LOVE HER LOVE HER 3
BRING BRING BRING BRIN—
PLAKK!
Emily mematikan jam beker yang membangunkannya tepat jam lima pagi. Dia sengaja bangun pagi karena ingin cepat-cepat melihat bagaimana perangkapnya bekerja di rumah Jack. Setelah mengucek mata berkali-kali, dia segera bangun dan mengganti pakaiannya dengan t-shirt hijau dan jeans miliknya dan segera berlari keluar Inn tanpa diketahui penghuni Inn lain.
"Semoga dia sudah bangun, semoga dia sudah bangun, semoga dia sudah bangun!" bisik Emily penuh semangat pada dirinya sendiri, sambil berlari menuju pertanian Jack.
- Jack's Farm -
Emily mencoba memanjat naik keatas atap rumah Jack, namun entah kenapa dia merasa tak kuat memanjat seperti tadi malam. "Ugh—Kenapa susah sekali...?"
Setelah berusaha sedikit, Emily akhirnya berhasil memanjati atap rumah Jack. Setelah itu, Emily membuka lubang genteng dan masuk melalui ruangan sempit bagian atas langit-langit, dan mengintip Jack melalui lubang-lubang langit.
Jack masih tertidur dengan pulas di tempat tidur, dengan dengkuran yang cukup terdengar bagi Emily.
"Huh, dia masih tidur... Ya sudahlah, nanti saja lagi Emily datang..." Emily menghela napas, mengacuhkan debu yang sedikit mengotori badan dan rambutnya, lalu memutuskan untuk naik ke atas genteng lagi untuk keluar dari rumah Jack.
Kaki Emily tanpa sadar menginjak genteng yang licin, menyebabkan keseimbangan Emily mulai miring dan mulai membuat dirinya terjatuh.
"KYAAAAA!" teriak Emily.
BRAK! BRUK! GABRUK!
Badan Emily sempat terguling di genteng dengan cepat, lalu Emily terjatuh ke sesuatu yang empuk.
"Adudududuh... Sakiiiit..." rintih Emily sambil memegangi kepalanya yang sempat terbentur genteng barusan. Namun dia sadar, kini dia telah terjatuh diatas seseorang hingga membuatnya terlindas oleh Emily.
"Ya ampun! Kau tak apa-apa?" tanya Emily panik. "Maaf, aku tak bermaksud untuk—"
Orang berjaket hitam yang dilindas Emily barusan mendadak menyentuh pipi Emily yang tersepuh debu. "Debu menutupi bagian luar... Namun dibalik itu terdapat kecantikan yang indah dari dalam... Katakan, wahai Cinderella, apa yang kau lakukan di pagi buta begini?"
Emily tersentak, baru kali ini mendengar ada orang yang memanggilnya seperti itu. "E—Emily bukan Cinderella—"
"Oh, namamu Emily, ya? 'Selalu ingin tahu dan penasaran'... Itu arti namamu kan? Kau benar-benar gadis yang selalu ingin tahu, bahkan kau sampai berani mencoba meloncat melihat keindahan matahari terbit di pagi hari dengan memanjati atap rumah orang lain... Benar-benar gadis yang lucu," puji orang itu.
"E—Enak saja! Emily nggak nyoba kayak gitu!" Emily segera bangkit. "Nih! Emily punya plester, kalau ada yang luka, pasang saja itu, ya!" Emily memberikan sebuah plester pada orang berjaket itu lalu berlari ke Inn.
Orang berjaket itu tersenyum, sambil membuka tudung jaketnya, memperlihatkan rambutnya yang berwarna silver. "Emily ya namanya... Hmm..."
-_-_-_- Next -_-_-_-
Emily berlari menuju Inn, dan segera menutup pintunya tepat disaat para penghuni Inn mulai terbangun. Dia berlari menuju kamar mandi dan bergegas mandi sebelum berebutan kamar mandi dengan Cliff ataupun Gray.
"Ahh~ Segar!" Emily keluar dengan balutan handuk tebal, sambil berjalan menuju kamarnya untuk mengganti bajunya ke baju yang lain.
Selagi memakai t-shirt hijau tua dengan hotpants, Emily menatap jam. "Jam 6 lebih! Fiuh, Emily aman!" katanya dengan semangat, sambil segera berlari turun ke bawah untuk sarapan.
"PAGIII!" teriak Emily seperti biasa, menyapa ketiga teman-temannya yang sudah berkumpul di meja makan, kecuali Ann yang sedang membawakan makanan untuk Gray dan Cliff.
"Pagi, Emily," sapa Ann. "Seperti biasa, kau selalu semangat, yah,"
"Ehehe!" Emily mengangguk dengan semangat. "Sarapan hari ini apa, Anncchi?"
"Hari ini kita sarapan nasi kare, dan makanan penutupnya adalah Moon Dumpling. Sejak hari ini adalah hari Moon Festival, tak ada salahnya memakan Moon Dumpling di Moon Festival kan? Ehehe~" Ann meletakkan tiga piring nasi dengan kare yang masih hangat dan terakhir membawa tiga porsi masing-masing tiga tusuk Moon Dumpling pada Emily, Cliff, dan Gray. "Oke, selamat hari Moon Festival~"
Setelah Ann pergi ke dapur, mereka bertiga memakan sarapan mereka dengan tenang.
"Oi, Gray-kun," panggil Emily perlahan sambil menyentil ujung baju Gray. "Kau lupa belum ambil Moon Dumpling dariku kan? Setelah makan, ke kamar cewek, tuh."
"Eh—Oh—Oh ya, oke," Gray mengangguk dengan tergesa-gesa sambil memakan kare bagiannya. Mukanya memerah mengingat kejadian saat masuk ke kamar cewek tanpa mengetuk terlebih dahulu. "So... Soal kemarin, Emily, aku—"
Lagi-lagi Emily menyumpal mulut Gray dengan kepala sendok Emily. "Awas kalau kau ngomong-ngomong soal yang kemarin, oke?" tanya Emily dengan ketawa setannya yang jarang dikeluarkannya, membuat mental Gray lagi-lagi menurun drastis.
"O... Oke..." jawab Gray pasrah. Dia takkan bisa apa-apa tanpa bantuan Emily, karena itu dia hanya bisa pasrah saja.
"Bagus," bisik Emily, meneruskan sarapannya yang sempat tertunda tadi.
Untung saja Cliff sibuk memakan sarapan, makanya dia sama sekali tak bicara dan malah berkonsentrasi untuk menikmati detik-detik nikmatnya makanan favoritnya. Dia baru saja bereaksi saat acara sarapan usai, yaitu menghampiri Ann.
Emily melihat tingkah Cliff. Terlihat dari air mukanya bahwa dia ingin mengajak Ann untuk menonton Moon Festival, sedangkan Ann tetap saja sibuk mengelap meja bar. Lagi-lagi Emily menghela napas.
TUKK.
Emily mendorong Cliff mendekati Ann. Bisa dikatakan kini posisi Cliff seperti sedang berpelukan dengan Ann sekarang.
"Hah? Oh, ada apa Cliff?" tanya Ann sambil menoleh ke arah Cliff yang mukanya memerah.
"Anu, hari ini... Hari ini kan hari Moon Festival... Mau nggak... Mau nggak..."
"Oh, pergi ke gunung ngeliat bulan? Kenapa nggak? Aku juga lagi senggang karena lagi libur gini. Kita pergi sama-sama jam 6 kurang, ya!" Ann menepuk pundak Cliff yang mukanya semakin memerah bagaikan dibombardir dua kali.
"O... Oke..." jawab Cliff heran. Rencananya untuk mengajak Ann sukses dengan mudahnya. Kenapa bisa semudah ini? Itulah yang kira-kira dipikirkannya.
Emily menghela napas sambil tersenyum kecil. Dia menghabiskan Moon Dumpling miliknya dan menuju kamar untuk beristirahat sebentar, karena hari ini Emily memang mendapat libur dari Claire.
- 2nd floor of Inn, girl's room -
TOK TOK TOK
"Hee? Siapa itu?" tanya Emily sambil bangkit dari tempat tidur menuju pintu. Saat dibuka, terlihat Gray yang sedang berdiri, dilengkapi dengan muka yang tersepuh kemerah-merahan.
"Engg... Aku—hanya—mau—ambil—kuenya—saja..." sahut Gray dengan suara yang terputus-putus, masih teringat dengan apa yang terjadi dulu.
Lagi-lagi Emily memperlihatkan aura seramnya untuk membuat Gray diam, dan itu benar-benar berefek hebat untuk Gray.
"Nih~!" Emily memberikan sekotak Moon Dumpling yang sudah dibuatnya. "Ini pakai perisa strawberry, favoritnya boss~! Kau kasih saat lagi good time ya!"
"Eh... Eng... Oke, makasih ya..." sahut Gray sambil menerima sekotak tupperware yang diberikan Emily. Dia buru-buru kabur dari kamar Emily sebelum 'ditembak' dengan aura kejam Emily.
Emily tertawa kecil dengan tingkah Gray yang sangat pemalu—hampir menandingi malunya Cliff malah. Yah, ini adalah hari pertama Gray kencan dengan bosnya Emily, ya, tentu saja Claire. Siapa sih yang nggak deg-degan kalau kencan dengan orang yang disukai?
"Oh iya! Apa jebakannya sudah berjalan lancar belum ya?" Emily baru sadar. Semua jebakan yang dibuat di rumah Jack belum dipastikan apakah bekerja dengan baik atau tidak! Harus dicek! pikir Emily. Dia mengambil syal miliknya dan berlari menuju pertanian Jack.
-_-_- Jack's Farm -_-_-
Jack terbangun sambil menguap lebar dan mengangkat kedua lengannya. "Huaaaaaaaahhhh..."
Emily yang berada di luar pertanian Jack mengintip Jack dari jendela rumahnya sambil tertawa kecil. Tidak sabar melihat efek jebakannya bekerja atau tidak.
Jack baru saja memakai sepatunya saat ada cairan licin di sekitar kasurnya. "Uh... Apaan nih? Minyak?" teriak Jack kaget sambil terpeleset.
SWING~
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHH!" jerit Jack lantang sselagi kakinya terpeleset hingga membuatnya meluncur melalui tivi, lemari, jam cuckoo, hingga Jack menabrak lemari dapur.
BRAKK!
"Auw..." ringis Jack kesakitan. Dia memegangi daerah sekitar pahanya sambil meraung sedikit. "Sakit banget! Siapa sih yang..."
Saat Jack mau berdiri, lagi-lagi minyak yang ada di lantai membuatnya terjatuh dan membuat kepalanya menghantam rak bumbu. Wajar saja Jack jatuh—karena ada seseorang yang mengepel lantai kamarnya dengan minyak.
BRAK!
"Uhuk! Uhuk!" Jack terbatuk-batuk karena terkena bubuk garam, merica, dan gula secara bersamaan. Sempat juga dia bersin karena merica, dan agak kelilipan karena terkena bubuk miso. "Siapa yang iseng pagi-pagi nih—AAAAAAH!"
PRUK
Ada yang membuat sebungkus tepung terigu besar menghantam kepala Jack sampai bungkus terigunya sobek. Bubuk berwarna putih langsung berhamburan di sekitar punggung dan seluruh permukaan tubuh Jack.
"Uhuk uhuk..." Jack terbatuk-batuk lagi karena ada beberapa bubuk tepung yang masuk ke mulutnya. Rambutnya yang berwarna cokelat acak-acakan kini bercampur dengan tepung. "Aku harus mandi atau kalau nggak..."
Jack berusaha mati-matian merangkak dan hampir mengesot masuk ke kamar mandi. Dia lega karena tidak ada satupun minyak di lantai kamar mandi. Badannya sekarang dilapisi dengan tepung terigu, gula, garam, merica, miso, dan juga minyak yang membuat tubuhnya terasa sangat lengket dan bau.
"Mandi dulu ah..." Jack berjalan masuk ke shower dan menyalakannya. "Fuu-AAAAAAAAAAAHHHH!"
Shower yang ada di kamar mandi Jack mengeluarkan lumpur dan cacing. Dengan segera Jack mencoba mematikannya, namun sialnya kerannya rusak dan terus mengeluarkan lumpur.
"GYAAAAAAAAAAA!" teriak Jack stress.
Namun, setelah menunggu agak lama, akhirnya keluar juga air hangat yang sudah diatur Jack sebelumnya. Jack kebingungan selagi sibuk membersihkan dirinya. Dia mengoleskan sabun ke seluruh badannya dan menggosok rambutnya dengan shampoo untuk keramas.
SRRRR
Seusai mandi, Jack mengeringkan badannya dengan handuk dan memakai overall yang baru.
"Tinggal sikat gigi deh," Jack mengambil pasta gigi dan mengoleskan krimnya ke sikat gigi miliknya. Saat dia menyikat giginya, dia langsung berteriak lantang. "PEDAAAAAAAAAAAAAASSSS!"
Ternyata pasta gigi Jack sudah diganti dengan wasabi. Pantas saja Jack langsung kepedasan dan menelan air yang ada dari shower. Setelah sudah agak tenang, Jack membersihkan sikat giginya dan keluar dari kamar mandi.
Tapi...
"Uh, kok gatal nih?" Jack panik sambil menggaruki badannya tanpa henti. Ternyata ada bubuk gatal di sabun dan shampoo yang dipakai Jack untuk mandi dan keramas tadi. Dia kontan langsung berlari.
"GYAAAAAAAAA!"
Jack lupa kalau lantai rumahnya masih diolesi dengan minyak licin. Dia meluncur dan menghantam dinding berkali-kali hingga basah dengan keringat dan minyak licin lagi.
"... Sialan!" teriak Jack kesal. Kini dia mencoba untuk hati-hati mengesot dan mengambil kain pel dan ember dengan air bersih. Dia mengepel lantai rumahnya buru-buru dan agak kesusahan karena airnya kesusahan bercampur dengan minyak.
Tiga jam berlalu. Setelah lantai rumahnya bersih, Jack bisa berjalan di sekitar lantai rumahnya dengan aman. "Fuh..." Jack menghela napas lega. Dia menuju kamar mandi lagi untuk mandi.
Seusai mandi (setelah berteriak karena lupa pasta giginya sudah diganti menjadi wasabi lagi) Jack merapikan rambutnya lalu menggunakan topi miliknya terbalik, seperti biasa.
"Egh?" Jack berteriak kaget. Ada sesuatu yang bergerak-gerak dan licin di dalam topinya. Saat Jack melepaskan topinya, ada segerombolan cacing yang menggeliat di atas kepala Jack. "GYAAAAAAAAAAAA!"
Jack berlari membuka jendela dan membukanya buru-buru untuk mengusir cacing di kepalanya. Saat Jack selesai mengusir cacing, Emily yang berada di luar rumah Jack diam-diam melepaskan penahan jendela tempat Jack berada hingga tertutup dan menghantam dahi Jack.
BRAK!
"AAAAAAAAAAAWWW!" teriak Jack lagi sambil menjauh dari jendela. Dahinya terasa nyut-nyutan karena terbentur jendela dengan kencang. "Siapa sih yang iseng!" omelnya pada dirinya sendiri.
Dia berlari mengambil kotak P3K dan mengambil plester. Setelah itu, Jack menempelkan plester ke arah dahinya yang terasa sangat panas. Setelah selesai, dia berjalan dengan badan yang nyut-nyutan yang sudah bercampur dengan gatal-gatal dan ngilu karena terkena bubuk gatal dan terbentur dinding berkali-kali.
Jack terdiam saat melihat secarik kertas yang tertancap kunai di pintunya.
Selamat pagi Jackkun!
By : Emily
Jack merampas kertas catatan itu dan meremasnya kuat-kuat. "EMILLLLYYYYYYYYYYYY!"
Sementara itu, Emily sudah kabur dari pertanian Jack sambil tertawa kencang. Semua jebakan yang sudah disiapkan untuk Jack berjalan dengan sangat lancar.
"Ahahahaha! Muka Jack kasihan banget! Ahahahahaha!" teriak Emily puas sambil berjalan menuju Doug's Inn sambil tertawa kecil.
-_-_-_- Claire's Bakery Store -_-_-_-
Sudah jam 5 sore. Emily juga sudah menyiapkan jebakan tambahan dalam perjalanan menuju Mother's Hill juga.
"Ayo kita pergi Gray!" ajak Claire sambil tersenyum riang pada Gray.
"Ba, baik Claire..." jawab Gray gugup sambil tersenyum sebisanya. Emily melototinya hingga membuat Gray mencoba tersenyum lebih lebar lagi pada Claire.
"Kamu kenapa Gray? Kok kayaknya panikan..." tanya Claire.
"Ngg, nggak kok! Yuk, kita ke Mother's Hill..." ajak Gray sambil menujuk ke luar. Claire mengangguk polos sambil tanpa sadar menggapai tangan Gray yang sudah keburu panas.
Emily tertawa kecil melihat kegugupan Gray lagi dari belakang. Setelah bersih-bersih toko, Emily menguncinya dan mengenakan syal miliknya kembali.
"Emily mau ngikutin ah~" kata Emily pada dirinya sendiri sambil mengikuti Gray dan Claire dari kejauhan sekitar 10 meter. Jarak yang cukup jauh kan?
Sementara itu, Jack yang sudah mandi sekitar tiga kali (untuk menghilangkan bubuk gatal dari tubuhnya dan minyak yang super lengket) bersembunyi di belakang pohon sambil memandang kesal. "Awas kau Emily..." bisiknya kesal.
Emily sadar kalau ada Jack di belakangnya dan dia hanya tersenyum jahil. Dia membiarkan Jack mengikutinya dari belakang hingga sampai ke Kappa's Lake.
Jack terus saja mengikuti Emily—dia sudah lupa dengan tujuan semulanya untuk merebut Claire dari Gray.
Emily menghentikan langkahnya di depan Kappa's Lake.
Jack buru-buru bersembunyi di pohon sebelah kanan Kappa's Lake. Tanpa sadar, ada jebakan Emily yang sudah bekerja.
ZETT
"Gyaa?" jerit Jack kaget saat ada sebuah tali yang menjerat kaki kanannya dan membuatnya tergantung terbalik di atas pohon.
"Jackkun kena~ perangkapku yang ke 5763 (gokurosan)!" teriak Emily senang sambil tertawa riang. Dia berjalan dengan santai ke arah tempat Jack tergantung terbalik. "Gimana rasanya jadi kelelawar, Jack?" tanya Emily jahil.
"Uh... Jadi ini semua kerjaanmu ya? Dasar sialan!" teriak Jack kesal sambil mendorong Emily keras.
Emily terdorong hingga hampir mencapai ujung Kappa's Lake. Dia berusaha bangkit, tapi terjeblos tanah yang berlumpur di sekitar Kappa's Lake dan terjebur ke sungai.
JBUR!
"Ahaha! Gimana rasanya jadi ikan, Emily?" tanya Jack dengan nada meledek sambil tertawa dengan nada yang sama.
Emily tidak menjawab. Dia mencoba untuk berada di permukaan dengan napas tersengal-sengal sambil terbatuk-batuk karena kemasukan air.
Jack berhenti tertawa mengejek. Dia terkejut. Jangan-jangan Emily nggak bisa berenang?
"Uph—Siapapun tolooooongg!" teriak Emily sebisanya sambil berusaha tetap berada di permukaan sungai.
Benar.
Jack buru-buru melepas tali yang menjerat kakinya.
BRUK!
Jack meringis sebentar karena kepalanya membentur tanah, tapi dia buru-buru bangun dan menolong Emily yang sudah tidak tampak dipermukaan sungai.
JBUR!
Jack menyelam ke dalam sungai dan meraih tangan Emily yang sudah lemas dan berenang naik menuju permukaan.
BWASH!
Jack muncul di permukaan sungai sambil membawa Emily dipelukannya. Setelah sampai di tepi sungai, Jack menyeret Emily dan membaringkannya ke tanah.
"Oi, sadar!" teriak Jack sambil mengguncangkan badan Emily yang sama-sama basah kuyup. "Sadarlah Emily! Ayo bangun!"
Emily tetap memejamkan matanya tanpa menyahut teriakan Jack.
Jack menekan-nekan dada Emily untuk mengeluarkan air dari tubuhnya. "Ayo bangun... Cepat bangun bodoh!" teriak Jack panik. "Aku nggak bermaksud membuatmu begini, bodooooh!"
Emily tetap tidak menjawab.
Jack semakin panik dan...
Gray dan Claire berada di puncak Mother's Hill. Menikmati indahnya kemilau cahaya bulan purnama yang sempurna—yang disaksikan oleh semua insan di seluruh dunia.
"Indah ya, Gray..." puji Claire senang sambil memandang bulan purnama yang berada di langit malam.
"I, iya..." jawab Gray. "Ini..." bisiknya sambil memberikan sekotak Moon Dumpling buatan Emily.
"Heh? Apa ini Gray?" tanya Claire sambil membuka kotak pemberian Gray. "Waaah! Moon Dumpling!"
"I... Iya... Kutepati janjiku..." Gray tersenyum.
Claire meraup satu Moon Dumpling. "Hmmm... Enak sekali... Eh? Ada rasa strawberry! Kau tahu rasa favoritku juga, Gray! Terima kasih banyak Gray!" pujinya sambil merangkul Gray senang.
"Sa... Sama-sama..." jawab Gray dengan muka yang terasa sangat panas. "Anu... Claire... Aku..."
"Hmm?" tanya Claire yang sudah belepotan dengan gula bubuk di mukanya.
Gray tertawa kecil sambil menepuk kepala Claire. "Tidak... Nikmati saja kuemu dan malam ini, Claire."
Claire hanya tertawa kecil dan meneruskan memakan Moon Dumpling.
"Uhuk! Uhuk..." Emily terbatuk-batuk, tapi tetap tidak sadarkan diri.
"Uh..." keluh Jack, masih duduk di sebelah Emily yang masih berbaring di tanah karena terjeblos sungai tadi. "... Terpaksa aku menemanimu malam ini..." keluhnya dalam hati.
"Kumohon... Jangan pergi..."
"Eh?" Jack melirik sedikit Emily. "... Hmph, baiklah... Akan kutemani deh..." keluh Jack sambil terus duduk dan melihat ke arah bulan purnama.
Malam terus berjalan. Sudah hampir tengah malam.
"Hei... Sampai kapan kau mau di sini?" tanya Jack acuh pada Emily.
"Nggg..." Emily mengingau.
"... Ya ampun... Kukira pingsan, ternyata tidur..." Jack menepuk dahinya, sekaligus agak lega. Awalnya dia kira kalau satu-satunya asisten toko roti Claire's Bakery Store yang sedang terbaring di tanah itu mati, tapi ternyata Harvest Goddess masih mengampuni nyawanya.
Emily diletakkan di atas punggung Jack, lalu Jack menggendongnya dari belakang sambil berjalan menuju Doug's Inn.
"Haaa-Tcchi!" Jack bersin tiba-tiba. "Oh iya... Aku sama Emily kan sama-sama basah kuyup kan... Sruut..."
Setelah berjalan cukup jauh, Jack sampai ke Doug's Inn, tempat Emily menginap.
TOK TOK TOK
"Ya, siap—Lho? Jack? Dan Emily? Kok kalian basah kuyup?" tanya Ann panik sambil mempersilahkan Jack masuk.
Gray yang baru saja beristirahat di kamarnya juga ikut kaget saat melihat gadis yang menginap di sebelah kamarnya pulang kembali dengan keadaan tidak sadar dan basah kuyup.
"Astaga, Emily kenapa?" tanya Cliff kaget.
"C, Cuma terpeleset lalu jatuh ke Kappa's Lake," jawab Jack berbohong.
"Lalu kenapa kau sampai basah juga?" tanya Ann heran sambil menggantikan baju untuk Emily. Tentu saja para pria menunggu di luar, sementara Ann sibuk menggantikan baju Emily di kamar bagian cewek.
"Eh—tidak kenapa-napa kok... Habisnya kan, yang ada di dekatnya cuma ada aku..." tandas Jack cuek.
"Oh iya?" tanya Ann. "Yah, tapi, terima kasih sudah menolong Emily..."
"Terima kasih Jack," sahut Cliff pelan.
"Makasih," sahut Gray singkat.
"Iya iya... Sekarang aku mau pergi dulu," Jack pergi dan kembali pulang ke pertaniannya.
-_-_- Next day -_-_-
"Ung..." Emily terbangun dari tempat tidurnya. Dia agak kaget saat melihat seragam toko rotinya sudah berubah menjadi piyama. "Kok aku di—Haaaatcchi!"
"Ah, Emily! Sudah bangun ya," Ann membuka pintu kamar bagian cewek. "Selamat pagi~"
"Pa, pagi, Anncchi..." jawab Emily. "K... Kok Emily ada di Inn... Bukannya udah mati ya?"
"Ngaco kamu," Ann tertawa sedikit mendengar perkataan Emily. "Tadi malam Jack mengantarkanmu ke sini. Kau terpeleset ke Kappa's Lake kan? Harusnya kau hati-hati dong..."
"Ngg..." jawab Emil sebisanya lagi, karena dia benar-benar tidak ingat dengan apa yang terjadi semalam. "... Haaatsssyiii!"
"Ya ampun, kau kena flu ya?" tanya Ann. "Kau masuk angin sepertinya... Mau diperiksa ke dokter?"
"Ngg! Ngg!" Emily menggeleng. "Mau deh!"
"Atau nanti kupanggilkan saja Doctor ke sini," Ann membawakan sarapan ke kamar bagian cewek. "Ini sarapanmu. Sebaiknya kau jangan keluar dari kasur dulu, oke?"
"Baiklaaaah..." jawab Emily lagi sambil mengambil semangkuk stew favoritnya dan mulai makan.
Ann meninggalkan Emily yang sibuk memakan stewnya.
"Ngg..." Emily menyuapkan lagi sesendok stew ke mulutnya. Masih agak heran kenapa bisa ada di kamarnya kembali.
Beberapa jam berlalu, muncul Doctor Trent bersama Elli, sang suster setia yang selalu mendampingi dokter cuek itu.
"Hee, Sensei-sensei!" Emily menyapa riang pada Doctor. "Bisa ketemu lagi Sensei-sensei!"
"Berhenti menyebutku Sensei-sensei. Namaku Doctor," keluh Doctor sambil menghela napas. "Diperiksa sebentar ya?"
"Okeeee Sensei-sensei!" teriak Emily sambil tertawa dengan nama ejekan Doctor.
Doctor memberikan tatapan dingin super cuek pada Emily, tapi tetap tidak membuat gadis polos itu diam. Elli dengan sabar mencoba membuat Emily diam dan sukses.
"Emily, kau anak baik kan?" tanya Elli lembut.
"Hee, iya! Emily anak baik kok!" jawab Emily.
"Kalau begitu, bisa kau tenang sebentar dan biarkan Doctor memeriksamu, oke?" bujuk Elli.
"Panggilnya Sensei-sensei!" rengek Emily.
"Baik, baik, Sensei-sensei ya," Elli tertawa kecil sambil menggunakan nada dewasa. "Tenang sebentar dan biarkan Sensei-sensei memeriksamu, ya?"
"Baiiiiik!" bersamaan dengan akhirnya penyebutan huruf 'k', Emily benar-benar diam.
Doctor dengan tenang memeriksa keadaan Emily, ditemani dengan Elli tentunya.
"Iya, memang cuma masuk angin," Doctor meletakkan kembali stetoskop dan palu refleksi miliknya ke tas hitam yang dibawa Elli. "Harus istirahat dan makan tepat waktu ya,"
"Baiiiiik Sensei-senseiiii!" teriak Emily sambil mengacungkan tangan kanannya.
Elli tertawa pasrah sedangkan Doctor menghela napas. Pasien yang satu ini tetap saja tidak bisa diam meski sakit.
"Hee... Ngomong-ngomong~! Jackkun gimana keadaannya?" tanya Emily penasaran.
"Jack-san? Dia kena demam serta flu, sampai bersin-bersin terus selama seharian," Elli merapikan barang bawaannya.
"Eeeeh~ Kasihan Jackkun! Emily harus jenguk niiiih!" sahut Emily. "Eh, tapi Emily juga lagi sakit ya... Tidak jadi deh~" dia tertawa polos sambil tidak menyadari kalau dialah yang menjadi penyebab semua masalah.
-_-_- THE END? NOT YET! -_-_-
Akhirnya chapter 3, last chapter selesaaaai~~! Cerita LOVE HER LOVE HER selesai~
Ufufu, meski dihadang sakit apapun, si Anisha Asakura ini akan meneruskan fic! Heaaah! *fight mode on!* Kameha me~~~haaaaaaaattccchi! *bersin*
Oke, reviews, anyone? :3
