NEW LIFE

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco Malfoy – Harry Potter

Rate : M

Genre : Romance

WARNING : No war, OOC, OC

Pintu ruangan berukuran sedang yang berisi 3 meja dan satu set sofa tamu itu terbuka, "Harry…" panggil sebuah suara dari seseorang yang baru masuk.

Harry Potter yang sedang serius mengerjakan berkas-berkasnya itu mendongakkan kepalanya, "yes, Sir?" katanya saat melihat ayahnya yang menjabat sebagai kepala departemennya di depan pintu. Profesionalitas kerja ayah dan anak ini mendapat acungan jempol dari seluruh karyawan karena tak sekalipun mereka menggunakan kata 'Dad' ataupun 'Son' saat bekerja, kecuali disaat-saat tertentu yang tidak melibatkan pekerjaan.

"Tolong kau antar dokumen ini pada Lucius di lantai lima, katakan saja kalau ini adalah dokumen pemulangan tahanan ke negara asalnya," perintah James Potter.

Harry menerima sebuah map besar berwarna coklat yang diulurkan oleh atasannya itu, "ok, Sir," jawab Harry.

Harry selalu suka jika dia harus pergi ke lantai lain, karena lift di kementrian yang trabsparan dan dapat bergerak vertical serta horizontal ini selalu memberikan pemandangan unik tentang kesibukan para pegawai di kantor kementrian yang penuh dengan sihir.

Sesampainya di lantai lima dia menuju ke sayap utara untuk menemui Lucius Malfoy, kepala departemen hubungan sihir internasional, yang juga merupakan ayah keduanya sejak dia menikah dengan putra sulungnya, Draco Malfoy, yang juga bekerja di departemen tersebut.

"Harry…" sapa sebuah suara saat dia masuk ke departemen yang dituju.

"Hei, Theo…" seru Harry saat dia melihat salah satu sahabatnya yang bekerja di kantor itu, "bagaimana kabarmu? Lama tak bertemu ya?" kata Harry sambil menjabat tangan Theo.

"Baik, kau terlalu sibuk dengan pekerjaaanmu jadi kita tak sering bertemu," guraunya.

Harry hanya menanggapi itu dengan tertawa.

"Ada keperluan apa kau kesini?" tanya Theo.

Harry teringat dengan dokumen yang dibawanya, "aku harus menyerahkan ini pada Mr. Malfoy," jawab Harry sambil menunjukkan dokumennya.

Theo mengangguk, "kau masuk saja ke ruangannya, kebetulan saat ini dia sedang bersama Draco."

"Ok, sampai nanti Theo," pamit Harry langsung menuju ruangan yang di tunjuk Theo.

Harry mengetuk pintu tiga kali dan tak lama pintu besar itu terbuka sendiri dari dalam, "selamat siang, Sir," sapa Harry pada Lucius yang duduk di meja kerjanya.

"Ah, Harry, masuklah," kata Lucius begitu melihat siapa yang datang.

Draco yang duduk membelakangi Harry langsung memutar kepalanya dan tersenyum kepada pemuda yang telah menjadi pasangannya empat bulan yang lalu itu.

Harry masuk dan duduk di sebelah Draco, "Mr. Potter menyuruhku untuk menyampaikan dokumen ini," kata Harry sambil menyerahkan map coklat yang sedari tadi dibawanya.

Lucius menerima dokumen itu dan membacanya sebentar, "pekerjaan yang berbahaya mengingat tahanan yang akan dipulangkan ini terlibat kasus kriminal yang berat," gumam Lucius. "Aku akan langsung menemui James sendiri saja," katanya sambil beranjak keluar kantor dengan cepat.

"Ada sesuatu?" tanya Draco.

Harry hanya mengangkat bahunya, "entahlah, tadi Dad hanya menyuruhku mengantar dokumen itu saja," jawab Harry sambil berdiri dari duduknya. Mereka berdua melangkah keluar dari kantor Lucius dan berbincang sebentar di ruang tunggu di depan receptionis perempuan yang memandang kagum pada mereka berdua.

"Nanti aku pulang agak terlambat," kata Draco. "Dad memintaku dan Theo menyelesaikan berkas yang baru datang hari ini juga."

Harry tertawa pelan, "baiklah, aku akan menunggumu dengan setia dirumah," godanya. "Aku harus kembali ke kantor," katanya lagi.

Draco menarik lengan Harry dan memberikan sebuah kecupan singkat di bibirnya. Terdengar pekikan pelan dari sang resepsionis yang menutup mulutnya sambil terlihat kegirangan, "kalau tak suka jangan dilihat," kata Draco sambil menyeringai.

Si resepsionis itu masih tertawa sambil menutup mulutnya, kepalanya menggeleng tanda kalau dia tak keberatan melihat hal itu.

Harry tertawa pelan melihat tingkah orang yang sering kali heboh sendiri saat melihat mereka berdua. Hubungan mereka kini telah diketahui oleh seluruh masyarakat dunia sihir, dan diluar perkiraan sedikit sekali yang masih memandang sebelah mata, sebagian besar lainnya justru berpikiran terbuka terhadap hubungan ini. Dan kini pasangan-pasangan seperti mereka yang dulunya bersembunyi mulai berani menampakkan diri dan itu bukan lagi menjadi masalah besar atau aneh. Salah satu alasan yang menjadi penyebab diterimanya Harry dan Draco dalam masyarakat luas adalah mereka mendapat dukungan penuh dari keluarga mereka yang notabene adalah 'orang-orang sangat berpengaruh' di dunia sihir.

.

Hampir tengah malam dan Draco belum juga pulang. Harry merebahkan tubuhnya diatas sofa hijau di ruang keluarga rumah baru mereka. Rumah ini mereka beli dan mereka tempati sekitar dua bulan yang lalu. Letaknya diatas sebuah bukit kecil di pinggiran kota London yang menjadi pemukiman komunitas sihir. Rumah mereka tidak terlalu besar, rumah yang terdiri dari satu lantai tersebut hanya dimuati oleh tiga buah kamar tidur, satu buah dapur, satu ruang keluarga yang terpisah dengan ruang tamu, serta dua buah kamar mandi dimana yang satu terletak di dalam kamar utama.

Bosan membaca surat kabar Harry pun memejamkan matanya sampai dia mendengar suara keras dari perapian di depannya, "Draco…" katanya saat dia melihat pemuda keluar dari dalam sinar hijau yang terang.

"Maaf, aku sangat terlambat," katanya setelah mengibaskan debu dari jubah kerjanya.

Harry pun menegakkan punggungnya dan duduk diujung sofa, "tak apa, aku juga belum tidur terlalu pulas," jawabnya.

Draco yang merasa sangat lelah langsung menghempaskan tubuhnya disamping Harry dan merebahkan kepalanya dipaha pemuda bermata hijau itu, kakinya dinaikkan di tangan meja diujung satunya.

Harry menggeleng dan tertawa pelan melihat tingkah kekasihnya itu, "kau sudah makan?" tanyanya sambil mengusap rambut pirang Draco.

"Sudah, kalau sepotong roti dan secangkir teh madu bisa dibilang makan," jawabnya malas.

Harry melambaikan tongkatnya membuat piring di atas meja makan melayang kearahnya, "makanlah dulu, tadi Mum membawakan banyak makanan untuk kita."

Draco membuka mata abu-abunya yang tadi terpejam, "aku mau tidur saja," jawabnya.

"Tidak, makanlah sedikit lagi," paksa Harry.

Tak mau berdebat Draco pun bergerak duduk dan menerima piring dari Harry lalu menghabiskan isinya dengan lahap. Setelah itu mereka membaringkan tubuh mereka di kamar.

"Ada berita menyebalkan sore tadi," kata Draco.

Harry memandang Draco dengan penasaran, "berita apa?" tanyanya.

"Cedric Diggory, dia akan ditarik kembali oleh kementrian kita dari Paris," jawab Draco kesal.

Harry membulatkan matanya, "benarkah? Bukankah dia juga seorang auror? Berarti dia akan satu kantor denganku?" tanya Harry.

Draco hanya mendengus.

Harry tersenyum, "lalu kenapa kau kesal begitu?" tanyanya lagi.

Draco langsung menindih tubuh Harry dan menatap mata hijaunya dengan tajam, "aku ingatkan ya, kau itu milikku."

Harry kembali tersenyum, "aku ingat itu, Draco. Lalu?"

"Jangan berbuat macam-macam dibelakangku," ancamnya pada Harry.

Harry tertawa kali ini, "jangan bilang kau cemburu pada Cedric, Draco. kau ini benar-benar semaunya sendiri."

Draco merebahkan diri disamping Harry lalu memandang langit-langit kamar dengan diam.

Harry tertawa lagi melihat tingkah Draco kalau sedang kesal, "kau cemburu karena aku dulu sempat dekat dengan dia kan, Draco?" tebak Harry. "Itu cuma karena kami sama-sama aktif di tim Quidditch saja dan sama-sama memegang posisi sebagai seeker, kau sendiri tahu itu," jelas Harry.

"Aku terlalu egois ya?" desah Draco.

Harry memeluk pinggang Draco dan merebahkan kepalanya di bahu pemuda itu, "tak apa, aku suka kau yang begitu," jawab Harry sambil mengecup bibir Draco.

Draco akhirnya tersenyum dan mencium lembut bibir Harry, membelainya dengan lidahnya dan mencecap rasa yang selalu mampu membuatnya melayang. Bibirnya menyapu lembut leher Harry dan senang saat mendengar kekasihnya itu mengerang. Malam itu mereka lewatkan dengan penuh cinta seperti malam-malam mereka berdua sebelumnya.

.

.

"Selamat bergabung, Cedric," kata Harry sambil menjabat tangan Cedric Diggory yang telah duduk dimejanya di ruangan yang biasa ditempati Harry dan Ron.

Cedric tersenyum, "senang bisa bekerjasama denganmu, Harry. Kali ini bukan snitch yang kita tangkap tapi penjahat sebenarnya," gurau Cedric.

Harry dan Ron tertawa menanggapi kata-kata pemuda bertubuh tinggi dan berwajah tampan itu. Cedric adalah senior Harry dari asrama Hupplepuff, mereka sempat dekat karena sering berunding masalah Quidditch. Setelah Cedric lulus pemuda itu langsung mengikuti pendidikan sebagai calon auror dan lulus dengan nilai gemilang, setelah itu dia ditempatkan di Paris selama 2 tahun dan baru kembali ke Inggris hari ini.

"Kau tak banyak berubah," kata Harry.

Cedric tertawa pelan, "begitu pun denganmu, Harry. Kau juga Ron, rambutmu tak pernah kehilangan kilaunya ya?" gurau Cedric lagi.

Ron hanya tertawa dan menepuk pelan punggung pemuda itu, "jangan mengolokku, Cedric."

Pintu ruangan terbuka dan masuklah Sirius , "kalian sudah berkumpul? Ron, kau ikut aku, dan kalian berdua aku minta patroli di kawasan selatan," perintah Sirius, wakil kepala departemen auror yang juga ayah baptis Harry.

"Yes, Sir," kata mereka bertiga dengan kompak.

.

Menjelang gelap Harry dan Cedric kembali ke kantor dengan penampilan yang agak kusut, mereka terlihat lelah. "Harry..." panggil Draco yang baru saja melihat Harry masuk dari pintu utama.

Harry menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Cedric, "Draco..." sapa Harry sambil tersenyum.

"Parah sekali penampilanmu, apa terjadi sesuatu?" tanya Draco agak cemas.

Harry tersenyum lagi, "tidak, hanya wilayah jaga hari ini luas sekali," jawabnya.

"Halo, Malfoy, apa kabar?" kata Cedric sambil mengulurkan tangannya.

Draco menatap tajam pada pemuda berambut coklat itu, dia menyambut uluran tangannya dengan kaku, "baik, Diggory, terima kasih," jawabnya datar.

"Aku masuk dulu, Harry," kata Cedric sambil menepuk pelan bahu Harry, "sampai nanti, Malfoy," pamitnya pada Draco yang menatapnya dengan pandangan dingin, lalu dia pergi dengan senyum dikulum.

"Kau belum pulang?" tanya Harry pada pemuda berambut pirang didepannya itu.

Draco menepuk bahu Harry yang tadi disentuh Cedric alih-alih ingin membersihkan debu yang melekat disana, tapi Harry tahu kalau kekasihnya itu tak suka tubuhnya disentuh orang lain yang bisa membuatnya cemburu, "belum, aku sengaja menunggumu," jawabnya.

Harry tersenyum pada pemuda yang selalu menyita pikirannya itu, "baiklah, tunggu aku sebentar disini, aku akan mengambil beberapa berkas di kantor."

"Cepatlah," kata Draco singkat, dan Harry pun berlari menuju kantornya.

Didepan pintu ruangannya Harry mendengar obrolan Cedric dan Ron, "aku benar-benar tak menyangka bisa melihat tatapan hangat dan kecemasan dari sesorang Malfoy. Aku salut pada Harry yang bisa merubahnya seperti itu," gurau Cedric.

Ron tertawa menanggapi kata-kata rekan kerjanya itu, , "kalau aku boleh bilang saat ini sepertinya Draco Malfoy si pangeran es tak pernah terlahir, berganti dengan Draco Malfoy si over protective," tambah Ron.

"Diam Ron, aku tak mau menolongmu kalau sampai Draco mendengar itu," kata Harry yang baru masuk dengan cengiran lebar di bibirnya.

"Sorry, Harry, aku tak tahan untuk tidak membicarakan perubahan Malfoy," kata Cedric.

Harry mengangguk, "tak apa, kata orang melihat Draco yang seperti itu seakan mereka melihat suatu keajaiban."

Ron dan Cedric pun tertawa semakin keras, "Aku belum mengucapkan selamat untuk…pernikahan kalian," kata Cedric lagi.

Harry tersenyum, "terima kasih, pasti itu jadi berita yang menggemparkan ya?" tanya Harry masam.

Cedric mengangkat bahunya, "kalau disini sih mungkin itu masih aneh, tapi selama beberapa bulan di Paris aku banyak menemukan hal semacam itu, jadi aku pikir itu tak masalah."

"Benarkah?" tanya Harry kali ini.

"Coba saja kau kesana sendiri biar kau yakin," jawab Cedric.

Harry tersenyum, "baiklah, aku pulang dulu ya?" pamitnya, dan keduanya pun mengangguk.

Hampir menuju lobby utama dimana Draco menunggunya langkah Harry terhambat oleh panggilan Cho Chang, "ada apa Cho?" tanya Harry.

"Mmmh...tidak, apa Cedric masih ada di kantor?" tanyanya gugup.

Harry bisa melihat rona merah di pipi gadis itu, "masih, kau masuk saja kedalam, sudah tak ada orang lagi disana, hanya tinggal dia dan Ron saja," jawab Harry. Dia ingat dulu Cho dan Cedric sempat berhubungan sampai Cedric lulus dari Hogwarts.

"Baiklah, thanks Harry," jawab gadis keturunan asia itu sambil berbalik meninggalkan Harry.

"Aku tak suka pada gadis itu," kata Draco yang sudah berdiri dibelakangnya dengan dingin.

Harry berbalik dan terkekeh, "apa aku harus berteriak di dalam gedung ini dan mengatakan kalau aku hanya milikmu, Draco?" goda Harry.

Draco menyeringai, "aku akan sangat senang kalau kau melakukan itu," tantangnya.

Harry menarik lengan pemuda yang sangat dicintainya itu dengan kesal, "ayo pulang, lama-lama aku bisa darah tinggi kalau meladenimu," gerutunya.

Draco tertawa pelan dan menurut saja saat Harry menyeretnya keluar gedung dengan diiringi tatapan orang banyak.

.

Pagi ini Harry bangun dengan badan yang terasa sakit dan pusing, kemarin tenaganya terkuras untuk mengejar buronan bersama Cedric.

"Bangunlah, kau bisa terlambat nanti," kata Draco yang sudah rapi.

"Ok," jawab Harry lemas.

Draco memandang curiga pada kekasihnya itu, "kau kenapa?" tanyanya.

Harry duduk di pinggir tempat tidur, dia memegang kepalanya yang terasa berputar, "tidak, tidak apa-apa," jawabnya serak.

Draco mendekatinya dan memegang dahinya, "kau agak demam," katanya.

Harry berdiri dan menarik nafas panjang, "hanya pusing, sebentar juga sembuh," jawabnya sambil melangkah ke kamar mandi.

"Sebaiknya kau ijin istirahat, Harry," teriak Draco dari luar kamar mandi. Harry diam saja sampai dia selesai mandi dan kembali ke kamar mereka.

"Aku tak apa-apa, lagipula hari ini aku tidak ada tugas lapangan, hanya merapikan berkas saja," jawabnya.

"Jangan memaksakan diri," kata Draco sambil memeluk Harry dari belakang, bibirnya ditempelkan di bahu Harry.

Harry berdebar merasakan kehangatan Draco pada kulit punggungnya yang belum tertutup baju, "aku tahu, Draco, jangan khawatirkan aku," jawab Harry pelan. Dia membalik badannya dan mencium bibir Draco dengan lembut, "I love you," bisiknya di bibir pemuda itu.

Draco tersenyum dan mengecup singkat bibir Harry, "love you too," jawabnya.

.

Sesampainya di kantor Harry mulai merapikan berkasnya yang menumpuk, "wajahmu agak pucat, mate," kata Ron.

Cedric yang sedang menulis laporan pun memperhatikan wajah Harry, "kupikir juga begitu, kau baik-baik saja?" tanyanya.

Harry terkekeh pelan, "tak apa, mungkin kemarin aku terlalu lelah, itu saja," jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan berkas. "Kalian jadi keliling berdua?" tanya Harry.

"Ya, sebentar lagi kami berangkat," jawab Ron, "untung hari ini kau tak dapat jadwal tugas lapangan, jadi lebih baik kau gunakan waktumu disini untuk istirahat. Jangan memaksakan diri, Harry," kata Ron lagi.

Harry menghela nafas panjang, "aku seperti mendengar ada Draco disini," sindir Harry pada Ron yang rasa cemasnya terlalu berlebihan seperti kekasihnya itu pagi tadi.

Ron mendengus kesal dan melempar surat kabar yang dipegangnya kearah Harry, Cedric yang melihat ulah dua juniornya itu tertawa.

.

Hari sudah menjelang sore saat Cedric kembali ke kantornya, dia tercekat melihat Harry yang merebahkan kepalanya di atas meja, mata hijaunya terpejam, "selalu tak mau mengalah, bahkan pada sakitnya," gerutu Cedric pelan. Dengan perlahan dia mendekati juniornya itu, bayangannya melayang pada saat mereka masih di Hogwarts, saat itu Cedric sangat tertarik pada Harry Potter yang telah berhasil masuk dalam tim quidditch di tahun pertamanya dan semakin tertarik oleh bakat pemuda itu yang ternyata bukan hisapan jempol semata. Selain itu Cedric juga tertarik pada Harry yang begitu gampang bergaul, hampir semua murid di Hogwart menyukai pemuda itu, baik para gadis atau murid laki-laki lainnya. Pembawaannya yang hangat dan pintar juga sedikit nekat membuat dia mudah disayangi semua guru. Sejak awal dia sudah menduga kalau tingkah Draco Malfoy yang selalu memusuhi pemuda itu hanya untuk menutupi perasaannya sendiri, dan itu terbukti sekarang disaat Harry telah menjadi pasangannya dan ada sedikit sesal di hati Cedric mendengar mereka menikah.

Dia menyukai Harry Potter? Ya dia suka, siapa yang tak suka pada pemuda bermata emerald ini. Dia mencintai Harry Potter? Entahlah…hanya kadang kala Cedric sering teringat pada juniornya itu. Dia selalu bersemangat setiap ada pertandingan antara Gryffindor dan Hupplepuff, di mana dia bisa mengejar Harry dengan bebas tanpa pandangan curiga dari orang lain. Tangannya terulur hendak menyentuh rambut hitam Harry tapi suara pintu terbuka mengurungkan niatnya.

"Ah…kau sudah kembali?" tanya Ron yang baru datang.

"Baru saja," jawab Cedric sambil melangkah ke mejanya.

Harry terbangun mendengar percakapan mereka, "maaf, aku tertidur," katanya pada dua rekan kerjanya.

"Aku yakin kau pasti nyaris mati bosan disini, ya kan, mate?" goda Ron.

Harry tertawa, "kau benar, Ron."

"Berkasmu sudah selesai? Ada yang perlu kami bantu?" tanya Cedric.

Harry melihat mejanya yang sedikit berantakan, "sudah selesai semua, hanya tinggal merapikan saja."

Cedric berdiri dan menghampiri meja Harry lalu merapikan semua berkas yang masih tergeletak di meja kayu itu. "Cedric tak perlu, aku bisa sendiri," tolak Harry.

Cedric tak menghiraukan kata-kata pemuda itu, "sekarang kita semua bisa pulang," katanya setelah meja Harry rapi.

"Thanks Cedric," kata harry merasa tak enak

Cedric tertawa pelan, "you're welcome."

Lalu mereka melangkah meninggalkan kantor, Ron memandang Cedric dengan curiga, 'kuharap tak ada perang lagi kali ini', batinnya.

.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Draco saat mereka bersantai diruang keluarga. Dia duduk di karpet tebal di depan perapian, punggungnya disandarkan pada sofa dibelakangnya, sedangkan Harry berbaring telentang di karpet yang sama dengan kepala direbahkan di pangkuan Draco.

"Lebih baik," jawabnya pelan.

Draco memainkan rambut Harry dengan jarinya, "liburan natal nanti kau mau kita kemana?" tanya Draco.

Harry tersenyum, mata hijaunya menatap mata abu-abu Draco, "terserah kau saja."

"Kali ini aku ingin kau yang memilih," kata Draco.

Harry tampak berpikir sejenak, "aku ingin pergi ke gunung, hutan atau dimana saja yang tidak terlalu banyak orang," jawab Harry.

Draco terkekeh pelan, "kau bosan jadi pusat perhatian ya?" godanya.

Harry mendesah, "entahlah, ada kalanya aku hanya ingin berdua saja denganmu dan..." kata-katanya menggantung.

Draco memandangnya curiga, "dan apa?" tanyanya.

"Tidak..." elak Harry.

"Katakan, Harry, aku tak suka kau begitu," tuntut Draco.

Harry menegakkan punggungnya dan duduk disamping Draco, "kau tahu, kadang aku berpikir seandainya kita memiliki seorang putri yang cantik dan menggemaskan," katanya pelan. "Tidak, love, itu hanya pikiran kosongku saja, aku tak serius menginginkan itu," kata Harry cepat saat dia melihat Draco menundukkan kepalanya dan terdiam.

Draco berdiri dan berjalan menuju kamar mereka, "aku lelah, g'nite Harry," katanya sambil berlalu.

Harry tak menjawab, dia begitu menyesali kata-katanya barusan. Dia tak bermaksud menyinggung Draco, dia hanya membayangkan seorang anak yang akan membuat hidup mereka lebih ramai dan berwarna. Seandainya dia bisa mengundur waktu maka akan dihapusnya kata-kata itu, dia telah menyakiti Draco.

.

"Mate, kau terlihat semakin pucat. Yakin kau tak apa-apa?" tanya Ron saat dia dan Cedric menemani Harry dalam tugas lapangannya kali ini. Mereka sedang beristirahat di sebuah kedai kecil di suatu desa sihir di pinggiran kota London.

Harry berusaha menutupi kegelisahannya, dia sebenarnya sudah tak lagi merasakan pusing hanya saja rasa sesalnya pada Draco begitu besar. Tadi pagi saja Draco tak banyak bicara, dia tak marah tapi sikapnya semakin membuat Harry merasa bersalah.

"Harry..." panggilan Cedric memecah lamunannya.

"Oh, maaf aku tak dengar," jawabnya setengah gugup.

Cedric menatap tajam mata hijau Harry yang terlihat tak bersemangat seperti biasanya, "apa sedang terjadi sesuatu antara kau dan Draco?" tanyanya penuh selidik.

Harry sedikit melamun sebelum menjawab, "ya, mungkin aku telah melukainya."

"Kau? Biasanya juga dia yang selalu membuatmu sakit," kata Ron tak percaya.

Harry menggeleng pelan, "sudahlah, aku baik-baik saja," jawab Harry lesu.

Tiba-tiba terdengar keributan dari luar kedai, ketiga auror muda itu berlari keluar dengan tergesa. Setelah berada diluar mereka melihat segerombolan orang memakai penutup wajah seperti cadar yang mengendarai sapu terbangnya mencoba untuk mengacau di desa tersebut. "Siapa mereka?" tanya Cedric pada salah satu penduduk yang berdiri dengan ketakutan didekatnya.

"M-mereka adalah segerombolan perampok yang selalu berusaha menjarah desa kami," jawabnya cepat.

"Perampok?" tanya Harry lagi.

Pria tua itu menganggukkan kepalanya, "sudah hampir seminggu ini mereka mengacau disini," jelasnya lagi.

Harry, Ron dan Cedric pun langsung menaiki sapu masing-masing dan mengeluarkan lencana Auror mereka. Segerombolan perampok itu terlihat panik dan berusaha kabur dari kejaran ketiga auror tersebut. Cedric menggiring mereka menjauhi pemukiman agar mantra-mantra yang mereka lemparkan dengan brutal tidak mengenai penduduk. Kejar-kejaran dan perang mantra terus berlangsung sampai perbatasan tempat tinggal muggle. Harry, Ron dan Cedric merapalkan mantra yang dapat langsung melumpuhkan mereka, tapi sayang satu mantra sempat mengenai tubuh Harry yang saat itu sedang tidak sehat dan kurang konsentrasi sehingga menyebabkan auror muda itu terjatuh dari sapunya dan membentur tanah dengan keras tanpa sempat ditangkap Ron ataupun Cedric.

"Ron...kau bantu Harry dulu, aku akan membereskan mereka," perintah Cedric dari atas sapunya.

Ron menganggukkan kepalanya dan langsung menukik turun menghampiri tubuh Harry yangterbaring di tanah. "Harry...Harry bangunlah, kau tidak apa-apa?" tanya Ron panik sambil mengangkat kepala Harry yang terkulai lemas.

Harry sedikit mengerang sambil mengerjapkan matanya, "bagaimana mereka..." tanya Harry.

"Oh thanks, Merlin," kata Ron lega. "Kita berhasil melumpuhkan mereka, Cedric sekarang sedang membereskan semua," jelas Ron, "bagaimana Harry? Apa yang terluka?"

Harry mencoba duduk tapi kepalanya kembali terasa pusing, "hanya pusing," jawabnya.

"Jelas saja kau pusing, kau terjatuh begitu keras," kata Ron cemas.

"Harry...kau baik-baik saja?" tanya Cedric yang terbang mendekat. Dibelakangnya gerombolan perampok itu telah terikat disapu mereka masing-masing yang terhubung dengan sapu Cedric.

"Ya, aku tak apa-apa," jawab Harry sambil mencoba berdiri. Tiba-tiba dia tersentak, dia merasakan nyeri yang amat sangat di kakinya, dia coba menarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa nyeri itu.

"Kenapa kakimu?" tanya Ron.

Harry menggeleng, "tidak, sudah tidak apa-apa," jawabnya setelah yakin rasa nyeri itu sedikit berkurang. Dia kembali naik keatas sapunya, "kita bawa mereka ke kantor sekarang," kata Harry. Ron dan Cedric pun mengangguk lalu terbang menuju kementrian. Ron terbang dekat dengan Harry karena dia tak ingin sahabatnya itu terjatuh lagi.

.

"Mau ku panggilkan Draco untuk mengantarmu pulang, Harry?" tawar Cedric pada Harry saat mereka sudah berada di ruangan mereka dan menyerahkan para perampok itu kepada auror senior.

Harry menggelang, "tak usah, dia ada tugas luar bersama atasannya," jawab Harry.

Pintu ruangan terbuka dan masuklah James Potter beserta Sirius Black. "Harry, kau tak apa-apa?" tanya James cemas.

"Tidak, Sir, aku baik-baik saja," jawabnya tegas. Dia tak mau membuat orang lain khawatir walaupun saat ini dirasanya kakinya kembali nyeri dan panas.

James menghela nafas lega, "terima kasih, kalian telah bekerja dengan baik," katanya pada ketiga auoro muda itu.

"Sama-sama, Sir," jawab mereka kompak.

"Sebaiknya kau pulang sekarang, Harry, biar sisanya dikerjakan Ron dan Cedric," kata Sirius kali ini.

Ron dan Cedric mengangguk setuju.

"Tidak, aku pulang jam biasa saja," tolak Harry.

Sirius dan James saling melempar pandang, "terserah kau kalau kau memang merasa baik-baik saja," kata James.

.

"Kuantar kau pulang, Harry," tawar Cedric pada saat pekerjaan mereka telah selesai. Harry tampak berpikir sebentar, saat ini Ron masih bersama Sirius sedangkan kakinya kembali terasa nyeri hingga membuat pandangannya setengah kabur. Dia juga tak mau kalau nanti dia tiba-tiba ambruk tanpa ada yang tahu, akhirnya mau tidak mau dia menerima tawaran rekan kerjanya itu, "baiklah, cedric, terima kasih."

Sesampainya dirumah Harry langsung meneghempaskan diri ke sofa hijau di ruang keluarga, dia terus menahan nyeri di kakinya. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan setengah merosot. Kakinya ditumpangkan diatas meja didepannya. Merasa semakin pusing diapun memejamkan matanya sebentar.

"Sebaiknya kau segera beristirahat, jangan buat kakimu semakin sakit," kata Cedric yang duduk disampingnya.

Harry tersenyum, "kakiku tak apa-apa, Cedric, hanya terbentur sedikit," jawabnya. Padahal dia sendiri tak yakin, sejak tadi luka di kakinya yang masih tertutup celana panjang belum dia lihat sama sekali, dia bermaksud mengobatinya saat tak ada orang.

Cedric memandang wajah Harry disampingnya dengan penuh perhatian, masih tampak sedikit guratan rasa sakit yang dia tahan, 'benar-benar keras kepala', batinnya. Dia sempat terkejut dan panik saat Harry terjatuh tadi, Harry seorang seeker yang hebat yang pandai mengendalikan dirinya diatas sapu, 'masalah apa yang membuatnya sampai hilang konsentrasi?', tanya Cedric dalam hati. Dia terus memandangi mata yang terpejam itu lalu tersenyum sendiri, 'aku harus bisa menahan diriku, ini tak boleh terjadi', perang batinnya.

Saat sedang serius mengamati Harry yang setengah tertidur tiba-tiba perapian didepannya menyala hijau dan tampaklah Draco keluar dari dalamnya. Darah Draco rasanya mendidih saat itu juga begitu melihat Cedric duduk sangat dekat disamping Harry yang tertidur, "apa yang kau lakukan disini?" desis Draco.

Cedric berdiri dengan tenang, "aku hanya mengantar pulang Harry..."

Kata-kata Cedric terpotong oleh teriakan marah Draco, "APA URUSANMU MENGANTAR DIA PULANG? PERGI KAU..." usirnya pada pemuda itu.

Harry terbangun mendengar teriakan kekasihnya itu, "Draco...kau sudah pulang?" tanyanya terkejut. Dia mencoba berdiri untuk melerai pertengkaran dua orang pemuda itu, tapi kaki dan kepalanya tidak bisa diajak bekerjasama, akhirnya dia tetap pada posisi duduknya.

Draco memandang Harry dengan dingin, "kenapa? Kau terkejut aku pulang lebih cepat?" tanyanya marah.

Cedric memutuskan untuk pergi saja, karena dia tahu ini bukan waktunya bersama mereka, "maaf Malfoy, sebaiknya aku pergi sekarang," katanya pada Draco dengan tenang, dia tak mau semakin menyulut amarah pemuda itu karena nanti pasti Harry yang kena getahnya. "Sampai nanti, Harry," pamitnya sambil menepuk pelan bahu Harry dan berjalan menuju pintu keluar.

"Draco dengarkan aku, tadi itu..."

"Kemarin kau ribut masalah anak, sekarang aku melihatmu bersama Diggory brengsek itu disaat aku tak ada dirumah. Sebenarnya apa maumu, Harry?" desis Draco marah. Dia mendekati Harry yang masih terduduk di sofa dan mencengkeram bagian depan jubahnya, "sudah kubilang jangan macam-macam dibelakangku karena kau milikku, jelas?" katanya lagi, lalu dengan kuat dia mencium keras bibir Harry, bibir yang biasanya hangat itu kali ini terasa dingin di bibir Harry, tak ada ciuman penuh perasaan seperti yang selalu diberikannya saat mencium pemuda bermata emerald itu.

Pertamanya Harry ingin membiarkan saja Draco melampiaskan amarahnya tapi saat merasakan tekanan di kakinya yang sakit Harry tak tahan untuk tak berteriak dan menggigit bibir Draco yang menciumnya dengan kasar lalu mendorong keras tubuh Draco sampai terjungkal ke belakang.

Draco yang tertutup oleh amarah tak bisa melihat rasa sakit yang terpancar di wajah Harry, dia justru melihat itu sebagai salah satu bentuk penolakan yang membuatnya semakin naik pitam, "sekarang bahkan kau berani menolakku, Harry," katanya dingin sambil mengusap bibirnya yang berdarah karena gigitan Harry tadi.

Sekuat tenaga Harry berdiri dari duduknya, dia tak peduli lagi walau kakinya harus lepas dari tempatnya, dia ingin membantu Draco yang terduduk dilantai karen dorongannya tadi, "Draco..." katanya sambil mengulurkan tangan. Tapi Draco berdiri sendiri dan menepiskan tangan itu dengan kasar.

"Sebaiknya kau tinggal disini sendiri dan puaskan dirimu dengan Diggory itu, siapa tahu dia bisa memberimu seorang anak yang begitu kau dambakan," sindir Draco dingin dan dia menghilang ke dalam perapian setelah meneriakkan kata Malfoy Manor.

Kali ini Harry benar-benar tak mampu bertahan, rasa panas dan sakit dikakinya begitu hebat, matanya terasa berkunang-kunang, tubuhnya terasa berat dan semua terlihat gelap.

.

"Halo Son, tumben kau kesini sendiri? Mana Harry?" tanya Narcissa pada putra sulungnya yang baru datang.

"Dia di rumah," jawabnya singkat dan duduk di depan ibunya.

Narcissa memandang anaknya dengan curiga, "kalian bertengkar?" tanyanya.

Draco diam saja dan menggelang pelan, "tak apa, pertengkaran biasa saja," jawabnya lagi. Dia tak mau orang lain tahu tentang masalahnya dengan Harry, dia pergi kesini hanya untuk mencari ketenangan dan mendinginkan kepalanya. "Dad belum pulang?" tanya Draco.

"Draco..." sapa suara dibelakangnya, ternyata ayahnya baru saja sampai.

Narcissa menyambut kepulangan suaminya dengan satu ciuman manis, Draco kembali merasa sakit melihat itu, 'brengsek kau, Harry', batinnya.

"Bagaimana keadaan Harry?" tanya Lucius.

Draco mengernyit heran, begitupun dengan Narcissa, "apa maksud, Dad?" tanya Draco.

Lucius memandang putranya dengan tak kalah heran, "kau belum mendengar berita di kantor?" tanya pria itu pada putranya.

Draco menggeleng, "berita? Berita apa?"

Lucius menyandarkan punggungnya, "tadi Harry, Weasley dan Diggory berhasil meringkus perampok yang mengacau di suatu tempat, tapi menurut keterangan Weasley, waktu tadi aku menemui James, Harry terkena satu serangan dari salah satu perampok yang membuatnya terjatuh dari sapunya," jelas Lucius.

Wajah Draco memucat, Narcissa terpekik pelan sambil menutup mulutnya.

"Kau belum bertemu Harry?" tanya Lucius.

Tanpa berpikir panjang Draco langsung melompat ke arah perapian dan menuju rumah mereka, wajahnya semakin pucat dan panik saat dia melihat tubuh Harry terbaring di depan perapian, tempat terakhir dia meninggalkan pemuda itu.

"Harry..." panggil Draco pelan. Dihampirinya tubuh Harry dan digoncangnya pelan. Dengan hati-hati dia memangku kepala Harry. Dada Draco semakin bergemuruh melihat wajah pias Harry dan bibirnya yang membiru, "Harry..." bisiknya bergetar, "HARRY..." teriaknya kali ini, tapi pemuda berambut hitam itu tak juga beraksi. Draco semakin panik, disentuhnya bibir yang tadi dia cium dengan kasar itu, terasa dingin, 'tidak...ini tidak akan terjadi', batin Draco. "Harry bangunlah, kumohon," bisik Draco sambil memeluk tubuh kekasihnya erat.

Perapian dibelakangnya menyala hijau dan muncullah Lucius beserta Narcissa dari dalamnya, "Merlin...kenapa Harry, Draco?" jerit Narcissa panik.

Draco menggeleng sambil terus mengayunkan tubuh Harry dalam pelukannya. Lucius berlutut disamping tubuh Harry dan memeriksa keadaannya, "dia masih hidup, bawa segera ke kamarmu, Draco, aku akan memeriksa keadaannya," perintah Lucius.

Setelah Draco membaringkan tubuh Harry di tempat tidur Lucius langsung memeriksa seluruh tubuh Harry dan mengernyit curiga melihat reaksi Harry yang sedikit tersentak saat dia menyentuh kakinya. Dengan pelan dia menyingkap celana panjang Harry dari bawah dan terkejut melihat luka lebar yang telah membengkak dan membiru.

Draco menahan nafasnya saat melihat luka itu, luka itu begitu parah dan dia tidak tahu, 'bodoh', batinnya. Dia merasa sangat menyesal telah memperlakukan Harry dengan kasar. Narcissa terisak sambil menutup mulutnya, "bagaimana keadaannya, sayang?" tanyanya pada suaminya.

"Parah, Harry menahan luka separah ini sampai dia tak sadarkan diri. Kita harus segera membawanya ke ," perintah Lucius.

.

Harry merasa tubuhnya sangat berat dan kepalanya begitu pusing saat dia mencoba membuka matanya.

"Harry...love," bisik Draco ditelinganya.

"Draco..." panggilnya pelan. Matanya kabur melihat dimana dia berada sampai Draco memakaikan kacamatanya. "di mana aku?" tanyanya lagi.

Draco mengusap rambut hitam Harry dengan lembut, "kau di rumah sakit," jawabnya.

Harry mencoba untuk duduk tapi tubuhnya tak mampu, Draco menahannya, "jangan, teruslah berbaring, kakimu belum bisa digerakkan," katanya.

"Kaki? Kenapa kakiku?" tanya Harry. Dia memang merasa panas dan sakit di kakinya telah berkurang jauh dibandingkan saat sebelum dia tak sadarkan diri.

"Maafkan aku," bisik Draco parau, "aku tak tahu kalau kau terluka, maafkan aku."

Harry memandang mata abu-abu Draco yang menyorot penuh penyesalan, entah kenapa saat ini dia begitu ingin menangis, dia merasa begitu rindu pada pemuda pirang didepannya ini. Diulurkannya tangannya untuk menyentuh pipi Draco, "aku rindu padamu, love," bisik Harry, setetes air mata jatuh dari mata hijaunya, "maafkan aku," bisiknya lagi.

Draco menciumi telapak tangan Harry, kepalanya menggeleng pelan, "aku yang bersalah, lagi-lagi aku menyakitimu, maafkan aku."

Harry merasa begitu nyaman mendengar suara Draco dan merasakan genggaman tangannya, "soal anak yang aku sampaikan dulu...aku tak serius, Draco. Aku..."

Draco mencium bibir Harry sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, "kita akan pikirkan itu nanti, Harry. Saat ini aku hanya ingin bersamamu dan menghabiskan waktu berdua saja, kau tak keberatan kan?" tanya Draco pelan.

Harry tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sekali lagi mereka tenggelam dalam satu ciuman yang manis, ciuman yang begitu lembut dan penuh perasaan. Tak sedetikpun Draco melepaskan bibirnya dari bibir Harry, dia ingin meyakinkan dirinya kalau Harry tetap ada untuknya.

"Sempat-sempatnya kau menyiksa Harry disaat dia sedang sakit, Draco," kata sebuah suara.

Dengan malas Draco melepaskan ciumannya dan menoleh ke pintu kamar, dilihatnya Annabell dan Andros berdiri disana bersama kedua orang tua mereka juga Sirius. Draco terkekeh, "bilang saja kau iri," godanya pada gadis itu.

Mereka melangkah masuk mendekati Harry, Annabell langsung memeluk erat tubuh kakaknya setelah dia mendorong Draco agar menjauh, "bagaimana keadaanmu?" tanya Bell cemas.

Harry tersenyum sambil mengusap pipi adiknya, "aku tak apa-apa, mungkin," katanya sambil melirik kearah Draco, karena dia juga tadi belum mendapatkan penjelasan tentang kakinya.

"Sepertinya kau terjatuh lumayan keras, Son, sehingga kakimu harus sedikit direparasi," goda James yang langsung mendapatkan pelototan peringatan dari istrinya.

"Begitu kau bilang kemarin baik-baik saja, dasar keras kepala," gerutu Sirius.

Harry hanya tertawa menaggapi kata-kata ayahnya dan ayah baptisnya itu.

"Kakimu mengalami benturan hebat yang membuat beberapa uratmu terluka, jadi untuk beberapa hari kedepan diharapkan kau tak usah menggerakkan kakimu dulu," jelas Lucius tak menghiraukan dua rekannya yang tak pernah serius itu.

"sepertinya parah sekali, Dad?" tanya Harry pada Lucius.

Lucius mengangguk, "parah juga kalau kau tetap memaksakan diri."

"Sembuhkan dulu lukamu baru kau kembali bekerja," kata James pada putranya.

"Biar Cedric dan Ron yang mengurus semua sampai kau sembuh," sambung Sirius.

Harry hanya mengangguk. "Ah, kenapa kalian bisa pulang, Bell?" tanya Harry pada adiknya yang masih duduk disisi ranjangnya.

"Profesor Dumbledore memberi kami ijin sampai sore ini untuk menjengukmu, kami harus kembali sebelum makan malam," jawab Andros kali ini.

"Tapi minggu depan kami sudah kembali lagi, liburan natal sudah dimulai," jawab Bell senang.

"Liburan natal?" tanya Harry. Dia melihat kearah Draco teringat pembicaraan mereka sebelum mereka bertengkar.

Draco mengerti akan arti tatapan Harry, "liburan natal nanti aku dan Harry akan bepergian kesuatu tempat," kabarnya pada semua. "Mudah-mudahan saat itu dia sudah sembuh."

"Kami dapat libur kan, Dad?" tanya Harry pada James dan Lucius.

James terkekeh mendengar pertanyaan Harry, "kalau kalian mau masuk ya silahkan saja, aku justru senang kalau pekerjaan saat libur natal bisa kalian selesaikan secepatnya," gurau James.

"James, berhentilah menggoda mereka," ancam Lily yang hanya mendapatkan balasan cengiran dari suaminya.

"Kalian mau kemana?" tanya Sirius.

Draco dan Harry berpandangan dengan senyum misterius tersungging di bibir mereka, "tak akan kami beritahu," jawab mereka kompak.

Dan ruangan itu menjadi ramai oleh gelak tawa dan rencana-rencana pesta menjelang natal tiba. Udara yang mulai terasa dingin justru terasa hangat bagi Harry dan Draco, sekali lagi mereka berhasil mangatasi satu masalah dalam hidup mereka.

A/N.

Iya aku tahu ini pendek dan ga terlalu seru seperti chap2 sebelumnya *siapa yang bilang chap sebelumnya seru, plak/ geer amat*

Juga ga ada lemon, iya itu juga sengaja karena moodku yang sempat macet beberapa hari lalu, sekali2 kita nikmati yang manis2 aja ya, yang kecut buat besok2 aja, hehehehe...

Ga tau mau bilang apa lagi, mudah2an masih ada yang suka ma fic ini dan meripiu dengan ikhlas.