YES OR NO?
Disclaimer : J.K Rowling
Pair : Draco Malfoy – Harry Potter
Rate : M
Genre : Romance
WARNING : No war, OOC, OC
A/N : Official Sequel from 'KEJUJURAN'
"Draco…" panggil sebuah suara.
Draco Malfoy, sang pangeran Slytherin, memutar kepalanya untuk melihat sumber suara yang sudah sangat dia kenal. Senyum mahalnya mengembang saat melihat orang yang sangat special untuknya, "hai, Harry."
"Sedang apa disini sendirian?" tanya Harry Potter, pemuda yang sudah 5 bulan terakhir ini menjadi kekasih Draco.
"Tak apa, hanya menghindari si 'nenek sihir' itu," jawab Draco setelah Harry duduk di sampingnya di undakan tangga batu halaman belakang.
Harry terkekeh, "maksudmu, Pansy?" tanya Harry.
Draco hanya mengangkat bahunya.
"Mmmh…Draco," panggil Harry.
Draco menoleh kepada pemuda yang telah mengikat hatinya itu.
Tak menunggu jawaban Draco Harry pun meneruskan kata-katanya, "keluarga Weasley mengundang kita untuk datang ke pesta tahun baru di the Burrow, bagaimana?" tanyanya.
Draco mengarahkan pandangannya ke depan, "…terserah kau saja," jawabnya datar.
Harry mendengus kesal, "kita tidak akan menginap, kita datang pada tanggal 1 pagi, setelah itu kita bisa pulang."
Draco tetap diam, dia sebenarnya tak ada masalah dengan sahabat Harry yang bernama Ron Weasley ataupun keluarganya, hanya saja adik perempuannya, Ginny, akhir-akhir ini selalu berusaha mendekati Harry, dan Draco tak suka itu. Padahal seisi sekolah sudah tahu kalau mereka tengah menjalin hubungan, tapi tetap saja gadis itu seolah tak peduli. Yah walaupun kadar kenekatannya tak lebih parah dari Pansy yang selalu mengikutinya.
"Draco…" panggil Harry memecah lamunannya.
"…Hanya sebentar, aku tak mau lama-lama disana," kata Draco akhirnya setelah sekali lagi dia kalah oleh tatapan emerald mata Harry.
Harry tersenyum, "thanks," katanya sambil menepuk tangan Draco. "Aku kembali ke asrama dulu ya?" pamitnya.
Tapi sorot mata Draco yang mengancam menghentikan langkahnya, "kau kan bisa bilang dan memintaku menemanimu disini, jangan cuma melotot," dengus Harry kesal karena dia tahu arti tatapan Draco. Lalu pemuda berambut hitam berantakan itu duduk kembali di samping kekasihnya.
"Beberapa bulan lagi kita akan ujian akhir," kata Draco.
"Lalu?" tanya Harry tak mengerti.
Draco memandang kesal ke arah pemuda itu, "ku harap kau tak memecah konsentrasiku dengan hal-hal yang aneh."
Harry mengerutkan keningnya, "hal aneh bagaimana?"
Draco menatap tajam pada pemuda berkacamata itu, "jangan sekali-sekali membuatku marah dan cemburu, ok?" ancamnya.
Harry terkekeh, "kalau itu sih bukannya sudah sifat dasarmu, Draco?" goda Harry.
Draco tak mempedulikan gurauan Harry, karena saat ini dia memang sedang dibuat kesal oleh kehadiran Ginny Weasley diantara mereka. Draco yakin kalau Harry tak ada apa-apa dengan gadis itu, hanya saja sifat baik dan susah menolak dari kekasihnya itu kadang kala membuat dia darah tinggi.
"Hei, kenapa diam?" tanya Harry.
Draco memandang mata hijau yang berkilau itu, dia tersenyum kecil dan langsung mengecup singkat bibir Harry.
Harry terkejut dengan apa yang dilakukan Draco, jantungnya berdebar halus setiap merasakan sentuhan dari pemuda berambut pirang itu, Harry pun tersenyum, "kau ini, tak pernah lihat tempat ya?"
"Aku tak sabar menunggumu di Manor saat liburan natal nanti," kata Draco.
Harry terkekeh, "apa yang membuatmu tak sabar?"
"Aku belum sempat memenuhi 'undanganmu' saat di rumah sakit itu," lanjutnya sambil menyeringai.
Sekali lagi Harry tertawa, "salahmu sendiri, kau tak menagihku," godanya.
Draco tertawa lalu menggenggam tangan Harry, "kau ingin hadiah apa saat natal nanti?"
Harry menghela nafas panjang, "serakah sekali kalau aku masih mengharapkan sesuatu disaat kebahagiaan telah memenuhi hidupku."
Draco tertawa kecil lalu mengecup lembut jemari Harry.
"Mesranya…" sebuah suara mengalihkan perhatian mereka, di belakang terlihat Annabell dan Andros yang sedang bergandengan tangan berjalan kearah mereka.
"Boleh kalau kami ganggu?" tanya Bell pada kakaknya dan kakak kekasihnya itu.
Harry tertawa, "kau tak perlu meminta persetujuan kami kalau sekarang saja kalian sudah duduk disini."
Annabell dan Andros pun tertawa.
Draco berdiri dari duduknya, "Andy, kesini sebentar, aku perlu bicara padamu," katanya pada adiknya.
Andros pun mengikuti kakaknya agak menjauh dari Harry dan Annabell.
"Kenapa mereka berbisik-bisik seperti itu?" tanya Bell pada kakaknya.
Harry mengangkat bahunya, "entahlah, tumben juga melihat mereka sedekat itu," jawab Harry.
Tak lama kakak beradik Mlafoy itu pun kembali pada mereka.
"Kalian merencanakan apa?" tanya Bell curiga.
Andros hanya tersenyum dan mengacak sayang rambut kekasihnya itu, "nanti juga kau tahu, sabar saja."
Harry pun menatap curiga pada Draco tapi Draco mengacuhkan tatapan dari mata hijau itu.
"Kapan kalian akan ke Manor?" tanya Adros.
Bell menatap kakaknya, "mungkin tanggal 24 sore," jawabnya tak yakin.
Harry mengangguk, "ya, 24 sore."
"Aku jemput?" tawar Draco.
Harry tertawa, "tak usah, kami akan kesana bersama Mum dan Dad."
Annabell dan Andros terkikik melihat betapa perhatiannya Draco 'sang pangeran es' kepada Harry.
"Kita kedalam sekarang?" ajak Harry.
"Okay," jawab adiknya.
Lalu mereka pun berdiri dan melangkah ke dalam kastil.
Saat akan berbelok ke aula besar terdengar suara Ginny Weasley memanggil Harry.
"Ya, Gin?" jawab Harry saat gadis berambut merah itu berhenti disampingnya.
"Bagaimana dengan undangan Mum untuk pesta tahun baru di the Burrow?" tanya Ginny.
Harry menatap Draco yang tak memandang gadis itu seperti Bell dan Andros, "mmh…kami akan datang pada tanggal 1 jam 10 pagi," jawabnya.
"Kalian tak menginap? Mum sudah menyiapkan semua untuk kalian berempat." Kata Ginny lagi.
Harry tersenyum dan menggeleng, "Maaf Ginny, mungkin tidak untuk kali ini. Aku akan menyampaikan permintaan maaf ku pada Mrs. Weasley."
Ginny tampak begitu kecewa, "baiklah. Aku ke meja dulu ya?" katanya sambil berlalu mendahului mereka ke aula besar.
"Kita tak jadi menginap? Bukannya kau bilang tak enak menolak undangan mereka?" tanya Bell heran.
Harry tersenyum dan memandang Draco, "tidak, Bell, aku sudah berjanji pada seseorang untuk tidak membuatnya marah dan cemburu."
Bell dan Andros pun saling melempar pandang dan tersenyum lebar, "kalau itu alasannya sih bisa dimengerti," jawab Andros sambil tertawa.
Draco mengacuhkan godaan mereka, dia meraih tangan Harry dan menggandengnya masuk ke aula besar untuk makan malam. Sekali lagi dia tak peduli pada tatapan iri dari para gadis yang menjadikan mereka idola di Hogwarts.
.
.
"Selamat datang semua," sambut Narcissa pada keluarga Potter yang baru datang dengan menggunakan jaringan floo.
Setelah bertukar salam mereka pun duduk di ruang tamu.
"Kalian tak ikut menginap disini?" tanya Cissi pada James dan Lily.
James tertawa, "tidak, kami mau berduaan saja dirumah, menikmati natal dengan tenang."
"Maksud Dad…selama ini kami mengganggu natal kalian?" tanya Bell sambil cemberut.
"Jangan hiraukan ayahmu, Bell," kata Lily sambil memeluk lembut pundak putrinya itu.
Setelah mengobrol sebentar James dan Lily pun berpamitan.
.
"Sudah malam, kami tidur duluan ya?" pamit Narcissa.
"G'nite…" jawab keempat anak muda itu serempak.
"Baiklah, sekarang waktu untuk kita, Bell," kata Andros sambil menarik tangan gadis cantik berambut merah itu dan mengajaknya ke halaman samping.
"Hei…" teriak Harry.
"Sudahlah biarkan saja, kau ini mau sampai kapan bersikap posesif pada Bell?" omel Draco.
Harry hanya mendengus kesal kalau Draco sudah mulai mengomelinya masalah Bell, bukan salahnya kalau dia terlalu sayang pada adik perempuannya yang cantik itu.
"Kita ke atas?" tawar Draco pada Harry.
Harry memandang curiga pada kekasihnya itu, kalau Draco mengajak ke atas berarti itu lantai dua tempat kamar mereka berada. Dan kalau sudah berada di kamar…
Draco memukul pelan kepala Harry dengan Koran yang sedari tadi dia baca, "apa yang kau pikirkan?"
"Tidak…hanya saja aku khawatir kau menagihnya sekarang," kata harry pelan sambil mengusap kepalanya.
Draco terkekeh, "kalau kau mau, kenapa tidak?"
Harry mengerutkan keningnya, "kau yakin?"
Draco semakin merapatkan duduknya, tangannya melingkar di pundak Harry dan bibirnya mengecup pelan lehernya yang terbuka, "tentu," bisiknya.
Tubuh Harry kembali bergetar akibat sentuhan Draco, "tidak mau," kata Harry cepat.
Sekali lagi Draco tertawa, "iya aku tahu, aku juga tidak mau membuat Mum dan Dad menggedor kamar kita."
Harry pun ikut tertawa, "aku agak lelah, boleh aku tidur duluan?" tanyanya pada Draco.
"Tentu, tidurlah, jangan kau kunci kamarmu," jawab Draco menggoda.
"G,nite Draco," pamit Harry setelah dia mencium lembut bibir Draco.
.
Masih setengah mengantuk Harry merasakan sentuhan lembut di bibirnya, dia tahu itu siapa dan dia pun tersenyum walau matanya masih terpejam. Hanya ada satu orang yang bisa membuat dadanya bergetar setiap saat, "Draco…" desahnya.
"Morning, love…and happy Christmas," bisik Draco ditelinga Harry.
Harry membuka matanya dan bertemu langsung dengan mata abu-abu yang selalu membuatnya melayang itu, "happy Christmas, Draco."
Sekali lagi Draco mencium biir Harry dengan lembut, kali ini lebih dalam dan panas. Lidahnya menggoda bibir itu supaya terbuka lalu memasukkan lidahnya untuk membelai rongga mulut Harry.
Mau tak mau Harry mengerang pelan merasakan sensasi itu pada tubuhnya.
"I love you…" bisik Draco saat dia melepaskan ciumannya.
Harry tersenyum dengan dada berdegup kencang, "I love you too," balasnya pelan.
"Bersiaplah, aku tunggu disini," perintah Draco.
Dengan malas Harry pun masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk turun ke bawah.
.
"Happy Christmas…" sapa suara yang menyambut Harry dan Draco saat turun dari tangga.
Ternyata James dan Lily Potter juga hadir di ruangan besar yang dihiasi pohon natal tersebut.
Setelah selesai membuka kado natal masing-masing mereka pun duduk di kursi tamu sambil menunggu saat sarapan pagi.
Tiba-tiba Andros berdiri dan menarik tangan Annabell supaya ikut berdiri dengannya di tengah ruangan itu, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celana panjangnya dan membukanya di depan semua, tampaklah sepasang cincin berwarna silver dengan lambang Malfoy.
"Bell, ini hadiah natalmu dariku, dari keluargaku tepatnya. K-ku harap kau mau menerima ini dan menjadi milikku untuk selamanya," kata Andros dengan wajah memerah seperti tomat.
Annabell terbelalak dan mulutnya terbuka tak percaya, dia lalu melihat ke arah kedua orang tuanya meminta pendapat.
Kedua orang tuanya pun tersenyum dan mengangguk pelan.
Andros meraih tangan Annabell dan memasangkan cincin perak itu di jari manisnya.
Annabell terisak dan memasangkan cincin satunya pada jari Andros.
Semua yang berada disitu memberi selamat pada mereka berdua. Narcissa dan Lucius memeluk Annabell dengan erat, "akhirnya aku memiliki seorang putri," kata Lucius.
"Kenapa kalian tak terkejut?" tanya Bell pada kedua orang tuanya.
"Mereka sudah meminta ijin pada kami, jadi semuanya terserah kalian saja," jawab Lily enteng.
Harry tersentak mendengar jawaban ibunya, "maksud Mum…m-mereka…k-kalian itu apa?"
Draco yang duduk disampingnya melakukan hal yang sama, dia merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Dia membukanya perlahan dan tampaklah sepasang cincin yang sama dengan yang di pegang Andros.
"Aku tak pandai mengobral rayuan seperti Andy, tapi aku hanya berharap untuk bisa selalu bersamamu," kata Draco pelan.
Harry seperti kehilangan kata-katanya, dia tak tahu harus bereaksi seperti apa di depan keluarganya dan Draco. Selama ini dia hanya terbiasa memperlihatkan hubungan mereka di depan adik dan teman-teman mereka saja. Dia masih takut tak diterima sepenuhnya dalam keluarga Malfoy, "apa aku layak?" bisiknya gamang.
Draco langsung berdiri dan menyeret Harry ke halaman belakang yang tertutup putihnya salju. Draco tahu mereka tak akan bisa bicara kalau ditengah orang banyak seperti itu.
Semuanya pun membiarkan saja Draco menyeret Harry keluar, mereka tahu bagaimana perasaan Harry yang bingung.
.
"Ada apa?" tanya Draco setelah mereka sampai di gazebo di halaman belakang.
Harry menatap Draco dengan bingung, dia masih tak tahu harus berkata apa, "D-Draco aku…"
Draco menghela nafas panjang, "apa lagi yang kau ragukan?"
Harry terduduk lemas di kursi kayu yang disediakan Cissy disitu, "kau tak memberiku pilihan," bisiknya.
Draco hanya bisa mendengus kesal, "apakah sampai sekarang pun kau masih tak yakin denganku? Atau dengan perasaanmu sendiri?"
Harry meremas rambutnya yang berantakan, "kumohon, jangan bicara seperti itu lagi, Draco," katanya putus asa. "Aku hanya takut, bagaimanapun juga…hubungan kita tak wajar."
Draco memukul meja kayu yang ada disampingnya dengan begitu kuat sampai meja itu patah dan melukai tangannya.
Harry yang terkejut langsung melompat berdiri dan memegang tangan Draco yang terluka, tapi Draco menepiskan tangan itu dengan kasar.
Harry tercekat saat mata Draco menyorot marah dan dingin, "Draco…please," bisiknya serak.
"Kalau kau ingin hubungan yang wajar…pergi temui Weasley perempuan itu, dan jangan pernah kembali lagi padaku," jawab Draco dingin.
Dan saat itu juga Draco sangat menyesali kata-katanya, dia begitu menyesal telah membuat mata hijau yang dipujanya itu berkilat penuh luka, ada sebutir kristal bening yang mengalir dari matanya yang terbelalak lebar. Draco langsung memeluk tubuh Harry yang bergetar, mungkin sedih mungkin juga marah.
"Maafkan aku," bisiknya. "Maafkan aku, Harry…please" peluk Draco semakin kencang, "aku berjanji tak akan berkata seperti itu lagi, maafkan aku."
Harry masih diam, dia berusaha menenangkan hatinya sendiri. Dia begitu shock mendengar apa yang dikatakan Draco. Setelah yakin kalau Draco benar-benar menyesal Harry pun melingkarkan tangannya di pinggang Draco, "jangan pernah menyuruhku pergi, Draco. Jangan pernah sekalipun meninggalkan aku, jangan…" bisik Harry parau di leher Draco.
Draco mencium rambut Harry, "maafkan aku, aku janji." Draco mengangkat wajah Harry dan mencium bibir itu dengan penuh penyesalan, bibirnya memerangkap bibir Harry dalam suatu ciuman yang penuh tuntutan. Dia memagut bibir itu dengan posesif, lidahnya membelai apa saja yang bisa dibelai.
Harry mengalungkan lengannya di leher Draco, dia pun semakin menuntut ciuman yang lebih dalam. Dia begitu takut kehilangan Draco, kata-kata Draco tadi membuatnya sadar kalau dia benar-benar ingin selalu bersama dengan pemuda ini, dia ingin menjadi milik Draco untuk selamanya.
Harry mengerang saat bibir Draco membelai lekuk lehernya, kecupannya yang lembut meninggalkan jejak panas. "Maafkan aku, Draco," bisiknya ditengah gairah yang melanda.
Kembali Draco mencium bibir Harry yang sudah agak membengkak akibat ciuman-ciumannya tadi, "maafkan aku, Harry," balasnya berbisik.
Lalu mereka berpelukan dalam diam, dada Draco berdebar dengan kencang, dia begitu menyesal, benar-benar menyesal, 'ini bukan salah Harry, ketakutannya adalah hal yang wajar, aku harus bersabar', batin Draco menenangkan dirinya sendiri.
Harry pun berperang dengan batinnya, 'dasar bodoh, Draco benar, apa lagi yang aku ragukan? Dia begitu mencintaiku, begitu pun aku. Aku lah yang egois, aku selalu menyakitinya'.
Harry melepaskan pelukannya dan menatap mata abu-abu kekasihnya itu, "Draco, mana kado natalku?" katanya sambil tersenyum.
Nafas Draco tercekat, matanya menebus mata hijau Harry mencari kesungguhan disana, "kau yakin?" tanyanya tak percaya.
Harry mengangguk mantap.
"Bukan karena ancamanku tadi?" tanya Draco lagi.
Harry tertawa dan mengecup lembut bibir Draco, "aku ingin menjadi milikmu, Draco. Aku tak ingin kehilanganmu. Kata-katamu tadi meyadarkanku akan itu."
Draco mengeluarkan kotak kecil tadi dari kantong celananya dan membukanya perlahan.
Kali ini Harry melihat bentuk cincin itu dengan jelas, lambang keluarga Malfoy diukir tak terlalu besar seperti milik Andros, bahkan kalau dilihat sekilas itu hanyalah cincin emas putih yang polos, tapi di bagian dinding dalam cincin itu ada ukiran berupa tulisan 'with love, Draco' untuk cincin Harry dan 'with love, Harry' untuk cincin Draco.
Harry kembali menatap Draco dan tersenyum, "ayo pakaikan, kau ini sama sekali tak romantis," godanya.
Draco hanya menyeringai, lalu dia meraih tangan Harry dan menyematkan cincin itu di jari manisnya. Setelah cincin terpasang dengan benar Draco pun mencium jari Harry.
Harry mengambil cincin pasangannya dan memakaikannya pada jari manis Draco lalu melakukan hal yang sama dengan Draco, dia mencium jari pemuda berambut pirang itu dengan lembut.
Kedua mata mereka saling menatap, senyum mengembang di bibir keduanya, lalu kedua bibir bertemu dalam suatu ciuman yang begitu manis.
Terdengar suara tepukan tangan di belakang mereka.
Serentak Harry dan Draco melepaskan ciuman mereka dan melihat siapa yang ada disitu, ternyata Andros dan Bell juga kedua orang tua mereka sudah berdiri di dekat mereka.
Kali ini Harry tak tampak gugup, dia begitu mantap menggenggam tangan Draco. "Mum, Dad, Uncle Lucius dan Aunt Cissy…aku dan Draco sudah memutuskan untuk selalu bersama."
Tanpa disangka-sangka Cissy dan Lily menghambur memeluk Harry,mereka menitikkan air mata.
"Mum…Aunty…?" tanya Harry bingung.
Lucius dan James maju lalu merangkul pundak Harry dan Draco.
"Asal kalian tahu, tak satupun dari kami menganggap hubungan kalian sebagai sesuatu yang tidak wajar. Tak ada yang tak wajar kalau sudah menyangkut perasaan," kata James.
"Dari awal sudah kami katakan, kalau kalian memang sudah merasa yakin maka kami akan mendukung kalian," sambung Lucius sambil menepuk punggung Harry.
Harry dan Draco berpandangan lalu keduanya tersenyum.
"Ini natal terhebat yang pernah aku alami sepanjang hidupku," kata Cissy sambil terisak setelah dia dan Lily melepaskan pelukan mereka pada Harry.
"Begitupun aku, Cissy," balas Lily yang juga ikut terisak.
"Selamat, kak," ucap Annabell yang mencium pipi kakaknya dengan penuh sayang.
"Well, Harry…Bell…selamat datang di keluarga kami," kata Lucius.
Semua terpana melihat senyum terukir di bibir yang biasanya dingin tersebut, "woooow…kau bisa tersenyum ternyata, Lucius," goda James.
Lucius pun melemparkan hantaman kecil di kepala James.
"Baiklah, jangan biarkan makan pagi kita menjadi dingin dan tidak enak," kata Cissy. "tapi sebelum itu, Draco…pertanggungjawabkan perbuatanmu, itu meja pemberian ayahmu dari Rusia, segera perbaiki."
Gazebo yang ditutupi salju itu tak terasa dingin, bahkan kehangatan memancar dari sana. Gelak tawa terdengar bagai alunan orchestra yang indah.
.
Draco memeluk pinggang Harry dari belakang, mereka menikmati dinginnya salju yang turun pada malam ini di balkon didepan kamar Harry.
"Thank you, love…" bisik Draco di telinga Harry.
"Untuk apa?" tanya Harry pelan.
Draco mencium samping leher Harry yang membuat kekasihnya itu mengerang pelan, "untuk kesediaanmu menjadi milikku selamanya."
Harry menyandarkan kepalanya di dada Draco yang berdiri di belakangnya, kepalanya dimiringkan agar Draco bisa leluasa mencium lehernya. "I want you…" bisik Harry.
Draco tersenyum di leher pemuda itu, "apapun permintaanmu, Harry. Dan aku yakin Mum dan dad tak akan menggedor kamar kita setelah cincin ini terpasang dijarimu," bisik Draco sambil mengusap cincin putih di jari Harry.
Harry tertawa saat Draco menariknya masuk ke dalam kamar dan merebahkannya ke kasur yang biasa ditiduri Harry. Dia membiarkan saja saat Draco melepas kacamatanya dan merapalkan mantra pengunci dan peredam suara di kamar itu.
Draco membungkukkan badannya, bibirnya mengunci bibir Harry dalam suatu ciuman yang memabukkan, tangannya menarik lepas sweater dan baju Harry yang otomatis menampakkan dada putihnya yang terbuka. Draco menahan nafas meredakan gairah yang sedari tadi menggulungnya. Dia tak ingin menjadikan ini hanya sebagai ajang melepaskan hasrat saja, dia ingin menunjukkan pada Harry betapa dia sangat mencintai pemuda itu dengan seluruh jiwanya. Tangannya membelai dada Harry dengan halus dan merasakan getaran di tubuh pemuda itu. Draco mengecup dada Harry dan membelai satu titik yang dapat membuat Harry gila, getaran tubuh pemuda dibawahnya itu semakin kencang. Draco melepaskan semua yang membungkus tubuh mereka. Matanya menatap wajah Harry yang telah memerah menahan gairah, Draco tersenyum dan kembali mencium bibir Harry.
Nafas harry tercekat saat tangan Draco kembali membelai satu titik sensitive di dadanya, dia mencengkeram lengan Draco.
Draco memanjakan Harry di lehernya, dibelainya leher putih itu dengan bibir dan lidahnya. Tangannya menahan pinggang Harry yang sedari tadi bergerak dengan gelisah. Ciumannya terus turun dan turun sampai membelai perutnya yang rata.
Tubuh Harry terus bergetar merasakan sensasi liar yang membungkusnya, dia nyaris tak percaya saat ciuman Draco semakin turun, "D-Draco…jangan…"
Tapi terlambat, Draco telah meraup tubuh Harry.
Tangan Harry meremas sprei di bawahnya yang telah kusut, erangannya terdengar keras dan dia mencoba bertahan sekuat tenaga. Tapi belaian Draco terlalu memabukkan untuk Harry, lidahnya yang terus menyelimutinya dengan kehagatan membuat Harry akhirnya meledak dalam satu hentakan hebat yang membuatnya meneriakkan nama kekasihnya itu.
Draco mendongak dan menatap wajah Harry, senyum terukir di bibir tipisnya. Dia mulai memposisikan tubuhnya, bersiap menjadikan Harry sebagai miliknya yang paling sempurna. "Harry…" bisiknya.
Mata hijau Harry menatap dalam mata abu-abu milik Draco, bibirnya tersenyum dan dia menganggukkan kepalanya.
Draco membungkuk dan menciumi lagi bibir Harry, tangannya kembali memanja tubuh Harry yang masih terasa hangat. Dengan perlahan Draco menjadikan dunia Harry penuh warna dan keajaiban. dia membungkam suara Harry yang mulai mengerang menahan sakit dengan bibirnya. Lidahnya membelai bibir pemuda bermata emerald itu dan membuat Harry kembali tenang. Belaian tangannya yang memijat lembut membantu Harry melupakan rasa sakitnya dan mulai menerima kehadiran Draco pada tubuhnya. Draco menegakkan punggungnya saat dirasakan Harry sudah tidak meronta lagi. Wajah dan tubuh Draco basah oleh keringat, begitu juga dengan Harry. Dinginnya salju diluar sana tak terasa lagi berganti oleh panasnya gairah yang berkobar.
Harry memandang Draco yang tersenyum padanya, tangannya membelai bahu Draco yang berkilau oleh keringat, "move, Draco…" bisiknya parau.
Draco mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan, tangannya terus membelai Harry. Draco tak ingin terburu-buru, dia ingin menikmati ini bersama kekasihnya itu. Dia terus menahan degup jantungnya yang berpacu kencang.
Sedangkan Harry, dia berusaha mengimbangi Draco yang terus bergerak pelan di dalam tubuhnya. Nafasnya sesekali tersentak saat Draco menyentuh satu titik disana, erangan-erangan terus terdengar dari bibirnya yang membengkak merah. Merasa sudah tak mampu menahan gairah yang terus mendesak Harry pun mencengkeram lengan Draco dengan kuat, "Draco…please," pintanya.
Draco yang mengerti akan keinginan Harry pun mulai menghentakkan tubuh mereka dalam suatu pusaran gelombang yang terus menggulung akal sehat mereka keluar dari jalurnya. Musik indahnya berganti dengan tabuhan genderang yang terus menghantam dan membawa mereka semakin dalam tenggelam dalam seretan arus yang kuat. Irama yang kencang akhirnya menyudahi tarian mereka dalam satu hentakan hebat yang meledakkan dunia mereka dalam uraian berjuta warna. Bibir keduanya melagukan nama kekasih masing-masing dalam alunan yang keras dan bergetar.
Draco memeluk erat tubuh Harry dan menciumi sudut mata hijau kekasihnya itu yang mengalirkan sebutir cairan sebening kristal. "Maaf, apa aku menyakitimu?" tanya Draco berbisik.
Harry menggeleng lemah, bibirnya menyunggingkan satu senyuman yang selalu mampu menggetarkan dada Draco, "I love you, Draco," bisiknya pelan.
Dada Draco penuh dengan kebahagiaan, dia mencium lembut bibir Harry, "I love you too, Harry…always," jawabnya. Lalu dia membaringkan tubuhnya disisi Harry, memeluk pinggang pemuda itu setelah menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Draco…" panggil Harry pelan.
"Yes, love," jawab Draco.
"Sejak kapan kau merencanakan ini? Mmmh…cincin ini maksudku," tanya Harry.
Draco terkekeh pelan, "beberapa hari yang lalu saat aku bicara berdua dengan Andy di halaman belakang kastil, ingat?"
Harry berdecak kesal, "kau ini selalu memutuskan sesuatu seenaknya sendiri."
Draco mengecup puncak kepala Harry, "kau saja yang lambat, Mr. Potter."
"Ya ya…Cuma kau saja yang benar," gerutu Harry.
Draco tertawa, "sudahlah tak usah bertengkar, atau aku akan memakanmu lagi," ancamnya.
Harry mendelik ke arah Draco, "cukup Draco, aku lelah, aku mau tidur."
Draco mengacak gemas rambut kekasihnya yang selalu berantakan itu, "kalau begitu tutup mulutmu dan tidurlah." Draco mengecup singkat bibir Harry, "g'nite Harry."
Harry memejamkan matanya dan tersenyum, "g'nite Draco," bisiknya.
.
.
Tanggal 1 januari, semua hadir di rumah keluarga Weasley, termasuk orang tua Harry dan Draco. Setelah selesai menyantap hidangan pesta masing-masing langsung membaur dengan kelompoknya. Para ibu sibuk di dapur membereskan masakan mereka, para ayah mengobrol diruang depan sedangkan anak-anak berkumpul di lantai atas.
"Bagaimana natal kalian?" tanya Hermione pada Harry dan Bell.
"Kami merayakan di Manor, Mum dan dad mengusir kami agar mereka bisa berduaan merayakan malam natal dirumah," jawab Bell bercanda.
Semua pun tertawa mendengar gurauan gadis itu.
Obrolan ringan mengalir begitu saja dari mulut mereka.
Kemudian naiklah Ginny dengan membawa minuman dingin dan cemilan untuk mereka. Wajah gadis itu begitu bahagia saat melihat Harry. Dia berusaha tak menggubris tatapan dingin Draco yang penting untuknya sekarang adalah Harry ada disini. Dengan sengaja gadis itu menyerahkan sendiri gelas minuman untuk Harry, dan tiba-tiba matanya terbelalak saat Harry mengulurkan tangannya untuk menerima gelas dari Ginny, dia melihat cincin putih melingkar di jari manis pemuda yang telah menarik hatinya sejak pertama bertemu itu. Ada lambang Malfoy yang terukir samar di cincin itu, tangannya bergetar dan gelas yang dibawanya terjatuh keras ke lantai dan pecah berkeping-keping seperti hatinya.
"Gin, kau tidak apa-apa?" tanya Harry.
Draco mendengus kesal mendengar perhatian Harry.
"T-tidak apa-apa, aku ke bawah dulu," pamitnya gugup.
"Kenapa dia? Dasar aneh," kata Ron.
Hermione menyikut tangan pemuda berambut merah itu dan memberinya pelototan kesal. "Mmmh…Harry, kau dan Draco apa sudah…" tanya Hermione sambil melirik ke jari manis Harry yang sekarang tak polos lagi.
Mengerti akan arti pandangan Hermione Harry pun tersenyum, "bukannya aku ingin menyembunyikan sesuatu lagi dari kalian, aku hanya tak mau menyampaikan ini lewat surat. Yes, Mione, aku dan Draco sudah bertunangan, begitu juga dengan Bell dan Andy," jawab Harry sambil melirik kearah adiknya.
"WHAT…!" teriak Ron, "bagaimana mungkin kalian tak mengabari kami?"
"Ini juga mendadak, mereka tak mengatakan dulu pada kami," jelas Bell.
"Kapan?" tanya Hermione lagi, kali ini raut wajahnya lebih cerah.
Harry memandang Draco yang dari tadi terus diam, "pagi hari disaat natal," jawabnya.
Hermione bangkit dan mencium pipi sahabatnya itu dengan sayang, "selamat, Harry," ucapnya. "Boleh aku juga mengucapkan selamat padamu, Draco?" tanya gadis berambut cokelat bergelombang itu.
Draco tersenyum dan membuka tangannya, "sahabat Harry berarti sahabatku juga, Mione."
Hermione tertawa dan memeluk Draco, "selamat ya," ucapnya riang.
"Thank you," jawab Draco.
Lalu gadis itu juga mengucapkan selamat pada Bell dan Andy, diikuti oleh Ron.
"Harry…" panggil Draco pelan.
"Ya?" jawab Harry.
"Kupikir sebaiknya kau menyusul Ginny ke bawah," kata Draco datar.
Harry terkejut mendengar permintaan Draco, "kenapa?" tanyanya heran.
Draco memandang Hermione yang terkikik bersama Annabel dan Andros, dia menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat betapa lambannya kekasihnya itu, "sudahlah, kau susul saja dia."
"Tapi nanti kau marah?" tanya Harry.
Draco mendengus kesal, "kali ini tidak, makanya cepat kau cari dia sebelum aku berubah pikiran," usir Draco tak sabar.
Harry melangkah keluar kamar dengan wajah bingung, 'padahal biasanya dia yang paling marah kalau aku dekat-dekat Ginny, aneh', batin Harry.
"Dasar lamban," gerutu Draco saat Harry telah turun ke bawah.
Semua yang ada diruangan itu tertawa, kecuali Ron yang memandang Draco dengan heran. "Kau yakin membiarkan Harry sendirian menemui adikku?" tanya Ron pada Draco.
"Semua harus diselesaikan secepatnya, Ron. Kasihan adikmu kalau tetap mengharapkan Harry," jawab Draco enteng.
Ron menggaruk kepalanya yang tak gatal, "aku sih sangat berterima kasih kalau kau bisa mengerti itu, hanya saja kau tak khawatir membiarkan mereka berdua?"
Draco menatap Ron dengan tajam, "asal semua selesai dengan baik," jawabnya lagi.
Kali ini wajah Ron dihiasi dengan cengiran lebar, "Harry itu terlalu baik dan susah menolak," godanya.
Draco kembali mamandang Ron, kali ini lebih dingin, Khas Malfoy. Tiba-tiba dia berdiri dan melangkah cepat turun ke bawah.
Semua yang melihat tingkah Draco tertawa terbahak-bahak, "kapan lagi aku bisa membalas dia untuk Ginny?" kata Ron masih tertawa.
.
Harry melihat Ginny duduk sendirian diatas bukit kecil di belakang rumahnya. Dia duduk dibawah sebuah pohon besar.
"Gin…" panggil Harry pelan.
Ginny menoleh dengan cepat, "H-Harry…" katanya gugup.
"Kau menangis? Kenapa?" tanya Harry saat melihat mata gadis itu basah oleh air mata.
Ginny memegang lengan Harry dengan kuat, "Harry, benarkah kau dan Draco sudah bertunangan?" tanyanya.
Harry terkejut mendengar pertanyaan Ginny, "ya Gin, aku dan Draco sudah bertunangan, begitu juga dengan Bell dan Andy."
Ginny menangis semakin keras, "padahal aku mencintaimu, Harry," katanya terisak.
Harry membeku ditempatnya, lidahnya begitu kelu untuk bicara. Dia tak menyangka kalau gadis yang sejak dulu hanya dianggap adik olehnya ini ternyata mencintai dia.
"Aku mencintaimu sejak pertama mengenalmu," isaknya lagi.
"Gin…maafkan aku, a-aku…" Harry tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Ginny memandang mata hijau Harry, "aku tahu, kau hanya menganggapku tak lebih dari seorang adik kan? Aku cuma tak menyangka kalau hubunganmu dan Draco ternyata serius."
"Maaf Gin, aku benar-benar mencintai Draco," jawab Harry jujur.
Ginny mengangguk pelan, "ya…aku tahu, aku cuma ingin mengatakan perasaanku saja padamu. Sampai nanti Harry, dan terima kasih," katanya sambil melangkah pergi.
Harry menghela nafas panjang dan mengacak rambutnya, dia terkejut saat tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang. "Draco…" katanya saat tahu tangan siapa yang melingkar di pinggangnya.
"Kuharap kau tak menyesali keputusanmu tadi," bisik Draco di telinga Harry.
Harry tertawa pelan, "aku akan sangat menyesal kalau saat itu aku benar-benar menolak cincin ini," jawab Harry. "Aku hanya tak menyangka saja kalau Ginny memiliki perasaan yang lebih padaku."
Draco terkekeh, "kau itu benar-benar lambat, kalau Ginny tak memiliki perasaan apa-apa padamu maka aku tak akan marah kalau dia ada di dekatmu, seperti Hermione."
Harry membalikkan badannya dan memeluk pinggang Draco, "saat masuk sekolah nanti kita akan jadi gossip panas lagi, Draco."
Draco mendengus sambil mengusap punggung Harry, "aku pikir itu bagus, setidaknya tak ada lagi gadis-gadis aneh yang mendekatimu, atau aku akan mengutuk mereka."
Harry tertawa, "kau juga harus ingat, selesaikan urusanmu dengan si Parkinson itu."
"Dia bukan masalah besar," jawab Draco.
"Masalah besar buatku kalau dia terus mengejarmu," gerutu Harry.
Draco tertawa, "baiklah Mr. Potter, aku akan menyelesaikan masalahmu."
Pelukan mereka semakin erat seakan masing-masing tak ingin melepaskan diri, tak ada yang bicara, hanya degupan jantung yang bercerita betapa mereka ingin selalu bersama.
oOo
A/N.
Haaaaah…sungguh-sungguh GA JELAS, pengennya bikin lamaran romantic ala prince and princess tapi ngeri juga ngebayangin Draco jadi lebay banget dan Harry jadi cewek banget
Pengennya juga mau buat Ginny jadi nyebelin tapi ntar Pansy ada saingannya dong, hehehe… lagian aku kasian ma Ron kalau tau adeknya jadi brutal gitu XP
Yak…nyari ide lagi buat chap depan menjelang kelulusan mereka, AIIII…HELP ME…!
Mudah-mudahan chap ini ga ngebosenin dan masih ada yang nunggu chap berikutnya, RR please…
Makasih.
