Terima kasih... terima kasih sudah membaca dan review chapter 7 part 2. Selamat Membaca chapter 7 part 3!


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.

Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari Harry Potter dan Relikui Kematian

KISAH RON DAN HERMIONE

Chapter 7 Relikui Kematian part 3

Hermione POV

Aku membuka mata dan disilaukan oleh warna emas dan hijau. Daun-daun tampak hijau dan sebagian coklat bergururan. Terdengar rintihan kesakitan. Sambil memikirkan Ron aku segera merangkak menuju sumber suara. Ron, yang penampilannya sedang setengah jalan antara Cattermole dan dirinya, tampak menyedihkan: wajahnya pucat, bibirnya putih dan sesekali terdengar rintihan dari bibirnya, lalu darah... banyak darah membanjiri sisi kiri tubuhnya.

"Apa yang terjadi padanya," tanya Harry, suaranya bergetar.

"Slinching," jawabku sambil cepat-cepat merobek baju Ron dan membuka lengan atasnya. Sepotong besar daging telah hilang seperti diiris oleh pisau. Aku menahan nafas sejenak dan berusaha tidak memuntahkan sarapanku.

"Harry, cepat dalam tasku ada esens Dittany"

Aku menyambar tongkat sihirku, membersihkan luka itu, namun darah merah mengental masih saja terus mengalir.

"Cepat!" aku hampir saja berteriak pada Harry yang sedang merogoh-rogoh tas.

"Accio Dittany!" kata Harry, mengacungkan tongkat sihir dalam tas.

Beberapa detik kemudian dia meletakkan sebuah botol coklat kecil ke tanganku yang gemetar.

"Tolong cabut sumbatnya, Harry, tanganku gemetar," kataku, dan Harry segera mencabut tutup botol kecil itu.

Aku meneteskan tiga tetes Dittany pada luka yang masih berdarah, dan pendarahan langsung berhenti seketika. Luka itu sekarang seperti sudah beberapa hari, kulit baru membentang di atas apa yang tadinya hanya daging terbuka.

"Wow," celutuk Harry.

"Hanya ini yang kurasa aman untuk dilakukan, ada mantra-mantra yang bisa membuatnya kembali utuh, tapi aku tak berani mencobanya, takut aku keliru melakukannya dan malah membuatnya semakin parah... dia sudah kehilangan darah banyak sekali."

Aku memandang Ron yang memejamkan mata, tampaknya dia pingsan. Dia sudah menjadi dirinya sendiri sekarang. Aku mengerjap mata. Bukan saatnya untuk menangis sekarang, pikirku, kemudian mengalihkan pandangan pada Harry ketika dia bertanya mengapa kami tidak berada di Grimmauld Place.

Mengerjap lagi, aku bercerita padanya tentang Yaxley yang menyambar jubahku dan ber-Disapparate bersama kami. Yaxley sekarang bisa masuk ke Grimmauld Palce karena sejak kematian Dumbledore, kami yang tahu tentang rumah itu merupakan penjaga rahasia. Jadi, aku telah memberikan rahasia itu pada Yaxley.

Wajah Harry tampak pucat dan sedih.

"Harry, maaf, maaf!"

"Jangan bodoh, itu bukan salahmu! Kalau ada yang salah justru akulah orangnya―"

Dia memasukkan tangan dalam saku dan mengeluarkan sebuah mata berwarna biru-elektrik: mata Moody. Aku mundur, ngeri.

"Umbridge memasangnya di pintu kantornya untuk memata-matai orang. Aku tak bisa meninggalkannya di sana... tapi itulah yang membuat mereka tahu ada pengacau."

Ron mengerang dan membuka mata. Aku segera mengalihkan perhatianku padanya.

"Bagaimana perasaanmu?"

"Parah," jawab Ron, berjengit ketika dia meraba lengannya yang luka. "Di mana kita?"

"Di hutan tempat mereka menyelenggarakan Piala Dunia Quidditch. Aku ingin tempat yang tertutup, rahasia, dan ini―"

"―Tempat pertama yang terpikir olehmu," sambung Ron, lalu memandang berkeliling, kemudian memandang Harry. "Menurutmu kita harus pindah?"

"Biar kita tinggal di sini untuk sementara waktu," kata Harry, memandang Ron yang masih terbaring lemah di tanah.

Aku segera bangkit dan memasang mantra perlindungan di sekitar kami, kemudian mendirikan tenda, yang kupinjam dari Mr Weasley.

"Cuma sebanyak itu yang bisa kulakukan," kataku, setelah mendaraskan mantra terakhir. "Paling tidak kita akan tahu kalau mereka datang. Aku tak menjamin itu bisa menahan Vol―"

"Jangan ucapkan nama itu!" Ron memotong tajam dan parau.

Harry dan aku saling pandang.

"Sori," kata Ron, mengerang sedikit saat dia mengangkat tubuhnya untuk memandang kami. "tapi sepertinya―sepertinya nama itu membawa sial atau apa. Bisakah kita menyebutnya Kau-Tahu-Siapa―tolong!"

"Dumbledore bilang ketakutan akan nama―" Harry mulai.

"Siapa tahu ini luput dari perhatianmu, sobat, memanggil Kau-Tahu-Siapa dengan namanya tidak membawa kebaikan bagi Dumbledore pada akhirnya," kata Ron. "Tunjukkan―tunjukkan sedikit hormat pada Kau-Tahu-Siapa!"

"Hormat!" Harry mengulang dengan tajam. Aku memberinya pandangan memperingatkan. Dia tidak boleh bertengkar dengan Ron, sementara Ron masih sakit.

Setelah itu Harry dan aku setengah menggotong, setengah menyeret Ron masuk ke dalam tenda. Kegiatan itu membuat sedikit darah di wajah Ron menghilang. Dia berbaring di kasur dengan wajah pucat dan memejamkan mata selama beberapa saat.

Aku segera mengeluarkan cangkir dari tas manik-manik dan mulai membuat teh.

"Menurut kalian apa yang terjadi pada suami-istri Cattermole?" tanya Ron, setelah aku menyerahkan teh padanya dan Harry. Dia bersandar di tumpukan bantal sambil menghirup teh.

"Kalau beruntung, mereka pasti sudah lolos," jawabku, mencengkeram cangkir teh di tanganku. "Kalau Mr Cattermole cerdik, dia akan membawa Mrs Cattermole dengan ber-Apparate-Bersama dan mereka sedang meninggalkan negara ini saat ini dengan anak-anak mereka. Itu yang disarankan Harry agar dilakukannya."

"Ya ampun, moga-moga saja mereka berhasil kabur," kata Ron. "Tapi kurasa Reg Cattermole tidak secerdik itu, dari cara semua orang berbicara padaku waktu aku jadi dia. Kuharap mereka berhasil... kalau mereka berdua berakhir di Azkaban gara-gara kita."

Aku memandang Ron, aku tahu dia pasti teringat pada kami berdua saat memikirkan Mr dan Mrs Cattermole. Kalau itu kami, dia pasti akan berusaha untuk menyelamatkan aku, dan tidak membiarkanku ikut interogasi konyol itu.

"Jadi, sudah kau ambi?" Harry bertanya.

"Apa―apa yang kuambil?" tanyaku terkejut.

"Ya apa tujuan kita mengalami semua itu tadi? Liontin! Di mana liontinnya?" tanya Harry.

"Kalian berhasil mengambilnya?" Ron tampak bersemangat. "Tak ada yang bilang apa-apa padaku. Astaga, kalian kan bisa mengatakannya!"

"Yah, kita sibuk kabur menyelamatkan diri dari Pelahap Maut kan?" kataku, lalu mengeluarkan liontin dari saku jubahku.

Kami memeriksa liontin itu selama beberapa saat dan memutuskan bahwa kami memang harus membuka liontin ini agar bisa menghancurkan Horcrux yang ada di dalamnya.

"Tak bisakah kalian merasakannya?" tanya Ron dengan suara pelan, ketika menggenggam liontin itu dengan erat di tangannya.

Aku mengerti apa yang dimaksudkan Ron, aku memang merasakan denyut sesuatu dalam Horcrux itu. Perasaan bahwa aku adalah orang gagal yang tidak disukai orang menyerangku. Pasti jiwa dalam Horcrux itulah yang membangkitkan semua perasaan itu. Satu Horcrux tidak berarti apa-apa, pikirku, masih ada tiga Horcrux di luar sana yang harus kami cari dan hancurkan.

Kami duduk di dalam tenda memperhatikan kegelapan yang pelan-pelan menutupi pandangan kami pada pepohonan di sekitar tenda. Kepalaku pusing karena lapar. Aku telah berusaha mengumpulkan jamur liar dan memasaknya, namun aku tahu makanan ini tidak layak. Ron bahkan mendorong porsinya menjauh setelah beberapa suap, tampak mual. Aku tidak bisa menyalahkannya, Ron yang masih sakit tentu membutuhkan makanannya yang layak.

Setelah makan Harry berjaga di depan tenda. Ron tidur di tempat tidur dengan ditutupi selimut tebal. Wajahnya memang sudah tidak berwarna lagi, namun tubuhnya masih benar-benar lemah dan dia terus mengernyit kesakitan setiap kali bergerak, jadi Harry dan aku membiarkannya terus beristirahat.

"Aku lapar..." desah Ron. "Seharusnya kau mengepak makanan yang layak, Hermione."

"Ron, aku kan sudah bilang bahwa aku tidak mengepak makanan karena menyangka kita akan kembali ke Grimmauld Place," kataku, mengangkat wajahku dari Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita.

"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak mampu memakan jamur-jamur itu," kata Ron.

"Aku tahu... setelah kau bisa bergerak lagi kita akan berpindah ke tempat yang dekat dengan makanan," kataku.

Ron mendesah lega, kemudian hening. Aku kembali memandang Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita dan mencoba menerjemahkan huruf-huruf Rune-nya. Sedetik kemudian terdengar jeritan panjang Harry di pintu tenda.

Ron bergerak hendak bangkit, kemudian mengernyit kesakitan.

"Kau... tetap di tempatmu..." kataku, memperingatkan.

Aku segera berlari ke pintu tenda dan mendapati Harry tergeletak pingsan di tanah.

"Harry!"

"Mimpi," katanya berusaha duduk kembali.

"Aku tahu itu bekas lukamu! Bisa kulihat dari ekspresi wajahmu! Kau tadi melihat ke dalam pikiran Vol―"

"Jangan sebut namanya!" terdengar suara marah Ron dari dalam tenda.

"Baik," jawabku pedas. "Pikiran Kau-Tahu-Siapa, kalau begitu!"

"Aku tidak bermaksud begitu!" kata Harry. "Itu mimpi! Bisakah kau mengontrol apa yang kau impikan, Hermione?"

Tanpa mendengar apapun yang kukatakan Harry mulai bercerita tentang Gregorovitch yang dibunuh oleh Voldemort dan sekarang Voldemort sedang mencari seorang pemuda yang mengambil suatu dari Gregorovitch.

"Kurasa lebih baik aku yang ganti berjaga kalau kau lelah sampai tertidur," kataku, memandang Harry dingin. Aku tidak ingin mendengar cerita apapun tentang apa yang sedang terjadi dipikiran Harry.

"Aku bisa menyelesaikan giliran jagaku!"

"tidak, kau jelas kelelahan. Pergilah berbaring!"

Aku mengenyakkan diri di mulut tenda dan mengharapkan Harry masuk ke dalam tenda. Harry tampak berang, namun dia akhirnya memilih untuk tidak bertengkar. Aku menatap kegelapan dan berpikir bahwa Harry tampaknya memang menikmati saat-saat berada dipikiran Voldemort. Dia bahkan tidak menghiraukan segala peringatanku.

Keesokan harinya kami ber-Apparate di sebuah kota kecil yang ramai. Harry pergi untuk mencari makanan, namun dia kembali lagi dengan gugup dan gemetar, seperti melihat sesuatu yang menakutkan. Dia berkata bahwa dia baru saja bertemu Dementor. Aku memandangnya dan sadar bahwa Harry seperti ini karena liontin yang dikenakannya. Setelah mengetahui bahwa liontin itu membawa pengaruh buruk jika dipakai terus menerus, kami memutuskan untuk menggilirkannya.

Selama berhari-hari berikutnya, kami berpindah-pindah sambil mendiskusikan tempat-tempat di mana Horcrux itu berada. Ketika hari berganti minggu, kami terus berpindah tanpa tujuan dan sikap Ron mulai menyebalkan. Dia mengharapkan Harry melihat dalam pikirannya tentang apa yang terjadi pada keluarganya, atau anggota-anggota Orde lainnya. Dia juga terus saja mengeluhkan jamur-jamur yang kumasak. Harry sendiri sering duduk melamunkan pemuda yang dicari-cari Voldemort. Aku mendengus sebal tiap kali Harry bercerita tentang pemuda itu, menurutku Harry terlalu memikirkan Voldemort dan melupakan apa tujuan kami yang sebenarnya, yaitu mencari Horcrux. Ron dan aku sering berbicara tentang hal ini, juga tentang gaya kepemimpinan Harry yang semakin hari semakin mengecewakan.

"Dia bahkan tidak tahu apa yang harus dilakukan," omel Ron, saat kami berdua sedang mencari jamur-jamur yang bisa dimakan di hutan.

"Ya, aku pikir dia punya banyak fakta sebagai dasar pencarian ini," kataku. "Aku kecewa."

"Apakah menurutmu dia punya rencana rahasia?" tanya Ron.

Aku berpikir sebentar.

"Kurasa tidak..." jawabku. "Maksudku kita mengenalnya dan kita pasti bisa menduga apa yang sedang dipikirkan atau dilakukannya."

"Ya, dan kurasa dia memang sudah menceritakan semuanya pada kita..."

"Benar, tapi―" kataku ragu.

"Tapi kau menyesal karena dia tidak punya banyak fakta sebagai dasar pencarian..." lanjut Ron.

Aku mengangguk. Kami terdiam beberapa saat dan mengidentifikasi jamur-jamur yang bisa di makan di bawah sebuah pohon rindang.

"Liontin itu..." kata Ron, "dia tampaknya lebih berpengaruh buruk padaku daripada pada kalian."

"Ya, aku sudah melihatnya," kataku menatapnya sesaat. "Apa yang menjadi ketakutanmu yang paling dalam?"

Ron terdiam.

"Baiklah, aku tidak akan menanyakannya," kataku. "Aku tahu pertanyaan itu terlalu pribadi dan―"

"Tidak... tidak, kau memang berhak menanyakannya, maksudku kita berdua―"

"Kita berteman..." potongku cepat. Aku tidak ingin mendengar apapun yang ingin Ron katakan tentang 'kita' karena, seperti yang telah aku putuskan sebelumnya, sekarang masa perang bukan saatnya untuk bicara tentang perasaan.

Ron menatapku, tampak kebingungan sesaat, kemudian berkata, "Ya, kita memang berteman..."

Sesuatu dalam suaranya membuatku menatapnya, mencoba membaca pikirannya. Aku selama ini berpikir bahwa dia juga berpikir seperti yang aku pikirkan: menunda semua yang berhubungan dengan perasaan sampai masa perang ini selesai. Namun, ketika menatapnya saat ini, aku curiga Ron sedang menyimpulkan sesuatu yang mungkin nantinya akan membuat kami berdua sedih.


"Ibuku," kata Ron pada suatu malam saat kami sedang duduk dalam tenda di tepi sungai di Wales, "bisa mengadakan makanan dari udara kosong."

Dengan murung dia menusuk-nusuk gundukan kecil ikan kelabu gosong di piringnya. AKu memandang lehernya dan melihat rantai emas Horcrux berkilau di sana.

"Ibumu tidak bisa mengadakan makanan dari udara kosong," kataku. "Tak seorang pun bisa. Makanan ada diurutan pertama dalam lima Perkecualian Prinsip Hukum Gamp tentang Transfigurasi Eksperimental―"

"Oh, ngomong Inggris, bisa tidak?" tanya Ron sebal, mencabut duri ikan dari antara giginya.

"Tak mungkin mengadakan makanan dari udara kosong! Kau bisa memanggilnya kalau kau tahu di mana makanan itu, kau bisa mentransformasinya, kau bisa memperbanyak jumlahnya kalau kau sudah punya beberapa―"

"―Nah, tak perlu bersusah payah memperbanyak ini. Ini menjijikkan..."

"Harry yang menangkap ikannya," bentakku sebal. "dan aku sudah berusaha sebaik mungkin memasaknya! Kuperhatikan akulah yang akhirnya selalu mengurus makanan karen aku perempuan, kurasa!"

"Bukan, itu karena kau dianggap yang paling bisa sihir," Ron balas membentak.

Aku melompat bangun dan mendelik pada Ron.

"Kau boleh memasak besok, Ron, kau bisa mencari bahan-bahannya, dan berusaha menyihirnya jadi sesuatu yang bisa dimakan, dan aku akan duduk di sini dengan wajah cemberut dan mengeluh dan kau akan melihat bagaimana kau―"

"Diam!" kata Harry, melompat berdiri dan mengangkat tangannya. "Diam sekarang!"

Aku memandang Harry dengan tidak percaya. "Bagaimana kau bisa memihaknya, dia nyaris tak pernah mema―"

"Hermione, diam dulu, aku bisa mendengar seseorang!"

Aku diam untuk mendengarkan. Bunyi langkah kaki beberapa orang terdengar sedang menuruni lereng menuju tepian sungai sempit tempat kami mendirikan tenda. Kami saling pandang dan bergegas mencabut tongkat sihir. Suara-suara itu menjadi lebih keras, namun tidak jelas karena terhalang derasnya suara aliran sungai. Aku segera mengeluarkan tiga Telinga Terjulur dari dalam tas manik-manik dan memberikan masing-masing satu, pada Harry dan Ron. Kami memasangnya di telinga dan menjulurkan benangnya keluar.

Suara-suara itu terdengar dengan jelas sekarang. Itu adalah suara Ted Tonks, Dirk Cresswell, Dean Thomas dan dua Goblin, Griphook dan Gornuk, yang sedang dalam pelarian menghindari para Pelahap Maut. Mereka berbicara tentang pedang Gryffindor yang ingin dicuri oleh Ginny, Neville dan Luna dari lemari Snape, yang kemudian di simpan di lemari besi Gringgots ternyata adalah pedang palsu.

"Ginny―pedang―" kata Harry, setelah kami menggulung Telinga Terjulur.

"Aku tahu!" kataku, buru-buru mengeluarkan lukisan Phineas Nigellus dari dalam tas manik-manik.

Aku memanggil Phineas Nigellus dan menutup matanya dengan penutup mata agar dia tidak bisa melihat kami. Dia bercerita tentang Ginny, Neville dan Luna yang dihukum oleh Snape, juga tentang Dumbledore yang menggunakan pedang Gryffindor untuk menghancurkan Horcrux. Setelah itu, dia pergi dan memutuskan untuk tidak akan datang lagi. Harry dan aku segera berdiskusi tentang pedang itu dan untuk sesaat lamanya kami melupakan Ron. Dan, saat kami menyadari dia ada bersama kami, wajah Rose tampak mengeras dan dingin.

"Kalian berdua teruskan saja. Jangan sampai aku menggangu kesenangan kalian," katanya dingin.

"Apa masalahnya?" tanya Harry, bingung.

"Masalah? Tidak ada masalah," kata Ron. "Tidak ada menurutmu, paling tidak."

Terdengar bunyi beberapa tetes air di kanvas, hujan mulai turun.

"Nah, kau jelas punya masalah," kata Harry. "Cobalah katakan!"

Ron turun dari tempat tidur, dia tampak bengis dan menakutkan. Meskipun sering bertengkar dengannya, tapi belum pernah aku melihatnya semarah ini. Aku menatapnya dan merasakan firasat buruk bahwa semuanya akan berakhir di sini.

"Ron," kataku pelan.

"Kami kira kau tahu apa yang kau lakukan!" Kata Ron. "Kami kira Dumbledore telah memberitahumu apa yang harus dilakukan. Kami kira kau punya rencana yang riil."

"Ron!" teriakku.

"Wah, sori mengecewakanmu," kata Harry. "Aku jujur terhadap kalian dari awal, kuberitahu kalian segala yang disampaikan Dumbledore padaku. Dan, siapa tahu kau tidak memperhatikan kita sudah menemukan satu Horcrux."

"Yeah, dan kita sudah sama dekatnya menyingkirkannya seperti menemukan Horcrux-Horcrux yang lain―sama sekali tidak dekat, dengan kata lain."

"Lepaskan kalungnya, Ron," kataku melengking. "Kumohon lepaskan. Kau tidak akan bicara seperti ini kalau kau tidak memakai kalung itu seharian."

"Yah, dia akan tetap bicara seperti itu," kata Harry. "Apakah menurut kalian aku tidak memperhatikan kalian berdua berbisik-bisik di belakang punggungku? Apakah menurut kalian aku tidak bisa menebak kalian berdua memikirkan hal-hal ini?"

Airmataku mengalir, aku tidak menyadarinya sejak kapan.

"Harry, kami tidak―"

"Jangan bohong―" hardik Ron. "Kau juga bilang begitu, kau bilang kau kecewa, kau bilang kau pikir dia punya banyak fakta sebagai dasar pencarian."

"Aku tidak mengatakannya seperti itu―Harry, tidak!" aku berseru, tidak tahu harus mengatakan apa lagi.

Kami semua terdiam selama beberapa saat. Hujan di luar semakin deras.

"Jadi mengapa kau masih di sini?" tanya Harry, dia memandang Ron.

"Aku sendiri tak tahu."

"Pulang saja kalau begitu."

"Yah, barangkali aku mau pulang!" teriak Ron, maju beberapa langkah mendekati Harry. "Tidakkah kau mendengar apa yang mereka katakan tentang adikku? Tetapi kau tidak peduli, Harry Aku-sudah-Menghadapi-yang-Lebih-Menyeramkan Potter tidak peduli apa yang terjadi pada adikku di dalam hutan itu. Nah, aku peduli, tahu, laba-laba raksasa dan banyak hal yang membuat kita bisa gila―"

"Aku cuma bilang, dia bersama yang lain. Mereka bersama Hagrid―"

"―Yeah, aku paham kau tidak peduli! Dan bagaimana dengan keluargaku yang lain, 'Keluarga Weasley tidak memerlukan ada anak lain yang luka' kau mendengar itu?"

"Yeah, aku―"

"Tidak peduli apa artinya itu, tapi?"

"Ron!" kataku, menyeruak di antara mereka dan memandang Ron. "Kurasa itu tidak berarti ada hal baru yang terjadi, sesuatu yang tidak kita ketahui. Pikirkan, Ron, Bill memang sudah terluka, banyak orang pasti sudah melihat George kehilangan sebelah telinga sekarang, dan kau dianggap menunggu maut menjemput di tempat tidur dengan spattertgroit. Aku yakin hanya itulah yang dimaksudkannya―"

"Oh, kau yakin, ya? Baiklah, oke, aku tidak akan merisaukan mereka. Mudah bagi kalian berdua karena orangtua kalian sudah selamat―"

"Orangtuaku sudah meninggal!" teriak Harry.

"Dan orangtuaku mungkin sedang menuju kematian sekarang!" Ron balas berteriak.

"Kalau begitu PERGILAH!" raung Harry. "Pulanglah pada mereka, berpura-puralah kau sudah sembuh dari spattergroit dan Mommy akan bisa memberimu makan dan―"

Ron membuat gerakan mendadak: mencabut tongkat sihirnya. Aku melakukan hal yang sama dan segera mengirim Mantra Pelindung di antara mereka. Kami mundur beberapa langkah karena kuatnya Mantra Pelindung itu.

"Tinggalkan Horcruxnya!" kata Harry.

Ron merenggut lantai kalung dari atas kepalanya dan melemparkan liontin itu di kursi terdekat. Ron memandangku.

"Apa yang kau lakukan?"

"Apa maksudmu?" aku bertanya.

"Kau mau tetap di sini, atau apa?"

"Aku... Ya―ya, aku tetap di sini, Ron, kita sudah berkata akan ikut Harry, kita sudah berkata akan membantu―"

"Aku mengerti. Kau memilihnya―"

Aku tersentak. "Ron, tidak―kumohon―kembalilah!"

Aku terhalang Mantra Pelindung. Pada saat aku menyingkirkannya Ron sudah berlari keluar tenda. Aku berlari keluar tenda menyusul Ron.

"Ron... Ron!" aku memanggilnya, menginjak tanah berlumpur, tak mempedulikan hujan yang jatuh membasahi tubuhku.

Ron sedang berdiri di dekat semak-semak tinggi dan bersiap-siap untuk ber-Disapparate.

"Tidak, Ron! Kumohon, dengarkan aku!" aku segera mencengkram lengannya untuk menghentikannya.

Ron menghentakkan lengannya dan tanganku terlepas. Dia berbalik memandangku: rambut yang basah seolah menyatu dengan kepalanya, wajahnya penuh air hujan yang tercurah dengan derasnya dari langit. Mata birunya memandangku dengan tajam.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Hermione," katanya pelan. "Kau sudah memilih, apa lagi yang bisa kulakukan?"

"Tidak! Ron, kumohon, kau salah mengerti! Aku―"

"Harry akan menjagamu, kau akan baik-baik saja... Selamat tinggal!"

"Tidak dengarkan aku! Aku tidak menyukai Harry. Oke, aku memang menyukainya, tapi hanya sebagai teman... aku menganggapnya sebagai saudara laki-laki yang tidak kumiliki, aku―" aku maju selangkah, menggenggam tangannya dan berkata, "aku menyukaimu... tidak sebagai teman. Aku menyukaimu..."

Ron melepaskan tangannya dari tanganku.

"Tidak perlu berkata begitu untuk membuatku tinggal, Hermione," kata Ron, kemudian melangkah mundur.

"Ron, dengarkan aku, aku memang― RON!"

Dia berputar di tempat dan ber-Disapparate meninggalkanku. Aku memanggil namanya selama beberapa saat sampai tenggorokanku sakit, namun dia tidak kembali. Aku kembali ke tenda, memandang Harry yang sedang berdiri seperti patung di tengah tenda dan berkata, "Dia p-p-pergi! Ber-Disapparate!"

Aku mengenyakkan diri di kursi dan membiarkan airmataku mengalir.


Ron POV

Aku memijakkan kaki di tanah berbatu, dan menatap cahaya yang berasal dari rumah mungil yang ada di depanku. Rumah itu bernama Shell Cottage, terletak di atas sebuah bukit karang dengan pemandangan laut yang indah di bawahya. Bintang-bintang berkelap-kelip di langit gelap dan angin laut yang dingin menghantam wajah dan tubuhku yang basah membuat tubuhku menggigil. Kegelapan yang menggantung di depanku terlihat seperti selubung yang mencegahku untuk berhubungan dengan dunia luar.

Aku duduk di batu karang, memandang kegelapan di bawah, mendengarkan deburan ombak yang memecah di karang. Suara angin dan suara pecahan ombak di karang tidak membuatku merasa memiliki teman, aku merasa kosong, kekosongan yang tidak akan bisa diisi oleh apa pun dan siapa pun. Dingin yang menusuk sampai ke tulang-tulang tidak menyamai hatiku yang membeku. Aku merasakan suatu kebencian yang mematikan pada Harry.

Harry Potter yang terkenal, punya segalanya, dipuja oleh semua orang. Orangtuaku dan saudara-saudaraku menyayangi dan menganggap Harry sebagai bagian dari keluarga. Mom memberinya jam emas sebagai hadiah ulang tahun, yang berarti dia menganggap Harry sebagai anak. Dan, satu-satunya gadis yang kusukai, seharusnya aku mengatakan satu-satunya gadis yang kucintai, memilih Harry. Dia memilih untuk tinggal bersama Harry. Selama ini aku merasa bahwa kami punya sesuatu, bahwa kami punya memiliki perasaan yang sama. Aku juga merasakan bahwa di balik semua perdebatan, percekcokan dan kemarahan, aku merasakan bahwa jiwa kami menyatu, bahwa kami saling mengerti. Namun, ternyata aku telah salah memahami, aku telah salah mengerti semua yang terjadi.

Entah sudah berapa lama aku duduk di tepi bukit karang itu, namun di sebelah Timur awan kemerahan telah muncul dan sebentar lagi matahari akan terbit. Kegelapan telah diganti dengan keremangan dan dari Shell Cottage aku dapat mendengar suara-suara orang bergerak. Aku bangkit, meregangkan badan sebentar dan segera melangkah menuju rumah itu. Rumah itu adalah rumah mungil yang temboknya ditempeli kerang-kerang dan dilabur. Beberapa tanaman hijau dalam pot diletakkan di teras depan dengan bangku panjang kecil di sudutnya. Aku duduk di bangku dan memikirkan apa yang akan kukatakan pada Bill dan Fleur. Mereka mungkin akan bertanya-tanya apa yang kulakukan di sini, sementara aku seharusnya bersama Harry dan Hermione.

Pintu depan terbuka dan Bill muncul. Dia masih memakai piyama dan jubah kamarnya. Memandang ke lautan di depannya, dia menarik nafas panjang dan wajahnya yang penuh bekas luka tampak memikirkan sesuatu.

"Bill!" panggilku perlahan.

Dia berpaling.

"Jenggot Merlin! Ron, kau mengagetkan aku," kata Bill terkejut. "Tapi―tapi apa yang kau lakukan di sini?"

"Bisakah aku tinggal di sini selama beberapa waktu?"

"Eh," Bill tampak bingung. "Oke, kau tahu aku tidak mungkin melarangmu kan? Tapi apa yang terjadi, mengapa kau ada di sini dan mengapa kau basah kuyup?"

"Aku juga ingin pinjam pakaianmu, Bill," kataku, lalu masuk ke dalam rumah.

Aku melewati ruang tamu dan masuk ke dapur tempat Fleur sedang memasak sesuatu di tungku.

"Hai Fleur," sapaku.

"Ron!" seru Fleur tampak terkejut dan bingung.

"Apa... apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau bersama Harry dan Hermione?" tanya Fleur.

"Fleur, kamar mandinya di mana?" tanyaku, mengabaikan pertanyaan Fleur.

"Tapi, apa yang―" Dia memandang di melewatiku dan langsung berhenti bicara.

Dia memandang di belakangku dan melihat Bill menggelengkan kepala pada Fleur.

"Ron, aku akan menunjukkanmu kamar mandi dan kau bisa berganti pakaian... Fleur, kau bisa menyiapkan sarapan," kata Bill.

Aku keluar dari dapur dan mengikuti Bill menuju kamar mandi di belakang. Bill meninggalkanku selama beberapa saat dan kembali membawa baju kaus lengan panjang, jeans butut, dan handuk putih kecil. Aku mengucapkan terima kasih dan segera menutup pintu kamar mandi.

Setelah mandi dan berganti pakaian aku keluar kamar mandi dan mendapati Bill dan Fleur sedang sarapan di dapur. Mereka langsung berhenti bicara saat melihatku, aku tahu mereka sedang membicarakan aku. Aku mendekati mereka dan duduk di kursi di depan Bill, sedangkan Fleur mulai menyajikan kopi dan roti hangat.

"Bagaimana kabar Mom dan Dad, dan yang lainnya?" tanyaku.

"Mereka baik-baik saja..." jawab Bill. "Fred dan George sudah menutup toko mereka di Diagon Alley dan menjual barang melalui pos. Dad masih bekerja di Kementrian, tapi aku takut ini tidak akan lama lagi."

"Mereka juga sudah mulai mencurigai kita, kan, Bill?" kata Fleur.

"Ya, mulai saat ini kami memang harus lebih berhati-hati. Kementrian mulai mmencurigai keluarga kita. Beberapa kali mereka mengirim orang ke The Burrow untuk memeriksa. Mereka curiga kau bersama Harry, tapi hantu kubur itu berhasil menipu mereka, dan aku tidak tahu sampai berapa lama."

"Bagaimana kabar Ginny? Aku mendengar mereka mencoba mencuri pedang Gryffindor," kataku.

"Dia baik-baik saja..." jawab Bill. "Ginny menyurati kami bahwa Snape mengirim mereka ke Hutan Terlarang, tapi mereka bersama Hagrid. Mereka baik-baik saja."

"Syukurlah!" seruku tertahan.

"Apakah kau kembali karena mencemaskan kami?" tanya Bill, mengamatiku dengan tajam.

Aku cepat-cepat menggigit rotiku agar tidak menjawab pertanyaan Bill, tapi aku menyadari bahwa dia dan Fleur masih menatapku. Hening sejenak tak ada yang berbicara, kemudian Bill berkata,

"Omong-omong, aku mendengar ada penyusup di kementrian beberapa minggu yang lalu. Dad kembali dan berkata bahwa Umbridge dan Yaxley sangat marah. Mereka memberi hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap para Kelahiran-Muggle yang melarikan diri," kata Bill. Dia berhenti sesaat dan berkata lagi. "Apa yang kalian lakukan di Kemetrian, bukan untuk menyelamatkan para Kelahiran Muggle, kan?"

Aku terkejut memandangnya.

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa itu kami?"

"Siapa lagi?" tanya Bill santai. "Lalu untuk apa kalian ke Kementrian Sihir?"

"Aku tidak bisa mengatakannya padamu," jawabku.

"Itu pasti ada hubungan dengan kau meninggalkan mereka, bukan?" tanya Bill tajam.

"Kumohon, Bill... Jangan bertanya sebab aku tidak ingin menyampaikan kebohongan padamu."

"Tapi Bill adalah kakakmu, Ron... Tentu dia ingin tahu―"

"Maaf, Fleur," kataku. "Aku benar-benar tidak bisa bilang apa-apa sekarang."

Fleur sudah akan mengucapkan sesuatu lagi, tapi Bill mengangkat tangannya dan menyuruhnya berhenti.

"Baiklah, kau boleh tinggal di sini..." kata Bill.

"Bill, aku tidak ingin ada yang tahu bahwa aku ada di sini," kataku. "Jangan beritahu siapa pun!"

"Aku mengerti," kata Bill, kemudian dia bangkit. "Kau boleh memakai kamar di atas, tapi Fleur dan aku harus bekerja dan―"

"Aku tidak apa-apa ditinggal," kataku segera. "Kalian pergilah!"

Bill dan Fleur berangkat ke Gringgots setelah sarapan. Aku naik ke kamar dan berbaring, kemudian menatap langit-langit kamar. Aku berpikir tentang Harry dan Hermione; apa yang mereka lakukan, apakah mereka senang dan bersyukur aku pergi? Tampaknya begitu, mereka pasti senang aku pergi karena tidak ada lagi yang mengomel tentang makanan yang tidak layak dan tentang ketidakmampuan Harry dalam memimpin.


Hari-hari berlalu, aku menghabiskan waktuku dengan berbaring di kamarku, mendengarkan radio, atau membaca Daily Prophet untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Nama Harry ada di mana-mana, mereka masih terus mencarinya. Biasanya Bill dan Fleur kembali dari bank dengan membawa berita tentang apa yang terjadi. Tentang para Pelahap Maut dan tentang apa yang terjadi di Kementrian Sihir.

Bill sering menatapku dengan pandangan aneh: tajam dan menyelidik, tapi aku mengabaikannya. Aku tidak ingin bicara tentang Harry dan Hermione lagi. Aku juga tidak ingin tahu tentang apa yang terjadi pada mereka, tapi aku curiga Bill sudah menduga apa yang sedang terjadi.

"Mereka hampir saja menangkap Kingsley," kata Bill, pada suatu hari di bulan Desember saat kami sedang duduk di ruang makan.

"Apa? Pelahap Maut? Mereka menangkap Kingsley?" ulangku tak percaya.

"Mereka tidak menangkapnya... mereka hampir saja menangkapnya," kata Bill, menjelaskannya. "Ada hubungannya dengan penyebutan nama Kau-Tahu-Siapa. Dia telah memasang tabu pada nama itu, sehingga jika kita menyebut namanya semua mantra perlindungan yang dimasang akan buyar dan Pelahap-Pelahap Maut akan langsung menemukan kita di mana pun kita berada saat itu juga."

"Pantas saja," kataku, teringat peristiwa di Tottenham Court Road, kemudian menceritakannya pada Bill.

"Ya, itulah yang terjadi pada Kingsley. Sekelompok Pelahap Maut berusaha menyudutkannya, tapi dia berhasil lolos. Dia dalam pelarian sekarang seperti kalian."

Aku tertegun saat Bill menggunakan kata 'kalian' padahal aku tidak lagi bersama Harry dan Hermione.

"Sudahlah, Ron... berhentilah bersikap murung dan bersembunyi di sini," kata Bill. "Aku bukannya ingin mengusirmu. Fleur tidak keberatan kau menghabiskan Natal di sini atau terus tinggal bersama kami, tapi kau harus bisa menentukan sikap. Bersikaplah sebagai Weasley sejati dan jangan melarikan diri dari masalah apapun yang kau hadapi."

"Aku tidak sedang menghadapi masalah," kataku, tetapi Bill menatapku dengan tajam.

Aku menunduk, memandang hidangan makan malam yang disediakan Fleur di meja, aku bisa merasakan tatapan Bill dan Fleur.

"Aku tahu kau pasti bertengkar dengan mereka dan kabur meninggalkan mereka," lanjut Bill.

"Baik," kataku mengangkat muka. "Aku memang bertengkar dengan Harry dan aku meninggalkan mereka."

"Apa yang kalian pertengkarkan?" tanya Bill.

"Entahlah, aku sudah lupa," jawabku.

Bill mengangguk, seakan mengerti.

"Kurasa mereka akan baik-baik saja tanpa aku. Tidak ada yang bisa kulakukan saat bersama mereka. Aku hanya duduk dan mengomel tentang makanan dan segalanya... Dan, mereka tidak memerlukan aku. Hermione bisa membantu Harry."

"Dan kau akan tinggal di sini seperti orang bodoh? Sampai berapa lama, Ron? Sampai Harry mengalahkan Kau-Tahu-Siapa, atau sampai Harry mati dan kau bisa bersyukur."

"Aku tidak ingin Harry mati! Kau tahu, aku pasti akan sangat sedih kalau dia mati."

"Bagus... lalu apa yang kau lakukan di sini?"

"Mereka tidak memerlukan aku..."

"Bagaimana kau tahu mereka tidak memerlukanmu kalau kau tidak pernah bertanya pada mereka, berdiskusi dengan mereka? Apakah selama ini Harry pernah bilang bahwa dia tidak memerlukamu, apakah selama ini Harry pernah mengeluhkan tentang kehadiranmu?"

"Tidak, aku―"

"Menurut yang kulihat selama ini, Harry selalu bahagia dan tersenyum saat kau ada di sampingnya, Ron," kata Bill. "Kau adalah orang pertama yang sangat dekat dengannya selain orangtuanya. Dia sangat menyayangimu bahkan lebih dari seorang saudara. Kurasa dia akan memberikan apa saja agar kau tetap bersamanya."

"Aku―"

"Meskipun kau tidak melakukan apa-apa, selain mengeluh tentang makanan saat ada bersama mereka, aku yakin mereka akan tetap bahagia saat melihatmu dalam kemah. Cukup kau hadir di sana, tertawa dan bercanda bersama mereka. Itu sudah cukup membuat satu hari yang sulit terlewatkan dengan mudah."

Aku memandang Bill, mencoba memahami apa yang dikatakannya.

"Aku tidak pernah berpikir seperti itu."

"Nah, cobalah sekarang berpikir seperti itu, dan kau akan mengerti bahwa persahaban itu lebih dari segalanya."

"Menurutmu apakah mereka akan menerimaku kalau aku kembali?"

"Pasti, kekesalan selama beberapa minggu tidak akan menghapus persahaban yang telah berlangsung selama hampir tujuh tahun. Aku yakin Harry pasti merindukanmu."

"Aku juga merindukannya, sebenarnya."

"Bagus!"

"Dan mengenai Hermione," sambung Fleur. "Kurasa dia lebih menyukaimu daripada pada Harry."

Wajahku merah padam seketika.

"Aku tidak bicara tentang Hermione..."

"Memang, tapi aku curiga ini ada hubungannya dengan cinta... cinta dan perang biasanya selalu bersama, bukan?" kata Fleur tersenyum

Aku balas tersenyum. Inilah pertama kalinya aku tersenyum selama berminggu-minggu. Memang seharusnya aku tidak boleh memendam perasaanku, aku harus menceritakan apapun yang aku rasakan pada seseorang. Apa gunanya aku memiliki kakak-kakak kalau bukan untuk ini: untuk membawaku kembali ke jalan yang benar kalau aku berbelok ke tempat yang salah.

Benar kata Bill, Harry memang membutuhkan aku, dia tidak pernah melewatkan satu kesempatan bertualang tanpa aku yang menemaninya. Aku tahu apa yang dia pikirkan, aku juga memahami apapun yang dia rasakan. Begitu juga Harry, dia memahamiku, mengerti apa yang aku rasakan, bagaimana keadaan keluargaku, bagaimana hubunganku dengan Hermione; dia tahu apa yang menakutkanku. Dan aku seharusnya tidak boleh meninggalkannya. Meskipun satu saat nanti Harry menikah dengan Hermione, aku harus tetap ada di sampingnya, begitulah sahabat sejati. Aku memang harus secepatnya kembali pada Harry dan Hermione.

Setelah membuat keputusan seperti itu, aku merasakan perasaanku lebih lega, kelegaan yang membahagiakan. Aku akan segera kembali pada mereka. Aku langsung ber-Apparate di tepi sungai Wales pada hari berikutnya. Sungai itu masih sama seperti dulu, mengalir deras dan keras di antara bebatuan, namun daun-daun di pepohonan dan semak-semak telah menguning, kering dan berjatuhan di tanah. Aku memperhatikan sekelilingku dan menyadari bahwa aku berada di tempat yang salah; aku ingat bahwa kami berkemah di tempat yang letaknya di bawah lereng. Aku memutuskan untuk ber-Apparate lebih jauh ke atas. Namun sebelum aku melakukannya, sebuah tangan telah merenggut tongkat sihirku dari belakang sedetik kemudian dan aku didorong sehingga terjatuh di tanah.

"Bangun, Kutu busuk!" teriak seseorang dan sedetik kemudian, dua pasang tangan lain mencengkram lenganku dan menarikku berdiri.

Mereka adalah orang-orang bertubuh besar dan berwajah sangar. Mereka berlima: dua memegang tanganku, dan tidak dari mereka berdiri di depanku, mengamatiku.

"Kelahiran-Muggle?" tanya seorang dari mereka.

"Bukan, aku berdarah murni," jawabku.

"Kelihatannya dia masih usia Hogwarts..." kata yang lain.

"Kabur dari sekolah," lanjut yang pertama, memandangku lagi.

"Asyik, kita bisa mendapat uang dengan menangkap anak ini..." kata orang, yang memegang tangan kananku. "Lima ratus Galleon..."

"Aku dua ratus Galleon, yang sisa kalian bisa berbagi..." kata orang yang pertama.

"Apa? Tidak bisa begitu... aku yang pertama kali melihatnya," kata yang berambut coklat kotor.

"Aku yang memegang tongkat sihirnya," lanjut yang berambut pirang. Dia memang memegang tongkat sihirku sekarang.

"Tapi kami berdua yang memegang," kata orang di yang memegang tangan kiriku.

"Diam!" teriak orang pertama. "Kita akan membahasnya nanti setelah kita membawanya ke Kementrian..."

Ketakutan mulai menghantamku, aku tidak bisa pergi ke Kementrian. Mereka kan mengenaliku dan keluargaku akan berada dalam bahaya besar. Aku memperhatikan mereka dengan seksama dan menyadari bahwa mereka bukan orang-orang pintar. Orang pertama ini tampaknya seperti keturunan troll, aku bisa merasakan baunya. Jadi, aku hanya perlu memikirkan bagaimana bisa lolos dari orang-orang bodoh ini sebelum aku dibawa ke Kementrian.

"Siapa namamu?" tanya si keturunan troll.

"Stan Shunpike," jawabku langsung. Nama itu adalah nama pertama yang terlintas dalam benakku.

"Stan Shunpike?" orang di sebelah kananku yang berambut gelap segera melepaskanku. Dia melangkah ke depanku dan mengamatiku dari atas ke bawah.

"Benarkah dia Stan Shunpike?" tanya si rambut coklat.

"Entahlah, setahuku Stan Shunpike berambut hitam, tapi dia berambut merah," kata si rambut gelap. "Lagi pula, Stan Shunpike tidak memiliki bintik-bintik di wajahnya. Jerawat ada, tapi bintik-bintik, tidak."

"Benarkah kau Stan Shunpike?" tanya si keturunan troll lagi.

"Benar... aku adalah Stun Shunpike..."

"Tapi dia bilang kau bukan Stun Shunpike..."

"Kurasa dia tidak terlalu mengenalku dengan baik," jawabku segera. "Aku memang Stun Shunpike, aku bekerja sebagai kondektur Bus Ksatria."

"Bohong," kata si rambut gelap.

"Aku Stun Shupike..."

"Dia Stun Shunpike, dan kita akan dihukum Kementrian kalau kita membawa orang yang salah," kata si keturunan Troll.

"Dia bukan Stun Shunpike," ulang si rambut gelap. "Biar aku yang membawanya ke Kementrian."

"Tidak bisa... Kita bersama-sama dari awal dan kita akan terus bersama-sama," kata si keturunan troll.

"Aku mau membawanya ke Kementrian dan aku akan mendapatkan uangnya," kata si rambut gelap.

"Kubilang dia Stun Shunpike dan dia bukan Stun Shunpike..." kata si keturunan troll.

Mereka berdebat terus dan akhirnya berkelahi; memukul, meninju dan berguling-guling di tanah. Keempat temannya menonton dan untuk sesaat pikiran mereka teralihkan. Aku segera meninju perut orang yang memegangku, merebut tongkat sihirnya.

"Expelliarmus!" teriakku pada orang yang memegang tongkat sihirku, dan dua tongkat sihir melayang ke arahku. Setengah melompat aku menyambar tongkat sihirku dan ber-Disapparate.

Aku muncul di tepian sungai tempat kami berkemah sebelumnya, aku memanggil-manggil nama Harry dan Hermione, tapi tidak ada suara apapun, kecuali gema suaraku dan suara derasnya aliran sungai. Aku menyadari bahwa mereka mungkin telah pergi. Sedih dan hampa, aku segera ber-Apparate di bukit karang, merasakan terpaan angin laut dan merasakan kesakitan yang sangat di tanganku. Aku memperhatikan jari-jariku dan melihat dua kukuku hilang.

"Mereka sudah pergi?" tanya Fleur, saat aku menceritakan kisahku padanya dan Bill.

"Ya, sudah kau bisa merayakan Natal bersama kami... aku senang kita akhirnya bisa merayakan Natal di rumah ini," kata Fleur.

"Dia hanya tidak ingin mendengarkan Celestina Warbeck, Ron," kata Bill.

"Oh, hentikan, Bill..." kata Fleur setengah tersenyum, setengah sebal.

"Tapi, aku tidak tahu bahwa orang-orang Kementrian mencari anak-anak yang kabur dari sekolah," kataku memandang Bill.

"Benar, orang yang menangkapmu itu adalah komplotan Penjambret," kata Bill.

"Penjambret?" ulangku.

"Mereka ada di mana-mana komplotan yang berusaha mencari emas dengan dengan menangkap para Kelahiran-Muggle dan anak-anak yang kabur dari sekolah... Selama berjalannya waktu mereka juga mungkin akan menangkap para Darah-Pengkhianat."

Aku hampir saja tersedak kopi-ku.

"Tenang," kata Bill. "Mereka belum menyentuh keluarga kita, tapi Dad selalu mengatakan tinggal tunggu waktu saja."

"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku.

"Aku kan membawa mereka semua ke rumah Bibi Muriel dan memantrai rumah itu dengan Mantra Fidelius," jawab Bill.

Aku tertawa, teringat Bibi Muriel.

"Fred dan George akan senang," kataku.

Bill juga tertawa. "Ya...ya, dan Bibi Muriel tidak pernah melupakan Bom Kotoran itu."

"Bibimu tak henti-hentinya mengingatkan aku soal tiaranya," kata Fleur.

"Dia memang seperti itu..."

Sementara Bill dan Fleur asyik membicarakan Bibi Muriel aku segera naik ke kamar atas. Bill dan Fleur tampak sangat bahagia, aku merasa bersalah karena aku mungkin telah mengganggu pengantin baru. Setelah menutup pintu kamar, aku segera menyalakan radio. Bill dan aku selama ini sering mendengar Pantauan Potter, siaran rahasia yang memihak pada Orde dan Harry Potter. Tapi malam ini, aku tidak menangkap siaran itu. Setelah memutar-mutar tombol radio, aku hanya mendengar potongan berita tak penting dari Jaringan Berita Radio Sihir, beberapa bait Sekuali Penuh Cinta Panas dan Pekat dan beberapa nasihat menghindari cacar naga. Sambil mendengarkan nasihat tentang menghindari cacar naga di radio, aku memutuskan untuk meminta Bill melatihku Patronus yang bisa bicara agar aku bisa menghubungi Harry dan Hermione. Namun, tiba-tiba aku mendengar suatu yang lain, suara yang sangat kukenal. Bukan dari radio, tetapi dari saku jeansku.

"Harry, kurasa kita tak akan bisa memperbaikinya. Ingat Ron? Waktu dia mematahkan tongkatnya, menabrak mobil? Tongkat itu tak akan pernah sama lagi, dia harus membeli yang baru."

Aku tersentak. Suara itu memang suara Hermione. Aku segera merogoh sakuku dan mengeluarkan Deluminator. Aku yakin sekali suara Hermione berasal dari Deluminator ini. Sekarang akhirnya aku tahu apa kegunaannya. Deluminator ini bisa mewujudkan keinginanku yang paling dalam, yaitu mendengarkan suara Hermione. Aku berpikir apakah dia juga bisa mengantarku kembali pada mereka. Setengah mengharapkan keajaiban, aku mengklik Deluminator dan lampu padam dalam kamar, tapi sebuah cahaya biru muncul di luar jendela. Aku terkejut, tapi aku tahu inilah saatnya. Aku segera mengepak barang-barangku dalam ransel dan keluar. Aku tidak bertemu Bill dan Fleur di ruang keluarga, tampaknya mereka sudah tidur, dan aku bersyukur karena itu. Aku tidak ingin menjelaskan apa yang akan kulakukan pada mereka.

Cahaya biru itu masih menungguku, melayang-layang seolah menyuruhku mengikutinya. Aku mengikutinya sampai ke belakang rumah, dan cahaya itu terbang perlahan ke arahku, kemudian masuk ke dalam tubuhku. Aku merasakan kehangatan yang nyaman, seakan baru saja masuk ke dalam kolam air panas. Dan aku tahu apa yang harus kulakukan aku ber-Disapparate dan muncul di sebuah sisi bukit bersalju. Semua putih dan tidak tampak ada tenda, tapi aku yakin Harry dan Hermione ada di sini. Aku segera berjalan berkeliling sambil memanggil-manggil nama mereka, namun tak ada jejak, berarti mantra perlindungan mereka memang berfungsi dengan baik.

Aku menghilangkan salju di bawah sebuah pohon rindang dan memutuskan untuk menginap di sana malam itu. Keesokan harinya aku terbangun, mengklik Deluminator lagi, sinar biru itu muncul dan aku segera ber-Disapparate, di sebuah hutan bersalju lain.


Read and Review, please! Buatlah aku tetap bersemangat menyelesaikan fanfic! See you in Kisah Ron dan Hermione chapter 7 part 4.

Riwa :D