Genre: Drama/Angst/Humor. Terserah lu dah~ =3=
"Hei Mah! Liat deh!" sewaktu Jogja sampai di rumah Indonesia, dia segera lari ke ruang tamu, hanya untuk melihat Indonesia sedang menggengam buku tua dan tetesan air mata dapat terlihat jatuh perlahan- lahan ke buku tua itu.
Kaget, Jogja segera lari ke sisi pemuda yang lebih tua itu.
"Hey, Pah! Kenapa?" Tanya laki-laki muda berambut abu-abu hitam itu. Tidak mendapat jawaban dari 'ayahnya' Jogja melihat ke buku tua itu dan terseyum sedih, seperti apa yang dilakukan Indonesia pada saat pertama kali dia membuka buku itu.
"Londo ya?" melihat ke wajah sedih Indonesia Jogja memeluk ayahnya.
"Dahlah… itu sudah di masa lalu… sekarang, berjuanglah untuk membuat kenangan yang baru dengannya…"
'Mama dulu juga kayak gini kan? Pada waktu kita mendapatkan kemerdekaan kita?' pikir Jogya dengan sedih.
Dan Indonesia mulai membiarkan semua ingatan dia tentang pria berambut pirang coklat itu, membanjirkan pikirannya.
-A Long Flashback— (maksudnya ini cerita akan panjang) ^^
"Holly Holly Liat! Liat~!" anak laki-laki kecil berlari-larian di pantai dengan senyuman lebar di mukanya.
"Ah ada apa Indo?" Tanya pria tinggi dan besar di belakangnya.
"Lautnya indah ya, Holly?"
Melihat ke arah laut dan membiarkan angin laut menyentuh mukanya, Netherlands tersenyum.
"Ah~ Iya memang… Hey Indo, kamu memang narcis ya?" ejek laki-laki itu ke anak kecil yang umurnya tidak lebih dari 7 tahun.
"Ehhh? Maksudnya apa?" Tanya anak kecil itu dengan muka polos. (Emang polos sih…)
"Lautan ini, Lautan inikan bagian dari kamu Indonesia, semua yang ada di pulau ini adalah kamu Indonesia," melihat ke anak kecil itu Netherlands melanjutkan penjelasannya dia, "dan menurutku, banyak sekali dari tempat ini yang bagus, kamu tahu kenapa?"
Anak kecil yang imut itu menggeleng- gelengkan kepalanya.
"Karena," menundukan kepala Indonesia dengan tangannya yang besar itu, Netherlands mengacak-acakan rambut anak kecil itu, "Kamu itu imut dan lucu, karakter kamu juga bagus kok, cuman rada nyebelin aja kandang- kadang, tapi nggak papa kok~ oh! dan setiap Negara terbentuk oleh orang yang merepresentasikan mereka." Kata laki- laki bersosok rambut jabrik itu.
"Oh~ jadi tempatnya Holly penuh dengan orang- orang yang suka mengintip orang lain mandi ya?" tanya anak kecil berambut acak-acakan itu.
Hening.
Hanya ada suara angin berhembus dan air laut menghantam daratan berpasir.
…
"APA?" Teriak laki-laki itu dengan muka merah.
"Ma-Maksudnya a-apa…?"
'Jangan –jangan 'ni anak tau lagi...' pikir Netherlands
"Abisnya waktu itu aku lagi mandi, lalu Holly masuk ke kamar mandi sih~ dah gitu kejadiannya udah terjadi lebih dari 2 kali lho~" muka Indonesia seperti ini (=3=).
"Ng-Ngak lah! itu kan terjadi karena kamu mandi nggak pernah mengunci pintu!"
"OH gitu ya? Hm… ok lah kalau begitu~ lain kali aku mandi, aku akan mengunci pintunya deh~"
'Yah… saying sekali… padahal baru saja aku mau membeli kamera baru…' pikir Netherlands, kecewa.
-0-
Indonesia menangis lebih keras lagi.
"Kenapa… Kenapa aku menangis lebih keras lagi? Padahal itu adalah memory yang Indah!"
Yogya melihat sosok ayahnya yang sedih itu, dan menjawab.
"Mungkin karena, mulai dari saat itu, rakyatmu, dan beberapa provinsi lain mulai memberontak atas penjajahan Londo?"
"I…ya…"
-0-
"Hei Indonesia! Mau ke pantai nggak?" sapa seorang laki-laki bule.
Indonesia yang sekarang berumur 16 tahun, dan sedang berjalan menuju entahlah kemana, menengok ke laki-laki itu.
"Ah Holl- Eh maksudku Netherlands, maaf aku ada rapat dengan beberapa provinsiku dan rakyat-rakyat ku… kapan-kapan saja ya?" tanpa menerima balasan dari Netherlands, Indonesia lanjut berjalan ke tempat tujuannya.
Netherlands cemberut.
"Cuma aku atau Indonesia dan yang lain mulai menjauh dari aku ya?"
Mengangkat bahunya Netherlands memutuskan untuk berjalan-jalan di Indonesia, dan mungkin, Semoga dia bisa bertemu dengan salah satu provinsinya.
Dan dia beruntung.
"JOGJA~!"
Laki-laki kecil berumur 12 tahun itu menengok ke arah Netherlands.
"Ah~ Londo~! Hallo! Apa kabar?" senyum anak kecil itu.
"Baik~ eh Jogja ma-?"
"AH Jogja! Itu dia kamu!" Teriak sosok anak remaja berambut biru hitam.
"Ehh… Borobudur! Kamu ngapain di sini?" Tanya laki-laki kecil itu.
"Jangan bilang kalau kamu lupa! Hari inikan kita ada pertemuan dengan yang lain! Ayo pergi!" anak remaja yang lebih tinggi itu menarik Jogja untuk pergi.
"Um… Londo? Maaf ya, aku harus pergi…" melihat ke arah Netherland dengan sedih. Borobudur yang mengetahui ini menggenggam tangan Jogja lebih ketat lagi.
"Jogja…"
"Ya… aku tahu… tapi…" menatap mata Borobudur dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Borobudur memperlambatkan jalannya.
"Aku tidak mengerti… kenapa? Mama juga akan kesakitankan?" tanyanya dengan sedih.
Borobudur kembali melihat ke depan, "Maafkan aku Jogja… aku juga tidak mengerti mengapa…"
-0-
"Yah~! Jogja juga pergi~! Udah ah! Gue mau balik ke Holland!" dan sehabis itu, Netherland pulang balik ke Holland, tanpa pengetahuannya Indonesia dan yang lain sedang mendiskusikan kemerdekaan, ketika Jepang datang tiba-tiba.
"Hallo semuanya, salam kenal. Aku akan bejuang untuk membantu kalian merdeka, Bagaimana?" Senyum Jepang.
-.-.-.-.-.-.-.-.
"Heh… sehabis itu, 3 tahun kedepannya adalah 3 tahun terburuk di hidupku…"
"Ah masa sih? Bukannya kamu dan Borobudur terpisah dari yang lain, dan karena itu Borobudur harus melindungimu dari si Jepang?" ejek Indonesia.
Muka Jogya memerah seperti tomat, "AH! Ng-Nggak kok! A-Aku w-waktu itu masih kecil dan lemah…" sela Jogya.
"OHW~ gitu ya" lirik Indonesia.
"I-Iya!"
Hening.
Lalu mereka berdua ketawa keras.
"Ahahahaha~ aku sudah lupa, kapan terakhir kali kita berkumpul seperti keluarga…" kata Indonesia.
"Aku ingat!"
"Memory kamu hebat ya?" Indonesia sweat-drop.
"Tentu dong! Akukan Pintar dan juga nggak males, kayak lu!" kata Jogja, memuji dirinya sendiri.
"EH! Gue nggak males ya, maaf!" balas Indonesia.
-.-.-.-.-.-
"Bersulang!" teriak seorang laki-laki tampan, mengangkat botol birnya, yang di lanjutkan oleh orang lain yang ada di tempat itu untuk mengangkat minuman mereka.
Hari ini, entah mengapa Netherland mengadakan pesta yang mengumpulkan semua provinsi Indonesia, dan juga mengundang adik-adiknya, Belgium dan Luxembourg.
Hari itu adalah hari yang bahagia untuk semuanya, hari itu semua provinsi mengumpul dan berbicara seperti mereka telah begabung kembali (memang digabungkan kembali sih…), hari itu adalah hari kapan Borobudur untuk pertama kalinya, senyum ke Jogya, dan pada waktu hari itu selesai, bisa di bilang itu adalah saat terburuk bagi Indonesia.
"Ah maafkan saya Indonesia, saya harus membawa Luxembourg balik pulang, apakah kamu benar tidak apa- apa, membawa kakakku pulang? Dia berat lho…" kata Belgium, setelah meminta maaf ke Indonesia.
"Benar tidak apa- apa kok! Rumahku kan dekat dari sini~" kata Indonesia sambil tersenyum.
"Kalau begitu, Terima kasih banyak ya Indonesia!" lambai Belgium, dan dia masuk ke mobil belanda kuno yang akan mengantar mereka ke penerbangan mereka kembali ke Eropa.
"Indo… Bir~" Kata Netherlands jelas mabuk.
"NGGAK! Kamu sudah cukup mabok, eh! Nggak! Kamu sudah mabok! Ayo cobalah untuk berjalan! Kita pulang sekarang juga!" merangkulkan tangannya Netherland ke pundak dirinya, Indonesia mulai berjalan, dan di perjalan itulah sesuatu terbuka.
"Ugh… Indo?"
"Apa?" balas Indonesia dengan galak.
"Kok marah sih~?" kata Netherlands mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat Indonesia.
"Abisnya kamu mabok dan berat sekali sih!" balas Indonesia.
"Oh…" kembali menundukan kepalanya, Netherlands kembali diam.
Indonesia mengetahui kalau Netherlands benar-benar mabuk, dan memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan penting ke laki-laki bule itu.
"Hey Holl?"
"Hmmm…?"
"Aku berpikir, apa yang akan kamu lakukan kalau aku meninggalkan kamu?" Tanya Indonesia.
Netherlands hening sebentar, lalu menjawab "Kalau itu terjadi, maka aku akan berjuang keras untuk membuat kamu kembali kepadaku, dan aku 'tak akan membiarkan apapun mengam…bilmu… dari aku…" lalu Netherlands tertidur pulas, untung saja perjalanan mereka sudah tidak jauh lagi.
"Begitu ya…? kalau gitu kamu harus…" tetesan airmata mulai membasahi pipi Indonesia, "Maafkan aku, Holly…"
-WW2—
"INDONESIA!"
Hujan membasahi medan tempur perang ini.
Tidak jauh di depan ada sosok pemuda yang menggungakan baju perang orang Indonesia, dan memakai ikatan kepala merah putih.
Benderanya Indonesia.
"D-DASAR KAMU! Berani-beraninya kamu memulai pertempuran!" teriak Netherlands.
Sosok pemuda berambuk hitam itu menengok kebelakang dan memandang ke Netherlands, denagan tatapan penuh kebencian.
"AKU YANG MULAI? AKU? BUKA MATAMU LEBAR- LEBAR NETHERLANDS!" balas Indonesia, menggengam bambu runcingnya lebih keras lagi dan melanjutkan bicaranya.
"SIAPA YANG MENYIKSA RAKYATKU DIAM- DIAM? SIAPA YANG TELAH MEMAKSA RAKYATKU UNTUK BEKERJA SEHARIAN TANPA DIBERI MAKANAN YANG CUKUP DAN ITUPUN DARI TUA SAMPAI YANG MUDA! SIAPA YANG SELALU MENGINGKARI JANJINYA? Dan… yang paling buruk Netherlands…" menundukan kepalanya untuk menyembunyikan airmatanya, dan menyalahkan air di pipinya itu adalanh air hujan yang turun.
Mengangkat kepalanya dengan muka menangis Indonesia melanjutkan, "Siapa yang telah membohongiku selama ini…?" pertanyaan terakhir itulah yang melukai hati Netherlands lebih sakit dari pertanyaan/ omelan yang lain.
"I-Indonesia…" berjalan perlahan-lahan menuju Indonesia, Netherlands merasa masih banyak yang harus dia jelaskan kepada Indonesia. Tapi sayangnya, Indonesia tidak mau mendengarkannya.
"JANGAN MENDEKAT!" teriak pemuda itu, mengangkat bambu runcingnya, menujukan benda itu ke Netherlands. Netherlands mengetahui apa yang baik, diam di tempat.
"Indonesia! Dengarkan aku! Itu semua… adalah perbuatan Bosku! Percayalah! Aku tidak mungkin melakukan hal-hal itu dengan sengaja!" Netherlands menjelaskan.
Tapi tetap saja bambu runcingnya Indonesia tidak bergerak dari posisinya.
"Jadi, yang hampir membunuh Portugal juga suruhan Bosmu? Yang menyelamatkan aku dari Jepang juga Bosmu? Yang… membuat aku… sayang padamu, juga Bosmu ya…? Netherlands?" Indonesia tidak teriak seperti yang tadi, tapi kata- katanya menusuk hati Netherlands seperti jutaan pedang memotongnya.
"Bu-Bukan begitu Indonesia… aku memang-" jawab Netherlands dengan sedih.
"Kalau begitu apa? Kamu mahu apakan aku lagi Netherlands? Lihatlah sekelilingmu! Rakyatku berjuang mati- matian untuk mendapatkan kemerdekaan kita! Dan, sudah tahukah engkau berapa lama kami telah merencanakan untuk kemerdekaan ini?"
Netherlands mengeleng- gelengkan kepalanya.
"Dari sebelum Jepang menjajah aku…"
Mata Netherlands melebar.
"Jadi selama ini? Kamu dan yang lain telah menjauhiku untuk…" Tanya Netherlands kaget.
"Ya, tapi setelah kamu menyelamatkan aku dan yang lain dari Jepang, aku mulai berpikir, 'apakah aku benar- benar mau kemerdekaan ini'? tapi rakyatku tanpa ragu- ragu bilang mereka masih mahu kemerdekaan, maka itulah jawabanku!"
'Walau sampai sekarang pun, aku masih menanyakan pertanyaan itu ke diriku sendiri…' tapi Indonesia membiarkan kalimat terakhir itu untuk tidak keluar dari mulutnya.
"Heh… kalau begitu," entah kenapa Indonesia mempersiapkan dirinya di posisi menyerang, karena suara Netherlands yang baru dia dengar adalah suara yang sama pada waktu dia masih kecil yang mendengar teriakan Portugal yang hampir di bunuh oleh pemilik suara itu.
"Aku tak punya pilihan lain ya?" tanpa peringatan, Netherlands menyerang Indonesia.
"Hei Holly, apa bahasa belandanya aku cinta kamu?"
Untung saja Indonesia sudah di posisi menyerang, maka dia bisa melindungi dirinya dari serangannya Netherlands.
"Hmm? Kenapa kamu mahu tahu?"
"Tch… neuken!" (Fuck) kutuk Netherlands. Menggunakan salah Satu tangannya Netherlands menonjok Indonesia, tentu saja pemuda malang itu jatuh karena tekannanya.
"Sudahlah! Kasih tau aku aja! Pliss~"
Indonesia meludahkan darah dan mengambil bambu runcingnya yang jatuh itu, dan menyerang secara tiba-tiba ke Netherlands, menghasilkan lengan baju tangan kiri Nertherlands untuk robek, dan lama kelamaan darah mulai keluar.
"Oke oke! Bahasa belandanya itu, Ik hou van je."
Melihat darah mulai mengalir, Netherlands menjadi Sirius dengan perang ini.
"Dasar kamu!" teriak Netherlands, mengeluarkan senapannya dan mulai menembak ke Indonesia. Untung beberapa tembakan pertama tidak mengenai pemuda berkulit matang itu.
"Oh… Hmm! Kalau begitu, Holly?"
"Iya, apa?"
Tapi pada tembakan ke 5 atau ke 6, sebuah peluru mengenai kaki kanan Indonesia.
"AAAAHHHH!" teriak pemuda itu, dan jatuh ke tanah menggengam kakinya yang luka itu. Netherlands mengambil waktu ini untuk berjalan mendekati Indonesia dengan muka tak beremosi.
Menujukan senapanya ke kepala Indonesia, Netherlands berkata, "Ada kata terakhir?"
"Holly! Ik hou van je!" senyum anak kecil itu dengan lebar.
Mata Netherlands melebar, kata- kata Indonesia itu melayang dipikirannya.
Indonesia sadar bahwa Netherlands telah menurunkan senapannya sedikit, dan menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Netherlands.
"Ahahaha~ Ik hou ook van jou, Indonesia" balas pria bermata coklat itu.
Pada waktu Netherlands manyadarkan diri, yang dia lihat hanyalah Indonesia menancapkan bambu runcingnya ke dada kanannya. Sekarang gilirannya Netherlands untuk membatukan darah.
Netherlands mulai terengah-engah, dan jatuh berlutut ke tanah.
"Aku menang Netherlands… Jangan menyangkal itu…" kata Indonesia juga terengah-engah ke sosok Netherlands yang sedang menggengam dada kanannya.
"Iya… aku tahu itu…" Kata Netherlands dengan lemah. Mengangkat kepalanya untuk menatap ke Indonesia dengan muka menyesal.
"Maafkan aku ya… Indonesia… Ik hou van je…" dan dengan itu Netherlands jatuh ke tanah .
Indonesia mengekspresikan muka kaget, karena dia hanya ingat beberapa kata belanda, kalimat itulah yang paling dia kenal dari yang lain.
'Aku cinta padamu…'
Indonesia ingin sekali memeluk tubuh Netherlands yang terjatuh didepannya dia itu, tapi menegur dirinya, karena ini adalah perang. Perasaan bersalah mengepungi pikirannya tapi dia segera menghilangkan perasaan itu, dan mulai berjalan pelan-pelan karena kakinya yang luka itu, menuju perang yang telah dia menangkan.
-.-.-.-.-.-.-.
"Hmph… jujur aja aku kangen sama Londo..." Kata Jogja dengan jujur.
"Ya udah! Pergi aja ke South Africa sana! Eh tapi nanti Borobudur gimana ya?" lirik Indonesia.
"E-Eh? TA-TAU AH!" Kata Jogja dengan gagap, mukanya mulai memerah.
"Ahahaha~ ya ya dah deh!" tawa Indonesia.
Lalu ada ide yang keluar dipikiran Jogya.
"Eh Indo, berapa lama lu dikasih cuti?" Tanya Jogya.
"Hm… ummm 1 minggu kenapa?"
Jogya menyengir.
"Pak tas lu, kita berangkat!" teriak Jogya.
"HAH? Kok tiba- tiba? Kita mau kemana?" Tanya Indonesia.
"Ke Afrika selatan!" balas Jogya.
"APA? NGAPAIN KITA KESANA?"
"DAH PAK AJA DULU! CEPET SANA! NTAR KITA KE BANDARA!"
"Mangnya lu dah booking tiket apa?"
"Iya, buat dua orang, hari ini, jam berapa? Oh jam 6 ya? Baik, terima kasih. Kenapa?" menutup telponnya Jogya melihat ke Indonesia, yang mulutnya terbuka lebar.
"Ka-kamu ini…"
"DAH AKU PERGI DULU YA!" dengan itu Jogja lari keluar rumah untuk pak tasnya dia sendiri.
…
"DASAR KAMU JOGJA!"
Done~! Tunggu chapter berikutnya ya?
Review please~ =)
