Terima kasih untuk Review-nya. X-x-x, Last-Heir Black, yiyituwi, sasuhina-caem, jj, Guest: Thanks dah review. BrittanyAshley: Aku selalu senang and suka sekali baca review, thanks :D Tetap Review and Selamat Membaca chapter 5
Disclamer: J. K. Rowling dan Ann Margaret
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.
Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari buku Harry Potter and Orde Phoenix.
KISAH RON DAN HERMIONE
Chapter 5 Orde Phoenix
Hermione POV
Dear Hermione,
Apa kabar? Kuharap kau baik-baik saja setelah peristiwa menyedihkan di Hogwarts semester lalu.
Aku tahu kau telah menolakku saat akhir semester, namun aku masih bisa berkorespondensi denganmu, kan? Kau mengatakan bahwa aku masih tetap bisa jadi sahabatmu.
Aku ingat kau mengatakan bahwa liburan musim panas ini kau tidak tahu akan ke mana, jadi aku menawarkan Bulgaria. Orangtuamu pasti menyukai tempat ini. Di sini ada beberapa tempat wisata Muggle yang akan menyenangkan orangtuamu. Lagipula, musim panas ini ada liga Quidditch dan aku sangat mengharapkan kau bisa melihatku bermain.
Victor
Victor, kataku dalam hati sambil membayangkan kenangan dansa Natal. Aku berdansa dengannya dan itu akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Menurutku, Victor sangat baik, dan perhatian, dia juga memperlakukanku dengan lembut. Dia adalah calon pacar yang sempurna, dan cewek-cewek lain pasti akan sangat iri kalau dia jadian denganku. Namun, seperti yang telah kukatakan padanya di akhir semester lalu, aku tidak merasakan sesuatu padanya. Tidak ada yang terjadi, aku tidak perasaan perasaan seperti saat aku bersama Ron; berdebar-debar, bahagia dan marah dengan porsi yang sama.
Aku memang telah berlaku jujur pada diriku sendiri dan mengakuinya: aku menyukai Ron, meskipun sikapnya kekanak-kanakan dan menganggapku sebagai cewek yang hanya cocok dijadikan teman, bukan pasangan untuk berdansa atau lebih baik lagi, pacar.
"Huh," Aku mendengus sebal. Tahun lalu Ron telah terang-terangan mengatakan bahwa dia lebih menyukai cewek cantik seperti Fleur Delacour, meskipun cewek itu menyebalkan, daripada cewek pintar dengan rambut lebat, acak-acakan.
Aku memandang lagi surat Victor. Apakah aku sedang mempertimbangkan untuk mengunjungi Bulgaria? Tidak! Aku sudah menolak Victor dan kalau aku pergi ke Bulgaria, Victor bisa beranggapan lain dan urusannya bisa panjang. Namun, aku tahu Mom dan Dad pasti akan senang kalau menghabiskan liburan musim panas ini di luar negeri, apa lagi Bulgaria (mereka telah beberapa kali mengatakan ingin berkunjung ke Bulgaria). Kalau Mom dan Dad ikut, Victor tidak akan berpikir macam-macam, kan?
Aku meletakkan surat Victor di atas meja dan berdiri di jendela menatap keluar. Jalanan di bawah sepi; orang-orang masih berada di rumah mereka masing-masing. Memandang jalanan kosong aku berpikir bahwa aku tidak bisa ke luar Inggris sekarang. Setelah apa yang terjadi semester lalu, setelah aku tahu bahwa Kau-Tahu-Siapa telah kembali, setelah lelucon mengerikan tentang Harry di Daily Prophet. Setelah semuanya itu, Harry membutuhkan kami, teman-temannya. Dia butuh orang yang bisa ada di sampingnya dalam masa-masa sulit ini.
Bunyi cicit riang terdengar dari belakangku, aku berbalik dan melihat Pigwidgeon terbang riang mengelilingi lampu kamar dengan sepucuk surat terikat di kakinya. Saking sibuk memikirkan Harry aku tidak melihat burung hantu itu masuk.
"Kau membawa surat Ron? Kemarilah!" Pigwidgeon terbang rendah dan hinggap di lenganku. Aku meletakkanya di atas meja dan melepaskan surat dengan tulisan cakar ayam Ron.
Hermione,
Keadaan di sini sangat parah; Percy bertengkar dengan Dad, dan Mom menghabiskan waktunya dengan menangisi Percy, yang sudah pergi dari rumah dan tinggal di London.
Kami sekeluarga akan pindah ke markas Orde pagi ini. Aku tidak bisa menceritakan tentang Orde padamu dalam surat ini karena kami takut burung hantu ini dicegat di Kementrian, namun aku akan menceritakannya kalau kita sudah bertemu.
Kalau ada waktu, bagaimana kalau kau bergabung dengan kami? Kami di London sekarang dan sedang sibuk bersih-bersih. Aku tidak tahan hanya menghabiskan waktu dengan Ginny (karena Fred dan George sibuk dengan barang-barang lelucon mereka). Jadi, aku sangat mengharapkan kehadiranmu.
Ron
Markas Orde? Aku membaca ulang surat Ron untuk melihat mungkin ada sesuatu tentang Orde yang tak sengaja ditulis Ron, tapi surat itu tidak memberikan informasi apapun. Apakah Orde ini adalah kumpulan orang-orang yang menantang Kau-Tahu-Siapa? Sepertinya begitu, dan aku sangat ingin bergabung dengan Orde ini. Aku memandang Pigwidgeon yang sedang bertengger di lengan kursi tempat Crookshanks sedang berbaring dan berpikir bahwa Mom dan Dad mungkin tidak akan melepaskanku pergi ke tempat Ron liburan ini. Aku baru saja kembali kembali, dan Mom dan Dad telah merencanakan program liburan untukku. Aku tidak bisa mengecewakan mereka.
"Hermione..." terdengar suara Mom dari lantai bawah dan aku bergegas turun setelah meletakan surat Ron di atas meja.
Dad sedang membaca Daily Telegraph dan Mom sedang mengoleskan selai stroberi di potongan roti panggang saat aku tiba di bawah.
Mom menyuruhku duduk dengan pandangan dan meletakkan roti panggang di depanku.
"Apa yang akan kau lakukan hari ini, Sayang?" tanya Mom, duduk di depanku dan mengigit roti panggangnya. "Kalau kau ingin mengunjungi perpustakaan kota, Mom akan mengantarmu ke sana saat akan ke Harley Street."
"Mom, sebenarnya aku mendapat surat dari Ron," kataku.
"Oh..." Mom memandang Dad yang sudah meletakkan korannya dan meneguk kopi.
"Apa katanya?" tanya Dad.
"Dia ingin aku mengunjunginya," kataku, memandang Mom dan Dad dengan kening berkerut. Perubahan sikap mereka membuatku heran.
"Kau baru tiga hari bersama kami, Hermione, dan―bukanlah kau diajak ke Bulgaria oleh teman dansamu itu?" tanya Mom. Mereka berdua memandangku sekarang.
"Memang, tapi aku ingin pergi ke tempat Ron... Maksudku, ini tahun kelima-ku dan di akhir semester akan ada OWL―aku pernah mengatakan tentang OWL pada kalian, bukan? Dan aku perlu berada di dekat penyihir dewasa dan berpengalaman agar mereka bisa membantuku belajar," kataku, tidak menatap mata orangtuaku.
"Bukankah kau bisa belajar pada Victor―atau siapa namanya, teman dansamu itu―dan kita bisa ke Bulgaria bersama. Ayahmu dan aku sudah memikirkannya."
"Tapi sistem pengajaran di Inggris dan Bulagaria berbeda, Mom, dan Sejarah Sihir-nya juga beda."
"Oh..." Mom tampak sangat kecewa.
"Maafkan aku, Mom, Dad..."
"Apa boleh buat... kami tahu pendidikan sangatlah penting untukmu," kata Dad.
Ini bukan sepenuhnya bohong, tahun ini adalah tahun OWL dan aku memang harus belajar, meskipun alasanku yang sebenarnya bukanlah itu.
"Tapi berjanjilah, kau harus menemani kami ke Swiss liburan natal nanti," kata Mom.
"Baiklah, Mom... Terima kasih..." kataku tersenyum.
"Mr Weasley!" aku melambai pada Mr Weasley yang baru saja masuk ke jalanan sempit yang menuju Leaky Chauldron.
"Hermione," kata Mr Weasley, menyalamiku sambil tersenyum ramah. "Sudah lama di sini?"
"Tidak... Dad baru saja pergi lima menit yang lalu."
"Baiklah... kita berangkat sekarang!" kata Mr Weasley mengangkat koperku dan membawanya melangkah. Tangan kanannya di dalam saku jaket Muggle yang dikenakannya, tampaknya tangan itu sedang memegang tongkak sihir.
Sementara melangkah, aku memandangnya. Aku ingin sekali bertanya tentang Orde dan mengapa Mr Weasley kelihatannya begitu waspada, tetapi kelihatannya itu bukan pertanyaan yang bagus untuk saat ini. Kami berjalan dalam diam, melewati jalanan London yang ramai selama hampir 40 menit, kemudian berbalik ke sebuah jalanan sempit dan sepi dengan rumah-rumah, yang bagian depannya sangat kotor dan tidak menyenangkan, beberapa di antaranya kaca jendelanya pecah dan penuh debu, banyak pintu yang catnya sudah mengelupas, dan sampah bertumpuk di luar beberapa rumah.
"Kita sampai," kata Mr. Weasley, berdiri di trotoar, memandang batas antara rumah nomor sebelas dan tiga belas.
Aku ingin bertanya sampai di mana kita, saat Mr Weasley memberikan sepucuk perkamen yang bertuliskan: Markas Besar Orde Phoenix bisa ditemukan di Grimmauld Place nomor dua belas, London.
"Baca dan hafalkan?" kata Mr Weasley sambil memandang berkeliling dengan waspada, tapi jalanan ini sama sepi seperti pekuburan.
"Tapi apa―?"
"Kita tidak membicarakannya di sini," Mr Weasley mengambil carikan perkamen itu dan membakarnya dengan tongkat sihir. "Pikirkan apa yang sudah kau hafalkan!"
Aku berpikir, dan begitu tiba di bagian Grimmauld Place nomor dua belas, mendadak pintu bocel-bocel muncul entah dari mana di antara nomor sebelas dan tiga belas, diikuti dengan cepat oleh dinding-dinding kotor dan jendela-jendela berdebu. Seakan ada rumah tambahan yang menggelembung, mendorong ke samping rumah di kanan-kirinya. Aku mengerjapkan mata dan tercengang. Apakah para Muggle di sebelah tidak merasakan apa-apa? Tampaknya tidak, karena jalanan itu tetap saja sepi.
"Ayo cepat!" Mr Weasley mendorongku menaiki undakan batu tua.
Pintu yang baru muncul itu terlihat kusam dengan cat yang sudah mengelupas dan tergores-gores. Pengetuk pintu peraknya berbentuk ular membelit. Tak ada lubang kunci maupun kotak surat. Mr Weasley mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengetuk pintu satu kali. Aku mendengar bunyi klik metalik dan gemerincing rantai. Pintu menderit terbuka.
"Cepat masuk, Hermione," bisik Mr Weasley, "tetapi jangan terlalu jauh dan jangan sentuh apa-apa."
Aku melangkahi ambang pintu dan masuk ke dalam sebuah aula dengan lampu-lampu gas kuno sepanjang dinding berwarna kusam dengan kertas dinding yang sudah mengelupas. Karpet tipis diletakkan di sepanjang lorong panjang yang suram. Kandil bersarang labah-labah berkilau di atas dan lukisan-lukisan kuno yang sudah menghitam tergantung miring di dinding. Aku menghidu udara dan mencium bau lembap, debu, dan bau busuk yang manis. Tempat ini seperti bangunan terlantar. Aku merasakan firasat aneh seperti memasuki rumah orang yang hendak meninggal. Dia mendengar dengar langkah kaki dari balik papan pelapis dinding dan ibu Ron muncul dari pintu di ujung aula. Pucat dan lebih kurus daripada terakhir kali aku melihatnya.
"Arthur, aku sudah bertanya-tanya kapan kau kembali... Hermione, senang bertemu denganmu," Dia memelukku sesaat. "Kemarilah aku akan mengantarmu ke kamar Ginny."
"Di mana dia?" tanyaku.
"Dia sedang membantuku menyiapkan makan, tapi Ron ada di kamarnya," jawab Mrs Weasley.
Mrs Weasley membawaku berjalan melewati sepasang tirai panjang yang sudah dimakan ngengat dan tempat payung besar yang berbentuk yang berbentuk potongan kaki troll, menaiki tangga dan melewati sederetan kepala yang sudah mengisut yang dipasang di atas lempeng. Aku memperhatikan kepala-kepala itu dan menyadari bahwa itu adalah kepala peri-rumah, yang semuanya memiliki hidung yang agak mirip moncong.
Aku mendengus sebal, kemudian bertanya, "Mrs Weasley, mengapa kepala-kepala peri-rumah ada di sini?"
"Ron akan mejelaskan semuanya, Sayang," kata Mrs Weasley cepat-cepat.
Mr Weasley yang berjalan di belakangku sambil membawa koper hanya tersenyum dan berkata, "Ron sudah bercerita tentang obsesimu pada peri-rumah, Hermione."
Aku membayangkan Ron pasti menganggap lucu SPEW.
"Masuklah!" kata Mrs Weasley, ketika kami tiba di pintu dengan pegangan berbentuk kepala ular.
"Terima kasih, Mr Weasley, Mrs Weasley," kataku tersenyum dan mengambil koperku dari tangan Mr Weasley.
Keduanya tersenyum dan bergegas turun lagi.
Aku memutar pegangan pintu dan masuk ke sebuah ruangan suram berlangit-langit tinggi, dengan dua tempat tidur. Aku meletakkan koperku di dekat koper Ginny dan hendak berganti pakaian saat pintu terbuka dan Ron masuk.
"Mom baru saja memberitahuku bahwa kau di sini," kata Ron, berjalan duduk di tempat tidur Ginny dan memandangku. "Bagaimana kabarmu?"
"Ron, tidakkah kau diajarkan cara mengetuk pintu?" kataku sebal, duduk di depannya dan memelototinya "Dan kabarku sangat buruk."
"Apa yang terjadi?" tanya Ron, tampak prihatin.
"Mom dan Dad kecewa... mereka ingin aku ke Bulgaria."
"Vicky?" Wajah Ron memerah. "Orangtuamu mengidolakan Vicky?"
"Jangan panggil dia begitu, dan mereka bukan mengidolakannya. Mereka hanya ingin kami ke Bulgaria... Kami belum pernah ke Bulgaria."
Ron membisikkan umpatan, entah apa, tapi aku tidak mempedulikannya. Ada hal yang lebih penting yang ingin kuketahui.
"Apa itu Orde Phoenix?" tanyaku.
"Perkumpulan rahasia," jawab Ron. "Dumbledore ketuanya, dia yang mendirikannya dan anggotanya adalah orang-orang yang dulu bertarung melawan Kau-Tahu-Siapa."
"Lalu tempat apa ini? Mengapa ada kepala peri-rumah dalam lempeng?"
Ron tertawa, dan aku mendelik padanya.
"Oh maaf..." katanya. "Ini rumah Sirius dan mereka meminjamnya sebagai Markas Orde. Kurasa tradisi memenggal kepala peri-rumah kalau mereka sudah terlalu tua untuk membawa nampan teh sudah ada dari dulu dalam keluarga Black. Dan mengenai peri-rumah, kau harus bertemu Kreacher..."
"Siapa Kreacher?"
"Dia adalah peri-rumah yang paling menyebalkan dan cita-citanya adalah kepalanya dipenggal dan dipasang di lempeng seperti ibunya."
"Tidak ada yang punya cita-cita seperti itu, Ron."
Ron memandangku dengan teliti, "Kau belum menyerah soal spew?"
"Bukan spew, tapi SPEW dan kau juga harus lebih aktif dalam kegiatan SPEW," kataku dengan nada tinggi.
Ron memutar bola matanya. Aku sudah ingin memberi kuliah tentang betapa sengsaranya peri-rumah, namun Ginny masuk.
"Hai Hermione," katanya tersenyum cemerlang padaku. Dia memandang Ron. "Dumbledore ingin bertemu dengan kalian berdua."
Ron dan aku saling berpandangan.
"Mengapa dia ingin bertemu kami?" tanya Ron heran.
"Entahlah," jawab Ginny, mengangkat bahu. "Kurasa kalian harus turun sekarang."
"Oke..."
Kami menuruni tangga, melewati aula dan memasuki pintu di ujung aula. Tempat itu adalah seperti ruang pertemuan dengan meja panjang lebar dan beberapa kursi yang mengelilinginya. Di atas meja bertebaran perkamen-perkamen, pena bulu, botol-botol tinta, piala dan botol-botol anggur yang sudah kosong. Dumbledore, yang duduk di ujung meja, mengangguk saat Ron dan aku masuk. Kami duduk di dekatnya.
"Nah, kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku memanggil kalian?"
"Benar, Sir," jawabku, sementara Ron mengangguk.
"Aku menduga kalian sudah tahu tentang situasi yang kita hadapi sekarang, tentang Kau-Tahu-Siapa yang sedang menyiapkan kekuatan dan bagaimana pendapat Kementrian tentang hal itu."
"Mereka tidak mempercayai hal itu dan menganggap Harry dan Anda adalah pembohong," jawabku. Aku tahu tentang hal itu dari Daily Prophet.
"Benar..." kata Dumbledore tersenyum. "Karena itulah semua surat dan transportasi sihir yang menuju Privet Drive diawasi, dan mereka juga ingin tahu apa yang kita lakukan. Jadi, aku meminta kalian berjanji untuk tidak memberikan informasi apapun pada Harry dalam surat kalian, oke?"
"Baiklah, Sir," jawabku, dan Ron mengangguk.
"Terima kasih..." kata Dumbledore. "Nah, kalian boleh pergi sekarang!"
Ron dan aku keluar dari ruang pertemuan dan menuruni tangga menuju dapur di ruang bawah tanah. Dapur sama suramnya seperti aula di atas, sebuah ruangan luas dengan dinding batu kasar. Sebagian besar cahaya berasal dari api besar diujung ruangan. Asap tipis pipa menggantung di udara seperti asap peperangan, di balik asap itu tampak bentuk-bentuk seram panci besi berat dan wajan yang tergantung dari langit-langit gelap. Banyak kursi di jejalkan dalam ruangan itu dan sebuah meja kayu panjang berdiri di tengahnya. Di kursi itu duduk banyak orang, sekitar dua puluh orang yang tidak kukenal. Mungkin anggota Orde, pikirku. Mengamati mereka satu persatu dan menyadari ada beberapa wajah yang kukenal seperti, Bill, Sirius, Profesor Lupin, Profesor Mcgonagall dan Profesor Moody. Aku menyalami mereka satu persatu dan berkenalan dengan yang lainnya.
"Kita harus kembali ke atas," kata Mr Weasley, setelah aku menyalami mereka semua.
Yang lain mengangguk dan berjalan menaiki tangga menuju ke aula. Setelah semuanya pergi, aku duduk di salah satu kursi dan memandang Ron.
"Harry tidak akan menyukai ini," kataku.
"Dia tidak akan menyukainya," kata Ron, "tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa."
"Benar..."
Mrs Weasley muncul dari pintu sebelah kiri dengan sebuah panci berisi kentang melayang di depannya.
"Nah, sementara kalian ada di sini kalian bisa membantuku mengupas kentang," kata Mrs Weasley dan meletakkan panci kentang di depan kami.
Anggota Orde tidak ada yang tinggal makan malam, kecuali Lupin dan Bill. Saat makan malam tidak ada yang berdiskusi tentang hasil pertemuan, tampaknya mereka memang tidak ingin melibatkan kami dalam Orde. Lupin, Bill dan Sirius berdiskusi tentang artikel tentang Dumbledore di Daily Prophet. Fred dan George duduk berbicara berbisik sehingga kami tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Ginny duduk di sebelahku dan asyik menikmati makan malamnya tanpa mempedulikan yang lain. Ron, yang duduk sisi lainku berkata,
"Mereka sudah seperti itu sejak awal liburan."
Aku memandangnya bingung dan melihatnya sedang memandang Fred dan George.
"Ada apa?"
"Mereka tampaknya sedang merencanakan sesuatu. Mereka mengatakan pada Mom bahwa mereka tidak ingin kembali ke Hogwarts untuk tahun terakhir mereka, tapi Mom menangis dan mereka berjanji akan menyelesaikan pendidikan mereka."
"Menurutmu apa yang mereka lakukan?"
"Entahlah, tapi ini ada hubungannya dengan barang-barang lelucon. Mereka berbisnis di Daily Prophet dan―dan menurutku mereka ingin membuka toko lelucon."
"Tapi dari mana mereka memperoleh uang untuk membuka toko lelucon?"
"Itulah yang menjadi pertanyaan kami selama ini," kata Ron.
"Bagaimana dengan Percy?" tanyaku.
"Dia..." Ron mengumpat perlahan. "Percy tidak mempercayai cerita Harry, dia lebih percaya pada Kementrian dan―"
"Dia akan sadar kalau Kau-Tahu-Siapa benar-benar menyatakan diri."
"Ya... aku sebenarnya juga bertanya-tanya, apakah yang kita lakukan ini tidak sia-sia."
"Apa maksudmu?" tanyaku tajam. Secara sepintas, aku tahu apa yang dipirkannya.
"Yah, kita hanya mendengar cerita tentang Kau-Tahu-Siapa dari Harry dan―"
"Ron, kau tidak boleh berpikir seperti itu. Aku percaya pada Harry dan kau juga... Ingat karena kita percaya pada Harry-lah jadi kita berkumpul di sini dan menghindari Kementrian. Kita tidak boleh goyah dan Harry―Harry memerlukan kita... Dia memerlukan setiap orang yang percaya padanya."
"Aku tahu dia memerlukan kita."
"Lalu mengapa kau berpikir seperti tadi?"
"Aku berkata seperti itu karena ingin melihat reaksimu," kata Ron. "Dan sekarang aku tahu bahwa kau juga percaya pada Harry."
"Kupikir kau mengenalku?"
"Aku sudah mengenalmu selama empat tahun, tapi aku tidak tahu apa yang kau pikirkan."
Aku ingin mengatakan hal yang sama tentangnya, tapi suara keras Mrs Weasley memotong,
"Besok pagi kita akan membersihkan ruangan penyimpanan itu." Dia mengangguk pada pintu di sebelah kiri dapur.
"Mom mulai lagi," bisik Ginny. "Kami telah menghabiskan waktu kami di sini dengan bekerja."
"Rumah ini memang perlu dibersihkan," kata Hermione.
"Kau juga akan mengeluh kalau kau sudah mulai bekerja membersihkan rumah ini, Hermione," kata Ginny.
Mereka menghabiskan makan malam dan bergerak bangkit menuju kamar masing-masing.
"Ada yang bisa kubantu, Molly?" tanya Lupin, saat Ginny dan aku membereskan meja.
"Tidak usah... Ginny dan Hermione bisa membantuku. Pergilah, Lupin, kulihat kau sangat lelah."
Lupin mengangguk dan berjalan meninggalkan dapur diiringi pandangan prihatin Mrs Weasley.
"Ginny pergilah! Biar Hermione yang membantuku," katanya pada Ginny.
Aku memandangnya dengan pandangan bertanya, sementara Ginny bergumam tidak jelas dan meninggalkan dapur.
"Bagaimana orangtuamu, Hermione?" tanya Mrs Weasley sambil mengayunkan tongkat sihirnya pada piring-piring kotor dan piring-piring itu mencuci sendiri.
"Mom dan Dad baik-baik saja," jawabku.
"Apakah mereka mengijinkanmu datang kemari?"
Aku menghindari padangan Mrs Weasley, tidak tahu harus berkata apa, tapi sepertinya Mrs Weasley tidak menginginkan jawabanku karena dia berkata lagi.
"Aku mengerti perasaan orangtuamu. Mereka tentu ingin menghabiskan liburan bersamamu..." kata Mrs. Weasley. "Kami semula tidak setuju dengan rencana Ron untuk mengundangmu kemari, tapi dia memaksa..."
"Maaf..." kataku.
"Oh, tidak perlu minta maaf, Sayang..." kata Mrs Weasley menenangkanku. "Aku hanya ingin memastikan bahwa orangtuamu tahu kau bersama kami."
Aku menunduk memandang kakiku. Aku tidak bisa mengatakan pada Mrs Weasley bahwa aku diijinkan kemari karena OWL.
Ron POV
Tinggal di Grimmauld Place adalah banyak bekerja dan sedikit bersantai. Selama minggu-minggu berikutnya, kami menghabiskan waktu dengan bersih-bersih rumah. Kami hanya beristirahat saat makan siang atau saat para anggota Orde akan mengadakan rapat. Saat rapat inilah kesempatan kami untuk mencuri dengar apa yang dilakukan Orde karena kami tidak diijinkan ikut pertemuan Orde. Fred dan George yang telah menemukan sebuah alat berguna bernama Telinga Terjulur, yang bisa mendengar pembicaraan orang di balik pintu. Kami berhasil mencuri dengar pembicaraan mereka beberapa kali, tapi Mom berhasil menemukan Telinga-Terjulur dan menyitanya.
Sesuai janji kami pada Dumbledore, kami tidak menyampaikan hal-hal penting pada Harry. Namun kami sangat cemas saat mendengar Harry diserang Dementor dan tentang sidang yang harus diikuti Harry. Hedwig datang, membawa surat Harry yang bernada marah dan mematuki tanganku, tangan Hermione dan juga Sirius sampai terluka cukup dalam. Hari ketiga setelah itu mereka menjemput Harry dan Hermione dan aku harus menghadapi kemarahan Harry selama sepuluh menit. Meskipun Harry berteriak-teriak, tapi aku bersyukur dia akhirnya ada di sini. Hermione memang sahabat yang baik, tapi aku lebih memilih Harry.
Grimmauld Place nomor 12 lebih semarak sejak kedatangan Harry. Acara bersih-bersih juga lebih menarik dengan adanya Harry, setidaknya kami bisa bercanda tentang Kreacher yang ke mana-mana mengumpulkan barang rongsokan keluarga Black. Tetapi Mom membuat kami berkerja sangat keras sepanjang hari berikutnya. Perlu tiga hari untuk membersihkan ruang keluarga. Akhirnya, benda tak diinginkan yang tertinggal di ruangan itu adalah permadani hias keluarga Black, yang melawan semua usaha kami untuk melepaskanya dari dinding, dan meja tulis yang berkeretekan. Dari ruang keluarga kami pindah ke ruang makan di lantai dasar. Banyak sekali labah-labah sebesar piring di dalam laci, sehingga aku mengundurkan diri secepat mungkin.
Akhirnya pada suatu pagi yang cerah aku terbangun dan tidak melihat Harry di tempat tidur sebelah. Suara Mom yang memanggil kami untuk sarapan bergema di aula.
"Kau lupa, Ron... hari ini sidang Harry," kata Hermione, saat kami sarapan dengan terburu karena harus membersihkan kamar-kamar di loteng setelah sarapan.
"Merlin, bagaimana aku bisa lupa," seruku. "Semoga sidangnya berjalan dengan baik."
"Keadilan... itulah yang kita harapkan," kata Hermione.
Kami sudah selesai membersihkan kamar-kamar loteng dan sedang minum teh di dapur saat Dad dan Harry pulang membawa berita bagus.
"Aku sudah tahu!" teriakku, meninju udara. "Kau selalu bisa meloloskan diri."
"Mereka harus membebaskanmu," kata Hermione. "tak ada yang bisa dituduhkan padamu, sama sekali tak ada."
"Tapi semua orang tampaknya begitu lega, mengingat kalian semua sudah tahu aku akan bebas," kata Harry tersenyum.
Mom menyeka wajahnya dengan celemek, sementara Fred, George dan Ginny menarikan semacam tarian perang sambil menyanyikan, "Dia bebas, dia bebas, dia bebas."
Hari berikutnya berlalu dengan cepat dan tanggal satu September sebentar lagi tiba. Aku merasa gembira karena sebentar lagi bisa terlepas dari kungkungan rumah yang mengerikan ini dan kembali ke Hogwarts. Harry diam-diam mencemaskan Sirius, tapi aku berhasil meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja di Markas Orde
Pada hari terakhir liburan burung-burung hantu Hogwarts muncul di Grimmauld Place mengantarkan surat yang berisi daftar buku. Aku mengambil amplop yang ditujukan untukku dan untuk Harry, lalu kembali ke kamar kami. Harry sedang membersihkan sangkar Hedwig saat aku menyerahkan amplop yang bertuliskan namanya.
Aku membuka amplopku sendiri. Isinya adalah tiga lembar perkamen; yang pertama surat pemberitahuan biasa bahwa tahun ajaran baru dimulai pada tanggal satu September, yang kedua memberitahu buku yang diperlukan untuk tahun ajaran mendatang, dan yang terkahir adalah surat pemberitahuan bahwa Dumbledore telah mengangkatku sebagai Prefek. Aku memandang surat itu dengan tidak percaya. Prefek, tapi mengapa Dumbledore mengangkatku sebagai Prefek? Bukankah Harry―dengan semua yang dilakukannya dengan Kau-Tahu-Siapa, lebih pantas untuk menjadi prefek? Lencana merah tua dan keemasan dengan huruf timbul P besar terpampang di atas singa Gryffindor, jatuh ke tanganku, aku memandangnya terpana.
"Prefek?" kata Fred. Dia dan George telah bergabung denganku dan Harry.
"No way," kata George dengan suara pelan.
"Pasti ada kekeliruan," kata Fred, mengambil surat dari tanganku dan menerawangnya di lampu, mencari pemalsuan.
Kekeliruan, ulangku dalam hati. Tetapi, apakah ini kekeliruan? Apa yang dilihat Dumbledore padaku? Aku tidak memiliki kemampuan seperti yang dimiliki Harry, dan aku bukan apa-apa dibandingkan Harry. Namun, Dumbledore memilihku... Dia memilihku. Aku adalah prefek. Aku memberikan lencana itu pada Harry. Aku ingin Harry meyakinkanku bahwa itu adalah lencana asli dan aku tidak bermimpi.
Pintu menjeblak terbuka dan Hermione menyerbu masuk, pipinya merah dan rambutnya berburai-burai. Ada surat di tangannya.
"Apakah kau―apakah kau menerima...?"
Dia melihat lencana di tangan Harry dan menjerit.
"Sudah kuduga!" katanya bergairah, melambai-lambaikan suratnya. "Aku juga, Harry, aku juga."
"Tidak," kata Harry cepat-cepat, mengembalikan lencana ke tanganku. "Ron, bukan aku."
"A-apa?" Hermione tampak bingung.
"Ron yang Prefek bukan aku," kata Harry.
"Ron?" tanya Hermione, mulutnya terbuka. "Tapi... kau yakin? Maksudku...?"
Nah begitulah, pikirku dalam hati. Tidak ada yang percaya bahwa aku bisa menjadi Prefek, bisa mengalahkan Harry dalam satu bidang. Hermione bahkan mengira ada penipuan dalam surat ini. Yah, Harry memang lebih layak untuk menjadi Prefek. Dia dan Hermione akan mejadi pasangan Prefek yang sempurna. Tetapi namakulah yang ada di surat dan aku senang. Mom juga sangat sangat senang. Aku berhasil membujuknya untuk membeli sapu baru, jadi tahun ini aku akan bisa ikut ujicoba Quidditch.
Gerbong Perfek di Hogwarts Express telah penuh oleh anak-anak yang memakai lencana Perfek dengan lambang asrama masing-masing. Aku melihat Draco Malfoy duduk di sudut bersama Parkinson. Lencana P besar di atas gambar ular perak Slytherin bertengger di dada mereka. Aku mengeluh dalam hati, Malfoy? Prefek? Aku akan berusaha menangkapnya teman-temannya duluan sebelum mencoba menangkap teman-temanku. Malfoy menyeringai padaku dari tempat duduknya. Aku mengalihkan pandangan dan memandang anak-anak lain dalam gerbong. Erni Mcmillan dan Hannah Abbot tersenyum padaku, sementara Anthony Goldstein mengangguk dan Padma Patil membuang muka. Kelihatannya dia masih tidak menyukaiku karena tidak mengajaknya berdansa saat Pesta Dansa Natal. Aku merasa bersalah.
Ketua Murid, cowok dan cewek, masuk, dan Hermione mendorongku ke tempat duduk. Selama lima belas menit Ketua Murid memberikan pidato pembukaan, kemudian membacakan pembagian tugas para Prefek. Aku memandang Padma Patil dan menyadari bahwa Padma Patil sangat cantik. Benar apa yang dikatakan Dean: si kembar Patil merupakan cewek paling cantik diangkatan kami.
Setelah hampir satu jam pertemuan bubar. Hermione menyeretku keluar sebelum Malfoy dan Parkinson. Rupanya dia tidak ingin melihat seringai menyebalkan Malfoy.
"Kurasa tugas-tugas Prefek tidak terlalu melelahkan..." kata Hermione, saat kami melangkah menyusuri koridor kereta api. "Kita hanya perlu berpatroli di koridor dan mengawasi kastil saat ada event-event khusus."
"Aku tidak terlalu memperhatikannya," kataku jujur.
"Iya, karena kau sibuk memperhatikan Padma Patil," kata Hermione sengit.
"Itu karena aku merasa bersalah saat Pesta Dansa itu."
"Kau hanya ingin menarik perhatiannya, kan?"
"Dengar aku tidak ingin membahas ini denganmu," kataku. "Aku tahu kau masih tidak percaya bahwa aku adalah Prefek, kan? Kau ingin Harry yang menjadi Prefek Griffindor bersamamu, kan?"
"Apa? Apa yang kau bicarakan?" tanya Hermione bingung.
"Aku bicara tentang kau yang ingin berpasangan dengan Harry."
Hermione menatapku dengan mulut terbuka, terkejut, seolah aku menggunakan bahasa asing. "Dengar Ron, aku sudah bilang padamu bahwa Dumbledore tentu telah menemukan sesuatu pada dirimu, dia tahu kau mampu dan dia percaya pada kemampuanmu."
"Tapi kau tidak percaya pada kemampuanku," kataku, membuka pintu kompartemen dan masuk dengan membanting pintu di depan Hermione.
Harry sedang makan coklat kodok dan aku menyambarnya dari tangannya. "Aku lapar sekali," kataku.
Hermione masuk dengan sebal, dia memandangku dengan sengit, tapi aku mengabaikannya. Tidak ada gunanya bertengkar di depan Harry. Aku memenceritakan pada Harry tentang para Perfek lain, yang disambung oleh Hermione.
"Kau ke Pesta Dansa Natal dengan Padma Patil," kata suara tak jelas.
Aku mengangkat muka, saat itulah aku menyadari bahwa kami tidak sendiri dalam kompartemen ini. Seorang anak perempuan berambut pirang kotor dengan kacamata hantu warna-warni sedang menatapku tanpa berkedip dari atas majalah bertuliskan The Quibber.
"Yah, memang," kataku agak bingung.
"Dia tidak begitu menikmatinya. Menurutku kau tidak memperlakukannya dengan baik karena kau tidak mau berdansa dengannya. Kalau aku, kurasa aku takkan keberatan," katanya sambil berpikir-pikir. "Aku tidak begitu suka dansa."
Aku ternganga. Siapa sih? Aku memandang Ginny dan melihatnya sedang menyumbat mulutnya dengan tangan, menahan tawa. Aku menggelengkan kepala dan berkata pada Harry.
"Kami wajib berpatroli di koridor dari waktu ke waktu, dan kami bisa menjatuhkan hukuman kalau orang-orang berlaku tak pantas. Aku sudah tak sabar ingin menangkap Crabbe dan Goyle..."
"Kau tak boleh menyalahgunakan posisimu, Ron!" tukas Hermione tajam.
"Yeah betul karena Malfoy tidak akan menyalahgunakan posisinya sama sekali," kataku sinis.
"Jadi, kau mau merendahkan diri sampai ke levelnya?"
"Tidak, aku cuma mau memastikan aku menangkap temannya sebelum dia menangkap temanku."
"Astaga, Ron..."
"Aku akan menghukum Goyle dengan menyuruhnya menulis, dia benci menulis," kataku senang, membayangkan aku bisa menangkap si idiot Goyle. Aku merendahkan suaraku sehingga menyerupai dengkuran Goyle, dan menirukan gerakan menulis di udara. "Aku ... tak... boleh... tampak... seperti... pantat... babon."
Semua tertawa, namun si pirang gila tertawa lebih keras membuatku sangat heran. Kelihatannya si pirang ini memang kurang waras. Kerete api terus berjalan menyusuri pedesaan dan memasuki wilayan liar. Ketika akan memasuki Stasiun Hogwarts, aku dan Hermione bergegas ke koridor untuk berpatroli bersama para Prefek lain. Malfoy kelihatan sok dan tampak berusaha menonjolkan diri dengan lencana Perfek yang berkilat di dadanya.
Kami berhasil mengarahkan anak-anak kelas satu menuju perahu-perahu dan membantu anak-anak kelas dua naik kereta tanpa kuda yang membawa anak-anak ke Hogwarts. Setelah memastikan semua anak naik kereka, Hermione dan aku segera menuju ke kereta kami dan berjalan menuju Hogwarts. Sepanjang jalan Harry melirik bagian depan kereta, aku memandangnya dengan cemas. Apakah kali ini Harry melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat?
Kereta kami berhenti di undakan Hogwarts dan kami semua masuk ke Aula Besar dengan kelaparan. Para guru duduk di meja guru dengan sabar. Aku memperhatikan meja guru dan menyadari bahwa seperti yang dicemaskan Harry, Hagrid memang tidak ada. Namun di sebelah Dumbledore duduk seorang perempuan gemuk pendek yang tampaknya mirip kodok, dengan bando merah jambu di atas rambut pendeknya yang keriting coklat sewarna bulu tikus.
"Itu si Umbridge!" kata Harry.
"Siapa?" tanya Hermione.
"Dia hadir di sidangku, dia bekerja untuk Fudge!"
Hermione tampak heran. "Dia bekerja untuk Fudge, kalau begitu ngapain dia di sini?"
"Mana aku tahu..."
Aku memandang Umbrige dan memperhatikannya dengan seksama. Benar yang dikatakan Hermione, ngapain dia di sini? Lebih tepatnya adalah mengapa Umbridge ada di sini. Apakah Fudge sengaja menempatkan orang-nya di Hogwarts untuk mengawasi Dumbledore?
Hermione POV
Minggu-minggu pertama di Hogwarts berlangsung dengan tidak menyenangkan. Semua guru mengkuliahi kami tentang OWL dan memberikan pelajaran-pelajaran OWL yang supersulit; Harry mendapat detensi dari Umbridge sepanjang minggu pertama; Umbridge menjadi Inkuisitor Agung Hogwarts yang menginspeksi semua guru Hogwarts, dan Ron berhasil menjadi keeper Gryffindor, dengan catatan bahwa dia harus lebih banyak latihan karena menurut Angelina, dia tidak hebat.
Setelah melihat cara mengajar Umbridge yang hanya mementingkan teori dan mengabaikan praktek, aku meminta pada Harry untuk mengajar kami Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang sebenarnya. Mulanya Harry menolak, tapi dia akhirnya menyetujui rencana ini. Menurutku, Harry menikmati setiap kesempatan melakukan sesuatu di belakang Umbridge. Pelajaran Pertahan, yang dinamai Laskar Dumbledore ini, sangat sukses. Aku jadi bisa melakukan mantra-mantra yang tidak diajarkan oleh Umbridge. Semua anak juga tampaknya menikmati setiap pertemuan ini.
Selain segala kesibukan mengerjakan PR dan pertemuan LD, kami masih harus melaksanakan tugas kami sebagai Prefek. Ron dan aku telah beberapa kali melakukan patroli di sekitar koridor lantai tujuh dan menara Gryffindor setiap tiga kali seminggu. Sebenarnya, aku senang diberikan kesempatan untuk bersama Ron, tanpa Harry, beberapa jam dalam seminggu. Namun, kami hanya menghabiskan waktu kami dengan bertengkar tentang segala hal; Quidditch, SPEW, topi-topi yang kubuat untuk peri-rumah, berapa kali 'aku mengalahkanku' dalam latihan duel LD, 'apakah Snape bisa dipercaya meskipun dia adalah anggota Orde', Zacharias Smith, Victor, Harry dan Cho, juga Ginny dan Michael Corner.
"Apa yang Ginny sukai dari Corner?" tanya Ron, saat kami sedang berpatroli di koridor lantai tujuh.
"Dia baik," jawabku bosan. Ron telah beberapa kali menanyakan hal itu. Dia masih belum terima bahwa Ginny pacaran.
"Sebenarnya aku lebih suka Harry yang jadi pacar Ginny, dan kupikir Ginny naksir Harry."
"Dia memang naksir Harry, tapi dia sudah menyerah berbulan-bulan yang lalu. Dan kau tidak bisa memaksa Harry menyukai Ginny, Harry menyukai Cho Chang," jawabku.
"Cho Chang memang cantik, tapi Harry perlu seseorang yang lebih periang untuk berada di sisinya."
"Kurasa Cho Chang cukup periang," kataku.
"Tapi dia tidak kelihatan periang di mataku," kata Ron.
"Mengapa dia harus jadi periang di matamu? Kau―kau tidak menyukai Cho Chang, kan?"
"Tidak... aku tidak suka cewek pendukung The Tornados," kata Ron sengit.
"Oh, astaga Ron, Quidditch lagi? Apakah kau bisa berhenti melihat seseorang dari tim Quiddich mana yang diidolakannya?"
"Aku tidak melihat orang dari tim Quidditch-nya, aku hanya―"
"Shuttt!" potongku cepat menyuruh Ron tutup mulut. Aku baru saja mendengar suara seperti suara desahan dari ruang kelas kosong yang ada di depan kami.
Ron juga tampaknya telah mendengar bunyi itu karena dia menatap pintu itu.
"Siapkan tongkat sihir," bisik Ron. "Kita tidak tahu ada apa di dalam."
Aku mempersiapkan tongkat sihir dan memandang pintu yang dibuka oleh Ron dan...
"Jenggot Merlin," umpat Ron.
"Ada apa?" aku mengintip di balik punggung Ron dan melihat Angelina dan Fred sedang berciuman dengan mesra dengan punggung Angelina bersandar di tembok batu, sementara tangan Fred menjalar di seluruh tubuhnya.
"Oh my," kataku keras, tapi kedua pasangan yang sedang asyik berciuman itu tidak menyadari kehadiran kami. Bahkan tangan Fred sudah membuka bagian atas jubah Angelina.
"OI, HENTIKAN!" teriak Ron keras.
Keduanya memalingkan wajah melihat kami.
"Oh, kalian berdua," kata Fred santai, melepaskan Angelina.
"Hai Hermione," sapa Angelina, kemudian merunduk merapikan jubahnya.
"Kalau kalian ingin bermesraan, kalian bisa mencari tempat sendiri. Jangan mengganggu kami," kata Fred.
Wajahku memerah, apalagi wajah Ron. Wajahnya terlihat seperti udang yang kelamaan direbus.
"Kami bukan mencari tempat bermesraan... Kami Prefek," sanggah Ron.
Angelina tersenyum.
"Oke, Sir... kami akan pergi sekarang..." kata Fred, kemudian menggandeng Angelina menuju pintu.
"Bye," kata Angelina padaku. Aku hanya mengangguk.
"Ron, kalau kau juga sering berciuman kau tidak akan mengganggu orang lain yang sedang berciuman," kata Fred, saat melewati Ron.
Wajah Ron kembali merah sampai ke lehernya.
Sepanjang sisa malam itu, Ron tidak banyak bicara. Kelihatannya melihat Fred berciuman dengan Angelina membuat Ron stress berat.
"Oh, ayolah Ron, mereka hanya berciuman... tidak ada yang salah," kata Hermione.
"Mereka tidak hanya sekedar berciuman, mereka... mereka―" Wajah Ron kembali memerah.
"Apa?" tanyaku, kemudian tertawa. "Astaga, Ron, banyak orang yang berciuman. Bukankah kau sering melihat orang-orang berciuman saat sedang berpatroli."
"Tapi kau tidak pernah melihat saudaramu berciuman, kan?"
"Jadi?" tanyaku, lama-lama mulai jengkel. "Ron, Fred sudah dewasa. Dia tujuh belas tahun dan dia bebas melakukan apapun yang diinginkannya."
"Tapi aku tidak suka melihat saudaraku berciuman di depan umum seperti itu."
"Itu adalah kelas kosong sebelum kita mengganggu mereka," kataku, mengingatkan Ron.
"Oh sudahlah..."
Suasana hati Ron tidak semakin baik setelah itu. Apalagi pertandingan pertama tahun ajaran ini―Gryffindor melawan Slytherin―sudah semakin dekat. Gaya menjaga gawang Ron semakin hari semakin baik, namun aku merasa cemas. Ron belum pernah mengalami kampanye penghinaan, ejekan, dan intimidasi tanpa-henti dari tim Slytherin. Aku takut semangat juang Ron akan berhenti saat pertandingan dimulai.
Ginny dan aku turun sarapan pagi itu dan melihat bahwa semangat Ron memang sudah down. Dia duduk di dekat Harry sambil menatap ampas susu di dasar mangkuk cereal yang sudah kosong seakan sedang serius mempertimbangkan hendak menenggelamkan diri di situ.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ginny dengan tidak yakin.
"Dia cuma gugup," ujar Harry.
"Itu pertanda bagus. Aku tidak pernah melihatmu berkinerja bagus dalam ujian kecuali saat kau agak gugup," kataku sepenuh hati.
Namun Ron seolah tidak mendengar. Dia bahkan tidak mempedulikan Luna, yang menyapa mereka di meja Gryffindor dengan topi berbentuk kepala singa dengan ukuran sebenarnya.
"Kalau kalian sudah siap kita akan langsung ke lapangan, mengecek kondisi dan ganti pakaian," kata Angelina, yang datang bersama Katie dan Alicia, setelah Luna pergi.
Saat mereka akan berangkat aku mendekat Harry, menggandeng tangannya dan membawa ke tepi.
"Jangan sampai Ron melihat apa yang ada di lencana Slytherin," kataku mendesak.
Harry menatapku ingin tahu, tetapi aku menggelengkan kepala memperingatkan; Ron baru saja berjalan ke arah kami, tampak bingung dan putus asa. Aku memandang Ron sesaat, kemudian mendekatinya.
"Semoga sukses, Ron," kataku, berjingkat dan mengecup pipinya. "Dan kau juga, Harry..."
Aku tersenyum pada Harry dan bersama Ginny berjalan meninggalkan mereka, dalam hati berharap semoga Ron tidak membaca apa yang tertulis di lencana Slytherin. Namun saat pertandingan, harapanku sia-sia, karena anak- anak Slytherin mulai menyanyikan lagu Weasley Raja Kami, dengan suara yang membahana di seluruh stadion.
Weasley tak bisa berkutik lagi,
Tak bisa menyelamatkan gawang sendiri,
Maka semua anak Slytherin bernyanyi:
Weasley raja kami.
Weasley lahir di tempat sampah
Dia biarkan Quaffle masuk dengan mudah
Membuat kemenangan kami pastilah sudah
Weasley raja kami
"Brengsek! Licik!" umpat Ginny, yang duduk di sebelahku. Wajahnya memerah dan memelototi anak-anak Slytherin yang bernyanyi di seberang kami dengan marah. Dia mengeluarkan tongkat sihirnya dan bergegas meninggalkanku.
"Mau ke mana, Gin?" tanyaku.
Ginny menggelengkan kepalanya dan berjalan memutar di antara kursi-kursi menuju anak-anak Slytherin. Aku mengembalikan pandanganku pada Ron yang tampaknya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia telah membiarkan chaser-chaser Slytherin memasukkan Quaffle ke dalam gawangnya, entah yang keberapa kali. Namun, akhirnya pertandingan ini dapat dimenangkan oleh Gryffindor karena Harry berhasil menangkap Snitch di saat terakhir.
Aku sudah hendak meninggalkan stadion dan mencari Ron saat terjadi keributan di bawah. Suara teriakan dan raungan terdengar keras memenuhi stadion. Aku berlari cepat menuju ke bawah dan tiba tepat waktu untuk melihat George dan Harry sedang mengeroyok Malfoy.
"Harry! HARRY! GEORGE! JANGAN!" terdengar jeritan.
Kemudian Madam Hooch datang dan memberikan Mantra Perintang antara Harry dan George dengan Malfoy.
"Kalian pikir apa yang kalian lakukan?" teriak Madam Hooch, tangan satunya memegang peluit dan tangan yang lainnya tongkat sihir; sapunya terletak kira-kira semeter jauhnya. Malfoy meringkuk di tanah mengerang dan merintih-rintih, hidungnya berdarah. Bibir George bengkak; Fred tahan oleh Angelina, Katie dan Alicia. Crabbe berkotek dilatar belakang. "Belum pernah aku melihat tingkah laku seperti ini―kembali ke kastil, kalian berdua, dan langsung ke kantor Kepala Asrama kalian! Pergi! Sekarang!"
Aku memandang Harry dan George yang berjalan meninggalkan lapangan Quidditch dan berusaha mencari Ron di antara anak-anak yang berkerumun memandang Malfoy yang sekarang sedang dinaikkan ke tandu oleh Madam Hooch.
"Hermione, apa yang kau lakukan? Ayo kita kembali ke kastil," kata Ginny, yang muncul di sebelahku dan menggamit tanganku, menyeretku ke kastil.
"Aku belum menemukan Ron," kataku pada Ginny.
"Dia mungkin sedang ada di ruang ganti. Jangan khawatir," kata Ginny.
Ginny terus menyeretku mendaki undakan kastil, sementara aku memandang kerumunan anak-anak mencari Ron. Kami menaiki tangga pualam dan masuk ke ruang rekreasi Gryffindor yang sepi. Kami duduk di kursi di dekat perapian dan menunggu; Angelina, Alicia, Katie dan Fred duduk tak jauh dari kami. Beberapa menit kemudian lukisan Nyonya Gemuk terbuka, George dan Harry masuk dan duduk lesu di sofa sambil bercerita bahwa mereka dilarang main Quidditch seumur hidup.
"Aku mau tidur," kata Angelina, perlahan bangkit. "Siapa tahu semua ini ternyata cuma mimpi buruk. Mungkin aku akan bangun besok pagi dan ternyata kita belum bertanding..."
Dia segera diikuti oleh Alicia dan Katie. Fred dan George beberapa saat kemudian, dan Ginny menyusul tak lama sesudahnya.
"Kau sudah bertemu Ron?" tanyaku pelan.
Harry menggeleng.
"Kurasa dia menghindari kita," kataku. "Menurutmu di mana dia...?"
Tepat saat itu pintu lukisan terbuka dan Ron masuk. Dia sangat pucat dan di rambutnya ada salju. Dia langsung berhenti saat melihatku dan Harry.
Aku melompat bangun, "Sini... duduk sini!"
Ron berjalan ke perapian dan mengenyakkan diri di kursi yang paling jauh dari Harry. Aku memandangnya dengan cemas.
"Sori," kata Ron memandang kakinya.
"Kenapa?" tanya Harry.
"Karena mengira aku bisa main Quidditch," kata Ron. "Aku akan mengundurkan besok pagi-pagi."
"Kalau kau mengundurkan," kata Harry tak sabar, "cuma tinggal tiga pemain dalam tim." Dan ketika Ron tampak bingung dia berkata, "Aku dilarang main seumur hidup. Begitu juga Fred dan George."
"Apa?" dengking Ron.
Harry tampaknya tidak mampu untuk bercerita lagi, jadi aku menceritakan pada Ron tentang apa yang terjadi. Setelah itu Ron tampak mulai menyesali diri lagi. Aku yang sudah bosan mendengar debat Harry dan Ron memandang keluar jendela dan memandang sesuatu yang mungkin bisa menaikan semangat Harry dan Ron; lampu di pondok Hagrid menyala, dia telah kembali.
Pelajaran pertama Hagrid pada hari Senin berikutnya langsung diinspeksi oleh Ubridge. Umbridge tiba saat Hagrid mengajar tentang Thestral, kuda besar bersayap, mirip reptil, yang hanya bisa dilihat oleh penyihir-penyihir yang telah melihat kematian. Umbridge memperlakukan Hagrid seperti orang dungu, membuatku ingin menyihirnya menjadi kodok.
Setelah itu Hagrid dikenai masa pencobaan. Hal ini menurutku tidak adil karena selama beberapa minggu berikutnya Hagrid telah mengikuti rencana pembelajaran yang kubuat dan dia kemampuannya dalam mengajar semakin meningkat. Tetapi seperti yang telah kami duga sebelumnya, Umbridge memang ingin menyingkirkan orang-orang yang dianggapnya dekat dengan Dumbledore.
Liburan Natal semakin dekat. Harry dan Ron akan pulang ke The Burrow, sementara aku akan ke Alpen untuk main ski bersama orangtuaku. Victor mengirim burung hantu dan bercerita tentang pertandingan Quidditch-nya musim panas lalu dan tentang tahun terakhirnya di Durmstrang. Dia juga berkata akan ke Swiss untuk bertemu denganku saat liburan Natal.
Sambil medengarkan cerita Harry tentang Cho Chang yang menciumnya setelah pertemuan LD yang terlahir, aku menulis surat balasan untuk Victor. Harry dan Ron berdiskusi tentang ciuman itu, aku membiarkan mereka. Aku bermaksud tidak akan memberikan komentar apapun, namun pertanyaan Ron apakah Harry adalah pencium yang parah membuatku bicara.
"Tentu saja tidak," kataku.
"Bagaimana kau tahu?" tanya Ron tajam. Apakah dia berpikir bahwa aku pernah berciuman dengan Harry?
"Karena Cho melewatkan separuh waktunya dengan menangis akhir-akhir ini," kataku. "Dia menangis waktu makan, dalam kamar mandi, di mana-mana."
"Siapa tahu sedikit ciuman akan membuatnya lebih gembira," kata Ron, nyengir.
"Ron..." kataku, menaikan suara, seraya mencelupkan pena-bulu ke dalam botol tinta. "Kau adalah cowok paling tidak peka yang pernah kutemui."
"Apa maksudmu?" tanya Ron jengkel. "Orang seperti apa yang menangis saat dicium."
"Yeah," sambung Harry. "Siapa sih yang menangis saat dicium?"
Aku memandang mereka berdua, dan menyadari bahwa Harry dan Ron memang adalah dua cowok paling tidak peka yang pernah kutemui; Harry bisa mendapatkan Cho sejak awal semester kalau dia mengerti sinyal-sinyal yang diberikan Cho, sedangkan Ron... aku mendengus dalam hati. Aku ada di dekatnya, didepan matanya, menghabiskan hampir sembilan jam seminggu hanya berdua dengannya, namun... Ya sudah, lupakan! Mungkin aku memang harus sedikit lebih bersabar.
Aku menghela nafas dan meletakkan pena-buluku.
"Dia jelas sangat sedih karena Cedrid meninggal. Kemudian kurasa dia bingung karena dia dulunya menyukai Cedric dan sekarang dia menyukai Harry, dan dia tidak bisa memutuskan siapa yang lebih disukainya. Kemudian dia merasa bersalah, karena mengira dia mengkhianati almarhum Cedric dengan mencium Harry, dan dia mencemaskan apa yang dipikirkan orang lain tentangnya kalau dia berkencan dengan Harry... Oh dan dia takut, dia akan dikeluarkan dari tim Quidditch Ravenclaw karena belakangan ini terbangnya buruk sekali."
"Satu orang tak bisa merasakan semua perasaan itu sekaligus, mereka akan meledak."
"Hanya karena luas emosimu cuma selebar sendok teh, tak berarti orang lain juga demikian," kataku kejam, dan melanjutkan menulis.
"Kau menulis novel untuk siapa sih?" tanya Ron, berusaha membaca perkamenku yang terjulur di lantai.
"Victor," jawabku.
"Krum?"
"Berapa Victor lain yang kita kenal."
Aku menyelesaikan suratku dan beranjak ke kamar anak perempuan setelah menyegel surat itu. Aku tertidur dengan nyenyak tidak menyadari bahwa saat tengah malam Harry, Ron, Fred, George dan Ginny telah berangkat ke Grimmauld Place nomor 12.
Ron POV
Libuaran Natal kali ini adalah liburan Natal yang paling tidak menyenangkan dalam hidupku. Dad dibawa ke St. Mungo karena hampir saja dibunuh oleh ular Kau-Tahu-Siapa, kami semua harus menghabiskan liburan Natal kami di tempat sesuram Grimmauld Place nomor dua belas. Aku bukannya tidak bersyukur atas kebaikan Sirius, yang mengijinkan kami tinggal karena Grimmauld Place lebih dekat dengan St Mungo, tapi aku benar-benar merindukan The Burrow.
Hadiah Natal untuk Harry di tahun ini adalah Occlumency. Itu adalah pejaran untuk menutup pikiran dari penyihir-penyihir yang bisa membaca pikirang orang lain. Menurut Snape (dia yang akan mengajari Harry), Harry perlu mempelajari Occlumency agar dia bisa menutup pikirannya dari Kau-Tahu-Siapa, tapi aku curiga pada Snape. Aku curiga dia sengaja membuka pikiran Harry untuk membuat akses Kau-Tahu-Siapa ke pikiran Harry semakin baik. Saat aku menyampaikan pikiran itu, Hermione marah-marah, dan menyuruhku tutup mulut dan berhenti mencurigai Snape.
"Kita mempercayai Dumbledore, dan kita tidak akan mempercayai siapa-siapa kalau kita tidak mempercayainya," kata Hermione tajam.
Sejak pejaran Occlumency itu, Harry mulai bertingkah aneh. Setiap malam dia mengigau dalam tidurnya dan yang lebih parah dia mulai bisa merasakan apa yang dirasakan Kau-Tahu-Siapa. Satu hari dia tertawa gila-gilaan dan berkata bahwa Kau-Tahu-Siapa sedang senang, hari yang lain Harry merasakan kemarahan, yang membuatnya ingin muntah.
Di minggu-minggu yang membingungkan itu, Umbridge masih bersemangat melakukan inspeksi dan berhasil mengeluarkan Trelawney dari Hogwarts. Namun, Dumbledore berhasil mencegah dia mengeluarkan Trelawney dari kastil, dan mencari seorang guru Ramalan baru, yaitu centaurus, Firenzi. Sementara itu pertemuan LD berjalan dengan baik sampai suatu malam saat kami sedang berlatih Patronus, Dobby datang dan memberitahu kami bahwa Umbridge sedang menuju ke lantai tujuh. Kami berlarian keluar dari Kamar Kebutuhan, aku menyambar tangan Hermione dan bersembunyi di ruang kelas kosong terdekat, namun suara keras Umbridge yang menyuruh Malfoy dan geng Slytherinnya untuk mencari di sekitar koridor lantai tujuh membuatku ketakutan. Malfoy akan menemukan kami dan kami akan dikeluarkan dari Hogwarts. Aku memandang Hermione yang juga tampak ketakutan.
"Mereka akan menemukan kita," kata Hermione. "Apa yang harus kita lakukan?"
Langkah-langkah kaki para pencari semakin dekat dengan tempat kami. Aku memandang Hermione, kemudian memandang berkeliling ruang kelas. Tidak ada tempat bersembunyi, tapi aku ingat bahwa ruang kelas ini adalah tempat kumenemukan Fred berciuman dengan Angelina. Sebuah ide gila muncul di otakku. Dan beberapa detik sebelum pintu terbuka, aku mendorong Hermione di tembok batu, merapatkan diri padanya dan menciumnya.
Hermione tampak terkejut beberapa detik, kemudian balas menciumku. Kami berciuman dengan penuh semangat. Aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, tapi aku senang menciumnya. Yah, aku sangat menyukai ciuman ini. Beberapa detik kemudian, ciuman ini membuat tubuhku panas dan jantungku berdebar dengan kencang. Aku menyelipkan kakiku di antara kakinya dan mengangkat sebelah kakinya ke pinggangku. Samar-samar aku mendengar suara orang yang berteriak terkejut, namun untuk saat ini aku tidak memikirkan hal itu. Aku hanya memikirkan tubuh Hermione yang lembut berada sangat dekat dengan tubuhku. Tanganku sedang bergerak ke bagian atas tubuhnya saat suara Malfoy yang keras terdengar.
"Wah... wah, Weasley! Aku tak menduganya!"
Aku melepaskan Hermione dan berbalik memandang pintu. Malfoy, Parkinson dan dua anak Slytherin lain sedang memandang kami.
"Apa, Malfoy?" tanyaku, seolah tak peduli.
"Apa yang kau lakukan di sini, Weasley?" tanya Malfoy, menatapku curiga.
"Kau lihat apa yang sedang kami lakukan, Malfoy," kataku, memeluk pinggang Hermione. "Dan bisakah kau meninggalkan kami sekarang? Kami sedang sibuk."
"Ya... ya, aku bisa melihatnya," kata Malfoy, sementara Parkinson cekikikan.
Aku berbalik memandang Hermione lagi dan kembali memberikan ciuman panas padanya, yang dibalas Hermione dengan sama panasnya. Dalam hati aku berdoa agar anak-anak Slytherin itu segera meninggalkan kami karena aku tidak yakin apa yang akan terjadi dengan kami kalau ciuman ini berlanjut. Kami mendengar bunyi pintu tertutup dan aku segera melepaskan Hermione.
Hermione segera merapikan jubah dan rambutnya yang berantakan.
"Dengar, tadi itu bukan apa-apa," kataku, memberi penjelasan padanya. Kurasa ini perlu karena aku tidak ingin merusak persahabatanku dengannya. "Maksudku ciuman itu... Itu hanya untuk membuat kita selamat dari anak-anak Slytherin itu."
Hermione menatapku selama beberapa detik sebelum berkata, "Aku mengerti..."
Peristiwa yang terjadi setelah malam itu membuatku melupakan ciuman itu; Dumbledore berhasil kabur dari para Auror, Inkuisitor Agung dan Mentri Sihir. Umbridge mengangkat dirinya sebagai kepala sekolah Hogwarts dan melewatkan hari pertamanya dengan berkeliling kastil untuk menghentikan kembang api yang dilepaskan Fred dan George. Aku sangat cemas membayangkan apa yang akan dilakukan Umbridge kalau tahu bahwa Fred dan George-lah penyebab keributan itu. Tetapi tampaknya Fred dan George tidak peduli, mereka membuat koridor menjadi rawa dan kabur dari Hogwarts dengan sapu mereka.
Selama beberapa hari aku cemas, aku tahu Mom akan membunuhku karena membiarkan Fred dan George pergi.
"Pasti aku yang disalahkan karena Fred dan George pergi, lihat saja," kataku suram, saat kami sedang di kelas Mantra dan menghadapi cangkir teh yang harus mereka mantrai. "Dia akan bilang aku seharusnya mencegah mereka pergi, aku seharusnya memegang ujung sapu mereka dan bergantung di situ atau apa... yeah, pasti semua salahku."
"Kalau dia bilang begitu, itu sangat tidak adil, kau takkan bisa berbuat apa-apa waktu itu! Tapi aku yakin dia tak akan bilang begitu. Maksudku, kalau benar mereka punya toko di Diagon Alley, pastilah sudah lama mereka merencanakannya."
Aku juga berpikir seperti itu, aku bertanya-tanya dari mana mereka mendapatkan uang untuk membuka toko.
"Mereka mendapat emas dariku. Kuberikan hadiah Triwizard kepada mereka bulan Juni lalu," kata Harry.
Aku mendesah lega, Mom tidak akan menyalahkanku karena hal ini. Lagipula aku masih harus mencemaskan OWL-ku tanpa harus mencemaskan Fred dan George. Musim ujian memang semakin dekat, Hermione sudah membuat jadwal belajar untuk kami dan memaksa kami belajar disetiap kesempatan.
Aku melewati ujianku dengan baik, meskipun aku tahu aku tidak akan lulus di beberapa pelajaran seperti Ramalan dan Sejarah Sihir. Aku tahu Harry juga tidak akan lulus dalam pelajaran Sejarah Sihir karena saat mengikuti ujian Sejarah Sihir dia pingsan. Saat ujian selesai aku dan Hermione segera mencari Harry dan menemukannya di atas tangga pualam. Kami segera menghampirinya.
"Ikut aku," katanya, berjalan sepanjang koridor, menintip melalui pintu-pintu dan akhirnya menemukan kelas kosong yang lalu dimasukinya. Hermione dan aku mengikutinya dan Harry membanting pintu di belakang kami.
"Voldemort menangkap Sirius," kata Harry.
Hermione dan aku memandangnya tidak percaya.
"Kita tak punya bukti bahwa Voldemort dan Sirius ada di Departement Misteri," kata Hermione.
Harry tidak peduli apapun yang dikatakan Hermione, dia tetap ingin pergi ke Kementria Sihir.
"Harry, kumohon!" kata Hermione putus asa. "Tolong cek dulu apakah Sirius tidak di rumah sebelum kita menyerbu London. Kalau dia tidak ada aku bersumpah tidak akan menghalangimu. Aku akan ikut, aku akan melakukan apapun yang diperlukan untuk mencoba menyelamatkannya."
Aku tidak terlalu mengingat apa yang terjadi setelah ini, namun Harry akhirnya setuju mengecek apakah Sirius masih ada di Grimmauld Place atau tidak. Kami, Ginny, Luna dan aku mencoba menjauhkan anak-anak dari koridor dan mencoba menyesatkan Umbridge, sementara Harry dan Hermione mengecek Markas Orde melalui perapian Umbridge.
Namun rencana yang disusun dengan sangat rapi tidak selalu berhasil. Anggota Inkuisitor Agung berhasil menangkap kaki dan membawa kami ke kantor Umbridge di mana hal yang sama terjadi pada Harry dan Hermione.
Hermione POV
Kejadian demi kejadian yang terjadi berikutnya sangat membingungkan. Ron, Ginny, Luna dan Neville (entah bagaimana dia bisa bersama mereka, aku tidak tahu) tertangkap; mereka digiring oleh regu Inkuisitor ke dalam kantor Umbridge. Aku berhasil memperdayai Umbridge dan membawanya ke Hutan Terlarang mempertemukannya dengan para centaurus, yang akan menyerang kami, namun aku dan Harry ditolong Grawp (adik Hagrid), sementara Umbridge dibawa oleh kawanan centaurus.
Saat kami sedang kebingungan di pinggir Hutan Terlarang, Ron, Luna, Neville dan Ginny datang dan kami semua berangkat ke Kementrian Sihir. Namun, di sana tidak ada Sirius, aku sudah menyadarinya sejak awal. Tidak mungkin Sirius ada di Kementrian sementara dia adalah orang yang dicari oleh kominitas sihir, kepalanya dihargai seribu Galleon. Ini memang jebakan Voldemort. Dia ingin Harry mengambil ramalan tentangnya dan Harry di Depertemen Misteri.
Kemudian kami diserang, para Pelahap Maut telah menunggu kami dan ingin membunuh kami semua. Aku mendapati diriku sedang melarikan diri bersama Harry dan Neville; Ron, Ginny dan Luna telah pergi entah ke mana. Mantra-mantra beterbangan di udara sekitar kami, kami berlari dan bersembunyi sambil mencoba menemukan Ron, Ginny dan Luna, kemudian sinar ungu itu menghantam dadaku dan kesadaranku hilang.
Aku terbangun, menatap langit-langit putih rumah sakit. Di sebelahku Ron tampak tertidur tenang, di lengannya tampak bilur-bilur dalam. Di seberang kami terbaring Umbridge, dia juga tampaknya sedang terlelap. Setelah itu tidak ada siapa-siapa lagi, cuma kami bertiga. Kepanikan mulai menyerangku. Mana Harry, Ginny, Neville dan Luna? Aku memejamkan mata dan berdoa dalam hati agar mereka semua baik-baik saja dan...
"Hermione?" terdengar suara Ron dari sebelahku.
Aku membuka mataku dan memandang mata biru Ron.
"Aku mendengarmu mengeluh..." kata Ron, menaikkan bantalnya dan bersandar.
"Aku... Ron, apa yang terjadi dengan yang lain? Apakah... apakah mereka baik-baik saja?" Aku berbaring miring memandangnya.
"Semua baik-baik saja... Harry dan Luna tidak terluka, dan Madam Pomfrey berhasil menyembuhkan pergelangan tangan Ginny dan memperbaiki hidung Neville dalam sekejap."
"Oh, syukurlah! Lalu apa―apa yang terjadi dengan kalian setelah kita berpisah?"
"Yeah, setelah aku melihat Harry bersamamu, aku tahu dia akan menjagamu, jadi aku menarik Ginny dan Luna bersamaku. Aku tidak tahu di mana pintu keluarnya, jadi kami memasuki pintu pertama yang ada di depan kami. Tempat itu adalah ruangan gelap dengan planet-planet melayang di udara. Aku menyadari itu adalah pintu yang salah dan menarik Ginny dan Luna untuk keluar dari ruangan itu. Tetapi saat hendak keluar, Pelahap Maut telah berdiri di depan kami. Kami maju mendekati lingkaran planet-planet itu dan melayang di udara. Para Pelahap Maut mulai menyerang kami..."
"Oh..." Aku mengepalkan tanganku.
"Dan kami berusaha menyembunyikan diri di balik planet sambil balas memantrai mereka, namun mereka menghancurkan planet-planet itu sehingga kami semua terjatuh ke lantai dan pergelangan tangan Ginny patah, sementara salah satu kutukan Pelahap Maut menghantamku. Aku tidak tahu mantra apa itu, tapi―"
"Kau baik-baik saja?"
"Ya, tapi setelah itu, aku jadi merasa bahwa semua kejadian itu lucu... aku mulai tertawa dan tertawa..."
Aku mengerut kening, aku belum pernah mendengar kutukan seperti itu.
"Luna dan Ginny berusaha membawaku keluar dari ruangan itu dan kami bertemu Harry... " Ron melanjutkan ceritanya tentang otak-otak dalam tempayan, saat berada di Ruang Kematian dan bagaimana para anggota Orde dan Dumbledore datang menyelamatkan mereka.
"Dan bagaimana dengan ramalan itu?"
"Ramalan itu sudah tidak ada," jawab Ron. "Ramalan itu terjatuh saat Neville berusaha menyelamatkan Harry."
"Oh..."
"Kurasa kita tidak usah mengingat kejadian itu lagi," kata Ron. Dia memandangku, "Harry telah bercerita padaku bagaimana Pelahap Maut itu menyerangmu."
"Yah, aku―Aduh!" Aku berusaha duduk, namun dadaku terasa sakit.
Ron melompat dari tempat tidurnya dan menghampiriku.
"Kau baik-baik saja?"
"Ya..."
"Tidur lagi... lagipula sekarang masih gelap. Madam Pomfrey bilang kau akan baik-baik saja besok." Ron membantuku berbaring lagi.
"Terima kasih."
Ron kembali ke tempat tidurnya dan berbaring.
"Kita akan mengalami hal yang lebih parah dari ini kalau kita terus mengikuti Harry," kata Ron.
Aku memandangnya. "Kau menyesal?"
Ron tersenyum cemerlang.
"Tidak..." katanya. "Menurutku ini adalah pengalaman yang sangat menegangkan!"
Kutipan Dialog:
Setelah Harry pulang Kementrian Sihir: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal. 223.
Setelah Ron mendapat lencana Prefek: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal.232.
Ron bertemu Luna Lovegood: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal. 268-269.
Hermione dan Ron bertemu Umbridge: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal. 287.
Saat sarapan pada hari pertandingan pertama Ron: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal. 360-361.
Lagu Weasley Raja Kami: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal. 566
Harry dan George memukul Draco: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal 574.
Perbincangan setelah pertandingan Quidditch: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal. 380-381.
Perbincangan setelah pertemuan LD: Harry Potter dan Orde Phoenix, hal. 635-638.
Read and Review, please!
See you in chapter 6
Riwa :D
