Hai guys, maaf yah sudah menunggu lama, saya mau cerita sedikit nih di sini, gpp kan?

Kemarin saya sudah bertemu dengan V3yagami, kita sempet lunch bareng juga, terus kita ngebahas tentang fict collab ini, kita juga ngomongin review-review kalian kok, fitri bilang katanya review kalian bikin dia semangat, malah dia pengen ngasih sesuatu ke kalian sebagai ucapan terima kasih, tapi dia bingung… dan cara dia ngomong itu… saya angkat tangan -_-, bawel banget, ngga bisa berhenti ngomong, orangnya juga ngotot, gampang diboongin, dan agak lemot. Hahahahahaa

Kemarin waktu kita pesen makan, saya bener-bener kaget, ternyata fitri ini makannya banyak banget kaya kuli, dijamin yang jadi cowoknya bisa bangkrut! wkwkwkk

Jadi intinya, saya dan Fitri sudah jatuh cinta pada kalian yang sering me review fict-fict kami :D

Khusus SAKURA HATERS : wah, saya kaget dapet flame kaya gitu, kalau ini fict saya sendiri sih saya ngga mempersalahkannya yah, Cuma kan ini fict collab, saya ngga mau nantinya partner saya jadi pundung gara-gara kamu. Saya sih Cuma ngasih saran, kalo ngasih flame jangan bawa-bawa karakter favorit non, itu malah memperburuk nama Hinata Lovers loh. Yah tapi kembali lagi, sepertinya anda ini masih labil, atau jangan-jangan ALAY LABIL? Upz, maaf capslock jebol. Pokoknya terima kasih udah membuat flame di fict kami, berkat flame anda, kami jadi tahu betapa populernya kami di FFN ini, hahahahahahaa *tertawa nista

.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

Seklah sudah bubar, Sakura membereskan buku-bukunya dengan wajah murung, sangat sepi rasanya kelas tidak ada Sasuke dan Naruto. Apalagi Shikamaru dan Ino hanya datange ke kelas di saat istirahat. Wanita bermata emerald ini sangat jenuh dan ingin cepat-cepat pulang. Meninggalkan sekolah yang membosankan. Ternyata sekolah tidak begitu menyenangkan apabila orang yang selalu bersama kita itu tidak ada. Saat langkahnya akan meninggalkan kelas, Sakura melihat sosok Shikamaru dan Ino yang sedang berjalan menuju tempatnya.

"Siap pulang?" tanya Shikamaru dan diberikan jawaban anggukan dari Sakura.

"Ada apa?" tanya Ino. Sakura sedikit kaget ketika mendengar Ino bertanya tidak menggunakan bahasa inggris, sebelum Sakura bertanya, Shikamaru menjelaskan, "Sepanjang kelas tadi, dia belajar, daya tanggapnya sangat cepat, tidak sepertimu."

"Weee, biarin," ledek Sakura, "Aku baik-baik saja kok," Sakura kembali pada Ino.

Ino memberikan senyum lembut pada Sakura, entah kenapa setelah mendengar cerita dari para elite assassin yang mengatakan kalau Sakura lah yang paling kejam, Ino malah menjadi ingin lebih dekat dari Sakura, Ino berpikir, sosok Sakura ini adalah sosok manusia yang sangat kesepian dan tidak menentu jalan pikiran dan perasaan. Tidak butuh belajar psikolog untuk mengetahui hal itu, di lihat dari cara bicara dan ekspresi Sakura pun, semua akan menyadarinya.

"Shikamaru," panggil Sakura pelan, "Apa ada kemungkinan… suatu saat aku akan ikut serta dalam misi kalian?"

"…" Shikamaru terdiam sebentar, melirik wajah Sakura yang kini kembali murung, "Sasuke tidak akan pernah mengizinkanmu, kau tahu sendiri akan hal itu."

"Tapi…"

"Mengertilah, dia melarangmu karena tidak ingin kau terluka, misi yang kami jalani ini sangat bahaya."

"Jadi benar yah… satu-satunya yang tinggal di mansion yang tidak berguna itu… aku…"

"Bukan begitu, justru… aahhh, sudahlah, kau tanyakan sendiri saja nanti pada Sasuke," cih, sial, aku bukan tipe orang yang bisa menyemangati perempuan yang sedang murung! Geram Shikamaru dalam hati.

.

.

Lokasi berpindah. Kini elite assassin sedang berada pada jarak 1km dari depan gerbang rumah Saito Fujiwara. Di dalam mobil sedan yang sedang mereka naiki ini terdapat beberapa layar LCD yang di setting oleh Naruto agar dapat memantau gerak-gerik Saito dari kamera cctv yang dipasang di dada kiri Karin dalam bentuk pin.

Situasi terlihat saat Karin memasuki rumah politikus itu, guci-guci mewah yang berukuran jumbo terpapang di setiap sudut rumah, lukisan unik, yang di pajang di setiap dinding. Piringan hitam kuno yang bisa di jamin harganya sangat mahal, sepertinya untuk menemani makan malam, karena letaknya dekat ruang makan yang terdapat meja panjang serta lilin hias di tengah-tengahnya.

"Cih, tua bangka ini, sudah berapa uang rakyat yang dia makan sampai bisa se-kaya ini?" ucap Naruto.

"Ini obatnya," terdengar suara Saito, kemudian tubuh Karin berbalik sehingga kini terlihat wajah Saito yang sedang melihat kearah dada Karin.

"Dirty Old Man," gumam Sasuke.

"Terima kasih, tuan."

Sepertinya Karin meminum obat itu, obat penambah darah, saat Karin selesai meneguknya, Saito kembali berucap, "Kau bisa beristirahat di sini kalau mau, aku akan menyiapkan kamar untukmu."

"Ah, tidak usah repot-repot, aku maish ada urusan, terima kasih banyak sudah mau memberikan obat untukku."

"Hhhmm, begitu yah, kalau begitu, apa malam ini kamu ada acara?"

"Tidak ada, kenapa tuan?"

"Mau dinner bersamaku?"

"Aku sangat tersanjung atas tawaran yang tuan berikan, tapi maaf… aku tidak mau kalau nanti istri anda-"

"Tidak akan ada yang tahu, aku janji."

"Kalau begitu dengan terhormat saya menerima tawaran tuan."

"Baiklah, nanti jam 8 kau datang ke sini lagi, penjagaku sudah mengenalimu tadi, dan… pakai dress yang seksi, ok."

"Pasti tuan."

Neji, Naruto dan Sasuke menyeringai. Tidak menyangka tua bangka itu sangat bodoh, akhirnya mereka melihat Karin pamit, sebelum Karin meninggalkan tempat itu, mereka melihat Saito akan meraba dadanya, tapi dengan cekatan dan sangat pintar Karin mencegah dan mengucapkan, "Kita lakukan nanti malam saja, tuan."

Dan ucapan Karin membuat mereka yang ada di dalam mobil terkejut, tidak menyangka otak Karin bekerja sangat pintar, kalau tidak, tua bangka itu pasti sudah tahu kalai di dada Karin terdapat kamera cctv nya. Saat Karin sudah keluar dari tempat itu, mereka kecuali Sasuke menghela nafas, Karin berjalan menuju lokasi mobil mereka berada.

Sesampai dan masuknya Karin dalam mobil, "Tua bangka brengsek! Lihat saja, akan ku potong tangannya! Akan ku congkel matanya! Brengsek!"

"Hahaha, tapi aktingmu bagus sekali, 4 jempol untukmu," ejek Neji.

"Diam! Cepat kita pulang, aku sudah muak di sini!" gerutu Karin.

"Kita bahas lagi dengan Shikamaru nanti, dia yang paling ahli soal strategi," ucap Sasuke kemudian menatap Karin, "Kerja bagus."

"Huh," Karin membuang muka, "Kalau laki-laki ini tidak ada hubungannya dengan sembilan tahun yang lalu, aku tidak akan mau melakukan hal tadi."

.

.

"Jadi begitu, nanti malam jam 8 yah?"

Shikamaru menyenderkan tubuhnya di ruang rapat, sementara para elite assassin sedang berunding menyusun strategi, Sasuke meminta Ino untuk menemani Sakura di kamarnya, sebisa mungkin tahan Sakura agar tidak keluar kamar dan mendengar pembicaraan mereka.

"Sasuke," panggil Karin pelan, "Bisakah kau menceritakan apa yang terjadi sembilan tahun yang lalu?"

"…"

Naruto menatap miris Sasuke, dia sangat mengerti kenapa Sasuke tidak mau membahas hal itu, selain itu menyangkut masa lalunya dan Sakura yang kelam, hal itu membuat perasaan benci Sasuke terhadap kakaknya tumbuh lebih besar, karena saat itu, kakaknya hilang entah kemana, meninggalkan dirinya dan Sakura harus berjuang melawan kejamnya dunia.

"Aku akan mengatakan garis besarnya," ujar Sasuke, "dulu, kedua orang tuaku dan Sakura sangat dekat, yaah bahkan mereka saling menjodohkan kami, walaupun dengan sendirinya kami saling jatuh cinta, saat itu, entah apa yang terjadi, setahuku kedua orang tua kami bermain saham, ayahku dan Sakura sangat ahli dalam hal analisis, mereka sangat tahu bagaimana caranya untung dan bagaimana agar tidak rugi."

"Saat itu, aku dan Sakura masih terlalu kecil, yang kuingat adalah, dulu ayahku mengajarkanku bagaimana caranya bermain saham dan menganalisis suatu grafik dan kejadian. Entah berapa politikus dan pejabat yang sahamnya di jatuhkan oleh kedua orang tua kami, sampai suatu hari… saat aku mengantar Sakura pulang bermain, aku menemukan mayat orang tua Sakura dalam keadaan sadis."

Semua tersentak mendengar cerita Sasuke, khususnya Karin yang sekarang sudah berkaca-kaca matanya, Sasuke melanjutkan, "Saat itu Sakura mengalami damage mental, aku membawanya ke rumah sakit, karena dia tidak juga sadar dari pingsannya. Saat aku pulang dari rumah sakit untuk mengganti pakaianku… ternyata aku mengalami hal yang sama dengan Sakura… kedua orang tuaku tewas… dan kakakku hilang entah kemana."

"Sakura…" gumam Karin pelan, menahan agar air matanya tidak terjatuh.

"Ah, dapat," ucap Naruto yang dari tadi mendengarkan sambil mengutak-atik laptopnya, "Ada sekitar 7 pejabat dan poitikus termasuk yang bangkrut pada saat itu."

Saat Naruto terus mencari berita tentang sembilan tahun yang lalu, "Ng? 'duo partner yang akan menjadi penghalang bagi para pengusaha? Jangan-jangan ini ayahmu dan Sakura?"

"Ya, aku udah baca artikel itu," ucap Sasuke.

"Sasuke, jangan-jangan yang menyebabkan Sakura seperti lima tahun yang lalu itu…" tebak Neji ragu-ragu.

"Ya, kalian tahu, kenapa aku membawanya kabur dari rumah sakit waktu itu?" semua terdiam, menyimak apa yang akan Sasuke beri tahu pada mereka, "Mereka menyarankanku agar memasukkan Sakura ke rumah sakit jiwa."

"Apa!"

"Tentu saja aku menolaknya, sebisa mungkin aku menjaganya tiap malam dari mimpi buruk, menenangkannya kalau traumanya kambuh, sampai aku bertemu dengan-nya. Dia memberikan kami tempat tinggal dan melatihku menjadi seperti sekarang."

"Dia yah, memang cara melatihnya seperti orang tolol, tapi aku tidak menyangka pelatihan yang mereka berikan pada kita bisa sangat bermanfaat," ujar Shikamaru.

"Makanya, aku curiga, jangan-jangan Saito Fujiwara ini salah satu pesuruh orang yang membunuh orang tua kami," gumam Sasuke pelan namun cukup terdengar oleh mereka karena suasana yang sunyi.

"Baiklah, selama kau bercerita tadi, aku sudah menyusun strategi," ucap Shikamaru menepukan kedua tangannya, "Begini, saat Karin memasuki rumahnya lagi, kita ikuti dari kejauhan, dia bilang penjaganya sudah kenal dengan Karin kan? Karin, bisakah kau merayu penjaga itu agar mengalihkan fokusnya? Saat itu, Naruto, kau masuk ke tempatnya dan kacaukan sistem cctv di setiap sudut rumah itu."

"Roger!" jawab Naruto dan Karin.

"Sasuke dan aku akan menerobos masuk setelah kau membuat Saito mabuk dan kehilangan konsentrasi, sebisa mungkin, bawa dia ke kamarnya."

"Siap," jawab Karin kembali.

"Ngomong-ngomong, yang mengirim red mail itu siapa sih?" tanya Neji.

"Hanya salah satu saingan dari Saito ini, sepertinya mereka mempunyai dendam pribadi satu sama lain, tapi itu bukan masalah untuk kita kan?" jawab Naruto.

"Neji, siapkan peralatan yang akan kita perlukan, stand by dalam mobil, kemampuan menyetirmu yang paling bagus di antara kita semua," ucap Shikamaru.

"Ok."

"…" Sasuke terdiam sebentar, menatap Shikamaru dengan ragu, "Hanya kita bertiga yang berada di dalam?"

"Walaupun kalian sangat kago bela diri dan menembak, kuberi tahu, penjaga di rumha itu lebih banyak dari penjaga rumah Nona Yamanaka itu loh," ujar Karin.

"Aku yang akan menghadang mereka, Neji, saat kau yakin keadaan sekitar aman, cepat susul kami," usul Shikamaru.

"Oke, sepertinya akan menyenangkan malam ini," utar Neji menyeringai.

"Satu lagi," sambung Naruto sambil memakai kacamatanya, "Diharapkan kali ini tidak ada yang terbawa emosi seperti kemarin."

Dan entah kenapa semua menoleh pada sosok Sasuke.

"Kenapa melihat ke arahku? Dia lah yang harus di peringati!" tunjuk Sasuke pada Shikamaru.

"Masalahnya kan kali ini orang yang kita hadapi bersangkutan denganmu, teme," Naruto memperjelas.

"Baiklah, dua jam lagi kita berangkat, kalian siap-siap," perintah Sasuke yang beranjak dari tempatnya. Tidak usah di tanya mau kemana dia pergi, sudah pasti ke kamar di mana Sakura berada.

.

.

Sasuke membuka pintu kamar tersebut, melihat Ino yang sedang duduk di samping Sakura yang tertidur sambil membaca kamus. Sasuke sedikit heran kenapa Sakura sudah tidur? Padahal hari masih sore.

"She had a fever," ucap Ino.

"Hn, thanks for watching her, you can leave now," jawab Sasuke.

Dengan wajah BT, Ino beranjak dan meninggalkan Sasuke berdua dengan Sakura. Sampai sekarang, Ino masih belum terbiasa dengan sikap angkuh dari laki-laki yang seperti kepala rumah tangga di mansion ini. Dengan pelan-pelan Ino membuka dan menutup kembali pintu kamar itu. Sasuke perlahan mendekati Sakura yang masih tertidur, di pegang keningnya yang masih panas. Kenapa bisa demam tiba-tiba? Ah, pasti terlalu banyak pikiran, Sakura memang seperti itu, kalau terlalu banyak berpikir, dia pasti demam. Tapi… apa yang di pikirkan wanita ini sampai dia jatuh sakit?

Sasuke hanya bisa memandangnya dengan tatapan lembut penuh kasih sayang, setiap langkah yang dia jalani sampai sekarang dia lakukan hanya untuk Sakura. Karena hanya Sakura lah yang dia punya dan tersisa di dunia ini, Sasuke tidak mau lagi kehilangan orang yang dia sayang. Apalagi lima tahun yang lalu Sakura hampir saja menghilang dari dunia ini. Kalau mengingat hal itu, dada Sasuke terasa sangat ngilu.

"Ngh~," Sakura sedikit terbangun dan membuka matanya, "Sasuke kun~?"

"Ya, maaf membuatmu terbangun."

"Ng," Sakura menggelengkan kepalanya, "Aku kangen sasuke kun~" ujar Sakura sambil memeluk lengan Sasuke.

Sasuke memposisikan dirinya terbaring di samping Sakura, merangkul wanita itu dan mendekapnya di dalam pelukan, "Apa yang kau pikirkan sampai sakit begini?" tanya Sasuke sembari membelai belakang kepala wanitanya itu.

"Aku berpikir, kalau aku yang paling tidak berguna di sini, aku ingin ikut dalam misi, walaupun kata Shikamaru kalian tidak merasa aku tidak berguna, tapi tetap saja~"

"Apa yang Shikamaru katakan itu benar, kamu cukup berada di sini, cukup berdoa agar aku selamat, pikirkan aku setiap saat, dan sambut kedatangan kami dengan wajah senyummu," ujar Sasuke sambil sesekali menciumi pucuk kepala Sakura.

"Tapi-"

"Tidak ada bantahan, Sakura," potong Sasuke dengan nada lembut, "Sekarang istirahatlah, aku janji besok akan pergi sekolah bersamamu."

"Kau janji?"

"Iya, makanya sekarang kau tidur."

Sakura lebih menempelkan kepalanya di dalam dada Sasuke, "Aku paling suka di peluk Sasuke kun begini, sangat hangat dan nyaman~ membuatku lupa dengan semua yang tidak ingin kuingat."

"Tidak perlu mengingat, tidak perlu berpikir, semua bebanmu serahkan saja padaku."

Tidak lama kemudian Sakura pun jatuh tetidur, seolah bebannya ringan, suhu tubuh Sakura sedikit kembali normal, Sasuke masih memeluk Sakura, dengan tatapan yang tegas dia bersumpah pada dirinya sendiri akan membalaskan dendam pada orang-orang yang telah membuat dirinya dan Sakura menderita. Sekilas Sasuke teringat akan sosok Sakura yang selalu menjerit tengah malam karena mimpi buruk, memberontak saat Sasuke berusaha menenangkannya. Hati Sasuke kembali merasa ngilu, mengingat betapa lugunya Sakura yang harus terjun ke dunia yang kotor ini.

Makanya, kali ini, Sasuke berusaha sekuat tenaga agar menjaga Sakura dari mimpi buruknya. Kesalahan lima tahun yang lalu, tidak akan dia biarkan kembali terulang.

Tidak akan pernah.

.

.

Setelah memeriksa kembali perlengkapan mereka, dengan seragam serba hitam, para elite assassin melangkahkan kaki ke gerbang, sbeelum mereka memasuki mobil, Sasuke menoleh ke arah Ino yang mengantar kepergian mereka di depan pintu.

"Take care of her for a while," pinta Sasuke.

"I will."

Kemudian Sasuke memasuki tempat duduk belakang bersama Naruto dan Shikamaru, Karin yang satu-satunya memakai gaun sexy duduk di samping Neji yang sedang menyetir.

"Boleh komentar sesuatu?" tanya Neji.

"Tidak boleh," jawab Karin ketus.

"Hahaha, kau ini jadi sangat cantik kalau berpakaian seperti layaknya seorang wanita loh, cepat cari pacar sana," ujar Neji.

"Cih, aku tidak butuh laki-laki, yang ada di pikiran mereka itu hanyalah sex, sex dan sex," jawab Karin ketus, menyadari ada satu laki-laki di belakangnya yang suka sekali bercinta dengan wanita yang juga di sukainya itu, Karin menambahkan, " No offense, Sasuke."

"Hn."

Sesampainya di lokasi, Karin mengambil syal dan melingkarkan di lehernya, "Semoga berhasil," ledek Naruto dari dalam mobil.

Karin hanya memberikan acungan jempol, Neji menyalakan LCD dan melihat apa yang Karin lihat, kali ini kamera cctv mereka pasang di kalung yang Karin kenakan sekarang, dengan bandul berwarna merah sesuai dengan rambut indahnya. Terpampang penjaga yang membukakan pintu gerbang untuk Karin. Pakaian yang Karin pakai sekarang adalah mini dress dengan belahan dada terbuka, syal bulu yang dia lingkarkan di leher namun tidak menutupi bandul kalung, high heels merah, warna yang cocok untuk mini dress warna hitam itu.

"Ah, Nona, tuan sudah menunggu di dalam, langsung ke ruang makan saja."

"Oh begitu, ehhmm, tapi aku maish belum berani masuk," Karin meraba dada penjaga itu dengan menggoda, "Apa kau mau menemaniku dulu sebentar?" kini Karin mengangkat pahanya, menyentuh kejantanan penjaga itu.

"B-b-b-b-boleh, t-ta-tapi jangan sampai tuan tahu," jawab penjaga itu terbata-bata.

"Tenang saja, aku tidak sebodoh itu," kini Karin menjilat daun telinga sang penjaga.

"Aaahhh~ No-Nona~" Karin membawa penjaga itu ke semak-semak lebat di dekat pintu masuk. Saat Karin sedang melakukan aktifitas menjijikan itu, Naruto bergegas keluar dari mobil dan berlari dengan cepat, memasuki tempat pengontrol cctv rumah itu dan mengutak-atik sistemnya.

"Bagus, ternyata settingannya tidak sesulit yang kukira," gumam Naruto sambil menyeringai.

Sedangkan Sasuke dan yang lainnya hanya menyeringai di dalam mobil, "Part two, success."

Karin dengan berat hati menyentuh dan meraba kejantanan sang penjaga, membuat penjaga itu mendesah tidak karuan dan hilang konsentrasi. Melihat tanda bahwa Naruto sudah menyelesaikan tugasnya, Karin melepaskan sentuhannya, "Kita lanjutkan nanti yah, aku harus bertemu dengan bossmu, bisa gawat kalau aku telat lama."

"I-Iya, apa nanti aku boleh melakukannya?" tanya penjaga itu dengan wajah mesum.

Dalam hati, Karin mengutuk laki-laki ini, tapi dia harus bersikap professional, kemudian dengan senyuman yang lembut Karin menjawab, "Tentu saja boleh."

Jawaban Karin membuat sang penjaga itu tersenyum mesum, tapi membuat Karin makin merasa jijik. Saat Karin melangkahkan kaki menuju pintu masuk, dan masuk sepenuhnya ke dalam rumah itu. Penjaga yang kini memasuki ruangannya buru-buru memuaskan dirinya sendiri karena rangsangan yang Karin buat. Dia membuka celananya dan menggenggam kejantanannya sendiri. Tapi satu suara membuatnya kaget dan menoleh.

"Kau menjijikan yah," suara perempuan dengan nada yang imut membuat mata sang penjaga terbelalak dengan apa yang akan di lakukan perempuan itu.

Belum semoat untuk teriak, perempuan yang dia lihat langsung menusuk tenggorokan penjaga itu, sehingga darah segar memuncrat ke wajahnya, namun perempuan bertubuh mungil kecil itu malah tersenyum sambil menjilat beberapa darah yang menempel di dekat mulutnya.

"Kasihaaan~ jadi tidak bisa teriak yah?" ucap perempuan itu, menatap penjaga gerbang yang masih sadar namun dengan posisi pisau kecil menancap di lehernya, "Kenapa? Sakit? Uummmm," perempuan itu seolah bermain-main dengan korban yang kini berada di hadapannya, menggoyang-goyangkan pisau yang menancap… dia menyeringai.

Jraazzz!

Sekali gerakan, perempuan itu memotong setengah leher penjaga itu sambil menyeringai, "Cari mangsa yang lain ah."

Karin berjalan anggun menuju ruang makan yang megah, Saito sudah menyiapkan musik, wine dan segala macam yang di perlukan untuk malam ini.

"Silahkan duduk, dan santap makanan sesukamu," tawar Saito.

Karin hanya tersenyum, mana mungkin dia memakan makanan yang dia tidak tahu ini sudah di kasih racikan atau tidak, bisa-bisa dia memberikan obat tidur di dalam makanan ini.

"Sebetulnya, aku tidak terlalu lapar, tuan," ujar Karin.

"Eehh? Padahal aku sudah menyiapkan masakan istimewa untukmu," ucap Saito, mendekati tubuh Karin, "Kenapa kau tidak nafsu makan? Padahal aku mengajakmu ke sini untuk dinner."

"Aku… malu mengungkapkannya di sini," ujar Karin malu-malu.

"Begitu… bagaimana kalau kita ke kamarku? Suapa lebih nyaman," tawar Saito, merangkul pinggang Karin.

Tuhan, kalau saja Karin bisa membunuh laki-laki sialan ini sekarang juga, dia pasti akan melakukannya, tapi dia harus sabar sampai Sasuke dan Shikamaru ber aksi.

"Shikamaru kita jalan sekarang," ujar Sasuke keluar dari mobil.

"Neji, jaga pintu masuk, Shikamaru ubah rencana, awasi gerakanku dari kejauhan, bidik setiap penjaga yang mengetahui keberadaanku memakai senapanmu, usahakan tembak mati langsung penjaga itu tanpa suara, aku dan Naruto akan menghabisi langsung laki-laki itu," perintah Sasuke.

"Baik!"

Neji, Sasuke dan Shikamaru berjalan menuju gerbang utama, begitu mereka membuka gerbang itu, pandangan mereka langsung terbelalak melihat ada semburan darah yang menempel di kaca ruang kontrol cctv.

"Woaw! Ini kan tempat yang kudatangi tadi?" ucap Naruto bingung, kenapa bisa ada darah di sana.

Saat mereka mendekati tempat itu, tatapan mereka makin bingung karena satu penjaga telah tewas dengan leher yang hampir putus.

"Siapa yang melakukan ini?" tanya Sasuke pada siapa saja yang mendengar.

Seolah menganalisa kejadian, Neji dan Naruto memperhatikan sekitar mereka, takut-takut ada penjaga lain yang mengetahui keberadaan mereka. Sasuke dan Shikamaru saling tatap dengan tatapan seolah mengetahui jawabannya.

"Selain kita…" ucap Shikamaru.

"Ada orang lain yang mengincar nyawa Saito," sambung Sasuke, dengan cekatan Sasuke langsung berlari menujur pintu utama, dia tidak mau ada orang lain yang membunuh Saito kecuali dia, sebelum membunuh Saito, Sasuke ingin bertanya pada laki-laki itu, siapa dalang yang menyebabkan tragedy sembilan tahun yang lalu.

"Sasuke tunggu!" cegah Shikamaru, namun Sasuke tidak mendengarkannya. Melihat Sasuke yang sudah terbawa emosi, Naruto berlari lebih cepat dan mencegatnya.

"Pikir pakai kepala dingin, Sauske," ucap Naruto dengan tegas.

Saat mereka sedang berkumpul di depan pintu utama, Neji yang tadi berkeliling untuk mencari tahu ada berapa penjaga di ruamh ini, kini kembali dengan wajah panik, "Gawat!"

"Ada apa?" tanya Shikamaru.

"Saat aku keliling rumah ini, aku tidak melihat ada satu penjaga pun yang terlihat," jelas Neji.

"Bukankah itu bagus?" kata Naruto sambil mengeluarkan pistol kecilnya.

"Tidak, dan satu lagi yang membuatku terkejut, ada beberapa penjaga yang sudah tewas dengan luka di leher seperti apa yang kita lihat tadi, ada juga yang kepalanya terbalik, sepertinya orang yang membunuhnya mempunyai kecepatan yang sangat tinggi, jeda waktu dia dengan Karin tidak beda jauh kan?" jelas Neji panjang lebar.

Shikamaru dan Sasuke saling lempar pandang, "Kita masuk pelan-pelan," akhirnya Sasuke mereda.

Shikamaru membuka pintu utama pelan-pelan, di langkahkan kaki mereka masing-masing. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, sepanjang lorong pun tidak ada tanda-tanda bahaya, tapi tetap saja, insting mereka sebagai pembunuh sangat tajam, ada yang menjanggal di ruangan yang gelap ini.

"Di mana kamar tua bangka itu? Naruto, cek lokasi Karin," perintah Sasuke pelan.

Naruto mengangguk, dia mengeluarkan GPS mini nya yang sengaja di setting khusus untuk keperluan seperti sekarang ini. Saat Naruto memeriksa di mana lokasi Karin.

"Gawat," gumam Naruto yang membuat mereka menoleh, "Karin tidak terditeksi… artinya, kamera yang kupasang di bandung Karin telah di hancurkan."

"Heh, persis seperti dugaanku," ucap Shikamaru pelan.

"Maksudmu?" tanya Naruto, kini mereka memasuki ruang utama yang begitu luas namun keadaan sangat gelap.

"Ini bukan kesengajaan si tua bangka melakukan hal ini," ujar Neji yang akhirnya menyadarinya.

"Pakai penutup wajah kalian," perintah Sasuke sambil mengeluarkan penutup wajahnya yang bebentuk topeng iblis itu.

"Ini bukan kesengajaan," gumam Sasuke di dalam topeng tersebut sambil menodongkan pistol, "Ini jebakan."

Klik Klik Klik

Wuuung wuuung wuuung

Seluruh lampu menyala serempak, dan terdapat banyak infrared line sensor berbahaya, apabila terkena sinar itu, maka kulit kalian akan terbakar, jadi saat ini para elite assassin terjebak dalam lika-liku sinar tersebut. Dan secara serempak pula, beberapa penjaga keluar dari masing-masing ruangan yang ada di sana.

Plok plok plok.

Muncul sosok Saito bersama anak buahnya yang sambil menggenggam kedua lengan Karin yang terikat di belakang, "Harus kuakui, aku sempat terjebak oleh para tikus nakal ini, benar-benar cara yang sangat halus untuk membunuhku."

"Tapi ada satu hal yang kalian lewatkan, terdapat cctv jauh 2 km dari gerbang ini, jadi tindakan kalian sudah bisa kubaca, tapi aku tidak menyangka, kalian mengirimku wanita seksi dan menggiurkan untuk menjebakku."

"Sasuke, kita tidak bisa bergerak," bisik Naruto pelan.

Shikamaru menganalisa, sinar ini tidak terlalu dekat jarak satu sama lain, bisa di terobos apabila tubuh mereka kecil, sayang sekali mereka memiliki tubuh tegap dan tinggi.

"Nah, siapa duluan yang mau mati? Bisa kutebak kalian adalah elite assassin kan? empat laki-laki…" Saito menoleh dan menjilat leher Karin, "Dan satu wanita."

"Eerrggghhh!" geram Karin saat lehernya di jilat.

"Dasar wanita murahan, wajah cantikmu akan lebih bagus kalau di bakar," Saito menarik tubuh Karin dan mendekatkan pada laser merah itu.

Karin hanya bisa menutup matanya, sedangkan Neji berusaha untuk membidik salah satu penjaga yang terdekat agar tembakan jarum bius mengenai orang itu.

Slep!

Satu penjaga jatuh tertidur, dan itu membuat para penjaga yang lain reflek menoleh. Saat kehilangan focus, Sasuke mencoba untuk keluar dari kurungan, berhasil namun sedikit terkena sinar itu sehingga lengannya tergores luka bakar. Saat bebas, Sasuke langsung menghajar semua penjaga satu persatu. Cukup kewalahan karena bertarung sendirian, Saito mengangkat tubuh Karin dan menodongkan pisau ke leher wanita itu.

"Bergerak satu otot saja, aku akan menggorok leher wanita ini," ancam Saito.

Ancaman Saito berhasil membuat Sasuke terdiam, namun tangan Sasuke menodongkan pistol magnumnya kearah kepala Saito, sedangkan lima anka buah Saito kini menodongkan senjata-senjatanya ke arah kepala Sasuke.

"Jatuhkan senjatamu," perintah Saito.

Saat ini Shikamaru berpikir, kalau menyuruh Neji mengeluarkan bom bius, bisa-bisa mereka semua terbius. Jadi apa yang harus mereka lakukan? Tidak mungkin kan hanya melihat di dalam sangkar saja? Saat sedang berpikir, konsentrasi Shikamaru buyar oleh suara pukulan dan erangan dari lorong yang makin lama makin mendekat.

"Uaaaaghh!"

"Huaaaa!"

Sasuke, Saito dan Karin pun dibuat bingung oleh sumber suara itu.

"Apa yang terjadi di sana?" gumam Saito kesal.

Saat akan melangkahkan kaki, mereka semua meihat ada sosok yang sedang berlari dari lorong kemudian langsung lompat melewati tiap-tiap sensor merah itu dengan lihai dan luwes. Seperti sudah sangat berpengalaman. Menjatuhkan setiap penjaga memakai pedang kecil yang cantik, menyelengkat kaki penjaga, sehingga saat penjaga itu terjatuh, di tempelkan pisau di tempat di mana penjaga itu akan jatuh, sehingga kepala penjaga itu tertancap pisau dengan sendirinya.

Dan dengan lincah juga, sosok itu melompat ke sana-sini, mengecoh para penjaga yang akan menembaknya.

Dor!

Dor!

Dor!

Tidak ada yang kena, sosok itu melompat menuju tombil di belakang Saito, dengan memakai kaki, sosok itu menekan tombol hitam yang menyebabkan hilangnya infrared line sensor yang mengurung para elite assassin.

Saat semua sedang terkecoh, Sasuke dengan gesit bergerak menyerang kaki Saito dan menyengkatnya, begitu Karin juga sudah bebas, Neji melemparkan satu pistol padanya yang di tangkap dengan tepat oleh Karin, menembaki setiap penjaga yang akan menyerang Sasuke. Kini mereka saling melindungi satu sama lain.

Sasuke berhasil menangkap Saito, sambil menempelkan magnum di kepala laki-laki itu, dengan santai Sasuke bertanya, "Apa hubunganmu dengan kejadian sembilang tahun yang lalu?"

Mendengar pertanyaan Sasuke, Saito hanya tertawa, "Hahahaha, kasus pembunuhan berantai Fugaku dan Suzuki? Siapa kau? Kenapa bisa tahu aku adalah salah satu yang menyuruh orang membunuhnya?"

Ceklik

Sasuke menarik pelatuk dan makin menekankan pistol magnumnya pada Saito, "Sekali lagi aku bertanya, apa hubunganmu dengan kejadian itu?"

"Heh, bukan hanya aku, ada beberapa orang yang ikut serta dalam kasus itu, dan asal kau tahu, mereka berdua pantas mendapatkan ganjaran itu, bahkan pimpinan kami terjun langsung saat pembunuhan mereka, hahahaa-"

DOR!

Sekali tembak… kepala Saito pecah meninggalkan lehernya.

Semua terdiam, melihat pimpinannya sudah mati, para penjaga minta ampun dan berlutut agar di bebaskan. Tapi mereka tidak sebaik yang di pikir, Shikamaru mulai menembaki sisa-sisa penjaga yang masih berdiri. Satu suara mengganggu kegiatan mereka, suara cekikikan yang berasal dari sosok yang entah bisa di bilang menolong mereka itu atau tidak.

"Hihihihi."

Karin memperjelas penglihatannya pada sosok itu, matanya terbelalak saat melihat sosok itu sma persis dengan sosok anak kecil yang pernah dia tabrak di depan hotel. Anak kecil dengan warna mata biru pucat, rambut hitam pendek, memakai celana pendek, kaos dengan sambungan rompi yang ada kapuchonnya kini telah kotor karena cipratan darah.

"Terus… bunuh teruuss!" ucap perempuan itu degan gembira.

Sasuke tidak mendengarkan ucapan sosok perempuan itu, sambil menatap dingin sosok Saito yang tidak bernyawa, Sasuke mengganti magnumnya dengan pistol biasa, di tembakannya berkali-kali ke tubuh Saito yang kini penuh lubang peluru di mana-mana..

"Hihihihihi, hebaaat… kamu hebaaaat! Yeaay!" entah hanya perasaan Karin dan yang lainnya saja, atau memang anak ini terlihat sangat gembira?

Dan malam itu, malam pertama kalinya Sasuke menghabiskan pelurunya Cuma-Cuma. Selesainya Sasuke menghabiskan pelurunya, sosok perempuan itu sudah tidak ada, tidak ada yang menyadari kepergian perempuan itu, karena mereka terlalu focus pada sosok Sasuke yang sekarang. Shikamaru mendekatkan dirinya pada Sasuke, "Maaf aku tidak banyak membantu malam ini."

"Sasuke…" panggil Karin.

Sasuke melemparkan pistol kosong itu pada Neji dan berjalan keluar, "Mission complete."


A/N : untuk typo, iya kami paham, pasti bertebaran kan? hehehee, kemarin kita juga udah bahas "Kelemahan kita berdua adalah cara penulisan dan typo di mana-mana, walaupun udah di baca lagi tetep aja ada yang miss, yaah mohon di maklumi yah, factor umur, wakakakakakaa #Dor!

Obsinyx Virderald : eh jagan salah, ide lemon fitri mantep loh, Cuma dia ga berani nulisnya, hahahaha, tenang, nanti saya racuni dia XD, Shika ngga yaoi kok -_-

Schein Mond : wah kamu pelupa yah? Sering-sering isi TTS, ntar ngga pelupa lagi deh

GerardErza : emang fitri kan kurang ajar, saya di sangka banci, dengan polosnya pertama kali kita chatting dia bilang "Sumpah gue pikir lo banci" -_- cinlok? Waduh… angkat tangan deh, hahahahaha fict ini bisa sampe lebih dari 10 chapter kayaknya, mungkin 30 chapter juga bisa, semoga ga bosen ngikutinnya yah -_-

HikariNdychan : masa lalu sakura sedikit-sedikit bakal du ungkapin kok, tenang aja ;)

FhYyLvRhYy ELF : review mah review aja, XD kita seneng kok, bukan kekuatan supernatural, berubah jadi monster itu bukan fisiknya tapi sifatnya :D untuk chapter depan saya nyuruh fitri buat full lemon SasuSaku, di tunggu yah, saya udah bujuk dia, dan dia mau kok, #Akhirnya Sudud Syukur

Icha Yukina Clyne : neechan-mu emang ga mau kalahan orangnya tentang OC udah kita masukin kok di chapter ini, selengkapnya di chapter depan.

Unyu unyu : hahahahahaaa, komenmu bikin fitri salting loh… tiap ada yang komen kayak gini dia tuh suka heboh sendiri XD

Naomi Kanzaki : map yah kalo typo bertebaram T_T

Ninda Uchiharuno Riven-koi : hehehee, makasih yah pendapatnya, chapter selanjutnya juga sabar menunggu yah

Kira : nama Raffa emang nama cewek yah? #Bingung, ketemu? Baru kemarin kita bertemu, ahahahahaa :D

Rizuka Sasusaku Hanayuuki : chapter depan fitri bikin lemon loohhh #Pengumuman, hahahaaa

Bluremi : sembilan tahun yang lalu udah sedikit di bahas di chapter ini kan, walaupun ngga lengkap, pelan-pelan aja yah :D yang mimpin elite assassin bukan Sakura kok, masih ada lagi saingan yang bakal muncul :D

Kikyo Fujikazu : hahahaa, pada ngga nyangka yah kalo Sakura kejem? Kejemnya itu beda dari yang lain kok, kalo yang lain itu kejem neglakuin kalo Sakura beda :D

Suu foxie : kalo untuk panggilan pengganti ketiga, itu kita pake untuk karakter OC suu, anak kecil yang di tabrak? Jawabannya udah di atas kan? :D tenten bakal muncul kok, tapi Neji udah keburu naksir Ino nanti :D A/N kita kocak? Padahal ga bermaksud ngelawak -_- your new daddy? Udah berapa banyak daddy emang yang kamu punya? Hahahahaa *lirik curiga ke fitri

Sindi 'kucing pink : emang mereka berdua kok yang paling dewasa, eh Naruto juga dewasa kok :D

Soo Dana : yap! Kita selalu semangat kok :D

Wakamiya Hikaru : pertanyaan kamu udah di jawab di atas semua, kecuali yg flash back, itu dia, kita masih bingung mau ngadain flash back atau Cuma diceritain aja, minta usul dari kalian juga yaah :D

Hasni kazuyakamenashi stareels : tenten muncul kok, neji ngga mungkin sama Karin, Karin kan lesbi :p Hinata muncul masih di rahasiakan, hehehee kalo bingung panggil nama juga boleh :D

Rama Diggory Malfoy : hahahahaa, emang!

Pah : OC nya cewek kok :D

YouNii D3ViLL : XD, jadi kamu setuju sama pairing SakuKarin? :p

RomanceLovers : hahahahaa, itu awalnya kita balapan bikinnya, tapi sekarang jadi tertunda gara2 kerjaan T_T kita ga bikin akun baru soalnya ga mau ribet, hahaha, kebanyakan email jadinya nanti lupa password kan gawat :p wah aku suka kok sama fitri, cinta malah, Cuma dianya nolak terus XD

D3rin : XD, pasti semangat kok, misteri n action emang dari saya, kalo romance sebagian besar dari fitri :D

Uchihaiykha : Sakura ga akan ikut misi, sasuke ga akan ngizinin :D

Hikari Uchiwa : sisi darknya mungkin beberapa chapter ke depan bakalan nongol, sabar yah :D

Pink Hanamori : iyaa, moga2 langgeng yah kitanyaaa, hahahahhaa *Ditimpuk Fitri iya, saya juga lebih suka ino kalo ngomong tulis pake bhs inggris, tapi para reader pada ngga setuju hehehee, kita kan memberikan apa yang reader minta :D

Karinachan : ini udah update :D

Sekali lagi pengumuman, Fitri akan buat LEMON di chapter depan! Hahahahaaa, akhirnya bujukan saya berhasil XD *Nari ujan