Terima kasih... terima kasih sudah membaca chapter 7 part 6. DarkBlueSong, Ochan Malfoy: Thanks review-nya, tetap review, ya :D; Putri: Nggak ada side story, Put, tapi di sini ada bagian sebelum mereka berangkat ke King's Cross; Guest: ku akan nulis Kisah Next Generation, yang pasti Scorose-nya ada; SpiritSky: Ya ampun, ternyata kulupa nulis mawar kelima, thanks dah memberitahuku. Ku akan cek n ricek lagi sebelum posting; Draconisflame72: Fic ini memang missing scene dengan sudut pandang kedua tokoh utamanya aja. Aku mengambil scene yang menurutku penting dan bagus lalu ditulis ulang sesuai imaginasiku sendiri, dan aku me-retell yang sebagian agar nyambung sama bukunya, kalo nggak di retell ntar nggak nyambung... sebenarnya aku juga merasa agak aneh saat menulis fic ini. Tetapi silahkan baca chapter selanjutnya, dan tetap review, ya :D
Selamat Membaca Chapter 8!
Disclamer: J. K. Rowling
Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.
Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari Harry Potter dan Relikui Kematian
KISAH RON DAN HERMIONE
Epilog
Ron POV
Godric's Hollow, September 2017
"JAMES SIRIUS POTTER, APA YANG KAU LAKUKAN?" suara Rose terdengar keras dan melengking dari tingkat dua.
Aku kaget, terbangun dan duduk di tempat tidur.
"Hermione, kau dengar itu?" tanyaku, membangunkan Hermione yang sedang tertidur lelap.
"Itu cuma James, Ron... kau tahu dia suka menganggu Rose," kata Hermione, mengerjap sesaat, kemudian memejamkan mata.
"BANGSAT, SIALAN, BEDEBAH! TUNGGU SAJA, AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Hermione terbangun dan duduk.
"Siapa yang mengajarinya mengumpat?" tanya Hermione, melompat dari tempat tidur dan segera keluar kamar.
Aku mengikutinya dari belakang.
"ROSE!" teriak Hermione, dengan nada peringatan dalam suaranya.
"Sori, Mom!"
Kami berjalan naik ke tingkat dua dan segera membuka kamar Rose. Dia sedang berdiri di tengah kamar dengan tubuh bagian atas basah kuyup sampai ke ujung rambutnya. Cetakan basah pada bantalnya memberitahu kami bahwa seseorang telah menyiramnya ketika dia sedang tidur.
"Apa yang terjadi?" tanyaku, meskipun samar-samar aku sudah tahu apa yang terjadi.
"James, dia menyiramku dengan air. Bedebah itu, aku akan membunuhnya nanti."
"Rose!"
"Ups, Sori, Mom!"
"Bagaimana dia bisa masuk ke kamarmu?" tanyaku lagi.
"Jendelanya terbuka... aku lupa menutupnya semalam," kata Rose, memandang jendela kamarnya yang terbuka.
"Lalu mana James?" tanya Hermione, mengayunkan tongkat sihirnya untuk mengeringkan Rose, sementara aku berjalan mendekati jendela. Sebuah pohon yang mudah dipanjat tumbuh di dekat jendela, sehingga mudah bagi seseorang untuk naik dan turun ke kamar ini.
"Setelah menyiramku dengan air dia langsung pergi," jawab Rose geram.
"Kau ingin Dad menebang pohon ini?" tanyaku.
"Jangan..." tolak Rose cepat.
Hermione mengangkat alis.
"Er―aku―aku suka melihat sesuatu yang hijau di luar jendelaku," jawab Rose.
Aku tersenyum, aku tahu ini lebih dari itu. Harry pernah bercerita bahwa Rose dan Al sering melakukan kunjungan malam tanpa sepengatahuan kami.
"Apakah semua orang sedang berpesta tanpa mengundangku?" tanya Hugo, dia melangkah masuk ke kamar Rose, masih berpiyama dan menguap beberapa kali.
"Ya, pesta yang sangat meriah, Hugo," jawab Rose sinis.
"Sudah, sudah," kata Hermione. "Rose, masih ada barang-barangmu yang belum dimasukkan ke koper, kan? Cepat bereskan sekarang, aku tidak mau ada yang ketinggalan... Hugo, ganti baju dan turun sarapan."
Hermione menggandeng Hugo keluar kamar, aku hendak menyusul mereka, tapi Rose memanggilku,
"Dad!"
Aku berjalan mendekatinya.
"Ada apa?"
"Apakah aku bisa menggunakan mantra yang kau ajarkan setelah aku tiba di Hogwarts?" tanya Rose.
"Bisa saja, tapi mengapa kau ingin menggunakan mantra itu?"
"Aku ingin bulu hidung James lebih panjang dari rambutnya," jawab Rose geram.
Aku tertawa.
"Jangan pedulikan James, Rosie, dia memang selalu begitu," kataku.
"Tapi, aku tidak akan membiarkannya kali ini, dia selalu menggangguku dan Al. Setelah aku tiba di Hogwarts dan belajar tentang sihir, aku akan mantrainya sehingga dia harus merangkak untuk kembali ke asrama Griffindor."
"Ya, sudah... kau siap-siap sekarang, ibumu sudah menunggu di bawah."
"Sebentar, Dad," kata Rose. "Kau pernah bilang bahwa aku harus di Gryffindor, tapi bagaimana kalau aku bukan di Gryffindor, apakah kau benar-benar akan mencabut hak warisku?"
"Rosie, aku cuma bercanda... aku tidak peduli di asrama mana kau ditempatkan, kau tetap Putri-ku..."
Rose cekikikan dan memelukku.
"Jadi kau mau di asrama mana?" tanyaku, setelah Rose melepaskanku.
"Aku tidak mau masuk asrama yang ada James dan Fred-nya, bisa-bisa aku dihantui mimpi buruk. Aku akan bilang pada Al agar kami berdua masuk Ravenclaw," kata Rose.
"Jangan takut, kalau mereka berbuat macam-macam kau bisa menyurati Ginny dan Angelina," kataku.
"Dad!" jerit Rose, tampak senang. "Itu ide brilian... Baiklah, aku akan masuk Gryffindor dan mereka yang akan dihantui mimpi buruk."
Aku tersenyum.
"Rose!" terdengar suara Hermione dari bawah.
"Aku turun sekarang, Mom!" kata Rose.
"Jangan lupa, mengepak barang-barangmu," kataku, lalu berjalan keluar.
Ketika aku tiba di dapur, Hermione sedang menyediakan sarapan dan Hugo sedang duduk menyantap bubur gandum di meja.
"Mana Rose?" tanya Hermione.
"Masih di atas, sedang mengepak barang..." jawabku, duduk di dekat Hugo.
"Apa yang dia bicarakan denganmu?" tanya Hermione.
"Dia bilang dia tidak ingin masuk Gryffindor, karena di sana ada Fred dan James," jawabku.
Hermione mengeryit.
"Tapi aku berhasil menyakinkannya bahwa dia bisa mengatasi Fred dan James."
"Kurasa Fred dan James sangat oke," kata Hugo.
"Dalam beberapa hal tertentu memang oke, tapi beberapa hal lain tidak..." kata Hermione tegas.
Aku mengedip pada Hugo, yang cekikikan.
"Ron, kau terlalu memanjakan anak-anak," kata Hermione.
"Omong-omong, kita harus cepat, Harry dan Ginny pasti sudah berangkat," kataku cepat.
"Benar," kata Hermione. "ROSE!"
"Aku datang, Mom," kata Rose, menuruni tangga dengan berisik. "Hugo, mana tongkat sihir-ku? Kau meminjamnya semalam, kan?" dia mendelik pada Hugo.
"Aku harap kau melupakannya, Rose," jawab Hugo santai.
"Maumu... Nah, sekarang cepat kembalikan tongkatku," kata Rose.
"Sabar, kenapa sih? Aku kan masih sarapan?"
"Hugo, cepat ambil tongkat sihir kakakmu... dia harus mengepaknya sekarang sebelum terlambat," kata Hermione.
"Oke... oke," kata Hugo, lalu keluar dapur.
"Mom, aku tidak suka bubur gandum," kata Rose, memandang bubur gandum dalam mangkok Hugo dengan jijik.
"Tidak, tidak, sarapanmu bukan bubur gandung," kata Hermione, meletakkan telur rebus dan susu di depan Rose.
Beberapa saat kemudian, Hugo kembali masuk ke dapur dan meletakkan tongkat sihir Rose: 25 centi, kayu Holly dan bulu ekor unicorn, di atas meja sambil berkata, "Ini!"
"Terima kasih," kata Rose, meletakkan gelas susunya dan naik lagi ke atas untuk menyimpan tongkatnya dalam koper.
"Ron, kita harus bergerak cepat, bisa-bisa kita ketinggalan kereta," kata Hermione, cemas.
"Tenang saja, Hermione," kataku. "Aku sudah mendapat SIP atau apapun namanya itu dan―"
"SIM, Ron, Surat Ijin Mengemudi," kata Hermione tertawa. "Kau harusnya ikut Kelas Telaah Muggle."
"Ya, ya, tapi kita harus cepat-cepat, kan?"
"Benar... Ron, cepat ganti baju... aku akan membantu Rose menurunkan kopernya, dan Hugo, tunggu di depan," kata Hermione cepat.
Aku menghabiskan kopiku dan segera beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian. Tidak boleh terlambat sedetik pun, Hermione akan menghabiskan waktu lima belas menit untuk menguliahiku tentang menghargai waktu. Dan bisa-bisa kami akan ketinggalan kereta.
Hermione POV
King's Cross, September 2017
Aku membanting pintu mobil menutup, sementara Ron mengeluarkan koper Rose dari bagasi.
"Kau tidak akan bisa menduga asrama mana kau akan ditempatkan, bukan?" kata Hugo pada Rose, mereka masih melanjutkan diskusi yang dimulai di mobil. "Kata Dad kau akan diseleksi oleh sebuah topi."
"Aku pasti di Gryffindor, Hugo," kata Rose percaya diri. "Tapi sebenarnya aku tidak peduli, yang penting aku bisa belajar tentang sihir."
"Semua Weasleys di Gryffindor, Rosie," kata Ron, meletakkan koper Rose dalam troli dan mendorongnya melewati orang-orang menuju palang rintang, yang merupakan jalan sihir yang menuju peron sembilan tiga perempat.
Rose berjalan di sampingnya dan aku mengikuti mereka dari belakang sambil menggandeng Hugo.
"Topi seleksi hampir saja memasukkan aku di Ravenclaw, tapi aku memintanya untuk memasukkanku di Gryffindor," aku memberitahu Rose.
"Benarkah itu, Mom?" tanya Rose, berhenti dan berbalik memandangku. "Jadi, aku bisa meminta topi itu untuk memasukkanku ke Gryffindor?"
"Ya, semuanya tergantung pilihanmu," kataku.
"Hore!" kata Rose semangat. "Aku akan memberitahu Al, soalnya dia takut topi itu akan menyuruhnya ke asrama Slytherin."
"Di asrama mana pun kau di tempatkan, aku tidak peduli, Rose, asalkan kau senang..."
"Thank, Mom," kata Rose, tersenyum.
"Ayo..." kata Ron, yang kini sedang berdiri di depan palang rintang.
Rose, Hugo dan aku cepat-cepat mendekatinya. Ron dan Rose berjalan menembus palang rintang, lalu Hugo dan aku segera mengikuti mereka.
Peron sembilan tiga perempat masih sama seperti belasan tahun lalu di mana aku pertama kali ada di tempat ini. Kabut putih tebal menutup pandangan kami, suara-suara yang tidak jelas siapa pemiliknya terdengar di antara suara teriakan anak-anak, suara uhu-uhu burung hantu dan suara kucing. Aku merasa mendengar suara Percy yang sedang bercakap dengan keras tentang peraturan sapu, dan cukup senang karena ada alasan untuk tidak berhenti dan menyapanya. Aku memegang tangan Hugo dengan erat dan mengikuti Ron dan Rose di depan kami.
Ron berhenti di gerbong terakhir dan menaikkan koper Rose ke dalam kereta api.
"Kok mereka belum kelihatan?" tanya Rose, memandang kabut yang menyamarkan wajah orang-orang di sekitar mereka.
"Tenang saja, nanti mereka juga akan muncul," jawabku.
"Yeah, tapi―Oh, itu mereka, syukurlah," kata Rose.
Harry, Ginny, Al dan Lily muncul dari dalam kabut, mendekati kami.
"Hai," kata Al, terdengar lega.
Rose tersenyum cerah pada Al.
"Parkir dengan oke, kalau begitu?" tanya Ron pada Harry. "Aku berhasil parkir dengan oke. Hermione tidak percaya aku bisa lulus ujian mengemudi Muggle, iya, kan? Dia mengira aku meng-Confundus si penguji."
"Tidak... aku percaya sepenuhnya pada kemampuanmu," kataku, meskipun aku memang curiga dia telah meng-Confundus si penguji.
"Mana James?" tanyaku pada Ginny, saat Harry dan Ron sedang menaikkan koper dan burung hantu Al ke dalam kereta api.
"Entahlah, mungkin dia pergi mencari Fred," jawab Ginny.
"Tahukah kau, dia membangunkan Rose pagi ini dengan cara menyiramnya dengan air," kataku.
"Dia juga menyiramku dengan air pagi ini, Aunt Hermione," kata Al.
"Tenang saja, Rose, aku sudah memarahinya," kata Ginny. "Kalau dia macam-macam lagi kirim surat padaku."
"Thanks, Aunt Ginny," kata Rose.
Sementara itu, Hugo dan Lily sedang berdiskusi seru tentang asrama mana mereka akan diseleksi kalau akhirnya tiba waktunya mereka ke Hogwarts.
"Kalau kau tidak di Gryffindor, kami akan mencabut hak warismu," kata Ron, dia dan Harry baru saja turun dari kereta api. "tapi, tak ada paksaan."
"Ron!" aku berseru memperingatkan.
Lily dan Hugo tertawa.
Kabut yang tiba-tiba menipis, membuat wajah orang –orang di sekitar kami terlihat jelas. Aku melihat Ron mengangguk pada Harry, kemudian memandang tiga orang yang berdiri kira-kira lima puluh meter jauhnya.
"Lihat siapa itu!"
Draco Malfoy berdiri di sana dengan istri dan anak laki-lakinya, mantel gelap dikancingkan sampai ke lehernya. Kepalanya sudah mulai botak, membuat dagunya tampak semakin runcing. Anaknya mirip Draco sama seperti Albus mirip Harry. Draco memandang kami dan mengangguk singkat, kemudian berpaling lagi.
"Jadi, itu si kecil Scorpius," kata Ron pelan. "Pastikan kau mengalahkannya dalam semua ujian, Rosie. Untunglah kau mewarisi otak ibumu."
Aku memandang Rose, yang memandang Scorpius, dan pada saat yang sama Scorpius juga sedang memandangnya. Keduanya saling mendelik.
"Ron, astaga," kataku. "Jangan membuat mereka bermusuhan bahkan sebelum mereka mulai sekolah!"
"Kau betul, sori," kata Ron. "jangan terlalu ramah padanya, tapi, Rosie. Kakek Weasley tak akan memaafkanmu kalau kau menikahi darah murni."
Aku melihat Rose mencibir, dan kembali mendelik pada Scorpius, yang tidak menyadarinya. Dalam hati aku berharap agar, Rose tidak memulai pertengkaran dengan Scorpius dalam kereta api.
"Hai!"
James telah muncul, wajahnya terlihat bersemangat.
"Teddy di sana," katanya kehabisan nafas, menunjuk ke balik bahunya ke asap yang bergelombang. "Aku baru melihatnya dan tebak apa yang dilakukannya? Mencium Victoire!"
Dia memandang kami dengan kecewa karena tak ada reaksi dari kami.
"Teddy kita! Teddy Lupin! Mencium Victoire kita! Sepupu kita! Dan aku tanya Teddy apa yang dilakukannya―"
"Kau menyela mereka?" kata Ginny. "Kau mirip sekali Ron―"
"―Dan dia bilang dia datang untuk mengantar Victoire! Dan kemudian menyuruhku pergi! Dia menciumnya!" James menambahkan, sepertinya khawatir yang disampaikannya belum jelas.
"Oh, manisnya kalau mereka menikah!" kata Lily gembira. "Dengan demikian Teddy akan benar-benar menjadi bagian dalam keluarga kita!"
"Dia sudah datang untuk makan malam kira-kira empat kali seminggu," kata Harry. "Kenapa tidak sekalian saja kita mengajak tinggal bersama kita dan beres jadinya?"
"Yeah," kata James terdengar antusias. "Aku tak keberatan sekamar dengan Al―Teddy boleh pakai kamarku."
"Tidak," kata Harry tegas, "Kau dan Al akan sekamar hanya kalau aku ingin merobohkan rumah."
"Sudah hampir jam sebelas," kata Harry, melirik arlogi tuanya. "Kalian lebih baik naik!"
Ron juga sudah melirik arloginya, kemudian memeluk Rose.
"Hati-hati, dan pastikan kau mengalahkan Scorpius Malfoy," kata Ron.
"Beres, Dad," kata Rose.
"Sampai jumpa Natal nanti, dan jangan menggunakan sihir sebelum kau bisa melakukannya dengan baik," kataku, memeluk Rose.
"Baik, Mom," kata Rose, kemudian memeluk Hugo.
"Sampai jumpa," katanya pada Hugo.
Rose naik ke kereta api, mengikuti James, yang masih bicara dengan Ginny, sedangkan Al masih berbicara dengan ayahnya.
Ketika pintu-pintu sudah membanting menutup di sepanjang kereta merah tua itu, Al segera naik ke kereta api, dan Ginny menutup pintu di belakangnya. Banyak murid yang menjulurkan kepala dari jendela-jendela terdekat. Mereka kelihatannya menoleh ke arah Harry.
"Mengapa mereka semua terbelalak?" tuntut Albus, ketika dia dan Rose menjulurkan leher berkeliling untuk melihat murid-murid yang lain.
"Jangan kuatir," kata Ron. "Mereka kagum padaku, aku sangat tersohor."
Rose, Al, Lily dan Hugo tertawa, namun aku mendesah lega. Aku senang anak-anak ini pergi ke Hogwarts tanpa tahu bahwa orang tua mereka terkenal, ini sangat bagus karena mereka akan menjadi pribadi sendiri tanpa menjadi bayangan orangtua.
Godric's Hollow, September 2017
Ruang keluarga sepi, Ron duduk di sofa sambil merangkul pundakku. Kami duduk berdua memandang perapian yang menyala riang. Setelah hari yang melelahkan; mengantar Rose ke King's Cross, lalu kembali ke Kementrian, aku merasa duduk berdua di sini bersama Ron adalah saat yang paling menyenang. Ini adalah kegiatan rutin kami, duduk berdua dan mengulang hari kami dalam bentuk verbal.
"Mana Hugo?" tanya Ron, setelah dia bercerita tentang apa yang terjadi di Markas Besar Auror hari itu.
"Di sebelah, dia dan Lily masih berdiskusi tentang Hogwarts," jawabku.
"Apakah menurutmu ini belum terlalu malam?" tanya Ron, melirik arlojinya.
"Tidak apa-apa, biar dia menginap di sana," kataku. "Setelah Rose dan Al pergi ke Hogwarts, mereka berdua kesepian."
Ron mengangguk, kemudian mempermainkan ikal rambutku, namun wajahnya terlihat khawatir.
"Rose akan baik-baik saja, Ron," kataku, membaca pikirannya.
"Aku tahu," kata Ron, melirik arloginya. "Kelihatannya acara seleksi sudah selesai, tapi dia belum menulis surat."
Bersamaan dengan diucapkannya kata terakhir, seekor burung hantu terbang masuk melalui jendela yang terbuka dan hinggap di meja di depan kami.
"Dari Rose," kataku, melihat tulisan tangan Rose dan segera melepaskan surat itu dari burung hantu, yang kemudian langsung terbang keluar jendela.
Aku segera kembali ke sofa dan membaca surat Rose keras-keras agar Ron bisa mendengarnya.
Mom dan Dad
Berhasil! Al dan aku di Gryffindor, semuanya sangat senang... Semua orang berkata bahwa para Weasley harus di Gryffindor, tapi aku ingat bahwa Molly bukan di Gryffindor, dia di Ravenclaw, kan?
Mom, maafkan aku, aku didetensi Profesor Longbottom karena, pasti Dad akan senang kalau tahu tentang ini, aku meninju hidung Malfoy di kerata api.
"APA? Dia meninju Scorpius?" tanya Ron kaget.
"Ya, ampun!" lalu aku cepat-cepat melanjutkan,
―dia mengatakan sesuatu tentang aku yang Sok-Tahu dan memanggilku Weasel Queen, entah apa maksudnya.
Namun, aku senang di Hogwart, Al gugup karena dia memikirkan pelajaran-pelajarannya, tapi aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan pelajaran pertama kami.
Rose
Aku mendesah dan melipat surat Rose.
"Kelihatannya dia baik-baik saja," kata Ron.
"Dia tidak baik-baik saja... Dia meninju Scorpius, Ron," kata Hermione.
Ron tertawa dan aku mendelik.
"Baiklah, baiklah, aku akan menyuratinya untuk tidak mencari masalah dengan Scorpius Malfoy," kata Ron.
Sesuatu yang aneh tiba-tiba masuk ke dalam pikiranku. Rose dan Scorpius mengingatkanku akan kisah Ron dan aku: tidak saling menyukai pada awalnya, tapi tidak terpisahkan pada akhirnya. Namun, aku segera membuang pikiran itu. Tidak, Rose tidak mungkin menyukai Scorpius Malfoy.
"Ada apa?" tanya Ron.
"Tidak..." jawabku.
"Ayolah, kita tidur sekarang dan besok pagi-pagi kita bisa membalas surat Rose," kata Ron, berdiri, meraih tanganku, kemudian kami berdua berjalan menuju kamar
Read and Review, please! Thank you so much, terima kasih, karena telah bersedia me-review Kisah Ron dan Hermione, cerita ini tidak akan selesai tanpa Review dari teman-teman! See you in Kisah Next Generation 1: Ciuman yang Salah chapter 1.
Sebelumnya, kuminta maaf untuk teman-teman yang menantikan Kisah Draco dan Ginny chapter 4 part 4. Ku memutuskan untuk menunda fic itu dulu, karena fic baruku ini, Kisah Next Generation merupakan sambungan dari epilog Kisah Ron dan Hermione.
Riwa Rambu :D
