Aishiteru Kagome Chapter 6

Disclaimer : SAYA, semua yang berkaitan dengan Inuyasha adalah punya SAYA. Khe khe khe *plakk-Di gampar Rumiko'Sensei-*

Pairing : Maunya sih InuYusha *plakk* tapi karna kurang peminat InuKago sajalah *pundung di lampu merah sambil bawa kencrengan*?*

Jiaah makin tua nih fanfic *?* udah chap 6 ternyata . . . ckckck benar-benar tak menyangka *sok dramatis* dan makin gak jelas juntrungannya, maklum Yusha kan anak baru ^_^ *di sepak*

Gomen buat kekurangan chap kemaren, semoga chap ini tidak mengecewakan ya *nyengir*. Dan domo arigato buat yang udah review ^/^

Ya sudah, kita langsung sajah. Lebih cepat lebih baik *di cekal partai tetangga*

Happy Reading ^_^

- AISHITERU KAGOME -

Persahabatan, hum mungkin benar kata orang Persahabatan adalah hal terbaik untuk melupakan segala masalah kita. Sebesar apapun masalah, jika di lalui bersama mereka pasti terasa melegakan. Ya . . . walau hanya sekedar bercerita dan saling berbagi tapi, hei! percaya atau tidak itu sangat di perlukan loh!.

Ehmm . . . kita ambil contoh gadis yang ada di sana, iya gadis berambut hitam itu.

Lihat, baru kemarin cintanya kandas dan ia menangis seharian karena masalahnya itu. Merepotkan. Untung ada timun yang bersedia mengurangi bengkak pada kelopak matanya itu. Jika tidak, huh habis dia dikatai nenek-nenek penjaga kantin oleh musuh bebuyutannya. Err . . . tau kan siapa?

Ia-gadis berambut hitam itu- kini tengah berada di tengah para sahabatnya, 4 gadis manis itu tengah asik bercerita bersama. Melupakan sekejap masalah mereka.

"Kalau aku sih rencananya ingin buka stain gulali," ungkap gadis berkuncir kecil. Tangannya mengatup matanya nampak menerawang, dengan desahan pelan ia melanjutkan. "Huah . . pasti asik, menjaga stain bersama Sesshomaru'kun dan menikmati manisnya gulali berdua . . . gyaa!"

PLETAKK

Sebuah jitakan pelan mendarat di puncak kepala gadis itu.

"Kau ini, kita itu koordinator acara . . . mana bisa kita bersantai menjaga stain." maki gadis bernama Sango, yuph . . . gadis yang menjitak sahabatnya tadi.

Rin, mengerucutkan bibirnya kesal.

"Sango benar, besok lusa akan menjadi hari yang melelahkan untuk kita," sambung gadis berambut hitam raven.

Keempat gadis itupun menghembuskan nafas berat bersamaan, seakan acara itu adalah sebuah beban berat yang harus mereka pikul. Ya . . mau bagaimana lagi, itukan kewajiban mereka sebagai anggota osis. Bukan?

"Tak usah lihat sisi buruknya, kita ambik sisi positif dari acara itu saja." Sango berkata dengan semangat, ketiga sahabatnya menatapnya bingung.

"Contohnya?" tanya ketiganya berbarengan.

Sango mengangguk-anggukan kepalanya, memasang wajah ceria. "Tentu saja, pertama . . . kita mendapat nilai lebih dan juga pujian jika acara itu berjalan lancar hingga akhir acara, yaa dengan kata lain sukses lah." jelas Sango.

Kagome, Kikyou dan Rin berpandangan kemudian tersenyum, 'benar juga' batin mereka.

Sango tampak makin bersemangat melihat wajah antusiasme para sahabatnya, dengan senyum gadis itu melanjutkan, "Kitakan jarang jalan malam bersama dan, well inilah saatnya!"

"Benar! itu tidak buruk," dukung Kagome sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Di sampingnya Rin ikut mengangguk, menggumamkan 'Hu'uh' berkali-kali.

"Ya, kedengarannya begitu," sambung Kikyou, sembari mengulum senyum.

"Dan point terakhirnya kalian bisa bersenang-senang, menyaksikan hanabi pastinya. Dan hei!, dengar. . . . " Sango memberi aba-aba agar ketiga sahabatnya itu mendekat kepadanya.

"Apa . . ?" tanya ketiganya antusias, mereka merapatkan jaraknya pada Sango. Hingga posisi mereka membentuk sebuah lingkaran kecil.

"Kita bisa menghabiskan malam yang indah itu bersama pasangan kita,"

"Huaaaa . . Sango saikou!" Rin melompat berdiri, mengepalkan tinjunya ke udara. Dengan semangat ia berkata, "Hosh! aku akan membuat acara itu happy ending. Hue he he ku pastikan itu,"

Ketiga sahabatnya tersenyum. Yaa walau dua di antaranya diam-diam merasa kesepian.

Bersama pasangan?, hello!. Bukankah Kagome dengan pemuda berikat kepala coklat bernama Kouga itu sudah putus ya?

Kikyou?, oh dia?. Entahlah . . . mungkin ia berharap bisa melalui rangkaian acara itu bersama pemuda berambut perak impiannya?

Jadi intinya, Rin dan Sango lah yang menang dalam hal ini. Well karena mereka masih memiliki status dengan 2 pemuda pengurus osis itu.

"Hei Kagome, kau pergi bersama Kouga kan nanti?" tanya Sango. Rin dan Kikyou mengangguk, seolah menyetujui pertanyaan Sango barusan. Ketiganya menatap Kagome.

Kagome menunduk, matanya bergerak gelisah begitupun tangannya yang tampak tengah meremas rok di pangkuannya. Gadis itu memang belum bercerita apa-apa tentang kejadian kemarin, dan tentang putusnya hubungannya dengan pemuda itu. Tapi bukan berarti ia tidak mau bercerita atau sekedar memberitahu pada ketiga sahabatnya itu. Bukan. Hanya saja ia memerlukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Bukan saat ini tentunya, ia masih kelu untuk membuka suaranya.

"Hei!" Kikyou menepuk pundak Kagome, membuat gadis berambut hitam raven itu sontak mengangkat wajahnya karena kaget.

"Heh?"

"Hah, heh, hah, heh, kau ini kenapa? Ada masalah?"

"T-tidak" kilah Kagome, kepalanya menggeleng cepat.

Walaupun agak ragu Kikyou mengangguk, "Ya sudah, um bagaimana? Kau pergi bersama Kouga kan?" tanyanya, mengulang pertanyaan Sango tadi.

"Heh? Ya sepertinya?"

"Jadi tak sabar ya!" gumam Rin semangat, Sango mengangguk. "Kau benar Rin,"

Kikyo mengarahkan pandang ke sekitarnya 'Sepi? Apa sudah . . . .

"Em ano apa kalian sadar?" tanyanya, suaranya di buat sepenasaran mungkin. Dan bingo, berhasil. Karna kini Kagome, salah satu dari sahabatnya tengah menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Heh? Maksudmu apa?" tanyanya bingung.

"Tau nih Kikyou, sok misterius." dukung Rin.

Kikyou memutar bola matanya, bosan. Mendesah pelan gadis itu membuka suara, "Huh, bukannya sok misterius tapi . . . look girls, sepi dan itu tandanya sudah bel dari tadi. Apa kalian tidak sadar hm?"

Ketiganya celingukan (mau nyebrang buu -di gempang- ) mereka mengarahkan pandangan mereka ke sekelilingnya dan benar, sepi.

1

2

3

"HUAAA, GAWAT"

Dalam sekejap keempat gadis itupun lari pontang panting, meninggalkan taman tempat mereka bergosip ria tadi. Menuju kelas mereka, dan tentu saja bersiap menerima apapun 'Vonis' yang di'Hadiah'kan kepada mereka.

- AISHITERU KAGOME -

_Time skip_

Tett . . . tett . . . tett . . .

Akhirnya, itulah yang terpekur di batin para penghuni kelas saat ini. Ya . . kecuali sensei mereka tentunya.

"Ya, jangan lupa kerjakan PR kalian dirumah dan konichiwa minnasan!"

"Konnichiwa mo matta Sensei!"

Setelah berpamitan, Sensei berparas cantik dengan bola mata kemerahan itupun beranjak pergi meninggalkan kelas.

Dalam hitungan detik kelas sudah mulai riuh, ada yang berkumpul mengobrol . . oh bukan, kita gunakan bahasa tenarnya saja. Menggosip. Ya . . tentu saja kaum hawalah yang melakukan kegiatan itu.

Bukan hanya kaum hawa saja yang beraksi*?* kaum adam pun ikut. Lihat saja, benda berwarna putih yang biasa di gunakan untuk menulis itupun sudah menjelma jadi origami berbentuk pesawat, bola, bahkan burung. Tentu saja tak semirip aslinya.

Beberapa di antaranya ada yang berkejaran berkeliling kelas, tapi ada juga yang lebih memilih diam mendengarkan musik dari headset yang bertengger manis di telinganya.

Suasana begitu ramai sampai . . . .

PLETAKK

"Aww . . " seorang gadis mengaduh, menoleh gadis itu menatap tajam pemuda di depan kelas, ya pelaku yang telah melemparinya.

"Hei Inu baka! Kau itu seperti anak kecil saja, sakit tau!" ucapnya sembari bangkit berkacak pinggang. "Kalau mau main yang seperti itu sana ke lapangan, oh tidak . . ku sarankan lebih baik kau kembali ke play group ku kira kau akan bersenang-senang di sana tanpa menyakiti orang lain!" maki gadis itu, bagaimana tidak emosi. Bayangkan saja bagaimana rasanya, jika kepalamu terkena sebuah penghapus papan tulis yang berbahan dasar kayu. Dapat di pastikan akan ada sesuatu yang 'timbul' err ya . . dan itu membuatmu agak pusing tentunya.

Memasang tampang cuek pemuda itu membuka suara, "Cih, begitu saja sakit. Dasar wanita lemah" ejeknya.

'Kurang ajar' batin gadis itu, dengan semangat ia mengutuki pemuda di depan sana. Sepertinya ia terbakar amarah, melangkah cepat ia menghampiri Inuyasha yang tengah memasang pose cool dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.

"Inuyasha kau itu benar-benar menyebalkan. Bukannya meminta maaf, kau malah mengejek orang. Dasar baka Inu!"

"Ye . . . itu bukan salahku, salah kau sendiri duduk disitu. Dasar aneh,"

"Heh? Aku aneh, Kau yang aneh,"

"Kau . . "

"Kau . . "

"Kau . . "

"Kau . . "

Inuyasha merendahkan kepalanya, wajahnya mendekat ke wajah gadis itu. "Terus kau mau apa? Hm?"

Tak terasa wajah gadis itu mulai bersemu merah, jantung . . . ya debaran ini sama saat kemarin. Batinnya.

Sekuat tenaga gadis itu membuka suara, "Er . . . a-aku um i-itu"

"Kau mau aku meminta maaf?"

Gadis itu mengangguk, "Ya," tegasnya.

"Baiklah," Inuyasha menghela nafas memasang senyum, "Kagome'chan, Inuyasha minta maaf ya? Karena telah dengan tak sengaja melemparmu dengan penghapus. Gomenna," tangannya menepuk nepuk kepala Kagome.

Kagome memutar bola matanya 'Tak bisa lebih serius ya?' runtuknya.

"Ah sudahlah, percuma!" gadis itu melangkah pergi kembali ketempat duduknya sembari mengibaskan tangannya bosan. Inuyasha diam terpaku.

"Wah . . wah kelahi lagi ya? Awas loh perbedaan benci dan cinta itu kata orang sangat tipis. Bisa saja jadi jodoh!" goda Sango.

Kagome menatap Sango dengan tatapan horor miliknya. Dengan dengusan gadis itu menyahut, "Huh . . aku juga heran kenapa sih dia itu. Kadang bisa menyenangkan, tapi di satu sisi. Huh benar-benar menyebalkan,"

Sango tertawa kecil, lengannya menepuk pundak Kagome pelan. "Ya, mungkin itu caranya untuk mendekatimu. Hm?" kemudian gadis berkuncir kuda itu tertawa. Karna mendapati wajah Kagome yang sudah memerah.

"Sango! Hentikan, kau ini." Kagome memperingatkan.

Bukannya berhenti, tawa Sango malah semakin menggelegar. Hingga membuat semua mata menatapnya, heran.

Kagome hanya bisa menundukan wajahnya yang memerah.

- AISHITERU KAGOME -

"Wuah . . . istirah kedua memang waktu yang enak untuk ke kantin. Lihat sepi bukan?"

Pemuda berambut perak di sampingnya sedikit melirik lawan bicaranya itu, dengan ketus ia menjawab. "Iya sepi, dan kau beruntung mendapatkan makanan sisa!" sindir pemuda itu sinis. Bagaimana tidak kesal, ia lapar dan ia harus ke kantin bersama Miroku pemuda yang -sangat- cerewet dan juga menyebalkan, bukan bersama Rin -kekasihnya-.

Di tambah sekarang kantin kosong dan yang pasti, menu yang ada adalah menu sisa dari menu istirahat pertama. Sepertinya ia harus extra sabar kali ini.

Terkekeh, Miroku menyela. "Ah kau itu Sesshomaru, bukankah kau suka tempat yang sepi-sepi. Hm?" Miroku mencoba menggoda Sesshomaru, nada bicaranya di buat segenit mungkin.

"Hn, menjijikan."

"Ha . . . ha . . . ha . . kau ini so cool sekali," pemuda bertindik itu mendorong bahu Sesshomaru dengan tangannya yang mengepal.

Sesshomaru hanya diam melemparkan deathglare andalannya ke arah Miroku. Tapi sepertinya pemuda yang di 'hadiahi' deathglare itu tak sadar, karna ia tampak mengamati sosok lain yang sepertinya ia kenal.

"Hei itu Kouga kan?"

Sesshomaru mengikuti arah telunjuk Miroku yang mengarah pada sosok pemuda yang tengah duduk santai dengan wajah murung itu. Ya . . . itu memang Kouga lihat ikat kepalanya. Bukankah di sekolah ini hanya ada satu pemuda yang memakai ikat kepala coklat, tak perlu di ragukan.

"Hn . . . "

"Kita duduk di sana saja!" Miroku dan Sesshomaru menghampiri kantin yang terletak paling ujung itu, tepatnya mengampiri sahabat mereka -Kouga- yang sedang duduk sendirian bertemankan minuman soda kalengnya.

"Hoi!"

Kouga terlonjak kaget, "Eh kalian . . "

Sesshomaru mengambil posisi di depan Kouga dan Miroku di sebelahnya.

Hening.

Merasa ada yang aneh, Miroku dan Sesshomaru bertukar pandang. Mereka sama-sama heran melihat tingkah Kouga yang tampak murung seperti tak punya semangat hidup.

"Kenapa dia?" tanya Miroku setengah berbisik kepada Sesshomaru. Pemuda berambut perak itu hanya menanggapi dengan mengangkat bahunya singkat. Sembari melemparkan tatapan '- mana - ku - tahu-' pada Miroku.

"Kalian tidak makan?"

"Heh," Miroku dan Sesshomaru menggeleng bersamaan. Kouga hanya ber'oh' ria.

"Kouga, kau kenapa? Ada masalah?" tanya Miroku. Kouga menarik sudut bibirnya, melengkungkan senyum hambar di sana. "Ya . . tapi tak usah di fikirkan," hiburnya.

Miroku tampak tak setuju pemuda itupun menyela perkataan Kouga, "Tidak usah di fikirkan apanya, ceritalah!" ajak Miroku. Di sebelahnya Sesshomaru tampak menganggukan kepalanya pelan, pertanda ia menyetujui ajakan Miroku.

Kouga diam, pikirannya melayang lagi pada kejadian kemarin. Dimana ia memutuskan Kagome dan membiarkan gadis itu pergi dari dirinya. Sulit memang, tapi mau bagaimana lagi? Bukankah itu adalah jalan terbaik untuk mengungkapkan semuanya kan Kouga? Dan bukankah ini juga cara yang tepat untuk mengakhiri penderitaanmu sendiri, ya penderitaan yang kau alami karena mencintai gadis yang . . . yeah mencintai orang lain. Itu sepertinya pemecah masalah yang tepat ne?

"Hei . . !" panggil Miroku. Menyentakan Kouga yang tengah tercenung dengan tatapan kosong, "Yah melamun, ceritakan. Kau tak ingin main rahasia-rahasiaan kan Kouga?" ejek Miroku, dengan nada jenaka.

Kouga menggeleng, "Tidak, um . . baiklah," menghela nafas Kouga mulai menceritakan semuanya. Dari awal hingga akhir titik masalah yang menggandrungi benaknya.

"Jadi intinya kau dan Kagome putus, karena kau yakin Kagome itu mencintai Inuyasha bukan kau?" selidik Miroku, Kouga hanya menganggukan kepalanya. Miroku melanjutkan. "Hum . . . tapi, dari mana kau bisa beranggapan begitu? Setahuku Inuyasha dan Kagome kan tak pernah akur?"

Tersenyum pahit, pemuda berwajah manis itu menjawab, "Heh, aku tidak ingin menghalangi semua. Karna memang dari awal . . . " pemuda itu mengambil jeda mulai melanjutkan, kali ini tersirat nada tegar di dalam nada bicaranya, " . . . . Inuyasha lah yang terlebih dahulu mencintai Kagome. Dan seharusnya aku sadar itu."

"Lantas, apa tanggapan Kagome tentang ini?" tanya Sesshomaru setelah lama berdiam akhirnya ia ikut serta dalam perbincangan kedua sahabatnya itu. Ia pikir tak salah, jika ia ingin membantu sahabatnya yang tengah kesusahan.

Kouga hanya mengangkat bahu, memasang wajah cuek. Walau topeng belaka. "Entahlah, itu hak dia. Aku dan dia sudah berakhir, ku pikir tak perlulah aku ikut turut ambil dalam kisah percintaan nya lagi. Asal dia bahagia itu sudah cukup,"

Miroku tersenyum, menepuk pundak sahabatnya mencoba menguatkan. "Aku salut padamu, kau bisa berfikiran dewasa. Semoga saja pengorbananmu ini tak berakhir sia-sia, sobat."

Sesshomaru menyunggingkan senyum tipis, Kouga mengangguk. "Semoga saja!"

- AISHITERU KAGOME -

Seorang gadis berambut hitam tengah terduduk di bangku sebuah taman di sekolahnya, hanya ada dia disana. Entah apa yang membawa langkahnya ke tempat ini, tapi satu yang ia tau bahwa tempat ini adalah tempat kenangannya bersama mantan kekasihnya. Kouga.

Kepalanya tertunduk, membuat sebagian wajah cantiknya tertutup poninya yang menjuntai ke depan. Lihat kini kedua bahunya tampak bergetar, tampaknya ia menangis?

"Kenapa? Kenapa kau memutuskan aku Kouga? A-aku . ." gadis itu berucap getir, "Aku mencintaimu, tapi . . . harus ku akui aku juga mencintai Inuyasha, tapi bukan begini . . " mengisak, gadis itu berbisik. ". . . . Aku mencintai kalian berdua, aku menginginkan kalian berdua,"

"Inuyasha . . . Kouga,"

Tanpa ia sadari, ada sesosok pemuda tengah berdiri mematung. Namun sekejap kemudian, pemuda itu berlari pergi. Meninggalkan Kagome yang masih terisak di tengat taman itu.

- AISHITERU KAGOME -

. . . . TBC . . . .

- AISHITERU KAGOME -

Kira-kira siapa ya sosok itu, hayo bagi yang bisa jawab dapat tanda tangan cantik dari Yusha loh *di sepak ampe gol*

Bagaimana? Kepanjangan atau um membosankan o.0" GOMENNA inilah kemampuan Yusha, , , *pasrah mode : on* kritik dan saran sangat di perlukan. Jadi . . . mohon . . . .

R

E

V

I

E

W

Minnasan ^_^

Sign _ Yusha'chan Higurashi