RiikuAyaKaitani Production

Presented : Mamori's Boyfriend Chapter 6

Eyeshield 21©Riichiro Inagaki & Yusuke Murata

Ciaossu! Iyyaho~ maaf karena update-an yang lama! _ karena UKK (Ujian Kenaikan kelas) Yang seperti neraka, aku jadi nggak bisa melanjutkan fic ini… Dan, karena otakku agak belum beres dan lepas dari UKK, mungkin Hiruma bisa jadi OOC, bahasa mencla-mencle, serta Mistypo. Arigatou telah mengerti *Membungkuk*

"Yeah.. Sudah selesai semua!" Seru Mamori.
"Mamo-nee, Apa semua anggota DDB lulus?" Tanya Suzuna penasaran.
"Mukya! Semoga aku lulus!" Pekik Monta.
"Ho… ternyata kalian…" Hiruma menyeringai seram. Diiringi degup jantung semua anggota yang menunggu hasil test.

"Hi, Hiruma-senpai, jangan-jangan ada yang tidak lulus nilai standart ya?" Tanya Sena sambil gemetaran. Hiruma hanya tersenyum menyeringai. Mamori yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan akhirnya tidak tahan untuk tidak bicara.
"Hiruma, jangan nakut-nakutin mereka dong! Kalian semua LULUS kok!"
"YES!" teriak seluruh anggota DDB bahagia.
"YA-HA! Ternyata kalian nggak bego-bego amat." Sahut Hiruma sambil keluar kelas. Mamori hanya tertawa mendengar pengakuan Hiruma.
"Ini berkat Mamo-neechan dan Hiruma-senpai kok!" Kata Sena.
"MUKYA! Ku anggap Lunas MAX!"
"Monyet sialan. Memang aku hutang apa padamu heh?" Tanya Hiruma.
"MUKYA! Nggak jadi deh!" Jawab Monta. Hiruma terkekeh.
"Kau masih cemburu denganku yang bisa mendapatkan Mamo-chan?" Goda Hiruma sambil mencium pipi Mamori.
"Hi, Hiruma-kun!" Pekik Mamori pelan. Hiruma kembali terkekeh dan berjalan meninggalkan kelas.
"Cieeee… Mamo-nee sama You-nii makin mesra ajaaa…" Sahut Suzuna.
"Su, Suzuna-chan.." Panggil Mamori sambil mengelus pipinya yang memerah. Tiba-tiba HP mamori bergetar. Mamori segera mengangkat telepon yang ternyata dari Ibunya itu. Beberapa menit setelah Mamori berbicara dengan ibunya, ia menutup telepon.
"Dari siapa Mamo-nee?" Tanya Suzuna.
"Dari Ibuku. Katanya aku harus pulang sekarang. Ada seseorang yang ingin Ibu bicarakan denganku." Kata Mamori sambil menenteng tasnya dan pergi meninggalkan kelas. Suzuna dan Sena merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk dan mereka cepat-cepat berdoa semoga tak terjadi apapun.

-Di Rumah Mamori-

"Aku pulang!" Sahut Mamori sambil melepas sepatunya.
"selamat datang, Mamo-chan." Balas Ibunya sambil menghampiri putri semata wayangnya itu.
"Ada apa bu? Sepertinya Ibu sangat tidak sabaran untuk bicara denganku." Sahut Mamori sambil melepaskan sepatunya.
"Iya nak. Ada yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan denganmu. Ini soal masa depanmu." Jawab Ibunya. Ibu Mamori berbalik dan mengajak Mamori untuk duduk di ruang keluarga. Ternyata sang ayah telah menunggu kepulangnnya.
"A, Ayah, Apa yang ingin Ayah dan Ibu bicarakan denganku?" Tanya Mamori yang masih berdiri. Raut wajah Ayah Mamori menjadi serius.
"Duduklah dulu nak." Pinta Ibu. Mamori segera mengambil posisi di depan Ayah dan Ibunya.
"Begini Mamori, Ayah tahu kamu pasti tidak akan setuju. Namun, kami tidak punya pilihan lain." Kata Ayah Mamori memulai perbincangan.
"A, apa maksud Ayah?" Tanya Mamori yang tidak mengerti.
"Sebenarnya Ibu dan Ayah memiliki hutang besar pada keluarga Hayato." Timpal Ibu.
"Ha, Hayato?" Pekik Mamori setelah mendengar marga itu.
"Ya. Ayah dan Ibu sudah tak sanggup untuk membiayai sekolahmu dan juga hutang-hutang kami yang menumpuk. Karena itu…"
"Karena itu apa Yah?" Tanya Mamori tidak sabar.
"Ka, karena itu kami memutuskan untuk menikahkanmu dengan Putra keluarga Hayato. Yaitu Hayato Akaba." Jawab Ibu Mamori terbata-bata. Bagai tersambar petir, Pupil Mamori mengecil. Mamori memekik pelan tnada tidak percaya.
'Hayato Akaba? Hayato Akaba dari Spiders? Aku harus menikah dengannya?'
Beribu tanda Tanya menghujam pikiran Mamori. Dengan cepat batin Mamori berteriak ingin angkat bicara.
"Ta, tapi Ibu! Aku masih sekolah!"
"Ibu tahu sayang. Ibu tahu. Kamu akan menikah secara diam-diam. Dan sampai kamu sekolah, Akaba berjanji tidak akan menghamilimu!*Bahasa kaco Author mode on*" Kata Ibunya sambil berkaca-kaca.
"Tidak Bu.. Aku tidak bisa! Aku memiliki seseorang yang sangat kucintai!" Pekik Mamori sambil berkaca-kaca. Ayah Mamori menghela nafas.
"Mamo.. Ayah ingin kau bahagia. Namun takdir berkata lain. Ayah mohon tolong pikirkan baik-baik tentang ini. dan jangan beri tahu siapapun." Kata Ayah Mamori sambil menunduk dalam-dalam. Tak kuasa melihat wajah putri tercintanya yang tengah bercucuran air mata.
"A, aku harus mengerjakan PR –ku!" Sahut Mamori sambil berlari menuju kamarnya.

-Mamori's POV-

Apa yang harus kulakukan? Jika aku menolak tawaran Ayah, maka keluargaku akan hancur. Namun jika aku menerimanya.. bagaiman dengna Hiruma-kun? Bagaimana dengan perasaanku sendiri? Apakah Tuhan memang berkehendak agar aku bernasib seperti ini? Ya Kami-sama.. kumohon berikanlah jawaban..

Aku merebahkan tubuhku yang masih berbalut seragam Devilbats. aku ingin menangis sekencang-kencangnya, menumpahkan segala amarah dan sedihku. Namun pada apa? Tidak lebih tepatnya pada Siapa… ku benamkan wajahku pada bantal yang ada di bawahku. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Aku tak peduli lagi. Aku ingin bermimpi dengan tenang dulu..

-End Of Mamori's POV-

Hujan sekali lagi turun bersamaan dengan jatuhnya air mata seorang malaikat tak berdosa. Hiruma Youichi memandangi hujan yang turun lewat jendela kamarnya yang terbilang cukup megah itu. Ia diam membisu. Seolah sedang berpikir akan sesuatu.

'Kenapa perasaanku tidak enak ya? Apa ini ada hubungannya dengan Mamori? Sialan. Perasaanku benar-benar tidak enak.'

Hiruma meraih HP yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Ia memencet nomor yang sangat ia hapal.

"Halo?" Jawab seorang perempuan di seberang sana.
"Kuso Mane. Ini aku." Balas Hiruma
"Hi, Hiruna-kun?" Pekik Mamori dengan suara parau.
"Oi, ini kuping orang. Jangan teriak-teriak sembarangan budge nih bisa-bisa!" gerutu Hiruma dengna niat bercanda.
"Eheheheehe. Gomen ne Hiruma-kun~ Ada apa telepon siang-siang begini?" Tanya Mamori.
"Cuma iseng sih. By The Way ada apa dengan suaramu, Kuso Mane?" Tanya Hiruma sedikit cemas.
"Ah~ aku tidak apa-apa kok! Tenang saja." Dusta Mamori.
"Benarkah? Apa kau yakin?"
"Iya."
"Mamo, ingat aku ini pacarmu. Kau bebas bicara tentang appaun padaku." Ucap Hiruma serius tapi tetap saja sambil ber-blushing ria. Mamori terdiam sejenak.

"Daijobu Hiruma-kun. Aku baik-baik saja kok. Sungguh!" Sekali lagi Mamori mendustai hati dan kekasihnya.
"Baiklah. Tapi jika kau ingin bicara apapun itu, aku selalu ada." Sahut Hiruma.
"Arigatou, Hiruma-kun" Balas Mamori sambil tersenyum lembut.
"Err, apa kau ada acara untuk nanti sore dan sekarang?" Tanya Hiruma.
"TIdak. Memangnya kenapa?" Jawab dan Tanya Mamori sekaligus.
"Aku ingin mengajakmu jalan sebentar. Mau?" Ajak Hiruma. Mamori menimang-nimang ajakan Hiruma.
"Oke." Kata Mamori akhirnya.
"Bagus! kita ketemu di Taman seperti biasanya ya!" Seru Hiruma bersemangat
"Dasar. Baru kali ini aku mendengarmu begitu semangat, Hiruma-kun!"
"Tch! Sudahlah! Mau atau tidak?"
"Iya-iya! Sekarang?"
"Nggak Honey. Tahun depan."
"Ihhh iya-iya. Bye Hiruma-kun!" Kata Mamori mentup telepon.
"Bye Kuso mane. Love you." Balas Hiruma. Mamori blushing.
"E, eh? Lo, love you too." Gliran Hiruma yang blushing.

Aku harus bisa berwajah ceria di hadapannya! Kalau tidak.. dia pasti akan cemas.
batin Mamori sambil memilih-milih baju. Akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah terusan warna biru pupus dengan pita sebagai sabuk. Dengan padanan boots coklat akan membuatnya manis. Setelah mengganti baju dan sedikit berdandan, ia turun ke bawah menuju ruang keluarga untuk berpamitan dengan orang tuanya.

"Ayah, bagaimana jika Mamori tidak mau menerimanya?" Tanya sebuah suara yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu Mamori sendiri.
"Aku tidak punya pilihan lain selain memaksanya." Jawab sang Ayah dengan nada penuh keraguan.
"Ayah.. Ibu takut Mamori tidak akan bahagia di sisi nak Akaba. Ibu takut kalau mas adepan Mamori bakal hancur." Sahut Ibunya mengiba. Mamori masih terdiam membeku di balik tembok.
"Ibu, itulah resikonya. Tapi Ayah yakin Akaba pasti bisa membahagiakan Mamori."
"Kalau begitu, biar Ibu saja yang meminta keringanan pada keluarga Hayato!" Kata Ibu sambil berdiri.
"Ibu, jangan! Apa Ibu mau bernasib seperti Ayah? Ibu tidak ingat Ayah dipukuli oleh mereka Karena meminta keringanan?" Cegah Ayah Mamor sambil ½ berteriak. Sang Ibu teridam sejenak.
"Ta, tapi Yah… Ibu tidka ingin melihat Mamori menderita.." Kata Ibu Mamori lirih. Tanpa disadari sebutir demi sebutir air mata Mamori menetes mendengar perkataan Ibunya. Ia cepat-cepat menghapus air matanya dna melirik jam tangannya.
Maaf Hiruma-kun. Aku akan terlambat. Batinnya. Dengan segenap keberanian ia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Ayah dan Ibu Mamori mengarahkan pandangannya ke Putri mereka yang tengah berdiri.
"Ayah, Ibu, Mamori mau pergi sebenntar menemui teman. Aku akan pulang sebelum makan malam." Pamit Mamori. Ibunya hanya bisa memandangi Putri-nya yang berbalut dress manis.
"Iya tapi jangan lama-lama ya." Jawab Ayah Mamori didukung dengan senyuman lembut Ibu Mamori. Mamori ikut tersenyum dan pergi meninggalkan rumahnya. …-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-TeBeCe-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-..-.-.-.-.

RiikuAya : Fiuhh.. akhirnya selesai juga~
Shino : Yah, hebath juga rekormu.. -3- bisa nyelesain 2 fic setelah UKK selesai..
RiikuAya : Yoham~ Daripada kita Nge-teh di depan Readers, mending aku Ngomong…
Shino : Ohohoho.. Tidak! Kita udah sepakat chapter 6 adalah milikku!
RiikuAya : Waduh~ saya sebagai Author sangat tidak setuju nih! Kapan aku nyepakatain?
Hiruma : Sementara para mahluq primitf tersebut bertengkar, biar aku sajja yang bilang,. Review please! YA-HA!