THE FINAL
Disclaimer : J.K Rowling
Pair : Draco Malfoy – Harry Potter
Rate : M
Genre : Romance
WARNING : No war, OOC, OC
"Kau baru pulang? Bagaimana pelatihan hari pertamamu, Harry?" tanya Narcissa saat Harry menghampirinya yang sedang menikmati waktu santai di teras belakang.
"Masih belum kelihatan susahnya, aunty," jawab Harry sambil duduk di depan wanita cantik itu setelah mencium pipinya yang putih. "Mungkin Dad akan memberikan 'kejutan' pada kami nanti setelah berlangsung beberapa waktu."
Cissy tertawa mendengar gurauan Harry, "ayahmu adalah kepala auror yang sangat disegani karena ketegasannya dan kinerjanya yang tak bisa 'dibelokkan', apa yang menjadi peraturannya akan terus dipertahankan," jelas Cissy.
"Ya aku tahu, kalau sudah urusan kerja Dad tidak pernah bercanda, berbeda sekali kalau sedang santai," gerutunya.
Cissy menggangguk setuju, "siapa mentormu hari pertama tadi?" tanyanya.
"Sirius, dia mengisi pelatihan hanya selama 3 bulan pertama, setelah itu akan dilanjutkan oleh Moody sampai bulan ke 8, lalu sisanya sampai penilaian kelulusan dikembalikan lagi pada Sirius," terang Harry. "Aku kadang tak percaya kalau Dad dan Sirius yang terkenal sebagai biang keonaran bisa menjadi kepala dan wakil kepala di departemen Auror."
"kau pikir hanya kau saja yang heran? Aku dan Lucius juga sempat tak percaya saat kau berusia 10 tahun dan Millicent Bagnold menunjuk mereka sebagai 'panguasa' Auror," gurau Cissy.
Harry tertawa mendengar kata-kata dari ibu kekasihnya itu. Sejak lulus dari Hogwarts Harry dan Draco secara bergantian tinggal di Manor dan Godric's Hollow, kediaman keluarga Potter, karena kedua orang tua mereka memang belum mengeluarkan ijin tinggal bersama sampai mereka selesai pelatihan dan magang di kementrian.
"Kenapa Draco dan Lucius belum pulang ya?" tanya Cissy, "padahal ini baru hari pertama dia magang di departemen Lucius."
"Sebaiknya Mum tanyakan pada Dad, dia hampir saja membuatku dan Theo terkapar di kantor," jawab sebuah suara di belakang mereka.
"Ah…kau sudah pulang, Draco? dimana ayahmu?" sambut Cissy.
Draco menghempaskan tubuhnya disamping Harry sambil menarik lepas dasi dari kemeja putihnya yang masih tertata rapi, "sebentar lagi juga datang, tadi masih membereskan berkas yang baru sampai," jawab Draco malas.
Cissy mengangguk mengerti, "sebaiknya kalian membersihkan diri, setelah itu Mum tunggu diruang makan ya?" perintah Cissy lembut pada keduanya.
Draco tak beranjak dari duduknya tapi Harry langsung menarik tangan pemuda berambut pirang itu, "ayo…kau jangan terlalu malas," goda Harry.
Mau tak mau Draco pun pasrah ditarik Harry menuju ruangan mereka.
.
Selesai makan malam Draco dan Harry berbincang dengan Lucius dan Narcissa di ruang keluarga.
"Bagaimana hari pertamamu, Harry?" tanya Lucius.
"Sirius hanya menyampaikan garis besarnya saja, jadi aku belum menemukan kesulitan," jawab Harry.
Lucius mengangguk sambil memainkan cangkir teh di tangannya, "jangan berharap untuk terus bersantai, ayah baptismu itu selalu punya akal untuk membuat para calon Auror menangis," jelasnya.
Harry tersenyum, "ya, Dad juga sudah memberiku peringatan untuk berhati-hati pada Sirius," jawabnya. "Uncle sendiri, bagaimana hari pertama kedua karyawan magang ini?" tanyanya sambil melirik Draco yang sibuk membaca surat kabar.
Lucius memandang mata istrinya yang menyorot prihatin, "biasa saja, ini kan masih permulaan, masih banyak yang harus mereka pelajari," terangnya.
Draco langsung menatap ayahnya dengan pandangan protes, "enak saja bilang baru permulaan," gerutunya pelan yang hanya bisa didengar oleh Harry yang duduk disampingnya.
Harry terkekeh mendengar keluhan Draco.
"Sebaiknya kalian berdua istirahat sekarang, siapkan tenaga untuk besok," kata Narcissa.
Dan keduanya pun beranjak meninggalkan ruang keluarga
.
"Tidurlah, sepertinya kau lelah sekali," kata Harry pada Draco yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang mereka yang berukuran besar.
Lucius dan Narcissa memberikan mereka kamar baru untuk ditempati bersama di paviliun belakang yang terpisah dengan rumah induk, begitu juga ruangan mereka di Godric's Hollow. Kedua orang tua ingin memberikan sedikit privacy pada keduanya. Paviliun mereka di dua tempat itu memiliki arsitektur yang sama, sebuah paviliun dengan dua lantai, lantai bawah untuk ruang tamu, dapur kecil dan sebuah kamar mandi. Sedangkan lantai atas untuk kamar tidur yang dilengkapi kamar mandi dalam, ruang duduk dan balkon yang menghadap ke kebun belakang.
"Rasanya aku ingin pindah ke departemen Auror saja, Dad lebih kejam dibandingkan Severus," gerutu Draco. "Bayangkan seharian aku harus mempelajari setumpuk dokumen yang entah dari mana saja asalnya."
Harry tertawa dan merebahkan diri disamping tunangannya itu, dia melingkarkan lengannya di pinggang ramping Draco, "jangan mengeluh, nanti pekerjaanmu akan terasa semakin berat," hiburnya.
Draco mengusap lengan Harry di perutnya, "kau benar, akan ku katakan itu pada Theo besok," katanya setengah bergurau.
Harry tertawa lagi dan mencium sekilas bibir Draco, "tidurlah, g'nite love," bisik Harry.
Draco begitu tenang mendengar suara Harry yang lembut, dia pun memejamkan matanya sambil tetap memegang lengan Harry yang melingkar di pinggangnya.
.
.
Bulan keenam mereka lalui dengan mulus walau harus merasakan lelah yang sangat menyiksa. Para calon Auror mulai praktek langsung dilapangan untuk membantu para auror senior melaksakan tugasnya. Begitu pula dengan Harry dan Ron yang sore ini baru masuk ke kantor kementrian setelah seharian berkeliling bersama Moody, mentornya yang sangat keras tapi berhati baik.
"uuuugh…badanku seperti patah," gerutu Ron.
Harry hanya tertawa menanggapi gerutuan sahabatnya itu, "bersabarlah, kau sendiri yang memilih mendaftar untuk ikut pelatihan ini."
"Iya sih, tapi ayahmu, Sirius dan Moody sama sekali tak memberi dispensasi pada kita untuk beristirahat sebentar," keluhnya lagi.
"Dari awal aku sudah bilang, kalau soal pekerjaan Dad tak bisa ditawar," jelas Harry.
"Harry…" panggil suara dibelakangnya.
Harry menoleh dan ternyata Sirius lah yang memanggilnya, "ya Sirius?" tanya Harry.
Sirius menyerahkan selembar dokumen pada Harry, "tolong sampaikan dokumen ini ke departemen hukum di lantai lima, serahkan saja pada petugas jaganya agar disampaikan pada Amelia Bones, kepala departemen," jelas Sirius. "Setelah itu kau bisa langsung pulang."
Harry mengangguk, "baiklah, see u Ron," pamitnya pada Ron.
Menaiki lift transparan yang bisa bergerak vertical maupun horizontal Harry melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan yang dilewatinya. Bagaimana sibuknya para pekerja di kantor kementrian ini dan sebagainya. Lift berhenti di lantai yang dituju, lalu dia melangkahkan kakinya mencari kantor departemen hukum. Harry belum pernah masuk ke kantor departemen lain selain departemennya sendiri, jadi dia agak bingung.
Setelah menemukan tujuannya Harry masuk ke dalam dan menemui petugas reception, seorang wanita muda yang cantik dengan rambut hitam lurus sebahu dan berkacamata.
"Selamat sore, Sir, ada yang bisa kubantu?" tanyanya dengan wajah memerah melihat ada seorang pemuda tampan memasuki kantornya.
"Mmmh ya…aku mau menyampaikan dokumen ini untuk Amelia Bones dari departemen auror," jawabnya.
"Ah…Mrs. Bones sedang tidak ada ditempat tapi anda bisa menyampaikannya melalui kami," terang gadis itu.
"Harry…" sapa seorang gadis yang baru keluar dari salah satu ruangan di kantor itu.
"Mione…" seru Harry menjawab sapa dari gadis yang ternyata sahabatnya itu. 'Tentu saja, ini kan departemen tempat Hermione dan Blaise magang, kenapa aku bisa lupa?', batin Harry.
Hermione memeluk Harry dan mencium pipinya, "hei…aku merindukanmu, Mate."
Harry tertawa dengan masih memeluk pinggang sahabat cantiknya itu, "aku juga, Mione, lama sekali kita tak bertemu," kata Harry dan sekali lagi dia memeluk sahabatnya itu erat tanpa menyadari tatapan iri dari sang receptionist. "Mana Blaise?" tanyanya.
"Dia ada tugas luar," jawab Hermione. "Sedang apa kau disini?"
"Ah ini, aku ingin menyampaikan dokumen dari Sirius untuk Mrs. Bones, tapi kata nona itu beliau sedang tidak ada di tempat," jawabnya sambil menunjuk ke arah si receptionist yang langsung tersenyum begitu Harry melihatnya.
"Berikan padaku, nanti biar aku letakkan di mejanya," tawar Hermione yang langsung mengambil dokumen yang disodorkan Harry.
"Hai Harry," sapa sebuah suara lagi dibelakangnya.
Harry menoleh dan mendapati seorang gadis asia yang cantik teman seangkatannya dari asrama Ravenclaw yang dulu –kata Hermione- pernah menaruh harapan padanya, "hai Cho, apa kabar?" sapa Harry sambil menjabat tangan gadis yang bernama Cho Chang tersebut.
"Baik," jawab gadis itu dengan wajah bersemu merah.
"Kau juga disini?" tanya Harry.
"Ya, baru seminggu yang lalu," jawab gadis itu lagi.
"Ehemm…apakah ada sesuatu yang menarik disini?" tanya sebuah suara di belakang Harry. Harry begitu mengenal suara itu, suara yang setiap malam selalu menyenandungkan lagu cinta untuknya.
"Draco…" sapanya sambil tersenyum, tapi tidak dengan Draco, dia memandang tajam pada Harry dan Cho Chang. Sekali lagi Harry lupa kalau kantor Draco berada di lantai yang sama dengan Hermione.
Tak ingin mencari ribut Cho Chang pun undur diri, "aku pulang dulu ya?" pamitnya pada semua lalu meninggalkan ruangan itu dengan cepat.
"Kau mau tebar pesona disini, Potter?" kata Draco setengah mengancam sambil meraih pinggang Harry.
Hermione terkikik geli melihat Draco, "kalau mau bertengkar jangan di kantorku, keluar sana," guraunya.
"Siapa yang mau tebar pesona?" bantah Harry sambil berusaha melepaskan pelukan Draco karena dilihatnya sang gadis receptionist melihat mereka sambil melongo lalu terkikik pelan sambil menutup mulutnya. Sepertinya gadis itu terpesona dengan keintiman Harry dan Draco.
"Sebaiknya aku menyeretmu pulang sekarang, karena aku sedang malas bertengkar," jawab Draco sambil menarik lengan Harry yang sebelumnya mereka sempat mencium sekilas pipi Hermione untuk berpamitan.
"Bye Harry…Draco…" kata Hermione sambil melambai sebelum mereka menghilang di balik pintu. Hermione kembali tertawa geli mengingat batapa posesifnya Draco sejak dulu pada Harry.
"kau mengenal mereka, Miss Granger?" tanya receptionist yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Tentu, Thina, mereka sahabat-sahabatku sejak awal masuk ke Hogwarts dulu," terang Hermione sambil tertawa.
.
"Senang ya bertemu dengan salah satu penggemarmu?" tanya Draco dingin saat mereka berjalan menuju pintu keluar kantor kementrian itu.
"Oh come on, Draco, aku bahkan tak tahu Chang ada di situ. Hermione juga tak pernah memberitahuku ataupun Ron," jawabnya kesal.
Mereka terus berjalan melewati hilir mudik pekerja kementrian yang mulai sepi dibandingkan saat siang hari. Tak menghiraukan beberapa pasang mata yang melihat mereka berdua dengan pandangan kagum dan memuja.
"Harry…Draco…" panggil sebuah suara.
Mereka menghentikan langkah dan menoleh ke sumber suara, "Dad…" jawab Draco pada ayahnya.
"Kalian mau pulang?" tanya Lucius.
"Ya Dad, malam ini kami akan di Godroc's Hollow," jawab Draco.
Lucius mengangguk dan berpikir sebentar, "Draco…besok aku ada urusan mendadak ke jerman, dan aku ingin kau dan Theo ikut bersamaku untuk beberapa hari," kata Lucius.
Harry dan Draco saling melempar pandang, "besok Dad?" tanya Draco tak yakin.
Lucius mengangguk.
"Ini resiko pekerjaan, Son, kalian harus bisa membiasakan diri dengan ini," sambung James Potter yang sudah berdiri di sebelah Lucius.
"Baiklah," jawab Draco lalu memandang ke arah Harry yang menganggukkan kepalanya.
.
"Sudah kau siapkan barang-barangmu, Draco?" tanya Lily saat mereka berkumpul untuk makan malam.
Draco mengangguk, "Sudah Aunty."
Lily menghela nafasnya, "kapan kau akan mulai memanggil kami 'Mum dan Dad'?" tanya wanita cantik berambut merah itu.
Draco tersenyum, "ok Mum," jawabnya yang disambut tawa James dan Lily.
Harry menikmati makan malamnya dalam diam, dia memikirkan kepergian Draco besok dan beberapa hari tanpa kehadirannya.
Lily menyikut lengan suaminya dan menunujuk kearah Harry dengan dagunya, Draco yang melihat itu pun ikut memperhatikan Harry yang makan sambil menunduk dan tak terlalu bernafsu.
James terkekeh, "bisa jadi waktumu tidak hanya beberapa hari, Draco. Lucius sering sekali pulang tak sesuai jadwal karena pekerjaannya memang memakan waktu yang lumayan lama," kata James menggoda Harry. Dan pancingannya mengena, Harry langsung tersedak dan terbatuk-batuk.
Lily yang kesal akibat ulah suaminya itupun memberikan pandangan mematikan agar James berhenti menggoda Harry. Draco yang melihat keusilan James yang tak ada habisnya itu hanya bisa tersenyum.
Harry menyudahi makannya, "aku lelah sekali, aku langsung tidur ya Mum?" pamit Harry dan meninggalkan meja makan setelah mengucapkan selamat malam pada semua.
"Kau ini, jangan menggoda Harry seperti itu. Kau akan tahu rasanya kalau aku meninggalkanmu untuk beberapa hari, lihat saja," ancam Lily gemas pada suaminya.
"Oh come on honey, aku hanya senang saja melihat anak itu tak bisa menyembunyikan perasaannya," rayu James.
Draco tertawa, "sebaiknya aku susul dia. G'nite Mum, Dad," pamit Draco.
.
Draco mencari Harry dikamar mereka, tapi pemuda bermata emerald itu tak ada disana. Dia melihat pintu balkon terbuka dan keluar, ternyata Harry ada disana, bersandar pada pagar balkon dan memandang ke kebun belakang. Draco tersenyum dan memeluk pinggang Harry dari belakang.
Harry tak terkejut karena dia sudah mendengar langkah Draco.
"Percayalah, aku pun sama ragunya denganmu. Kalau bisa ku tolak maka akan ku tolak ajakan Dad ke jerman," kata Draco pelan.
Harry menghela nafasnya, kepalanya disandarkan pada dada Draco yang berdiri di belakangnya, "aku akan merindukanmu, Draco," bisik Harry.
Draco menunduk dan mencium leher Harry yang langsung mengerang, "aku juga, Harry," bisiknya lagi. "Sekarang berikan aku sesuatu yang bisa ku ingat untuk beberapa hari kedepan."
Harry tertawa dan memutar tubuhnya menghadap Draco, dia mencium bibir tipis itu dengan dalam tapi lembut membuat keduanya tak mampu memikirkan apa-apa lagi selain kehadiran kekasihnya. Dua bibir yang saling memagut menjadikan dinginnya malam seakan tak berarti. Dan malam itu keduanya berlayar mengarungi samudera cinta mereka menuju ke suatu tempat yang hanya mereka berdua yang tahu. Melepaskan semua keraguan dan menancapkan rasa percaya bahwa mereka akan selalu bersama.
.
Harry melewati hari-harinya dalam sepi, Narcissa memintanya tinggal di Manor selama Draco dan Lucius pergi.
"Belum ada kabar dari Draco, Son?" tanya Cissy saat sarapan.
"Belum Mum," jawab harry yang sudah mulai membiasakan diri memanggil wanita cantik itu dengan sebutan Mum.
"Kau harus belajar bersabar untuk ini, aku tahu awalnya pasti berat tapi itulah yang akan kalian hadapi nanti," hibur Cissy.
Harry tersenyum, "aku mengerti. Tidak menutup kemungkinan nanti kami berdua akan jarang bertemu melihat pekerjaan Dad yang menuntutnya banyak di lapangan."
Narcissa mengangguk, dia menggenggam tangan Harry dengan lembut, "kau tahu, kami begitu bahagia melihat perubahan Draco semenjak dia bersamamu, Harry," katanya. "Kuharap kau bisa terus bersabar menghadapi sikapnya yang agak egois itu."
Harry tertawa, "aku juga tak kalah egoisnya, Mum," jawab Harry. "Aku berangkat dulu, Moody bisa mencincangku kalau aku terlambat," pamitnya sambil mencium pipi Narcissa.
Wanita cantik beramput pirang itu tertawa kecil, "sampaikan salamku untuk Moody dan sepupuku, Sirius," katanya.
"Ok," jawab Harry yang langsung menghilang di dalam perapian menuju kantornya.
.
Pelatihan pagi ini hanya di dalam kantor saja, Moody akan membawa para calon auror ke lapangan pada siang hari.
Harry dan Ron berjalan keluar kantor menuju restoran kecil disudut jalan untuk makan siang, mereka duduk di meja di samping jendela besar. Dia melihat ayahnya, Sirius dan Moody di salah satu meja disudut restoran tapi dia memutuskan untuk tidak bergabung bersama para orang dewasa itu. Rasanya malas juga dijahili ayahnya dan Sirius disaat dia sedang kehilangan moodnya tanpa Draco.
Tak berapa lama muncullah Hermione dan Cho Chang yang juga kebetulan masuk ke restoran itu, melihat ada Harry dan Ron disana kedua gadis itu memutuskan untuk bergabung dalam satu meja.
"Ku dengar Draco ke luar negeri, Harry?" tanya Hermione.
Harry mengangguk, "ya, dia pergi bersama Theo," jawab Harry. Dia melirik kearah Cho Chang yang dari tadi hanya diam saja memandang Harry dengan wajah bersemu merah. "Bagaimana pekerjaan kalian?" tanya Harry.
"Aku sudah mulai belajar menangani masalah pengadilan, kalau Cho untuk bagian masalah berkas dan bukti," terang Hermione.
"Sepertinya sulit ya?" tanya Ron kali ini.
"Pertama sih iya, tapi lama-lama bisa juga," jawab Cho Chang akhirnya.
"Kemarin aku bertemu Mrs. Potter, katanya kau tak tinggal dirumah?" tanya Hermione.
"Aunt Cissy memintaku menemaninya selama uncle Lucius dan Draco pergi," jawab Harry lesu.
"Sudah berapa lama mereka pergi?" tanya sahabat wanitanya itu lagi.
Harry tampak berpikir sebentar, "lima hari kurasa."
"Baguslah setidaknya kau bisa bisa bebas beberapa hari tanpa ikatannya," jawab Ron enteng sambil menelan makanannya.
Harry tertawa dan memukul kepala sahabatnya itu pelan, "enak saja. Mione, lain kali kau tinggalkan saja dia beberapa minggu biar dia tahu bagaimana rasanya," ancam Harry.
Hermione menatap sebal pada kekasihnya yang tak pernah berpikir panjang kalau bicara itu, "bisa juga ku coba."
"W-WHAT…? Mione, aku hanya bercanda," rajuk Ron yang disambut tawa ketiganya.
"Kalian awet juga," kata Cho pada Harry.
Harry hanya tersenyum dan mengangkat bahunya.
"P-padahal kan malfoy terkenal dingin, berbeda sekali denganmu," kata gadis asia itu lagi, kali ini nampak jelas semburat merah di pipinya yang putih.
Ron dan Hermione melempar pandang penuh curiga terhadap gadis itu, dan Hermione mengedipkan matanya sebagai tanda ini bukan urusan mereka.
Sekali lagi Harry tertawa, "dia sebenarnya tak begitu, hanya saja memang sifat dasarnya seperti itu," jawab Harry bingung bagaimana cara menjelaskan tentang Draco ke orang lain, sedangkan keluarganya saja sering terkejut dengan sifat Draco yang gampang berubah.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang, "Dad…" kata Harry begitu melihat ayahnya.
James menganggukkan kepala kepada ketiga teman anaknya yang mengucapkan selamat siang padanya, lalu dia menyodorkan segulung perkamen pada putranya, "sepertinya adikmu merindukanmu," jelas James.
Harry meraih gulungan itu, "thanks Dad," jawabnya.
"Segera selesaikan makanmu, setelah ini ikut Moody patroli," perintah james.
"Yes, Sir," jawab harry dan Ron serempak. Kalau urusan pekerjaan Harry tak mau memanggil 'Dad' pada ayahnya dan Lucius.
Harry membuka gulungan itu setelah ayahnya pergi, lalu dia tersenyum membaca tulisan adiknya.
Dear Harry,
Bagaimana kabar mu, kak? Kau tahu sekolah rasanya sepi sekali tanpa kehadiran kalian. Apalagi sejak kau dan Draco tak ada para murid perempuan semakin gencar mendekati Andy, aku sampai kesal dibuatnya. Beberapa kali kami bertengkar tapi tak sampai berlarut-larut, Andy begitu dewasa.
Bagaimana pelatihanmu? Ada kemajuan tidak? Aku doakan kau dan Ron tak usah menunggu waktu setahun untuk mendapatkan sertifikat kelulusan dari Dad dan uncle Sirius.
Lalu bagaimana Draco? Kudengar dia sekarang sedang pergi ya? Kau pasti sangat merindukannya kan? Bersabarlah dan jangan bersedih.
Sudah dulu ya, balaslah suratku, aku sangat merindukanmu.
Bell.
Harry menggulung kembali surat dari adiknya dan menceritakan garis besarnya kepada teman-temannya. Setelah itu mereka berpisah dan kembali ke kantor masing-masing.
.
Sesampainya di Manor Harry melihat rumah dalam keadaan sepi, 'dimana Mum? Biasanya dia menungguku di ruang keluarga?', tanya Harry dalam hati. Telinganya menangkap suara percakapan di teras belakang, "Mum…" panggilnya pelan dan nafasnya tercekat melihat dengan siapa Narcissa bicara, "Pansy…" desisnya.
Narcissa terlihat gugup melihat kehadiran Harry yang lebih cepat dari biasanya, "kau sudah pulang, Son?" tanya Narcissa.
"…Ya, tak banyak yang harus dikerjakan hari ini," jawab Harry datar masih dengan memandang heran pada gadis yang selalu mengejar Draco itu.
"Kenapa kau kelihatan heran melihatku disini? Sejak dulu aku sudah sering main ke Manor ini dan berbincang dengan Aunt Cissy," pamer gadis itu dengan senyum liciknya.
Otak Harry berputar, 'apa maksudnya? Apakah selama ini Mum sering bertemu dengan Pansy dan tidak mengatakannya padaku?', tanya batin Harry.
Sekali lagi Narcissa tampak gugup, dia melangkah mendekati Harry, "mandilah dulu, setelah ini Mum akan jelaskan semua padamu," bisik Narcissa sambil mendorong pelan bahu Harry.
Merasa bingung dan teringat sakit hatinya pada Pansy tahun lalu membuatnya memilih untuk pergi ke paviliunnya. Tapi sesampainya di dalam Harry tak segera mandi, dia duduk di ruang tamu dan menyandarkan punggungnya dengan malas di sofa besar berwarna hijau, warna kesayangan Draco. Dia menaikkan kakinya diatas meja yang ada didepannya dan meluruskannya. Masih bingung dengan keadaan diluar Harry megusap wajahnya yang terlihat lelah. Beragam pikiran bermain di kepalanya, 'kenapa Pansy ada disini dan aunt Cissy terlihat gugup?'. Selalu itu yang berkecamuk di batinnya. Masalah apa lagi yang akan muncul ditengah hubungannya dengan Draco? Sibuk dengan pikirannya yang melalang buana tanpa sadar dia pun tertidur di sofa itu.
.
"…ry, Harry…" panggil sebuah suara yang membangunkannya dengan lembut.
Perlahan Harry membuka matanya dan melihat Narcissa sudah duduk di sampingnya, "Mum…" katanya sambil menegakkan tubuh dan menurunkan kakinya. "Maaf aku tertidur," kata Harry.
Narcissa tersenyum dan menggeleng pelan, "tak apa, kau pasti lelah sekali," jawab wanita yang masih terlihat cantik itu. "Mum bawakan makan malammu kesini," katanya lagi sambil melihat ke meja kecil di dekat dapur.
"Terima kasih," jawab Harry pelan.
"Harry…" kata Narcissa ragu. "Tadi itu tidak seperti yang kau pikirkan. Pansy memang beberapa kali datang kesini dan berbincang dengan Mum disaat kalian tak dirumah. Mum sengaja tak mengatakannya padamu dan Draco karena Mum tak ingin kalian bertengkar," jelas Cissy sambil menggenggam tangan Harry.
Harry mengangguk berusaha mengerti, "ada urusan apa dia kesini?" tanya Harry.
Narcissa menghela nafas panjang, "dia berusaha mempengaruhi Mum untuk memisahkan kalian. Dia selalu bilang kalau hubungan kalian itu…"
"Tidak wajar," potong Harry dengan suara serak.
"No, Son, jangan bicara begitu. Mum sama sekali tak berpikir seperti itu," jelas Cissy cepat melihat luka dimata hijau yang begitu mirip dengan mata sahabatnya itu. "Mum tidak pernah menghiraukan dia, hanya saja Mum pikir tidak sopan rasanya mengusir gadis itu, lagi pula Mum kenal dengan orang tuanya."
Harry mencoba tersenyum walau terlihat miris, "tak apa Mum, aku mengerti," jawab Harry pelan sambil menepuk kecil tangan putih mulus yang menggenggamnya. "Hanya saja ku pikir sebaiknya Draco tak tahu ini, aku tak mau dia marah lagi."
Sebutir air jatuh di pipi wanita itu mendengar betapa tulusnya Harry mencintai Draco dan betapa lembutnya hati pemuda itu. Dia langsung memeluk Harry dan terisak kecil, "maafkan Mum, Harry, tadi Mum sudah memperingati gadis itu dengan keras. Mum tak mengijinkan dia mengganggu kalian lagi," isaknya.
Harry mengusap punggung Narcissa yang bergetar, "sudahlah Mum, aku sudah melupakan ini," jawab Harry, "Mum sama sekali tak bersalah."
Narcissa melepaskan pelukannya dan mengusap matanya yang basah, mata biru itu memandang Harry dengan penuh penyesalan dan rasa sayang yang besar, "makanlah dulu, setelah itu pergilah tidur, kau tidak boleh sakit," perintahnya lembut sambil mengusap lengan Harry.
Harry mengangguk dan sekali lagi mengucapkan terima kasih dan mencium pipi wanita itu sebelum meninggalkannya sendirian di paviliunnya yang sepi.
.
Sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya, membuatnya merasakan sensasi yang sangat dia rindukan. Dengan masih sangat mengantuk dia membuka matanya dan berseru senang melihat siapa yang ada di depannya, "Draco…" katanya sambil melompat dan memeluk tubuh kekasihnya itu.
Draco tertawa, "wow…wow…love, sepertinya kau sangat merindukanku ya?" goda Draco sambil membalas pelukan erat Harry.
Harry tak menjawab tapi dia semakin mengeratkan pelukannya pada Draco dan membenamkan wajahnya di dada pemuda itu. Rasa galaunya yang melandanya hari ini seakan lenyap tak berbekas. Rasanya begitu sempurna bisa memeluk kekasihnya seperti ini.
Draco mencium telinga Harry dan berbisik, "aku begitu kehilanganmu beberapa hari ini, love."
Harry tersenyum dan mendongakkan kepalanya, dia meraih bibir Draco dan menciumnya dengan rakus seakan ingin menumpahkan segala kerinduan yang terpendam. Ditariknya kemeja Draco sampai terlepas lalu diciuminya dada putih itu sampai didengarnya erangan Draco dan getaran tubuhnya.
Dengan tak sabar Draco pun menghempaskan tubuh Harry ke tempat tidur, direnggutnya semua yang menempel ditubuh pemuda itu dan dibelainya setiap inchinya dengan tangan, bibir dan lidahnya. Harry mengerang keras merasakan sentuhan Draco yang seperti menyerang alam sadarnya dan menghempaskannya berkali-kali ke tempat yang tinggi dan indah. Erangan demi erangan bagai alunan orchestra ditengah malam yang sepi, begitu panuh cinta, begitu penuh kerinduan. Sentuhan-sentuhan dan seribu belaian seakan tak cukup mengukur besarnya rasa yang terpendam, hingga terdengar satu alunan keras dari keduanya yang menandakan kalau mereka telah bersatu dan melepaskan semua hasrat yang terhimpit selama ini. Alunan yang mengiringi pelepasan mereka akan satu tuntutan untuk bersama. Alunan yang semakin lama semakin melemah seiring getaran tubuh yang mulai terhenti.
.
Draco memeluk erat tubuh polos yang meringkuk disampingnya itu, dibelainya rambutnya yang hitam berantakan. "maafkan aku meninggalkanmu begitu lama," bisik Draco.
Harry tersenyum di lekuk leher kekasihnya, "kuharap kau mengganti semua kerugian yang aku alami, Mr. Malfoy," jawab Harry parau.
Draco terkekeh dan mengecup lembut puncak kepala Harry, "sebutkan, maka aku akan melakukan semua untukmu," jawabnya merayu.
Harry memeluk erat pinggang Draco, rasanya begitu nyaman dan hangat, "tetaplah disisiku, dan sejauh apapun kita terpisah bawa aku dihatimu," pinta Harry pelan.
"Deal, love," bisik Draco. lalu mereka berdua tertidur dalam heningnya malam yang menyelimuti.
.
"Bagaimana perjalananmu, Son?" tanya Narcissa saat sarapan di sabtu pagi ini.
"Baik Mum, hanya saja aku tak percaya kalau Dad mampu beramah tamah dengan orang yang begitu banyak," jawabnya datar yang disambut pandangan dingin ayahnya.
Harry dan Narcissa tertawa mendengar jawaban Draco.
"Bagaimana pelatihanmu, Son?" tanya Lucius pada Harry.
Hati Harry selalu hangat setiap Lucius memanggilnya 'Son', "lancar, Dad. Bahkan kalau dalam waktu dua bulan ini aku bisa membantu Moody menangkap seorang pelaku kejahatan maka Dad dan Sirius menjanjikan kelulusan untukku," jawab Harry.
"Bagus, kurasa untuk pelatihan mantra kau tak ada tandingannya, tinggal membuktikan di lapangan saja," lanjut Lucius.
"Apakah itu berbahaya, sayang?" tanya Narcissa pada suaminya. "Pembuktian di lapangan?"
Lucius mengedikkan bahunya, "semua pekerjaan ada resikonya, sayang, dan aku yakin Harry akan mampu menghadapi semua. Apalagi dia dibawah pengawasan James," jawab Lucius memandang istrinya.
Draco yang agak miris mendengar penjelasan ayahnya langsung melihat pada Harry, "sebaiknya kita bertukar pekerjaan saja," katanya cepat.
Harry tertawa mendengar kata-kata Draco, "jangan bodoh, aku tak mau," jawabnya mantap.
"Apa rencana kalian hari ini?" tanya Narcissa.
"Kami akan ke Godric's Hollow, aku belum sempat menyapa orang tuaku yang satunya. Mungkin malam ini kami menginap disana," jawab Draco.
Narcissa tersenyum, "kalau begitu sampaikan salam rindu kami untuk mereka."
.
Seharian di kediaman Potter seperti tak terasa bagi mereka, kehadiran Sirius menambah hidupnya suasana. Berkali-kali Harry dibuat jengkel oleh ulah ayah dan ayah baptisnya itu yang selalu mengolok-oloknya di depan Draco. mereka mengatakan kalau Harry seperti mayat hiduplah, atau seperti robot yang kehabisan baterei saat Draco pergi. Olokan itu berhenti saat ibunya masuk dan mengancam tak akan memberikan mereka makan siang kalau masih terus bertingkah seperti itu.
"Kalian akan menginap kan?" tanya Lily.
Harry mendahului Draco yang sudah akan menjawab, "mungkin tidak sekarang, Mum," jawab Harry yang langsung menerima pandangan heran dari Draco. Tapi Draco membiarkan saja, dia maklum mungkin Harry ingin ketenangan yang tak bisa didapatkannya disini mengingat ayahnya dan Sirius yang seharian tadi selalu menggodanya.
.
Sebelum makan malam mereka telah tiba di Manor. Belum lagi mereka menutup pintu depan sudah terdengar suara dari Narcissa yang membuat mereka heran, karena Mrs. Malfoy itu tak pernah bicara dengan sekeras itu. Dengan penuh tanda tanya Draco menyuruh Harry mengikutinya menuju asal suara yang datang dari ruang keluarga. Mereka mengintip dari balik tembok putih yang membatasi ruangan itu dengan ruang tamu. Tangan Draco terkepal saat tahu ibunya sedang bicara dengan siapa, "Parkinson…apa maunya disini?" desisnya marah.
Harry menahan tangan Draco yang hendak menyerbu ke ruangan itu, dia menggelengkan kepalanya saat Draco menatap Harry dengan protes. Dan dengan berat hati Draco pun memenuhi keinginan Harry untuk melihat semuanya dari tempat mereka berdiri saja.
"Sudah kukatakan padamu, Miss Parkinson, jangan pernah mengganggu putra-putraku lagi. Aku tak peduli pada pendapatmu tentang mereka," kata Narcissa ketus.
"Tapi ma'am, si Potter itu selalu mempengaruhi Drakie sejak saat sekolah dulu. Bagaimana mungkin anda membiarkan nama keluarga anda tercoreng gara-gara hubungan tak jelasnya dengan Potter?" jawab Pansy sinis.
Sekali lagi Harry menahan tubuh Draco dengan kuat, dia tak mau kekasihnya itu naik darah gara-gara Pansy. Dia sudah terbiasa mendengar caci maki gadis itu jadi dia berusaha tak menghiraukan ocehan gila gadis itu.
"Hubungan mana yang tak jelas? Kami menerima kehadiran Harry dengan tangan terbuka, dan kami tak merasa telah merugikan orang lain dengan hubungan ini," jawab Narcissa lagi.
"Ma'am, mata anda telah tertutup apa sebenarnya? Jelas-jelas si Potter itu menggunakan mantra tertentu untuk mengikat akal anda," tuduh Pansy.
Kali ini Draco tak bisa menahan dirinya lebih lama lagi, dia menerjang masuk ke ruangan itu, "diam kau gadis gila, jangan bicara seperti itu pada ibuku," katanya menahan marah.
Pansy terkejut melihat kehadiran Draco disitu, juga Harry yang berdiri disamping Narcissa yang langsung memeluk tubuh Harry.
Harry mengusap bahu Narcissa yang bergetar menahan tangis, "sudahlah Mum, jangan hiraukan dia," bisik Harry menenangkan.
"Ternyata tamparanku tidak cukup untuk membuatmu menutup mulut busukmu itu, Parkinson," desis Draco.
"Drakie, kenapa kau tak sadar juga sih? Hubunganmu dengan dia itu tak normal," teriaknya histeris sambil menudingkan tangannya kearah Harry.
Hati Harry serasa tersayat ribuan silet, dia seperti dingatkan lagi pada keraguannya akan perasaannya pada Draco dulu.
Narcissa merasakan tubuh Harry menegang dipelukannya, ditatapnya wajah pemuda itu dan dia melihat amarah yang terpancar disana.
"Dia telah membuatmu menjadi tidak normal, Draco," teriak Pansy lagi.
"DIAM KAU GADIS PARKINSON, JANGAN MENGHINA ANAK-ANAKKU LAGI," kali ini suara lucius yang dingin menggema diruangan itu. "Kalaupun Draco tak bersama dengan Harry maka bisa kupastikan padamu kalau dia tak akan pernah memilihmu selamanya. Kau…tak akan pernah diterima dalam keluarga kami. Jadi sekarang tinggalkan rumah ini atau aku akan menghancurkan keluargamu," kata lucius dingin.
Wajah pansy langsung berubah pucat, siapa yang tak takut dengan Lucius Malfoy, seorang bangsawan yang terhebat di dunia sihir. Jabatannya sebagai kepala hubungan sihir internasional mengukuhkan dia sebagai bangsawan yang terkenal di seluruh penjuru dunia dan mampu berbuat apa saja dengan bantuan atau tanpa bantuan orang lain. Tanpa menunggu lagi Pansy langsung berlari keluar rumah itu dengan menangis. Dia bisa mendengar pintu rumah itu terbanting dengan keras di belakangnya.
.
Semua duduk di ruang keluarga dalam diam. Lucius duduk di sofa tunggal kesayangannya dan melihat langit-langit ruangan dengan nanar. Harry duduk di sofa panjang dengan diapit Cissy dan Draco yang meremas rambut pirangnya dengan marah.
"Harry, Son…maafkan aku," kata Narcissa sambil menggenggam tangan Harry. "Seharusnya tadi Mum langsung mengusirnya."
Harry menepuk lembut tangan Cissy, "dari kemarin aku sudah bilang kalau ini bukan salah Mum, lupakan saja," jawab Harry.
"Gadis sialan…" desis Draco marah.
Harry menghela nafas panjang, sebenarnya dia sama marahnya seperti mereka tapi dia tak mau semakin memperuncing keadaan ini, "sudahlah, kita sama-sama lelah jadi sebaiknya kita beristirahat saja," kata Harry berusaha menetralkan suasana. Lalu dia mencium sekilas pipi Cissy, "g'nite Mum, Dad," pamitnya, lalu pemuda itupun melangkah meninggalkan ruangan dan meninggalkan Draco disana.
Dia masuk ke paviliunnya dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Kepalanya benar-benar terasa panas, otaknya seakan terbakar oleh kata-kata Pansy. Draco belum menyusulnya masuk, 'berarti dia masih berbincang dengan kedua orang tuanya', pikir Harry. Tak mau menghabiskan waktu dengan amarah akhirnya Harry pun memutuskan untuk tidur. Dia tak peduli walau perutnya belum terisi malam ini.
.
"Love, bangunlah, aku punya kejutan untukmu," bisik sebuah suara yang mengganggu pulas tidur Harry.
Dengan malas Harry membuka matanya, "Draco, ada apa?"
Draco mengecup sekilas bibir Harry, "ayo ikut aku, tadi aku menemukan sesuatu di gazebo belakang," bisiknya.
Harry bangkit dari tidurnya, "inikan masih tengah malam, apa tidak bisa ditunda?" tanyanya sambil melihat keluar jendela yang masih gelap.
Draco menarik tangan Harry dengan lembut, "Ayolah, Belum tentu besok 'mereka' masih disini," jawab Draco.
"Mereka?" tanya Harry.
Draco menghela nafas kesal, "Ayolah Harry."
Akhirnya Harry mengikuti langkah Draco menuju kebun belakang tapi begitu mau keluar dari paviliun Draco menghentikan langkahnya dan menahan bahu Harry, "dari sini aku minta kau menutup matamu," bisik Draco ditelinga Harry.
Harry memandang heran pada tunangannya itu, tapi melihat pandangan memaksa dari mata abu-abu Draco Harry pun tak punya pilihan lain. Dia menutup matanya dan merasakan tangan Draco menggandengnya dan menuntunnya menuju gazebo tempat dia menyematkan cincin pertunangan di jari Harry tahun kemarin.
Draco memeluk pinggang Harry dari belakang saat mereka telah tiba di gazebo yang berbentuk bundar itu, "buka matamu, love," bisik Draco lagi.
Perlahan Harry membuka matanya dan terpana melihat apa yang ada di depannya. Ribuan kunang-kunang dan kupu-kupu yang beraneka warna terbang disekeliling mereka, tapi mereka terlihat begitu indah karena tubuhnya memancarkan cahaya yang berkelap-kelip. Setelah diamati dengan teliti Harry pun berseru pada Draco, "i-ini bukan kunang-kunang ataupun kupu-kupu, mereka peri, Draco," kata Harry dalam pesonanya yang begitu besar.
"Yes, Harry, mereka adalah peri yang menampakkan dirinya beberapa ratus tahun sekali, dan malam ini aku melihat mereka disini dan meminta mereka untuk menemani kita di malam yang spesial ini," jawab Draco mesra.
"Malam yang spesial?" tanya Harry heran.
Draco mencium leher Harry dari belakang, "mungkin kau sudah lupa pada hari ini, tapi aku terus mengingatnya sejak saat itu."
"A-apa maksudmu, Draco?" tanya Harry lagi.
"Tepat di hari ini, saat kita berumur 10 tahun, untuk pertama kalinya uncle James dan Aunt Lily memperkenalkan kau padaku. Dan tepat hari ini juga disaat umur kita 10 tahun, aku tak bisa melepaskan bayanganmu dari kepalaku, sampai hari ini 8 tahun kemudian dan sampai nanti seumur hidupku," bisik Draco sambil kembali mencium leher Harry.
Harry tercekat mendengar kata-kata Draco, hatinya begitu membuncah dengan kebahagiaan mengetahui kalau pemuda yang sedang memeluknya itu begitu mencintainya dan membuatnya begitu berarti. Sebutir air mata jatuh di pipinya, "thanks love," bisik Harry.
"…Will you marry me, Harry? Tanya Draco pelan.
Harry mendekap tangan Draco yang melingkar di pinggangnya dengan erat lalu memutar tubuhnya menatap mata abu-abu yang bersinar begitu indah itu. Tangannya menangkup pipi Draco dan tersenyum begitu hangat, "yes, I will," bisiknya.
Lalu mereka berdua hanyut dalam satu ciuman yang manis sehingga mereka tak menyadari dua pasang mata memperhatikan mereka dari satu sisi balkon rumah induk.
"Dimana letak kesalahan dari hubungan mereka, sayang?" tanya Narcissa yang memeluk mesra pinggang suaminya. "Tak pernah aku lihat Draco sebahagia itu, lihatlah, mereka begitu sempurna," katanya lagi sambil meneteskan air mata bahagia.
Lucius mengecup puncak kepala istrinya, "tak ada yang salah, sayang. Semua berhak bahagia, begitupun anak-anak kita," jawabnya pelan.
.
Lima minggu kemudian Harry mendapatkan sertifikat kelulusannya sebagai auror dari kepala departemen auror dan disetujui oleh kementrian karena dinilai dia telah berhasil mengantongi nilai sempurna dalam pelatihan di dalam kantor maupun di lapangan dengan terbuktinya dia mampu membantu Moody meringkus sekelompok penyihir yang mengacaukan satu desa kecil di kawasan London selatan.
"Selamat Son, Dad bangga padamu," kata James Potter saat dia dan Lily mengunjungi putranya di Manor.
Kedua ibunya bergantian mencium pipinya mengucapkan selamat atas kelulusannya.
Lucius memeluknya singkat dan menepuk punggung pemuda itu, "selamat, aku pun bangga padamu, Son," katanya.
"Selamat Harry…" seru Annabell dan Andros yang pulang karena liburan sekolah telah tiba. Lalu teman-temannya yang hadir disitu pun bergantian memberikan selamat padanya.
"Boleh aku sela sebentar?"terdengar suara Draco yang membuat suasana ramai itu kembali hening. "Aku dan Harry ingin menyampaikan sesuatu," lanjutnya lagi sambil berdiri disisi Harry.
Harry tersenyum pada Draco dan menatap seluruh keluarga dan temannya yang hadir di pesta kelulusannya sebagai auror. "Beberapa waktu yang lalu aku dan Draco telah memutuskan sesuatu, begitu aku dinyatakan lulus sebagai auror maka aku dan Draco berniat mengajukan surat ...mmh... kalau ini boleh dibilang sebagai... pernikahan, di kantor catatan sipil," jelasnya dengan wajah sedikit memerah.
"Kalian akan menikah?" seru Lily dan Narcissa serempak dengan mata terbelalak bahagia.
"Yes Mum," jawab Draco.
Dan sekali lagi ucapan selamat datang bertubi-tubi dari orang-orang yang mereka sayangi. Suasana bahagia itu semakin sempurna dengan berita yang datang dari Draco dan Harry.
"Kami akan membantu untuk kelancaran surat-surat kalian," kata James sambil melihat kearah Lucius yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Thanks Dad," jawab Draco pada pria yang wajahnya begitu mirip dengan pemuda yang sangat berarti untuknya itu.
Pesta berlangsung dengan sangat meriah karena dibumbui oleh ocehan para ibu yang sudah mulai tak sabar mempersiapkan pesta pernikahan Harry dan Draco. Bell dan Hermione pun bergabung bersama mereka.
Sedangkan para pria dewasa dimana ada James, Lucius, Sirius, Remus dan Severus sibuk berunding dan menghubungi kolega-kolega mereka untuk mengurus semua yang diperlukan.
Harry dan Draco berkumpul bersama Ron, Blaise, theo dan Andros di teras halaman belakang.
"Tak kusangka akhirnya keputusan final kalian keluar," kata Blaise.
Harry tertawa, "dia merayuku sedemikian rupa sampai aku lupa bagaimana cara menolak," jawab Harry bergurau sambil menatap Draco yang menyeringai padanya. Kata-kata Harry disambut gelak tawa dari yang lain.
"Banyak yang sudah terjadi, dan aku ikut bahagia kalau berakhir seperti ini," kata Theo yang disetujui oleh semua dengan menganggukkan kepala.
Draco berdiri sambil mengangkat gelas yang berisi firewhiskey, "Terima kasih...karena kalian telah bersama kami dan mendukung kami selama ini. keberadaan kalian membuat kami percaya kalau kami mampu melewati semua," katanya yang disambut dengan pandangan takjub dari teman-temannya, sekali seumur hidup pangeran es ini mengucapkan terima kasih dengan begitu tulus.
Semua berdiri dan menempelkan gelas-gelas mereka sebagai ucapan selamat untuk Harry dan Draco.
.
Pagi ini terlihat begitu cerah dan hangat dengan pancaran matahari yang tidak terlalu menyengat. Kebun belakang Malfoy Manor telah disulap dengan begitu indahnya oleh Lily dan Narcissa. Dengan lambaian tongkat sihir mereka semua bunga yang bermekaran di halaman itu berubah menjadi putih. Tak ada pita ataupun renda karena mereka tak ingin pesta ini terkesan feminin. Meja panjang dengan taplak putih yang menjuntai menyentuh rumput terhampar di samping gazebo, berbagai makanan dan minuman tesaji lengkap diatasnya. Tak banyak kursi yang disediakan karena Harry dan Draco tak ingin mengundang siapapun selain keluarga dan sahabat-sahabat mereka, "percuma kita mengundang orang yang tidak sepenuhnya mengerti akan kami," begitu kata Draco saat Lily dan Narcissa menanyakan siapa saja yang akan datang.
"Harry..." panggil Bell pada kakaknya yang melamun di depan jendela paviliunnya.
Harry membalikkan badannya untuk memandang adiknya yang berada disitu, adiknya begitu cantik dengan balutan gaun berwaran putih, ya...Cissy dan Lily mewajibkan semua undangannya mengenakan baju putih karena mereka ingin semuanya menghadiri pesta ini dengan hati yang murni dan penuh kasih. Walau Severus sempat mengancam tak akan datang mereka tak juga luluh, dan hasilnya Severus –mungkin- akan datang dengan baju berwarna putih, sesuatu yang membuat semuanya tak sabar menunggu pesta ini.
"Bell..." jawab Harry sambil merentangkan tangannya.
Bell langsung berlari dan masuk ke dalam pelukan kakaknya, dia terisak melihat kakak kesayangannya dengan tuxedo hijau gelapnya terlihat begitu tampan dan sempurna.
"Jangan menangis, nanti wajahmu tak cantik lagi," goda Harry sambil menatap mata adiknya yang basah oleh air mata.
Bell menatap wajah kakaknya yang tampak amat bahagia, "aku menyayangimu, kak," isaknya.
Harry tersenyum dan mencium kening adiknya, "begitupun denganku, Bell."
"Semua sudah menunggumu diluar," kata gadis itu.
Harry mengangguk mantap saat Bell menyelipkan tangannya di lengan kirinya untuk membawanya keluar dari ruangan itu.
Saat keluar dari paviliun semua mata memandangnya dengan terpana, apa lagi Draco yang sudah berdiri di dalam gazebo bersama kedua orang tua mereka. Pemuda itu sampai lupa menutup mulutnya melihat Harry melangkah menuju kearahnya dengan tuxedo hijau gelap yang semakin membuat mata hijaunya bersinar lebih indah dan berkilau dari biasanya.
Begitupun Harry, dia mengagumi Draco dalam balutan tuxedo hitamnya yang semakin membuatnya terlihat menawan dengan rambut pirang halusnya yang bersinar terang mengalahkan sang mentari. Mata abu-abunya bersinar kontras dengan baju yang dia kenakan. Dia terus berjalan menuju gazebo, perhatiannya sempat terpecah oleh sosok Severus yang –benar-benar- datang dengan mengenakan setelan jas putih. Cengiran muncul dibibirnya saat dia melihat ayah baptis adiknya itu memandangnya dengan setengah mengancam.
Kini mereka berdua berdiri berdampingan di depan petugas catatan sipil yang akan mengesahkan hubungan mereka. Petugas itu terlihat begitu bijaksana dengan senyumnya yang menenangkan hati.
"Sebelum kita mulai menandatangani surat yang akan meresmikan hubungan kalian saya ingin bertanya," katanya mantap. "Mr. Draco Malfoy, apa anda benar-benar yakin telah memilih dan akan menjadikan Mr. Harry Potter sebagai pasangan hidup anda? Tanpa paksaan dan alasan lain selain cinta?" tanyanya pada Draco.
"Ya, saya yakin," jawab Draco mantap sambil menatap mata hijau Harry yang bersinar.
"Dan anda, Mr. Harry Potter, apa anda benar-benar yakin telah memilih dan akan menjadikan Mr. Draco Malfoy sebagai pasangan hidup anda? Tanpa paksaan dan alasan lain selain cinta?" tanyanya pada Harry.
"Saya yakin," jawab Harry tanpa keraguan.
"Baiklah, sekarang kalian berdua bisa menandatangani surat yang menyatakan bahwa kalian telah resmi sebagai pasangan dengan tanda tangan kedua orang tua sebagai saksi," kata petugas catatan sipil tersebut.
Lalu Harry dan Draco bergantian menandatangani surat itu dan dilanjutkan dengan kedua orang tua mereka.
"Ulurkan tangan kalian diatas piala berisi air pengukuhan ini," perintah sang petugas.
Harry dan Draco pun mengulurkan tangan mereka diatas piala yang diamaksud, lalu petugas itu mengayunkan tongkatnya pada jari Draco dan Harry untuk mengambil setetes darah mereka.
Harry dan Draco sedikit meringis merasakan sayatan kecil di jari mereka yang langsung tertutup begitu setetes darah meluncur kedalam piala yang langsung bersinar putih dan berpendar menjadi dua bola cahaya kecil dengan sinar putih yang terang yang langsung meluncur masuk menembus dada mereka. Harry dan Draco merasa begitu hangat dengan masuknya dua bola cahaya tersebut.
"Selamat, kalian telah resmi sebagai pasangan," kata petugas itu sambil mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Harry dan Draco.
Semua yang hadir langsung bertepuk tangan dengan meriah, ucapan selamat bergantian menyerang mereka, pelukan dan ciuman melimpah sebagai wujud kebahagiaan yang meruah.
.
"Yakin kalian tak mau mengambil cuti beberapa hari untuk bepergian?" tanya James setelah pesta usai.
"Tidak Dad, aku baru saja lulus dan aku merasa tidak enak kalau meninggalkan pekerjaanku," jawab Harry.
"Nanti saja saat liburan natal tiba," jawab Draco. "Dan lagi saat ini kami sedang sibuk mencari rumah sendiri," lanjutnya lagi.
"Kalian jadi tinggal sendiri?" tanya Narcissa cemas.
Harry tertawa pelan, "tentu Mum."
"Rumah pasti akan terasa sepi saat aku pulang nanti," rajuk Bell.
Harry merangkul pundak adiknya yang duduk disampingnya dengan penuh sayang, "kami tidak akan jauh, Bell. Lagi pula paviliun kami masih berdiri di masing-masing rumah kan?" jawab Harry menghibur adiknya.
Annabell tersenyum dan mengangguk, lalu dia memeluk erat pinggang kakaknya itu dengan manja. Harry mencium puncak kepala Bell, "setelah ini giliranmu dan Andy ya?" godanya.
Kata-kata Harry langsung disambut antusias oleh para ibu yang membuat Bell semakin merajuk. Dan ruangan itu pun bertambah ramai.
.
"Sekarang hidupku semakin sempurna, Harry," bisik Draco ditelinga Harry saat mereka telah bersiap untuk tidur.
Harry merapatkan pelukannya, "semoga jalan panjang yang akan kita lalui nanti tidak menemukan banyak hambatan, Draco," jawab Harry pelan.
"Tidak akan sulit selama kau ada disisiku, Harry James Potter-Malfoy," jawab Draco lagi.
Dada Harry bergemuruh mendengar nama yang disebutkan Draco, dia mendongakkan kepalanya dan mencium lembut bibir Draco. Ciuman yang akan terus berlangsung seumur hidup mereka. "I love you," bisik Harry.
Draco menjawab pernyataan Harry dengan ciuman yang selalu mampu membuat Harry kehilangan akal sehatnya, "I love you too," bisiknya di bibir Harry.
Kedua bibir itu kembali berpagut, lidah Draco membelai rongga mulut Harry dengan lembut. Tangannya membuka baju yang melekat ditubuh Harry memanjakan pasangan hidupnya itu dengan pancaran kasih yang begitu besar membuat Harry tak berhenti mendesahkan nama Draco.
Harry mendorong tubuh Draco, kali ini dia yang berada diatas pemuda pirang itu, bibirnya menari menyusuri lekuk leher Draco dan turun membelai dadanya. Tubuh Draco bergetar bahagia menyambut sentuhan-sentuhan Harry. Bibir Harry mencecap setiap inchi yang bisa disentuhnya, dia membelai kulit putih Draco dengan bibirnya. Tangannya melepas semua penghalang di tubuh pasangannya. Bibirnya menandai dada Draco dengan kecupan-kecupan yang memabukkan lalu lidahnya menggoda satu titik sensitif yang membuat Draco mengerang dan bergetar, "oh love..." bisiknya parau. Kecupan Harry semakin turun mendekati tubuh Draco yang sudah sangat menginginkannya, mata abu-abu itu terbelalak saat Harry menyeringai kearahnya, "oh no, Harry...don't do it," tolaknya lalu sekuat tenaga dia menarik tubuh Harry dan menekannya dibawah tubuhnya, "itu tugasku, Harry," katanya sambil menyeringai melihat wajah Harry yang telah memerah menahan Gairah.
Dibuangnya semua penutup tubuh Harry dengan sekali tarik lalu dia mulai membuktikan ucapannya barusan. Dengan keras Draco menghisap titik kecil di dada Harry yang membuat pemuda itu terlonjak dan tersentak, "D-Draco..." erangnya, tapi Draco tak memberi ampun, dia terus menjajah titik itu lalu ciumannya mengalir turun dan turun mencari bukti hasrat Harry akan dirinya. Setelah menemukan bukti itu dia lalu menyeringai lagi pada Harry yang memandangnya dengan gugup. Dia lalu menunduk dan meraup tubuh Harry yang membuat Harry tersentak dan mengejang. Dunia Harry serasa jungkir balik, dia kewalahan menahan hasratnya yang akan meledak dan dia pasrah pada sentuhan Draco yang membuatnya tak mampu bertahan.
Draco menegakkan punggungnya dan menatap mata hijau Harry yang berkilau di dalam gelap. Dia tersenyum sambil memposisikan tubuhnya, tangannya membelai wajah Harry yang terasa panas dan lembab, "kau milikku, love...sekarang dan selamanya," bisik Draco.
Harry melesakkan kepalanya ke bantal putih yang lembut saat merasakan kehadiran Draco di tubuhnya, bibirnya terkatup rapat menahan erangannya dan matanya terus memandang mata abu-abu Draco seakan memastikan kalau ini bukan mimpi. Tangannya mencengkeram lengan Draco yang mengkilat dan telah basah oleh keringat. Draco menundukkan badannya dan mencium bibir itu dengan lembut setelah memastikan bahwa Harry telah sepenuhnya menerima kehadirannya. Setelah itu mereka mengarungi dinginnya malam dengan berperahu raga dan singgah pada suatu tempat untuk pelepasan rasa, dimana berjuta warna menghiasi dindingnya dan erangan hasrat menjadi melodi yang mengiringi tarian yang menghentak. Tarian yang melemparkan mereka pada satu titik dimana dua raga berpadu menjadi satu dan melebur bersama panasnya gairah. Tak ada keraguan dalam tatapan mata mereka karena mereka yakin kalau mereka akan melewati semuanya bersama.
Draco menelan teriakan keras Harry dalam satu ciuman yang dalam disaat mereka sama-sama meledak dalam suatu pusaran gelombang yang menghempaskan mereka ke dalam suatu ruang hampa dimana tak seorangpun dapat memisahkan mereka. Draco terus memeluk tubuh Harry yang bergetar hebat dan meredakannya dalam setiap usapan tangannya. Menenangkan jiwanya yang berlari mencapai pemuasan.
Dipeluknya tubuh Harry yang terbaring lelah disisinya, "g'nite love," bisiknya mengantar pasangan hidupnya menuju dunia mimpi yang indah.
oOo
A/N.
Fiuuuhhh...kelar juga chap 5, sempat bingung tentang tata cara pernikahan mereka tapi akhirnya dapet juga dengan melemparkan imajinasi setinggi2nya. Mohon maaf kalau pernikahannya ga romantis, masa iya Harry harus pake gaun hijau yang melambai-lambai XP
Aku tidak menerima protes kalo masih ada yang bilang lemonnya kurang asem, ini ngetiknya juga sambil blushing *dikeroyok rame2*.
Untuk fic ini menurut kalian enaknya disudahi ato lanjut? Karena aku sendiri juga bingung enaknya gimana makanya belum aku kasih tulisan 'the end' *plak / author ling lung*
Sekali lagi aku ucapin makasih bagi yang udah ngikutin fic2 aku, jadi...masih ada yang mau ripiu kan *kedip2*.
