*Mental ke arab ngeliat yang review banyak

Harus di jawab satu-satu nih, kalo ngga si boss pasti ngamuk =="

Pah : emang yang nge flame ga penting banget! OC nya perempuan kok :D, untuk lemon, maaf… akhirnya ujung2nya aku minta bantuan boss Raffa juga ==;

Unyu-unyu : hahahahhaa, hush! Kalian begini itu malah bikin si boss tambah reseeeeee /

Icha : perasaan aku doang atau apa yah? Kamu kalo review chapter yg Raffa buat ga log in? bagus2, ga usah log in, log innya pas chapter aku aja, wakakakakaa iya kita udah ketemuaaan, orangnya ga asik sama sekali :p

Kira : makanya pertama kali aku pikir dia banci XD SasuHina? Jujur aku juga ga suka pair itu sih ==" tapi… hahahahaa, liat saja nanti =3=

GerardErza : GYAAA! Di bahas lagiii? Tepar dah lama-lama gue, mau di deskripsiin? Raffa itu stress, narsis, pecicilan kadang jutek, sok akrab, nyebelin, tinggi, rambutnya mirip yamato KHR, bedanya Yamato ganteng kalo raffa buluk, wakakakakaaa *becanda fa! Ampun* sekali2 deh gue jujur, Raffa itu manis : ) #cih

HikariNdychan : hahahaha, flame nya emang ga mutu -3-

Kanon1010 : XD, masa sih? *nebar bunga* lemonnya Raffa emang begitu, ga mau bikin karakter cewek kesiksa katanya

Nyuu chan94 : tadinya mau ngajak kamu ketemuannya, satu FFN mau kita ajak, hahahaha

Ran Murasaki NH : kejadian 9 tahun yg lalu pasti di certain kok, tenang aja :D wooy, udah kenapa sih ngeledekinnya =3=

Ninda Uchiharuno Riven-koi : kita ga mempermasalahin flame kok, walaupun aku sempet kaget tapi Raffa bilang jgn di peduliin, yaudah :D. "Dia" dan "Mereka" itu nanti keluar kok, sabar yah :D

Monochrome no kissu : typo, memang pasti banyak bertebaraaaan, hahahahahaa

RomanceLover : Hahahahaa, lemon aku suka nanggung? Habis aku suka yg nanggung2, nyahahahahaa, eehh? Kita ga mau bikin Sakura ampe bener2 lemonan sama Karin, kita anti Yuri =3= tapi kalo banyak yg minta…. Bisa kita pertimbangkan hahahaa, iya Raff amah seneng bgt ketemu aku, ampe ga mau pulang dia, XD

Sindi 'kucing pink : pertama kali ketemu? Sumpah bikin malu.. bayangin aja di mall dia ngelambain tangan sambil teriak "WOOYY FIIIT" pede bgt kan? gimana kalo salah org coba? =_=

Mey hanazaki : makasih yah mey, kenapa baru review sekarang? Ga bisa di maafkan! XD (becanda loh)

Zeta hikaru : update kilat? Ga janji T_T

Uchihaiykha : iya udah kebuka dikit2, chapter depan lebih kebuka banyak kok, lemon pertama kali SasuSaku ? itu Raffa yg bikin nanti :D sudah termasuk hitungan jalur cerita kok :D

Kano : author kocak? Apa kita ubah profesi aja jadi pelawak Fa? Hahahahaa unyu mah aku doang, Raffa ga ada unyu2nya… OC nya sudah di jelasin di chapter ini kok :D

Niwa Sakura : terima kasih Niwa : ), hhhmm, apa yah, tentang gaya penulisan, kalo kita koreksi dulu itu artinya harus ubah dari awal lagi, dan kita agak g punya waktu untuk itu : (, maaf yah kalo ke ganggu, dan kita ga anggep itu sebagai flame kok, malah makasih bgt udah di kasih tau. Senjata magnum itu kayak tipe .44 magnum atau .357, kalau kamu suka main game zombie, magnum itu sering di pakai untuk mecahin kepala zombie :D, tentang saham, org tua mereka ga jahat, yg namanya main saham ka nada untung ruginya tergantung analisis kita, dan most of them yg main saham itu mafia, pejabat atau politikus (berlaku jug untuk di Indonesia) dan sekedar informasi, di Indonesia juga ada yg main bunuh2an kok gara2 kalah main saham : )

Aiko Sakira : hahahahaaa, anti SasuHina? Sama kaya kita, tapi kita ngga ekstrim kok, tenang aja, sekalinya jadi orang ketiga, kita ga bikin cerita jadi nyebelin kok : )

De3rin : kejadian 5 tahun yg lalu kayaknya chapter depan terungkap kok : )

Pink Hanamori : siapa anak kecil itu? Dia kita perkenalkan di siniiiii XD

Izuyume saitoukanagaki : hahahaha, kemajuan besar? =_= komenmu ini diketawain sama Raffa loh, katanya Nice komen ==" jyaaaaaaah, lagi-lagi begitu…. Sudah cukup kalian ngebuat wajah saya kaya kepiting rebus doong /

FhYyLvRhYy ELF : iya, chapter kemaren lebih focus ke misi, kita ga ngebanyakin romance kok, kita bakal seimbangin sama actionnya, nah, ini lemonnya, maaf kalo ga puas T^T

Uchiharuno phorepeerr : nggaaa! Dia ga nembaaak, kata siapaaa? Iissshhh, apa yang dia ucapin tuh jangan di percaya, percaya sama dia tuh musyrik! Hahahahaha

RaffaFitri4ever : ==" penname kamu… bikin Raffa nyengir gede, dan lagi ternyata kamu yang ngebocorin status aku yah T_T habis mati2an di ledekin sama tuh org. #Gigit!

Kikyo Fujikazu : kejamnya Sakura perlahan bakal kita bahas kok : )

Itachu : yang bener yang mana yaaah? Heheheee, jawabannya di chapter ini kok : )

Mizumi uchiharuno : hahahhaa, sampe 100 gempor atuuh =3=

Hasni kazuyakamenashi stareels : Hahahahahahaaa, amin juga ga yah? :p first sex mereka pasti di bikin kok, tapi jatohnya flashback, gpp yah?

Wakamiya Hikaru : okee, yg masalah itu kita bikin flashback : )

Devi lauramora : makasih, gadis kecil itu…. Anak baru :p

Karasu Uchiha : yg bakal dibuat lemon yang pasti SasuSaku, ShikaIno juga pasti ada kok, kalo NejiIno hampir… jatohnya kaya lebih mau di rape aja Ino sama si Neji

Naomi kanzaki : siap boss!

Chadeschan : kok demen yg sadis2 deh? =="

Sasusaku Lovers : Hahahahaa, ekstrim bgt, beneran mau nih dibuat lemon SakuKarin?

Tsuki-chan : Hahahahaa, ah kamu *toyor haduuuh, tolong jangan di komentarin lemonnya yah, hahahahaa, malu /

YOunii d3viLL : iya, kita ga bikin Karin nyebelin karena kita emang suka Karin kok : )

Aoi Ciel : kalo masalah lebih jago, sebenrnya Shikamaru sih yg paling jago… tapi lebih kuat Sasuke : )

Bluremi : ==" pasti kalah laaah, Raffa kan biangnya mesum! Hahaha Raffa orangnya nyebelin, hati-hati, ketemu dia bisa menyebabkan hipertensi, gangguan jantung dan liver serta epilepsi berebihan.

Ere-pyon : yang unyu aku doaaaaaaang XD pada penasaran Hinata jadi antagonis yah? XD typo di usahakan untuk kita kurangin :D

: Dia yang di BOLD itu nanti kita kasih tau kok : ) sabar yah :D

Soo Dana : lah? Kebalik! XD

Cherry'lila-chan : ahahahaa, curhat aja gpp kok, aku menerima jasa konsultasi juga kok, XD =3=, ini semua readers minta di tendang ke planet namek kali ya… T_T

Raiha laf Qyza : Hinata bakalan ada kok, anak kecil itu OC :D

Toeto : XD, maap maap karena udah bikin penasaran, kalo bisa juga kita maunya tiap jam update #Loh? Cuma kan ngetik itu harus dapet feelnya :D

Bubble7bie : cinta segitiga banyak di sini, malah ada yang segi4 (?) GUBRAAAKK! JADIAN! Ga mau! Raffa itu selamanya akan jadi babuku! Wakakakakakaaa

Uchiha Andhrea : eehh? Ga di bales? Maap2 kelewat yah kayaknya =3=, Gaara muncul di chapter depaaaaaan XD, iya aku ga suka Yuri, aku n Raffa itu kenalan dari FFN kok, dia yg ngejar2 aku di PM, sok2 akrab gitu deh, akunya mah biasa aja, nyahahahahaa

Keren : makasiih :D

Kazuka ayam cherry : iya, chap kemaren banyak typo, maaf yah : ( silahkan di fave :D

.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

Suasana canggung yang tercipta pada pagi hari ini di sebabkan oleh laki-laki yang kini mengeluarkan aura hitam di seluruh tubuhnya. Seolah tidak ada yang berani mendekatinya, semua berjalan sambil menjaga jarak, kecuali wanita satu ini, wanita yang selalu berada di sisinya dalam keadaan apapun, kondisi apapun dan situasi bagaimanapun. Sakura melingkarkan tangannya di lengan laki-laki yang menyandang nama Uchiha sambil tersenyum lembut.

"Sasuke kun, ada apa?"

"…" Sasuke memberi jeda pada jawabannya, "Aku… dikalahkan."

"Hng?" tentu saja Sakura tidak mengerti apa maksud Sasuke, tapi beda dengan yang lainnya, kini Naruto hanya bisa mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu tatap oleh Sasuke, Karin pun berjalan di belakang Sakura. Shikamaru, Neji dan Ino hanya terdiam sambil sesekali melirik ke arah Sasuke yang kini terlihat frustasi.

"Di… kalahkan oleh siapa?"

Sesampainya mereka di depan gerbang, Sasuke menghentikan langkahnya dan memeluk Sakura, mengubur wajahnya di leher wanita itu sembari mencium aroma strawberry yang tercipta di kulit Sakura, "dikalahkan oleh bocah."

"Bocah?"

"Ck, sudahlah teme, nanti aku selidiki tentang dia," hibur Naruto menepuk punggung Sasuke.

"Harga diri yang terluka yah?" sindir Neji pelan, sangat pelan berbisik pada Shikamaru.

"Hah, padahal sudah bagus bocah itu datang, kalau tidak mungkin kita sudah kewalahan," ucap Shikamaru.

"Oh, kejadian sebulan yang lalu?" tanya Sakura.

Ya, sebulan telah berlalu sejak munculnya sosok misterius yang telah menolong elite assassin saat keadaan genting. Kalau saat ini semua bisa bersikap tenang, tidak bagi Sasuke yang harga dirinya terluka karena di tolong oleh seorang bocah kecil, perempuan pula. Hal itulah yang membuat Sasuke sebulan kebelakang ini tidak semangat dan selalu mengeluarkan aura gelap. Keadaannya akan pulih saat sedang bersama Sakura di atas ranjang, tapi sesudah itu Sasuke selalu teringat kembali kejadian itu.

Suara tawa perempuan itu memacu diri Sasuke untuk terus menembaki target yang sudah mati. Dan dia merasa di perintah oleh suara tawa bocah itu, hal itulah yang tidak bisa Sasuke terima, di dunia ini tidak bisa ada yang memerintahnya.

Sesampainya di kelas, Sakura memperhatikan ekspresi Sasuke yang masih suram, entah harus melakukan apa agar kekasihnya itu kembali seperti semula, memang sangat susah apabila sudah menyangkut harga diri. Ini pertama kalinya Sasuke merasa harga dirinya jatuh.

"Semua kembali ke tempat duduk masing-masing," ucap guru yang baru datang, "Hari ini kita kedatangan murid baru, dia masih berumur 14 tahun tapi sudah berhasil melompat ke sma melalui kelas aksel, ayo masuk."

Saat sosok murid baru itu masuk, mata Sasuke dan Naruto terbelalak, dan dengan spontan Naruto berteriak, "AAAAAHHHH!"

Sakura menoleh, Sasuke terdiam, seluruh kelas menyorot mata mereka ke arah Naruto yang kini sedang berdiri dengan posisi menunjuk anak baru itu. Anak itu tersenyum, senyum yang beda dari pertama kali mereka bertemu, kalau dulu senyuman anak ini adalah senyuman menyeringai kejam, kali ini senyuman itu terlihat seperti kekanak-kanakan.

"Selamat pagi semuanyaaa, perkenalkan namaku Sakuya Kanbara, bisa di bilang Sakuya seorang otaku, Sakuya pecinta anime, manga, dan game. Keahlian Sakuya di bidang olah raga, mohon bimbingannya yah," ucapnya sambil membungkuk.

"Lucunyaaa~" gumam Sakura gemas. Sasuke melirik ke arah Sakura dengan tatapan horror.

Gemas?

Apa Sasuke tidak salah dengar?

Bocah itu adalah bocah tersadis kedua setelah Sakura yang Sasuke lihat seumur hidupnya. Sasuke melemparkan pandangannya pada Naruto, ini tidak bisa di tunda, dengan serempak, Sasuke mengangkat tangannya, "Pak, izin," ucap Sasuke.

"Ya, silahkan."

"Ayo," Sasuke menarik Sakura dan memberi kode pada Naruto agar mengiktuinya.

"Ah, hei! Aku hanya mengizinkan satu orang!" ocehan guru itu tidak di dengar oleh mereka, sementara itu, perempuan kecil bernama Sakuya itu hanya tersenyum, senyum yang sulit untuk di artikan.

Sambil melewati kelas Karin, Shikamaru dan Neji, Sasuke memberi kode pada Shikamaru yang kebetulan melihatnya sedang berlari, Sasuke mengisyaratkan pada Shikamaru agar bertemu di atap sekolah dengan memakai bahasa isyarat mereka. Shikamaru mengangguk kemudian memberi tahu Neji dan Karin, bahkan Ino pun dia beri tahu, karena Shikamaru sudah menganggap Ino sebagai salah satu anggota mereka.

Sekumpulnya mereka di atap.

"BOHOONG!" jerit Karin tidak percaya, "Anak itu? Yang waktu malam-malam menyelamatkan kita itu? Dan juga yang bertabrakan denganku? Satu kelas dengan kalian?"

"Aku juga maunya bohong, tapi itu benar-benar dia, dan yang paling aneh, sifatnya beda sekali, tadi dia terlihat seperti anak-anak," jelas Naruto.

"Sebenarnya siapa sih anak itu?" tanya Neji yang kini mulai khawatir.

"Apalagi dia sempat melihat wajah Karin," sambung Shikamaru.

"Kita harus menghabisinya."

Oke, ucapan Sasuke kini membuat semua terhenti akan kekhawatirannya, menoleh pada wajah Sasuke yang kini terlihat tenang dan yakin, "Sasuke," panggil Karin ragu, "Dia anak kecil loh."

"Tidak, dia berumur 14 tahun, sudah bukan termasuk hitungan anak kecil," tolak Sasuke.

"Aku setuju dengannya," ucap Shikamaru, "Ada yang aneh dengan anak itu, bocah berumur 14 tahun mempunyai kemampuan berkelahi yang bagus, lincah pula, apalagi dia perempuan, pasti anak itu sudah terbiasa melakukannya."

"Tu-Tunggu Sasuke kun, anak yang tadi? Mau kamu bunuh? Apa tidak bisa diselesaikan dengan cara lain?" cegah Sakura.

"Tidak ada cara lain, kita bunuh, atau identitas kita terbongkar," gumam Sasuke kesal.

"Bunuh sajaaaa!" suara nyaring yang terdengar dari belakang pintu masuk membuat mereka yang duduk melingkar menolehkan kepalanya, dan betapa kagetnya ketika pemilik suara itu ternyata adalah anak yang baru saja mereka bicarakan, "Ayo bunuh saja, tapi…"

Sakuya, nama anak itu memberi jeda, kemudian menatap mata para elite assassin satu persatu,"Apa kalian yakin bisa membunuh Sakuya?" Sakuya melanjutkan.

Merasa dianggap remeh, Sasuke bergerak, menarik Sakura ke belakangnya dan di ikuti oleh elite assassin dengan Ino yang berdiri di samping Shikamaru.

"Siapa kau?" tanya Naruto.

"Sakuya Kanbara."

"Utusan?" kini Karin yang bertanya.

"Tuhan."

Melihat ekspresi waspada dan jengkel dari elite assassin, Sakuya tertawa, "Hahahaha, Sakuya bercandaaaa, ya ampun, Sakuya tidak menyangka adegan dari salah satu anime yang Sakuya tonton itu berhasil membuat kalian terkejut."

"Apa yang kau lakukan pada malam itu?" tanya Sasuke langsung ke intinya.

"Aku? Harusnya Sakuya yang bertanya pada kalian karena Saito itu adalah target Sakuya selanjutnya," jawab Sakuya sambil melompat ke sana dan ke sini.

"Selanjutnya? Kalau begitu, sebelumnya kau pernah melakukan itu?" tanya Karin.

"Yap, Miyazawa Jyou," jawab Sakuya lagi seolah dengan bangga.

"Sendirian?" Neji ikut bertanya.

"Iya, dan masih ada target-target yang lainnya," ucap Sakuya sambil merentangkan tangannya ke atas dengan riang.

Sasuke berpikir, bagus bocah ini tidak terlibat dalam suatu organisasi, atau jangan-jangan dia sedang menyamar? Tapi di lihat dari gelagatnya, Sakuya bukan tipe anak yang bisa di perintah, dia tipe anak yang suka bergerak bebas sendiri. Shikamaru berjalan ke samping Sasuke, seolah memberi analisanya terhadap anak itu, Shikamaru melirik Sasuke dan mengangguk. Shikamaru selalu membawa pistol berbentuk pulpen di saku kemejanya, dengan gerakan yang cepat, dia menembakan satu peluru ke arah Sakuya.

Sakuya yang cepat tanggap menyadari gerakan Shikamaru, dengan lincah Sakuya menghindari peluru itu dengan cara melompat ke atas pagar, dia juga mempunyai keseimbangan yang bagus. Berdiri di atas pagar pembatas bukanlah hal yang mudah, tapi anak itu dengan lihai melompat dan meletakkan kedua kakinya di pembatas pagar.

"Ck ck ck, kekerasan di sekolah itu di larang loh, nii-san."

Cara bicara Sakuya membuat Sakura menahan tawanya, menyadari Sakura yang menahan tawa, Shikamaru protes, "Apa yang kau tertawakan?"

"Hahaha, tidak, hanya saja… aku merasa dia tidak jahat kok," ujar Sakura sambil tersenyum.

Ucapan dan senyuman Sakura membuat Sakuya tersentak, anak itu menurunkan tubuhnya dan mendekatkan dirinya kepada elite assassin tanpa ragu. Dengan tatapan yang polos, Sakuya menyentuh tangan Sakura dan hal itu membuat semua serentak memasang kuda-kuda untuk siap menyerang, tapi Ino menarik lengan Shikamaru dan Sasuke, begitu kedua laki-laki itu menoleh, Ino menggelengkan kepalanya seolah mangatakan untuk membiarkan anak itu menyentuh Sakura.

"Namaku Sakura, salam kenal yah," ucap Sakura lembut.

Sakuya hanya diam, menyentuh telapak tanga Sakura yang halus, satu-satu jemari Sakura di pegang lalu di tempelkan tangan Sakura pada pipinya. Terasa begitu lembut dan hangat, Sakuya memejamkan matanya, kemudian mata biru pucat itu terbuka, sambil tersenyum riang, Sakuya memeluk tubuh Sakura sambil memanggil Sakura dengan sebutan…

"MAMAAA!"

Tentu saja hal itu membuat Sasuke shock! Bukan hanya Sasuke, Neji, Shikamaru, Naruto, Karin bahkan Ino memasang ekspresi yang sangat tidak elit.

"Hei! Apa-apaan kau! Sembarangan memanggil Sakura-ku mama!" bentak Sasuke sambil berusaha melepaskan pelukan Sakuya, saat Sakuya melepaskan pelukannya, gadis berambut pendek seleher dan berwarna hitam itu memeluk Sasuke sambil menyebutnya…

"PAPAAAA!"

Kali ini Shikamaru, Naruto, dan Neji lah yang tidak terkejut, mereka malah mengangguk, sambil Naruto menambahkan, "Pantas bocah ini sadis, ternyata anak mereka."

"KAPAN SAKURA HAMILNYA? INI SEMUA TIDAK MASUK AKAAAALL!" jerit Karin mencekik Naruto

"Sakuya-chan," panggil Sakura lembut, "Di mana rumahmu?" seolah bertanya pada anak hilang.

Dengan polos anak itu menjawab, "Sakuya tidak punya rumah, Sakuya bisa tidur di mana saja."

"Psstt, Shikamaru," bisik Neji, "Menurutmu anak ini pura-pura berakting menjadi anak kecil, atau memang sifat aslinya seperti ini?"

Shikamaru belum menjawab, di perhatikan gelagat Sakuya terhadap Sakura dan Sasuke saat ini, dengan manja gadis itu menggenggam ke dua tangan sepasang kekasih itu, terlihat raut wajah Sakuya yang terlihat bahagia ketika Sakura mengelus kepalanya. Ekspresi yang benar-benar alami, seperti anak kecil yang haus akan kasih sayang, "Sepertinya itu sifat alaminya."

"Aku sependapat," sambung Ino, "Dulu aku pernah belajar psikolog, ada tandanya di saat manusia berpura-pura atau tidak."

"Wah, bahasa jepangmu sudah lumayan bagus, Ino," puji Neji.

"Terima kasih," Ino balas tersenyum, "Dan melihat Sakuya yang menatap langsung mata Sakura dan Sasuke, aku tidak menemukan adanya kebohongan."

"Sejak kapan aku jadi papamu!" gertak Sasuke.

"Sejak saat ini, kau pasti kekasih Saku nee-san kan? Sakuya mau Saku nee-san menjadi mama Sakuya, mau kan?" pinta Sakuya dengan mata berbinar-binar.

Sakura yang sangat lemah akan hal ini langsung memeluk tubuh Sakuya, "Mau," jawab Sakura langsung.

"Kalau begitu, kau akan menjadi papa Sakuyaaa, yeaayy."

"Tunggu dulu!" Karin memotong, "Kamu, kenapa berbeda sekali? Malam itu kau terlihat sangat… kejam, tapi sekarang…"

"Oh itu, Sakuya memang begitu, kalau sudah melihat darah Sakuya susah mengontrol diri, tapi bukan berarti Sakuya kehilangan kesadaran, Sakuya suka darah, kalau melihat darah, Sakuya merasa puaaasssss," jawab Sakuya dengan riang.

"Hei hei, kau ini sudah 14 tahun, bersikaplah dewasa sedikit, sikapmu terlalu kekanak-kanakan," tegur Naruto yang sedikit risih.

"Dewasa? Sakuya tidak mau menjadi dewasa, kalau Sakuya menjadi dewasa, orang itu akan datang lagi untuk membunuh Sakuya," kali ini Sakuya menjawab dengan panik.

"Sssttt, tidak usah panik," Sakura berusaha menenangkan dengan cara kembali memeluk tubuh Sakuya, "Tetap seperti ini juga tidak apa-apa kok, pasti berat untukmu hidup sendirian yah."

Sakuya melepaskan pelukan Sakura, "Sakuya tidak sendirian, Sakuya punya manga dan psp."

"Dari mana kau mendapatkan itu semua?" tanya Sasuke sinis.

"Mencuri dong, Sakuya mana mampu membelinya."

Sasuke hanya bisa menghela nafas, kelakuan bocah ini memang sedikit mengesalkan, tapi sepertinya ada suatu kejadian yang menyebabkan Sakuya menjadi seperti ini, karena bagaimanapun anak berumur 14 tahun, pintar, suka membunuh? Itu sama sekali tidak bisa dibilang normal. Dan Sasuke tertarik untuk mencari tahu apa yang terjadi pada gadis ini sampai merubah sifatnya. Satu keuntungan juga untuk elite assassin kalau Sakuya masuk ke dalam tim inti ini.

"Kau… Sakuya," panggil Sasuke.

"Ya?"

"Mau bergabung dengan kami?"

Tawaran Sasuke membuat Karin menganga, kenapa Sasuke bisa menawarkan hal itu pada bocah yang seenaknya saja memeluk Sakura, bahkan Karin tidak berani untuk sampai memeluknya seperti itu. Yah walaupun Karin tahu, alasan Sasuke merekrut Sakuya salah satunya pasti karena Sakura menyukai gadis kecil itu, lalu apa alasan keduanya? Sudah pasti elite assassin.

"Tu-Tunggu Sasuke-"

"Karin tenanglah," Neji menghentikan gerakan Karin.

"Aku akan mengizinkanmu tinggal di mansionku, dengan beberapa syarat," tawar Sasuke, sedangkan Sakuya hanya menatap Sasuke dengan ekspresi yang berubah, yang tadinya tersenyum riang kini menjadi datar, "Pertama, beri tahu padaku, siapa yang mengajarimu bergerak lincah? Kedua, katakan padaku kenapa kau mengincar Saito Fujiwara? Ketiga, kenapa setelah insiden malam itu, kau tidak menampakkan diri lagi pada kami?"

Sakuya tersenyum, namun senyuman kali ini lebih mengandung senyuman puas, "Sebelum Sakuya menjawab, bolehkan Sakuya bertanya?"

"Silahkan," izin Sasuke.

"Sakuya ingin tahu nama-nama para elite assassin yang sangat terkenal ini, boleh?" tanya Sakuya sambil mengeratkan pelukannya di perut Sakura.

"…" jengkel melihat kelakuan Sakuya, tapi tidak bisa marah, maka Sasuke menjawab sambil membuang mukanya, "Aku Sasuke, wanita berambut merah itu Karin, wanita satu lagi itu Ino…"

Sasuke tidak melanjutkan, Naruto sangat tahu kalau Sasuke bukan tipe orang yang suka banyak omong, makanya kini dia mewakili Sasuke bicara, "Aku Naruto, dia Shikamaru, dan dia Neji."

Kemudian Sakuya melepaskan pelukan itu, berjalan dan menatap satu-satu para anggota elite assassin, pertama dia menatap wajah Sasuke, wajahnya mendangak karena tubuhnya yang pendek dan kecil, kemudian langkahnya menuju Naruto, Karin, Ino, Shikamaru dan Neji. Sakuya kembali pada sosok Sakura yang kini berdiri di samping Sasuke, sambil tersenyum Sakuya berpose bertolak pinggang satu tangan dan satu tangannya lagi menunjuk ke arah Sakura.

"Mama!" ucapnya dengan riang, kemudian tunjukannya itu berganti ke Sasuke,"Papa! Naru nii-san, Shika nii-san, Karin nee-san, Ino nee-sama, Dan Neji nee-sama!"

"Hah! Seenaknya saja kau menyebut kami begitu!" sewot Neji, "Dan tolong di perhatikan! Aku laki-laki! Bukan wanita!"

"Eh? Sakuya pikir Neji nee-sama wanita yang memakai seragam laki-laki."

Terlihat semua sedang menahan tawanya, hanya Sakura yang tertawa sampai lepas terbahak-bahak, bahkan Sasuke menutupi wajah memakai tangannya, menahan tawa akibat sebutan untuk Neji. Untuk ukuran laki-laki, Neji memang termasuk golongan cowok cantik. Tanpa mereka sadari, atmosphere mereka berubah, yang tadinya tegang, kini mencair karena kepolosan Sakuya. Dan Sasuke sadari, sudah lama Sakura tidak tertawa lepas seperti sekarang ini.

"Jadi, Neji nii-san? Tidak pantas," ucap Sakuya dengan ekspresi kecewa.

"Hahahaha, Sakuya, kau lucu sekali sih, aku jadi tidak bisa membencimu," ujar Karin menghampiri dan mencubit pipi Sakuya.

"Nah, sekarang Sakuya mau menjawab pertanyaan Papa," dengan semangat Sakuya kembali ke samping Sakura, "Pertama, tidak ada yang mengajari Sakuya bergerak lincah, dari dulu Sakuya memang suka olah raga, gerakan Sakuya makin lincah karena terlatih dengan sendirinya saat berusaha kabur dari kejaran para bodyguard dari target yang Sakuya bunuh."

"Nah, yang kedua, Sakuya mengincar Saito karena dialah salah satu yang membunuh kedua orang tua Sakuya lima tahun yang lalu, nah yang ketiga, alasan Sakuya tidak menampakkan diri…"

Sakuya menghentikan ucapannya, seolah ragu untuk memberi tahu mereka apa yang terjadi, "katakan saja," bujuk Sakura pelan, melihat senyuman Sakura, gadis itu kembali bicara, "Kalau habis membunuh, Sakuya sering lepas kendali, makanya Sakuya selalu pergi ke gunung untuk berendam di air terjun. Sebelum Sakuya membunuh orang-orang yang tidak bersalah, Sakuya harus tenang."

Jawaban Sakuya membuat para anggota elite assassin terdiam, sangat tragis untuk anak yang baru 14 tahun harus mengalami hal kejam sendirian. Dan kini, Karin yang membuka suara, menanyakan hal yang membuat ekspresi Sakuya menjadi beda, "Lalu… kenapa setiap melihat darah kamu bisa merasa puas?"

Sakuya terdiam, dia menundukkan kepalanya, melihat reaksi Sakuya, Sakura bisa mengerti, dia merasa dirinya sangat mengerti karena beberapa kali, Sakura selalu merasa ada kepuasan tersendiri kalau melihat darah, tapi di sisi lain Sakura tidak suka itu, dia tidak menginginkan hal yang dia rasakan itu. Karena tragedy lima tahun yang lalu, Sakura harus melihat orang yang selalu berada di sampingnya, orang yang selalu mencintainya, berkorban demi dirinya, demi ke egoisannya.

"Tidak masalah," ucap Sasuke tiba-tiba tanpa mendengar jawaban Sakuya dari pertanyaan Karin, "Di mansion, kami bisa menenangkanmu dengan cara kami, jadi… kau mau bergabung, atau tidak?"

"Tentu saja mau, kalian pasti akan membutuhkan orang seperti Sakuya kan?" jawab Sakuya cepat dan kembali ceria.

"Hari ini kau sudah boleh ikut kami pulang," ujar Sasuke.

"Terima kasih, Papaaaaa!" sambil melompat kegirangan Sakuya menyengir, membuat Sakura juga ikut tersenyum. Benar-benar seperti keluarga.

"Tapi, Sakuya harus mengambil barang Sakuya dulu yah."

"Di mana itu?" tanya Neji.

.

.

Dan di sinilah mereka berada, ah bukan mereka, lebih tepatnya lagi Naruto, Neji dan Sakuya.

Keadaan suram, kotor dan kumuh. Itulah yang terlihat di gudang yang terdapat di taman kota, letaknya berada di pojokan, Neji dan Naruto diberi perintah oleh Sasuke agar mengantar Sakuya ke 'istana' nya, itulah sebutan Sakuya untuk tempat dia tidur sekarang. Di lihat sekeliling terdapat poster-poster anime, manga yang bertumpukan, juga koleksi-koleksi action figure entah dia dapat dari mana.

"Benar-benar otaku yah," gumam Naruto.

"Iya dong, Sakuya suka sekali dengan mereka," jawab Sakuya sambil membereskan barang-barangnya.

"Kau akan membawa ini semua?" tanya Neji.

"Iya, Neji nii-san dan Naru nii-san mau membantu Sakuya kan?"

Tidak mungkin mereka mengatakan tidak pada seorang anak kecil yang menatap mereka dengan puppy eyes. Sebenarnya tidak bisa dibilang anak kecil, karena tubuh Sakuya yang pendek dan kecil di tambah sifatnya yang masih ke kanak-kanakan itu, membuat mereka seperti mengurus anaknya Sasuke dan Sakura.

.

.

Saat jam selesai sekolah tiba, Sakura dan Sasuke jalan pulang berdua. Sengaja menyuruh yang lainnya untuk pulang duluan, karena hari ini Sasuke ingin membawa Sakura pergi kencan, sudah sangat lama Sasuke tidak mengajak Sakura kencan. Memang ini sangat dadakan, tapi Sasuke berani jamin, Sakura pasti senang.

"Sasuke kun? Kita mau kemana? Arah rumah kan ke sana," tanya Sakura sambil menunjuk ke belakangnya.

"Aku ingin mengajakmu kencan hari ini, keberatan?"

Wajah Sakura memerah, menahan rasa bahagia yang kekasihnya itu berikan, sambil tersenyum, Sakura memeluk lengan Sasuke, "Terima kasih, Sasuke kun."

Ketika mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka, tanpa di sadari ada dua sosok orang berjubah putih yang sedang berdiri di atap gedung sekolahan, yang satu menyeringai dan yang satu lagi berwajah datar, "Ternyata kehidupan mereka seperti ini," ucap sosok yang tadi menyeringai.

"…"

"Ayo kita pergi," ajak sosok yang berwajah datar.

"Eh? Kemana?"

"Kita datang ke sini hanya untuk melihat, bagaimana kehidupan sehari-hari mereka!" jawab sosok yang berwajah datar dengan sinis.

"Ish! Sinis banget!"

.

.

Sasuke mengajak Sakura ke tempat yang wanita itu ingin kunjungi, apapun akan dia lakukan untuk Sakura, bahkan Sasuke rela mengunjungi game center yang dengan catatan 'Sasuke benci tempat ramai'. Tapi melihat kekasihnya yang sedang memukul-mukul permainan drum ini sedang tertawa lepas, mau tidak mau Sasuke juga memasang wajah lembut pada Sakura.

Sesudah itu, Sasuke mengajak Sakura makan di tempat yang Sakura suka, tentu saja hal ini sangat jarang, karena Sasuke jarang mengajak Sakura keluar, wanita itu meminta makan di restoran yang sangat mewah. Hal itu tidak masalah bagi Sasuke, karena Sasuke dan anggota inti elite assassin tentunya, mempunyai jumlah uang yang tidak bisa di hitung. Dan sekarang, di sinilah mereka berada, di sebuah hotel megah yang memiliki restoran paling mewah.

"Sasuke kun, terima kasih yah untuk hari ini," ucap Sakura sambil menunggu pesanan mereka datang, yang Sasuke kerjakan hanyalah memandangi wanitanya itu, "Ng… apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?"

"Tidak ada," jawab Sasuke cepat, "Apa kau senang?"

"Ya, sangaaat senang, jarang sekali Sasuke kun mengajakku kencan," dengan riang Sakura menjawab, kalian pasti tahu kan alasan Sasuke mengajak Sakura kencan itu apa? Sasuke tidak mau kalah dengan bocah yang seenaknya menganggap dirinya papa dan Sakura mamanya itu membuat Sakura tertawa lepas.

Merasa dirinya sudah menang, Sasuke tersenyum, "Hari ini kita tidak akan pulang ke mansion."

"Loh? Kenapa? Tapi aku belum memberi makan Kyo," tanya Sakura bingung.

"Nanti aku suruh Shikamaru melakukannya, hari ini kita menginap di sini," ujar Sasuke dengan santai sambil memasang serbet di atas pahanya karena melihat pelayan sudah datang dan membawakan pesanan mereka.

"Kita menginap di sini? Yang benar?" dan sudah Sasuke duga, Sakura pasti senang.

"Hari ini aku ingin membahagiakanmu," ucap Sasuke sambil memoong steak yang dia pesan.

Tanpa menjawab apa-apa lagi, Sakura merasa senang, entah harus bagaimana cara mengucapkan rasa terima kasihnya pada Sasuke yang selalu berusaha membuatnya bahagia. Mungkin Sakura adalah wanita yang sangat beruntung telah bertemu Sasuke, dia juga bersyukur Sasuke tidak meninggalkannya saat dulu dia merasa down. Saat ini, Sakura merasa menjadi wanita yang paling bahagia sedunia. Lupakan dulu sejenak masalah orang-orang yang berusaha membunuh Sasuke, organisasi yang Sakura cari, dan latar belakang Sasuke sbagai pembunuh. Saat ini, Sakura ingin menikmati kencan selayaknya pasangan remaja yang normal.

Sesudah acara makan, Sasuke menggandeng tanga Sakura menuju lift, naik ke lantai tujuh, begitu pintu lift terbuka, Sasuke mengajak Sakura masuk ke kamar yang Sasuke sudah pesan. Begitu Sakura melihat kekasihnya itu membukakan pintu kamar, matanya terbelalak, betapa mewah dan indahnya kamar yang Sasuke pesan. Tempat tidur yang besar berbentuk lingkaran, kamar mandi yang tembus pandang, namun bisa di setting menjadi buram, meja makan yang terukir dari kayu jati. Benar-benar bukan seperti kamar hotel.

Saat Sakura sedang terpesona, Sasuke memeluknya dari belakang, "Aku special memesan kamar ini untukmu."

"Kau tahu, Sasuke ku," Sakura melingkarkan tangannya di atas lengan Sasuke yang kini melingkar di perutnya, "Aku sangat bahagia hari ini."

Sasuke tersenyum puas, di balikkan wajah Sakura agar menatapnya kemudian diciumnya bibir mungil itu. Sensasi yang sangat berbeda dari biasanya, seakan ini adalah pertama kalinya untuk mereka. Di tengah-tengah ciuman, Sakura menjinjitkan kakinya agar sepadan dengan Sasuke, menyadari Sakura yang berusaha untuk sepadan, Sasuke membungkukkan badannya, saling melumat satu sama lain, bertarung lidah sampai keduanya kehabisan oksigen.

Melepaskan ciuman sebentar adalah keputusan yang bagus, sambil mengatur nafas, Sasuke menempelkan bibirnya di leher Sakura, memberi tanda bahwa wanita ini adalah miliknya. Hanya miliknya. Dan Sasuke bergumam, "Kau milikku, sampai kapanpun."

Sakura tersenyum dan melingkarkan kedua lengannya di leher Sasuke. Laki-laki yang kini tengah meraba dada kanan Sakura menggiring Sakura ke tempat tidur, menjatuhkan tubuh wanita itu dengan pelan. Kemudian dia menaiki kasur itu dan memposisikan tepat di atas tubuh Sakura. Dan mereka pun melanjutkan ciuman mereka.

Sasuke membuka satu persatu kancing seragam Sakura sampai habis, dan kini hanya terlihat Sakura memakai bra-nya, dengan lihai Sasuke membuka kait bra Sakura yang berada di belakang tubuh mungil itu, setelah terlepas, Sasuke membuang bra itu kesembarang tempat. Ciuman berganti, Sasuke menjilati leher Sakura dan langsung ke intinya, dia menjiat dan melumat dada Sakura yang sudah mengeras putingnya itu.

"Ngh~"

Mendengar Sakura sedikit mendesah tidak cukup untuk membuat Sasuke ganas, karena itu Sasuke meminta lebih dengan cara langsung memasukkan jarinya ke dalam rok yang Sakura kenakan itu.

"Aaahh! Angghhh~"

"Heh, kau cepat sekali basah, Sakura," bisik Sasuke menggoda.

Sakura tidak menjawab, Sasuke menurunkan ciumannya, turun kebawah, perut, sampai Sasuke akan membuka celana dalam, Sakura menghentikannya, "STOP! Cu-curang… Sasuke kun masih lengkap pakaiannya."

Tanpa basa-basi, Sasuke melepaskan seragamnya sendiri, seolah tidak sabar dengan apa yang akan mereka lakukan. Melihat Sasuke yang melepas segaramnya dengan gaya seperti melepas kaos biasa, itu membuat Sakura blushing, melihat tubuh atletis Sasuke. Padahal tubuh itu sudah menjadi makanan sehari-hari Sakura, tapi tetap saja Sakura masih malu melihatnya.

Melihat Sakura yang blushing, Sasuke menggodanya, "Suka dengan apa yang kau lihat?

Belum Sakura sempat menjawab, Sasuke langsung melepaskan celana dalam Sakura dan menjilat apa yang ada di sana, "Hyaaaa! Sa-Sasuke kuun~ eeenghh~ aaaahhhnnnn~"

Jilatan Sasuke kali ini beda dari biasanya, begitu agreasive, dan Sakura sangat mneikmatinya. Membuat wanita berambut soft pink ini terus mendesah dan mendesah, "Aaahhhnnn~ nnggghhhh~ mmmhhhhh~ aaaaaaaah~"

Tidak sampai membuat Sakura klimaks, sengaja Sasuke lakukan itu, karena laki-laki yang kini menghetikan kegiatannya dan menatap intens kedua emerald itu ingin memuaskan pemilik tubuh indah ini.

Sasuke memasukkan kejantanannya pelan-pelan, "Ugh~" masih terasa sempit, walau beda dari pertama kali mereka melakukan sex, tapi kenikmatan yang Sakura berikan tidak berubah. Dan Sasuke, hanya bisa terangsang oleh tubuh Sakura. Bahkan saat para elite assassin menonton hentai pun Sasuke tidak bereaksi, kebalikannya, Sasuke malah merasa jijik oleh model hentai itu.

Sasuke memaju mundurkan pinggulnya dengan irama yang stabil, membuat Sakura memeluk Sasuke dengan erat, itu artinya Sakura sangat menikmatinya. Dengan mengetahui itu saja sudah cukup bagi Sasuke, dan sekarang saatnya masuk ke babak inti, Sasuke mempercepat gerakan keluar masuknya itu.

"Aaahhnn! Aaahhh~ aaaahhhh~ aaaaahhh~"

Sakura melingkarkan kedua kakinya di pinggul Sasuke, memaksa Sasuke agar lebih kencang dan lebih dalam lagi, "Sasuke kuunn~~ le-lebih dalaam~ ngghhhh~"

Tusukan demi tusukan yang sengaja Sasuke lakukan dengan kencang membuat Sakura teriak nikmat, "Aaaaahhhnnnn! Se-sebentar lagi aaahhhh~"

Sasuke makin mempercepat untuk merangsang dirinya sendiri, saat dia merasa dinding kewanitaan Sakura makin menjepitnya, Sasuke melenguh, "Aahhh~ aahh~ Saku-raaa~"

Dengan tusukkan terakhir, Sasuke membuat tusukkan itu menjadi yang paling keras dan dalam.

Slep.

"Hyaaaa, Sasukee kuuun! Aaaaaaaaaaaahhhhhnnnnn!"

"Aaaghhh~"

Nafas yang tersengal-sengal, kekuatan lengan yang menurun menyebabkan Sasuke terjatuh di atas tubuh Sakura, sambil mengatur nafas pasca orgasme yang baru saja mereka capai bersama-sama. Sakura memeluk Sasuke erat, memberi kehangatan dan kasih sayang pada laki-laki itu.

Lama ber istirahat, keduanya tertidur sampai tengah malam, Sakura yang bangun lebih awal membuka kelopak matanya, melihat sosok laki-laki yang sangat dia cintai kini terbaring sangat damai tepat di sebelahnya. Dengan bantal beralaskan lengan laki-laki itu, Sakura merubah posisinya menjadi duduk. Terus di pandangi wajah tampan yang terlihat sangat polos saat ini, betapa sedihnya Sakura sekarang karena telah merubah Sasuke menjadi manusia berdarah dingin.

Tatapan Sakura beralih ke depan, menatap kosong meja yang tidak bergerak itu, kemudian tanpa di izinkan oleh pemilik otak itu, pikiran Sakura melayang kembali saat kejadian yang membuatnya merubah Sasuke menjadi seperti sekarang.

"Bunuh! Bunuh dia!"

Kalimat itu teringang di telinga Sakura.

"Rasakan ini! Aaarrgghhh! Aku mau kau matiiiii!"

Dan lagi-lagi kejadian itu membuatnya terpuruk, mengingat sedikit-sedikit kejadian lima tahun yang lalu membuat Sakura pening. Saat ini pandangan Sakura pun kosong, bahkan dia tidak menyadari Sasuke sudah bangun dan terus menatapnya yang bengong. Melihat Sakura yang melamun, Sasuke menggerakan tangannya dan menggenggam beberapa rambut soft pink kekasihnya itu, lalu…

"Aaawww!"

Sasuke menjambaknya pelan.

"Sasuke kun! Kenapa bangun?"

Sasuke mendudukan tubuhnya, merangkul Sakura dari belakang, "Ada apa? Kau terlihat lesu."

"Tidak ada apa-apa, sekarang masih jam 3, tidurlah lagi," ucap Sakura sambil menggenggam lengan Sasuke yang melingkar di lehernya.

"…" Sasuke terdiam, kemudian dia memutuskan untuk membawa Sakura tidur kembali. Di dekap wanita itu erat-erat kemudian Sasuke berbicara, "Kau tahu, hari ini aku sedikit cemburu pada bocah itu."

"Sakuya-chan? Dia kan perempuan."

"Aku tahu, tapi aku tetap kesal, dia bisa membuatmu tertawa lepas," jelas Sasuke, mengubur wajah Sakura di lehernya.

"Tapi… yang paling membuatku bahagia adalah di saat seperti ini," ungkap Sakura makin membenamkan wajahnya.

"Kamu… kenapa sepertinya sangat menyukai… bocah itu?"

"…" Sakura tahu, Sasuke pasti menyadarinya, menyadari kalau Sakura dan sisi lain Sakuya itu seperti bercermin. "Dia mengingatkanku dengan diriku dulu…"

"Aku sudah bilang padamu, lupakan masa lalu, kita jalani masa sekarang, dendammu biar aku yang membalasnya," ujar Sasuke.

"Bukan itu, Sakuya-chan… di balik keceriaannya, dia menutupi sebuah ketakutan yang luar biasa, aku bisa merasakannya…"

"Karena itulah aku mengajaknya tinggal di mansion," akhirnya Sasuke berkata jujur.

"Benarkah?" dan Sakura memang sangat lemot, semua tindakan Sasuke tidak Sakura sadari, kalau semua itu demi dirinya.

"Benar, aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu, dan sekarang tidak ada lagi yang harus kita bicarakan, kau harus tidur," perintah Sasuke sambil mengecup bibir Sakura.

"Ng, terima kasih, Sasuke kun, aku juga mencintaimu."

.

.

"Jadi?" tanya sosok laki-laki yang sedang duduk di kursi yang berukiran elang sambil memegang wine-nya.

"Itu soal gampang, aku sudah tahu sifat wanita itu yang tidak bisa membiarkan orang lain menderita kan? itu bisa jadi senjataku," jawab wanita berambut panjang.

"Tapi kau harus hati-hati dengan wanita si rambut merah dan rambut pirang itu, mereka berdua lebih pintar dari wanita si rambut pink."

"Aku cukup menjatuhkan sang ratu, maka seluruh pelindungnya akan menurut."


A/N : kalian iniiiiiiii! / mau sampe kapan bikin aku ngabales review2 kalian sambil nahan salting T_T udah gitu di YM si Raffa ngakak mulu lagi, ngeledekin tuh dianyaaaaa *Ngadu

Oh iya, untuk lemon maaf yah, ujung2nya minta bantuan Raffa juga deh T_T tapi 80% ideku kok, fufufufufu…

Oh iya, untuk sementara ini Raffa lagi ga enak hati, ada beberapa kejadian yang menimpanya, mohon doanya yang supaya dia pulih lagi, ampe sekarang dia masih pundung nih… sekarang aja dia ngga kerja, dan aku ngelanjutin bikin fict ini aja di rumahnya yang jauhnya itu ampe jin males buang anak kesana -_-"

naaah, chapter ini pasti tebak-tebakan lagi yah isinya? XD selamat menebak, tapi kita ga akan ngebiarin kalian penasaran kok ;)

Makasih yah yang udah mau setia menunggu fict ini, chapter depan Raffa mau bales dendam, dia mau bikin Lemon SasuSaku flashback first time mereka ngelakuin sex, karena gereget ngebaca lemon aku yg katanya ga ada panas2nya T_T *brengsek emang dia

Oke, sekian dulu yah dari aku.

V3Yagami