Terima kasih... terima kasih sudah membaca dan review chapter 5. DarkBlueSong: Thanks, tapi bagian ciuman itu bukan ideku lo :D, tapi Ann Margaret (ada di disclaimer chapter 5); BrittaniAshley: Thanks, tetap review, ya... Selamat Membaca chapter 6!
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.
Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran.
KISAH RON DAN HERMIONE
Chapter 6 Pangeran Berdarah-Campuran
Hermione POV
Pendingin udara di ruang keluarga berdengung, sesekali terdengar suara mobil yang lewat di jalanan gelap di luar dan yang lebih keras dari semuanya itu adalah suara TV. Mom, Dad dan aku sedang duduk di depan TV sambil menonton berita malam. Selama seminggu ini berita yang kami dengar adalah berita kecelakaan, pembunuhan, bencana alam ajab, dan kabut hitam gelap yang menggantung di udara. Aku tahu dari mana semua kemalangan dan kesengsaraan ini berasal. Semua ini adalah akibat ulah Pelahap Maut, yang dibantu oleh raksasa dan para Dementor.
Setelah apa yang terjadi di Kementrian Sihir semester lalu, para Pelahap Maut mulai beraksi terang-terangan. Mereka membunuh penyihir-penyihir yang dianggap bisa membahayakan mereka, juga penyihir-penyihir yang tidak mau bergabung dengan Voldemort. Sekarang ini di Daily Prophet banyak berita orang-orang dibunuh, orang hilang, kecelakann-kecelakaan yang tidak diketahui sebabnya, dan masih banyak berita-berita menyedihkan laingnya.
"Astaga, pembunuhan di dekat kantor Perdana Mentri... Apa komentar pemerintah tentang hal ini?" kata Dad, setelah pembaca berita mengakhiri beritanya.
"Bagaimana dengan Herbert Chorley yang bersikap aneh?" tambah Mom.
"Ya, juga jembatan yang ambruk itu dan badai ajaib di West Country yang membunuh banyak orang," lanjut Dad, kemudian mematikan TV.
Orangtuaku tidak tahu apa yang terjadi. Mereka hidup dengan aman dan nyaman di sini, pulang pergi Harley Street, membicarakan hal-hal sepele tanpa mengetahui bahwa seorang penyihir hitam jahat sedang berniat mengusai dunia, dan menempatkan Muggle pada tempat mereka yang sesuai, yaitu di bawah kaki para penyihir. Aku mempertimbangkan; apakah aku akan menceritakan tentang Voldemort pada orangtuaku. Aku harus menceritakannya pada mereka karena aku terlibat... aku sudah terlibat sejak awal bergabung di dunia sihir, sejak aku memutuskan untuk berteman dengan Harry Potter, orang yang paling dicari-cari oleh Voldemort. Mom dan Dad harus tahu bagaimana kisah yang sebenarnya agar mereka bisa mengerti... mereka bisa melepaskan aku kalau suatu saat nanti aku pergi ke duniaku.
Selama ini aku tahu bahwa aku hidup dalam kebohongan. Aku berbohong pada mereka tentang apa yang terjadi. Aku tidak menceritakan pada mereka tentang semua teror yang terjadi di Hogwarts dan dunia sihir, juga tentang kematian di Hogwarts. Kalau aku jujur, mereka tidak akan melepaskanku kembali ke Hogwarts. Mereka akan menyuruhku untuk bersekolah di dunia Muggle dan melupakan dunia sihir. Tetapi aku tidak bisa melakukannya, aku tidak bisa meninggalkan dunia sihir karena itu adalah duniaku... dunia di mana aku bisa hidup dan berkumpul bersama teman-temanku.
"Mungkin sudah saatnya dunia ini berakhir," kata Mom, memberikan pendapat.
"Tidak..." kataku tegas. Aku harus mengatakan kebenaran pada mereka.
Orangtuaku menatapku dengan heran.
Aku menarik nafas dan berkata, "Sebenarnya, Mom, Dad... semua yang terjadi ini adalah ulah Pelahap Maut."
"Ulah siapa?" tanya Mom dan Dad.
"Ulah Pelahap Maut... Mereka adalah penyihir-penyihir pengikut Voldemort. Voldemort adalah penyihir hitam jahat yang ingin menguasai dunia," kataku, menarik nafas lagi, kemudian bercerita pada mereka tentang Voldemort yang telah kembali; Voldemort yang ingin mengusai dunia dan membinasakan para Muggle. Aku juga bercerita tentang Harry dan orangtuanya, juga bagaimana Voldemort sedang mencari Harry untuk membunuhnya. Semakin jauh aku bercerita, wajah Mom dan Dad yang semulanya agak terkejut dan heran berubah menjadi ketakutan. Terlebih Mom, dia beberapa kali menggelengkan kepalanya dan bergumam tidak mungkin.
"Jadi selama ini mereka menganggapmu sebagai warga kelas dua, yang tidak layak untuk bergaul dengan mereka?" tanya Mom, setelah aku bercerita.
"Tidak semua seperti itu... hanya para pencinta darah murni dan Pelahap Maut," jawabku tegas. Aku tidak ingin Mom berpendapat bahwa aku mendapat perlakukan buruk di Hogwarts.
"Kau sudah tahu tentang ini dari dulu... Mengapa kau baru mengatakannya sekarang?" tanya Dad, memandangku tajam.
"Karena aku tidak ingin Mom dan Dad melarangku ke Hogwarts."
"Mengapa kau memberitahu kami sekarang?" tanya Dad.
"Karena aku merasa bahwa kalian harus tahu tentang apa yang terjadi karena biar bagaimanapun aku sudah terlibat. Aku tahu tentang Orde, para anggotanya, dan Harry. Aku sudah terlibat dan aku tidak bisa mundur, atau menghindar."
Mom dan Dad saling pandang, kemudian memandangku lagi. Tidak ada yang bicara untuk beberapa saat, suara klason mobil beruntun terdengar di luar.
"Kalau begitu kau tidak boleh kembali ke sekolah itu semester mendatang," kata Mom, memecahkan keheningan.
"Mom, kau tidak bisa melakukan itu."
"Kami orangtuamu dan kami akan memutuskan apa yang paling baik untukmu."
"Mom, meskipun aku adalah anak Mom dan Dad, tapi aku bukanlah bagian dari dunia ini. Aku adalah bagian dari dunia sana, bersama sesama penyihir. Aku tidak bisa tinggal di sini sementara aku sudah mengenal dunia lain itu."
"Aku sudah tahu dari awal cepat atau lambat ini akan terjadi," kata Dad pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Mom, memandang Dad. "Kau akan membiarkannya kembali ke tempat berbahaya itu?" Mom memandangku. "Hermione, dengar! Aku tidak akan mengijinkanmu pergi ke sana lagi. Seharusnya dari awal aku sudah melarangmu ke sekolah itu, tapi sekarang belum terlambat―"
"Mom, semua sudah terlambat. Lihat aku! Aku sekarang sudah hampir menjadi penyihir dewasa. Aku tidak bisa berpura-pura bahwa aku bukan penyihir."
"Bisa, kau bisa memulai kehidupan barumu sebagai manusia normal dan melupakan semua tentang sihir."
"Tidak, Mom!" bantahku. "Aku bisa memutuskan apa yang akan kulakukan. Dan aku tidak akan meninggalkan dunia sihir."
"Omong kosong!"
"Mom!"
"Monica..." Dad berbicara pada Mom. "Hermione sudah dewasa, biarkan dia memutuskan apa yang ingin dilakukannya. Kau tidak mengharapkan dia tinggal bersama kita selamanya, kan?"
Mom memandang Dad, kemudian memandangku.
"Ini pasti gara-gara anak laki-laki Weasley itu, kan?" tukas Mom tak terduga.
"Apa? Apa hubungannya Ron dengan semua ini?"
"Pasti dia yang telah mencuci otakmu, sehingga kau―"
"Mom, ini tidak ada hubungannya dengan Ron. Ini pilihanku sendiri, aku memilih untuk terlibat dengan dunia sihir."
"Monica, cobalah untuk menerima perubahan. Anak kita sudah dewasa dan dia sudah memilih. Dia memilih untuk tinggal di dunia sihir. Kita tidak akan bisa mencegahnya, yang bisa kita lakukan adalah mendukungnya sepenuh hati dan berdoa semoga hidupnya sehat dan selamat di dunia sana. Lagipula, dia bukan pergi untuk selamanya. Dia akan kembali satu saat nanti. Kita adalah orangtuanya dan dia tidak mungkin melupakan kita."
"Ya, aku tidak mungkin melupakan kalian."
"Tapi..."
"Pergilah ke kamarmu, Hermione, aku akan bicara dengan ibumu."
Aku memandang orangtuaku sesaat, kemudian beranjak ke kamarku dan menghenyakkan diri di tempat tidur. Kamarku tampak rapi dan bersih seperti keseluruhan rumah ini, tapi aku merindukan keadaan yang berantakan dan keributan yang hanya bisa aku dapatkan di The Burrow. Pigwidgeon terbang berputar mengelilingi kamar, sementara Crookshank mengeong dengan marah di lantai, mencoba untuk menjangkau burung hantu itu dengan cakarnya, tapi tentu saja tidak mungkin. Pigwidgeon tiba kemarin membawa surat Ron yang mengatakan bahwa Harry akan tiba di The Burrow beberapa hari lagi. Ron memang tidak mengundangku untuk datang ke rumahnya karena ibunya pasti memintanya untuk menghargai orangtuaku, namun aku tahu, Ron pasti ingin agar kami bertiga berkumpul lagi. Aku juga menginginkannya. Aku juga ingin kembali ke The Burrow.
Aku mengambil perkamen dan pena bulu, kemudian mulai menulis.
Ron,
Aku sudah menceritakan semuanya pada orangtuaku, tentang Harry dan Voldemort, juga tentang keadaan dunia sihir sekarang ini. Dad mengerti, Mom tidak begitu mengerti, tapi aku yakin akhirnya dia juga akan mengerti.
Bisakah aku mengunjungimu? Aku akan meminta Dad mengantarku besok. Aku ingin memberikan waktu pada Mom untuk memikirkan masalah ini. Lagipula aku ingin kita bertiga berkumpul lagi dan Harry perlu dukungan kita.
Hermione.
Aku memanggil Pigwidgeon dan mengingkatkan surat untuk Ron di kakinya.
"Antarkan surat ini pada Ron," bisikku.
Pigwidgeon ber-uhu lembut dan terbang menuju langit musim panas.
Kami melalui jalan pedesaan berdebu, melewati perumahan, toko-toko Muggle dan beberapa rumah minum. Dad mengawasi jalan dengan serius sementara aku memandang keluar jendela. Bayangan Mom yang terus menangis saat aku pergi membuatku merasa bersalah. Aku tahu Mom dan Dad sangat menyayangiku, aku adalah satu-satunya anak mereka, namun aku juga punya kehidupan sendiri, yaitu bersama para penyihir.
"Jangan mencemaskan ibumu! Dia akan baik-baik saja," kata Dad, seakan bisa membaca pikiranku.
"Aku harap Mom akan mengerti," kataku.
"Ya... ya, lagipula kami akan bertemu denganmu Natal nanti, kan?" Dan memandangku penuh harap.
"Pasti, Dad," kataku tersenyum. "Aku pasti akan pulang untuk Natal."
Dad tersenyum, kemudian mengalihkan pandanganya kembali ke depan.
Mobil Dad terus melaju sepanjang jalan desa Ottery St Catchpole.
"Aku sangat berharap kau bisa menjaga dirimu sendiri," kata Dad.
"Aku akan menjaga diri... aku janji."
Beberapa menit kemudian, mobil Dad tiba di batas perlindungan The Burrow. Dad turun dan mengeluarkan koperku dari garasi, sementara aku mengambil keranjang anyaman berisi Crookshanks yang meronta-ronta.
"Aku tidak bisa masuk ke dalam," kata Dad, memandang tempat kosong di kejauhan. Dia tidak bisa melihat The Burrow karena mantra perlindungan yang telah dipasang oleh Kementria Sihir.
"Maafkan aku, Dad!"
"Tidak apa-apa, Sayang... Nah, kemarilah!"
Aku memeluk Dad. "Sampai jumpa, Dad."
Dad melepaskanku, kembali ke mobilnya dan melaju meninggalkan debu di depanku. Aku terus memandang mobil Dad sampai mobil itu lenyap di tikungan, kemudian menyeret koperku, dengan keranjang Crookshank di tanganku yang lain dan berjalan melalui batas perlindungan menuju The Burrow.
Rumah itu tidak berubah meskipun berbagai mantra perlindungan telah dipasang di sekeliling tempat itu. Rumah itu masih tetap miring, sepatu-sepatu bot Wellington masih ada di depan rumah, jembalang-jembalang kebun masih mengintip dari celah-celah semak mawar dan ayam-ayam masih berkeliaran di mana-mana sambil berkotek-kotek dengan ribut.
"Hermione!" Ginny muncul dari samping rumah dan berlari memeluk.
Aku menjaga keseimbanganku agar tidak terjatuh dan berkata, "Ginny!"
"Untung kau sudah tiba..." kata Ginny, kelihatan lega.
Aku menatapnya heran, tapi Ginny telah menjerit, "Crookshanks!" Melepaskannya dari keranjang anyaman, kemudian mengelus-elus bulunya. Crookshank yang telah melihat jembalang, melompat dari tangan Ginny dan bergegas mengejar jembalang.
"Sedang apa kau di luar?" tanyaku.
"Banyak dahak di dalam rumah," jawab Ginny cuek.
"Dahak?" tanyaku heran,
"Masuklah, kau akan melihatnya..."
"Melihatnya? Siapa?" tanyaku.
Ginny hendak menjawab, tapi Ron sudah muncul di pintu depan dan tersenyum melihatku.
"Hermione," katanya, melangkah menghampiriku.
"Hai, Ron." Aku menyapanya sambil tersenyum. Ron tampak lebih jangkung dari saat terakhir aku melihatnya.
Dia memandang Ginny. "Ginny, Mom mencarimu..." Memandangku lagi dia melanjutkan, "Masuklah, Hermione, aku akan membawakan kopermu."
Ron mengambil koper dari tanganku dan membawa masuk melalui pintu depan.
"Ayo," kataku pada Ginny.
"Kau masuklah! Aku mau jalan-jalan," kata Ginny, melangkah menuju kebun.
Aku memandangnya sesaat, mengangkat bahu, kemudian berjalan melewati pintu depan. Ruang tamu sepi, Ron tidak kelihatan, tapi aku mendengar suara-suara orang berbicara di ruang keluarga.
"Mrs Weasley..." panggilku.
"Kemarilah, Hermione," terdengar jawaban Mrs Weasley dari ruang keluarga.
Aku melangkah menuju ruang keluarga dan melihat Mrs Weasley sedang duduk di sofa sambil menjahit sesuatu, yang tampaknya adalah kaos kaki Mr Weasley, dan seorang gadis cantik berambut pirang lurus sepinggang dengan mata biru besar sedang duduk di sebelah Mrs Weasley. Dengan suaranya yang serak-serak basah merdu, dia sedang mengatakan sesuatu pada Mrs Weasley sambil sesekali mengayunkan kepala, sehingga rambut pirangnya berkibar di belakang seperti bendera.
"... dan Bill sangat menikmati bekerja di Gringgots, meskipun mereka hanya membayarnya sedikit. Aku sudah mengatakan padany bahwa mereka terlalu memaksanya bekerja dan... Oh!" Dia memandangku.
Sambil memandang mata biru yang cantik itu, aku berpikir bahwa aku sudah pernah melihat si pirang ini sebelumnya. Melihatnya membuatku merasakan kemarahan tak tertahankan.
"Hermione, duduk di sini," kata Mrs Weasley, menepuk sofa di sampingnya.
"Oh, kau Hermione!" kata si Pirang, menghampiriku dan menyalamiku. "Aku Fleur Delacour, kita sudah pernah bertemu sebelumnya... kau teman Harry Potter, kan?"
Aku mengangguk, tidak ingin berkomentar, tapi Fleur Delacour memang tidak menginginkan komentarku karena dia kembali berkata,
"Menurutku Harry Potter sangat hebat dan baik hati... Dia telah menolong adikku, Gabriella, waktu turnamen Triwizard itu, meskipun dia bukan sanderanya dan aku sangat―"
"Bagaimana kabarmu, Hermione?" potong Mrs Weasley cepat, dengan bibir dikerucutkan.
"Oh, aku baik-baik saja..." jawabku, kemudian cepat-cepat melanjutkan saat Fleur hendak bicara lagi. "Aku―kalau anda tidak keberatan aku ingin ke atas dan―"
"Oh, tidak apa-apa, Sayang, pergilah! Dan kalau kau melihat Ginny suruh dia turun, ya," kata Mrs Weasley.
Fleur Delacour? Yang benar saja? Dia kan cewek penyebalkan yang disukai Ron, pikirku sambil cepat-cepat naik tangga, dan hampir bertabrakan dengan Ron di bordes kedua.
"Dari mana saja?" tuntut Ron.
"Aku berbicara dengan ibumu dan Fleur Delacour," kataku, melangkah ke bordes berikutnya yang menuju kamar Ginny.
"Oh, kau sudah bertemu Fleur?" tanya Ron bersemangat di sampingku. "Bagaimana?"
Aku berhenti dan berbalik menatapnya.
"Bagaimana apa?"
"Bagaimana dia? Fleur?" tanya Ron tidak sabar.
"Kau ingin aku mengatakan apa? Menurutku, dia adalah orang paling menyebalkan yang pernah ada," kataku dalam bisikan, takut Fleur dan Mrs Weasley mendengarnya.
"Apa?" Ron tampak kaget dan gusar. "Kau juga?"
"Aku juga apa?"
"Kau juga tidak menyukainya?"
"Siapa lagi yang tidak menyukainya," kataku, melangkah lagi dan tiba di pintu kamar Ginny.
"Mom dan Ginny," kata Ron, masih menempel di belakangku saat aku memasuki kamar Ginny.
"Wajar saja," kataku, melemparkan keranjang Crookshank di lantai.
"Kurasa kalian cuma iri karena dia cantik..." kata Ron, duduk di tepi ranjang Ginny.
"Dengar, ya, kalau untuk jadi cantik aku harus bertingkah menyebalkan, terima kasih, tapi aku―"
"Tapi aku senang dia di sini," kata Ron, tak menghiraukanku. Dia memandang keluar jendela dan pikirannya menerawang.
"Omong-omong mengapa dia ada di sini?" tanyaku, melepaskan sepatuku.
"Dia dan Bill akan menikah tahun depan," jawab Ron, kelihatan sedikit menyesal.
"Dan kau menyesal?"
"Iya dan tidak." Pandangannya masih menerawang.
Aku memandangnya dengan tidak percaya.
"Maksudku dia benar-benar cantik, sayang sekali kalau dia akhirnya menikah."
"Kau Memang Sungguh Menyebalkan, Ron! Keluar!" bentakku, menyambar bantal dan melemparkannya pada Ron. Dia menghindar dan bantal itu jatuh di belakangnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" tanya Ron marah.
"Pergilah, Ron, aku tidak ingin bicara denganmu sekarang!"
"Oh, ayolah, Hermione, apa yang terjadi denganmu? Kau mengalami kesulitan dengan orangtuamu?"
"Apa?" Ron memang orang yang paling tidak peka yang pernah kutemui. Bagaimana dia tiba-tiba bicara tentang orangtuaku, sedangkan aku sebal karena sikapnya yang berlebihan terhadap Fleur Delacour.
"Kau tidak biasanya seperti ini, Hermione, maksudku marah-marah tanpa sebab. Aku tahu kau memang aneh, tapi tidak seaneh ini tentu saja," kata Ron, nyengir.
"Brengsek kau, Ron, keluar!"
"Tidak mau, ini kan kamar adikku, aku akan tetap di sini sesukaku."
"Terserah!"
"Bagaimana kabar orangtuamu?" tanya Ron setelah beberapa saat.
"Buruk... Mom terus menangis."
"Seharusnya kau tidak usah datang ke mari," kata Ron.
"Mengapa?" tanyaku heran.
"Kasihan orangtuamu... maksudku mereka ingin bersamamu."
"Benar, tapi aku ingin tahu apa yang terjadi di dunia sihir. Aku tidak akan tahu apa-apa kalau aku tinggal di dunia Muggle."
"Mom memintaku untuk tidak mengundangmu, dia mengatakan bahwa orangtuamu pasti ingin bersamamu, tapi―"
"Tapi aku mengundang diriku sendiri," kataku, dan Ron tersenyum.
"Benar, kau mengundang dirimu sendiri dan aku senang kau melakukannya."
Aku senang beberapa hari kemudian Harry datang, karena aku lelah melewatkan hari bersama Ron yang sepanjang waktu hanya menatap Fleur seolah belum pernah melihat anak perempuan sebelumnya. Aku juga senang dengan nilai OWL-ku sangat memuaskan; sembilan Outstanding dan satu Exceeds Expectation untuk Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Aku memang tidak bisa mengalahkan Harry dalam pelajaran itu.
Hari-hari di The Burrow berlalu dengan cepat, dan semakin hari semakin menyebalkan karena Harry punya kebiasaan baru yaitu membicarakan Draco Malfoy. Sejak kembali dari Diagon Alley dan bertemu Malfoy, Harry selalu memikirkannya dan menuduh Malfoy sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Kebiasaan Harry ini terus berlanjut sampai kami kembali ke Hogwarts. Harry bahkan mengatakan bahwa Malfoy sekarang adalah Pelahap Maut. Ron dan aku tidak mempercayai ide ini. Menurut kami, ide ini sangat tidak mungkin, Voldemort tidak mungkin mengangkat seorang yang belum berkualifikasi seperti Malfoy menjadi Pelahap Maut.
Tahun ini Dumbledore memberikan pejalaran privat pada Harry, yaitu menyingkapkan kabut masa lalu dan melalui waktu berjalan untuk mengunjungi kenangan-kenangan tentang Voldemort. Aku pribadi menganggap hal ini sangat penting. Dengan mengenal Voldemort secara pribadi Harry akan mengerti orang seperti apa dia dan bagaimana cara menghancurkannya. Namun pelajaran favorit Harry bukanlah pelajaran privat dengan Dumbledore, tapi Ramuan. Harry, entah bagaimana telah menemukan buku Ramuan Tingkat Lanjut milik seorang yang menjuluki dirinya sebagai Pangeran Berdarah-Campuran. Dan buku itu membuatnya selalu berhasil dengan cemerlang saat membuat ramuan. Harry bersikeras bahwa pemilik buku itu adalah seorang cowok―Prince―Pangeran, tapi aku curiga bahwa buku itu adalah milik seorang anak perempuan dengan nama keluarga Prince.
Selain membantu Harry dalam pelajaran Ramuan, si Prince juga menulis beberapa kutukan di margin halaman buku itu, membuatku semakin tidak menyukainya. Ron malah sebaliknya dia menganggap si Prince sangat pintar dan memberi mereka pengetahuan tentang kutukan-kutukan penting, bahkan kutukan yang bisa membuat orang tergantung terbalik.
"Menggantung orang terbalik pada pergelangan kakinya?" kataku, saat kami sarapan di hari kunjungan ke Hogsmead. "Siapa yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menciptakan kutukan semacam itu?"
"Fred dan George?" tanya Ron mengangkat bahu. "Hal-hal seperti itulah yang mereka lakukan. Dan, er―"
"Ayahku," kata Harry, memberitahu kami.
"Apa?" seru Ron dan aku bersamaan. Kami belum pernah mendengar ini, dia belum pernah bercerita tentang ayahnya pada kami.
"Ayahku dulu menggunakan kutukan ini," kata Harry. "Aku―Lupin memberitahuku."
"Mungkin ayahmu melakukannya, Harry," kataku. "tapi dia bukan satu-satunya. Kita sudah melihat serombongan orang menggunakannya, kalau kau sudah lupa. Menggantung orang di udara. Membuat mereka melayang, tertidur, tak berdaya." Aku mencoba membuat mereka teringat tentang kejadian di Piala Dunia Quidditch.
"Itu lain," kata Ron tegas. "Mereka menyalahgunakannya. Harry dan ayahnya hanya mau melucu." Dia mengacungkan garpunya padaku. "Kau tidak menyukai Pangeran, Hermione, karena dia lebih hebat daripadamu dalam Ramuan."
"Tidak ada hubungannya dengan itu," kilahku cepat.
Namun ada benarnya juga, karena sekarang Harry menjadi murid nomor satu di pelajaran Ramuan. Dia bahkan mendapat hadiah sebotol ramuan keberuntungan, Felix Felicis. Jadi, jika dia meminumnya, selama 12 ke depan, dia akan beruntung, apapun yang dilakukannya.
Ron POV
Kunjungan ke Hogsmead yang pertama kami semester ini, tidak bisa dikatakan sebagai kunjungan yang menarik karena udara dingin dan salju di mana-mana. Kami mengunjungi Tree Broomsticks dan segera pulang setelah menghabiskan Butterbeer kami. Perjalanan pulang juga tidak menyenangkan karena kami menyaksikan Katie Bell terkena kutukan yang berasal dari kalung yang ingin diserahkannya pada Dumbledore. Katie yang tidak sadarkan diri setelah itu langsung dikirim ke St Mungo. Kami dipanggil menghadap McGonagall dan menceritakan semua kejadian yang kami lihat. Dan Harry, menceritakan kecurigaannya bahwa Malfoy-lah yang berada di balik semua ini. Harry curiga, entah bagaimana, Malfoy telah berhasil menyusupkan kalung itu ke kastil. McGonagall tidak percaya, begitu juga Hermione dan aku, namun Harry tetap yakin bahwa Malfoy ada di balik semua itu.
Dan Hermione, dia sekarang telah terobsesi pada Klub Slug. Klub Slug adalah klub yang dibentuk oleh Profesor Slughorn, pengajar Ramuan, dan terdiri dari anak-anak yang disukainya. Banyak dari mereka adalah anak-anak yang orangtuanya terkenal dan punya koneksi di Kementrian atau tempat-tempat bergengsi lain. Slughorn juga sering mengadakan acara tertentu dengan mengundang orang-orang terkenal, seperti Gwenog Jones, kapten Holyhead Harpies, anggota Weird Sisters dan masih banyak lagi. Yang paling menyebalkan adalah Harry, Hermione dan Ginny termasuk dalam murid-murid favorit Slug sedangkan aku tidak, bahkan Slughorn tidak tahu nama depanku.
"Slughorn akan mengadakan pesta Natal, Harry," kata Hermione saat kami sedang berada di kelas Herbology. "dan tak ada jalan kau bisa menghindari pesta ini, karena dia memintaku mengecek malam-malammu yang bebas, supaya dia bisa mengadakan pestanya pada malam yang kau pasti bisa datang."
Harry mengeluh.
"Dan ini pesta lain yang hanya untuk murid-murid favorit Slughorn, kan?" kataku sebab.
"Hanya untuk Klub Slug, ya," kata Hermione.
Aku melepaskan polong, yang harus dihancurkan, di antara jari-jariku.
"Bagus sekali... Klub Slug nama yang benar-benar bagus," kataku sangar. Bagus sekali, aku akan ditinggalkan sendiri lagi, sementara mereka menikmati pesta Natal. Dan Hermione bisa bersama Harry berdua saja dan, siapa tahu apa yang terjadi dalam pengaruh Butterbeer dan cahaya lampu remang-remang. Tetapi mengapa aku tidak menyukainya? Aku sangat tidak suka membayangkan Harry dan Hermione di bawah lampu remang-remang kantor Slughorn, berciuman dan entah apalagi.
"Dengar, bukan aku yang menciptakan nama Klub Slug."
"Klub Slug... Kasihan deh. Yah, kuharap kau menikmati pestamu," kataku sinis. "Mengapa kau tidak berusaha jadian dengan McLaggen, jadi Slughorn bisa meresmikan kalian sebagai Raja dan Ratu Siput―"
"Kami diizinkan membawa teman," kata Hermione, "dan aku tadinya akan mengajakmu, tapi kalau kau berpendapat pestanya sekonyol itu, buat apa aku repot-repot!"
"Kau akan mengajakku?" tanyaku. Apakah ini berarti dia menyukai aku?
"Ya," jawab Hermione berang. "Tapi kalau kau lebih suka kalau aku jadian dengan Mclaggen..."
"Tidak..." kataku pelan. Aku memang tidak suka dia jadian dengan siapapun apa lagi Mclaggen.
Sementara Harry dan aku kembali mencari polong di antara sungut berduri, aku memperhatikan Hermione. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa dia mengajakku? Apakah karena dia kasihan padaku? Atau dia masih berpikir bahwa aku menyukainya seperti saat kelas empat dulu? Sebenarnya aku memang menyukainya, sangat menyukainya. Menciumnya merupakan saat terindah dalam hidupku, namun aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku. Aku takut kalau aku menyatakan perasaanku padanya dan dia menolakku, apa yang terjadi? Kalau itu terjadi, aku tidak bisa lagi melihat wajahnya atau berbicara dengannya. Dan kalau dia menerimaku, aku tidak yakin apakah dia sungguh-sungguh menyukaiku atau hanya kasihan padaku dan tidak ingin persahabatan kami berakhir. Selama ini aku berpikir kalau Hermione menyukai Harry, dan Harry memang lebih cocok dengannya daripada denganku.
Ah sudahlah, lupakan masalah cewek, ada hal penting yang harus kupikirkan. Sebentar lagi pertandingan Quidditch pertama semester ini dan aku masih mengalami krisis kepercayaan diri. Setelah latihan Quidditch beberapa hari sebelum pertandingan, Harry memberikan kata-kata yang membangkitkan semangat padaku. Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi Harry sangat baik hati, dan dia adalah teman terbaik yang aku miliki. Meskipun aku telah merusak sesi latihan namun dia tetap tidak mengeluarkanku dari tim, dia percaya padaku. Semangatku sudah pulih saat kami sampai ke lantai dua dalam perjalanan kembali ke menara Gryffindor, tapi saat kami mendorong permadani hias untuk mengambil jalan pintas, kami melihat Ginny dan Dean berciuman mesra seakan direkat dengan lem.
Wajah Fred dan Angelina kembali terbayang di mataku. Mengapa orang-orang dalam keluargaku suka berciuman di depan umum?
"OI," kataku, menegur Ginny.
Dean dan Ginny memisahkan diri dan menoleh.
"Apa?" kata Ginny.
"Aku tidak mau menemukan adikku ciuman di depan umum!"
"Ini koridor kosong sebelum kalian muncul mengganggu!" kata Ginny.
Dean tampak malu dan tanpa menyesal pergi meninggalkan kami bertiga.
Ginny tampak marah, tapi aku juga marah.
"Aku tak mau orang-orang mengatakan bahwa adikku adalah―"
"Adalah apa?" bentak Ginny dan mencabut tongkat sihirnya. "Hanya karena kau belum pernah berciuman dengan siapapun seumur hidupmu... Kasihan deh, kau! Jika kau sendiri kencan dan ciuman, kau tak akan begitu keberatan orang lain melakukannya!"
Ginny sudah keterlaluan! Aku mencabut tongkat sihirku dan mengacungkannya pada Ginny, sementara Harry dengan cepat melangkah di antara Ginny dan aku.
"Kau tak tahu apa yang kaubicarakan!" raungku. "Hanya karena aku tidak melakukannya di depan umum―" Aku kan tidak mungkin bercerita padanya tentang Hermione dan aku.
"Habis nyiumin Pigwidgeon, ya? Atau kau menyimpan foto Bibi Muriel di bawah bantalmu?"
"Kau―" Aku mengucapkan mantra di kepalaku dan mengirim sinar jingga yang hanya meleset beberapa senti dari tubuh Ginny. Harry segera mendorongku ke dinding.
"Jangan bodoh―"
"Harry mencium Cho Chang," teriak Ginny, suaranya bergetar. "Dan Hermione mencium Viktor Krum, hanya kau yang bersikap seakan ciuman itu sesuatu yang menjijikkan, Ron, dan itu karena pengalamanmu sama banyaknya dengan anak dua belas tahun!"
Usai berkata begitu, Ginny pergi. Harry cepat-cepat melepaskannu, seakan aku akan menyerangnya juga. Aku bernafas berat, menarik nafas dan melepaskan lagi. Satu perkataan Ginny yang terus ada di benakku adalah Hermione mencium Viktor Krum. Kata-kata itu terus bergema dan bergema di benakku.
"Menurutmu Hermione benar mencium Krum?" tanyaku, setelah kami tiba di depan Nyonya Gemuk.
"Apa?" Harry tampak bingung. "Oh... er..."
Benar... Hermione memang benar berciuman dengan Viktor Krum. Hermione berciuman dengan Viktor Krum. Lalu mengapa dia mengajakku ke Pesta Natal Slughorn, kalau dia berciuman dengan orang lain, kalau dia masih berhubungan dengan Krum. Lagipula aku tidak ada apa-apanya dibandingkan Krum. Krum lebih dewasa dan pemain Quidditch Internasional.
Hermione POV
Aku bangun pagi itu, tidak menyadari bahwa ini adalah hari terburukku. Ron tidak bicara denganku, memandang sinis padaku, dan menganggapku seolah tak ada di sampingnya. Harry hanya mengangkat bahu dan berusaha berbicara baik dengan Ron, maupun aku. Tetapi aku tidak bisa menerima ini, aku tidak bisa tidak bicara dengan Ron. Dia adalah sahabatku, dan aku tidak ingin kejadian seperti tiga tahun yang lalu itu terjadi.
"Ron, aku ingin bicara denganmu," kataku, malam itu setelah Harry telah pergi ke kamar anak laki-laki. Ron sedang duduk di ruang rekreasi dan membaca Terbang bersama Chudley Cannons.
"Apa?" tanya Ron tajam, dan meletakkan buku yang dibacanya
"Mengapa kau bicara seperti itu padaku? Apa yang sudah kulakukan?" tuntutku.
"Kalau kau tidak tahu, aku tidak akan memberitahumu," kata Ron, kemudian bangkit.
"Tunggu! Jawaban macam apa itu? Dewasalah, Ron! Jangan bertingkah seperti anak dua belas tahun yang―"
Ron memberikan pandangan jijik padaku dan berjalan menuju kamar anak laki-laki. Aku terperangah dan masih berdiri bengong di dekat perapian saat Ginny datang dan menyapaku.
"Hermione."
"Apa?" tanyaku sebal.
"Aku cuma menyapamu," ujar Ginny tersinggung.
"Maafkan aku, Gin," kataku cepat-cepat. "Aku―aku sedang sebal pada Ron sekarang. Dia tidak bicara denganku dan aku tidak tahu apa salahku."
"Oh, bukan kau yang salah, Hermione, yang salah itu dia..." kata Ginny. "Kau tidak tahu apa yang terjadi, kan?"
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Ayo, kita duduk."
Kami duduk dan Ginny berkata, "Dia memergokiku saat sedang berciuman dengan Dean... dan mengataiku."
"Tidak mungkin... Dia tidak mungkin melakukan itu."
"Oh ya, dia melakukannya dan dia juga memantraiku," kata Ginny sengit.
"Benarkah?"
"Ron itu―dia belum pernah berciuman jadi dia merasa getir dan iri pada orang lain yang melakukannya. Kalau dia berkencan dan berciuman dia pasti akan bersikap lain," kata Ginny, setengah berpikir.
"Kurasa bukan begitu, Gin," kataku. "Menurutku, dia sangat menyayangimu. Saking sayangnya, dia tidak ingin adiknya dicium oleh cowok-cowok yang tidak disukainya. Dan, dia tidak ingin orang lain menanggapmu cewek playgirl yang memiliki pacar di mana-mana."
Ginny memandangku. "Begitukah?"
"Ya..." kataku. "Dan tentang dia belum pernah berciuman... Dia pernah berciuman."
"Apa?" Ginny tampak terkejut. "Siapa? Mengapa aku tidak tahu?"
"Dia berciuman denganku―" kataku cepat-cepat.
"Kau? Dia berciuman denganmu... Kau―kau menciumnya?" Ginny terbelalak menatapku, seakan ide aku mencium Ron itu sangat tidak mungkin.
"Ya... Aku menciumnya."
"Dia menciummu?" ulang Ginny lagi.
"Ginny! Bagian mana yang tidak kau mengerti?" kataku sebal.
"Tapi kalian―kalian tidak berkencan."
"Kami tidak berkencan," kataku pelan.
"Tapi kalian berciuman?"
"Tapi kami berciuman."
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Hermione, jangan mengulang apa yang kukatakan. Mengapa dia menciummu?"
"Karena kami sedang bersandiwara."
"Kalian sedang bersandiwara? Bisakah kau menceritakan kejadiannya secara lengkap padaku dan aku menginginkan kisah yang sebenarnya."
Aku memandang Ginny sesaat dan menceritakan peristiwa yang terjadi setahun yang lalu saat Ron dan aku berciuman di kelas kosong untuk menghindari regu Inkuisitor.
"Setelah ciuman superpanas itu, kalian tetap seperti ini?"
"Kami tetap seperti ini... Dua sahabat dan akan tetap jadi sahabat untuk selamanya," kataku getir.
"Dan kau―kau tidak melakukan sesuatu?"
"Kau mau aku melakukan apa, Gin...? Dia sudah, dengan sangat jelas mengatakan bahwa ciuman itu adalah sandiwara."
"Tapi kau menyukai ciuman itu? Kau menyukainya, maksudku Ron?"
"Aku tidak akan mengatakannya padamu."
"Kau menyukainya... aku sudah tahu. Mengapa kau tidak bilang padanya bahwa kau menyukainya."
"Aku memang akan menyatakan perasaanku padanya, tapi―dia membenciku sekarang."
"Ya, ya," kata Ginny, kelihatan prihatin. "Aku merasa ini aneh, maksudku, dia kan marah padaku, tapi mengapa dia juga marah padamu?"
"Ron sudah tidak bicara denganku sejak pagi dan saat aku bertanya padany ada apa, dia malah bilang 'Kalau kau tidak tahu aku tak akan mengatakannya padamu', aneh kan?"
"Ya, memang sangat aneh," kata Ginny berpikir. "Tapi dia menciummu... ciuman yang panas dan berkesan, tapi dia―"
"Apa?"
"Kurasa kakakku itu cuma cemburu," kata Ginny, kemudian mendengus.
"Apa?" Ini berita baru untukku.
"Dia cemburu karena kau berciuman dengan Viktor Krum."
"Ha? Benarkah? Tetapi itu―itu sudah dua tahun yang lalu dan aku sudah melupakannya. Lagipula, aku lebih menyukainya dari pada Viktor."
"Nah, kalau begitu kau harus mengatakan hal itu padanya... Bilang padanya bahwa kau lebih menyukainya dari pada Viktor Krum."
"Aku tidak bisa..."
"Hermione, ayolah... kau tahu, Ron itu sangat lamban dan kau harus mengatakan sejelas-jelasnya padanya agar dia mengerti. Dia tidak akan tahu bahwa kau memyukainya kalau kau cuma diam dan menunggu."
"Baiklah, aku akan mengatakannya padanya, tapi tidak sekarang. Aku―"
"Bagaimana kalau setelah pertandingan Quidditch? Saat semua orang sedang merayakan kemenangan."
"Kelihatannya kau sangat yakin bahwa kalian akan menang..." kataku menggoda Ginny.
"Kami memiliki Harry, kami pasti menang," kata Ginny penuh percaya diri.
"Baiklah, aku akan bilang padanya setelah pertandingan Quidditch, tapi kau juga harus berdamai dengannya... Dia sangat menyayangimu."
"Baiklah," kata Ginny.
Ron bermain dengan baik, dia dapat menangkap semua bolanya dan anak-anak Gryffindor mulai menyanyi dengan bersemangat kor Weasley Raja Kami. Aku memandangnya dengan tidak percaya. Ini tidak benar! Harry memang telah memasukkan ramuan keberuntungan pada jus Ron tadi pagi, karena itulah pertandingan ini berhasil baik. Semuanya begitu sempurna. Tetapi, bagaimana Harry bisa melakukan ini, padahal dia tahu... dia tahu bahwa Felix Felicis dilarang dalam ujian, pertandingan atau kompetisi apapun. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus melaporkan Harry, tapi bagaimana kalau Harry dan Ron dikeluarkan? Dan aku tidak mungkin mendiamkan hal ini.
Saat pertandingan berakhir, aku segera berjalan menuju ruang ganti Gryffindor dan menunggu pemain-pemain yang lain keluar. Aku harus bicara pada Harry tentang ini. Peakes dan Coote muncul di pintu ruang ganti, disusul oleh Ginny, Dean dan Demelza. Ginny mengedip padaku saat dia lewat.
"Ron masih di dalam, semoga berhasil!" kata Ginny ceria, sebelum menyusul Dean dan Demelza.
Aku berusaha untuk tersenyum. Ginny pasti mengira aku hendak menyatakan perasaanku pada Ron. Saat ini sama sekali tidak memikirkan hal itu, aku lebih memikirkan kedua sahabatku yang telah melakukan pelanggaran. Aku berjalan masuk ke ruang ganti dan melihat Harry dan Ron baru saja akan keluar.
"Aku mau bicara denganmu, Harry," kataku, menarik nafas dalam-dalam. "Kau mestinya tak boleh melakukannya. Kau sudah mendengar apa kata Slughorn itu ilegal."
"Apa yang akan kau lakukan, melaporkan kami?" tuntut Ron.
"Apa sih yang kalian bicarakan?" tanya Harry
"Kau tahu betul apa yang kami bicarakan!" kataku. "Kau membubuhkan ramuan keberuntungan pada minuman Ron pada waktu sarapan! Felix Felicis!"
"Tidak," kata Harry.
"Ya, Harry, itulah sebabnya segalanya menjadi beres, ada pemain-pemain Slytherin yang tidak ikut main dan Ron menangkap semua bolanya."
"Aku tidak membubuhkan apa-apa," kata Harry sekarang tersenyum lebar. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku jaketnya dan mengeluarkan botol mungil yang masih berisi penuh ramuan dengan gabus yang masih disegel rapat dengan lilin. "Aku ingin Ron berpikir aku melakukannya, maka kau berpura-pura menuangnya ketika aku tahu kau melihatku."Harry memandang Ron. "Kau menangkap semua bola karena kau merasa beruntung. Kau melakukannya sendiri."
Aku tercengang memandang Harry. Benarkah? Oh, syukurlah, ternyata ini hanya akal-akalan Harry saja. Aku mencoba untuk tersenyum pada Ron, tapi Ron memalingkan muka memandang Harry.
"Jadi benar tidak ada apa-apa di jus labu kuningku?" Ron bertanya, terperangah. "Tapi cuaca baik... dan Vaisey tak bisa bermain... aku benar-benar tidak diberi ramuan keberuntungan?"
Harry menggeleng. Ron kemudian berpaling padaku dan memberi pandangan paling menghina, kemudian dia berkata menirukan suaraku.
"Kau membubuhkan Felix Felicis pada jus Ron tadi pagi, itulah sebabnya dia berhasil menangkap semua bola! Lihat! Aku bisa menangkap semua bola tanpa bantuan, Hermione!"
"Aku tak pernah mengatakan kau tak bisa―Ron, kau tadinya juga mengira jusmu diberi ramuan keberuntungan!"
Namun Ron sudah pergi, melewatiku dan pintu mengayun tertutup di depanku.
"Er, bagaimana kalau kita ke pesta sekarang?" aku mendengar Harry berkata.
Aku berbalik menatapnya dan berkata, "Kau pergilah! Aku kesal pada Ron saat ini aku tak tahu apa salahku..."
Aku mengerjapkan mata, kemudian berlari meninggalkan Harry. Melewati anak-anak yang sedang berjalan menuju kastil, aku terus berlari menyusul Ron. Aku harus bicara dengannya. Ini saatnya untuk menyatakan perasaan dan melihat apa yang terjadi, kalau dia tetap membenciku berarti ini adalah akhir dari persahabatan kami. Aku melihatnya melangkah saat tiba di koridor lantai dua.
"Ron!" aku memanggilnya.
Dia berbalik. "Apa lagi?"
"Dengar, aku minta maaf karena mengira ada ramuan keberuntungan di gelasmu, tapi kau kan tak perlu bersikap seperti ini padaku."
"Aku tak ingin bicara denganmu, Hermione," kata Ron.
"Kau tidak bisa seperti itu, kita berteman dan aku―aku minta maaf kalau aku bersalah dan―" Aku menunduk memandang kakiku. Saatnya untuk menyatakan perasaan. "Aku―aku memang berciuman dengan Viktor, tapi itu hanya sekedar ciuman... aku tidak menyukainya, aku juga tidak menyukai McLaggen atau siapun. Aku―aku menyukaimu," kataku pelan, masih memandang kakiku. Kemudian hening, tidak ada suara apapun, malahan terlalu hening. Aku mengangkat muka dan memandang koridor yang kosong. Ron telah pergi. Dia bahkan tidak berkomentar apapun tentang perasaanku. Apakah dia takut aku akan mengamuk kalau dia mengatakan bahwa dia tidak menyukaiku?
Aku memandang koridor kosong selama beberapa saat, kemudian melangkah perlahan menuju Menara Gryffindor. Harry tidak melewatiku, dia mungkin lewat jalan pintas, padahal sekarang aku perlu seseorang untuk berada di sampingku. Aku tidak bertemu dengan siapapun ketika menyusuri koridor yang menuju lukisan Nyonya Gemuk, tampaknya semua anak sedang berada di ruang rekrasi dan merayakan kemenangan Gryffindor. Aku menghela nafas dan memutuskan untuk bicara lagi dengan Ron, kali ini aku harus tahu bagaimana perasaannya padaku.
Aku mengucapkan kata kunci dan lukisan Nyonya Gemuk terbuka, menampakkan ruang rekreasi ramai oleh anak-anak yang sedang berpesat, dan di tengah ruangan Ron berdiri berciuman dengan Lavender. Untuk sesaat aku tidak mempercayai penglihatanku. Aku mengerjap, dan Ron masih berciuman dengan Lavender. Jadi buat apa aku berada di ruangan ini sekarang? Aku berlari keluar dan memasuki ruangan kelas terdekat. Dadaku sakit dan aku tidak tahu bagaimana harus menyembuhkannya. Aku berjalan ke meja guru, duduk dan menyihir burung-burung kecil dari udara kosong. Mereka bercicit riang dan berputar mengelilingi kepalaku.
Pintu kelas terbuka dan Harry muncul.
"Oh, halo, Harry," kataku, berusaha membuat suaraku tetap netral. "Aku cuma berlatih."
"Yah... mereka―er―benar-benar bagus..." kata Harry.
Kami terdiam selama beberapa saat, kemudian berkata, "Ron, kelihatannya menikmati pesta kemenangannya."
"Er... betulkan?"
"Jangan berpura-pura kau tidak melihatnya," kata Hermione. "Dia toh tidak menyembunyikannya, malah―"
Pintu di belakang kami menjeblak terbuka dan Ron masuk, tertawa-tawa, menarik tangan Lavender.
"Oh," katanya, berhenti mendadak melihat Harry dan aku.
"Uups," kata Lavender, dan dia keluar dari ruangan, terkikik. Pintu mengayun tertutup di belakangnya.
Keheningan yang menyusul sungguh menegangkan dan menyesakkan. Aku tidak peduli, tapi terus menatap Ron, namun dia menolak memandangku. Dia memandang Harry dan berkata, "Hai Harry! Pantas aku tidak melihatmu!"
Aku meluncur turun dari meja. Menenangkan diri sesaat kemudian berkata, "Jangan biarkan Lavender menunggu di luar," kataku pelan, berjalan menuju pintu.
Ron tampak kelihatan lega, namun...
"Oppugno!" teriakku, dan burung-burung kecil yang mengelilingi kepalaku meluncur ke arah Ron, mematuki dan mencakar setiap jengkal daging yang bisa mereka raih.
"Singkirkan burung-burung, ini!" teriak Ron.
Aku tak peduli. Aku ingin burung-burung itu menyakiti Ron seperti dia telah menyakitiku. Aku berlari kembali ke ruang rekreasi dan langsung ke kamarku. Untung kamar itu kosong, Parvati dan Lavender masih di bawah. Aku bersandar di pintu dan membiarkan airmataku mengalir, berakhir sudah cinta pertamaku dan aku― tidak akan bicara dengan Ron lagi selamanya, tekadku dalam hati.
"Hermione," terdengar suara Ginny dari balik pintu.
Aku menarik nafas, menghapus airmataku dan membuka pintu.
"Hai Ginny..." kataku, berusaha tersenyum.
"Boleh aku masuk?" tanya Ginny.
Aku membiarkan Ginny masuk.
"Kau baik-baik saja?" Dia memandangku.
"Mengapa aku tidak baik-baik saja?" kataku, mengelak, berjalan ke ranjangku dan duduk. Ginny mengikutiku.
"Kau sudah bicara dengan Ron?" tanya Ginny.
"Sudah, dan dia pergi meninggalkanku, tidak mengatakan apa-apa. Malahan, dia―dia berciuman dengan Lavender."
"Ya, aku sudah melihatnya. Meskipun begitu, aku lebih suka kau yang jadi kakak iparku," kata Ginny tersenyum.
"Ya, dalam mimpimu." Aku tersenyum, Ginny memang punya sesuatu yang bisa membuat orang kembali ceria. "Dan aku tidak akan bicara dengannya lagi selamanya."
"Mengapa? Meskipun kalian tidak jadian, tapi dia kan sahabatmu."
"Memang, tapi aku tidak akan bicara dengannya kalau dia masih berpacaran dengan Lavender."
"Ron memang benar-benar idiot," kata Ginny.
"Sudahlah, Gin, tidak apa-apa..." kataku, lalu berdiri. "Sekarang aku tinggal memikirkan siapa yang akan kuajak ke Pesta Natal Slughorn."
"Bagaimana kalau Seamus?"
"No way, dia mantan Lavander... harus seseorang yang bisa membuat Ron sakit hati," kataku.
Ginny tertawa, kemudian berkata, "Zacharias Smith atau―er―Cormac McLaggen."
"McLaggen... ya, dia... dia akan membuat Ron sakit hati."
Ginny tertawa dan aku tertawa bersamanya.
"Tapi, kau serius?" tanya Ginny, setelah berhenti tertawa.
"Sangat serius..."
"Aku ingin melihat wajah Ron kalau tahu tentang ini," kata Ginny, kemudian tertawa lagi.
"Cormac," panggilku, saat melihatnya sedang duduk bersama teman-teman kelas tujuhnya di ruang rekreasi.
Mereka semua menatapku dengan heran.
"Hermione Granger, kau ingin bicara denganku?" tanya Cormac.
"Ya, bisakah aku bicara denganmu?"
"Baiklah, ayo!" kata McLaggen, lalu berjalan meninggalkan teman-temannya menuju pojok ruang dan aku mengikutinya.
"Nah, ada apa?" tanyanya saat kami tiba di pojok ruangan.
"Begini, apakah kau sudah mengajak seseorang ke Pesta Natal Slughorn?"
"Belum... mengapa?"
"Maukah kau ke Pesta Natal Slughorn bersamaku?"
Dia memandangku sesaat kemudian bertanya, "Bagaimana dengan Harry Potter? Kau tidak mengajaknya?"
"Harry? Buat apa aku mengajak Harry?"
"Kupikir... tapi baiklah, aku akan pergi denganmu," katanya, kemudian memandang teman-temannya yang sedang melambai padanya. "Kalau begitu sampai nanti!"
Dia kembali duduk bersama teman-temannya dan aku segera berjalan keluar ruang rekreasi menuju perpustakaan. Itu adalah tempatku untuk menghindari Ron dan Lavender yang selalu berciuman di ruang rekreasi, tidak peduli orang-orang memandang mereka atau tidak.
Namun, pergi ke pesta bersama Cormac McLaggen adalah mimpi buruk. Sejak kedatangan kami sampai pertengahan pesta, yang diceritakan Cormac McLaggen padaku adalah semuanya tentang dirinya; bagaimana McLaggen bisa menangkap seratus Queffle berturut-turut tanpa meleset satupun, beberapa gaya hebat menangkap Queffle Cormac McLaggen dan kenyataan dia sebenarnya telah mendapat surat panggilan dari The Tornados untuk ujicoba Quidditch musim liga mendatang.
"Dan, setelah meninggalkan Hogwarts aku mungkin akan langsung bergabung dengan The Tornados," kata Cormac.
"Bagus sekali," kataku tersenyum paksa.
Cormac juga tersenyum dan menarikku menuju ke bawah mistletoe.
"Nah, sekarang aku akan menunjukkan salah satu dari lima puluh gaya mencium Cormac McLaggen," katanya, menarikku ke arahnya dan langsung menurunkan wajahnya ke wajahku.
Aku memalingkan wajah. "Eh, sebelum itu aku akan mengambil minuman untuk kita," kataku, dan cepat-cepat kabur meninggalkannya.
Astaga, seharusnya aku mengajak Zacharias Smith!
Ron POV
Aku senang bisa ada di rumah lagi dan menjauh dari Lavender. Saat ini liburan Natal dan di luar jendela salju telah menumpuk, membuat pemandangan terlihat putih. Di dalam rumah terasa hangat karena perapian menyala dan di dekat kami masing-masing ada egg-nog lezat buatan Mom. Dari radio terdengar suara Celestina Warbeck, penyanyi favorit Mom, menyanyikan Sekuali Penuh Cinta Panas dan Pekat. Suaranya mendayu-dayu di ruangan yang hening.
Oh, datanglah kepadaku,
Dan aduklah kualiku ini
Akan kurebuskan cinta yang panas dan pekat
Untuk menghangatkanmu malam ini
Harry sedang berbicara dengan Dad dan Lupin di dekat perapian, sementara aku duduk di samping Ginny sambil memandang Fleur yang cantik. Tetapi aku tidak benar-benar memandangnya karena bayangan Hermione dan Krum berciuman, juga bayangan Hermione dan McLoggan berciuman terus muncul di benakku. Lama-lama aku bisa gila!
"Yah, kalau kau terus bicara sendiri seperti itu tentu saja kau bisa disebut orang gila," kata Ginny.
"Apa?"
"Aku bilang, kalau kau bicara sendiri―"
"Aku mendengarmu, tapi mengapa kau bicara seperti itu."
"Kau sendiri yang bilang, lama-lama aku bisa gila."
"Aku mengatakannya?"
"Ya, kau mengatakan..."
"Aku tidak sadar mengatakannya dengan keras."
"Bagus, tambah satu orang gila di keluarga ini... Yang satunya Percy, tentu saja."
"Dia tidak pulang liburan Natal ini?"
"Entahlah, dan aku juga tidak ingin tahu."
Suara Celestina Warbeck di radio semakin keras, rupanya Mom telah menambah volume-nya.
"Kau berciuman dengan Hermione, kau tidak berkencan dengannya. Kau berciuman dengan Lavender, kau berkencan dengannya. Mengapa Hermione harus berbeda?" tanya Ginny.
"Apa?"
"Kau mendengarku, Ron."
"Hermione yang mengatakannya padamu?"
"Ya..."
"Mengapa dia mengatakannya padamu?"
"Mengapa dia tidak boleh mengatakannya padaku?" kata Ginny. "Ron, kami cewek, kami biasanya mengatakan rahasia-rahasia kami pada teman-teman kami."
"Oke, aku memang menciumnya, lalu kenapa?"
"Lalu kenapa? Ron, kau ini idiot, ya, ajak dia kencan dong!"
"Dia sahabatku, kami tidak berkencan. Lagipula ciuman itu bukan apa-apa."
"Mungkin bagimu, tapi Hermione? Menurutmu bagaimana perasaannya?"
"Bagaimana perasaannya?" ulangku. "Dia berciuman dengan Viktor Krum dan dia tidak berkencan dengannya. Jadi sama saja denganku, dong! Dia berciuman denganku dan aku tidak berkencan dengannya."
"Itu karena Hermione menolaknya, maksudku Krum, karena Hermione tidak menyukai Krum."
"Kalau dia tidak menyukainya, mengapa dia menciumnya?"
"Baik, jadi kau menyukai Lavender?"
"Apa? Apa hubungan Lavender dengan semua ini?"
"Jawab saja pertanyaanku... apakah kau menyukai Lavender? Maksudku mencintainya dengan sepenuh hatimu dan kau bahagia dengan hanya berada di dekatnya."
Aku memandang Fleur, yang kini tampak asyik berbicara dengan Bill dan pikiranku kembali pada Hermione. Dia mencium Krum, sedangkan aku mencium Lavender. Aku memang mencium Lavender, tapi aku tidak menyukainya. Itu kulakukan hanya untuk menunjukkan pada Hermione bahwa ada juga orang yang mau menciumku. Dan Hermione, Ginny bilang dia tidak menyukai Krum, lalu mengapa dia menciumnya, apakah dia ingin menunjukkan pada seseorang bahwa ada juga yang mau menciumnya, tapi siapa?
"Jadi, siapa orang yang disukai Hermione?" tanyaku, memandang Ginny.
"Buat apa aku memberitahumu? Itukan urusannya."
"Aku akan memberimu seluruh uang jajanku bulan ini," kataku, tersenyum.
Ginny memandangku dan berpikir.
"Uang jajanku selama dua bulan?"
Ginny masih belum bicara.
"Baik, uang jajanku selama enam bulan, 15 Galleon, gimana?"
"Baik," kata Ginny, menyulap sebuah perkamen dari udara dan dengan cepat menulis sesuatu di perkamen itu.
"Apa yang kau―"
"Tandatangan di sini?" kata Ginny, menunjuk sebuah petak kecil di bawah namaku.
Aku mengambil perkamen itu dan membaca.
Surat Pernyataan
Yang bertandatangan di bawah ini sebagai Pihak Pertama:
Nama: Ronald Billius Weasley
Umur: 16 tahun
Alamat: The Burrow
Akan memberikan uang jajannya selama 6 bulan, yang berjumlah 15 Galleon kepada adik perempuanya, yang dalam hal ini adalah Pihak Kedua.
Nama: Ginevra Molly Weasley
Umur: 15 tahun
Alamat: The Burrow
Demikian pernyataan ini dibuat
Pihak Pertama Pihak Kedua
Ginny Weasley
"Tandatangan di bawah Pihak Pertama," kata Ginny.
"Kau bercanda kan?" tanyaku tak percaya.
"Aku tidak bercanda, Ron... tanda tangan atau aku tidak akan memberitahu siapa yang disukai Hermione."
"Mengapa harus pakai surat pernyataan seperti ini?"
"Karena aku tidak mau tertipu seperti yang dulu-dulu... Kalian selalu menipuku."
"Aku tidak pernah menipu, Gin," kataku.
"Tandatangan atau tidak ada rahasia yang terbongkar."
"Oke, aku tandatangan..." kataku, kemudian membubuhkan tandatanganku di bawah pihak pertama.
"Bagus," kata Ginny sambil menggulung perkamen. "Tapi aku menolak cicilan, aku mau kontan."
"Gin, aku tak punya uang sebanyak itu."
"Maret kan ulangtahunmu. Mom pasti memberimu uang dan―"
"Oke... oke, katakan siapa yang disukai Hermione."
"Dia menyukaimu..."
"Apa?"
"Dia menyukaimu... dia mencium Krum saat ke Pesta Dansa Natal karena kau tidak mengajaknya ke pesta itu, kau malah mengajak si Dahak. Dia pergi ke Pesta Natal Slughorn bersama McLaggen karena dia menganggap McLaggan bisa membuatmu sakit hati."
"Apa?"
"Kau terkejut?" kata Ginny memandangku. "Tapi menurut Hermione, dia sudah pernah mengatakannya padamu."
"Kapan dia mengatakannya padaku?" tanyaku heran.
"Setelah pertandingan Quidditch awal semester."
"Apa?"
"Dan sekarang, kau bersama Lavender dan dia bersama McLaggen. Jadi, kau tidak boleh mengganggunya," kata Ginny. "Lagipula, dia telah bersumpah tidak akan bicara lagi denganmu selamanya."
"Benarkah?"
"Ya, aku mendengarnya sendiri."
Suara nyaring Fleur yang mulai menyanyikan Sekuali Penuh Cinta yang Panas dan Pekat, mengagetkan kami. Aku melihat ekspresi wajah Mom mulai berubah; matanya menyipit dan bibirnya mengerut. Aku segera memberi isyarat pada Harry untuk mengikutiku ke atas.
Setelah liburan Natal Hermione masih bertekad tidak mau bicara denganku. Meskipun kata Harry hubungan Hermione dan McLaggen tidak berjalan lancar, tapi aku masih belum bisa bicara dengan Hermione. Dia menolak berada di ruangan yang sama denganku dan berpura-pura tidak melihatku saat aku mulai bicara. Sedangkan hubunganku dengan Lavender tidak berjalan lancar, aku tidak bisa berpacaran dengannya lagi. Aku tidak bisa menipu diriku sendiri; menciumnya, tapi setiap saat membayangkan ciuman lain dengan cewek yang berbeda.
Awal semester baru berjalan dengan sangat lambat. Pelajaran-pelajarannya semakin sulit dan aku selalu lupa bahwa tidak ada lagi Hermione yang membantuku mengerjakan PR. Satu hal yang baru adalah kursus Apparation. Aku sudah dari dulu ingin bisa ber-apparate, dan semua anak-anak juga tampaknya begitu bersemangat mengikuti pelajaran Apparation. Namun Harry tidak begitu tertarik pada kursus Apparation, dia telah kembali lagi pada obsesinya terhadap Malfoy. Kali ini bahkan menggunakan peta perampok untuk mengecek posisi Malfoy. Aku tidak tahu apa pendapat Hermione, tapi menurutku dia harus memfokuskan diri pada PR dari Dumbledore yaitu mengambil kenangan dari Slughorn.
Tanggal satu Maret tiba dengan begitu cepat, hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku bangun dan membuka hadiah-hadiah. Semuanya memuaskan terutama hadiah dari Mom dan Dad, yaitu jam tangan keren. Jam itu terbuat dari emas, dengan dua belas jarum, tapi tanpa angka. Sebagai gantinya ada planet-planet kecil yang bergerak mengitari tepinya. Semua penyihir pria dalam keluarga kami mendapat jam emas seperti itu saat mereka berumur tujuh belas. Hermione tidak memberiku hadiah ulang tahun, yah, dan aku juga tidak mengharapkannya. Dia membenciku.
Aku membuka hadiah-hadiah lain sambil menyantap Coklat Kuali lezat yang entah hadiah dari siapa. Aku tidak tahu bahwa Coklat Kuali itu telah diberi ramuan cinta. Ramuan itu bereaksi dalam tubuhku, setelah itu aku ingin sekali menyatakan cinta abadiku pada Romilda Vane, aku bahkan tidak ingat bahwa Lavender adalah pacarku. Dan Harry, terima kasih karena sudah menjadi Harry yang begitu baik hati, membawaku ke kantor Slughorn untuk meminta penangkal. Aku menghabiskan penangkalnya, kemudian aku juga menghabiskan mead beraroma ek Madam Rosmerta dan setelah itu aku tak sadarkan diri. Paru-paruku sakit aku tidak bisa bernafas. Susah sekali untuk menjangkau udara. Aku berada di antara hidup dan mati dan aku memilih mati agar tidak merasakan rasa sakit ini.
Hermione POV
Tanggal satu Maret hari ini ulang tahun Ron, tapi siapa peduli? Aku tidak akan mempeduli orang yang selalu duduk di ruang rekreasi bersama Lavender Brown. Aku turun ke ruang rekreasi pagi itu dan tidak melihat Ron, juga Harry. Ruang rekreasi sepi, hanya ada beberapa anak kelas tujuh; Cormac dan teman-temannya. Sialan, aku berusaha tidak menarik perhatian dan terus berjalan menuju pintu lukisan, tapi...
"Hermione," panggil McLaggan.
Aku menghela nafas, memutar kepala, menatapnya dan tersenyum.
"Cormac... hai!"
"Kau selalu menghindariku, ya..."
"Eh, ya... aku―"
"Santai saja, Hermione," kata Cormac tersenyum santai. "Aku hanya mau bilang padamu bahwa akulah yang akan jadi keeper Gryffindor pada pertandingan mendatang."
"Apa?"
"Weasley sakit... mereka menggotongnya dari kantor Slughorn pagi ini."
"Apa?"
"Dan tampaknya dia tidak akan sembuh dalam waktu dekat―Hei!"
Aku telah berlari meninggalkan Cormac dan ruang rekreasi. Menyusuri koridor dan baru berhenti berlari saat tiba di rumah sakit. Pintu rumah sakit tertutup dan Harry sedang berdiri di depan pintu sambil menatap pintu yang tertutup.
"Harry... Harry," seruku, mendekati Harry.
"Hermione," kata Harry kaget.
"Ron? Ron... apa yang terjadi padanya? Ceritakan padaku, kumohon!"
"Hermione, tenangkan dirimu!"
"Dia keracunan―dia meminum mead yang sudah dibubuhi racun."
"Apa? Racun?" Oh, Ron, bagaimana kau bisa tidak berhati-hati seperti itu?
Kemudian Harry menceritakan seluruh kejadiannya dan aku tidak berkata apa-apa lagi. Aku tidak bisa membuka mulutku karena kalau aku melakukannya aku akan berteriak histeris. Aku tidak menyapa Ginny saat dia tiba dan menuntut Harry untuk menceritakan apa yang terjadi. Aku bahkan tidak berkomentar dalam diskusi mereka tentang bagaimana Ron bisa diracuni. Aku memandang pintu yang tertutup dan terus memandang pintu itu. Apa yang mereka lakukan? Mengapa lama sekali? Apakah mereka tidak bisa menyelamatkannya? Apakah batu kecil yang dimasukkan Harry ke mulut Ron itu bukan bezoar? Atau mereka tidak bisa menyelamatkannya? Pikiran terakhir ini membuat tubuhku terasa dingin. Bagaimana kalau dia telah meninggal dan aku tidak akan bertemu dengannya lagi selamanya? Dan aku tidak bicara dengannya, aku membencinya. Tidak! Aku tidak membencinya, bagaimana aku bisa membencinya sementara aku mencintainya? Aku mencintainya. Please, Ron! Bertahanlah! Tetaplah hidup, aku tidak peduli lagi dengan siapa kau berkencan, dengan siapa kau berciuman, asalkan kau tetap hidup. Aku akan terus menjadi temanmu, aku akan terus ada selama kau membutuhkan aku.
Tetapi pintu itu belum terbuka juga, bahkan setelah Mr dan Mrs Weasley datang. Pintu itu baru dibuka pada pukul delapan. Kami masuk dan memandangnya. Ron tampak terbaring lemah tak sadarkan diri. Wajahnya tak berwarna, putih pucat seolah semua darah telah diambil dari tubuhnya. Napasnya sangat perlahan dan hampir tak terdengar. Kami semua duduk mengelilingi tempat tidurnya. Aku sebenarnya tidak ingin beranjak dari kursiku, aku ingin terus berada di sisinya sampai dia terbangun, tetapi aku harus pergi. Ron perlu waktu bersama keluarganya.
Beberapa minggu kemudian, semua normal lagi. Aku sudah berbicara dengannya dan menerima kehadiran Lavender yang selalu ada di samping Ron. Aku tidak peduli lagi, asalkan Ron hidup. Dan Harry, obsesinya terhadap Malfoy semakin parah, dia bahkan mengirim peri-rumah untuk mengawasi Malfoy, dengan hasil: Malfoy sedang melakukan sesuatu di Kamar Kebutuhan. Aku bertanya-tanya sendiri, apakah Harry telah melupakan PR dari Dumbledore untuk mengambil kenangan dari Slughorn.
Tetapi Harry akhirnya berhasil juga mengambil kenangan itu dari Slughorn pada malam setelah ujian Apparation―aku lulus dan Ron tidak lulus. Malam itu mungkin adalah malam keberuntungan, karena Ron dan Lavender akhirnya putus; Ginny dan Dean juga putus. Ron kelihatannya tidak menyesal, Ginny juga tidak menyesal. Dia tampak bersemangat dan ceria. Sedangkan, Harry kelihatannya sedang mengalami inner konflik, aku yakin ini tidak ada hubungannya dengan obsesinya terhadap Mafoy. Aku yakin ini pasti tentang Ginny karena beberapa minggu ini pandangan Harry pada Ginny agak berbeda. Aku yakin, sepertinya Harry mulai menyadari bahwa dia menyukai Ginny.
Tentu saja, akhirnya mereka jadian, seluruh kastil heboh. Aku bahagia untuk Ginny, aku tahu dia menyukai Harry sejak pertama kali melihatnya. Sedangkan aku, tetap seperti biasa, sahabat sejati Ron Weasley. Harry juga masih sibuk dengan kesibukannya dengan kenangan-kenangan tentang Voldemort. Dumbledore juga berjanji untuk mengajak Harry mencari potongan-potongan jiwa Voldemort dalam Horcrux. Dan pada suatu malam saat kami sedang duduk bersama di ruang rekreasi, Jimmy Peakes datang dan memberikan sebuah gulungan perkamen pada Harry. Perkamen itu dari Dumbledore dan dia ingin Harry segera ke kantornya.
"Ya, ampun," bisik Ron. "Menurutmu dia telah menemukan...?"
"Lebih baik aku ke sana dan lihat kan?" kata Harry, lalu berjalan keluar melalui pintu lukisan.
Ron dan aku saling pandang.
"Apakah menurutmu Dumbledore telah menemukan―" Ron membisikkan kata terakhir. "―Horcrux."
"Ya, sepertinya memang begitu," kataku, membenarkan. "Aku berharap mereka baik-baik saja karena―karena pasti itu akan sulit sekali."
"Benar, pasti akan ada mantra-mantra dan ilmu-ilmu hitam yang tidak kita ketahui."
Tinggal Ron dan aku di ruang rekreasi dan sedang berdiskusi tentang Horcrux dan ilmi-ilmu hitam lain saat Harry masuk tiga puluh menit kemudian. Dia masuk dengan tergesa-gesa dan tampak pucat.
"Apa yang diinginkan Dumbledore?" tanyaku, dan saat kulihat ekspresinya yang penuh tekad dan tampak aneh aku menambahkan. "Harry, kau baik-baik saja?"
"Aku baik," jawab Harry dan segera berlari masuk ke pintu yang menuju kamar anak laki-laki.
Ron dan aku berpandangan, kebingungan. Dan sudah hendak akan berdiskusi tentang apa yang terjadi ketika Harry muncul lagi.
"Aku tak punya banyak waktu," katanya terengah. "Dumbledore mengira aku mengambil Jubah Gaib-ku. Denga..."
Dia cepat-cepat memberitahu kami ke mana dia akan pergi, dan kenapa. Dia tidak berhenti kendati aku terpekik tertahan dan Ron buru-buru mengajukan pertanyaan.
"... jadi, kalian paham, kan, apa yang terjadi?" Harry mengakhiri penuturannya dengan amat cepat. "Dumbledore tak akan ada di sini malam ini, maka Malfoy akan punya kesempatan besar untuk melakukan apapun yang direncanakannya. Tidak, dengarkan aku!" dia mendesis marah, ketika baik Ron maupun aku menunjukkan tanda-tanda ingin menginterupsi. "Aku tahu Malfoy-lah yang bersorak gembira di Kamar Kebutuhan. Ini―" Disorongkannya Peta Perampok ke tanganku. "Kalian harus mengawasinya dan kalian juga harus mengawasi Snape. Pakai anak-anak LD lain yang bisa kalian kumpulkan. Hermione, Galleon pengontak itu masih berfungsikan, kan? Dumbledore bilang dia menambah perlindungan ekstra di sekolah, tetapi kalau Snape terlibat dia akan tahu apa perlindungan Dumbledore itu, dan bagaimana menghindarinya―tetapi dia tak akan mengira kalian akan berjaga-jaga, kan?"
Aku menatapnya ketakutan, aku tahu ini adalah situasi yang sulit. "Harry―"
"Aku tak punya waktu untuk berdebat," kata Harry singkat. "Ambil ini juga―" Dijejalkannya kaos kaki ke tangan Ron.
"Terima kasih," kata Ron. "Er―kenapa aku butuh kaos kaki?"
"Kau butuh apa yang dibungkus kaos kaki itu, Felix Felicis. Bagilah di antara kalian, dan Ginny juga. Sampaikan selamat tinggalku kepadanya. Sebaiknya aku pergi sekarang, Dumbledore sudah menunggu..."
"Tidak!" kataku, saat Ron membuka kaos kaki dan terkesima memandang botol kecil berisi Felix Felicis. "Kami tak menginginkannya, bawalah ini, siapa tahu apa yang akan kau hadapi?"
"Aku akan, baik-baik saja, aku akan bersama Dumbledore," kata Harry. "Aku ingin yakin kalian semua oke... jangan bertampang seperti itu, Hermione, kita akan bertemu lagi nanti..."
Kemudian Harry pergi. Aku berdiri memandang pintu, kebingungan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan semua terasa begitu cepat.
"Hermione, kau baik-baik saja?" tanya Ron.
Aku memandangnya. "Aku, yah, aku baik-baik saja... aku... Ron, apa yang harus kita lakukan?"
"Tenang... tenang," kata Ron. "Nah, sekarang ambil Galleon pengontak itu, beritahu semua anak LD agar bertemu kita, secepat mungkin, di ruang kelas kosong di lantai tujuh."
Aku mengangguk dan segera berlari mengambil Galleon pengontak di kamarku, setelah memberi pesan pada anak-anak yang lain, aku kembali pada Ron.
"Darurat, kelas kosong lantai tujuh," Ron membaca Galleon-nya.
"Ya... dan kita harus segera pergi," kataku, dan segera berlari keluar menuju lantai tujuh dengan Ron di belakangku.
Ruang kelas itu kosong, belum ada seorangpun anak LD yang datang. Kami berdiri berpandangan dan beberapa saat kemudian pintu terbuka dan Ginny masuk. Dia memandang kami berdua dengan bingung.
"Mana Harry?" Dia bertanya.
"Aku akan menceritakannya saat yang kain muncul," jawab Ron.
"Tapi aku ingin tahu sekarang?" tuntut Ginny.
"Ginny..." Ron mulai berbicara, tapi pintu terbuka lagi dan Neville masuk.
Memandang kami semua, dia bertanya, "Apa yang terjadi? Mana Harry?"
"Aku akan bercerita nanti, setelah semuanya berkumpul," kata Ron lagi.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lagi dan Luna masuk.
"Hai, kalian semua!" katanya santai.
"Hai, Luna," kataku tersenyum.
Luna tidak bertanya apapun, dia duduk di salah satu kursi dan memandang kami dengan ingin tahu. Aku memandang Ron, namun Ron sedang memandang pintu. Rupanya dia masih mengharapkan anak-anak LD yang lain datang bergabung dengan kami. Tetapi setelah lima belas menit menunggu dan tidak seorangpun yang datang Ron memutuskan bahwa tidak ada gunanya lagi menunggu.
"Nah, dengar, kalian semua," Ron mulai. "Harry sedang pergi bersama Dumbledore dan kita dia meminta kita untuk berjaga karena dia takut sesuatu akan terjadi malam ini."
"Pergi ke mana?" tanya Ginny.
"Aku tidak bisa memberitahu kalian karena aku tidak tahu," kata Ron.
"Apa yang akan terjadi?" tanya Neville. "Apakah ini ada hubungannya dengan Kau-Tahu-Siapa?"
"Aku juga tidak begitu mengerti, tapi kita percaya pada Harry, kan? Nah, masih ada yang ingin bertanya?" tanya Ron, memandang mereka semua.
Semua diam.
"Baik..." lanjut Ron. "Kita akan berjaga di dua tempat, yaitu Kamar Kebutuhan dan Kantor Snape."
"Mengapa?" tanya Ginny.
"Aku baru akan menjelaskan..." kata Ron. "Baik, kita berjaga di depan Kamar Kebutuhan karena Harry curiga Malfoy sedang melakukan sesuatu di kamar itu, dan kita berjaga di kantor Snape karena Snape, mungkin saja, bekerja sama dengan Malfoy."
"Apa yang dilakukan, Malfoy?" tanya Neville.
"Kita akan tahu saat dia keluar dari kamar itu nanti," kata Ron, menunduk memandang Peta Perampok, kemudian mengangkat muka lagi. "Nah, Ginny dan Hermione kalian pergi ke kantor Snape, sedangkan Neville, Luna dan aku akan berjaga di depan Kamar Kebutuhan."
"Tidak," kata Ginny. "Aku lebih hebat berduel dari pada Luna, aku akan berjaga di depan Kamar Kebutuhan."
"Baiklah, Hermione dan Luna ke Kantor Snape―"
"Sebentar... Tidakkah lebih baik kalau Neville dan Luna ke kantor Snape dan―"
Ron memotong perkataanku dengan cepat.
"Tidak, Hermione... kau ke kantor Snape."
"No way, kau tidak bisa memutuskan ke mana aku akan pergi. Aku akan berjaga di depan Kamar Kebutuhan," kataku tegas.
"Hermione..." kata Ron, menyambar lenganku dan menyeretku menjauh dari Ginny, Neville dan Luna.
"Ada apa ini?" tanyaku, memelototinya.
"Hermione, dengar, kau ke kantor Snape karena kau akan aman di sana. Kalau kau di sini, kau harus berduel melawan entah apa yang disiapkan Malfoy."
"Tapi aku bisa berduel, aku―"
"Tidak, kau ke kantor Snape."
"Apa ini? Apakah ini karena OWL Pertahanan-ku yang cuma dapat Exceeds Expectation, bukannya Outstanding?"
"Bukan itu..." kata Ron.
"Lalu apa?"
Ron menatapku, aku menunggu. Ginny, Neville dan Luna memandang kami dengan ingin tahu.
"Baik..." kata Ron. "Karena aku tak ingin kejadian seperti di Kementrian Sihir itu terjadi lagi. Aku tak ingin kau dimantrai oleh entah mantra apa dan kau bisa mati. Dan, biar bagaimanapun aku tidak akan membiarkanmu mati."
Kami bertatapan sesaat.
"Baik, aku ke kantor Snape," kataku, menyerah.
"Bagus..." kata Ron, lalu kembali pada Ginny, Neville dan Luna. Dia mengeluarkan botol kecil Felix Felicis, membukanya kemudian meminumnya.
"Ini adalah Felix Felicis, ramuan keberuntungan, kita akan beruntung selama beberapa jam," kata Ron, menjawab pandangan bertanya Ginny, Neville dan Luna.
Dia memberikan botol kecil itu padaku, aku menerima botol itu dan memperhatikannya. Botol isi botol itu tidak berubah, masih sama seperti saat Harry memberikannya pada Ron. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah Ron memang meminumnya atau cuma pura-pura meminumnya.
"Tunggu apa lagi, Hermione? Ayo!" kata Ron.
Aku menempelkan bibir botol ke mulutku dan pura-pura meminumnya. Kalau Ron tidak meminumnya berarti aku juga tidak. Isi botol itu sangat sedikit tidak mungkin bisa cukup untuk kami berlima, tapi mungkin akan cukup untuk Ginny, Neville dan Luna. Aku memberikan botol itu pada Ginny. Dia meneguknya dan memberikannya pada Neville, yang kemudian menyerahkannya pada Luna, setelah meneguknya. Luna menghabiskannya sekali teguk.
"Aku siap berangkat," katanya tersenyum pada mereka semua.
"Baiklah... semoga berhasil," kata Ron, dan kami berpisah.
Luna dan aku berjalan perlahan menuju ruang bawah tanah dan duduk bersandar pada tembok yang menghadap ke pintu kantor Snape. Kami menunggu dan menunggu. Rasanya sudah seperti beradab-abad kami menunggu. Luna yang tadi dengan semangat bercerita tentang ibunya yang adalah penyihir berbakat, sekarang sudah tertidur sambil bersandar padaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Ron, Ginny dan Neville, tapi aku berharap mereka baik-baik saja.
Aku sudah hampir tertidur saat mendengar suara teriakan nyaring.
"PELAPAP MAUT! Pelahap Maut dalam kastil! SEVERUS! Severus Snape!" dan Profesor Flitwick berlari masuk ke kantor Snape, sama sekali tidak menyadari bahwa Luna dan aku juga ada di sana.
Pelahap Maut? Aku merasakan sekujur tubuhku gemetar. Pelahap Maut dalam kastil, itu berarti Ron, Ginny dan Neville―
"Luna!" bisikku, sambil mengguncang Luna.
Luna terbangun dan bertanya dengan mengantuk, "Ada pa?"
"Pelahap Maut dalam kastil," jawabku, dan segera beranjak menuju pintu kantor Snape untuk mendengarkan apa yang terjadi di dalam.
Luna, yang telah mengatasi rasa terkejutnya langsung menyusulku.
"Snape, ada Pelahap Maut dalam kastil, dan... kau harus ikut untuk membantu..." aku mendengar suara Flitwick, kemudian terdengar bunyi debam keras dan beberapa detik kemudian Snape sudah membuka pintu kantornya.
"Apa? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya, terkejut memandang kami.
"Kami―" aku baru akan mencari alasan yang tepat, tapi Snape menuruskan.
"Aku tidak punya waktu untuk mendengarkanmu, Miss Granger," kata Snape. "Ada Pelahap Maut dalam kastil dan Profesor Flitwick pingsan."
"Profesor Flitwick pingsan?" tanyaku kaget. Luna memandang Snape dengan mulut terbuka.
"Benar... kalian tetap di sini dan cobalah untuk menyadarkannya. Aku akan membantu yang lain di atas," kata Snape, lalu segera berlari meninggalkan ruang bawah tanah.
Kami segera masuk ke kantor Snape dan melihat Flitwick sedang terbaring pingsan di lantai kantor Snape.
"Profesor... Profesor!"
Kami berusaha untuk menyadarkannya, tapi tak berhasil.
"Luna, cepat panggil Madam Pomfrey," kataku, "aku akan menunggu di sini."
Luna mengangguk dan segera berlari keluar.
Aku mengamati Profesor Flitwick dan berusaha menyadarkannya dengan mantra penyembuhan yang kuketahui tapi tidak terjadi apa-apa. Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara rintihan dari mulut Flitwick.
"Profesor," kataku.
"Minggir..minggir, Miss Granger, aku akan memeriksanya," kata suara Madam Pomfrey dari belakangku. Dia dan Luna baru saja tiba.
Aku menyingkir ke samping dan Madam Pomfrey segera mendekati Flitwick.
"Aku akan membawanya ke rumah sakit... Kalian berdua kembali ke asrama kalian masing-masing," kata Madam Pomfrey, kemudian menyihir tandu dan menempatkan Flitwick di atasnya. Dia berjalan keluar, dengan tandu melayang di depannya, dan tidak memandangku dan Luna.
"Ayo!" kataku pada Luna.
Kami berlari melewati Aula Depan, menaiki tangga pualam dan akan terus berlari menuju lantai tujuh saat sebuah suara memanggil kami.
"Miss Granger, Miss Lovegood, apa yang kalian lakukan?"
Kami segera berbalik dan bertatapan dengan Profesor McGonagall. Dia memberikan pandangan bertanya dan menyelidik.
"Profesor, saya―Profesor Flitwick mengatakan bahwa Pelahap Maut masuk ke Hogwarts dan saya―kami sedang mencari Ron dan―"
"Pelahap Maut memang masuk ke kastil, tapi mereka sudah pergi," kata McGonagall. "Dan aku sudah membawa mereka semua ke rumah sakit."
Rumah sakit? Aku terpana menatapnya. Ron... Ron, dia tidak mungkin kenapa-kenapa lagi, kan? Tetapi aku harus tahu.
"Kalau kau cemas pergilah ke rumah sakit, Miss Granger," kata McGonagall.
"Terima kasih, Profesor," kataku, berbalik, kemudian berlari menuju rumah sakit.
Luna mengikutiku dan menyejajarkan langkahnya denganku.
"Aku yakin mereka baik-baik saja, Hermione," kata Luna.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Luna juga tidak berkata apa-apa lagi. Kami terus berlari sampai tiba di rumah sakit. Mendorong pintu yang tidak terkunci dan menyerbu masuk. Ron, Ginny, Lupin dan Tonks, mengangkat muka memandang kami.
"Oh, syukurlah," kataku, bernafas lega memandang Ron dan Ginny.
Ron dan Ginny tersenyum suram, dan kembali menunduk memandang seseorang yang terbaring di ranjang. Aku berjalan mendekati ranjang dan melihat wajah yang tidak bisa dikenali terbaring di atas bantal Bill, tersayat dan tercabik-cabik parah sekali sehingga bentuknya sangat aneh.
"Oh," desahku, kemudian meraih tangan Ron dan menggenggamnya. "Apa yang terjadi?"
"Dia diserang oleh Greyback," jawab Lupin.
Greyback? Manusia Serigala mengerikan yang suka menyerang anak-anak, walaupun tidak sedang berfransformasi.
Pintu kantor Madam Pomfrey terbuka dan dia masuk, mendekati ranjang Bill. Kami mundur untuk memberi ruang gerak padanya, kemudian dia mengolesi wajah Bill dengan salap hijau berbau tajam. Lalu, Harry masuk ke rumah sakit bersama Ginny (entah kapan dia keluar) dan mengatakan pada kami bahwa Dumbledore telah meninggal. Aku menatap Harry dengan tidak percaya, tapi aku tahu dia tidak berbohong. Dumbledore memang benar telah meninggal. Aku memeluk diriku sendiri dan membiarkan airmata mengalir di mataku.
Dumbledore, penyihir paling besar sepanjang masa, satu-satunya orang yang ditakuti Voldemort telah meninggal dibunuh oleh Snape, orang yang selalu dipercayai dan dilindunginya. Dan mulai sekarang kami harus berjuang sendiri menghadapi Voldemort.
Setelah Harry pergi bersama McGonagall, Ron dan aku segera kembali ke ruang rekreasi Gryffindor. Kami langsung naik ke kamar anak laki-laki tanpa menghiraukan anak-anak lain yang sedang berkumpul di ruang rekreasi. Kamar itu kosong; Dean dan Seamus ada di bawah, sedangkan Neville masih ada di rumah sakit.
"Mereka pasti mempertimbangkan untuk menutup sekolah," kata Ron, setelah aku duduk di tempat tidur Harry, dan dia duduk di tempat tidurnya sendiri.
"Ya..." kataku. "Aku juga berpikir begitu."
"Apa yang kau lakukan kalau sekolah ini ditutup, Hermione?" tanya Ron.
"Aku tidak tahu, aku belum memikirkannya," kataku jujur. "Tapi kita akan terus bersama Harry, kan?"
"Benar... Horcrux-Horcrux itu, kan? Aku tahu, kita akan bersama Harry mencari Horcrux-Hocrux itu..."
"Ya..." kataku. "Bersamanya sampai akhir..."
Kutipan Dialog:
Saat sarapan sebelum kunjungan ke Hogsmead: Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, hal 304-305
Pertengkaran Ron dan Hermione di kelas Herbology: Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, hal. 355-356.
Pertengkaran Ginny dan Ron: Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, hal. 362-364
Kejadian setelah pertandingan Quidditch: Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, hal. 377
Percakapan Harry dan Hermione, setelah Hermione melihat Ron berciuman dengan Lavender: Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, hal. 380-381
Saat Harry akan berangkat bersama Dumbledore: Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, hal.693-694.
Read and Review, please! Buatlahku bersemangat menyelesaikan Fanfic ini. See you in chapter 7
Riwa :D
