RiikuAyaKaitani production
Presented: Mamori's Boyfriend Final Chapter
Eyeshield 21©Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Huft! Akhirnya dengan segala perjuangan memeras Ide dari otak, Mamori's Boyfriend tamat juga~ Terima kasih atas kerja samanya selama ini!
Previous on Mamori's Boyfriend
Mamori memaki sendiri dalam hatinya. Jarang sekali kata-kata suci(?) itu mencelos keluar dari batinnya. Mamori tertawa pelan sambil memegangi kepalanya yang tidak sakit. Berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh lebih dari ini.
"Dasar Bo, doh!" serunya sambil masih menangis. Sekarang ia tahu. Sekarang ia mengerti. Bagaimana cara seorang Hiruma mencintai gadisnya. Namun apa daya. Ia hanya bisa menunggu sampai hari esok datang. Hari esok yang sangat tidak ingin dia jalani. Hari ketika ia akan menjadi istri seorang Akaba
Seorang malaikat cantik berbalut baju pengatin yang putih bersih memandangi wajahnya yang terlihat sedih. Normalnya seorang gadis akan tersenyum bahagia bila hari perhikahannya telah datang. Namun bagaimana bisa bahagia bila sang gadis menikah dengan orang yang tidak ia cintai?
'tok tok tok' Maria (Nama Ibunya Mamori baru kepikiran sekarang! ^_^) mengetuk pintu kamar sang Bride.
"Mamori? Kau sudah siap?" Tanya Maria. Mamori tidak menjawab ia hanya menghela nafas. Maria menyerah dan keluar kamar. Malaikat mata safir itu memandangi sosoknya di dalam dunia kaca. Sebenarnya ia tidak ingin menerima kenyataan. Ia terus berkata pada dirinya bahwa ini adalah sebuah mimpi. Jam dinding menunjukkan waktu 09.00. sudah waktunya Mamori keluar dari kamar itu menuju altar tempat ia akan mengucapkan sumpah Suci yang kotor baginya. Altar suci itu terletak di sebuah Villa megah keluarga Hayato yang lebih tepat di sebut dengan istana. Altar tempat Mamori akan menjadi Istri Akaba di sirami sinar Matahari yang hangat. Tempat suci itu hanya beratapkan langit biru segar yang sejuk. Mamori suka cuaca dan suasana ini namun ia tidak suka dengan situasi ini.
'Anadaikan yang berada di sini adalah Hiruma-kun.' Batinnya sambil tersenyum kecut.
-Di Kubu Setan-
"Kekekekeeke! Kalian mengerti apa rencananya kan?" Tanya Hiruma entah serius atau tidak.
"TENTU SAJA!" Jawab Anak buahnya kompak. Sang Setan berjalan dengan aura membunuhnya ke dalam sebuah Helikopter. Bak Sang pangeran menunggang naga-nya. Sedangkan para prajurit setianya dengan gagahnya(?) menaiki motor Kawasaki Ninja warna Merah. *Rii mauuuu~*. Rombongan setan itu berangkat menuju tempat penyekapan sang Putri
-Back to Mamori-
Akaba telah selesai mengucapkan sumpah sehidup sematinya. (A/N: Maaf jika ada kesalahan kata-kata~ Soalnya rii-chan ngga tahu tentang upacara pernikahan orang jepang~).
"Anezaki Mamori, bersediakah engkau bersama dengan Hayato Akaba dalam sakit maupun sehat, dan dalam Hidup ataupun mati?" Tanya sang Pendeta. Mamori tersentak.
'Jawaban seperti apa yang harus ku katakan? Jawaban yang membuatku menderita seumur hidupku atau Jawaban yang akan membuat hancur Ayah dan Ibu?' Mamori menimang segala pilihan yang ada. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya bila Hiruma ada di hadapannya. Ia ingin melihat senyumnya untuk terakhir kalinya.
"A, aku-" BRUMM! Suara sebuah sepeda motor menggema di altar itu. semua mata tertuju pada motor Kawasaki ninja merah itu. Lalu secara tiba-tiba datanglah prajurit setan yang menunggang Naga merah. Sena dengan kecepatan Cahayanya berlari bagaikan hantu menebar gas putih bagaikan asap pembukaan acara kematian. Monta dengan cekatan mengambil cincin yang ada di tangan Akaba. Musashi segera membuka penyamarannya yang tadinya adalah seorang pendeta yang menyuruh Mamori mengucapkan sumpah suci. Semua Anggota DDB berjuang sekuat tenaga untuk melawan para Guard & Security yang di sewa keluarga Hayato.
"Ahahaha! Aku sudah mendapatkan Kakak mademoiselle Mamori!" Kata Taki sambil berputar-putar Mamori tersentak dan menoleh ke arah Taki, 3 bersaudara dan Suzuna yang telah siap dengan motor mereka. Mamori menangkap sesosok bayangan seorang perempuan berambut scarlet bergelombang yang tengah di bonceng oleh Jumonji.
"Ichi.. Ru-neesan." Panggilnya. Suzuna dan Taki mengankat tangan membentuk tanda jempol mengatakan ia baik-baik saja. Deru helicopter semakin mendekat kearah Mamori.
"YA-HAAA!" Teriak seorang setan *Author di Pacul Hiru* berambut pirang dengan piercing di telinga runcingnya. Mamori sangat kenal teriakan itu, penampilan itu, suara itu.
"Hi-ruma?" Panggil Mamori. Tiba-tiba Hiruma turun dengan tangga yang telah terulur. Helicopter mundur dan menjauh membiarkan suasana yang ricuh diantara mereka.
"Mau apa kau ke sini dengan hebohnya, Hiruma Youichi?" Tanya Akaba dengan gaya cool-nya.
"Keh! Jawabannya simple. Karena yang boleh mendampingi hidup Mamori hanya Aku saja. Dengan kata lain. CEWEK INI HANYA BOLEH MENIKAH DENGANKU! YA-HA!" Teriak Hiruma sambil menggendong Mamori ala bridal. Hiruma dengan sukses membawa lari Mamori dari kejaran Akaba. Ayah dan Ibu Mamori hanya bisa Cengo melihat kejadian yang terjadi di depan mata mereka. Mereka saling bertatapan dan kemudian tersenyum. Sepertinya mereka lenih bahagia melihat Mamori di gendong Hiruma *^_^V*. Akaba mendecih penuh dengan kekesalan. Julie yang sedari tadi memperhatikan akhirnya berdiri dan menghampiri AKaba. Ia menepuk bahu Akaba.
"Biarkanlah Mamori bahagia. Jika kau memang sayang dan cinta padanya, maka biarkanlah ia bahagia." Kata Julie. Akaba menatap gadis di belakangnya.
"Mau ku hibur?" Tanya Julie.
"Hah?"
"Yah, ku hibur dalam arti kutemani makan atau kau boleh curhat ke aku. Bukan yang aneh-aneh kok." Kata Julie.
"Apa maksudmu?" Tanya Akaba. Julie memegang tangan satunya dengan gugup.
"Err, yah kau tahu. Aku tidak ingin melihat sahabatku tidak bahagia. Baik itu kau atau Mamori-san." Kata Julie. Akba akhirnya mengerti. Bahwa ia tidak akan mendapatkan cinta sejatinya apabila ia memaksakannya. Akaba tersenyum. Bukan senyum palsu. Melainkan senyum tulusnya. Julie jadi salting. Dan Kotaro mendecih kesal terbakar cemburu.
"Ya ya. Kalau mau pacaran jangan di depan altar! Ntar keturutan kapok lu pada." Komentar Kotaro.
"Lho, kau cemburu ya?" Tanya Akaba.
"Ng, nggak kok! SERANGAN AIR LIUR!" Kata Kotaro sambil melancarkan serangannya. Akaba terus menghindar seperti biasanya.
'Inilah Akaba dan Kotaro yang biasanya.' Batin Julie sambil tersenyum lembut.
-Di Sisi Hirumamo-
Hiruma menurunkan Mamori di sebuah pantai jang cukup jauh dari Villa.
"A, ap ayang kau lakukan bodoh? Hah hah." Tanya Mamori sambil terengah-engah.
"Menurutmu?" Tanya Hiruma balik.
"Ka, kalau ada orang Tanya jangan Tanya balik dong!" Kata Mamori.
"Kekekeke! Biarin! Lalu kenapa kamu tidak mengatakan apapun soal ini padaku?" Balas Hiruma.
'DEG!'
"Ka, karena aku hanya tidak ingin kau terluka! Aku tidak ingin kau terlibat masalah keluargaku." Kata Mamori.
"Melindungimu adalah resiko dan tanggung jawabku bila kau mencintaimu, Mamori." Komentar Hiruma sambil duduk di sebuah batu yang cukup besar.
"Ka, kalau begitu apa yang ada dalam pikiranmu?" Tanya Mamori dengan nada serius.
"Aku sudah bilang kalau aku akan melindungimu. Aku hanya tidak ingin orang yang kucintai dan mencintaiku jatuh ke pelukan orang lain." Jawab Hiruma tak kalah seriusnya.
"Pe, PD banget." Komentar Mamori untuk menutupi acara Blushing ria-nya.
"Jadi kamu sudah tidak cinta denganku lagi ya?" Tanya Hiruma.
"Bu, bukan begitu maksudku aku hanya-"
"Katakanlah." Kata Hiruma memotong kalimat Mamori.
"Ka, katakan apa?"
"katakatan dan buktikan kalau kau memang cinta padaku." Jawab Hiruma sambil tersenyum jahil.
"E, eh? Ogah!" Kata Mamori sambil memlaingkan muka.
"hoo~ jadi kamu memang tidak mencintaiku ya~" Goda Hiruma.
"Bu, bukannya begitu!"
"Kalau begitu katakan dan buktikan!"
"Ukh! Wa, watashi wa anata o Aishite imasu!" teriak Mamori saking malunya. Hiruma terkekeh.
"Lalu?" Tanya Hiruma menuntut kelanjutan. Mamori berpikir tentang 'Apa yang harus dia lakukan untuk membuktikan bahwa ia cinta pada Hiruma?'. Mendapatkan sebuah Ide Mamori maju selangkah lebih dekat ke Hiruma. Dengan cepat ia meriah pipi Hiruma dan menciumnya. Ciuman singkat namun meyakinkan.
"A, ap aitu belum cukup?" Tanya Mamori dengn muka memerah. Hiruma yang awalnya kaget tiba-tiba menunjukkan tawa jahilnya.
"kekekeke! Aku memang suka wajahmu yang seperti ini!" Serunya sambil tertawa.
"A, appaan sih! Udah deh! Sekarang apa maksudmu mengirim link itu?"
"Ngapain aku jawab?" Tanya Hiruma balik.
"Harus! Aku sudah mengatakan apa yang ingin kau dengar dan aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan." Jawab Mamori.
"Yah~ berarti tadi ngga Ikhlas ya." Komentar Hiruma.
"I, Ikhlas kok! Sekarang giliranmu!" Balas Mamori. Hiruna menghela nafas melihat kelakuan ceweknya itu.
"Baiklah. Link pertama judulnya?" Tanya Hiruma.
"Kimi wo mamotte kimi wo Aishite." Jawab Mamori.
"Bahasa Indonesia-in! Ntar reader ada yang ngga negrti!" Kata Hiruma sok peduli *Author di bejeg2 Hiru & Readers*.
"Aku mencintaimu, aku melindungimu."
"Jika kau mencintaimu aku harus bisa bertanggung jawab untuk melindungimu." Kata Hiruma.
"kalau Lagu ke-2?" Tanya Mamori. Suasana menjadi tegang karena 2 mahluk beda jenis sama spesies tersebeut beridam diri. Membungkam mmulut masing-masing. Pandangan Hiruma tampak serius.
1 ment
2 menit
3 menit
"CUMA ISENG." Jawab Hiruma akhirnya yang sukses membuat Mamori ngamuk-ngamuk.
"udah bikin orang kaget, khawatir, penasaran dan tegang! Eh ternyata jawabannya Cuma iseng?"
"kekekeke! Bo'onk! Aku Cuma ingin kamu mengetakan kehendakmu. Berteriak kepada semuanya tentang apa yang ingin kau lakukan. Aku hanya ingin kau mengatakan semua masalah dan pikiran yang mengganjal Otakmu kepadaku. Hanya itu." Kata Hiruma dengan cengiran khasnya.
'Lagi-lagi. Tawa itu, senyum itu. semua yang ada padamu-lah yang kuinginkan.' Batin Mamori.
"Kau bertindak gegabah! Bagaimana dengan-"
"Aku sudah tahu seluk-beluknya. No problem. Utang lunas, Kakak selamat." Kata Hiruma sambil menghitumg dengan jari-jarinya.
"Da, darimana kau tahu- SUZUNA!" Pekik Mamori dengan muka merah.
"Se, seharusnya aku tdia cerita padanya!" Kata Mamori lagi.
"Kalau kau tidak cerita padanya kau bakal jadi istri mata merash sialan itu." Kata Hiruma.
"I, iya juga sih."
"Tapi cantik juga." Komentar Hiruma.
"E, eh? A, apanya?" Tanya Mamori.
"Kau." Jawab Hiruma sambil menunjuk Mamori.
"A, aku?"
"Ya. Kau cantik juga kalau pakai Bride Dresses itu." Kata Hiruma.
"o, oh ya?"
"Mirip."
"Mi, mirip?" Ulang Mamori.
"Mirip Kuda mau kawin! ! KEKEKEKEKEKKEKE!" Kata Hiruma sambil tertawa terbahak-bahak. Mamori memukul-mukul kecil lengan Hiruma.
"Serius. Kamu cantik kok." Kata Hiruma menyerah.
"Ma, makasih."
"Lebih cantik dan lebih pantas lagi kalau aku yang mendampingimu."
"Bi, bisa saja kau!" Kata Mamori malu-malu.
"Sudahlah~ jangan malu-malu, Kucing." kata Hiruma.
"E, enak saja! Aku bukan kucing tahu!"
"Kamu tetap anak kucing kesayanganku kok! Tenangsaja! Kekekekekeke!"
"Ukh~ HIRUMAAAAA!"
-The Endang-
RiikuAya: Horee~ akhirnya tamat juga!
Shino: iya! Tapi endingnya agak ngga masuk akal. Alias GAJE
RiikuAya: *terpuruk*Hiks hiks. Iya aku tahu kok~ tolong jangan di tentakankan pada kata-kata GAJE!
Shino: Yah tapi, selamat-selamat! *Bawa-bawa botol, fanta gede*
RiikuAya: Kok Fanta?
Shino: Lu mau minum Bir apa?
RiikuAya: ah~ sayakan belum cukup umur!
Shino: ya sudah ngga usah protes.
RiikuAya: Shino-chan! Ini Gajimu selam adi Mamori's boyfriend!
Shino: Oh! I lophe u Riii~ *Meluk-meluk Rii*
RiikuAya: jadi inget temen reader-ku deh~
Shino: untk selanjutnya aku mau cuti! Ku serahkan pad aanak didiku! Leave dulu! BABAYY~~ *Ngibrit ke Jepang*
RiikuAya: Yosh~ Sankyuu untuk review yang berguna selama ini~ review untuk fic berikutnya dan fic ini masih di tunggu dan sangat membangun lho! Babay~
