Love is Like Drama – Chap 3

Original Story by : DL Akevi (AK)

Rate : M

Genre : Romance ft Hurt/Comfort

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : Shounen AI / YAOI / Gay relations / Aneh / Super GaJE / Kriuk-kriuk(?) / Author abal-abal / Typo(s) / pair GAJE / OC / OOC dan kekurangan lainnya.

#Catatan : Dalam chapter ini kemungkinan ada jeruk(?)/lime/semi lemon.

#R and A (Reader and Author) :

Terimakasih kepada : Afuri, Mara997, temma feltson, Lonely'Strawberry, Sky pea-chan, Terimakasih banget untuk reviewnya. Balasannya aku PM ke akun masing-masing ya.. Chapter 3 udah diupdate, selamat membaca.. ^^

.

.

Sasuke terkejut mengetahui siapa tamunya di sore ini.

"Apa kabar, Sasuke" sapa tamu itu, seorang pemuda bermata pualam yang tidak ingin ia temui.

"Mau apa kau?" tanya Sasuke.

"Tidak sopan mengajak tamu berbicara di pintu" kata pemuda itu sambil tersenyum.

"Bahkan harusnya aku tak perlu membukakan pintu untukmu" kata Sasuke tersinggung.

"Hey" Sasuke terperanjat ketika Aiba memaksa masuk begitu saja, dan menabrak bahu kirinya.

"Apartemen yang bagus" komentar Aiba mengelilingi apartemen Sasuke. Ia lalu berjalan menuju meja di ruang baca Sasuke. Sesuatu menarik perhatiannya di situ. Ia meraih sebuah bingkai foto yang tadi juga dipegang Sasuke. Ia tersenyum sesaat.

"Apa maumu?" tanya Sasuke. Aiba tersenyum, ia meletakkan kembali foto itu dan mendekati Sasuke.

"Aku menginginkanmu" kata Aiba tenang.

"Hhh, rupanya kau mengaku Gay, tapi aku tak tertarik padamu" kata Sasuke sinis sambil melipat kedua tangannya.

"Aku tidak mengaku Gay, karena aku memang Gay dan aku tidak pernah menutupinya kok, dan bukankah kita sama?" kata Aiba masih tetap tenang.

"Apa maksudmu?" Sasuke merasa tersinggung dengan kata-kata Aiba.

"Kau tahu Sasuke, aku tahu siapa dirimu" kata Aiba sambil melihat-lihat koleksi buku Sasuke di ruang itu.

"ck" Sasuke berdecak dengan ketus.

"Jadilah milikku Sasuke" kali ini Aiba menatap Sasuke penuh harap.

"Hh, kau membuatku tertawa Aiba. Aku tidak mau" kata Sasuke meremehkan.

"Aku akan memaksamu" jawab Aiba. Dan tidak dihiraukan oleh Sasuke.

Dengan tiba-tiba Aiba menarik paksa tangan Sasuke dan menghempaskan tubuh Sasuke di sofa.

"Apa-apa'an kau! Lepas!" Sasuke memberontak. Tetapi Aiba langsung mencium bibirnya. Aiba lebih berkuasa karena ia menindih tubuh Sasuke.

"Hah, Aiba Sto Hmmp" kembali mulutnya ditangkap oleh bibir Aiba. Aiba bosan dengan mulut Sasuke dan beralih ke daerah leher Sasuke. Ia ciumi setiap inchi daerah itu, menggigitnya sedikit, menjilatinya dan menghisapnya kuat-kuat hingga tercipta sebuah kissmark di sana. Tubuh Sasuke terus meronta-ronta meminta dilepas. Namun Aiba tetap melanjutkan aktifitasnya, ia memasukkan salah satu tangannya ke dalam kaos Sasuke. Meraba-tubuh atletis Sasuke, ia berhenti ketika ia menemukan sebuah tonjolan kecil di dada Sasuke dan memijitnya perlahan.

"Ngh.." akhirnya Aiba mendengar desahan tertahan Sasuke, ia tersenyum bangga di sela-sela ciumannya. Namun walaupun begitu tubuh Sasuke masih saja memberontak. Namun Aiba terus melanjutkan aktifitasnya, ia baru akan melepaskan baju yang menghalangi tubuh Sasuke, tapi gagal ketika sebuah interupsi menganggu pekerjaannya.

-tok tok tok-

Aiba reflek menoleh ke arah pintu, dan Sasuke langsung mendorongnya menjauh dan mengambil jarak dengan Aiba. Aiba sedikit terpental, tapi tidak sampai jatuh.

"Hah,, padahal sedikit lagi, harusnya aku memastikan dulu tidak akan ada pengganggu" kata Aiba tenang tanpa dosa. Sedangkan Sasuke bertambah emosinya ketika mendengar Aiba berkata seperti itu.

"Kita lanjutkan kapan-kapan Sasuke" Aiba tersenyum dan beranjak ke arah pintu.

Ingin rasanya Sasuke membunuh Aiba saat itu juga. Berani-beraninya Aiba mencoba memperkosanya dan mengatakan hal menjijikan seperti itu.

Aiba membuka pintu, dilihatnya ada sosok pria berambut kuning berdiri di depannya.

"Eh hai, rupanya ada kau, sedang apa kemari?" tanya Naruto ramah.

"Tidak ada apa-apa, hanya main saja, dan aku mau pergi sekarang" kata Aiba.

"Oh" Naruto hanya menjawab begitu saja, karena ia juga tak terlalu akrab dengan Aiba.

Setelah Aiba berlalu dari apartemen Sasuke, Naruto masuk dan menutup pintunya.

"Oi Teme, kau kenapa? Kau terlihat berantakan" tanya Naruto heran melihat sikap aneh Sasuke yang sejak tadi tetap berdiri di sudut ruang bacanya dengan keadaan baju kusut dan rambut sedikit berantakan. Dan ia sedikit curiga dengan bekas kemerahan yang tertinggal di leher Sasuke. Namun ia tak terlalu ingin ikut campur dengan kehidupan pribadi Sasuke.

"Tidak ada apa-apa" jawab Sasuke.

"Aku kesini hanya untuk memberikan ini" Naruto memberikan beberapa map kepada Sasuke.

"Ngomong-ngomong kenapa kau memintaku mencari data-data itu Sas?" tanya Naruto.

"Aku ingin memastikan apa dia benar-benar mati atau tidak" kata Sasuke sambil memeriksa dokumen yang ada di tangannya. Ia meminta Naruto untuk mencari data-data tentang kecelakan Sai, mulai dari keterangan kepolisian dan data-data dari pihak kedokteran serta bukti-bukti yang menyatakan Sai benar-benar telah mati. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia melakukan hal itu, ada hal aneh yang ia rasakan akhir-akhir ini.

"Tapi bukankah orang itu sudah mati?" tanya Naruto lagi.

"Entahlah" kata Sasuke ragu.

"Nar, kau yakin data-data ini asli?" Sasuke balik bertanya.

"Aku yakin. Karena orang suruhanku itu adalah orang dalam, dia sahabatku tak mungkin ia mamalsukan itu" kata Naruto yakin.

"Hn" jawab Sasuke.

"Kalau tidak ada hal lain, aku mau pulang sekarang" kata Naruto.

"Ya" kata Sasuke. Sesaat kemudian Naruto berlalu dari hadapannya. Meninggalkannya dengan setumpukan berkas-berkas yang membuatnya bingung. Ia menjejerkan semua foto otopsi yang di dapat Naruto. Mayat yang ada pada foto itu jelas sekali, itu adalah wajah Sai. Tapi ada beberapa kejanggalan yang Sasuke rasakan. Dalam semua foto proses otopsi, tidak ada satupun foto tubuh Sai yang mengambil gambar kepalanya, semuanya berkisar di area leher kebawah. Dan ia merasa janggal dengan adanya dua bekas luka goresan di lengan mayat itu. Seandainya itu bekas luka karena kecelakaan tidak mungkin terlihat seperti itu. Bekas luka-luka itu menurutnya lebih pas seperti luka guratan benda tajam seperti silet. Tapi siapa yang melakukannya? Jika Sai sendiri yang melakukannya, untuk apa Sai melukai dirinya sendiri, kecuali satu hal.

Sasuke menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Sai memakai narkoba. Tapi luka itu benar-benar seperti luka yang biasanya dibuat dengan sengaja oleh seorang pecandu untuk menikmati heroin. Apa Sai memakai narkoba hingga akhirnya ia kecelakaan? Pikirnya. Mungkin masuk akal, seseorang dengan pengaruh narkoba akan kehilangan setengah atau seluruh kesadarannya. Dan kata Sebastian waktu itu, 'Tuan muda menyetir dalam keadaan mabuk'. Sasuke masih belum percaya dengan analisanya. Dan ia baru teringat

Ia mengobrak-abrik dokumen lain mencari data otopsi mayat itu, disana disebutkan bahwa korban hanya mengkonsumsi alkohol dalam jumlah banyak yang membuatnya kehilangan kesadaran. Dan tidak ada data tentang narkoba disitu. Ada yang salah. Pikir Sasuke. Ia kini yakin mayat itu bukan mayat Sai. Tapi dimana Sai yang asli, tapi foto mayat itu benar-benar wajah Sai. Ia juga melihat sendiri saat pemakaman. Tapi entah kenapa ia kini meragukan kebenaran kematian Sai. Ia yakin, mayat itu, mayat dilihatnya itu, yang ia saksikan di upacara pemakaman, bukan mayat Sai. Lalu kemana Sai yang sebenarnya? Atau analisanya salah?

.

.

Pagi itu Sasuke keluar dari apartementnya berniat untuk mencari sesuatu yang dapat mengisi perutnya, ia tak menyadari bahwa seseorang di sudut lain sedang mengawasinya, sesaat kemudian sosok itu mengirimkan sebuah pesan singkat entah kepada siapa.

Sasuke menggunakan lift untuk menuju lantai bawah. Di lift itu hanya ada dirinya, ia tak merasa aneh, karena biasanya memang jarang ada penghuni yang sudah beraktifitas di hari sabtu pagi. Ketika ia sampai di lantai 12, lift berhenti dan terbuka, di sana ada dua orang berbadan kekar yang kemudian masuk lift bersama Sasuke. Pintu lift berangsur menutup dan sesuatu tak terduga terjadi padanya.

Kedua orang itu menyergap Sasuke, salah seorang dari mereka membekap mulut Sasuke dengan saputangan, dan seorang lainnya memegang tangan Sasuke erat-erat. Perlahan Sasuke merasakan kepalanya pusing tubuhnya melemah, dan setelah itu ia tak mengingat apa-apa.

.

"Kerja bagus Bee" kata seorang yang kini sedang menahan tubuh Sasuke agar ia tidak melorot.

"Haha, bos pasti senang Jugo" kata seorang yang dipanggil Bee itu kepada temannya yang bernama Jugo.

Lift berhenti di lantai 7, mereka berdua keluar dengan menyeret Sasuke yang tak sadarkan diri. Mereka tak perlu takut ketahuan oleh penghuni lainnya karena pemilik semua ruang di lantai ini adalah satu orang.

Jugo merogoh kantung jaketnya, ia mengeluarkan sebuah punch card dan menggesekkannya pada pintu bernomor 703. Terdengar suara 'klik' dari pintu itu, kemudian ia membuka pintunya. Lalu Bee membopong tubuh Sasuke dan menjatuhkannya di kasur dalam ruangan itu. Dan sesorang yang berdiri di samping jendela di dekat kasur itu hanya diam memperhatikan.

"Kerja bagus, kalian boleh pergi" katanya tersenyum.

"Baik Bos" kata Jugo. Kemudian mereka berlalu dari ruangan itu.

Perlahan sosok itu mendekati tubuh Sasuke di atas kasurnya. Ia membelai wajah Sasuke dengan lembut. Ia lalu merendahkan kepalanya untuk menatap wajah Sasuke lebih dekat. Perlahan ia menempelkan bibirnya pada bibir Sasuke beberapa saat.

"Ini hukuman karena kau selalu menolakku Sasuke" katanya pelan.

.

.

-Tck-

Suara decak kesal keluar dari bibir seorang pemuda blonde yang sedang mondar-mandir di dalam kamarnya.

"Kemana kau Sas?" tanyanya pada gadget yang ia pegang, namun tak memberikan jawaban. Padahal ia ingin memberitahu informasi penting.

.

.

Sasuke menggeliat tak nyaman di dalam selimut tebalnya, tubuhnya tak dapat ia gerakkan dan kepalanya terasa sangat pusing. Ia mencoba mengubah posisinya menjadi duduk. Ketika ia mencoba bergerak, satu hal yang pertama kali ia sadari adalah tangan dan kakinya terikat pada setiap ujung kasur.

"Kau sudah bangun rupanya" kata seseorang yang duduk di sofa di samping kasur.

"Kau!" Sasuke menggeram. Ia tak menyangka yang melakukan semua ini adalah Aiba.

"Lepaskan aku Aiba!" Bentak Sasuke.

"Tidak" kata Aiba datar.

"Oh ya Sasuke, besok adalah tayang perdana film kita kan? Apa kau mau melihatnya sekarang? Aku sudah lihat lho" kata Aiba seiring ia melangkah menuju meja yang tepat berada di depan kasurnya. Ia mengambil remote control sebuah layar flat 32 inchi yang tertempel pada dinding di depan kasurnya.

"Hmm, aku sedikit kecewa pada love scene yang kita mainkan berdua. Kau tidak profesional Sasuke" katanya meledek.

"Brengsek!" Sasuke kembali membentak penuh amarah.

"Harusnya kau lebih profesional Sasuke" kata Aiba.

"Hmm, profesional yang... seperti ini" lanjutnya, dengan diiringi gerakan tangannya menekan sebuah tombol pada remote yang ia pegang. Perlahan muncul cahaya dan terdengar sebuah suara dari layar datar itu.

Iris Sasuke seketika terlihat membulat sempurna melihat gerakan grafis yang tertangkap oleh matanya. Sebuah suara menyusul menyeruak ke dalam gendang telinganya. Membuat dadanya sesak.

"Aku mencintaimu, Sasuke"

.

.

#CurcolGaje : hoa hoa hoa *treak2 ala indian* akhirnya saya bikin multichap (padahal baru tiga chapter di bilang multi XD) Saya mengetik fict ini dengan penuh kegalauan, ~mau di bawa kemana alurnya~~ *nyanyi**plak* Rencananya fict ini akan saya akhiri di chapter 4. Itu baru rencana sih, ga tau kalo tiba-tiba ada tambahan ide lagi. Ok, review ya.. dan see u next chapter ^^