Terima kasih... terima kasih sudah membaca dan review chapter 7 part 3! Lumostotalus, Putri DarkBlueSong: Thanks, tetap review, ya :D Selamat Membaca chapter 7 part 4!
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.
Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari Harry Potter dan Relikui Kematian
KISAH RON DAN HERMIONE
Chapter 7 Relikui Kematian part 4
Hermione POV
Hari-hari setelah kepergian Ron adalah hari-hari yang menyedihkan dalam hidupku, aku menangis dan menangis sepanjang hari dan sepanjang malam. Tidak saling bicara dengan Harry selama beberapa waktu. Aku tahu Harry juga mengalami kesedihan. Bagaimanapun bencinya pada Ron, dia tetap menyayanginya, mereka adalah sahabat sejati. Saat bersama mereka aku selalu merasa, seperti bukan bagian dari mereka. Bagi Harry Ron adalah sahabat dan saudaranya, yang tidak bisa tergantikan oleh siapa pun, bahkan olehku. Sedangkan bagiku, Ron adalah semangat; hari-hari tanpa Ron adalah hari-hari sepi yang menyedihkan. Apa lagi ditambah dengan kesalahpahaman Ron yang begitu menyedihkan. Dia mengira aku memilih Harry. Bagaimana aku bisa memilih Harry, kalau aku menganggapnya sebagai saudara laki-lakiku.
Aku tahu Harry melihatku menangis sepanjang waktu, dan aku senang dia tidak mencoba untuk menghiburku karena aku tidak ingin dihibur. Aku ingin membiarkan diriku menangis dan melupakan segalanya. Ron mungkin mengira bahwa aku menyatakan perasaanku hanya untuk membuatnya tinggal, tapi aku memang sungguh-sungguh menyukainya, bahkan aku merasa bahwa aku mencintainya. Namun, sikap Ron yang seperti orang brengsek membuatku ingin membunuhnya, dia bahkan tidak mau mendengarkan perkataanku.
Harry dan aku mengisi kepergian Ron dengan melakukan kesibukan sendiri. Aku menghabiskan hari-hariku dengan berbicara pada Phineas Nigellus. Meskipun dia adalah sahabat yang menyebalkan, tapi dia membawa informasi penting tentang apa yang terjadi di Hogwarts. Di sana terjadi pemberontakan pelajar yang menyulitkan Snape. Ginny, Neville dan Luna mungkin ada di belakang semua ini.
Sedangkan Harry telah menemukan kesenangan baru dengan memandang Peta Perampok. Aku tidak tahu apa yang dipandangnya dalam peta itu, tapi setiap kali dia melakukannya aku melihat ekspresi sedih dan rindu di wajahnya. Dia bisa duduk berlama-lama sambil memandang satu titik dalam peta. Aku bertanya-tanya apakah dia sedang melakukan telepati dengan orang itu.
Harry dan aku tidak berbicara tentang Ron lagi, bahkan kami tidak pernah menyebut namanya, seakan Ron tidak pernah hadir bersama kami. Harry tahu aku kan menunjukkan ekspresi sedih kalau nama Ron disebutkan, sedangkan aku tahu Harry akan menunjukkan ekspresi benci dan rindu kalau nama Ron disebutkan.
Harry dan aku akhirnya pergi ke Godric's Hollow. Aku berpendapat bahwa mungkin Dumbledore telah menitipkan pedang Gryffindor itu pada Bathilda Bagshot, namun aku salah. Di sana kami hampir saja dibunuh oleh Voldemort. Dia telah menempatkan ularnya di sana dan ular itu berusaha menahan Harry sampai Voldemort tiba. Aku berhasil menyelamatkan kami berdua dengan meledakkan tempat itu, tapi mantra itu telah membuat tongkat sihir Harry patah. Dia tampak sangat shock dan sedih saat memandang tongkatnya yang patah. Dan kesedihan itu telah berubah menjadi kemarahan dan kekecewaan saat membaca Kehidupan dan Kebohongan Albus Dumbledore. Buku itu bercerita bahwa Albus Dumbledore pernah berteman dengan Gellert Grindelwald, bahkan Dumbledore-lah yang mencetuskan ide Untuk Kebaikan yang Lebih Besar; alasan yang selalu dipakai Grindelwald dalam melakukan kejahatan.
Setelah itu, kami mulai mendengar suara langkah kaki dan suara orang memanggil-manggil di luar tenda, bahkan Harry merasa bahwa dia melihat bayangan seseorang di luar. Salju yang mulai berjatuhan menciptakan bayangan-bayangan aneh di kegelapan. Hari berikutnya, kami ber-Apparate bersama dalam Jubah Gaib, tiba di Forest of Dean dan berkemah. Tak ada yang banyak bicara hari itu, kami menghabiskan waktu dengan berdiam diri dan bergelung dalam selimut masing-masing dan duduk sedekat mungkin dengan api. Harry mendapat tugas berjaga pertama dan aku tidur, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi Harry membangunkan tengah malam.
"Hermione!"
Aku bangun dengan cepat. Kalau Harry membangunkanku di malam hari pasti ada sesuatu. Aku menyapu rambut dari wajahku dan menatapnya.
"Ada apa, Harry? Kau tak apa-apa?"
"Tak apa-apa, aku baik-baik saja," jawab Harry tersenyum. "Lebih dari itu, aku senang sekali. Ada yang datang..."
"Apa maksudmu? Siapa―"
Aku menyadari ada seseorang dalam tenda selain kami berdua. Aku berpaling dan memandang Ron. Dia berdiri di sana memegangi pedang, seluruh tubuhnya dan rambutnya basah. Aku mengerjap, tidak percaya. Tidak mungkin Ron ada di sini dan... aku mengerjap lagi, dia masih ada. Dia pasti nyata karena suara tetesan air dari pakaiannya terdengar keras di tenda yang hening. Aku berjalan perlahan mendekatinya, melangkah seolah dalam mimpi. Ron memberiku senyum lemah, dan setengah mengangkat tangannya. Apakah dia ingin aku memeluknya? Kemarahan muncul dalam hatiku seperti api yang menyala dan menjalar ke seluruh tubuh. Aku menghambur maju dan memukul setiap senti tubuhnya yang bisa kucapai.
"Ouch―auw―jangan! Apa sih―? Hermione―AUW!"
"Kau―sungguh―brengsek―Ronald―Weasley!" Aku menekankan setiap ucapanku dengan pukulan. Ron mundur melindungi kepalanya, ketika aku terus menyerangnya. Aku ingin membuatnya merasakan sakit seperti yang kurasakan ketika dia meninggalkanku.
"Kau―merangkak―kembali―ke―sini―setelah―berminggu―minggu―oh, di mana tongkat sihirku?"
Aku menerjang ke arah Harry ingin merebut tongkat sihirku, dan Harry segera mengucapkan Mantra Pelindung yang memisahkan kami semua. Kekuatannya membuatku terjatuh ke lantai, aku melompat berdiri dan memandang Harry dengan marah.
"Hermione!" kata Harry. "Tenangkan―"
"Aku tidak mau menenangkan diri!" aku menjerit. "Kembalikan tongkatku! Kembalikan padaku!"
"Hermione, tolong―"
"Jangan memberitahu aku apa yang harus kulakukan, Harry Potter!" jeritku lagi. "Jangan berani-berani! Kembalikan tongkatku sekarang! DAN KAU!"
Aku menunjuk Ron dengan ganas, Ron melangkah mundur.
"Aku berlari mengejarmu! Aku memanggil-manggilmu! Aku memohon agar kau kembali!"
"Aku tahu," ujar Ron. "Aku minta maaf, aku benar-benar―"
"Oh, kau minta maaf!" aku tertawa, suaraku melengking nyaring.
"Habis, aku bilang apa lagi?" Ron berteriak.
"Oh, aku tak tahu!" seruku tajam. "Peras otakmu, Ron, itu cuma perlu waktu beberapa detik―"
"Hermione," sela Harry. "dia baru saja menyelamatkanku―"
"Aku tak peduli!" aku menjerit keras. "Aku tak peduli apa yang dilakukannya! Berminggu-minggu kita bisa mati dan dia tak tahu apa-apa―"
"Aku tahu kalian tidak mati!" teriak Ron. "Harry muncul di mana-mana di Prophet, di mana-mana di radio, mereka mencarimu di mana-mana, semua desas-desus dan cerita-cerita sinting dan aku tahu aku akan langsung dengar kalau kalian mati, kalian tak tahu bagaimana rasanya―
"Bagaimana rasanya bagimu?" tanyaku, melengking nyaring dan untuk beberapa saat aku sepertinya tidak bisa berkata-kata lagi. Aku menghenyakkan diri di kursi dan menolak memandang Ron. Dia menyambar kesempatan itu dan bercerita tentang pengalamannya bertemu Penjambret dan bagaimana Deluminator telah membawanya ke bukit yang penuh salju.
"Kami di sana," kata Harry. "Kami melewatkan dua malam di sana, dan pada malam ke dua aku tak henti-hentinya berpikir bahwa ada orang yang bergerak berkeliling dalam gelap dan memanggil-manggil."
"Yah, nah, itu pastilah aku," kata Ron. "Mantra Perlindungan kalian berfungsi bagaimanapun juga, karena aku tak bisa melihat kalian dan juga tidak bisa mendengar kalian. Tetapi aku yakin kalian ada di sekitar sana, maka akhirnya aku masuk ke dalam kantong tidurku dan menunggu salah satu dari kalian muncul. Kupikir kalian pasti harus menampakkan diri ketika kalian mengepak tenda."
"Tidak sebetulnya," kataku. "Kami ber-Disapparate di bawah Jubah Gaib sebagai tindakan ekstra hati-hati. Dan kami pergi pagi-pagi sekali, karena seperti yang dikatakan Harry, kami mendengar ada orang berkeliaran."
"Nah, aku tinggal di bukit itu sepanjang hari," kata Ron. "Aku terus berharap kalian muncul. Tetapi ketika hari mulai gelap aku tahu kalian pasti sudah pergi, maka aku meng-klik Deluminator lagi, cahaya biru muncul dan masuk ke dalam tubuhku, dan aku ber-Disapparate dan tiba di sini, di hutan ini. Aku tetap tidak bisa melihat kalian, maka aku cuma berharap salah satu dari kalian akan memperlihatkan diri pada akhirnya―dan Harry muncul. Yah, aku melihat rusa betina itu lebih dulu, jelas."
"Kau melihat apa?" tanyaku tajam.
Harry dan Ron bercerita tentang rusa betina perak yang membawa Harry pada kolam di pinggir hutan, lalu Ron datang menyelamatkan Harry yang hampir tenggelam dalam kolam dan tentang pedang Gryffindor yang akhirnya dipakai untuk menusuk Horcrux.
"Dan... dan dia pergi begitu saja?" bisikku. Aku membayangkan Horcrux itu mungkin akan melakukan sesuatu seperti menyerang atau mengambil kekuatan kita.
"Yeah, dia―dia menjerit," kata Harry setengah memandang Ron.
Aku juga memandang Ron, yang kelihatannya sedikit stress, telinganya memerah. Aku tahu pasti ada yang tidak mereka ceritakan padaku.
"Ini," kata Harry, melemparkan liontin ke pangkuanku. Dengan hati-hati aku memungutnya dan memeriksa jendelanya yang berlubang.
Setelah yakin bahwa Horcrux ini sudah tidak berbahaya lagi, aku segera memasukkannya ke tas manik-manik, kemudian kembali ke tempat tidur tanpa berkata apa-apa.
"Kira-kira itu yang paling baik yang bisa kauharapkan menurutku," aku mendengar Harry bergumam.
"Yeah," kata Ron. "Bisa lebih parah. Ingat burung-burung yang dilepaskannya untuk menyerangku?"
"Aku belum mencoret kemungkinan itu," kataku, mendengus di balik selimut.
Aku segera memejamkan mata dan berusaha untuk tidur, tapi aku tidak bisa tidur. Aku senang Ron sudah kembali. Dia sudah ada di sini semua akan seperti biasa lagi, tapi semua tidak akan seperti biasa lagi. Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku menyukainya dan dia mengira aku berkata begitu hanya untuk membuatnya tinggal. Lalu apa yang akan terjadi pada kami nantinya apakah semua akan seperti ini atau semuanya akan lain.
Aku mendengar dengkuran lembut Harry dan Ron di tempat tidur sebelah. Saking senangnya Ron kembali, Harry tampaknya lupa untuk berjaga. Aku bangun dan memandang tempat tidur bawah, Ron tampak tidur dengan nyenyak, kelihatannya sangat kecapaian. Rambutnya basah gara-gara menyelam ke dalam kolam. Aku segera mengayunkan tongkat sihirku dan mengeringkan rambutnya. Untuk beberapa saat aku hanya duduk di tepi tempat tidurnya dan memandangnya seperti orang bodoh. Setelah tersadar, aku bangkit, membawa selimut ke pintu dan mulai membaca Kehidupan dan Kebohongan Albus Dumbledore. Meskipun Harry tidak ingin aku membacanya, tapi aku ingin tahu apa yang dituliskan Rita Skeeter tentang Dumbledore.
"Terima kasih," kata suara Ron di belakangku, beberapa detik kemudian Ron sudah duduk di sampingku, dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya.
Aku berpura-pura tidak mendengar dan tidak melihatnya. Aku terus menatap halaman terbuka Kehidupan dan Kebohongan Albus Dumbledore di pangkuanku.
"Kau mengeringkan rambutku," kata Ron.
Aku tidak menjawab.
"Aku menyesal telah meninggalkanmu dan Harry... aku telah memikirkannya selama beberapa waktu dan merasa sikapku sangat keterlaluan. Kau pasti sangat membenciku?"
Aku terus memandang halaman itu dan bertekad tidak akan berbicara dengan Ron.
"Tapi, aku senang bisa kembali," kata Ron lagi. Dia tampaknya telah bertekad untuk terus bicara meskipun aku tidak ingin meladeninya. "Dan akhirnya aku tahu kegunaan Deluminator itu..."
Aku memandangnyanya sekarang, mengangkat alisku.
Ron tersenyum.
"Dumbledore sepertinya tahu bahwa aku akan meninggalkan kalian, karena itulah dia memberikan Deluminator itu padaku."
Aku ingin berkata bahwa Dumbledore tahu bahwa dia akan selalu ingin kembali karena itulah dia memberikan Deluminator itu, tapi aku menahan diri.
"Suatu saat nanti kau juga akan tahu mengapa Dumbledore memberikan Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita padamu."
Aku kembali memandang halaman buku yang terbuka di pangkuanku dan memikirkan ucapan Ron. Pasti ada sesuatu dalam buku itu, Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita, yang berhubungan dengan pencarian Horcurx kami ini. Mungkin memang tidak ada hubungannya dengan Horcrux, tapi pasti ada sesuatu.
"Mengenai malam itu... saat kau mengatakan bahwa―"
"Tutup mulut, Ron!" kataku cepat. "Atau kau ingin aku melepaskan burung-burung untuk menyerangmu."
"Tapi aku harus bilang sekarang..." kata Ron. "Sebenarnya aku juga menyukaimu... aku sangat menyukaimu, bahkan lebih dari itu."
Jantungku berdebar kencang. Aku sudah tahu dia menyukaiku, tapi kalau mendengarnya mengatakannya membuatku merasa sedikit gugup. Aku menolak memandang Ron, aku masih marah padanya, dan pemilihan waktu Ron untuk menyatakan perasaan sama sekali tidak bagus. Dasar idiot!
"Dan kalau kau menyukai Harry..." kata Ron pelan. "Tidak apa-apa, selama kita masih menjadi sahabat."
"Ron, kau ini benar-benar idiot... aku kan pernah bilang kalau aku menganggap Harry sebagai saudara laki-laki yang tidak kumiliki," kataku.
"Oh, bagus kalau begitu, karena Harry juga menganggapmu sebagai saudara perempuannya," kata Ron, tersenyum.
"Kapan dia mengatakannya padamu?"
Telinga Ron memerah.
"Eh..."
"Ayo, Ron, cerita padaku!"
"Sebenarnya saat aku ingin menghancurkan Horcrux itu, jiwa Kau-Tahu-Siapa di dalam Horcrux itu menyerangku. Bukan dengan sihir, tapi dengan kata-kata... banyak yang dikatakannya―"
"Apa yang dikatakannya?"
Ron menatapku. "Kau ingin tahu?"
"Ya..."
"Dia―dia berubah menjadi Mom dan mengatakan bahwa dia tidak menginginkan aku... dia menginginkan Harry sebagai anak. Setelah itu dia berubah menjadi dirimu dan berkata bahwa kau lebih memilih Harry dan menyesal bahwa aku muncul lagi di hadapan kalian..."
"Kau percaya itu?" tanyaku.
Ron terdiam sesaat. "Untuk sesaat aku mempercayainya, namun Harry ada di sampingku. Dia terus mengatakan bahwa aku harus menghancurkan Horcrux itu, bahwa semua yang dikatakannya adalah kebohongan. Lalu, aku ingat saat-saat bersamanya di Hogwarts dan akhirnya aku menyadari bahwa Harry tidak akan menyesal, tak akan pernah menyesal melihatku kembali."
Aku menarik nafas panjang.
"Kurasa Ron, kau lebih menyukai Harry daripada menyukaiku..."
"Apa? Hei, dengarkan aku―"
"Bukankah aku sedang tidak bicara denganmu, Ron, pergilah! Sebelum aku bosan dan memantraimu," kataku mendelik padanya, kemudian mengeluarkan tongkat sihirku.
"Baiklah," kata Ron, memandang tongkat sihirku dan segera bangkit menuju tempat tidurnya.
Aku memandang halaman buku yang terbuka dan tidak bisa berkonsentrasi. Aku memang benar tentang hal itu: tentang Harry dan Ron yang saling menyayangi. Dalam persahabatan mereka, aku hanyalah tambahan. Aku masuk di saat-saat terakhir dan membuat dua menjadi tiga. Aku tidak pernah menanyakan pada Harry dan Ron apakah mereka memasukkan aku dalam group mereka karena mereka memang ingin aku menjadi sahabat mereka atau mereka kasihan padaku karena aku tidak memiliki teman? Aku berusaha menghapus pikiran itu dari benakku dan kembali membaca Kehidupan dan Kebohongan Albus Dumbledore.
Seperti kata Ron tadi bahwa aku juga nanti akan menemukan mengapa Dumbledore memberiku Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita, akhirnya aku mengetahui jawabannya. Aku membaca surat yang dikirimkan Dumbledore untuk Grindelwald dan melihat bahwa Dumbledore telah membuat huruf A pada 'Albus', menjadi gambar segitiga dengan garis tegak lurus dan lingkaran di dalamnya. Aku ingat bahwa lambang ini adalah lambang yang sama yang ada dalam cerita Kisah Tiga Saudara (salah satu cerita dalam Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita). Lambang ini juga ada dalam makam kuno di Godric's Hollow. Aku mengatakan ini adalah lambang karena ini bukan huruf Rune, aku telah mencari-cari artinya dalam Susunan Suku-Kata Spellman dan memang tidak ada huruf Rune yang seperti ini. Lagi pula, ini adalah lambang yang dipakai oleh Xenophilius Lovegood di pernikahan Bill dan Fleur.
Keesokan harinya sambil menghindari Ron, aku berbicara pada Harry tentang lambang ini.
"Lambang ini muncul terus kan?" kataku, saat kami selesai makan malam. "Aku tahu Viktor bilang ini lambang Grindelwald, tapi jelas lambang itu ada di makam tua di Godric's Hollow, dan tanggal di nisan itu jauh sebelum Grindelwald ada! Dan sekarang ini! Nah, kita tidak bisa bertanya pada Dumbledore ataupun Grindelwald apa artinya―aku bahkan tak tahu apakah Grindelwald masih hidup―tapi kita bisa menanyai Mr Lovegood. Dia memakai simbol ini di pesta pernikahan. Aku yakin ini penting, Harry!"
Harry tidak menjawab, dia memandang kegelapan di luar sesaat kemudian berkata, "Hermione, kita tidak memerlukan Godric's Hollow yang lain. Kita meyakinkan diri untuk ke sana dan―"
"Tapi Lambang itu muncul terus, Harry. Dumbledore mewariskan Kisah-Kisah Beedle si Juru Cerita padaku, bagaimana kau bisa tahu kita tidak diharapkan mencari tahu tentang lambang ini?"
"Kita mulai lagi deh," Harry kelihatan agak jengkel. "Kita terus meyakinkan diri Dumbledore meninggalkan kepada kita tanda-tanda dan petunjuk-petunjuk rahasia―"
"Deluminator-nya ternyata sangat berguna," kata Ron, memandang Harry dan aku bergantian. "Kupikir Hermione benar. Menurutku kita harus pergi dan menemui Lovegood."
Aku perhatikan Harry memberikan pandangan jengkel pada Ron.
"Ini tidak akan seperti Godric's Hollow," Ron menambahkan. Lovegood dipihakmu, Harry. The Quibber selama ini mendukungmu, memberitahu semua orang bahwa mereka harus membantumu."
"Aku yakin ini penting," kataku bersungguh-sungguh.
"Tidakkah kau berpikir, jika ini penting Dumbledore akan memberitahuku tentang ini sebelum dia meninggal?"
"Mungkin... mungkin ini sesuatu yang harus kau cari tahu sendiri."
"Ya," kata Ron. "Itu masuk akal."
"Tidak," bentakku. "Itu tidak masuk akal. Tapi aku tetap berpendapat kita harus bicara dengan Mr Lovegood. Simbol yang menghubungkan Dumbledore, Grindelwald dan Godric's Hollow. Harry, aku yakin kita harus tahu tentang ini."
"Menurutku kita adakan pemungutan suara saja," kata Ron. "Siapa yang setuju pergi menemui Lovegood―"
Tangan Ron terangkat sebelum aku. Aku menatapnya curiga, sepertinya Ron hanya ingin mendapat nilai baik di mataku.
"Baiklah," kata Harry, setengah sebal, setengah geli. "Hanya saja, setelah menemui Lovegood, ayo kita coba cari Horcrux-Horcrux lainnya, ya?"
Kami memang pergi ke tempat Lovegood, tapi dengan hasil yang mengecewakan. Dia bercerita pada kami dongeng tentang Relikui Kematian, hanya untuk membuat kami tetap tinggal sampai Pelahap Maut yang dipanggilnya datang. Pelahap Maut telah menculik Luna, jadi dia ingin menukar Harry dengan Luna, untung saja kami berhasil menyelamatkan diri.
Setelah kunjungan ke Lovegood ini, sikap Harry menjadi aneh, dia percaya pada Relikui Kematian. Dia mengatakan bahwa ketiga Hollow itu memang benar-benar ada, mereka telah memiliki dua Hollow: Jubah Gaib-nya dan Batu Kebangkitan, yang diletakkan Dumbledore dalam Snitch, dan Voldemort mencari Hollow ketiga, yaitu tongkat sihir Elder. Aku tidak percaya pada semua yang dikatakan Harry, menurutku kami harus memusatkan pikiran kami pada Hollow, namun Harry tetap pada pendiriannya pada Hollow.
Sementara minggu-minggu berlalu, kami mulai lagi mencari Horcrux. Harry terus terbenam dalam keasyikan barunya dan Ron-lah yang memimpin. Aku tahu Ron kelihatannya ingin menebus kepergiannya meninggalkan Harry dan aku. Barangkali juga karena Harry yang menjadi lesu tanpa gairah menggembleng kepemimpinan yang selama ini tidak aktif. Ron-lah yang memberi semangat dan mendesak kami untuk bertindak.
Kami mulai menuju tempat-tempat yang semakin hari semakin tak mungkin dan kami juga sering bertemu Penjambret dan beberapa dari mereka tampak sangat kejam. Ketika bulan Maret tiba, Ron berhasil menemukan siaran radio, Pantauan Potter, yang membuat kami bersemangat. Kami mendengarkanya dan sangat bersyukur. Aku tahu bahwa kami tidak berjuang sendiri, para anggota Orde yang lain juga sedang berujuang.
"Bagus, eh?" kata Ron senang.
"Brillian," kata Harry.
"Mereka berani sekali," kataku kagum. "Kalau mereka sampai tertangkap―"
"Mereka berpindah-pindah terus, kan?" kata Ron. "Seperti kita."
"Tapi apakah kalian dengar apa yang dikatakan Fred?" kata Harry bergairah. "Dia di luar negeri. Dia masih mencari tongkat sihir itu. Aku tahu!"
"Harry―" Aku memandangnya ragu.
"Ayolah, Hermione, mengapa kau ngotot tak mau mengakuinya? Vol―"
"HARRY, JANGAN!" Ron berteriak keras.
"―demort sedang mencari tongkat sihir Elder."
"Nama itu Tabu!" kata Ron seraya melompat bangun, ketika bunyi letusan keras terdengar di depan tenda kami. "Sudah kubilang, kan, Harry, sudah kubilang kita tak boleh menyucapkannya lagi―kita harus memasang mantra perlindungan lagi di sekeliling kita―cepat―begitulah mereka menemukan―"
Namun Ron berhenti bicara karena Teropong Curiga di atas meja telah menyala dan mulai berputar. Kami bisa mendengar suara-suara semakin dekat: suara-suara kasar bergairah. Ron mengeluarkan Deluminator dari sakunya dan mengkliknya. Lampu-lampu mereka padam.
"Keluar dari situ dengan tangan terangkat!" terdengar suara serak dari dalam kegelapan. "Kami tahu kalian di dalam! Ada selusin tongkat sihir tertuju pada kalian dan kami tidak peduli siapa yang akan kami kutuk."
Kami saling pandang selama sedetik. Aku berpikir cepat: kemungkinan besar kami akan di bawa ke Kementrian Sihir, tapi kalau mereka melihat Harry, mereka akan langsung membawanya pada Voldemort. Aku segara mengacungkan tongkat sihirku ke wajah Harry dan mengucapkan Mantra Sengat dalam kepalaku.
Harry membungkuk kesakitan bersamaan dengan para Penjambret yang sudah mulai masuk ke dalam tenda dan menyeret kami keluar. Aku bergerak cepat memasukkan tas manik-manikku ke dalam kaos kakiku, sebelum dua orang menarik lenganku dengan kasar. Kemudian aku mendengar Ron berteriak,
"Lepaskan dia!"
Setelah itu terdengar bunyi pukulan dan hantaman. Aku berbalik dan melihat mereka sedang memukul Ron.
"Jangan! Jangan pukul dia!" jeritku tertahan.
"Cowokmu akan menerima lebih buruk dari yang telah dilakukan padanya kalau dia ada dalam daftarku," terdengar suara parau.
Aku menggigil. Aku kenal suara ini: Fenrir Greyback, manusia serigala. Maniak yang menyerang semua orang tanpa memandang bulu. Dia berdiri dalam remang-remang cahaya tongkat sihir dan menatapku yang sedang berlutut di tanah.
"Gadis ini sungguh suguhan yang menyenangkan..." dia membungkuk menyentuh pipiku. "Aku menikmati lembutnya kulitnya."
Bau tanah dan darah tercium di udara. Aku menahan diri untuk tidak memuntahkan makan malamku.
Beberapa orang kemudian menggeledah tenda, sementara Greyback tegak dan menatap senang Ron dan aku yang sedang berlutut di tanah, dan khususnya Harry tergeletak di tanah.
"Nah, sekarang kita lihat siapa yang berhasil kita tangkap..." katanya, kemudian menggulingkan Harry sehingga menelentang dan menyorotkan cahaya tongkat sihir ke wajahnya.
Sementara Harry diinterogasi aku memikirkan apa yang akan kukatakan pada mereka. Kemudian terdengar bunyi pukulan keras. Mereka telah memukul Ron lagi.
"Haya Bardy," kata Ron. "Bardy Weadley."
Aku mengeluh dalam hati. Bagaimana bisa Ron mengatakan Weasley? Sekarang mereka tahu dan mereka akan mengincar keluaraga Weasley kalau Mantra Sengat yang kuberikan pada Harry memudar.
"Dan terakhir, teman mungilmu yang cantik..." Greyback menatapku sekarang. Keriangan dalam suaranya membuatku merinding.
"Sabar, Geryback," kata orang yang bernama Scabior, di tengah teriakan dan olok-olok yang lain.
"Oh, aku belum akan menggigit sekarang. Kita lihat apakah dia sedikit lebih cepat mengingat namanya dari pada Barny. Siapa kau, gadis?"
"Penelope Clearwater," kataku meyakinkan.
Sementara aku mengucapkan nama itu, aku ingat bahwa Penelope Clearwater, meskipun telah meninggalkan Hogwarts, adalah Kelahiran-Muggle.
"Apa Status Darah-mu?"
"Berdarah-Campuran," jawabku. Aku hanya berharap mereka tidak mengecek alumni-alumni Hogwarts.
Mereka menyeret kami, mengikat kami pada tawanan yang lain dan Harry berbisik pelan,
"Ini semua salahku, aku menyebut namanya, sori―"
Aku sudah akan mengatakan sesuatu, ketika terdengar suara Dean dari sebelah kiriku.
"Harry?" kata Dean.
"Dean!"
"Ternyata kau! Astaga! Kalau mereka tahu siapa yang tahu mereka tangkap―! Mereka Penjambret, mereka cuma mencari anak-anak yang kabur dari sekolah untuk mendapat imbalan uang―"
"Tangkapan lumayan untuk semalam," kata Geryback, ketika sepasang sepatu bot dengan paku-paku tapal kuda lewat di depan kami dan terdengar lebih banyak gedubrakan dari dalam tenda. "Satu Darah-Lumpur, satu Goblin pelarian, dan tiga anak yang kabur dari sekolah."
Mereka menginterogasi Harry sesaat, kemudian terdengar teriakan dari dalam tenda.
"Lihat ini, Greyback!"
Sosok gelap berlari ke arah mereka sambil membawa pedang Gryffindor. Aku menatap pedang itu dengan terpana. Akulah yang mengeluarkan pedang itu untuk kubersihkan dan sekarang mereka telah mendapatkan pedang itu.
"Tunggu dulu, Greyback! Lihat ini, di Prophet!"
Scabior sedang merentangkan sebuah halaman koran di depan hidung Greyback.
"Ermione Granger," Scabior berkata. "Darah-Lumpur yang bepergian dengan Arry Potter"
"Kau tahu, cewek? Foto ini mirip sekali denganmu," kata Greyback yang kembali berjongkok di depanku. Dia menunjukkan Prophet padaku dan aku bisa melihat fotoku saat berumur lima belas tahun dengan menggunakan gaun pesta pink pada Pesta Dansa Natal. Aku curiga mereka mengambil foto itu dari Witch Weekly.
"Tidak! Itu bukan saya," kataku gugup. Aku hanya berharap agar mereka tidak bisa membedakan aku yang sekarang dengan aku yang dulu. Aku tahu sekarang wajahku lebih kurus dan pucat karena terlalu lama tinggal dalam pelarian.
Namun, Greyback tidak mempedulikan aku lagi, dia kembali memandang Harry.
"Betul," kata Greyback terpesona. "Kita sudah menangkap Potter."
Sesaat hening, mereka semua memandang Harry.
Setelah itu mereka memutuskan untuk membawa kami ke Malfoy Manor, tempat Voldemort tinggal untuk sementara. Kami dibawa ber-Apparate ke Malfoy Manor dan langsung dihadapkan pada keluarga Malfoy. Narcissa tampak ragu-ragu dalam mengenali Harry, Lucius tampak bersemangat, sedangkan Draco berusaha untuk tidak memandang kami cukup lama, seolah takut matanya akan terluka. Kemudian Bellatrix Lestrange muncul.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi, Cissy?" dia memandangku. "Bukankah ini si Darah-Lumpur? Ini Granger?"
"Ya, ya, itu Granger!" seru Lucius. "Dan di sebelahnya, menurut kami Potter! Potter dan teman-temannya tertangkap akhirnya."
Bellartrix tampak bersemangat dan sudah akan menyentuh Tanda Kegelapan di lengannya ketika matanya yang gelap terpancang pada sesuatu yang tak bisa kulihat. Gembira karena Bellarix tidak jadi menyentuh Tanda Kegelapan-nya, Lucius segera menggulung lengan bajunya sendiri dan berniat menyentuhnya, tapi Bellatrix menjerit seperti orang gila.
"STOP!" jerit Bellatrix. "Jangan sentuh, kita semua akan mampus kalau Pangeran Kegelapan datang sekarang."
Dia berjalan ke tempat yang tidak bisa kulihat dan menginterogasi para Penjambret tentang pedang Gryffindor. Dia membuat pingsan mereka semua, kecuali Greyback yang telah dipaksa berlutut dan diinterogasi tentang pedang.
"Pedang itu ada di tenda mereka," jawab Greyback parau. "Lepaskan aku, kataku."
Bellatrix melambaikan tongkat sihirnya dan segera melepaskan Greyback, yang kemudian berjalan menjauh di sudut ruangan. Sedangkan Bellatrix memandang pedang dengan teliti.
"Para tawanan harus ditempatkan di gudang bawah tanah, sementara aku memikirkan apa yang harus dilakukan."
"Ini rumahku, Bella, kau tidak bisa memberi perintah―"
"Lakukan! Kau tak mengerti kita dalam bahaya besar!" jerit Bellatrix. Dia tampak menyeramkan, seperti orang gila. Seleret kecil api muncul dari ujung tongkat sihirnya dan melubangi karpet.
Narcissa ragu-ragu sejenak kemudian menyuruh si manusia serigala.
"Bawa tawanan ke gudang bawah tanah, Greyback."
"Tunggu," kata Bellatrix tajam. "Semuanya kecuali... kecuali si Darah-Lumpur."
Tubuhku gemetar.
"Jangan!" teriak Ron. "Anda boleh menahan saya, tangkap saya."
Bellatrix mengayunkan tinjunya dan menghantam wajah Ron.
"Kalau dia mati dalam interogasi, aku akan mengambilmu berikutnya," katanya. "Darah-Pengkhianat urutannya setelah Darah-Lumpur dalam bukuku. Bawa mereka ke ruang bawah tanah dan pastikan mereka aman, jangan apa-apakan mereka―jangan dulu!"
Dia melemparkan kembali tongkat sihir Greyback padanya, kemudian mengambil pisau perak pendek dari balik jubahnya. Dia memotong tali yang mengikatku, melepaskanku dari tawanan yang lain, kemudian menyeretku dengan menjambak rambutku ke tengah ruangan, sementara Harry, Ron dan yang lainnya di bawah oleh Greyback ke pintu lain.
"Nah, Nona Darah-Lumpur, aku senang bisa mendapatkan sedikit hiburan darimu," kata Bellatrix dengan seringai jahat.
"Lepaskan aku!" kataku gemetar.
"Tidak sekarang... kita akan coba―" dia memandangku dengan tajam sesaat, kemudian berkata, "Crucio!"
Aku terjatuh di lantai dan kesakitan yang tak terhingga menyerangku. Seluruh tubuhku terasa sakit, seperti seseorang telah dengan sengaja mengiris-iris seluruh daging di tubuhku dengan pisau yang sangat tajam. Aku menjerit.
"Bagaimana rasanya? Itu baru permulaan! Kau akan menderita lebih dari ini kalau kau tidak menjawab pertanyaanku dengan jujur!" kata Bellatrix.
Aku menjerit dan terus menjerit. Ingin rasanya nafas kehidupan segera hilang dari tubuhku untuk mengakhir siksaan ini.
"Dari mana kau mendapatkan pedang itu?" tanya Bellatrix.
"Aku tidak tahu!" jeritku. "Tolong... tolong lepaskan aku!"
"Aku akan menanyaimu lagi! Dari mana kau mendapatkan pedang ini? Dari mana?"
"Kami menemukannya―kami menemukannya―TOLONG!" dan aku menjerit lagi. Siksaan ini tidak pergi meninggalkanku.
"Kau bohong, Darah-Lumpur kotor, dan aku tahu itu. Kau sudah memasuki lemari besiku di Gringgots. Ngaku saja, ngaku saja!"
Aku menjerit lagi, kali ini rasa siksaan itu sudah merambat sampai ke tulang-tulangku. Tulang-tulangku seolah sedang di gergaji.
"TIDAK! Aku tidak bohong, Tolong!"
"Apa lagi yang kau ambil? Apa lagi yang kau dapat? Ngaku saja, kalau tidak, aku bersumpah kupotong kau dengan pisau ini! Crucio!"
Aku menjerit dan berteriak minta tolong, tenggorokanku sakit, bahkan seluruh tubuhku sakit. Tidak ada lagi tenaga dalam diriku. Satu hal yang kuinginkan saat ini adalah kematian. Aku memejamkan mata, menunggu kematian itu datang menjemputku, aku ingin kematian itu datang dengan cepat, tanpa siksaan lagi, namun...
"HERMIONE! HERMIONE!"
Ron!
Aku membuka mata dan mendengarkan teriakan keras Ron entah dari mana. Semangat baru muncul dalam diriku mendengar suara itu. Dalam kesakitan aku tahu, aku akan selamat. Namun, aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi pasti ada suatu cara. Otakku berpikir cepat, aku bisa mendengarkan mereka, tentu mereka juga bisa mendengarkanku. Jadi, kalau aku mengatakan ini adalah pedang palsu, tentu mereka akan mendukungku.
"Bagaimana kau bisa memasuki lemari besiku?" Bellatrix berteriak lagi. "Apakah goblin kotor di ruang bawah tanah itu yang membantumu?"
"Kami baru bertemu malam ini!" aku berteriak keras, berharap Harry dan Ron bisa mendengarkan aku. "Kami belum pernah berada dalam lemari besi Anda... itu bukan pedang yang asli! Itu cuma tiruan, cuma tiruan!"
"Tiruan?" jerit Bellatrix. "Oh, cerita yang bagus!"
"Tapi kita bisa dengan mudah mengetahuinya!" kata Lucius. "Draco, jemput si goblin, dia bisa memberitahu kita pedang ini asli atau tidak!"
Di lantai yang dingin aku tergeletak. Seluruh tubuhku sakit, aku tidak mampu untuk mengerakkan tangan dan kakiku. Kaki Bellatrix bergerak di atasku menyeret Griphook di dekatku. Dia memberikan pedang Griffindor itu pada Griphook.
"Nah?" Bellatrix bertanya pada Griphook. "Apakah itu pedang yang asli?"
Aku menahan nafas menunggu.
"Bukan," jawab Griphook. "Ini pedang palsu."
"Kau yakin?" tanya Bellatrix. "Sungguh yakin?"
"Ya," kata Griphook.
Kelegaan merayapi wajah Bellatrix, semua ketegangan menguap darinya.
"Bagus," katanya dan dengan jentikan santai tongkat sihirnya, dia menambahkan satu torehan luka yang dalam di wajah si goblin, dan Griphook ambruk dengan jeritan di kakinya. Bellatrix menendangnya minggir. "Dan sekarang," katanya dengan suara penuh kemenangan, "kita akan memanggil Pangeran Kegelapan."
Dia menyingkap lengan bajunya dan menyentuhkan jari telunjukknya ke Tanda Kegelapan di lengannya.
"Dan menurutku," katanya mengeringai, "kita bisa membuang si Darah-Lumpur. Greyback, ambil dia kalau kau menginginkannya."
"TIDAAAAAAAAAAK!"
Aku mendengar suara Ron lagi. Aku ingin mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang terjadi, namun aku tidak bisa menggerakkan kepalaku. Aku memejamkan mata mendengarkan suara Ron dan suara Harry disertai bunyi letusan. Kemudian sebuah tangan kasar menariku berdiri dan sedetik kemudian sesuatu yang tajam dan dingin menempel di leherku.
"BERHENTI, KALAU TIDAK DIA MATI!"
Aku merasakan irisan benda tajam pada leherku. Aku ingin menjerit, tapi tidak bisa. Tenggorokanku pasti terluka.
"Jatuhkan tongkat sihir kalian," kata suara Bellatrix. "Jatuhkan, kalau tidak, kita akan melihat dengan jelas, betapa kotornya darahnya."
Aku terus memejamkan mata, tak ingin tahu apa yang terjadi.
"Kubilang, jatuhkan tongkat sihir kalian!" pekik Bellatrix.
Aku merasakan pisau tajam itu semakin menekan tenggorokanku dan cairan hangat mengalir dari leher.
"Baiklah!" terdengar suara Harry.
"Bagus―Draco, ambil tongkat sihir itu! Pangeran Kegelapan sedang datang, Harry Potter! Kematianmu sudah dekat!"
Bellatrix masih menyanggaku dan aku bisa merasakan semangatnya yang menggebu-gebu dalam dirinya.
"Sekarang, Cissy, kita harus mengikat dua pahlawan keci ini, sementara Greyback mengurus Nona Darah-Lumpur. Aku yakin Pangeran Kegelapan tidak akan keberatan kau memiliki gadis itu, Greyback, setelah apa yang kau lakukan malam ini."
Bersamaan dengan diucapkannya kata terakhir, terdengar bunyi ciutan aneh dari atas. Tiba-tiba Bellatrix melepaskanku dan aku tergeletak lagi di lantai yang dingin, kemudian sebuah benda berat jatuh menimpaku. Setelah itu, kegelapan total menyelimutiku.
"Hermione!" terdengar suara halus yang sangat jauh.
Aku tidak ingin bangun. Aku tidak ingin menderita lagi. Cukup sudah semua penderitaan ini, aku sudah merasakannya, tidak perlu lagi ditambah dengan penderitaan lain.
"Hermione!" suara itu terdengar lagi. "Kumohon, bangunlah!"
Aku tidak menginginkan sel-sel otakku bekerja, namun otakku ini sedang bekerja mengirimkan sinyal pengenalan pada suara ini. Aku tahu ini suara Ron.
"Kumohon, Hermione! Jangan tinggalkan aku!"
Suaranya terdengar begitu menderita dan sedih. Aku merasakan hatiku menangis, aku tidak ingin mendengar suara Ron yang menderita. Aku membuka mataku dan melihat Ron duduk di sampingku menatapku. Mata birunya penuh dengan airmata, dan aku juga merasakan cairan hangat mengalir dari mataku ke pipiku. Aku ingin mengangkat tanganku untuk menyentuhnya, menghapus airmatanya, tapi tanganku tidak bisa kugerakkan. Seluruh tulang-tulang di tubuhku sakit.
"Hermione..." Ron menarikku dari tempat tidur dan memeluk dengan erat. Dia membelai rambutku dan membuaiku dalam pelukannya.
"Kupikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi... kupikir kau akan mati di sana dan―"
Dia tidak melanjutkan kata-katanya. Aku tahu apa yang ingin dia katakan, dia tidak perlu mengucapkannya karena aku tahu. Aku tahu dia takut aku akan menghilang dari hidupnya selamanya. Aku ingin mengucapkan sesuatu untuk menenangkannya, ingin bilang padanya bahwa aku baik-baik saja, tapi tenggorokanku sakit.
"Jeritanmu membuat seluruh tubuhku sakit... aku ingin menggantikanmu. Aku ingin akulah yang kesakitan bukan kau!" bisik Ron lembut, dia melepaskan aku, menggenggam tanganku dan menatapku.
Kami saling bertatapan.
"Aku membayangkan kau meninggalkanku―pergi, mati―dan aku merasakan bahwa jiwaku juga mati bersamamu... Karena itu, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpamu."
Aku mengangguk, airmata mengalir dengan deras di pipiku. Aku mengerti apa yang dirasakan Ron karena aku juga merasakan hal yang sama terhadapnya. Aku mencintainya, sungguh-sungguh mencintainya.
Ron menatapku sesaat dan menghapus airmata di pipiku.
"Sekarang semua akan baik-baik saja!" katanya.
Aku mengangguk lagi.
"Apakah kau tidak bisa bicara?"
Aku mengangguk. Dia meraihku dan memelukku lagi.
"Maaf, aku tidak bisa menjagamu dengan baik!"
Pintu terbuka dan Fleur masuk.
"Ron," katanya. "Bagaimana, Hermione?"
Ron melepaskanku.
"Dia sudah sadar," jawab Ron, kemudian berdiri dan mundur agak ke belakang.
Fleur, dalam gaun rumah dan botol Skele-Gro di tangannya segera mendekatiku. Dia memaksaku membuka mulut dan segera menuangkan cairan berasap ke mulutku. Cairan itu membakar tenggorokanku membuatku terbatuk-batuk dan megap-megap.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Fleur.
Cairan itu seolah membakar sekujur tubuhku dan membuat seluruh tulangku bekerja.
"Tenggorokannya sakit, dia tidak bisa bicara," kata Ron.
Fleur memaksaku membuka mulut lagi dan memeriksa tenggorokanku.
"Tidak apa-apa," kata Fleur, setelah memastikan aku baik-baik saja. "Dia akan baik-baik saja!"
Ron kelihatan mendesah lega.
"Aku akan meninggalkan kalian," kata Fleur, lalu bangkit. "Aku harus memberikan Skele-Gro pada Griphook."
"Baiklah, terima kasih," kata Ron.
Fleur memberikan senyum singkat lalu keluar kamar. Ron kembali duduk di sampingku dan tersenyum.
"Kau akan baik-baik saja," kata Ron. "Sekarang beristirahatlah, aku akan mencari Harry."
Aku mengangguk.
Ron berjalan keluar dan menutup pintu di belakangnya. Aku berbaring dan mencoba tidur, tapi aku tidak bisa tidur. Tulang-tulang dalam tubuhku seolah bergerak tumbuh, membuatku ingin bergerak. Aku mencoba menggerakkan tanganku dan tangan itu bisa bergerak lagi. Aku baru akan bergerak bangun ketika Luna masuk ke kamarku dengan mengenakan salah satu mantel Fleur.
"Hermione? Kau baik-baik saja? Ron menyuruhku ke mari untuk menjagamu," kata Luna.
Aku mengangguk, kemudian mencoba bangkit.
"Lebih baik kau istirahat saja," kata Luna, bergerak cepat dan menahanku di tempat tidur. "Kau telah disiksa seperti itu dan―yah, kau harus beristirahat."
Aku bersandar pada bantal dan memandang Luna.
"Apa―yang―terjadi?" tanyaku perlahan dan serak. Tenggerokanku terasa sakit lagi, tapi aku berhasil mengucapkan kata-kata itu.
"Harry baik-baik saja, Griphook sedang disembuhkan Fleur, tapi―tapi Dobby tidak―dia meninggal."
Aku merasakan mataku kembali memanas. Airmata jatuh di mataku.
"Bellatrix membunuhnya dengan pisau peraknya," kata Luna.
"Tidak!" kataku serak.
"Tetapi dia sudah tenang sekarang. Dia tidak akan merasakan kesengsaraan lagi..." kata Luna.
"Mana Ron? Aku ingin bertemu dengannya."
"Mereka sedang menguburkannya," kata Luna.
"Aku harus pergi, aku harus melihatnya untuk terakhir kalinya," kataku.
"Tapi Ron bilang kau harus tetap di sini dan―"
"Luna, aku ingin melihat Dobby... kita harus melihatnya."
"Baiklah!"
"Tapi aku harus berganti pakaian... aku tidak ingin memakai pakaian ini lagi untuk selamanya," kataku, memperhatikan pakaian yang kukenakan. Pakaian ini akan mengingatkanku akan siksaan di Malfoy Manor.
"Sebentar, aku akan mengambil gaun rumah Fleur," kata Luna, kemudian keluar kamar.
Beberapa saat kemudian dia kembali lagi membawa gaun rumah berwarna hijau gelap. Aku segera berganti pakaian dibantu oleh Luna dan kami berdua segera keluar kamar dan menuruni tangga.
Kami bertemu Fleur dan Bill di ruang keluarga, tapi mereka tidak berkata apa-apa. Mereka bergabung dengan Luna dan aku melewati ruang tamu mungil dan keluar ke halaman menuju kerumunan kecil, Harry, Ron dan Dean yang mengelilingi Dobby di tepi lubang kubur. Dobby terbaring di tanah mengenakan jaket Harry, topi wol Dean dan kaus kaki Ron.
"Kita harus menutup matanya," kata Luna, setelah kami tiba di tepi lubang kubur yang tidak rata.
Ron segera merangkulku, ketika aku mendekatinya, sedangkan Luna segera berjongkok untuk menutup mata Dobby.
"Nah," kata Luna. "Sekarang dia bisa tidur."
Harry segera membaringkan Dobby dalam lubang kuburnya, mengatur tangan dan kakinya yang mungil sehingga dia seperti sedang beristirahat, kemudian naik keluar lagi dan memandang terakhir kalinya tubuh kecil itu. Aku memandang Dobby dan menahan diri agar tidak menangis, mengingat segala yang dilakukannya untuk kami.
"Menurutku kita harus bilang sesuatu," kata Luna. "Aku duluan, ya!"
Sementara kami memandangnya, Luna memandang jasad Dobby di dasar kubur.
"Terima kasih banyak, Dobby, karena telah membebaskanku dari gudang bawah tanah itu. Sungguh sangat tidak adil kau harus meninggal, padahal kau begitu baik dan berani. Aku akan selalu ingat apa yang kau lakukan bagi kami. Kuharap kau bahagia sekarang."
Luna menoleh dan memandang Ron.
Ron memencengkram pundakku dengan erat, berdehem dan berkata, "Yeah... trim, Dobby."
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya. Aku megerti perasaan Ron: dia tentu tidak ingin Dobby meninggal dengan cara seperti ini. Namun, kematian Dobby telah membuatnya menyadari bahwa perjuangan kami belumlah berakhir. Kami masih akan berperang, mungkin akan ada kematian lain lagi. Ron memandangku, aku mengangguk dan tersenyum.
Aku memandang ke depan lagi dan melihat Bill telah menutup lubang kubur Dobby dengan tanah kemerahan dan merapikannya. Kami segera bergerak kembali ke rumah, sedangkan Harry tetap tinggal. Sambil berjalan kembali ke rumah, Ron bercerita padaku tentang apa yang terjadi setelah aku pingsan.
"Dobby telah menyelamatkan kita," kata Ron pelan dan sedih.
"Ron, dia sudah bahagia sekarang," kataku, mengulang apa yang dikatakan Luna.
"Yah..." Ron memandangku. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja!"
Kami masuk ke ruang keluarga yang cantik dengan kayu apung menyala di perapian. Ron segera membantuku duduk di sofa dan duduk di sampingku sambil merangkul pundakku, sementara Luna, Dean, Bill dan Fleur duduk di kursi-kursi lain di dekat kami. Bill segera bercerita tentang apa yang terjadi dengan dunia sihir sekarang ini.
"... Untung Ginny sedang libur. Kalau dia di Hogwarts mereka sudah menangkapnya sebelum kita bisa menggapainya. Sekarang kita tahu dia juga selamat."
Biill menoleh dan memandang Harry yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Aku sudah mengeluarkan mereka semua dari The Burrow," dia menjelaskan. "Memindahkan mereka ke rumah Muriel. Para Pelahap Maut sekarang tahu Ron bersamamu, mereka pastilah akan menjadikan keluarga kami sasaran―jangan minta maaf," dia menambahkan, ketika melihat ekspresi wajah Harry. "Tinggal soal waktu, begitu kata Dad selama berbulan-bulan ini. Kami keluarga darah-pengkhianat terbesar yang ada."
"Bagaimana mereka dilindungi?" tanya Harry.
"Mantra Fidelius. Dad Pemegang Rahasia-nya. Dan kami juga memasang mantra itu di pondok ini. Aku Pemegang Rahasia di sini. Tapi tak seorangpun dari kami bisa bekerja, tapi itu sama sekali bukan hal yang penting sekarang ini. Begitu Ollivander dan Griphook cukup kuat, kami akan memindahkan mereka ke rumah Muriel juga. Tak ada cukup ruangan di sini, tapi di rumahnya banyak kamar. Kaki Griphook sedang membaik. Fleur telah memberinya Skele-Gro. Kita barangkali bisa memindahkan mereka satu jam lagi atau―"
"Jangan," kata Harry, dan Bill tampak terperanjat.
"Aku memerlukan mereka berdua di sini. Aku perlu bicara dengan mereka. Ini penting."
Ron dan aku saling pandang. Kami tidak bisa menduga apa yang sedang direncanakan Harry, dan aku sangat berharap bahwa rencana Harry itu membawa kami semakin dekat pada Horcrux.
Ron POV
Harry telah melepaskan Hollow dan aku sangat kecewa, tapi Hermione berpendapat bahwa itu adalah pilihan terbaik karena Harry tidak mungkin membongkar kuburan Dumbledore. Rencana Harry yang berikutnya adalah mengambil Horcrux dalam lemari besi Lestrange di Gringgots. Itu adalah rencana yang mustahil menurutku. Namun, Harry berpendapat dengan bantuan si cebol Griphook kami bisa mendapatkan Horcrux itu. Dilemanya adalah kami harus memberikan pedang Gryffindor sebagai imbalan atas bantuannya, sedangkan kami masih memerlukan pedang itu untuk menghancurkan Horcrux. Hermione tidak setuju dengan rencana Harry, yaitu akan memberikan pedang itu, tapi tidak memberitahu kapan waktunya. Memang itu bukan ide paling baik yang pernah dikemukakan Harry, namun kami tidak mempunyai rencana lain.
Tinggal di Shell Cottage, ada yang merawat dan memperhatikan kami membuat kesehatan Hermione semakin hari semakin baik. Hermione sudah bisa bergerak ke mana-mana dan sudah hampir bisa melupakan kejadian di Malfoy Manor. Luka di lehernya juga sudah hilang perlahan-lahan, bahkan dia sudah bisa berdebat dengan Luna tentang tanduk Erumpent, yang diyakini Luna sebagai Snorkack Tanduk-Kisut.
Hari-hari berlalu dan waktunya kami untuk menuju Gringgots semakin dekat. Kami setuju untuk tidak memberitahu Bill dan Fleur tentang apa yang akan kami lakukan. Sedikit yang tahu akan semakin baik. Namun, aku curiga bahwa diam-diam Bill memperhatikan kami dan dia mungkin telah menduga bahwa kami memang sedang merencanakan sesuatu yang ada hubungannya dengan Gringgots. Sementara itu, Hermione telah beberapa kali berlatih mantra-mantra penyamaran untuk menyamarkan aku.
"Aku tidak suka jenggot yang seperti kambing. Itu mengingatkanku pada Krum," kataku, pada malam sebelum keberangkatan kami. Hermione dan aku sedang duduk di teras rumah dan dia sedang mencoba beberapa mantra penyamaran padaku.
"Ya, ampun, Ron," kata Hermione. "Ceritanya kan, kau orang asing dari luar negeri yang sedang berkunjung ke Inggris, jadi tampangmu juga harus seperti orang luar."
"Tapi aku tidak suka kalau tampangku mirip Krum..." kata Ron. "AKu tahu kau sengaja melakukan..."
"Apa? Ron, apa sih maumu... kau tidak suka jenggot panjang, terus kau juga tidak suka jemggot pendek―"
"Aku suka jenggot pendek, tapi jangan yang seperti Krum."
"Oke... oke, diam dulu," kata Hermione. "Aku sedang mencoba menyamarkanmu."
Hermione mengacungkan tongkat sihir padaku, setelah itu memberikanku cermin. Tampangku sekarang sedikit lain dengan janggut pendek, namun...
"Coba buat hidungku sedikit lebih pendek! Kau juga harus menghilangkan bintik-bintik di wajahku," kata Ron. "Oh, ya, aku juga lebih suka kalau rambutku pirang."
"Aku lebih suka kalau rambutmu tetap merah," kata Hermione.
"Tapi aku bosan berambut merah, Hermione," kataku. "Cobalah sekali ini buat rambutku pirang atau coklat."
Hermione mendengus kemudian mengacungkan tongkat sihirnya lagi dan merubah seluruh aspek penampilanku. Setelah itu dia memberikan cermin. Rambutku sekarang coklat gelap, panjang dan berombak dengan kumis dan jenggot pendek, hidung lebar dan alis tebal. Aku memperhatikan wajahku sesaat dan mengeluh.
"Jelek sekali!"
Hermione cekikikan.
"Sebenarnya ini bukan soal bertampang cakep, tapi bagaimana kau bisa menjadi orang lain," kata Hermione.
"Oke!" kataku, mengerti.
Harry, Hermione dan aku telah beberapa kali membicarakan rencana untuk membobol lemari besi Lestrange, namun beberapa kali juga aku merasa bahwa rencana kami ini tidak akan berjalan dengan baik. Dari tampang Hermione yang pucat setiap kami membicarakan Gringgots membuatku merasa bahwa dia juga merasakan hal yang sama.
"Setelah Gringgots kita akan ke mana?" tanyaku, memandang Hermione yang sekarang telah mengembalikan penampilanku.
"Hogwarts," jawab Hermione. "Harry, telah beberapa kali mengatakan bahwa Kau-Tahu-Siapa menyembunyikan salah satu Horcrux-nya di Hogwarts dan biasanya―"
"Harry selalu benar," lanjutku.
"Ya," desah Hermione. "Aku akan sangat sedih kalau kita meninggalkan rumah ini. Rumah ini sangat indah."
"Kau suka rumah di tepi pantai?" tanyaku.
"Ya, tapi aku bukan bicara tentang rumah ini, tapi aku bicara tentang kenyamanan dan keamanan yang kita peroleh di sini," kata Hermione.
Aku bersandar di bangku dan merangkul pundak Hermione, yang kemudian menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Tak lama lagi semua akan segera berakhir," bisikku.
"Benar, yang perlu kita lakukan adalah percaya sepenuhnya pada Harry."
Read and Review, please! Buatlah aku tetap bersemangat menyelesaikan fanfic! See you in Kisah Ron dan Hermione chapter 7 part 5.
Riwa :D
