Terima kasih untuk Review-nya... Tetap Review, ya... Selamat Membaca :D
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.
Note: Beberapa dialog diambil dari buku-buku Harry Potter.
Ekstra Note: Teman-teman, sori, aku telah menghapus chapter 4 yang sebelumnya. Aku ingin merubah ending chapter sebelumnya. Btw, aku memerlukan bantuannya, teman-teman... aku perlu beta reader untuk cerita ini, please PM... :D
KISAH RON DAN HERMIONE
Chapter 4 Piala Api (part 1)
Hermione POV
Rumah ini sepi seperti biasa. Tadi selesai sarapan Mom dan Dad pergi dengan terburu-buru ke klinik gigi mereka di Harley Street. Selalu seperti itu sepanjang liburan musim panas ini. Aku hanya bertemu mereka saat makan malam dan saat sarapan. Namun, aku tidak mengeluh aku tahu pekerjaan prangtuaku. Dari dulu selalu begitu, aku sudah biasa ditinggalkan sendiri di rumah. Aku menutup Sejarah Hogwarts yang kubaca dan memandang halaman rumput yang sedikit mengering di bawah. Kalau sepi begini aku jadi suka mengkhayalkan Hogwarts―pelajarannya, para pengajar, kunjugan ke pondok Hagrid dan kebisingan Hogwarts. Aku juga mengkhayalkan hari-hari yang kulalui bersama Ron.
Jujur saja, aku memang merindukan Ron. Aku rindu melihat mata birunya yang sewarna dengan langit biru di luar sana, rambut merahnya yang terlihat seperti api di bawah sinar matahari dan yang lebih aneh aku merindukan saat-saat bertengkar dengannya. Aku suka melihat matanya yang seperti langit berawan kalau dia sedang marah. Meskipun pemarah, aku tahu Ron sangat peduli pada orang di sekitarnya. Dia sangat peduli pada Harry, Ginny dan aku, walaupun aku berharap bahwa kepeduliannya padaku lebih dari pada kepeduliannya pada yang lain. Namun harapanku sia-sia, Ron tidak menganggapku spesial, dia hanya menganggapku salah satu dari sahabatnya.
Aku sendiri tidak tahu sejak kapan aku tidak lagi melihatnya sebagai seorang sahabat. Aku selalu suka wajahnya yang terlihat serius saat bermain catur, bagaimana keningnya berkerut dan matanya terlihat lebih fokus dari pada biasanya. Aku juga suka melihatnya membela Harry di depan Sirius Black tahun lalu. Aku tahu dia akan melakukan apa saja untuk Harry, seperti yang akan Harry lakukan untuknya. Dia terlihat benar-benar gagah saat itu. Kadang-kadang aku sangat iri melihat persahabatan mereka. Ada saat-saat tertentu di mana aku tidak bisa ada di antara mereka dan mereka tidak memerlukan kehadiranku. Kadang aku merasa seperti kembali pada saat-saat yang dulu. Saat tidak ada seorangpun yang ingin menjadi sahabatku.
Aku memang tidak mudah bersahabat dengan orang lain. Saat masih bersekolah di sekolah Muggle aku tidak punya teman. Tidak ada anak yang mau berteman dengan Hermione Granger, seorang yang ke mana-mana membawa buku-buku tebal, memiliki gigi depan melebihi ukuran normal dan memiliki rambut yang lebat dan berantakan. Aku adalah anak aneh di sekolah. Di Hogwarts-lah untuk pertama kalinya aku tidak peduli soal melanggar peraturan, berbohong, dan melakukan hal-hal yang tidak akan pernah kulakukan saat aku masih di sekolah Muggle. Yang paling penting, aku menemukan sahabat. Aku punya teman-teman yang peduli padaku.
Seekor burung hantu mungil yang mencicit riang masuk melalui jendela kamarku dan hinggap di atas Sejarah Hogwarts. Ron, pikirku, tersenyum menatap si burung hantu. Burung hantu ini adalah burung hantu yang diberikan Sirius pada Ron sebagai pengganti Scabbers, yang ternyata adalah animagus bernama Peter Pettigrew―pengkhianat yang bergabung dengan Kau-Tahu-Siapa. Aku melepaskan surat dari kaki si burung hantu dan dia terbang mengelilingi kamar, kelihatannya senang karena telah mengantar surat pada orang yang benar. Surat itu memang dari Ron.
Hermione,
Dad dapat tiket Piala Dunia Quidditch. Irlandia melawan Bulgaria, Senin malam. Apakah orangtuamu mengijinkanmu nonton? Kirim kembali jawabanmu lewat Pig.
Aku memandang si burung hantu yang sekarang sedang bertengger di atas lemari dan ber-uhu-uhu riang. Burung itu tidak mirip dengan Pig―babi. Aneh sekali cara Ron menamai burung hantunya. Aku menggeleng dan kembali pada surat Ron.
... aku akan mengirim surat pada Harry kalau kau mengembalikan Pig dengan balasanmu.
NB: Percy diterima di Departemen Kerjasama Sihir Internasional, dia jadi sangat menyebalkan. Fred dan George sedang membuat barang-barang lelucon bernama Sihir Sakti Weasley. Jadi, jangan terima apapun yang mereka berikan padamu.
Ron
Ron memang mengatakan akan mengundangku menonton Piala Dunia Quidditch. Dan aku memang sudah menanti-nantikan undangannya sepanjang musim panas ini. Aku senang punya alasan untuk bertemu dengannya sebelum tahun ajaran baru di mulai.
Mom dan Dad tidak keberatan aku menghabiskan sisa liburanku di rumah Ron. Mereka bahkan merasa bersalah karena meninggalkanku sendiri di rumah sepanjang musim panas ini.
"Maafkan kami, Sayang," kata Mom untuk kesekian kalinya, saat aku menyeret koperku keluar rumah. Dad akan mengantarkanku ke rumah Ron.
"Mom, aku baik-baik saja... aku senang berada di rumah," kataku, mencium pipi Mom.
"Aku berjanji, liburan musim panas tahun depan akan jadi liburan yang menarik untuk kita," kata Mom lagi.
Aku tersenyum. Aku tidak ingin bertanya ke mana orangtuaku akan membawaku tahun depan, tapi di mana pun tempat itu aku tahu aku akan menikmatinya. Aku selalu senang jalan-jalan ke luar negeri bersama orangtuaku.
Dad dan aku meninggalkan jalan-jalan utama London menuju Devon. Aku tidak sabar ingin berjumpa dengan Ron. Sebenarnya, aku tidak tertarik dengan Piala Dunia ini, namun seluruh dunia sihir tampaknya sangat tertarik pada Quidditch. Tidak ada salahnya ikut serta dalam keramaian itu.
"Di mana rumah keluarga Weasley?" tanya Dad, saat mobil kami memasuki desa Ottery St Catchpole.
Desa itu adalah desa kecil dengan rumah-rumah dibangun agak berjauhan sehingga masing-masing rumah punya lahan yang cukup untuk berkebun. Kami melewati beberapa toko, penginapan dan rumah minum yang ramai, juga sebuah gereja kecil dengan manara runcing. Jalanannya penuh pohon-pohon rindang yang melindungi pejalan kaki dari sengatan sinar matahari musim panas.
Aku memandang peta yang digambarkan Ron untukku. Peta yang mirip gambar anak berusia lima tahun itu sangat sulit dimengerti. Parah sekali Ron mengambar petanya.
"Sepertinya kita harus lewat belokan ini, Dad," kataku, ketika kami melewati rumah minum desa yang ramai.
Dad membelokkan mobilnya memasuki jalan tanah berdebu yang membelah pandang rumput kering. Setelah beberapa kilometer kami tiba di sebuah rumah miring yang di kelilingi pagar tanaman tinggi. Di gerbang kayu yang berhubungan dengan pagar tanaman itu terpancang papan tanda tua bertuliskan The Burrow.
"Itu rumahnya, Dad," kataku menunjuk rumah miring itu.
Dad memasukkan mobil melewati pagar dan berhenti tepat di depan rumah itu. Rumah Ron berbentuk seperti kandang babi besar dengan kamar-kamar tambahan di mana-mana. Empat sampai lima cerobong asap mencuat dari atapnya yang berwarna merah. Di depan pintu bertebaran sepatu bot Wellington dan ayam-ayam berkeliaran di halaman, saling berebutan sesuatu, entah apa, di tanah.
Aku turun dari mobil dan melepaskan Crookshanks yang tak sabaran dari kerajang anyamannya. Crookshanks dengan gembira meleset mengejar jembalang yang muncul dari semak mawar. Ron muncul dari pintu depan dan memandangku dengan tersenyum.
"Hai," katanya.
Aku memandangnya dan merasakan perasaan haru yang membuatku ingin menangis dan memeluknya. Aku tidak tahu dari mana perasaan seperti itu datang, padahal dia tidak melakukan hal yang membuatku terharu, tapi mengapa aku ingin menangis? Ron masih tersenyum padaku sepertinya dia ingin aku mengatakan sesuatu.
"Hai..." sapaku, mengerjapkan mata dan berusaha tersenyum.
"Apa kabar, Mr Granger?" sapanya pada Dad yang sedang mengeluarkan koperku dari bagasi mobil.
"Ron... hallo, bisakah kau membawa koper Hermione ke dalam?" tanya Dad, menyerahkan koperku padanya.
"Tentu saja, Mr. Granger..." kata Ron, mengambil koperku dari tangan Dad, dan menyeretnya melewati pintu depan.
"Halo, Wendell," seru , keluar dari rumah dan menjumpai Dad di halaman.
"Arthur," kata Dad, menyalami Mr. Weasley. "Aku tidak bisa berlama-lama aku harus kembali ke Harley Street."
"Wendell... Hermione," kata Mrs. Weasley tersenyum padaku dan Dad, "Mari masuk..."
"Aku tidak bisa berlama-lama, Molly," kata Dad. "Aku ingin menitipkan Hermione... aku harap dia bisa senang di sini."
"Tentu... dia akan senang di sini," kata Mrs. Weasley tersenyum.
"Kami akan menjaganya, jangan khawatir, Wendell," kata Mr. Weasley.
Dad tersenyum. "Terima kasih," dia memandangku. "Aku pulang dulu, Sayang... tulis surat kalau kau sudah tiba di Hogwarts."
Aku memeluk Dad sebelum Dad kembali ke mobilnya dan melambai sampai mobil Dad lenyap di jalan desa. Aku menurunkan tanganku dan mengangguk pada Mrs. Weasley yang mengajakku masuk ke rumah. Inilah pertama kali aku masuk ke rumah penyihir. Rumah ini dipenuhi oleh barang-barang aneh. Jam di dinding tidak seperti jam Muggle. Jam itu berisi sembilan jarum dengan tulisan nama masing-masing anggota keluarga Weasley. Jarum itu tidak ada angkanya, tapi bertuliskan tulisan-tulisan seperti, 'di rumah', 'bepergian', bekerja' dan tulisan-tulisan biasa lainnya. Aku juga mendengar irama musik jazz lembut dari radio, yang sepertinya berjudul Sekuali Penuh Cinta.
Mrs. Weasley membawaku masuk ke ruang keluarga sempit dengan sofa butut dan kursi-kursi di dekat perapian. Koperku terletak di dekat salah satu kursi. Aku berjalan menuju kursi itu dan duduk. Ron dan Ginny muncul di pintu dan berjalan masuk ke ruang keluarga. Ron duduk di sampingku dan Ginny duduk di depan kami.
"Hai," sapaku pada Ginny.
"Hai," balas Ginny, tersenyum. Ginny telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan rambut merah panjang yang jatuh lembut di punggungnya. Selama ini aku selalu tahu bahwa Ginny akan menjadi gadis cantik suatu saat nanti. Sikapnya yang malu-malu terhadap Harry membuatnya terlihat lebih manis, tapi Ginny memang tidak bisa selamanya bersikap seperti itu pada Harry. Kalau dia menyukai Harry dia harus berusaha untuk bersikap wajar di dekat Harry. Harry tidak akan memperhatikannya kalau dia tetap bersikap sebagai gadis pemalu.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ron, mengagetkanku dari lamunan tentang Ginny dan Harry.
"Oh... baik-baik saja... aku tidak melakukan apa-apa di rumah selain membaca..." jawabku.
"Aku memang sudah menduganya," kata Ron, tertawa.
"Kau juga harus banyak membaca, Ronald," kataku tegas.
"Jangan memanggilku dengan nama lengkap seperti itu, Hermione... tidak ada yang memanggilku begitu... dan aku juga sudah baca-baca."
"Baca-baca apa?" tanyaku curiga. Semua buku bacaan Ron tidak ada hubungannya dengan pelajaran. Pasti dia membaca komik Petualangan Martin Miggs si Muggle Gila.
"Aku tidak baca komik," bantah Ron segera seperti membaca pikiranku. "Aku membaca Hewan-Hewan Fantasi dan Di mana Mereka Bisa Ditemukan."
"Benarkah?" tanyaku tidak percaya. "Mengapa kau membaca buku itu?"
"Aku hanya ingin mencari tahu hewan apa lagi yang akan diperlihatkan Hagrid pada kita semester ini... monster-monster peliharaan Hagrid kan mengerikan," kata Ron.
"Pasti bukan hewan-hewan berbahaya," kataku membela Hagrid.
"Pasti berbahaya... aku yakin itu."
"Ron, aku yakin Hagrid―"
"Ginny," Mrs. Weasley telah muncul di pintu ruang keluarga dan memandang Ginny yang rupanya sedang tidak berada bersama kami. Dia seperti sedang memandangku, tapi dia tidak benar-benar memandangku. Pikirannya seolah telah melewati batas rumah ini, atau bahkan batas dunia ini.
"GINNY!" raung Mrs. Weasley membuatku terperangah. Ya, ampun, suara Mrs. Weasley memang benar-benar seperti Howler yang pernah dikirimnya untuk Ron di tahun kedua kami.
Ginny tergagap dan kembali bersama kami.
"Ya, ampun, mengapa aku harus menghabiskan energi hanya untuk memanggil anakku sendiri. Ginny, bawa Hermione ke kamarmu. Dia akan tidur denganmu," kata Mrs. Weasley dengan wajah memerah.
Ron POV
Piala Dunia Quidditch adalah tontonan yang menarik. Chaser-chaser Irlandia adalah chaser-chaser hebat yang pernah ada. Mereka terbang seperti angin dan kelihatannya bisa membaca pikiran sesama Chaser. Selain mengagumi pemain Quidditch Irlandia, aku juga mengagumi Victor Krum. Dia adalah seeker internasional termuda. Menurut majalah penggemar, dia baru delapan belas tahun dan masih sekolah.
Tetapi terjadi hal yang mengerikan setelah pertandingan Piala Dunia berakhir. Para Pelahap Maut yang bebas dari Azkaban menunjukkan diri. Mereka mempermainkan keluarga Muggle―membuat mereka berpusing di udara. Sungguh menjijikan! Hal yang lebih mengerikan terjadi setelah itu. Tanda Kegelapan―Tanda Kau-Tahu-Siapa―muncul di langit membuat semua orang ketakutan. Aku tidak tahu apakah ini adalah tanda-tanda malapetaka atau ini cuma kebetulan, tapi aku mengkhawatirkan Harry. Dia sangat cemas tentang sesuatu. Aku curiga ini mungkin ada hubungannya dengan Sirius Black, tapi ternyata bukan.
"Pada hari Sabtu pagi, aku terbangun dengan bekas lukaku sakit lagi."
Bekas luka sakit? Tetapi itu kan kalau Kau-Tahu-Siapa sedang ada di dekatnya, tapi tidak mungkin Kau-Tahu-Siapa ada dekat-dekat privet Drive karena dia tidak memiliki tubuh. Harry pernah bertemu dengannya di tahun pertama, Kau-Tahu-Siapa hanya berupa asap dan menumpang di tubuh orang lain. Apakah dia sudah menemukan tubuh baru. Mudah-mudahan tidak, aku tidak ingin Kau-Tahu-Siapa yang jahat itu kembali.
Setelah kembali dari Piala Dunia Hermione punya hobi baru, yaitu bertengkar dengan Percy tentang Peri-rumah Barty Courch bernama Winky. Padahal Hermione dan Percy sangat cocok sebelum ini. Tetapi setelah Percy menghina Winky, Hermione langsung marah-marah.
"Bukankah kita semua sudah sepakat bahwa peri itu, walaupun memang kurang bertanggung jawab, tidak menyihir tanda kegelapan?" kata Percy panas.
"Kalau kau tanya aku, Mr. Courch beruntung sekali tak seorang pun dari Daily Prophet tahu betapa kejamnya dia pada peri!" kata Hermione marah.
Dan obsesi baru Hermione tentang peri-rumah ini berlanjut terus sampai ke Hogwarts. Dia akhirnya tahu bahwa semua makanan yang disediakan di Hogwarts dimasak oleh peri-rumah. Semua ruang asrama dan ruang kelas, juga seluruh Hogwarts dibersihkan oleh peri-rumah. Malam itu dia tidak makan malam karena tidak ingin makan makanan yang disediakan oleh peri-rumah yang tidak dibayar. Aku sampai menyerah menyuruhnya makan.
Hal yang menarik tahun ini adalah Turnamen Triwizard dan hadiah seribu Galleon bagi pemenangnya. Seribu Galleon dan ketenaran. Itulah yang benar-benar kubutuhkan saat ini. Kalau kau menjadi teman orang terkenal seperti Harry Potter, kau akan selalu menjadi yang kedua. Itulah yang terjadi denganku, susah sekali bagiku untuk menerima bahwa sahabatku adalah orang terkenal dan orang-orang hanya melirik padaku sebelah mata atau tidak melirikku sama sekali karena mereka lebih tertarik pada Harry Potter.
Seperti yang telah aku ramalkan, tahun ini adalah tahun yang mengerikan, khususnya dalam Pemeliharaan Satwa Gaib. Hagrid membawa binatang yang sangat mengerikan bernama Skrewt Ujung-Meletup, kami (Harry, Hermione dan aku) memasang tampang sangat antusias, padahal keinginan kami yang utama adalah menginjak-injak binatang itu sampai mati sebelum mereka membunuh salah satu dari kami.
Di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, kami belajar tentang Kutukan Tak Termaafkan. Benar-benar kutukan yang keren! Aku tidak berani menyebut itu di depan Harry karena salah satu dari kutukan ini telah membunuh yang membuatku heran adalah Neville, dia terlihat sangat menderita ketika Profesor Moddy, mantan Auror, mempraktekkan Kutukan Cruciatus.
Ternyata Obsesi Hermione terhadap peri-rumah masih berlanjut. Dia dengan diam-diam telah mendirikan spew.
"Bukan spew," kata Hermione tak sabar. "Itu S-P-E-W. Singkatan dari Society for the Promotion of Elfish Welfare― Perkumpulan untuk Peningkatan Kesejahteraan Peri-Rumah... aku baru saja mendirikannya."
"Yeah?" aku pura-pura heran. "Sudah berapa anggotanya?"
"Yah... kalau kalian berdua ikut... jadi tiga," kata Hermione.
"Dan kau pikir kami mau berkeliaran dengan memakai lencana bertuliskan spew, begitu?" kataku. Dibayar berapa pun aku tidak akan berkeliaran dengan lencana aneh bertuliskan spew.
"S-P-E-W, Ronald," kata Hermione panas. Kemudian dia mulai membeberkan fakta betapa sengsaranya peri-rumah dan perbudakan mereka telah berlangsung selama berabad-abad.
"Hermione... buka telingamu," kataku keras-keras. "Mereka. Meyukainya. Mereka suka diperbudak!"
Hermione tidak mempedulikanku, dia mulai menjelaskan tujuan jangka panjang dan jangka pendek spew.
Selama beberapa hari ini aku tidak mempedulikan Hermione dan spew, tapi Hermione sangat gencar berkampanye tentang spew. Dia bahkan menulis nama Harry sebagai sekretaris dan aku bendahara dalam daftar anggota spew. Aku mendengus menatap perkamen itu. Kukira tidak akan ada anak-anak yang mau ikut serta dalam spew ini, selain Neville. Dia terpaksa membayar dua Sickle untuk keanggotaan spew dan mencegah Hermione mengoyang-goyangkan kaleng spew di depan hidungnya. Harry dan aku merasa Sickle kami terbuang percuma karena Hermione terus menggerecoki kami tentang spew dan menyuruh kami berkampanye. Ya ampun, kalau ada yang diinginkannya, Hermione memang tidak akan pernah tutup mulut.
Aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan melihat Victor Krum setelah Piala Dunia Quidditch, tapi ternyata aku bertemu dengannya lagi malam ini. Dia termasuk dalam delegasi Durmstrang dan datang ke Hogwarts untuk mengikuti Turnamen Triwizard. Aku ingin minta tanda tangannya, tapi rasa antusiasku langsung berkurang melihat cewek-cewek berebutan ingin minta tandantangannya juga. Dan malam itu aku melihat seorang gadis yang benar-benar cantik; rambut panjang keperakan menjuntai sampai hampir mencapai pinggangnya, mata besar, dalam, berwarna biru tua, dan giginya sangat rata dan putih.
"Dia Veela," kataku menatap gadis Veela itu dengan terpesona.
"Tentu saja bukan!" tukas Hermione masam. "Orang lain tidak ada yang melongo seperti orang idiot saat melihatnya!"
"Percaya, deh, dia bukan cewek normal," kataku masih menatap si Gadis Veela yang duduk di meja Ravenclaw.
"Cewek Hogwarts oke juga," kata Harry. Dia juga sedang memandang seseorang di meja Ravenclaw. Aku tidak terlalu memperhatikannya karena sibuk menatap si Gadis Veela.
Hermione POV
Oh begitu, jadi Ron tertarik pada cewek cantik dari Beauxbatons itu! Cewek yang memandang Hogwarts seperti kastil kumuh berhantu (oke, memang ada hantunya), tapi sebagai tamu harusnya dia lebih bersikap sopan bukannya mencari-cari alasan untuk menghina Hogwarts. Bagus sekali, Ron, kau lebih memilih tampang seseorang dari pada melihat bagaimana sikap orang tersebut.
Hal yang sangat aneh terjadi saat pembacaan nama yang keluar dari Piala Api. Nama Harry keluar dari Piala tersebut. Aku tidak mempercayainya. Tidak mungkin bukankah Dumbledore sudah memasang tanda batas usia tujuh belas tahun, tidak mungkin Harry bisa menembus batas itu. Lagi pula ini Turnamen Triwizard, bukan empat-wizard. Tidak ada sekolah ke empat, tapi bagaimana nama Harry bisa keluar.
Esoknya, Harry dan Ron tidak saling bicara. Ron, entah sangat bodoh atau iri, atau sakit hati, aku tidak tahu, menolak bicara dengan Harry. Mereka tidak bicara bahkan dalam kelas Ramuan saat Draco Malfoy and the gang menyorotkan lencana bertuliskan Potter Bau pada Harry. Aku tidak tahu apakah aku harus bersama Ron atau Harry, tapi aku merasa bahwa Harry lebih membutuhkanku daripada Ron. Harry sedang mengalami masa-masa sulit karena seluruh kastil menuduhnya mencuri kejayaan juara Hogwarts asli, Cedric Diggory. Semua orang memakai lencana Dukung Cedric Diggory Juara Asli Hogwarts. Aku curiga Malfoy telah membagi-bagikan lencana ini gratis pada anak-anak, karena lencana itu akan berubah menjadi Potter Bau kalau ditekan.
"Ron, berhentilah bersikap kekanak-kanakan..." kataku pada Ron. Saat kami berjalan keluar dari Rumah Sakit. Madam Pomfrey baru saja mengecilkan gigiku setelah Malfoy menyerangku dengan Densaugeo. Aku akhirnya punya alasan untuk mengecilkan gigiku, yang selalu menjadi bahan tertawaan anak-anak. Mom dan Dad, yang menganggap bahwa gigi dan sihir sama sekali berbeda, pasti akan sangat terkejut.
"Aku tidak akan bicara dengan Harrry sampai dia memberitahuku bagaimana dia bisa memasukkan namanya ke dalam Piala Api," kata Ron keras kepala.
"Ron, Harry tidak memasukkan namanya ke dalam Piala Api... aku sudah pernah mengatakannya padamu... mengapa kau tidak mempercayainya?" kataku. Ron memang bisa jadi sangat keras kepala kalau sakit hati.
"Ya, bagus, bela dia, Hermione... aku sudah tahu bahwa kau akan berada dipihaknya."
"Aku tidak berada dipihak mana pun... aku percaya pada Harry, Dumbledore percaya padanya, dan Hagrid juga... mengapa kau tidak percaya?"
"Karena aku tahu, dia pasti punya cara tersembunyi untuk memasukkan namanya ke dalam piala api... aku tahu dia pasti sangat menikmati menjadi Juara Sekolah."
"Ron, dia tidak menikmatinya... apakah kau tidak melihat seluruh sekolah menghinanya? Dia memerlukan kau sebagai sahabatnya..."
"Aku bukan sahabatnya, Hermione... kalau dia menganggpku sahabat dia akan menceritakan padaku seluruh rahasianya," kata Ron, kemudian berjalan menyusuri koridor meninggalkanku.
Pada hari Sabtu sebelum pelaksaan tugas pertama, kami diijinkan ke Hogsmeade dan aku mengajak Harry ke Hogsmeade agar bisa menyingkir dari kastil dan dari gang Slytherin yang selalu menghinaku di setiap kesempatan. Apalagi sejak artikel si Sapi Skeeter yang mengatakan Harry dan aku pacaran. Oh Merlin! Artikel yang paling tidak bisa dipercaya.
"Bagaimana dengan Ron?" tanya Harry, saat aku mengajaknya ke Hogsmeade. "Kau tidak ingin pergi dengannya?"
Entah mengapa aku jadi merona. Ya ampun, aku kan bukan cewek yang cepat merona, itu Ginny.
"Oh... yah... kupikir siapa tahu kita bisa bertemu dengannya di Three Broomsticks..."
Harry menolak bertemu dengan Ron dan memutuskan ke Hogsmeade memakai Jubah Gaib. Kemudian sepanjang perjalanan ke Hogsmeade aku seperti cewek gila yang berbicara sendiri sepanjang jalan karena Harry sedang di bawah jubah.
Ron POV
Aku sudah tahu Hermione akan membela Harry. Harry Potter yang terkenal, yang selalu disukai orang di mana-mana. Hermione juga menyukai Harry. Aku sudah tahu itu dari awal sejak Harry dan aku berteman dengannya. Mereka berdua selalu saling mengerti dan memahami. Mereka sama-sama tinggal bersama Muggle, sama menjadi murid populer di Hogwarts. Benar kata artikel Skeeter itu mereka berdua memang cocok.
Sebenarnya apa yang kau harapkan, Ronald Weasley, tanya suara kecil dalam hatiku. Apakah kau mengharapkan Hermione akan menyukaimu. Seorang yang miskin dan pemarah sepertimu? Seorang yang selalu membuatnya marah dan tersinggung? Seseorang yang selalu bertengkar dengannya setiap hari? Hermione tentu tidak akan menyukai hal tersebut. Dia tentu lebih memilih Harry, siapa yang tidak akan menyukai cowok terkenal?
Sebenarnya hal ini tidak ada hubungannya denganku. Aku toh tidak menyukai Hermione seperti seorang laki-laki menyukai perempuan. Aku hanya menganggapnya sebagai teman, dan aku senang bertengkar dengannya. Aku merasa lebih pintar sedikit kalau bisa berdebat dengannya. Aku tersenyum dan memandang Hermione yang sedang duduk sendirian sambil menulis sesuatu di meja dekat tangga di Tree Broomstick.
"Kau memelototi Hermione, Ron," kata Fred mengedip.
"Ya, dia memelototinya... Ickle Ronniekins akhirnya menyukai cewek," kata George, bertukar pandang jahil dengan Fred.
Aku mendengus.
"Aku tidak menyukai Miss Know-it-all kalau itu yang kalian pikirkan..."
"Dia menyukai si cewek Veela," nimbrung Lee, dan mereka bertiga menertawakanku.
Menyebalkan! Beginilah jadinya kalau kau adalah yang paling kecil dari antara orang-orang sok dewasa di sekelilingmu.
"Kau masih belum bicara dengan Harry?" tanya George, setelah mereka berhenti tertawa.
"Aku tidak ingin mendengar namanya," kataku sengit.
"Ayolah, Ron, masa kau percaya Harry memasukkan namanya ke dalam piala api," kata Fred.
"Kalian tidak percaya?" tanyaku terkejut, memandang Fred dan George.
"Aku juga tidak percaya," kata Lee. "Harry terlalu jujur untuk melakukan trik-trik yang sering kami lakukan."
"Dan tidak ada trik yang bisa membohongi Lingkaran Batas Usia Dumbledore," kata Fred, berpikir sesaat.
"Lalu bagaimana nama Harry bisa keluar dari piala api?"
"Entahlah, Ron... dan kau seharusnya yang paling tahu, kalian bersahabat... Kami kecewa dengan tingkahmu yang kekanak-kanakan ini."
"Kalian tidak mengerti...aku..." kataku menatap si kembar dengan marah.
"Oh, sudahlah, Ron... kau memang terlalu sulit di mengerti dan kami juga tidak mau membebankan pikiran kami untuk mengerti apa yang ada di pikiranmu," kata Fred, lalu memandang George dan Lee. "Ayo kita ke Zonko!"
Aku memandang mereka dengan sebal saat mereka berjalan meninggalkanku. Fred dan George memang seperti itu. Mereka tidak mau peduli apa yang aku rasakan, apa yang pikirkan, apakah aku memerlukan hiburan dan teman atau tidak. Mereka hanya memekirkan diri sendiri. Aku diam-diam berpikir bahwa mereka tidak menganggapku sebagai saudara.
Aku memandang Harry dengan gugup saat naga itu menyemburkan apinya ke tubuh Harry. Aku juga menjerit bersama yang lain saat ekor berduri naga itu melukai lengan Harry. Saat itu kami sedang menonton pelaksanaan tugas pertama. Hermione duduk di sampingku sambil mencengkram wajahnya sendiri. Kemudian Harry menukik dan berhasil mengambil telur itu. Hermione, aku dan anak-anak Gryffindor lain bertepuk tangan dengan gembira untuk Harry.
"Hermione, kau benar tentang Harry... aku..." kataku, menatapnya setelah Harry masuk ke dalam tenda pertolongan pertama.
Hermione menatapku sesaat, bekas kuku terlihat pada pipinya karena dia mencengkram pipinya dengan ketakutan. Aku mengutuk diriku sendiri karena ingin menyentuh pipinya yang penuh bekas cengkraman.
"Akhirnya kau menyadarinya juga... ayo kita mencarinya," kata Hermione menarikku meninggalkan kerumunan.
"Aku tidak tahu... aku... apakah dia akan memaafkan aku?"
"Ron," kata Hermione, berhenti dan menatapku. "Kau lebih mengenal Harry dari pada aku... apakah Harry akan memaafkanmu?"
"Ya, dia akan memaafkanku, tapi aku merasa tidak enak..."
"Ron, cukup omong kosongnya... ayo!"
Kami berjalan menuju tenda pertolongan pertama dan bertemu Harry saat dia ingin keluar dari tenda.
"Harry, kau hebat sekali!" kata Hermione. "Kau luar biasa! Betul!"
Harry menatapku, aku tidak tahu harus berkata apa, tapi aku harus mengatakan sesuatu kami tidak mungkin berdiri selamanya di pintu tenda ini.
"Harry," kataku hati-hati. "siapa pun yang memasukkan namamu dalam piala itu... ku... kurasa mereka berusaha membunuhmu."
"Paham juga akhirnya kau," kata Harry dingin. "Perlu waktu cukup lama."
Aku tersentak. Ya, Harry memang berhak marah atas tingkahku yang terlalu mengasihani diriku sendiri. Aku memang harus minta maaf.
"Sudahlah... lupakan saja!" kata Harry, seolah membaca pikiranku.
"Tidak... seharusnya aku tidak..."
"Lupakan saja," kata Harry terdengar tidak ingin dibantah.
Aku tersenyum gugup pada Harry, dan Harry membalas menyengir.
"Kalian berdua tolol benar!" kata Hermione dengan airmata membasahi pipinya. Kemudian dia memeluk kami berdua dan berlari meninggalkan tenda.
"Sinting," kataku menggeleng kepala melihat tingkah Hermione yang aneh.
Harry dan aku berteman lagi dan ini adalah hari yang benar-benar indah meskipun daun-daun cokelat jelek berguguran di halaman Hogwarts.
Hermione POV
Selama berminggu-minggu menjelang Natal hal yang dibicarakan anak-anak adalah pesta dansa natal yang akan datang. Anak-anak kelas empat ke atas boleh mengikuti pesta dansa ini dan boleh mengajak anak-anak dari kelas yang lebih kecil. Kastil terasa sangat penuh karena semua orang tinggal di Hogwarts, tidak ada yang pulang liburan natal, kecuali anak-anak kelas satu dan dua. Tetapi aku tidak ingin Harry bersenang-senang dan mengabaikan rahasia telur yang harus dipecahkannya sebelum tugas kedua.
"Sudahlah, Hermione, aku masih punya waktu sampai tanggal dua puluh empat Februari," kata Harry, saat aku menyuruhnya memikirkan telur itu.
"Tetapi siapa tahu perlu berminggu-minggu untuk untuk memahami artinya!" kataku berkeras. "Kau akan tampak tolol kalau yang lain tahu apa tugas berikutnya dan kau tidak!"
"Jangan ganggu dia, Hermione... dia berhak bersantai sebentar," kata Ron santai.
Aku mendelik pada Ron. Mereka terlalu banyak bersantai, mereka bahkan tidak memekirkan tentang PR-PR yang harus dikumpulkan setelah liburan Natal. Mereka hanya mencemaskan siapa pasangan dansa mereka di pesta dansa Natal nanti.
"Kita harus bergerak, kau tahu... minta seseorang. Dia betul. Kita kan tak mau terpaksa pergi dengan sepasang Troll."
Aku langsung memandang Ron dengan jengkel. Sepasang Troll? Jadi dia pikir aku dan cewek-cewek Hogwarts lain yang biasa-biasa saja adalah Troll, begitu?
"Sepasang... apa, maaf?"
"Ah... kau tahu," Ron mengangkat bahu. "Lebih baik aku pergi sendiri daripada dengan―Eloise Midgen, misalnya."
"Oh, begitu," kataku memandangnya dengan marah. "Jadi, pada dasarnya kalian akan mengajak gadis tercantik yang mau, meskipun dia sangat menyebalkan?"
"Er... yeah, kira-kira begitu," kata Ron.
"Aku mau tidur," kataku berang.
Aku berlari ke kamar anak-anak perempuan sambil mengumpat. Ron memang sungguh-sungguh keterlaluan. Dia bahkan tidak memikirkan aku. Aku duduk di depannya dan yang dia pikirkan adalah cewek Beauxbatons itu!
Esoknya, aku tidak menunggu Ron atau pun Harry. Aku masih sebal dengan Ron karena dia menganggap aku dan cewek-cewek lain yang tidak diajak ke pesta dansa sebagai Troll. Aku pergi ke perpustakaan untuk menghindari mereka. Di perpustakaan muncul lagi hal yang membuatku lebih sebal, para fangirl Victor Krum berkumpul dan berbisik-bisik di dekat rak-rak buku. Aku berniat pergi meninggalkan perpustakaan saat Madam Pince datang dan mengusir para fangirl.
"Syukurlah," desahku saat para fangirl meninggalkan perpustakaan.
"Apanya yang syukur?" seseorang bertanya dari atasku. Aku mengangkat muka dari esai Transfigurasi yang sedang kutulis dan melihat si idola Quidditch sendiri berdiri di depanku. Dia tersenyum padaku dan duduk di kursi di depanku.
"Oh, hai... aku... yah para fangirl-mu itu... aku senang mereka pergi... mereka terlalu berisik," kataku agak bingung. Mengapa dia bicara denganku?
"Aku juga menganggap mereka seperti itu... mereka benar-benar berisik."
"Oh..." kataku tak tahu harus bicara apa.
"Kulihat kau sendirian..." katanya. "Biasanya bersama Potter dan cowok berambut merah itu."
Aku teringat Ron dan komentarnya tentang cewek-cewek Troll membuatku langsung sebal.
"Aku tidak selalu bersama mereka," jawabku singkat.
"Eh, sudah ada yang mengajakmu ke pesta dansa?" tanya Krum. Aku memandangnya dan wajahnya berubah merah. Apakah dia akan mengajakku ke pesta dansa Natal? Tetapi, komentar Ron tentang cewek Troll terngiang kembali di telingaku dan itu langsung membuatku naik darah.
"Tidak ada..." kataku sebal. "Aku kan cewek Troll jadi tidak ada yang mengajakku ke pesta dansa."
"Eh?" Krum terlihat sangat terkejut dan bingung.
"Eh, sori... maksudku tidak ada yang mengajakku ke pesta dansa," kataku segera.
"Bagus kalau begitu... maukah kau ke pesta dansa Natal bersamaku?" kata Krum tersenyum dengan wajah memerah.
"APA?" aku menjerit saking terkejutnya.
Krum tertawa. "Tidak perlu terkejut seperti itu. Sebenarnya kau datang ke perpustakaan ini karena aku ingin bicara denganmu, tapi aku terlalu gugup dan baru saat ini aku bisa melakukannya."
"Oh..." kataku, menatapnya seperti orang bodoh.
"Jadi?" tanya Krum. "Maukah kau ke pesta dansa natal bersamaku?"
"Oh, baiklah... aku senang..." kataku cepat. Nah, Ron, masih ada cowok yang mau mengajakku ke pesta dansa meskipun kau menganggap aku cewek Troll.
Dia tersenyum. "Sampai jumpa..." katanya, lalu berjalan pergi.
Aku memandangnya meninggalkan perpustakaan, masih sedikit heran. Victor Krum pahlawan Quidditch mengajaknya, Hermione Granger, gadis kelahiran Muggle ke pesta dansa. Ya ampun, apa yang akan dikatakan seluruh Hogwarts?
Aku masih bengong ketika Neville datang dan duduk di depanku.
"Hai, Neville," kataku otomatis.
"Hai, Hermione... eh, maukah kau pergi ke pesta dansa Natal bersamaku?" tanya Neville.
Aku kaget. Tadi Victor sekarang Neville, ternyata aku sebenarnya lumayan juga. Ron saja yang buta sehingga tidak memperhatikanku.
"Maaf Neville, aku sudah pergi bersama orang lain..." kataku.
Neville kelihatan sedih. "Lalu aku pergi bersama siapa? Pasti tidak ada yang mau pergi denganku."
"Neville, pasti ada yang mau pergi bersamamu... mintalah pada Ginny, dia pasti mau... kupikir tidak ada yang mengajaknya," kataku setelah berpikir sesaat.
"Oh benar juga! Thanks, Hermione," kata Neville, lalu berjalan pergi meninggalkan perpustakaan.
Aku mendesah dan mengerjakan esai Transfigurasiku yang sempat tertunda. Seharian itu aku menghabiskan waktuku dengan Ginny dan menghindari Ron dan Harry. Tetapi mereka tidak muncul saat makan malam. Semarah apapun aku pada Ron aku tetap cemas. Apa yang membuat dia dan Harry tidak makan malam? Aku berlari ke ruang rekreasi Gryffindor dan menemukan Harry dan Ron sedang duduk bersama Ginny.
"Mengapa kalian tidak makan malam?" tanyaku memdatangi mereka.
"Karena... oh diam, kalian," kata Ginny, menyuruh Ron dan Harry diam saat mereka hendak berbicara. "Karena mereka berdua baru saja ditolak oleh cewek-cewek yang mereka ajak ke pesta dansa!" kata Ginny.
Harry dan Ron langsung diam.
"Terima kasih banyak, Ginny," kata Ron galak.
"Semua yang cakep sudah diambil orang, Ron," kataku angkuh. "Eloise Midgen mulai tampak cantik sekarang, kan? Yah, aku yakin kalian akan menemukan seseorang di suatu tempat yang mau pergi bersama kalian."
Ron melongo memandangku. Kelihatannya dia baru menyadari sesuatu.
"Hermione, Neville benar―kau cewek..."
"Oh, kok baru tahu sih," kataku masam.
"Yah, kau bisa pergi dengan salah satu dari kami!" katanya.
"Tidak, aku tidak bisa," tukasku.
"Oh, ayolah," katanya tidak sabar. "Kami butuh pasangan, kami akan kelihatan tolol kalau tak punya pasangan, yang lain semua punya..."
"Aku tak bisa pergi bersama kalian," kataku. Wajahku memanas teringat Victor, "karena aku akan pergi dengan orang lain."
"Tidak, kau belum punya pasangan!" katanya marah. "Kau bilang begitu hanya untuk menolak Neville!"
"Oh, begitu ya?" kataku. Aku memandangnya dengan tajam. "Hanya karena perlu tiga tahun bagimu untuk menyadari bahwa aku cewek, Ron, tidak berarti bahwa tak ada orang lain yang menyadarinya!"
Ron melongo memandangku, kemudian dia tersenyum.
"Oke, oke, kami tahu kau cewek," katanya. "Cukup? Maukah kau pergi dengan salah satu dari kami sekarang?"
"Aku kan sudah bilang!" aku sangat jengkel dengan ketidakmengertian Ron. "Aku akan pergi dengan orang lain."
Aku bergegas menuju anak perempuan sebelum Ron dan aku bertengkar untuk hal yang sama sekali tidak penting.
Ron POV
"Dia bohong!" kataku tegas memandang Hermione lenyap di pintu yang menuju kamar anak-anak perempuan.
"Tidak," kata Ginny tenang.
"Dengan siapa kalau begitu," kataku tajam.
"Aku tak mau bilang itu urusannya," kata Ginny.
"Baik," kataku. Kok, aku merasa agak terpukul dengan kejadian ini? "urusan ini makin konyol saja. Ginny, kau bisa pergi dengan Harry, biar aku..."
"Aku tak bisa," kata Ginny, dan wajahnya merona merah. "Aku akan pergi dengan... dengan Neville. Dia memintaku setelah Hermione menolak, dan kupikir... yah... kalau tidak aku tidak bisa pergi, aku belum kelas empat." Ginny tampak merana sekali. "Kurasa aku mau makan dulu," katanya dan dia bangkit lalu berjalan ke lubang lukisan, kepalanya menunduk.
Aku terbelalak menatap Harry.
"Kenapa sih mereka semua?" tanyaku
Harry bergerak menuju Parvati dan Lavender yang baru saja masuk ke lubang lukisan.
"Parvati, maukah kau ke pesta dansa bersamaku?"
"Ya, baiklah..." kata Parvati.
"Lavender... maukah kau pergi dengan Ron," aku mendengar Harry menanyai Lavender.
"Dia pergi dengan Seamus," kata Parvati. Dia dan Lavender kemudian terkikik nyaring.
"Bisakah kau menyarankan orang lain yang bersedia pergi dengan Ron," aku mendengar suara Harry berbisik. Mungkin dia tidak ingin aku mendengarnya, tapi aku mendengarnya dengan sangat jelas.
"Bagaimana kalau Hermione Granger?" kata Parvati. Aku menahan diri untuk tidak meneriakinya.
"Dia sudah pergi dengan orang lain," kata Harry.
Parvati dan Lavender tampak kaget. Aku lebih kaget lagi, aku tidak menduga ada yang mengajak Hermione.
"Oooh... siapa?" Parvati bertanya penasaran. Aku juga penasaran. Aku tahu aku tidak akan tahu siapa cowok itu sampai pada saat pesta dansa Natal.
"Entahlah," kata Harry. "Jadi bagaimana dengan Ron?"
"Yah..." kata Parvati. "Kurasa saudara kembarku mungkin mau... Padma, kau tahu... di Ravenclaw. Akan kutanya dia kalau dia mau."
Aku menggunakan Mantra Potong untuk memotong renda pada leher dan lengan jubah pestaku. Jubah itu sangat mengerikan, tapi aku harus memakainya karena aku tidak bisa ke pesta tanpa jubah itu.
"Aku tak bisa mengerti bagaimana kalian berdua mendapatkan dua cewek paling cantik di kelas empat," gumam Dean.
"Daya tarik yang luar biasa," kataku muram, menarik sehelai benang yang mencuat dari pergelangan tanganku.
Kami turun ke Aula Depan dan Padma yang sama cantiknya dengan Parvati memakai jubah hijau toska cerah.
"Hai," sapanya.
"Hai," balasku, tapi aku tidak memperhatikannya. Aku menjulurkan kepala mencari-cari Hermione di tengah kerumunan anak-anak yang sedang menunggu Aula Besar dibuka. Pintu depan terbuka dan aku melihat anak-anak Durmstrang masuk bersama kepala sekolahnya, Karkaroff. Viktor Krum berjalan paling depan bersama seorang cewek cantik bergaun biru indah, rambutnya dipilin dengan rapi menjadi sanggul yang indah di belakang kepalanya. Cewek itu adalah Hermione. Aku tidak perlu memakai kaca mata atau teropong untuk melihat bahwa itu dia. Oh, jadi Victor Krum. Tetapi bukannya dia menyukai Harry? Jadi, dugaanku tentang Hermione sebagai penggemar cowok-cowok tampan yang terkenal memang benar. Pertama Lockhart, Harry, kemudian Victor Krum. Aku tidak keberatan kalau dia menyukai Harry atau Diggory, tapi Krum. Dia pergi dengan musuh―musuh Harry, musuh Hogwarts!
Aku duduk di mejaku dan memandang sangar Krum dan Hermione yang berdansa dengan gembira di tengah lantai dansa. Padma mengoyang-goyangkan kakinya dengan tidak sabar di sampingku. Aku tidak bisa mengajaknya berdansa karena aku sedang marah pada Hermione.
Harry telah berhenti berdansa dan duduk di sampingku.
"Bagaimana?" tanya Harry. Aku tidak menjawab. Aku sedang ingin marah-marah, jadi lebih baik aku tidak membuka mulutku.
Harry duduk di sampingku sambil minum Butterbear. Kami tidak memperhatikan ketika Parvati dan Padma diajak berdansa oleh dua anak Beauxbatons. Hermione berjalan mendekati kami dan duduk di kursi kosong Parvati. Wajahnya agak kemerahan karena berdansa.
"Hai," sapa Harry, aku tidak mengatakan apa-apa.
"Panas, ya?" kata Hermione, mengipasi diri dengan tangannya. "Victor sedang mengambil minuman."
Hohoho, jadi dia sudah memanggil Krum dengan Victor?
"Victor?" kataku, memandang Hermione dengan menghina. "Apa dia belum memintamu untuk memanggilnya Vicky?"
Hermione memandangku dengna heran. "Kenapa sih kau?"
"Kalau kau tak tahu... aku tak akan memberitahumu," kata Ron tajam.
Hermione melongo memandangku.
"Ron, kenapa..."
"Dia anak Durmstrang!" bentakku. "Dia bertanding melawan Harry! Melawan Hogwarts! Kau... kau... bergaul dengan musuh, tahu!"
Hermione ternganga
"Jangan konyol!" katanya sesaat kemudian. "Musuh! Astaga... siapa yang begitu bersemangat ketika melihatnya datang? Siapa yang menginginkan tanda tanganya? Siapa yang punya bonekanya di kamarnya?"
Aku memilih mengabaikan komentar itu. "Kurasa dia memintamu untuk pergi bersamanya saat kalian berdua di perpustakaan?"
"Ya, betul... jadi kenapa?"
"Bagaimana kejadiannya―kau mengajaknya bergabung di spew, kan?"
"Tidak! Kalau kau memang ingin tahu, dia... dia bilang dia ke perpustakaan setiap hari untuk mencari kesempatan bicara denganku, tapi dia tak kunjung punya keberanian!"
"Yeah, tapi... itu kan kata dia," kataku sangar.
"Dan apa maksudmu?"
"Jelas, kan? Dia murid Karkaroff, kan? Dia tahu siapa yang selalu bersamamu... Dia cuma mencari cara lebih dekat dengan Harry―untuk mendapat informasi dari teman dekatnya―atau agar bisa cukup dekat untuk menyihirnya..."
Wajah Hermione tampak seperti aku baru saja menamparnya. Aku terhenyak sesaat, tapi aku memang harus mengatakan ini. Aku tidak suka dia bergaul dengan Krum.
"Asal tahu saja, dia tidak menanyakan satu pertanyaan pun tentang Harry, sama sekali tidak..."
"Kalau begitu dia mengharapkan kau membantunya memecahkan teka-teki telur itu! Kurasa kalian asyik bertukar pikiran di perpustakaan..."
"Aku tidak pernah membantu soal telur itu!" kata Hermione berang. "Bagaimana mungkin kau mengatakan sesuatu seperti itu―aku ingin Harry memenangkan turnamen, Harry tahu itu. Iya kan, Harry?"
"Caramu menunjukkannya aneh benar," aku mendengus.
"Ide utama turnamen ini adalah untuk mengenal penyihir dari negara lain dan berteman dengan mereka!" kata Hermione panas.
"Bukan!" teriakku, "Yang utama adalah menang!"
Anak-anak mulai memandangi kami.
"Ron, aku tidak keberatan Hermione berpasangan dengan Krum..." kata Harry.
Tapi aku tidak mengacuhkan Harry.
"Kenapa kau tidak mencari Vicky, dia akan bertanya-tanya di mana kau," kataku.
"Jangan memanggilnya Vicky!" jerit Hernione lalu berjalan meninggalkanku dan menghilang di kerumunan orang yang berdansa.
Aku memandangnya dengan tidak menyesal.
Hermione POV
Pesta dansa ini adalah mimpi buruk. Ron telah merusak semua kesenanganku. Mengapa dia tidak membiarkan aku bersenang-senang dengan Victor? Mengapa dia harus mengatakan kata-kata yang mengerikan itu? Menuduhku sebagai pengkhianat yang bergaul dengan musuh. Benar-benar brengsek! Aku duduk di kursi dekat perapian dan menunggu. Aku harus berbicara dengan Ron. Aku tahu dia tidak ingin aku ke pesta dansa bersama Krum karena dia menyukaiku. Dia menyukaiku, tapi dia tidak mau mengakuinya. Dia menjadikan aku cadangan terakhir karena dia berpikir aku akan selalu ada di sampingnya, selalu ada untuknya di setiap kesempatan, tapi aku tidak akan selalu ada di sampingnya. Suatu saat aku akan pergi. Aku merasakan perasaan yang sama seperti yang kurasakan saat pertama kali aku bertemu dengannya sebelum Piala Dunia. Perasaan haru yang membuatku ingin menangis.
Pintu lukisan terbuka. Aku mengangkat muka dan bertatapan dengan mata biru-langit Ron.
"Oh, kau belum tidur?" katanya menatapku sinis.
"Ya, aku ingin bicara denganmu..."
"Apa lagi? Mau curhat tentang Vicky?"
"Jangan memanggilnya begitu!" aku mendesis. "Kau memang benar-benar keterlaluan... kau bukannya tidak menyukai Victor, tapi aku hanya tidak suka aku pergi bersamanya kan?"
"Memang... aku memang tidak suka kau pergi bersamanya..."
"Nah, kalau kau tidak suka kau tahu solusinya, kan?"
"Oh yeah?" teriak Ron. "Apa solusinya?"
"Kalau lain kali ada pesta dansa lagi, ajak aku sebelum orang lain mengajakku, dan jangan anggap aku sebagai cadangan terakhir!" balasku dan berlari menuju kamar anak-anak perempuan. Aku sudah mengatakan, kalau Ron cukup pintar dia akan mengerti. Dia akan tahu inti dari kalimat terakhirku itu.
Ron POV
"Ah..." gagapku, termangu-mangu menatap Harry sedang berdiri dekat lubang lukisan, "ah... itu membuktikan... masalahnya sama sekali bukan itu... aku tidak menyukai Hermione seperti itu,"
Harry hanya mengangkat bahu, kemudian kami berdua berjalan menuju kamar anak-anak laki-laki.
Ya, masalahnya tidak seperti itu. Aku marah bukan karena cemburu, aku marah karena dia pergi bersama musuh. Aku tentu tidak akan marah kalau dia ke pesta dansa itu bersama Harry. Aku tidak menyukai Hermione, dan dia memang lebih cocok bersama Harry dari pada bersamaku. Aku adalah pecundang sejati dan lebih cocok menjadi sahabatnya. Sahabat yang akan selalu ada untuknya dan melindunginya sesuai janji yang pernah kuucapkan saat kami bersama Harry mempertahankan baru bertuah itu.
Dialog yang dikutip:
Cerita Harry tentang bekas luka: Harry Potter dan Piala Api, hal. 185
Pertengkaran Hermione dan Percy tentang peri-rumah: Harry Potter dan Piala Api, hal 191
Hermione mendirikan SPEW: Harry Potter dan Piala Api, hal. 274-275
Ron bertemu Fleur Delacour: Harry Potter dan Piala Api, hal 308
Harry bertanya pada Hermione tentang ke Hogsmeade bersama Ron: Harry Potter dan Piala Api, hal. 386.
Harry dan Ron berdamai: Harry Potter dan Piala Api, hal. 434-435
Kata-kata Ron tentang 'sepasang Troll': Harry Potter dan Piala Api, hal. 476
Ron tahu Hermione pergi bersama seseorang: Harry Potter dan Piala Api, hal. 482
Kata-kata Dean tentang dua cewek tercantik: Harry Potter dan Piala Api, hal. 496
Semua percakapan dalam pesta dansa Natal: Harry Potter dan Piala Api, hal. 507-510
Kata-kata Hermione di ruang rekreasi: Harry Potter dan Piala Api, hal. 521
READ AND REVIEW, PLEASE! :D
TauHumba :D
