KEPUTUSAN
Disclaimer : J.K Rowling
Pair : Draco Malfoy – Harry Potter
Rate : M
Genre : Romance
WARNING : No war, OOC, OC
A/N : Official Sequel from 'KEJUJURAN'
"Kalian yakin akan mengikuti pendidikan sebagai calon Auror?" tanya Hermione pada dua sahabatnya saat mereka berjalan disepanjang koridor halaman samping.
"Kalau aku sih 100% yakin, Dad juga mendukungku penuh," jawab Harry.
"Aku juga, Mum dan Dad sudah setuju," sambung Ron.
"Mr. Potter kan kepala Auror, apa kau tak takut kalau orang lain berpikir kau masuk dengan cara curang?" tanya Hermione lagi pada Harry.
Harry tertawa, "biar mereka sendiri yang nanti menguji kemampuanku," kata Harry yang memang memiliki kemampuan otak di atas rata-rata, apalagi pelajaran pertahanan terhadap ilmu hitamnya menjadi yang tertinggi di angkatannya.
"Ya… kau benar, Mate," dukung Ron.
Tiba-tiba mata Harry melihat Draco duduk sendiri di bangku taman, di bawah rindangnya pohon. "Aku temui Draco dulu ya?" pamitnya pada teman-temannya.
"Sampai nanti, Harry," kata Hermione sambil melambai pada Harry yang telah berlari keluar koridor.
"Hei…" sapa Harry pada pemuda berambut pirang yang telah menjadi tunangannya saat natal kemarin.
Draco mendongakkan kepalanya dan tersenyum pada Harry, senyum yang hanya diperlihatkan pada pemuda yang telah lama menawan hatinya itu.
"Bagaimana persiapan ujian akhirmu?" tanya Harry setelah duduk disamping pangeran Slytherinnya.
"80 persen oke, hanya agak kurang di rune kuno saja," jawabnya.
Harry tampak berpikir sebentar, "kau sih, pelajaran sesulit itu masih kau ambil saja," gerutunya.
Draco tertawa, "aku hanya ingin menguasai pelajaran yang dikuasai Dad, lagipula aku sudah dapat rekomendasi untuk magang di Departemen Hubungan Sihir Internasional kalau nilai ujian akhirku nanti memuaskan."
Harry menghela nafas panjang, "Kau akan sering keluar negeri nantinya," kata Harry lesu.
Draco menutup bukunya dan memandang kekasihnya, "kau pun pasti akan disibukkan dengan urusan Auror, melihat bagaimana sibuknya uncle James selama ini."
Harry tersenyum kecut, "aku ingin kita bisa tinggal bersama setelah sama-sama bekerja nanti," kata Harry tiba-tiba, karena dia miris juga memikirkan kalau setelah lulus nanti mereka akan dibuat sibuk oleh urusan masing-masing.
Draco memandang mata hijau itu dengan begitu bahagia, dia tak menyangka apa yang mengganggu pikirannya beberapa hari ini justru diselesaikan sendiri dengan mulus oleh kekasihnya itu, "tentu, Harry, aku sudah memikirkan itu."
Harry mencium bibir Draco dengan lembut, dia tak peduli pekikan kecil para gadis yang melihat mereka, "thanks, love," bisiknya.
Draco tersenyum, dia senang melihat Harry -yang semenjak dia menyematkan cincin dijarinya- menjadi lebih terbuka untuk menyampaikan perasaannya pada Draco, baik itu saat berdua ataupun didepan umum. Dia tak lagi mempedulikan pandangan orang tentang hubungan mereka, toh seluruh Hogwarts sudah tahu dan bisa menerima. Bahkan sebagian besar murid justru mendukung melihat dua pemuda idola para gadis itu menjadi pasangan, terlihat begitu sempurna.
"Sebaiknya kau belajar rune kuno dengan Hermione, aku lihat dia sangat menguasai pelajaran itu," saran Harry. "Nati sore kami akan belajar di perpustakaan, kau bisa bergabung."
"Apa Hermione tak keberatan? Dia pasti juga sibuk menyiapkan pelajarannya," tanya Draco.
Harry terkekeh, "Hermione adalah satu-satunya manusia yang paling semangat mengajari orang lain, jadi aku yakin dia akan sangat senang jika bertambah lagi orang yang mau belajar. Otak jeniusnya tak terkalahkan."
Draco tertawa, ya saat bersama Harry dia selalu menemukan alasan untuk tertawa, "baiklah," jawabnya.
.
Ujian akhir yang tinggal beberapa hari ini pun membuat semua murid menjadi semakin sibuk, perpustakaan yang biasanya jarang dijamah murid itu kali ini menjadi satu-satunya 'tempat favorite' untuk mereka.
Di salah satu meja besar di sudut ruangan tampaklah trio Gryffindor dan trio Slytherin yang sedang serius mendengarkan penjelasan dari satu-satunya gadis di tengah-tengah mereka, siapa lagi kalau bukan Hermione.
Gadis terpintar di kelas tujuh itu tak segan membagi ilmunya dengan para sahabat-sahabatnya, dia terus mengulang dan menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan dari segerombol pemuda itu.
"Draco, aku rasa bab 8 dari rune kuno tingkat tujuh akan mendominasi soal ujian. Sebab bab itu nyaris membahas sebagian besar dari keseluruhan buku," terang Hermione saat dia dan Draco sama-sama membuka buku rune kuno, pelajaran yang hanya diambil oleh mereka berdua tanpa sahabat-sahabat mereka.
Draco mengangguk-angguk setuju, "ya kau benar, nyaris sebagian besar dibahas disini."
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh Harry yang ambruk diatas meja.
Draco langsung memegang bahu pemuda yang duduk disampingnya itu, "Harry, kau tak apa-apa?" tanyanya cemas.
Harry membuka matanya sedikit, "kepalaku pusing, aku ingin ujian ini cepat selesai," keluhnya.
Ron dan Theo pun ikut ambruk diatas meja, "kau benar, Harry," kata mereka.
"Seminggu penuh di dalam perpustakaan membuat otakku panas," gerutu Ron.
Draco mengacak rambut Harry yang sudah berantakan, "sebaiknya kita memang harus beristirahat sebentar, jangan sampai saat ujian kita justru sakit."
Hermione dan Blaise menghela nafas panjang, "ya kau benar, Draco. sebaiknya sekarang kita tinggalkan ruangan ini dan mendinginkan otak masing-masing," saran Blaise.
Mereka lalu bangkit dan melangkah keluar, di pintu keluar mereka langsung berpisah, Harry dan Draco memutuskan untuk bersantai sebentar di tepi danau, Ron dan Hermione yang telah menjadi sepasang kekasih memilih bersantai di ruang rekreasi, sedangkan Blaise dan Theo entah kemana. Draco agak curiga juga kalau kedua sahabatnya itu memiliki hubungan khusus seperti dia dan Harry.
.
Harry merebahkan kepalanya di paha Draco, dia benar-benar merasa pusing dengan persiapan ujian akhir. Matanya terpejam saat dia merasakan tangan Draco membelai rambutnya dengan lembut.
"Tidurlah sebentar, jam malam masih ada 1 jam lagi," kata Draco.
Harry tertidur di pangkuan Draco, dia merasa sangat nyaman saat ini. Berdua saja dengan kekasihnya di tepi danau yang sesekali memperdengarkan suara riak airnya. Dan hembusan angin di malam ini terasa begitu sejuk.
Draco memandang wajah Harry yang tertidur, tangannya tetap mengusap rambut hitamnya yang berantakan. Lama-lama dia jadi mengantuk dan ikut pulas sambil menyadarkan punggungnya di batang pohon besar dibelakangnya.
.
"Harry…Draco…bangunlah," kata sebuah suara yang juga menggoyang bahu mereka.
Draco membuka matanya dan dia melihat Annabell dan Andros di depannya, "jam berapa sekarang?" tanyanya sambil melihat Harry yang masih tertidur di pahanya.
"Sudah lewat jam malam, lalu aku minta ijin pada Daddy Sev untuk mencari kalian," jawab Bell.
Harry akhirnya membuka matanya, "Bell?" katanya saat melihat adiknya disitu.
"Sebaiknya kita segera masuk," kata Andros.
Lalu keempatnya pun berjalan menuju ke asrama masing-masing.
.
Ujian akhir dimulai senin pagi ini, tak sedikit yang menyambutnya dengan wajah pucat, termasuk Harry. Sebenarnya dia bukan bodoh, justru pintar malah, hanya saja persiapan yang dia lakukan di atas jam orang normal sehingga membuat dia lelah.
Draco menariknya ke ujung koridor sebelum mereka masuk ke dalam kelas, "kau yakin baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Harry tersenyum samar, "aku hanya lelah, Draco. selebihnya baik-baik saja, jangan khawatirkan aku," jawab Harry. "Sebaiknya kau berikan aku sedikit semangatmu," katanya menggoda.
Draco menangkup wajah Harry dan mencium bibirnya dengan dalam, dia melumat bibir yang kelihatan agak pucat itu. Dia tersenyum saat merasakan tubuh pemuda itu bergetar, lalu Draco memeluknya erat, "jaga kesehatanmu, aku tak mau kau sakit," bisiknya.
Harry hanya menganggukkan kepalanya, dia berusaha menenangkan debar jantungnya akibat ciuman Draco barusan.
.
Ujian demi ujian benar-benar menyita waktu mereka, tak ada kesempatan untuk bersantai atau hanya sekedar berdua dengan kekasih masing-masing. Selama empat hari ini semua waktu tersita hanya untuk belajar dan belajar. Hermione yang jenius pun terlihat pucat hari ini.
"Kalian tak apa-apa?" tanya Draco pada gadis itu, Harry dan Ron juga Theo yang terlihat lemas. Hanya dia dan Blaise yang staminanya bagus saat ujian ini berlangsung.
Harry menyandarkan kepalanya di bahu Draco, mereka semua sore ini memutuskan belajar di halaman samping karena mereka membutuhkan udara segar untuk menormalkan fungsi otak. Mereka duduk diatas rumput tebal dibawah sebatang pohon.
Hermione merebahkan kepalanya di pangkuan Ron dan mengompres kepalanya dengan sapu tangan yang sudah direndam air dingin, "tinggal satu hari dan aku sudah nyaris tak mampu berpikir," keluh gadis itu.
Tampak Annabell dan Andros berlari menghampiri mereka, lalu keduanya duduk bergabung bersama para senior tersebut.
"Kalian tampak sangat parah, apa sesulit itu ujiannya?" tanya adik perempuan Harry.
"Sebenarnya ujiannya sama saja seperti yang lalu-lalu, hanya saja rasa tegang mengalahkan semua. Ini ujian akhir kami, ujian yang menentukan lulus tidaknya dan masa depan kami," jelas Blaise.
"Iya juga ya, di ujian ini para murid yang mendapatkan nilai ujian yang memuaskan akan langsung dapat rekomendasi kerja dari kementrian sihir," kata Andros.
"Maka dari itu kami bilang ini masa depan kami," ulang Blaise.
"Semangatlah, tinggal satu hari lagi, besok siang semua telah berakhir kan?" kata Bell memberi semangat.
"Kau tak melihat betapa semangatnya aku, Bell?" kata Harry yang masih menyandarkan kepalanya dengan lemas di bahu Draco.
Semua pun akhirnya tertawa mendengar gurauan Harry yang jelas-jelas dialah yang paling pucat disitu.
Bell menggelengkan kepala melihat wajah kakaknya yang acak-acakan itu, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya, "tadi aunt Cissy mengirimkan banyak coklat padaku dan Andy, ini buat kalian, kata aunt Cissy biar kalian semangat sampai besok."
Para senior itu langsung mengambil coklat dari Bell dengan cepat, hanya Hermione dan Blaise saja yang tidak terburu-buru. Lalu mereka menghabiskan sore itu sambil ngobrol ringan melepaskan penat yang menghimpit selama hampir sebulan ini mulai persiapan sampai ujian.
.
Akhirnya ujian akhir telah terlewati, nilai-nilai pun telah dikantongi. Keenam anak yang selama ini berusaha keras dengan ujiannya akhirnya mendapatkan balasan yang setimpal. Hermione, Draco dan Harry mandapat nilai yang nyaris sempurna, sedangkan Blaise, Theo dan Ron ada setingkat dibawah mereka, hanya beda angka sedikit.
"Sungguh ujian yang menyenangkan," kata harry sambil tertawa. Mereka berbicang santai di tepi danau menikmati semilir angin sore.
Ron langsung memukul lengan sahabatnya itu dengan kesal, "kau bilang menyenangkan karena nilaimu begitu bagus, coba kau bilang ini seminggu yang lalu," gerutunya.
Draco merangkul pundak Harry dan mengacak gemas rambutnya.
Hermione tersenyum melihat sikap Draco terhadap Harry, "apa rencanamu dan Harry, Draco?" tanya gadis itu.
Draco memandang wajah Harry yang tampak bahagia, lalu melihat ke arah Hermione, "setelah ini aku dan Harry akan sibuk oleh urusan masing-masing, aku langsung magang di departemen ayahku sedangkan Harry ikut pelatihan calon Auror," jawabnya. "Sekalian aku beritahu saja biar kalian tak mengira kami menyembunyikan sesuatu lagi, setelah masa magang dan pelatihan selama setahun kedepan aku dan Harry memutuskan untuk tinggal bersama."
Semua terkejut mendengar berita dari Draco , "wow…ini hebat, Mate," kata ron sambil tertawa dan menepuk pundak Harry.
Hermione langsung memeluk Harry dan Draco, "selamat ya, aku ikut bahagia bersama kalian."
"Thanks, Mione," jawab Harry.
Blaise dan Theo pun ikut memberi selamat.
"Kau sendiri bagaimana, Mione?" tanya Harry.
"Departemen hukum memintaku magang mulai tahun ini," jawab Hermione. "Aku akan bersama Blaise," jawab gadis itu lagi.
"Benarkah? Selamat Mione, selamat Blaise," kata Harry. "Aku dan Ron pun akan bersama-sama pada pelatihan auror nanti.
"Dan kau, Theo?" tanya Hermione.
"Theo akan bersamaku, kami magang di departemen hubungan sihir internasional," jawab Draco kali ini.
Semua saling berpandangan dan tersenyum, tawa lega terdengar dari mulut mereka, sungguh sore hari yang indah, dimana masa depan telah tertata begitu sempurna.
Setelah berbincang-bincang akhirnya tepi danau yang sejuk itu hanya ditinggali oleh Draco dan Harry saja, keempat temannya telah pamit meninggalkan mereka berdua.
Draco berbaring diatas rumput disamping Harry yang duduk bersandar di batang pohon. Matanya terpejam.
"Kau tidur, Draco?" tanya Harry.
"Tidak," jawab Draco pelan.
Harry memandang wajah kekasihnya yang nampak begitu menawan itu, tak salah kalau para gadis menjadikan dia target sebagai salah seorang pemuda yang didambakan. Rambutnya yang seterang matahari, mata abu-abunya yang berkilat penuh percaya diri, kulitnya yang putih dan pembawaannya yang tenang dan sempurna, benar-benar suatu anugerah terindah yang dimiliki oleh seorang Draco Malfoy. Dan suatu anugerah tersendiri bagi Harry karena pemuda itu memilih dia sebagai pasangannya.
Draco membuka matanya dan langsung bertemu dengan mata hijau Harry yang selalu mampu membuatnya takluk. "Kenapa?" tanya Draco.
Harry tersenyum dan membelai rambut pirang Draco yang halus, "tidak, hanya ingin mengagumi milikku," godanya.
Draco tertawa, "kemarilah, peluk aku," pinta Draco sambil menarik tangan Harry.
Harry pun berbaring di samping Draco, kepalanya direbahkan dilengan Draco dan tangannya memeluk erat pinggang pemuda itu. Dia mengecup sekilas rahang atas kekasihnya yang membuat Draco mendesah pelan.
"I love you," bisik Harry tepat ditelinga Draco.
Draco membalik badannya dengan posisi Harry dibawah tubuhnya, "aku sangat senang melihat perubahan sikapmu sekarang, love. Tapi jangan terlalu sering menggodaku atau aku akan hilang kendali dimanapun kita berada," kata Draco menyeringai.
Harry tersenyum, tangannya mengusap pipi putih Draco, "aku juga senang melihatmu saat lepas kendali, Draco," bisik Harry menggoda.
Tanpa meminta ijin Draco pun langsung melumat bibir Harry, ciumannya begitu dalam seakan ingin mereguk semua rasa yang telah lama tak diminumnya.
Lengan Harry memeluk leher Draco seakan ingin menyatukan tubuhnya dengan pemuda yang dicintainya itu. Tangannya menyusup kedalam rambut pirang kekasihnya dan menariknya pelan mengimbangi gairah yang mulai membayang.
Ciuman Draco berpindah ke lehernya, mengecupinya dengan serakah dan membelai kulit putih itu dengan lidahnya. Mau tak mau Harry pun mengerang merasakan sensasi memabukkan yang diciptakan Draco di tubuhnya.
"Kau ingin aku berhenti atau terus?" tanya Draco dengan seringaian khasnya.
Harry melebarkan matanya, "dasar bodoh, tentu saja berhenti, kau pikir ini dimana?" kata Harry tertawa.
Draco pun ikut tertawa dan memeluk tubuh Harry dengan kencang, "kau benar-benar selalu bisa membuatku kehilangan akal, Harry."
.
Dua minggu menjelang upacara kelulusan para murid kelas tujuh sudah hampir tidak mendapat pelajaran apapun, waktu yang tersisa digunakan untuk bersantai.
Siang itu Trio Gryffindor berkumpul di ruang rekreasi, mereka bosan juga dengan aktifitas yang monoton seperti ini.
"Bosan sekali, kalau sedang begini aku jadi merindukan detensi dari Profesor Snape," gurau Ron.
"Baiklah, nanti akan ku sampaikan," ancam Harry halus.
Ron pun mendelik sebal pada sahabatnya itu dan pada Hermione yang terkikik geli.
Harry tertawa senang bisa menggoda Ron, "aku mau menemui Draco dulu," katanya sambil beranjak meninggalkan dua sahabatnya disitu.
Menyusuri koridor Harry pun memasang mata mencari Draco yang kemarin sudah berjanji akan menemuinya di halaman belakang. Melewati sudut koridor yang agak menjorok kedalam mata Harry menangkap sosok bayangan disana, 'itu pasti dia', batin Harry. Harry lalu mendekati sudut itu, "Draco…" panggilnya. Tiba-tiba nafasnya tercekat melihat pemandangan di depannya. Lidahnya mendadak terasa kaku tak bisa berkata-kata. Draco, kekasihnya, sedang berciuman dengan…Pansy Parkinson. Mendadak kaki Harry terasa lemas, jantungnya berdegup dengan kencang, matanya memandang kabur pada sosok itu.
Mendengar ada suara disitu Draco langsung mendorong Pansy menjauh. Sebongkah batu besar seakan dihantamkan kekepalanya saat dia menoleh dan mendapati Harry berdiri kaku disitu, "Harry…" kata Draco panik sambil mendekati pemuda itu.
Harry entah kenapa justru bergerak mundur, dia tak ingin Draco menyentuhnya. Dia merasa mual saat Pansy mencibir licik kearahnya.
"Harry, love…please dengar aku, i-ini bukan seperti dugaanmu," kata Draco berusaha menjelaskan. Dia ikut sakit melihat luka dimata hijau itu, kali ini mata hijau itu tampak labih gelap dari biasanya. Mata yang selalu bersinar hangat itu kini tampak dingin dan penuh kebencian. Baru kali ini Draco melihat mata itu berkilat penuh amarah
Harry terus mundur sampai akhirnya dia membalikkan badannya dan meninggalkan pemuda yang telah mencuri seluruh dunianya itu disana bersama gadis berambut hitam yang tersenyum sinis padanya.
.
Harry berjalan dalam diam, pikirannya kosong. Kakinya terus melangkah dan akhirnya membawanya ke menara astronomi yang gelap. Menara tertinggi di Hogwarts itu tak pernah dikunjungi orang kecuali saat pelajaran astronomi saja. Dia duduk termenung di lantai batu mecoba memikirkan apa yang barusan terjadi, tapi kali ini otaknya benar-benar tak bisa diajak bekerjasama, dia tak mampu berpikir lagi. Hanya jantungnya yang terasa sakit seakan pedang yang sangat tajam tengah mengoyak-ngoyaknya menjadi serpihan tak berbentuk.
Hari sudah mulai gelap, ruangan bundar yang besar itupun semakin kelam, tapi Harry belum ada niat untuk pergi. Dia masih ingin sendiri hingga tanpa sadar matanya terpejam dan dia tertidur dengan membawa luka dan sakit hatinya akan Draco.
.
Di aula besar saat makan malam Hermione dan Ron belum melihat kehadiran Harry, mereka pikir Harry masih bersama Draco yang juga belum kelihatan disitu. Tapi mereka jadi curiga saat Draco memasuki aula besar sendirian tanpa Harry, dengan wajah yang pucat. Tanpa menunggu lama Hermione menghampiri Draco di meja Slytherin.
"Draco…" panggil gadis itu.
Draco menoleh dan melihat Hermione yang cemas dengan heran, "ada apa?" tanyanya.
"Kau tak bersama Harry?" tanya Hermione balik.
Draco tampak terkejut, "Harry? Dia tak bersama kalian?" kata Draco cemas.
Hermione melihat ada yang ganjil disini, bagaimana mungkin Draco tak tahu dimana Harry, terlebih dia melihat senyum mencurigakan dari Pansy yang duduk tak jauh dari situ.
Wajah pucat Draco semakin pucat.
"Ada apa?" tanya Annabell yang baru masuk aula bersama Andy. "Mana kakakku?" tanyanya lagi saat dia tak melihat Harry disitu.
Draco melangkah keluar aula, dia akan menjelaskan ini pada mereka, tapi tidak disini, didepan orang banyak. Hermione dan yang lainnya pun mengikuti langkah Draco.
"Ada sesuatu Draco?" tanya Hermione penasaran setelah mereka berkumpul di halaman samping yang telah sepi.
Draco pun menceritakan apa yang terjadi tadi siang, saat Harry melihat dia dan Pansy lalu meninggalkannya begitu saja.
Mata Hermione berkilat marah, tanpa sadar dia menampar keras pipi Draco, "BRENGSEK KAU, DRACO…!" teriaknya marah, sebutir air mata jatuh dipipinya.
Ron memeluk erat Hermione, berusaha menenangkan kekasihnya itu.
Draco diam saja, karena dia memang merasa pantas diperlakukan begitu. Dia telah menyakiti hati seseorang yang paling dia cintai.
Annabell membekap mulutnya sendiri, "tega sekali kau pada Harry," katanya sambil menggeleng tak percaya.
Andy berdecak kesal pada kakaknya, dia mengacak rambutnya dengan emosi, "apa maksudmu melakukan itu, Draco?" tanyanya tak sabar.
Draco menghela nafas panjang dan mengusap wajah pucatnya, "aku hanya memberi kesempatan pada Pansy untuk mengatakan perasaannya, tapi tiba-tiba dia menarik jubahku dan menciumku tepat disaat Harry melihat kami," jelas Draco.
"KENAPA KAU MASIH MAU BERTEMU DENGAN GADIS LICIK ITU? KAU TAHU KAN BAGAIMANA SIFAT BURUKNYA?" teriak Hermione lagi. Tangisnya semakin keras terdengar.
"Kenapa kau salahkan aku?"
Tiba-tiba terdengar suara perempuan dibelakang mereka, semua menoleh dan mendapati Pansy berdiri disitu sambil mendekap tangannya di dada. Senyum liciknya masih tergambar jelas di bibirnya.
"Wajar kan kalau ada lelaki yang mencium perempuan? Justru yang aneh kalau ada lelaki yang mencium sejenisnya," ejek gadis licik itu sambil tertawa.
Draco melangkah cepat menghampiri gadis itu dan menampar mulutnya dengan keras, wajah pucatnya terlihat merah menahan amarah. "Sekali lagi kau bicara seperti itu akan kubuat kau tak punya mulut," ancam Draco.
Pansy terkejut dan memegang pipinya yang memerah akbat tamparan Draco. Air matanya mengalir deras di pipinya, "yang aku bilang benar kan Drakie?" isaknya.
"Asal kau tahu, Parkinson, dimataku seorang Harry jauh lebih baik dibandingkan siapapun. Dan kau tak berhak menilai apa yang wajar dan tak wajar untuk hidupku, JELAS?" desis Draco marah. "Mulai sekarang sebaiknya kau menjauh dariku dan jangan pernah sekalipun mendekatiku lagi."
Pansy langsung berlari meninggalkan mereka dengan masih menangis.
Draco menghela nafas panjang berusaha meredakan emosinya, "aku akan mencari Harry," katanya. Lalu dia meninggalkan keempat lainnya disitu.
.
Draco mengelilingi kastil dengan putus asa, dia telah mencari kemana-mana tapi tak menemukan jejak Harry. Akhirnya dia berlari ke tepi danau tapi tak ada siapapun disana, 'dimana dia? Bahkan ditempat kesayangan kami pun dia tak ada', batin Draco gusar.
Merasa benar-benar putus asa Draco lalu memukul batang pohon tempat dia dan Harry biasa bersama. "HARRY…DIMANA KAU? MAAFKAN AKU…!" teriaknya putus asa. Draco menarik rambutnya sendiri dengan marah, "AAAAARGH…" teriaknya lagi.
Draco terduduk dibawah pohon dan matanya menerawang jauh, sudah hampir jam malam dan dia sama sekali belum menemukan petunjuk keberadaan Harry. Tiba-tiba matanya tertuju pada menara tertinggi di Hogwarts yang belum sempat dia datangi, 'jangan-jangan…', pikirnya. Lalu dia berlari dengan cepat menuju menara itu.
Sesampainya diatas didorongnya pintu besar yang terbuat dari kayu yang kokoh itu hingga terbuka, disapunya ruangan itu dengan pandangannya dan dia melihat sesosok tubuh terbaring di lantai batu yang dingin. "Harry…" bisiknya. Tapi tubuh itu tak bereaksi sama sekali. Perlahan Draco berjalan mendekat dan berjongkok disamping tubuh Harry. Diangkatnya kepala pemuda berambut hitam itu keatas pangkuannya, dengan gemetar dirabanya wajah Harry. 'Hidup, dia masih hidup', teriak batin Draco. Air mata mengalir dipipinya saat dia mencium lembut bibir pucat Harry.
Harry membuka matanya saat sesuatu yang basah menyentuh pipinya, "Draco…" bisiknya.
Draco semakin erat memeluk Harry, tubuhnya berguncang menahan tangis.
"Kenapa kau menangis?" tanya Harry lemah.
Tubuh Draco semakin terguncang, "maafkan aku, Harry, maafkan aku," bisiknya parau sambil menciumi wajah Harry.
Harry menegakkan tubuhnya untuk duduk, dia berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Hatinya kembali terasa perih saat dia berhasil mengingat semua. "Kenapa kau lakukan itu padaku?" tanyanya pelan.
Draco mengusap wajahnya yang basah, mengatur nafasnya agar dapat menceritakan semua pada Harry.
Harry hanya terdiam mendengarkan cerita Draco, dia berusaha meredam api cemburunya agar tak semakin menyala. Dia tak tega melihat Draco yang tertunduk lesu, bahunya yang terkulai memperlihatkan betapa menyesalnya dia akan kejadian tadi. Harry sangat ingin memaafkan kekasihnya itu, dia tak mau membuat Draco bersedih. Harry menarik bahu Draco kedalam pelukannya, "sudahlah, aku tak apa-apa," bisiknya.
Draco menatap ragu mata hijau Harry yang masih terlihat terluka, "jangan berbohong, Harry, aku sudah sangat menyakitimu, maafkan aku," bisik Draco.
Pipi Harry basah oleh air yang mengalir dari mata hijaunya, dia berusaha menahan semua emosinya tapi tak mampu. "kau tahu Draco, tadi aku begitu takut. Aku tak mampu berpikir apa-apa karena setiap kali aku berpikir aku selalu memikirkanmu yang mungkin akan segera meninggalkanku," katanya parau.
Draco memeluk tubuh Harry dengan erat, "maafkan aku," bisiknya lagi. "Aku telah berjanji tak akan pernah meninggalkanmu, Harry, dan aku akan menepati janji itu seumur hidupku. Maafkan aku."
Harry merebahkan kepalanya di pundak Draco, "aku ingin bersamamu, Draco," bisiknya lembut.
Draco memeluk Harry dengan erat, "ya Harry, kita akan selalu bersama, aku janji."
Harry mendongakkan kepalanya dan memandang wajah Draco, tangannya mengusap bibir tipis Draco, "sudah kau cuci bibirmu? Aku tak mau menciummu kalau masih ada bekas Pansy disana," kata Harry berusaha menetralkan suasana. Dia sudah memaafkan Draco walau mungkin masih ada sedikit rasa kesal untuk Pansy.
Draco menangkup wajah Harry dengan tangannya, "bahkan sudah aku sikat dengan keras tadi," jawabnya tersenyum. "Sekarang kau mau menciumku?"
Harry mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Draco, tapi tidak dengan Draco, dia melumat rakus bibir Harry. Lidahnya menyerang rongga mulut Harry dalam belaian yang tak lembut.
Harry mengerang merasakan sentuhan Draco yang tak seperti biasanya, dia bisa merasakan ada amarah dan penyesalan dalam setiap kecupannya. Tubuhnya gemetar saat Draco menyerang lehernya dengan liar, tangannya menarik jubah Harry dan membuangnya ke lantai, begitu juga dengan kemejanya. Setelah itu Draco pun ikut membuang pakaian atasnya dan memamerkan dadanya yang telanjang seperti Harry.
Harry tersentak saat merasakan bibir Draco telah mencium satu titik kecil di dadanya, "D-Draco..." bisik Harry.
Draco menatap mata hijau Harry, "maafkan aku, Harry. Biar ku tunjukkan bagaimana berartinya kau untukku," jawab Draco pelan. Kembali bibirnya bermain di dada Harry membuat pemuda itu semakin tak mampu menahan diri. Dengan sekali dorong dibaringkannya tubuh Harry dilantai batu yang dingin, direnggutnya penutup terakhir tubuh Harry yang membuat pemuda berambut hitam itu tercekat. Tangannya yang memegang lengan Draco terasa bergetar menahan gairah yang menyapunya. Draco menundukkan wajahnya dan meraup tubuh Harry yang telah sangat menginginkannya. Dia tak menghiraukan erangan keras Harry dan cakaran kukunya di lengannya. Dia terus memanja Harry dengan lidahnya hingga akhirnya dia merasakan Harry telah meledak seiring jeritannya yang tertahan. Tapi Draco tak juga berhenti, dia terus membelai dan memanja kekasihnya itu membuat tubuh yang ditindihnya bergetar hebat.
Harry mendorong lengan Draco, "Draco...cukup..." katanya tersengal. Lalu dia menarik Draco dan menyuruhnya duduk.
Dengan heran Draco menurut saja dan membiarkan Harry membuang semua pelindung tubuhnya, lalu dia tecekat saat tiba-tiba Harry duduk dipangkuannya dan memeluk bahunya erat, "H-Harry…love…" bisiknya parau. Dia menahan pinggang Harry yang berusaha menyatukan raga mereka.
"Aku juga ingin menunjukkan betapa berartinya kau untukku, Draco," bisik Harry di telinga Draco.
Draco tersenyum dan menciumi bahu Harry yang basah oleh keringat, dia meringis saat Harry menggigit bahunya menahan perih yang menusuk saat raga mereka hampir menyatu.
Harry mendongakkan kepala dan menggigit bibir untuk menahan erangan yang hampir terdengar saat Draco telah hadir sepenuhnya dalam tubuhnya. Dunianya berubah menjadi abstrak dimana sejuta warna berpendar menjadi satu saat Draco mulai membawa dia menuju suatu dimensi yang sama sekali berbeda dengan yang selama ini pernah mereka singgahi. Mata hijaunya bertemu dengan mata abu-abu dalam suatu pancaran rasa percaya bahwa mereka ada dan akan tetap bersama. Satu hentakan dari Draco membuatnya terlempar dari alam sadarnya dan mengubah sejuta warna nya menjadi putih dan terang. Draco meredam jeritan Harry dalam satu lumatan yang dalam dibibirnya. Sentakan demi sentakan akhirnya mereda meninggalkan getaran halus di tubuh mereka. Harry terkulai lemas di bahu Draco yang memeluk pinggangnya.
Harry mengerang halus saat Draco membenamkan wajahnya di lehernya, "Draco…" desahnya.
"I love you. Harry. Dan maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan padamu," bisik Draco.
Harry memandang mata abu-abu yang bersinar penuh penyesalan itu, dikecupnya bibir Draco dan dia tertawa pelan, "cara meminta maaf yang hebat, Draco."
Draco balas memandang mata hijau itu yang kilaunya telah kembali terang dan hangat, dia merasa lega melihat Harry telah memaafkannya, "kalau permintaan maaf seperti ini yang kau suka aku akan bersedia meminta maaf terus padamu, love," kata Draco dengan seringaian khasnya.
Harry tertawa lagi mendengar kata-kata Draco, dia lalu berdiri dan mencari tongkatnya untuk membereskan semua kekacauan ini. Setelah semua sempurna Harry pun mengulurkan tangannya pada Draco, "kita melanggar jam malam lagi, Draco."
Draco tertawa, "Setelah ini tak akan ada jam malam lagi untuk kita, Harry," jawabnya sambil menyambut uluran tangan kekasihnya.
Dan mereka pun meninggalkan ruangan gelap itu dengan tersenyum.
.
"Maaf Draco, kemarin aku sudah menamparmu," kata Hermione pada Draco saat mereka berkumpul di tepi danau siang itu.
Mata Harry terbelalak, "kau menampar Draco. Mione? Wow...coba aku melihat itu," katanya sambil terbahak.
Semua memandang Harry dengan heran, baru saja kemarin dia 'disakiti' Draco dengan begitu parah dan sekarang dia sudah bisa tertawa lagi. "Dasar polos, kalau lain kali kau sakiti dia lagi mungkin aku yang akan memukulmu, Draco," bisik Blaise yang duduk disebelah Draco. Dia terkekeh saat Draco memandangnya dengan tajam dan dingin.
"Kau tak bersalah, Mione. Kalau kemarin aku tak begitu shock mungkin aku sudah melemparnya ke jurang," kata Annabell gemas yang disambut tawa teman-temannya.
Draco memandang mata hijau Harry dan menggenggam tangan pemuda berkacamata yang duduk disisinya itu, "maafkan aku," katanya sambil mengecup jari Harry yang dilingkari cincin pertunangan mereka.
"AAWWWW..." serentak semuanya berseru melihat betapa romantisnya Draco.
Draco dan Harry saling memandang, ada kilat jahil di mata meeka, lalu dengan sengaja mereka berciuman didepan semua yang mengakibatkan mereka mendapatkan seruan sumpah serapah dan tawa terbahak dari teman-temannya.
Sambil mengumpat kesal mereka meninggalkan Draco dan Harry yang masih berciuman di tepi danau yang sejuk itu.
Harry tertawa disela-sela ciumannya, "cara mengusir pengganggu yang jitu, Draco," katanya serak setelah semuanya tak ada lagi disitu.
Draco kembali mencium bibir Harry, "siapa bilang mengusir? Aku memang sedang ingin menciummu kok," katanya.
Kebutuhan oksigen memaksa mereka untuk mengakhiri ciuman panjang itu. "Selama pelatihan dan magang setahun kedepan, tinggallah bersamaku di Manor," pinta Draco sambil mendekap tubuh Harry. "Setelah kita resmi bekerja aku akan langsung mencari rumah untuk kita."
Harry menyandarkan tubuhnya pada Draco, "kita bisa bergantian tinggal di Manor dan dirumah orang tuaku kan?" tanyanya.
Draco mengecup puncak kepala Harry, "tentu," bisiknya.
Setelah itu tak ada yang bicara, keduanya hanyut dalam kesunyian yang terasa begitu damai.
-oOo-
A/N.
Maaf...niatnya ga ada lemon tapi tapi tapi kenapa perasaan aku lemonnya kecut banget ya... *plak / dasar author mesum*
Maafkan kalau sampai chap 5 ini juga masih ada yang kurang *yang berani bilang kurang panjang ku injek nih / lirik my*
Untuk semua yang masih nunggu lanjutannya aku ucapkan banyak2 terima kasih untuk dukungannya, mudah2an ga mati ide ditengah jalan XP.
Semoga aja masih ada yang mau baca n ngeripiu fic ini, makasih...^^
