Disclaimer : Ide ini muncul murni dari otak cabul saya saat saya lagi jalan ke warung sambil menenteng dua buah susu coklat merek Indomilk seharga Rp. 2500,00.- dan sebuah susu coklat merk Ultramilk dengan harga yang berselisih Rp. 500,00.-, yaitu Rp. 3000,00.- ditambah Tango satu pack seharga Rp. 7500,00.- plus Cheetos dan Jetset seharga Rp. 1000,00.- per buah sehingga bila dihitung menjadi Rp. 2000,00.-, lalu, berapakah jumlah total belanjaan yang dibawa oleh saya?

Warning : OOC, AU, Shonen-Ai, hampir saja fic ini berisi dengan M content Yaoi, karena imajinasi saya yang terlalu ketinggian.

Cast : Faine hanya milik *allenerie yang sampe mampus pun saya ga bakalan dikasih buat ngejadiin dia sebagai milik Neo, Tae Yon juga cuma punya ~beastofdesire yang sampe saya matipun ga bisa diraep-raep seenaknya sama Neo, Rena yang notabene jadi tempat penampungan curhatan Neo dan Faine dimiliki oleh ~shirosagi-yukihiko, dan Neo lahir dari otak cabul nan pedo milik saya yang berharap ada bocah imut yang umurnya 17 tahun tapi fully seme dan ganteng.

.

.

.

.

.

Cherry Blossom pt. 3

.

.

.

.

.

Hawa pagi hari yang menyelimuti asrama sekitar sekolah terasa sangat sejuk bagi para siswa-siswi yang rajin bangun pukul 05.30 hanya untuk datang pagi mengerjakan tugas piket. Dihiasi sinar matahari pagi yang menerpa jendela, dan awan-awan putih yang mengambang di langit bagaikan kapas empuk, suhu diluar yang notabene berada diantara hangat dan dingin membuat Faine semakin lama semakin tidak ingat bahwa hari ini ia harus datang pagi-pagi untuk mengurusi tugas piket. Berkutat pada bantal guling yang empuk, sambil memimpikan sang pangeran dari klub sepak bola, Faine mengigaukan kata 'Tae Yon' yang membuat teman sekamarnya terkena sakit telinga dadakan.

"Jangan duduk di kursi orang sambil memasang tampang jelek seperti itu dong…" Menghela napasnya, Rena mengusir Neo yang sedang terdampar di meja miliknya. "Pemandangan pagi yang indah nan cerah jadi hancur gara-gara melihat mukamu kan…"

Badan membungkuk, rambut acak-acakan, muka kusut, mata berkantung hitam, ditambah senyum terbalik atau cemberut yang tak luput menghiasi wajahnya, Neo terlihat benar-benar kacau.

"Kalau mau berkeluh-kesah, nanti saja… Mademoiselle Rena butuh waktu untuk mengerjakan tugas harian…"

"Sejak kapan menyalin PR orang lain menjadi tugas harian?"

Cemberut karena posisi wuenaknya diganggu oleh Rena, Neo akhirnya pindah tempat mencari suaka yang nyaman untuk berpundung ria. Sekaligus tidur tentunya.

Ada beberapa hal yang menyebabkannya bertampang tidak lazim seperti biasanya.

Semalam, setelah stress memikirkan strategi untuk menggaet teman sekamarnya yang ternyata adalah cowok lemot nan lugu, Neo memutuskan untuk pergi tidur terbuai ke alam mimpi yang indah. Baru saja ia berharap memimpikan Shuu yang tampil dengan kimono yang terbuka dengan pose seksi, tiba-tiba terdengar suara-suara gaib yang menyebut-nyebut nama 'Tae Yon'. Jangan sampai nanti dia malah memimpikan Tae Yon yang tampil dengan kimono terbuka memperlihatkan bagian-bagian tubuhnya yang... Ukh, pokoknya bagi Neo, hal itu akan menjadi mimpi terburuknya sepanjang masa. Sayangnya, Faine yang terlelap, terus saja mengigau memanggil-manggil nama pangerannya itu.

"Nih, anak lagi minta nomer togel kali ya?" gerutunya sambil tetap terjaga sepanjang malam.

Pagi ini, ia sedikit bersyukur karena bisa 'numpang tidur' di kelas orang lain. Baru saja ia menghela napas dan bersiap untuk tidur, tiba-tiba Faine datang dengan wajah cerianya yang meruntuhkan semua kenyamanan diatas meja.

Niatnya sih, Neo mau marah-marah karena waktu tidurnya yang berharga telah diusik. Sayangnya, feromon super uke dengan senyum gemilang nan menawan yang dimiliki oleh Faine, mampu merobohkan wajah super garang Enma Ou, sang dewa neraka yang sedang ditiru oleh Neo.

Berganti dengan rona merah, anak nggak jelas satu ini mulai merasa beruntung karena bisa melihat pemandangan Angelic pada pagi hari. Merasa sudah cukup puas, Neo kembali ke kelas dengan salah tingkah.

"Neo-san kenapa ya?" Tanya Faine lugu.

"Kesambet setan pengraep kali…" Jawab Rena asal.

.

.

.

.

.

Menyuruh Faine kembali ke klub sepak bola rupanya sungguh keputusan yang tepat bagi Rena setelah mengetahui bahwa Faine dan Tae Yon sudah mengadakan kontak langsung. Dengan mata berbinar-binar, Rena yang kesenengan karena sebentar lagi bisa melihat pasangan sesama jenis bertebaran di lingkungan sekolah, akhirnya menggenggam kedua tangan Faine dan menariknya menemui Tae Yon.

Tunggu, sebenernya Rena ini memihak sama siapa sih?

Neo atau Tae Yon?

Yang mana aja boleh deh, asalkan bisa ngeliat pasangan sesama jenis yang imut-imut begini.

Membingungkan…

"Ki-kira-kira Tae Yon-san akan marah tidak ya? Kemarin aku sudah merepotkannya…" Ujar Faine lugu.

"Pasti seneng…"

Dengan seringaian lebar, akhirnya Rena berhasil menarik Faine sampai ke ruang klub sepak bola. Memutuskan untuk memberi private talk pada Faine dan Tae Yon, akhirnya Rena pergi.

Deg-deg-an lagi, Faine dengan suara pelan karena malu akhirnya mengetuk pintu ruang klub. "Permisi…"

Satu menit. Dua menit. Hening.

Mengetuk pintu lagi, Faine akhirnya terdiam dan hampir kembali ke kelas. Kalau saja ia tidak ingat omongan Rena yang menyuruhnya untuk lebih berani dan mandiri, mungkin Faine sekarang bisa mendapati dirinya sedang kembali ke kelas.

Sayangnya, entah kenapa, Faine yang begitu penasaran, akhirnya memutuskan untuk masuk ke ruang klub yang pintunya tidak terkunci.

Jendela yang terbuka dengan gorden putih yang ditiup angin, cahaya temaram dengan siluet hitam, harum kopi panas yang baru diseduh. Ditambah dengan wajah terlelap sang pangeran yang sedang terbaring di sofa. Seakan terhipnotis oleh pesona fatamorgana, Faine terpancing untuk melihat sang pangeran tidur lebih dekat.

Polos. Memperhatikan wajah Tae Yon dalam cahaya temaram, Faine hanya bisa merasakan kalau seluruh darahnya naik ke kepala. Mengurungkan niatnya untuk berbicara mengenai pekerjaan manager klub, Faine mencari selimut untuk menyelimuti Tae Yon agar tidak kedinginan.

Baru saja ia berniat pergi dan kembali ke kelas, tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya.

"Tunggu…"

Melongo sejenak, Faine akhirnya menyadari bahwa Tae Yon terbangun. Seakan didorong oleh kekuatan gravitasi, Faine kemudian ditarik untuk mendekat kedalam pelukan sang kapten. Faine yang nggak ngerti mesti berbuat apa, akhirnya hanya bisa tergagap sambil dag-dig-dug karena deg-deg-an.

Wangi lavender yang sempat dihirupnya seakan membius Faine untuk tetap tenang dan diam walaupun dalam pikirannya, jantungnya seakan mau copot. Faine semakin panik saat tiba-tiba Tae Yon membisikkan sesuatu di telinganya. Sungguh disayangkan karena ketidakrasionalan otak Faine membuatnya hanya bisa mendengar samar-samar.

Menatap Faine dengan lembut, Tae Yon menampilkan senyuman sejuta dollar miliknya yang membuat siapapun luluh.

Oke, sungguh posisi yang amat sangat menyesatkan, karena Faine sekarang terkunci dalam pelukan Tae Yon yang tidak akan membiarkannya kabur.

Cantik dan Manis.

Dibawah temaram cahaya seperti ini rupanya bukan hanya Faine saja yang terhipnotis.

Menatap bola mata hazel kecoklatan milik Faine, Tae Yon hanya terpaku. Seakan tak bisa mengontrol dirinya sendiri, tangannya bergerak secara tidak beraturan dan mulai membuat Faine merasa geli.

"Ta-Tae Yon-san… Ge-Geli…"

Uke absolut kita yang satu ini memang tak bisa menolak.

Jangan salahkan situasi yang bisa saja memancing mereka berdua untuk berbuat lebih jauh. Tapi salahkan Neo yang merusak situasi secara tiba-tiba yang membuat mereka berdua tidak bisa berbuat lebih jauh.

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA FAINE-KUUUUUU?"

Gema. Sebentar. Lalu keheningan dan keromantisan yang terjadi hancurlah sudah.

Mendobrak pintu ruang klub secara brutal, Neo maju dan merebut Faine dari Tae Yon.

Tak membiarkan Faine dirampas begitu saja, Tae Yon menahan tangan Faine agar ia tetap berada disisinya.

Menyebalkan.

Tatapan mata Neo seakan mengatakan hal itu pada Tae Yon.

Keduanya saling berpandangan satu sama lain dan menatap tajam. Dengan satu kalimat yang sama yang terbaca pada bola mata emerald dan hitam keunguan itu.

Menjauh darinya, dia milikku.

"Jangan macam-macam…" Tae Yon membuka pembicaraan. "Disini ruang klub, bukan arena tinju."

"Singkirkan tanganmu darinya, brengsek…"

"Memangnya dia siapa-mu, hah?"

CTARRRRRRRRRRRRRRRRRR

Faine hanya bisa melongo dengan tatapan khawatir. Melihat kedua orang dihadapannya bertengkar, dan terlihat mustahil untuk dilerai, sebaiknya ia segera mengambil tindakan sebelum mereka berdua menghancurkan sekolah karena amukan yang gila.

"Ne-Neo-san… Sudah cukup, aku tak kenapa-kenapa kok…" Perlahan-lahan ia mendekat pada Neo, berusaha untuk memadamkan api amarahnya. Menggandeng Neo lalu mengajaknya pergi rupanya memang pilihan yang terbaik yang telah dilakukan oleh Faine. Syukurlah kali ini dia tidak lemot.

Masih tak terima dengan sikap Tae Yon, Neo memutuskan untuk menoleh sebelum akhirnya dia pergi. Memberikan peringatan niatnya.

Sayangnya, Tae yon terlebih dulu memasang seringaian dengan tatapan "Akan kurebut dia darimu, karena dia milikku" saat Neo menatapnya dengan sinis.

.

.

.

.

.

Ceramah menyambut Faine saat dia terduduk di sudut ruangan kantin sekolah. "Bagaimana kalau kau nanti dibeginikan… dibegitukan…" selalu terucap dari mulut Neo yang merasa bahwa teman sekamarnya ini tidak mampu memberikan perlawanan bahkan saat dikerjai anak kecil sekalipun.

Imajinasinya emang rada ketinggian kalau dibandingin sama tinggi badannya.

Setelah puas mengomel pada Faine yang hanya bisa tertunduk meratapi ocehan teman sekamarnya, Neo merasa perlu berterima kasih pada Rena yang menyarankannya untuk mencari Faine.

Mademoiselle Rena memang selalu punya berbagai macam rencana.

"Neo-san, jangan marah lagi… Akan ku traktir susu cokelat sebagai tanda terima kasih…"

'Nggak usah. Mendingan lu traktir gue pake majalah playboy yang isinya foto-foto Shuu satu album.'

Dasar mesum.

Neo manggut-manggut dalam pikirannya sendiri sementara Faine yang nggak ngerti ngerasa bahwa Neo udah maafin dia karena ditraktir susu cokelat.

Emangnya dia masih anak-anak?

Sementara Faine pergi nyamperin si penjaga kantin, Neo masih neriakin "Hati-hati kalau ketemu sama orang yang nggak dikenal!" karena khawatir kalau-kalau Faine terjebak dalam situasi yang membahayakan keperjakaan dirinya.

.

.

.

.

.

***To Be Continued***

.

.

.

.

.

(A/N : Lagi-lagi pendek… Huyuh… Tae Yonnya OOC sangat, tapi kali ini paling nggak sudah ada hint-hint TaeFai kan? 8D

Kalau ada yang ga dimengerti, dipersilahkan bertanya, saya akan jawab sejujur-jujurnya—termasuk buka spoiler juga.)