Disclaimer : Ide ini muncul murni dari otak cabul saya saat saya lagi jalan ke warung sambil menenteng dua buah susu coklat merek Indomilk seharga Rp. 2500,00.- dan sebuah susu coklat merk Ultramilk dengan harga yang berselisih Rp. 500,00.-, yaitu Rp. 3000,00.-
Warning : OOC, AU, Shonen-Ai, daku tak bisa ngetik fic dengan M content Yaoi, karena pikiran belum kesampean kesana. (Kalo Role-Play Yaoi sih, hayukkkk)
Cast : Faine hanya milik *allenerie yang sampe mampus pun saya ga bakalan dikasih buat ngejadiin dia sebagai milik Neo, Tae Yon juga cuma punya ~beastofdesire yang sampe saya matipun ga bisa diraep-raep seenaknya sama Neo, Rena yang notabene jadi tempat penampungan curhatan Neo dan Faine dimiliki oleh ~shirosagi-yukihiko, dan Neo lahir dari otak cabul nan pedo milik saya yang berharap ada bocah imut yang umurnya 17 tahun tapi fully seme dan ganteng.
.
.
.
.
.
Cherry Blossom pt. 2
.
.
.
.
Faine mendapati dirinya terengah-engah menuju gedung olahraga karena ia memiliki janji yang harus ditepati pada Rena. Berusaha mengatur napasnya, laki-laki jangkung berambut putih itupun berhenti dan bersandar pada sebuah pohon yang tertanam disebelah gedung olahraga. Sekalian berteduh dan beristirahat tentunya.
Mari kita lihat latar belakang cerita. Musim dingin pada tanggal 14 Januari, Siang hari, namun cuaca tak terlalu cerah, disertai salju yang semalam turun, menumpuk tebal pada tiap-tiap dahan pohon, ditambah lapangan sepak bola yang tepat berada di depan aula olahraga. Bisa saja kan terjadi kecelakaan kecil yang disebabkan oleh bola sepak nyasar.
Faine, keputusanmu untuk berteduh di bawah pohon, sungguh-sungguh…
Salah besar.
Saat dibilang salah besar, maksud author tentu saja salah besar.
"Eeh! Awas yang disanaaa!"
Tuh, kan' baru aja dibilangin…
Melihat bola yang mengarah tepat kearahnya dengan tatapan innocent, Faine melongo sejenak sebelum akhirnya menghindari bola itu dengan cekatan.
Sayangnya, tak ada rotan, akar pun jadi. Walaupun berhasil menghindar dari bola nyasar yang tepat mengarah padanya, kesialan Faine tak berhenti sampai disitu saja.
Bolanya menabrak pohon. Yang sukses membuat salju-salju yang ada disana runtuh dan menimpa Faine yang sedang berteduh padanya. Teori gravitasi bahwa benda jatuh selalu kebawah pun berhasil dibuktikan olehnya.
Dengan mata berputar-putar dan badan tertimbun salju, Faine berharap bahwa ada seseorang yang akan datang untuk menolongnya. Kalau mendata kesialan apa saja yang dialami Faine hari ini, tentunya ada banyak sekali, mulai dari bangun terlambat, tabrakan di depan gerbang, tabrakan di depan asrama, ketumpahan sup miso, dan sekarang tertimbun gundukan salju. Oh, gosh… 'Berikanlah aku sedikit mukjizat darimu, Tuhan…' batinya.
Selagi membiarkan tangannya mengibas-ngibas tanpa tenaga dan berharap adanya pertolongan, Faine mulai merasa bahwa sebentar lagi malaikat pencabut nyawa akan datang menjemputnya. Mati di timbunan salju gara-gara bola? Mati konyol.
"Aa… Gomenne… Apa kau terluka?"
Merasa ada seseorang yang meraih tangannya, Faine membuka mata dan melihat cahaya menyilaukan dari luar.
Apakah ini surga?
Bukan, Faine… Lihat lagi lebih teliti.
Berusaha mempertahankan keseimbangannya, samar-samar Faine bisa melihat sang penyelamat jiwa yang sayangnya bukan Brad Pitt ataupun Superman.
Tinggi semampai, mata emerald, rambut hitam, dan wajah ganteng yang dihiasi dengan senyum miliaran dollar, Faine yang terpana baru aja ngerasa kalau dia menemui Archangel.
Mukjizat dari Tuhan pun datang.
Nggak masalah deh kalau malaikat kematiannya ganteng begini… Dicabut nyawanya seratus kalipun aku rela.
Lho?
"A… Ah, T-te… Terimakasih banyak…" Faine sedikit tergagap ketika harus menatap langsung lawan bicaranya yang bahkan lebih ganteng daripada Kim Bum dari BBF sekalipun.
"Maaf ya, aku tak sengaja menendang bola kearahmu, tadi itu benar-benar kecelakaan…"
"I-iya… Maaf juga, tadi itu kesalahan saya…" balasnya seraya membungkukan badan.
Mengingat bahwa ia memiliki janji yang harus ditepati, Faine segera permisi untuk pergi, sayangnya, sang pangeran dari klub sepak bola itu menawarkan Faine untuk ikut makan siang bersama anggota klub sebagai permintaan maafnya. Bagaimanapun juga, kalau dipaksa dengan puppy eyes dan permohonan maaf, Faine bukan tipe-tipe yang dengan gampang bakalan bilang 'Sori, gue sibuk' pada orang yang sudah baik hati menolongnya. 'Sekalian saja mencari teman seperti saran Rena-san' pikirnya.
.
.
.
.
.
"Hee? Jadi, kau dan dia sudah—"
"He-eh…"
Rena hanya diam dan menyeruput teh kotak dihadapan kliennya yang sedang melakukan pengakuan dosa.
Setelah manggut-manggut sejenak, Rena dengan keahlian bussiness woman yang jago bersilat lidah, mulai mengorek informasi lebih jauh sejauh yang kliennya tawarkan.
"Jangan-jangan nanti kau jatuh cinta padanya lho…"
"He-? Apa! Tidak mungkin?"
"Kalau mengelak terus seperti itu, malah semakin mencurigakan lhooo~…"
"Nggak kok! Nggak bakalan! Lagipula kami kan baru berkenalan…"
Dasar cebol. Isi otakmu itu mudah sekali ditebak tahu…
"Lagipula kan' yang tadi itu nggak sengaja…" Sambil menyedot susu cokelat, Neo memutuskan untuk membela dirinya. "Bukannya aku kesenangan atau apa gara-gara sudah berciuman dengannya atau seperti apalah itu…"
Semakin nggak jelas omonganmu, semakin kau menunjukkan kalau kau mau, bodoh.
"Hee—akan kulaporkan ini pada Shuu…"
BRUSSSHHHH
Neo sukses mengeluarkan semua susu coklat dari kerongkongannya.
"Ja-Jangan! Aku tak mau hubunganku dengan Shuu semakin bertambah buruk gara-gara hal ini!"
Shuu Himeno, 19 tahun, model muda yang juga menjadi madonna di SMA Kanbashuu Renjii, adalah kakak angkat dari Neo. Sekaligus mantan pacar yang putus sebulan lalu karena sedikit kesalahpahaman yang terjadi antara Neo dengan Shuu.
"Kalau dia cemburu, artinya kan' dia masih cinta padamu, bodoh…"
"… Hah?"
Rupanya bukan cuma Faine saja yang lemot.
Memutar sedikit otaknya, Rena mulai menyusun kata-kata yang disertai dengan buaian maut yang mampu menjerumuskan orang-orang yang mendengarnya.
"Begini, kenapa kau tidak pacaran saja dengan Faine untuk menarik perhatian dari Nee-sama mu itu? Kalau dia cemburu, berarti kan' dia masih mencintai dirimu…"
Sayangnya, Neo masih sedikit terlalu pintar untuk menyetujui saran mematikan dari Rena yang akan mampu menjebloskannya ke lubang antah berantah.
"Bagaimana kalau nanti aku jatuh cinta sungguhan?"
Ya, memang itu tujuannya…
Faine memiliki seorang seme, Neo tidak lagi patah hati dan sudah menemukan cinta yang baru. Semua senang dan tak ada yang dirugikan. Kalau memang nanti Neo akhirnya kembali pada Shuu, bukan hal yang sulit untuk mencarikan seme baru untuk Faine. Hal itu bisa diatur…
Sebagai gadis yang mendukung hubungan pria sesama jenis, tentunya Rena sudah menyiapkan berbagai rencana agar hubungan Neo dan Faine berjalan lancar. Tentunya, hubungan Faine dan pihak ketiga yang satu lagi pun juga akan membantu melancarkan semua siasat yang telah disusunya…
.
.
.
.
.
"Tae Yon… Tae Yon…"
Berlari-lari kecil di lorong sekitar asrama, Faine tersenyum dengan gembira karena sudah mendapat seorang teman baru. Semburat merah sempat muncul memenuhi wajahnya saat ia mengingat saat-saat makan siang bersama yang dilaluinya berdua oleh pangeran dari klub sepak bola.
Bisa ditembak kalau saat ini Faine sedang…
Jatuh. Cinta.
Memutuskan untuk masuk ke kamar, Faine terpaksa harus menghadapi Neo yang sedang menyambutnya dengan tatapan dingin.
Sayang sekali aura hangat berbunga-bunga milik Faine ternyata jauh lebih kuat daripada senyuman cemberut milik cowok pendek kita yang sedang puber ini.
Masih merasa nggak terima dengan saran yang diajukan oleh Rena, Neo dengan ogah-ogahan akhirnya bangkit dari kasur.
Pertama, Neo mendorong Faine sampai ke sudut ruang.
Kedua, Neo memastikan bahwa pintu dikunci dan tak ada orang lain yang bisa masuk.
Ketiga, Neo semakin mendesak Faine untuk mengalah atas serangan yang dilakukannya.
"Kau mau menjadi pacarku tidak?"
Dasar mesum, tadi katanya nggak mau.
"Aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama…"
Dasar tukang bohong.
"E-eh?"
Dasar lemot.
"Ne-Neo-san, ke-kenapa tiba-tiba begini?"
"Daisuki desu…"
Oke, Neo. Kalau ada nominasi playboy paling mesum dari satu sekolah. Kau bisa dipastikan menjadi salah satu kandidatnya.
Faine hanya bisa tergagap dengan muka merah menanggapi rayuan tiba-tiba yang dilancarkan Neo untuknya. Deg-deg-an? Tentu saja.
Siapa sangka di hari pertamamu masuk sekolah, teman sekamarmu tiba-tiba menyatakan bahwa dia jatuh cinta padamu? Harus bagaimana kau membalasnya?
Itu juga yang dipikirkan Faine saat mendengar Neo menyatakan cinta padanya. Faine bukan tipe-tipe yang dapat menolak dengan mudah. Sekali lagi, karena Neo menambahkan kata-kata, "Jangan ditolak…" membuatnya semakin bingung untuk menjawab.
TOK! TOK! TOK!
Syukurlah Tuhan masih berbaik hati mau menyelamatkan Faine.
"Permisi, saya datang mengantarkan barang yang ketinggalan…"
Kesal karena diganggu, Neo akhirnya marah-marah dan membuka pintu dengan kasar, lalu tersentak kaget karena melihat Tae Yon datang dengan beberapa lembar kertas yang cukup untuk melampaui tinggi si cebol itu.
"Ta… Tae Yon-san!"
Tentunya hanya Faine saja yang merasa senang dengan keadaan seperti ini. Buru-buru menghampirinya dengan wajah gembira dan berseri-seri, Faine dengan tidak sadar membuat aura disekitarnya penuh dengan hawa membunuh.
Target Locked.
Neo langsung mengetahui bahwa pria yang bernama Tae Yon ini akan menjadi saingan terberatnya dalam merebut hati Faine.
Entah sejak kapan, tiba-tiba dia menjadi serius.
Yang pasti, Neo sudah menggali lubang kuburnya sendiri saat dia memutuskan untuk menerima saran dari Rena.
Sebagai pelajaran, hanya orang bodoh yang akan jatuh ke lubang yang dibuatnya sendiri.
.
.
.
.
.
***To Be Continued***
.
.
.
.
.
(A/N : Haissshhh, chapter ini pendek sekali ya? Maaf… Lalu, soal Kanbashuu Renjii, itu hanya pelafalan jepang dari Canvas Ranger saja kok. Saya ngerasa SMA Canvas Ranger nggak cocok dimasukkan dalam cerita, entah kenapa saya lebih demen sama Kanbashuu Renji—mungkin karena lafalnya lebih kejepang-jepangan kali ya?
Renanya super licik… maaf sekali buat ~shirosagi-yukihiko yang OCnya jadi OOC seperti ini.
Buat *allenerie dan ~beastofdesire juga… Maaf banget karena OC kalian jadi super OOC. Faine super lemot dan Tae Yonnya belum dimunculkan ke-seme-annya. Moga-moga di chapter berikutnya saya bisa nulis cerita yang lebih baik lagi… v/v)
