Terima kasih untuk Review-nya... Tetap Review, ya... Selamat Membaca :D

Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.

Note: Beberapa dialog diambil dari buku-buku Harry Potter.


KISAH RON DAN HERMIONE

Chapter 4 Piala Api (part 2)

Hermione POV

Aku terbangun dengan kepala sakit karena kurang tidur. Semalam aku bermimpi aneh tentang Ron yang menantang Victor lomba terbang. Ron kalah dan terjatuh dari ketinggian 50 meter. Aku mendesah dan memandang Lavender dan Parvati yang masih mendekam di balik selimut masing-masing. Syukurlah, aku tidak perlu mendengarkan pertanyaan-pertanyaan memaksa mereka tentang bagaimana aku bisa pergi ke pesta dansa bersama Victor. Merasa tidak ada yang bisa kulakukan dalam kamar ini, aku turun ke ruang rekreasi dan melihat Ron sedang tidur di kursi dekat perapian. Aku mendekatinya dan memandang wajah tidurnya yang damai. Ron memang lebih bagus kalau tidur, aku tidak perlu mempersiapkan argumen untuk berdebat dengannya. Sesungguhnya, aku belum pernah menatap wajahnya sedekat ini. Alisnya melengkung indah, bulu matanya panjang dan kulitnya yang berbintik-bintik terlihat sangat halus dan mengundang. Aku menyentuh pipinya dan merasakan kulitnya yang hangat. Dia bergerak dan aku mundur, hampir saja menabrak kursi di belakangku.

Dia membuka mata dan menatapku.

"Oh Hermione, aku sudah menunggumu," katanya, memperbaiki posisi duduknya.

"Buat apa kau menungguku?" tanyaku penasaran. Apakah Ron sudah mendapatkan solusi dari persoalan kami semalam? Apakah dia ingin mengajakku berkencan? Tetapi aku masih bersama Victor. Aku tidak bisa meninggalkan Victor begitu saja. Apa yang harus kulakukan?

"Aku ingin bicara soal semalam," kata Ron. "Duduklah!" dia menunjuk kursi di sampingnya.

Aku duduk sambil memikirkan apa yang akan kukatakan pada Ron kalau dia mengajakku kencan. Aku harus bicara dengan Victor dulu. Dia kelihatan sangat menyukaiku aku tidak tega menyakiti hatinya.

"Aku ingin meluruskan kesalahpahaman semalam," katanya.

Kesalahpahaman? Apakah dia ingin minta maaf karena menuduhku sebagai pengkhianat? Aku memandangnya. Bagus, berarti Ron bisa bertindak sebagai gentleman sejati. Aku memandangnya penuh harap.

"Aku tidak menyukaimu seperti yang kau pikirkan,"

APA? Dia tidak menyukaiku seperti yang aku pikirkan? Maksudnya?

"Apa yang―" aku mulai, tapi dia memotong kata-kataku.

"Dengar, aku memang menyukaimu, tapi hanya sebagai teman. Semalam aku memang benar-benar marah karena kau bersama musuh, bukan karena aku cemburu."

Aku hanya bisa melongo memandangnya. Jadi maksudnya dia tidak menyukai aku seperti seorang laki-laki menyukai seorang perempuan? Apakah ini lelucon?

"Aku ingin kita melupakan hal ini dan berteman seperti biasa."

"Hebat, Ronald!" kataku sinis. Akhirnya aku bisa menemukan suaraku kembali.

"Apa maksudmu?" tanya Ron tajam.

"Aku tidak perlu menjelaskan padamu karena kau punya otak... kau bisa berpikir sendiri."

"Dengar, ya... jangan tersinggung, tapi kau bukan tipeku."

Apa? Aku bukan tipenya? Bangsat!

"Bukankah sudah jelas... tipemu kan cewek menyebalkan seperti Fleur Delacour."

"Ya, benar sekali... jadi jangan mengira bahwa aku cemburu karena kau bersama Krum."

"Baik... aku mengerti. Pergilah! Aku tidak ingin melihat wajahmu yang menyebalkan," kataku marah.

Ron mengabaikan komentarku dan berkata,

"Satu hal lagi, kita tidak boleh bertengkar di depan Harry... Meskipun perbedaan kita banyak, kita harus mengesampingkannya demi Harry. Dia memerlukan kita di saat-saat sulit seperti ini."

Benar, kepedulian kami pada Harry-lah yang membuat kami bisa melupakan perbedaan kami. "Baik... sekarang pergilah!" perintahku, mengusir Ron. Sekarang ini aku ingin sendiri.

"Aku memang ingin turun sarapan sekarang," kata Ron. "Kau tidak ingin turun bersamaku?"

Dia masih mengajakku sarapan bersama setelah mengatakan aku bukan tipenya? Sulit dipercaya!

"Pergilah, Ron," kataku, menyandarkan diri di kursiku dan mencoba meredakan kepalaku yang semakin sakit karena pembicaraanku dengan Ron.

"Omong-omong, Hermione," kata Ron. Sial, dia masih ada di ruang rekreasi. Aku membuka mata dan menatapnya.

"Apa?"

"Eh, semalam kau benar-benar cantik..." katanya, tersenyum cemerlang dan pergi meninggalkanku yang terpana.

Aku menghela nafas. Susah juga kalau kau menyukai seseorang yang luas emosinya cuma selebar sendok teh. Dia tidak akan mengerti hal-hal yang berhubungan dengan perasaan.


Ron POV

Artikel tentang Hagrid yang ternyata adalah separuh raksasa muncul di halaman pertama Daily Prophet pada hari pertama setelah liburan natal. Malfoy and the gang dengan senang hati menyebarkan artikel itu di seluruh Hogwarts sehingga semua orang tahu tentang Hagrid. Hermione kelihatan sangat marah melihat Hagrid yang menyembunyikan diri dari semua orang, tapi kami akhirnya berhasil meyakinkan Hagrid bahwa kami masih menginginkannya mengajar.

Selama beberapa minggu kemudian kami menghabiskan waktu kami untuk membantu Harry mengatasi masalahnya dengan telur. Kami harus mencari tahu bagaimana caranya agar dia bisa bertahan di dalam air selama satu jam dan mengambil kembali barang kesayangannya yang telah diambil oleh manusia duyung.

"Ada cara untuk melakukannya," kata Hermione galak, saat kami sedang di perpustakaan membantu Harry. Tugas pertama akan dilaksanakan besok dan kami belum menemukan cara untuk bisa bertahan di dalam air. "Pasti ada!"

Aku membuka buku Mantra-Mantra Sederhana dan mencari-cari di indeksnya.

"Seharusnya aku belajar menjadi Animagus seperti Sirius," kata Harry lelah.

"Yeah, kau bisa berubah jadi ikan mas setiap kali kau mau," kataku nyengir. Mereka terlalu serius. Harry hanya mengedikkan kepala dan kembali memandang Jurus Jitu Menghadapi Tipuan Seru.

"Atau jadi kodok," katanya menguap.

Hermione tidak menganggap itu lucu dan mulai berpidato tentang susahnya menjadi Animagus dan kewajiban yang harus dilakukan.

"Oh, tak ada gunanya," kata Hermione, menggabrukkan Dilema Sihir Aneh sampai menutup. "Lagi pula, siapa yang mau membuat bulu hidungnya tumbuh keriting?"

"Aku tidak keberatan," terdengar suara Fred. "Akan jadi topik pembicaraan, kan?"

Kami mendongak. Fred dan George baru muncul dari balik rak buku.

"Sedang apa kalian?" tanyaku heran. Perpustakaan adalah tempat yang selalu dijauhi oleh si kembar.

"Mencari kalian," jawab George. "McGonagall mencarimu, Ron. Dan kau juga, Hermione."

"Kenapa?" tanya Hermione. Dia bertukar pandang denganku, keheranan.

"Entahlah, tapi dia tampak muram," kata Fred.

"Kita akan bertemu di ruang rekreasi nanti," kata Hermione pada Harry, saat bangkit untuk pergi bersamaku. "Bawa buku-buku ini sebanyak mungkin, oke?"

Hermione dan aku berjalan menyusuri koridor menuju kantor McGonagall.

"Apa yang akan dikatakan McGonagall pada kita?" tanyaku cemas. Aku tidak ingin mencari masalah dengan McGonagall. Aku sudah hampir dikeluarkan dari Hogwarts saat kelas dua.

"Entahlah, mungkin dia ingin agar kita tidak membantu Harry... maksudku sebagai juara Hogwarts dia harus berusaha sendiri, kan?"

"Ya, benar juga..."

Kami tiba di kantor McGonagall dan di sana sudah ada Cho Chang, cewek Ravenclaw yang ditaksir Harry dan seorang anak perempuan cantik yang mirip Fleur Delacour, sepertinya adiknya.

"Mr Weasley... Miss Granger masuklah!" kata McGonagall. Dia kelihatan agak cemas.

Kami duduk di kursi yang sudah disediakan. Aku memandang Hermione dan melihat keningnya berkerut dalam. Rupanya dia sudah mengetahui untuk apa kami dipanggil ke kantor ini.

"Sudah lengkap semuanya," kata Dumbledore, yang baru saja masuk ke kantor McGonagall dan tersenyum pada kami semua.

Chang, Hermione dan aku mengangguk pada Dumbledore. Adik Fleur tampak ketakutan.

"Tidak apa-apa," kata Dumbledore menenangkan. "Semuanya akan baik-baik saja."

Aku ingin bertanya apa yang akan baik-baik saja, tapi rasanya tidak sopan jadi aku tutup mulut.

"Sir, apakah kami akan dijadikan sandera manusia duyung?" tanya Hermione, yang rupanya tidak bisa tutup mulut.

"Apa?" tanyaku kaget. Aku tidak mau dijadikan sandera oleh manusia duyung dan dibawa dalam danau menyeramkan itu. Ada banyak binatang berbahaya di sana. Belum lagi cumi-cumi raksasa.

"Ah, Miss Granger, kelihatannya kau sudah mengerti," kata Dumbledore tersenyum pada Hermione.

"Jadi, kalian berkumpul di sini untuk dijadikan sandera dan para juara akan menyelamatkan kalian... satu untuk masing-masing juara. Jangan takut, Mr Weasley," Dumbleodre tersenyum padaku. "Kau akan baik-baik saja... tidak ada yang akan mencelakakanmu. Aku akan membuat kalian tertidur dan akan bangun kalau kalian sudah tiba di permukaan."

Kami mengangguk mengerti. Berarti aku adalah sandera yang harus dilepaskan oleh Harry. Aku berdoa dalam hati semoga Harry bisa segera menemukan cara untuk bertahan di dalam danau. Aku tidak ingin tinggal dalam danau gelap selamanya.


Hermione POV

"Herm-ayon-nini?"

Aku terbangun, membuka mata dan hampir pingsan karena ada kepala hiu yang sangat dekat dengan wajahku. Aku mengerjap dan menyadari bahwa itu Victor, dia telah men-transfigurasi dirinya menjadi setengah hiu.

Dia mengayunkan tongkat ke kepalanya dan menghilangkan kepala hiunya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya.

"Ya, aku baik-baik saja," jawabku.

Madam Pomfrey datang dan membungkusku rapat-rapat dengan selimut tebal, kemudian menuangkan ramuan sangat panas ke tenggerokanku. Aku tersedak. Dia tersenyum dan mengalihkan perhatiannya pada Victor.

Setelah selesai dirawat Madam Pomfrey, Victor menarikku menjauh dari kerumunan menuju pepohonan di belakang tenda.

"Victor, ada apa?" tanyaku heran memandangnya. Aku harus segera kembali ke danau, aku harus tahu apakah Ron dan Harry baik-baik saja.

"Herm-ayon-nini, aku... sejak malam setelah pesta dansa itu aku tidak pernah bicara denganmu lagi."

"Oh... aku maafkan aku..." kataku merasa bersalah. Aku terlalu sibuk memikirkan Ron, Harry (yang harus menghadapi tugas keduanya), Ron, Ginny (yang pacaran dengan cowok Ravenclaw, Michael Corner), Ron lagi, dan Hagrid yang sedang menghadapi masa sulit karena artikel si Sapi Skeeter. Ron-lah yang paling banyak berada dalam pikiranku.

"Tidak apa-apa, Herm-ayon-nini..." kata Krum menenangkan. Dia menatapku dengan lembut. "Kau selalu ada dalam pikiranku setelah pesta dansa itu. Aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini pada cewek lain. Kau adalah yang pertama."

Merlin! Victor benar-benar menyukaiku. Aduh, bagaimana ini... aku tidak bisa membalas perasaannya.

Sebelum aku menyadarinya, Victor telah menundukkan kepalanya dan mencium bibirku dengan lembut. Aku hanya bisa diam, tidak tahu harus berbuat apa. Ini adalah ciuman pertamaku dan aku sangat ingin bisa melakukannya dengan orang yang aku sukai, tapi...

Victor mengangkat wajahnya dariku dan tersenyum.

Aku mencoba untuk balas tersenyum. Semoga wajahku tidak kelihatan seperti meringis.

"Kalau kau tidak punya acara musim panas ini, maukah kau berlibur ke Bulgaria?"

"eh, aku..."

"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang... " kata Victor. "Aku tahu kau pasti ingin memikirkannya, aku akan menunggumu."

Aku tersenyum lemah dan mengalihkan padanganku pada Madam Pomfrey yang sedang mengurus Ron, Harry dan adik Veela.

"Yuk, kita kembali ke sana," kataku, mengangguk ke arah Harry dan yang lainnya.

"Baiklah," kata Victor. Dia mengatakan sesuatu, tapi aku tidak peduli karena sibuk memikirkan Harry dan Ron. Si gadis Veela datang dan memberikan ciuman di pipi Ron membuatku langsung naik darah.


Beberapa minggu setelah itu, di bulan Maret yang berangin. Si Sapi Skeeter menulis lagi artikel tentang Harry dan aku di Witch Weeky. Aku digambarkan sebagai―seperti kata Ron―perempuan nakal, pemuja penyihir terkenal dan menyukai dua pria sekaligus―Harry dan Victor. Ron tampak marah setelah tahu bahwa Victor mengajakku ke Bulgaria. Aku senang. Walaupun dia mengatakan bahwa dia hanya menganggapku sebagai sahabat, tapi aku tahu dia menyukaiku. Aku tersenyum dan tidak menghiraukan Pansy Parkinson, yang sedang menumbuk scarab di sampingku, sambil menyerocos tentang artikel itu.


Ron POV

"Kau masih bertemu Krum?" tanyaku pada Hermione. Kami sedang duduk di ruang rekreasi Gryffindor. Harry baru saja pergi untuk mendapatkan pengarahan tentang tugas ketiganya.

"Tentu saja, Ron... Apakah kau pikir aku akan menjauhinya karena dia dikalahkan Harry?" tanya Hermione seraya membuka-buka beberapa buku yang berisi mantra-mantra sederhana. Salah satunya berjudul Mantra-Mantra untuk Menghadapi Musuh.

"Aku harap kau tidak bergaul dengannya lagi... Dia itu musuh Hermione. Dia adalah murid Karkaroff dan kau tahu siapa Karkaroff..."

"Ron, dia benar-benar baik, tahu... Dia lebih suka di Hogwarts dari pada sekolahnya," kata Hermione.

"Itukan kata dia... siapa tahu apa yang dia pikirkan," kataku tajam. Aku masih tidak suka Hermione bersama Krum.

"Sudahlah," kata Hermione bosan.

"Lalu apakah kau akan pergi ke Bulgaria bersamanya?" tanyaku. Aku harus tahu tentang ini. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan kalau Hermione pergi ke Bulgaria.

"Entahlah... orangtuaku mengajakku berlibur ke luar negeri musim panas ini. Mungkin saja aku bisa membujuk mereka berlibur ke Bulgaria agar aku bisa bertemu Victor."

"Oh, jadi kau memang ingin ke Bulgaria bersama Vicky," kataku tajam.

"Aku tidak bilang ingin ke Bulgaria bersama Victor, Ronald... aku bilang aku akan membujuk orangtuaku untuk berlibur ke Bulgaria. Dan jangan panggil dia Vicky."

"Intinya sama saja, kan? Kau akan ke Bulgaria."

"Belum tentu aku ke Bulgaria... aku bilang akan membujuk orangtuaku... Oh sudahlah, bicara denganmu membuatku sakit kepala," kata Hermione, kembali menekuni Mantra-Mantra untuk Menghadapi Musuh.

Aku menyandarkan diri di sofa sambil mendengus. Apa sih yang dilihat Hermione pada Krum? Krum itu suka menggerutu. Tampangnya juga tidak cakep, potongannya mirip Crabbe. Apa bagusnya?

Aku sedang menggelar PR Ramalanku di meja saat Harry kembali dengan wajah pucat dan bercerita tentang Mr. Crouch yang tiba-tiba saja muncul di lingkungan Hogwarts dan kemudian lenyap begitu saja seolah ditelan bumi. Kami mendiskusikan itu sepanjang malam dan berniat menanyakan hal itu pada Profesor Moody keesokan harinya.

"Jadi dia ber-Disapparate?" tanyaku setelah kami menyudutkan Moody di kelas Pertahanan terhadap Ilmu Hitam.

"Kau tak bisa ber-Disapparate di kompleks sekolah, Ron!" kata Hermione tegas. "Ada cara-cara lain dia bisa menghilang, iya, kan, Profesor?"

Hermione menatap Profesor Moody penuh harap. Moody menatap Hermione dengan tertarik.

"Kau termasuk yang bisa berkarir sebagai Auror," katanya kepada Hermione. "Pikiranmu bekerja di jalan yang benar, Granger."

Hermione merona merah saking senangnya.

Auror? Auror adalah para penyihir yang bertugas untuk menangkap penyihir hitam dan menjaga perdamaian dunia sihir. Itu adalah pekerjaan yang sangat penting dan mereka adalah kaum elit. Aku suka mendengar cerita Dad tentang para Auror, bagaimana mereka menangkap penyihir hitam dan bagaimana mereka bekerja dengan dedikasi dan disiplin yang tinggi. Dari dulu aku ingin menjadi Auror, meskipun aku tidak tahu apakah aku bisa mendapatkan nilai-nilai top untuk menjadi Auror.


Hermione POV

Pelaksanaan tugas ketiga semakin dekat. Ron dan aku telah memutuskan bahwa mantra-mantra yang dikuasai Harry sudah cukup baginya untuk memasuki maze. Lagi pula ujian semakin dekat dan kami harus belajar agar bisa lulus ujian tahun ini. Pada pagi hari, di hari pelaksaan tugas ketiga, artikel tentang Harry muncul lagi di Daily Prophet. Si Sapi Skeeter menulis bahwa Harry adalah orang yang suka mencari perhatian dengan bekas lukanya.

"Bagaimana dia bisa tahu bekas lukamu sakit waktu pelajaran Ramalan?" tanya Ron, memandang Harry dengan heran. "Dia tak ada di sana tak mungkin dia bisa mendengar..."

"Jendela terbuka," kata Harry. "Aku membukanya supaya bisa bernafas."

"Kau ada di puncak Menara Utara!" kataku mengingatkan. "Suaramu tak mungkin terbawa sampai ke tanah."

"Nah, kau kan yang seharusnya melakukan riset metode penyadapan secara sihir!" komentar Harry. "Coba dong jelaskan bagaimana dia melakukannya!"

"Aku sedang berusaha!" kataku. "Tetapi aku... tetapi..."

Sebuah gagasan muncul dipikiranku. Kalau si Sapi Skeeter memang seperti itu tidak akan ada yang bisa melihatnya, bahkan Moody dengan mata gaibnya. Dia juga bisa terbang ke mana-mana dan mendengarkan percakapan pribadi. Tetapi dia tidak boleh. Dia tidak bisa sebab itu terlarang dan namanya tidak terdaftar.

"Aku harus ke perpustakaan," kataku pada Harry dan Ron, menyambar tasku dan berlari meninggalkan Aula Besar, tak menghiraukan Ron yang memperingatkanku soal ujian Sejarah Sihir.

Aku masuk ke perpustakaan dengan tergesa-gesa mengagetkan Madam Pince yang sedang membetulkan buku-buku tua dengan Spellotape di atas mejanya. Aku mengucapkan selamat pagi dan langsung menuju rak Transfigurasi mencari buku Animagi-Animagi Terdaftar Jaman Ini. Aku menarik buku itu dari rak dan mulai membaca. Buku itu memuat daftar nama-nama para animagi dan ciri-cirinya. Cuma ada sebelas animagi di dunia sihir, dan nama Skeeter tidak termasuk di dalamnya.

Aku menghabiskan lima menit untuk membaca cara-cara membedakan animagi dengan binatang-binatang sejenis, kemudian tersenyum sambil menyimpan kembali Animagi-Animagi Terdaftar Jaman Ini di rak. Skeeter dan Kumbang, cocok sekali. Begitulah cara dia mendengar percakapan-percakaan pribadi selama setahun ini. Aku harus mencari cara untuk menangkapnya.

Saat masuk ke Aula Besar untuk makan siang setelah ujian Sejarah Sihir aku sangat terkejut melihat Bill dan Mrs Weasley bergabung dengan Harry, Fred, George, Ron dan Ginny di meja Gryffindor.

"Hallo, Hermione," kata Mrs Weasley menyapaku dengan kaku dan dingin.

"Hallo," kataku tersenyum ragu. Airmata hampir saja keluar dari mataku. Ada apa ini? Apa yang kulakukan? Mengapa sekarang Mrs Weasley tidak menyukaiku? Padahal saat berlibur musim panas lalu, dia menyukaiku. Mengapa sekarang berbeda?

"Mrs Weasley, anda tidak percaya omong kosong yang ditulis Rita Skeeter di Witch Weekly, kan? Karena Hermione bukan pacar saya."

"Oh!" kata Mrs Weasley. "Tidak... tentu saja aku tidak percaya!"

Dia tersenyum padaku. Aku memandang Harry dengan terima kasih. Seharusnya aku tahu. Mrs Weasley pasti membaca Witch Weekly. Dia tentu mengira aku perempuan nakal seperti yang dikatakan Ron. Aku menunduk memandang makan siangku dengan sedih. Bagaimana dia bisa berpikir seperti itu padahal aku meyukai anaknya.

Setelah makan malam, keluarga Weasley dan aku berjalan menuju lapangan Quidditch untuk menonton pelaksanaan tugas ketiga. Kami duduk di kursi penonton dan memandang maze yang tampak gelap dan menakutkan. Aku melihat Harry memasuki maze bersama Cedric.

"Menurutmu apa yang terjadi di dalam sana?" tanya Ron. Dia duduk di sampingku, pandangannya tampak cemas.

"Entahlah," jawabku. "Tenanglah, Ron... dia akan baik-baik saja. Kita sudah membantunya... mengajari beberapa mantra sulit."

"Bagaimana kalau di dalam sana ada naga? Kita tidak belajar bagaimana cara mengatasi naga."

"Ronald, berhentilah mengkhayal yang bukan-bukan. Tidak mungkin ada naga di dalam sana. Mereka sudah menggunakan naga untuk tugas pertama, mereka tidak akan menggunakannya lagi untuk tugas ketiga ini."

"Kau berbicara seolah kau adalah juri Triwizard... Bisa saja mereka menempatkan naga di dalam maze."

"Kalau mereka menggunakan naga pasti ada pawang naga di sekitar sini. Kau mungkin akan melihat Charlie."

"Bisa saja mereka bersembunyi di dalam maze," kata Ron keras.

"Oh terserahlah..."

Ron masih memandang Maze dengan cemas.

"Dia yang paling muda dari mereka semua, kurasa dia belum cukup berlatih," kata Ron lagi setelah beberapa saat.

Ron telah mengucapkan apa yang aku cemaskan, tapi aku berusaha untuk menunjukkan wajah tegar. Harus ada satu orang yang tegar di antara kami. Ron jelas tidak mungkin. Aku mengatupkan tanganku pada tangan Ron.

"Tenanglah, Ron, Harry pasti bisa bertahan. Dia selalu bisa bertahan... Ingat waktu kita kelas dua, saat dia menyelamatkan Ginny di kamar rahasia itu. Dia kembali dengan selamat, kan?" kataku. "Lagi pula, Dumbledore tidak akan membiarkannya mati."

Ron kelihatan sedikit terhibur. Dia tersenyum suram dan aku tersenyum menenangkan. Dia meremas tanganku dengan hangat. Aku berdebar-debar. Saat ini aku ingin sekali menciumnya, menenangkannya, menyakinkannya bahwa Harry baik-baik saja. Bahwa Harry akan bisa keluar dari maze dengan selamat. Aku membuang pikiran itu dan menatap kegelapan di depanku.

Langit semakin gelap. Entah sudah berapa lama para juara di dalam Maze. Aku melihat McGonagall membawa Fleur keluar dari Maze, satu juara jatuh. Beberapa waktu kemudian mereka membawa Victor keluar.

"Mudah-mudahan Victor baik-baik saja," bisikku perlahan.

"Siapa peduli," dengus Ron.

Aku berpura-pura tidak mendengar.

"Tinggal Harry dan Diggory," bisik Ron.

Aku mengangguk.

Waktu berlalu, menit demi menit berlalu dan kemudian cahaya biru terlihat muncul di depan lorong Maze. Beberapa detik kemudian Harry muncul memegang Piala Triwizard dan tubuh Diggory yang tampaknya pingsan di sebelahnya.

Aku mencengkram tangan Ron. Terdengar jeritan dari antara penonton.

"Ron, Harry..." kataku.

Ron menarikku berdiri dan kami segera berlari ke tempat Harry, mengikuti Dumbledore yang sudah bergerak lebih dulu.

"Dia kembali," bisik Harry pada Dumblodore. Wajahnya pucat dan lemah. Tangannya gemetar seolah tidak ada lagi kekuatan di dalam dirinya. "Dia kembali. Voldemort."

Aku merasakan tubuhku gemetar. Tidak mungkin Voldemort kembali!

"Oh Tuhan... Diggory!" bisik Fludge, yang telah menyusul Dumbledore. "Dumbledore... dia mati!"

Terdengar jeritan yang lebih keras dan banyak lagi langkah kaki mendekati kerumunan kecil kami. Aku terdorong oleh orang-orang yang berebutan ingin melihat sendiri apa yang terjadi pada Diggory.

Ron menarikku merapat padanya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ron, memandangku dengan cemas.

Airmata membasahi pipiku. Bagaimana aku baik-baik saja? Aku ketakutan. Ada kematian lagi di Hogwarts. Dan Cedric... Cedric yang tampan, yang selalu ceria dan bersemangat tidak akan ada lagi di Hogwarts. Lalu, Voldemort... Dia telah kembali dan kami semua akan ada dalam bahaya. Lebih-lebih aku yang kelahiran Muggle. Kami semua akan dibantai... tidak akan ada lagi Hogwarts untuk kami.

"Tenang... semua akan baik-baik saja," kata Ron, memelukku.

Aku memeluknya dengan erat dan membaui aroma vanila pada sweater merah yang dipakainya. Aku ingin berlama-lama seperti ini, tapi aku harus tegar karena Harry memerlukan kami.

"Harry?" kataku, setelah melepaskan diri dari Ron.

"Ya, Harry..." kata Ron memandang kerumunan.

Aku juga memandang kerumunan dan Harry tidak tampak di mana-mana.

"Menurutmu ke mana dia?" tanyaku.

"Rumah sakit... Ayo!" kata Ron, menarikku menaiki undakan depan, memasuki Aula Depan dan berlari menaiki tangga pualam menuju sayap rumah sakit.

"Mana Harry?" tanya Ron pada Madam Pomfrey yang tampak asyik menulis sesuatu di sebuah perkamen.

"Apa-apaan ini Mr Weasley, Miss Granger... aku tidak suka kalian masuk tanpa mengetuk," kata Madam Pomfrey tajam.

"Oh, maaf," kata Ron, tampak malu. "Eh, kami... kami mencari Harry..."

"Mengapa kalian mencarinya di sini? Dia tidak ada di sini... sekarang keluar..."

"Eh tapi..."

"Keluar!" desis Madam Pomfrey.

Ron dan aku saling pandang dan keluar. Kami tidak ke mana-mana, tapi menunggu di koridor rumah sakit dalam diam. Mrs Weasley dan Bill datang dengan tergesa-gesa beberapa waktu kemudian.

"Mana Harry?" tanya Mrs Weasley.

"Dia tidak ada di sini," jawab Ron.

"Kami tidak tahu," jawabku.

"Apa yang terjadi?" tanya Ron pada Bill yang sedang mondar-mandir di depan pintu rumah sakit.

"Mereka sudah membawa mayat Diggory di St. Mungo untuk pemeriksaan lebih lanjut," jawab Bill. "Sebenarnya apa yang terjadi?"

"Kau-Tahu-Siapa telah kembali... mungkin... mungkin dia yang telah membunuh Diggory," kata Ron pelan.

Mrs Weasley menjerit kecil dan Bill memandang Ron dengan tidak percaya.

"Aku mendengar Harry mengatakannya pada Dumbledore dan kami percaya pada Harry," kata Ron melirikku. Aku mengangguk.

Tidak ada yang berkata apa-apa setelah itu. Semua orang terdiam dan menunggu.

"Lebih baik kita menunggu di dalam," usul Mrs Weasley dan membuka pintu rumah sakit.

"Oh, ada apa lagi ini?" tanya Madam Pomfrey melihat kami.

"Kami harus menunggu Harry di sini," kata Mrs. Weasley tegas. "Apakah anda tidak tahu bahwa telah terjadi kematian di Hogwarts?"

"APA?" Madam Pomfrey tampak terkejut. "Siapa?"

"Cedric Diggory," jawab Ron.

Madam Pomfrey tampak pucat dan sedih.

"Oh, aku..." Madam Pomfrey baru akan berkata sesuatu ketika Dumbledore dan Harry masuk diikuti seekor anjing besar, yang aku tahu adalah Sirius.

Harry tampak begitu lelah, lahir dan batin. Kelihatannya pengalaman mengerikan bersama Kau-Tahu-Siapa telah membuatnya menderita. Dumbledore meminta kami untuk tidak mengganggunya dan menyuruh Harry meminum ramuan untuk tidur tanpa mimpi. Kami memandangnya ketika dia tertidur, tampak damai dan tak terganggu.


Ron POV

Hermione dan aku kembali ke menara Gryffindor setelah mengantar Mom di batas pagar Hogwarts untuk ber-disapparate ke The Burrow. Kami baru saja mengalami malam yang benar-benar mengerikan. Semua kelihatan serius. Kau-Tahu-Siapa benar-benar telah kembali dan Fludge tidak mempercayai semua yang dikatakan Dumbledore. Dia bahkan menuduh Dumbledore sudah gila.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Hermione, ketika kami memasuki ruang rekreasi Gryffindor dan duduk di kursi di depan perapian.

"Aku berpikir apa yang terjadi dengan kita nanti kalau Kau-Tahu-Siapa sudah menyatakan dirinya terang-terangan."

"Kau akan baik-baik saja... Akulah yang harus cemas... Aku Darah-Lumpur..."

Aku menatapnya dengan tajam. "Jangan menyebut dirimu seperti itu..."

"Ronald, itu kenyataannya... aku..."

"Hermione, tidak apa-apa... aku akan melindungimu. Aku sudah berjanji untuk melindungimu, kan? Kau tidak akan apa-apa," kataku, meyakinkan mencengkram tangannya dengan erat.

Hermione tersenyum suram.

"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Hermione.

"Kita akan bersama Harry sampai akhir," jawabku. "Dia memang menyuruh kita untuk kembali, tapi kita sudah menentukan sikap... kita memilih untuk ikut bersamanya."

"Ya..." kata Hermione tersenyum cerah untuk pertama kalinya sepanjang malam ini.


Kutipan Dialog:

Ron dan Hermione membantu Harry di Perpustakaan: Harry Potter dan Piala Api, hal. 584-585

Harry, Ron, dan Hermione berbicara pada Moody: Harry Potter dan Piala Api, hal. 684

Harry, Ron dan Hermione berdiskusi tentang Skeeter: Harry Potter dan Piala Api, hal. 737

Hermione dan Mrs Weasley di Aula Besar: Harry Potter dan Piala Api, hal. 743


READ AND GIVE ME REVIEW OR FEEDBACK, I REALLY NEED IT

TauHumba :D