu.
"Kau saja yang berlebihan," balas Zetsu datar. Konan hanya mendengus kesal. Lalu mengalihkan pandangan pada Tobi yang masih terlihat memerah itu karena melihat adegan tadi.
"Apa yang kau lihat?" gertak Konan pada Tobi.
"Tidak ada Konan-sama. Aku tidak melihat kalian berpelukan!" jawabnya. Kelihatan sekali kalau dia berbohong.=='
"Ckck, ribut sekali sih. Kalian tahu, konsentrasiku jadi hilang untuk hitungan kali ini!" tegur Kakuzu sambil menunjuk mesin uangnya.
"Sudah-sudah! Kalian ini, aku yang juga mau sembahyang jadi tidak tenang karena mendengarnya. Sebenarnya ada apa?" Tanya Hidan yang juga ikut-ikut nimbrung.
"Baiklah, karena yang ada di sini sudah berkumpul semua kecuali Deidara dan Gaara yang rumahnya terpisah, lebih baik aku jelaskan sekarang saja," ujar Konan dengan nada kasual setelah tenang dari kegugupannya tadi. "Bagaimana Pein-sama?" tanyanya meminta persetujuan pada leadernya. Pein hanya mengangguk. Kemudian semuanya mendengarkan dengan seksama apa yang Konan katakan dan mengangguk mengerti. Sementara itu Pein hanya diam, itu tandanya dia menyetujui rencana itu.
~XXX~
28 Maret 20XX
Bertepatan dengan puncak musim semi dan berkembangnya bunga Sakura, tampaklah seorang gadis berambut merah muda tengah bersiap di dalam kamarnya. Gadis yang bernama sama seperti bunga symbol Jepang itu sudah berpenampilan rapi. Meski hari ini hari libur, dia tidak mau bermalas-malasan. Dia lebih memilih keluar rumah untuk jalan-jalan. Hari ini hari yang sangat cerah, sangat disayangkan apabila hanya bergumul di tempat tidur saja.
"Hari ulang tahun tanpamu," gumam Sakura sambil melihat dirinya sendiri di cermin. Tetapi tentu saja pikirannya tidak disitu, tetapi di tempat lain. "Tenanglah, aku akan selalu bersemangat!" ujar Sakura yang ditujukan bukan untuknya tetapi untuk kekasihnya yang telah tiada itu. Gadis itu mencoba tersenyum. Dia harus kuat!
Saat Sakura turun ke bawah untuk sarapan, Ayah dan Ibunya telah duduk manis disana dan ada sebuah kue ulang tahun di tengah meja itu .
"Selamat Ulang Tahun Sakura-chan!" teriak Ibu Sakura dengan cerianya. Dia langsung menjemput anak gadisnya itu dan mendudukannya di kursi. Sakura yang ditarik tib-tiba merasa terkejut tetapi kemudian dia langsung tersenyum lebar.
"Selamat Ulang Tahun ya nak," sahut Ayah Sakura sambil tersenyum kepada putrinya itu. Sakura menggangguk dan ikut tersenyum lebih lebar lagi.
"Terima Kasih Kaa-san, Tou-san! Aku tak menyangka akan ada kejutan seperti ini," balas Sakura. Dia sangat senang karena orang tuanya mengingat hari ulang tahunnya itu.
"Tentu saja sayang! Kau kami menyiapkan ini khusus untukmu!" sahut Ibu Sakura dengan bersemangat.
"Iya, dan kami lebih senang melihatmu tersenyum daripada murung seperti akhir-akhir ini yang sering kamu lakukan," jawab Ayah Sakura berwibawa. Meski dia sibuk bekerja, tetapi Ayah Sakura termasuk orang yang peduli dengan anaknya. Dan dia tahu apa yang terjadi setelah istrinya menceritakan apa yang dialami anak gadisnya itu.
"Uhm, maafkan aku Tou-san, Kaa-san. Aku tidak akan murung lagi, jadi tenang saja!" jawab Sakura sambil tersenyum. Dia baru sadar kalau orangtuanya ternyata sangat memperhatikannya, dan jadi merasa bersalah karena membuat mereka khawatir akan hal itu.
Kemudian keluarga itu menikmati sarapan dengan gembira, lalu dilanjutkan makan Strawberry cake yang ibu Sakura buat. Sungguh enak sekali dan hal itu menambah keceriaan Sakura.
~XXX~
Sasuke seharian ini terus berada di dalam kamarnya. Dia sibuk mengerjakan sesuatu yang entah apa. Dia akhirnya turun untuk makan siang karena tadi belum sarapan sehingga perutnya terasa lapar. Di ruang makan Sasuke melihat kakaknya sedang duduk santai hendak menikmati makan siang.
"Aniki sudah pulang?" Tanya Sasuke polos. Itachi hanya menyambut pertanyaan adiknya dengan senyuman. Sasuke segera duduk di kursinya.
"Apa ada sesuatu?" Tanya Sasuke lagi.
"Tidak ada ," jawab Itachi santai.
"Tidak biasanya," celetuk Sasuke sambil memandang Itachi dengan tatapan menyelidik.
"Aniki hanya sedang senggang jadi ingin melihatmu. Apa kau keberatan?" goda Itachi yang membuat Sasuke berjengit. Keduanya kemudian menghabiskan makan siangnya dalam diam.
"Bagaimana dengan pencarianmu Sasuke?" Tanya Itachi membuka pembicaraan kembali. Sasuke mendadak ingat barang yang dititipkan padanya semalam oleh Nenek Chiyo.
"Hn, aku mendapatkan sesuatu yang bagus Aniki," sahut Sasuke cepat.
"Apa itu?" Tanya itachi sambil menyesap earl greynya.
"Ada titipan dari Nenek Chiyo," jawab Sasuke kemudian merogoh saku bajunya.
"Nenek Chiyo? Siapa itu?" Tanya Itachi mulai serius.
"Eh, itu. Dia Akasuna, Neneknya Sasori yang telah meninggal itu Aniki," terang Sasuke. "Ini!" tambahnya lagi sambil menyerahkan sebuah amplop coklat pada kakaknya. Itachi langsung menerima benda itu dan membukanya serta membaca surat yang ada di dalamnya. Sesaat terlihat alis pemuda itu saling bertaut tetapi tak berapa lama setelahnya dia langsung tersenyum lebar. Senyum yang sangat jarang sekali diperlihatkannya kecuali pada adik yang disayanginya itu.
"Bagaimana Aniki?" Tanya Sasuke menyelidik.
"Bagus Sasuke!" jawab Itachi.
"Lalu, apa sebenarnya isi surat itu?" Tanya Sasuke ingin tahu. Dia belum sempat membacanya karena Nenek itu bilang harus diserahkan kepada pemimpin kerajaan bisnis Uchiha sebagai penanggung jawab.
"Ehm, itu…" Itachi sengaja menghentikan kalimatnya. Membuat Sasuke sedikit mengerutkan keningnya.
"Nanti saja. Sekarang saatnya kau bersiap-siap Sasuke!" perintah Itachi. Hal itu membuat kening Sasuke semakin berkerut.
"Siap-siap? Memangnya mau kemana?" Tanya Sasuke agak terkejut. Kakaknya kali ini benar-benar terlihat aneh.
"Cepatlah!" sentak Itachi.
"Ada apa ini?" Tanya Sasuke bingung.
~XXX~
Sore harinya di kediaman keluarga Haruno
"Sakura! Ada tamu!" teriak ibu Sakura kepada gadis berambut pink itu yang sedang sibuk menyirami bunga di halaman belakang.
"Iya Kaa-san!" jawab Sakura cepat kemudian membereskan pekerjaannya dan merapikan penampilannya. "Siapa ya?" tanyanya pada diri sendiri kemudian segera bergegas ke ruang tamu.
"Eh? Naruto, Hinata, Ino?" Tanya Sakura tak percaya melihat teman-temannya dengan penampilan beda dari biasanya, mereka terlihat luar biasa!
Naruto dengan tuxedo hitam dan di dalamnya menggunakan kemeja bergaris dan memakai dasi hitam yang membuatnya terlihat tampan.
Hinata dengan gaun hitamnya yang berhiaskan renda-renda manis di bagian kerah dan sebuah kalung manik-manik melingkar indah di leher jenjangnya, tak lupa sebuah bandana hitam menghiasi rambut indigonya yang senada dengan gaunnya.
Ino menggunakan gaun warna ungu kesukaannya dan wide belt hitam melingkar indah di pinggang rampingnya serta jepit rambut warna ungu menghiasi rambut pirangnya yang dikuncir membuatnya terlihat manis.
"Hehe, kenapa Sakura? Kaget ya?" goda Naruto.
"Huh, kita harus cepat!" perintah Ino kemudian segera menyeret Sakura ke kamarnya.
"Eh? Mau apa ini?" Tanya Sakura masih sangat terkejut. Hinata dan Ino segera memilihkan gaun untuk Sakura. Sementara itu Naruto menunggu di ruang tamu. Akhirnya Sakura muncul dengan menggunakan gaun terusan merah dengan aksen putih keperakan di bagian dada ke bawah yang dipilhkan Hinata. Dan menggunakan hiasan rambut bunga mawar di rambut bubble gumnya yang telah ditata rapi oleh Ino. Serta menggunakan sepatu highheels yang warnanya senada dengan gaunnya.
"Wah, cantik sekali Sakura!" puji Naruto. Seketika seebuah jitakan keras mendarat di kepala Naruto.
"Kau itu, memuji gadis lain di depan pacarmu. Tapi memang benar sih kau cantik Sakura!" lanjut Ino mengalihkan perhatian dari Naruto pada Sakura kembali.
"Eh, tidak kok. Hinata juga sangat cantik!" puji Naruto kepada Hinata. Dia tidak mau kekasihnya itu salah paham. Hinata langsung memerah bak tomat rebus, begitupula Naruto. Ino hanya tersenyum geli melihat keduanya. Sedangkan Sakura baru sadar dari keterkejutannya.
"Ini ada apa?" tanyanya linglung. Seketika ketiganya langsung menatap gadis itu dan segera menyeretnya pergi, tetapi sebelumnya mereka berpamitan kepada ibu Sakura terlebih dahulu.
~XXX~
-TO BE CONTINUED-
Maaf chapter kali ini sangat pendek dan agak aneh T.T
Author sedang tidak bisa berpikir jernih.
special thanks to : Shard VLocaster, Ran Uchiha, Yamato Ai, Youichi HiKaRi, 4ntk4-ch4n
yang login saya balas via PMs
- 4ntk4-ch4n : hehehe, makasih reviewnya. oke.. ini update ya.. baca saja! ^^
Dan jangan lupa Reviewnya ^0^/
Arigatou!
