That's The Reason I Love You

CH. 2

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Selamat membaca..

Hinata Pov.

Entah aku tidur berapa lama, tapi sepertinya ini sudah sore. Aku membuka mataku perlahan. Benar saja, ini sudah senja. Aku menuju kamar mandi untuk mencuci muka. 'Sudah hampir waktu makan malam' pikirku. Aku segera turun untuk membuat makan malam. Memang ada banyak maid di sini, tapi ayahku menyuruhku untuk bertugas di dapur karena menurut ayahku, masakanku sama persis seperti masakan ibuku. Ibuku meninggal karena kanker yang menyerang hatinya. Sebaiknya tidak ku ceritakan. Aku tidak ingin menangis di saat-saat seperti ini.

End Hinata Pov.

"Nee-chan, kau masak apa?" tanya Hanabi yang baru turun dari kamarnya. Terlihat dari rambutnya yang basah, ia baru selesai mandi.

"Menurutmu?" bukannya menjawab, Hinata malah balik bertanya.

"Spagheti?" terka Hanabi dengan nada penasaran.

"Yup. Kau benar."

"Waah.. Kebetulan aku lagi mau.." jawab Hanabi mendengar pernyataan Hinata. "Sekali-kali buatlah pizza.." lanjutnya.

"Eh? Jangan pikir membuat pizza itu gampang." Kata Hinata menekankan kata 'gampang'.

"Aku kan tinggal makan.. Bwee!" ujar Hanabi sambil menjulurkan lidahnya.

Hinata hanya dapat geleng-geleng melihat tingkah laku adiknya. Adiknya ini memang seperti itu. Hinata memilih diam daripada membalas. Kalau di balas, Hanabi akan semakin menjadi-jadi.

"Hanabi-chan, bisakah kau memanggil Tou-san? Makan malam sudah siap.." kata Hinata kepada Hanabi dengan lembut.

"Baiklah." Jawab Hanabi lalu meletakkan komiknya di kursi nonton.

"Hanabi-chan? Bisakah kau menaruh komikmu di tempat yang benar?" kata Hinata lagi sebelum Hanabi naik untuk memanggil Tou-san mereka.

"Baiklah." Jawab Hanabi malas. Kakaknya ini memang sangat disiplin.

Melihat tingkah laku adiknya, Hinata hanya terkikik geli. Ia kembali menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Tepat saat semuanya sudah beres, Tou-san dan Hanabi turun dari lantai dua menuju ruang makan. Sebelum makan, mereka berdoa pada Kami-sama agar memberkati makanan yang mereka makan. Setelah itu mereka melanjutkan acara makan mereka tanpa ada yang berbicara. Setelah makan, seperti biasa, Hinata akan naik ke kamar untuk belajar. Sama seperti Hinata, Hanabi juga naik ke kamarnya untuk bel -ralat- membaca komik. Sedangkan Hiashi? Dia akan naik ke ruang kerjanya yang pastinya untuk melanjutkan pekerjaannya.

"Huh.. Hari ini sangat membosankan.." kata Hinata sambil menghela nafas. Jika ia mengatakan hal tersebut kepada ayahnya, pasti ayahnya akan menatapnya kemudian berkata, "Hinata, sekali lagi kau mengatakan hal itu, artinya kau tidak menikmati hidupmu. Dan jika kau tidak menikmati hudup mu.. bla..bla..bla.." dan Hyuga Hiashi memulai ceramahnya yang panjang kepada Hinata, Hinata? Hanya memutar bola matanya bosan.

Cukup lama Hinata berkutat dengan buku, kantuk kembali menyerangnya. 'Padahal aku tadi tidur siang.' pikir Hinata tidak setuju. Ia tetap membaca buku pelajarannya. Beberapa saat kemudian, hpnya bergetar tanda ada sms masuk.

"Sejak kapan jadi vibrate?" lirih Hinata. Ia mengambil hpnya kemudian membaca pesan yang entah dari siapa.

'Kau bosan? Aku juga. Mungkin dengan smsan kita takkan bosan lagi.'

'Apa? Dari mana ini?' pikir Hinata dalam hati.

'Mungkin.. Tapi maaf, ini dari siapa?'

Send.

Setelah menekan tombol send, Hinata kembali berpikir, apa dia pernah memberikan nomornya kepada seseorang selain Tenten?

Lain Hinata yang kebingungan, Sasuke hanya tersenyum melihat balasan Hinata.

'Mungkin.. Tapi maaf, ini dari siapa?'

Sasuke tersenyum tipis. Ia kembali mengetik pesan.

'Aku Sasuke. Aku mendapat nonmormu dari Tenten. Apa kau akan begadang hari ini?'

Send.

Setelah menekan tombol send, Sasuke sibuk dengan pikirannya sendiri. 'Apa aku menyukainya? Tapi, tidak mungkin..' Sasuke terus berkutat dengan pikirannya. Sampai hpnya kembali bergetar.

'Oh.. Sasuke-kun.. Aku tidak bisa melakukannya.. Tou-san bisa marah..'

Sasuke kembali mengetik balasan. Begitu seterusnya sampai Hinata izin untuk tidur. Setelah melihat pesan Hinata, kantuk menyerang Sasuke. Tapi Sasuke tidak menolak. Ia pergi kea lam mimpi dengan damai. Dia melupakan janjinya kepada Itachi.

"Anak ini. Katanya mau temanin, malah tidur." Ujar Itachi dengan kesal. "Sebaiknya aku juga tidur." Lanjutnya.

Keeokan harinya…

Seperti biasa, Itachi yang akan membangunkan Sasuke. Sebelum ia membangunkan Sasuke, ia mengambil hp Sasuke dan melihat pesan-pesan tadi malam. 'Hinata? Siapa dia?' batin Itachi. Ia cukup curiga terhadap Sasuke yang tadi malam senyum-senyum sendiri. Setelah membangunkan Sasuke, giliran Itachi yang kini senyum-senyum sendiri. Orang tua mereka yang melihatnya hanya mengangkat bahu tinggi-tinggi (?).

Sasma seperti Itachi, Hanabi juga melakukan hal yang sama. Saat Hinata sedang mandi, dia mengambil hp Hinata dan melihat pesan-pesan tadi malam. Sama seperti Itachi, Hanabi turun untuk sarapan dengan senyum-senyum sendiri. Reaksi Hiashi? Hanya geleng-geleng. 'Kami-sama.. Ada apa dengan anakku yang satu ini?' batin Hiashi.

"Ohayou, Tou-san, Hanabi-chan.." ujar Hinata. Pagi ini Hinata piket, jadi bukan dia yang menyiapkan sarapan.

"Ohayou, Nee-chan.." jawab Hanabi.

"Ohayou.." jawab Hiashi pendek.

Setelah sarapan, Hinata siap-siap ke sekolah. Saat ia akan melangkah keluar rumah, tiba-tiba muncul lah sebuah ferrary merah yang langsung terparkir manis di depan rumah HInata.

"Siapa itu?" tanya Hinata pada diri sendiri.

Hinata memilih melanjutkan jalannya. Tapi ia langsung berhenti setelah tahu siapa pemilik mobil tersebut.

"S-sasuke-kun?"

"Ya?"

"K-kenapa kau di sini? Tanya Hinata. "K-kau bisa te-terlambat.." lanjut Hinata tergagap.

"Aku ke sini untuk menjemputmu. Naiklah." Kata Sasuke. "Tidak menerima penolakan." Sasuke melanjutkan saat melihat mulut Hinata yang terbuka ingin mengatakan sesuatu.

"Ba-baiklah.." jawab Hinata pasrah.

Selama perjalanan mereka hanya diam tak bersuara. Musik dari Taylor Swift kembali mengalun.

"S-sasuke-kun? Apa k-kau menyukai T-taylor Swift?" tanya Hinata berhati-hati.

"Tentu." Jawab Sasuke pendek.

Hinata tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya diam menunduk sambil mendengar music dari Taylor Swift berjudul Today Was A Fairytale. Hinata berpikir, mungkin lagu Taylor Swift yang satu ini cocok dengan keadaannya sekarang. Ia juga menyukai Taylor Swift. Dia mengoleksi dari album Taylor Swift sampai Speak Now. Dia juga menghafal beberapa lagunya. Seperti Back To December, Teardrops On My Guitar, Fearless, Sparks Fly, Crazier, Cold As You, Invisible, dan masih banyak lagi. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya, Hinata tidak tahu bahwa mereka sudah sampai di sekolah.

"Kau tidak mau turun?"

"Eh? Y-ya.." jawab Hinata.

Fans-fans Sasuke telah menunggu Sasuke sejak lama. Dan betapa sakitnya hati mereka melihat Sasuke turun dari mobil bersama seorang gadis. Banyak dari mereka menatap tajam kepada Hinata. Hinata yang mendapat reaksi seperti itu hanya dapat menunduk. Sasuke yang melihatnya hanya tersenyum miring. Dia menutupi jarak antara dirinya dan Hinata. Para fans Sasuke yang melihat senyumannya, hanya berteriak dengan lebay. Ada juga yang pingsan.

"Kamseupay.." ujar Sasuke yang melihat para fansnya pingsan hanya gara-gara ia tersenyum.

Mereka berjalan beriringan sampai di kelas. Sampai di kelas, Hinata di sambut dengan teriakan Tenten yang tidsk percaya dia bisa berjalan bersama Sasuke.

"Tenten-chan.. Pelankan suaramu.." ujar Hinata kepada Tenten yang masih berteriak histeris.

"Aku takkan memelankan suaraku sampai kau mencerikatan padaku, apa yang terjadi padamu dan Uchiha bungsu itu." Jawab Tenten.

"Aku juga t-takkan cerita jika kau tidak memlankan suaramu." Jawab Hinata lalu mengeluarkan buku fisikanya.

"Baiklah.. Ceritakan apa yang terjadi."

"Tadi pagi, Sasuke-kun jemput aku untuk ngantar ke sekolah.. Selesai."

"Hanya itu? Perasaanku mengatakan bahwa Sasuke menyukaimu. Karena, kemarin sore ia meminta nomormu padaku." Ujar Tenten.

"Itukan hanya nomor telpon.." jawab Hinata kemudian lanjut untuk membaca. Kadang ia akan mengambil beberapa kertas cakar dan mengerjakan soal-soal.

"Dia tidak pernah begitu sebelumnya." Ujar Tenten lagi sambil menerawang. "Neji-kun.." lirihnya.

"Hm? Neji-kun mencarimu. Katanya ia merindukanmu. Dia kesepian di sana." Kata Hinata lalu menutup bukunya.

"Benarkah?" ujar Tenten dengan mata berbinar. "Kau sudah selesai membaca?" lanjutnya.

"Yup. Aku ingin ke toilet sebentar."

"Tapi sayang Kakashi-sensei sudah datang." Ujar Tenten dengan senyum yang di buat semanis mungkin.

Hinata hanya menyerngitkan dahi kemudian berkata sambil menghela nafas, "Baiklah. Nanti ku ceritakan."

"Yey!" seru Tenten kemudian mengambil buku pelajarannya.

Pelajaran berlangsung dengan damai tanpa gangguan. Sampai waktu istirahat tiba. Saat Hinata sedang membereskan buku, tiba-tiba seseorang mendobrak pintu.

'BRUUK'

"MANA YANG NAMANYA HYUGA HINATA!"

TBC..

Thank you for;

NgalorNgidol12, Green After Rain, Yushitsune Nakajima.. Thank's udah review..

Walaupun reviewnya msh dikit, aku update aja lah.. Kakak aku udah nggak sabaran soalnya.. :D

Berikan kritik dan saran.. Mind to review?