Terima kasih untuk Review-nya... Tetap Review, ya... Selamat Membaca :D
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian, dan Kisah Draco dan Ginny.
Warning: Beberapa dialog diambil dari buku-buku Harry Potter. Sebagian informasi terdapat dalam Fanfic Kisah Draco dan Ginny.
KISAH RON DAN HERMIONE
Chapter 3 Tawanan Azkaban
Hermione POV
Liburan musim panas ini aku ada di sebuah hotel indah di Dijon bersama Mom dan Dad. Dijon adalah ibu kota dari Côte-d'Or, di wilayah Burgundy, Prancis. Di sini terdapat banyak gedung-gedung bersejarah, seperti Chathedral St Begnine, Notre Dome de Dijon, Palais des ducs de Bourgogne, Porte Guillaume, Saint-Michel Church dan masih banyak gedung-gedung lain yang entah sudah berumur berapa tahun dan dengan nama yang aneh-aneh. Maklumlah penguasaan bahasa Prancisku bisa dibilang di bawah rata-rata.
Selama di sini, aku mengunjungi gedung-gedung tersebut dan mencari beberapa keterangan tentang penyihir-penyihir lokal. Sejarah sihir di sini cukup menarik dan aku sudah menulisnya dalam esai Sejarah Sihir-ku dan berharap tidak terlalu panjang. Di sini pernah terjadi perburuan penyihir besar-besaran tahun 1922. Banyak mereka menyembunyikan diri dan membangun komunitas sendiri di tempat-tempat terpencil, tetapi banyak juga yang ditangkap lalu dibakar. Namun, seperti di Inggris, penyihir lokal yang tertangkap akan menyucapkan Mantra Pembeku-Lidah-Api dan berpura-pura kesakitan, tapi sebenarnya mereka menikmati sensasi seperti digelitik.
Aku menyimpan esaiku dalam koper dan bersiap-siap untuk menemani Mom dan Dad ke Musée des Beaux-Arts de Dijon, Museum Seni. Tidak ada salahnya juga melihat lukisan, dan patung-patung Muggle. Meskipun kelihatannya cerita Ron tentang Mumi Mesir Kuno lebih menarik.
"Hermione!" panggil Mom dari pintu kamarku.
"Sebentar lagi, Mom," aku berseru dan tergesa-gesa menyambar tasku.
Ron POV
Dad memenangkan Undian Daily Prophet. Tujuh Ratus Galleon! Benar-benar beruntung! Karena itulah kami sekeluarga pergi ke Mesir untuk menghabiskan liburan Musim Panas kami dan sekaligus mengunjungi Bill.
Liburan musim panas di Mesir merupakan liburan yang benar-benar panas, dalam arti yang sebenarnya. Maksudnya, iklim di Mesir benar-benar panas. Matahari bersinar sangat terik membuatmu bisa berubah menjadi daging kering dalam sekejap. Untung saja Mom berhasil mendapatkan kami semua pakaian lokal yang seperti baju kurung. Pakaian Ginny lebih aneh lagi, dia memakai pakaian yang menutup seluruh tubuhnya, kecuali matanya dan kau tidak akan bisa membedakannya dari gadis-gadis lokal.
Saat ini kami berada di Giza, sebuah kota di sebelah barat sungai Nil dan 20 km arah Barat Daya ibukota Mesir, Kairo. Di sini terdapat kompleks piramida Mesir Kuno, yang terdiri dari Great Pyramid of Giza, Great Sphinx dan banyak lagi piramida-piramida kecil di sekitarnya. Bill―yang bekerja di Bank Sihir Kairo―mendapat ijin beberapa hari untuk menemani kami di Giza dan membawa kami berkeliling piramida, melihat Sphinx dan berlayar menyusuri sungai Nil.
Kami tidak terlalu banyak berlayar karena Mom tidak begitu suka dengan gerakan perahu layar di atas aliran air.
"Gelombangnya terlalu besar," kata Mom waktu itu, saat kami berjalan kembali ke penginapan setelah berlayar.
"Ini cuma riak kecil, Mom," kata Bill.
"Apa bedanya riak dan gelombang?" tanyaku, tapi tidak ada yang peduli. Semua terlalu capek dan langsung ke kamar masing-masing.
Jadi, kami tidak banyak berlayar. Kami menghabiskan waktu kami dengan mengunjungi kompleks piramida Mesir Kuno. Kami masuk di setiap Piramida gelap dan mencoba mencari keluar di setiap lorong-lorong yang panjang. Mom tidak mengijinkan Ginny masuk di piramida terakhir karena banyak sekali kerangka Muggle bertebaran. Tampaknya mereka terkena kutukan, sehingga banyak tumbuh kepala-kepala tambahan dan macam-macam lagi. Fred dan George (aku tidak termasuk) berniat mengurung Percy dalam piramida Paroah Ra, tapi tidak jadi karena ketahuan Mom.
Liburan ini benar-benar menyenangkan. Aku bahkan lupa menulis esai Sejarah Sihirku. Aku baru ingat tentang esai Sejarah Sihir itu saat Hermione mengirimku burung hantu yang menceritakan bahwa dia telah menulis esai Sejarah Sihir-nya lebih panjang dari yang diminta Profesor Binns.
Hermione POV
Aku memandang Ron dari gelas es krimku ketika kami sedang duduk di depan toko es krim Florean Frotescue. Ron terlihat lebih jangkung dari biasa dan kulitnya kelihatan sangat coklat. Tetapi matanya, masih mata biru langit tak berawan yang sama seperti biasanya, dan bintik-bintik diwajahnya kelihatannya bertambah. Oh Merlin! Apakah aku menghitung bintik-bintik di wajah Ron? Aku kelihatan seperti petugas sensus saja.
"Ada apa denganmu? Kau memberenggut saat memandangku," tanya Ron, memandangku dengan heran.
"Tidak, aku sedang memikirkan sesuatu," kataku, mencari-cari topik pembicaraan lain di kepalaku sebelum aku bilang padanya bahwa aku sedang menghitung bintik-bintik di wajahnya.
"Apa?" tanya Ron.
"Harry..." kataku cepat. Ya, berbicara tentang Harry rasanya pas untuk saat-saat seperti ini.
"Dia akan baik-baik saja. Mereka kan tidak menghukumnya. Dia kan ― tahu kan? Harry Potter yang terkenal. Semua orang bersikap sedikit lunak padanya."
"Tapi apa yang membuat Harry menggembungkan bibinya?" Ron telah bercerita tentang Harry yang menggembungkan bibinya saat kami sedang berbelanja keperluan Hogwarts kami.
"Aku sudah bilang aku tidak tahu, Hermione. Tapi aku juga mungkin akan marah kalau aku tinggal bersama orang-orang seperti keluarga Harry itu. Kau sudah mendengarnya bercerita tentang sepupunya kan?"
"Ya, memang ada orang yang sangat tidak menyenangkan," kataku, teringat Vernon Dursley yang super gemuk.
"Omong-omong, Harry tidak kelihatan, ya, padahal mereka mengatakan bahwa dia sudah berangkat ke Diagon Alley," kata Ron, memandang orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami.
Mom, Dad dan aku tiba di Leaky Cauldron bersamaan dengan keluarga Weasley. Setelah itu mereka berpamitan dan berangkat kembali ke tempat praktek mereka di Harley Street. Ron dan aku menghabiskan pagi kami dengan berbelanja semua keperluan Hogwarts dan sekaligus mencari Harry di kerumunan orang. Tetapi kami tidak berhasil menemukannya, padahal Tom, pemilik Leaky Cauldron mengatakan bahwa Harry telah berangkat ke Diagon Alley.
"Apakah Harry sudah kembali ke Leaky Cauldron?" tanyaku, ikut memandang berkeliling.
"Bisa jadi," kata Ron, memutar kepalanya dan memandang tas-tas besar di dekat kakiku.
"Kau belum bilang untuk apa kau membeli semua buku-buku itu, Hermione," tanya Ron, mengingatkanku tentang pertanyaan yang sudah ditanyakannya berulang-ulang kali sepanjang hari ini.
"Aku akan mengambil banyak pelajaran tahun ini," jawabku bosan.
"Seperti yang pernah kukatakan padamu, Hermione. Kau akan jadi botak sebelum berumur dua puluh tahun."
"Terserahlah! Oh! Itu Harry... Harry...Harry!" aku melambaikan tangan memanggil seorang anak berkaca mata dan berambut hitam
Harry yang tampak bengong sesaat, terlihat gembira dan berjalan menuju tempatku dan Ron.
"Akhirnya," kata Ron, nyengir pada Harry ketika dia duduk di dekat Ron dan aku. "Kami ke Lealy Cauldron, tapi mereka bilang kau sudah pergi, dan kami ke Flourish and Blotts dan Madam Malkin, dan..."
"Aku sudah beli semua keperluan sekolahku minggu lalu," Harry menjelaskan. "Bagaimana kau tahu aku tinggal di Leaky Cauldron?"
"Dad," jawab Ron singkat.
"Apakah kau benar-benar telah menggembungkan bibimu, Harry?" tanyaku dengan sangat serius.
Ron tertawa.
"Aku tidak sengaja," jawab Harry. "Aku―kehilangan kendali."
"Tidak lucu, Ron," kataku mendelik pada Ron.
Ron tidak begitu peduli dengan orang lain, apa lagi keluarga Harry yang dianggapnya adalah orang kejam. Dia selalu berpikir bahwa apa yang Harry lakukan adalah sesuatu yang lucu. Kadang-kadang aku tidak bisa mengerti selera humur Ron, yang menurutku aneh.
Ron POV
Aku memegang Scabber dengan erat. Tikusku ini terlihat sangat kurus dan letih. Dia sudah seperti ini saat kami pulang dari Mesir. Entah apa yang terjadi dengannya.
Scabber adalah satu-satunya hewan peliharaanku (warisan Percy) yang selalu menemaniku selama bertahun-tahun ini. Meskipun tidak pernah menunjukkan tanda-tanda sebagai hewan gaib, tapi dia adalah binatang yang cukup pengertian. Dia akan melakukan apapun yang aku katakan. Aku tahu dia sudah sangat tua dan mungkin hidupnya tidak lama lagi. Aku mungkin akan sedih kalau dia mati.
"Makhluk apa tadi?" tanyaku, setelah kami kami menemukan Scabber di bawah tempat sampah depan toko Peralatan Quidditch Berkualitas. Scabber telah melarikan diri dari makhluk berwarna jingga di toko Magical Menagerie.
"Kalau bukan kucing yang besar sekali, ya harimau kecil," jawab Harry.
"Di mana Hermione?"
"Mungkin sedang membeli burung hantunya."
Kami melewati jalan yang penuh sesak kembali ke Magical Menagerie. Setibanya kami di sana, Hermione keluar, tapi tidak membawa burung hantu. Tangannya memeluk erat kucing jingga itu.
"kau membeli monster itu?" tanyaku, ternganga.
"Dia keren, ya?" kata Hermione, berseri-seri.
Aku menatap kucing itu, masih ternganga. Kucing itu sama sekali tidak keren. Kakinya bengkok dan mukanya gepeng, seperti baru saja menabrak tembok.
"Hermione, binatang itu nyaris menguliti kepalaku!" kataku sebal.
"Dia kan tidak sengaja, iya kan, Crookshanks?" kata Hermione tersenyum pada si Gepeng.
"Lalu bagaimana Scabbers?" tanyaku menunjuk tonjolan di sakuku. "Dia perlu istirahat dan santai! Bagaimana dia bisa istirahat dan santai kalau ada makhluk itu?"
"Aku jadi ingat, Tonik Tikus-mu ketinggalan," kata Hermione, menjejalkan botol merah kecil ke tanganku. "Dan jangan khawatir Crookshanks akan tidur di kamarku dan Scabber di kamarmu. Apa masalahnya? Kasihan Crookshanks. Si penyihir tadi bilang dia sudah di toko lama sekali, tak ada yang mau membelinya."
"Kenapa, ya?" tanyaku, sinis. Aku bisa meramalkan bahwa tahun ini adalah tahun penuh pertengkaran kalau Hermione tetap mempertahankan si Gepeng itu.
Hermione POV
Kami akhirnya bertemu juga dengan di pengawal Azkaban, Dementor. Makhluk mengerikan yang menyedot semua kebahagian dan mengantinya dengan sesuatu yang menyedihkan. Saat Dementor itu masuk ke kompartemen kami, aku merasakan kedinginan dan kehampaan. Perasaan hampa yang pernah kualami saat Mom dibawa ke rumah sakit karena kecelakan lalu lintas di Harley Street. Saat itu aku sangat takut Mom akan pergi selamanya dan meninggalkan Dad dan aku.
Tetapi aku tidak sampai pingsan seperti Harry. Dia yang telah mengalami berbagai teror mengerikan waktu kecil pastilah sangat menderita. Ron dan Neville terlihat pucat dan gemetar, tapi Ginny terisak kecil di sebelahku. Aku memeluknya dan menenangkannya. Ginny mungkin teringat saat-saat di kamar rahasia itu.
Ketika kami tiba di Hogwarts, McGonagall memanggilku dan Harry ke kantornya. Madam Pomfrey datang memeriksa Harry dan menyuruhnya pergi setelah yakin dia baik-baik saja.
"Nah, Miss Granger," kata McGonagall setelah Harry dan Madam Pomfrey keluar. "Aku telah mendapat Pembalik-Waktu dari Kementrian Sihir. Kau harus bersumpah untuk tidak menceritakan pada siapa-siapa tentang Pembalik-Waktu ini."
"Saya bersumpah tidak akan menceritakan tentang Pembalik-Waktu ini pada siapapun," kataku. Aku memang sangat ingin mendapatkan Pembalik-Waktu ini karena aku mengambil banyak sekali pelajaran tahun ini.
"Sangat susah mendapatkan Pembalik-Waktu ini, Miss Granger. Aku harus mengatakan bahwa kau murid teladan dan bahwa kau tidak akan pernah menggunakannya untuk hal lain kecuali pelajaran."
"Benar, Profesor. Saya hanya akan menggunakannya untuk mengikuti pelajaran."
"Satu hal yang harus kau ingat, Miss Granger, kau tidak boleh terlihat."
"Saya mengerti, Profesor."
McGonagall mengangguk kemudian mengeluarkan sebuah jam pasir kecil dari sebuah kotak. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengetuk jam pasir itu, sehingga jam pasir itu kini memiliki rantai panjang yang bisa dikalungkan di leher.
Dia memberikannya padaku dan aku langsung mengalungkan jam pasir itu ke leherku.
"semoga tahun ini beruntung," kata McGonagall, memberikan senyum langkanya padaku kemudian kami berjalan ke Aula Besar.
Ron POV
Sial! Mengapa juga aku mengambil pelajaran yang aneh ini. Yang kumaksudkan adalah pelajaran Ramalan. Pelajaran ini cuma omong kosong saja. Aku tidak bisa membaca bentuk aneh pada daun tehku dan aku juga tidak tertarik pada uap panas yang mengepul dari poci teh di atas meja-meja. Tetapi yang sangat mengejutkan aku adalah Grim itu.
Harry dan Grim adalah dua kata yang mungkin tidak cocok, tapi siapa tahu. Siapa tahu Harry memang pernah melihat Anjing Kematian itu di suatu tempat.
"Harry," kataku, saat kami sedang makan siang. "Kau tidak melihat anjing hitam di suatu tempat akhir-akhir ini kan?"
"Aku lihat," kata Harry. "Aku melihatnya pada malam meninggalkan rumah keluarga Dursley."
Aku langsung menjatuhkan garpuku. Terkejut, kalau Harry memang sudah melihatnya berarti, berarti Harry bisa...
"Mungkin anjing kesasar," kata Hermione, membuatku langsung sebal.
"Hermione, kalau Harry sudah melihat Grim, itu―itu buruk. Pa―pamanku Bilius melihat Grim―dan dia meninggal dua puluh empat jam kemudian!"
"Itu kebetulan," kata Hermione ringan.
"Kau tidak mengerti apa yang kau omongkan!" kataku marah. "Grim membuat sebagian besar penyihir ketakutan setengah mati!"
"Nah itu dia," kata Hermione dengan nada menang. "Mereka melihat Grim dan mati ketakutan. Grim itu bukan pertanda, melainkan penyebab kematian! Dan Harry masih bersama kita karena dia tidak cukup bodoh sehingga setelah melihat Grim lalu berpikir, Baik, lebih baik aku meninggalkan dunia fana ini sekarang."
Aku memandang Hermione dengan tidak percaya. Oke, baiklah, aku tahu dia pintar dan akan menang dalam setiap perdebatan manapun, tapi soal Grim ini adalah bukan soal otak yang pintar melainkan hal-hal gaib yang terjadi di sekeliling kita.
"Menurutku," lanjut Hermione, "... Ramalan sangat tidak jelas. Terlalu banyak menebak-nebak."
"Tak ada yang tidak jelas sejas soal Grim di cangkir itu!"
"Kau tidak seyakin ini waktu memberitahu Harry itu biri-biri," kata Hermione dingin.
"Profesor Trelawney bilang kau tidak memiliki aura yang tepat! Kau tak suka karena kau tidak nomor satu!"
Hermione memandangku dengan sangat marah. Dia membanting buku Arithmancy-nya di meja.
"Kalau supaya pintar di pelajaran Ramalan berarti aku harus berpura-pura melihat pertanda kematian di sejumput daun teh, aku tak yakin aku mau mempelajarinya lebih jauh lagi! Pelajaran itu sampah dibanding Arithmancy-ku."
Dia menyambar tasnya dan pergi.
Aku mendengus tidak percaya. Hermione memang susah diyakinkan mengenai hal-hal yang tidak ada dalam buku. Kita harus menunjukkan bukti hitam di atas putih di bawah hidungnya untuk pembuatnya percaya pada satu hal.
Hermione POV
Aku tidak bicara dengan Ron. Ron yang bodoh dan percaya takhayul sangat membuatku frustrasi. Mengapa dia percaya pada Grim, yang menurutku sama sekali tidak nyata itu? Apakah masih banyak takhayul penyihir yang tidak kuketahui?
Tetapi esoknya aku bicara lagi dengannya. Kami melupakan perseteruan kami tentang Grim demi Hagrid, yang pada pelajaran pertamanya mengalami shock hebat gara-gara si brengsek Malfoy. Malfoy mengerang-ngerang seperti orang kesurupan gara-gara Buckbeak mencakarnya. Aku yakin dia tidak apa-apa, dia cuma ingin mencari-cari alasan untuk mengacaukan pelajaran Hagrid.
Pelajaran Profesor Lupin adalah pelajaran yang sangat bagus, tapi aku tidak mendapat kesempatan untuk mencoba Boggart itu.
"Apa kira-kira yang mebuatmu takut? PR yang cuma dapat nilai sembilan bukannya sepuluh," kata Ron mengejek.
"Kalau kau apa, Ron! Laba-laba! Itu sama sekali tidak mengerikan. Kan bisa diinjak langsung mati," balasku jengkel.
Wajahnya langsung merah padam. Bagus! Tahun ini memang tahun yang parah untuk kami karena sepertinya kami akan bertengkar setiap hari.
Ron POV
Hermione dan aku bertengkar lagi malam ini. Kali ini adalah soal Si Gepeng yang entah kenapa ingin sekali menangkap Scabber.
"Crookshanks tidak mengerti perbuatannya itu salah!" kata Hermione malam itu. "Semua kucing mengejar tikus, Ron!"
"Ada yang aneh dengan kucing itu!" kataku, berusaha membujuk Scabbers untuk diam. "Dia mendengar aku bilang Scabbers ada dalam tasku!"
"Oh, omong kosong," kata Hermione tidak sabar. "Crookshanks bisa mengendusnya, Ron, kalau tidak mana mungkin dia..."
"Kucing itu benci sekali pada Scabbers! Scabbers yang lebih dulu ada di sini dan dia sakit!" kataku jengkel dan berjalan ke kamar anak laki-laki diringin kikik geli anak-anak yang menonton pertengkaran kami.
Oh, bagus! Tertawalah karena kami sedang melawak, pikirku sinis.
000
Aku tidak bicara pada Hermione sepanjang hari keesokan harinya. Dan pertengkaran kami semakin menjadi-jadi karena melibatkan Binky, kelinci Lavender dan McGonagall yang tidak mengijinkan Harry pergi ke Hogsmeade. Aku mengata-ngatai McGonagall membuat Hermione semakin marah.
Pada saat akan berangkat ke Hogsmeade aku lupa bahwa aku tidak bicara dengannya. Kami berangkat ke Hogsmeade sambil membicarakan Harry.
"Kan masih ada tahun depan," kata Hermione, ketika kami berjalan menyusuri jalanan ke Hogsmeade yang dipenuhi daun-daunan yang berguguran.
"Tapi tidak asyik kalau Harry tidak bersama kita," kataku. Kasihan Harry, aku akan membelikannya permen dan manisan yang banyak.
"Sudahlah Ron, jangan bertampang suram terus, kau akan membuat hari ini jadi buruk."
"Benar juga... ayolah," kataku menyambar tangan Hermione. "Kita harus cepat-cepat menyusul yang lain."
Hermione POV
Ron dan aku berjalan ke Hogsmeade dengan bergandeng tangan. Aku merasa bahwa hal ini sangat aneh. Maksudku, kami cuma berdua, jadi kami kelihatan seperti sedang berkencan. Kalau Harry ada kami tidak perlu berduaan seperti ini. Entah mengapa aku jadi sedikit gugup.
"Weasley dan Granger," kata sebuah suara cempreng di belakang kami.
Pansy Parkinson, cewek Slytherin, yang mirip anjing pesek lewat di sebelah kami bersama tiga cewek Slytherin yang suka mengikik.
"Sedang berkencan, nih? Aku tidak tahu kau suka pada Raksasa Merah ini, Granger... dan kau, Weasley, bisa-bisanya kau mau bergandengan tangan dengan Muggle," kata Parkinson dengan menghina.
Aku langsung berusaha melepaskan tanganku dari Ron, tapi dia memegang tanganku dengan erat.
"Bukan urusanmu, Parkinson..." kata Ron, memandang Parkinson dengan sebal.
Parkinson dan ketiga temannya terkikik dan berjalan meninggalkan kami.
"Cewek menyebalkan!" kata Ron, memandang sosok mereka yang menghilang dikejauhan.
"Mereka benar, Ron... mengapa kau mau bersama dengan aku, seorang Muggle?"
"Kau penyihir, Hermione," katanya tajam. "Jangan mulai berpikir yang aneh-aneh dan jangan biarkan cewek-cewek dungu itu membuatmu merasa rendah diri. Kau lebih berharga dari sepuluh orang cewek-cewek kayak mereka."
"Terima kasih, Ron," kataku tersenyum. Ron memang sangat pandai menghiburku, tapi dia juga sangat pandai membuatku jadi cewek jutek.
Hogsmeade adalah desa sihir khas Inggris yang sangat indah. Toko-toko berderet-deret di sepanjang jalan utama dan penyihir-penyihir dari seluruh Inggris dengan jubah panjang segala warna datang ke sana untuk berbelanja atau sekedar minum-minum. Sebagai penyihir kelahiran Muggle, tentu saja aku belum pernah melihat desa murni penyihir. Desa ini sangat membuatku terpesona. Aku melirik Ron dan dia tampaknya tidak peduli dengan pemandangan desa Hogsmeade yang indah.
"Desa ini sangat indah,"
"Oh ya, memang... ayo ke Honeydukes."
Di Honeyduke, kami menghabiskan tiga puluh menit waktu kami dengan icip-icip permen baru yang dibagikan gratis. Kemudian kami mengunjungi toko-toko lain. Kami tidak membeli sesuatu, tapi cuma sekedar melihat-lihat menghabiskan waktu.
"Ayo kita ke Shrieking Shack―Gubuk Menjerit," kataku, setelah kami keluar dari toko terakhir. Aku sangat ingin melihat tempat yang katanya paling banyak hantu di seluruh Inggris.
Kami berjalan agak jauh ke luar desa mendaki lereng bukit untuk ke Shrieking Shack. Pondok itu letaknya agak jauh dari rumah-rumah lain di desa itu, dan bahkan di siang hari seperti ini pondok itu terlihat suram dan mengerikan dengan jendela yang tertutup papan, tembok yang cat-nya sudah mengelupas dan kebun yang lembab dipenuhi tumbuhan liar.
"Bisakah kita berdiri lebih dekat?" tanyaku, saat kami sedang bersandar dipagar dan memandang pondok itu.
"Hah?" Ron mengangkat alisnya.
"Eh, maksudku lebih dekat ke Pondok itu," kataku dengan wajah memerah. Kata-kataku tadi memang bisa berarti ganda.
Ron kelihatannya tidak peduli dan berkata,
"Hantu-hantu Hogwarts juga menghindari tempat ini. Menurut Nick si Kepala-Nyaris-Putus, di pondok ini tinggal hantu-hantu kasar. Tak seorang pun bisa masuk. Fred dan George pernah mencobanya, tentu saja, tetapi semua jalan masuknya telah disegel."
Aku memandang pondok itu dengan tertarik dan bertanya dalam hati, mengapa tidak ada yang pernah mengusir hantu-hantu di tempat ini? Apakah tempat ini sengaja dibiarkan kosong dan berhantu agar bisa dijadikan objek wisata Hogsmeade?
"Kita ke Broomstick saja, yuk," kata Ron, setelah beberapa saat.
Aku mengangguk, kami kembali ke jalan utama dan masuk ke sebuah rumah minuman yang penuh sesak dengan murid-murid Hogwarts. Setelah kami membeli minuman, kami duduk di meja yang terletak di tangga. Dari tempat itu kami bisa memandang pintu masuk dan memandang orang-orang yang masuk keluar rumah minum itu dan bar.
"Minuman ini benar-benar hangat," kataku setelah meneguk minuman. Aku memandang Ron dan melihatnya sedang asyik memandang Madam Rosmerta pelayan bar yang montok dan berwajah manis.
Aku mendengus jengkel. Ada apa sih denganku? Mengapa aku selalu mendengus seperti kuda?
"Ada apa?" tanya Ron, mengalihkan pandangannya dari bar padaku.
"Kau menyukai ibu-ibu itu?" tanyaku jengkel, memandang Madam Rosmerta.
"Ibu-ibu? Hermione, kau bercanda? Mungkin umur-nya baru sekitar 30-an," kata Ron, memandangku sekilas, kemudian kembali lagi memandang Madam Rosmerta.
"Tigapuluhan? Kau yang bercanda, Ron... di mataku dia sudah seperti nenek-nenek," kataku sebal.
Ron mengangkat bahu dan tidak mempedulikanmu. Sibuk memandang Madam Rosmerta.
Ron POV
Malam itu Sirius Black masuk ke dalam kastil, tidak ada yang tahu pasti bagaimana dia bisa masuk ke dalam kastil yang terlindung ini, tapi semua orang merasa was-was dan ketakutan. Aku sebenarnya sangat mencemaskan Harry, tapi Harry kelihatannya tidak begitu peduli bahwa ada pembunuh kejam sedang mengejarnya. Dia lebih tertarik pada pertandingan Quidditch Gryffindor versus Hufflepuff.
Pertandingan kali ini memang sedang heboh-hebohnya di kalangan cewek-cewek karena kapten baru Hufflepuff, merangkap seeker adalah cowok cakep bermata abu-abu, Cedric Diggory. Bahkan Hermione, si penggemar cowok tampan, terpesona pada Diggory, seperti pada Gilderoy―aku sangat ganteng―Lockhart.
Pertandingan dalam cuaca buruk ini mengakibatkan kekalahan Gryffindor. Harry terjatuh dari sapunya dan harus terbaring di rumah sakit selama beberapa waktu. Malfoy dan Tim Quidditch Slytherin merasa senang melihat kekalahan Gryffindor. Malfoy merayakannya dengan membuka perbannya dengan penuh kemenangan, kemudian menirukan cara Harry terjatuh dari sapunya membuat Darco Malfoy and the Gang tertawa terbahak-bahak. Pada pelajaran Ramuan berikutnya, Malfoy menghabiskan waktunya dengan menirukan Dementor membuatku jengkel dan melemparnya dengan hati buaya yang besar dan licin sehingga tepat kena mukanya. Si Rambut-Berminyak Snape langsung mengurangi lima puluh angka Gryffindor.
Hermione POV
"Ron, dengarkan aku..." aku berusaha berbicara pada Ron, pada pagi hari Natal di ruang rekreasi yang sepi. Anak-anak Gryffindor telah pulang untuk merayakan Natal dengan keluarga mereka masing-masing.
"Hermione, kau sudah mengatakan bahwa kita perlu membujuk Harrry untuk tidak mengejar Black... apa lagi?" tanya Ron bosan.
Saat kunjungan terakhir di Hogsmeade, dengan Harrry muncul karena mendapat Peta Perampok dari Fred dan George, kami akhirnya tahu bahwa James dan Lily Potter meninggal karena sahabat mereka Sirius Black berkhianat.
"Ron, kita tahu Harry biasanya nekat... kita harus berusaha keras untuk membujuknya."
"Hermione, aku sudah tahu..."
"Kita harus berbicara pada Harry dengan perlahan dan mencoba memberinya pengertian dan..."
"Hermione, aku sudah tahu... kau telah mengatakan ribuan kali."
Syukurlah, pikiran Harry akhirnya teralihkan oleh berita tentang Buckbeak yang akan dieksekusi. Dia terlalu sibuk mencemaskan Hagrid sehingga dia tidak mencoba untuk mencari Black. Kasihan Buckbeak... aku tidak dapat melakukan apa-apa untuknya, yang dapat aku lakukan adalah mencoba untuk mencari data-data, sebagai bahan dasar pembelaan Buckbeak.
Setelah itu sesuatu yang benar-benar buruk terjadi, Harry mendapat kiriman sebuah sapu mahal. Aku curiga itu dari Sirius Black. Karena dia ingin membunuh Harry, bisa saja dia juga memantrai sapu itu dan membuat Harry terjatuh dari sapu dan mati. Aku menceritakannya pada McGonagall, setelah itu Harry dan Ron tidak bicara denganku. Mereka menyalahkanku karena sapu itu.
Ron POV
Si Gepeng telah menelan Scabber―dan Hermione sama sekali tidak peduli. Dia tetap membela kucing aneh itu dan tidak menerima bahwa kucingnya telah menelan Scabber. Aku tidak bisa memaafkannya selamanya. Persahabatan kami telah berakhir. Aku tidak akan bisa berteman dengan orang yang tidak mengakui bahwa kucingnya telah memakan Scabbers.
"Ron, kita harus membicarakan hal ini dengan baik..." kata Hermione, mengikutiku keluar dari ruang rekreasi Gryffindor saat aku sedang keluar untuk menonton Harry berlatih Quidditch.
"Apa, Hermione?" tanyaku tajam, berbalik menatapnya.
"Kukira ini bukan salah Crookshacks... Scabbers memang sudah sakit sebelum dia bertemu Crookshacks dan mungkin saja dia mati dengan tenang."
"Mati Dengan Tenang?" desisku, melototinya. "Dalam perut kucing sialan itu, tentu saja."
"Dengar! Bisakah kita melupakan masalah kucing dan tikus ini?"
"Aku akan melupakannya kalau kau mengakui bahwa kucing sialan itulah yang telah memangsa Scabbers."
"Aku tidak akan mengakuinya karena kau tidak punya bukti, Ron... bulu Crookshanks bisa saja sudah ada di sana sebelum Natal."
"Oh ya, baik! Tapi aku sedang tidak ingin bicara denganmu... pergilah, Hermione, jangan dekati aku lagi," kataku, lalu berjalan pergi meninggalkannya.
"Ron..." dia mengejarku. "Kumohon, Ron! Kita tidak boleh seperti ini...kita tidak boleh bersikap kekanak-kanakan karena Harry membutuhkan kita di masa sulitnya ini."
Aku berhenti dan dia menabrakku. Dengan gesit aku menahannya agar tidak terjatuh. Walaupun kami tidak mau bicara dengannya, aku tidak ingin dia terluka.
"Kau masih peduli pada Harry setelah apa yang kau lakukan dengan Firebolt itu?" tanyaku, setelah membuatnya berdiri dengan kedua kakinya lagi.
"Aku tidak menyesal soal Firebolt itu," katanya dengan dagu terangkat. "Aku tahu sapu itu pasti dari Sirius Black."
"Tidak ada sihir hitam pada sapu itu, Hermione."
"Tapi, siapa tahu, kan?"
"Oh, sudahlah! Pergilah, Hermione... jangan dekat-dekat aku," kataku, lalu berjalan lagi dengan cepat.
"Ron, tunggu..." dia menyusulku. "Ron, bisakah kita melupakan perseteruan kita di depan Harry."
"Jangan bawa-bawa Harry dalam masalah ini, oke! Dia tidak keberatan kalau kita tidak bicara satu sama lain. Jadi lebih bagus kalau kita selamanya tidak bicara... menjauhlah dariku."
Hermione terpaku memandangku. Aku tidak peduli dan berjalan meninggalkannya.
Hermione POV
Ron dan Harry tidak bicara denganku. Ron bahkan membenciku karena Scabbers. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku telah berbicara dengannya tapi dia tidak mempedulikan aku. Entah mengapa aku merasa bahwa ini adalah masa-masa paling suram dalam hidupku. Ron membenciku dan aku harus menghadapi tahun yang sulit dengan semua pelajaran yang kuambil, setelah itu masalah Buckbeak yang sangat menyedihkanku.
Aku tidak ada waktu untuk memikirkan mengapa setiap malam aku menangis, mengapa wajah Ron yang jijik dan marah padaku selalu terbayang dalam ingatanku. Aku tidak ada waktu untuk semua itu. Aku harus belajar dan belajar...
Teriakan keras terdengar malam itu saat aku sedang tidur di kamar anak-anak perempuan. Aku baru tidur beberapa menit yang lalu dan masih setengah tertidur. Aku mendengar gerakan-gerakan di sekelilingku, rupanya Parvati dan Lavender telah bergerak bangun menuju ruang rekreasi. Aku belum bisa bangun karena mataku terasa berat―aku benar-benar mengantuk.
"BUKAN MIMPI BURUK!" jeritan Ron terdengar, membuatku langsung bergerak bangun dan menyeret diriku yang lelah ke ruang rekreasi. "PROFESOR, SAYA TERBANGUN, DAN SIRIUS BLACK BERDIRI DI ATAS SAYA, MEMEGANG PISAU."
Aku tiba di ruang rekreasi saat Profesor McGonagall berkata, "Jangan ngaco, Weasley, bagaimana mungkin dia bisa melewati lubang lukisan?"
"Tanya saja dia!" kata Ron, menunjuk dengan jari gemetar ke bagian belakang lukisan Sir Cadogan. "Tanya dia apakah dia melihat..."
Ternyata Sirius Black masuk lagi ke dalam kastil dan dia berhasil lolos lagi. Aku memandang Ron dengan sangat khawatir. Aku tidak ingin Ron terluka atau bahkan terbunuh. Walaupun dia membenciku, tapi aku tetap khawatir kalau sesuatu yang buruk menimpanya.
Ron POV
Aku akhirnya berdamai dengan Hermione. Aku tidak tega melihatnya menangis gara-gara Buckbeak yang akan segera dibantai.
"Kau tak harus mengerjakan semuanya sendiri sekarang, Hermione. Aku akan membantu," kataku setelah Hermione bercerita tentang Buckbeak yang akan segera dibantai.
"Oh Ron!" kata Hermione merengkul leherku dan menangis tersedu-sedu. Aku membelai rambutnya dengan canggung.
"Ron, aku sungguh minta maaf soal Scabbers..." kata Hermione setelah melepaskan diri.
"Oh―yah―dia toh sudah tua," kataku.
Tidak apa-apa, aku bisa membeli Scabbers sebanyak-banyaknya, tapi aku tidak bisa melihat Hermione meneteskan airmata.
Hermione POV
"Lihat, dia menangis!" terdengar suara Draco Malfoy, menunjuk Hagrid yang sedang berjalan kembali ke pondoknya di halaman. Malfoy rupanya telah mendengarkan pembicaran kami tentang Buckbeak dari balik pintu kastil.
"Pernahkah kau melihat sesuatu yang sekonyol itu?" kata Malfoy lagi. "Mana bisa orang konyol begitu jadi guru kita."
Tubuhku terasa panas membara. Orang Konyol! Dia bilang Hagrid orang konyol! Aku bergerak cepat dan menamparnya dengan sekuat tenaga dipipinya yang pucat. Dia terhuyung, sementara Crabbe dan Goyle memandangku dengan bingung.
"Jangan Berani-berani kau mengatai Hagrid konyol lagi, kau anak brengsek―jahat..." kataku marah. Aku memberinya tatapan paling menakutkan. Aku tidak akan membiarkannya mempermainkan Hagrid atau siapapun. Aku tidak takut pada Draco Malfoy and the Gang―mereka tidak akan bisa menjadikanku bahan ejekan atau permaianan mereka. Malfoy bergerak mundur dan memberi isyarat pada kedua kroninya untuk meninggalkan kami.
Aku sangat marah dan masih marah saat aku kembali ke ruang rekreasi sehingga lupa mengikuti kelas Mantra. Aku masih marah saat mengikuti kelas Ramalan, sehingga aku merasa jengkel pada Profesor Trelawney yang selalu mengatakan bahwa Grim mengikuti Harry ke mana pun dia pergi. Aku sudah tidak bisa lagi mengikuti kelas yang tidak berguna ini. Waktuku bisa aku gunakan untuk mengikuti kelas lain yang lebih penting dari pada kelas Ramalan ini. Lagi pula ujian sudah semakin dekat.
Aku tahu aku mengikuti semua ujian dengan baik. Namun, saat mengikuti ujian Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam aku terkejut waktu masuk ke dalam lemari berisi Boggart. Boggart itu berubah jadi Ron yang berkata dengan dingin dan kejam bahwa dia tidak mau lagi mengenalku untuk selama-lamanya. Dia ingin aku pergi jauh darinya dan tidak boleh dekat-dekat dengannya lagi. Aku merasa sekujur tubuhku dingin, tidak...tidak ini bukan Ron... ini Boggart!
"Darah-Lumpur!" teriak Ron-Boggart. "Kau adalah orang yang paling jelek dan tidak berguna yang pernah kutemui. Aku menyesal pernah mengenalmu."
Aku berlari keluar sambil berteriak. Airmataku jatuh berlinang dipipiku. Aku memandang berkeliling dan melihat bahwa anak-anak lain sedang memandangku dengan tertarik. Aku tidak bisa mengatakan pada semua orang bahwa Boggart-ku adalah Ron yang membenciku. Kemudian aku teringat pada kata-kata Ron dulu.
"Apa kira-kira yang mebuatmu takut? PR yang cuma dapat nilai sembilan bukannya sepuluh"
Ya, aku bisa mengatakan pada mereka itu. Itu adalah Boggart yang cocok untukku, bukan Boggart yang tadi.
"Hermione!" kata Lupin, terperanjat dan berlari mendapatkanku. "Ada apa?"
"P-p-profesor McGonagall!" kataku tersendat. "Dia bilang semua ujianku tidak lulus."
Ron tertawa dengan keras saat aku bercerita pada mereka soal Boggart itu. Ya, Ron, tertawalah terus! Kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya kan?
Ron POV
Orang-orang brengsek dari Komite Pemunah Satwa Berbahaya telah datang untuk membantai Buckbeak. Aku benar-benar sangat kecewa padahal aku telah menyiapkan pembelaan untuknya. Aku pikir akan ada naik banding, ternyata yang ada adalah mereka membawa algojo mereka dan berniat membantai Buckbeak saat itu juga.
Harry, Hermione dan aku mengunjungi Hagrid malam itu dan bermaksud untuk menghiburnya, tapi kami terpaksa kembali karena kami akan mendapat masalah besar kalau mereka melihat kami berkeliaran di luar kastil.
Malam ini adalah malam sial-ku, setelah berhasil menemukan Scabber di pondok Hagrid aku malah diseret oleh anjing besar dan dibawa masuk ke dalam Dedalu Perkasa―dan anjing itu adalah animagus yang bernama Sirius Black.
"Tetap di tempatmu!" kata Sirius Black, saat aku sedang berusaha bangkit dari lantai di sebelah tempat tidur besar. "Kakimu patah..." dia memandang kakiku.
"AKU TIDAK PEDULI!" aku menjerit. "Kau ingin membunuhku? Bunuh saja, silahkan!"
"Aku tidak akan membunuhmu," kata Black terdengar tenang. Dia memberikan pandangan prihatin pada kakiku. Matanya yang cekung dan rambutnya yang riap-riap membuatnya kelihatan seperti Vampir kerasukan.
"Mengapa kau tidak mau membunuhku?"
"Karena tidak ada untungnya bagiku... kita akan menunggu Harry."
"Jadi kau membawaku ke mari agar Harry datang? Asal tahu saja, Harry tidak akan datang."
"Aku tahu dia pasti datang... seperti James yang akan selalu datang untuk menyelamatkanku pada setiap kesempatan."
"James Potter yang telah kau khianati... menjijikkan!" Aku memberikan pandangan paling menghina padanya.
"Tahu tidak, Ron―namamu Ron kan? Kau itu agak mirip denganku."
"AKU TIDAK SUKA DISAMAKAN DENGANMU... aku tidak mau disamakan dengan Tawanan Azkaban... Pembunuh Gila..."
"Kita sama-sama Darah-Pengkhianat dan sama-sama berteman dengan Potter... dan kita sama-sama bersedia mati untuk sahabat kita."
"Oh ya, kau bersedia mati untuk sahabatmu juga? Hebat sekali caramu menunjukkannya."
"Kita juga sama-sama tidak peduli dengan peraturan yang ada... kita suka melanggar peraturan," kata Black, mengabaikan sindiranku.
"Aku tetap tidak suka disamakan denganmu," kataku berkeras.
"Kau tidak tahu kisah sebenarnya," kata Black, mendesah.
"Aku tahu semua, Black... aku tahu bahwa―"
Kemudian kami mendengar gerakan di lantai bawah.
"Itu Harry..." kata Black senang.
"Aku tidak akan membiarkanmu membunuhnya... kau harus membunuhku dulu sebelum membunuh Harry."
Black tersenyum suram.
Pintu terbuka lebar, Harry dan Hermione berlari masuk mendekatiku.
"Ron, kau tak apa-apa?" tanya Hermione, mencoba memeriksa kakiku.
"Di mana anjingnya?" tanya Harry.
"Bukan anjing," jawabku meratap. Aku berusaha menahan sakit pada kakiku yang patah. "Harry, ini jebakan..."
"Apa?"
"Dia anjingnya... dia Animagus..."
Hermione POV
Aku dapat menjalani tahun ini dengan baik. Semua beres―Sirius Black dan Buckbeak telah kabur bersama. Ron dan aku sudah berdamai dan aku telah mengembalikan Pembalik Waktu. Aku tidak bisa menjalani tahun mengerikan lagi. Aku akan memiliki tahun yang normal. Dan aku sedih karena Profesor Lupin berniat meninggalkan Hogwarts. Dia tidak mau mengajar karena semua orang di Hogwarts sudah tahu bahwa dia adalah Manusia Serigala.
Tetapi hal yang menyenangkan muncul saat kami tiba di peron sembilan tiga perempat, Stasiun King's Cross. Ron mengajakku menonton Piala Dunia Quidditch. Aku senang karena Ron tidak mengundang Harry saja. Walaupun dia tahu aku tidak suka Quidditch, tapi dia tetap mengundangku. Terima kasih, Ron...
Pertemuan di depan toko es krim Florean Frotescue: Harry Potter dan Tawanan Azkaban hal. 76
Bertemu Crookshanks: Harry Potter dan Tawanan Azkaban hal. 81-82
Pertengkaran tentang Grim: Harry Potter dan Tawanan Azkaban hal. 142-143
Pertengkaran tentang Crookshanks: Harry Potter dan Tawanan Azkaban, hal. 185
Pembicaraan Ron dan Profesor McGonagall setelah Sirius Black masuk ke kamar anak laki-laki: Harry Potter dan Tawanan Azkaban, hal. 330.
Ron dan Hermione berdamai: Harry Potter dan Tawanan Azkaban, hal. 360.
Boggart Hermione: Harry Potter dan Tawanan Azkaban, hal. 392
Dalam Shrieking Shack: Harry Potter dan Tawanan Azkaban, hal 415
READ AND REVIEW, PLEASE... I REALLY APPRECIATE IT! Maaf karena tidak bisa membalas Review, tapi aku sangat menghargainya... terima kasih! :D Silakan baca Kisah Draco dan Ginny karena kisah ini saling berhubungan.
Next Chapter: Tahun keempat Ron dan Hermione di Hogwarts
Riwa Rambu : D
