Disclaimer : "Neo-kun", "Faicchi", "Tae Yon-san", "Shuu-neesama", dan "Rena-chan" © Their respective owners

Warning : OOC, AU, Shonen-Ai. Ini fic nggak seekstrem fic "Alternative" yang ada adegan Lemon M content kok, mihihihi~ (ketawa gaje)

P.S : Karena ini AU, lupain aja timeline dunia asli. Wuakakaka~ (-author bego yang nggak ngeriset data sebelum bikin fic.

.

.

.

.

.

Cherry Blossom pt. 4

.

.

.

.

.

Semilir hawa dingin semakin terasa menusuk kulit saat Shuu hendak berjalan di lorong sekitar asrama, memeriksa keadaan sekolah. Hari ini adalah hari pertamanya menjadi guru pengganti pada mata pelajaran seni musik. Bukan maunya memang, kalau saja kepala sekolah tidak menjanjikannya memberikan 3 kotak mie cup spicy flavour, ia tidak akan mau menolong.

Ngapain repot-repot kerja jadi guru kalau pekerjaan di dunia showbiz menjanjikan hal yang lebih?

Mengurus dirinya saja sudah susah, ngapain mengurus yang lain?

Tapi, dirinya bukan tipe yang mau repot-repot memasang tampang cemberut hanya karena mendapat pekerjaan yang tak sesuai—hal itu bisa menambah keriput di wajahnya. Nikmati saja, toh tak ada salahnya mendatangi sekolahnya yang dulu. Berniat bernostalgia dengan alasan kangen, Shuu akhirnya mengeksplorasi seluruh sekolah. Wah, mau menyamai Dora The Explorer rupanya.

Niatnya sih, begitu…

Tapi nggak jadi deh', habisnya Shuu keburu mergokin adik tercintanya tengah mencium cowok lain dengan mesra.

Adik tercinta…

Adik tercintaku…

Aniki…

Neo…

"Shuu-neesama ? !" Si 'adik tercinta' telat merespon kakaknya.

Shuu nggak tau sekarang dia mesti pasang tampang 'oh-my-gay-you're-shocking-me' atau 'fuck-off-you-dare-to-kiss-another-person-in-front-of-me'.

Herannya, Shuu yang bingung akhirnya masang tampang emotionless dengan ekspresi datar. Poker face yang bikin Neo kalang kabut karena nggak ngerti mesti ngerespon gimana. Haha, rasain… Akhirnya si cebol ngerti juga perasaan Faine yang dari tadi dia cuekin.

"Ah, aku harus pergi dulu, kalian santai saja… Hahaha…" Shuu yang mutusin buat ngasih adiknya privacy, akhirnya menutup pembicaraan dengan garing. Apanya yang santai saja ? !

"Nee-sama, tunggu! A-Aku bisa jelaskan!"

Diantara dua orang ini, Faine terlupakan. Masih nggak ngerti sama rentetan kejadian yang begitu cepat, Faine memutuskan untuk diam. Daripada ntar salah ngomong.

Setelah Shuu menjauh, Neo yang bingung mesti ngelakuin apa, selanjutnya memantapkan hati untuk mengejar Nee-sama-nya setelah menyuruh Faine kembali ke asrama dan ngunci pintu. Biar Faine aman dari raepan Tae Yon yang bisa aja datang tak dijemput dan pulang tak diantar.

Dasar bocah bego, dikiranya Tae Yon apaan?

"Nee-sama, tunggu!"

Shuu pura-pura tuli karena nggak menggubris panggilan Neo darinya. Mempercepat langkah kakinya yang perlahan-lahan berlari seakan dikejar suster ngesot. Mencoba membayangkan kalau Neo itu suster ngesot yang tinggal di bangsal nomor 183, mengejarnya sambil menyeret kaki dan berdarah-darah, ditambah suaranya yang menyeramkan, rupanya ampuh untuk membuat Shuu merasa takut dan berlari seakan-akan bumi mau roboh. Well, imajinasinya emang sama tingginya seperti adiknya… Buah emang ga pernah jatuh jauh dari pohonnya.

Tapi, bukan Shuu juga kalau dia kabur dan lari dari masalah sepele kayak gini. Sekarang dia kan' guru, jadi berhak menasehati muridnya. Mengembalikan muridnya ke jalan yang benar adalah tugasnya. Shuu mulai berpikir layaknya film-film Power Ranger.

Shuu menghentikan langkah kakinya dan berputar 90 derajat, menyambut Neo yang datang mengejarnya dengan penuh nafsu. "B-BRING IT ON!"

Shuu malah nantangin. Neo yang udah jelas banget langganan tabrakan di lorong, nggak luput juga menabrak Shuu dengan sukses dan terhantam ke tembok bersamaan.

Hello, two thousand and ten~, udah 2010 tapi masih nggak kenal "Rem" ya, bang?

.

.

.

.

.

Malam itu, Faine harus tidur sendirian karena Neo sama sekali nggak balik ke kamar. Kasur tingkat yang ada diatasnya itu sekarang sepi, kosong, dan tak menunjukkan adanya pergerakan barang sedikitpun. Kamar asrama yang biasanya selalu berisik dengan bunyi lagu atau suara hentakan keyboard dari laptopya Neo, sekarang berubah menjadi sepi layaknya kuburan. Jam malam sudah lewat, dan si cebol itu juga masih belum kembali setelah bertemu dengan kakaknya itu. Ngapain sih mereka?

Ehem.

Bang Toyib, Bang Toyib mengapa kau tak pulang-pulang…

Anakmu, anakmu sudah ingin bertemu…

Tiga kali lebaran, tiga kali puasa…

Bang Toyib, kalau nggak balik-balik juga, nanti Dinda kawin lari lho' sama duda keren tetangga sebelah…

Kenapa jadi Dinda!

Nggak kok, nggak. Faine nggak mungkin nyanyi lagu begitu…

Tapi, bukan Faine musica namanya kalo dia nggak bisa tenang cuma gara-gara ditinggal sendirian di kamar.

Faine beranjak dari kasur dan menuju meja yang berada di dekat lemari, tangannya meraba mencari sesuatu yang kira-kira bisa menghilangkan rasa sepi yang dirundungnya sejak tadi. Kotak musik.

Faine, dan hobinya menyanyi. Oh, yeah, mantap. Seingatnya, semenjak masuk sekolah dan 'dijebloskan' ke klub sepak bola oleh Rena, Faine belum sempat melakukan ritual harian yang namanya 'nyanyi'. Emang sih, menyanyi itu bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun, hanya saja… Kesibukannya di klub membuatnya lupa akan hal yang dapat membuatnya melepaskan segala beban pikiran yang ada di dunia.

Memulai dengan senandung-senandung pelan, Faine mulai menyanyikan lirik yang mengalun lembut dan perlahan. Waktu seakan terhenti saat dia mulai menutup mata, dan melakukan perjalanan waktu untuk mengingat hari-harinya selama di asrama. Memorinya mulai melangkah mundur untuk melakukan flashback.

Telat bangun, sarapannya nggak habis, tabrakan di depan gerbang, ketumpahan sup miso, tabrakan lagi di asrama, jadi sasaran bola nyasar, ketimbun dalam tumpukan salju, kerjaan numpuk, baju kotor… Err- kok ingetannya nggak ada bagus-bagusnya ya?

Tapi, kalau diingat-ingat lagi, orang pertama yang ditemuinya di asrama ini kan' Neo. Kesan pertama hubungan mereka terlanjur jelek sih, yang Faine ingat cuma soal tabrakan-tabrakannya aja. Habis itu yang paling berkesan. Neo si tukang tabrak, julukan itu yang cocok untuknya sekarang. Setelah itu, jadi teman sekamar, lalu Neo makin sering berada disampingnya dengan alasan bahwa dia mau menjaga Faine dari gangguan orang mesum. Faine tertawa ketika dia ingat kalau Neo selalu menggerutu sendiri setiap kali dibilang 'kecil' atau 'cebol', lalu hobinya minum susu juga, lalu pertanyaan-pertanyaan mengenai kiat tinggi badan yang baik, lalu selalu bilang bahwa suatu saat akan mengalahkan Faine…

Haduhh, akang, engkau dimanaaa?

Faine kembali berkutat pada pikiran-pikirannya lagi. Setelah itu soal Rena, yang masih dianggapnya sebagai malaikat penolong, dan Tae Yon, prince charming idamannya. Ahh, Faine terpaksa melalui malam ini sendirian karena nggak bisa tidur.

.

.

.

.

.

Disini juga, Neo gelisah.

Sekarang, dia disini. Di asrama khusus milik guru. Dengan kaki keseleo.

"Aduh!"

Neo meringis saat Shuu mengobati tangannya yang lecet karena tergores pipa besi, hantaman yang cukup kritikal diterimanya karena tidak mengerem terlebih dahulu.

"Shuu-chan, soal yang tadi…"

"… Aku mengerti."

Hah? Belum dibilang apa-apa sudah ngerti nih?

"Neo-kun menyukai dia kan?"

Aduh, sok tahu.

"B-Bukan! Aku… Aku cuma…"

Yang ini juga responnya salah.

"Aku cuma…"

Shuu menatap mata Neo sejenak dengan pandangan yang lurus, seakan menembus semua batas pikirannya, masuk dan membaca semuanya.

"Bagaimana perasaanmu padanya, Neo-kun?"

Dan kali ini, Neo hanya diam, menunduk, bingung harus menjawab bagaimana. Atau mungkin hanya memikirkan rangkaian kata yang tepat.

"Apa kau mau kehilangan dia?"

"Tidak…"

"Bagaimana bila dia menyukai orang lain?"

"Aku… tak suka melihatnya begitu…"

"Lantas, bagaimana perasaanmu padanya, Neo-kun?"

"…"

"…"

"..."

"Bagaimana? Neo-kun?"

Neo mengambil napas dalam-dalam lalu menghelanya sejenak, setelahnya dia menatap mata Shuu, mempertemukan dua pasang mata itu lagi dalam keadaan yang serius. Shuu melihatnya memeluk lututnya sendiri dan suaranya bergetar.

"Dia, bagiku adalah teman yang berharga… Aku tak mau kehilangannya… Aku tak tahu… Aku hanya tak mau kehilangan dia. Mungkin, aku… Sayang padanya…"

"Cukup, Neo-kun. Keluar dari kamarku."

"Ha-"

Belum sempat Neo menyelesaikan kata-katanya, Shuu sudah menendangnya keluar dari kamar.

"Ne—Shuu-chan, apa yang kau lakukan!"

"Mendidikmu untuk menjadi dewasa."

Neo yakin, sesaat sebelum Shuu menutup pintu, ia melihatnya tersenyum kepadanya.

"Sial…"

"Ngapain kau menghalangi jalan?"

Neo hanya menyeringai tipis saat mendengar suara dari balik tubuhnya, seseorang yang tidak diundang datang pada saat yang tidak tepat.

Holy crap! Ternyata kesialannya bukan cuma sampai disini.

.

.

.

.

.

"…Ne…"

"Fa… Ne…"

"FAINE!"

Faine tersentak kaget saat ia menyadari namanya diteriakkan keras-keras. Mata coklatnya terbelalak menangkap pemandangan kemana-mana karena bingung akan kejutan yang diterimanya tadi. Rena memberinya isyarat untuk diam dan memperhatikan sekeliling. Teman-teman sekelas dan gurunya hanya melongo karena terfokus pada Faine.

Hell yeah, semua mata tertuju padamu…

Coba lihat. Wajah pucat, kantung mata hitam, lalu rambut berantakan. Kusut sekali… dan mengkhawatirkan.

"Faine, are you okay?"

"N-no, ma'am. So-sorry…"

"But, you're looks so tired. Are you sick?"

"N-no… But, Im just… I think I don't have enough time to sleep…"

"Then I think you need a rest, It would be better if you go to The Health Unit."

Faine hanya merengut karena tak bisa menolak perintah dari gurunya, menghela napasnya sebentar dan berjalan dengan gontai. Rena segera berdiri dan membantu Faine untuk pergi ke UKS, hitung-hitung kabur dari pelajaran bahasa linggis yang bukan merupakan keahliannya. Dasar licik…

Faine menoleh saat merasa punggungnya ditepuk seseorang. Mendapati Rena yang sedikit khawatir dengannya. Rena yakin, Faine butuh seseorang untuk berbagi cerita. Lorong yang mereka lewati terasa semakin panjang karena obrolan singkat mereka terasa begitu lama. Padahal UKS terdapat di ujung lorong bersebelahan dengan tangga.

"Kurasa kau berhutang penjelasan padaku…"

Faine hanya terdiam dan tak merespon apapun, yang sekali lagi, memancing Rena untuk bertanya lebih jauh. "Apa yang terjadi?"

"Neo-san tak kembali setelah kami bertemu dengan... Duh, siapa ya namanya…"

"Hah? Siapa?"

"Ng, yang kuingat Neo-san memanggilnya dengan sebutan 'Nee-sama', dan lalu pergi mengejarnya…"

Rena terdiam sesaat. "Nee-sama" kan panggilan Neo yang hanya ditujukan untuk Shuu selain panggilan "Shuu-chan" yang jarang sekali digunakan olehnya.

Berarti… Neo ketangkep basah?

Rena cuma berkeringat dingin membayangkan penyiksaan apa yang akan diterima Neo kalau sampai Nee-channya tahu kalau Neo berselingkuh. Mungkin dibakar hidup-hidup, atau diikat di tiang bendera dan dijemur sampai gosong sementara Shuu dibelakang sedang mengasah pisau, bisa juga dicambuk dengan berbagai peralatan mengerikan lainnya. Euh, jangan sampai.

Memang sih, ide berselingkuh dengan Faine itu usulannya Rena, tapi kalau sampai Neo membawa-bawa namanya, sori aja deh… Yang mau kan Neo, sedangkan Rena cuma menyarankan. Jadi semuanya harus Neo tanggung sendiri. Lagipula kan kalau Shuu marah, itu artinya kan' Neo berhasil membuat Shuu cemburu. Jadinya mission accomplished dong?

Jadi, intinya… Kalau Neo kenapa-kenapa, Rena nggak mau tanggung jawab. Haiishh, tega.

"Aku hanya khawatir kalau-kalau Neo-san kelaparan dan jatuh pingsan dijalanan, lalu—Nee, Rena-san?"

"Faine…"

"Kurasa kita perlu memesan peti mati untuknya…"

.

.

.

.

.

"Pe-permisi…"

Satu menit, dua menit. Faine menunggu lagi di depan pintu ruang UKS. Rena pergi kembali ke kelas karena harus mengikuti pelajaran selanjutnya. Merasa tidak ada jawaban, Faine membuka pintu dan mendapati ruang UKS kosong yang tidak diawasi oleh guru.

Emang dasar sekolah gaje, kerjaan gurunya ternyata juga gaje.

Jendela ruang UKS yang terbuka, meniupkan hawa dingin bulan Januari yang merasuk ke kulitnya. Mengigil sejenak, Faine segera mencari tempat yang pas untuk beristirahat. Merasa sudah menemukan tempat yang nyaman, Faine segera berbaring dan berbalik menghadap jendela.

Hening.

Lagi-lagi sepi.

"Permisi…"

Uh? Ada yang datang?

"Ah… Nggak ada guru…"

Dia… Siapa ya?

"Ah, ya sudahlah…"

SRAKKKKK

Now loading…

"Eeto… Ternyata ada kau disini…"

Mata Faine hanya mengecil karena terkejut, menatap sepasang bola mata emerald yang memandangnya tembus.

.

.

.

.

.

***To Be Continued***

.

.

.

.

.

(A/N : Etoo, banyak banget ya misterinya? XD (halah) Semuanya akan di update di chapter depan ^^

Btw, maaf kalau tadi percakapan ngaco… OTL

Mind to Review?)