#CurcolGaje : hoa hoa hoa *treak2 ala indian* akhirnya saya bikin multichap (padahal baru tiga chapter di bilang multi XD) Saya mengetik fict ini dengan penuh kegalauan, ~mau di bawa kemana alurnya~~ *nyanyi**plak* Rencananya fict ini akan saya akhiri di chapter 4. Itu baru rencana sih, maka dari itu saya mau voting, siapa yang mau fict ini dipanjangin, ato diakhiri aja di next chapter.
So please.. review untuk kelangsungan hidup fict ini *blink no jutsu* ^^
Love is Like Drama – Chap 4
Original Story by : DL Akevi (AK)
Rate : M
Genre : Romance ft Hurt/Comfort
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : Shounen AI / YAOI / Gay relations / Aneh / Super GaJE / Kriuk-kriuk(?) / Author abal-abal / Typo(s) / pair GAJE / OC / OOC dan kekurangan lainnya.
#Catatan : Dalam chapter ini kemungkinan ada jeruk(?)/lime/semi lemon. Lama-lama saya ngerasa ini ga nyambung ama judulnya. T.T
#Balesan review :
Afuri : hmm, ya gitu deh :D ini posisinya dibalik, uke jadi seme, tapi aku lebih suka Sasuke jadi UKE *chidoried* XD makasih reviewnya.
Mara997: Gomen, emang pendek, inspirasi mepet T_T . Final chap udah diupdate, met baca.
Rei-Kun 541 : makasih reviewnya :) ini udah diupdate, met baca ^^
Hmm, akhirnya final chap, selamat membaca.
.
Iris Sasuke seketika terlihat membulat sempurna melihat gerakan grafis yang tertangkap oleh matanya. Sebuah suara menyusul menyeruak ke dalam gendang telinganya. Membuat dadanya sesak.
.
"Aku mencintaimu, Sasuke" ucap Sai dengan lembut di depan wajah Sasuke. Perlahan ia mengecup lembut bibir Seme yang berada di atasya itu.
"Sai" Sasuke menyentuh bibir Sai dengan jari-jarinya.
Sai meraih tangan Sasuke, membawanya menyentuh wajah Sai.
"Aku tau kau tak pernah yakin akan hubungan ini Sasuke, tapi aku mohon, percayalah bahwa aku sangat mencintaimu" Sai menatap Sasuke dengan penuh ketulusan di dalamnya. Sasuke tak menjawab, ia hanya diam. Sai bergerak mendekati wajah Sasuke, menghapus jarak diantara keduanya.
Kedua manusia itu saling berpaut, saling mengecap dan berbagi kehangatan masing-masing. Deru nafas tak beraturan terdengar saat keduanya melepas pagutan yang penuh hasrat.
Sasuke beralih menjelajahi bagian lain tubuh Sai dengan lidahnya. Ia perlakukan setiap bidang yang ia lewati dengan lembut.
Rintihan dan desahan mengalun dalam ruangan itu, sebagai pembuktian atas penyerahan seluruh jiwa dan raga sang manusia yang terbelenggu dalam tirani yang ia sebut cinta.
Sai menggigit bibirnya menahan rasa perih pada tubuh bagian bawahnya ketika Sasuke mencoba untuk menyatukan dirinya. Keduanya bergerak seirama menghasilkan decitan-decitan dan suara khas orang bercinta yang mereka abaikan, desiran hasrat keduanya lebih besar dari segalanya.
.
Sajian audio visual yang terproses dalam otak Sasuke membuatnya merasa sangat sakit, dadanya terasa sesak seperti terhimpit sebuah batu besar menghalangi nafasnya. Ia tak percaya, saat ini ia menyaksikan dirinya sendiri melakukan hal yang ia katakan menjijikan.
"Cukup Aiba! Hentikan!" bentak Sasuke dengan matanya yang terpejam erat. Ia tak mau melihatnya lebih jauh. Namun alunan suaranya dan Sai terus menggema di ruangan itu.
"Hmm" Aiba menyeringai. Ia meletakkan remote yang ia pegang ketempatnya semula tanpa menghentikan 'pertunjukan' di dalam layar.
Sasuke terkejut dan segera membuka matanya ketika ia merasakan tubuhnya ditindih sesuatu. Ia bertambah kaget saat di depan wajahnya telah ada wajah Aiba. Sasuke terdiam dengan nafasnya yang tak teratur menahan amarahnya.
"Kau terlihat begitu menderita Sasuke" kata Aiba dengan menyentuh wajah Sasuke. Sasuke segera menepis tangan Aiba dengan memalingkan kepalanya, kedua tangannya yang terikat tidak membantunya sama sekali. Dalam kepalanya berkecambuk berbagai pertanyaan. Apa hubungan Sai dengan Aiba, darimana Aiba mendapat semua rekaman itu, apakah Sai adalah Aiba? Keduanya terlihat berbeda, namun suara mereka mirip.
Aiba mengecup perlahan bibir Sasuke, namun ia mendapat penolakan dari pemiliknya.
"Apa-apa'an kau!" bentak Sasuke. Aiba tak menjawab. Ia malah kembali memagut bibir Sasuke, kali ini dilakukannya secara paksa. Ia menggunakan salah satu tangannya untuk memegangi dagu Sasuke, agar ia tak dapat mengelak.
"Hmpp.. Stop! Ai -mpp" Aiba mencoba masuk lebih dalam, mengecap rongga mulut Sasuke dengan lidahnya, dan mengajak lidah Sasuke menari bersamanya.
Sasuke tak memiliki jalan keluar, ia tak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan seperti ini. Walaupun begitu, ia masih mencoba melepaskan diri sampai pergelangan tangannya sedikit lecet karena bergesekan dengan tali.
"mmmpphh hah.." deru nafas Sasuke memburu ketika Aiba melepaskan bibirnya.
Aiba memandangi Sasuke sejenak, dan ia tersenyum dan kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Sasuke.
"Aku punya kejutan lain untukmu" kata Aiba, belum sempat mencerna kalimat Aiba, sedetik kemudian Aiba menyibak selimut tebal pada Sasuke yang ia anggap penghalang. Kini terpampanglah tubuh polos Sasuke yang terlihat indah bagi Aiba. Sasuke yang menyadari bahwa ternyata ia tak tertutup apapun di balik selimut itu kembali memaki dirinya sendiri. Bibirnya tergerak untuk memaki-maki Aiba, namun sebelum kata-kata itu tersampaikan ke atmosfer, Aiba segera menangkup bibirnya.
"Nghh,.." Sasuke mendesah disela-sela ciumannya ketika ia merasakan miliknya disentuh, dan dipermainkan. Aiba menggenggam kejantanan Sasuke dan melakukan gerakan in-out tempo sedang.
Aiba merasakan benda yang ada pada genggaman tangannya mulai mengeras, dan perlawanan dari Sasukepun melemah.
"Ahh Henti,, nghh" erang Sasuke ketika Aiba berpindah ketelinganya.
Aiba menjilati daun telinga Sasuke dan mengigitnya perlahan, ia merosot kebawah sedikit di leher Sasuke. Ia kecup perlahan semua bidang di daerah itu, kemudian ia menggunakan lidahnya untuk mengecap rasa Sasuke, dan menggigitnya tidak terlalu keras, ia kecup lagi, ia jilati, lalu gigit, ia lakukan itu berulang-ulang hingga muncul banyak berkas kemerahan di leher Sasuke.
Aiba bergerak turun lagi, namun ia menyempatkan diri untuk melihat sejenak wajah Sasuke. Ia tersenyum melihat Sasuke menggigit bibirnya untuk menahan desahan dan kedua matanya yang ia paksa terpejam dengan wajah kemerahan.
Aiba melanjutkan aktifitasnya, ia merosot lebih kebawah, ke dada Sasuke. Otaknya mencerna bahwa kejantanan Sasuke yang dipermainkan oleh tangannya mulai mengeluarkan cairan pre cum. Ia tersenyum ia melihat kedua nipple Sasuke menegang, meminta untuk disentuh. Aiba dengan hati menerima tawaran itu. Ia kecup salah satu nipple Sasuke, ia mainkan dengan lidah dan giginya membuat sang pemilik tubuh semakin mengeratkan bibirnya untuk menahan desahannya.
"Jangan ditahan Sasuke" kata Aiba disela-sela aktifitasnya. Ia berpindah ke nipple yang satunya. Dan ia mempercepat gerakan tangannya sehingga membuat otot-otot tubuh Sasuke semuanya menegang.
"Nghh...Ahh.." Sasuke melepaskan suaranya ketika aliran hasratnya keluar begitu saja mengotori tangan Aiba.
"Hmm, kau menikmatinya Sasuke?" tanya Aiba meremahkannya. Namun Sasuke hanya diam tak menjawab. Entah karena ia putus asa karena yang ia tak dapat melakukan apa-apa, atau karena ia berpikir keras, siapa orang yang ada di hadapannya itu.
Aiba kembali mencium bibirnya dengan paksa.
"Akh..." Sasuke memekik pelan saat tiba-tiba kedua jari Aiba memaksa masuk pada liang rektumnya. Ia dapat merasakan jari-jari Aiba bergerak zig-zag di dalam tubuhnya.
"Akh,. Kumohon,. Hen,, ti, kan" ucap Sasuke dengan susah payah ketika Aiba memaksa menambah satu jarinya masuk ke dalam lubang rektum Sasuke. Namun Aiba tak menghiraukannya ia masih mencoba sedikit melonggarkan lubang sempit itu.
Aiba mencabut ketiga jarinya, dan melepas ikatan kaki Sasuke dengan cepat. Sasuke sudah tak melawan seperti tadi. Ia membuka kancing dan resleting celana hingga memperlihatkan miliknya yang sudang menegang sedari tadi. Lalu Ia memposisikan dirinya diantara kedua kaki Sasuke, tepat dihadapan rektum Sasuke. Aiba memegangi kedua kaki Sasuke dengan erat saat ia memasukkan milikknya pada rektum Sasuke. Sasuke menggigit bibirnya, dan kedua tangannya mencengkeram pinggiran seprei dengan erat.
"Ahh" Aiba mendesah saat ia berhasil masuk seluruhnya ke dalam tubuh Sasuke. Ia terdiam sejenak membawa wajahnya menuju wajah Sasuke, ia sentuh dengan lembut wajah Sasuke, menghapus airmata yang keluar dari mata pualam itu. Ia akhirnya melepas ikatan pada kedua tangan Sasuke. Dan membawa tangan Sasuke menyentuh wajahnya.
"Aku sangat mencintaimu Sasuke, sangat" kata Aiba dengan nada penuh ketulusan. Sasuke menatap kedua mata yang memandangnya itu, dan kini iya yakin dengan hatinya siapa sebenarnya pemuda itu.
"S-Sai,," Sasuke memantapkan dirinya untuk kembali menyebut nama yang telah lama tak terucap dari bibirnya. Aiba tersenyum lembut. Ia tahu bahwa Sasuke pasti akan menyadari siapa dirinya yang sebenarnya.
Dikecupnya bibir Sasuke yang bergetar, Sasuke memejamkan matanya, kini ia tak lagi menolak justru membalas perlakuan Sai. Lama-kelamaan kecupan itu berubah menjadi ciuman panas dua insan yang memendung rasa sakit dan kerinduan yang mendalam, menciptakan sebuah hasrat untuk saling memiliki dan tidak ingin melepas satu sama lain.
"hah ah ah , ah, sa-ai,, ah" Sasuke mendesah tak teratur saat Sai bergerak dalam tubuhnya dan menubruk titik kenikmatannya berkali-kali hingga membuatnya hilang kendali.
.
"suki, sukidayo,, Sas-ke" ucap Sai ketika ia merasakan dirinya hampir keluar.
"Oremo, suki, Sai- ahn ahh" Sai tersenyum senang, karena ini pertama kalinya Sasuke menjawab pernyataannya. Sai mempercepat gerakan in outnya dan membuat Sasuke mendesah lebih keras sampai akhirnya Sasuke menumpahkan seluruh cairannya dan tercecer mengenai perutnya. Disusul dirinya sendiri yang ia keluarkan di dalam tubuh Sasuke.
"Ahh" desah keduanya bersamaan, lalu Sai memeluk tubuh Sasuke. Ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Sasuke yang bersahut-sahutan dengan miliknya.
"Terimakasih"
.
"Kenapa kau sampai melakukan semua itu padaku bodoh" ucap Sasuke yang masih memeluk kepala Sai yang berada di atas perutnya.
"Itu salahmu sayang" jawab Sai.
"Hah.." Sasuke menghela nafas, ia mengakui kesalahannya.
"Ma'af" kata Sasuke kemudian dengan nada yang sangat tulus.
"Tanpa kau memintanya, aku sudah mema'afkanmu Sas, dan tanpa kau minta diriku, hatiku, aku telah menyerahkan seutuhnya padamu" jawab Sai dengan sedikit mengangkat wajahnya memandang lurus wajah Sasuke. Ia menemukan ada rasa sesal dalam ekspresi wajah Sasuke.
"Ma'af" sekali lagi kata itu meluncur dengan bebas dari bibir Sasuke.
Sai beringsut menuju wajah Sasuke, dan mengecup singkat bibir orang yang sangat ia cintai itu.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu?" Sasuke membuka suara lagi.
"Apa?"
"Bagaimana kau selamat dari kecelakaan itu dan siapa mayat itu, wajahmu.." Kata Sasuke menggantung dan jemari tangannya menelusuri lekuk wajah Sai, yang sangat berbeda dengan Sai yang ia kenal dulu, tapi jiwa dalam raga itu tetap Sai yang ia kenal dulu.
"Jika aku menceritakannya, kau tak akan meninggalkanku lagi?" tanya Sai. Sasuke terdiam sejenak, memandangi wajah Sai.
"Tidak" jawab Sasuke mantap.
.
"Kabuto-san, aku mohon, bantu aku" Seorang dokter muda yang dipanggil kabuto itu hanya menatap ragu pada pemuda di depannya yang meminta hal yang penuh resiko dan terbilang gila. Pemuda itu mengatakan bahwa, ia ingin agar dokter muda itu mengoperasi wajahnya setelah ia mengalami kecelakaan dari hasil percobaan bunuh dirinya, dan lebih gila lagi pemuda itu meminta sang dokter untuk membuat kamuflase kematiannya. Yang ia pikirkan, bagaimana pemuda itu sangat yakin bahwa ia tak akan mati dengan rencana konyolnya itu, terjun ke dasar sungai.
"Baiklah, itupun karena kau anak Danzo, dan aku berhutang banyak pada keluargamu" kata dokter muda itu pada akhirnya. Ia memang mengenal ayah pemuda itu, Danzo, ia adalah orang tua angkat kabuto yang membantunya hidup dan bersekolah hingga akhirnya ia menjadi seorang dokter muda ahli bedah yang terkenal.
.
Sasuke menahan gertakan giginya yang geram mendengar penjelasan Sai.
"Kau marah Sasuke?" tanya Sai.
"Ya" Sasuke menjawab jujur, namun wajahnya tidak menampakkan kemarahan.
"Ya, aku marah pada diriku sendiri yang membuatmu seperti ini"
" "
"Apa yang bisa kulakukan untuk menebus semuanya?" tanya Sasuke kamudian.
"Kau tidak keberatan dengan posisi seperti ini 'kan?" Sai menjawab dengan senyuman khasnya, posisi yang ia mahsud adalah posisi ia sebagai seme, dan sebenarnya Sai itu adalah seme yang sebenarnya, ia hanya mengalah dan menyerahkan posisi itu pada Sasuke, karena ia ingin Sasuke tahu, bahwa ia benar-benar menyerahkan seluruh jiwa raganya pada Sasuke.
"Aku rasa, menjadi ukemu bukan ide yang buruk" jawab Sasuke disertai senyumnya yang mengembang. Dan lagi, kedua insan itu saling berpaut, menyempurnakan serpihan-serpihan perasaan yang telah terkumpul menjadi satu, cinta.
.
.
.FIN.
#hiks hiks, akhirnya tamatlah sudah fik Gaje ini,, gimana gimana? Aneh ya? Ma'af, saya susah dapat kemistrinya si *alesan* Yosh,, saya mau tau pendapat reader semua..
-Review ya -
