Disclaimer : Sunrise


15.

To Be With You Again

.

"Lho, kenapa kau bisa punya ini? Kukira kau tidak suka baca komik, Athrun!" Kira menyeru melihat deretan komik berseri yang ada di rak buku kamarku.

"Kau pikir aku ini apa? Tentu saja aku juga baca, sesekali." Aku memandangnya sedikit kesal, meskipun aku mengerti kenapa ia bereaksi begitu.

"Kakak, itu apa?"

"Oh, itu part yang kubuat dengan 3D printing. Kakak sedang merakit sesuatu." Aku menjelaskan pada Cagalli yang menanyakan tentang hasil 3D print yang masih ada di atas mejaku, yang belum sempat kubereskan ketika mereka datang ke rumahku.

Hari ini tiba-tiba semua anggota keluarga Hibiki datang berkunjung ke rumah, termasuk ayah mereka Ullen Hibiki yang baru pulang beberapa hari lalu dari dinas panjangnya. Setelah ramah tamah dengan keluargaku, ternyata maksud kedatangannya adalah karena ia ingin berterima kasih langsung pada keluarga kami yang sudah membantu Cagalli sewaktu kasus penguntitan itu. Ayah Cagalli sepertinya sempat merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Cagalli di saat yang menakutkan seperti waktu itu, dan sangat bersyukur masalahnya bisa dibereskan dengan bantuan Ayah. Dan juga kepadaku yang waktu itu menyadari dan mengamankan Cagalli sebelum penguntitnya bisa melakukan sesuatu. Maka sambil membawa oleh-oleh khas dari daerah tempat Paman Ullen dinas, mereka sekeluarga datang kemari sekali lagi untuk berterima kasih. Aku sedang mengerjakan rakitanku waktu ibu datang memberitahukan kedatangan mereka.

Lalu setelah pengenalan singkat, basa basi dan ucapan terima kasih, Ayah kami 'mengusir' kami para anak dengan halus, sebab pembicaraan mereka mulai dari sini mungkin terlalu membosankan untuk kami, dalihnya. Ibu menyarankanku untuk mengajak Kira dan Cagalli melihat-lihat rumah dan juga kamarku. Dan sekarang di sinilah kami berada. Kira sedang mengutak-atik koleksi komikku sementara Cagalli memperhatikan model yang sedang kukerjakan sebelumnya.

"Tapi, agak lain ya. Aku kira kau bakal menyimpan banyak buku-buku pelajaran atau buku-buku yang lebih serius di kamarmu, Athrun," Kira tanpa ragu langsung duduk di kursi meja belajarku, mengambil volume pertama komik yang tadi menarik perhatiannya.

"Ada kok, di perpustakaan," aku menjawab. "Karena bukunya memang banyak jadi sekalian saja kusimpan di sana. Sisanya ada di aplikasi buku digitalku."

Wajah Kira langsung berubah seolah berkata, 'sudah kuduga', tapi dia tidak beranjak dan mulai membuka-buka halamannya.

"Kalau mau bawa pulang juga boleh kok, kupinjamkan. Supaya kau bisa baca di rumah," aku berkata melihatnya. Sepertinya dia senang dengan serial itu.

"Wah, yang benar? Kalau begitu aku boleh bawa beberapa jilid lagi ya," Kira langsung ceria dan menarik beberapa jilid. Aku dan Cagalli hanya bisa melihatnya sambil diam-diam tertawa kering.

Karena Kira kemungkinan tidak akan bergerak dari sana, aku beralih pada Cagalli yang ada di sebelahku. "Cagalli mau lihat perpustakaan?"

"Boleh," Cagalli mengangguk sambil membalas tersenyum padaku.

"Kira—"

"Ah, aku boleh di sini saja, tidak? Aku tidak terlalu tertarik dengan perpustakaan," Kira menoleh sebentar lalu kembali ke bukunya lagi. Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Aku heran bagaimana dia bisa bertahan di posisi 10 besar di kelas dengan sikapnya ini, bahkan ketika dia bukan seorang Coordinator seperti dulu. Dia tidak suka belajar tapi memang pintar. Mungkin itu memang sudah bakatnya.

Tapi sebenarnya, untuk saat ini setidaknya sikapnya itu menguntungkan buatku.

"Perpustakaannya ada di ujung lorong, kalau kau mau mencari kami. Aku akan bukakan pintunya supaya kau langsung tahu kalau ke sana," aku tidak begitu yakin Kira akan sengaja mengikuti kami kecuali ada sesuatu.

"Oke," Kira bahkan tidak menengok ke arah kami dan lagi, masih tetap fokus membaca. Saling memandang dengan Cagalli, kami berdua meninggalkan kamarku dan menyusuri lorong pendek menuju perpustakaan ayahku.

"Tapi…" Cagalli langsung membuka suara begitu kami sudah beberapa langkah meninggalkan kamarku. "Sebenarnya aku juga tidak menyangka kalau kau punya koleksi komik selengkap itu. Kau suka yang seperti itu juga ya?" Cagalli yang sekarang bukan Cagalli Hibiki, tapi Cagalli Yula Athha yang kukenal dulu. Aku tersenyum mendengar nada bicaranya yang sedikit berubah begitu ia kembali ke kepribadian lamanya.

Sejak hari ketika kami saling mengetahui kalau kami memiliki ingatan masa sebelumnya, aku baru sekali dua kali bertemu Cagalli lagi. Dan waktu di mana kami bisa berbicara bebas tentang apa yang kami ketahui berdua saja juga sangat singkat. Awalnya memang sedikit canggung karena kami bingung harus bicara apa, tapi sedikit demi sedikit kami sudah mulai bisa bercakap-cakap dengan nyaman.

Sehingga meskipun sekarang waktu kami hanya sebentar, aku senang bisa mengobrol tanpa perlu sungkan di depannya seperti ini. "Tentu saja itu cuma hiasan," aku juga mengikuti cara bicaranya.

"Hiasan?" Aku bisa merasakan Cagalli menatapku penasaran.

"Aku membelinya cuma supaya bisa mengikuti pembicaraan teman-temanku. Komik itu lumayan populer dulu. Aneh kalau di kamar anak laki-laki tidak ada barang hobi yang khas anak-anak kan?" Aku hanya membacanya sekali supaya terlihat 'normal' seperti anak lainnya, supaya ketika teman-teman sekolahku membicarakan serial yang sama, setidaknya aku bisa ikut dalam percakapan mereka. Jadi ibu juga tidak khawatir kalau-kalau aku tidak punya teman di sekolah. Bahkan beberapa dari mereka datang ke rumahku untuk ikut membaca buku yang sama di rumahku, seperti Kira tadi.

"Benar juga," Cagalli mengangguk-angguk—aku yakin dia juga pernah melakukan hal yang serupa denganku, sebab kami harus sama-sama mengelabui orang supaya tidak dikira aneh karena kami berdua sebenarnya sudah dewasa. "Omong-omong, kenapa kau mengajakku kemari—Waaah!" ia bertanya begitu aku membuka pintu perpustakaan ayahku, dan Cagalli langsung takjub melihat deretan rak buku yang ada di dalam. Aku membuka pintu setengahnya, memasang penahan dan mengajak Cagalli masuk ke ujung ruangan.

"Yang paling depan buku-buku ayah. Beliau memang suka mengoleksi buku dan jurnal," aku menjelaskan melihat Cagalli yang memindai seisi ruangan dengan takjub dan penasaran. "Aku juga sering menghabiskan waktu di sini dulu." Sebab aku tidak punya kegiatan lain yang bisa menarik perhatianku secara penuh.

"Kali ini sepertinya kau cukup dekat dengan ayahmu, ya?" Suara Cagalli berubah menjadi lebih lembut dibanding tadi mendengarku membicarakan ayah.

Aku menghentikan langkahku, memikirkan pertanyaan yang keluar dari mulut Cagalli.

"Tentang keluargamu…" Cagalli meneruskan lagi, "Aku juga bersyukur kau bisa hidup bersama mereka lagi di kehidupan yang tenang seperti sekarang."

Hanya Cagalli yang tahu seperti apa hubunganku dengan orang tuaku, tidak ada. Justru ayahku menjadi bayangan gelap yang selalu mengikutiku. Tindakan ayah dulu mungkin bisa dibilang salah satu faktor yang membuat kami tidak bisa bersama dengan bebas di kehidupan sebelumnya. Satu-satunya kenangan Cagalli bersama ayahku yang dulu hanya kekeraskepalaan dan kebenciannya yang tiada akhir pada Natural, karena kematian ibu.

Tapi sekarang, kedua orang tuaku sehat. Mereka berdua hidup bersama dengan tenang, mengerjakan hal yang merupakan panggilan mereka masing-masing. Dan aku juga ingin Cagalli mengenal orang tuaku yang sekarang.

"Aku dan ayahku… hubungan kami sekarang bisa dibilang sedekat yang bisa kubayangkan," Aku meletakan satu tangan di punggungnya, mengajaknya masuk lebih dalam perlahan-lahan ke lorong yang dibentuk dari rak buku. "Sewaktu perang, ayah menegaskan hubungan kami sebagai atasan dan bawahan. Ayah masih sama seperti dulu, kaku dan tegas padaku. Tapi perbedaannya pun jelas. Ayah lebih peduli pada orang lain sekarang. Mungkin karena ibu masih bersama kami."

"Benar juga. Kalau melihat ibumu, jelas sekali wajah ayahmu berubah meskipun hanya sedikit," Cagalli tersenyum, dan aku tidak bisa tidak membalas senyumannya. Bahkan orang lain pun sadar betapa lemahnya ayah di depan ibu. "Dia orang yang sangat baik dan lembut. Apa dulu ibumu juga begitu?"

Aku mengangguk. "Ibu tidak berubah sama sekali. Baik dulu maupun sekarang tetap sama. Selalu perhatian pada kami semua. Orang yang paling mengerti kami semua…" Aku terdiam sesaat. "Ibu bahkan sangat peka terhadap perubahan suasana hatiku setelah aku bertemu denganmu waktu itu. Dan entah kenapa setelah melihatmu, aku merasa ibu jadi tertarik padamu. Dia menyuruhku mengajakmu main ke sini sesekali bersama Kira."

"Eh? Kenapa?" Cagalli juga sama terkejutnya seperti aku waktu itu.

"Aku juga tidak tahu. Entah kenapa tatapan mata ibu waktu itu sedikit berbeda, seolah dia bisa melihat langsung apa yang ada di pikiranku waktu itu. Untuk sementara aku berkata kalau aku menyukai seseorang yang tidak bisa kupacari saat ini. Ibu menyimpulkan aku menyukai orang yang sudah punya pasangan."

"Memangnya tidak apa-apa kau bohong begitu?"

"Aku juga tidak mungkin bisa jujur sekarang. Waktu itu kau masih kelas 6 SD, baru masuk semester dua. Aku masih ragu apa yang akan dipikirkan orang-orang tentang kita." Sudah beberapa orang yang tahu kalau ada orang yang kusukai, termasuk Kira. Tapi kalau tahu Cagalli-lah orangnya, aku masih belum yakin bagaimana mereka akan bereaksi.

"Yaah… Benar juga sih…" Cagalli menunduk lagi, dia juga paham situasi kami sekarang seperti apa.

"Meskipun begitu, mungkin sebenarnya ibu akan tetap mendukung kita meskipun usia kita berbeda jauh." Aku menyampaikan apa yang kupikirkan pada Cagalli. "Biasanya ibu hanya perlu waktu untuk mencerna, lalu perlahan ibu bisa menerimanya. Lagipula, dengan kepekaan ibu, aku tidak yakin bisa merahasiakanmu untuk waktu lama."

"Athrun…" Cagalli menarik lengan bajuku. Wajahnya yang menengadah terlihat khawatir. "Apa benar-benar tidak apa-apa? Seandainya nanti… kita benar-benar bersama… Apa orang tuamu tidak akan keberatan denganku?"

Aku meletakkan kedua tanganku di pundaknya. "Tentu saja aku tidak akan tinggal diam seandainya jadi seperti itu. Tapi aku yakin apa yang kau khawatirkan tidak akan terjadi. Ibuku bahkan memintaku mengajakmu ke sini sesekali. Ibu pasti ingin mencoba mengenalmu lebih jauh."

"Lalu ayahmu?" Cagalli bertanya dengan suara kecil.

"Serahkan saja padaku. Kau tidak perlu khawatir. Kali ini giliranku berjuang untukmu." Aku berusaha meyakinkan dan menenangkannya.

"Tidak bisa begitu," wajah Cagalli merengut tidak senang. "Aku tidak bisa membiarkanmu berjuang sendiri. Aku juga kan bagian dari ini. Kita lewati semuanya sama-sama."

Lagi-lagi aku merasa terkesan karena sikap Cagalli. Cagalli bukan orang yang bisa diam saja dan menyerahkan segala persoalan pada orang lain. Dia orang yang ikut berusaha dengan yang lain. Karena mengenalnya sejak dulu aku tidak begitu heran dengan reaksinya ini. Aku hanya takjub karena masih tidak menyangka bisa bersama dengan Cagalli yang sama dengan yang dulu di kehidupan yang berbeda ini. "Tentu saja, aku akan minta bantuanmu kelak kalau saatnya tiba." Aku tersenyum padanya.

Kami masuk lebih jauh, dan aku hanya bisa tersenyum melihat Cagalli yang menolehkan kepalanya kanan kiri, memperhatikan deretan buku yang ditata sesuai tema. Sesekali Cagalli berhenti di beberapa tempat, memperhatikan judul buku yang ada. Begitu aku menangkap judul yang ia baca, aku tersenyum, "Kau masih tertarik dengan buku-buku seperti ini?"

"Mmmm, tidak juga. Hanya rasanya… kangen juga ya…" Cagalli menyentuh punggung buku yang dengan judulnya yang di-emboss ke dalam. Aku membayangkan buku semacam ini sudah jadi teman Cagalli sewaktu dulu ia masih mengemban tugas menjadi kepala negara. Sewaktu tinggal bersamanya di kediamannya dulu, setelah pulang dari gedung parlemen pun Cagalli selalu mengurung diri di ruang kerjanya sampai larut malam, dikelilingi buku-buku referensi untuk memahami berbagai macam persoalan yang disodorkan padanya, yang butuh penilaian dan persetujuannya. Kalau aku tidak bersamanya dan mengingatkannya untuk istirahat, entah bagaimana jadinya dia waktu itu.

"Apa Cagalli ingin terjun ke politik lagi nanti?" Aku membayangkan Cagalli yang meninggal di usia muda sebelumnya mungkin merasa memiliki banyak penyesalan, seperti tujuan-tujuan hidup yang tidak sempat dilakukannya dulu.

Cagalli terdiam seolah memikirkan jawaban pertanyaanku dengan wajah serius, kemudian menjawab, "Aku belum pernah memikirkannya betul-betul, tapi… Mungkin tidak. Sepertinya sekali juga sudah cukup buatku. Apalagi…" Ia menengadah ke arahku. "Aku sudah tahu sesibuk apa jadinya kalau aku masuk ke dunia politik lagi. Apalagi sekarang aku harus merintis dari awal, akan makan waktu lama sampai aku bisa ada di posisiku yang dulu. Aku tidak bisa mencuri start sekarang," Cagalli terkekeh sebentar. "Tapi justru karena sekarang aku cuma rakyat sipil biasa, aku bisa hidup seperti ini. Aku bisa punya waktu istirahat di akhir pekan, aku bisa bertemu orang-orang, pergi ke sana kemari tanpa perlu ditemani pengawal. Aku bisa memilih apa yang ingin aku lakukan nanti. Sekarang aku bisa memiliki hal yang dulu merupakan kemewahan yang tidak bisa kudapatkan dulu. Aku juga diberi kesempatan untuk bertemu denganmu lagi, Athrun." Wajah Cagalli sedikit memerah, "Kalau di kehidupan kita sekarang, aku yang cuma warga sipil ini bisa membagi waktu untukmu. Jadi kalau memang kau izinkan, aku ingin menjalani hidup yang tenang bersamamu di kehidupan kita seka—" Aku memotong ucapannya dengan berlutut di depannya, memeluk tubuhnya yang masih tidak lebih tinggi dari dadaku.

"Athrun!" Aku bisa mendengar protes di suaranya. Aku juga bisa merasakan tangannya bergerak-gerak bingung. Aku tersenyum sendiri, reaksinya sekarang persis seperti ketika aku pertama kali memeluknya dulu.

"Kau tahu kenapa aku mengajakmu ke sini?" Aku bertanya sambil memeluknya.

"Hah? Bukannya kita sedang melihat-lihat buku?" Suara Cagalli terdengar bingung.

"Aku tahu Kira tidak suka buku-buku seperti ini, dan yakin dia tidak akan mau ikut ke sini. Aku sengaja supaya bisa berdua saja denganmu. Makanya aku tidak membuka pintunya lebar-lebar."

"Kau—!"

"Kalau tidak begini, kita tidak mungkin bisa bicara dengan santai begini. Aku juga tidak akan bisa melakukan ini," aku mengaku padanya. Aku menarik diri sedikit supaya bisa melihat wajahnya, yang sekarang bersemu merah.

Aku selalu merasa tenang dan hangat melihat wajahnya yang begitu hidup, mengobati rasa sedih ketika terakhir kali aku bertemu dengannya di kehidupan sebelumnya.

Aku mendekati wajahnya dan Cagalli refleks menutup matanya. Sambil tersenyum dengan reaksinya itu, aku mengecup pipinya yang hangat.

"Terima kasih karena memikirkan masa depan denganku sampai sejauh itu. Tapi kalau ada yang ingin kau lakukan, aku tidak mau jadi penghalang. Kau bebas melakukan apa yang kau sukai, Cagalli," sambil menatap matanya, aku memberitahunya bahwa aku tidak mau menahannya dari apa yang ingin dia lakukan kelak.

Tapi Cagalli malah menggeleng, matanya tegas. "Tidak. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang kudapat sekarang bersamamu!"

"Aku senang kau berpikir begitu. Tapi masih ada waktu sampai kita dewasa. Jadi kalau suatu saat nanti ada hal yang ingin kau lakukan, apapun itu, ingatlah kalau aku selalu mendukungmu ya. Asalkan aku ada di dalam rencanamu, itu sudah cukup kok."

"Athrun juga. Aku juga ingin mendukung apapun yang ingin kau lakukan nanti. Kau bisa memilih yang lain selain jalan militer seperti dulu. Kau suka merakit sesuatu seperti Haro dan Torii dulu kan? Kau bisa melakukannya sekarang. Tapi kalau kau mau kembali ke militer pun, aku juga tidak akan menentangmu."

Tapi aku juga sama seperti Cagalli; aku juga tidak mau menempuh jalur yang aku tahu bakal mengorbankan banyak waktuku nantinya. Aku ingin memanfaatkan waktu yang kami dapat lagi di kehidupan kali ini dengan baik, aku ingin hidup bersama keluargaku, teman-temanku dan tentu bersamanya juga.

Tapi sebelum aku bisa menjelaskan itu, aku mendengar suara Kira memanggil kami. "Cagalli! Athrun!"

Aku langsung berdiri dan Cagalli juga langsung menjauh dariku. Suara langkah kaki Kira terdengar ada di dalam ruang perpustakaan. "Kami di sini!" aku berseru melangkah ke arah lorong supaya bisa terlihat oleh Kira, sementara Cagalli masih ada di balik rak buku.

"Ah, sepertinya orang tua kami sudah selesai bicara. Jadi kami harus bersiap untuk pulang. Athrun, aku pinjam bukumu ini ya," Kira menunjukkan beberapa jilid yang hendak dipinjamnya, dan aku mengangguk. Cagalli muncul dari belakangku dan berlari ke arah Kira. "Ayo Cagalli, kita ke bawah."

Cagalli mengangguk dan mengikuti Kira berjalan ke luar ruangan, tangan mereka bergandengan. Sekilas Cagalli menoleh ke arahku yang mengikuti mereka dari belakang. Ia tersenyum dan mengangguk padaku, lalu perhatiannya kembali kepada Kira.

Sayangnya waktu berdua kami hari ini sepertinya selesai sampai di sini. Aku melangkah untuk mengikuti mereka, tapi sebelum aku keluar tiba-tiba Cagalli berlari kecil menghampiriku, membuatku sedikit kaget.

"Ada apa?"

"Aku lupa mau memberi ini," Cagalli memberiku secarik kertas. Aku membukanya dan melihat deretan angka yang sepertinya nomor telepon. "Ayah memberiku ponsel baru untuk hadiah kelulusan ujian masuk SMP. Jadi sekarang kau bisa mengontakku langsung. Nanti hubungi aku duluan ya." Cagalli tersenyum lebar, lalu ia langsung meninggalkanku lagi sebelum aku bisa melontarkan sesuatu untuk meresponnya.

Aku memperhatikan nomor dalam secarik kertas itu lagi dan tersenyum. Sepertinya pembicaraan kami akan berlanjut lewat ini. Setidaknya aku punya alasan untuk menghubunginya lagi.

Menutup pintu perpustakaan, aku mengikuti Kira dan Cagalli yang sudah jauh beberapa langkah di depanku. Cagalli kembali menengok ke arahku, dan tersenyum penuh arti.

Sama seperti dulu, untuk beberapa waktu kami mungkin harus menyembunyikan hubungan kami ini dari semua orang, termasuk orang terdekat kami. Tapi setidaknya di kehidupan kali ini, aku cukup yakin di ujung penantian kami, akan ada masa depan yang kami nantikan sejak dulu. Waktu di mana kami berdua akhirnya bisa bersama.

Tapi aku tidak keberatan; aku akan menunggu walau berapa lamapun. Bahkan sampai terlahir kembali di kehidupan lain.

Supaya aku bisa bersama denganmu lagi.


Yeeeey, akhirnya bisa ngasih ending yang proper—at least better daripada yang sebelumnya—buat cerita ini.

Kalau ada yang masih baca, makasih karena masih bersedia support cerita dadakan ini. Tapi beneran, akhir-akhir ini kepikiran terus berbagai macam plot terusannya. Jadi mungkin ceritanya bakal dilanjut di omake yang mungkin dekat-dekat ini bakal dipublish. Tapi jadwal update nya mungkin ga seteratur ini ya.

Pinginnya post satu chapter lagi buat epilog, kira-kira cocoknya apa ya? Tadinya pingin ditutup dengan masa depan mereka pas keduanya sudah cukup umur—thanks for the inspiration, Fuyu-san~!—tapi agak khawatir kejauhan timelinenya. Kalaupun ngga di sini, pasti akan tetap dibuat dan dipublish di omake. Ada saran/request untuk epi? Hehe

Buat yang masih ngikutin, I'll see you in the omake series

Cheers~