PERFECT

Disclaimer : J.K Rowling

Pair : Draco Malfoy – Harry Potter

Rate : M

Genre : Romance / Family

WARNING : No war, OOC, OC

"Cantik, kau begitu cantik, Bell," puji Harry pada adiknya dalam balutan baju pengantin berwarna putih yang tergerai jatuh melewati mata kakinya. Rambutnya tersanggul rapi diatas kepalanya, hiasan mutiara menambah indah rambut merahnya yang berkilau. Seuntai kalung emas putih menggantung indah dileher jenjangnya dengan liontin berukirkan lambang keluarga Malfoy.

Bell tersenyum pada kakak tersayangnya itu, "Aku gugup, Harry," katanya.

Harry menangkup wajah adiknya dengan kedua telapak tangannya, "Saat ini kaulah makhluk tercantik dimuka bumi," pujinya lagi yang hanya mendapatkan senyum malu-malu dari adiknya dan wajahnya yang semakin merona. "Aku menyayangimu, Bell. Dan setelah ini aku tak mempunyai hak apa-apa lagi terhadapmu, kau milik Andros sepenuhnya," kata Harry.

Bell meneteskan air matanya lalu memeluk erat tubuh Harry, "Apa aku bisa membahagiakan Andy, kak?" tanyanya ragu.

Harry mencium rambut adiknya dengan lembut, "Andy memilihmu karena kau telah membuatnya bahagia, Bell," bisik Harry. "Hentikan air matamu atau kau akan mengubah wajah cantikmu ini menjadi monster," goda Harry yang mendapat pukulan pelan dari adiknya.

Bell menggenggam tangan Harry, "Terima kasih karena selalu melindungiku selama ini, Harry," bisiknya, "Aku menyayangimu."

Harry tersenyum lembut dan mencium kening Bell.

Pintu kamar untuk pengantin wanita terbuka, masuklah Draco bersama Elischa, James dan Severus, semua terpana melihat penampilan Annabell yang memang sangat mempesona saat ini.

"Waaaaah…aunty Bell, kau cantik sekali, seperti bidadari," kata Elischa yang mengenakan gaun berwarna putih, sama seperti Bell. "Daddy, aku juga ingin menjadi pengantin yang cantik seperti aunty Bell," katanya pada Harry dan Draco.

Semua tertawa mendengar celoteh gadis kecil itu, "Suatu saat nanti kau juga akan menjadi pengantin tercantik seperti aunty Bell mu ini," kata Harry.

"Benarkah?" serunya sambil melompat –lompat kegirangan. Draco meraih putrinya dan memeluknya, "Diamlah, little angel, atau kau akan terjatuh dan membuat bajumu rusak," katanya. Dan rupanya ancaman Draco sangat ampuh untuk gadis kecil yang suka dengan penampilan rapi tersebut.

James mendekati Bell dan mencium keningnya, "Kau akan selalu menjadi gadis kecil kebanggan Dad, sweetheart," katanya.

Severus juga ikut mendekat pada Bell, "Berbahagialah, Bell, aku akan selalu menyayangimu."

Bell kembali menangis dan bergantian memeluk ayahnya dan ayah baptisnya itu, "Dad terlihat sangat tampan dengan jas putih ini," godanya pada Severus.

Draco, Harry dan James berusaha sekuat tenaga menahan tawa mereka karena Severus memandang mereka dengan sorot mata yang dingin. "Cukup dua kali seumur hidupku aku menuruti permintaan aneh kalian," gerutunya.

"Baiklah, sekarang saatnya kita keluar, Andy sudah menunggumu," kata James setelah tawanya mereda karena kata-kata Severus barusan.

.

Upacara pernikahan Bell dan Andy berjalan dengan lancar, janji sumpah setia telah selesai diucapkan siang tadi, dan malam ini pesta pernikahan mereka diselenggarakn dengan sangat meriah di kediaman Malfoy. Begitu banyak tamu-tamu yang hadir, tidak seperti saat pernikahan Harry dan Draco dulu yang hanya mengundang keluarga dan teman terdekat saja. Banyak teman-teman kedua mempelai saat sekolah dulu datang dan otomatis mereka semua mengenali Draco dan Harry. Melihat perubahan kedua pemuda yang dulu menjadi idola tersebut membuat para wanita berlomba untuk mendapatkan perhatian mereka. Hal ini membuat Draco tak beranjak sesenti pun dari sisi Harry, karena dia tak mau kekasihnya menerima ajakan dansa dari salah satu tamu wanita di pesta itu.

"Apa kita tak bisa masuk ke dalam saja?" tanya Draco kesal.

Harry tertawa, "ini pesta adik-adik kita, Draco, bersabarlah," kata Harry, "Tak usah kau pedulikan orang-orang yang melihatmu."

Draco mendengus, "Kalau itu sih aku juga tak peduli, yang aku tak suka justru mereka yang memperhatikanmu, lihat mata-mata lapar itu yang seakan-akan ingin memakanmu," gerutu Draco.

Sekali lagi Harry tertawa oleh keposesifan Draco yang sebenarnya sangat dia suka itu, "Aku pikir selama ada kau tak akan ada yang berani mendekatiku," goda Harry.

"Lihat saja kalau ada yang nekat menyentuhmu," gerutu Draco lagi.

Tiba-tiba ada yang menabrak tubuh Harry, "Maaf," kata orang itu, "Harry, aku baru saja mencarimu, pesta ini benar-benar membuatku sesak," katanya sambil berdiri menempel didekat Harry.

Harry tertawa pelan sambil melirik kearah Draco, "Kau mirip seperti Draco, Cedric, dia juga benci pesta," kata Harry pada Cedric yang tadi menabraknya.

Cedric bergerak agak menjauh saat dilihatnya tatapan membunuh dari Draco. dia suka menggoda Draco yang selalu posesif terhadap Harry, walau tak bisa dipungkiri kalau Cedric juga masih merasakan rasa nyaman saat dekat dengan pria berkacamata tersebut.

Lucius menghampiri mereka sambil menggendong Elischa yang sepertinya habis menangis. Rasanya aneh melihat Elischa dalam gendongan sekarang ini, tingginya sudah melebihi batas pinggang orang dewasa walau umurnya belum genap tujuh tahun. Begitu melihat ayahnya gadis kecil itu langsung minta turun dari gendongan kakeknya lalu berlari memeluk Harry.

"Ada apa, sweetheart?" tanya Harry sambil membungkukkan tubuhnya.

"Dia ingin bersama Granny-nya tapi Cissy dan Lily sedang sibuk menemui tamu," jawab Lucius.

"It's ok, Dad, biar kami yang mengurusnya," kata Harry.

"Kalau begitu aku kembali kedepan dulu," pamit Lucius pada putra-putranya.

Draco berlutut dan menarik pelan bahu putrinya dari pelukan Harry, "Mau menemani Dad berdansa?" tanyanya.

Wajah Elischa langsung berubah ceria, dia keturunan Veela jadi minat dan bakatnya pada tarian begitu besar. Dia mengangguk cepat pada ayahnya.

Draco tersenyum dan menarik tangan Elischa menuju lantai Dansa, semua mata memandang kagum pada pasangan ayah dan anak tersebut. Draco berusaha mengimbangi langkah-langkah kecil putrinya agar dia tak terjatuh, senyum mahalnya hanya tertuju untuk putri kecilnya yang sangat cantik itu. Harry melihat mereka dengan dada yang membuncah bahagia.

"Pemandangan itu benar-benar membuatku kagum, Harry. Seorang Draco Malfoy berdansa dengan seorang gadis cilik yang begitu cantik, benar-banar pasangan yang sempurna," kata Cedric.

Harry tertawa pelan, "Tak akan ada yang mampu menolak pesona Elischa, Cedric," jawab Harry.

"Mmh…maaf, apa Elischa pernah menanyakan ibunya?" tanya Cedric hati-hati.

Harry mengangguk pelan, "Ya, dia sudah tahu kalau kedua orangtuanya telah meninggal dan kamilah yang merawatnya sejak dia berumur 10 bulan."

Cedric mengangguk mengerti, "Baguslah, jangan berbohong untuk hal apapun pada anak kecil, Harry."

Harry tersenyum getir, "Tapi ada satu hal yang aku takutkan, Cedric, bagaimana kalau dia bertanya tentang aku dan Draco yang…" kata-kata Harry menggantung.

Cedric menatap pria bermata hijau disampingnya, dia sangat mengerti akan apa yang ditakutkan oleh Harry, mereka pasti takut kalau Elischa menanyakan perihal hubungan mereka, "aku tetap yakin Elischa akan bisa mengerti, Harry. Walau pertama akan sulit tapi melihat besarnya cinta Elischa pada kalian pasti dia akan bisa menerima kalian bagaimanapun keadaannya," hibur Cedric sambil menepuk pelan pundak Harry.

"Thanks, Cedric, semoga sesuatu yang buruk tidak terjadi," jawab Harry pelan.

"Lepaskan tanganmu, Cedric," kata Draco yang telah berada didekat mereka.

Cedric tertawa pelan, "Sorry," katanya sambil mengangkat tangannya dari pundak Harry.

"Daddy tak ingin berdansa denganku?" tanya Elischa.

Harry mengusap rambut panjang putrinya, "Kau kan tahu Daddy tak pandai berdansa," kata Harry.

"Kalau begitu kau berdansa dengan Grandad saja," sambung James yang sudah berada dibelakang cucunya. Elischa menyambut uluran tangan kakeknya dengan wajah gembira. Lalu mereka menuju ke lantai Dansa dan menari dengan anggunnya. Setelah satu lagu selesai Lucius maju menggantikan James, tak ada yang tidak terpesona melihat pasangan ini, Lucius yang selalu bersikap dingin dan tanpa senyum kali ini raut wajahnya tampak begitu hangat. Lalu yang terakhir giliran Sirius Black menemani gadis cilik itu.

Elischa berlari kearah Harry yang telah duduk di sofa panjang bersama Draco dan Cedric, "Kapan Dad akan menemaniku berdansa?" tanyanya pada Harry dengan cemberut.

Harry tertawa, "Maaf, sweetheart, Daddy akan mulai belajar berdansa kalau begitu," jawabnya.

"Aku sendiri yang akan mengajarimu, Harry," kata Draco.

Elischa mengernyitkan keningnya, "Apa tak aneh kalau sesama lelaki berdansa? Biasanya kan laki-laki dengan perempuan?" tanyanya lagi.

Wajah Harry memucat, dadanya terasa sakit akan pertanyaan putrinya, apa yang dia takutkan sepertimya mulai terjadi.

Draco melihat perubahan sikap Harry, dia menggenggam tangan kekasihnya itu dan terkejut saat tiba-tiba Elischa memisahkan tangan mereka, "Daddy, jangan begitu, apa Daddy tidak malu dilihat orang? Kalian kan sama-sama laki-laki?" kata gadis kecil itu yang semakin membuat Harry merasa sakit.

Draco terlihat agak marah, "Elischa..."

"Draco..." potong Harry, "Jangan sekarang," bisiknya.

"Hei little sweetheart, uncle lapar sekali, kau mau menemani uncle mencicipi masakan enak itu?" ajak Cedric. Dia tahu saat ini Harry dan Draco butuh waktu untuk bicara berdua.

"Baiklah, aku juga lapar," kata Elischa yang langsung menarik tangan Cedric yang langsung berdiri dan membawa gadis kecil itu pergi dari situ.

Harry berdiri dan melangkah ke paviliun meninggalkan pesta, Draco mengikutinya dari belakang. Mereka duduk berdampingan di sofa ruang tamu dilantai bawah, "Kalau duduk disini aku jadi ingat masa lalu," kata Harry pelan, "Masa dimana kita baru lulus dari Hogwarts dan mulai tinggal bersama. Sampai saat ini usia kita 26 tahun begitu banyak yang telah terjadi."

Draco memeluk Harry, mendekap erat tubuhnya yang bergetar, "Elischa harus tahu semuanya," katanya.

Harry menggeleng di dada Draco, "Aku takut, Draco, aku tak mau kehilangan putri kecil kita," bisiknya parau.

Draco menciumi rambut hitam Harry, "Lalu apa yang kau inginkan? Aku harus bagaimana, Harry? Tak akan pernah kuijinkan seorangpun menyakitimu, tidak aku ataupun Elischa," katanya sambil memeluk Harry semakin erat.

Harry menegakkan punggungnya, "Kita lihat nanti saja, aku tak mau Elischa terkejut dan kecewa akan kenyataan tentang kita," jawabnya. "Selama ini kita selalu menjaga sikap, kita juga tak pernah terlihat terlalu intim didepannya, jadi jangan buat dia terlalu shock dengan keadaan yang sebenarnya."

Draco menatap mata hijau Harry, "Jangan menahan dirimu, secepatnya Elischa harus tahu tentang ini, ok?"

Harry mengangguk dan tersenyum, dia memejamkan matanya saat Draco mencium lembut bibirnya, ciuman yang selalu membuatnya merasa nyaman, ciuman yang selalu membuatnya mampu bertahan. "I love you, Draco" bisik Harry, dan Draco menjawabnya dengan kembali mencium bibir itu dengan dalam dan penuh, mencecap setiap inchinya dengan rakus.

Dengan cepat Harry melepaskan pelukan Draco saat pintu pavilliun terbuka, Elischa berlari mendekati mereka, "Daddy...kapan Daddy Harry dan Daddy Draco akan menikah seperti aunty Bell dan uncle Andy?" tanyanya dengan mata berbinar-binar.

Draco dan Harry menatapnya dengan heran, "Menikah?" tanya Draco.

Elischa mengangguk cepat, "Iya, menikah, aku akan senang sekali karena aku bisa memiliki dua ayah dan dua ibu," jawabnya sambil tertawa senang.

Draco memegang bahu gadis kecil itu yang berdiri didepannya sambil melirik pada Harry yang terlihat semakin pucat, "Sweetheart, apa kau tak suka hanya dengan Daddy berdua saja?" tanya Draco pelan.

Elischa tersenyum, "Aku suka, tapi aku juga ingin ibu," katanya dengan polos. "Aku ingin ada yang bisa aku panggil 'Mum' seperti Rose memamnggil aunty Mione," jawabnya.

Nafas Harry tercekat, dia harus sekuat tenaga menahan laju air mata yang semakin menyesak di pelupuk matanya, tangannya terkepal dengan gemetar.

"Daddy..." kata Elischa setengah merajuk karena kedua ayahnya tak ada yang menjawab.

"Sweetheart, dengarkan kami," kata Draco terkejut melihat Elischa yang langsung menepiskan tangannya.

Gadis kecil itu tiba-tiba menangis, "Jangan bilang kalau apa yang dikatakan orang-orang tadi itu benar," isaknya.

Draco dan Harry semakin bingung, "Apa maksudmu, sayang?" tanya Harry yang melangkah mendekati putrinya dan merasa sedih saat putrinya justru bergerak menjauh.

"Mereka bilang kalian aneh dan tidak normal karena kalian hidup bersama dan tak menikah, mereka juga bilang kalau aku tak akan memiliki ibu," isaknya lagi.

Kata-kata Elischa bagai sambaran petir ditelinga Harry, tubuhnya limbung dan langsung ditangkap oleh Draco, "Harry, love, tenanglah," bisiknya.

"Daddy...kenapa Daddy Draco memanggil 'love' pada Daddy Harry? Kalian kan sama-sama laki-laki?" teriak Elischa, "Jangan memeluk Daddy Harry seperti itu."

"ELISCHA DIAM..." teriak Draco, untung suara musik diluar masih terdengar dengan keras sehingga keributan mereka didalam pavilliun tidak terdengar sampai luar.

Elischa terkejut mendengar teriakan Draco, "Aku tak mau tinggal bersama Daddy lagi," katanya sambil menangis dan berlari keluar.

Draco masih memeluk tubuh Harry yang gemetar semakin kencang setelah kata-kata terakhir putrinya tadi, "Harry...tenanglah," bisik Draco.

Harry tak tahu lagi harus bersikap bagaimana, otaknya serasa kosong dan jantungnya seakan membeku, mata hijaunya terbelalak nanar memandang hampa, ada setetes airmata mengalir dipipinya, "Elischa," bisiknya dalam pelukan Draco.

.

Harry berbaring dalam diam dikamar yang selalu dia tempati bersama Draco, Elischa bersikukuh tak mau pulang kalau ayahnya tidak tidur terpisah. Padahal semua orang sudah merayunya tapi gadis itu tetap keras kepala dan akhirnya Harry pun mengabulkan keinginan putrinya itu, bahkan Draco mengalah dengan tinggal di pavilliunnya di Malfoy Manor karena dia tahu kalau Elischa lebih dekat dengan Harry daripada dengannya.

Rasanya begitu aneh tidur sendiri seperti ini tanpa pelukan dan kehangatan yang selalu diberikan Draco. Sampai pagi ini pun Harry tak juga mampu memejamkan matanya, hampir seminggu dia minim tidur, bisa dihitung dengan jari tangan berapa jam dia berhasil tidur dalam minggu ini. Dia bangun dan mengguyur tubuhnya dibawah shower yang mengeluarkan air yang sangat dingin menjelang musin salju di akhir tahun. Harry tetap bertahan walaupun dirasanya tubuhnya telah mati rasa.

Selesai merapikan diri Harry duduk di sofa kesayangan Draco, berusaha mencium aroma tubuh kekasihnya di sofa itu. Dia tersenyum saat aroma yang sangat dirindukannya itu menyapa hidungnya, merasa nyaman diapun memejamkan matanya sebentar.

Harry tak sadar kalau sejak tadi Elischa memperhatikannya dari dalam kamar yang pintunya terbuka sedikit, mata hijaunya menyorot sedih. Gadis kecil itu tahu kalau apa yang dimintanya itu sangat jahat tapi kata-kata beberapa orang tamu saat dipesta pernikahan Andy dan Bell masih terngiang ditelinganya. Perlahan dia bangun dan menghampiri Harry, "Daddy," panggilnya pelan.

Harry membuka matanya dan melihat kearah putrinya, "Yes, sweetheart?" jawabnya sambil tersenyum.

Elischa naik kepangkuan ayahnya dan bersandar pada dada bidang itu, "Nanti Granny Lily akan mengajariku berhitung," katanya berusaha menghibur ayahnya yang terlihat sedih tadi.

Harry mengusap rambut pirang panjang putrinya dengan lembut, sejak umur lima tahun Lily dan Cissy mulai memberikan pelajaran rutin pada Elischa untuk persiapan masuk Hogwarts jika usianya sudah 11 tahun. Para keluarga penyihir kebanyakan memberikan pelajaran pribadi pada anak-anak mereka sebelum mereka masuk ke Hogwarts, "Turuti apa kata Granny, kau harus menjadi anak yang baik dan pintar," kata Harry.

"Kemarin Daddy Draco juga berkata seperti itu saat aku belajar bersama Granny Cissy," lapor Elischa.

Mendengar nama Draco disebut selalu membuat dada Harry berdebar kencang dan Elischa yang bersandar disana bisa merasakan perubahan itu. Gadis kecil itu semakin merasa kalau dia salah telah memisahkan kedua ayahnya. "Daddy..." panggilnya pelan.

"Mmh?" jawab Harry singkat masih sambil memeluk putrinya.

"Apa Daddy menyayangiku?" tanya gadis kecil itu pelan.

Harry terkekeh mendengar pertanyaan Elischa, "Tentu, sweetheart, Daddy dan Daddy Draco sangat menyayangimu, dengan sepenuh jiwa kami," jawab Harry.

"Walau aku telah menjadi anak nakal?" tanya Elischa lagi.

Harry mencium rambut putrinya, "Kau tak akan menjadi anak nakal selama kau masih memiliki rasa cinta yang besar dalam hatimu."

"Bagaimana kalau rasa cinta itu habis dan aku menjadi anak nakal?" kejar Elischa.

Harry memeluk anaknya semakin erat, "Kalau kau menjadi anak nakal maka Daddy dan Daddy Draco akan tetap menyayangimu dan memberikan semua cinta yang kami punya padamu agar kau tak pernah lagi menjadi anak nakal," jawab Harry.

"Aku menyayangimu, Dad, juga Daddy Draco," bisik Elischa, lalu gadis kecil itu berdiri dari pangkuan ayahnya, "Sekarang hampir siang, Daddy berangkat kerja saja, sebentar lagi Granny Lily akan menjemputku," kata gadis kecil itu.

Harry tersenyum dan mencium kening putrinya, "Baiklah, Daddy berangkat sekarang."

.

.

Draco pulang dan mendapati putrinya sedang belajar bersama ibunya di ruang perpustakaan, "Hei, sweetheart, bukannya sekarang jadwalmu belajar bersama Granny Lily?" tanya Draco sambil mencium pipi Elischa.

Elischa mengangguk, "Tadi kami sudah selesai dan Granny Cissy menjemputku lalu mengajakku kesini," jawab gadis cilik itu.

"Tumben kau sudah pulang, Son?" tanya Cissy pada putranya, dia sebenarnya tak tega melihat Draco yang seakan kehilangan semangat semenjak tinggal terpisah dengan Harry, tapi dia juga kagum kedua putranya itu mampu bertahan demi putri mereka.

Draco melepas dasinya dan sweaternya, "Pekerjanku tak begitu banyak hari ini dan Dad mengijinkanku untuk pulang labih dulu," jawabnya sambil menegakkan tubuh, "aku mau mandi dulu," pamitnya.

Elischa mengambil Sweater dan dasi dari tangan ayahnya, "Aku ikut Daddy ke pavilliun ya?" pintanya.

Draco tertawa pelan, "Come on," katanya dan Elischa mengikutinya.

.

"Daddy...apa Daddy sudah mengantuk?" tanya Elischa saat dia duduk disamping ayahnya yang berbaring di kasur.

"Tidak, sweetheart, ada apa?" tanya Draco sambil memeluk Elischa yang merebahkan kepalanya ke dada Draco.

"Apa Daddy menyayangiku?" tanya gadis kecil itu.

Draco tertawa pelan, "Pertanyaan apa itu? Tentu saja Daddy sangat menyayangimu," jawabnya.

"Apa Daddy Harry juga menyayangiku?" tanyanya lagi.

Mendengar nama kekasihnya disebut membuat jantung Draco berdebar dengan sangat kencang, dan sekali lagi Elischa yang merebahkan kepalanya disana merasakan perubahan itu. "Tentu, honey, Daddy Harry sangat menyayangimu, dengan seluruh jiwanya," bisik Draco. "Bagaimana kabar Daddy Harry? Beberapa hari ini Daddy tidak bertemu dengannya," tanya Draco.

Elischa menegakkan tubuhnya, "Kabar Daddy Harry sama seperti kabar Daddy Draco," jawabnya cepat.

Draco terlihat bingung, "Maksudmu?"

"Daddy Harry terlihat lelah, sama seperti Daddy Draco. Dibawah matanya ada bayangan hitam, sama seperti mata Daddy Draco," jawabnya, lalu mata hijau gadis kecil itu mengeluarkan cairan bening yang mengalir deras, "Daddy Harry sering sendirian didepan perapian, duduk termenung di sofa kesayangan Daddy Draco sambil memejamkan mata, tapi saat aku datang dengan cepat dia akan menghiasi bibirnya dengan senyuman, sama seperti Daddy Draco yang selalu menyembunyikan kesedihan didepanku, maafkan aku Daddy," isak Elischa, gadis kecil itu menangis dengan keras.

Draco terpaku melihat Elischa, bagaimana mungkin putrinya yang masih kecil ini menyadari kesedihan ayah-ayahnya, bahkan mereka sekuat tenaga menyimpan rasa rindu demi putri kesayangan mereka. Draco merengkuh tubuh Elischa yang berguncang kedalam pelukannya, "Tak apa-apa, sweetheart, jangan menangis," bisik Draco.

Isak Elischa semakin kencang, "Aku tak mau begini, aku rindu pada Daddy Draco dan Daddy Harry yang dulu. Aku tak apa-apa tak punya ibu asal Daddy bisa tertawa lagi, maafkan aku, aku anak nakal yang telah membuat kalian bersedih."

"Apa kau masih menyayangi kami, Liza," Tanya Draco dengan panggilan kesayangannya untuk gadis kecil itu.

Elischa mengangguk dalam pelukan ayahnya.

Draco mengecup rambut anaknya, "Kalau begitu kau bukan anak nakal, karena masih ada cinta dihatimu," hibur Draco.

Elischa terdiam dan memandang ayahnya lalu tersenyum kecil, "Tadi pagi Daddy Harry juga berkata seperti itu."

Draco menghapus sisa airmata di pipi gadis kecilnya, "Benarkah?" tanyanya dan Elischa hanya mengangguk.

"Daddy...orang-orang dipesta dulu itu salah, kata mereka kalian berdua itu aneh dan tidak normal, tapi ternyata kalau kalian tidak berdua itu malah terlihat aneh, kalau kalian tidak berdua aku malah semakin sedih. Berarti mereka bohong kan, Daddy?" tanya Elischa.

Draco memeluk putrinya lagi, "Kau mau mendengar kisah Daddy dan Daddy Harry? Bagaimana perjuangan kami untuk tetap bersama?" tanya Draco kali ini dan merasakan Elischa sekali lagi mengangguk dipelukannya. Menghela nafas panjang Draco memulai ceritanya sejak awal dia bertemu Harry saat berumur 10 tahun, lalu menjadi musuh sampai menjadi kekasih dan tinggal bersama, kemudian menikah dan mendapatkan Elischa ditengah-tengah mereka. "Kami bahagia jika bersama, sweetheart, dan kami akan sakit jika kami terpisah. Maafkan kami kalau ternyata keadaan ini justru membuatmu malu," kata Draco mengakhiri kisahnya.

Elischa menggeleng cepat dan menatap mata abu-abu ayahnya, "Aku tak malu lagi, Daddy, aku ingin bersama Daddy Harry dan Daddy Draco selamanya," jawab bibir mungil itu.

"Kau yakin? Bagaimana kalau ada yang menghinamu?" tanya Draco menggoda.

Elischa tampak berpikir, "Aku akan belajar mantra hebat lalu aku akan mengutuknya menjadi katak," jawab Elischa yang disambut tawa bahagia Draco, pria itu begitu senang karena putri mereka telah bisa menerima keadaan yang sebenarnya.

"Lalu...apa Daddy bisa tinggal bersama Daddy Harry lagi?" tanya Draco.

Elischa langsung turun dari tempat tidur, "Ayo cepat, kita berikan kejutan untuk Daddy Harry," katanya sambil menarik tangan Draco, lalu mereka berlari menuju perapian diruang keluarga.

"Mau kemana kalian?" tanya Cissy pada keduanya, dan Lucius yang memandang heran melihat cucunya menarik tangan Draco.

Elischa mendekati kakek dan neneknya lalu mencium pipi mereka, setelah itu dia kembali menarik tangan Draco, "Pulang," jawab gadis kecil itu.

Draco melihat kearah kedua orang tuanya yang tersenyum lega.

"Come on, Daddy," kata Elischa dengan tak sabar lalu mereka menghilang kedalam perapian.

.

Harry kembali mengguyur tubuhnya dibawah siraman air dingin yang keluar dari shower, dia baru saja pulang dan tak mendapati putrinya dirumah, kata Slikey Elischa belum pulang jadi Harry berniat menjemput gadis kecilnya setelah ini. Dia tersentak saat sebuah tangan melingkar dipinggangnya, dengan cepat dia berbalik dan melihat Draco disitu, "Draco," bisik Harry, dadanya bergemuruh begitu kencang saat mata abu-abu yang sangat dirindukannya itu menatapnya dengan tajam, "W-what..." kata-katanya tertelan oleh bibir Draco yang menciumnya dengan rakus. Akal sehat Harry langsung melayang tinggi meninggalkan logikanya. Draco merapatkan tubuh mereka sehingga air yang mengguyur tak terasa dingin lagi. Harry mendesah saat bibir Draco mengecupi lehernya.

Draco melepaskan pelukannya dan berjalan kearah bathtube yang berbentuk bundar besar, menyalakan air hangat untuk memenuhi tempat itu, lalu dia masuk kedalam dan duduk, dia mengulurkan tangannya pada Harry.

Harry menyambut uluran tangan itu sambil tersenyum, dia tak ingin tahu apa yang membuat Draco nekat kembali kerumah mereka setelah Elischa meminta mereka untuk berpisah, yang dia tahu saat ini Draco ada disini untuknya. Harry tersentak saat Draco menahannya untuk duduk disamping pria itu, lutut Harry melemas saat Draco meraup pusat tubuhnya dengan bibirnya, dia harus menyandarkan punggungnya pada dinding dibelakangnya agar dapat tetap bertahan untuk terus berdiri sedangkan Draco terus memanjanya dan memutuskan semua otot tubuhya, "D-Draco..." erang Harry saat dia merasa tubuhnya siap meledak dalam putaran arus yang menggila, dan saat gelombang itu datang Harry berteriak dengan keras, dia tak takut suaranya terdengar karena dia tahu kalau Draco selalu berpikir jauh sebelum bertindak. Tubuhnya lemas dan terjatuh dipelukan Draco.

Draco terkekeh dan menciumi leher Harry, tangannya kembali memanja Harry dengan pijatan lembut yang berirama membuat Harry kembali mengerang diatas pangkuan pria berambut pirang itu. Dia mendongakkan kepalanya dan menggigit bibirnya saat merasakan Draco mulai menyatukan tubuh mereka, "Harry, lihat aku," bisik Draco dengan bergetar. Harry menatap mata abu-abu itu dan merasakan sensasi berlipat-lipat saat mereka telah menyatu dengan sempurna.

Perlahan Draco membawa Harry menuju suatu tempat yang penuh dengan warna, pandangan mereka mengabur oleh gairah yang membuncah, gerakan mereka yang semakin cepat menumpahkan air di bathtube kelantai kamar mandi. Tubuh Harry terasa semakin panas saat Draco terus menuntunnya ketempat yang telah mereka singgahi berkali-kali sejak mereka bersama, satu hentakan keras membuat Harry kembali menjerit dan menegang, tubuhnya serasa lepas dan ringan, dunianya berubah menjadi terang dan putih bersamaan dengan Draco yang membaur didalam tubuhnya.

Draco memeluk tubuh yang bergetar hebat itu, nafas mereka tersengal dan perlahan menjadi tenang. Kepala Harry terkulai dibahu Draco yang licin oleh air dan keringat. "I miss you, love," bisik Draco.

Harry tersenyum dan mengecup lembut bibir Draco, "Katakan ini bukan mimpi, Draco," jawab Harry.

Draco terkekeh, "Kau ingin mengulanginya lagi agar kau yakin ini mimpi atau bukan?" goda Draco .

Harry tertawa dan memeluk erat tubuh Draco.

"Kita harus segera keluar, Harry, atau bidadari kecil kita akan merajuk lagi," kata Draco.

Harry sedikit tersentak, "Elischa..."

Draco mencium bibir Harry, "Dia yang menyeretku pulang kesini, love. Katanya dia rindu pada kita."

Harry menatap draco tak percaya, "Benarkah?" bisiknya.

.

Elischa duduk termenung di sofa kesayangan Draco didepan perapian, kepalanya tertunduk lesu. Harry berlutut didepan putri kecilnya, "Hei, sweetheart," sapa Harry. Dia terkejut saat gadis kecil itu menangis dan langsung memeluknya, "Daddy...maafkan aku, aku sudah membuat Daddy bersedih," isaknya.

Harry tersenyum dan mengangkat gadis kecilnya untuk dipeluk dalam pangkuannya, "Daddy tidak marah padamu, sweetheart," hibur Harry.

"Tapi aku melihat Daddy pernah menangis didalam kamar," kata Elischa lagi.

Harry mencium rambut pirang madunya yang panjang, "Daddy hanya merindukan kau dan Daddy Draco, Daddy tidak sedih ataupun marah," jawabnya, "Jangan menangis, little angel."

Elischa mengusap airmatanya, dia meraih tangan Draco yang berdiri disamping sofa yang diduduki Harry dan menyatukannya dengan tangan Harry yang memeluknya, "Aku ingin Daddy selalu bersama, aku tak apa tak punya ibu asal Daddy Harry dan Daddy Draco selalu menemaniku," katanya pelan, "I love you, Daddy."

Harry tak kuasa menahan laju airmatanya kali ini, dia tersenyum bahagia pada Draco. "Sweetheart...boleh Daddy mencium Daddy Harry-mu?" tanya Draco. Mata Harry terbelalak tapi kepala Elischa mengangguk mantap. Harry memberikan satu kecupan singkat dibibir Harry dan yang mengejutkan anaknya langsung bertepuk tangan dan melonjak-lonjakkan tubuhnya diatas pangkuan Harry. "I love you, Harry, dan kau putriku tersayang," kata Draco sambil menggendong Elischa dan mencium pipinya dengan penuh kasih, "Aku beruntung memiliki kalian dalam hidupku," bisiknya.

Elischa mengusap pipi Draco, "Aku janji tak akan menjadi anak yang nakal dan aku berjanji akan belajar mantra dengan hebat," katanya.

Harry memandang putrinya dengan heran, "Mantra? Apa hubungannya dengan mantra?" tanya Harry.

Draco dan Elischa saling berpandangan dan tertawa bersama, "Malaikat kecil kita ingin belajar cara merubah seseorang menjadi katak," jawab Draco diiringi tawa Elischa yang semakin keras dan membiarkan Harry dengan kebingungannya.

.

.

.

4 tahun kemudian.

"Malfoy, boleh aku berkunjung ke rumahmu saat natal nanti?" tanya seorang pemuda tampan berambut cokelat.

Elischa memandang pemuda itu dan tersenyum, "Kau boleh menanyakan itu pada kadua ayahku nanti saat kita tiba di stasiun," jawabnya.

"Baiklah, akan aku tanyakan nanti, sampai jumpa," katanya sambil melangkah keluar kompartemen dengan gayanya yang dibuat semacho mungkin.

Setelah pintu tertutup Elischa terkikik dengan kedua temannya, "Itu tadi kan Arvin Brown? Murid yang terkenal tampan di kelas empat dari asrama Ravenclaw," kata Sophia Laurent, salah satu sahabat Elischa di asrama Gryffindor.

Elischa Belle Malfoy, saat ini telah berumur 11 tahun dan memulai tahun pertamanya di Hogwarts. Topi seleksi sempat dibuat bingung dengan asrama yang sebaiknya ditempati gadis cantik itu, Slytherin atau Gryffindor, sampai akhirnya Gryffindor jatuh sebagai pilihan terakhir. Kecantikan veela-nya yang sempurna dan otaknya yang sangat jenius membuat gadis ini langsung menjadi idola di Hogwarts, idola para murid maupun para guru. Sudah banyak pemuda yang berusaha mendekatinya walau usia mereka masih sangat belia tapi gadis cantik ini hanya menanggapinya dengan tersenyum.

"Tentu saja Liza tak pusing dengan pendekatan dari banyak murid lelaki di Hogwarts, sebab dirumah dia sudah memiliki dua orang pria yang ketampanannya sempurna," goda Alanis Morris, sahabatnya yang lain yang orang tuanya adalah rekan kerja kakeknya di kementrian.

Elischa tertawa, "Tak ada yang bisa menandingi kedua Daddy-ku," sombongnya. Dia melihat keluar jendela, "Akhirnya kita akan segera tiba di King's Cross, aku sangat merindukan mereka," serunya sambil mengenakan jubahnya dan diikuti oleh Sophia dan Alanis. Ini liburan natal pertama mereka sejak masuk di Hogwarts dan Elischa benar-benar kesepian tanpa dua ayahnya yang selalu menemaninya itu.

Kereta berhenti dan para murid berhamburan keluar untuk mencari orang tua mereka masing-masing. "DADDY..." seru Elischa saat dia melihat Harry dan Draco menjemputnya diselatan peron, gadis cantik itu berlari sambil merentangkan tangannya yang langsung disambut oleh pelukan Harry.

"Daddy merindukanmu, sweetheart," kata Harry masih dengan memeluk putrinya, lalu Draco mengambil alih Elischa dan mencium rambut pirangnya, "Apa yang terjadi tiga bulan ini? Lihatlah kau menjadi semakin cantik," goda Draco.

Elischa tertawa senang mendengar pujian ayahnya.

"Mmmh...Malfoy," sapa pemuda yang tadi menemui Elischa di kompartemennya.

Elischa tersenyum manis, "Ya?" tanyanya.

Pemuda itu tampak salah tingkah karena dipandang dengan tajam oleh kedua pria dewasa yang berdiri di belakang Elischa, "T-tak apa, selamat natal," katanya sambil melangkah pergi dengan wajah tertunduk.

Elischa terkikik geli, "Siapa dia?" tanya Draco menyelidik.

Elischa memeluk lengan ayahnya yang berambut pirang itu, "Dia adalah salah satu pemuda yang berusaha mendekatiku, Daddy," jawabnya manja.

"Siapa namanya? Apa dia anak baik? Pandai tidak?" tanya Draco lagi.

Harry tertawa mendengar kekasihnya tampak cemburu dengan pemuda yang mendekati putri mereka, "Kau dulu juga bersikap tak baik padaku, Malfoy," sindir Harry yang mendapatkan seringaian dari Draco.

"Itu Cuma agar kau bisa mengingatku saja," jawabnya kalem. Elischa dan Harry tertawa gelimendengar itu. Lalu mereka pulang kerumah mereka yang damai.

.

"HAPPY CHRISTMAS, DADDY..." teriak Elischa yang membuat kedua ayahnya harus menutup telinga mereka. Pohon natal telah siap disudut ruangan bersama beberapa kado dibawahnya. Setelah mengahbiskan sarapan yang disiapkan oleh Slikey mereka pun duduk bersama diruang keluarga. Harry menyerahkan sebuah kotak berwarna merah dengan pita emas kepada putrinya, "Happy Christmas, sweetheart, ini untukmu," katanya. Dengan gembira Elischa membuka kado itu, matanya terbelalak saat dia melihat seuntai kalung emas polos dengan rantai tipis berwarna silver, "Ini indah sekali," katanya sambil memeluk Harry dan mencium kedua pipinya, "Thank you, Daddy."

"Dan ini dariku, sweetheart," kata Draco sambil mengulurkan sebuah kotak yang sama dengan yang diberikan Harry, hanya saja yang ini berwana hijau dengan pita perak.

Dengan hati-hati Elischa membuka kado itu, setetes air mata tumpah dari matanya yang hijau saat melihat sebuah liontin berbentuk inisial namanya 'E' yang terbuat dari emas putih, sama seperti rantainya yang dibelikan oleh Harry. Gadis cantik itu memeluk Draco dengan terisak, "Thank you, Daddy. Begitu banyak yang telah kalian berikan padaku dan aku belum memberikan apa-apa untuk kalian."

Harry menarik pelan bahu Elischa dan menatap mata hijaunya, "Kau adalah anugerah terbesar dalam hidup kami, sweetheart. Kehadiranmu adalah kado untuk sepanjang hidup kami," jawab Harry sambil mengusap airmata putrinya.

"Kami menyayangimu, little angel," bisik Draco, dan kedua pria itu memeluk putrinya dengan penuh kasih. Bagi mereka saat ini hidup terasa begitu sempurna, tak ada lagi yang kurang dalam hidup mereka.

oOo

A/N.

...hohohohoho akhirnya. Sengaja aku tamatin disini karena aku ga mau fic ini malah jadi sinetron *plak/bilang aja habis ide, bohong banget alasannya*

Ga ada yang bisa aku ucapin selain terima kasih untuk para reader dan ripiuer yang telah mendukung dan memberikan kritik yang membangun untuk aku, makasih banget ya ^^

Setelah ini ada satu oneshot yang hampir kelar dan satu SBRL yang baru jadi coret2nya doang *mudah2an bisa jadi fic*

Untuk multi chap baru aku belum ada ide tapi mudah2an bisa bikin lagi, pokoknya makasih banget. Dan maaf kalo chap akhir ini masih mengecewakan.

Salam sayang,

-Shanty-