PERTENTANGAN

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco Malfoy – Harry Potter

Rate : M

Genre : Romance

WARNING : No war, OOC, OC

"Bagaimana? Kau suka tempat ini?"

"Ya, sangat suka, begitu tenang, begitu indah."

"Semakin sempurna karena hanya kita berdua disini."

"D-Draco, kita baru sampai. Hei...jangan disini."

"Kalau begitu kita masuk sekarang."

"Jangan tarik tanganku...Draco..."

.

"Kita melewatkan makan malam, kau tak lapar?"

"Uuugh...aku hanya mengantuk."

"Kalau begitu, g'nite love."

.

"D-Draco stop it, biarkan aku tidur sebentar lagi."

"tapi aku tidak ada kerjaan."

"Cari kesibukan lain, jangan ganggu aku, aaakh...D-Draco..."

"Aku tidak mengganggumu, Harry."

"kalau begitu hentikan tanganmu."

"Apa salah kalau tanganku disini?"

"D-Dracooo.."

.

"Happy Christmas, love."

"Happy Christmas, Draco."

"Mau apa kita setelah ini?"

"aku akan memasak sesuatu untuk sarapan, setelah itu aku ingin berjalan-jalan ke pusat desa. Dan ku harap kau tidak menggangguku di dapur."

"Kalau begitu aku akan tidur sebentar."

.

"Bagaimana masakannya? Sudah matang?"

"Jangan mendekat, Draco, sebaiknya kau tunggu saja di meja makan."

"Aku ingin membantumu."

"T-tidak usah, sudah kubilang jangan ganggu aku."

"Aku hanya ingin membantumu."

"C-cukup Draco, menjauhlah..."

.

"Kau benar-benar membuat masakanku hangus."

"Jangan kesal begitu, tadi kau juga tidak menolakku."

"Tapi sekarang aku benar-benar lapar, tuan muda."

"Kita jalan-jalan saja ke desa, kita cari makan disana."

.

"Kalau disini diijinkan menggunakan sihir maka akan kubuat para gadis itu tidak bisa melihat lagi."

"Hentikan, Draco. Wajar kalau mereka melihat kita, kita orang asing disini."

"Akan kubuat mereka tahu rasa."

"Ap-apa maksudmu, Draco..."

.

"Uups...aku membuat mereka shock, Harry."

"Bagaimana tidak shock kalau tiba-tiba kau menciumku di depan orang banyak."

"Bukankah itu sesuatu yang wajar?"

"Kau ini, selalu semaunya sendiri."

"Katamu kau suka aku yang begini?"

"Berhenti mengoceh, Draco, teruskan makanmu."

.

"Besok kita sudah harus kembali ke rumah."

"Kau tak suka?"

"Bukan itu, tapi aku suka saja berdua seperti ini denganmu."

"Tumben kau bicara manis begitu, biasanya juga aku yang merayumu."

"Kalau kau tak suka aku tak akan bicara lagi."

"Kalau begitu jangan bicara."

"D-Draco, kau ini...stop it."

"Besok kita sudah harus pulang, manfaatkan waktu sebaik mungkin."

"Draco..."

.

.

.

"Bagaimana liburan kalian?" tanya Bell saat Harry dan Draco berkunjung ke Grimmauld Place.

"Menyenangkan, benar-benar tempat yang tenang dan bersih," jawab Harry.

"Kalian jadi pergi kemana?" tanya Bell penasaran, karena memang Draco dan Harry tak memberitahu tempat dimana mereka menghabiskan natal kemarin. "Kalian keliling eropa ya?"

Harry tertawa pelan sambil mengusap rambut adiknya yang cerewet itu, "tidak, kami hanya pergi ke sebuah desa kecil dipinggiran Inggris Raya. Kami menyewa sebuah rumah kayu ditengah hutan, rumah cantik dengan aliran sungai yang membeku di belakangnya," terang Harry.

"Waaah...coba aku ikut," kata Bell.

"Kalau kau ikut maka aku akan meninggalkanmu ditengah hutan," goda Draco pada adik iparnya itu.

"APA KATAMU?" teriak Bell cemberut sambil melempar Draco dengan bantal sofa dan mendapat balasan tawa dari semua.

Bel pintu berbunyi, Lily bangkit dari kursinya untuk membukakan pintu, "Alena..." pekiknya gembira, "masuklah, kau tak bersama suamimu?" tanya Lily di depan pintu. Lalu dia membawa masuk sang tamu ke ruang keluarga dimana semua sedang berkumpul. Alena Morris, istri dari Alexio Morris, teman James Potter di kementrian dari departemen penyalahgunaan barang-barang sihir. Dia datang bersama putrinya yang masih kecil, usianya sekitar 2 tahun.

"Lucia..." sambut Bell gembira melihat putri cantik alena tersebut, dia langsung menggendongnya dan memangkunya bersama Andros yang duduk disampingnya. Gadis kecil itu tertawa geli karena Bell terus menciuminya.

"Alex tak ikut bersamamu?" tanya James pada wanita itu setelah dia memberi salam pada semua.

"Tidak, nanti dia menjemputku disini," Jawab Alena, lalu para orang dewasa berkumpul di ruang tamu.

Harry memandang gadis cilik itu dengan tersenyum, tawa renyahnya yang lucu membuat dada Harry terasa hangat. Draco yang mengerti keinginan Harry langsung berdiri menghampiri Bell, "boleh ku gendong sebentar?" tanya Draco pada Bell sambil mengulurkan tangannya pada gadis kecil itu.

Bell tersenyum pada kakak iparnya, "boleh," katanya sambil menyerahkan gadis kecil yang memiliki rambut ikal berwarna coklat dan mata biru yang terang itu.

Draco menggendong Lucia dengan lembut dan meletakkannya di pangkuan Harry. Harry tersentak tak percaya Draco melakukan itu, dia pikir Draco tak suka pada kehadiran anak kecil mengingat pertengkaran terakhir mereka dulu. Harry membelai rambut ikal gadis itu lalu menyapanya, "hallo Lucia, kau cantik sekali."

Seakan mengerti Lucia pun menyentuh pipi Harry dan tersenyum manis, "achih..." jawabnya dengan kata-kata yang masih cadel. Otomatis semua yang mendengar itu tertawa semakin keras.

Harry mencium pipi balita itu dan berbisik ditelinganya, "aku menyayangimu gadis cilik," katanya lembut, dan Lucia pun menyurukkan wajahnya di dada Harry. Harry begitu senang merasakan tubuh mungil itu bermanja di pelukannya, terasa begitu hangat.

Annabell memperhatikan kakaknya yang sedang bercanda dengan gadis cilik yang langsung mencuri perhatian semua orang itu sambil tersenyum, dia menyandarkan kepalanya di bahu Andros.

Sedangkan Draco, melihat senyum dan tawa Harry yang begitu bahagia membuat hatinya berdebar kencang, dia tak ingin kebahagiaan itu pergi dari pemuda yang sangat dicintainya, tapi apa yang bisa dia lakukan? Pikirannya semakin berkelana mencoba mencari cara agar Harry selalu bahagia. Jika seorang anak yang diinginkannya maka dengan cara apa anak itu dapat hadir diantara mereka?

"Draco..." panggil Harry, "kenapa melamun?"

Draco sedikit tersentak dan gugup, "tidak, tidak apa-apa, Harry," jawabnya.

Harry tahu Draco pasti sedang memikirkan soal anak yang dulu pernah mereka bicarakan, apalagi saat ini ada Lucia yang dapat memancing ingatan itu. Harry menyerahkan Lucia pada Bell, "kami pulang dulu ya, lelah sekali rasanya," pamit Harry pada adiknya, "tolong sampaikan pada Mum dan Dad."

"Ok, selamat beristirahat, Harry...Draco..." jawab Bell dan Andy.

"Sampai jumpa anak manis," pamit Harry pada Lucia sambil mencium pipinya yang gemuk, dan tertawa saat Lucia melambaikan tangannya.

.

"Kau mau langsung tidur, Draco?" tanya Harry saat Draco sudah mengganti bajunya dengan piyama dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur mereka.

"Tidak, kemarilah," pintanya.

Harry menghampiri pemuda itu dan merebahkan badan disampingnya, "ada apa?"

Draco memeluk Harry dan mengusap punggungnya pelan, dia tak juga bersuara.

Harry merasa heran dengan tingkah kekasihnya itu, "Draco, ada apa?" tanyanya lagi.

Draco menghela nafas panjang, "apa selama ini kau merasa bahagia bersamaku, Harry?"

Harry sudah menduga kalau Draco masih memikirkan pertemuan mereka dengan Lucia tadi sore, dia membelai dada Draco mencoba menenangkan pemuda itu, "aku bahagia bersamamu, Draco, percayalah."

"Apa kau masih menginginkan kehadiran seorang anak?" tanya Draco hati-hati. Dia tak mau bertengkar lagi dengan Harry.

Harry tertawa pelan, "kalau bisa aku justru ingin mengandung anakmu, Draco."

Draco terkejut dengan pernyataan Harry, "mengandung? Maksudmu kau ingin Hamil? Bagaimana bisa?"

"Kita punya sihir dan ramuan kan? Apa tidak ada yang bisa mengatasi ini?" tanya Harry. "kau tahu, Draco, aku akan semakin sempurna menjadi pasanganmu kalau aku benar-benar bisa melahirkan anakmu, tak ada yang lebih hebat dari itu. Mungkin orang akan berpikir ini gila tapi aku tak peduli."

Sekali lagi Draco menghela nafas panjang, bagaimana mungkin Harry berpikiran seperti itu? Tapi dia sangat ingin membuat pasangannya itu bahagia. "Kau benar-benar menginginkannya, love?" bisik Draco.

Harry mengangguk pelan, "kalau bisa kenapa tidak?" jawabnya.

.

"Sev, aku ingin bicara denganmu," kata Draco siang itu saat dia mengunjungi Severus Snape di kantornya setelah liburan natal.

Severus menyandarkan punggungnya dan melipat tangannya di depan dada, "tumben sekali, Draco?" tanyanya.

Draco sedikit terdiam, "ya, ada sesuatu yang terus mengganggu pikiranku akhir-akhir ini," jawabnya pelan.

"Soal Harry?" tanya Severus langsung.

Draco mengangguk, "ya, soal Harry, kau tahu...beberapa waktu yang lalu dia mengutarakan keinginannya untuk...memiliki keturunan."

Severus mengernyitkan keningnya, "aku sedang tak ingin bercanda, Draco," jawabnya datar.

"Kau pikir aku juga suka bercanda?" bantah Draco.

Severus berdiri dari duduknya dan berjalan mondar-mandir di belakang Draco, "apa-apaan kalian ini?" gerutunya.

"Saat dia terjatuh dari sapunya bulan lalu kami baru saja bertengkar tentang masalah itu dan setelahnya kami memutuskan kalau itu hanya omong kosong semata. Tapi kemarin saat Mrs. Morris membawa serta putrinya yang masih kecil untuk mengunjungi James dan Lily aku bisa melihat betapa bahagianya dia bisa memeluk gadis kecil itu," jawab Draco panjang. "Apa yang akan kau lakukan jika kau melihat orang yang sangat berarti bagimu tampak begitu hidup dan bahagia?"

"Aku akan memenuhi semua keinginannya," kata severus pelan. Dia ingat dulu saat dia melepas Lily untuk menemui kebahagiaannya bersama James.

"Ya Sev, sebisa mungkin aku ingin memenuhi keinginannya," desah Draco.

Severus kembali duduk dibelakang mejanya menghadap Draco, "kalian kan bisa mengangkat anak saja, atau adopsi?" saran guru ramuan itu.

Draco melipat kakinya, "aku sudah katakan itu pada Harry tapi sepertinya dia tetap keras kepala dengan keputusannya."

Severus tampak berpikir keras, "ada," jawabnya.

"What?" tanya Draco.

"Ramuan untuk membuat laki-laki hamil," kata Severus lagi.

"Kau yakin?" tanya Draco dengan perasaan gembira.

Severus mengangguk pelan, "aku bisa membuatnya."

"Benarkah?" kejar Draco.

Severus kembali mengangguk, "dulu pernah ada yang mencobanya. Dia seorang bangsawan yang memiliki ketertarikan pada sejenisnya, maaf, seperti kau dan Harry. Dia sangat ingin pasangannya itu melahirkan seorang pewaris untuknya, semua ahli ramuan didatanginya dan akhirnya dia menemukan satu potion master yang mampu mengabulkan keinginannya. Ramuan itu berhasil membuat pasangan si bangsawan hamil tetapi ada satu yang luput dari perhatian sang potion master," jelas Severus.

"Apa itu, Sev?" kejar Draco.

"Dia lupa kalau organ tubuh yang dia ubah didalam tubuh sang pasangan tidak dapat menahan laju pertumbuhan bayi, bayi yang terus tumbuh menekan dan merusak organ-organ yang lain. Karena tidak tumbuh di dalam rahim maka ari-ari yang menempel pada selaput perut tidak bisa dilepaskan dan menyebabkan...kematiannya," jelas Severus lagi.

Draco memucat mendengar hal itu, "kematian? Maksudmu bayinya atau..."

"Kematian orang yang mengandungnya, Draco. Bayinya berhasil diselamatkan," jawab Severus memotong pertanyaan Draco.

Draco terdiam lama, "aku tak akan ijinkan Harry melakukan itu, Sev," putusnya.

Severus hanya bisa mengangguk sambil menekan keningnya.

.

Harry menyelesaikan berkasnya dengan tidak sabar, dia menunggu hasil dari pembicaraan Draco dengan Severus siang ini.

"Cepat sekali menulismu, Harry?" tanya Cedric dari mejanya.

Harry tersenyum, "ada sesuatu yang harus aku selesaikan sore ini," jawabnya bersemangat.

"Sepertinya kau sedang menunggu berita bahagia, mate?" tanya Ron yang juga heran melihat semangat sahabatnya yang melebihi biasanya itu.

Harry hanya tertawa. Dia benar-benar tak sabar bertemu Draco, Draco berjanji akan memberitahu kabar itu secepatnya. Berkali-kali dia melihat jam di dinding kantor tapi waktu sepertinya tak bersahabat hari ini, terasa begitu lambat.

Setelah semua selesai Harry melangkah keluar bersama Cedric dan Ron, sebelum berpisah mereka berbincang sejenak di depan Lobby. Tak berapa lama Hermione dan Cho Chang menghampiri mereka, "hai Harry..." sapa Hermione gembira melihat sahabatnya itu. Dia memeluk Harry erat dan mencium pipinya, "aku rindu padamu," katanya lagi.

Harry tertawa masih sambil merangkul pundak sahabat perempuannya, "aku juga rindu, Mione," jawabnya.

"Hei...jangan buat aku cemburu," gurau Ron setengah cemberut, tapi dia kembali tersenyum setelah Hermione memberinya satu kecupan ringan dibibirnya.

"kau tak takut Draco membunuhmu kalau kau begitu dekat dengan perempuan lain, Harry?" tanya Cedric bercanda.

Harry tergelak mendengar pertanyaan Cedric, "hanya Mione satu-satunya perempuan di muka bumi ini -selain keluargaku- yang tidak akan dicemburui oleh Draco," jawabnya santai.

"Tergantung juga sih," jawab Draco yang sudah muncul dibelakang Harry.

Hermione tersenyum dan mengecup satu pipi Draco, "hai Draco...", sapanya.

"Lama tak bertemu, Mione," jawabnya yang mendapat anggukan sebagai balasan.

Draco menarik lengan Harry yang berdiri terlalu dekat dengan Cedric, sedangkan Ron dan Hermione berusaha menahan tawa melihat keposesifan Draco.

"Antar aku pulang ya?" minta Hermione pada Ron.

"Baik yang mulia, apapun keinginanmu," jawab Ron bercanda yang disambut tawa yang lain, kecuali Draco tentunya. Lalu mereka pamit dan diikuti oleh Cedric serta Cho Chang.

"Berisik sekali mereka itu," gerutu Draco.

"Sudahlah, ayo kita pulang, ada sesuatu yang harus kita selesaikan juga kan?" ajak Harry.

Draco tak menjawab, dia hanya mengikuti Harry dengan diam.

.

Harry tak dapat bicara, dia begitu sedih mendengar kabar yang dibawa Draco, bahkan Severus Snape, sang Potion Master, pun tak bisa membantunya.

"Harry...love, jangan bersedih seperti itu, sudahlah aku sudah cukup bahagia bisa bersamamu saja," bujuk Draco.

Harry tersenyum getir, "aku tahu, Draco, aku tahu..."

Draco memeluk pemuda bermata emerald itu sampai dia tertidur, "maafkan aku, Harry," bisiknya pelan, "maafkan aku belum bisa membahagiakanmu."

.

Alih-alih tugas lapangan Harry mengunjungi Severus di kantornya siang itu.

"Aku sudah menduga akan kedatanganmu, Harry," sapa Severus. "Draco sudah menyampaikan semua padamu, kan?"

"Ya," jawab Harry lesu.

"Lalu?" tanya Severus lagi.

Harry mengusap rambutnya yang berantakan, "menurutmu apa aku salah kalau aku ingin menyenangkan pasanganku?"

"Apa menurutmu Draco senang dengan keinginanmu?" balik Severus.

Harry memandang severus dengan heran, "apa dia bicara padamu kalau dia tak menginginkan keturunan?"

Severus menggeleng, "dia hanya berkata kalau dia ingin membahagiakanmu, Harry."

"Tak adakah cara lain, Uncle?" paksanya. "Kau bisa membuat pertumbuhan bayi itu tidak terlalu besar kan? Atau aku akan menjaga pola makanku agar dia tak terlalu sesak di dalam tubuhku, atau..."

"CUKUP, HARRY...JANGAN PIKIRKAN DIRIMU SENDIRI," teriak Severus marah.

Harry terkejut mendengar teriakan ayah baptis adiknya itu, dia tak menyangka kalau Severus akan begitu marah mendengar keinginannya, selama ini pria itu memang terkenal dingin dan galak tapi tak sekalipun dia membentak Harry seperti saat ini. "A-aku tak memikirkan diriku sendiri, uncle, aku..."

"Kembalilah pada pekerjaanmu, lalu pikirkan kembali semuanya," usir Severus pada putra sahabatnya itu.

.

Harry menulis laporannya dengan lesu, Cedric dan Ron saling melempar pandang heran karena mood Harry berubah drastis dibandingkan kemarin. Cedric menghampiri rekan kerjanya itu dan duduk didepan mejanya, "kau baik-baik saja, Harry?" tanyanya cemas.

Harry mengangguk pelan sambil tetap meneruskan pekerjaannya, "tak apa, Cedric."

Cedric bisa melihat kalau pemuda itu sedang berbohong, tangannya memegang pena bulu dengan gemetar dan matanya tidak fokus melihat ke perkamen. "Dia menyakitimu lagi," desis pemuda berambut coklat itu.

"Tidak, tidak ada yang salah dengan Draco," jawabnya cepat.

"Mate, kau banyak berubah akhir-akhir ini, kadang kau senang tapi tiba-tiba kau bisa langsung sedih. Yakin kau dan Draco baik-baik saja?" tanya Ron yang berjalan mendekati sahabatnya itu.

Harry meletakkan pena bulunya dan menarik nafas panjang, dia mengacak rambut hitamnya dan mendesah keras, "kalian tak akan mengerti karena kalian tak pernah menjadi kami," jawabnya kesal.

"Kau menyesal?" tanya Cedric hati-hati.

Harry menatapnya tajam, "tidak, Cedric, aku tak akan pernah menyesali ini, tidak sekarang atau seumur hidupku."

"Lalu apa yang membuatmu begini sedih?" tanya Ron.

Harry terdiam, dia tak mau menceritakan masalahnya pada rekan-rekannya ini karena dia tak mau dianggap gila. "Tidak ada." Harry membereskan berkas-berkasnya dan berdiri, "aku mau pulang dulu," pamitnya.

Kedua rekannya hanya bisa melihatnya menghilang dibalik pintu.

.

Draco melihat Harry duduk terpekur didepan perapian yang menyala. Beralaskan karpet tebal dia menenggelamkan wajahnya diantara lututnya. Didepannya tergeletak satu gelas kosong yang berbau tajam, 'firewhiskey', batin Draco. "Harry..." panggilnya pelan. Harry tak menjawab tapi Draco bisa melihat sentakan lembut di bahunya. Dia berlutut disamping pemuda itu dan membelai rambutnya dengan halus, "love..." ulangnya. Dia terenyuh saat Harry tiba-tiba memiringkan tubuhnya dan memeluk pinggangnya dengan erat. Wajahnya disurukkan di lekuk leher Draco, "ada apa? Kenapa kau begini?" tanya Draco pelan.

"Ijinkan aku, Draco," bisiknya parau.

"Apa maksudmu?" tanya Draco tak mengerti.

Harry menegakkan tubuhnya dan berjalan kedekat perapian, "ijinkan aku meminum ramuan itu, Draco, kumohon," pintanya dengan suara serak. "Biarkan aku mengandung anak itu untukmu."

"KAU JANGAN GILA, HARRY, AKU TAK AKAN MENURUTI PERMINTAANMU KALI INI," teriak Draco.

Tubuh Harry gemetar, "dimana salahnya, Draco? Aku hanya ingin menunjukkan sebesar apa perasaanku untukmu. KENAPA KAU TAK BISA MENGERTI?" katanya marah.

Draco mendekati Harry dan memeluk lelaki tercintanya itu didadanya, dielusnya punggung Harry dengan lembut dan dikecupnya puncak kepala pemuda itu untuk meredam amarahnya, "jika kau ingin menunjukkan sebesar apa perasaanmu untukku maka buktikanlah dengan selalu ada disisiku, Harry, dan jangan pernah meninggalkanku," bujuk Draco. "Kalau ternyata kehamilan itu berarti aku harus melihat nyawamu melayang maka seumur hidupku aku akan sulit menerima kehadiran anak yang kau lahirkan itu, bahkan aku akan membuat nyawaku melayang mengikutimu," katanya lagi.

"Draco..." bisik Harry serak, air matanya mengalir membasahi kemeja Draco.

"Kau adalah hidupku, Harry, kalau kau mati maka tak ada gunanya aku hidup, ingat itu," jawab Draco. Dia terus mengusap punggung Harry dengan lembut, "seandainya saat ini aku yang memiliki keinginan sepertimu, Harry, apa kau akan rela melihatku melepaskan nyawaku dan meninggalkanmu sendiri?"

Harry tersentak, dadanya seakan ditusuk ribuan paku ketika dia memikirkan kemungkinan itu, kemungkinan dia akan hidup tanpa Draco disisinya, "tidak, Draco, jangan tinggalkan aku, kumohon," bisiknya di leher Draco. Saat itu juga dia merasa menjadi orang yang sangat egois, benar kata Severus, dia hanya memikirkan dirinya sendiri, dia tak memikirkan bagaimana perasaan Draco jika melihatnya terluka atau bahkan mati, "maafkan aku," bisiknya.

Draco menarik nafas panjang, dadanya sedikit lega merasakan Harry sudah dapat berpikir kedepan lagi, "tidak, love, aku akan selalu bersamamu, percayalah," jawabnya. "suatu saat nanti kita akan merawat seorang anak perempuan yang sangat cantik, yang memiliki bola mata seindah emerald seperti milikmu," bujuk Draco lagi.

Harry mendongakkan wajahnya, mata hijaunya yang basah menatap lembut mata Draco, tangannya mengusap rambut pirang pemuda yang sangat dicintainya itu, "dan memiliki rambut pirang sehalus milikmu," sambungnya dengan senyum mengembang.

Draco membalas senyum Harry dengan satu ciuman lembut dibibirnya, "I love you, Harry. Tapi tidak dengan bau firewhiskey dimulutmu," godanya. Dia kembali tertawa saat Harry dengan cepat menutup bibirnya dengan satu ciuman yang dalam, satu ciuman yang menuntut Draco untuk melepaskan semua akal sehatnya. Kecupan-kecupan lembut menjadi pertanda bersatunya dua hati yang menolak dipisahkan. Dengan lembut Draco membaringkan tubuh Harry diatas karpet dan membuainya dengan cumbuan-cumbuan yang dapat membuyarkan semua logika. Bibirnya membelai seluruh kulit tubuh Harry yang telah terbuka tak terlindungi, belaiannnya menjelajah setiap inchi tubuhnya dan melambungkan jiwanya tinggi hingga mencapai satu pelepasan pertamanya. Draco menyatukan tubuh mereka dengan begitu lembut seakan tak ingin membuat kekasihnya itu terluka, mata abu-abunya menatap tajam kilau emerald yang indah itu dan memberikan satu kecupan lembut di lekuk lehernya untuk meyakinkan Harry bahwa hanya dialah satu-satunya yang begitu berharga dalam hidupnya. Tak ada kata-kata hanya desahan dan erangan menjadi musik pengiring yang membawa mereka menuju pada altar kebahagiaan. Bersatunya dua raga menjadi penentu teraihnya suatu puncak yang membuat mereka merasa utuh dan sempurna.

Tubuh Harry bergetar hebat saat tubuhnya meledak bersama tubuh Draco dan melebur menjadi satu di dalam tubuhnya, pelukan mereka semakin erat menahan gelombang hasrat yang meronta liar tak terbendung hingga akhirnya gelombang itu mereda dan terhenti.

"Draco..." bisik Harry tersengal.

"Yes, love," jawab Draco ditelinga Harry.

"Maafkan aku," bisik Harry lagi, dan Draco menjawabnya dengan satu ciuman manis dibibirnya.

.

Ketukan pelan di jendela kamar mereka membuat Harry terbangun, dia membuka jendelanya dan membiarkan seekor burung hantu elang milik keluarga Malfoy masuk. 'ada apa ya? Ini masih pagi sekali', batinnya. Dia mengambil surat yang terikat di kaki burung tersebut yang pasti ditujukan untuk Draco. "Draco, bangunlah, Dad mengirim sesuatu untukmu," kata Harry sambil menggoncang tubuh kekasihnya yang masih tertidur pulas.

Draco mengusap matanya dan melihat kearah Harry, "ada apa?" tanyanya. Dia menerima satu gulungan kertas yang diulurkan Harry lalu membacanya.

"Ada sesuatu?" tanya Harry setelah Draco selesai membaca.

Draco terduduk di tepi tempat tidur dan mengusap wajahnya, "aku harus ke Perancis untuk beberapa hari," jawabnya.

Harry mendekati pemuda itu dan duduk disisinya, "kapan?" tanyanya.

"Pagi ini juga, ada sesuatu yang harus diselesaikan secepatnya," jawab Draco sambil memandang Harry, "kau akan baik-baik saja kan?"

Harry tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "pergilah, aku tak apa-apa," katanya.

"Apa sebaiknya kau tinggal di Manor saja?" tawar Draco.

Harry tertawa pelan, "kalau kau khawatir aku memasukkan gadis atau lelaki lain ke dalam rumah ini maka percayalah itu tak akan terjadi," jawabnya.

Draco menyeringai dan mengecup rambut Harry, "aku akan bersiap-siap dulu, tolong buatkan sarapan untukku ya, aku lapar sekali," mintanya.

"Baiklah tuan muda, akan aku siapkan khusus untukmu," jawab Harry setengah tertawa.

"Harry..." panggil Draco sebelum dia masuk ke kamar mandi.

Harry menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Draco, "ya?"

Draco menatap tajam mata hijau yang dipujanya itu, "jangan melakukan sesuatu yang membuatku khawatir, berjanjilah."

Harry tersenyum dan mengangguk, "tidak, Draco, aku berjanji."

.

Siang itu Harry menghabiskan waktunya sendirian di tempat biasa, di restoran kecil didekat kantornya. Ron dan cedric belum kembali dari tugasnya jadi dia memutuskan tidak menunggu mereka datang untuk makan siang. Tak berapa lama dia melihat Hermione masuk kedalam restoran itu sendirian, Harry pun memanggilnya dan meminta sahabatnya itu menemaninya.

"Kau sendirian Harry? Mana yang lain?" tanyanya.

Harry mengangkat bahunya, "mereka belum kembali."

Hermione menikmati makan siangnya sambil mengamati wajah sahabatnya yang duduk didepannya itu, "Harry...mmmh boleh aku bertanya?"

"tak perlu meminta ijinku, Mione, tanyakan saja," jawab Harry.

Hermione tampak berpikir sejenak, "kemarin Ron bercerita padaku kalau akhir-akhir ini kau tampak aneh dan...sedih, ada apa Harry?" tanya gadis itu.

Harry tersenyum dan menggeleng, "semua sudah selesai, Mione, tidak ada masalah lagi," jawab Harry.

Hermione tampak ragu mau bertanya, "baguslah kalau begitu."

"Kau pasti penasaran kan apa masalahnya?" goda Harry.

Wajah Hermione memerah karena Harry tahu apa yang dipikirkannya, "k-kalau kau tak mau bilang aku tak akan memaksa kok."

Harry tertawa pelan, "tapi kau jangan katakan pada siapa-siapa ya? Selain kami hanya kau dan Severus yang tahu masalah ini," kata Harry.

Hermione mengangguk dengan cepat, dia semakin penasaran setelah mendengar nama mantan guru ramuannya juga disebut.

Harry pun menceritakan semua pada sahabat perempuannya yang terkenal jenius itu.

.

"Kau benar-benar mengejutkanku, Harry," desis Hermione sambil menggelangkan kepalanya seakan tak percaya pada apa yang barusan diceritakan oleh pemuda berambut hitam didepannya itu.

"Aku bahkan berpikir kau akan menyebutku 'gila', Mione," kata Harry.

"Aku tak mungkin menyebutmu begitu walau dalam otakku kata itu tertulis begitu besar," sanggah Hermione.

Harry tertawa pelan, "aku tahu ini salah, aku hanya ingin membuat Draco..."

"Bahagia?" potong gadis berambut coklat itu.

Harry mengangguk pelan sambil menyesap minumannya.

"Yang aku lihat sampai saat ini Draco begitu menghargaimu, Harry," kata Hermione. "Aku tahu kalau dia terkadang terlalu bersikap over protective padamu tapi aku rasa semuanya itu ada alasannya kan?"

"Ya, kau benar, Mione. Aku juga tak keberatan dengan sikapnya yang selalu semaunya sendiri itu, tapi ada kalanya aku ingin membalas semua kebaikan dia," jawab Harry.

"Tapi tidak dengan mengorbankan nyawamu untuk hal itu, Harry," bantah Hermione. "Ok, aku tidak menganggap masalah anak adalah masalah yang kecil tapi..."

"Aku tahu, Mione. Kemarin Draco sudah bicara banyak denganku, Severus juga sudah membentakku dengan begitu keras jadi aku rasa sekarang aku sudah bisa memahami bagaimana perasaan kalian," potong Harry.

Hermione menggenggam tangan Harry, "kau bisa membuktikannya dengan cara lain, Harry."

Harry mencium tangan sahabatnya itu, "thanks, Mione. Aku tahu aku akan bisa menceritakan semuanya padamu."

"Well, sepertinya ada yang tak setia disini," kata sebuah suara yang mengejutkan keduanya.

"Pansy," desis Harry begitu melihat gadis yang selalu mengganggu hubungannya dengan Draco berdiri disamping mejanya.

Dengan angkuh gadis itu duduk disamping Harry, dia tak peduli pada pandangan tak senang yang dilemparkan Hermione maupun Harry padanya, "sebenarnya kalian ini pasangan yang sangat serasi, jadi...kenapa kalian tak kawin lari saja?" sindirnya. "Kasihan Drakie kalau terus hidup dibawah racunmu, Potter."

Tangan Hermione yang masih berada di genggaman Harry menegang, tapi Harry menggenggamnya semakin erat untuk menenangkan sahabatnya itu, "sayangnya Draco tak pernah mengeluh selama bersamaku, Pansy," jawab Harry santai. "Dan aku rasa kau belum lupa pada ancaman ayah mertuaku kan?"

Pansy berdiri dengan kesal, lalu dia meninggalkan mereka berdua dengan mempertahankan sikap angkuhnya.

"Dasar gadis aneh," gerutu Hermione sambil menarik tangannya dari genggaman Harry.

Harry hanya tertawa pelan, "biarkan saja, lama-lama aku bisa tahan mendengar kata-kata pedasnya."

"Hei, tadi aku melihat si Parkinson aneh itu keluar dari sini, kalian bertemu dia?" tanya Ron yang baru datang bersama cedric.

"Ya, kami baru saja berbincang-bincang," jawab hermione sambil tertawa.

Ron menatap heran pada kekasihnya itu, "apa yang dia bicarakan?"

Harry terkekeh, "dia menyarankan supaya aku dan Mione kawin lari saja, karena kami adalah pasangan yang serasi," jawab Harry menirukan kata-kata Pansy.

Semua yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak, termasuk Cedric yang tidak begitu tahu permasalahan diantara mereka. Dengan berkumpul bersama teman-temannya seperti ini membuat Harry sedikit melupakan rasa sepinya akibat kepergian Draco ke Perancis.

.

"Mum dan Dad akan pergi ke Perancis? Ada apa?" tanya Harry dua hari kemudian saat James memanggilnya secara pribadi keruangannya.

"Entahlah, Lucius juga akan pergi bersama kami. Dia mendapat panggilan untuk menyertai kami kesana," jawab James.

"Aneh..., apa sesuatu terjadi pada Draco?" tanyanya lagi.

James menggeleng, "aku rasa tidak, tadi sewaktu aku tanyakan itu pada Lucius dia juga bilang kalau Draco baik-baik saja," jawabnya, "mungkin ada satu masalah lain, dan yang aku herankan kenapa aku juga harus membawa ibumu?"

Harry mengernyitkan keningnya, "kapan kalian akan berangkat?" tanya Harry.

"Besok pagi, dan tadi aku dapat pesan dari Cissy kalau dia ingin selama kami pergi kau bisa menemaninya di Manor," kata James lagi.

Harry mengangguk, "baiklah, nanti aku langsung pulang ke Manor saja."

.

"Jangan gelisah seperti itu, Son, habiskan dulu sarapanmu," kata Narcissa lembut pada Harry. "Semua pasti baik-baik saja," hiburnya.

"Ya, Mum, hanya saja sudah dua hari ini tak ada kabar dari Draco ataupun Mum dan Dad," jawabnya. "Aku penasaran sekali, ada apa sebenarnya?"

"Lucius juga belum mengirimkan kabar padaku," sambung Narcissa. "Tapi sudahlah, kau tenang saja, jangan sampai rasa cemasmu membuat pekerjaanmu jadi berantakan. Sekarang pergilah ke kantor, jangan sampai kau diamuk oleh Moody dan Sirius," kata Narcissa.

"Ok, Mum, sampai nanti," pamit Harry setelah dia menbgecup pipi wanita cantik itu.

.

Harry berjalan gontai disepanjang perjalanan menuju Manor, dia berniat pulang dengan berjalan kaki untuk membuang waktunya. Kalau sudah dirumah maka dia akan banyak berpikir tentang Draco juga orang tuanya. Setapak demi setapak diisinya dengan lamunan tentangnya dan Draco selama ini, dia tersenyum pada saat mengingat betapa menyebalkannya Draco dulu sampai mereka tak pernah berhenti bertengkar untuk alasan-alasan yang bodoh. Dia ingat pertama kali Draco memegang tangannya saat dia hampir terjatuh di tangga menuju aula besar, saat pertama Draco menggenggam tangannya yang tertutup jubah panjang ditepi Danau, dan saat Draco mengecup luka diujung bibirnya karena pertengkaran mereka di perpustakaan.

Dia merindukan Draco, kepergiannya beberapa hari ini benar-benar menyita pikirannya. Hampir satu minggu pemuda yang sangat dicintainya pergi dan jarang sekali memberi kabar, 'awas saja kau kalau pulang nanti', ancam Harry dalam hati. Dengan malas dibukanya pintu utama Manor yang besar itu dan dia terkejut melihat siapa yang berdiri didepannya dengan seringaian khasnya yang menyebalkan, "Draco..." kata Harry, dia mematung didepan pintu seakan tak percaya pada penglihatannya.

Draco maju dan menghampiri pemuda berambut hitam itu, dia memeluk bahu Harry dengan lembut dan mengecup ringan puncak kepalanya, "I miss you, love," bisiknya.

Sadar kalau yang memeluknya itu benar-benar Draco maka Harry pun melingkarkan tangannya pada pinggang kekasihnya, "ingat juga kau untuk pulang," sindir Harry.

Draco hanya terkekeh pelan, "mana mungkin aku lupa akan sesuatu yang berharga disini?" rayunya. "Aku ada kejutan untukmu, ikut aku," ajak Draco sambil menarik tangan Harry.

"Ada apa?" tanya Harry penasaran, dan semakin kesal saat Draco menanggapinya hanya dengan tertawa.

Draco menyeretnya ke ruang keluarga dimana semua telah berkumpul disana termasuk James, Lily dan Lucius yang selama beberapa hari ini pergi ke Perancis. Matanya terpaku pada sosok mungil dipangkuan Lily. Gadis kecil yang sangat cantik dan lucu dengan rambut pirang madunya dan mata hijaunya...yang begitu mirip dengan mata ibunya, matanya sendiri.

"Mum..." Harry tak tahu harus berkata apa pada ibunya. Dia ingin bertanya siapa gadis kecil itu dan apakah ada hubungannya dengan kepergian mereka kemarin?

"Duduklah, Son, Mum akan jelaskan semua," kata Lily pada putranya.

Harry duduk disamping ibunya, matanya bertemu dengan mata hijau cemerlang milik gadis kecil itu. Dada Harry bergetar, dia menggenggam jemari mungil itu dan tersenyum saat jemari mungil itu balas menggenggamnya. "Siapa anak ini, Mum?" tanya Harry.

Lily menghela nafas panjang sebelum bercerita, "kemarin aku dan ayahmu di panggil oleh kantor kementrian sihir untuk wilyah Perancis karena anak ini," jawabnya.

"Maksud, Mum?" tanya Harry tak mengerti.

"Kau mungkin tak tahu kalau sebenarnya Mum punya seorang saudara sepupu yang juga seorang penyihir, namanya Sebastian Evans. Kami tak pernah menceritakan padamu tentang dia karena pamanku yang begitu shock dengan status Sebastian sebagai penyihir tak mau mengakuinya dan mengusirnya dari rumah. Setelah lulus dari Hogwarts, Bastie langsung mendaftarkan dirinya untuk bekerja di kantor kementrian Perancis karena dia juga merasa kalau dia tak akan diterima dikeluarganya sendiri. Setelah diterima bekerja, Bastie langsung menetap disana dan mengubah kewarganegaraannya. Beberapa tahun yang lalu dia menikah dengan Mirhia Bourdeux, seorang wanita Perancis keturunan Veela. Darah Veela yang mengalir ditubuhnya hanya seperempatnya saja karena didapatnya dari sang nenek. Dan sepuluh bulan yang lalu lahirlah anak ini ditengah keluarga kecil mereka, namun sayang beberapa bulan kemudian Sebastian meninggal dalam menjalankan tugasnya sebagai Auror dan Mirhia yang merasa shock jatuh sakit lalu juga meninggal. Mirhia tak memiliki sanak saudara lain, sedangkan Sebastian juga sebatang kara, paman dan bibiku sudah lama meninggal." kisah Lily.

Harry tercekat mendengar cerita ibunya, matanya kembali memandang gadis kecil itu, entah kenapa dadanya terus bergetar melihat wajah sempurnanya yang menjadi ciri khas keturunan veela. Merasa dipandang dengan penuh kasih gadis kecil itupun tersenyum pada Harry yang tanpa ragu langsung menggendong gadis cilik itu dan meletakkannya di pangkuannya. Draco tersenyum melihat mata hijau Harry yang memancar begitu hangat.

"Setelah ditelusuri oleh kementrian ternyata hanya akulah satu-satunya penyihir yang menjadi kerabat Sebastian, dan melalui Lucius kantor kementrian Perancis menyerahkan anak ini padaku," lanjut Lily.

Harry tersenyum dan mencium lembut rambut pirang gadis kecil itu, "lalu...siapa namanya, Mum?" tanya Harry.

"Elischa Belle Malfoy," jawab Draco kali ini.

Dada Harry tersentak, dengan cepat dia menoleh kearah kekasihnya itu, "m-maksudmu..."

Draco tersenyum pada pemuda itu dan mengusap lembut rambut gadis cilik yang dipangkunya, "aku telah mengadopsinya atas nama kita, Harry," jawabnya pelan.

Harry benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi, dia terus memeluk gadis cilik itu seakan tak ingin melepasnya.

"Kau pasti heran melihat mata hijaunya yang sama dengan mata kita, iya kan?" tanya Lily yang mendapatkan jawaban anggukan dari putranya, "Sebastian sangat mirip denganku, warna mata juga rambutnya."

"dan rambut pirang ini tentu saja warisan dari ibunya yang memiliki seperempat darah veela," jelas James akhirnya.

"Kalau kalian pergi bekerja taruhlah anak ini bersamaku atau Lily, kami akan merawatnya," tawar Narcissa, "sepertinya akupun jatuh cinta pada bidadari kecil ini."

"Tidak, Mum, Elischa milik kami," gurau Harry.

Cissy dan Lily tertawa, "kami akan siapkan satu kamar khusus untuknya dan memberikan satu peri rumah yang juga khusus menjaganya," kata Cissy.

"Boleh aku minta Slikey untuk merawat Elischa, Mum?" tanya Draco pada ibunya.

"Tentu, Son, kau bisa membawanya. Peri rumah yang satu itu begitu lembut jadi Mum yakin dia akan mampu merawat Elischa," sambung cissy.

"Aku ingin segera membawanya pulang," kata Harry.

"Biarkan dulu disini sebentar, nanti malam baru kalian bawa pulang bersama Slikey," kata Lucius yang dari tadi hanya diam. Semua menahan senyum melihat Lucius yang sepertinya juga mulai jatuh hati pada gadis kecil itu.

.

"Master Harry Malfoy, Sir, Slikey telah membersihkan kamar untuk tuan putri kecil, Sir," kata Slikey sopan saat mereka telah kembali kerumahnya sendiri.

Harry yang sedang bercanda dengan bidadari kecilnya berkata, "biarkan malam ini dia tidur dengan kami, Slikey."

"baik, Master Harry Malfoy, Sir," jawab Slikey sopan lalu menghilang dengan suara 'pop' yang halus.

"Harry...apa kau tidak lelah?" tanya Draco.

"Besok hari sabtu, Draco," jawabnya sambil memandang mata abu-abu itu.

"kau tak rindu padaku?" tanya Draco lagi. Tapi Draco tersentuh dengan tatapan mata hijau satunya yang memandangnya dengan memelas, "baiklah...sekarang aku pun tak bisa menolakmu, little angel," katanya sambil berbaring disamping Harry dan mengapit putri kecil mereka. Gadis kecil itu tersenyum dan tertawa senang merasakan dia begitu disayang.

Harry tersenyum dan mencium bibir Draco dengan lembut, "terima kasih, love, kau selalu bisa membuatku merasa sempurna," bisiknya.

Draco memandang Harry dan membalas senyumnya, perhatiannya terpecah saat Elischa menarik kemejanya, "ya, sweetheart? Apakah kau senang berada bersama kami?" tanya Draco sambil memeluk gadis kecil itu didadanya. Mereka tertawa saat Elischa menepuk pipi Draco. "kalau kau sudah pandai bicara panggil kami dengan sebutan 'Daddy' ya?" pinta Draco.

"Seharusnya dia sudah bicara, Draco. Mungkin dia masih memerlukan penyesuaian dengan lingkungan barunya," jelas Harry.

"Minggu sore aku akan mengundang teman-teman kita untuk menyambut kehadiran Elischa didalam keluarga ini," kata Draco.

"Aku setuju saja, aku ingin memamerkan bidadari kecilku ini pada semua," jawab Harry, dan malam itu mereka bertiga tidur dengan nyenyaknya.

.

Tengah malam Harry terbangun saat didengarnya suara tangisan, dia langsung terjaga, "Elischa..." katanya. Dia memeluk gadis kecil yang sudah terduduk di tempat tidur sambil menangis itu. Setelah dipeluk Harry tangis Elischa sedikit mereda, dia menyurukkan wajahnya ke dada Harry, "ada apa, sweetheart? Kau haus?" tanyanya. Harry terkekeh saat gadis kecil itu menganggukkan kepalanya sambil menghisap ibu jari tangannya. Harry mencium pipi putih gadis itu, "baiklah, tunggu sebentar ya? Slikey..." panggil Harry dan peri rumah itu langsung hadir didepannya.

"Master Harry Malfoy memanggil Slikey, Sir?" jawab makhluk kecil itu.

"Ya, Slikey. Tolong buatkan sebotol susu hangat untuk malaikat kecilku ini, dia haus," perintah Harry sopan.

"Baik, Master Harry Malfoy, Sir," jawabnya, sambil menundukkan tubuhnya Slikey pun menghilang dan tak berapa lama telah kembali lagi dengan sebotol susu ditangannya lalu kembali menghilang. Slikey selalu suka dengan tuan mudanya ini, dia tak pernah kasar terhadap siapapun termasuk kepada peri rumah.

"Ini minummu, sweetheart, kembalilah tidur." kata Harry. Dia melihat Draco yang tertidur pulas disampingnya lalu membenahi selimut yang telah terlepas dari tubuhnya. Setelah itu dia memeluk Elischa yang masih terbangun dan meminum susunya, diusapnya rambut pirang madunya yang indah, "kasihan kau, sweetheart, diusia sekecil ini kau harus kehilangan kedua orang tuamu. Tapi kami berjanji padamu, kami akan merawat dan menyayangimu selamanya," bisik Harry sambil menatap lembut mata hijau yang seperti matanya itu. Dia kembali terkekeh saat tangan Elischa yang tidak memegang botol menyentuh lembut pipinya, harry mencium tangan mungil itu, "panggil kami 'Daddy' ya?"

.

Minggu sore itu suasana di Malfoy Manor begitu ramai, para tamu penasaran seperti apa wajah bidadari kecil yang disebutkan Draco dan Harry dalam undangannya yang mereka sebarkan melalui burung hantu. "Ayolah Bell, ceritakan pada kami secantik apa dia?" tanya Hermione pada Bell yang -sekali lagi- mendapatkan ijin pulang dari kepala sekolah bersama Andros.

Bell tertawa bahagia, "kau akan tahu sebentar lagi, dia benar-benar penjelmaan seorang malaikat, cantik sekali," pamer gadis itu.

Ron, Blaise, Theo, Cedric dan Cho Chang pun tak kalah penasaran, mereka terus menanyai Andy tentang keponakan barunya itu.

Tak lama pintu paviliun yang biasa ditempati Harry dan Draco terbuka, semua mata tertuju pada mereka, hanya tampak mereka berdua, gadis kecil yang menjadi topik utama masih belum kelihatan. Harry tersenyum dan mulai bicara "Terima kasih untuk kehadirannya, pada sore yang cerah ini kami akan memperkenalkan anggota baru dalam keluarga kami, Elischa Belle Malfoy," kata Harry sambil melihat kebelakangnya. Tampak seorang gadis kecil dengan memakai gaun putihnya yang mengembang, berjalan tertatih dalam lindungan peri rumah yang kecil. Semua tamu terpana akan kecantikannya yang begitu hidup, mata hijaunya bersinar laksana emerald, rambut pirang madunya yang tergerai lurus tampak begitu indah dan berkilau, kulitnya yang putih dan tubuhnya yang ramping benar-benar jelmaan seorang bidadari.

"Merlin...dia begitu cantik," pekik Hemione dan Cho Chang yang rasanya tak sabar ingin memeluk anak itu.

Draco tersenyum dan menggendong Elischa dipelukannya, "Elischa sudah resmi terdaftar sebagai putriku dan Harry," kata Draco.

"Bersulang untuk kebahagiaan kalian," kata Sirius yang mengangkat gelasnya, semua melakukan hal yang sama dan mengucapkan selamat pada Harry dan Draco.

Bell langsung maju dan meminta keponakannya itu pada Draco, "biar Elischa bermain bersamaku ya, Draco?" rengek Bell. "Nanti malam aku sudah harus kembali lagi ke Hogwarts."

Draco menyerahkan Elischa pada Bell yang tertawa senang, karena sejak kemarin kedua kakaknya itu pelit sekali menyerahkan Elischa pada orang lain. Bell langsung membawa Elischa ke tengah para tamu dan saat itu juga gadis kecil itu telah menjelma menjadi idola mereka.

Harry dan Draco duduk bersama kedua orang tua mereka yang menjelaskan asal Elischa pada Sirius, Remus dan Severus. Remus dan Severus mengabarkan kalau nama Elischa telah terdaftar sebagai calon murid di Hogwarts untuk sepuluh tahun yang akan datang. Mereka juga bercerita tentang Bell dan Andros, ini adalah tahun terakhir mereka di sekolah sihir itu, Lucius telah merekomendasikan Bell untuk masuk di departemennya, begitu juga dengan departemen hukum yang tertarik dengan kejeniusan Bell. "Terserah Bell saja dia nanti memilih yang mana," kata James, "yang pasti aku juga berharap Andy bisa cepat lulus sebagai auror muda," lanjutnya. Andros memang berniat mengikuti jejak kakak iparnya dan calon ayah mertuanya untuk menjadi seorang auror, Lucius dan Narcissa pun mendukung keinginan putranya itu.

"Hei...kemarilah, sweetheart," panggil Harry saat melihat Elischa yang digandeng oleh Bell berjalan tertatih menuju mereka. Gadis cilik itu tertawa semakin lebar begitu melihat kedua ayahnya, dia berjalan semakin cepat lalu menubruk Harry dan Draco, "Diddy..." katanya sambil memeluk kedua pemuda yang hanya bisa tertegun mendengar kata pertama putri mereka. Suara yang memanggil mereka 'Diddy' itu terdengar begitu halus dan merdu seperti bisikan angin.

"Oh Merlin...dia memanggil 'Diddy' maksudnya pasti 'Daddy'," pekik Narcissa yang disambut tawa bahagia Lily. Dan sekali lagi gadis kecil itu menjadi bintang yang bersinar diantara para orang dewasa.

Dada Harry begitu hangat, panggilan pertama putrinya terus terngiang ditelinganya, dia memandang Draco yang sedang tersenyum bahagia.

"Ada jalan keluarnya kan, Harry?" kata Severus yang duduk tepat disampingnya.

Harry menatap mata abu-abu Daco dan mengangguk pada mantan guru ramuannya tersebut, "yes, uncle, dan semua menjadi begitu sempurna," katanya sambil memandang Elischa yang telah berpindah ke pelukan Lucius.

A/N,

Maaf...aku mengecewakan kalian para ripiuer ku tercinta, aku ga membuat ini menjadi Mpreg karena aku emang bener-bener ga bisa, hik...,maaf ya...*sujud2 minta ampun* *narik2 baju my yang pasti ngambek*

Itu penjelasan ramuannya Sev yang aneh bin ajaib jangan dibandingin ma ilmu sebenarnya ya, karena itu cuma pikiran ngaco aku.

Apa kalian masih ingin ini berlanjut? Atau aku sudah sangat mengecewakan dan akan lebih baik kalau fic ini tamat sampai disini saja? *putus asa sangat*

Buat Ai, Dinie and putry, ma'acih ya infonya soal Veela, tapi emang ada gitu veela matanya ijo? *diinjek*. Rambut pirang madu, jadi keinget ma rambutnya Remus, masa Elischa ternyata adalah anak remus dan Harry? *dibakar Sirius*.

Buat Ness dan Lin, thanks dah ngehibur aku yang sempat 'macet' kemaren, hehehe

Buat semua Reader and ripiuer sekali lagi aku minta maaf yaaa… masih berkenan membaca dan meripiukah? *pasang tampang memelas sambil bawa kaleng*.