Yo, maaf atas ketelatan mengaplod ini fic… Berhubung sang author baru sembuh dari sakit setelah gak enak badan seminggu ini… Hehehe

Ya udah, kita bahas review dulu dan baru menikmati ini fic… Ok, kita mulai (mau mencoba penampilan baru dengan pembahasan review di awal cerita… Hehehe :D)

*Menyalakan lagu Rain by SID dan Ray of Light by Shouko Nakagawa*

So-Chand 'Luph pLend': Siip… Selamat menikmati chapter terakhir ini ya!

Ayano646cweety: Bener… Saya yang paling merinding saat Ichigo melihat sebuah bayangan itu… Serasa di belakang ada sesuatu… Hehehe *Buak*

Astrella Kurosaki: Yup… gak apa ^^ Santai saja… :D (Santai ada, Silverqueen *Buak*). Silahkan, mau di fav boleh kok ^^ hohoho… Tenang, saya tidak apa-apa kok… Cuma merasakan getarannya saja. Hehehe… Waduh, tingkat 7? Tenang, sudah di apdet kok… Selamat menikmati saja dari saya… Hehehe :D

Fi-Kun 31: Yup… Sama-sama ^^ Hubungan Renji dan Hinamori akan dibahas di chapter ini… Selamat menikmati! Ho… Ternyata itu artinya… Ya udah, makasih ya… Hohoho… Ok deh Siip… :D. Makasih ^^ tapi sayangnya, jawaban anda salah~ Saya kalau tidak jadi akuntan, ingin menjadi ahli antariksa atau arsitek. Perkerjaan sampinganya komikus… Hehehe *Ditendang (Ichigo: Bukan tempat curhat!)*

Zizi Kirahira Hibiki 69: Ya, saya orang Bandung X3. Wah? Anda orang Tasik? Deket juga dari Bandung ya ^^ *Plaak (Ichigo: Kembali ke cerita)* Ichigo kejam ya daritadi nyiksa aku terus… :'( (Ichigo: DIAM! Lanjutkan!). Tokoh utama laki-laki menderita? Aku juga suka kok :D Hehehe… Kita sama~ *Tos* Hehehe.. Makasih ya ^^

Riztichimaru: Hehehe… Aku mengcampur aduknya jadi seperti es campur… Hehehe *ngiler kepingin Es campur*. Siip! Thank`s!

ARaRaNcHa: Wah? Cha juga masuk IPA! *tos* *nari-nari* sama! Yeah~ *Plak (Ichigo: jangan ribut!)* hhe :D. Wah? Makasih komennya ^^ dan sama-sama ^^. Gak apa kok Cha, santai saja… Ditunggu terus kok reviewnya… Hehehe

Aragaki Rey: Hehe… Walau sedikit seram, itu cukup lucu juga saat Renji kesambar petir. Rambutnya jadi kribo gosong gimana gitu ^^ *Ditendang Renji* Hehehe :D

Sasu-Ichi Kuro-Uchi: Wehehe… Sorry, authornya gak ada inspirasi ditambah lagi sakit ama internetnya belum dibayar… Hehehe *Plak*. Sorry ngaret! Tapi makasih tetap setia menunggunya… XD Makasih…

Ok, *Menghela napas* satu halaman habis untuk membahas ripiuw… Tapi tenang, ceritanya akan mulai kok… Ok, terima kasih untuk meriview dan melike juga membaca fic ini. Ok, kita To the Point saja, OHAC Chapter terakhir, selamat menikmati!


Our Hearts are Connected

-The last Chapter-

- 3 Bulan kemudian-

3 bulan setelah kejadian penyerangan itu. Ulquiorra dibebaskan bersama Grimmjow oleh sang raja langsung. Mereka berdua menjalani hidup yang cukup damai bersama rakyat-rakyat biasa. Tidak diduga, ternyata Orihime menyimpang perasaan pada Ulquiorra karena selama di penjara, mereka menjadi teman bicara. Grimmjow mendorong Ulquiorra agar dia bisa dekat dengan Orihime.

"Datanglah pada belahan hatimu!" Ucap Grimmjow.

Ulquiorra mengangguk dan pergi kencan bersama Orihime yang kebetulan mereka berdua mendapat cuti.

Grimmjow dan Ulquiorra walau masih berumur muda, mereka sudah mengajari para prajurit baru yang mendaftar sebagai prajurit pertahanan Kerajaan Kuchiki. Byakuya menyuruh mereka berdua untuk berkerja disana jika punya waktu luang atau pulang sekolah. Biaya sekolah Grimmjow dan Ulquiorra semua ditanggung oleh Kurosaki Ishhin yang menganggap anak sendiri oleh dia.

Grimmjow dan Ulquiorra sudah tobat (kenapa harus tobat kata-katanya! Hahaha =))). Mereka tidak akan menganggu keluarga Kurosaki lagi.

"Begitulah ceritanya! Akhirnya mereka tobat!" Ucap Rukia yang ternyata selama ini bersembunyi di balik tembok.

Grimmjow yang terkejut, langsung melemparkan buket bunga. Ya, perkerjaan sampingan Grimmjow dan Ulquiorra adalah membantu sebuah toko bunga karena sang pemiliknya sudah sangat tua. Byakuya lah yang menyuruh mereka berkerja dengan iming-iming gaji besar.

"Rukia-hime? Ngapain anda ada disini? Ah, saya tahu! Anda kabur pelajaran tambahan lagi ya?" Sindir Grimmjow.

Muka Rukia memerah, "AH! Berisik! Aku gak kabur kok! Su…"

Saat mau melanjutkan, ada kereta kuda datang dan orang itu keluar dengan muka kesal.

"KUCHIKI RUKIA DIMANA?" Marah orang itu di depan Grimmjow.

Grimmjow mengeluarkan keringat sangat banyak dan menunduk, "Ko… Konnichiwa! Unohana-sensei!"

Orang yang dipanggil Unohana itu langsung berbalik dan tersenyum lepas, "Konnichiwa! Grimmjow-kun!"

Grimmjow masih gemetaran ketakutan. Dia trauma karena dulu dia pernah dimarahi habis-habisan oleh orang itu sampai semaput. Unohana dengan senyuman yang menyilaukan, "Grimmjow, kau lihat Rukia-hime gak?"

Grimmjow yang sudah ketakutan, menunjuk celah tembok dimana Rukia tadi bersembunyi. Saat mereka berdua menoleh kesana, Grimmjow kaget karena Rukia sudah menghilang.

"Be… Beneran disana kok tadi! Beneran Unohana-sensei! Suer! Sumpah! Saya tidak bohong!" Panik Grimmjow.

Unohana terdiam dan tersenyum, "Ok Grimmjow-kun! Saya tahu anda bener! Ya sudah, saya mau mencari lagi… Sampai jumpa!" Senyum Unohana dan membuka pintu kereta kudanya. Grimmjow menunduk untuk memberi hormat pada gurunya itu.

Setelah memberi hormat, dia melihat ke langit. "Dia belum sadar sampai sekarang ya? Apakah dia harus koma menahun?"

Setelah dia melihat calendar, ternyata Grimmjow kaget setengah mati. "Sekarang tanggal 13 Januari?"

Bagaimana di kerajaan?

Byakuya tetap menjalani pemerintahannya dengan bijaksana dan Hisana masih setia mendukungnya. Kurosaki Ishhin naik pangkat menjadi tangan kanan Byakuya. Ishida sekarang sudah menjadi pemimpin anggota pertahanan menggantikan Kurosaki Ishhin. Kedua anak perempuan Ishhin juga sedang melanjutkan perkerjaan asli mereka menjadi seorang pelajar. Jika ada waktu senggang, mereka membantu perkerjaan di rumah sakit.

Renji dan Momo jadian. Walau mereka backstreet, tapi kecium juga ke permukaan oleh Byakuya, Rukia, dan Soujirou. Renji tetap menjalankan usaha pertambangan keluarganya dan Momo tetap menjadi kolonel di pertahanan kerajaan. "Di luar dugaan, mereka itu adalah teman kecil!" Sambung Rukia di balik tembok dekat Momo yang sedang beristirahat setelah berkeliling kota untuk berpatroli.

"Ru… Rukia-hime? Konnichiwa!" Tunduk panik Momo.

"Yo, Konnichiwa! Bagaimana patroli kau seharian ini?" Senyum Rukia.

"Ah? Seperti biasanya… Tetap damai!" Balas senyum Momo.

Rukia tersenyum dan melihat eskrim mint yang sedang dipegang oleh Momo dengan puppy eyesnya. Momo melihatnya dengan iba dan menawari Rukia. "Mau?"

Rukia mengangguk-angguk. Dikasihlah eskrim itu oleh Momo pada Rukia. Di kehidupan biasa, Rukia memang dekat sama Momo bagaikan adik dan kakak. Rukia memakan eskrim itu dengan lahap.

Momo teringat sesuatu, "Oh ya Rukia-hime… Bukannya anda harus ke sekolah mengingat anda ada pelajaran tambahan?"

Rukia langsung mengalihkan mukanya, "Ah, terima kasih telah mengingatkan! Saya malas ikutan! Terima kasih!"

Momo langsung panik dan memohon maaf, "Ah~ Maaf Rukia-hime!"

"Gak apa…" Jawab Rukia dengan sedikit pundung.

Momo langsung teringat sesuatu, "Oh ya, Toushirou-kun bagaimana kabarnya? Juga Soujirou, sekarang bagaimana kabarnya?"

Rukia kaget, "Soujirou? Bukannya kamu sering ketemu di pangkalan? Kok nanya lagi?"

Momo langsung memasang muka yang sudah bersiap bilang, "Are?"

Rukia menghela napas dan menceritakan apa yang terjadi pada Soujirou dan Toushirou…

Soujirou masuk kembali pertahanan kerajaan setelah lulus dari universitas jurusan sastra. Selain menjadi anggota pertahanan, dia juga menjadi editor untuk novelnya Toushirou. Perkerjaan dia sempat terhenti 1 bulan karena Toushirou yang masih dalam perawatan medis, belum kunjung sadar setelah 2 minggu dari kejadian 'itu'. Dia terbaring antara hidup dan mati. Kemudian, setelah 2 minggu lebih dalam keadaan koma, Toushirou akhirnya sadar dari komanya.

Soujirou yang sedih dicampur senang saat itu, langsung memeluk Toushirou. "Hitsugaya! Kukira kau tidak akan selamat! Syukurlah Hitsugaya! Selamat datang!"

Toushirou tersenyum dan memeluk kembali 'kakak'nya itu. "Aku kembali… Kusaka…"

Sekarang Toushirou. Selain jadi penulis novel, Toushirou juga menjadi guru pengajar dibidang sihir. Mengapa dia jadi guru? Karena ada seseorang yang membongkar rahasia Toushirou kalau orang itu belajar teknik penyembuhan dan jurus-jurus magic begitu dari Toushirou. Sebenarnya Toushirou tidak mau, tapi dipaksa oleh sang raja. Menyerahlah Toushirou dan mengajari seluruh prajurit khusus dibidang sihir. Dia dan Soujirou masih tinggal di tempat yang sama.

"… Begitulah ceritanya!" Hela Rukia.

Momo bertepuk tangan karena salut dengan Rukia telah menceritakan sekian panjangnya. "Hebat Rukia-hime! Oh ya, saya juga memastikan kalau yang membokar rahasia Toushirou-kun adalah anda, ya kan?"

Rukia tersenyum, "Tahu aja! Ahaha…"

Saat berbincang lagi, Rukia melihat sebuah kereta kuda datang ke arahnya. Rukia yang panik, langsung mengembalikan eskrimnya ke Momo dan kabur, "Makasih Eskrimnya! Sekarang aku harus kabur! Makasih ya!"

Momo hanya melambaikan tangannya dan sweatdrop. Setelah mendadahi Rukia, kereta kuda itu melesat dengan cepat (Kok bisa?). Nambah lagi sweatdrop di kepala Momo.

Setelah itu, Momo tertunduk dan mengucapkan sesuatu. "Hh… Hari ini ya?"

Rukia terus berlari dan berlari. Sampailah di rumah Soujirou dan langsung masuk dari pintu samping. Setelah masuk, dia langsung menutup pintu dan menghela napas. Pintu samping itu langsung menyambung dengan dapur dan kamar mandi. Saat duduk di depan pintu, Rukia dikagetkan karena ada seseorang yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggangnya.

"To… TOUSHIROU-kun?" Panik Rukia, mukanya langsung memerah dan menutup matanya. Tidak sengaja, dari hidungnya mimisan hebat.

Toushirou yang saat itu baru keluar dari kamar mandi langsung kaget setengah mati. Karena dia pikir yang baru pulang itu Soujirou. Ternyata seorang cewek, sang putri lagi!

Toushirou yang panik, langsung berlari menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Setelah Toushirou masuk ke kamarnya, Rukia langsung membuka matanya dan berjalan ke depan pintu kamar Toushirou (sambil memegang daun sirih dan kapas di hidungnya tentunnya).

"Toushirou-kun… Maafkan aku! Aku sedang dalam keadaan kritis nih. Sorry ya…" Ucap Rukia.

Dari dalam, Toushirou menjawab, "Ya sudahlah! Gak apa kok!"

Rukia tersenyum dan langsung menjahili Toushirou, "Tapi badanmu cukup bagus juga lho! Ya, walau masih dikit bagusan Soujirou-kun"

Toushirou yang kesel, melempar bantal ke pintu. "JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN KUSAKA!"

Rukia yang tertawa langsung kabur ke sofa ruang tengah. Sesaat, dia melihat kamar Ichigo yang tertutup. Sudah lama dia tidak masuk ke sana karena dilarang oleh Byakuya padahal dia ingin sekali masuk. Saat itu juga, Rukia teringat kembali kejadian 3 bulan yang lalu…

~Flash Back~

"Rukia-hime… Aku akan menyadarkanmu…" Ucap Ichigo yang saat itu sudah penuh dengan luka.

Dark Rukia tetap diam dan mengayunkan sabit nya kearah Ichigo. Ichigo menangkisnya dengan pedangnya. Tetapi, kekuatannya kurang sehingga Ichigo terpental.

Ichigo berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya, dan berdiri kembali. Dia masih belum menyerah ingin membangunkan Rukia. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Soujirou. Dia memanggil-manggil namanya Toushirou.

Ichigo menoleh kearah suara itu berasal. Dia khawatir dengan keadaan sahabatnya itu. "Toushirou…"

Saat itu juga, Rukia dengan tiba-tiba berada dibelakang Ichigo dengan sabitnya bersarang di dekat leher Ichigo.

"Kau takkan bisa kabur!" Ucap Dark itu.

Ichigo menundukan kepala dan seperti memikirkan sesuatu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan mengucapkan sesuatu. "Kalau kau mau, aku bisa senekad ini!"

Dark langsung mengangkat sabitnya dengan cepat dan mengayunkannya kembali. Dengan cepatnya juga, Ichigo menusukan pedangnya ke jantung Dark dan berhasil. Tetapi, di saat itu juga, ternyata sabitnya menikam Ichigo dari belakang sehingga Ichigo mendapat luka yang hebat. Kekuatan Dark menghilang bersama sabitnya yang mengenai Ichigo. Kembalilah Dark menjadi Rukia yang sebenarnya. Yang dikenal oleh semua orang sebagai putri yang riang dan ceria.

Rukia yang telah sadar, memanggil nama Ichigo.

"Ichigo?"

Ichigo bangun dan tersenyum, "Selamat datang… Rukia-hime!"

Rukia tersenyum karena Ichigo tidak apa-apa. Rukia membiarkan Ichigo untuk bersandar di bahunya sementara. Tetapi, saat tangan dia berada di punggung Ichigo, dia merasakan sesuatu yang basah keluar dari punggung Ichigo. Rukia melihat tangannya yang penuh dengan darah. Rukia panik dan melihat ke tubuh Ichigo. Perkiraan sang putri benar! Ichigo ternyata terluka parah dan darah terus mengalir dari dada kirinya.

"Ichigo! Sadarlah I…"

Sebelum melanjutkan, Ichigo mengusap pipi Rukia yang air matanya sudah jatuh dan…

"Ma… Maafkan aku… Rukia… Hi…"

Ichigo pun rubuh dan tidak menyadarkan diri di bahu Rukia. Rukia terus berulang kali memanggil nama Ichigo tapi sang pemilik nama tidak menghirau. Rukia yang mencoba mengheal Ichigo, tidak bisa berbuat banyak. Untuk luka yang separah itu, Rukia masih belum cukup kemampuannya. Rukia hanya bisa memeluk dan menangisi orang yang disayanginya, sedang berjuang antara hidup dan mati di bahunya.

Byakuya datang bersama ayah sang cowok dan sahabat-sahabatnya. Rukia makin menjadi-jadi nangisnya dan berteriak, "I… ICHIGO!"

Byakuya dan Ishhin mencoba untuk memisahkan Ichigo dan Rukia. Setelah terpisah, Byakuya memeluk adiknya itu dan Ishhin mencoba untuk menutup luka anaknya itu dibantu oleh Renji dan Soujirou. Rukia sangat sedih dan gemetaran di dalam pelukan sang kakak iparnya. Ishhin meminta Rukia untuk pergi dan beristirahat. Dia tidak mau sang putri shock hingga catatonic (Menolak untuk sadar kaya di cerita X pas Kamui tenggelam dalam kesedihannya (komik nomor 8) sehingga hilang kesadarannya walau mata terbuka).

Byakuya mengangguk dan membawa Rukia secara paksa dari TKP. Rukia terus menolak dan mencoba untuk kabur. Tapi, Ishhin langsung mengutarakan isi pikirannya, "Rukia-hime! Pulanglah… Saya yakin, jika anda terus menyalahkan diri anda atas kejadian ini hingga anda terkena catatonic, Ichigo pasti akan sedih! Pulanglah dan beristirahatlah! Lupakan kejadian hari ini dan terus jalanin hidupmu karena kau seorang putri dari kerajaan Kuchiki dimana engkau suatu saat nanti, memimpin kerajaan ini!"

Rukia mendengar itu langsung menunduk dan tidak menolak saat Byakuya membawa pulang dirinya. Rukia terus melihat muka Ichigo yang sudah tidak berdaya, matanya terpejam, raut mukanya sungguh tak berdaya. Rukia mengucapkan sesuatu… "A…"

~Flash Back~ End

Rukia dikagetkan oleh Toushirou yang menepuk pundaknya. Toushirou heran kenapa Rukia melamun begitu sambil duduk di sofa dan memakan cemilan yang ada di meja. Rukia terkejut saat sadar, dia sudah menghabiskan seperempat toples kue putri salju. Toushirou langsung menjahilinya, "Tidak heran mengapa anda naik timbangannya… Ternyata, makan kue putri salju saja sampai seperempat toples!"

Rukia kesal, "Jadi kau balas dendam gara-gara tadi ya!". Toushirou hanya bersiul saja tidak menjawab pertanyaan Rukia.

Setelah itu, Rukia kembali murung. Toushirou menghiburnya dengan memberi dia sebuah novel karangannya. Rukia bingung, "Novel?"

Toushirou berkata, "Ya, ini novelku yang baru dibukukan. Mulai besok baru diterbitkan! Ini buat anda, Rukia-hime! Andalah satu-satunya orang yang pertama kali membaca novel ini di dunia ini. Silahkan!"

Rukia terus memandangi cover novel itu. Dia melihat gambarnya yang sangat imut dan judulnya yang cukup romantis.

"Our… Hearts… Are… Connected?"

Toushirou mengangguk dan tersenyum. Rukia membuka halaman pertama novel tersebut.

"Chapter pertama… Our hearts are connected… Hari itu, aku Yorusaki bertemu dengan seorang perempuan yang sangat baik. Dia bernama Sorachiki. Dia seorang putri dari kerajaan yang keluarga ia pimpin. Saat itu, aku baru kabur dari rumah karena perlakuan kasar ibu tiriku, dibantu oleh sahabatku, Shirohaku. Aku dibawa ke rumah sahabatku dan sementara tinggal disana. Sang putri yang akan pergi keluar negeri, melewati rumah sahabatku itu. Dia melihat diriku yang saat itu penuh dengan luka. Dengan cepatnya, sang putri turun dari keretanya dan mendekati diriku. Dia langsung mengeluarkan sebuah aura magis di sekitar lukaku. Tapi berkat aura tersebut, lukaku dapat sembuh kembali. Muka asli sang putri tidak begitu jelas terlihat karena mukanya tertutup sebuah slayer. Tetapi, diriku bisa menyimpulkan kalau wajahnya begitu cantik. Aku tidak bisa bekata apa-apa saat itu selain terima kasih. Dia tersenyum dan kembali ke keretanya. Padahal, dirinya tidak mengenali diriku. Dia sungguh baik dan cantik. Jantungku berdebar keras dan mengutarakan pertanyaan pada diriku. Apakah aku menyukainya?"

Rukia menangis saat membaca novel tersebut. Dia mengusap air matanya dan berbicara sesuatu pada Toushirou, "Malam saat hari dimana aku bertemu Ichigo pertama kali, ada bintang jatuh. Saat itu aku mengutarakan sebuah permohonan. Permohonan itu adalah, 'semoga Ichigo bisa menyukai diriku dan hati kita tetap bersatu walau status kita berbeda'. Dan ternyata, pemohonan itu… Dikabulkan setengahnya! Aku… Aku sangat senang sekali, Toushirou!"

Rukia menangis tersedu-sedu saat cerita tentang permohonannya malam itu. Toushirou menepuk pundaknya Rukia dan membawa sang putri masuk ke kamar Ichigo. "Aku harap kau tetap tenang! Sekarang, aku akan mempertemukan Ichigo denganmu!"

Rukia mengangguk dan menggenggam novel yang diberikan oleh Toushirou. Dia duduk di samping Ichigo yang tengah berjuang antara hidup dan mati, Infusnya dan peralatan mesin lainnya masih menghiasi tubuhnya. Rukia menangis dan menggenggam tangan Ichigo lalu berkata, "Berjuanglah Ichigo… Kami menunggumu disini! Kami yakin, kamu pasti berhasil melewati masa-masa ini! Aku yakin! Berjuanglah, Ichigo!"

Walau tidak ada respon dari Ichigo, Rukia tetap melanjutkan perkataannya. "A… Aishiteru, Ichigo…"

Toushirou hanya melongo mendengar Rukia berkata seperti itu. Dia gak habis pikir, ternyata sang putri yang mengutarakan perasaannya duluan. Keadaan hening sejenak. Toushirou yang merasa prihatin karena Rukia sangat sedih, memberikan saputangan miliknya.

"Silahkan!"

Rukia menerimanya dengan senang. Setelah menghapus air matanya, Rukia langsung beranjak pulang. "Toushirou-kun, thank`s untuk novelnya! Aku janji akan baca ini novel!"

Toushirou mengangguk dan melambaikan tangannya. "Ya, hati-hatilah Rukia-hime!"

Rukia mengangguk dan keluar dari rumah Soujirou. Dia bertemu dengan sang guru yang mengejar-ngejarnya. Sang guru daritadi sudah menunggu Rukia di luar.

"U… Unohana-sensei?"

Unohana hanya tersenyum dan mengelus kepala Rukia. "Sudah waktunya anda pulang! Ayo, pelajaran hari ini sudah selesai! Kembalilah ke kerajaan!"

Rukia mengangguk dan masuk ke dalam kereta Unohana. Setelah duduk di kursinya, kereta kuda melaju. Toushirou melihat kepergian sang putri dari jendela. Setelah bener-bener pergi, Toushirou duduk di sofa.

"Aku tahu kalian semua bersembunyi di lemari dapur… Ayo, cepat keluar!" Dingin Toushirou.

Setelah perkataan Toushirou, Soujirou datang, "Seperti biasanya ya Hitsugaya! Kamu sensitif kalau ada orang yang bersembunyi!" Senyum Soujirou.

Toushirou memalingkan mukanya, "Urusai, Soujirou! Di belakang lemari bukan kamu saja kan? Ayo keluar, 7 orang yang bersembunyi!"

Keadaan hening sejenak, kemudian terdengar suara gaduh dari belakang lemari tersebut.

BRUAK!

"Hisana-sama! Anda tak apa?" Heboh Orihime.

"Ya, saya tidak apa… Beruntung Byakuya-sama berada dibawahku…" Senyum Hisana.

"Hisana-sama, mari saya bantu anda berdiri…" Ucap Ulquiorra.

"Terima kasih! Anda tidak apa-apa, Byakuya-sama? Maafkan saya karena tidak sengaja jaket saya tersangkut di paku!" Khawatir Hisana.

"Ya, saya tak apa! Justru saya berterima kasih pada Grimmjow yang berada dibawahku!" Ucap Byakuya.

"Byakuya-sama, Grimmjow penyet tuh!" Tunjuk Ishhin.

"Mari saya bantu membenarkan jaket anda, Hisana-sama!" Ucap Momo.

"Saya akan menarik paku ini!" Ucap Renji.

Setelah paku terlepas, 7 orang yang dimaksud muncul dari balik lemari.

"YO, TOUSHIROU-KUN!" Ucap ketujuh orang itu secara bersama-sama.

Toushirou langsung memasang muka kesal, "HALO! Sejak kapan kalian disana?"

"Sejak anda mandi!" Senyum Ishhin.

Toushirou melongo, "Apa? Kenapa saya tidak sadar?"

Ulquiorra menunjukan sebuah lubang, "Saya membuat lubang ini karena disuruh Byakuya-sama!"

Toushirou kaget karena di dapurnya sudah ada lubang dengan diameter sekitar 1 meter. Dia melihat sang raja yang sudah menunjukan 'peace' pada jarinya. Dia menatap Soujirou, "Kamu memperbolehkan mereka buat lubang sebesar ini hah?"

Soujirou langsung memasang muka pasrah, "Tidak! Saya menginzinkan mereka karena nanti bakal diganti rugi! Liat Toushirou-kun! Sampai ada gemboknya dan pintunya lagi! Kreatif kan?"

"KREATIFMU!" Ngambek Toushirou.

Setelah ngambek itu, Toushirou hampir jatuh kalau tidak ditahan oleh Soujirou. Semua heran karena Toushirou yang biasanya kuat, tiba-tiba mau pingsan. Toushirou menggelengkan kepalanya dan menghela napas, lalu dia melihat Ichigo. Dia langsung mengucapkan suatu pertanyaan, "Byakuya-sama… Apakah rencana untuk nanti malam akan dilaksanakan?"

Byakuya mengangguk, "Ya, acara itu akan dilaksanakan tepat pukul 00.00 dini hari ini…"

Toushirou melanjutkan pertanyaan tadi, "Apakah benar dia harus datang saat itu?"

Byakuya mengangguk. Toushirou langsung mendekati Ichigo, "Kau dengar Ichigo? Kau harus bangun sebelum jam 00.00 dini hari ini… Aku yakin, kamu pasti bisa! Kami akan menunggumu disana… Dini hari nanti!"

Byakuya dan yang lain memasang muka sedih. Apalagi Ishhin, ayah kandung Ichigo. Dia mengelus rambut anaknya tersebut dan berkata pada semua, "Acara hari ini harus berjalan!"

-Jam 23.30 di kamar Rukia-

Rukia masih asyik membaca novel yang diberikan oleh Toushirou tadi. Dia sudah hampir selesai membaca novel tersebut dan saat membuka lembaran terakhirnya, Rukia menangis karena terharu. Dia menghabiskan persediaan tisu dikamarnya gara-gara membaca itu novel. Dia tidak membayangkan, seorang cowok bisa membuat cerita begitu romantis. Saat melihat pen namenya, Rukia terkejut. "Tsukina?".

"KO… KOK PEN NAMENYA CEWEK? ASLINYA KAN YANG NULIS COWOK! HITSUGAYA TOUSHIROU LAGI!" Teriak Rukia dikamarnya seorang.

Dia tertawa terbahak-bahak sambil ditutupi bantal di mukanya. Dia membayangkan kalau nanti ada acara bedah buku, Toushirou harus menjadi seorang cewek seperti di cerita OTOMEN yang ia baca dulu. Temen character utamanya yang seorang komikus dan lelaki sejati harus menjadi seorang wanita karena dia tidak mau membuat para fan`snya yang kebanyakan itu perempuan, kecewa. Komik yang ia buat juga berjudul 'Love Tic' dengan pen name 'Sawachika'. Rukia terus ketawa-ketawa kalau Toushirou dipakaikan baju seperti salah satu character di manga tersebut.

Rukia yang masih tertawa, kaget karena ada yang mencuri novel kesayangannya itu. Dengan cepatnya, pencuri itu kabur. Pencuri itu masuk dari celah pintu kecil yang menghubungkan antara kamar Byakuya dan kamar Rukia. Rukia yang tidak mau novelnya itu dicuri, langsung mengejar pencuri tersebut. Beruntung Rukia mempunyai kemampuan lari yang cepat. Dia terus melewati lorong yang merupakan satu-satunya jalan untuk masuk dan keluar dari istana. Pencuri itu berlari hingga menuju ballroom. Pencuri itu berhasil sampai dibawah dengan cepat padahal menurunin tangga yang panjang. Rukia sudah gak punya waktu lagi untuk turun tangga, memutuskan untuk loncat dari lantai 2 menuju ballroom itu dan berhasil mendarat dengan sukses di depan sang pencuri.

"Mau kemana pencuri sialan! Kembalikan novelku itu!" Ucap Rukia sambil ngos-ngosan.

Pencuri itu diam saja dan menunjukan novel itu. Dia menyimpan tangannya di atas novel tersebut dan bersiap untuk merobek covernya. Rukia yang sudah panik, langsung berteriak jangan tapi tidak dianggap. Saat pencuri itu mau menarik kebawah cover itu, Rukia langsung bersiap untuk membantingnya.

Tiba-tiba…

"CUKUP!"

Suara yang tidak asing terdengar dari ujung ballroom. Saat itu, ballroom gelap gurita hingga Rukia tidak bisa melihat-siapa-siapa kecuali sang pencuri. Walau tidak bisa melihat, Rukia tahu suara siapa itu.

"Byakuya-nii sama?"

Tiba-tiba lampu di ballroom dinyalakan. Lampu gantung raksasa dinyalakan dan terlihat megahnya ruangan itu. Rukia kaget ternyata dia berada di tengah-tengah ballroom itu dan semua orang mengelilinginya. "TANJOUBI OMEDETOU, RUKIA-HIME!".

Rukia hanya melongo melihat orang-orang mengucapkan selamat ulang tahun pada Rukia. Byakuya datang dan mengucapkan sesuatu, "Hampir saja kau terbunuh, Grimmjow!"

Rukia bengong saat kakaknya memanggil Grimmjow pada orang yang dia sebut pencuri. Ya, saat itu juga, sang pencuri mengembalikan novel yang tadi dia curi dan membuka topengnya.

"Fiuh, anda hebat sekali, Rukia-hime!" Senyum Grimmjow.

"GRIMMJOW? APA YANG KAMU LAKUKAN!" Amuk Rukia. Grimmjow langsung mundur dan menunjuk Byakuya.

"Kalau mau tahu alasannya, Tanya saja ke Byakuya-sama… Monggo…" Dorong Grimmjow.

Byakuya panik sendiri karena dia disuruh maju dan berhadapan dengan adik iparnya itu. Udah tahu kalau adik iparnya sekali ngamuk, semua jadi kacau. Rukia sudah meremas tangannya dan bersiap-siap untuk membogem kaka iparnya itu.

"Eeetttooo… Rukia, begini… Sebenarnya kami mau membuat kejutan saja pada hari ulang tahunmu ini. Tapi, ternyata… Cukup berhasil ya?" Keringat dingin Byakuya.

Rukia mengepalkan tangannya, "SANGAT BERHASIL!"

Byakuya hanya ketawa kecil. Orang-orang datang mendekati Rukia dan memberi bingkisan. Yang tidak memberi bingkisan juga cuma menyumbangkan doa agar Rukia tetap senang dan apa yang ia harapkan dapat terkabur pada tahun yang baru ini. Sekarang umurnya sudah menginjak 15 tahun, usia yang cukup dewasa untuk menentukan pilihan hidupnya. Rukia sangat senang menerima hadiah dari orang-orang yang ia sayangi. Tetapi, masih ada satu yang kurang di hari ulang tahunnya. Para sahabatnya belum menunjukan batang hidungnya di ball room itu.

Byakuya melihat jam raksasa dan menunjukan beberapa detik lagi jam 00.00 untuk tanggal 14 Januari. Byakuya menghitung mundur detik jam tersebut.

5… 4… 3… 2… 1…

Setelah jam bedentang, semua orang langsung minggir dan membuka pintu masuk ballroom yang besar. Datanglah seorang wanita cantik yang sangat mirip dengan Rukia atau lebih tepatnya sang kakak, Kuchiki Hisana. Dia berjalan dengan anggunnya memasuki ballroom tersebut dan memberikan sebuah kado yang sangat besar.

"Rukia-chan… Ini adalah hadiah dariku dan suamiku… Terimalah…" Senyum Hisana.

Rukia yang terharu, langsung memeluk kakanya itu, "Terima kasih, Kak Hisana! Kak Byakuya juga, terima kasih!". Selain memeluk Hisana, Rukia juga memeluk Byakuya yang berada dibelakangnya.

Dari belakang Hisana, muncul Orihime Inoue, dan Ulquiorra. Mereka juga tidak kalah membawa hadiah besar yang ada mungkin sebesar Toushirou. Awalnya Rukia bingung bagaimana cara menerimanya karena hadiah itu sangat besar, tapi dia tetap berterima kasih dan Ulquiorra juga memberikan sebuah papan dengan roda dibawahnya dan tali diatasnya. Ulquiorra memberikan hadiah tambahan yang gak masuk akal itu hanya untuk maksud memudahkan Rukia membawakan hadiah tersebut ke kemarnya.

Rukia tersenyum, "Makasih Inoue… Ulquiorra! Ini sangat membantuku! Makasih! Dan kudoakan semoga kalian langgeng hingga maut memisahkan!"

Orihime memerah mukanya dan matang. Ulquiorra dengan dinginnya mengangguk dan menggenggam tangan Inoue untuk minggir dan berdiri di pinggir supaya orang lain dapat berjalan.

Sekarang, Kurosaki Ishhin yang masuk bersama anak-anaknya. Dia memberikan sebuah tablet agar Rukia dapat menggambar disana dan langsung dimasukan ke komputer. Rukia sangat senang karena itu adalah barang yang belum sempat ia beli karena susah ditemukan di kerajaannya. Dia sekarang bisa sepuasnya menggambar Chappy dan langsung dimasukan ke komputer. Rukia berterima kasih pada keluarga Kurosaki itu.

Ishhin membisikan sesuatu, "Tunggu nanti ya… Hadiah sebenarnya untukmu adalah nanti!"

Rukia mengangguk dan bingung dengan apa yang dimaksud oleh Ishhin. Ishhin tertawa dan pergi ke sebuah kursi.

Sekarang, giliran Momo dan Renji yang datang. Mereka membawakan sebuah perhiasan asli dari bebatuan murni yang Renji temukan saat dinas keluar kota. Momo lah yang merakitnya hingga menjadi sebuah kalung yang cantik. Rukia loncat kegirangan karena kalungnya lucu dan ada hiasan Chappy di tengah-tengahnya. Renji kaget karena hiasan kelinci kesukaan Rukia ada di situ padahal Renji tidak mendasain seperti itu. Dia memperhatikan pacarnya itu, "Hinamori… Kamu memasang chappy itu ya?"

Momo hanya tersenyum, "Ehehehe…"

Setelah Rukia berterima kasih dan mendoakan semoga langgeng untuk Renji dan Momo, mereka berdua berjalan menuju ke tempat teman-temannya berasal. Sekarang, giliran Soujirou yang masuk sendiri. Soujirou kaget karena Rukia masih memakai seragam sekolahnya. Soujirou langsung membisikan sesuatu saat sudah sampai di dekat Rukia.

"Anda belum mandi ya, Rukia-hime?"

Muka Rukia memerah dan membogem pipi Soujirou. "GUWE UDAH MANDI TAHU! BAJUNYA AJA KAYA GINI!".

Soujirou terlempar jauh dan semaput karena tinju luar biasa dari sang putri. Rukia langsung ngobrol dengan watadosnya, "Aku kan cinta sekolahku… Ohohoho…"

Semua langsung sweatdrop melihat tingkah laku Rukia yang diluar kebiasaannya. "Jangan berani menantang Rukia-hime!"

Soujirou terbangun dengan berdarah-darah (tenang, darahnya itu cuma pewarna makanan). Soujirou mengeluarkan sesuatu dari kantongnya dan memberikan sebuah gantungan kunci. Soujirou minta maaf kalau hadiahnya itu hadiah biasa karena keadaan uangnya saat ini sangat kritis. Gantungan kunci itu memang cukup bagus, terbuat dari logam murni dan bertuliskan, "Our hearts are connected…".

Soujirou mengangguk dan menceritakan sejarah pembuatan gantungan itu. "Itu dibuatnya special dariku dan Toushirou! Kita patungan dan membuat gantungan ini. Sebenarnya, gantungan ini untuk hadiah 10 orang pertama pembeli novel kita. Tapi untuk kamu special… Liat di bawah tulisan OHAC nya!"

Rukia melihatnya, "Kuchiki Rukia & Kurosaki Ichigo… 4ever…"

Saat Rukia mengangkat mukanya dan melihat Soujirou, Soujirou mengangguk lalu bergeser ke samping Rukia. Rukia melihat seseorang dengan kursi rodanya, berjalan melewati kerumunan orang-orang. Toushirou mendorong kursi roda tersebut. Soujirou langsung mendorong Rukia yang tengah terkejut.

"Kesanalah… Hatimu tetap bersatu walau jarak dan waktu memisahkan kan? Ayo, sana! Jemputlah orang yang kamu sayangi itu!"

Rukia mengangguk dan segera berlari ke orang yang duduk di kursi roda tersebut. Dia memanggil nama orang itu, "ICHIGO!"

Ya, orang yang duduk di kursi roda tersebut adalah, Kurosaki Ichigo. Dia sudah sadar dari komanya selama 3 bulan. Dia tersenyum dan memanggil nama Rukia.

"Rukia-hime…"

Ichigo berdiri dari kursi rodanya dan berjalan dengan perlahan mendekati Rukia. Ichigo baru saja sadar hari ini sehingga dia masih sedikit lemas. Rukia yang kembali mengeluarkan air matanya, loncat dan memeluk Ichigo. Ichigo yang masih belum sehat sepenuhnya, terjatuh karena Rukia loncat ke dirinya. Soujirou dan Toushirou langsung lari mendekati Ichigo.

"Ruki…"

"Ichigo! Kamu bikin aku khawatir saja! Kenapa kamu bangun, tidak bilang-bilang padaku? Kenapa?" Marah Rukia.

Ichigo terdiam dan menjawab pertanyaan Rukia dengan lemas, "Karena, aku ingin membuatmu khawatir dan marah padaku!"

Rukia menangis di dada Ichigo. Ichigo tersenyum, langsung duduk dan memeluk himenya. "Kau benar-benar marah padaku ya?"

Rukia mengangguk dan marah, "Jelas aku marah! Kamu tidak bilang apa-apa saat kamu bangun! Aku kira kamu tidak akan bangun lagi!"

Ichigo menghela napas dan mengusapkan air mata Rukia. "Kalau begitu, maafkan aku ya…"

Rukia hanya mengangguk sambil menghapus air matanya. Ichigo mengambil saputangan dari kantongnya dan mendekatkannya pada hidung Rukia.

SRUUUGGG

Ichigo hanya bisa sweatdrop melihat Rukia bisa sampai kwalahan begitu dengan mukanya. Ichigo mengeluarkan sesuatu dari kantongnya lagi dan sekarang berupa benda kecil. Rukia bingung dengan benda tersebut dan Ichigo menggodanya, "Kau tadi bilang aishitersu kan pas aku lagi koma, siang tadi?"

Rukia mengangkat alisnya dan heran, kenapa Ichigo bisa tahu. Ichigo menjawabnya, "Karena aku sudah sadar saat itu… Aku sadar sekitar 3 jam sebelum kamu datang. Saat itu aku bedress terus di kasur dan memandangi langit. Saat kau tidak sengaja melihat Toushirou baru keluar kamar mandi, aku langsung pura-pura koma lagi. Hehehe…"

Tampang Rukia memerah padam dan hampir mimisan lagi. Dia memukul pelan Ichigo karena ngamuk. Ichigo hanya tertawa kecil. Dia memberikan kotak kecil itu pada Rukia. Rukia bertanya, "Apa itu?"

"Ini adalah jawaban dari pernyataan kamu itu!" Jawab Ichigo. Dia membuka kotak tersebut dan terlihat sebuah cincin yang berkilau.

Rukia terpesona dengan cincin itu (apalagi, permatanya dibentuk hingga menyerupai Chappy). "Ichigo… Ini…"

Ichigo mengangguk, "Ya, ini untukmu… My Princes…" Jawabnya sambil menggenakannya pada jari manis Rukia. Rukia yang tersanjung, langsung memeluk Ichigo.

"Makasih, Ichigo!"

"Ya, sama-sama… Rukia…"

Semua melihat keromantisan mereka berdua saat itu. Ada yang mengeluarkan tisu, sapu tangan, bahkan ember untuk menampung air matanya. Ichigo mencium pipi kanan Rukia dan tersenyum. Rukia terus memeluk orang itu karena rasa kangennya setelah 3 bulan tidak bertemu. Byakuya dan Hisana juga bermesraan, Renji dan Momo, serta Orihime dan Ulquiorra. Byakuya mengajak para tamunya untuk berdansa bersama para pasangan mereka masing-masing. Ichigo mengajak Rukia untuk berdansa. Para sahabat Rukia dan Ichigo juga berdansa dengan pasangan mereka masing-masing. Grimmjow yang saat itu baru datang setelah ganti baju, langsung diajak berdansa oleh salah satu penjaga kerajaan Kuchiki. Grimmjow mengangguk dan mulailah ia berdansa dengannya.

Di beranda, Toushirou melihat langit malam yang saat itu penuh dengan bintang. Entah kenapa, saat itu dia benar-benar lelah gak karuan. Soujirou awalnya mengajak Toushirou untuk berdansa bersama dia, tapi Toushirou tolak dengan tegas.

Soujirou langsung berbicara dengan Toushirou, "Hitsugaya… Ternyata, akhir novel kamu menjadi kenyataan ya?"

Toushirou tersenyum, "Hah? Benarkah? Baguslah kalau begitu… Hahaha…"

Soujirou juga tertawa dan melihat ke langit, "Tapi, beruntungnya yang terjadi pada Shirohaku tidak terjadi padamu!"

Toushirou terdiam dan memegangi dada kanannya. Dia langsung menjawab Soujirou, "Tidak Kusaka… Yang terjadi pada Shirohaku pasti akan terjadi pada diriku saat ini… Dimana, hari ini adalah waktu terakhirku untuk bersama kalian!"

Soujirou langsung terbelak-lak. Dia sedikit marah, "Gak mungkin Hitsugaya! Tidak mungkin hari ini! Kamu dengar kan kata Ishhin-sama, walau kemungkinan kecil… Kamu masih bisa melanjutkan harimu! Iya kan?"

Toushirou tersenyum dan tertawa kecil, "Hmf… Kau mencoba menghiburku kan, Kusaka? Terima kasih Kusaka, aku cukup terhibur. Tapi, hal itu tidak bisa dihindari… Aku merasa hidupku akan berakhir sebentar lagi…"

Soujirou menunduk dan menggertakan giginya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Toushirou. "Padahal, kamu baru hidup sebentar! Baru hidup 15 tahun! Itu juga, baru kemarin kamu mulai menginjak 15 tahun! Tapi, sekarang… Kau mau meninggalkan kami? Please deh Hitsugaya, kamu jangan sompral begitu!"

"Aku gak sompral! Aku hanya mengucapkan apa yang aku rasa…" Sebelum selesai berbicara, Toushirou oleng dan jatuh ke badan Soujirou.

Soujirou langsung menangkap Toushirou. "Hitsugaya! Kamu kenapa!"

Napas Toushirou begitu berat dan terengah-engah. Ichigo mendengar Soujirou berteriak, langsung berlari ke tempat mereka berada.

"Soujirou! Ada apa dengan Toushirou?" Panik Ichigo.

"Ichigo! Aku tidak tahu! Tiba-tiba Hit… Toushirou rubuh!" Jawab Soujirou.

Ichigo langsung memegang kening Toushirou yang saat itu panas tinggi. Dia menyuruh seseorang untuk membawakan kompresan serta es. Ichigo membuka jas dan dasi Toushiro agar dia dapat bernapas dengan leluasa. Saat Ichigo mau membuka kancing kemeja Toushirou, dia dikejutkan karena Toushirou menarik lengan bajunya.

"Ja… Jangan… Kurosaki…"

Ichigo langsung melihat Toushirou yang saat itu mencegah dia untuk membukakan kemeja Toushirou. Toushirou tersenyum, "Te… Terima kasih Kurosaki… Kamu su… Sudah mau berteman denganku…"

Ichigo heran karena perkataan Toushirou yang seperti mau meninggal saja. "Toushirou… Kamu… Kenapa?"

Toushirou tersenyum lepas, tiba-tiba dia batuk-batuk dan batuknya itu mengeluarkan darah. Ichigo panik dan memanggil ayahnya. Ayahnya hanya terdiam, "Sebenarnya Ichigo… Toushirou mempunyai suatu penyakit…"

Ichigo kaget, "Eh?"

"Ya… Penyakitnya…"

"Leukemia…" Jawab Soujirou.

Ichigo menoleh, Soujirou melanjutkan jawabannya lagi sambil memeluk Toushirou. "Leukemia yang dia derita sejak beberapa tahun terakhir, makin parah dari hari ke hari. Dia tahu, hidupnya akan sebentar lagi. Maka, dia terbitkan novel itu segera, satu-satunya novel yang berhasil ia buat. Our hearts are connected. Dia membuat berdasarkan kenyataan hidupnya, kehidupan kerajaan ini, dan kehidupanmu. Dia berharap, Ichigo yang dia kenal dapat terus maju menghadapi hidupnya tanpa dukungan dari sahabatnya. Karakter Ichigo itu dicerminkan dengan nama Yorusaki."

Rukia mendengar itu, langsung membuka halaman terakhir dari novel itu yang tadi baru saja dia baca. Dia menangis saat membaca novel itu. "Shi… Shirohaku…"

Soujirou langsung menjawabnya, "Ya, Shirohaku adalah Toushirou dan Sorachiki adalah anda…"

Rukia menangis dan Byakuya berada dibelakangnya. "Rukia, apa yang tertulis akhirnya?" Tanya Ichigo.

Rukia membacakannya, "Malam itu terlihat sangat indah dengan taburan bintang di langit. Tapi malam itu adalah malam terakhir untuk Shirohaku akibat penyakit yang dia derita."

Ichigo langsung memasang muka kesal pada Toushirou, "TOUSHIROU! Kamu kenapa sih, katanya kita ini adalah sahabat! Tapi, kau menyembunyikan semuanya dariku! Mulai dari kamu adalah keturunan dari keluarga Hitsugaya, mempunyai penyakit parah, kamu kenapa begitu sih?"

Toushirou membuka matanya dan menjawab dengan pelan, "Justru… Ka… Karena kamu adalah… Sahabatku!"

Ichigo mengepalkan tangannya, "Lantas, kenapa kamu tidak bicara padaku?"

"A… Aku tidak mau… Membuat semua khawatir… Cukup aku, ayahmu, dan Kusaka saja yang tahu…"

Ichigo terduduk, Toushirou meminta maaf padanya. Ichigo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak usah minta maaf…"

Ichigo mengepalkan tangan Toushirou. Toushirou memandangi dengan lemah sahabatnya itu. "Ku… Kuro... Saki…"

Ichigo yang hampir menangis, memanggil Rukia dan Renji ke sampingnya. Mereka berdua datang dan mengelilingi Toushirou. Ichigo menarik tangan kanan Renji dan tangan kanan Rukia serta Soujirou sehingga terkepal menjadi satu oleh tangan Toushirou.

"Kuro… Sa…"

"Panggilah namaku! Kita itu… Sahabat bukan?" Senyum Ichigo.

Toushirou tahu saat Ichigo menahan untuk menangis, untuk mencegah agar Ichigo tidak menangis, dia tersenyum dan memanggil Soujirou dan Ichigo, 2 orang yang selalu dia panggil dengan nama keluarganya.

"Kak… Kak Soujirou…"

"I… Ichi…"

Belum sempat bilang 'go', Toushirou menutup matanya untuk selamanya dengan tersenyum. Ichigo yang tidak kuat menahan kepedihannya, langsung menangis di dada Toushirou yang sudah tidak terdengar lagi detak jantungnya. Soujirou membersihkan air mata Toushirou yang jatuh saat dia menutup matanya. Renji dan semua orang yang menyaksikan kejadian itu, ikut menangis. Ichigo langsung berteriak nama Toushirou. "TOUSHIROU!"

Rukia membuka halaman teakhir novel itu. Dia membacakannya,

Dibawah langit malam yang indah, terdengar jeritan Yorusaki memanggil nama sahabatnya yang telah menutup mata untuk selamanya itu. Hari dimana seharusnya mereka senang karena jadiannya Yorusaki dan Sorachiki, harus diisi kesedihan karena kematian sahabatnya, Shirohaku. Dengan tangannya digemgam oleh semua sahabatnya. Sebenarnya, Shirohaku ingin hidup lebih lama lagi, dia ingin bermain dengan sahabat-sahabatnya di musim panas, ingin bakar ubi lagi di musim gugur, serta bermain perang salju di musim dingin. Sayangnya, hidupnya harus berakhir hari itu.

Yorusaki berjanji pada Shirohaku dengan tangannya menggenggam tangan Shirohaku. "Aku berjanji, akan selalu bersama dengan Sorachiki. Hingga akhir hayatku…"

Ichigo mendengar kata-kata itu, langsung protes, "Ada yang kurang, Toushirou…"

"Tambahannya adalah… Karena kaulah, kami bisa bertemu satu sama lain… Shirohaku… Arrigatou, my best friend!"

Ichigo mengelus rambut Toushirou, "Kau sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, Toushirou…"

"Selamat tidur… Toushirou…"

Rukia yang saat itu menangis, melihat secarik kertas dengan tulisan asli Toushirou.

P.S. Rukia-hime, semoga dengan novel ini, hubungan anda dengan Ichigo bisa langgeng. Walau saya tidak bisa melihat anda lagi saat bersama-sama dengan Ichigo, saya yakin, Ichigo adalah pasangan hidup anda yang akan setia menemani anda hingga akhir hayatnya. Momen-momen yang kita berlima lewati, sungguh menyenangkan! Terima kasih… Untuk semua dan, sayonara…

Hitsugaya Toushirou

Rukia mendekati Ichigo dan memberikan kertas tersebut, "Ichigo, lihat! Toushirou memanggilmu dengan nama kecil…"

Ichigo melihat Rukia dan membaca catatan itu. Dia tersenyum dan mengeluarkan air matanya lagi, "Toushirou, kau… Baka! Aku pasti akan menjaga Rukia! Pasti!"

Soujirou tersenyum karena kesungguhan Ichigo mengucapkan kalimat tersebut. "Ganbatte, Ichigo-kun!"

Ichigo mengangguk dan menarik Rukia ke dalam pelukannya. Orang-orang yang disana langsung bersorak karena tingkah laku Ichigo itu. Grimmjow hanya melongo saat Ichigo mencium pipi Rukia dengan manis. Acara ulang tahun itu ditunda hingga pemakaman Toushirou nanti siang. Soujirou sudah tahu hari ini akan datang dimana Toushirou meninggal. Soujirou membawa Toushirou pulang ke rumahnya dan bersiap untuk dimakamkan di samping kuburan orang tua nya yang dulu tewas akibat kecelakaan dahulu.

Setelah pemakaman itu berakhir semua penjiarah pulang, tersisa Ichigo, Rukia, Soujirou, dan Renji berdiri di depan kuburan itu.

"Ternyata, salah satu dari kita sudah pulang duluan ya…" Ucap Ichigo.

"Ya…" Jawab Renji.

"Maafkan kesalahan Hitsugaya pada kalian semua selama ini…" Tunduk Soujirou.

Semua ikut tunduk, "Tidak apa! Kami juga minta maaf…"

Keadaan hening sejenak. Rukia menyender pada bahu Ichigo. Ichigo menggengam bahu Rukia. Soujirou memberikan sebuah bunga yang tadi dia beli di toko bunga Grimmjow berkerja. Bunga itu bewarna putih bersih.

"Warna putih memang selalu cocok untukmu… Hitsugaya!"

Renji juga meletakan bunga yang sama, "Suatu saat, kita akan bertemu lagi walau kau mempunyai rupa yang berbeda. Toushirou!"

Rukia meletakan bunga yang sama juga dengan kedua sahabatnya, "Terima kasih, Toushirou-kun… Berkatmu, kami bisa bertemu dan hati kita menyatu…"

Sekarang giliran Ichigo, dia mengeluarkan sebuah bunga dengan warna oranye. Rukia dan yang lain terkejut, dan Ichigo meletakannya tanpa pedulinya. "Toushirou, kau bilang kalau warna rambutku bagus. Warna ceria dan cerah. Karena itu, aku menjadi menyukai warna oranye. Kau selalu mendukungku dalam keadaan suka dan duka. Kau tetap ceria dan menjalani hidupmu dengan riang walau kau mempunyai suatu penyakit yang sewaktu-waktu merenggut nyawamu. Kau tetap berjuang melewati hidup. Semangatmu itu, kulambangkan dengan bunga ini… Selamat tidur dan, sampai jumpa… Toushirou!"

Rukia dan yang lain tersenyum. Rukia mengeluarkan saputangan punya Toushirou yang kemarin dia pinjamkan dan mengusap pipi Ichigo. Ichigo tersenyum dan tertawa. Setelah itu, mereka pulang menuju rumah mereka masing-masing. Angin berhembus kencang di sekitar mereka. Saat Ichigo melihat ke belakangnya, dia merasa ada yang menepuk dia.

"Arrigatou, Ichigo!"

Ichigo tersenyum dan berjalan menuruni bukit itu. Bersama sahabat-sahabatnya serta orang yang disayanginya, Ichigo terus menjalani hidup sesuai dengan permintaan terakhir sahabatnya itu.

"A… Sama-sama… Toushirou!"

Berkatmu, kami dapat bertemu.

Berkatmu, hati kami menyatu melalui sebuah novel.

Berkatmu, kami bisa mengerti satu sama lain.

Berkatmu, aku bisa mengerti apa arti rasa suka dan…

Betapa berharganya seorang sahabat…

Good bye… My friend…

Our Hearts are Connected

-END-


Ran: Hiks… Hiks…

Ichigo: Kamu kenapa Ran?

Ran: Terakhirnya sedih buanget… Hiks… To-chan meninggal… Hiks…

Hitsu: Kan eloe yang buat naskahnya, kita cuma wayangnya saja!

Ran: *Sweatdrop* eeetttooo… Sorry, niatnya cuma sampai pas Ichigo dan Rukia bertemu. Habis itu, Toushirou tersenyum dan menceritakan akhir dari novelnya. Eh~ Keasyikan hingga sebanyak ini… Sorry!

*Semua Sweatdrop*

Hitsu: Ya sudah… La…

Ichigo: *memotong perkataan Hitsu* Ran, sekarang OHAC tamat, kamu mau nerusin cerita yang mana?

Ran: Entah… Lagi gak ada inspirasi, gak enak badan, ngantuk, letih, banyak perkerjaan, Hohohoho…

Ichigo: Perasaan sekarang masih libur kenaikan kelas deh?

Ran: *Bersiul*

Kusaka: Terima kasih sudah membaca fic ini hingga akhir… Saya harap, kalian semua dapat terhibur dengan fic ini. Untuk fic Ran yang lain, dia mungkin agak telat apdet karena gak ada inspirasi (Apalagi yang IchiReToRu Band). Terima kasih yang telah mem-fav kan dan mereview, serta mefollow, dan membaca. Terima kasih banyak! *Tunduk*

Grimmjow: Oh ya, ada pesan dari Ran, katanya yang berdansa dengan Grimmjow itu adalah Tatsuki. Dia sudah menjadi salah satu penjaga di kerajaan Kuchiki, bukan lagi penjaga mansion Ichigo. Hooo…

~Hening~

Grimmjow: WHAT!

Ran: Kamu kenapa?

Grimmjow: Apa maksudnya ini?

Ran: Gak ada maksud apa-apa kok!

Ulquiorra: Anda kreatif juga ya, Ran!

Ran: Makasih~

Grimmjow: Oi… Ulquiorra… Eloe kenapa?

Byakuya: Jatah menjadi raja sudah berakhir…

Rukia: Ya, benar… Tidak bisa membeli chappy sebebasku.

Byakuya: *Hiroshi* kamu selama ini dikasih uang jajan untuk membeli chappy?

Rukia: *Mengangguk*

Byakuya: *mengacungkan jempol* Aku membuat ini… *menunjukan boneka Chappy*

Rukia: *Berbinar-binar* Nii-sama… itu….

Byakuya: Untukmu!

*Rukia dan Byakuya berpelukan*

Ichigo: Ya sudah, terima kasih yang sudah membaca cerita ini hingga terakhir! Terima kasih atas dukungannya! Jika kalian mau, kalian bisa menerusi fic buatan Ran di judul yang lain… Thank`s ya~

Ran: *melambaikan tangan* Untuk sesi OHAC, tamat! Thank you semua! Bye!

*Menyalakan lagu Go Go Maniac, Op K-On!*

Hitsu: Untuk terakhir-terakhir… Kayanya kalau gak lagu Kawaranai Kotoba, good bye days dari YUI atau Thank You dari SuJu… Hehehehe… Rain dari SID juga bisa… Ohohoho*nyalain MP3*