Dulu, ia mempunyai keluarga yang sangat harmonis. Kedua orang tuanya lengkap, memberikan kasih sayang penuh padanya. Setiap hari akan ada canda tawa memenuhi rumah besar itu. Boboiboy tumbuh dengan cinta tiada batas dari kedua orang tuanya. Momen-momen bahagia terus terukir padanya di usia yang baru menginjak delapan tahun itu.
Namun, hidup terkadang bisa begitu kejam. Momen indah itu dengan mudah berubah menjadi mimpi yang amat buruk baginya. Tak ada kebahagiaan lagi di dalam keluarga kecil itu. Semuanya berubah dalam sekejap mata. Sedikitpun Boboiboy tak pernah menduganya.
Sepuluh tahun yang lalu, hari dimana seharusnya keluarga kecil itu merayakan ulang tahun sang putra, malah berubah menjadi sebuah bencana. Boboiboy masih mengingatnya dengan jelas. Ketika mobil yang ditumpanginya bersama sang ibu mengalami kecelakaan karena supir pribadinya berusaha menghindari truk yang rem blong.
Boboiboy ingat, sang ibu memeluknya begitu erat kala mobil sudah kehilangan kendali dan berguling di tengah jalan. Menyebabkan kerusakan parah hingga mengeluarkan asap. Boboiboy ingat ia menangis hebat di dalam pelukan ibunya sambil merasakan darah mengalir deras di kepalanya. Sementara ibunya berusaha menenangkannya sambil menahan sakit karena kakinya terjepit sesuatu. Dan supir pribadinya, tewas di tempat karena pendarahan hebat.
Ayahnya tak bersamanya kala itu. Ia dan ibunya kemudian dirawat di rumah sakit selama dua bulan penuh. Ibunya lumpuh total, hanya ia yang baik-baik saja meski dokter mengatakan ia gegar otak ringan. Namun Boboiboy bersyukur ia masih bisa melihat ibunya walaupun tak bisa lagi berjalan. Ibunya tetap tersenyum seperti biasa, mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Dan dari situ, mimpi buruknya dimulai. Entah karena apa, ayahnya berubah 180 derajat. Sosok penyayang itu kini memandangnya penuh dingin, seolah dirinya adalah orang asing. Boboiboy berkali-kali bertanya, namun ayahnya tak pernah menjawab. Ayahnya juga menjadi ringan tangan, sering memukulnya jika ia tak menuruti perintahnya.
Setiap malam ibunya menangis di kamar, ia yang masih kecil hanya bisa diam dan ikut menangis diam-diam tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ayahnya jarang pulang ke rumah, selalu menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dan Boboiboy terus menemani ibunya yang lumpuh.
Dua tahun berlalu dan Boboiboy mencapai kata lelah, ia bertanya pada sang ibu ketika hendak tidur.
"Ma... kenapa Papa berubah?" Ibunya yang tengah membelai kepalanya sontak terhenti. Matanya dengan bingung menatap putra satu-satunya.
"Berubah?"
Boboiboy mengangguk pelan. "Iya... Papa udah nggak kayak dulu lagi. Papa... benci sama Boboiboy, ya?"
Ibunya tersenyum lalu membelai rambutnya lagi. Sekilas, ia bisa melihat mata sang ibu berkaca-kaca. "Papa nggak mungkin benci Boboiboy. Boboiboy 'kan anak yang hebat," ujar ibunya. Tapi jawaban itu tidak membuat Boboiboy puas.
"Nggak, Ma. Papa pasti benci Boboiboy. Kalau nggak, Papa pasti ngajak Boboiboy main lagi, Papa pasti nggak mukul Boboiboy kalau Boboiboy bandel. Papa nggak pernah gitu ke Boboiboy dulu. Tapi sekarang... hiks... Papa... hiks..."
Tangisnya akhirnya pecah. Boboiboy menumpahkan semua air matanya, membuat ibunya buru-buru memeluknya erat dan menenangkannya. Bahu kecilnya terus berguncang hebat tanpa bisa Boboiboy cegah. Sang ibu terus berkata bahwa ayahnya hanya sibuk dengan pekerjaannya, makanya ia jarang pulang ke rumah dan tak sempat menghabiskan waktu bersamanya.
Boboiboy akhirnya tak bertanya lagi. Ia menyembunyikan rasa sakit di hatinya, sambil terus mencari cara agar sang ayah tak lagi membencinya.
Setiap hari, Boboiboy berusaha menjadi anak yang baik demi sang ayah. Agar ayahnya mau berhenti mengacuhkannya, meski sampai kini caranya belum juga memberikan hasil.
"Sampai sekarang, aku nggak tahu apa kesalahanku sampai Papa benci sama aku. Itulah kenapa, aku berpikir mungkin lebih baik aku nggak ada di dunia ini."
Di atap sekolah itu Boboiboy mengakhiri ceritanya yang menyedihkan. Yaya membuang wajahnya untuk menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia harus mengendalikan dirinya sekarang. Jika ia terbawa emosi, siapa yang akan menguatkan Boboiboy?
"Maaf ya, cerita aku bikin kamu sedih," ucap Boboiboy pelan ketika menatapnya. Yaya menggeleng cepat. Diraihnya tangan Boboiboy untuk digenggamnya erat.
"Nggak, kok. Aku nggak papa," Yaya tersenyum lembut. Boboiboy tersenyum tipis, sorot matanya berubah sendu sejak ia bercerita tentang masa lalunya. "Aku... mungkin nggak akan pernah tau rasanya gimana," Yaya berhenti sejenak untuk menarik napas panjang, Boboiboy terus menatapnya lekat. "Tapi jangan pernah bilang itu lagi. Ya?"
Boboiboy terdiam. Ia tentu tahu maksud Yaya adalah perkataannya bahwa ia lebih baik tak ada di dunia ini. Boboiboy merasa keberadaannya hanya membuat ayahnya benci padanya, dan membebankan sang ibu yang semakin melemah kesehatannya. Itulah kenapa, ia berpikir tentang hal itu. Boboiboy bahkan lupa bagaimana rasanya menjadi berarti untuk seseorang dalam hidupnya.
"Kamu berarti buat aku."
Tapi gadis ini barusan mengatakannya. Ia berarti untuknya. Membuat hati Boboiboy terenyuh, harapannya seperti datang semula. Yaya banyak mengubah hidupnya. Boboiboy mungkin tak akan tahu bagaimana ia sekarang jika mereka tak bertemu kala itu.
"Jadi, kamu belum ketemu sama papa kamu sampai sekarang?" tanya Yaya hati-hati. Ditatapnya lekat kedua mata Boboiboy yang masih bersinar redup.
"Belum. Aku disini juga karena Papa, aku nggak bisa nolak semua perintahnya. Papa bakal ngancem Mama kalo aku nggak nurut," jawab Boboiboy pelan. Ingatannya mengulang lagi kejadian itu, saat ia dan ibunya mendapat kekerasan karena sang ayah. "Karena itu, aku mutusin buat bawa Mama kesini,"
Yaya menatapnya prihatin. Genggamannya tak pernah ia lepaskan. Boboiboy kini terlihat rapuh di depannya. Sosok yang selalu terlihat kuat itu kini mau berbagi cerita dengannya. Dinding tinggi itu perlahan runtuh untuk mempersilakanny masuk ke kehidupannya lebih dalam, yang ternyata tak semudah itu. Boboiboy sudah memberikan kepercayaan padanya sekarang.
"Aku nggak bisa bantu apapun untuk kamu." ujar Yaya sedih.
"Kamu disini udah lebih dari cukup kok," Boboiboy membalasnya dengan senyum. Yaya ikut menarik sudut bibirnya. Ditatapnya langit di atas sana yang terlihat begitu indah.
"Karena kamu udah cerita, aku juga mau cerita ke kamu," kata Yaya. Boboiboy menatapnya penuh minat. "Bukan kamu aja kok yang punya ayah buruk. Aku juga." lanjutnya dengan senyum. Boboiboy mengernyit bingung kenapa Yaya masih bisa tersenyum padahal yang akan ia ceritakan adalah hal sedih dalam hidupnya? "Aku pernah cerita sedikit waktu itu, kalau ayah sama ibu aku cerai, 'kan?"
Boboiboy menjawabnya dengan anggukan kepala. Angin berhembus lembut, membelai rambut Boboiboy dan helaian jilbab Yaya. Sang gadis kembali berbicara setelahnya.
"Kejadiannya waktu aku masih SMP. Kelas 3. Ayah dan ibu aku sering bertengkar karena hal-hal sepele. Setiap malam, setiap ayahku pulang, pasti ada aja yang mereka ributin. Aku yang nggak tau apa-apa cuma bisa diem ngedengerin, sambil berusaha fokus belajar buat ujian,"
Boboiboy diam. Sesekali ia melirik Yaya di sampingnya.
"Sampai akhirnya, saat malam kelulusanku, mereka bertengkar lagi. Kali ini lebih hebat dari yang sebelumnya. Ibu aku nemuin bukti kalau ayahku selingkuh. Mereka langsung cerai besoknya,"
Yaya menatapnya lagi sambil tersenyum. Boboiboy tahu itu adalah senyum terpaksa.
"Aku ikut ibuku pergi, dan saat masuk SMA, akhirnya aku mengerti alasan mereka cerai. Sejak itu, ibu aku ngelarang aku berpacaran. Bahkan nggak ngizinin aku punya teman dekat cowok. Dia takut aku seperti dia nantinya," Yaya menghela napas. Kini gantian Boboiboy yang menggenggam tangannya. "Makanya, aku belum berani buat bilang ke kamu kalo kita pacaran. Karena dia pasti bakal menentangnya,"
"Aku nggak papa, kok. Asal kamu baik-baik aja, aku juga baik-baik aja." ucap Boboiboy.
Yaya mengangguk kecil dan menatapnya intens. "Makasih, ya, udah mau cerita ke aku,"
"Makasih juga, pacar."
Keduanya tertawa kecil.
"Aku pulang!"
Yaya menutup pintu dengan ceria, hatinya masih terasa senang karena Boboiboy. Kakinya kemudian melangkah riang menuju kamar. Namun ketika tiba di tangga, Yaya harus menghentikan langkah karena panggilan sang ibu.
"Ibu mau bicara sama kamu."
Kepala Yaya menoleh, menemukan sang ibu sudah berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa singel. Sambil bertanya-tanya, Yaya mengikutinya dan ikut duduk di sofa yang lebih panjang.
"Kenapa, Bu?" tanya Yaya bingung. Ekspresi ibunya terlihat tidak senang. Apa ia melakukan kesalahan?
"Kamu... pacaran dengan Boboiboy?"
Mata Yaya membulat sempurna. Jantungnya berdetak lebih cepat berkat penuturan ibunya yang begitu tiba-tiba itu.
"D-darimana ibu tau?"
Ibunya menghela napas. Ia menatap putrinya lamat-lamat. "Ibu melihatnya sendiri hari ini saat mau ketemu wali kelas kamu. Kamu sama dia lagi berduaan di lapangan, jadi benar kamu pacaran sama dia?"
Yaya diam seribu bahasa. Gadis itu tak berkutik sama sekali di tempatnya.
"Yaya, jawab ibu!" seru ibunya. Wajahnya kini dipenuhi amarah yang meluap-luap.
"Iya, aku pacaran sama dia." jawab Yaya dengan segenap keberaniannya. Ia menatap ibunya lurus, berusaha memberanikan diri untuk menghadapi ibunya. "Aku tahu ibu nentang itu. Karena ibu nggak mau aku ketemu laki-laki seperti ayah, 'kan?"
"Yaya–"
"Tapi Boboiboy nggak gitu, Bu. Boboiboy orang baik. Dia nggak seperti ayah."
"Semua laki-laki adalah brengsek, Yaya. Kamu tahu sendiri bagaimana ayah kamu ninggalin kita karena selingkuhannya. Kamu harus buktiin kalau kamu bisa hidup tanpa mereka! Seperti ibu!" bentak ibunya. Matanya berkilat-kilat tajam menatapnya. Tapi Yaya tidak menyerah. Ia balas menatapnya tanpa takut.
"Tapi ini hidup aku! Aku berhak menentukan pilihan untuk hidup aku! Ibu nggak berhak ngatur itu!"
"Yaya, jaga omongan kamu." ucap ibunya tajam.
"Memangnya ibu tahu, kesulitan apa yang aku lewatin selama ini? Ibu selalu nyuruh aku belajar tanpa pernah biarin aku seneng-seneng kayak anak-anak lainnya! Aku capek, Bu! Aku juga cuma remaja biasa!"
"Ini semua buat kebaikan kamu, Yaya! Kamu akan paham saat dewasa nani!"
Mendengarnya Yaya terkekeh sinis. "Paham? Ibu bilang aku bakal paham nanti? Saat ini aku juga udah paham, Bu! Ibu cuma ngekang aku hanya karena ibu nggak mau aku jadi kayak ibu!"
"Yaya Yah!"
"Aku nggak bakal ninggalin dia. Karena dia, aku tahu cara buat lebih bahagia. Ibu harus tahu itu." Yaya kemudian bangkit, berjalan tergesa menuju tangga.
"Karena seorang laki-laki, kamu berani melawan ibu kamu sendiri?" ucap ibunya lagi. Yaya untuk beberapa saat terdiam, seperti ada pisau yang menancap hatinya. Namun dengan cepat ia mengendalikan diri, kembali berjalan menuju kamarnya tanpa membalikkan badannya lagi pada sang ibu yang menatapnya penuh kecewa.
Dikuncinya pintu kamar sebelum ia menenggelamkan wajahnya pada bantal. Yaya terisak di sana. Menumpah seluruh air matanya tanpa bisa ia cegah lagi. Ia tahu ibunya hanya ingin melindunginya. Tapi bagaimanapun, Boboiboy adalah orang yang berhasil membuatnya bahagia sekarang. Boboiboy adalah alasannya untuk tersenyum. Yaya tak lagi merisaukan apapun jika sedang bersamanya. Jadi bagaimana bisa ia meninggalkan cowok itu?
Diraihnya ponsel untuk mencari kontak Boboiboy dengan cepat. Tangisnya belum juga reda dan Yaya membutuhkan cowok itu sekarang. Yaya menanti dengan sabar kala suara sambungan telepon menyapa telinganya. Ia berharap Boboiboy mengangkat teleponnya saat ini agar hatinya tenang. Namun beberapa detik terlewati, tak ada tanda-tanda cowok itu mengangkat panggilannya.
Yaya mencobanya lagi. Berkali-kali ia menelepon namun tak ada jawaban apapun. Ia menangis sesenggukan, tangannya meremas dadanya yang begitu sesak. Sampai akhirnya Yaya menyerah, membiarkan air matanya terus mengalir hingga ia lelah, lalu jatuh tertidur dengan sendirinya. Tanpa ia tahu, Boboiboy juga sama hancurnya malam itu.
"Lo kenapa, sih? Itu mata bengep banget kayak abis ditonjok. Berantem sama Boboiboy?"
Pertanyaan Ying dijawab oleh angin lalu karena Yaya hanya diam di tempatnya. Siapa yang nggak khawatir jika melihat sahabatnya datang dengan kepala menunduk, mata bengkak seperti habis menangis semalaman? Ying berkali-kali bertanya ada apa, tapi Yaya tak mau menjawabnya.
"Yaya, ayo dong cerita kenapa. Boboiboy nyakitin lo?" Yaya menggeleng pelan. Ying yang duduk di tempat Boboiboy buru-buru mendekatkan tubuhnya pada Yaya. "Terus kenapa? Iwan gangguin lo lagi? Atau Pak Toni bikin lo kesel lagi?"
Yaya lagi-lagi menggeleng. Ying menghela napas gusar. Jika sudah seperti ini, Yaya sulit untuk diajak bercerita. Kata-kata bujukan tak akan berhasil untuknya. Bahu Ying tiba-tiba dicolek seseorang, membuat gadis itu menoleh dan menemukan Fang menatapnya serius.
"Biarin dulu. Mungkin dia mau sendiri."
"Tapi, Yang–"
"Udah sini," Fang menarik tangan Ying untuk duduk di tempatnya.
Akhirnya Ying pasrah dan menurut. Matanya tak berhenti memandangi punggung Yaya yang terlihat sangat lesu. Ying mulai menebak-nebak apa yang terjadi dengan Yaya. Seingatnya kemarin, Yaya dan Boboiboy tampak baik-baik saja. Bahkan sebelum pulang sekolah wajah Yaya terlihat ceria. Jadi mereka tidak mungkin bertengkar, 'kan?
"Apa karena ibunya ya, Fang?" tanya Ying dengan suara serendah mungkin.
Fang mengangkat alis. Ia tiba-tiba membelalak karena teringat sesuatu. "Aku baru inget! Kemarin ibu Yaya ke sekolah!"
Ying terkejut. Satu praduga terbentuk dan Ying menggeleng tak percaya. "Apa jangan-jangan–"
"Ibunya Yaya lihat Boboiboy sama Yaya berduaan?"
Wajah Ying langsung terlihat horror. "Gawat, Fang!"
"Tapi, Boboiboy kemana?" tanya Fang ketika sadar kursi di samping Yaya masih kosong. Ying ikut menatapnya, menduga masalah ini tampak lebih serius dari sebelumnya.
Sementara itu, Yaya melirik tempat di sebelahnya dengan sendu. Ponsel di genggamannya memperlihatkan room chat-nya dengan Boboiboy yang terlihat sepi. Pesan-pesannya belum dibalas sejak kemarin malam. Menciptakan rasa khawatir di hatinya.
Boboiboy... menghilang.
Ruangan itu terlihat sunyi dan tegang. Seluruh mata memandang padanya yang terus berusaha menghubungi seseorang. Ketika ponsel itu diturunkan dari telinga, dia menggeleng pelan, menciptakan helaan napas panjang dari semuanya.
"Kemana sih tuh anak?" tanya Koko Ci geram. Tapi dari suaranya tentu pemuda itu sangat khawatir.
"Gue punya firasat buruk." gumam Gopal yang tadi berusaha menghubungi Boboiboy.
"Adu Du nggak mungkin berhasil nangkep dia, 'kan?" tanya Shielda ragu. Iris safirnya menatap kawan-kawannya satu per satu.
"Nggak. Gue udah ngancem dia buat nggak sentuh temen-temen gue. Adu Du nggak bakal ngelakuin itu." Kaizo menjawabnya.
"Tapi lo tau Adu Du senekat apa, Kai!" bentak Shielda.
"Dan lo juga tau sendiri Boboiboy nggak semudah itu ditangkep musuh!" balas Kaizo tajam. Sheilda tampak ingin membalas lagi, namun ucapannya tertahan dan gadis itu membuang wajahnya kesal.
Tarung yang melihat kekacauan di depannya akhirnya tak tahan lagi. "Udah. Adu mulut nggak akan ada hasilnya sekarang. Kita harus cari Boboiboy."
"Kemana? Rumahnya disini aja kita nggak tau," balas Shielda lelah.
"Kita bisa tau dari seseorang," sahut Sai yang sedari tadi hanya menonton. Semua mata memandangnya penasaran. Gopal yang yang sadar isyarat mata Sai padanya langsung terlonjak.
"Yaya." gumam Gopal.
Sai menganggukkan kepala, membenarkan ucapan Gopal.
"Kalian udah tau 'kan hubungan mereka kayak gimana sekarang," ucap Sai serius. Matanya melirik sebentar pada Shielda yang tampak kesal. "Gue yakin, Yaya udah tau semua tentang Boboiboy."
"Maksud lo, Yaya kita bawa kesini buat di tanya-tanya tentang Boboiboy? Cewek alim itu?" tanya Koko Ci menebak-nebak. Sai mengangguk.
"Gue nggak setuju." bantah Shielda. "Gimana pun, dia orang asing buat kita. Dan Kaizo juga udah pernah bilang buat jangan kasih tau siapapun tentang markas ini," lanjutnya seraya melirik Kaizo yang masih belum membuka suaranya lagi.
"Yah, Shielda bener. Tapi selain Yaya, siapa lagi yang tahu Boboiboy dimana? Gopal aja nggak tau," tambah Tarung.
Semuanya terdiam. Hanya ada keheningan di antara mereka. Gopal mencoba berpikir lebih keras lagi dimana Boboiboy sekarang. Selama ini, Boboiboy tak pernah hilang begitu saja. Minimal, cowok itu akan memberitahunya agar tak menimbulkan kekhawatiran. Tapi kali ini Boboiboy bersikap tidak biasanya. Pasti sesuatu yang buruk telah terjadi. Ia tidak boleh diam saja sekarang. Sebagai seseorang yang paling dekat dengannya, Gopal harus mencari jalan lain.
"Gue bakal cari dia malem ini." ucap Gopal memecah keheningan yang ada. Cowok itu kemudian mengambil helm dan jaketnya, keluar dari ruangan itu tanpa memedulikan tatapan teman-temannya.
Gopal menuruni tangga dengan cepat. Ia baru saja tiba di anak tangga terbawah ketika menyadari ada seseorang tengah berdiri di sana. Mata Gopal membulat sempurna.
"Yaya?"
Gadis itu hanya menatapnya dengan berkaca-kaca. Gopal menebak Yaya mendegar semua percakapan tadi. Ia menarik tangan gadis itu untuk ikut bersamanya, membuat Yaya tersentak dan berusaha melepaskan tangannya.
"Lepas!"
"Ikut gue. Lo nggak seharusnya ada disini." kata Gopal serius. Ia menstarter motornya dan memakai helm. Yaya masih berdiri di samping motornya dengan tatapan mata tajam.
"Boboiboy dimana? Kalian pasti tau, 'kan? Kasih tau aku!"
"Kalo lo mau tau tentang Boboiboy, cepet ikut gue." kata Gopal lagi.
Yaya hanya diam menatap Gopal. Cowok itu menghela napas frustasi. Kaca helmnya dibuka untuk menatap Yaya serius.
"Yaya. Naik sekarang."
"Boboiboy... baik-baik aja, 'kan?" tanya Yaya dengan suara bergetar. Kini Gopal tak tahu harus menjawab apa. Kebungkamannya membuat Yaya semakin histeris. "Jawab aku! Boboiboy nggak papa, 'kan?!"
Namun Gopal tetap tak membuka suaranya. Yaya akhirnya tak dapat lagi menahan air matanya. Ia menangis sesenggukan dan membiarkan tubuhnya jatuh di sisi motor Gopal. Teman baik Boboiboy itu memejamkan matanya erat, mendengar setiap isak tangis dari Yaya. Ia mengepalkan tangannya kuat, mematikan motornya lantas berjongkok di depan Yaya.
"Gue nggak bisa kasih jawabannya sekarang," kata Gopal pelan, membuat Yaya mengangkat kepalanya hingga menunjukkan wajahnya yang bersimbah air mata. "Tapi kalo lu ikut gue, kita akan tahu dia dimana,"
Yaya terisak. Saat tangan Gopal terulur padanya, Yaya menerimanya tanpa berpikir lagi.
Malam ini, ia harus tahu jawabannya.
Motor Gopal berhenti pada sebuah rumah besar yang tampak sepi. Gopal mematikan mesin, turun dari motornya diikuti Yaya. Keduanya sama-sama menatap rumah itu dengan bingung.
"Jadi ini rumah Tok Aba?" gumam Gopal yang didengar oleh Yaya.
"Tok Aba?"
"Iya, kakeknya Boboiboy. Beliau udah meninggal waktu dia masih kecil."
Yaya terdiam. Boboiboy belum menceritakan itu padanya. Mereka kembali menatap pada rumah itu yang seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Semua lampu dimatikan, seolah rumah itu tak berpenghuni sedari lama.
"Aku kesini saat ulang tahun Ying. Pas itu Boboiboy ngerasa ada yang ngikutin dia, dan dia langsung bawa aku kabur kesini. Yang ternyata rumahnya," cerita Yaya. Gopal mengangguk paham. Ia sudah tahu itu ketika Boboiboy meneleponnya. "Setelah itu, dia tiba-tiba hilang. Aku pikir dia nggak masuk karena sakit, tapi ini udah hari kelima dia nggak ada kabar. Makanya aku ke markas kalian tadi."
Gopal menghela napas. "Kita juga nggak tahu dia dimana sayangnya. Terakhir gue tau kabar dia waktu kalian dikejar hari itu,"
Yaya mengernyitkan dahi. "Jadi, kamu tahu?" Gopal mengangguk. Yaya semakin penasaran dan mengajukan pertanyaan lagi. "Soal Adu Du, preman itu beneran ngincer Boboiboy?"
Gopal mengangguk pelan. "Kita tahu dari Kaizo, ketua kita. Lo pasti udah tau dia. Tiba-tiba aja, Adu Du ngajak fight ke Boboiboy. Tentu itu jadi pertanyaan buat kita. Karena selama ini, Adu Du cuma punya dendam ke Kaizo. Itulah kenapa, kita ngeduga Adu Du ngincer Boboiboy seorang."
Yaya yang mendengarnya tanpa sadar menahan napas. Ia sampai menahan tubuhnya dengan memegang besi jok motor Gopal agar tidak jatuh. Semuanya terasa lebih jelas dan menakutkan saat Gopal melengkapi ceritanya. Saat ini Boboiboy bisa dalam bahaya.
"Tapi gue yakin, Boboiboy nggak berhasil ditangkep sama mereka." kata Gopal saat melihat reaksi Yaya. Yaya menatapnya penuh ragu. Tapi Gopal tetap meyakinkannya dengan mengatakan. "Boboiboy orang yang kuat. Dia pasti bisa ngatasin masalahnya."
Yaya sangat tahu itu. Karenanya, ia berusaha menenangkan hatinya bahwa Boboiboy pasti baik-baik saja. Pasti.
"Karena kayaknya kita nggak nemu jawaban disini, gue rasa kita harus pergi." kata Gopal memecah keheningan malam. Yaya menatap lagi pada rumah itu. Memang benar kata Gopal. Tak ada jawaban yang bisa mereka dapatkan disini.
Saat keduanya ingin pergi, seorang ibu-ibu lewat dan terkejut melihat keduanya.
"Kalian temannya nak ganteng disini?"
Gopal dan Yaya saling berpandangan. Apa maksud ibu itu adalah Boboiboy?
"I-iya, Bu. Kita sedang cari dia. Ibu tahu dimana?" jawab Yaya agak ragu. Meski tidak yakin nak ganteng yang diucapkan ibu-ibu itu adalah Boboiboy, namun Yaya tetap ingin memastikannya.
"Waduh, ibu nggak tahu kalau itu. Yang ibu tahu, tiga hari yang lalu ibunya meninggal. Makanya rumah ini kosong, ibu cuma mau bilang ke nak ganteng–"
"M-maksud ibu? Siapa yang meninggal?" tanya Yaya panik. Si ibu-ibu itu tampak kebingungan dan kembali mengatakannya lagi.
Gopal dan Yaya menggeleng tak percaya. Kini mereka tahu jawabannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
tbc
a/n :
oke sengaja gua percepat karna gua udah greget sama ff ini ga kelar2. itu aja sih, next chapter adalah klimaks dri ff ini. bye semua
