LOVE & FRIENDS

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco Malfoy – Harry Potter

Rate : M

Genre : Romance

Setting :

WARNING : No war, OOC, OC

A/N : Official Sequel from 'KEJUJURAN'

Tanggal 1 September pagi itu suasana di stasiun King's Cross tampak begitu ramai. Diantara keramaian itu tampaklah beberapa orang -yang luput dari perhatian- menghilang masuk ke dalam tembok diantara peron 9 dan 10. Peron itu khusus disediakan untuk para penyihir yang menjadi kaum minoritas di bawah langit kota London.

Tampak dua keluarga yang mengantar anak-anak mereka kembali ke Hogwarts, sekolah untuk anak-anak penyihir yang telah didaftarkan saat mereka lahir.

"Jaga sikapmu selama di sekolah, anak muda," kata James Potter, kepala Auror untuk kementrian sihir, kepada anak laki-lakinya, Harry Potter.

"Apa maksudmu, Dad? Aku selalu menjaga sikap selama ini," gerutu Harry.

"Ini tahun terakhirmu dan Draco di Hogwarts, jadi kami harap jangan berulah yang macam-macam. Siapkan diri kalian untuk ujian akhir," jawab James.

"Iya aku tahu," balas Harry. Lalu dia kembali berbincang dengan Draco Malfoy, teman seangkatannya yang menyebalkan yang kini telah menjadi kekasihnya.

James memandang sosok pria dewasa disisinya yang memiliki rambut pirang panjang dan berkulit pucat, bola matanya berwarna abu-abu, ekspresinya dingin dan datar, teman baiknya di kementrian sihir, kepala departemen hubungan sihir internasional, Lucius Malfoy. "Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Harry dan Draco saat kita berempat ke luar negeri. Kenapa mereka bisa menjalin hubungan?"

Lucius memandang anaknya yang berdiri di sebelah Harry, anak sulungnya yang wajahnya serupa dengannya, "bukannya mereka sudah menjelaskan semua?" jawab Lucius.

"Sudahlah James, aku dan Lily sih tak masalah dengan hubungan mereka," jawab Narcissa, wanita cantik berambut pirang panjang dengan mata biru, istri Lucius.

"Cissy benar, nanti juga Bell dan Andy akan bersatu. Bisa kubayangkan bagaimana ramainya rumah kita," jawab Lily -istri James- bahagia.

Kedua pasang orang tua itu masih agak terkejut saat pulang dari luar negeri dan mendapati anak-anak mereka begitu akrab, terutama Harry dan Draco yang selalu tak akur saat dekat. Keluarga Malfoy meminta Harry dan Annabell menghabiskan waktu di Malfoy Manor selama mereka bepergian. Keterkejutan mereka tak berhenti disitu ketika Draco mengakui dengan jujur kalau dia mencintai Harry dan mereka telah menjadi pasangan. Lucius dan James yang mendengar itu menjadi shock, mereka sampai tidak bisa berkata-kata. Lalu pengakuan dari adik-adik mereka, Annabell dan Andros, yang mengatakan kalau sekarang mereka juga telah menjadi pasangan kekasih. Para ibu begitu bahagia mendengar berita itu yang membuat para ayah hanya bisa diam dan setuju.

"Haaah...sebaiknya kita cepat masuk ke dalam kereta, kalau Mum dan Aunt Cissy sudah ngobrol bisa panjang ceritanya," kata Annabell Potter sambil menarik tangan kakaknya.

"Yup...aku setuju dengan mu, Bell," kata Draco. Lalu mereka berempat berpamitan pada para orang tua.

"Kemarikan tas mu," kata Draco pada Harry, "apa saja yang kau bawa? Sepertinya berat sekali."

"Tenang saja, aku tak membawa 'Troll' di dalamnya," gurau Harry sambil nyengir, dan ketiga yang lain pun tertawa.

Para orang tua melihat mereka dengan melongo, Bell, Harry dan Andros sih sudah biasa tersenyum dan tertawa, Tapi Draco...? pemuda yang sedingin es seperti ayahnya itu hampir tak pernah memperlihatkan senyumnya pada orang lain, apalagi tertawa.

"Tak kusangka Draco bisa tertawa, apa yang kau lakukan selama ini pada anak itu, Lucius?" tanya James heran pada teman baiknya.

Lucius memandang tajam pada James, "apa maksudmu?" katanya dingin.

James hanya memberikan cengiran lebar pada ayah Draco itu.

.

Setelah penyeleksian asrama untuk murid kelas satu yang baru masuk tahun ini selesai para murid mulai menyantap hidangan makan malam yang telah tersedia di meja panjang masing-masing asrama di aula besar.

"Bagaimana liburanmu, Mate?" tanya Ron pada Harry. "Kalian jadi ke Malfoy Manor?"

Harry melirik sekilas ke arah Andros yang duduk disampingnya dan dia menjadi agak gugup melihat senyum pemuda berambut pirang dan bermata biru yang mirip sekali dengan ibunya itu. Senyum Andros mengingatkan pada kejadian selama mereka di Manor, dan mereka sepakat untuk merahasiakan hubungan Harry dan Draco. Sebenarnya Draco sempat marah besar karena hal itu, dia tak mau menyembunyikan semua dari teman-temannya, tapi sekali lagi Draco takluk dibawah tatapan memohon mata hijau Harry yang seindah emerald.

"Biasa-biasa saja, hanya mungkin suatu saat nanti Andy akan menjadi adik iparku," jawab Harry kalem.

Ron dan Hermione yang mendengar itu langsung membelalakkan matanya, "WHAT...?" teriak mereka bersamaan.

Harry langsung melotot kearah kedua sahabatnya itu supaya diam karena banyak mata yang memandang mereka gara-gara teriakan itu.

"Kau hebat Andy, akhirnya kau bisa mendapatkan si cantik Bell," kata Ron tertawa.

Harry memukul kepala berambut merah itu, "apa maksudmu?"

Hermione tertawa, "come on, Harry...Bell sudah besar, jangan kau ikat terus adikmu itu."

Harry diam saja, karena selama liburan kemarin Draco juga selalu mengomeli Harry masalah keposesifannya terhadap Annabell. Mau bagaimana lagi, harry memang sangat menyayangi adiknya yang cantik itu. adiknya yang setengah cerewet tapi sangat perhatian, sifatnya dan wajahnya benar-benar seperti duplikat ibunya.

"Lalu bagaimana dengan kau dan Draco?" tanya Hermione tiba-tiba.

Harry tersedak oleh pertanyaan sahabat perempuannya itu, "a-apa maksudmu, Mione?"

Hermione memandang Harry dengan tatapan menyelidik, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Harry, "maksudku...selama di Manor apa kalian juga tak berhenti bertengkar?"

Harry berusaha menutupi kegugupannya tapi wajahnya yang memerah justru semakin menarik perhatian Hermione, "mmmh...kami baik-baik saja," lalu dia meneguk habis jus labunya.

Hermione menyeringai kecil dan melirik ke arah Andros yang juga sedang melihatnya, dan dari senyuman adik Draco itu Hermione semakin yakin kalau dugaannya tidak salah, 'biarkan sajalah, biar nanti Harry yang menceritakan sendiri', batin gadis berambut coklat itu.

Harry melirik ke meja Slytherin, dia tersenyum geli melihat adiknya duduk begitu dekat dengan Draco, sebelum kembali ke sekolah Bell mengatakan pada Harry kalau dia akan menjaga Draco dari gangguan Pansy Parkinson, dan sepertinya Draco tak keberatan dengan itu.

Jantung Harry bergetar saat tiba-tiba Draco melihat kearahnya, senyum tipis tergambar di bibirnya. Harry langsung menundukkan wajahnya, dia tak mau ada yang tahu akan perasaannya saat ini, tapi dia salah, dari tadi Hermione memperhatikan tingkahnya.

.

Koridor tampak sepi dan tidak begitu terang, Harry berjalan sendiri menyusuri lorong panjang itu menuju ke asramanya. Dia baru saja dari kantor McGonagall untuk membahas masalah tim Quidditch Gryffindor. Kelas tujuh akan meyerahkan posisi mereka kepada kelas junior dikarenakan mereka akan segera menghadapi ujian akhir untuk kelulusan.

Lewat di depan salah satu kelas kosong di samping kelas transfigurasi tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan menyeretnya masuk ke kelas itu. hampir saja dia menyerang orang itu dengan tongkatnya kalau saja sosok itu tak segera bicara.

"Harry, ini aku," katanya.

"Draco...apa-apaan kau," bentak Harry pelan setelah kagetnya hilang.

Draco menyeringai, kedua lengannya mengurung Harry ke tembok batu di belakangnya, "aku merindukanmu," bisiknya.

Harry tersenyum dan wajahnya sedikit merona, "baru juga seminggu kita masuk sekolah," godanya.

"Dan itu seperti seabad untukku," desis Draco di telinga Harry.

Jantung Harry melompat tidak karuan, selalu begitu setiap kali dia bersama dengan Draco.

Satu lengan Draco memeluk pinggang Harry, dan satunya lagi menyanggah badannya di tembok batu di samping kepala Harry, "give me one kiss," bisiknya.

Harry tersenyum dan mengalungkan lengannya di leher Draco, bibirnya bertemu dengan bibir Draco yang langsung memagutnya dengan dalam. Tanpa meminta ijin lidah Draco menerobos masuk dan membelai rongga mulutnya. Harry mengerang pelan menahan luapan perasaannya yang membuncah. Sebenarnya dia juga sangat merindukan pemuda berambut pirang ini, ingin rasanya dia menghabiskan seluruh waktunya bersama Draco seperti saat di Manor dulu.

Tubuhnya bergetar saat ciuman Draco beralih ke lehernya, kembali dia mengerang saat Draco menghisap lekuk lehernya, dia yakin setelah ini pasti akan ada tanda merah muncul disana.

"Aku tak ingin menghentikan ini, Harry," desah Draco di leher Harry.

Harry tertawa pelan, "jangan nekad, Draco," katanya parau. Tubuhnya kembali bergetar saat Draco mengusap pinggangnya dari balik kemejanya yang –entah sejak kapan- telah disingkap Draco. "D-Draco...stop it," erang Harry.

Draco terkekeh dan memandang mata hijau Harry, "kau juga menginginkannya," godanya.

Harry tertawa kecil sambil mendorong tubuh Draco menjauh, "tapi aku masih bisa menahannya, Mr. Malfoy."

"Lalu bagaimana denganku?" tanya Draco setengah kesal.

Kali ini Harry tergelak melihat wajah sebal Draco, dia memeluk pinggang pemuda itu erat berusaha merayunya.

Draco balas melingkarkan lengannya di bahu Harry, dia menghela nafas panjang, "Harry, sampai kapan mau kau sembunyikan ini?"

"Beri aku waktu, Draco. Tidak akan lama, aku janji," bisik Harry.

Draco memeluk pundak Harry erat sebelum melepaskannya, "baiklah," katanya kemudian, "jangan buat aku semakin jengkel karena hanya bisa melihatmu dari jauh saja."

"Bukannya itu akan menjadi tantangan tersendiri untuk kita, Mr. Malfoy?" goda Harry.

Draco menatap tajam pada Harry, "sekali lagi kau bicara seperti itu maka kau akan tahu bagaimana rasa tantangan yang sebenarnya, seperti...bercinta di dalam kelas misalnya?" balas Draco menyeringai.

Harry tersenyum pada Draco lalu dia mencium lembut bibir pemuda bermata abu-abu itu, "aku pun ingin tahu rasanya, Draco. Tapi mungkin lain kali. G'nite love," katanya pelan dan meninggalkan Draco sendiri di ruang kelas yang kosong itu.

Draco melongo menatap punggung Harry, 'sejak kapan dia jadi berani seperti itu?' tanya Draco dalam Hati.

.

Draco duduk sendiri di halaman samping kastil, dua bulan telah berlalu dan sampai saat ini dia belum mendapat ijin dari Harry untuk 'mengumumkan' hubungan mereka pada orang lain, bahkan pada sahabat-sahabat mereka sendiri. Draco semakin tidak sabar, dia ingin selalu bisa berada disisi pemuda yang telah menawan hatinya tersebut. Dia ingin bisa memeluk Harry kapan pun dia mau. Tapi yang membuat Draco heran kenapa Harry sepertinya tenang-tenang saja? Apa mungkin perasaan Harry sekarang telah berubah?

"Drakieee..."

Teriakan Pansy membuyarkan lamunannya, dia memandang sebal pada gadis itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Melamunkan apa, Drakie honey?" tanya Pansy manja. Dia duduk merapat pada Draco dan memeluk lengan pengeran Slytherin itu.

Draco mengibaskan tangannya, "bukan urusanmu," jawabnya dingin.

"Oh come on, Drakie..." rengek Pansy.

"Draco..."

Draco melihat Annabell berjalan mendekatinya.

"Yes, Bell?"

Pansy melotot mendengar Draco memanggil gadis itu dengan lembut. Dia selalu merasa kesal pada Annabell karena gadis itu selalu bisa menarik perhatian para murid dan guru. Tak ada gadis yang tak iri pada Annabell, selain dia cantik otaknya juga cemerlang.

"Aku mau bicara, kau bisa ikut denganku?" pinta Bell pada Draco.

"Kau tak lihat ya? Draco sedang bersamaku sekarang. Jangan merasa yakin kalau Drakie mau menurutimu, nona sok terkenal," bentak Pansy.

Draco berdiri dari duduknya, "ayo, Bell."

Annabell memandang Pansy dengan pandangan menang, dan dia semakin senang melihat Pansy seperti kebakaran jenggot saat Draco berjalan sambil merangkul pundaknya. "Rasakan kau," gerutu Annabell.

Draco tertawa disamping gadis itu. dia sudah menganggap Annabell sebagai keluarganya jadi karena itulah dia tak perlu sungkan menunjukkan rasa sayangnya pada kekasih adiknya itu.

Tapi Draco tak sadar kalau semua mata akhirnya menjadikan pemandangan itu sebagai bumbu penyedap gosip panas yang beredar akhir-akhir ini.

"Ada apa?" tanya Draco saat mereka telah memisahkan diri dari keramaian.

"Aku tadi bertengkar dengan Harry," jawab Annabell cemberut.

Draco memandang heran pada gadis itu, "bertengkar? Kau dan kakakmu? Kenapa?" tanya Draco. Karena tak biasanya kakak beradik yang selalu rukun itu bertengkar, apalagi Harry yang sangat menyayangi adik perempuannya ini.

Annabell melipat tangannya di depan dada dengan kesal, "aku hanya kesal pada dia, kenapa dia terus menyembunyikan hubungan kalian?"

Draco tertawa, "kenapa kau yang kesal? Harusnya kan aku?" jawab Draco enteng.

Annabell mendelik pada kakak kekasihnya itu, "jelas saja aku kesal, gara-gara hubungan kalian tersembunyi jadinya aku dijadikan gosip bulan-bulanan oleh semua murid."

"Gosip?" tanya Draco heran.

Annabell mendengus kesal, "masa kau tak dengar? Kita digosipkan pacaran, Draco!"

Draco melongo, "haaah...?"

"Itu karena kita sering terlihat bersama," kata gadis berambut merah itu sambil menghentakkan kakinya dengan kesal ke tanah.

"Ya kan karena kau memang kekasih adikku? Lagi pula kita satu asrama," kata Draco bingung.

"Kau ini...uuuugh aku kesal tahu! Hubunganku dengan Andy tertutup oleh gosip yang lebih panas tentang kita. Seenaknya saja mereka bilang aku cewek serakah yang mau memonopoli kakak beradik Malfoy," jelas Annabell setengah menangis.

Draco tertawa dan mengusap rambut adik dari pemuda yang dicintainya tersebut.

"Bell..." panggil Andros yang berlari kearah mereka. "Kau tak apa-apa?" tanya pemuda itu cemas pada kekasihnya.

Annabell hanya mengangguk pelan.

"Kau apakan dia, kak?" tuduh Andros pada kakaknya.

Draco memukul pelan kepala adiknya itu, "apa maksudmu?" tanyanya tajam.

Pemuda yang sama tingginya dengan Draco itu pun mengusap kepalanya sambil nyengir. Dia terkejut saat tiba-tiba Annabell memeluknya dan terisak pelan. Andros menarik nafas panjang lalu memeluk pundak kekasihnya yang terguncang itu, "Sudahlah, Bell, aku sudah mendengar gosipnya, biarkan saja," kata Andros menenangkan.

"Aku akan bicara pada Harry," kata Draco,lalu dia meninggalkan sepasang kekasih itu.

.

Draco berjalan menyusuri koridor kastil, mencari keberadaan Harry. Dan akhirnya dia menemukan pemuda berambut hitam berantakan itu baru keluar dari perpustakaan bersama Ron dan Hermione.

"Potter…" panggilnya. Di depan umum mereka masih saling memanggil nama belakang agar orang lain tak tahu tentang hubungan mereka.

Harry menoleh ke asal suara yang memanggilnya, dan jantungnya bergetar halus melihat sorot mata abu-abu itu, "Malfoy, ada apa?" tanyanya pelan.

"Aku perlu bicara denganmu, kalau kau tak keberatan," jawab Draco datar.

Harry tampak berpikir sebentar, dia bingung melihat sorot mata Draco yang sepertinya agak marah itu, "baiklah."

Setelah berpamitan kepada kedua sahabatnya dia lalu mengikuti langkah Draco yang ternyata menuju ke menara astronomi.

"Draco, ada apa?" tanyanya bingung setelah mereka masuk ke dalam menara yang kosong itu.

Draco menghela nafanya dengan keras, "sampai berapa lama lagi kau suruh aku menunggu?"

"A-apa maksudmu?" tanya Harry tak mengerti.

Draco berdiri membelakangi Harry, bersandar pada sisi jendela besar dan melempar arah pandangnya ke danau yang tampak jelas dari menara tertinggi di Hogwarts itu. "Hubungan kita, kau masih ingin terus seperti ini sampai kapan?"

"Draco…aku hanya minta sedikit waktu,"

"Butuh waktu berapa lama lagi, Harry?" potong Draco ketus.

Harry hanya bisa diam kalau kekasihnya itu sudah mulai emosi. Dia melangkah mendekati Draco, tapi Draco tak juga menoleh kepadanya. Akhirnya Harry duduk di bingkai jendela besar itu, didepan Draco yang berdiri bersandar disana. "Maafkan aku," katanya akhirnya.

Draco mendengus kesal, "aku meminta kepastian dan kau menjawab itu padaku?"

Harry tahu kalau saat ini Draco begitu marah padanya, "kuharap kau bisa sedikit mengerti aku, Draco."

"Hanya kau kah yang ingin dimengerti?" tanya Draco dingin.

"Draco, aku…" Harry kehilangan kata-katanya.

Draco menatap mata hijau Harry, "aku melihatnya, Harry. Aku melihat adik sahabatmu itu yang akhir-akhir ini selalu mendekatimu. Apa gara-gara Ginny Weasley itu kau tak ingin orang lain tahu tentang kita?"

Harry terkejut, mata hijaunya terbuka lebar, "Ginny? Apa hubungannya dengan Ginny?"

Draco masih menatap tajam mata itu, "aku menahan diri sekuat tenaga untuk tidak berteriak pada gadis itu supaya menjauhimu, Harry. Kau tak tahu bagaimana aku menahan hatiku setiap melihatmu barada di dekatku, di dalam kelas, di aula besar dan dimanapun aku melihatmu…kau tak pernah tahu itu," desisnya menahan amarah.

"Draco…aku tahu bagaimana…"

"Tidak, Harry, kau tak akan tahu bagaimana aku merasa menjadi bodoh saat melihatmu tertawa bahagia di sisi sahabat-sahabatmu sedangkan aku hanya bisa melihatmu dengan penuh rindu dan kesal." Potong Draco lagi. "Apa rasa itu sudah hilang dari hatimu?"

Mata hijau itu terlihat terluka, dia tak menyangka kalau Draco akan bicara seperti itu, "Draco…bagaimana aku bisa kehilangan rasa itu kalau hatiku saja tak bisa merasakan hal lain selain rasaku untukmu?" bisik Harry. "Aku hanya ingin kau memberiku kesempatan untuk menjelaskan ini kepada teman-teman kita, aku tak mau mereka terkejut dan memandang kita dengan pandangan lain lalu meninggalkan kita."

Kata-kata Harry seakan mengiris jantung Draco, "maksudmu kau malu tentang hubungan kita?" tanya Draco tajam. "Kalau kau tak ingin teman-temanmu meninggalkanmu lebih baik aku saja yang menjauh, itu kan maumu?"

Harry terkejut dan berdiri menghadap Draco, tangannya memegang kedua tangan Draco yang terkepal kaku disamping tubuhnya, "tidak, Draco…jangan berkata seperti itu, aku…" lagi-lagi lidah Harry terasa kelu.

Draco melepaskan tangan Harry dengan halus, "sudahlah, terserah kau saja, aku akan menjauh karena aku hanya ingin membuatmu tenang, jangan pikirkan apa-apa lagi," kata Draco lalu dia berbalik dan melangkah meninggalkan Harry di ruangan bundar itu.

Pintu kayu yang tertutup berdebam seakan seperti suara letusan meriam di jantung Harry, ingin rasanya dia mengejar Draco dan memeluknya meminta maaf karena telah membuatnya terluka begitu dalam, tapi kakinya hanya berdiri kaku ditempatnya.

.

"Draco…kau benar-benar akan meninggalkannya?" tanya Bell pelan di ruang rekreasi Slytherin. Mereka duduk berdua di sudut ruangan. Tak peduli pada pandangan murid-murid laki-laki ataupun perempuan yang memandang iri pada mereka.

Draco mengusap wajahnya yang terlihat semakin pucat, lalu menyandarkan punggungnya dengan kesal disandaran sofa, "dia yang meninggalkanku, Bell," jawab Draco putus asa. Benar-benar bukan sifat seorang Malfoy sampai terlihat lembek seperti ini, apalagi didepan orang lain.

Annabell berpindah duduk di samping Draco dan mengusap lengannya, "tak mungkin, Draco. Kakak benar-benar mencintaimu, hanya saja mungkin dia terlalu bodoh dalam mengambil sikap," kata gadis itu. "Dan masalah Ginny…aku tak yakin tentang itu, memang sih akhir-akhir ini mereka lebih dekat tapi mungkin bukan dalam arti yang kau pikirkan."

Draco tersenyum kecut, "mungkin yang bodoh itu aku, aku tak bisa lagi mengendalikan hatiku. Aku terlalu egois dan aku takut itu justru akan menyakitinya."

"Bukankah dalam suatu hubungan memang tak bisa lepas dari rasa egois? Aku pikir itu wajar, Draco," kata Annabell lagi. "Sebaiknya kau bicarakan lagi hal ini dengan Harry."

Draco tersenyum kecil pada gadis cantik itu, "sudahlah biarkan saja, aku tak ingin memaksanya lagi. Aku mau ke kamar saja, g'nite Bell," pamit Draco sambil mengusap lembut rambut adik kekasihnya itu sebelum melangkah ke kamar.

.

Harry memandang bulan yang bersinar keperakan dari tempatnya duduk di halaman belakang kastil, dia melamunkan Draco. Hatinya masih sakit akibat perkataan Draco padanya, 'mungkinkah Draco akan benar-benar meninggalkanku?', batin Harry.

"Ada sesuatu, Harry?" tanya suara dibelakangnya.

Harry menoleh dan mendapati Severus Snape -guru ramuannya, sahabat ibunya dan ayah baptis adiknya- sudah berdiri di belakangnya.

"Uncle Sev…" sapanya. Saat pelajaran dan di depan umum Harry dan Annabell selalu memanggil guru paling angker di Hogwarts tersebut dengan panggilan 'Sir', tapi saat sedang sendiri mereka akan memanggilnya dengan panggilan kesayangan mereka, 'uncle' untuk Harry dan 'Daddy' untuk Bell. Dibalik raut wajah dingin guru ramuan itu hanya Harry, Bell, Draco dan Andros saja yang tahu betapa baik dan perhatiannya sosok yang selalu memakai pakaian serba hitam itu.

Severus duduk di samping anak dari wanita yang pernah dicintainya itu, "kenapa kau disini sendiri?"

"Aku…tak ada apa-apa." Jawabnya lalu mengalihkan wajahnya dari pria disampingnya itu.

Severus tahu kalau Harry sedang berbohong, tapi dia tak ingin memaksa. "Ibu dan Ayahmu, juga Lucius dan Cissy telah menceritakan semua padaku."

"Tentang apa?" tanya Harry.

"Tentang hubungan Bell dan Andy, juga hubunganmu dengan Draco," jawab Severus datar.

Harry terkejut sampai tak bisa berkata apa-apa.

Severus terkekeh pelan, "tadi Bell juga mengoceh banyak di ruanganku, dia cerita tentang masalahmu dengan draco saat ini."

"Dasar biang gosip," gerutu Harry.

"Kadang kau itu terlalu keras kepala, mirip ibumu. Tapi kau juga kadang tidak berpikir panjang ke depan, mirip ayahmu yang sembrono itu," kata Severus.

Harry menghela nafas panjang, dia benar-benar tak bisa berbohong di depan pria ini, "menurut uncle Sev apa aku salah kalau terlalu memikirkan perasaan sahabat-sahabatku?" tanya Harry. "Aku takut mereka meninggalkan aku."

Severus memandang mata hijau Harry yang didapatnya dari Lily, wanita yang pernah membuatnya tergila-gila karena sorot matanya itu, yang kini menurun pada putranya, "kalau mereka memang sahabatmu, maka mereka akan mau menerimamu apa adanya, bahkan menerima bagian terburukmu sekalipun," jelasnya. "Dan kalau kau yakin pada hatimu maka kau akan mendapatkan keduanya, Draco…juga sahabat-sahabatmu."

Harry terkesiap, 'Severus benar, aku bisa mendapatkan keduanya', batin Harry. "Thanks Uncle Sev," kata Harry tersenyum.

Severus menepuk punggung pemuda itu, "tidurlah, sudah hampir jam malam."

Harry beranjak dari duduknya, hatinya begitu lega sekarang, "G,nite uncle," pamitnya, dan melangkah pergi setelah mendapat balasan dari Severus. 'Besok aku akan bicara pada Draco', batinnya.

.

Tapi apa yang dibayangkan Harry begitu jauh dari kenyataan, pagi ini Draco sama sekali tak memandang kearahnya, bahkan pada saat makan di aula besar, dimana biasanya mereka selalu melempar pandang dan senyum. Di dalam kelas pun Draco memilih datang belakangan dan mencari tempat duduk yang jauh dari Harry.

Tidak hanya Harry yang bingung, Ron, Hermione, Blaise dan Theo pun memandang heran pada keduanya. Memang sih biasanya mereka berdua itu tak pernah akrab tapi akhir-akhir ini sepertinya pertengkaran mereka mereda, bahkan mereka berempat tak pernah lagi melihat mereka saling melemparkan pandangan permusuhan seperti saat sebelum liburan akhir semester kemarin. Tapi kali ini lebih parah, mereka melihat Draco menghindari Harry, bahkan terkesan tak pernah mengenal pemuda berkaca mata itu. Dan Harry yang biasanya selalu tersenyum itu kali ini tampak lebih menutup diri.

.

"Malfoy…" panggil Harry saat dia melihat Draco yang sedang membaca buku di perpustakaan bersama Blaise dan Theo.

Draco mendongakkan kepalanya, "yes, Potter?" jawabnya datar.

"A-aku ingin bicara denganmu," kata Harry.

Draco kembali membaca bukunya yang terbuka dari tadi, "aku sedang berusaha mengerjakan essayku, mungkin lain kali saja, Potter," jawab Draco acuh.

Harry terpaku di tempatnya berdiri.

Draco mendongakkan kepalanya lagi dan begitu menyesal melihat luka di mata hijau itu, ingin rasanya dia memeluk Harry tapi tak ingin membuat pemuda itu malu.

"Baiklah…" jawab Harry parau lalu meninggalkan pemuda itu bersama teman-temannya.

Blaise dan Theo saling melempar pandang, mereka bingung melihat luka dimata kedua pemuda itu. Blaise hanya mengangkat bahu melihat pertanyaan dimata Theo.

Draco menutup bukunya dengan kesal, dia tak punya keinginan lagi untuk membaca ataupun mengerjakan essaynya. Dia merasa begitu bersalah telah membuat mata emerald itu menyorot sedih. Dia mengusap wajahnya dan meremas rambut pirangnya yang halus. "Uuuuugh…" erangnya pelan.

"Kau baik-baik saja, Draco?" tanya Theo hati-hati.

"Tidak," jawab draco singkat.

"Ada apa?" tanya Blaise kali ini.

Draco menghela nafasnya, dia memang berjanji pada Harry untuk tidak membongkar hubungan mereka tapi dia sudah tak tahan lagi, "aku dan Harry memiliki hubungan khusus," jawabnya pelan.

"WHAT…?" teriak Theo. Blaise langsung membungkam mulut pemuda berkulit putih itu dengan tangannya setelah mereka mendapat pelototan dari seisi perpustakaan dan madam Pince.

"Maksudmu…kau dan Harry berpacaran?" tanya Blaise setelah rasa terkejutnya dan Theo menghilang.

"Ya," jawab Draco. "Entah kalau sekarang."

"Kalian sudah putus?" tanya Theo pelan.

Draco menatap kedua temannya yang duduk di depannya itu, "aku sendiri juga tak tahu. Dia masih tak mau mengakui hubungan kami, dan beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk menjauhinya."

"Kenapa?" tanya Blaise.

"Karena aku tak mau membuatnya bingung," desah Draco.

Blaise menatap tajam kepada pangeran Slytherin yang terkenal dingin itu, tak biasanya dia mau mengalah kepada orang lain, selama ini keinginannya adalah perintah. Tapi kali ini dia melihat Draco yang dulu tampak begitu berbeda dengan Draco yang penuh perhatian dan lembut yang duduk di depannya sekarang.

"A-aku pikir kau jadian dengan Bell. Tapi aku juga mendengar kalau Bell jadian dengan Andy," kata Theo.

"Bell adalah kekasih Andy, selama ini dia dekat denganku karena dia ingin menghiburku yang selalu kesal karena ulah kakaknya," jawab Draco.

Mereka terdiam cukup lama, ketiganya tenggelam dalam pikiran masing-masing.

.

Menjelang sore mereka meninggalkan perpustakaan, mereka berjalan di sepanjang koridor masih dengan terdiam.

"DRACOOO…" teriak sebuah suara.

Draco melihat kebelakang dan melihat adiknya berlari kearahnya, "Andy? Ada apa? Kenapa kau panik begitu?" tanya Draco setelah Andros berhenti di dekatnya dengan nafas tersengal.

Andros berusaha mengatur nafasnya, "Harry…"

Wajah Draco memucat, tangannya mencengkeram lengan adiknya, "ada apa dengan Harry?" tanyanya cepat.

Andros menatap mata abu-abu kakaknya yang sekarang terlihat sangat cemas, "Harry terjatuh dari sapunya di ketinggian yang lumayan saat latihan Quidditch, beberapa tulangnya patah dan sekarang dia ada di Hospital Wing," jelas andy.

Andros bahkan belum berkedip saat kakaknya mendorong tubuhnya dan berlari dengan kencang ke rumah sakit sekolah. Mereka bertiga lalu mengikuti Draco yang sudah menghilang dari pandangan.

.

Ron, Hermione, Ginny dan Annabell tampak duduk dengan cemas di luar pintu masuk Hospital Wing. Annabel bahkan terisak sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya. Draco berlari menghampiri mereka dengan wajahnya yang sepucat mayat.

"Bell, bagaimana Harry?" tanya Draco.

Annabell mengangkat wajahnya dan menggeleng pelan, "madam Pomfrey dan Daddy Sev sedang memeriksanya," katanya sambil terisak.

Andros yang telah menyusul kakaknya bersama Blaise dan Theo langsung memeluk kekasihnya itu, "jangan menangis, Bell, Harry pasti baik-baik saja," katanya menenangkan gadis itu sambil mengusap lembut rambut merahnya.

Bell masih terisak di dada Andros.

"Kenapa seeker sehebat Harry bisa jatuh dari sapunya?" tanya Blaise pada Ron.

Ron memandang pemuda Slytherin berkulit gelap itu, "entahlah, dari awal latihan aku lihat dia sudah tidak konsentrasi. Dia terlihat bingung dan kacau, wajahnya pun terlihat pucat."

"Aku sudah menanyakan padanya apa dia baik-baik saja dan dia jawab tak ada masalah, akhirnya latihan kami lanjutkan," terang Ginny kali ini.

Draco memandang kesal pada Ginny.

"Terakhir aku lihat dia bicara denganmu di perpustakaan kan Draco? Apa yang kau katakan padanya?" tuduh Ginny keras.

"APA YANG KAU TAHU TENTANG KAMI?" bentak Draco pada Ginny.

"Hei...jaga emosimu, Malfoy," kata Ron sambil berdiri di depan adiknya. "Jika memang perkataan Ginny benar kalau kau telah mengatakan sesuatu pada Harry yang berakibat merusak konsentrasinya, berarti ini salahmu. Jadi...kau tak punya alasan berada disini."

Hampir saja Draco memukul Ron kalau Blaise tidak segera menahannya.

"Cukup, kalian tidak berhak berkata begitu pada Draco," bela Annabell.

Ron menatap gadis itu heran, "dia menyakiti kakakmu, Bell."

"Tidak, tidak ada yang menyakiti dan disakiti, mereka..."

Kata-kata Annabell terpotong oleh bunyi pintu rumah sakit yang terbuka, muncullah Severus dari dalamnya dan menatap tajam pada semua yang berada disitu.

Annabel menghambur ke pelukan ayah baptisnya, "Daddy Sev, bagaimana Harry?" isaknya.

Severus mengusap lembut rambut gadis itu, "dia masih pingsan dan belum sadar, benturan di kepalanya cukup keras, tapi bisa kupastikan tak ada yang serius. Tulang yang patah pun telah disambung lagi oleh Poppy."

"Boleh kami melihatnya?" pinta Annabell.

"Masuklah, tapi jangan ribut dan tidak terlalu lama," kata Severus.

Mereka pun masuk ke ruangan itu dan mendapati Harry terbaring pucat di salah satu ranjang rumah sakit yang berwarna putih.

Semua mata terpaku pada sosok Draco yang menggenggam lembut tangan Harry. Pemuda pirang yang terkenal dingin itu duduk di kursi disamping ranjang. Dia menangkupkan telapak tangan Harry di pipinya, dan yang sangat mengejutkan mereka melihat setetes air sebening kristal mengalir di pipi pucatnya. Seorang Malfoy menangis, itu hal yang mustahil untuk mereka, tapi kenyataan di depan mata membuat mereka berpikir, ada sesuatu antara Harry dan Draco, sesuatu yang kuat dan dalam.

"Bangunlah Harry, maafkan aku," bisiknya parau.

Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing, tak ada yang bicara, hanya kesunyian yang menyelimuti kamar itu.

"Kalian kembalilah ke asrama masing-masing," perintah Severus.

Semua mengangguk.

"Ijinkan aku disini, Sev," pinta Draco pada sahabat dekat ayahnya itu. "Lagipula besok hari sabtu kan?"

Severus tidak segera menjawab, dia menatap tajam mata Draco dan mendapati kecemasan yang luar biasa disana, "baiklah," putusnya.

"Dad...aku juga ya?" rengek Annabell.

Severus memeluk pundak anak baptisnya itu, "tidak sayang, kau harus kembali ke asramamu. Sudah ada Draco yang menjaga disini."

Akhirnya semua pun meninggalkan Draco dan Harry diruangan itu.

.

Harry mengerjapkan matanya. Pandangannya begitu kabur, tapi warna putih ruangan ini sudah menjadi petunjuk kalau dia ada di hospital wing. Dia mengerang pelan merasakan sakit disekujur tubuhnya.

"Harry...kau sudah sadar?"

Harry terkejut mendapati Draco duduk disampingnya, "Draco..." panggilnya lirih.

"Yes Harry, i'm here..." bisik Draco sambil memasangkan kacamata pemuda itu.

Harry memandang ke sekeliling, cuma ada Draco disitu.

"Ini masih tengah malam, tadi semua menungguimu disini dan mereka telah kembali ke asrama masing-masing," jelas Draco seakan tahu arti pandangan Harry.

Harry memandang Draco seakan tak percaya pemuda yang telah mengurung hatinya dalam sangkar emas terindah dan yang beberapa hari ini begitu marah padanya itu ada disini menemaninya. Harry menyentuh halus pipi Draco, "kau mau memaafkanku?" bisiknya.

Draco mengecup lembut telapak tangan Harry, "kau membuatku kena serangan jantung mendadak saat Andros mengabariku berita ini."

"Kau masih peduli padaku?" bisik Harry lagi.

Draco bangkit dari duduknya dan duduk disisi ranjang, satu tangannya menyeberang perut Harry. Dia membungkukkan badannya untuk mencium bibir yang sangat dirindukannya itu.

Harry mengerang pelan merasakan sensasi indah yang telah lama tak di dapatkannya. Satu tangannya memeluk leher Draco, dia tak ingin kekasihnya itu menjauh.

Bibir Draco terus menekan bibir Harry, melumatnya sedemikian rupa, melepaskan semua kerinduan yang begitu menyesak. Draco mengakhiri ciumannya sebentar hanya untuk menarik nafas dan berkata "aku merindukanmu, Harry." Lalu bibirnya kembali mencium bibir Harry yang tersenyum mendengar perkataan Draco. Ciuman mereka semakin terasa panas dan liar, bahkan bibir Draco kini telah berpindah ke leher Harry.

Tubuh Harry bergetar nikmat merasakan sensasi yang diciptakan bibir Draco pada lehernya, "Draco...aku mungkin tak akan bisa menolak kalau kau terus melakukan itu," erang Harry.

"Tidak, Harry, tidak sekarang," bisik Draco lembut.

"Tapi aku sangat merindukanmu, Draco, please," pinta Harry.

Draco menatap mata hijau yang bersinar dengan indah itu, "kau yakin?" tanyanya.

Harry tersenyum, "yes Draco, aku tak mau kehilanganmu lagi."

"Tak akan Harry, tak akan pernah," jawab Draco. Lalu pemuda itu kembali mencium bibir Harry yang setengah terbuka, memasukkan lidahnya ke rongga mulut Harry dan kembali membelainya dengan lembut.

Harry mengalungkan lengannya lebih erat ke leher Draco, dia mencium rakus bibir kekasihnya itu. Erangan kecil keluar dari bibirnya saat Draco mencium dadanya yang telah terbuka separuh dan menemukan satu titik sensitif disana, "Draco..." desah Harry.

Draco menatap mata hijau itu, tangannya masuk ke dalam selimut Harry dan mendapati reaksi tubuh Harry akibat sentuhannya. Tanpa membuka piyamanya Draco pun meraih bukti keinginan Harry akan dia.

Harry membelalakkan matanya dan sedikit mengejang saat Draco menyentuh dan memijatnya dengan begitu lembut, nafasnya tersengal, "D-Draco..." erangnya. Tangannya mencengkeram erat lengan Draco.

Draco mengerti dan bisa merasakan kalau Harry akan segera mencapai gelombang tertingginya, maka dia pun mencium lembut bibir Harry, menyapa lidahnya dengan sebuah belaian yang menggoda. Bibirnya mencium Harry semakin dalam dan panas.

Erangan Harry tertahan oleh bibir Draco saat dia merasakan tubuhnya meledak dan tenggelam dalam pusaran gairah yang memabukkan. Tubuhnya bergetar hebat saat tangan Draco membelainya dan membiarkannya meluapkan semua kerinduannya.

Draco memeluk Harry saat tubuhnya sudah kembali tenang, dia ayunkan tongkatnya untuk membersihkan tubuh pemuda itu.

"Draco," bisik Harry.

"Yes love," jawabnya lembut.

"Bagaimana denganmu?" Tanya Harry dengan wajah yang memerah.

"Tidak sekarang, Harry. Saat ini hanya untukmu, " bisik Draco sambil mengecup bibir Harry lembut. "Tubuhmu tak terasa semakin sakit?" tanya Draco cemas.

Harry tersenyum dan menggeleng pelan, "thanks Draco."

Draco tertawa, "tidurlah, kau butuh istirahat, aku akan menemanimu," bisik Draco setelah dia mengecup lembut bibir Harry. Dia kembali duduk di kursi sebelah ranjang.

"Kau tak mau memelukku sampai pagi?" goda Harry.

"Jangan terus mengundangku, Mr. Potter. Akan ku penuhi saat kau keluar dari ruangan ini," jawab Draco terkekeh.

Harry tersenyum, lalu dia memejamkan matanya. Genggaman tangan Draco membawanya pada suatu mimpi yang indah.

.

"Kenapa kalian tak menceritakan pada kami tentang hubungan kalian?" tanya Hermione esok paginya disaat dia menjenguk Harry bersama yang lain.

"Maaf, ini salahku. Aku hanya terlalu takut menghadapi reaksi kalian," jawab Harry.

"Dasar bodoh, kita telah bersama selama tujuh tahun, waktu selama itu apa belum cukup untuk membuktikan persahabatan kita?" omel Hermione.

"Maaf," kata Harry lagi.

"Ya sudahlah, berjanjilah tak akan menyembunyikan apa-apa lagi pada kami," ancam Hermione.

Harry tersenyum dan menggenggam tangan sahabat perempuannya itu, "thanks, Mione."

Annabell mendekati kakaknya dan mencium pipinya, "aku bahagia untukmu, Harry. Tapi siap-siap saja sebentar lagi Mum dan Dad akan datang untuk menjengukmu," kata Bell menyeringai.

"WHAT...?" teriak Harry. "Bell, aku tahu kau masih marah padaku gara-gara gosip yang menyerangmu itu, tapi kan tak perlu mengabari Mum dan Dad tentang ini, aku sudah terbiasa terluka sejak dulu," omel Harry pada adiknya.

"Karena kau memang sangat ceroboh, Son." terdengar suara dari pintu masuk.

Semua kepala menoleh dan tampaklah empat orang dewasa berjalan masuk, ternyata Lucius dan Narcissa Malfoy pun ikut menjenguk.

Setelah semua memberi salam diruangan itupun kemudian hanya tersisa keluarga Potter dan keluarga Malfoy saja.

"Bagaimana keadaanmu, Harry?" tanya Lily cemas kepada putranya itu.

"Sudah lebih baik, Mum." jawab Harry.

"Bagian mana saja yang patah?" tanya James menggoda anaknya, dan semua yang mendengar itu tertawa, kecuali Lucius tentu saja.

"Dan apa yang kau perbuat pada adikmu sampai dia dijadikan gosip panas disini?" tanya Lily lagi. "Kau itu, kau bilang kau sudah siap menerima segala resiko tentang hubungan kalian?"

"Sudahlah aunt Lily, yang penting sekarang semua sudah jelas," bela Draco.

Ternyata pembelaannya itu mendapat balasan tawa terkikik dari para perempuan di ruang itu. Ini sesuatu yang langka bisa melihat sifat Draco yang lembut dan hangat.

Kedua keluarga itu pun berbincang dengan seru, ditambah lagi dengan kehadiran Severus diruangan itu yang membawakan sebuah ramuan untuk Harry.

"Apa yang akan kau minumkan padanya, Sev?" tanya James.

"Ramuan yang dapat menyempurnakan beberapa tulangnya yang kemarin sempat patah," jawabnya datar. "Kalau saja ramuan ini sudah ditemukan sejak jaman kita sekolah dulu aku yakin yang akan menghabiskan ini adalah ayahmu, Bell."

Semua tertawa mendengar itu.

"Ya ya, si bodoh ini dulu suka sekali menghabiskan waktu bersama Poppy disini," sambung Lucius.

James hanya membalas gurauan mereka dengan cengiran lebar.

"Nyaris seperti Harry ternyata," lanjut Draco.

Dan ruangan itu pun kembali ramai oleh gelak tawa.

Tak lama kemudian masuklah madam Pomfrey ke ruangan itu, dia terkejut mendapati empat orang dewasa yang dulu adalah murid disini, setelah sedikit melepas rindu dia pun akhirnya memeriksa kondisi Harry dengan tongkatnya.

"Sore ini kau sudah bisa kembali ke asramamu, Harry," katanya.

Dan semua yang disana tersenyum lega.

Harry menatap penuh arti pada Draco dan pemuda pirang yang di tatapnya itu pun tersenyum begitu lebar dan mengangguk. Mereka tak peduli pandangan heran dari orang tua, adik dan guru mereka, hanya mereka yang tahu artinya.

"Baiklah, sebelum kita pulang aku ingin mengatakan saat liburan natal nanti aku berharap Harry dan Bell bisa menghabiskannya lagi di Manor, bagaimana Lils, James?" tanya Cissy.

"Terserah mereka saja," jawab Lily

"Kalau begitu sampai jumpa bulan depan, nak," kata James.

Lalu semua orang dewasa itu pun pergi meninggalkan ruangan.

"Ayo Andy, kita juga pergi, mereka pasti ingin berduaan," goda Bell. "Nanti sore ku jemput disini ya," katanya pada Harry lalu mencium lembut pipi kakaknya itu.

"Lalu...kapan 'undangan' itu mulai berlaku, Harry?" tanya Draco menggoda setelah hanya tinggal mereka berdua diruangan putih tersebut.

Harry tertawa, "memangnya kau tak kasihan padaku? Beri aku sedikit waktu."

"Aku benci kata-kata itu, karena setelah ini aku ingin seluruh waktumu untukku," kata Draco setengah mengancam.

"Dasar egois, tapi aku suka itu, Draco," bisik Harry.

Draco pun mencium bibir Harry dengan lembut.

A/N.

Aku ga tau ini dah the end ato Belum, maksud aku sih mau bikin beberapa chapter dimana setiap chapternya tetap tentang Drarry tapi dengan konflik yang berbeda *sok bener padahal masih amatir juga**plak*.

Maap kalau disini lemonnya Cuma di satu pihak aja, aku sedang tak bisa berpikir panjang *Hebat bener kalo disuruh nge-less*, mudah-mudahan berikutnya aku bisa menyuguhkan yang agak asem XP

Makasih banget bagi yang udah bersedia baca n ngeripiu fic ini, maaf kalo masih ada yang kurang.

'Sun-T'