That's The Reason I Love U
CH. 4
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Selamat membaca…
Hinata terbangun karena matahari yang menerpa wajahnya. Ia menguap kecil. Tangannya yang lembut bagaikan salju ia gunakan untuk menutupi mulutnya. Setelah itu, ia berdiri dan menuju kamar mandi. Setelah sampai di kamar mandi, ia menyadari ada yang kurang. Ternyata ia lupa membawa baju dan handuknya masuk kamar mandi. 'Masih muda gini aku sudah pikun, bagaimana kalau aku sudah tua nanti? Bisa-bisa aku lupa namaku sendiri..' pikir Hinata.
Setelah membersihkan badan, Hinata turun ke lantai satu untuk menyiapkan sarapan. Selama menuruni tangga, Hinata hanya senyum-senyum sendiri. Semua orang pasti berpikir bahwa Hinata sedang bahagia, tetapi tidak dengan Hiashi. Ia berpikir bahwa Hinata menkonsumsi narkoba. Hiashi berjalan kearah Hinata yang masih senyum-senyum sendiri.
"Berikan semuanya, Hinata. Itu tidak baik." Ujarnya tegas.
Yang di tanya hanya terkejut.
"Berikan apa? Aku tidak mencuri." Jawab Hinata dengan nada bingung.
"Kau pikir Tou-san tidak tahu? Kau minum berapa banyak tadi malam? Dengan Uchiha itu?"
"Apa yang Tou-san maksud?" tanya Hinata. Sungguh tidak masuk akal.
"Kau menkonsumsi narkoba bukan? Itulah mengapa kau terus senyum-senyum sendiri?" kata Hiashi.
"Hmph.. Hmph.. Hahaha.. HAHAHAHA!" Bukan Hinata, tapi Hanabi.
"Apa ada yang lucu, Hanabi?" tanya Hiashi dengan nada yang tegas.
"Tou-san.. Tou-san.." kata Hanabi sambil menepuk-nepuk lengan Hiashi. Rencananya sih di bahu, cuma kan Hanabi masih pendek. Jadi belum sampai untuk menepuk bahu Tou-sannya.
"Nee-chan itu senyum-senyum sendiri, karena hari ini Sasuke Nii-san akan mengajaknya kencan lagi." Kata Hanabi.
"Oh.." Setelah malu karena salah paham, Hiashi hanya duduk di kursi dan langsung memutar siaran TV.
"Hanabi-chan, dari mana kau tahu hari ini Sasuke-kun akan menjemputku?" tanya Hinata lalu berjalan ke dapur.
"Kemarin aku mendengarnya." Jawab Hanabi. Ia mengambil beberapa piring, sendok, dan garpu lalu meletakkannya di meja makan. Sebenarnya Hanabi tidak ingin melakukannya, hanya saja dia menginginkan sesuatu dari kakaknya. Jadi, mungkin jika ia bersikap baik, Hinata akan membelikan apa yang di inginkannya.
"Nee-chan.." panggil Hinata dengan senyuman yang di buat semanis mungkin.
"Ya?" jawab Hinata yang masih sibuk dengan masakannya.
"Boleh aku minta sesuatu?" tanya Hanabi perlahan-lahan.
"Um, karena kau telah membantuku.." Hinata mengangkat masakannya dan meletakkannya di piring yang di sediakan Hanabi. "Kau boleh meminta apa pun." Sambung Hinata sambil menatap Hanabi.
"Aku ingin sebuah notebook." Kata Hanabi.
"Apa?" tanya Hinata kembali karena merasa tidak percaya dengan pendengarannya.
"Aku ingin sebuah notebook." Kata Hanabi mengulangi perkataannya.
"Aku tidak punya cukup uang untuk membelikanmu notebook." Kata Hinata dengan nada menyesal. "Kau bisa minta pada Tou-san, bukan?" lanjut Hinata.
"Aku tidak berani." Sebenarnya Hanabi berani-berani saja. Hanya saja dia lagi tidak mau berurusan dengan Tou-sannya.
"Baiklah. Akan kutanyakan." Ujar Hinata kemudian setelah mendengar jawaban dari Hanabi. Hanabi sendiri tidak mempercayai pendengarannya. Bukankah Hinata tahu bahwa dirinya tidak takut pada apa pun kecuali kecoa? Cukup menherankan.
Hinata lalu menuju tempat di mana Hiashi baca Koran. Awalnya sih memang menonton TV, tapi setelah Koran langganannya datang, ia mematikan TVnya dan langsung membaca korannya. Entah mengapa, sejak SMP kelas 2, Hiashi sangat suka membaca Koran –kata ibunya-. Bahkan panggilan ibunya untuk makan pun tak di dengar. Selama dua hari ini tidak terjadi demikian, karena orang yang membawa Koran langganan Hiashi sedang sakit. Kini, Hinata harus berteriak kepada Hiashi jika ingin makan. Hiashi sendiri yang memintanya.
"Tou-san.." panggil Hinata.
Tidak ada jawaban.
"Tou-san.. Tou-san.. Tou-san?" Hinata mulai khawatir. Ia lalu menyingkirkan Koran tersebut dari wajah Tou-sannya. Dan tebak, Hiashi tertidur.
"Kurasa hari ini aku akan memakan dua piring spaghetti." Gumam Hinata.
Setelah menghasilkan sarapannya yang sangat banyak, Hinata menuju kamarnya untuk mengganti bajunya. Dia mendapat telpon dari Sasuke bahwa Sasuke akan menjemputnya 15 menit lagi. Selama mengganti bajunya, Hinata memikirkan sesuatu. Dia ingin menyatakan perasaannya sekarang, tapi ia terlalu malu untuk mengatakannya. Lebih parah lagi jika Sasuke menolaknya. Jadi, setelah berpikir panjang, Hinata memutuskan untuk tidak menyatakan perasaannya sekarang. Lewat 10 menit, Hinata sudah selesai berpakaian. Sambil menunggu, Ia memutar lagu Taylor Swift berjudul Nevermind.
And all I really wanna do is be next to you
But I'm too tired to fight
And I could tell you now
But baby nevermind
Hinata menghayati lagu tersebut. Dia menyanyikan beberapa lirik yang ia ketahui. Lagu ini sama seperti perasaannya. Ia ingin menyatakan perasaannya sekarang. Tapi lupakan. Itu takkan terjadi. Sasuke takkan menerimanya. Setelah lagu berjudul Nevermind tersebut selesai, di gantikan lagu berjudul Speak Now. Mendengar lagi itu, Taylor seperti menyuruh dirinya untuk menyatakan perasaannya sekarang. Walau artinya tidak seperti itu, tapi ia merasa demikian. Hinata lalu berubah pikiran. Dia akan menyatakan perasaannya hari ini apa pun yang terjadi.
Tepat saat lagu Speak Now berakhir, terdengar klakson mobil dari luar. 'Aku harus melakukannya.' Batin Hinata. Hinata lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Ia sedikit mengintip lewat jendela. Ia melihat mobil ferrary Sasuke yang terparkir manis di depan rumahnya. Terlihatlah Sasuke yang baru turun dari mobil. Hinata membuka pintu.
"Ohayou." Kata Sasuke.
"Ohayou, Sa-sasuke-kun.." kata Hinata. Sasuke menatap penampilan Hinata dari atas ke bawah. Baginya, penampilan Hinata sangat sederhana jika di bandingkan yang kemarin. Berarti dia mendandani dirinya sendiri hari ini, terka Sasuke dalam hati.
"Ayo pergi." Ujar Sasuke lalu memegang tangan halus nan putih Hinata. Sasuke membukakan pintu untuk Hinata. Setelah Hinata masuk dan duduk manis, Sasuke menutup pintunya dan memutar mobilnya. Ia lalu masuk ke tempat pengemudi. Sasuke menyalakan mesin mobilnya. Setelah mobil tersebut menyala, terdengar lah Usher menyanyi. Lagunya berjudul Without You. Sasuke berpikir, sejak kapan lagunya jadi Usher?
"Kau ingin dengar lagu ini atau lagunya Taylor?" tanya Sasuke.
"Terserah." Jawab Hinata. Sebenarnya ia ingin menjawab Taylor, tapi dia takut karena ini bukan mobilnya.
"Um.. Kenapa lagunya Usher bisa nyasar kesini?" gumam Sasuke. Bukannya dia tidak suka Usher, dia tidak suka kulit Usher yang hitam. Karena dia pernah melihat seseorang yang ngefans banget sama Usher hampir sehitam Usher. Lebih Hitam malah. Dia menyukai Taylor karena selain kulitnya yang putih, suaranya juga bagus. Lagunya Taylor juga kadang mendukung suasana. Setelah lagu dari Usher selesai, lagu dari Taylor kembali terdengar. Ternyata benar dugaan Sasuke bahwa lagu Usher nyasar. Selama perjalanan, mereka hanya diam. Hinata menatap jalanan di luar, sedangkan Sasuke focus menyetir.
"Kita sudah sampai." Kata Sasuke lalu turun dari mobilnya.
"Apa i-ini?" tanya Hinata sebelum turun dari mobil.
"Restoran tentunya. Setelah ini kita akan nonton di bioskop." Jawab Sasuke.
"T-tidak mirip seperti restoran." Gumam Hinata.
"Apa?" tanya Sasuke.
"T-tidak." Jawab Hinata cepat.
"Ayo masuk." Ujar Sasuke kemudian menarik tangan Hinata masuk ke dalam restoran tersebut.
Restoran tersebut tidak terlalu penuh. Masih banyak meja yang kosong. Sasuke ingin mengambil ruang VIP, tapi sayangnya ruang VIPnya sudah penuh.
"Sudah penuh. Mau makan di tempat lain saja?" tanya Sasuke kepada Hinata.
"Eh? B-bukankah tidak apa-apa jika tidak mendapat ruang VIP?"
"Ya, memang tidak apa-apa. Tapi aku tidak bisa makan denagn tenang tanpa AC." Jawab Sasuke.
"J-jadi?" tanya Hinata meminta kepastian.
"Baiklah. Kita makan di sini." Jawab Sasuke denang pasti. Ia memesan salah satu meja di pojok ruangan. Setelah meja tersebut di bersihkan, Sasuke menarik Hinata menuju meja tersebut. Bukannya dia tidak sabar untuk makan, tetapi kakinya sangat pegal karena berdiri terus menunggu meja tersebut di bersihkan.
Setelah memesan makanan, Sasuke mengambil iPadnya lalu bermain game angry birds. Hinata melongo. MKKB, pikir Hinata. Saat kalah, Sasuke memukul-mukul iPadnya di meja dengan tatapan membunuh. Di sini Hinata tahu, Sasuke tidak suka kalah.
"Kau mau main?" tanya Sasuke. Dia sudah sangat kesal karena dari tadi kalah terus. Hinata mengambil iPad Sasuke.
"B-boleh buka internet?" tanya Hinata.
"Ya." Jawab Sasuke pendek. Hinata lalu membuka google dan mencari informasi tentang Aegean Sea atau Laut Aegea.
Laut Aegea adalah sebuah cabang Laut Tengah, yang letaknya berada antara Yunani dan Anatolia. Laut ini dihubungkan dengan Laut Marmara dan Laut Hitam oleh Selat Dardanella dan Bosporus.
Laut Aegea mencakup sekitar 214,000 km² (83.000 sq mi), kedalaman maksimum laut adalah 3.543 m (11.624 kaki), timur Kreta. Hinata membaca hal-hal tersebut dengan antusias. Hinata juga kagum saat google menampilkan contoh gambar laut Aegea.
Sasuke yang penasaran ingin mencari tahu. Tetapi sayang makanan yang mereka pesan telah datang. Hinata mengembalikan iPad Sasuke lalu beranjak untuk mencuci tangan. Sasuke yang melihat Hinata pergi untuk mencuci tangan, segera menyimpan iPadnya kemudian menyusul Hinata.
"Apa yang kau cari tadi? Antusias sekali." Kata Sasuke setelah berada di samping Hinata yang sedang sibuk mencuci tangan.
"T-tentang Laut Aegea. K-kau pernah d-dengar?" jawab Hinata.
"Tidak. Tau dari mana?"
"Dari mana apa?" tanya Hinata balik.
"Tau dari mana tentang Laut Agea itu?" tanya Sasuke.
"Aegea." Hinata membenarkan.
"Terserah. Kembali ke topik."
"Aku hanya dengar dari teman. L-lalu aku penasaran da-dan mencarinya. Ter-ternyata benar apa yang m-mereka katakan. Laut Aegea itu sangat indah." Jelas Hinata.
"Benarkah?" tanya Sasuke. Hinata menganguk. "Aku juga jadi penasaran." Lanjutnya.
Mereka berjalan menuju meja di mana makanan yang mereka pesan telah terhidang dengan indahnya. Hinata yang melihatnya hanya ngiler. Ia segera duduk dan bersiap-siap untuk makan jika Sasuke memperingatkannya sesuatu.
"Tidak berdoa dulu?"
"Oh iya.. Maaf.." jawab Hinata sambil tersipu. Ia mengatupkan tangannya di depan dada, menutup mata, menundukkan kepala, kemudian berdoa agar Kami-sama memberkati makanan yang akan dia makan. Sasuke tersenyum tipis melihat tingkah laku Hinata. Setelah makan nanti, ia berencana menyatakan cintanya. Tapi karena tidak sabaran, setelah Hinata berdoa dia langsung menyatakannya.
"Hinata.." Hinata mendongak. "Jadilah pacarku."
"Uhuk.. Uhuk.. A-apa?"
"Jadilah pacarku."
"Um.." Hinata hanya menggumam. Dia ingim mengatakan 'ya', tetapi terlalu malu. Akhirnya dia hanya menarik napas lalu menghembuskannya kembali.
"Jadi?" tanya Sasuke. Dia takut Hinata menolaknya.
"Y-ya." Jawab Hinata.
Sasuke tersenyum. Rencananya sih, mau peluk lalu di cium. Tapi sayang perut udah teriak-teriak.
"Hn. Makanlah."
Hinata hanya tersenyum. Tidak seperti biasanya, sekarang mereka makan dengan penuh canda tawa. Sungguh menyenangkan.
TBC..
Thank's to : Haiiro-Sora and Crimson 'Jac' Lotus.. Aku sangat menghargai review kalian..
Review ya..
-VVV-
