Maaf sebelumnya kalau chapter kemaren sedikit mengecewakan karena bagian bahasa inggrisnya, itu adalah ide saya, maaf *bungkuk dalam-dalam* melihat review yang banyak mengeluh karena adegan bahasa inggris itu, saya jadi kena marah V3, hahahaa, dia itu cerewet! Udah kecil, bawel, omongannya pedes pula udah kaya cabe rawit. Oke, mulai chapter ini, percakapan bahasa inggris akan saya ubah menjadi bahasa biasa tapi saya beri tanda * yah, mungkin sesekali saya tidak memakai tanda * tapi langsung bahasa inggrisnya, itu kalau hanya percakapan antara Ino ke elite assassin nya . Siapa tadi yang mengusulkan itu? Usul yang bagus!
.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
Rembulan kini menyembunyikan sosoknya di balik awan-awan hitam, menolak untuk memberikan sinar yang diperoleh dari pantulan matahari untuk para manusia yang kini sedang tertidur lelap di kamarnya masing-masing. Masih ada beberapa manusia yang berkeliaran di luar, lembur kerja, bermain di bar, dan ada juga yang hanya merenung di jendela. Inilah salah satunya. Wanita berambut merah muda yang sedang bersender di jendelanya, menatapi bingkai yang sedang di genggamnya, itu adalah fotonya bersama Sasuke saat mereka, para elite assassin berhasil membangun mansion ini dan mengubah kehidupan mereka, dari sengsara menjadi kaya raya.
"Aku ingin ikut mereka~" gumam Sakura pada dirinya sendiri. Sudah sering Sakura meminta pada Sasuke agar dirinya di ikut sertakan dalam kelompoknya. Namun selalu di tolak mentah-mentah, Sasuke walaupun dia bisa membunuh orang dengan santai, tapi dia tidak akan membiarkan Sakura mengotori tangannya untuk membunuh, jangankan mengotori tangannya, mengizinkan Sakura melihat aksinya pun Sasuke melarang.
Sebenarnya Sakura sedikit iri pada Karin yang selalu di andalkan, tapi dari pada terus memikirkan hal itu, Sakura memutuskan untuk keluar kamar, dan di sambut oleh salah satu anjing Doberman kesayangannya, "Hai Kyo, mau makan yah?" ucap Sakura smabil mengelus kepala anjing hitam yang tingginya sepinggang.
Sakura berjalan ke arah dapur, di ikuti oleh Kyo berjalan di sampingnya, setelah memberi makan anjingnya, Sakura memeriksa ke ruanga yang biasa Sasuke pakai untuk berkumpul dengan yang lain, Sakura sedikit kaget karena dia mendengar ada suara musik dari dalam, siapa yang menyetelnya? Bukankah seharusnya semua sedang pergi melakukan misi? Karena penasaran, Sakura sedikit membuka pintu itu. Dan ternyata…
"Naruto?"
"Loh? Sakura-chan? Belum tidur?" tanya Naruto yang kini sedang duduk berhadapan dengan laptopnya, sosok Naruto saat ini sedikit berbeda dari biasanya, Sakura merasa Naruto terlihat sedikit jauh lebih dewasa, mungkin pengaruh kacamata yang dia pakai sekarang.
"Aku habis memberi makan Kyo," jawab Sakura sambil melangkah mendekat.
"Kyo? Oh, anjing kesayanganmu?"
"Iya, Naruto… kok di sini?"
"Yah, ini tugasku, pertahanan rumah yang menyewa kami sangat ketat, aku mengawasi mereka dari sini, mau lihat?"
"Eeehh? Bisa?" Sakura langsung berlari ke samping Naruto.
"Tentu saja, aku memasang kamera kecil di masing-masing kerah mereka, jadi apa yang merekalihat bisa kita lihat di monitor ini," jelas Naruto sambil menunjuk pada layar laptopnya yang di mana ada tampilan frame yang terbagi menjadi empat, "Ini pernglihatan Sasuke, yang di sampingnya ini Neji, di bawah Sasuke ini Shikamaru, di samping Shikamaru ini Karin."
"Waah, Naruto kamu hebat sekaliii!"
"Kita juga bisa bicara dengan mereka, mau coba?" tawar Naruto membuka headset yang dari tadi menggantung di lehernya dan diberikan pada Sakura.
"Mauu!"
Naruto mulai memasngkan headset itu pada Sakura yang posisinya berlutut di samping Naruto, kemudian dengan mousenya, Naruto mengklik frame Sasuke, "Ayo bicara."
"Sasuke-kuuuuu-"
"Jangan keras-keras!" spontan Naruto menutup mulut Sakura memakai tangannya, untung Sasuke tidak melihat, bisa-bisa laptop Naruto kini sudah bersih menjadi abu.
"Sakura?"
"Ng, iya ini aku Sasuke-kun, hehehe, Naruto hebat yah, aku bisa bicara denganmu, aku juga bsia melihat apa yang kamu lihat, Naruto canggih!" ucap Sakura dengan nada girang.
"…"
"Sasuke-kun?"
Saat Sasuke diam, Naruto menutup wajah memakai telapak tangannya, "Sakura-chaaan~ memujiku berlebihan di depan Sasuke sama saja kau membunuhku pelan-pelaaan~"
"Tidur! Sudah malam."
"Aaahh, aku baru saja bisa menemukan hal menarik begini," rengek Sakura.
"Sakura, turuti aku," kini nada Sasuke melembut.
Sakura hanya bisa merengut tanpa Sasuke tahu, Naruto yang dari tadi memperhatikan ekspresi Sakura berubah-ubah hanya tersenyum. Namun senyuman Naruto sangat lembut, seperti mengandung arti, tapi suara Karin yang keluar melalui loudspeaker mengganggu lamunan Naruto saat ini.
"Naruto, lihat, bisa kau pecahkan kode ini, atau kacaukan sistem keamanannya, supaya kita bisa masuk tanpa harus ada alarm yang bunyi," ucap Karin tiba-tiba, dan begitu Naruto lihat ke frame Karin, ada sebuah mesin kecil, seperti sebuah pengaman yang diberikan kode.
"Hehehe, tentu saja bisa," jawab Naruto yang langsung beraksi, dia mengutak-atik laptopnya dengan wajah menyeringai, di capture gambar yang dia lihat dari sisi Karin, lalu di analisa secara detail, dengan bahasa yang Sakura tidak mengerti Naruto memasukkan beberapa kode dan asing.
"Naruto, kamu sedang apa?" tanya Sakura.
"Ini namanya Hacking, Sakura… sebenarnya aku hanya ingin melakukan Cracking, tapi itu tidak professional," jawab Naruto tanpa menoleh pada Sakura, melihat Naruto mengerjakan pekerjaannya itu sambil bersenandung, Sakura paham, Naruto sangat menikmatinya. Apakah yang lain juga begitu? Menikmati pekerjaan sesuai bagiannya masing-masing?
"Sakura, bisa pinjam headset nya?" pinta Naruto.
"Tentu saja, ini kan punyamu," jawab Sakura sambil membuka headset dan menyerahkannya pada Naruto. Saat Naruto memakai headset itu, dia me-non aktifkan loudspeaker, karena tadi dia melihat Sasuke memberi tanda, dia ingin bicara dengan Naruto tanpa Sakura harus tahu.
Naruto mengetuk mic yang menempel di headset, seolah mengetes suara mic, padahal dia memberi kode pada Sasuke untuk berbicara.
"Dobe, buat Sakura kembali ke kamarnya, aku tidak mau dia melihat apa yang akan kita lakukan sekarang, dan jangan sampai dia tahu, siapa yang mengirim red mail itu, mengerti?"
"Nyehehehe, over protektif seperti biasanya yah," ucap Naruto dalam hati smabil sedikit terkekeh, "Nah, Sakura-chan, bukankah lebih baik kamu tidur? Supaya besok bangun segar."
"Hhmmm, yah, sepertinya itu gagasan yang bagus, Naruto juga jangan tidur malam-malam, setelah semua selesai kamu juga harus tidur yah," jawab Sakura beranjak dari tempatnya.
"Okay, selamat malam dan tidur yang nyenyak yaah, mimpi indah juga."
Sakura melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Naruto, begitu Sakura sudah benar-benar keluar dari ruangan itu, wajah Naruto berubah menjadi serius, "Saatnya ber aksi."
.
.
Di tempat Sasuke dan yang lain, Karin berkali-kali melihat jam tangannya, sampai Naruto yang mengatakan, "Selesai, kalian bisa masuk."
Dengan pakaian yang serba hitam, mereka memasuki rumah yang terlihat seperti istana ini, jaga-jaga kalau nanti ada salah satu pelayan atau penjaga rumah yang lewat, Neji sudah menyiapkan persiapan khusus untuk itu. Saat ini dia membawa empat semprotan obat tidur yang diberikan pada tiap-tiap anggotanya, Sasuke memperhatikan bentuk botol kecil yang kini dia megang, karena penasaran, Sasuke mencoba untuk menghirup aromanya.
"Jangan coba-coba menghirupnya, Sasuke… kau akan tertidur selama 3 hari dan bisa-bisa Sakura membunuhku karean itu," ucapan Neji spontan membuat gerakan Sasuke langsung terhenti.
"Kau itu, selalu menbuat eksperimen yang aneh-aneh, kemarin kau juga kan yang membuat ramuan diet untuk Karin?" tanya Shikamaru dengan wajah malas.
DUAK!
"Too much information, dude!" geram Karin yang kini mengibas-ngibaskan tangannya, karena sakit setelah menjitak kepala nanas itu.
"Siapa di sana?"
Mendengar ada suara yang muncul dari ruang utama, mereka waspada dan langsung berpencar menyembunyikan diri mereka. Sasuke melompat keatas lampu gantung berukuran besar, Karin bersembunyi di belakang sofa sambil memegang pistol kecil kedap suaranya itu, Shikamaru yang kini berada di balik gorden menatap gerak-gerik sosok wanita yang memakai seragam sekolah. Sedangkan Neji, dia menutup wajahnya memakai penutup wajah berwarna hitam, kemudian membuat suara, memancing agar wanita itu mengikuti arah suara itu.
Saat mendengar suara langkah, wanita berambut pirang itu berlari ke arah belakang. Sasuke bingung, kenapa Neji harus memancingnya ke belakang, kenapa tidak ke atas atau keluar lebih baik. Saat sudah benar-benar pergi, masing-masing keluar dari tempat persembunyiannya, sebelum Sasuke memberikan perintah, kesunyian rumah besar itu tiba-tiba meledak.
"HUAAAA! *S-Siapa kaauu? Pencuriii!" jerit suara laki-laki.
Sasuke, Karin dan Shikamaru saling tatap. Jangan-jangan Neji tertangkap? Tapi kenapa bisa secepat ini? Apakah Neji ceroboh? Apa yang Neji lakukan sampai bisa bertemu dengan salah satu orang rumah ini? Sasuke bersumpah, kalau alasan Neji tidak masuk akal, dia akan langsung membunuh Neji di tempat.
Para elite assassin menyusul ke tempat di mana Neji berada, dari kejauhan, mereka sudah lihat soso Neji yang masih dengan pakaian lengkap dan penutup wajahnya terkepung oleh beberapa penjaga, wanita tadi dan laki-laki berambut pirang yang hanya memakai baju tidurnya.
"Cih, apa yang dia lakukan!" desis Sasuke pelan.
"Tenang saja, aku akan membuat mereka bingung," ucap Naruto pelan melalui wireless yang mereka pasang di leher masing-masing.
"*J-jangan-jangan orang ini… salah satu anggota elite assassin?" pikir wanita berseragam sekolah yang ternyata adalah Ino.
"*Tangkap dia, seret dia ke polisi!" perintah ayahnya Ino.
"*Tunggu! Jangan!," tindakan Ino kini membuat Neji juga yang lain terkejut.
"*Apa yang kau lakukan? Kau membelanya? Dia mau mencuri di rumahku!"
"*Tidak, dia tidak mencuri apapun," jawab Ino dengan yakin.
"*Kalau tidak mencuri, lalu apa tujuannya dia ke sini? Hah!"
"*Jangan bilang kalau red mail itu bukan main-main? Ini kenyataan?" pikir Ino dengan panik.
Mengingat kembali setelah Ino mendengar percakapan ayahnya dengan wanita jalang itu, Ino merasa takut, dia dan ayahnya emmang tidak akrab, makan malam bersama dan sebagainya hanya formalitas semata, agar di mata publik, ayahna Ino adalah sosok seorang politikus yang akrab dengan anak perempuannya. Tapi setelah mendengar ucapan sang ayah, Ino merasa takut, dia merasa tidak aman di rumah ini, akhirnya dia kembali pada laptopnya dan mencoba untuk menghilangkan ketakutannya, tapi bukannya hilang, dia malah menemukan salah satu komen di blog cara untuk meminta bantuan elite assassin.
Tuliskan siapa yang ingin kalian bunuh dan apa imbalannya? Kalau imbalannya itu setimpal, maka mereka akan mengabulkan keinginanmu. Itulah yang Ino baca, akhirnya dengan gelap mata, Ino mengirimkan red mail, pada link yang sudah sengaja di siapkan dan sudah di setting juga oleh Naruto agar alamat emailnya tidak tertera. Ino menawarkan seluruh kekayaannya, karena begitu ayahnya mati, seluruh harta otomatis jatuh ke tangannya, apalagi sekarang dia sudah tidak bisa lagi berhubungan dengan kakaknya yang entah kemana.
Tapi Ino tidak menyangka kalau permintaannya akan di penuhi oleh elite assassin ini, yang kini sedang berada di hadapannya.
"*Lepaskan dia," pinta Ino sambil menghadang para penjaga rumahnya, dia tidak akan membiarkan salah satu anggota elite assassin tertangkap, bisa-bisa rencananya hancur.
"*Ino, menyingkir!"
"*Tidak!"
PLAAK!
Tamparan keras yang menyebabkan bibir Ino berdarah cukup membuat seluruh elite assassin terkejut, pertama, mereka tidak menyangka kalau Ino membela Neji, kedua, mereka makin tidak menyangka kalau Ino adalah tipe wanita yang tega membunuh ayahnya, ketiga, seorang ayah yang memukul anaknya sendiri? Membuat mereka yang haus akan membunuh semakin semangat untuk membunuh orang itu.
Ino menggertakan giginya, air mata mengalir dari mata indahnya, dan kini tatapan benci dia lontarkan pada ayahnya. Sang ayah, hanya menyeringai mendapat tatapan benci dari anak perempuannya itu.
"*Apa-apaan tatapanmu itu? Mau melawanku? Tidak ingat siapa yang membesarkanmu setelah ibumu yang tidak berguna itu mati, hah!"
"*Jangan menghinanya!" jerit Ino mendorong tubuh laki-laki besar itu.
"*Wah wah wah, ada apa ini ribut malam-malam?" ucap seorang wanita yang datang dari atas tangga, hanya mengenakan piyama tipis dan tembus pandang. Wanita yang Ino lihat tadi sore bersama ayahnya di kamar tamu.
"*Akhirnya kau melawan ayahmu sendiri? Dasar tidak tahu di untung."
Sasuke merasa Shikamaru menggeram, posisi mereka kini berada di pojokan tembok, agar tidak terlihat, dengan sekali gerakan Shikamaru membidik senapannya pada ayahnya Ino, namun tindakan itu di cegah oleh Sasuke.
"Kau tahu peraturannya kan?" Sasuke mengingatkan, bahwa elite assassin tidak membunuh target di depan sang peminta.
Teeeeeet Teeeeeeet Teeeeeeeet
Suara alarm berbunyi, membuat konsentrasi semua buyar, elite assassin tahu kalau ini adalah ulah Naruto. Dengan gerakan yang cepat, Neji mengeluarkan gerakan bela dirinya, menghajar seluruh penjaga dengan beberapa tendangan dan pukulan.
"*Habisi dia! Kalau perlu bunuh saja!" perintah sang ayah.
"*Tidak! Jangaan!" Ino berusaha menghentika para penjaga, namun wanita yang merupakan kekasih ayahnya itu menahan lengannya.
"*Kau diam saja di sini, giliranmu akan tiba secepatnya kok."
"*Lepaskan aku! Dasar wanita murahan!"
Wanita itu menjambak rambut Ino dengan kasar, "Kyaaaa!" sambil menyeringai, wanita itu berbisik, "*Kakakmu lebih mudah untuk dihabisi ternyata dari pada kau."
Mata Ino terbelalak, mendengar hal yang dikatakan wanita itu, kakaknya? Kakak yang paling dia sayangi itu… dihabisi? Oleh dia… dan ayahnya sendiri? Melihat Ino yang makin mengeluarkan air matanya, Shikamaru melanggar peraturan Sasuke, dia langsung membidik dari kejauhan dari menarik pelatik senapan tersebut. Karena emosi yang tidak stabil, tembakan Shikamaru meleset, dia malah mengenai dada kiri Ino, dan itu membuat ayah Ino dan wanitanya sadar dengan keberadaan mereka.
"Nice, Shikamaru," geram Sasuke dingin, mengeluarkan pistol kedap suaranya, memasang penutup wajah dan berlari dengan gesit kearah ayah Ino. Sekarang Sasuke sudah berada di belakang laki-laki berambut pirang itu, menodongkan pistol tepat di kepalanya.
Karin merampas senapan Shikamaru dan membidik para penjaga satu persatu, membantu Neji yang sekarang mulai kewalahan menghadapi penjaga yang tidak ada habisnya itu. Saat Karin menembaki penjaga yang akan menyerang Neji, laki-laki itu menoleh dan tersenyum seolah mengucapkan terima kasih pada Karin.
Kini Sasuke, masih dengan posisinya yang menodongkan pistol kearah kepala laki-laki tua ini. Wanita yang menggenggam lengan Ino kini terlihat panik, "*Lepaskan dia, bodoh! Apa kau tidak tahu siapa dia?"
"*Aku tidak peduli siapa dia, aku hanya bertugas menjalanka permintaan client-ku," jawab Sasuke.
Dan mata Sasuke kini menatap mata Ino yang masih mengalirkan air mata, sorot mata Ino masih dalam keadaan syok juga mengandung amarah yang besar, sangat mirip saat pertama kali Sasuke bertemu dengan Naruto yang di campakkan oleh keluarganya dulu, sampai akhirnya Naruto meminta bantuan Sasuke untuk membunuh keluarganya sendiri.
"Do you want me to kill him?" tanya Sasuke pada Ino, nadanya terdengar sangat santai, membuat sang ayah menjadi panik.
"*T-Tunggu dulu, aku akan memberikan apapun yang kau mau, aku akan membagi kekayaanku padamu, tolong lepaskan aku, atau kalau mau kau boleh menikmati anak perempuanku, dia masih perawan."
Mendengar perkataan sang ayah, mata Ino makin membulat, rasa amarahnya makin menaik, sorot mata Ino, Sasuke sangat hapal. Sasuke tersenyum dingin dan sekali lagi bertanya, "Are you sure?"
Tanpa ragu, Ino menjawab, "Do it!"
DEP!
Tanpa ragu juga, Sasuke menembakkan satu peluru tepat di kepala ayah Ino. Hari ini, para elite assassin melanggar semua peraturannya, saat Sasuke menoleh ke arah wanita yang kini masih menggenggam lengan Ino dengan gemetar. Tiba-tiba…
DOR!
Ino terkejut karena darah memuncrat ke pipinya, begitu menoleh, Karin mengacungkan jempolnya pada Sasuke. Ino terjatuh karena lututnya terasa lemas, tapi Sasuke tidak menangkapnya. Neji yang sudah menjatuhkan seluruh penjaga rumah itu pun tidak sempat menangkap tubuh Ini, karena itu, Shikamaru yang dari tadi tidak melakukan apa-apa kini berlari, menahan tubuh Ino agar tidak jatuh ke lantai, saat ini wanita itu… pingsan.
Semua berkumpul di tempat Sasuke, begitu mendekat, Karin menendang mayat wanita itu dan ayahnya Ino, "Sampah," hina Karin.
"Sasuke, gerakanmu tadi, mirip sekali dengan orang itu, apa kau mengadakan latihan khusus dengannya?" tanya Neji.
"Tidak, aku hanya sekali melihatnya pernah mempraktekan gerakan ini," jawab Sasuke sambil membuka penutup wajahnya.
"Jadi, mission complete," ujar Karin.
Sasuke menatap Shikamaru yang kini sedang memegang tubuh Ino, "Tidak, mission failed," jawab Sasuke.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, mereka baru sampai rumah dengan ekspresi datar, Naruto yang menyambut mereka di pintu luar tidak banyak basa-basi, "Jadi, kali ini gagal yah?"
"Gara-gara seseorang tidak bisa mengontrol emosinya," sindir Sasuke sambil melirik Shikamaru.
Akhirnya, Shikamaru berucap, "Aku siap dihukum."
"Hukuman untukmu sudah kusiapkan," ujar Sasuke melangkahkan kaki lebih cepat, "Rawat wanita yang di dalam mobil itu sampai sembuh."
Tanpa menoleh lagi, Sasuke melanjutkan langkah menuju kamarnya, kamar di mana Sakura sedang tertidur di atas kasurnya, entah mengapa sejak kejadian itu, Sasuke sangat merindukan Sakura. Ketika Sasuke membuka pintu kamarnya, dia melihat Sakura yang masih terbangun, duduk di atas kasurnya, seperti sedang melamun?
"Sakura? Belum tidur?" Sasuke memposisikan dirinya di atas kasur, mencoba membalikkan tubuh Sakura yang tidak bergerak saat Sasuke datang, karena biasanya kalau Sakura belum tidur dan Sasuke datang, Sakura pasti akan melompat dan memeluk Sasuke.
Saat Sakra menoleh, tatapannya tadi seperti kosong, namun saat melihat Sasuke di hadapannya, "Loh? Sasuke-kun?" tatapannya kembali normal.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke yang mulai khawatir.
"Aku… mimpi buruk," jawab Sakura pelan.
Sasuke memeluk Sakura pelan, menenggelamkan kepala Sakura di lehernya, kemdian Sakura melanjutkan, "Aku bermimpi… melihat banyak darah di mana-mana," kini ucapan Sakura mulai membuat Sasuke takut, "Aku bermimpi kau di siksa, mereka balas dendam, Sasuke-kun~"
"Tidak, itu tidak akan terjadi, kalau pun hal itu suatu saat terjadi, mereka akan membantu kita."
Sakura mendngakan kepalanya, memastikan kalau Sasuke tidak berbohong, melihat ada kejujuran pada tatapan onyx itu, Sakura tersenyum lembut, "Aku suka Sasuke-kun yang jujur seperti ini."
Sasuke membalas senyum Sakura dan mencium kekasihnya itu. Ciuman yang berlangusng menjadi panas, masing-masing saling haus akan belaian satu sama lain. Sasuke membuka kancing piyama Sakura, ternyata Sakura tidak memakai bra, Sasuke tersenyum di sela-sela ciuman mereka. Dan hal itu membuat Sakura merasa senang, karena dia merasa Sasuke suka dengan apa yang Sakura sengaja siapkan untuknya.
"Anghh~ Sa… suke-kun…" Sakura mendesah ketika Sasuke memasukkan jarinya ke dalam celana dalam Sakura yang sudah basah itu, karea tidak mau klimaks duluan, Sakura menghentikan gerakan Sasuke, "Jangan buru-buru~"
Sakura membuka kemeja Sasuke, menciumi dadanya perlahan demi perlahan, dan makin ke bawah, Sakura membuka ikat pinggang yang menghalangi kegiatannya itu dan melepas resletingnya, sedikit di turunkan celana Sasuke dan Sakura sudah bisa melihat apa yang terjadi di sana, kejantanan Sasuke yang sudah membesar, terhalang oleh celana dalamnya. Sakura meraih kejantanan itu dan di genggamnya dengan lembut.
"Aahh~"
Sakura paling suka mendengar Sasuke mendesah, karena itu dia ingin memberikan kepuasan untuk Sasuke di dini hari ini, Sakura mulai menjilat benda itu, hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, "S-Sakura? Kau yakin?" tanya Sasuke dengan nafas beratnya.
"Ng," Sakura hanya mengangguk kemudian memasukkan seluruh kejantanan Sasuke ke dalam mulutnya.
"Aaahhh~ Sakura~" desah Sasuke, membelai kepala Sakura dan sedikit menjambak rambutnya pelan, menandakan betapa nikmatnya perlakuan baru dari kekasihnya ini.
Sakura menambahkan pijatan dari lidahnya di dalam mulut, lalu memaju mundurkan kepalanya sendiri, memaksa masuk agar ujung kejantanan Sasuke menyentuh tenggorokannya, "Aah~ aaaaahh~ sshhhh~ Sa-Sakura! Be-berhenti!"
Tapi Sakura tidak berhenti, dia terus melakukan gerakan itu makin cepat, sampai akhirnya, "Tidak! Sa-Sakura menjauh~"
Terlambat, Sasuke menyemburkan benihnya di dalam mulut Sakura, masih mengeluarkan beberapa cairan, Sakura tidak melepaskan kejantanan Sasuke. Sampai wanita itu merasa sudah tidak ada lagi yang keluar, barulah dia melepas dan meminum semua cairan itu sampai habis.
"Bodoh, Itu kan kotor Seharusnya kau muntahkan saja," tegur Sasuke sambil membelai pipi dan menghapus sisa cairan yang menetes dari mulut Sakura.
"Tidak mau, ini kan juga bagian dari tubuhmua," jawab Sakura, kemudian dia merasakan cairan itu sekali lagi, "Kenapa rasanya pahit yah?"
"Jangan diperjelas! Kau membuatku malu," geram Sasuke dengan wajahnya yang memerah.
"Hihihi, aku mencintaimu, Sasuke-kun," Sakura kembali memeluk Sasuke dan mengajaknya tidur, "Aku mengantuk, kita lanjutkan besok saja yah, kau hutang satu denganku."
Sasuke tersenyum dan mengecup kening Sakura, "Aku juga mencintaimu, akan kubayar lima kali lipatnya besok."
TBC
.
.
A/N : nah, saya mau bales review deh, mumpung boss lagi ngga ada dan punya waktu luang agak banyak, hehehe, dan lagi si V3 itu pemalas! Review bukannya di bales-balesin malah di biarin, dasar author tidah bertanggung jawab! MANA TANGGUNG JAWABMU! *nyolong towa mesjid* (v3 pasti tahu saya hanya bercanda :D, candaan kami memang seperti ini) untuk masayalh typo, di chap ini, nanti saya periksa lagi okay ;)
FhYyLvRhYy ELF : ngga apa-apa kok, kita malah seneng di review terus :D genre nya emang tragedy, kan banyak yang mati, tragedy di sini lebih di tunjukin ke masa lalu mereka, dan Ino emang punya sodara laki-laki. Dan untuk bahasa inggris, salahin si v3 tuh, ahahahhaa *ampun fit!*
Pah : -_-, caci maki? Saya sih terima, kalo v3 pasti langsung mewek dia, dia kan cengeng XD… hehheee, maaf yah di potong pas lagi seru-serunya, v3 emang rese.
Obsynyx Virderald : emang, dia kan begitu, partnernya sendiri di kata-katain, cowok kece begini di bilang rese #plak… saya bukannya suka daun muda, tapi sudah melakukannya saat muda, wahahahahaa… mereka kan jago bunuh dan segala macem karena di latih dulunya :D
SS : iya memanng, tapi kit harus berpegang teguh sama prinsip fict! Membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin! *kibar bendera* Saku-Karin ga akan saya buat lemonnya, Cuma mau buat adegan Karin yg maksa saku, itu juga kayaknya masih lama, itu ide dari pihak aku loh *jadi ngebocorin deh*
Rizuka Sasusaku Hanayuuki : gimana sih, kok baru review di chapter dua! Chapternya si v3 pula, chapter sayanya manaaa? #DiGiles
Uchiharuno phorepeerr : tua? Saya tidak tua, v3 yang tua, ketu, kecil-kecil tua XD, ayo dong bikin akunnya, enak loh bisa langsung terjun ke fict fave :D
Icha yukina clyne : hhmm, jadi ini yah ade-adeannya fi v3 di dunia FFN, komenmu lucu sekali orangnya juga pasti lucu *Ditebas v3* maaf sya hanya bercanda… tentang masalah antagonis, kita memang butuh Hinata, tapi bukan bermaksud bashing :D
Minma : ngga bashing kok, Cuma dapet peran jahat aja :D
Sono dana : ini udah update, cepet kan? hahahahaha *tumbeeeen*
Kikyo Fujikazu : Itachi dan Gaara coming soon yaa :D
V3Holic n RaffaLovers : XD, penname mu membuat saya blushing… saya memang sengaja mau coba cerita yang berat, bisa apa ngga :D
BlueHaruchi Uchiha : Hahahaa, v3 sialan, sembarangan dia kalo ngomong, ngga kok, saya bakalan update kalo emang ada waktu, saya ngga bisa mentingin fict dibanding pekerjaan :D
GerardErza : saya cowok tuleeen, mau bukti? Nyahahahaha
Nyuu cHan94 : iya ini udah update :x)
vkurosakiyahoo : oh, kamu yang mengusulkan yah, makasih yah usulnya, pasti kita tanggepin lah XD
Naomi Kanzaki : udah tahu kan siapa targetnya, hehehee
Wakamiya Hikaru No login : Ino bakalan tau kok tentang elite assassin ini, di tunggu aja yah :D
Ran Murasaki NH : iya ayahnya Ino, hahhaaahahhaaa, ketebaak deeeh ;P
Karasu Uchiha : panggil saya kakak aja, kalo v3 tante aja, hahahaha
Momijy-kun : masa lalu sasusaku itu antara saya atau fitri yang membuatnya nanti, kita belum ngebahas tentang hal itu, hahahaha
Sindi 'Kucing pink : iya, ayahnya Ino kok… city hunter? Versi dramanya atau versi komik? Saya ngga suka versi dramanya :D
Penggemar berat V3Raffa-senpai : ro-romantis? FIT! Kita dibilang romantis! Jadian aja apa kita? Huahahahahaa #DilemparBaskom elite assassin ini menuhin permintaan juga tergantung imbalannya, dan jangan lupa, ayahnya Ino itu politikus ;)
D3rin : eehh? Temen-temen di mana? Berapa banyak remaja sih yang tahu FFN? *maaf katro* masalah nasib Ino, itu v3 yang buat, saya serahkan pada v3, hahahhaaa
Uchihaiykha : saya lebih update kilat lagi kan? hahahahaa
Aoi ciel : di sini kami sedikit membuat semua karakter tuh OOC, jadi jangan terlalu berharap ciri khas mereka yang di aslinya akan kami munculin di sini yah, maaf loh
Hana : tragedy bukan berarti sad ending, tragedy di sini untuk masa lalu mereka, dan di pertengahan juga ada adegan tragedy… untuk masalah ending saya masih debat sama v3.
Naaah, udah saya bales kan? oh iya ada pesen dari v3, katanya chapter berikutnya dia belum tahu kapan mau di buat, soalnya dia bilang gini ke saya *Ceritanya ngadu* "Raffa! Gara-gara lo maksa gue bikin chapter 2, ide lover eternal gue jadi buyar!" dan saya hanya bisa tertawa nista, hahahahahaa, maaf yah fit, berjuanglah, aku akan terus mendukungmu, kan udah dapet kain bali :p *ga ngaruh*
