Oh iya, untuk umur mereka di sini, kita tuh ngga ngadain adegan ulang tahu, jadi kalian terka sendiri aja yah, aku dan raffa sih nganggepnya mereka udah 16 tahun… normalnya sma kelas 1 tuh 16 tahun kan yah? Gitu deh pokoknya, dan tentang karakter mereka yang dewasa, mereka kan emang hidup sendiri, jadi kebentuknya sifat dewasa mereka lebih cepet dibanding remaja2 yg lain, istilahnya itu dewasa sebelum waktunya :D tuntutan hidup bo… fufufufufu….

Saatnya bales review kalian :D

Icha : gpp kok cha, kalo chp nya raffa ga usah log in :p masalah tentang ketembak itu, itu emang sengaja kok, Hinata kan jahat :D sensei mereka bentar lagi dateng, di tunggu yah, hahahaa…

Obsinyx : ngga, Hina g gagap, kita pure bikin semua OOC di sini :D *semoga MK g baca* oh, neji negrape ino itu ideku, hahahahaa orang ke3 bakalan ada kok, di chapter ini…. Coba tebak :D

Uchiha Andhrea : kok bisa ga kekirim? Ada kok aku twitter Fitrisukendar, iya rambut merah itu sasori n gaara kok.

Sasusaku lovers : ini kurang kilat yah? =_=

Hikari : XD, lagi ga ada kerjaan soalnya, makanya cepet.

Sakusasu : iya, Hinata yg jadi wanita di chapter 6 itu : )

Blackcherry : hahahaha, dia itu keponya mirip junior aku di kampus dulu ==" Sakuya kan pinter, dia sekolah dapet beasiswa dari dulu, pernah baca ngga komik2 yg karakternya g punya org tua miskin pula tapi masih bisa sekolah, aku terilhami dari situ aja : ) Ino emangs akti! Siapa dulu doong yang buat (Ya MK laah) Hinata-Neji di chapter ini kok mulai dikasih tahu, EEEHHHHHH, kok buka aib saih kamu =3=

Aiko : tiga orang berbaju putih itu keluar lagi kok di sini, itu dia, kenapa Hinata bisa muncul di pager, udah kaya pengemis, nyahahaaa jawabannya di next chp yah

Hasni : :D, pemberi OC-nya bilang kalo Sakuya itu ga jahat,.

Hikari uchiwa : makasiiiih :D

VANY : iya, Hinata itu wanita yg di akhir chp 6 :D

Wakamiya : Hinata ngga nyamar jadi gadis lugu, Cuma Sakura nya aja yg gampang ketipu, dan Hinata ga akan nyulik Sakura, rencana dia bukan nyulik sakura, tapi…..

Aoi Ciel : hahaha, iya, nanti dibuat ga feminin2 amat kok, undangan? Undangan wisuda mau? Hahahaa

Toeto : yo wassup bro, ternyata lo laki, gue pikir cewek. Hahahaa, lo demen sama roman? Gue juga gat au dia siapa, dia nge PM gue buat nawarin OC-nya, si fitri tertarik yaudah gue masukin OC-nya. (Raffa)

Twitternya roman aku ga punya, nanti deh kita tanyain yah, oh the Raid aku jug udah nonton, keren banget yah filmnya, Iko nya ganteng :3 (Fitri)

Uchihaiykha : hinata suka sama sasuke gara2 sasuke itu ketus sama dia (?) lawan sebenernya itu masih jauh banget ceritanya, hahahaa, kepanjangan yah? ._.

Bluremi : kok lima tahun yg lalu sih, si raffa salah kasih info, krisis itu kejadian waktu orang tuanya Sasuke n Sakura di bantai, lima tahun yg lalu mah beda lagi kasusnya *toyor raffa* lemon ShikaIno aku bikin chapter 10! XD ditunngu yaaaah

Ere-pyon : elite assassin masih latihan sama dia kok, nanti sakuya juga bakal di latih, tenang aja, usul kamu itu udah termasuk alurnya si raffa :D

Tsundere Evil : Hinata jahat itu… analisa sendiri dulu yah baca chapter ini, kalo ga ngerti baru tanya lagi, hehehee… hah? Rukia-ichigo? Ichigo keGANTENGAN buat raffa =_=

Yui 0.2 : Hinata orang ketiga kok… tapi ngga ekstrim :D

IzuYume : hahahaa, ampe ngelus dada gitu, emang sengaja kita bikin XXX, karena belom saatnya di publikasikan, hehehehe

Y0uNii : Hinata bakal naksir berat sama sasuke, tapi ga di tanggepin sama sasukenya :p

Ngga log-in lagi : log in dong sekali2, hahahahahaaa… kita cocok? Emang sangat cocok, aku adalah tuan putri dan raffa pelayanku :3

Schein mond : XD, tebakanmu benaaaar cyiiiin, eyke g cocok kok sama raffa, dia kan maho :D mana doyan dia sama eyke

Pah : hahahahaa, bikin cendiliii dooong :* kakaknya Ino deidara kok, emang siapa lagi yang cocok? XD

Poetri-chan : pertanyaan kamu udah di jawab di chp ini, baca yah :D

D3rin : hahaha, ganteng kok, dijamin ganteng! XD

FhYyLvRhYy ELF : loh? Ngakak kenapa? Hahahaaa, aneh kau… sensei mereka ada banyak *tuh aku kasih bocoran* =_= kita sering jalan bareng juga kan ngisi waktu doang, itu di mobil nyanyi2 juga ngilangin jenuh gara2 macet cyiin, iya sama-sama, makasih juga udah di add :D

Phapi cubby : di maafkan #Elus2… cengiranmu g enak bgt di bayanginnya T_T

Chadeschan : HAHAHAHAHAHAA, sumpah gue ngakak beneran baca review dari kamu, WAHAHAHAHAHAA *ga bisa berhenti ketawa* "kegagalan cinta" itu nusuk bangeeeet! (Sukurin lu fa) silahkan di fave :D pair NaruHina kita pertimbangin, tapi sejauh ini sih kita ga ada niatan untuk ngepairin mereka berdua, soalnya di hati naruto diem2 kan ada Sakura :D iya, aku suka NaruSasu gara2 temen aku =3=

BlueHaruchi Uchiha: iya dia lagi patah hati... ditinggal cewek yg dia taksir, wakakakakakkakaa

Raiha Laf Qyaza: naruhina kita ga ada rencana sama pair itu =3=, aslinya sakuya kan manggil sakura itu nee-chan, tapi dia lebih suka manggil pake mama-chan ^^

Soo Dana: iyaa, ini aku yg bikin, tau ga, review dari blueharuchi keatas itu hampir ga aku bales loh, soalnya aku udah update chp ini udah dari kemarin siang, tapi ga nongol2 di FFN =="

Aya fans v3xraffa : sakuura kan ga dibolehin ikut misi sama sasuke, :) jadian? ga ah, raffa kere sih =3=

RaffaLOPEFitriFans : bah, bukaaan! ==" lemon pake sex toy? jangan di fict ini yah, heheheee, minta ke raffa aja bikinin yg oneshot

uchiharuno phorepeerr ; bagi yg nunggu lover eternal, salahkan RAFFA! setiap aku mau ngetik lover eternal dia selalu mencuci otakku dengan ide2 yg membuat aku berimajinasi lebih jauh lagi tentang fict ini T_T

Kiyui Tsukiyoshi : loh, review di sini ada yg lebih panjang dari kamu, hahahahaa, dan kita fine2 aja kok, kita malah seneng ada g ngereview panjang n ngoceh2, apalagi kritik dan segala macem :D jadi santai aja yah, jangan jadi silent reader dong :( kamu nulis lemon dari umur 14? O.O hebat! kamu tuh cewek atau cowok? tentang cerita, pernah saih ada satu flame yg bilang cerita ini pasaran, hehehehe

Kazuka Ayam Cherry: ngenalin kook ^^

Just pen : chp 8 emang sempet di update kok kemarin siang, tapi ga bisa dibuka T_T

GerardErza : ini apa deh anak sama si raffa ==" kamu mau jadi pacarnya raffa? yakin? dia mesum akut loh, wkwkwkwkwkwk

.

.

L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)

Naruto Belong Masashi Kishimoto

Rated M-MA

Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri

.

.

"Neji…?"

Saat kedua orang yang sepertinya saling kenal ini bertatapan, seperti biasa, Shikamaru langsung menganalisa. Memang sih, Shikamaru orang terakhir yang ikut bergabung di elite assassin, jadi dia tidak begitu tahu latar belakang Neji seperti apa. Tidak seperti Naruto dan Karin yang pernah menceritakan latar belakang mereka, Neji bukan tipe orang yang suka bercerita tentang masa lalunya sendiri.

"Kau… Hyuuga… Hinata?" tanya Neji ragu.

"Ya, aku tidak percaya kau masih hidup…" ucap Hinata dengan wajah kaget.

"Maaf membuatmu kecewa karena telah melihat diriku yang masih hidup," sindir Neji sinis.

"Ah! Bu-bukan begitu… Neji… aku sangat khawatir padamu, kami semua mencarimu, tapi-"

"Apaan sih!" potong Sakuya, "Aktingmu jelek obake nee-san!" Sakuya melipat kedua tangannya dan berjalan melewati Hinata, "Maaf-maaf saja, tapi Sakuya banyak melihat karakter sepertimu muncul di dalam anime."

"A-apa-apaan bocah ini! Begini adik kecil, aku-"

"Jangan panggil Sakuya adik kecil! Sakuya tidak sudi," bantah Sakuya yang terus berjalan menuju kamarnya.

"Hhhhh," Karin menghela nafasnya, masih bingung apa yang harus dia lakukan pada wanita ini, tidak mungkin mereka menyuruh Hinata untuk pergi sekarang juga, setidaknya mereka harus menunggu pagi tiba, "Kau boleh tidur di sini," ujar Karin, saat Hinata tersenyum,"Terima ka-" "Tapi di ruang tv," potong Ino dengan cepat.

"Wah Ino, kamu baik sekali tidak mengusulkan dia tidur dengan Kyo," sindir Karin sambil berjalan berdampingan dengan Ino menuju dapur.

"Ah tidak, Kyo terlalu mewah untuk tidur bersamanya, hohoho."

Naruto, Neji dan Shikamaru hanya terdiam dan bengong, ternyata wanita itu menyeramkan.

.

.

Sasuke menggenggam tangan Sakura memakai tangan yang sudah di perban akibat cakaran Sakura yang dalam. Wajahnya sangat kacau saat ini, sekilas adegan kejadian lima tahun yang lalu teringat, di mana Sakura menjerit meminta tolong padanya, dan Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa karena kemampuan bertarungnya masih payah. Ekspresi Sakura saat itu benar-benar tidak bisa dilupakan oleh Sasuke.

Apalagi sekarang lebih parah, Sakura tertembak, bagaimana bisa? Dan kenapa wanita itu bisa masuk ke wilayah mansion ini? Tempat ini letaknya jauh dari jalanan, penampakan dari luar saja seperti rumah hantu, tidak ada orang yang berani mendekati mansion ini. Tapi kenapa wanita itu bisa tahu kalau di dalam mansion ini ada yang menghuninya? Setelah Sasuke berpikir keras, dia menemukan jawabannya. Taman-taman yang indah itulah petunjuk adanya penghuni di mansion ini.

"Ngghh~" Sakura menggerang.

"Sakura…" panggilan pelan Sasuke membuat Sakura berusaha membuka matanya.

"Sa…suke kun~" panggil Sakura dengan sangat lemas.

"Ino sudah mengeluarkan pelurunya, jangan banyak bergerak, aku akan terus di sisimu," ujar Sasuke lembut. Membelai kepala Sakura

Sakura tersenyum lembut, seolah memancarkan rasa terima kasih melalui matanya. Perlahan Sasuke mengangkat sebelah tangan Sakura dan menciumnya, "Tidurlah lagi, aku akan menjagamu."

"Wa… nita itu…?"

"Dia tidak apa-apa," jawab Sasuke, melihat tatapan Sakura, Sasuke sangat tahu apa maksudnya,"Iya, besok aku akan menemuinya dan bertanya apa yang terjadi, sekarang kau tidur."

Sakura mencengkram pelan lengan Sasuke, seolah menarik Sasuke agar mendekat padanya. Saat Sasuke menuruti keinginan Sakura, dia mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Kemudian Sakura mengecup bibir Sasuke lembut, tindakannya membuat wajah kacau Sasuke tadi hilang seketika kini berubah menjadi wajah yang penuh dengan kelegaan.

.

.

Pagi hari pun telah tiba, kini para elite assassin terlihat seperti remaja normal yang sedang berkumpul di ruang makan.

Piip pip piiip pip piip.

"Sakuya, letakkan dulu psp-mu, makan dulu sarapanmu," perintah Karin sambil meletakkan beberapa sarapan di atas meja, "Neji, bisa tolong antarkan sarapan untuk Sasuke dan Sakura?"

"Tentu." Jawab Neji mengambil dua piring dari tangan Karin dan pergi menuju kamar Sakura.

"Sasuke tidak ikut sekolah ya?" tanya Ino.

"Sudah jelas jawabannya, tidak mungkin Sasuke pergi meninggalkan Sakura yang sedang dalam keadaan begitu," jawab Shikamaru.

"Ngomong-ngomong, bagaimana tentang wanita baru itu?" bisik Naruto pelan.

"Dia masih tidur," jawab Shikamaru singkat.

"Aku tidak suka!" ungkap Ino dan Karin bersamaan.

"Sakuya juga tidak suka!" sahut Sakuya masih sambil memainkan psp-nya.

"Sakuya, letakkan psp-mu! Habiskan sarapanmu!" sekali lagi Karin memperingatkan.

"Iyaa iyaaa," dengan malas-malasan, Sakuya meletakkan psp-nya di samping piring yang sudah terisi telur mata sapi.

Neji mengetuk pintu sebelum membukanya, setelah mendengar suara Sasuke yang mengizinkan masuk, dia membuka pintu, "Pagi, aku bawakan sarapan untuk kalian."

Sakura sudah terbangun, namun kondisinya belum pulih, wajahnya masih pucat dan matanya masih sayu, benar-benar terlihat lemas. Melihat Sakura yang seperti ini membuat Neji miris. Andai saja Sasuke tidak usah menolong Hinata, pasti Sakura tidak akan terluka. Andai saja peluru itu tepat mengenai kepala wanita yang Neji benci itu.

"Sasuke… " Panggil Neji ragu, "Tentang Hinata…"

"Hinata?" tanya Sakura bingung, nama yang asing baginya.

"Wanita kemarin yang kau selamatkan, itu…"

"Kemana dia? Apa… dia baik-baik saja? Aaakhh!"

"Sakura! Jangan memaksakan diri untuk bergerak!" tegur Sasuke saat Sakura sedikit mengangkat tubuhnya, "Neji, kita bicarakan ini nanti di luar."

"Baik."

Neji membalikkan tubuhnya, saat dia membuka pintu, terlihat sosok wanita berambut indigo panjang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah sedih. Apa-apaan wajah itu? Neji sangat kenal dengan Nona muda satu ini. Orang yang tamak dan kalau menginginkan sesuatu harus terpenuhi. Apa tujuannya? Kenapa dia bisa ada di depan pagar mansion mereka?

"Maaf, bolehkan aku masuk?" tanya Hinata sopan mencampakkan Neji.

"Ya, silahkan…" jawab Sakura pelan.

Hinata melangkahkan kakinya menuju tempat Sakura terbaring, ketika dia menoleh ke arah Sasuke, wajah Hinata sedikit memerah, kemudian dia merubah pandangannya kepada Sakura, "Namaku Hinata, maaf yah sudah membuatmu terluka."

Sakura tersenyum lembut padanya, "Tidak apa-apa, untung ka-"

"Jangan banyak bicara, bicara itu memerlukan tenaga, dari pada berbicara lebih baik kau istirahat," potong Sasuke menutup mulut Sakura memakai telunjuknya.

"Ehm, anu… terima kasih juga sudah melindungiku," ucap Hinata malu-malu pada Sasuke.

"Hn," Sasuke menjawab seadanya tanpa menoleh sedikitpun.

"Hinata, mereka harus istirahat, kau bisa keluar sekarang," tegur Neji yang dari tadi tidak melangkahkan kakinya dari pintu.

Hinata menatap Neji dengan tatapan sedikit sinis, kemudian wanita itu memutuskan untuk mengalah sebentar pada Neji yang kedudukan status keluarganya jauh di bawah keluarga Hinata, saat Hinata melewati Neji, dia berbisik, "Seharusnya kau mati." Neji hanya terdiam mendapat pengakuan seperti itu, apalagi dari keluarganya sendiri.

Saat semua sudah siap berangkat, Neji memutuskan untuk tinggal di dalam mansion, bagaimana pun juga harus ada yang mengawasi gerak-gerik Hinata, jangan sampai wanita itu dengan sesuka hati memeriksa atau jangan-jangan mengambil barang-barang berharga di mansion ini. Walaupun Hinata berasal dari keluarga yang kaya, sifat irinya itu membuat Hinata kadang melakukan tindakan mencuri.

"Ada yang aneh dengan Neji," gumam Karin di perjalanan menuju sekolah.

"Aku juga berpikir begitu," sahut Shikamaru.

"Pasti gara-gara wanita itu," kini Ino yang menyambung.

"Jangan-jangan, wanita itu yang telah membuat Neji keluar dari keluarganya?" tebak Naruto, "Karin, kau ingat kan saat pertama kali kita bertemu dengan Neji?"

"Ya, saat itu hujan deras, kita sedang berteduh di bawah pohon yang rindang, saat itu Neji dengan wajah kusam dan matanya yang bengkak meminta izin untuk ikut berteduh," jelas Karin sambil berusaha mengingat.

"Pasti Sakura menerimanya dengan lapang dada," tebak Ino.

"Benar sekali! Saat itu Sasuke sedikit cemburu pada Neji, sampai-sampai Sakura terus di dekapnya sampai hujan berhenti," ujar Naruto riang.

"Sebenarnya… Neji itu, kenapa bisa gabung dengan kalian?" tanya Ino.

"Ada apa? Kau tertarik padanya?" sindir Shikamaru.

"Bukan begitu, aku hanya penasaran, kamu, Naruto, Karin juga Neji, kenapa bisa saling bertemu?"

Shikamaru, Naruto dan Karin saling tatap. Kemudian mereka tersenyum dengan ciri khas masing-masing sambil menjawab, "Ini sudah takdir," pada Ino.

"Dasar kalian, yasudah kalau tidak mau cerita." Cetus Ino melangkahkan kakinya lebih cepat.

"Ino," panggil Karin sambil mengejar Ino melangkahkan langkahnya seirama. "Nanti malam, aku akan menceritakan semuanya padamu."

Sambil tersenyum girang, Ino menjawab,"Okay! Kita bikin cemilan juga yah."

"Sakuya ikuut!"

"Iya, ini khusus wanita, eh- jangan ajak wanita itu," ujar Karin.

"Iya, memuakkan,hohoho," balas Ino.

"…" sedangkan Shikamaru dan Naruto hanya terdiam di belakang mereka, "Aku benar-benar tidak mengerti wanita," gumam Naruto.

"Jangan, bisa bahaya kalau kaum kita tertular seperti itu," jawab Shikamaru.

.

.

"Aaaaahhhh! Sepi, tidak ada teme, tidak ada Sakura-chan~" gumam Naruto mengubur kepalanya di atas meja. Saat ini suasana kelas begitu ramai, di dengar dari pembicaraan mereka, sepertinya akan kedatangan beberapa murid baru. Naruto sempat berpikir, jangan-jangan apa yang di ucapkan Shikamaru saat makan malam itu benar-benar terjadi? Kalau sampai benar, Shikamaru sangat jenius.

"Iya, tidak ada mama-chan dan papa-kun kelas terasa sepi," balas Sakuya sambil membaca manga.

"Hei hei, membawa buku bacaan itu dilarang."

"Naru nii-san, lakukanlah sesuatu agar perasaan bosan ini hilang," pinta Sakuya, bersender di kursi tempat Sakura duduk dan meletakkan manga yang dari tadi dia baca.

"Hah? Melakukan apa? Aku saja-"

"Ayo semua kembali ke tempat masing-masing," potong sang guru yang baru saja tiba,"Lagi-lagi kita mendapatkan murid baru, silahkan masuk dan memperkenalkan diri."

Ketika sosok itu masuk, semua terdiam, wajah para wanita terlihat begitu antusias, sosok laki-laki yang tinggi dengan wajah datar namun sangat tampan dan berambut merah, serentak membuat para wanita di kelas itu berteriak.

"KYAAAAAAAAA!" dan Sakuya adalah satu-satunya perempuan yang tidak mengeluarkan suaranya.

"Tenang semuanya!" tegur sang guru, "Kalian boleh berenalan lebih lanjut saat jam istirahat."

"Gaara, kalian boleh memanggilku begitu," perkenalan yang begitu singkat. Tanpa mereka semua sadari, kini kedua mata antara Gaara dan Naruto saling bertemu, tidak ada yang mau mengalah satu sama lain, sampai guru memberi tahu di mana Gaara bisa duduk, "Kau bisa duduk di belakang Sakuya."

Gaara mengangguk, begitu melewati Naruto, ada perasaan yang aneh menyelimutinya, entah kenapa Naruto merasa Gaara itu tahu identitasnya. Apalagi senyuman kecil Gaara yang lebih menuju seringai itu. Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia mem-fokuskan pandangannya pada Naruto? Dengan cekatan, Naruto mengetikkan pesan di hpnya, mengirim pada seluruh anggota elite assassin.

"Ada orang yang mencurigakan di kelasku, bertemu sekarang di atap."

"Pak, saya izin ke toilet! Kebelet!" ucap Naruto bergegas keluar kelas.

"Tu-Tunggu! Sakuya juga ikut!"

Dan sang guru hanya bengong melihat Sakuya yang ingin ikut Naruto ke toilet (?). sementara itu, Gaara hanya sedikit menyeringai melihat reaksi Naruto, benar-benar assassin yang handal, bahkan mereka bisa merasakan hawa bahaya sebelum sang pembuat bahaya itu memberi sinyal.

.

.

"Di kelasmu juga adaa?" sentak Shikamaru.

"Ya, laki-laki berambut merah, namanya Gaara," jawab Naruto.

"Di kelas kami juga laki-laki berambut merah," sahut Karin melipat kedua tangannya, "wajahnya lebih terlihat seperti anak-anak, namanya Sasori."

"Shika nii-san, apa mereka yang kau lihat waktu itu?"

"Ya, tidak salah lagi, saat melihat dia, reaksi Ino pun sama sepertiku."

"Kemana Ino sekarang?" tanya Naruto yang akhirnya menyadari ketidak hadirannya Ino.

"Dia… setelah Sasori membisikkan sesuatu padanya, Ino langsung berlari keluar kelas, entah kemana, tapi dilihat dari wajahnya… Ino seperti ingin menangis…" jawab Karin.

"Membisikkan sesuatu?" ucap Naruto bingung.

"Aku juga tidak tahu apa yang dibisikkan olehnya, sepertinya…"

"Itu berkaitan dengan orang yang satu lagi," selak Shikamaru.

Langkah Ino terus berlari, menuju belakang sekolah, mengingat apa yang tadi baru saja dibisikkan oleh Sasori padanya, "Dia menunggumu di belakang sekolah." Lagi pula Ino tidak kenal Sasori, kenapa Sasori bisa mengenali Ino? Dari siapa lagi selain orang yang paling dekat dengannya? Yang saat ini sedang Ino pandang dengan nafas yang ngos-ngosan.

"Hah… hah… hah… kakak…"

Sosok yang hampir mirip seperti Ino itu tersenyum, "apa kabar, adikku tersayang."

"Kakak… kenapa… kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau tidak kembali? Kenapa kemarin seolah kau tidak mengenaliku!" bentak Ino yang kehilangan kendali.

"Itu karena kami membutuhkan Deidara, Ino-chan," jawab seseorang yang kini berada di belakang Ino. Saat Ino menoleh, terlihat sosok laki-laki berambut silver menyentuh pundak mungilnya.

"Jangan sentuh dia, Hidan." Deidara menghampiri Ino dan menarik adiknya ke belakang tubuhnya, "Adikku bukan tipe wanita yang bisa dicumbu seperti pelacur-pelacur di luar sana, tolong hargai dia."

"Oh, begitu… kalau begitu maafkan aku," ucap Hidan dengan sopan.

"Kakak, kau kemana saja!"

"Ino, bahasa jepangmu sudah bagus sekali, siapa yang mengajarkanmu?" tanya Deidara sambil membelai rambut pirang adiknya.

"Aku mengikuti kelas tambahan di sini," jawab Ino pelan, memang semarah apapun Ino terhadap kakaknya, dia pasti lulus kalau Deidara sudah memperlakukannya dengan lembut.

"Dan…" Deidara mencubit pelan pipi Ino, "Apa yang kau lakukan bersama para elite assassin itu?"

Tubuh Ino tersentak ketika mendengar kakaknya mengucapkan kalimat itu, apa lagi kalimat itu mengandung kenyataan bahwa Deidara mengetahui masing-masing identtitas para elite assassin. Ino harus menjawab apa? Haruskah dia mengaku kalau selama ini dirinya tinggal bersama di mansion itu?

"Tidak apa kalau tidak mau menjawab, aku mengerti posisimu," ujar Deidara.

"Kakak… sebenarnya… apa yang kakak lakukan selama ini?" tanya Ino dengan perasaan takut.

"Aku hanya melaksanakan tugasku, ingat aku ini ikut pendidikan kepolisian, Ino," jawab Deidara sambil mengacak-acak rambut Ino.

"Iya aku tahu, tapi kenapa kakak bisa tahu-" tiba-tiba Ino menghentikan ucapannya. Kini dia baru sadar, kenapa kakaknya menghilang, kenapa tiba-tiba banyak murid pindahan di sekolah ini dan kenapa kakaknya ada di sini, "Tujuan kakak…. Elite assassin?"

"Bisa dibilang iya, bisa juga dibilang tidak," jawab Hidan.

"Aku tidak bertanya padamu, mesum!" ketus Ino.

"Apa kau bilang!"

"Mesum! Wajahmu itu sudah terpasang jelas kemesumannya!"

"Berani meledekku, eh? Kau tidak tahu siapa aku?" geram Hidan.

"Hidan hentikan, ingat pesan dia sebelum kita di izinkan untuk masuk sekolah ini," cegah Deidara.

"Dia? Dia siapa? Sebenarnya apa tujuan kalian? Kenapa orang yang bernama Sasori bisa mengenalku?" gertak Ino emosi.

"Ino, aku hanya bisa memberi tahumu petunjuk kecil, kalau masyarakat mempunya elite assassin, maka kepolisian mempunyai white organization (W.O), selanjutnya aku tidak bisa memberi tahumu tujuan kami," jawab Deidara.

"Apa… kalian musuh?" tanya Ino ragu-ragu.

"Lawan atau kawan, itu tergantung siapa target mereka nanti," jawab Deidara sambil tersenyum, "Aku harus masuk kelas, sampai jumpa," dengan kecupan kilat di pipi, Deidara meninggalkan Ino sendiri.

Ino hanya bisa terdiam, sosok kakak yang selama ini dia anggap sudah mati, ternyata masih hidup dan baru saja membelai serta menciumnya. Entah harus bahagia atau merasa khawatir dengan kemunculan sosok kakaknya ini. Di satu sisi Ino merasa sangat bahagia, dia bisa bertemu kakaknya, bahkan ternyata kakaknya itu mengingatnya, walaupun dia tidak tahu alasan Deidara saat pertama kali bertemu dia berlagak seolah tidak mengenal dirinya. Tapi di sisi lain, Ino merasa khawatir, kehadiran kakaknya itu pasti tidak baik untuk elite assassin, apalagi mereka berada di pihak kepolisian. Perasaan dilemma di dalam diri Ino begitu bergejolak, siapa yang harus dia pihak nantinya?

.

.

Saat jam sekolah telah usai, Sakuya membereskan buku-bukunya, sambil mengunyah permen karet yang dari sejak istirahat dia kunyah dengan wajah datar, sesekali melirik ke arah Gaara yang kini sedang dikerumuni para betina. Sakuya menggantungkan tasnya di bahu kanan, menghampiri Gaara dengan kedua lengan yang melipat di dadanya, membuat para wanita yang sedang berisik itu terdiam dan menatap bingung ke arah Sakuya. Sakuya terus menatap intens mata Gaara, dan Gaara pun tidak mau kalah, walaupun Gaara tergolong laki-laki dingin, tapi dia masih ada sopan santun pada wanita, makanya dia tidak mengusir para wanita yang mengerumuninya.

Tapi hal itu tidak berpengaruh bagi Sakuya, saat ini perempuan gesit yang sedang mengunyah permen karet membuat sebuah gelembung balon dari mulutnya. Setelah gelembung balon itu meletus, dikunyah lagi permen karet itu, sambil berucap, "Sakuya tidak suka denganmu, panda-san."

Dengan itu, Sakuya membalikkan tubuhnya dan meninggalkan Gaara yang terbengong-bengong dengan sebutan yang Sakuya berikan padanya. Bukan salah Gaara terdapat lingkaran di bawah matanya akibat kurang tidur dikarenakan selalu begadang di depan layar komputer.

.

.

Malam pun tiba, sesuai dengan janji Karin pada Ino, kini mereka sedang tidur bersama di kamar Karin.

"HAHAHAHA, Sakuya kau memang luar biasa, aku suka dengan sifatmu yang blak-blakan," puji Karin sambil memeluk tubuh mungil Sakuya.

"Habis, Sakuya merasa ada yang di sembunyikan dari wajahnya itu, dia pasti orang jahat! Ingin rasanya mencongkel kedua matanya itu," gerutu Sakuya.

"Ino, ada apa?" tanya Karin yang menyadari Ino yang dari tadi melamun.

"Ah? Tidak ada apa-apa, oh yia… tadi katanya kau mau menceritakan tentang masa lalu kalian, ayo ceritaaaaa," bujuk Ino sekalian mengalihkan pembicaraan.

"Kalau untuk yang lain, aku tidak berani menyebarkannya, lebih baik kau tahu sendiri dari orangnya masing-masing, aku hanya bisa menceritakan bagaimana kita bertemu," jawab Karin.

"Tidak masalah, aku penasaran," utar Ino.

"Sakuya juga penasaran."

"Baiklah, jadi… aku ini adalah orang kedua yang ikut dalam kelompok Sasuke, orang pertama itu adalah Naruto, jadi aku tidak tahu bagaimana kisah Naruto bisa sampai ikut dengan Sasuke dan Sakura," jelas Karin, "Setelah aku ikut, kami bertemu Neji, seperti yang aku ceritakan tadi pagi, kondisinya sangat kusam, wajahnya juga murung, tapi Sakura bisa membuatnya ceria lagi, Sakura memang sangat unik, kalau Shikamaru… kami bertemu dengannya di pinggir rel kereta saat itu kondisi Shikamaru dalam keadaan pingsan… kondisinya lah yang paling mengenaskan, tubuhnya penuh dengan darah… di antara kami semua… mungkin aku dan Shikamaru yang paling memalukan…"

"Shika nii-san? Ada apa dengannya?"

Karin tersenyum, "Aku tidak bisa menceritakannya, itu aib, jadi jangan paksa aku untuk cerita yah."

"Aku mengerti, nah… kalau kamu sendiri?" tanya Ino kembali.

"Kalau aku…" Karin sedikit murung, kemudian wajah murungnya berubah menjadi senyuman lembut, "Sakura lah yang mati-matian untuk menyelamatkanku dari para orang-orang kotor itu."

"Aku ini anak yatim piatu, aku di adopsi oleh keluarga yang bisa dibilang mereka itu mengadopsiku hanya untuk menjadi budak mereka… bahkan aku dijadikan pelampiasan nafsu anak-anak mereka…"

Mendengar kisah Karin, wajah Ino dan Sakuya berubah menjadi shock, "Saat itu, berapa umurmu?" tanya Ino.

"10 tahun," jawab Karin tersenyum pilu.

"Umur yang sangat tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan sex, tapi mereka memaksaku, karena saat itu aku masih terlalu kecil, jadi mereka memaksaku untuk melakukannya dengan mulut, sampai akhirnya aku berontak dan lari ke jalanan, mereka menangkapku. Saat itu aku melihat sosok Sakura yang masih kecil, sama sepertiku, dia sedang membawa beberapa tangkai bunga, entah untuk apa… tanpa ada keraguan… dia terjun menolongku…"

"Tapi saat itu kita masih terlalu kecil, mereka menendang Sakura, sehingga mereka mendapatkanku kembali, dan Sakura lari… aku pikir aku telah ditinggalkan, tapi ternyata Sakura datang kembali kerumah tempat orang mengadopsiku bersama dengan Sasuke dan Nartuto…" Karin mulai tersenyum tulus, "Saat itu Sakura menangis sambil memelukku, Sasuke dan Naruto menghajar anak-anak yang telah melecehkanku. Bahkan… Sakura membersihkan bercakan sperma mereka yang mengenai wajahku saat itu…"

Ino menutup mulutnya, dan kini matanya berkaca-kaca, sedangkan Sakuya kini sudah menangis, merasa sesama perempuan, nasib Karin ternyata lebih buruk dari yang mereka kira. Memang mereka semua mempunyai pengalaman yang berbeda-beda, tapi Ino dan Sakuya tidak menyangka kalau Karin bisa setegar itu.

"Sejak saat itu Sakura memintaku untuk ikut dengan mereka, beberapa bulan kemudian barulah kami bertemu dengan Neji dan Shikamaru. Jarak bergabungnya Neji dan Shikamaru tidak jauh kok, setelah itu barulah kita membentuk nama elite assassin."

"…" kedua perempuan ini terdiam, masih shock dengan apa yang Karin ceritakan, saat itu Sakuya lah yang membuka pembicaraan, "Karin nee-san, tolong ajarkan Sakuya menembak dari jarak jauh, atau jarak dekat juga boleh, Sakuya ingin mahir agar Sakuya bisa melindungi kalian."

Karin tersenyum lembut dan membelai kepala Sakuya yang kini tengah menangis, "Terbalik, kamilah yang harus melindungimu, Sakuya-chan… lagipula nanti akan ada orang khusus yang mengajarimu kok."

"Eh?"

"Kami juga mahir tidak dengan alami loh."

.

.

"Ungh~"

"Sakura… sakit? Mau kuambilkan obat?" tanya Sasuke panik yang mendengar rintihan Sakura.

"Tidak… tidak usah… Sasuke kun… kamu belum tidur yah?" tanya Sakura yang kaget melihat wajah Sasuke yang sangat berantakan, kantung mata yang menghitam juga rambut yang kusam.

"Aku tidak bisa meninggalkanmu."

"Tapi kamu harus tidur, ini sudah hampir menjelang malam lagi… akh!"

"Sakura, jangan banyak bicara, pikirkan saja kondisimu, aku mohon~" melihat Sauske yang terlihat rapuh membuat hati Sakura pilu.

"Setidaknya mandilah, kau bau," ledek Sakura yang mencoba mencairkan suasana.

Sasuke terdiam, wajahnya sedikit bt dengan ucapan Sakura, "Iya aku mandi, aku akan meminta Karin untuk menemanimu."

"Ok."

Sebelum Sasuke meninggalkan kamar, dia mencium kening Sakura, Sakura menatapi punggung Sasuke dengan tatapan miris, kenapa Sasuke selalu menderita kalau itu sudah bersangkutan tentang dirinya? Tapi Sasuke sendiri tidak merasa seperti itu

Sasuke berjalan melewati lorong, saat dia akan mengambil minum terlebih dahulu di dapur, Sasuke melihat sosok Hinata yang sedang berdiri di depan kulkas. Dengan percaya diri yang entah datang dari mana, Hinata menawarkan minuman pada Sasuke, tapi tidak digubris sama sekali, Sasuke malah mengambil botol bening dan langsung meneguknya dari botol itu.

"Dingin sekali, padahal pada Sakura begitu lembut," ujar Hinata, tetap tidak dapat respon dari Sasuke.

"Namaku Hinata, kau Sasuke-kun, kan?"

Saat Hinata menyebut namanya dengan embel-embel 'kun' Sasuke melirik sinis, "Akhirnya kau melihatku," ujar Hinata, "Bagaimana keadaan Sakura? Aku khawatir padanya."

"Dengar," Sasuke meletakkan botol di atas meja dengan tenaga yang sedikit di tekankan, "Malam itu, aku melindungimu karena aku tidak mau Sakura melihat adegan pecahnya kepalamu di hadapannya, intinya… saat itu aku tidak peduli apa yang terjadi padamu."

Mendengar pengakuan tajam dari Sasuke membuat harga diri Hinata sebagai nona muda tercoreng, apalagi Sasuke dengan jelas mengatakan kalau dia tidak peduli, padahal Hinata sedikit berharap Sasuke itu ada sedikit keinginan untuk melindunginya, "Aku ini Nona muda Hinata, jangan bicara sembarangan kau."

"Lalu? Aku bahkan tidak peduli sekalinya pun kau ini anak dewa, sekali saja aku memergokimu berbuat jahat pada Sakura, maka tertundanya kematianmu pada malam itu akan kulakukan dengan caraku sendiri," ancam Sasuke.

Kemudian Sasuke meninggalkan Hinata yang kini sedang menggeram, ini pertama kalinya Hinata di tolak mentah-mentah, sebenarnya Hinata juga tidak terlalu suka pada Sasuke, dia hanya tertarik karena ketampanan Sasuke yang di capnya sebagai orang yang pantas untuk dirinya. Cantik dan tampan. Tapi kenapa Hinata bisa kalah pada Sakura? Yang menurut Hinata, penampilan Sakura itu sedikit kampungan dengan wajah pas-pasan.

"Kalau kau berniat menghancurkan hubungan mereka, akan ada enam orang yang pasti menghabisimu," sambung Neji yang dari tadi ternyata melihat kejadian itu.

"Kalau aku minta kau membantuku? Nanti harta bagianmu akan aku suruh ayah kembalikan padamu, dan kau bisa kembali dengan bangga menyandang nama Hyuuga" usul Hinata.

"Hmpff, kalau menyandang nama Hyuuga adalah dengan melakukan cara seperti itu, aku lebih baik mati sebagai elite assassin yang kubanggakan," tolak Neji secara halus yang sudah tahu bahwa Hinata mengetahui identitas mereka.

"Dari mana kau tahu kalau aku sudah tahu tentang kalian?" tanya Hinata sinis.

"Kami tidak bodoh, diantara kami semua, mungkin yang paling bodoh adalah Sakura, dengan mengizinkanmu tinggal di sini, Sasuke tidak sebodoh itu, Hinata… dia pasti punya rencana lain," kata Neji dengan serius.

"Kenapa kau yakin sekali kalau aku akan jahat pada Sakura? Aku bahkan tidak mengenalnya."

"Kau… sudah mulai menyukai Sasuke, dan kau adalah tipe nona muda yang keinginannya harus tercapai, apa dengan kataktermu yang seperti itu kurang untuk menganalisa apa yang akan terjadi selanjutnya?"

"Kau, berhadapan dengan orang yang salah, Neji nii-san."

"Jangan panggil aku seperti itu, membuatku muak," desis Neji sambil berjalan meninggalkan Hinata.

Hinata hanya tersenyum licik ketika Neji meninggalkannya,"Tebakanmu setengah itu benar," gumam Hinata pelan, sambil meraih botol bening yang Sasuke letakkan tadi kemudian di tempelkan pada mulutnya sendiri sehingga terjadi ciuman secara tidak langsung, "Tapi ada bagian yang salah tentang tujuanku."

.

.

"Apa kalian tahu di mana mereka tinggal sekarang?"

"Belum, maaf, aku akan melakukan semuanya pelan-pelan, Ino pasti mau memberi tahuku."

"Jangan naïve Deidara, jangan kau pikir status saudara yang kalian sandang dapat mempermudah mengambil informasi, aku yakin Ino tidak bodoh," sahut Hidan.

"Aku tahu, tapi kita harus melakukannya pelan-pelan, ini semua juga demi tujuanmu kan, Itachi," ucap Deidara.

Sosok yang di panggil Itachi itu hanya terdiam, sambil sesekali membuka liontin yang berisikan foto tiga sosok anak kecil, "Gaara, Sasori… untuk mereka kuserahkan padamu."

"Baik."

"Ah, hati-hati dengan anak yang bernama Sakuya," Itachi memperingatkan, "Diantara semuanya, dialah yang paling gesit."

Kemudian Itachi berdiri dan meninggalkan teman-temannya, sambil memasuki ruangannya, Itachi kembali menatap isi liontin tersebut, dengan tatapan pilu, Itachi menggenggam liontin dan menempelkannya di kening, "Maafkan aku."


A/N : oyeeey oyeeeey, W.O udah muncuuul, lalalalaa, adegan SasuSakunya sedikit yah, bukan porsiku lagi siih :p, aku kebagian untuk adegan Ino :D

Nah ada yang mau di tanya? Pasti ada -_- hahahahaa, ayo silahkan….

Tentang bualannya si Raffa, jangan di denger yaaah, dia lagi stress dan obat rabiesnya abis, jadi emang selalu error…

Untuk chapter ini ada masalah kah? Aku tunggu komplenan kalian XD

MAU CURHAT DULU!

ini aku udah aku update kemarin siang looh, tapi ga bisa dibuka, padahal pas aku cek di database FFN masuk kok chp 8 ini T_T nge bt-in bgt sumpah!

sekian.

V3Yagami