Hai semuanyaaa, V3Yagami di siniii, aku mau curhat sedikit boleh?

Raffa sialan! bikin cerita ribet banget! gue jadi susah bikin chapter berikutnya, pokoknya kalo chapter ini jelek, salahin si Rafaa!

sekian curhatnya :D

oh iya, aku mau ngejawab satu-satu, tapi kebanyakan, aku ngga sebutin nama ngga apa-apa yah?

1. makasih banyak banget yang udah bilang fict ini bagus, walaupun pasti masih banyak salah dan typo di mana-mana, itulah kekurangan kami :D (V3)

2. mereka baru umur 15 tahun kan lulus smp, selanjutnya itu nanti kita bikin mereka berumur 16, 17, sampai 18 tahun. masal lalu yang kelam itu bisa ngubah penampilan dan karakter seseorang, itu kita pelajari dari berbagai macam komik adventure, dan untuk sex, maaf kalau kita agak lancang, sebelumnya di fict my ego, Raffa udah ngasih tahu... ANAK KECIL MENJAUH, karena di lingkungan yang Raffa jalani kebanyakan anak-anak berumur 14 tahun pun sudah sering ngelakuin sex. apalagi di sini Sasuke n Sakura hanya berhubungan sex dengan satu pasangan, bukan yang ganti-ganti, jadi menurut kami ngga masalah sih. kalau masalah umur, ngga usah sedih, karena kita pun sudah berumur 23 tahun, hahahaa (V3 n Raffa)

3. Slight Yuri itu benar, Karin memiliki perasaan khusus pada Sakura, malah nanti kita berencana mau bikin Karin yang maksa Sakura untuk Lemonan... itu ide raffa loh, bukan aku (Raffa)

4. kami ngga tau bakalan sampe chapter berapa, sepertinya sih akan panjang, dan untuk masa lalu tiap-tiap karakter, itu akan di bahas pelan-pelan kok, kita usahain secara detail juga :D cinta segitiga pun ada, lupa kasih tahu yah kalau fict ini SasuSakuNaru, ShikaInoNeji :D, ah... untuk Hinata lovers, maaf yah, bukan maksud nge bashing, hanya aja karakter antagonis yang kita cari emang adanya cocok di Hinata :D (Raffa)

5. ada yang mau nge gambar sosok mereka? wah boleh banget, kita tunggu gambarnya yah :D (raffa n V3)

6. kita ngga buat akun collab, karena V3 ngga mau ribet, jadi di pasang di akun saya (Raffa)

7. kenapa Sasuke sadis? kenapa dia takut bgt kehilangan Sakura? itu nanti kita bahas kok entah di chapter besok, atau di chapter besoknya lagi :D yang jelas dulu Sakura hampir mati gara-gara kelalaiannya Sasuke :D (Raffa)

8. OOC, memang kami sengaja membuat karakter jadi OOC, sejak kapan kami pernah bikin karakter IC? hahahahahaa, untuk summary, kita memang ngga ada yang pinter bikin summary, masang summary aja main suruh-suruhan, "V3 aja, ngga ah raffa aja, ngga ah v3 aja," begitu lah :D(V3 n Raffa)

.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

Bunga-bunga bersemi di sepanjang jalan kota menandakan sudah saatnya musim semi telah tiba, hari ini adalah hari perdana Sakura memulai aktifitas terbarunya selama lima tahun kebelakang dia tidak pernah untuk menginjakan kaki di luar. Atas izin dari Sasuke, akhirnya di sinilah Sakura berada. Bersama dengan yang lain, mereka berdiri di depan gerbang sekolah tempat mereka menuntut ilmu.

Menuntut ilmu? Sepertinya istilah itu hanya berlaku untuk Sakura, dengan latar belakang home schooling Sakura bisa mendapatkan nilai lumayan bagus pada saat ujian masuk sekolah ini, walaupun tidak di semua bidang mata pelajaran, tentu saja ujian itu di rumah, dengan ber alasan Sakura sakit keras, dan Sasuke sendiri yang meminta pihak sekolah agar salah satu guru mendatangi rumahnya untuk memberikan Sakura ujian.

"Kenapa diam? Ayo jalan," Sasuke menggandeng tangan Sakura, mengajak masuk ke dalam gedung yang membuat Sakura grogi.

"A-Anu… aku… malu."

"Kenapa harus malu? Kamu kan sekelas dengan Sasuke," ujar Karin menepuk pundak Sakura.

"Aku mau sekelas denganmu, Karin."

"Sayangnya tidak bisa, bersyukurlah di kelasmu ada Sasuke dan Naruto, di kelasku ada Neji dan Shikamaru, yang satu menyebalkan yang satu malas ngomong."

"Dan siapa yang kau maksud menyebalkan itu, Karin?" sindir Neji sambil meletakkan lengannya di atas pemilik kepala berambut merah itu. Hubungan Neji dan Karin memang sangat dekat, bukan berarti mereka memiliki perasaan khusus satu sama lain.

"Siapa saja yang merasa, dan singkirkan lenganmu dariku," Karin menepisnya.

"Nah, Sakura-chan, ayo kita masuk, jangan takut, ini bukan kandang singa," ajak Naruto dengan cengiran khasnya.

"Ng, Sasuke-kun," panggil Sakura yang mengencangkan genggamannya, "Jangan tinggalkan aku."

"Iya, kau ini kenapa sih, kita hanya akan masuk sekolah, Sakura, bukan masuk ke medan perang."

Saat ke enam orang itu berjalan, tentu saja hal ini menjadi pusat perhatian. Sedikit demi sedikit, mereka mendengar omongan-omongan yang memang dengan jelas di tunjukan untuk mereka, omongan yang sudah biasa mereka dengar, namun tidak biasa Sakura dengar.

"Eh? Lihat itu, Kyaaaaaaa ganteng-ganteng bangeeeet!"

"Yang cewek juga cantik."

"Aku suka yang rambut merah, seksi dan terkesan dewasa."

"Yang rambut pink juga manis, walaupun aneh warna rambutnya yang langkah, tapi sepertinya dia masih lugu, hahaha."

Mendengar ada yang berkomentar tentang Sakura, tubuh Sasuke reflek, matanya melirik ke arah orang itu dengan sangat tajam dan dingin, mendapat tatapan seperti itu dari Sasuke membuat laki-laki yang tadi berkomentar merinding sampai mereka memutuskan untuk lari dari situ, Shikamaru yang menyadarinya hanya bisa menghela nafas.

"Hhh, sudah kuduga."

Mereka menuju ruangan penerimaan murid baru, mendapatkan tempat duduk paling belakang merupakan usul dari Shikamaru. Alasannya adalah agar dia bisa tidur tanpa harus ketahuan oleh para guru dan panitia yang lain. Neji duduk di samping kiri Naruto, di samping kanan Naruto ada Karin, kemudian Sakura, Sasuke baru Shikamaru. Pidato yang dilontarkan begitu membosankan, akhirnya Sasuke memutuskan untuk menyenderkan kepalanya di bahu Sakura. Sedangkan Shikamaru kini sedang tertidur dengan posisi duduk. Naruto berusaha untuk tetap bangun terlihat lucu, membuat Sakura sedikit terkekeh, sedangkan Karin memainkan hpnya. Hanya Neji yang terlihat seperti sosok murid terladan.

Mata Sakura mengeksplore ruangan itu, dia terkagum ternyata sekolah ini punya ruangan sebesar ini dan bisa menampung banyak orang, karena seingat Sakura waktu dia masih sd, sekolahannya tidak memiliki ruangan serba guna begini. Saat Sakura memperhatikan murid satu persatu, matanya menangkap sosok perempuan berambut pirang dengan ekspresi yang sepertinya ingin menangis, tapi bercampur dengan ekspresi tegar.

Selesainya upcara penerimaan murid baru, semua murid kembali ke kelasnya masing-masing yang sudah di tetapkan. Di kelas, karena guru belum datang, Sasuke dan Naruto duduk seolah melingkari Sakura. Mendengarkan Sakura mengoceh tentang serunya upacara tadi yang menurut Sasuke tidak ada seru-serunya sama sekali.

Di kelas tempat Neji, Shikamaru dan Karin tempati, suasana di sana benar-benar membuat mereka risih. Satu keuntungan kalau mereka satu kelas dengan Sasuke adalah terhindar dari tatapan ataupun omongan yang berisik tentang mereka, karena Sasuke bisa mengusir semua itu hanya dengan tatapan sadisnya. Sedangkan di sini?

"Neji! Lakukan sesuatu dong supaya mereka tidak memandangi ke sini terus!" geram Karin.

"Loh kenapa? Biar saja, itu artinya mereka suka pada kita."

"Tatapan mereka menyebalkan," gumam Shikamaru.

Sreeeeg.

Pintu kelas tergeser, seluruh taapan mata menuju pada sosok perempuan yang kini terdiam di depan pintu. Dengan ciri berambut pirang dan mempunyai mata biru aquamarine ini membuat seluruh kelas bertanya-tanya, orang asing kah wanita ini?

Wanita itu menundukkan kepalanya, cepat-cepat berjalan menuju bangku yang kosong, berjalan melewati Karin, Shikamaru dan Neji. Saat wanita itu lewat, entah di sadari atau tidak tatapan Neji dan Shikamaru tersangkut pada sosoknya yang mungkin bisa di bilang… indah?

Tubuhnya yang tinggi, wajahnya yang cantik, matanya bagaikan warna laut, juga gelagatnya yang sedikit kikuk membuat orang yang melihatnya pasti ingin tertawa. Karin yang pintar dalam menebak isi hati seseorang langsung paham, sepertinya kedua sahabatnya ini akan tertarik pada wanita yang baru saja mereka lihat ini. Tapi Karin sendiri tidak peduli, karena yang dia pedulikan di dunia ini adalah Sakura.

.

.

Setengah hari terlewati dengan lancar, ternyata belajar dengan banyak orang itu lebih menyenangkan dari pada belajar sendirian, itulah yang dipikirkan oleh Sakura sekarang, menyebabkan anak itu senyum-senyum sendiri tidak jelas, membuat kekasihnya curiga.

"Ada apa senyum-senyum begitu? Kau suka dengan guru tadi?" ucap Sasuke sedikit ketus.

"Bukan Sasuke-kun, aku hanya senang, aku sangat berterima kasih padamu sudah mengizinkanku untuk sekolah."

Wajah Sasuke sedikit terkejut, melihat ini pertama kalinya senyum Sakura mengandung arti bahagia, mata onyx nya pun kini melembut, Sasuke makin ingin membuat Sakura bahagia, tapi bagaimana caranya agar senyum seperti tadi akan selalu terpasang di wajahnya?

"Aku ke toilet dulu yah," pamit Sakura.

"Ajak Karin, jangan sendirian," usul Sasuke.

"Iya iyaa."

"Aku temani ke kelas Karin," tawar Naruto.

"Kalau begitu aku juga ikut."

Naruto dan Sakura menoleh ke arah Sasuke yang tiba-tiba berdiri, sudah tidak heran lagi bagi mereka kalau Sasuke itu selalu berubah pikiran di tengah-tengah. Sesampainya di kelas tempat Karin berada, Sakura berlari dan menghampiri mereka yang sedang berbincang-bincang. Terlihat Karin yang sedang duduk di tempatnya, Neji yang duduk di atas meja Karin, dan Shikamaru yang masih menundukkan kepalanya, entah tertidur atau hanya tidur-tiduran.

"Karin, ke toilet yuk," ajak Sakura.

"Hah? Kau datang ke sini hanya untuk meminta Karin menemani ke toilet?" tanya Neji tidak percaya.

"Keberatan?" kini Sasuke yang menimpalnya.

"Tidak sama sekali," jawab Neji dengan cepat.

"Oh iya, Sakura, pulang sekolah nanti apa kamu mau pergi denganku?" ajak Karin.

"Kemana?"

"Kita jalan-jalan, sudah lama kan kamu tidak jalan-jalan keluar?"

"M-Mauu mauu, Sasuke-kun?" tanya Sakura pada Sasuke, seolah bertanya sekaligus meminta izin, melihat Sakura yang bersemangat, mana mungkin Sasuke dapat menolaknya.

"Jangan pulang lebih dari jam 5."

"Yeeeyyy," belum lama merasakan kegembiraan yang Sasuke berikan, Sakura menangkap sosok perempuan yang tadi dia lihat duduk sendiri sambil membaca sebuah novel.

"Ah, anak itu."

"Kau kenal dia, Sakura?" tanya Neji.

"Tidak, aku melihatnya tadi saat upacara penerimaan murid baru."

Belum lama melihat sosok wanita itu sendirian, Sakura melihat ada beberapa anak laki-laki yang menghampiri dan menggodanya.

"Hei kamu, sendirian saja, tidak punya teman yaah" ucap laki-laki yang kini menyentuh rambutnya, "Pirang, kau orang asing yah?"

"Matamu juga biru, kau berasal dari mana? Gabung dengan kami yuk," ucap laki-laki yang lain.

Sakura merasa wanita itu risih dengan perlakuan laki-laki itu, akhirnya Sakura berbisik pada Sasuke, "Sasuke-kun, tolong dia."

"Hah? Untuk apa? Aku tidak kenal!"

"Wah, kulitmu terlihat mulus, boleh aku menyentuhnya?"

"STAY AWAY FROM ME!"

Semua terdiam saat wanita itu menjerit keras… menggunakan bahasa internasional. Dan itu juga membuat Shikamaru yang tadinya menunduk kini membalikkan badannya untuk melihat siapa yang berteriak mengganggu tidurnya itu. Sakura melihat mata wanita itu berkaca-kaca, namun berusaha untuk tegar.

"Kau bicara apa sih, aku tidak mengerti, sudah tinggalkan saja, dasar orang asing aneh!"

Mata yang tadi terlihat tegar kini melemah, saat itulah Sakura gunakan untuk menghampirinya, yang tentu saja membuat Sasuke menepuk jidatnya sendiri karena melihat kelakuan Sakura yang dari dulu tidak berubah. Tidak bisa membiarkan orang tertindas.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Sakura pada wanita itu.

Wanita itu hanya memandang Sakura dengan tatapan bingung, ingin mengucapkan sesuatu, tapi wanita itu menahan suaranya agar keluar, seolah takut untuk mengeluarkan apa yang akan diucap. Saat Sakura menunggu untuk menerima jawabannya, Shikamaru tanpa menoleh menyeletuk, "She asked you, 'are you alright', answer her!"

"Ah- I'm fine… thank you," balasnya malu-malu.

Sakura menatap lurus mata aquamarine itu, dalam hati dia bertanya, apakah anak ini tidak bisa bahasa jepang? Dengan percaya diri, Sakura tersenyum padanya dan memulai pembicaraan.

"So…"

Sasuke memandang heran ke arah dua wanita yang sedang berusaha untuk saling bicara itu, kalau memang benar si pirang itu tidak bisa bahasa jepang, kenapa Sakura percaya diri sekali menghampirinya?

"You…" Sakura melanjutkan, Sasuke dan Karin menatap penasaran dengan apa yang akan Sakura katakan. Karena setahu Sasuke, Sakura itu…

"…" Sakura memberi jeda, kemudia dia menoleh ke arah Sasuke, "berasal dari mana itu bahasa inggrisnya apa?"

… tidak bisa bahasa inggris.

Dan Neji pun jatuh dari duduknya dengan tidak elit.

"Ehehehe, maaf, nilai bahasa inggrisku jelek."

Neji dateng menghampiri Sakura dan menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan wanita pirang itu.

"What's your name?" tanya Neji sambil tersenyum.

"Ya-Yamanaka Ino," jawab Ino sedikit canggung.

"Her name is Sakura, she can't speak English, but she want to know you, is that okay?" ucap Neji sambil menunjuk Sakura, mendengar Neji berbicara memakai bahasa asing dengan lancar, Sakura menatap Neji dengan sedikit terpesona, karena sebelumnya mereka tidak pernah memakai bahasa asing kalau berada di dalam mansion.

"I… It's okay," jawab Ino.

"Tanyakan dari mana asalnya," pinta Sakura.

"So, Ino… she want to know where are you come from?" entah kenapa rasanya aku seperti penerjemah di sini.

"I come from New York, America. And sorry, I can't speak Japanese but I understand a little."

"Dia dari New York Amerika, dia tidak bisa bicara bahasa jepang, tapi dia bisa mengerti sedikit," jelas Neji pada Sakura.

"Wah, Neji kau hebat sekali, nah sekarang tanyakan tentang-"

"Sakura," potong Sasuke dengan nada sedikit dingin, nada dingin ini hanya ke empat teman satu timnya ini yang menyadari plus Ino, Sakura sendiri tidak menyadari kalau Sasuke sedang sinis, "Katanya mau ke toilet?"

"Ah iya!" Sakura menepuk jidatnya,"Ino…" sebelum pergi Sakura memanggilnya,"Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi yah."

Ino hanya menatap Sakura dengan tatapan bingung, apa yang wanita itu bicarakan? Setelah Sakura pergi bersama Karin ke toilet, Neji menerjemahkannya, "She said, she want to have a nice chat with you."

"Why? I don't even know her so well."

Neji tersenyum pada Ino dan menjawab,"That's Sakura, she can't avoiding someone like you alone."

"Teme," panggil Naruto pelan, saat Sasuke menoleh, "cemburu boleh saja, tapi masa dengan Neji pun kau harus cemburu sih?"

"Diam."

.

.

"Karin, aku ingin berteman dengan Ino, aku suka padanya, sepertinya kita bertiga bisa menjadi teman baik," seru Sakura smabil berkaca di toilet wanita.

"Kamu selalu seperti ini yah, aku jadi ingat saat pertama kali kau mengajakku bergabung, kau begitu perhatian, begitu hangat, bahkan kau peduli terhadapku yang saat itu sudah mencuri makananmu," ucap Karin sambil menambahkan lip gloss pada bibirnya.

"Hahaha, saat itu kan kita sama-sama susah, sudah bisa menjadi seperti sekarang saja aku masih tidak percaya."

"Aku lah yang terakhir bergabung di kelompok kalian, dulu kita sangat sengsara yah, hahaha."

"Tapi di pikir-pikir, aku rindu masa-masa kau dengan Neji berebut makanan," sambil menerawang, Sakura sedikit terkekeh.

"Rindu?" Karin terdiam, bagaimana bisa hal seperti itu di bilang rindu? Saat-saat di mana mereka sengsara, anak-anak korban dari kelicikan pemerintah, anak-anak terlantar yang di selimuti oleh dendam, "Aku sih tidak, aku tidak mau lagi melihatmu yang seperti dulu."

Sakura tersenyum lembut dan memeluk lengan Karin dengan manja, "Aku suka Karin, kamu perhatian seperti sosok kakak."

Karin membalas senyum, namun mengandung arti pilu, "Ya,aku juga suka Sakura."

.

.

Sepulang sekolah, Sakura yang sedang mengganti sepatu di lokernya menemukan sosok Ino, dengan reflek, Sakura memanggil nama wanita itu dengan lantang, "Inoooo!"

Ino tersenyum dan menyapa balik, "Sakura."

"Mau ikut dengan kami? Aku dan Karin mau jalan-jalan sebentar, ehm… ah…" Sakura baru sadar kalau Ino tidak mengerti apa yang dia ucapkan, "Sasuke-kuuun~"

"Ck! She want you to come with her and Karin, hang out for a while," ucap Sasuke malas-malasan.

Mendengar Sasuke yang menjawab malas-malasan, wajah Ino merengut, "If you don't feel like to translated her, then don't! you moron."

"What did you say?" wajah Sasuke terlihat sinis pada Ino.

"I-i said-"

"Okay, stop both of you," cegah Neji sebelum kedua orang yang hampir adu mulut ini berkelahi di depan Sakura, yang ini sedang bengong di samping Sasuke,"Sasuke, dia wanita, jangan kasar."

Sasuke membuang mukanya dari Neji, kemudian menarik bahu Sakura, "Ayo pulang."

"Eehh? Tapi aku kan dengan Karin-"

"Tidak ada penolakan! Turuti kataku."

Sakura menoleh ke arah Ino dengan tatapan seolah meminta maaf, Ino yang masih berdiri di situ menatap Sasuke dengan tatapan jengkel, walaupun dia tidak mengerti bahasa jepang, tapi Ino bisa membaca situasi dari gerak-gerik mereka, "Is he… her boyfriend?" tanya Ino pada Neji.

"Yep, Boyfriend, Guardian, Bodyguard,Ssecurity… eehmm, what else? Ah, her 'king'."

"Is she stupid or what? How can Sakura let him to control her?"

"Well, you don't know anything about them, for Sasuke, Sakura is everything to him, so does Sakura to Sasuke."

"I still don't understand, we're just a teenager, don't be so serious about relationship."

"As for your information, we're not a normal teenager," suara lain menyambung percakapan mereka, begitu Ino dan Neji menoleh, ternyata Shikamaru dan Karin yang datang.

"Ini semua salahmu! Gara-gara kau Sakura meninggalkanku!" gerutu Karin.

"What do you mean?"

"If you don't have a feeling for being Sakura's friend… then ignore her when she say hi to you next time," sambil berucap, Shikamaru berlalu meninggalkan yang lainnya di belakang.

"Shikamaru tunggu aku, ish kau ini kenapa sih?" tanya Karin.

"Kau yang jalannya lelet, aku ingin cepat-cepat pulang, aku mau tidur."

"Don't mind him, he's always like that, sorry I must to go after them, see you tomorrow," ucap Neji yang kemudian mengejar sosok Shikamaru dan Karin yang sudah jauh meninggalkannya.

Ino hanya bisa terdiam. Sebenarnya dia sangat senang saat Sakura menghampirinya untuk mencoba mengajak bicara dengannya, ini pertama kalinya Ino datang ke jepang, walaupun ayahnya warga jepang, tapi Ino tinggal di Amerika dari sejak dia adalah seorang politikus yang sangat kaya raya, sayang sekali Ino sendiri tidak dekat dengan Ayahnya itu, ibunya sudah meninggal tepat saat Ino lulus smp.

Dan jujur, tadi Ino sangat ingin menerima ajakan Sakura, andai saja sifatnya yang cepat tersinggung itu tidak muncul saat Sasuke malas-malasan menterjemahkan ucapan Sakura untuknya, saat ini mungkin dia sedang bersama dengan Sakura dan Karin itu. Saat sedang melamun, mobil limo hitam datang menuju gerbang sekolah, dan keluar beberapa sosok laki-laki yang memakai setelan suit serta kacamata. Bodyguard.

"Lady Ino, we came here to pick you up," ucap salah satu sosok bodyguard wanita.

"Hm, thank you… ehm, my father?"

"He's not come home now, he still have a business with his partner."

"Geezz, he said tonight we're gonna have a nice dinner, he's lying again, huh?" ucap Ino pada bodyguard wanita yang membukakan pintu limo.

"I don't know, my lady."

.

.

Sesampainya di rumah, Ino memasuki kamarnya, membuka sepatu, melempar tas dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang ukurannya tidak normal untuk satu orang. Merasa sangat jenuh, Ino membuka laptopnya. Mencari sesuatu yang menarik untuk di baca. Saat dia mengetikkan kata kunci 'hot topic' dia menemuka ada beberapa blog yang sedang membicarakan tentang elite assassin.

"Elite Assassin?" gumamnya sendiri.

Dia meng klik link pertama yang paling banyak orang berdiskusi, Ino memperhatikan tulisan-tulisan itu. 90% Ino menyimpulkan bahwa seluruh orang yang memberi komen, itu sangat lega dan bersyukur dengan adanya elite assassin ini, apalagi Ino tahu elite assassin ini membunuh pejabat-pejabat yang korup juga politikus-politikus yang sering memakan atau memanfaatkan hak-hak rakyat. Tidak di jelaskan bagaimana dan siapa sosok dari elite assassin ini, yang mereka tahu informasinya adalah, mereka terdiri dari lima orang dan terdapat satu wanita di antaranya.

Mata aquamarine itu membaca komen demi komen yang terdapat di blog tersebut. Bersyukur mereka membicaran topic itu memakai bahasa inggris, tapi Ino berpikir, betapa hebatnya kelompok ini karena terkenal sampai beberapa Negara. Saat Ino sedang sedang membaca, tiba-tiba dia mendengar ada suara pintu di sebelahnya terbuka, yang adalah kamar tamu.

"Who's that?"

Karena penasaran, Ino keluar dari kamarnya, kenapa tidak ada yang memberi tahunya kalau akan ada tamu hari ini? Seberapa sibuknya sih pelayan sampai tidak memberi tahunya? Sepertinya tamu itu tidak terlalu memikirkan keadaan sekitar, pintunya tidak terlalu tertutup, sehingga dia bisa mengintip siapa yang datang dan memasuki kamar tamunya itu. Saat mengintip, mata Ino terbelalak, tubuhnya langsung membelakangi pintu kamar itu. Ino meutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun.

"Where's your daughter?" tanya sosok wanita seksi sambil merangkul sosok pria dewasa berambut pirang.

"I don't know and I don't care," jawab sosok pria dewasa sambil menciumi setiap lekuk tubuh wanita itu.

"(She… she's my father's friend… last month we had a dinner together in New York… why is she… here?)" Pikir Ino masih sambil tidak percaya apa yang di lakukan oleh ayah dan teman wanitanya itu.

"You know what, she's so annoying sometimes, I don't really like her, I prefer her brother to stay with us than her," ucap wanita itu sambil membuka kancing sang pria yang ternyata ayahnya Ino.

"we can send her back to New Yor, while we stay here, how? I call her to come because her brother so noisy, he want to see her."

"Hhmmm, promise me, someday you will send her back to New York."

"I promise, my love."

"And when the time is come, you know what I want, right?"

"Of course, I'll do anything for you, even I must kill my own daughter."

Ino pelan-pelan meninggalkan tempat itu dan langsung masuk ke kamarnya, air mata yang keluar membuat pandangannya sedikit buram. Mengatur nafas agar tidak mengeluarkan suara hisakan, Ino mengambil hp di tas, di tekan nomor dengan cepat, tapi yang tersambung adalah nada sibuk.

"Brother… where are you…" gumam Ino pelan.

.

.

"Sasuke-kun jahaaaaaaaat! Jangan hanya gara-gara kau bad mood, jadinya melarangku untuk pergiiiii!"

"Iya iya, aku jahat," Sasuke menjawab dengan malas-malasan, menanggapi dumelan Sakura yang kini menggoyang-goyangkan tubuhnya yang sedang tiduran di atas kasur.

Tidak dapat respon dari sang pemilik tubuh, Sakura menyerah, akhirnya dia menarik selimut yang Sasuke pakai untuk menutupi tubuhnya sendiri itu dan memonopolinya, Sasuke menoleh, sekarang Sakura sudah ikut terbaring di smapingnya namun dengan posisi membelakangi dirinya.

Marah.

Sudah pasti Sakura marah sekarang, Sasuke hanya bisa menatap punggung kekasihnya itu dengan datar, sudah biasa Sakura ngambek, dan hanya ada satu cara untuk membuatnya kembali normal. Sasuke mendekati punggungnya, membelai rambutnya dan mencium pipinya,"Nanti malam kita dinner di luar, mau?"

Dan benar saja, Sakura langsung menoleh dengan wajah cerianya, "Maaauuuuu!"

Melihat jawaban cepat Sakura, Sasuke tersenyum lembut dan mengecup keningnya, "Maaf yah, janjimu dengan Karin harus batal sephak gara-gara aku."

"Ng, tidak apa-apa, Sasuke-kun pasti punya alasan lain kan? sebenarnya aku hanya sebal karena tidak mengerti apa yang kau bicarakan dengan Ino tadi."

"Cemburu?"

"Iya!"

"Haha, kan kau sendiri yang menghampirinya dan menginginkannya menjadi temanmu," Sasuke mengubah posisi menjadi terlentang dan memakai kedua lengannya untuk dijadikan bantal.

"Aku pikir Sasuke-kun akan tertarik pada Ino, habis dia cantik sekali," Sakura menyesuaikan posisinya dengan Sasuke, di letakan tubuhnya di atas dada bidang Sasuke.

"Kau ini, hal seperti itu tidak mungkin terjadi, kita sudah bersama sejak umur 5 tahun, masa kau belum hapal karakterku?"

"Aku takut kamu berubah~"

Sasuke terdiam, sekilas diperhatikan wajah Sakura yang tiba-tiba menjadi sendu, kemudian dia memeluk kepala Sakura, menenggelamkan ke dada bidangnya, "Akulah yang takut kalau kau berubah, Sakura." Karena perasaanmu sangat labil, bisa-bisa laki-laki lain mengambilmu dengan mudah.

"Sasuke-kun…"

"Hn?"

"Ajari aku bahasa inggris yah, aku benar-benar ingin berteman dengan Ino," gumam Sakura dalam pelukan Sasuke.

"Iya, nanti aku ajarkan."

.

.

Tanpa tersadar, percakapan ringan antara Sasuke dan Sakura tadi membuat sang wanita itu tertidur, sedangkan Sasuke dari tadi tetap pada posisi seperti itu, membelai rambut Sakura dengan lembut, moment seperti inilah yang Sasuke suka, saat berdua dengan Sakura, rasanya begitu damai, profesinya sebagai pembunuh seolah terlupakan sesaat. Sebenarnya, Sasuke tidak mau terlalu mengekang keadaan Sakura, tapi situasi yang mengharuskannya mengekang wanita itu.

Saat mereka berumur delapan tahun, seluruh anggota keluarganya terbunuh oleh sekelompok orang yang tidak di kenal. Awalnya hanya keluarga Sakura yang terbunuh, entah karena apa alasannya, yang jelas saat Sasuke mengantar Sakura pulang bermain, mereka berdua menemukan kedua orang tua Sakura sudah terbunuh dalam kondisi mengenaskan. Saat itu Sasuke menemukan bukti yang tidak sengaja di tinggalkan oleh sang pelaku, dengan cekatan, Sasuke membawanya ke kantor polisi.

Tapi pihak polisi sangat lelet menanggapinya, sehingga dengan terpaksa Sasuke mencari keberadaan sang pelaku sendirian, tentu saja berkat barang bukti yang berbentuk identitas pelaku itu. Pelaku tidak sebodoh yang Sasuke kira, karena saat Sasuke mencari pelaku itu, mereka sudah tidak ada. Tapi di dalam rumah kosong yang Sasuke temui itu, terlihat berbagai macam berkas yang menandakan bahwa sang pelaku sudah membunuh banyak orang.

Beberapa minggu kemudian, sepulang Sasuke menjenguk Sakura yang masuk rumah sakit. Keluarga Sasuke terbunuh, dan kakaknya menghilang tanpa jejak. Saat itu yang ada di dalam pikiran Sasuke adalah Sakura. Dia berpikir kalau Sakura pun akan di incar, maka Sasuke kembali ke rumah sakit, dan ternyata Sakura baik-baik saja. Mengadu pada pihak rumah sakit apa yang terjadi padanya, akhirnya Sasuke dan Sakura di izinkan untuk tinggal sementara. Tapi Sasuke tidak mau, dia memilih untuk kabur bersama Sakura.

Sasuke tersadar dari lamunannya di masa lalu karena getaran hp yang dia letakan di atas meja, pelan-pelan dia menggerakan tubuhnya, berusaha agar Sakura tidak terbangun, "Ya?" jawab Sasuke.

"Red Mail."

Tanpa perlu bertanya, Sasuke sudah hapal dengan suara Naruto yang nyaring itu, "Permintaan dan imbalannya?"

"Membunuh ayahnya, imbalannya adalah seluruh hartanya."

Sasuke menyeringai, "Kita laksanakan malam ini."

to be continue

.

.


A/N : sekali lagi maaf yah kalo masih banyak typo, aku pribadi udah baca ini 2x, kalo masih ada yang miss juga and ngeganggu kalian baca, aku minta maaf :(

untuk pertanyaan, apa jawaban kami udah bikin anda puas? kalau belom silahkan tanya lagi :D

jujur chapter ini aku kurang konsentrasi, soalnya di otakku itu ide lover eternal lagi kenceng2nya -_-" sebenernya aku kurang setuju sama ide Raffa yang next chapter itu spontan buatnya, tapi dia ngotot maunya begitu, yasudahlah :D

oh iya, makasih banget yah yang udah ngasih concrit, hehehehee, yang udah review jangan lupa review lagi yah, soalnya si Raffa itu bakalan update cepet kalo liat review banyak, jelek memang dia itu, egois, teka, nyebelin... kalo perlu flame aja ke PM dia, hahahahahahaa :D

oke sekali lagi makasih yaah semuanyaaa...

V3Yagami