PILIHAN

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco Malfoy – Harry Potter

Rate : M

Genre : Romance / Family

WARNING : No war, OOC, OC

"Daddy, ini…" kata Elischa sambil mengacungkan sebatang coklat.

Harry tersenyum melihat putrinya yang saat ini telah berusia 2 tahun itu, cara berjalannya sudah lancar, kosa katanya juga sudah banyak dan tubuhnya semakin tinggi begitu juga dengan rambut pirang madunya yang semakin panjang. "Ambillah, sweetheart, tapi jangan terlalu banyak ya, kasihan gigimu," kata Harry.

Gadis cilik itu mengangguk cepat dan berlari menghampiri ayahnya yang satu lagi yang sudah mengantri di kasir, "Daddy, aku ini..." katanya sambil menarik-narik celana panjang ayahnya yang berambut pirang itu.

Draco melihat kearah putrinya yang mengulurkan sebatang coklat lalu dia melihat kearah Harry meminta persetujuan, setelah Harry mengangguk Draco pun menerima coklat itu lalu menggendong Elischa.

Setelah membayar barang yang mereka beli mereka pun meninggalkan toko itu. Hari minggu ini digunakan oleh Harry dan Draco untuk mengajak putri kecil mereka berjalan-jalan di Hogsmeade. Dan setelahnya mereka akan mengunjungi Bell dan Andros di Mannor. Kedua adik mereka sudah lulus dari Hogwarts tahun kemarin dan tahun ini Bell telah bekerja di departemen hukum bersama Hermione dan Andros telah menjadi auror dengan nilai kelulusan yang memuaskan, dia sekarang ditempatkan diruangan yang sama dengan Harry, Ron dan Cedric.

"Daddy..." panggil Elischa pada Draco yang menggendongnya.

"Yes, sweetheart," kata Draco sambil tertawa karena gadis kecil itu menepuk-nepuk pipinya pelan seakan ingin perhatian penuh dari ayahnya.

"Itu...lucu..." katanya sambil menunjuk pada etalase yang memajang boneka kelinci berwarna putih.

Harry tersenyum pada putrinya, "kau mau itu, honey?" tanyanya.

"Boleh?" tanya Elischa kembali.

Harry melihat kedalam toko yang ramai itu, "baiklah, biar Daddy sendiri yang masuk, kau dan Daddy Draco bisa menunggu sambil menikmati es krim kesukaanmu di toko itu, ok?" kata Harry sambil menunjuk sebuah kedai es krim di seberang jalan.

Seolah-olah mengerti Elischa pun menganggukkan kepalanya dan melambaikan tangan mungilnya saat ayahnya yang berkacamata itu masuk kedalam toko.

Draco memesan 1 buah es krim untuk putrinya, belum lama duduk tiba-tiba ada yang menarik kursi didepan mereka, "hallo sweetheart," sapanya pada Elischa. Draco mendongak dan melihat Hermione bersama Ron.

"Mione..." seru Elischa gembira.

Hermione meraih gadis kecil dan memangkunya, "kau suka sekali es krim?", tanyanya dan tertawa saat Elischa menganggukkan kepalanya.

"Dimana Harry?" tanya Ron kali ini.

Draco melihat ke toko seberang dan terkekeh, "dia sedang menjemput Mr. Rabbit di toko itu," jawabnya.

Hermione dan Ron berpandangan dengan heran, tapi pertanyaan mereka segera terjawab setelah Harry datang dengan sebuah boneka kelinci putih ditangannya.

"Daddy..." seru Elischa sambil mengulurkan tangannya untuk memeluk boneka itu, "thank you, Daddy..." katanya dengan gembira.

Harry mengecup rambut putrinya yang masih dipangku Hermione lalu duduk disamping Draco.

Mereka tertawa melihat bagaimana berantakannya baju Harry akibat berdesak-desakan di dalam toko.

"What?" tanya Harry.

"Kalian jangan terlalu memanjakan Elischa," kata Hermione setelah tawanya mereda. "Kalian harus bisa mendidiknya menjadi mandiri, bukan menjadi manja," ocehnya lagi.

Draco menyeringai, "tak ada yang mampu menolak tatapan matanya, Mione."

"Kalau aku jadi mereka mungkin aku juga akan memanjakan Elischa, honey," kata Ron.

Hermione mengernyitkan keningnya, "kalau begitu aku akan menjauhkan anak ini darimu, Ron," ancam Hermione. Tiga bulan yang lalu mereka telah menikah dan saat ini usia kandungan Hermione memasuki bulan pertama.

.

"Aku heran Ron dan Hermione yang selalu bertengkar itu bisa tahan berada dalam satu rumah," kata Draco pada Harry setelah mereka sampai dirumah setelah mampir sebentar di Mannor. Gadis kecilnya tertidur dalam gendongannya.

Harry tertawa mendengar kata-kata kekasihnya itu, "kau ini, dari dulu mereka memang selalu seperti itu. Tapi kau akan tahu bagaimana perhatiannya Mione pada Ron kalau kau kenal mereka lebih dekat."

"Slikey..." panggil Draco.

Suara 'pop' halus terdengar diruang tamu itu, "Master Draco Malfoy memanggil Slikey, Sir?" tanya peri rumah itu sambil membungkuk.

"Elischa tertidur, tolong siapkan kamarnya ya?" perintah Draco pelan. Kebiasaan Harry yang selalu menggunakan kata 'tolong' pada peri rumah ternyata terular juga pada Draco, dan Slikey begitu bahagia bisa menjadi abdi kedua tuannya.

"Baik Master," lalu peri rumah itu menghilang lagi.

Harry mengambil boneka kelinci yang masih dipeluk putrinya dan mencium pipinya dengan lembut, "bawa dia ke kamar, Draco, dia pasti lelah," kata Harry.

Draco mencium singkat bibir pemuda yang telah semakin dewasa didepannya itu lalu meninggalkannya untuk membaringkan Elischa. Dia tersenyum melihat wajah Harry yang masih suka merona setiap disentuhnya.

.

Draco mengusap rambutnya yang basah dengan handuk sehabis mandi, rambut pirangnya kini semakin panjang menyentuh bahu, terlihat semakin mempesona dimata Harry. "Apa yang lucu?" tanyanya pada Harry saat dilihatnya pasangannya itu tersenyum sambil bersandar ditempat tidur.

"Tidak, rambutmu semakin panjang saja," jawab Harry.

Draco memandang cermin didepannya, "kalau kau tak suka aku akan memotongnya."

Harry tertawa pelan, "bagaimanapun bentuk rambutmu aku sih suka saja, tapi aku paling suka yang ini, terlihat lebih dewasa dan begitu...Malfoy," godanya.

Draco berdecak kesal, "bilang saja kalau aku semakin mirip dengan Dad," gerutunya sambil menghampiri Harry dan berbaring dikakinya.

Harry tertawa lagi dan memainkan rambut halus Draco di jarinya, masih terasa basah. Tiba-tiba pintu kamar mereka berbunyi seperti tersentuh oleh tangan kecil yang tak bisa membuka daun pintunya, "Daddy..." panggil suara merdu dari luar kamar.

Draco terkekeh dan mengayunkan tongkatnya sehingga pintu itu terbuka sendiri, benar dugaan mereka, gadis kecil itu langsung berlari memasuki kamar ayahnya dan berusaha naik ke tempat tidur dengan bantuan Harry.

"Kau sudah bangun, sweetheart?" tanya Harry pada Elischa yang duduk begitu dekat dengan kedua ayahnya. Ditangannya ada sebuah buku bergambar yang tadi dibelikan oleh Draco.

"Daddy...ini apa?" tanyanya sambil menyodorkan buku yang terbuka pada Harry.

Harry dan Draco memperhatikan gambar yang ditunjukkan putri mereka, "ini namanya kelinci, sayang, sama seperti boneka barumu," jawab Harry.

Elischa mengangguk mengerti, "ini?" tanyanya lagi sambil menunjuk satu gambar.

Harry dan Draco terpaku melihat gambar yang ditunjuk Elischa.

"Daddy...cantik," kata gadis kecil itu lagi masih sambil menunjuk gambar yang dimaksudnya.

Draco yang berbaring miring dengan tumpuan kaki Harry sebagai bantal memeluk pinggang Elischa yang duduk didepannya dan mencium punggungnya dengan gemas, Elischa tertawa kegelian karena ulah ayahnya itu. "Ini namanya peri, sweetheart. Dia makhluk yang sangat cantik, sama sepertimu," jelas Draco.

"Liza? Peri?" tanyanya lagi sambil melompat-lompat kecil.

Draco dan Harry tertawa, lalu Draco meraih gadis kecil itu dan mendudukkannya di perutnya. Tangannya mengusap pipi mulius Elischa, "ya, sweetheart, kau adalah seorang peri. Kau adalah malaikat untuk kami berdua," kata Draco.

Entah mengerti atau tidak saat itu Elischa tertawa begitu gembira, dia langsung memeluk Draco dan mencium pipinya, "love you, Daddy," katanya. Lalu dengan cepat dia berdiri dan menabrak dada Harry, "love you, Daddy," ulangnya kini pada Harry.

Tak ada perasaan selain bahagia yang dirasakan mereka saat ini.

.

Pintu ruangan terbuka dengan keras, "kalian bersiaplah, terjadi kebakaran besar dan kekacauan di green village utara, ikuti aku segera," perintah Sirius. Keempat auror muda itupun langsung melompat dari kursi mereka dan berlari mengikuti wakil kepala departemen mereka. Mereka berlari sepanjang koridor sampai ke lobby depan dengan menenteng sapu terbang masing-masing. Langkah Harry terhenti saat lengannya ditarik oleh seseorang.

"Ada apa?" tanya Draco yang berpapasan dengan rombongan itu.

Harry melihat kekelompoknya yang terus berlari, "entahlah, sepertinya gawat, aku harus segera pergi, Draco."

"Jaga dirimu," kata Draco sebelum Harry berlari meninggalkannya.

.

Semalaman Draco tak tidur, dia terus menunggu Harry pulang tapi bahkan sampai pagi ini juga belum ada tanda-tanda dia akan datang.

"Master Draco Malfoy, Sir, sarapan sudah siap, nona kecil juga sudah menunggu di meja makan," kata Slikey.

Sebenarnya Draco ingin segera berangkat ke kantor tapi dia juga harus menunggu salah satu ibunya yang akan menemani gadis kecilnya, "thanks, Slikey," katanya sambil melangkah ke ruang makan.

"Daddy...Daddy Arry mana?" tanyanya heran melihat hanya satu ayahnya yang hadir di meja makan.

Draco mengusap rambut pirang anaknya yang lurus, "Daddy Harry sedang ada pekerjaan, sweetheart," kata Draco. Dia agak panik melihat wajah kecewa putrinya yang langsung tak mau menyentuh roti keju kesukaannya yang telah disiapkan Slikey. Draco menghela nafasnya, "makanlah, sayang. Daddy Harry akan pulang malam ini," hibur Draco. Draco semakin panik saat gadis kecil itu menggelang lesu, dia meraih Elischa dan mendudukkannya dipangkuannya, "Daddy janji, nanti malam Daddy Harry akan pulang dan akan membawakanmu cokelat yang banyak, kau suka?" hibur Draco lagi. Kali ini dia tersenyum melihat putrinya mengangguk walau dengan lesu. "Sekarang habiskan rotimu, ok?" perintahnya lembut.

"Maaf aku terlambat, Draco," sapa Lily yang langsung mencium cucunya yang masih terlihat sedih, "kenapa kau, sayang?" tanya Lily.

"Harry tak pulang semalam, apa terjadi sesuatu, Mum?" tanya Draco.

Lily menggelang, "James juga tidak pulang, Mum belum mendapatkan kabar sama sekali, juga dari Sirius," jawabnya setengah bingung.

Draco berdiri, "aku akan mencari tahu di kantor, Mum, akan segera aku beri kabar begitu aku tahu sesuatu," jawab Draco yang langsung mencium pipi ibu mertuanya dan pipi Elischa.

"Bye, Daddy..." bisik Elischa. Draco hanya tersenyum sebelum meninggalkan ruangan itu.

.

Draco memasuki departemen auror dan berbicara dengan resepsionis di kantor depan, "maaf, aku ingin bertemu dengan Mr. Potter," katanya.

Resepsionis perempuan itu terlihat bingung dan Draco mengerti, "maksudku keduanya, Harry Potter atau James Potter," ulang Draco.

"Maaf, Sir, sejak kemarin mereka berdua belum kembali, bahkan Mr. Black dan beberapa auror muda yang ikut dengan mereka pun sampai saat ini belum kelihatan," jawab si resepsionis.

"Draco," seru Hermione yang baru masuk ke kantor itu.

"Mione," sapa Draco, "Ron juga tidak pulang?" tebaknya.

Hermione tampak terkejut, "juga? Berarti Harry..." kata-kata Hermione mengambang, dia tampak semakin panik.

Draco merangkul pundak sahabatnya itu, "Mione, tenanglah, kita duduk dulu," kata Draco sambil mengajak Hermione duduk di sofa di ruang tunggu.

Hermione menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia terisak pelan. Draco mengerti kekhawatiran gadis itu, apalagi sekarang dia sedang hamil dan itu pasti membuat emosinya meledak-ledak. Dengan lembut Draco memeluk Hermione dan membiarkannya menangis di dadanya. "Tenanglah, Mione, mereka pasti baik-baik saja," hibur Draco sambil mengusap rambut sahabatnya itu.

Moody, kepala koordinator lapangan, baru saja masuk dan melihat mereka berdua di ruang tunggu, "Draco..." sapanya.

Draco dan Hermione langsung berdiri menyambut auror senior bermata satu tersebut, "Moody..." seru Draco.

Moody berusaha menetralkan nafasnya, "kalian pasti ingin tahu keadaan mereka, kan?" tanyanya cepat dan mendapat anggukan dari keduanya. "Semua dalam keadaan sehat, hanya saja saat ini mereka belum bisa meninggalkan lokasi. James menyuruhku kembali untuk mengabarkan ini pada pihak keluarga," jelasnya.

Draco dan Hermione menghela nafas lega, "ada apa sebenarnya?" tanya Draco.

Moody mempersilahkan mereka duduk kembali dan menceritakan semuanya. " Siang hari kemarin ada sekelompok orang yang mengacau di green village utara, mereka sampai membakar hutan dan desa disana. Banyak korban berjatuhan, termasuk bayi dan anak-anak kecil," terang Moody, dia melihat Hermione tampak tercekat dan menutup mulutnya dengan tangan.

"Lalu? Siapa mereka?" tanya Draco lagi.

Moody menarik nafasnya yang terasa berat, "setelah seharian kami selidiki ternyata mereka adalah sekelompok orang yang bekerja dibawah perintah seorang penyihir yang ingin menguasai daerah tersebut. Terakhir yang kami tahu alasannya adalah banyaknya kandungan biji emas yang menjadi incaran dan satu sumber air kehidupan yang berada di puncak bukitnya."

"Kalian sudah mengantongi sebuah nama?" tanya Draco penasaran.

Sekali lagi Moody menghela nafas panjang, "ya, tapi ini masih rahasia, aku belum bisa memberitahukan ini pada kalian," jawabnya.

Draco dan Harry mengangguk mengerti, "yang penting semuanya baik-baik saja," desah Hermione, "kapan mereka bisa pulang?"

Moody mengangkat bahunya, "entahlah, saat ini kami hanya tinggal membereskan puing-puing dan membuat tempat tinggal untuk penduduk yang kehilangan rumahnya," jelas pria setengah baya tersebut. "Mudah-mudahan malam ini semua telah selesai."

.

Draco terus berusaha membujuk putrinya agar mau makan, menurut Lily sejak tadi pagi Elischa sama sekali tak tersenyum, bahkan Narcissa yang ikut menemanipun tak bisa membujuknya. Melihat kedua ibunya yang kelelahan Draco meminta mereka untuk pulang dan beristirahat, memang tak biasanya Elischa bersikap seperti ini, baru kali ini disaat dia tak mendapati kedua ayahnya dengan lengkap.

Elischa terus duduk didepan perapian, dia tak mau pergi dari situ. Draco tahu kalau gadis kecilnya itu pasti menunggu Harry. "Sweetheart, mau menemani Daddy makan malam tidak?" rayunya.

Gadis kecil itu menatap mata abu-abu ayahnya, sebutir air mata mengalir dipipinya yang putih, "I want my Daddy..." isaknya.

Hati Draco terasa terenyuh melihat betapa tajamnya sinar kerinduan dimata hijau anaknya itu, "I know, sweeatheart, akupun merindukan Daddy Harry," bisik Draco yang memeluk tubuh mungil anaknya.

Setelah menunggu sekian lama akhirnya perapian didepan mereka menyala hijau, "DADDY..." teriak Elischa yang langsung berlari menyambut Harry yang baru datang melalui jaringan floo.

Harry menangkap tubuh putrinya dan memeluknya dengan erat, "hei, sweetheart, aku merindukanmu, my angel," katanya sambil menciumi wajah Elischa. Elischa tertawa senang dan mengalungkan lengannya dengan erat dileher Harry.

Draco menghampiri pasangannya itu, "kau tak merindukanku?" tanyanya.

Harry tersenyum dan mencium bibir Draco dengan lembut, "aku juga merindukanmu, Draco, maafkan aku tak memberi kabar kemarin," katanya. Harry heran melihat Elischa yang sama sekali tak melepaskan pelukannya, matanya bertanya pada Draco.

Draco mengerti, dia lalu mengambil beberapa cokelat di laci meja dan menunjukkannya pada Harry. Mengerti akan syarat yang ditunjukkan Draco Harry pun berbisik ditelinga putrinya, "lihat, sweetheart, Daddy membawa banyak cokelat untukmu," katanya sambil menerima cokelat yang diulurkan Draco dibelakang punggung Elischa.

Elischa mengangkat wajahnya dan menatap mata hijau ayahnya, "benarkah?" tanyanya pelan. Dia langsung tersenyum saat Harry mengulurkan beberapa batang cokelat yang diberikan Draco tadi, "thank you, Daddy," katanya sambil memeluk Harry lagi.

Draco membantu Harry melepaskan jubahnya dan menyuruhnya untuk duduk di sofa, dia melihat wajah Harry tampak sedikit pucat, 'dia pasti sangat lelah', batin Draco.

"Seharian ini kau tidak nakal kan, sweetheart?" tanya Harry pada Elischa yang masih berada dipangkuannya.

Gadis cilik itu menggeleng cepat tapi dia sedikit melirik kearah Draco yang duduk disamping Harry sambil memicingkan matanya, lalu dia mengangguk pelan sambil menunduk.

Harry dan Draco tertawa melihat betapa cerdasnya gadis cilik mereka, "apa yang dilakukannya, Daddy?" tanya Harry pada Draco.

Draco mencium tangan mungil putrinya, "dia tak tersenyum hari ini, makan juga tidak mau, bahkan dia tidak mau bermain dengan kedua Granny-nya," jawab Draco.

Elischa menitikkan air matanya, "I'm sorry, Daddy," isaknya.

Harry dan Draco saling berpandangan dan keduanyapun memeluk malaikat kecil mereka, "tak apa, sweetheart, tapi lain kali kau tak boleh begitu ya?" hibur Draco.

Elischa menganggukan kepalanya dan mengusap air matanya.

"Sekarang kau harus tidur, Daddy Harry masih lelah, ok?" perintah Draco lembut sambil menggendong putrinya itu.

"G'nite, Daddy," kata gadis itu sambil mencium pipi Harry sebelum Draco membawanya kekamarnya disebelah kamar mereka.

"Slikey sudah menyiapkan air untukmu, mandilah dulu, Harry," kata Draco, dan Harry beranjak dari duduknya.

.

Draco menghampiri Harry yang telah berbaring ditempat tidur mereka, "kau terlihat pucat, kau baik-baik saja?" tanya Draco sambil merebahkan dirinya disamping Harry dan memeluk pria berambut hitam itu.

Harry menyamankan posisinya, dia melingkarkan lengannya dipinggang Draco, "melihat kalian membuat lelahku tak terasa lagi," jawabnya. "Aku terus memikirkan Elischa selama disana."

Draco mendengus, "ternyata posisiku sudah tergeser."

Harry tertawa, dia menegakkan tubuhnya dan mencium bibir Draco dengan rakus, tangannya melepas ikatan rambut Draco yang pirang panjang lalu membuka kancing kemeja dan menciumi dadanya.

Draco mengerang pelan, "Harry, love...kau masih lelah, tidurlah," desah Draco.

Harry tersenyum dan menciumi leher putih kekasihnya itu, "sudah aku bilang aku tak lelah, Draco," bisiknya.

Draco menyeringai, "kalau begitu akan aku kabulkan keinginanmu," jawabnya sambil memeluk erat tubuh Harry, lalu membuai kekasihnya dengan penuh kelembutan, membuatnya utuh dan menjadi sempurna.

.

Harry merasa pipinya ditepuk-tepuk pelan, "Daddy...wake up," bisik sebuah suara kecil yang merdu ditelinganya. Harry tertawa, "beri Daddy satu ciuman maka Daddy akan bangun," kata Harry, dia kembali tertawa saat putrinya mulai menciumi wajahnya, dan sedikit tercekat saat sebuah ciuman melumat lembut bibirnya, "morning, love," bisik sebuah suara yang sangat disukainya. Harry membuka matanya dan mendapati Draco sedang menutup mata Elischa yang meronta-ronta minta dilepaskan. Harry tersenyum, dia benar-benar merasa sempurna saat ini, ada pria yang begitu mencintainya dan seorang bidadari cantik yang menghiasi hidupnya dengan senyum dan tawa. Dia mengusap lembut pipi Draco, "thanks, Draco, I love you," bisik Harry.

"Daddy, I love you," protes Elischa sambil cemberut yang membuat kedua ayahnya tertawa gemas.

Harry melihat jam dinding dan dia langsung melompat, "Merlin…aku hampir terlambat," serunya, lalu dia berlari menuju kamar mandi dan mandi secepat dia bisa.

Draco dan Elischa hanya melongo saja melihat betapa cepatnya Harry telah berganti pakaian dan bersiap akan berangkat. "Daddy…" panggil Elischa.

Harry menoleh dan mendapati wajah anaknya yang sedikit kecewa, Harry menghampiri putrinya dan berlutut didepannya, "I'm so sorry, sweetheart, Daddy harus segera berangkat ke kantor," katanya.

"Tak bisakah kita sarapan sebentar, Harry?" tanya Draco.

Harry menghela nafasnya lalu berdiri, sekali lagi dia melihat jam di dinding kamar mereka, "maaf, Draco, aku benar-benar akan terlambat. Aku harus kembali ke lokasi kemarin bersama yang lain," jelasnya.

Draco agak kesal juga karena Harry kembali membuat putri kesayangan mereka cemberut, "aku jadi menyesal membiarkanmu menjadi auror," celetuk Draco tanpa sadar.

Harry mematung ditempatnya berdiri, jantungnya seperti disilet melihat majah kecewa anak dan kekasihnya, "Draco, aku..."

Draco menghela nafas panjang, "berangkatlah, jaga dirimu," katanya kemudian.

Harry bimbang, jamnya semakin mendesak sedangkan dia juga tak mau berangkat dengan meninggalkan keluarganya yang marah. Hatinya semakin sedih saat Elischa mulai terisak, Draco menggendongnya dan membawanya keruang makan meninggalkan Harry terpaku didepan perapian diruang keluarga.

.

"Harry, pindahkan anak-anak ke tenda utama, cuaca semakin gawat," teriak James ditengah gemuruh suara angin dan hujan yang begitu lebat.

"Yes, Sir..." teriak Harry. Dia langsung berlari untuk mengamankan para anak kecil di lokasi kerusuhan kemarin. Andros datang untuk membantunya. Setelah dirasa aman keduanya pun menyerahkan tanggung jawab mengurus anak-anak kecil kepada warga yang lebih dewasa. "Daddy..." teriak seorang anak perempuan sambil menangis, langkah Harry terhenti, dia menoleh kearah anak itu dan hatinya begitu sakit mendengar betapa keras tangisannya, dia teringat pada bidadari kecilnya dirumah, 'apakah dia juga sedang menangis?', tanya Harry dalam hati. Dia mendekati anak yang menangis itu, mengusap rambut hitamnya yang bergelombang. "Apakah anda ibunya?" tanya Harry pada seoang wanita dewasa yang berusaha menghibur anak itu.

"Bukan, aku bibinya, ibunya sudah meninggal tahun kemarin," jawab wanita itu.

"Lalu dimana ayahnya?" tanya Harry lagi.

Wanita itu memangku anak yang terus menangis itu, dia menatap auror muda didepannya dengan sedih, "ayahnya adalah salah satu korban dari kekacauan kemarin, dia terluka parah dan saat ini ada di tenda perawatan," jawabnya.

Harry mengangguk mengerti, "apakah anda akan merawatnya?" tanyanya.

Wanita itu tersenyum, "tentu, dia sudah kuanggap sebagai putriku sendiri," jawabnya lagi.

"Harry..., kau tak apa-apa?" tanya Andros yang dari tadi ada disampingnya.

Harry menggeleng, "tidak, Andy, aku hanya teringat Elischa," jawabnya.

.

Lewat tengah malam Harry sampai dirumahnya, dia menuju ke kamarnya tapi tak mendapati Draco disana. Lalu dia mencari ke kamar putrinya dan tercekat melihat pemandangan didepannya. Putri kecilnya tertidur dengan kompres handuk di keningnya, sedangkan kekasihnya tertidur di kursi kayu disamping tempat tidur, wajahnya terlihat begitu lelah. Harry menghampiri gadis kecilnya dan memegang pipinya, terasa begitu panas dan terlihat merah. Diciumnya tangan mungil itu, "maafkan Daddy, sweetheart," bisik Harry.

Draco membuka matanya dan melihat Harry yang terus menciumi tangan anak mereka, "kau sudah datang?" tanya Draco.

Harry terkejut dan menoleh pada Draco, "sudah, barusan," jawabnya. "Kenapa Elischa?" tanyanya.

Draco mengusap wajahnya dan mendengus keras, "tidak ada apa-apa, sebaiknya kau pergi tidur," katanya datar.

"Draco, aku..."

"Aku tahu, biar aku yang menjaga Elischa, kau tidur saja. Besok kau masih harus berangkat pagi-pagi sekali kan?" kata Draco dingin.

Dada Harry terasa sesak, sudah lama sekali dia tak mendengar ucapan sedingin itu dari bibir Draco. Tak ingin membuat kekasihnya semakin marah Harry pun melangkah keluar kamar, diambang pintu sekali lagi dia menoleh pada orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya, 'ini salahku, aku yang menyebabkan ini terjadi', batinnya.

.

Draco terkejut melihat Harry yang masih duduk santai didepan perapian sambil membaca surat kabar, "kau belum berangkat?" tanyanya.

Harry menurunkan surat kabarnya dan menatap mata abu-abu Draco, "hari ini aku meminta ijin pada Dad untuk tidak kerja, aku ingin menemani Elischa," jawabnya.

Draco diam saja lalu melangkah kekamar mereka dan bersiap untuk ke kantor. Selesai berpakaian Draco melihat Harry duduk disamping tempat tidur gadis kecil mereka yang sudah bangun, "Daddy..." panggil Elischa lemah.

"Tidurlah sayang, hari ini Daddy akan menjagamu," kata Harry pelan sambil mencium tangan mungil Elischa.

"Daddy janji?" tanya gadis kecil itu lagi.

Harry mengangguk dan tersenyum, "Daddy janji," jawabnya mantap.

Draco terenyuh melihat adegan didepannya, dia tahu kalau Elischa menyayangi mereka berdua tapi dia juga tahu kalau gadis kecil itu lebih terasa dekat dengan Harry, mungkin karena sifat Harry yang hangat dan penyayang. Dia masuk dan mendekati gadis kecilnya, "Daddy berangkat dulu, sweetheart," pamit Draco sambil mencium pipi Elischa.

"Bye, Daddy..." kata Elischa sambil melambaikan tangannya.

Harry semakin sedih saat Draco langsung berbalik dan meninggalkannya tanpa ciuman seperti kebiasaan mereka setiap hari. Dia menunduk dan semakin merasa bersalah pada kedua orang tercintanya ini.

"Daddy menangis?" tanya Elischa sambil mengusap pipi ayahnya.

Harry tercekat, putrinya bisa merasakan kesedihannya walau dia tidak meneteskan air mata, "tidak, sweetheart. Daddy tidak menangis," jawabnya sambil tersenyum.

Elischa tidak membalas senyum ayahnya, dia justru memiringkan kepalanya dan menatap tak percaya pada ayahnya itu.

.

Seharian ini Draco bekerja dengan pikiran tak tenang, dia tak suka meninggalkan Harry seperti pagi ini, tanpa pelukan ataupun ciuman. Dia tahu Harry sangat menyesal karena dia tak tahu kalau Elischa sakit dan tak bisa menemaninya. Sebenarnya bukan maksud Draco memojokkan Harry, dia tahu resiko seorang auror dan pekerjaan mereka, hanya saja Draco selalu cemas setiap Harry bertugas dalam situasi yang kacau dan berbahaya. Dia tak suka membayangkan kekasihnya itu terluka. Tapi dalam hati kecilnya dia sadar kalau dia tak boleh berpikiran seperti itu, mereka telah menyetujui pilihan masing-masing bahkan sebelum mereka lulus sekolah.

Pintu ruangannya terbuka, "Draco, Mr. Malfoy memanggilmu diruangannya," kata Theo, sahabatnya yang bekerja di departemen yang sama dengannya.

"Ok," jawabnya singkat.

.

Draco mengetuk pintu kayu besar itu sebanyak tiga kali dan pintu itu terbuka sendiri dari dalam, "anda memanggilku, Sir?" sapa Draco setelah didalam ruangan.

Lucius menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, "duduklah, Son," perintahnya.

Draco mengernyitkan keningnya, kalau ayahnya yang juga atasannya itu memanggoilnya dengan kata-kata 'Son' berarti yang akan mereka bahas adalah masalah diluar pekerjaan, atau masalah pribadi.

Lucius menghela nafas panjang, "Dad menerima laporan pagi ini kalau Harry akan ditarik oleh departemen Olahraga yang membidangi Liga Quidditch Inggris dan Irlandia," kata Lucius, "dan Dad dengar Harry sudah menerima tawaran mereka, betul begitu?" tanya pria berambut pirang panjang itu.

Draco tersentak, "aku belum mendengar itu, Dad," jawabnya.

Lucius mengernyit heran, "ada masalah dengan kalian?" tanyanya lagi.

Draco menatap ke meja ayahnya, "tidak," jawabnya pelan.

Sekali lagi pria itu menghela nafas panjang, "Dad kurang begitu setuju kalau memang benar Harry sudah memutuskan itu. Dia begitu mencintai pekerjaannya sebagai auror, sama seperti James," kata Lucius. "Harry memang seorang seeker yang hebat tapi Dad juga tak yakin kalau dia sudah memutuskan keluar dari departemen auror," lanjutnya.

.

Di ruangannya Draco termenung, Harry pasti merasa sangat bersalah padanya dan Elischa hingga dia memutuskan hal itu. Draco melangkah keluar untuk mencari Hermione, dia merasa perlu bicara dengan sahabat perempuannya yang pintar itu. "Mione," panggilnya saat dia melihat gadis yang sekarang sudah menjadi wanita dewasa itu hampir masuk ke dalam kantornya.

"Draco," sapa Hermione.

Draco mendekatinya, "aku butuh bicara denganmu," katanya pelan.

"Kebetulan aku sudah selesai, temani aku makan siang ya?" pintanya pada Draco.

Draco mengangguk, "di restoran sebelah?" tanyanya yang langsung mendapat persetujuan dari wanita itu.

"Ada apa? Tumben sekali kau mencariku," kata Hermione saat mereka sudah duduk berdua disudut restoran yang sedang tidak begitu ramai itu.

"Kau sudah mendengar masalah Harry yang ditarik oleh departemen olah raga?" tanya Draco.

Hermione mengangguk, "baru saja Ron mengatakannya padaku, dan katanya Harry telah menyetujui itu, benar Draco?"

Draco memainkan gelasnya yang masih berisi penuh, "aku bahkan tidak dengar berita itu dari Harry, Dad yang mengatakannya padaku beberapa menit yang lalu," jawabnya.

Hermione menghela nafasnya, "ceritakan padaku masalah kalian," perintahnya pelan.

Draco menceritakan semua termasuk saat Elischa terlihat begitu sedih dan sakit saat Harry pergi dan tak pulang. Juga kata-katanya yang sedikit banyak memojokkan pria berkacamata tersebut.

"Draco, bukannya kalian telah sepakat akan pekerjaan masing-masing sejak awal?" tanya Hermione, "lalu kenapa sekarang kau justru mempermasalahkan ini?"

Draco menatap heran pada Hermione, "apa kau tak pernah merasa khawatir pada Ron?" tanyanya.

Hermione tersenyum, "tentu saja aku khawatir dan cemas saat Ron bertugas tapi tetap saja aku harus bisa mengerti resiko dari pekerjaannya."

Draco mendengus, "kau bisa mengatakan itu karena kau perempuan, pihak yang seharusnya dilindungi, sedangkan aku...aku harus melindungi Harry, Mione."

"Harry laki-laki, Draco," sergah Hermione, "jangan menganggapnya sebagai seorang wanita lemah yang harus selalu kau lindungi. Harry seorang lelaki yang gagah, dia mampu menjaga dirinya sendiri."

Draco merasa tertampar, dia serasa diingatkan lagi pada masa lalu, masa dimana dia mulai mencintai pemuda itu, pemuda yang pantang menyerah dimatanya. Dia mencintai sifatnya yang hangat dan bersahabat, dia mencintai Harry disaat pemuda itu berjuang gigih dalam pertandingan Quidditch yang berbahaya, dia mencintai pemuda itu dengan sifatnya yang keras dan tegar. Hubungan mereka memang diluar batas kewajaran tapi tak satupun dari mereka yang mengklaim bahwa salah satu dari mereka memiliki posisi dominan, keduanya memiliki hak penuh dalam menentukan sikap untuk kelangsungan hubungan mereka. "Merlin, aku menyakitinya lagi," desah Draco putus asa, dia menatap meja dan menyanggah keningnya dengan satu kepalan tangan.

Hermione tersenyum, dia meraih tangan Draco dan menggenggamnya, "kalau kau katakan hal itu pada Harry dia pasti akan membantah dan mengatakan kalau dia lah yang telah menyakitimu," katanya. "Harry sangat mencintaimu, Draco, aku tahu itu. Jangan jadikan kehadiran Elischa sebagai sesuatu yang dapat mengubah perasaan yang telah kalian jalin selama ini. Kalau Elischa sedih itu wajar karena dia masih kecil, sifat egoisnya masih begitu besar, tugas kalianlah mendidik dia agar bisa mengubah sikapnya dan mau menerima resiko pekerjaan kalian. Sudah kukatakan, jangan terlalu memanjakan dia," kata Hermione dengan lembut.

Draco mencium lembut tangan Hermione, dia tersenyum pada satu-satunya sahabat wanita yang dia punyai itu, "thanks, Mione, aku akan meminta Harry mengubah keputusannya. Bagaimana mungkin aku membiarkan kementrian kita kehilangan salah satu auror handal mereka."

Hermione tertawa renyah, "bagus," katanya.

"kalau anakmu lahir, ijinkan aku dan Harry menjadi ayah baptisnya ya?" kata Draco.

Hermione membuka mulutnya tak percaya, "kau mau? Baiklah, aku akan sangat senang sekali."

.

Draco sengaja pulang lebih cepat dari jam biasanya, dia mendengar gadis kecilnya sedang tertawa bahagia bersama Harry. Draco mengintip dari ambang pintu, dia melihat Harry yang sedang memeluk Elischa, dia tertawa lebar tapi tidak dengan matanya, Draco bisa melihat kilat sedih dan sepi dimata hijaunya. Dia melihat bagaimana pria yang sangat dicintainya itu begitu menyayangi Elischa bahkan mampu mengorbankan segalanya untuk keutuhan keluarga kecil mereka. 'Seharusnya aku bersyukur memiliki dia dalam hidupku', batinnya. Dengan dada yang dipenuhi oleh rasa cinta yang begitu besar, yang pernah dirasakannya dulu bersama pria bermata hijau itu dan tetap dirasakannya sampai sekarang, dia mendekati Harry dan Elischa.

"Daddy..." seru Elischa sambil melompat-lompat dipelukan Harry.

Harry terkejut mendengar seruan putrinya, dia mendongak dan melihat Draco sudah berdiri disamping tempat tidur Elischa, "kau sudah pulang? Maaf aku tak mendengar kau datang," kata Harry sambil tersenyum. Kilat sedih dan sepi yang tadi dilihat Draco dimata hijaunya langsung hilang.

'Merlin, dia hanya membutuhkanku untuk menghilangkan rasa sedihnya', batin Draco. Dada Draco semakin membuncah oleh rasa rindu dan sesal, bagaimana mungkin Harry masih bisa tersenyum dengan begitu hangatnya sementara dia telah dan selalu menyakitinya. Perlahan dia duduk disamping Harry lalu memeluk pria itu dengan begitu erat.

"Draco, ada apa?" tanya Harry sambil mengusap lembut punggung kekasihnya, hal yang selalu dilakukan Draco jika ingin menenangkannya.

"Daddy..." kata Elischa yang ikut memeluk dan mengusap punggung ayahnya.

Draco tertawa pelan melihat tingkah anaknya yang suka meniru itu, dia menegakkan tubuhnya dan mencium lembut pipi Elischa, setelah itu dia beralih pada Harry dan berbisik ditelinganya, "maafkan aku."

Harry mengernyit heran, "untuk apa?"

Kembali Draco memeluk kekasihnya itu, "untuk semuanya," bisiknya lagi. "Slikey," panggil Draco pada peri rumahnya.

Suara pop halus mengiringi kemunculan Slikey disitu, "Master Draco Malfoy memanggil Slikey, Sir?"

"Tolong temani Elischa sebentar, aku dan Harry perlu bicara," kata Draco. "No, sweetheart, jangan menangis," katanya lagi saat melihat putrinya mulai merajuk, "setelah ini Daddy akan menemanimu lagi, ok?"

Melihat sorot mata yang tidak bisa dibantah di mata abu-abu ayahnya Elischa pun hanya mengangguk pasrah.

Setelah mencium rambut anaknya Draco menarik tangan Harry supaya mengikutinya.

.

"Batalkan keputusanmu, Harry," kata Draco saat mereka sedang berdua dikamar pribadi mereka.

Harry tahu kemana arah pembicaraan Draco, "aku sudah memutuskannya, Draco, aku akan keluar dari departemen auror," jawabnya.

"Untuk apa?" tanya Draco.

Harry menghela nafasnya, "untuk kita, Draco, untuk Elischa."

"tapi aku tak pernah menginginkan itu," jawab Draco cepat.

Harry tersenyum getir, "kau lupa kalau kemarin kau bilang kau menyesal telah membiarkanku menjadi auror?"

Draco terhenyak, "maafkan aku, aku hanya mengkhawatirkanmu," jawabnya lemah.

Harry menggeleng, "apakah aku selemah itu, Draco?" tanyanya.

"APA AKU SALAH KALAU AKU MENGKHAWATIRKANMU, HARRY? APA AKU SALAH KALAU AKU PEDULI PADAMU?" teriak Draco.

Harry menggeleng, "oleh karena itulah aku tak ingin membuatmu khawatir lagi, aku juga tak ingin membuat Elischa menangis lagi, karena kalian sangat berarti untuk hidupku," jawab Harry pelan.

"Aku tidak setuju, jangan korbankan dirimu untuk kami, Harry," kata Draco lagi.

Harry terkejut dengan kata-kata Draco, "apa kau bilang? Aku bahkan mampu membuang nyawaku sekalipun demi kalian, Draco," desisnya.

Draco memejamkan matanya dan menekan keras keningnya, "aku tahu, aku sangat tahu, Harry. Maafkan aku, kata-kataku telah melukaimu," katanya sambil menghempaskan tubuhnya dipinggir tempat tidur, kepalanya tertunduk menatap lantai putih dibawahnya.

Harry ikut duduk disamping Draco, "aku hanya ingin menjaga keutuhan keluarga kita, Draco, apa itu salah?" tanyanya.

"Tidak, Harry, tapi aku pun tak ingin merenggut kebebasanmu. Tetaplah menjadi auror, kumohon," bisik Draco lagi. "jangan biarkan rasa bersalah menghantuiku seumur hidup."

Harry memeluk Draco yang tertunduk lesu, "maafkan aku juga, aku akan membagi waktuku untuk kalian dan pekerjaan."

"Berarti kau akan membatalkan keputusanmu pada departemen olah raga?" tanya Draco meyakinkan.

Bibir Harry membentuk cengiran, "aku belum menjawab apa-apa pada mereka, aku masih meminta waktu untuk memikirkan itu," jawabnya.

"WHAT?" teriak Draco, "jadi sia-sia aku sejak tadi terus bersedih", katanya lagi dengan kesal.

Harry tertawa melihat kekasihnya yang sedikit emosi itu. Merasa kesal telah ditertawakan Draco pun mendorong tubuh Harry ke tempat tidur, "dengarkan aku, aku tak akan mengatakan ini setiap hari," kata Draco sambil menindih tubuh Harry.

"What?" tanya Harry pelan.

Draco mencium bibir pria yang sangat dicintainya itu, membelainya lembut dengan lidahnya dan memberi gigitan kecil pada bibir bawah Harry. Dia melepas ciumannya dan memandang mata hijau yang selalu dirindukannya itu, "aku beruntung memilikimu dalam hidupku, Harry," bisik Draco.

Harry tersenyum, "kata-kata itu lebih dalam dibandingkan 'I love you', Draco," desah Harry karena Draco mulai menyerang lehernya dengan ciuman-ciuman kecil.

"Mau kukatakan itu setiap hari?" tanya Draco dilekuk leher Harry.

Harry tertawa, "jangan, nanti kekuatannya akan hilang," jawab Harry tersengal saat bibir Draco menggoda titik kecil di dadanya.

"Mau kutunjukkan kekuatan yang sebenarnya?" kata Draco sambil menyeringai.

"w-what?" tanya Harry gugup karena tangan Draco sudah berkeliaran diseluruh tubuhnya.

"DADDY..." teriak Elischa dari luar sambil menggedor pintu kamar mereka.

Harry dan Draco saling berpandangan lalu tertawa bersama, "kita melupakan satu pengacau diluar," gurau Harry.

Draco tergelak dan mengayunkan tongkatnya, membiarka bidadari kecil mereka menghambur ke pelukan mereka.

oOo

A/N.

Kasian, Bell sama Andros ga kebagian peran disini. Pernikahan mereka juga belum aku buat, chap depan aja deh, atau aku skip aja ya?

Ga tau deh cerita ini ngena ga di hati para reader mengingat oneshotku kemaren gagal total *plak*

Aku tunggu Ripiunya ya *melas*

Makasih.