Terima kasih... terima kasih sudah membaca dan review chapter 7 part 4. Putri: ku akan berusaha agar chapter ini panjang; BrittanyAsley: Santai aja n thanks dah review :D; DarkBlueSong: Kisah Draco dan Ginny setelah fanfic ini; Lumostotalus: mungkin chapter selanjutnya adalah chapter terakhir :D
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.
Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari Harry Potter dan Relikui Kematian
KISAH RON DAN HERMIONE
Chapter 7 Relikui Kematian part 5
Hermione POV
Voldemort memang sudah mempersiapkan para goblin Gringgots untuk berjaga. Saat kami tiba di sana, Harry harus memberikan Mantra Confundus pada dua penjaga agar kami bisa masuk ke dalam Gringgots. Setelah itu, Harry juga harus meng-imperius: Travers, menyuruhnya untuk bersembunyi; dan Bogrod, untuk mengikuti kami menuju lemari besi Lestrange. Namun, semua penyamaran kami terbongkar karena Air Terjun Keruntuhan Pencuri, dan kami tidak bisa kembali karena para goblin sudah menunggu kami di atas. Kami terus berjalan, melewati naga dan berhasil masuk ke lemari besi Lestrange yang sudah dimantrai dengan Kutukan Gemino dan Flagrante. Jadi, apapun yang kami sentuh akan membakar dan berlipat ganda. Kami berusaha untuk tidak menyentuh apapun, namun harta-harta yang melimpah dalam lemari besi itu terus saja tersentuh membuat seluruh tubuh kami terbakar.
Akhirnya setelah hampir satu jam di dalam lemari besi itu, Harry berhasil menemukan piala emas dengan lambang musang. Kami membawa piala Hufflepuff itu keluar, dan langsung dihadang oleh serombongan goblin dan menyihir yang marah. Kami terjebak, sedangkan Griphook kabur dengan membawa pedang Gryffindor. Harry segera melepaskan naga setengah buta yang dirantai dan kami melarikan diri dengan menunggang naga. Dia membawa kami menuju wilayah liar dan kami cepat-cepat melompat ke air sebelum dia menyadari bahwa ada daging lezat di punggungnya.
Kami berenang, kemudian menyeruak melewati buluh dan lumpur, dan akhirnya kami merenyak, basah kuyup, terengah-engah, dan kelelahan di atas rerumputan yang licin. Aku roboh, batuk-batuk dan gemetar. Aku sangat capek, lelah dan tidak mampu bergerak untuk memberikan mantra perlindungan yang biasa, namun Harry segera bangkit dan mendaraskan mantra perlindungan yang biasa di sekeliling Ron dan aku yang terbaring di atas rumput.
Aku memandang Ron dan melihat bahwa dia mengalami luka bakar merah, parah pada sekujur wajah dan lengan, pakaiannya berlubang terbakar di beberapa tempat. Aku tahu penampilanku juga pasti sama mengerikan seperti Ron, aku bisa membaui bau angus terbakar dari rambutku. Aku segera mengeluarkan dittany dan memberikannya pada Ron, dia segera meneteskan essens itu pada luka-lukanya yang banyak. Kami mengedarkan dittany dan memandang luka-luka kami sembuh dengan cepat. setelah itu, aku mengeluarkan jubah bersih dan jus labu kuning.
"Yah, segi positifnya, kita mendapatkan Horcrux," kata Ron, setelah kami selesai berganti pakaian. "Segi negatifnya―"
"―Tak punya pedang," kata Harry, dengan gigi mengertak.
"Tak punya pedang," ulang Ron. "Goblin cebol pengkhianat..."
Harry mengeluarkan Horcrux dari saku jaketnya yang basah dan meletakkannya di depan kami. Piala itu berkilau dalam cahaya matahari, kami memandangnya sambil minum jus labu kuning.
"Paling tidak, kita tidak bisa memakainya kali ini, akan terlihat agak aneh kalau tergantung di leher kita," kata Ron.
Memandang ke seberang danau, ke pantai yang jauh dari tempat kami, aku melihat si naga sedang minum. Wajahnya terlihat menyeramkan dan sisiknya tampak berkilau terkena sinar matahari.
"Apa yang akan terjadi padanya, menurut kalian?" tanyaku. "Apakah dia akan baik-baik saja?"
"Kau kedengarannya seperti Hagrid," kata Ron. "Dia naga, Hermione, dia bisa menjaga diri sendiri. Kitalah yang perlu kita khawatirkan."
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Wah, aku tak tahu bagaimana menyampaikannya padamu," kata Ron, "tapi kukira mungkin mereka sudah melihat kita menyelundup ke dalam Gringgots."
Kami bertiga mulai tertawa, dan begitu mulai, sulit sekali untuk berhenti. Perutku terasa sakit, kepalaku pusing karena lapar, namun aku berbaring dirumput dan tertawa sampai tenggorokanku kering. Setelah beberapa saat, aku cegukan sebentar dan kembali berpikir serius.
"Apa yang akan kita lakukan, tapi?" tanyaku. "Dia akan tahu, kan? Kalian-Tahu-Siapa akan tahu tentang Horcrux-Horcrux-nya."
"Barangkali mereka terlalu ketakutan untuk memberitahunya?" kata Ron, penuh harap. "Barangkali mereka akan menutupinya―"
"Menurutku tidak... dia pasti akan menyadari bahwa kita berburu Horcrux... Dia pasti tahu kalau ada pembobolan di Gringgots, apa lagi lemari besi Lestrange. Dia kan orang terkenal," kataku.
"Menurutmu apa yang akan dilakukannya kalau dia tahu bahwa Horcrux-nya telah dicuri?" tanya Ron.
"Dia mungkin akan mengambilnya dan menyembunyikannya di tempat yang tidak kita ketahui," jawabku. "Dan kalau itu terjadi, kita tidak akan bisa menerka di mana dia menyembunyikannya."
"Benar..." kata Ron. "Jadi, kita perlu cepat-cepat menemukan Horcrux berikutnya."
"Ya..."
"Dia tahu," kata Harry tiba-tiba. Suaranya terdengar serak dan aneh.
Ron dan aku segera memandangnya.
"Dia tahu dan dia akan mengecek tempat Horcrux-Horcrux yang lain, dan Horcrux yang paling akhir," Harry berdiri, "ada di Hogwarts. Aku sudah tahu itu. Aku sudah tahu."
"Tapi apa? Bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku cemas.
"Aku melihatnya tahu tentang piala itu, aku―aku dalam kepalanya. Dia benar-benar murka dan takut juga, dia tidak bisa mengerti bagaimana aku bisa tahu, dan sekarang dia akan mengecek untuk memastikan yang lain aman, cincin lebih dulu. Dia menanggap Horcrux yang di Hogwarts yang paling aman, karena Snape ada di sana, karena akan sulit sekali tidak ketahuan masuk ke sana. Kurasa dia akan mengecek yang di Hogwarts paling akhir, meskipun demikian tetap saja dia bisa tiba di sana dalam waktu beberapa jam―"
"Apa kau bisa melihat di mana di Hogwarts Horcrux itu?" tanya Ron. Dia juga sudah berdiri.
"Tidak, dia berkonsentrasi memperingatkan Snape, dia tidak memikirkan di mana persisnya Horcrux itu―"
"Tunggu, tunggu!" seruku, saat Ron mengambil Horcrux dan Harry mengeluarkan Jubah Gaib. "Kita tidak bisa pergi begitu saja, kita belum punya rencana, kita perlu―"
"Kita perlu berangkat sekarang," kata Harry tegas. "Bisakah kau membayangkan apa yang akan dilakukannya saat menyadari cincin dan liontin itu tak ada? Bagaimana kalau dia memindahkan Horcrux Hogwarts, memutuskan Horcrux itu tak lagi cukup aman?"
"Tapi bagaimana kita akan masuk ke sana?" tanyaku khawatir.
"Kita akan ke Hogsmead," kata Harry, "dan segera mencari jalan setelah kita melihat seperti apa perlindungan di sekitar sekolah. Masuk ke bawah Jubah, Hermione, aku ingin kita bersama-sama kali ini."
"Tapi kita tidak akan cukup―"
"Sudah gelap, tak ada yang memperhatikan kaki kita."
Kami berpegangan dan ber-Disapparate. Kakiku menyentuh jalanan di Hogsmead, ketika aku baru saja akan melonggarkan peganganku pada Harry dan Ron terjadilah hal itu. Keheningan malam dirobek oleh lengkingan yang kedengarannya seperti jeritan penuh kemarahan. Saat itu aku tahu bahwa itu adalah Mantra Caterwauling, yaitu mantra untuk memberitahu kedatangan seseorang. Pintu Three Broomstick menjeblak terbuka dan selusin Pelahap Maut berhamburan di jalan dengan tongkat sihir terangkat.
Aku mencengkram lengan Harry dan Ron, ingin agar kami segera ber-Disapparate, namun para Pelahap Maut telah memanggil Dementor. Rasa dingin yang disertai ketakutan dan kesengsaraan seperti yang kualami di Malfoy Manor menyerangku. Aku menggigil ketakutan, rasanya tiba-tiba aku ingin mati saja. Tangan Ron di pundakku, mencengkramnya, seolah ingin menguatkanku, memberitahuku bahwa dia ada di sampingku; atau juga ingin aku membagikan kekuatanku padanya, pada hal tidak ada lagi kekuatan dalam diriku selain kesengsaraan dan penderitaan. Beberapa detik kemudian, rusa jantan perak muncul dari tongkat sihir Harry dan mengusir para Dementor.
Para Pelahap Maut bersorak gembira dan segera menuju ke arah kami. Kami mundur ke jalan kecil yang menuju ke Hog's Head. Pelayan bar, yang ternyata adalah Aberforth Dumbledore segera menolong kami. Dia berhasil menyuruh Pelahap Maut yang mencari Harry itu untuk pergi. Dia tidak hanya menyelamatkan kami dari Pelahat Maut, tapi dia memberi kami makan dan bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi di keluarganya: tentang bagaimana Ariana meninggal dan tentang Albus Dumbledore yang belajar kerahasiaan di pangkuan ibu mereka.
Aberforth menyuruh mereka untuk pergi bersembunyi, namun Harry bertekad untuk maju terus, dan tidak menghiraukan kata-kata Aberforth. Dia akhirnya menyerah dan menunjukkan pada kami lorong rahasia ke Hogwarts melalui Kamar Kebutuhan. Neville, yang tampak lebam dan berdarah-darah datang menjemput kami, dan dengan penuh semangat bercerita tentang Hogwarts di bawah kepemimpinan Snape. Dia membawa kami ke Kamar Kebutuhan yang sekarang telah menjadi markas rahasia para pejuang Hogwarts. Mereka terdiri dari Laskar Dumbledore dan anak-anak lain yang tidak menyukai kepemimpinan Snape.
Mereka semua senang Harry datang dan terus berkata bahwa mereka akan berjuang bersama Harry. Beberapa kali Harry harus menjelaskan pada mereka bahwa kami datang bukan untuk tinggal, tapi untuk mencari sesuatu. Namun, Neville tampaknya tak peduli dia telah mengirim pesan pada anak-anak LD yang yang lain, termasuk Fred, George dan Ginny bahwa mereka akan berperang.
"Kau harus menghentikan semua ini!" kata Harry pada Neville. "Untuk apa kau panggil mereka semua ke sini? Ini gila―"
"Kita akan perang, kan?" kata Dean, mengeluarkan Galleon palsunya. "Pesannya berbunyi Harry pulang dan kita akan perang. Aku harus punya tongkat sihir dulu, tapi―"
"Kau tak punya tongkat sihir―?" Seamus tampak terkejut sekali.
Ron mendadak berpaling pada Harry.
"Mengapa mereka tak bisa membantu?"
"Apa?"
"Mereka bisa membantu." Ron merendahkan suaranya dan berkata, sehingga tak seorang pun dari anak-anak lain bisa mendengar, kecuali aku yang berdiri di antara mereka. "Kita tidak tahu di mana dia. Kita harus menemukannya segera. Kita tidak perlu memberitahu mereka itu Horcrux."
Harry berpikir cepat.
"Baiklah..." katanya pelan pada Ron dan aku. "Oke..." katanya keras pada semua yang ada di dalam Kamar Kebutuhan. Semua langsung berhenti bicara dan memandang Harry dengan bergairah.
"Ada sesuatu yang harus kami temukan," kata Harry. "Sesuatu―sesuatu yang akan membantu kita menggulingkan Kalian-Tahu-Siapa. Barang itu di sini, di Hogwarts. Apakah ada yang pernah mendengar barang semacam itu? Apakah ada yang melihat sesuatu yang ada elang Ravenclaw-nya, misalnya?"
Dia memandang penuh harap pada kelompok kecil Ravenclaw: Padma, Michael, Terry dan Cho, namun Luna-lah yang menjawab, dia duduk di lengan kursi Ginny.
"Yah, ada diadem-nya yang hilang. Aku sudah cerita padamu tentang itu, ingat, Harry? Diadem Ravenclaw yang hilang? Daddy mencoba membuat duplikatnya."
"Yeah, tapi diadem yang hilang," kata Michael Corner, memutar bola matanya. "sudah hilang, Luna, itu masalahnya."
"Kapan hilangnya?" tanya Harry.
"Berabad-abad lalu, katanya," jawab Cho. Semangatku langsung anjlok. Aku memandang Harry dan melihat dia juga merasa kecewa, tapi Ron tampak kebingungan.
"Sori, tapi diadem itu apa?"
"Diadem itu semacam mahkota," kata Terry Boot. "Diadem Ravenclaw katanya memiliki khasiat untuk bisa memperbesar kearifan pemakainya."
"Ya, Wrackspurt Daddy menyedot―"
Harry cepat-cepat menyela perkataan Luna.
"Dan tak seorangpun dari kalian pernah melihat sesuatu yang seperti itu?"
Mereka semua menggeleng.
"Kalau kau ingin melihat seperti apa diadem itu, aku akan membawamu ke ruang rekreasi kami dan menunjukkannya padamu, Harry? Ravenclaw memakainya di patungnya."
Harry tampak menunduk sebentar, kemudian berbicara pada Ron dan aku.
"Dia sudah bergerak," bisiknya, mengerling Cho sesaat, kemudian berkata lagi, "Dengar, aku tahu ini bukan petunjuk yang besar, tapi aku akan pergi melihat patung ini, paling tidak biar aku tahu seperti apa diadem itu. Tunggu aku di sini dan jaga, kalian tahu―yang satunya―tetap aman."
Ron dan aku mengangguk.
Cho sudah berdiri, tapi Ginny berkata agak galak.
"Tidak, Luna yang akan mengantar Harry, mau, kan, Luna?"
"Oh, aku mau," kata Luna senang, sementara Cho tampak kecewa.
Aku tersenyum dalam diam, rupanya Ginny tidak ingin Harry berduaan saja dengan Cho, meskipun hanya beberapa menit.
"Kupikir situasi ini sama sekali tidak lucu," kata Ron serius, setelah Harry dan Luna menghilang di tembok batu, dan anak-anak lain mulai berbicara sendiri lagi sambil menunggu Harry.
"Aku hanya tersenyum, oke, dan apa salahnya sesekali tersenyum," kataku.
"Apa yang membuatmu tersenyum?" tanya Ron heran.
"Aku berpikir bahwa kalian, Weasley, adalah orang-orang pencemburu," kataku.
"Apa?" tanya Ron bingung.
"Aku berbicara tentang Ginny, dia tidak ingin Cho pergi ke menara Ravenclaw bersama Harry."
"Lalu?"
"Lalu, yah, dia barangkali takut Harry akan menyukai Cho lagi."
"Astaga, Hermione, siapa peduli tentang perasaan suka sekarang ini?" kata Ron. "Kita sedang perang."
"Bukankah kau pernah bilang bahwa ini separuh cinta, separuh perang?" kataku, memandang galak padanya.
"Oke...oke, kita lupakan itu," kata Ron cepat. "Sekarang kita harus memikirkan bagaimana kita bisa menyingkirkan Horcrux?"
"Yah, benar," kataku. "Walaupun Harry berhasil mendapatkan yang satunya, kita tetap belum berhasil membinasakan piala itu."
Kami berdua terdiam. Aku memutar otakku dan mencoba memikirkan mantra-mantra dan kutukan tingkat tinggi yang bisa membinasakan Horcrux. Memang ada beberapa yang terlintas dalam benakku, namun tentu saja aku tidak akan bisa menggunakannya. Solusi satu-satunya adalah pedang Gryffindor, namun pedang itu telah diambil Griphook.
"Bisa Basilisk," kata Ron tiba-tiba.
"Benar, bisa Basilisk yang ada pada pedang Gryffindor bisa membinasakan Horcrux," kataku.
"Kamar rahasia, Hermione... Basilisk yang ada di kamar rahasia," kata Ron, memandangku dengan mata berkilat-kilat.
"Apa?"
"Kamar Rahasia..." kata Ron. "Kita bisa mengambil taring-taring Basilisk di kamar rahasia dan membinasakan Horcrux."
"Ide bagus, Ron," kataku, menatap Ron dengan mata bercahaya. "Tetapi, kita harus bisa Parseltounge untuk masuk ke Kamar Rahasia."
"Kita bisa mencobanya, kan?" kata Ron. "Kita tidak bisa diam saja di sini dan membiarkan Harry melakukan semuanya. Kita juga harus berusaha."
"Benar, kita tidak boleh menyerah. Sekecil apapun kemungkinan itu kita harus mencobanya," kataku tersenyum.
"Kalau begitu, ayo!" kata Ron, meraih tanganku dan bersama-sama kami berjalan menuju jalan keluar.
"Di mana sih Kamar Rahasia itu?"
"Kamar mandi di lantai dua..." jawab Ron.
Sambil berjalan, dia memandang berkeliling Kamar Kebutuhan dan berlari ke pojok ruangan untuk mengambil sebuah sapu terbang yang tergeletak begitu saja di pojok ruangan. Aku yakin tadi sapu itu tidak ada di sana.
"Buat apa sapu itu?"
"Kita akan memerlukannya nanti..." kata Ron, meraih tanganku lagi dan kami bersama-sama menaiki tangga ke atas.
Kami berjalan cepat dalam diam dan keluar di tembok batu di koridor lantai tiga. Kastil sepi, rupanya penghuni kastil belum menyadari apa yang terjadi.
"Kita harus turun," kata Ron.
Kami mengendap-endap menuruni tangga dan berusaha secepat mungkin menyusuri koridor lantai dua menuju ke kamar mandi Myrtle Merana. Setelah membanting pintu kamar mandi menutup di belakangku, Ron bersandar di pintu, terengah-engah. Aku bersandar pada wastafel dan berusaha untuk mengatur nafasku sendiri.
"Menurutmu di mana―" aku baru akan bertanya di mana kamar rahasia itu, ketika terdengar suara lain.
"Oh, ternyata kalian berdua..." dan Myrtle Merana muncul menembus salah satu bilik dan melayang-layang di dekatku, menatap Ron dan aku dengan pandangan menyelidik.
"Hai, Myrtle, apa kabar?" tanyaku, mencoba tersenyum.
"Buruk... seperti yang seharusnya sudah kalian ketahui..." kata Myrtle, memandang kami bergantian lagi dan bertanya, "Mana Harry?"
"Dia sibuk..." jawab Ron. "Nah, Myrtle, bisakah kau pergi, kami tidak ingin diganggu!"
"Oh ya, aku mengerti tidak ada yang membutuhkan Myrtle," kata Myrtle merana terisak. "Semua orang menganggap Myrtle hanya mengganggu dan―"
"Benar... pergilah!"
"Bukan seperti itu―" kataku cepat, mendelik pada Ron, namun Myrtle tersisak keras dan menembus biliknya dan bersembunyi di leher angsa. Suara isakkannya bergaung di dinding batu.
"Ya, ampun!"
"Jangan hiraukan dia... ayo!" kata Ron segera menuju wastafel bergambar ular kecil, yang digoreskan pada sisi salah satu keran tembaga.
"Kau yakin itu tempatnya?" tanyaku memandang keran itu.
"Ya, aku ingat, ada gambar ular kecilnya," kata Ron, kemudian dia berkonsentrasi pada ular itu dan mulutnya mengeluarkan desis aneh.
Tidak terjadi apa-apa. Ron mencoba lagi, tapi tetap tidak terjadi apa.
"Oke, mungkin aku salah," kata Ron, berkonsentrasi lagi dan mengeluarkan desis aneh.
Sementara Ron terus mencoba berbagai desisan dan geraman, aku memperhatikannya. Rambut merah Ron tampak separuh hangus, peluh tampak jelas di keningnya dan ada bekas terbakar di kening sebelah kirinya. Selebihnya, dia tampak baik-baik saja, tapi hanya untuk sementara karena kami masih harus membunuh ular itu. Ini mungkin akan menjadi pekerjaan yang paling sulit yang harus kami lakukan karena mendekati ular itu sama saja dengan mendekati Kau-Tahu-Siapa.
Aku segera membuang pikiran aneh dari kepalaku dan mengembalikan pikiranku pada Ron yang masih mendesis dan mengeram sambil menatap gambar ular kecil itu dengan serius. Saat aku hendak mengusulkan agar kami mencari Harry saja, keran itu berkilau-kilau, mengeluarkan cahaya putih menyilaukan dan mulai berputar. Detik berikutnya, wastafelnya mulai bergerak. Malah wastafel itu menghilang meninggalkan pipa besar yang menganga terbuka, cukup bagi orang dewasa untuk meluncur di dalamnya.
"Akhirnya berhasil juga," kata Ron, menyeka dahinya. "Silakan!" dia tersenyum padaku.
Aku ragu. Pipa itu kelihatannya sangat gelap dan menakutkan.
"Baiklah, aku duluan!" katanya, lalu masuk ke dalam pipa dan meluncur menghilang ke dalam kegelapan.
Aku turun ke dalam pipa, melepaskan pegangan dan meluncur. Rasanya seperti meluncur di luncuran yang gelap dan tak berujung. Aku bisa melihat pipa-pipa yang bercabang ke segala arah, tapi tak satu pun yang sebesar pipa yang kuluncuri. Pipa itu berbelit dan berbelok, melandai curam ke bawah, dan aku tahu aku sedang terjatuh ke bawah sekolah jauh lebih dalam dari ruang bawah tanah.
Dan kemudian, tepat ketika aku mulai mencemaskan apa yang akan terjadi kalau aku menghantam tanah, pipanya menjadi datar dan aku meluncur dari ujungnya. Dengan bunyi gedebuk basah, aku mendarat di lantai lembap terowongan batu gelap. Terowongan itu cukup besar untuk berdiri di dalamnya. Ron segera mengulurkan tangan membantuku berdiri.
"Pasti kita berkilo-kilo meter di bawah sekolah," kataku, suaraku bergaung di terowongan gelap.
"Ya, mungkin di bawah danau," kata Ron. "Ayo!"
Kami menyalakan tongkat sihir kami dan bergerak maju sampai pada sebuah dinding karang yang berlubang. Ron menggunakan mantra peledak untuk memperbesar lubang itu agar bisa di lalui oleh orang dewasa.
"Aku belum pernah masuk ke sini," kata Ron, setelah kami melewati lubang karang.
Kami terus berjalan ke dalam terowongan yang berbelok dan menikung berkali-kali. Aku ingin bertanya kapan terowongan ini berakhir ketika kami berbelok di tikungan berikutnya dan melihat dinding batu kokoh di depan. Di dinding itu terpahat dua ekor ular yang saling berbelit, mata mereka dari zambrud besar berkilau. Ron mendesis aneh lagi dan kedua ular itu memisahkan diri, dinding membelah terbuka, masing-masing bagian menggeser licin lalu lenyap.
Kami kini berdiri di ujung kamar yang sangat panjang berpenerangan remang-remang. Pilar-pilar batu berbelit dengan lebih banyak ular pahatan menjulang tinggi, menyangga langit-langit yang lenyap dalam kegelapan memantulkan bayang-bayang gelap panjang menembus cahaya suram kehijauan yang memenuhi tempat itu.
"Cari bangkai basiliSk itu," kata Ron, suaranya bergaung aneh dalam gelap.
Kami melangkah maju dan memandang berkeliling di antara pilar-pilar mencari bangkai basilik. Dan aku melihatnya, kerangka ular besar dan panjang tergeletak begitu saja di kaki sebuah patung raksasa. Aku memandang ke atas untuk melihat seperti apa wajah patung raksasa itu. Wajahnya terkesan antik dan seperti monyet, dengan jenggot panjang tipis yang terjulur sampai ke ujung jubah batunya.
"Salazar Slytherin," kata Ron.
Aku mengangguk. Patung itu pastilah Sytherin, siapa lagi yang ingin patungnya ada dalam kamar ini, selain dia.
Kami segera mencabut taring panjang, kuning dan tajam dari kerangka Basilisk.
"Kau harus menghancurkan Horcrux ini sekarang, Hermione," kata Ron, mengeluarkan piala emas kecil dari balik jaketnya dan meletakkannya di lantai licin.
"Mengapa aku, kau bisa menghancurkannya," kataku.
"Harus kau... Dumbledore sudah menghancurkan cincin, Harry menghancurkan buku harian , aku menghancurkan kalung dan sekarang giliranmu... Kau harus mendapatkan kesenangan untuk menghancurkan Horcrux, kan?"
Ron memandangku dan menyemangatiku dengan senyum cemerlang.
"Baiklah!"
"Langsung ditusuk saja," kata Ron.
Aku berlutut di dekat piala itu dan hendak menusuknya dengan taring Basilisk, ketika piala itu mengeluarkan sinar kehijauan berkilau. Sebuah suara menyeramkan keluar dari dalam piala itu dan bergaung di dalam ruangan.
"Aku sudah melihat hatimu, Hermione Jean Granger. Hatimu adalah milikku."
"Hermione, jangan dengarkan... tusuk!" teriak Ron.
Namun suara Ron seolah dari jauh, aku berlutut di sana dan terpana memandang cahaya hijau itu.
"Aku sudah melihat impian-impianmu dan aku sudah melihat ketakutanmu. Semua yang kau inginkan takkan mungkin terjadi, tapi semua yang kau takutkan akan terjadi.. akan terjadi."
"Hermione!"
Tubuhku gemetar, berharap suara itu tidak melanjutkan apa yang ingin dikatakannya, tapi aku ingin mendengarnya. Aku ingin tahu apakah dia mengetahui semua yang aku takutkan.
"Orang gagal!" teriak suara itu. "Tak berguna... semua yang kau lakukan adalah hal yang mengecewakan... semua yang kau lakukan adalah kegagalan. Bersembunyi di bawah kepintaran padahal, semuanya hanyalah kegagalan dan kekecewaan."
"Hermione, tusuk!" teriak Ron.
"Tidak ada yang mau berteman denganmu... Sejak dulu seperti itu, kan? Semuanya mengakui bahwa kau hanyalah pribadi yang gagal. Semua orang mengasihani kegagalanmu... Seharusnya kau segera menyadari bahwa sebentar lagi teman-temanmu akan meninggalkanmu karena sadar bahwa kau adalah kegagalan. Orang yang kau cintai mengakuinya, dia meninggalkanmu karena akhirnya dia tahu bahwa tak ada gunanya tetap tinggal bersama orang tak berguna... tidak ada yang akan mencintaimu."
"Tidak! Hermione, jangan dengarkan, tusuk saja!"
Aku memandang piala itu dengan terpesona, mengerjap, ketika airmata menetes jatuh ke pangkuanku. Aku memang menyadarinya bahwa aku adalah orang gagal, namun, Ron ada di sini... dia tidak meninggalkan aku meskipun aku adalah orang gagal. Aku menguatkan diri mengayunkan taring Basiliks dan menusuk piala kecil itu.
Jeritan kesakitan yang berasal dari piala itu, bergaung mengerikan di dalam dinding batu, kemudian sinar hijau itu perlahan-lahan menghilang dan lenyap. Aku masih berlutut di lantai yang dingin, memandang piala itu, terengah-engah seakan habis berlari ribuan kilometer.
Ron berlutut didekatku.
"Kau sama sekali bukan orang gagal, kau merupakan bagian terpenting dalam perjalanan ini. Harry tidak akan berhasil sampai di sini jika kau tidak bersamanya," kata Ron pelan.
Aku terisak, ingin mengucapkan sesuatu, tapi suaraku hilang di dalam tenggorokan. Tidak ingin memandang Ron, aku terus menunduk memandang piala itu. Ron mendekatiku, mengambil piala itu dan memasukkannya ke dalam jaketnya, kemudian mengulurkan tangannya padaku. Aku menatap tangan itu sesaat sebelum meraihnya dan berdiri.
"Yah, ayo kita kembali..." kata Ron. "Harry pasti bertanya-tanya di mana kita."
Kami mengumpulkan taring-taring Basilisk dan berjalan menyusuri pilar-pilar menuju terowongan. Setelah berbelok dan menuking di dalam terowongan akhirnya kami tiba di ujung pipa. Kami naik ke sapu terbang dan terbang di dalam pipa menuju toilet Myrtle Merana. Saat kami mendarat di lantai toilet yang dingin. Wastafel itu muncul lagi dan menutup lubang pipa gelap itu.
"Nah, sekarang kita tinggal mencari, Harry," kata Ron, tersenyum kecil.
Kami berlari keluar toilet dan menyadari bahwa peperangan telah dimulai. Kastil berguncang hebat dan serpihan-serpihan patung tergeletak di mana-mana. Kami menyusuri koridor-koridor dan berbelok di tikungan. Harry muncul di depan kami dengan teriakan lega dan marah pada saat yang sama. Kami bercerita padanya tentang piala Hufflepuff yang sudah dihancurkan, sedangkan Harry bercerita bahwa dia akhirnya tahu tentang Diadem Ravenclaw.
"Dia menyembunyikannya tepat persis di tempatku menyembunyikan buku ramuan lamaku, tempat semua orang telah menyembunyikan barang-barang selama berabad-abad. Dia mengira dia satu-satunya yang bisa menemukannya."
Sementara dinding bergetar lagi, kami segera melewati jalan masuk tersembunyi dan menuruni tangga menuju Kamar Kebutuhan. Kamar itu kosong, hanya ada tiga wanita: Ginny, Tonks dan seorang penyihir wanita tua, yang memakai topi yang sudah dimakan ngengat. Aku mengenalnya sebagai nenek Neville
"Ah, Potter," katanya singkat, seolah dia memang sedang menunggu Harry. "Kau bisa memberitahu kami apa yang terjadi."
"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Ginny dan Tonks bersamaan.
"Sejauh yang aku tahu," kata Harry. "Apakah masih ada orang di lorong menuju Hog's Head?"
Aku tahu Kamar Kebutuhan tidak akan bisa bertransformasi sementara masih ada pengguna di dalamnya.
"Aku yang terakhir lewat," kata Mrs. Longbottom. "Aku menyegelnya. Kupikir tidak bijaksana membiarkannya terbuka sekarang setelah Aberforth meninggalkan rumah minumnya. Kau melihat cucuku?"
"Dia sedang bertempur," jawab Harry.
"Tentu saja," kata wanita tua itu bangga. "Maaf, aku harus pergi dan membantu."
Dengan kecepatan yang mengejutkan dia berlari ke arah tangga batu.
Aku memandang Tonks, yang kelihatan benar-benar sedih dan sangat menderita. Dia bertanya di mana Lupin dan segera pergi meninggalkan Kamar Kebutuhan.
"Ginny," kata Harry. "Sori, tapi kami perlu kau juga pergi. Cuma sebentar. Setelah itu kau bisa masuk lagi."
Ginny tampak gembira sekali, dan segera berlari menaiki tangga batu menyusul Tonks.
"Tunggu sebetar!" kata Ron tajam. "Ada yang kita lupakan!"
"Siapa?" tanya Hermione.
"Para peri-rumah, mereka semua ada di bawah, di dapur, kan?"
"Maksudmu kita menyuruh mereka ikut bertempur?" tanya Harry.
"Tidak," kata Ron serius. "maksudku kita harus memberitahu mereka supaya keluar. Kita tak ingin ada lagi yang bernasib seperti Dobby, kan? Kita tak bisa menyuruh mereka mati untuk kita―"
Aku memandang Ron sesaat, melepaskan seluruh taring-taring yang kupegang dan melompat ke dalam pelukannya. Aku menciumnya tepat di bibirnya. Ron mengangkatku agar lebih dekat dengannya dan balas menciumku dengan penuh antusias. Semua terasa begitu sempurna, seolah aku memang ada di dunia ini hanya untuk ini, hanya untuk bersamanya. Aku tahu, kami berdua tahu: getaran, debaran dan perasaan cinta itu sudah ada sejak pertama kali kami bertemu, namun kami mengabaikannya, kami berpura-pura bahwa sesuatu itu tidak ada. Tetapi sekarang, kami sudah cukup dewasa untuk mengerti, untuk menyadari, bahwa tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu yang sudah jelas.
Bibir Ron terasa lembut dan hangat di bibirku. Sambil mendesah halus di bibirnya, aku berharap moment ini terus berlanjut, aku ingin waktu berhenti di sini selamanya, tapi...
"OI!" terdengar suara Harry. "Sedang ada pertempuran di sini!"
Kami berhenti berciuman, melepaskan diri, namun tangannya masih ada di pinggangku, dan tanganku masih mengalung di lehernya. Kami bertatapan sesaat dan tersenyum.
"Aku tahu, sobat," kata Ron, "tapi sekarang atau tidak selamanya, kan?"
Aku segera melepaskannya dan menunduk mengumpulkan taring-taring Basilisk. Ron benar, pikirku, sekarang atau tidak selamanya. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi, kematian akan datang setiap saat.
Ron POV
Aku berjalan menyusuri lemari-lemari tinggi, di mana banyak sekali barang-barang aneh bertumpuk tak rapi di rak-rak lemari. Hermione telah berbelok ke lorong lain untuk mencari patung dada penyihir berwajah bopeng memaki wig tua berdebu dan tiara kuno yang sudah pudar, yang adalah diadem Ravenclaw. Kami memang sedang berpencar mencari diadem itu di dalam Kamar Kebutuhan. Namun, aku tetap tidak melihat sesuatu yang mirip dengan patung dada atau pun tiara di sepanjang rak. Yang ada di rak adalah botol-botol kecil retak penuh ramuan dan perkamen-perkamen bulukan yang sudah lapuk.
Suara Harry dan suara lain bergaung di sisi lain rak.
"Harry? Apa yang terjadi?" teriakku, berjalan cepat menyusuri lorong untuk mencari Harry.
Namun terdengar suara keras, "Itu si Darah-Lumpur! Avada Kedavra!"
Hermione!
Darah di tubuhku seolah membeku. Ada orang yang meluncurkan kutukan kematian padanya, dan dia bisa setiap saat menuju kematian. Aku berlari cepat ke sumber suara dan muncul di ujung lorong, melihat Hermione sedang bersembunyi di sisi lemari dan sedang meluncurkan Mantra Bius pada Malfoy. Aku segera membantu dengan meluncurkan Kutukan Ikat-Tubuh-Sempurna pada Crabbe, yang menghindar.
"Avada Kedavra!" teriak Crabbe, meluncurkan sinar hijau padaku.
Aku berguling menghindar di balik lemari. Crabbe segera berlari kearahku sambil meluncurkan kutukan yang tidak kukenali, yaitu api panas membara, yang semakin membesar dan membesar dalam sekejap.
"Senang yang panas-panas, sampah?" raung Crabbe, yang terus berlari mengejarku dengan api yang sekarang membakar setiap barang dilewatinya.
"HARRY!" Hermione menjerit, entah dari mana.
Aku membalikkan badan untuk memandang Crabbe dan melihatnya pucat dan ketakutan. Kelihatannya dia tidak bisa mengendalikan api itu. Kobaran api itu kini telah memisahkan diri, menciptakan kobaran api lain yang sekarang telah membakar lemari-lemari yang langsung hangus dan runtuh dalam sekejap
"Aguamenti!" terdengar suara Harry, namun semburan air yang meluncur dari tongkat sihirnya segera hilang ditelan kobaran api.
"LARI!" teriak Harry.
Tidak perlu disuruh dua kali, aku menyambar tangan Hermione yang telah berdiri di depanku dan segera berlari menghindari kobaran api menyusul Harry. Kami membelok di tikungan dan menyadari bahwa kobaran api itu kini telah membentuk kerumunan raksasa binatang-binatang api: ular-ular menyala, Chimaera-Chimaera dan naga-naga, yang naik dan turun menyambar barang-barang yang telah disembunyikan penghuni Hogwarts selama berabad-abad. Kami berhenti sama sekali, karena monster-monster api itu telah mengelilingi kami dan siap membakar. Panasnya terasa sangat menyengat dan melepuhkan kulit.
"Apa yang bisa kita lakukan?" teriak Hermione mengatasi gemuruh api yang memekakkan telinga.
"Ini," kata Harry, menyambar dua sapu tua yang kelihatannya berat dari rongsokan terdekat dan melemparkan satu padaku.
Aku menarik Hermione ke atas sapu di belakangku dan segera terbang berkelit menghindari monster api yang memburu. Harry menyusul di belakang kami, kemudian berbelok memandang seluruh ruangan yang terbakar api.
"Harry, ayo kita keluar, ayo keluar!" aku menjerit, memandang Harry dari antara kepulan asap hitam yang menyesakkan.
Kemudian terdengar jeritan yang memilukan dari tengah ingar-bingar gemuruh api yang membakar. Aku tahu Harry tidak akan membiarkan Malfoy, Crabbe dan Goyle mati terbakar, meskipun mereka adalah musuhnya.
"Terlalu―berbahaya―!" aku berteriak lagi, namun Harry telah menukik.
"Kita harus menyusulnya," teriak Hermione dari belakangku, memeluk pinggangku dengan erat.
Aku segera menukik menyusul Harry dan melihatnya sedang mencoba untuk menarik Malfoy dari antara rongsokan, namun tangan Malfoy segera tergelincir dari tangannya.
"KALAU KITA MATI DEMI MEREKA, KUBUNUH KAU, HARRY," raungku, dan selagi seekor Chimaera besar menyala-nyala menukik ke arahku, Hermione dan aku segera menarik Goyle yang pingsan ke atas sapu kami. Sapu kami terguling di udara, naik lagi, dan segera menembus kepulan asap hitam.
"Cepat... cepat!" jerit Hermione. "Aku tidak mampu lagi menahan Goyle!"
Tanganku yang mencengkram gagang sapu gemetar. Aku tidak bisa melihat apa pun di dalam kepulan asap hitam. Mengarahkan sapu ke kiri, aku berdoa dalam hati semoga petak segi empat hitam di dinding di depanku adalah pintu. Kami meluncur di udara dan keluar di koridor berudara segar. Aku melepaskan sapu dan terguling di lantai yang dingin, dan duduk, Hermione terjatuh di sebelahku, megap-megap dan batuk-batuk.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku, setelah menghirup udara segar yang bersih.
Hermione menggelengkan kepalanya dan batuk-batuk lagi. Goyle, yang masih pingsan tergeletak di samping kami.
"Harry―di mana dia?" tanya Hermione.
Bersamaan dengan diucapkan kata terakhir, Harry muncul, berguling dari sapunya dan duduk di sebelah kami, sementara Malfoy tergeletak menelungkup, megap-megap, batuk-batuk dan muntah-muntah.
"C-Crabbe," sedak Malfoy, ketika dia sudah bisa berbicara lagi.
"Dia mati," kataku kasar.
Hening, hanya terdengar sengal dan batuk. Kemudian terdengar serentakan ledakan besar mengguncang kastil, dan iring-iringan sosok transparan berderap di atas kudanya, memegang kepala mereka, yang berteriak dan bersorak. Setelah Pemburu-Tanpa- Kepala lewat, Harry bangkit memandang berkeliling.
"Di mana Ginny?" tanyanya tajam. "Dia tadi di sini. Dia harus kembali ke Kamar Kebutuhan."
"Astaga, apakah menurutmu Kamar-nya masih berfungsi setelah kebakaran itu?" tanyaku, bangkit dan memandang berkeliling mencari Ginny. "Apakah kita harus berpencar dan mencari―"
"Tidak..." kata Hermione, dia juga bangkit, membiarkan Malfoy dan Goyle yang terpuruk di lantai. "Kita tetap bersama-sama saja. Sebaiknya kita ke―Harry, apa itu di lenganmu?"
"Apa? Oh, yeah―"
Harry menarik diadem Ravenclaw dari pergelangan tangannya dan mengangkatnya. Cairan mirip darah, gelap dan kental seperti ter, meleleh keluar dari diadem itu.
"Pastilah Fiendfyre!" erang Hermione.
"Sori?"
"Fiendfyre―api kutukan―itu salah satu zat yang bisa membinasakan Horcrux, tapi aku tak akan pernah berani menggunakannya, berbahaya sekali. Bagaimana Crabbe bisa―?"
"Pasti belajar dari kakak-beradik Carrow," kata Harry.
"Sayangnya dia tidak berkonsentrasi ketika mereka menyebutkan bagaimana cara menghentikannya," aku berkata. "Kalau dia tidak mencoba membunuh kita, aku akan cukup kasihan dia mati."
"Tapi tidakkah kalian menyadarinya?" bisik Hermione. "Ini berarti, jika kita bisa mendapatkan ularnya―"
Hermione berhenti bicara ketika jeritan-jeritan, teriakan-teriakan, dan bunyi-bunyi yang tak salah lagi bunyi pertempuran memenuhi koridor. Pelahap Maut telah menembus Hogwarts. Fred dan Percy baru saja muncul, keduanya berduel dengan orang berkerudung.
Kami segera berlari untuk membantu. Kemudian udara meledak. Semula kami sedang bergerombol bersama, namun dalam sekejap kami semua melayang mundur. Aku merasa seperti dihempaskan oleh gelombang besar, terlempar di lantai dan dijatuhi reruntuhan langit-langit kastil. Aku memejamkan mata dan berusaha melindungi kepala. Beberapa detik kemudian, atau beberapa jam kemudian, aku tidak tahu pasti, aku membuka mataku dan memandang kelupan debu, serpihan kayu dan batu yang memenuhi koridor. Dinding sebelah kiri telah hancur, angin dingin masuk dan membelai pipiku bersamaan dengan sesuatu yang hangat mengalir dari sisi kepala sebelah kiriku. Aku tahu kepalaku terluka, namun aku masih bisa menggerakkan tubuhku yang lain. Bayangan Hermione melintas dalam benakku. Meringis kesakitan, aku segera menyingkirkan serpihan batuan dan kayu dan bangkit untuk mencari yang lain. Aku terhuyung dan melihat Percy sedang merangkul Fred yang tergeletak di lantai koridor.
Untuk sesaat aku tidak bisa bergerak, maupun berpikir. Kesadaran akan apa yang terjadi menghantamku dengan telak. Dunia seolah runtuh menimpaku, pundakku terasa berat, kakiku tidak mampu melangkah. Jeritan memilukan Percy terdengar bagaikan kutukan kematian. Seolah dalam mimpi aku berhuyung mendekati Fred, berlutut di sampingnya dan melihatnya. Mata Fred masih terbuka, memandang kami tanpa melihat, bayangan tawa terakhir masih terpeta di wajahnya.
"Tidak―tidak―tidak! Tidak, Fred! Tidak!" Percy terus mengguncang tubuh Fred.
Aku terduduk di sana hanya memandang tak mampu berkata-kata, airmata panas mengalir di mataku, seluruh tubuhku gemetar oleh rasa kehilangan yang dasyat. Tubuh di depanku ini adalah tubuh kosong tanpa jiwa. Tidak ada lagi Fred, tidak ada lagi candaan dan tawa di The Burrow, tidak ada lagi orang yang menganggapku sebagai orang lain dalam keluarga. Padahal, aku baru bertemu dengannya setelah hampir setahun berpisah. Aku belum bicara padanya, bercerita padanya dan George tentang perjalanan kami mencari Horcrux. Aku juga belum bilang padanya, bahwa meskipun sangat menyebalkan, tapi aku sangat menyayanginya.
Sebuah tangan kecil yang hangat menyentuh pundakku. Kehangatannya menjalar ke seluruh tubuhku sampai ke sanubariku, aku berpaling dan melihat Hermione sedang menatapku. Matanya dipenuhi airmata, tapi pandangan matanya mengatakan bahwa aku tidak sendiri, bahwa Dia akan selalu ada untukku kapan pun aku memerlukannya. Aku ingin bersandar padanya, merangkulnya, bercerita padanya tentang Fred dan membagi kesedihan ini dengannya, tapi kutukan-kutukan menyambar masuk dari sisi dinding yang telah dihancurkan.
"Tiarap!" teriak Harry, dan bersamanya, aku menyambar Hermione dan menariknya menjauhi kutukan-kutukan. Percy masih berbaring di atas tubuh Fred melindunginya dari malapetaka lain.
"Percy, ayo pergi," kata Harry.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, terlalu menyedihkan bagiku untuk berucap sesuatu, tapi aku menyambar lengan Percy dan menariknya berdiri untuk menjauhi kutukan. Percy tak bergeming. Setengah sadar dan tidak aku terus saja menarik Percy, aku tidak ingin dia juga mengalami hal yang sama seperti Fred.
Hermione menjerit, aku berpaling dan melihat laba-laba raksasa telah memasuki kastil. Tubuhku menggigil lagi, seluruh tubuhku dingin, dan ketakutan yang sangat menyerangku. Aku belum mengatasi ketakutanku terhadap laba-laba, namun aku mengayunkan tongkat sihirku dan berteriak bersamaan dengan Harry membuat laba-laba raksasa itu terpental.
Harry mendorong Hermione ke depan, ketika semakin banyak laba-laba raksasa yang masuk ke dalam kastil. Kemudian, kami segera menyambar dan mengepit tubuh Fred untuk membawanya ke tempat aman. Percy segera berhenti menggayuti tubuh Fred dan membantu kami, membungkuk menghindari kutukan dan meletakkan Fred dalam cerukan yang tadinya adalah tempat baju zirah.
Aku melihat banyak sekali orang berlarian ke sana-kemari, apakah mereka teman atau musuh aku tidak bisa membedakan mereka di antara debu dan serpihan batu dan kayu. Kemudian Percy menjerit, "ROOKWOOD!" dan berlari ke arah seorang laki-laki jangkung, yang sedang mengejar beberapa murid.
Kobaran api panas membakar di dalam dadaku dan menjalar keseluruh tubuhku. Kemarahan membakarku seperti api Kutukan Fiendfyre yang bisa membesar dan membakar dalam sekejap. Aku mencengkram tongkat sihir Wormtail dan sudah hendak melangkah mengejar Percy, ketika Hermione memeluk pinggangku dengan erat sampai aku sulit bernafas.
"Lepaskan aku!" aku berkata, mencoba melepaskan Hermione dariku.
"Tidak... tidak, Ron!" jeritnya, menancapkan tumitnya di lantai agar aku tidak menyeretnya bersamaku.
Aku terus memberontak, tapi Hermione terus menahanku dan dengan sekuat tenaga mendorongku ke balik permadani hias. Aku terduduk di lantai dan Hermione segera duduk di depanku dan memelukku dengan erat, mencoba membuatku tetap di tempat.
"Harry, di dalam sini!" jerit Hermione pada Harry.
"Tolong, lepaskan aku, Hermione!" kataku, nafasku berat karena menahan kemarahan.
Hermione pelukannya, tangannya tetap ada di lenganku dan matanya menatapku.
"Dengarkan aku―DENGAR, RON!"
"Aku mau bantu―aku mau bunuh Pelahap Maut―" jeritku gemetar.
"Ron, hanya kitalah yang bisa mengakhirnya! Tolong―Ron―kita memerlukan ular itu, kita harus membunuh ular itu!" kata Hermione.
Aku menatapnya. Airmata membasahi pipinya yang terkena jelaga dan debu, tapi mata coklatnya menatapku dengan penuh tekad.
"Kita akan bertempur!" dia berkata lagi. "Kita harus bertempur malah, untuk mencapai ular itu! Tapi jangan sampai kita kehilangan arah, sekarang, akan apa yang akan kita l―lakukan! Hanya kita bertigalah yang mengakhirinya!"
Dia berpaling pada Harry dan meminta Harry untuk masuk ke pikiran Voldemort, yang tidak ikut bertempur tapi menunggu di Shrieking Shack. Kami segera bergerak menuju Shrieking Shack, melewati pertempuran, Dementor dan berlari cepat menuju Dedalu Perkasa. Di sana kami menyaksikan Voldemort membunuh Snape, dan Snape yang sekarat memberikan kenangannya pada Harry.
Beberapa saat kemudian, kami kembali ke kastil yang hening dan sepi, tak ada kilatan cahaya dan tak ada ledakan atau jeritan atau teriakan. Batu ubin besar Aula Depan yang kosong bebercak darah. Tangga pualam telah hancur.
"Di mana semua orang?" bisik Hermione.
Aku berjalan terlebih dahulu di Aula Besar. Meja-meja asrama sudah tak ada dan ruangan itu penuh sesak. Mereka yang selamat berdiri berkelompok, saling merangkul lengan ke leher yang lain. Yang terluka sedang dirawat di podium oleh Madam Pomfrey dan sekelompok pembantu. Yang meninggal dibaringkan sejajar di tengah Aula. Jasad Fred telah ditempatkan di Aula dan sekarang sedang dikelilingi oleh keluargaku.
Tanpa sepatah kata pun pada Harry, Hermione dan aku masuk. Hermione memeluk Ginny, dan aku segera bergabung dengan Bill, Fleur dan Percy, yang segera merangkul pundakku. Wajah semua orang tampak sedih dan terpukul. Tidak ada yang bicara, kami hanya berdiri di sana menatap wajah Fred yang tersenyum, hanya terdengar tangisan Mom, yang menangis di dada Fred. George terduduk di dekat kepala Fred, menatapnya seolah kehilangan arah. Mata George terasa kosong, sesuatu telah hilang dari mata itu. Dia seperti bukan George yang biasa lagi, ada yang hilang, yang tidak akan bisa ditemukan oleh siapa pun.
Aku merasakan genggaman yang hangat dan lembut di tanganku. Berpaling, aku melihat Hermione menatapku, dengan mata penuh air mata. Aku segera merangkulnya.
"Remus dan Tonks," bisiknya perlahan, kemudian terisak.
Aku tidak bertanya apa yang terjadi pada mereka karena ketika aku memandang tubuh-tubuh yang terbaring di sebelah jasad Fred, aku menyadari bahwa itu mereka: Lupin dan Tonks, terbaring kaku, tak bernyawa. Tidak mampu berlama-lama menatap mereka, aku segera berpaling menatap Hermione lagi. Dia masih terisak, aku segera mencium puncak kepalanya dan berbisik,
"Mereka sudah tenang sekarang."
Aku mengulang apa yang pernah dia katakan padaku saat kematian Dobby. Mungkin itu bukan kata-kata yang tepat untuk menghibur, tapi aku ingin dia kuat dan tegar karena pada siapa lagi tempatku bersandar kalau Dewa Kematian masih akan datang menjemput saudara-saudaraku yang lain.
"Saudara-saudara..." terdengar suara Kingsley, dia sekarang telah berdiri di tengah Aula. "Aku tahu kita semua sedang bersedih, sedang merasakan kehilangan, penderitaan dan kesedihan yang dalam... Kita tidak bisa menghindari kematian yang akan datang menjemput kita... Mungkin kalian berpikir aku tidak bersedih karena aku berdiri di sini, tetap tegar dan berbicara seperti ini pada kalian. Aku sedih, benar-benar sedih, sahabatku meninggal... orang yang aku kenal meninggal. Tetapi, aku ingin kita semua tetap tegar... aku ingin kita semua berjuang... karena perjuangan ini belum berakhir. Tidak ada gunanya kematian teman-teman kita, kematian saudara-saudara kita, orangtua kita, kalau kita berhenti berjuang. Aku harap kita semua yang ada di sini tidak menyerah, aku harap kita semua masih mau untuk berjuang bersamaku, karena tidak ada lagi yang akan membela kita kecuali kita sendiri."
"Kita akan terus berjuang..." terdengar gumaman beberapa orang.
"Berjuang!" beberapa orang berteriak keras.
"Baiklah, aku ingin kita semua berkumpul di dekatku... kita harus membuat rencana lagi," kata Kingsley.
Semua orang segera bergerak mendekati Kingsley. Bill, Fleur, Charlie, Percy dan Dad segera bergerak menjauhi Fred. Mom juga sudah bangkit dan menyeka airmatanya.
"Ayo, George!" kata Mom. "Kau tidak bisa selamanya di sini."
George tidak bergerak.
"George," kata Mom, menarik tangan George.
Tapi George tetap tak bergerak.
Aku mulai cemas, kekhawatiran sebelumnya kembali menyerangku. Kebisuan George dan tidak adanya gairah hidup terlihat tampak menyedihkan daripada airmata. Aku ingin mengucapkan sesuatu, tapi sebelum melakukannya sebuah suara lain muncul dari belakangku.
"Fred..." Angelina telah muncul di dekat kami. Wajahnya pucat dan seluruh tubuhnya bergetar. Dia menatap Fred dengan airmata mengalir di pipinya.
Hermione dan aku mundur ke samping membiarkan Angelina maju dan berlutut di sebelah Fred. Angelina menggenggam tangan Fred yang kaku dan mulai terisak.
"Kita tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan," kata Mom, memandang Angelina sesaat, kemudian mulai menarik tangan George lagi. "George, kau tidak boleh seperti ini... masih ada Pelahap Maut yang harus kita bunuh."
Seperti baru saja disuntik oleh stimulan pemberi semangat, George langsung berdiri. Mata dan wajahnya terlihat aneh, tampak begitu mengerikan. Dia seperti dipenuhi oleh dendam kesumat membara.
"Harry..." bisik Hermione. "Dia tidak ada..."
"Apa?" Aku memandang berkeliling Aula dan menyadari bahwa Harry memang tidak bersama kami.
"Kita harus mencarinya," kata Hermione. "Dia tidak boleh pergi sendiri menemui Voldemort."
"Ya, ya..." kataku. "Ayo..."
Aku menggandeng tangan Hermione dan membawanya keluar Aula menjauhi orang-orang yang sedang berdiskusi tentang strategi perang bersama Kingsley, menjauhi keluargaku dan isakan Angelina yang perlahan-lahan mulai menghilang.
"George terlihat sangat terpukul," kata Hermione, ketika kami menaiki tangga pualam yang rusak.
"Dia bukan sekedar terpukul... dia terlihat aneh," kataku.
"Ya..." kata Hermione. "Dia dan Fred memang tak terpisahkan."
"Aku khawatir, Hermione... aku khawatir George akan melakukan sesuatu yang―"
"Aku mengerti, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa. Yang pasti kalian harus terus berada di dekatnya dan mendukungnya," kata Hermione.
Hermione dan aku tidak tahu ke mana kami akan pergi, kami tidak tahu di mana Harry, tapi kami terus saja melangkah menaiki tangga pualam.
"Menurutmu Harry di mana?" tanyaku.
"Entahlah, aku tidak tahu... apakah menurutmu dia pergi menemui Voldemort?" tanya Hermione, dia tampak khawatir.
"Tidak... tidak, dia tidak akan melakukan..." kataku tak yakin sambil terus melangkah menaiki tangga menuju ruang kepala sekolah. Kami tidak tahu mengapa kami ke mari, tapi kami sangat yakin Harry ada di dalam.
"Izinkan kami masuk!" kata Hermione pada gargoyle penjaga jalan ke ruang kepala sekolah.
"Tidak ada kata kunci, tidak bisa masuk," jawab si gargoyle.
"Apakah masih perlu?"
Gargoyle penjaga itu tidak menjawab.
"Baiklah, ayo kita pergi, Ron!" kata Hermione, menarikku menjauhi Gargoyle batu.
Kami turun ke lantai tiga dan berjalan menuju perpustakaan. Tidak ada seorang pun di sana, Madam Pince rupanya telah pergi ke Aula Besar untuk membantu para pejuang Hogwarts. Hermione dan aku duduk di salah satu kursi panjang.
"Buat apa kita ke datang ke sini?" tanyaku.
"Aku selalu datang ke sini jika ingin memikirkan sesuatu atau jika suasana hatiku sedang buruk," jawab Hermione sederhana.
Aku tersenyum.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Hermione.
"Memikirkan rencana untuk membunuh ular itu, dan aku tidak tahu bagaimana caranya kalau ular itu ada dalam perlindungan," kataku.
"Ya, kita akan menunggu Harry... aku yakin dia pasti telah memikirkan rencana..." kata Hermione.
Dalam hati aku memohon agar Harry tidak mendengarkan suara Voldemort dan pergi ke Hutan Terlarang untuk menemui kematiannya.
Read and Review, please! Buatlah aku tetap bersemangat menyelesaikan fanfic! See you in Kisah Ron dan Hermione chapter 7 part 5.
Riwa :D
