Terima kasih... terima kasih sudah membaca dan review chapter 6. DarkBlueSong, BrittaniAshley: Thanks dah review, tetap review, ya; Yiyitumi: Adegan Ron panggil nama Hermione tidak ada dalam novel-nya. Kalau di novel dia cuma bilang er may ni, tapi walaupun tidak sama dengan dengan film-nya, tetap review, ya, biarku tetap semangat. Soalnya penggemar fanfic ini cuma sedikit :D Selamat Membaca chapter 7 part 1!


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.

Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari Harry Potter dan Relikui Kematian

KISAH RON DAN HERMIONE

Chapter 7 Relikui Kematian part 1

Hermione POV

Seperti tahun sebelumnya, kami duduk lagi di ruang keluarga ini. Saling berhadapan, saling pandang, aku mencoba membaca aku yang dipikirkan orangtuaku dan orangtuaku menatapku seperti mengharapkan bahwa yang berada di depan mereka bukan anak perempuan mereka. Isakan Mom terdengar sesekali dan Dad beberapa kali menarik nafas. Aku telah menceritakan semua yang terjadi tahun ajaran yang lalu pada mereka; tentang kematian Dumbledore di tangan salah satu staff-nya dan tentang keputusanku untuk mengikuti Harry mencari Horcrux-Horcrux yang tersisa.

"Dan aku tidak akan kembali ke Hogwarts," kataku pelan.

"Berapa lama pencarian Horcrux ini?" tanya Dad.

"Aku tidak tahu... mungkin bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun," jawabku.

Isakan Mom kembali terdengar.

"Kami tidak bisa melarangmu, kan?" kata Dad, mengalihkan pandangannya pada Mom.

"Tidak... aku harus pergi karena Harry membutuhkanku," kataku. Aku tahu Harry dan Ron tidak bisa berdua saja mencari Horcrux, mereka memerlukan aku.

"Kapan kau berangkat?"

"Aku akan pergi sekarang," kataku, lalu berdiri sambil mengeluarkan tongkat sihirku. "Tetapi sebelum itu aku harus memodifikasi pikiran kalian."

"Memodifikasi pikiran kami?" ulang Dad terkejut.

"Aku ingin kalian melupakan semua tentang apa yang kuceritakan, tentang dunia sihir dan bahkan tentang aku."

"Tidak!" kata Mom serak. "Kau tidak boleh melakukan itu."

"Mom, ini demi keselamatan kalian," kataku. "Aku ingin kalian tetap selamat dan bahagia... dan melupakan aku."

"Tidak... Tidak..." kata Mom, menggeleng kuat-kuat.

"Tapi kau akan mengembalikan pikiran kami kalau pencarian Horcrux ini selesai, kan, Hermione?" tanya Dad, memandangku tajam.

"Ya, tentu saja, Dad," jawabku.

"Baiklah... kau bisa melakukannya sekarang!" kata Dad, merangkul pundak Mom dan tersenyum padaku.

Aku merasakan pandanganku kabur, airmata telah menutup pandanganku. Aku mengerjap dan menguatkan diri untuk mengacungkan tongkat sihirku pada mereka.

"Obliviate," bisikku tertahan.

Langsung saja mata orangtuaku menjadi tidak berfokus dan menerawang. Mereka tidak akan mengingatku lagi. Sekarang mereka bukan lagi Wendell dan Monica Granger, tapi mereka adalah Wendell dan Monica Wilkins, dan cita-cita mereka seumur hidup adalah pindah ke Australia. Aku mengerjap lagi dan cepat-cepat berlari menuju kamarku.

Kamar itu sudah separuh kosong. Tidak ada lagi barang-barangku di sini, aku telah menghilangkan semuanya, hanya tinggal sebuah tas manik-manik kecil, tempat aku menyimpan barang-barang penting dan seluruh keperluanku untuk pencarian Horcrux. Crookshanks tertidur di kursi, tidak menyadari apa yang terjadi. Aku mengangkat Crookshanks, mengambil tas manik-manik dan segera ber-disapparate menuju The Burrow.

Aku muncul di udara bawah sinar matahari yang bersinar terang, dengan langit biru cerah tak mengeong marah, baru kali ini aku membawanya ber-apparate. Aku baru saja akan menenangkannya, ketika suara Ron terdengar dari pepohonan di sebelah kiriku, mengagetkanku.

"Akhirnya kau muncul juga." Dia berjalan menghampiriku.

"Ron!" kataku tersenyum, kemudian mencoba mendiamkan Crookshank lagi.

"Mana barang-barangmu?" tanya Ron, memperhatikanku dari atas ke bawah dan memandang tas manik-manik kecil di tanganku.

"Di dalam sini," jawabku, mengangkat tas manik-manik. "Kita harus segera ke rumahmu, kan! sebelum ibumu mulai cemas."

"Oh baiklah..."

Aku melangkah mengikuti Ron melewati batas perlindungan menuju The Burrow, dan melepaskan Crookshanks saat melewati kebun. Suara-suara orang berbicara terdengar dari dalam rumah.

"Fleur, Ginny dan Mom," Ron memberitahuku. "Dad, Bill, Fred dan George kerja."

"Fred dan George tidak tinggal di Diagon Alley lagi?"

"Mereka tinggal di sini... sebentar lagi Bill dan Fleur menikah jadi mereka memutuskan pulang untuk membantu."

Kami tiba di ruang keluarga. Mrs Weasley sedang menulis suatu di perkamen panjang, Ginny dan Fleur sedang membungkus kado. Sementara membungkus kado, Fleur berbicara tentang orangtuanya.

"Papa dan Maman sebenarnya tidak setuju aku menikah di Inggris, tapi aku berhasil membujuk mereka agar aku bisa menikah di sini. Yah, setelah semua yang terjadi dan―"

Ginny melihatku. "Hai, Hermione..."

"Hai Ginny!" kataku, masuk ke ruang keluarga. "Mrs Weasley, Fleur..."

"Halo Hermione," kata Fleur.

Mrs Weasley tersenyum dan memberi isyarat padaku untuk duduk. Aku duduk di sofa dan Ron duduk di sebelahku.

"Bagus sekali kau datang, Hermione... Kau mau membantuku, kan?" tanya Mrs Weasley.

"Mom, dia baru saja tiba," kata Ron.

"Tentu saja aku mau membantu, anda Mrs Weasley," kataku.

"Nah, pernikahan Bill dan Fleur semakin dekat dan aku membutuhkan bantuan untuk mengatur pernikahan."

"Aku akan membantu anda Mrs Weasley," kataku tersenyum dan Mrs Weasley balas tersenyum.

Sejak aku mengiyakan permintaan Mrs Weasley, setiap hari selalu saja ada pekerjaan yang harus dilakukan; menyortir kado, memilah-milah suvenir, membersihkan kebun dari jembalang, memangkas semak mawar, membersihkan kandang ayam dan masih banyak lagi. Selain itu aku juga mendapat banyak informasi tentang apa yang terjadi. Anggota Orde Phoenix sering datang dan pergi dengan membawa informasi, juga mendiskusikan rencana-rencana. Seperti malam ini.

Moody, Lupin, Kingsley, Tonks, Mundungus, Bill, Fleur, Mr dan Mrs Weasley, juga Fred dan George sedang mendiskusikan cara-cara untuk menjemput Harry. Ron, Ginny dan aku sedang duduk di dapur mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Mereka tidak mengijinkan anak-anak yang masih sekolah ikut pertemuan.

"Jadi, kita semua setuju dengan usul Mundungus untuk menggunakan ramuan Polijus, Potter-Potter kembar?" terdengar suara Moody.

Kemudian terdengar dengungan setuju dari beberapa orang.

"Kalau begitu kita perlu membuat enam kelompok, yang terdiri dari dua orang―Potter dan pelindungnya. Yang menjadi pelindung adalah penyihir-penyihir yang sudah berpengalaman―para Auror, Lupin, Bill, Arthur dan aku. Sisanya akan menjadi bayangan Potter. Dan Potter yang asli nantinya akan bersama Hagrid."

Hening sesaat, tidak ada yang berkomentar kemudian Moody melanjutkan.

"Fred, George, kalian bisa menjadi bayangan... dan Mundungus, kau juga, lalu Miss Delacour dan―"

Ron dan aku saling pandang, kemudian cepat-cepat menuju ke ruang keluarga.

"Hermione dan aku," kata Ron, ketika kami muncul di pintu ruang keluarga.

"Dan aku," sambung Ginny. Aku terkejut, tidak menyadari dia ada di belakang kami.

Semua yang ada di ruang keluarga memandang kami. Tidak ada yang bicara selama beberapa detik, kemudian Mrs Weasley berkata,

"Orde tidak melibatkan anak-anak yang masih di bawah umur―dan anak-anak yang masih bersekolah," tambahnya saat melihat Ron akan bicara.

"Tapi kalian kekurangan orang untuk menjadi bayangan Harry, kan? Kalian memerlukan bantuan kami."

"Ya, benar," sambung Ginny lagi.

"Tidak," kata Mrs Weasley.

"Molly, kurasa kami memang memerlukan Ron dan Hermione," kata Mr Weasley.

"Dan aku," kata Ginny cepat-cepat.

"Baik, Ron dan Hermione, tapi Ginny tidak," kata Mrs Weasley. "Pergilah ke kamarmu!"

Ginny mendelik pada Mrs Weasley, kemudian pergi ke kamarnya dengan menggerutu.

Moody menunggu sampai suara gerutuan Ginny menghilang di kejauhan barulah dia melanjutkan rencana-rencananya. Aku memperhatikan saat dia mengeluarkan dua botol besar Ramuan Polijus dari dalam kantongnya. Sementara dia berbicara, aku memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa mengambil satu dari dua botol Ramuan Polijus itu.

Aku bukannya senang mencuri atau hendak mempermainkan Moody, tapi kalau kami memang hendak menjalankan rencana kami untuk mencari Horcrux kami memerlukan Ramuan Polijus, sedangkan aku tidak memiliki bahan-bahan untuk untuk meramu Ramuan Polijus, cara terbaik adalah dengan mengambilnya dari Moody.


Kami sudah melayang di udara saat puluhan Pelahan Maut itu mengelilingi kami. Aku mencengkram punggung Kingsley dengan kuat dan mengeluarkan tongkat sihir berusaha menyerang Pelahap-Pelahap Maut itu. Kingsley berzigzag di udara menghindari mantra dan kutukan, dan mengirim mantra-mantra balasan yang kena pada dua orang Pelahap Maut.

"Dia datang!" jeritku.

Voldemort terbang tanpa sapu, atau apapun, ke arah kami. Pupil matanya yang seperti ular berkilau dalam kegelapan, wajah pucatnya bersinar dalam kegairahan dan kemarahan. Ketakutan yang sangat menyerangku. Tubuhku gemetar dan kaku seolah semua kekuatanku telah diambil dalam tubuhku.

"Pegangan!"

Aku mendengar suara Kingsley seolah dari tempat yang jauh. Kemudian, Voldemort pergi, dia membelok ke arah lain, meninggalkan kami.

"Apa yang terjadi?" tanya Kingsley.

Aku ingin menjawab bahwa aku tidak tahu, tapi bibirku kelu, bayangan Voldemort dan wajahnya yang mengerikan masih terbayang di mataku. Kingsley juga tampaknya tidak memerlukan jawaban, dia berbisik lembut pada Therstral tunggangan kami, dan Threstral itu segera melaju cepat dalam kegelapan membawa kami kami di halaman sebuah rumah mungil bertaman. Cahaya dari rumah itu memberikan penerangan dan aku dapat melihat wajah Kingsley yang pucat.

"Masuklah, ini rumahku!" kata Kingsley.

Kami masuk ke sebuah ruang tamu kecil, tapi nyaman. Kami duduk di sofa, dan Kingsley memanggil dua Butterbeer dan menyerahkan satu padaku.

"Kau baik-baik saja?" tanya kingsley.

"Ya, aku baik-baik saja..." jawabku. "Itu pertama kalinya aku melihat Voldemort dan―"

"Dan, tidak mati dibunuh..." lanjut Kingsley.

"Ya, tidak mati..."

"Tapi kau berhasil memantrai seorang Pelahap Mautnya," kata Kingsley.

"Aku tidak memperhatikannya," jawabku jujur. Aku terlalu sibuk menyelamatkan diri sehingga tidak memperhatikan mantra-mantra yang kukirim itu kena sasaran atau tidak. "Tetapi bagaimana dengan yang lain?"

Ketakutan kembali menyerangku. Harry, juga Ron dan yang lain semua dalam bahaya. Kalau beruntung tentu Voldemort tidak bisa menentukan yang mana Harry di antara para bayangan, namun bagaimana dengan keselamatan yang lain?

"Aku tidak tahu apa bagaimana dengan yang lain, tapi kita akan tahu kalau kita tiba di The Burrow" kata Kingsley, memandang arlogi emas di tangannya, kemudian menghabiskan Butterbeer-nya.

"Kita harus segera kembali ke The Burrow ," dia melanjutkan. "Aku ingin tahu mengapa kita diserang... pasti ada orang yang menyusup atau ada mata-mata."

Aku menghabiskan Butterbeer-ku dan berdiri. Kingsley juga bangkit dan berjalan menuju ruang keluarga. Aku mengikutinya. Di atas buffet aku bisa melihat sebuah gantungan baju bengkok yang berpendar kebiruan. Kami cepat-cepat menyentuhnya dan kami terbang melewati ruang dan waktu menuju ke The Burrow. Aku menjejakkan kakiku, melihat Harry yang baru saja keluar ke halaman, dan berlari memeluknya.

"Siapa lagi yang sudah kembali?" tanya Kingsley, setelah meyakinkan diri bahwa Harry dan Lupin yang ada di depannya memang adalah Harry dan Lupin yang asli bukan Pelahap Maut yang menyamar.

"Baru Harry, Hagrid, George dan aku," jawab Lupin.

Aku menahan erangan di balik tanganku. Ron... Ron belum kembali apa yang terjadi dengannya? Apakah dia dan Tonks diserang Pelahap Maut? Aku menarik nafas, mencoba menenangkan diri. Ron pasti baik-baik saja.

Sebuah sapu melayang di atas kepala kami dan Mr Weasley dan Fred segera meluncur turun dari sapu dan masuk ke dapur tanpa menghiraukan Lupin, Hagrid dan aku yang sedang menunggu dalam gelap. Aku memandang ke langit lagi mengharapkan ada sapu lain yang muncul membawa Ron. Lupin mondar-mandir di dekatku. Wajahnya tampak pucat dan kelihatan sangat khawatir. Aku sadar bahwa dia mengkhawatirkan Tonks, yang sekarang harusnya kupanggil Mrs Lupin. Mereka baru saja menikah dan―

Harry dan Ginny mucul dari dapur dan bergabung dalam penantian panjang tanpa suara. Kemudian aku melihat sapu muncul dari balik pepohonan dan Tonks mendaratkan sapunya di dekat kami, meluncur turun dari sapu dan segera berlari memeluk Lupin, sementara Ron berjalan agak kebingungan ke arah Harry, Ginny dan aku.

Aku segera berlari memeluknya, memeluknya dengan erat untuk meyakinkan diriku bahwa dia baik-baik saja.

"Kupikir...kupikir..."

"Aku baik-baik saja," kata Ron, membelai punggungku.

"Ron hebat," kata Tonks. "Luar biasa. Membuat salah satu Pelahap Maut membatu. Mantra Bius Ron meluncur tepat mengenai kepalanya, dan kalau kau menyerang target yang bergerak dari sapu terbang―"

"Kau melakukannya?" tanyaku, tanganku masih melingkar di lehernya.

"Selalu dengan nada heran," kata Ron kesal, kemudian lepaskan diri.

Aku memandangnya ketika dia bertanya tentang apa yang terjadi pada yang lain, dan terus memandang, tidak menyadari bahwa Kingsley telah pergi. Aku baru mengalihkan pandangan saat Bill dan Fleur kembali dan mengatakan bahwa Mundungus telah melarikan diri dan Moody tewas.


Ron POV

Mom mulai gencar lagi menyuruh kami bekerja. Alasannya adalah agar kami semua melupakan Moody, tapi aku tahu Mom tidak ingin Harry, Hermione dan aku berkumpul untuk menyusun rencana kami mencari Horcrucx. Pernikahan juga semakin dekat, dan hari ulang tahun Harry yang ke-17 adalah hari sebelum pernikahan. Mom memberikan jam emas pada Harry, meskipun bekas pakai dan agak melesak di baliknya, aku tahu Harry sangat menghargai pemberian itu. Tetapi, aku tidak suka saat mendapati Harry dan Ginny berciuman.

"Kau sudah putus dengannya. Apa yang kau lakukan sekarang mempermainkannya?" gertakku pada Harry, saat kami menjauh dari rumah.

"Aku tidak mempermainkannya," jawab Harry.

"Ron―" kata Hermione, yang sudah menyusul kami, tapi aku mengangkat tanganku dan menyuruhnya berhenti bicara.

"Dia benar-benar terpukul waktu kau mengakhir hubungan kalian―"

"Begitu juga aku. Kau tahu mengapa aku mengakhirinya, dan itu bukan karena aku ingin begitu."

"Yeah, tetapi kau tadi menciumnya dan harapannya akan melambung lagi―"

"Dia bukan idiot, dia tahu itu tak bisa terjadi, dia tidak mengharapkan kami untuk―untuk akhirnya menikah atau―"

"Jika kau menyentuhnya tiap kali ada kesempatan―"

"Tidak akan terjadi lagi, oke?" kata Harry kasar.

"Baiklah, kalau begitu, yeah..."

Harry memutar tubuhnya dan berjalan kembali ke dalam rumah.

"Kau memang benar-benar keterlaluan, Ron," kata Hermione padaku.

"Apa?" tanyaku jengkel.

"Tidakkah kau tahu, Harry dan Ginny hanya berciuman."

"Hanya berciuman? Sejak kapan kau mengekspresikan berciuman dengan menggunakan kata hanya."

"Dengar, bagi Harry itu adalah ciuman terakhirnya sebelum pergi mencari Horcrucx, sedangkan bagi Ginny, itu adalah ciuman terakhir agar Harry bisa mengenangnya saat pergi mencari Horcrucx, tapi kau―kau malah menghalangi mereka."

"Aku cuma tidak ingin adikku terluka," kataku.

"Dia tidak akan terluka. Dia―"

"Kau tidak tahu, kan?" aku memandangnya. "Dia sangat terpukul―menangis di sepanjang hari saat Harry memutuskan hubungan mereka. Dan, aku tidak suka melihat adikku menangis hanya karena laki-laki meninggalkannya."

"Dia memang menangis, Ron, tapi dia tidak akan apa-apa... Ginny tahu apa yang dilakukannya. Lagi pula semua cewek begitu―mereka memang menangis, tapi mereka akan baik-baik saja."

"Jadi kau ingin aku membiarkan mereka berciuman?"

"Ya, kau harus memberikan mereka waktu. Biarkan mereka memutuskan apa yang ingin mereka lakukan..."

"Baiklah, tapi menurutku Harry tidak akan mendekati Ginny lagi," kataku. "Dia telah berjanji untuk tidak mendekatinya."

"Ya, tapi misalnya―misalnya Harry dan Ginny berciuman lagi kau tidak boleh berkomentar apa-apa, oke?"

Aku memandang Hermione, menatap mata coklatnya dan aku mengerti bahwa aku mungkin akan melakukan apapun untuknya.

"Baiklah..." kataku.

Hermione memandangku, lebih tepatnya mengamatiku.

"Apa?" tanyaku.

"Sudah lama aku ingin bertanya," kata Hermione. "Apa yang terjadi denganmu?"

"Apa yang terjadi denganku?" tanyaku bingung.

"Yah, kau bersikap lain, maksudku, kita sedikit sekali bertengkar, lalu sikapmu juga lebih lembut, kemudian memuji apapun yang kulakukan dan―"

"Kau tidak suka?" potongku cepat, teringat Dua Belas Cara Pantang-Gagal untuk Memikat Penyihir Perempuan.

"Aku bukannya tidak suka, tapi―"

"Nah, kalau begitu tidak usah bicara," kataku, menggandeng tangannya. "Ayo kembali ke dalam."

Kami berjalan kembali ke rumah dengan bergandengan tangan. Salah satu dari Dua Belas Cara Pantang Gagal untuk Memikat Penyihir Perempuan.

Harry memang tidak mencari kesempatan berdua Ginny sepanjang hari itu, bahkan sampai saat makan malam, mereka tidak saling bicara dan bahkan menghindari pandangan satu dengan yang lain. Bagus memang, tapi aku merasa sedikit bersalah karena aku tahu bahwa Harry sebenarnya tidak bermaksud dan tidak akan pernah dengan sengaja menyakiti Ginny.

Pesta ulang tahun Harry biasa-biasa saja karena besok adalah hari pernikahan. Mom mengundang Lupin dan Tonks, juga Hagrids, tapi kejutannya adalah kehadiran Mentri Sihir yang membawa surat wasiat Albus Dumbledore. Dumbledore memberiku Deluminator-nya; semula aku terkejut, aku tidak menduga Dumbledore akan memberiku warisan karena selama ini aku bukanlah murid favorit Dumbledore. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan Deluminator itu, maksudku untuk apa Dumbledore memberikannya padaku, namun aku yakin suatu saat nanti aku pasti tahu apa kegunaanya, selain memadamkan lampu. Hermione mendapat sebuah buku kuno dengan tulisan Rune berjudul kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita; lucu juga sebenarnya karena buku itu adalah cerita anak-anak di dunia sihir, tapi tentu saja, Hermione belum pernah membacanya. Harry mendapat Snitch yang pernah ditangkapnya pada pertandingan pertamanya di Hogwarts dan juga pedang Griffindor, tapi Rufus Scrimgeour, Mentri Sihir tidak memberikan pedang itu pada Harry dengan alasan bahwa pedang itu bukanlah milik pribadi Dumbledore, tapi warisan Hogwarts; sebenarnya betul juga karena pedang itu adalah milik Godric Gryffindor yang diwariskannya pada Hogwarts. Tetapi tentu saja, Dumbledore memiliki maksud tertentu dengan memberikan barang-barang itu pada kami. Untuk sekarang kami memang belum mengetahui, tapi nanti kami pasti tahu.

Hari berikutnya adalah hari pernikahan, Fred, George, Harry dan aku bertugas sebagai penerima tamu. Kami berdiri di depan tenda dan mengantar para tamu ke tempat duduk mereka masing-masing. Harry tampak kepanasan, mungkin karena menggunakan jubah pesta yang terlalu sempit; dia telah meminum ramuan Polijus―dengan rambut cowok Muggle, yang diambil Fred dengan mengguna Mantra Panggil dari desa setempat, Ottery St Catchpole― dalam dosis besar agar tidak ada orang yang tahu bahwa dia adalah Harry Potter, yang sekarang dia dikenal sebagai sepupu Barny.

Hermione sangat cantik dalam gaun warna lila dan sepatu tumit tinggi dengan warna yang sama, rambutnya licin dan tampak berkilau, tapi saat aku mengatakan bahwa dia cantik, dia berkata,

"Selalu dengan nada heran."

Apakah secara tidak sadar aku memang selalu heran bahwa dia sebenarnya benar-benar cantik dan disukai banyak orang seperti Krum dan McLaggen? Atau dia cuma ingin membalasku karena pernah mengatakan hal yang sama saat kembali dari misi membawa Harry ke The Burrow. Dan, berbicara tentang Viktor Krum, ternyata dia hadir di pernikahan ini. Benar-benar menyebalkan! Dia juga telah menumbuhkan janggut kambing di dagunya, yang membuatnya kelihatan seperti Karkaroff.

"Kau tampak luar biasa cantik," kata Viktor Krum pada Hermione, membuat Hermione tersenyum dengan wajah bersemu merah.

"Bagaimana kau bisa ada di sini?" tanyaku sebal. Sebenarnya ini pertanyaan yang tidak perlu karena aku tahu Fleur mengundangnya, tapi saking sebalnya aku ingin dia tahu bahwa aku tidak menyukai kehadirannya di sini, apalagi dengan Hermione memberikan pandangan penuh pemujaan padanya.

"Fleur mengundangku," jawab Krum, alisnya terangkat.

Aku mendengus, sementara Harry membawa krum ke dalam tenda.

"Ron, mengapa kau tidak menyukainya?" tanya Hermione.

"Aku bukan tidak menyukainya, tapi aku membencinya," jawabku, mendelik pada Hermione, jengkel karena wajahnya masih tampak memerah bahagia.

Hermione memutar bola matanya, kemudian bertanya, "Jadi? Mengapa kau membencinya?"

"Itu karena kau tampak bahagia saat bertemu dengannya," jawabku, merendahkan suaraku agar Fred dan George tidak mendengar kami.

"Tentu saja, aku bahagia saat bertemu dengannya, dia sahabatku, Ron," tukasnya.

"Apakah aku pernah bilang bahwa dia tidak hanya ingin menjadi sahabatmu? Tetapi aku bilang lagi sekarang, dia tidak hanya ingin jadi sahabatmu!"

Hermione tertawa dengan nada bosan dan memutar bola matanya lagi.

"Dengar, aku minta maaf karena bersikap kurang sopan, tapi aku sungguh-sungguh tidak ingin kau bergaul dengannya."

"Mengapa? Karena alasan konyol bahwa dari Durmstrang dan musuh Harry?"

"Bukan itu, aku―"

"Masa kau tidak tahu, Hermione?" tanya Fred dari kiri kami. Rupanya diam-diam dia dan George telah mendengarkan pembicaraan kami. "Dia cemburu pada Krum. Dia pikir kau akan memilih Krum―"

"Ya, ya, Krum kan hebat, dewasa, terus pemain Quidditch sangat jauh bila dibandingkan dengannya, seperti langit dan bumi," George menambahkan, kemudian mereka berdua cekikikan dan menjauh.

Hermione kembali memandangku.

"Ya, itu benar," kataku.

"Dan, kalau kau tidak mengijinkan aku berteman dengan Krum, aku hanya boleh berteman dengan siapa, hah? Dengan Harry dan saudara-saudaramu, begitu?" tuntut Hermione jengkel.

"Ya, tapi kau bisa berteman dengan Neville juga karena dia memang telah jadi temanmu sebelum aku," kataku.

"Oh astaga, Ron! Kau benar-benar konyol!"

"Waktunya duduk," kata Fred, yang telah kembali dan segera masuk ke tenda.

Bisa dikatakan pernikahan ini berjalan dengan baik. Fleur tampak sangat cantik, Bill juga kelihatan tampan, Ginny dan Gabrielle juga sangat luar biasa. Mom dan Mrs Delacour menangis dalam sapu tangan masing-masing. Aku memandang Hermione dan bertanya-tanya dalam hati, apakah suatu saat nanti aku bisa menikah dengannya, atau aku akan mati dalam pencarian Horcrux ini dan Hermione menikah dengan Krum. Aku mendengus sebal. Tidak akan! Aku mungkin akan bangkit dari kematian kalau Hermione menikah dengan Krum.

Hermione memandangku, mungkin karena mendengar dengusanku. Dia mengangkat alis dan aku mengalihkan pandangan kembali ke depan, pada penyihir pria kecil dengan rambut sejumput, yang kini berkata,

"... Kalau begitu aku menyatakan kalian berdua terikat seumur hidup."

Dan mengangkat tinggi-tinggi tongkat sihirnya di atas kepala Bill dan Fleur. Tongkat itu mengeluarkan hujan bintang-bintang perak ke sekeliling mereka, yang sekarang menyatu. Setelah itu para hadirin berdiri, semua meja dan kursi tergeser ke samping, dinding tenda menghilang―membuat kami bisa melihat pemandangan indah kebun di bawah sinar matahari― dan lantai dansa tercipta di tengah-tengah tenda. Bill dan Fleur segera berdansa, sementara pramusaji mulai bermunculan membawakan nampan-nampan; perak berisi jus labu kuning, Butterbeer dan Wiski Api, nampan lainnya berisi tumpukan kue tar dan sandwich.

Aku mengambil tiga Butterbeer, memberikanya pada Harry dan Hermione, kemudian mengajak mereka mencari tempat duduk. Kami duduk bersama Luna, tapi Luna segera bangkit juga, berdansa sendirian seperti sedang mengusir lalat di lantai dansa, dan Viktor Krum muncul lagi.

"Siapa laki-laki yang memakai jubah kuning itu?" tanya Krum, kelihatan jengkel.

"Itu Xenophilius Lovegood, dia ayah teman kami," jawabku, dengan nada menantang. Aku mengalihkan pandangan memandang Hermione, yang asyik memandang Krum, kemudian berkata, "Yuk kita dansa."

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyeretnya ke lantai dansa kalau dia menolak, tapi untunglah Hermione bersedia.

"Kau sengaja melakukannya, kan?" tanyaku, saat kami sudah ada di lantai dansa dan berayun perlahan mengikuti musik.

"Apa?" Hermione memandangku kebingungan.

"Itu―memandang Krum seolah dialah satu-satunya cowok di tempat ini."

"Apa? Dengar, Ron, kalau memang ini waktunya otakmu untuk mengalami kerusakan. Tolong, jangan libatkan aku," kata Hermione kejam.

"Apa maksudnya itu?"

"Jangan libatkan aku dalam omong kosong yang tidak berguna!"

"Ini bukan omong kosong, aku memang melihatmu memandangnya."

"Jadi sekarang aku tidak boleh memandang cowok lain, selain Harry, saudara-saudaramu dan―siapa lagi―Neville?"

"Hermione, pelankan suaramu, mereka memandang kita," bisikku, saat beberapa orang yang ada di lantai dansa memberi kami pandangan aneh.

Hermione tidak bicara lagi dan aku memandangnya, dia mengalihkan pandangan dan memandang berkeliling, kecuali aku. Oke, baik aku tahu aku mulai bersikap menyebalkan lagi, tapi hanya ingin dia tahu bahwa aku tidak ingin dia menebarkan pesonanya pada cowok-cowok lain.

Pemain musik mengakhiri lagunya dengan dentingan lambat piano. Hermione melepaskanku, tapi aku tidak melepaskan tanganku di pinggangnya. Dia memandangku, menaikkan alisnya.

"Masih ada lagu berikutnya," kataku, membawanya berputar.

Hermione tidak berkata apa-apa.

"Menurutmu kapan kita bisa berangkat mencari itu?" tanyaku.

"Bisa setiap saat," jawab Hermione. "Aku sudah mengepak barang-barang kita."

"Ya, aku juga berpikir seperti itu... Tidak lama lagi Kementrian Sihir pasti jatuh di tangannya."

"Menurut ayahmu, orang-orang mulai mencari Harry," kata Hermione. "Tapi, tentu saja mereka tidak tahu di mana dia, kecuali Scrimgeour."

Aku mengangguk, membawanya berputar lagi mengikuti musik. Kami tidak bicara selama beberapa, sementara musik terus mengalun lembut mendayu.

"Mom dan Dad pernah bertanya berapa lama kita mencari itu," kata Hermione lagi.

"Lalu kau bilang apa?"

"Aku bilang aku tidak tahu... kita kan tidak tahu di mana dia menyimpan itu. Mungkin bisa berbulan-bulang bahkan bertahun-tahun."

"Tapi Harry pasti punya rencana."

"Ya, dia ingin ke Godric's Hollow..."

"Apakah dia mengira itu ada di sana?"

"Mungkin, tapi menurutku dia ingin mengunjungi makam orangtuanya," kata Hermione.

"Ya, tidak ada salahnya ke Godric's Hollow, aku belum pernah ke tempat itu."

Hermione tersenyum.

"Omong-omong, Ron, saat aku mengepak buku-bukumu, aku melihat buku berjudul Dua Belas Cara Pantang Gagal untuk Memikat Penyihir Perempuan."

"Apa?"

"Dan, aku juga melihat buku yang sama saat mengepak barang-barang Harry."

"Lalu?"

"Aku hanya ingin tahu apakah itu hadiah ulang tahun yang kau berikan padanya?"

"Benar," kataku, menantang.

Hermione tertawa.

"Apa?"

Dia masih tertawa, aku merasakan wajahku memanas.

"Baik... aku mendapat buku itu dari Fred dan George tahun lalu. Kurasa buku itu berguna, karena aku perlu tahu bagaimana pikiran cewek-cewek. Dan Ginny―dia bilang kau menyukai―"

Aku berhenti bicara, bukan saatnya untuk bilang bahwa dia menyukai aku dan aku juga menyukainya.

"Ginny bilang aku menyukai―apa?" tanya Hermione.

"Lupakan!"

"Hah?"

"Yah, jadi begitulah, aku perlu buku itu untuk memikat―"

"Memikat siapa, Ron, ayo bilang!"

"Sesuai judulnya, ya, untuk memikat penyihir perempuan."

Hermione tertawa lagi dan mengedip padaku seakan tahu sesuatu. Jadi, dia tahu aku menggunakan buku itu untuk siapa.

"Kalau kau memang ingin tahu aku―"

"Aku capek," potong Hermione, bersamaan dengan gesekan biola terakhir.

"Cari Harry... aku akan mengambil Butterbeer," kataku, melepaskannya dan berjalan mencari meja tempat minuman. Aku mengambil tiga gelas Butterbeer bersamaan dengan saat sesuatu yang berwarna putih keperakan jatuh dari kanopi di atas lantai dansa. Anggun dan berkilau, kucing liar itu mendarat di tengah-tengah para pedansa yang keheranan. Kepala-kepala menoleh, dan yang paling dekat membeku saat mulut Patronus itu terbuka lebar dan suara Kingsley terdengar keras, dalam dan lambat.

"Kementrian sudah jatuh. Scrimgeour mati. Mereka datang."

Aku membeku di tempat, kemudian terdengar jeritan dan teriakan-teriakan keras membahana, orang-orang berlarian dengan panik mencari-cari orang yang mereka kenal dan beberapa ber-Disapparate karena mantra perlindungan The Burrow telah pecah. Beberapa orang berkerudung hitam ber-Apparate dan langsung mengirim mantra-mantra pada tamu yang tidak waspada. Orang-orang mulai menyerukan mantra perlindungan, aku mencabut tongkat sihirku dan bergerak di antara orang-orang yang panik mencari Harry dan Hermione. Inilah saatnya, kami harus segera pergi dari sini sebelum, orang-orang Kementrian ini atau Pelahat Maut menangkap Harry.

"Ron! Ron!" terdengar teriak Hermione.

Aku melihatnya dan Harry sedang berada di antara orang-orang yang panik. Harry menyambar tangan Hermione ketika mereka diterjang orang-orang dari berbagai arah, dengan mantra atau kutukan,entah apa, beterbangan di atas kepala mereka. Aku berlari menuju mereka, memegang lengan Hermione yang bebas dan kami menembus ruang dan waktu dalam kegelapan yang menyesakkan, menjauhi The Burrow, menjauhi semua orang, berharap dalam hati agar semua orang yang kutinggalkan di The Burrow bisa selamat.


Hermione POV

"Di mana kita?" terdengar suara Ron.

"Tottenham Court Road," kataku terengah-engah. "Jalan, terus jalan, kita perlu memerlukan tempat untuk berganti pakaian."

Kami berjalan dan setengah berlari di jalanan lebar dan gelap yang diapit oleh toko-toko yang sudah tutup. Bintang-bintang berkilau di langit. Bus tingkat menderu lewat dan serombongan orang yang sedang bersenang-senang di rumah menjeling ketika melihat mereka: Harry dan Ron masih memakai jubah pesta penyihir.

"Hermione, kami tidak punya pakaian ganti," kata Ron, ketika seorang wanita muda tertawa parau melihat pakaiannya.

"Mengapa aku tidak memastikan membawa Jubah Gaib-ku?" kata Harry. "Sepanjang tahun lalu aku selalu membawanya dan―"

"Beres, aku membawa Jubah Gaibmu, aku membawa pakaian ganti untuk kalian berdua," kataku. "Berusahalah untuk bersikap wajar sampai... ini bisa."

Aku membawa mereka membelok ke gang kecil yang remang-remang.

"Waktu kau bilang kau membawa Jubah Gaib, dan pakaian..." Harry mengamatiku.

Aku tidak mempedulikan Harry, aku membuka tas tangan manik-manik-ku dan mengeluarkan pakaian Ron; celana panjang, kaus lengan panjang, kaus kaki merah tua, dan akhirnya Jubah Gaib Harry.

"Astaga, bagaimana―"

"Mantra Perluasan Tak-Terdeteksi," kataku, menjelaskan. "Rumit, tapi kurasa aku telah melakukannya dengan benar. Bagaimanapun juga aku berhasil memasukkan segala sesuatu yang kita butuhkan di dalam sini," kataku, menggoyang tas manik-manikku. Kemudian terdengar bunyi berkelotokan ketika sejumlah barang berat berguling di dalamnya. "Oh, sialan, itu pasti buku-buku... padahal aku sudah menyusunnya sesuai topik..." aku mengintip ke dalam tas, dan benar saja buku-buku itu telah berhamburan di dasar tas. "Oh, sudahlah... kau sebaiknya pakai Jubah Gaib. Ron, cepat ganti pakaian..."

Aku mengalihkan wajah ketika Ron berganti pakaian.

"Kapan kau melakukan semua ini?" tanya Harry.

"Aku sudah bilang pada kalian di The Burrow, barang-barang penting sudah kupak selama beberapa hari untuk berjaga-jaga kalau-kalau kita kita harus cepat-cepat kabur. Aku mengepak ranselmu tadi pagi, Harry, setelah kau berganti pakaian, dan memasukkannya ke dalam sini. Aku punya perasaan..."

"Kau benar-benar luar biasa," puji Ron, menyerahkan jubahnya yang sudah digulung padaku.

"Terima kasih," kataku, tersenyum kecil ketika teringat Dua Belas Cara Pantang-Gagal untuk Memikat Penyihir Wanita. Memberikan pujian pada penyihir wanita yang ingin dipikat adalah poin pertama dari Dua Belas Cara Pantang-Gagal untuk Memikat Penyihir Wanita. Setelah tersadar akan situasi sekarang, aku segera memasuk jubah Ron ke dalam tas dan menyuruh Harry memakai Jubah Gaib-nya.

"Yang lain―semua yang ada di pesta pernikahan―" terdengar suara Harry, saat dia menghilang di balik Jubah Gaib.

Aku tahu Harry teringat pada Ginny, namun...

"Kita tak bisa mengkhawatirkan itu sekarang," bisikku, menoleh ke kiri. "Kaulah yang mereka kejar Harry, dan kita akan membuat semua orang dalam bahaya lebih besar kalau kita kembali."

"Benar," kata Ron. Dia juga memandang ke kiri. "Sebagian besar anggota Orde ada di sana, mereka akan melindungi semua orang."

"Yah..."

"Ayo, kurasa kita perlu bergerak terus," kataku.

Kami kembali ke jalan raya. Serombongan laki-laki di seberang jalan yang sedang bernyanyi-nyanyi melambai pada kami. Aku sadar bahwa aku masih memakai gaun pesta warna lila dan sepatu tumit tinggi. Tentu saja, pakaian seperti ini tidak pantas digunakan di jalanan Muggle saat lewat tengah malam.

"Hanya sekedar ingin tahu, mengapa Tottenham Court Road?" tanya Ron.

"Entahlah, jalan ini muncul begitu saja dalam kepalaku, tetapi aku yakin kita lebih aman di dunia Muggle. Mereka tidak mengharapkan kita ada di sini, kan?"

"Betul," Ron memandang berkeliling. "tapi apakah kau tidak merasa agak―mencolok?"

"Mau ke mana lagi, coba?" tanyaku. Oh, sial! Para pemabuk di seberang jalan itu mulai menyuitiku. "Kita kan tak bisa memesan kamar di Leaky Chauldron? Dan Grimmauld Place tak mungkin kalau Snape bisa masuk ke sana... Kita bisa mencoba rumah orang tuaku, meskipun kurasa ada kemungkinan mereka akan mengecek ke sana... oh, kenapa sih mereka tak mau diam!"

"Halo, Sayang!" yang paling mabuk di antara laki-laki itu berteriak. "Mau minum? Tinggalkan saja si rambut merah dan ke sini minum-minum!"

"Ayo kita duduk di mana, gitu," kataku buru-buru, ketika Ron akan membuka mulut dan membalas para pemabuk di seberang jalan. "Lihat, ini bisa, ayo masuk!"

Kami masuk ke sebuah kafe kecil kumuh yang buka semalam suntuk. Lapisan tipis minyak menutupi semua meja formikanya, tapi paling tidak kafe itu kosong. Kami duduk; Ron di depanku dan Harry entah duduk di mana. Aku duduk memunggungi pintu masuk, sehingga aku harus menoleh terus ke belakang untuk melihat apakah ada yang mengikuti kami.

Setelah semenit-dua menit berlalu, Ron berkata, "Kalian tahu, kita tidak jauh dari Leaky Chauldron, tempat itu cuma di Charing Cross―"

"Ron, kita tidak bisa ke sana!" kataku segera.

"Bukan untuk tinggal, tapi untuk mencari tahu apa yang terjadi!"

"Kita tahu apa yang terjadi, Voldemort sudah mengambil alih Kementrian, apa lagi yang perlu kita ketahui?"

"Oke, oke, itu cuma ide saja!"

Keheningan yang tak nyaman kembali datang. Pelayan wanita berpakaian ketat warna merah lewat dan aku memesan dua cappucino. Aku memandang ke belakang lagi ketika dua orang bertubuh besar masuk dan menjejalkan diri di meja sebelah. Rasa-rasanya aku pernah melihat dua orang itu sebelumnya, tapi aku tak mau memikirkannya sekarang. Merendahkan suara aku berkata,

"Sebaiknya kita mencari tempat sepi untuk ber-Disapparate dan menuju ke daerah pedesaan. Setiba di sana, kita bisa mengirim pesan ke Orde."

"Kau bisa membuat Patronus yang bisa bicara kalau begitu?" tanya Ron.

"Aku sudah berlatih dan kurasa aku bisa," jawabku.

"Yah, asal tidak membuat mereka dalam bahaya, meskipun mereka mungkin malah sudah ditangkap. Astaga, ini menjijikkan," Ron, menambah setelah menghirup sedikit kopi kelabu yang berbuih. Si pelayan mendengarnya, dia melemparkan pandangan sebal pada Ron ketika lewat untuk mengambil pesanan tamu yang baru.

Aku memandang ke belakang tepat ketika dua orang bertubuh besar itu melambai dan menyuruhnya pergi.

"Kita berangkat saja, kalau begitu, aku tak ingin meminum minuman kotor ini," kata Ron. "Hermione, kau punya uang Muggle untuk membayar ini?"

"Punya, aku mengambil semua tabungan pembangunan sosialku sebelum ke The Burrow. Kurasa semua uang receh ada di dasar," kataku, membuka tas manik-manikku untuk mengambil recehan.

Kemudian kejadian itu terjadi begitu cepat; Ron menerjang ke depan, mendorongku ke samping dan sebuah mantra menghancurkan ubin di tempat kepala Ron seharusnya berada beberapa detik yang lalu.

"Stupefy!" Harry berteriak entah dari mana.

Pria besar berambut pirang terhantam sinar merah di wajahnya dan roboh pingsan. Aku merunduk dan merangkak untuk bersembunyi di bawah bangku, sementara teman si pirang menyerang Ron lagi: tali-tali hitam keluar dari tongkat sihirnya dan mengikat Ron dari kepala sampai kaki. Mantra Bius lain meluncur, memantul ke jendela dan kena pada pelayan.

"Expulso!" raung teman si pirang dan ledakan keras terjadi di dalam kafe.

Aku mencabut tongkat sihirku dan berteriak, "Petrificus Totalus!" orang itu pingsan terjatuh di atas gundukan pecahan porselin, meja dan bangku yang hancur.

Aku merangkak keluar dari kursi, menggoyangkan pecahan beling dan asbak dari rambutku dan bergerak mendekati Ron.

"D-Diffindo," aku mengacungkan tongkat sihir padanya, namun Ron menjerit kesakitan, karena entah bagaimana telah mengiris lutut celana jeansnya dan meninggalkan luka dalam. "Oh sori banget, Ron, tanganku gemetar. Diffindo!"

Tali yang mengikat Ron terlepas, di bergerak bangun, dan meringis sedikit.

"Aku seharusnya mengenalinya, dia ada di menara pada malam Dumbledore meninggal," kata Harry. Dia telah melepaskan Jubah Gaib dan membalikkan teman si pirang dengan kakinya. Ron dan aku ikut memandang si pirang.

"Itu Dolohov," kata Ron Ron, "Aku mengenalinya dari poster-poster lama yang dulu mencari dia itu. Kupikir yang besar itu Thorfinn Rowle."

"Terserah deh nama mereka siapa!" kataku histeris. "Bagaimana mereka menemukan kita? Apa yang akan kita lakukan?"

"Kunci pintunya," kata Harry padaku, "dan Ron, matikan lampu!"

Aku mengacungkan tongkat sihir pada pintu. Pintu berceklek mengunci bersamaan dengan matinya semua lampu.

"Mereka akan kita apakan?" terdengar suara bisikan Ron dalam gelap. "Bunuh mereka? Mereka akan membunuh kita. Nyaris saja berhasil."

Membunuh? Tidak! Aku tidak bisa membayangkan kalau kami membunuh orang.

"Kita cuma perlu menghapus ingatan mereka," kata Harry. "Lebih baik begitu, itu akan membuat mereka kehilangan jejak. Kalau kita membunuh mereka akan jelas kita ada di sini."

"Kau bos kami," kata Ron, kedengaran lega.

Aku juga merasa lega Harry tidak menyuruh kami membunuh.

"Tetapi aku belum pernah melakukan jampi memori..."

"Aku yang akan melakukannya," kataku, menenangkan diri, kemudian mengacungkan tongkat sihir ke dahi Dolohov. "Obliviate!"

"Brillian!" kata Harry, saat pandangan Dolohov menjadi tidak berfokus dan menerawang. "Tangani yang satunya dan si pelayan, sementara Ron dan aku beres-beres."

Aku berjalan mendekati Rowle dan menghapus ingatannya. Aku sedang menyeret si pelayan agar tidak terlihat dari jendela ketika Ron berkata,

"Pantas saja aku tak bisa mencabutnya, Hermione, kau membawa celana jeansku yang lama, ini sudah kesempitan."

Aku memandangnya agak bingung sesaat, sebelum menyadari bahwa dia bicara tentang tongkat sihir.

"Oh sori," kataku. "Tetapi kau bisa menyimpan tongkat sihir di tempat lain, selain di saku jeansmu. Maksudku kau bisa menyelipkannya di balik pakaianmu, atau di saku jaketmu."

Ron tidak berkomentar lagi, dia dan Harry mengembalikan kafe seperti semula, sementara aku menghapus ingatan si pelayan. Setelah itu kami mendudukkan Dolohov dan Rowle ke meja mereka.

"Tapi bagaimana mereka menemukan kita? Bagaimana mereka bisa tahu di mana kita?" tanyaku, memandang Dolohov dan Rowle, kemudian memandang Harry. "Kau―kau tidak berpikir kau masih punya Jejak kan Harry?"

"Mana mungkin," kata Ron. "Jejak punah pada umur tujuh belas tahun, itu hukum sihir, kau tidak bisa memasang Jejak pada orang dewasa."

"Itu sejauh yang kita tahu. Bagaimana kalau Pelahap Maut telah menemukan cara untuk memasang Jejak pada orang yang berumur tujuh belas tahun."

"Tapi Harry tidak berada dekat-dekat Pelahap Maut dalam waktu dua puluh empat jam terakhir ini. Jadi, siapa dong yang memasang Jejak lagi padanya?"

"Kalau aku tidak bisa menggunakan sihir," kata Harry. "dan kalian tidak bisa menggunakan sihir di dekatku, tanpa kita membuka rahasia posisi kita―"

"Kita tidak akan berpencar!" potongku tegas.

"Kita perlu tempat aman untuk bersembunyi," kata Ron. "Beri kami waktu untuk memikirkan ini."

"Grimmauld Place," kata Harry.

Aku dan Ron terkejut dan bermaksud untuk mengusulkan tempat lain.

"Ke mana lagi, coba?" tanya Harry. "Ini kesempatan terbaik yang kita punya. Snape cuma satu Pelahap Maut. Kalau aku masih punya Jejak, kita akan diserbu seabrek Pelahap Maut ke mana pun kita pergi."

Aku tidak membantah, Ron juga tidak. Ron mengklik Deluminator-nya untuk melepaskan lampu, aku membuka kunci kafe dan sebelum salah satu dari Pelahap Maut dan pelayan itu bereaksi, kami ber-Disapparate meninggalkan kafe itu.

Kami ber-Apparate di lapangan kecil kuno yang sudah kami kenal dan melihat Grimmauld Place nomor 12 menjulang di depan kami. Kami bergegas menaiki undakan rumah itu setelah memastikan tidak ada Pelahap Maut yang mengikuti kami. Harry mengetuk pintu satu kali dengan tongkat sihir dan terdengar gemerincing rantai, pintu terbuka, kami masuk dengan cepat.

Rumah itu masih sama menyeramkan seperti sebelumnya. Lampu-lampu gas menyala sepanjang lorong, sarang laba-laba menempel di langit-langit. Garis bentuk kepala-kepala peri-rumah membentuk bayangan ganjil di sisi tangga dan tirai-tirai panjang menutupi lukisan aneh ibu Sirius. Semuanya masih sama seperti biasa, yang ganjil adalah tempat payung berbentuk potongan kaki troll, yang jatuh seolah baru saja ditabrak oleh seseorang.

"Kurasa ada yang sudah ada yang masuk ke sini?" bisikku, menunjuk tempat payung.

"Bisa jadi itu terguling waktu para anggota Orde pergi?" Ron balas berbisik.

"Jadi mana kutukan yang telah dipasang untuk Snape?" tanya Harry.

"Barangkali mantra-mantra itu berfungsi kalau dia yang muncul?" saran Ron.

Namun, tidak ada yang bergerak. Kami berdiri di atas keset memunggungi pintu, takut untuk melangkah lebih jauh ke dalam rumah.

"Yah, kita tidak bisa di sini selamanya," kata Harry, maju selangkah.

Kemudian dari dalam kegelapan terdengar bisikan menyeram dengan suara Moody, berkata, "Severus Snape?"

"Kami bukan Snape," kata Harry parau.

Lalu suatu seperti udara dingin meluncur ke arah kami, membuat lidahku tergulung, tapi cuma sebentar karena gulungan lidahku terlepas beberapa detik kemudian.

"Itu p―pasti Kutukan Ikat-Lidah yang dipasang Mad-Eye untuk Snape," gagapku cepat.

Kemudian Harry maju satu langkah lagi. Sesuatu bergerak dalam keremangan di ujung ruangan. Sosok itu bangkit dari karpet, jangkung sewarna debu dan mengerikan. Sosok itu menuju ke arah kami, semakin lama makin cepat, rambut dan jenggotnya sepanjang pinggang berkibar di belakangnya, mukanya kurus kering, tak berdaging dengan rongga mata kosong. Sosok itu sangat kami kenal, sosok itu adalah Albus Dumbledore, namun sekarang ini sangat tidak mirip Dumbledore.

Aku menjerit, dan tirai Mrs Black melayang terbuka diikuti jeritan sumpah serapah. Sosok itu mengulurkan tangannya pada Harry, seperti mengancam. Aku meringkuk di lantai dekat pintu, seluruh tubuhku gemetar. Aku tidak mampu melihat sosok mengerikan ini, aku memejamkan mata.

"Jangan," teriak Harry parau. "Bukan kami! Kami tidak membunuh anda―"

Kemudian aku merasakan sesuatu yang halus terjatuh di atas kepalaku dan suara Ron terdengar,

"T-tak apa-apa... dia sudah p-pergi..."

Aku membuka mata dan memandang debu di sekeliling kami, sementara Mrs Black masih terus menjerit dan mencaci,

"Darah-lumpur, kotoran, noda kehormatan, cemaran memalukan di rumah leluhurku"

"DIAM," jerit Harry, mengacungkan tongkat sihirnya, sehingga tirai-tirai itu kembali menutup.

"Tadi... tadi itu..." aku meratap.

"Yeah," kata Harry, "tapi bukan benar-benar dia, kan? Hanya sesuatu untuk menakut-nakuti Snape."

Kemudian hening lagi, kami berjalan menyusuri lorong.

"Sebelum kita masuk lebih jauh, kurasa lebih baik kita cek," bisikku. Aku mengacungkan tongkat sihirku dan bergumam, "Homenum revelio."

Tak terjadi apa-apa.

"Yah, kau baru saja mengalami shock berat," kata Ron berbaik hati. "Mantra itu sebenarnya untuk apa?"

"Mantra itu sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukannya!" kataku, mendelik pada Ron. "Itu mantra untuk mengungkapkan rahasia keberadaan orang, dan tak ada orang lain di sini kecuali kita!"

"Dan si tua Dusty," kata Ron, mengerling tempat di mana sosok tadi bangkit.

"Ayo kita naik," kataku, sedikit gemetar, dan mendahului yang lain menaiki tangga berderit menuju ruang tamu di lantai satu.

Aku melambaikan tongkat sihir menyalakan lampu-lampu gas tua, kemudian duduk di sofa memandang Ron yang menuju ke jendela, menguak gorden beludrunya beberapa senti.

"Tak melihat siapa-siapa di luar," katanya. "Kalau Harry punya Jejak, mereka akan mengikuti kita ke sini, kan? Aku tahu mereka tidak bisa masuk ke dalam rumah, tapi―kau kenapa Harry?"

Aku mengangkat muka, memandang Harry yang sedang menyentuh bekas lukanya, kemudian dia menjerit.

"Apa yang kau lihat?" Ron bertanya, berjalan mendekati Harry. "Apakah kau melihatnya di rumahku?"

"Tidak, aku cuma merasakan kemarahan―dia benar-benar marah―"

Aku memandangnya dengan ketakukan, "Bekas lukamu lagi? Tapi apa yang terjadi? Ku pikir koneksi itu sudah ditutup?"

Bagaimana koneksi ke pikiran Voldemort bisa terbuka lagi? Padahal koneksi ini sangat berbahaya.

"Harry, Dumbledore, tidak ingin kau menggunakan koneksi itu, dia ingin kau menutupnya, itulah sebabnya kau diminta menggunakan Occlumency! Kalau tidak, Voldemort bisa menanamkan bayang-bayang palsu dalam benakmu, ingat―" aku ingin mengatakan tentang Sirius, tapi Harry memotong.

"Yeah, aku ingat, trims," kata Harry marah, kemudian berbalik memunggungi Ron dan aku.

Ron mengangkat bahu dan berjalan duduk di sebelahku, kemudian sebuah kabut putih keperakan muncul di depan kami, membuatku memekik. Kabut perak itu menjadi musang, yang berbicara dengan suara Mrs Weasley.

"Keluarga selamat, jangan menjawab, kita diawasi."

Ron mengeluarkan rintihan kecil penuh syukur, aku mencengkram tangannya.

"Mereka baik-baik saja! Mereka baik-baik saja!" kataku pelan.

Ron tersenyum.

Sesaat kemudian Harry berjalan menuju kamar mandi dan meninggalkan kami. Aku bangkit dari sofa dan mengeluarkan kantong tidur dari tas manik-manikku.

"Kau bisa tidur di atas bantal-bantal ini, Hermione," kata Ron, menurun bantal-bantal sofa dan meletakkannya di lantai.

"Oh, baik sekali kau, Ron," kataku. "Apakah ini salah satu dari Dua Belas Cara Pantang-Gagal untuk Memikat Penyihir Wanita?"

"Hermione, berhentilah meledekku..." kata Ron kesal.

Aku tersenyum kecil, tahu bahwa membuat penyihir wanita tersebut merasa nyaman adalah poin ke tujuh dari Dua Belas Cara Pantang-Gagal Memikat Penyihir Wanita. Namun, aku ingin tahu apakah Ron akan melakukan poin ke delapan―membantu penyihir wanita tersebut kalau dia meminta bantuan―jika ada labah-labah, binatang yang paling ditakutinya. Aku berjalan ke lemari pendek yang terletak di sudut kiri ruangan dan membuka pintunya. Di dalamnya ada bantal-bantal sofa, yang disimpan Mrs Weasley dua tahun lalu. Di dalamnya juga ada labah-labah yang bergerak-gerak dalam jaringnya di langit-langit lemari.

"Ron, bisakah kau membantuku?" panggilku.

"Ada apa?" dia berjalan mendekat dan memandang ke dalam lemari, kemudian mundur dengan wajah pucat.

"Sebenarnya aku ingin kau mengambilkan, bantal-bantal itu dan―"

"Oke, oke, baiklah," katanya.

Dia mendekati lemari lagi; wajahnya pucat dan sepertinya dia akan segera muntah. Dia mengulurkan tangannya yang gemetar ke dalam lemari dan mengambil bantal-bantal itu, kemudian memberikanya padaku.

"Terima kasih, Ron," kataku, menahan senyum.

Ron mundur dari lemari dan menghenyakkan diri di sofa.

"Ron, ini sikat gigimu," kataku, mengeluar sikat gigi Ron dari tas manik-manik dan memberikannya pada Ron.

"Terima kasih," katanya. "Apakah Harry masih di kamar mandi?"

"Ya, kalau begitu aku akan memberikan sikat gigi Harry," kataku, dan berjalan menuju kamar mandi.

Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi aku tersenyum, tampaknya aku harus berterima kasih pada Fred dan George yang telah memberikan Dua Belas Cara Pantang-Gagal untuk Memikat Penyihir Wanita itu pada Ron.


Read and Review, please! Buatlah aku tetap bersemangat menyelesaikan fanfic! See you in Kisah Ron dan Hermione chapter 7 part 2.

Aku memutuskan untuk menulis chapter terakhir ini dalam bagian yang berbeda karena aku yakin pembaca pasti akan bosan kalau satu chapter tulisan kepanjangan, seperti dua chapter sebelumnya.

Riwa :D