Aishiteru Kagome Chapter 5

Disclaimer : Masih Takashi Rumiko tapi nanti bakal jadi punya Yusha kok . . . kan Yusha anaknya :P *di lempar ke sumur*

Warning : AU, OOC, ABAL DAN SEJENISNYA Tapi . . aman untuk di konsumsi. *plakk*

Pair : InuKago, KouKago, KouKikyo, MiroSango, SesshoRin.

*Sfx : Jeng jeng jeng* Yusha disini *gakpenting*di tendang* Gomen lama updet :) . . . maklum miskin ide *bangga* dan inilah hasilnya, setelah bersemedi di beberapa pemakaman *?* dan pasar*?* terdekat . . . akhirnya *menghela nafas*

Belum tau endingnya . . . masih dalam proses, ya sudah mari . . . Selamat Menikmati *duakh*

Dont Forget For RnR minnasan :)

->.->.-

"Kemarin kau pulang bersama Inuyasha ya Kagome ?" tanya Kikyo, jemarinya asik mengaduk-aduk jus jeruknya dengan sendok.

Gadis bernama Kagome itupun mengangguk, "Iya, tapi sebelumnya aku pulang bersama Kouga. Berhubung dia ada keperluan dan Inuyasha tak sengaja datang jadi . . aku pulang bersamanya," jelas Kagome.

Kikyo menganggukan kepalanya sembari bergumam 'Oh.

Sango tertawa kecil, memukul pelan kepala Kikyo menggunakan sendok, "Kau ini cemburu ya, hm ?" godanya.

Wajah Kikyo memerah, Kagome memperhatikan dengan raut wajah yang susah di gambarkan.

"T-tidak kok, hanya saja kemarin aku tak sengaja melihat Kagome dan juga Inuyasha berjalan bersama," Kikyo mengambil jeda, matanya sedikit melirik ke arah Kagome yang berada di sebelahnya.

"Dan ku pikir mereka 'KENCAN', "

Kini wajah Kagome yang bersemu merah, dengan canggung gadis berambut hitam panjang itu tersenyum, "Kau itu, aku kan hanya berteman. Jangan berpikir macam-macam,"

"Gomenasai Kagome, itukan hanya teoriku," Kikyo menggaruk belakang kepalanya canggung.

Sango menggelengkan kepalanya dramatis, "Dasar," gumamnya bosan.

"Oh iya, Rin kemana ?" tanyanya kemudian, gadis dengan kuncir kuda itu menolehkan kepalanya. Matanya menyapu setiap sudut ruangan kantin.

Tapi . . . nihil ia tak mendapati gadis berambut hitam panjang dengan kuncir kecil, sosok dari sahabatnya.

"Aku tak menemukannya setelah bel tadi," serunya.

Kagome mengangguk, "Benar, aku juga,"

"Diakan ada di ruang osis," jawab Kikyo, "Maklumlah Sesshomarukan ketua osis, mau tidak mau dia harus menemani Sesshomaru bukan ?" lanjutnya.

"Benar juga, tapi apa yang ia lakukan di sana ?"

"Mengurus keperluan festival hanabi,"

Kagome membulatkan matanya, "Hah ?, maksudmu Rin yang di suruh mengelola semua kembang api ?" tanyanya dengan penuh kekagetan.

"Kagome baka !" Sango menyuntrung kepala kagome, matanya menatap sebal Kagome.

"Tidak akan selamat kalau dia yang mengelola," Sango berkata bosan, "Bisa-bisa habis di bakar semua kembang api itu olehnya,"

Kikyo menganggukan kepalanya setuju, "Benar, lagi pula itukan idenya Miroku. Dialah yang seharusnya tanggung jawab,"

Kagome menjetikan jarinya, "Aku setuju, pacar siapa sih dia ?" Kagome memasang tampang dramatis di iringi dengan gelengan kepalanya perlahan.

Tanpa di tunggu lagi sebuah jitakan 'Manis mendarat di atas kepala Kagome yang di berikan langsung oleh Sango.

Kikyo tertawa kecil, melihat tingkah kedua sahabatnya.

->.->.-

"Kouga !" dengan berlari kecil pemuda itu memanggil sosok lain yang kini tengah menoleh.

"Mau kemana kau ?"

"Ke ruang osis, mereka semua sudah berkumpul di sana," jawabnya santai.

Pemuda berambut perak itu menganggukan kepalanya, paham. Merekapun berjalan santai dengan beriringan.

"Rapat apa lagi kali ini ?" pemuda itu sedikit mendengus, "Tak ada santainya, bosan aku."

Kouga tertawa kecil, "Kau ini, itukan sudah jadi kewajiban kita. Rapatnya masih membahas tentang festival hanabi."

"Sesshomaru itu, terlalu aktif dia," ucapnya sedikit terkekeh menyindir, "Kapan acaranya ?"

"Tak salah Kagome menyebutmu 'Baka," Kouga mulai mengejek, "Kau itu salah satu anggota osis dan panitia acara, tapi . . . " kepalanya menggeleng dramatis, "Kau sendiri tidak tau acaranya kapan, benar-benar kau ini."

Inuyasha menoleh menatap sebal Kouga, "Tidak perlu mendramatisir, tinggal jawab saja apa susahnya sih ?" ketusnya.

Pemuda berambut perak itu sepertinya kesal sudah di katai 'Baka pakai acara bawa-bawa nama Kagome pula, benar-benar menjatuhkan harga dirinya.

Kouga tertawa kecil, "3 hari lagi, Inuyasha . . . "

"3 hari lagi ?, cepat sekali," pemuda berambut perak itu menghitung jarinya, kemudian menggaruk pipi kanannya bingung. "Perasaan baru kemarin Miroku mencetuskan ide bodoh itu !"

"Ya . . . terlalu cepat bagimu, tapi . . . cukup melelahkan dan la-ma bagi kami."

"Heh ?, ya . . . ya . . ya terserahmulah," Inuyasha mengibas-ngibaskan tangannya bosan, lalu menepuk pundak Kouga. "Aku ke perpustakaan ya, kalau Sesshomaru bertanya bilang saja . . . . aku mencari tugas biologi di perpus."

Kouga menghentikan langkahnya, begitupun Inuyasha. Kouga sedikit membelalakan matanya dengan dramatis pemuda itu menggelengkan kepalanya, "Kau ini . . . baru juga di bahas ingin bolos rapat lagi." ucapnya bosan.

Inuyasha mendengus, "Aku tidak bolos, kan aku sudah bilang kalau aku mencari tugas biologi. Kau ini, sudahlah." pemuda berambut perak dengan mata coklat gading itupun berjalan santai meninggalkan Kouga yang diam mematung.

"Apa yang begitu menjadi tipe idaman Kagome ?"

->.->.-

Tiga orang gadis cantik tampak berjalan beriringan, ketiganya asik mengobrol ya . . . mungkin sebuah obrolan yang menurut mereka lucu hingga, lihat . . . mereka tampak tertawa-tawa tanpa perduli tatapan terganggu dari orang-orang sekitar.

"Su-sudah hentikan itu, Sango." gadis berambut hitam keunguan memegang perutnya, geli.

Di sisi lain gadis berambut hitam raven mengangguk-anggukan kepalanya, jemarinya bergerak menyeka air matanya. Keduanya masih asik terkekeh.

Gadis yang di panggil Sango itu berhenti tertawa, lalu mengatur nafas. "Oh oke baiklah . . "

Kedua sahabatnya itupun berhenti tertawa, namun terengah engah. Jujur . . . kebanyakan tertawa itu sepertinya membuat mereka kesulitan memperoleh oksigen dengan baik.

"Miroku itu . . . . ku akui dia memang ya . . sedikit blak blakan dan err . . . bego, tapi . . "

Gadis dengan wajah galak namun manis itu mengulum senyum, "Aku tetap menyukainya."

"Cieee . . . . . "

Sorak Kikyo dan juga Kagome bersamaan, mereka berdua menyenggolkan bahu mereka ke bahu-kanan kiri- Sango.

"Huah . . . hentikan, kenapa jadi membahas tentang makhluk itu ?" Sango mengalihkan pembicaraan dari topik yang um melecehkan kekasihnya itu.

Kedua sahabatnya tampak setuju.

Kikyo berucap dengan nada menyindir, "Benar . . membicarakan dan menertawakan hal yang tidak penting."

Sango mendelik, "Maksudmu apa Kikyo ?" tanya Sango dengan nada membunuh. "Kalau tidak penting, kenapa kau tertawa, hm ?"

Kikyo menggaruk belakang kepalanya canggung,"Ya . . . hanya partisipasi saja, kan kasian Kagome tertawa sendirian," kilahnya.

Kagome memutar kedua bola matanya bosan, "Kalian ini . . Miroku saja di permasalahkan, kurang kerjaan !" dengan hembusan nafas sebal gadis itu melanjutkan. "Lebih baik aku ke perpustakaan, jaa . . " tuturnya sembari berlalu.

Sango dan juga Kikyo terbengong.

"Heh ?, Kagome mau kemana ?"

"Ku dengar sih ke perpustakaan." Kikyo mejawab seambari mengaruk pipinya.

Sango mengangguk-anggukan kepalanya, "Mencari apa dia ?, setahuku perpustakaan bukanlah hal yang menyenangkan untuk di kunjungi !" aku Sango.

"Mungkin mencari tugas."

"Mungkin, akh sudahlah . . . kita ke kelas saja sebentar lagi bel."

Kikyo menganggukan kepalanya.

->.->.-

"Permisi . . . saya ingin meminjam buku."

Seorang wanita mengangkat wajahnya, menampakan dua bola matanya yang berwarna hitam kemerahan. Selengkung senyum terpatri di bibir mungilnya.

"Ya, silahkan . . " ucapnya sopan, sembari menyodorkan sebuah buku bersampul biru dengan huruf kapital tebal bertuliskan 'DAFTAR PENGUNJUNG'.

Kagome meraih buku tersebut, lalu menuliskan serait namanya pada lembar halaman buku tersebut.

"Arigato Kagura'Sensei." Kagome sedikit membungkukan badannya, kemudian mengembalikan buku tersebut.

"Douita . . Kagome'san."

Kagome pun melangkah pergi ke bagian rak-rak buku yang menjulang tinggi.

Mata Kagome bergerak lincah menyeleksi berbagai buku yang ada, "Sains . . um di mana ya ?, cari saja ah,"

Dengan langkah cepat, Kagome beranjak ke rak sebelah.

Sebuah senyum mengembang di wajah cantiknya kala mendapati tulisan 'SAINS' menggantung di salah satu sisi rak, "Akhirnya," gumamnya riang.

Jemarinya perlahan menyusuri buku-buku itu, gadis berambut hitam raven itu mendengus kecewa karena tak menemukan sosok 'sang buku.

"Huah . . tidak ada !"

Gadis itu mundur satu langkah, mendongakan kepalannya ke atas mungkin ia akan menemukannya apa yang ia cari di sana. Jika ia beruntung.

Yuph . . . . Yuph . . . . Yuph . .

"Aha dapat," serunya, Kagome dengan perlahan menarik sebuah kursi . . . . menggesernya hingga posisi bangku itu sejajar dengan posisi buku incaranya.

"Khe . . . khe khe, ternyata di situ dia,"

Kagome pun naik ke atas kursi tersebut, tangannya menggapai-gapai mencoba meraih buku itu tapi . . . nihil.

"Ugh . . ugh sedikit lagi."

Kaki Kagome berjinjit-jinjit dan itu mengakibatkan kursi yang terhitung rapuh err . . . . tua itu berguncang-guncang hingga . . . .

BBRUKKK . . .

"A a a a . . ."

HUPP !

Kagome memejamkan matanya, menunggu datangnya sakit yang biasanya di rasakan orang di kala jatuh tapi . . .

Ada yang aneh, gadis itu merakan ada tangan yang merangkul atau menggendong tubuhnya.

Dengan perlahan Kagome mencoba membuka kelopak matanya dan mendapati . . .

"I-inuyusha . . . ?" seketika wajah kagome berubah merah, jantungnya seolah susah di atur . . berdetak berjuta kali lebih cepat dari biasanya.

Begitupun Inuyasha, kedua matanya masih asik menatap sepasang mata dalam gendongan bridestylenya.

Wajah keduanya begitu dekat, hingga mereka bisa merasakan nafas mereka menyatu.

Inuyasha semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Kagome, mempersempit jaraknya dengan gadis itu.

Jantung Kagome berdentum kencang satu yang gadis itu tau, pemuda itu akan menciumnya.

Bingung ingin melakukan apa, Kagome memilih untuk memejamkan kedua matanya cepat. Menunggu bibir milik pemuda itu menyatu dengan bibir miliknya, dalam sebuah kecupan.

"Baka . . . !"

Inuyasha memanggil Kagome, dengan cepat Kagome membuka matanya. Gadis itu terpekur bingung menatap Inuyasha.

"Hei Kagome baka, turun," perintahnya.

Kagome melompat turun, lalu merapikan baju seragam miliknya yang agak acak-acakan.

Inuyasha kembali memanggilnya, " Lain kali berhati-hatilah."

Kagome mengangguk, masih sedikit canggung.

"Arigato, ya aku mengerti."

"Kau sedang apa di sini ?" Inuyasha melemparkan tatapan penuh tanya ke arah Kagome.

"Aku ingin mencari buku biologi untuk tugas," jawab Kagome.

Inuyasha menyodorkan sebuah buku yang baru ia ambil dari sakunya, "Ini . . kau pakai sajalah dulu, biar kita bergantian saja memakainya."

Kagome tertawa canggung, "Tak usah." cegahnya, sembari menggaruk pipi kanannya. "Biar aku menyewa sendiri saja."

Inuyasha mendengus, "Sudah ambilah," paksanya, kemudian meraih tangan Kagome. Meletakkan buku itu di telapak tangan gadis di hadapannya.

Mau tak mau gadis itu menerimanya, "Arigato gozaimasu Inuyasha."

"Douita, ya sudah aku pergi dulu,"

Kagome mengangguk.

Inuyasha pun pergi sembari berbisik, "Jangan ulangi lagi, aku tak ingin kau kenapa-napa" bisiknya sembari berlalu, tapi cukup untuk di dengar Kagome yang berada tak jauh darinya.

Dan hal itu membuat Kagome semakin bingung tentang perasaannya. Antara Kouga dan Inuyasha.

->.->.-

INUYASHA POV

Bodoh . . . kenapa tadi aku bisa lepas kontrol hampir menciumnya. Tapi . . kenapa Kagome memejamkan matanya ?, apa dia menunggu aku menciumnya ?, apa dia menginginkannya ?.

Akhh . . . sudahlah kalau jodoh tak kemana.

END INUYASHA POV

->.->.-

*PULANG SEKOLAH*

Kouga dan juga Kagome melangkah dalam diam, mereka memilih membungkam mulut mereka masing-masing sepanjang ini.

Kagome tengah kelut dengan pikirannya, ia asik berimajinasi dengan alam ingatannya tentang kejadian di perpustakaan tadi.

Sejenak ia memejamkan kfua matanya, sedikit menggelengkan kepalanya perlahan.

Kouga, entah kenapa ia merasa seperti penghalang. Walau ia yang sekarang berhak oh . . . bukan hanya berhak, namun perlu di tekankan . . . memang sa-ng-at berhak atas Kagome ia kan pacarnya.

Tapi . . . kebalikannya, ia merasa seperti ada di tengah-tengah kedua orang yang saling membohongi perasaan mereka dan ia hadis sebagai sosok penengah yang membuat kedua orang itu tidak bisa bersatu.

Bukan, ini bukan salahnya. Yang perlu di salahkan adalah kenapa mereka tak ada yang berani membuka suara untuk sekedar mengemukakan kebenaran yang ada.

Ia rela jika harus melepas gadis itu demi kebahagiaan gadis yang ia cintai.

Merelakan dan hanya meneguk kekecewaan dari semua perasaan hancurnya.

Pemuda itu sedikit melirik gadis di sampingnya, mengamati sebuah wajah yang hanya dengan melihatnya saja cukup membuatnya bahagia.

Kagome menoleh karna merasa di perhatikan, ia tampak bingung dengan raut wajah Kouga yang terlihat menyembunyikan sesuatu.

Taukah Kagome, Kouga itu sakit. Batinnya terluka.

"Ada apa ?"

Angin berdesir perlahan memainkan helaian rambutnya yang menjuntai indah.

"Ada yang ingin kau bicarakan ?"

Kouga tampak menimbang, mungkin ini saatnya. Jika tidak sekarang, kapan semua ini akan terungkap. Mau menunggu sampai hatinya terluka lebih dalam dan mati. Tidak . . . tidak akan.

"Aku ingin kau jujur," bisiknya lirih.

Kagome menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya menghadap Kouga. Pancaran matanya sedikit meredup.

Begitupun Kouga, ia berhenti dan menatap dalam mata Kagome. Tatapan tegas, namun tersirat duka di dalamnya.

Dengan sedikit bergetar Kagome membuka suara, "M-maksudmu apa ?" tanyanya ragu.

"Tentang kau dan juga . . . " pemuda itu menghela nafas, "Inuyasha,"

Kagome mengangkat bahu, "Aku tak mengerti." kilahnya sembari melempar pandang ke arah lain menghindari tatapan mengintimidasi milik Kouga.

Kouga mendengus, "Sudah ku bilang, jangan berbohong" desisnya.

"A-aku . . "

"Kau menyukainyakan ?" ada sedikit rasa sesak saat kalimat itu meluncur, ia takut kalimat itu akan melukai Kagome . . . gadis yang sangat di sayanginya.

Hening . . . keduanya membiarkan hanya angin yang mengambil alih semuanya.

Kagome menundukan wajahnya, membuat sebagian wajahnya tertutup bagian poninya yang menjuntai ke depan.

Tangannya tampak bergetar meremas rok hijaunya, "Aku tidak . . . menyukainya."

"Ku pikir, lebih baik kita . . . " Kouga kembali menghela nafas, "Sudahi saja."

Kagome mengangkat wajahnya, tak terasa sebutir air mata meluncur di kedua belah pipinya. Dengan perlahan ia menggeleng, "Aku tidak mau, kau tak berhak menghakimiku dan menuduhku. Itu semua tidak benar, kau harus percaya padaku . . . a-aku menyayangimu. Aku mencintaimu Kouga !"

Perlahan namun pasti Kouga menarik Kagome dalam dekapan hangatnya, "Aku tau ini sulit tapi . . . . kau harus memilih, jadi . . . " bisiknya,

"Dan sepertinya kau susah untuk memilih," lirihnya kemudian.

Kagome masih menangis, ia bingung. Di satu sisi ia masih ingin bersama Kouga tapi . . . . di sisi lain, ada sebagian dari hatinya yang ingin bersama dengan sosok lain selain Kouga . . . Inuyasha.

"Aku yang akan mengalah dan . . . aku rela melepasmu,"

Tangan Kagome perlahan membalas pelukan Kouga, mencoba merekam tiap titik kehangatan dari pelukan cinta pertamanya itu.

Dengan perlahan Kouga melepas pelukannya, tangan besarnya menangkup wajah Kagome. Mata mereka bertemu pada satu titik.

"Jangan menangis," hiburnya. Mencoba menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya, "Kita akan tetap jadi sahabat walau . . . " ia berkata lirih, "Semuanya sudah berakhir."

Kagome kembali menggeleng, "Tapi aku . . . "

Telunjuk itu mengunci bibir gadis di depannya, ia sedikit menggeleng, "Sshtt . . . dengar," kedua tangannya memegang bahu Kagome, mencoba meyakinkan perasaan ragu gadis itu. "Semuanya akan baik-baik saja, sekarang . . . jangan coba membohongi dirimu sendiri. Apa pun yang terjadi, mengerti ?" tegas Kouga.

Dengan berat hati Kagome mengangguk, "Ya . . aku berjanji tapi . . . jangan paksa aku untuk melupakanmu karna . . " gadis itu mengisak pilu. "Aku belum bisa untuk melakukannya"

Kouga tersenyum, "Cobalah perlahan aku yakin kau bisa"

'Ini demi kita, aku kau dan juga Inuyasha, aku yakin ini yang terbaik,'

TBC BERSAMBUNG ATAU BELUM TAMAT DAN BELUM HABIS AT*di sambit gayung*

->.->.-

*nyuci muka pake lahar* Ya ampun kejam nya daku *geleng2 -sok- dramatis* menistakan Kouga'kun *peluk2 Kouga-di injek Kouga fg-* tapi demi kelancaran cerita, tak apelah *maksa*

Chap ini susah mikirnya, di tambah Yusha kena penyakit malas ng'tik dan malas mikir *plakk* moga gak mengecewakan eah *nyengir innoncent*

Ya sudah, sampai jumpa chap depan *dadah-dadah*

Yusha minta Doa eah, soalnya Yusha mau ulangan *aji mumpung* dag dig dug euy . .

Dan . . . .

Minta

R

E

V

I

E

W

*di gempang gara-gara banyak permintaan*