.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
Beberapa hari setelah perginya Sakura dari mansion, kondisi Sasuke saat ini sangat labil, sehingga tidak ada satu-pun yang berani memasuki kamarnya, kecuali Karin dan Naruto. Saat ini Sasuke sedang terbaring sambil menutup matanya memakai lengannya. Sesekali berusaha mengingat sebenarnya apa yang telah dia lakukan sehingga Sakura pergi dari sisinya, meninggalkannya, mengingkari janji yang katanya akan terus selalu berada di sisinya. Sekilas teringat ucapan Hinata yang mengatakan kalau Sakura jenuh tinggal di sini. Mungkin ada benarnya juga. Atau seharusnya Sasuke mengikut sertakan Sakura kedalam misi? Tapi laki-laki bermata onyx ini tidak berani mengambil resiko yang besar kalau mengikut sertakan Sakura.
"Sasuke," Karin membuka pintu, dan Sasuke mengangkat lengannya, bangkit dari baringnya, "Sudah waktunya," lanjut Karin.
Sasuke bangkit mengikuti langkah Karin. Saat ini dia hanya berharap setelah mengacaukan pawai yang akan di selenggarakan siang ini, Sasuke bisa menemukan Sakura. Tidak ada satu-pun yang tahu tentang rencana Karin dan Sasuke. Padahal keputusan untuk membunuh Takeshi itu adalah keputusan yang sangat salah.
.
.
Ino masih terus berada di kamar Shikamaru, meskipun kondisi Shikamaru saat ini bisa dibilang sudah jauh lebih baik. Tapi gadis itu tetap memperlakukan Shikamaru selayaknya orang sakit.
"Ino, aku sudah bilang bisa makan sendiri. Kau kembali ke kamarmu sana," ujar Shikamaru.
"No, bagaimana kalau nanti lukamu terbuka lagi?"
"Kau sudah tiga hari tidur disini dengan pola yang berantakan. Istirahat sana. Kalau wajahmu sudah segar baru kesini lagi."
Ino hanya merengut. Dengan ekspresi yang jengkel, Ino berdiri dan akan meninggalkan Shikamaru. Tapi saat Ino melangkah, Shikamaru menarik lengan Ino sehingga tubuh gadis itu kini berada di atas tubuh Shikamaru. Kini Shikamaru tengah mengecup bibir Ino. Membuat yang dicium kini hanya bisa bengong.
"Kalau kesini lagi, aku ingin sup hangat buatanmu," gumam Shikamaru dengan bibir yang masih menempel di bibir Ino.
Ino melepaskan genggaman tangan Shikamaru dan mengangguk, sedangkan Shikamaru sendiri hanya tersenyum lembut melihat reaksi Ino yang kini wajahnya memerah.
Ketika Ino sampai di kamarnya…
BRUUK!
Ino merasa tubuhnya melayang dan kini mendarat di atas kasurnya dengan posisi tertimpah tubuh seseorang yang kini sedang menciumnya dengan paksa. Ino berusaha memberontak, namun tenaganya tidak cukup untuk melawan laki-laki yang kini semakin berani untuk mencoba memasukan tangannya ke dalam baju Ino.
"Mmmppphh!"
Dengan sekuat tenaga Ino mendorong tubuh diatasnya sampai akhirnya laki-laki itu melepaskan ciumannya dan kini menghisap leher Ino. Meninggalkan jejak merah di leher putih gadis yang kini gemetar. "Aku tidak akan menyerahkanmu pada Shikamaru. Tidak akan pernah!" geram laki-laki yang memiliki rambut panjang.
"Ne-Neji lepaskan aku! Aku mohon~ ada apa denganmu!" sentak Ino.
"Aku tahu kau tidak bodoh. Kau tahu aku menyukaimu… kami menyukaimu. Tapi kenapa kau tidak bisa memperlakukanku seperti kau memperlakukan Shikamaru?"
"Aku mencintainya! Bukan kau!" bentak Ino.
"Berhenti! Sebelum kau tersiksa," bisik Neji pelan sambil meremas pelan rambut Ino.
"Apa maksudmu? Jelaskan dan menyingkir dari atas tubuhku!" pinta Ino.
Neji menyingkir, namun tangannya masih bergerak menuju leher yang tadi di hisapnya sampai membekas, "Sebesar apapun cintamu dan Shikamaru, kalian tidak akan bisa bersatu."
Sebelum Ino mengucapkan sesuatu, Neji kembali berkata, "Bersatu mungkin, tapi jangan harap kau bisa bercinta dengannya."
"Aku… tidak mengharapkan bercinta," ucap Ino sambil tidak memandang Neji.
"Benarkah? Lalu…" Neji mengarahkan telunjuknya pada dada Ino dan melanjutkan, "Kenapa tubuhmu bereaksi pada tindakanku?"
SLAAP!
Keadaan sunyi saat Ino menampar wajah Neji. "Aku tidak akan memberi tahu siapa-siapa tentang hal ini. Sekarang aku minta kau pergi."
Namun bukannya pergi, Neji malah makin menjadi. Dia mendorong tubuh Ino dan mengunci tangan Ino keatas. Entah apa yang terjadi dengan Neji. Sejak melihat kedekatan Shikamaru dan Ino yang tidak wajar, pikiran Neji menjadi kacau. Baru kali ini Neji merasakan hal yang aneh seperti ini. Perasaan tidak ingin gadis ini di sentuh oleh laki-laki lain selain dirinya.
"Neji! Lepaskan ak- emmhhpphhh!"
Neji mengunci mulut Ino dengan menciumnya. Rontaan Ino tidak cukup tenaga untuk mendorong tubuh Neji yang kini makin mengimpitnya. Saat dia merasakan tangan Neji memasuki rok-nya, Ino menutup rapat-rapat kedua pahanya dan menggelengkan kepalanya sehingga ciuman itu terlepas.
"TIDAAAAAAK! NEJI LEPASKAN AKUUU!"
Greb!
BRAAK!
Begitu mendengar ada suara benda yang menabrak meja, Ino membuka matanya dan terlihat Shikamaru tengah memukuli Neji tiada henti. Dengan kemeja Ino yang sudah terbuka, gadis itu melompat dan menahan lengan Shikamaru agar berhenti memukuli Neji.
"Shikamaru hentikan! Hentikan aku mohon!"
"Kenapa kau memaksanya! Bajingan!" teriak Shikamaru seolah tidak mendengarkan permohonan Ino yang kini berusaha menahan Shikamaru untuk tidak meluncurkan pukulannya lagi ke wajah Neji.
"Muak!" geram Neji yang berhasil menahan tinju Shikamaru, "Aku sudah muak dengan semuanya! Sejak kepergian Sakura semua bertingkah sesuka hati masing-masing."
Tanpa mereka sadari dari tadi Sakuya melihat semua kejadian itu di balik pintu luar sambil menggenggam PSP-nya. Sakuya terlihat murung dan menahan air matanya agar tidak turun. Kemana suasana kekeluargaan yang Sakuya kagumi selama ini? Kenapa bisa hilang begitu saja? Sejak kemunculan wanita yang menurut Sakuya adalah iblis.
Neji melepaskan genggamannya pada tinju Shikamaru dan meninggalkan laki-laki yang lukanya baru saja sembuh berdua dengan Ino. Saat Neji hilang, Shikamaru menghadap Ino dan menutup pelan kemeja Ino yang terlepas, "Kau tidak apa-apa?"
Ino menggelengkan kepalanya dan akhirnya menangis. Melihat Ino yang menangis, Shikamaru memeluknya. "Semua akan baik-baik saja. Aku akan bicara dengannya nanti," bisik Shikamaru.
Namun bukan itu yang sebenarnya ada di pikiran Ino. Perkataan Neji-lah yang membuatnya bingung. Apa maksud Neji bahwa 'Shikamaru tidak akan bisa bercinta dengannya'? Tapi yang paling membuat Ino kepikira adalah perkataan Neji yang membenarkan bahwa sejak Sakura hilang semua bertindak semaunya. Mulai dari Sasuke yang selalu marah-marah, Karin yang mogok bicara, Naruto yang sering pergi tanpa ada yang tahu kemana dia sebenarnya, sampai Sakuya yang mengurung diri di kamarnya.
.
.
Tidak ada komunikasi yang berjalan sewajarnya seperti dulu di mansion ini. Sedangkan Hinata, dialah satu-satunya yang sering mondar-mandir di mansion ini.
Naruto sebenarnya tahu apa yang terjadi di kamar Ino tadi. Dia memutuskan untuk tidak ikut campur karena Naruto tidak bodoh. Itu adalah urusan pribadi mereka masing-masing.
Satu hal yang kini bisa Naruto lakukan adalah…
"Hai," sapa Naruto pada Hinata yang sedang duduk di ruang TV, "Kau hebat, ku akui itu."
"Maksud dari kata-katamu?" tanya Hinata dengan nada bosan.
"Kau berhasil membuat hubungan kami semua hancur. Selamat, kau menang," sindir Naruto. "Tapi, walaupun kau menghancurkan hubungan kami, kau tidak akan bisa mendapatkan Sasuke, sampai kapanpun."
Sehabis mengatakan hal itu, Naruto kembali ke ruangannya. Hinata kini hanya bisa diam dan merengut. Ucapan Naruto tadi membuat hatinya sakit, karena tidak ada yang tidak bisa dia dapatkan di dunia ini.
.
.
Sakuya melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar Neji. Pelan-pelan dia mengetuk dan membuka pintu itu, "Neji nii-san?" panggil Sakuya pelan.
Tidak ada yang menjawab, namun Sakuya tetap memasuki kamar itu. Terlihat Neji sedang duduk di atas kasur dengan wajah yang dia masukkan kedalam kedua lengannya yang disangga oleh lutut.
"Neji nii-san, boleh Sakuya duduk di kasur nii-san?" izin Sakuya dengan nada pelan dan lembut.
Neji tidak menjawab dan Sakuya melakukan apa yang tadi dia pinta. Saat dirinya sudah berada di tempat yang sama oleh Neji, Sakuya memeluk Neji pelan, "Sakuya sayang Neji nii-san, Shika nii-san, Ino nee-sama, dan semua yang ada di mansion ini. Sakuya tidak mau melihat kalian saling bertengkar dan saling membenci. Sakuya… sangat mencintai kalian."
Neji akhirnya mengangkat kepalanya dan memeluk balik tubuh Sakuya, "Aku tidak apa-apa. Kau tidak usah khawatir. Aku hanya pusing karena berbagai macam hal."
"Contohnya?"
Neji menatap wajah Sakuya, "Kau tahu, Sakuya… kau sudah seperti adikku sendiri. Adik yang selama ini… entahlah…"
"Apa tentang alasan kenapa Hinata ada di sini?" tebak Sakuya.
"Macam-macam," jawab Neji sambil menepuk kepala Sakuya. Sakuya tersenyum dan menyeka sisa darah yang keluar dari bibir Neji akibat pukulan Shikamaru tadi, "Mau dengarkan keluh kesah kakakmu ini?"
"Dengan senang hati," jawab Sakuya riang.
"Dulu, sebenarnya aku sedikit akrab dengan Hinata, sebelum keluarga Hyuuga membuangku. Memang sih dia anak yang sangat manja, dan sifat menyebalkannya itu akibat dari keluarga besar kami yang memperlakukannya seperti tuan putri," Neji mulai bercerita.
"Yang benar-benar membuatku bingung, kenapa dia bisa berada di sini, apa tujuannya dan… kenapa tidak ada satupun pihak keluarga Hyuuga yang mencarinya," lanjut Neji.
"Ya, itu sangat mencurigakan. Apalagi Neji nii-san bilang dia itu anak yang sangat di manja," sahut Sakuya.
Neji tersenyum pada Sakuya yang berkomentar dengan wajah sok dewasa, "Jujur aku… merasa tidak enak dengan Sasuke, gara-gara Hinata yang adalah saudaraku, dan juga penyebab perginya Sakura dari mansion ini. Selain itu…" Neji menghentikan kalimatnya dan pandangannya kini berubah menjadi sayu.
"Ino nee-sama?" tebak Sakuya, Neji tidak mengangguk juga tidak menggeleng.
"Aku menyukainya, mengaguminya, dan aku… ingin memilikinya. Tapi semua tidak berjalan sesuai keinginanku. Aku merasa iri dengan Sasuke dan Sakura yang selalu terlihat begitu saling mencintai. Begitu aku menemukan gadis yang menurutku tepat, dia malah memilih laki-laki lain. Terlebih yang dia pilih adalah sahabatku sendiri…"
"…" Sakuya dengan pengalaman cinta yang nol besar hanya bisa menatap Neji dengan tatapan prihatin. Dia hanya bisa menggenggam tangan Neji, "Neji nii-san itu orang yang baik, Sakuya yakin suatu saat nanti Neji nii-san akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari Ino nee-sama."
Neji tersenyum lembut dan mengacak-acak rambut Sakuya, "Terima kasih. Perasaanku jadi lebih baik dari yang tadi."
"Hehehe. Nah sekarang…" Sakuya menunjukkan PSP pada Neji, "Mau coba main?"
"Boleh."
.
.
"Sakura, sudah siap?"
Sakura yang kini sedang berdiri di depan cermin memakai jubah putih dengan ukuran yang sangat pas di tubuhnya, menoleh pada suara yang memanggilnya.
"Aku siap, Itachi-nii."
"Karena hari ini adalah hari pawai kenaikan jabatan Takeshi Makimura, kita harus pastikan nyawa orang itu selamat. Sehabis pawai… itu terserah kalian akan membunuhnya atau tidak," ucap Itachi pada semua yang berkumpul di ruangannya.
"Bagaimana kalau dia tidak menjawabnya juga?" tanya Sasori.
"Kita buat dia bicara," jawab Gaara.
"Ehm, apa benar, dia tahu siapa dan dimana pelaku pembunuhan orang tua kami dulu berada?" tanya Sakura pada Deidara yang kini berdiri di sampingnya.
"Sangat tahu, karena dia salah satu anggota kelompok orang itu," jawab Deidara, "Dan ngomong-ngomong, kau cocok sekali memakai jubah ini."
"Ah, terima kasih," ucap Sakura grogi.
"Ayo berangkat," ujar Itachi sambil berdiri dan menggandeng Sakura agar menjauh dari Deidara.
Deidara tersenyum usil di belakang Itachi. "Jangan macam-macam kalau kau masih ingin hidup, Dei," tegur Hidan.
"Hahaha. Habis mereka itu adik kakak yang unik. Kenapa bisa jatuh cinta pada orang yang sama sih."
"Hanya mereka yang tahu alasannya. Kau yang tidak pernah merasakan perasaan itu mana mungkin mengerti," ejek Hidan.
"Eh? Jadi kau pernah merasakannya?" tanya Deidara.
Hidan tidak menjawab namun wajahnya memerah, membuat Deidara yang tadinya cuek menjadi tersentak melihat reaksi Hidan yang di luar dugaan, "Jadi kau sedang mengalaminya? Dengan siapa?"
"Tidak akan kuberi tahu. Sudahlah sekarang kau fokus saja pada misi ini dan jangan banyak tanya!"
"Cih, pelit!"
.
.
"Sakura," panggil Itachi dengan nada serius, tidak lagi memanggil dengan panggilan Cherry. Karena selama tiga hari dia melatih Sakura, memanggilnya dengan panggilan Cherry hanya membuat Itachi menjadi lembek terhadap wanita itu, "Ini yang pertama untukmu. Kau baru saja tahu cara menembak, jangan gegabah."
"Baik, Itachi-nii."'
.
.
Dari awal perayaan pawai, Sasuke dan Karin sudah dalam posisi masing-masing. Karena kendaraan pawai berjalan dari arah selatan ke utara, maka Karin kini berdiri di menara utara, sedangkan Sasuke akan bergantian pindah satu lokasi ke lokasi lain agar bisa dengan tepat mengukur jauhnya kendaraan pawai dengan posisi Karin.
Terlihat Takeshi melambaikan tangannya pada masyarakat sekitar dengan senyum yang membuat Sasuke muak. Seluruh lokasi telah Sasuke teliti, namun ada satu yang meleset dari pandangan Sasuke, yaitu kehadiran dari White Organization. Juga kehadiran dari wanita yang dicintainya, serta kakak yang selama ini dia pikir sudah tidak ada.
Mobil pawai terus berjalan, hingga saat mobil itu melewati menara yang sudah Sasuke tandai sebagai patokan Karin agar dia bisa menembak. Sasuke memberi kode pada Karin melalui wireless, "Tembak dia."
Karin dengan sosok pakaian serba hitamnya yang ketat dan kupluk hitam mulai membidik senapannya. Ketika sudah yakin tepat tembakannya akan mengenai kepala Takeshi, Karin menarik pelatiknya.
Zlep!
Satu peluru tepat mengenai kepala Takeshi di depan masyarakat. Mendengar seluruh masyarakat menjerit, Karin bergegas menundukkan tubuhnya namun sedikit menaikan kepalanya dan memantau memakai teropong. Saat dia meneropong apa yang terjadi, tatapan Karin membulat lebar, ada satu sosok yang benar-benar sangat Karin kenal di antara kerumunan orang-orang itu.
"Sakura?" gumam Karin dengan nada tidak percaya, dan gumaman Karin berhasil Sasuke dengar.
"Apa kau bilang?" tanya Sasuke melalui wireless yang mereka gunakan.
"Sasuke, pakai teropongmu, dan lihat ke arah jarum jam angka 10," ucap Karin dengan tatapan yang masih fokus pada sosok wanita berambut soft pink yang kini terlihat panik yang sedang di temani oleh sosok pemuda berambut pirang.
Sasuke melakukan apa yang Karin perintahkan. Begitu Sasuke melihatnya, tubuh Sasuke terasa kaku. Melihat wanita yang dicintainya itu pergi dari mansion, dan saat ini sedang berada di luar bersama pria lain apalagi mereka mengenakan pakaian yang sama. Dan saat Sasuke memperhatikan kemana Sakura melangkah, satu sosok lagi berhasil membuat Sasuke tersentak.
"Ini tidak mungkin," gumam Sasuke.
"Sasuke,ada apa?" tanya Karin.
"Aku akan menghampirinya," jawab Sasuke dengan nada yang terdengar marah.
"Sasuke kau gila! Kita baru saja membunuh Takeshi dan sekarang kau akan menampakkan diri?"
"Tidak ada yang tahu kalau kita yang membunuhnya! Sekarang aku harus menemui Sakura. Ada yang harus kutanyakan!"
Sasuke menuruni menara tempat dia berada sekarang, di ikuti oleh Karin yang sedang berada di menara utara. Begitu sampai di bawah, Karin bergegas mencari sosok Sasuke diantara kerumunan banyak orang. Karin sudah memakai kembali mantel bulunya sehingga pakaian assassin-nya tidak terlihat. Senapannya juga sudah ia sembunyikan di bagasi mobil sebelum mencari Sasuke.
Karin melihat sosok Sasuke sedang berlari ke arah gedung dimana tadi mereka melihat sosok Sakura berada. Tanpa berpikir panjang, Karin mengikuti Sasuke yang berwajah panik, "Ada apa sebenarnya dengan Sasuke itu?" tanya Karin pada dirinya sendiri.
Saat Karin berhasil menggapai Sasuke, "Sasuke! Ada apa sebenarnya?" tanya Karin dengan nafas yang tersengal-sengal.
Karin tidak terlalu memperhatikan dengan apa yang Sasuke lihat sekarang. Saat Karin menelusuri apa yang Sasuke lihat, sosok Sakura, laki-laki berambut pirang tadi dan satu sosok yang mirip Sasuke sedang menatap balik Sasuke yang kini seperti melihat hantu.
"Nii-san?" tanya Sasuke.
"Sakura?" tanya Karin.
Sakura hanya bisa diam dipergoki oleh mereka, "Sa-Sasuke kun, Karin… sedang apa kalian di…"
"Kau yang membunuh Takeshi?" tanya Itachi dengan nada dingin menunjuk pada Sasuke.
"Bukan dia, tapi aku," bela Karin.
"Apa kalian sadar apa yang kalian lakukan?" sambung suara laki-laki berambut silver dari belakang Sasuke dan Karin.
"Kami hanya menyelsaikan permintaan client, tidak lebih," jawab Sasuke dengan tatapan mata menuju Sakura, tatapan amarah pada wanita yang kini hanya terdiam.
"Apa kau tahu, dengan kalian membunuh Takeshi, kalian menghilangkan kesempatan emas kita semua! Kita tidak tahu lagi dimana harus mendapatkan informasi tentang keberadaan orang itu! Orang yang telah membunuh orang tua kita!" bentak Itachi, mencengkram kerah Sasuke.
"Maksudmu?" tanya Sasuke bingung.
"Takeshi Makimura, dia tahu dimana dan siapa orang yang membunuh orang tua kalian dulu," jawab Deidara.
Tatapan Sasuke berubah, antara kaget dan kecewa. Kini tatapannya kembali pada Sakura, "Apa kau juga mengetahui hal ini?" tanya Sasuke pada Sakura.
Sakura hanya diam, tidak berani menatap Sasuke lebih lama lagi.
"Bagaimana bisa kau tidak memberi tahuku kalau Itachi nii-san masih hidup?"
Pertanyaan yang tadi belum di jawab, Sasuke sudah melontarkan pertanyaan lain.
"Kenapa kau tidak kembali pada…ku, dan kenapa kau bergabung dengan mereka?"
"Sasuke kun… aku-"
"Kau tahu semua info ini… dan tidak memberi tahuku?"
"Aku tidak bermaksud menyembunyikannya padamu. Aku hanya ingin terlihat lebih berguna bagi kal-"
"Kau meninggalkan mansion hanya karena itu? Obsesi ingin menjadi kuat?"
"Sasuke kun, kumohon dengarkan aku, aku-"
"Apa ada elite assassin yang tahu tentang keberadaanmu?"
Sakura tidak berani menjawab, namun tatapan Sakura sudah lebih dari cukup bagi Sasuke.
"Ah, Naruto ya," tebak Sasuke dan itu membuat Sakura panik, "Baiklah, kalau begitu… selamat Sakura, lakukan sesukamu."
Sasuke membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan W.O dan Sakura, "Sasuke-kun tunggu~"
Karin memajukan langkahnya dan mencegah Sakura untuk mengejar Sasuke. Dengan tatapan sendu Karin berucap, "Kami kecewa padamu. Ini bukan Sakura yang kukenal. Sakura yang kukenal adalah Sakura yang menurut pada Sasuke, mementingkan kebersamaan elite assassin apapun yang terjadi, karena berkat kau lah, kita bisa berada di mansion itu. Kau yang seperti itulah yang kami cintai."
"Karin… aku mempunyai alasan sendiri, aku-"
"Sasuke benar. Mulai sekarang lakukanlah sesukamu," potong Karin dan pergi mengikuti jejak Sasuke.
Sakura mulai menangis, mulai berpikir tentang keputusannya untuk berlatih dengan Itachi adalah hal yang salah. Padahal Sakura hanya ingin menjadi kuat sebelum kembali lagi ke mansion. Sakura ingin menunjukkan pada Sasuke kalau dirinya tidak lemah dan bisa diandalkan. Sakura juga tidak bermaksud menyembunyikan tentang Itachi dari Sasuke. Sakura berencana ingin membawa Itachi ke mansion kalau dia sudah menjadi kuat untuk bertemu dengan Sasuke. Tapi semua rencananya gagal total.
.
.
BRAAK!
Sasuke menggebrak pintu kamar Naruto dan menghampiri Naruto yang sedang bermain dengan laptopnya,"Loh, ada apa te-"
BUG!
Pukulan keras mendarat di wajah Naruto.
"Apa maksudmu menyembunyikan keberadaan Sakura dariku? Aku tahu kau menyukainya, apa kau berniat memanfaatkan situasi ini, hah!"
"Apa-apaan kau!" dorong Naruto, "Apa kau sadar kenapa Sakura-chan bisa pergi dari mansion ini, hah! Itu semua karena keegoisanmu!"
"Kita semua tahu alasanku mengurungnya di sini! Apa kau setolol itu sampai melupakan alasanku! Hah!" bentak Sasuke.
"Kami bertemu dengan Sakura tadi," sambung Karin yang berdiri di pintu kamar yang terbuka, "Dia memang tidak mengatakan kalau kau tahu tentang dimana keberadaan dirinya, tapi Sasuke… tanpa Sakura jawab, Sasuke bisa membacanya dari pancaran mata Sakura."
Naruto sedikit tenang ketika mendengar penjelasan Karin, "Sasuke… maafkan aku," ucap Naruto pelan, "Aku tidak bermaksud merahasiakan ini semua darimu."
"Dan kau tidak memberi tahuku tentang keberadaan Itachi!"
"Bagaimana aku bisa memberi tahumu kalau setiap aku masuk ke kamarmu, kau selalu murung dan memasang aura yang tidak enak!"
"Persetan dengan jawabanmu! Apa kau tahu! Aku merasa telah di khianati oleh banyak orang di mansion ini. Pertama oleh Sakura, mantan wanita yang kucintai. Kedua kau, mantan sahabatku. Dan ketiga, Itachi! Mantan kakakku!" bentak Sasuke sambil mendorong tubuh Naruto dan berjalan meninggalkan kamar itu.
"Mantan?" gumam Naruto, "Sasuke apa-apaan kau!" Naruto mengejar Sasuke dan menarik lengannya, "Apa maksudmu dengan kata mantan itu?"
"Sudah jelas. Aku sudah tidak peduli dengan ini semua. Aku berhenti!" jawab Sasuke dengan nada dingin.
Mendengar jawaban Sasuke, mata Naruto terbelalak,"Kau bercanda," gumam Naruto.
Sasuke tidak menanggapinya, ditepis tangan Naruto dan Sasuke kembali berjalan menujur kamarnya. Sesampainya di kamar, Sasuke membanting pintu dengan sangat keras. Bersender dan berlahan tubuhnya terjatuh di lantai. Kedua tangannya meremas rambutnya sendiri, masih mengingat ekspresi Sakura tadi yang antara kaget dan juga panik. Kenapa Sakura bisa berada di sana, dan kenapa Itachi masih hidup setelah sekian lama dirinya hilang?
Sasuke beranjak dan membaringkan tubuhnya di atas kasur, dia lelah memikirkan semua itu, yang dia ingin hanya satu yaitu menutup mata dan berharap semua ini hanya mimpi. Tapi suara ketukan mengganggunya.
Karena masih dalam keadaan emosi Sasuke tidak menyuruh orang di luar sana itu masuk. Tapi dengan sendirinya pintu itu terbuka, dan masuklah sosok Hinata.
"Sasuke-kun…" Panggil Hinata lembut sambil menghampiri tubuh Sasuke yang sedang terbaring, "Ada apa denganmu?"
Sasuke tidak menjawab, melirikpun tidak. Wajahnya kini terlihat sangat dingin dan datar, tapi Hinata tidak menyerah. anita itu menjulurkan tangannya dan membelai rambut Sasuke, "Apa aku tidak bisa membantumu?"
Tidak ada respon dari Sasuke. Merasa Sasuke sepertinya baik-baik saja dengan perlakuan lembut Hinata, gadis itu kini makin berani, didekatkan wajah Hinata pada wajah Sasuke, "Aku akan membantumu melupakan Sakura."
Klik.
Gerakan Hinata terhenti, karena saat ini Sasuke sedang menodongkan pistolnya pada kepala gadis berambut panjang itu, "Bergerak lebih dekat lagi, aku tidak akan segan menembakmu," ucap Sasuke dingin.
"Kenapa?" gumam Hinata, "Bukankah Sakura sudah mengkhianatimu? Apa kau tidak bisa menerima kehadiran wanita lain yang benar-benar peduli padamu?"
Sasuke tidak menjawab, dia merubah posisinya menjadi duduk dan membelakangi Hinata. Tanpa diduga, Hinata memeluk tubuh Sasuke dari belakang membuat Sasuke kaget atas tindakan gadis itu, "Aku akan berubah," ucap Hinata, "Aku akan tersenyum seperti Sakura, aku akan bersikap seperti Sakura, aku akan mengubah warna rambutku menjadi seperti Sakura untukmu."
Sasuke melepaskan pelukan Hinata dan beranjak dari duduknya, dengan ekspresi dingin dan sinis, Sasuke menjawab, "Tapi kau bukan Sakura dan sekarang cepat pergi dari sini sebelum aku benar-benar marah."
Hinata menggertakan giginya dan berbalik, berlari meninggalkan kamar Sasuke. Sementara Sasuke masih berdiri dan berjalan ke arah meja belajarnya dan memandang bingkai foto Sakura dan dirinya saat salju turun. Mereka berdua terlihat sangat bahagia di foto itu, tapi mengingat hal tadi emosi Sasuke kembali naik dan dia menutup bingkai itu, "Pembohong," gumam Sasuke dengan nada pilu.
.
.
Suara denting piano terdengar dari ruang utama mansion itu, alunan musik yang sangat merdua namun mengandung arti kesepian dan kesedihan. Suara piano itu terdengar sampai seluruh tiap-tiap ruangan yang ada di dalam mansion tersebut. Sakuya lah yang sedang memainkan piano itu. Dengan wajah sendu Sakuya terus menekan tuts grand piano. Membuat Karin yang kini berada di dalam ruangan Naruto mengeluarkan air matanya.
"Aku tidak menyangka Sakura bisa melakukan ini semua pada kita," ucap Karin sambil menghapus air matanya.
"Percaya padaku, Sakura-chan pasti mempunyai alasan sendiri," jawab Naruto.
"Dan kau, kenapa tidak memberi tahu kami, Naruto? Setidaknya kau beri tahu Sasuke kalau Sakura baik-baik saja dan aman bersama mereka."
"Ini permintaan Sakura-chan. Aku menemukannya juga sangat kebetulan."
Air mata Karin tidak kunjung berhenti, membuat Naruto yang tadi diam kini bergerak dan menghapus air mata itu, "Aku tahu, diantara kami semua, kau lah yang paling peduli pada Sakura. Maafkan aku karena sudah menyembunyikannya darimu."
Namun tangisan Karin tidak berhenti, di tambah alunan musik yang Sakuya ciptakan sangat mendukung perasaan masing-masing orang yang kini berada di mansion itu. Melihat Karin yang menangis semakin menjadi-jadi, Naruto memeluk Karin.
"Hiks…Naruto~ kau… kau tahu kan~ aku… hiks… sangat menyayangi Sakura~"
"Iya, aku tahu," jawab Naruto sambil membelai rambut Karin.
"Aku bahkan selalu menahan perasaanku sendiri~ aku tahu kau menyukai Sakura~ tapi aku tidak akan rela kalau Sakura tidak dengan Sasuke… hiks…"
"Dan, kau tahu betapa menyesalnya aku dilahirkan sebagai perempuan~ hiks… andai saja aku laki-laki… walaupun 1%, setidaknya kesempatanku untuk memliki Sakura itu memungkinkan~"
Naruto tertegun mendengar ucapan Karin barusan. Itu ucapan dari hatinya atau memang Karin sedang kacau pikirannya saat ini? Namun Karin melanjutkan ucapannya yang membuat Naruto penasaran. Ada apa dengan Karin?
"Berkali-kali aku menahan agar tidak menyerang Sakura saat dia tidur ketika Sasuke memintaku menjaganya saat kalian pergi misi~ hiks…tapi… kenapa sekarang dia jadi begini? Hiks… kemana… Sakura yang dulu~"
Naruto melepas pelukannya dan mendongakan kepala Karin, dengan tatapan bingung, Naruto bertanya sedikit ragu, "Kau… menyukai Sakura?"
Dengan tangisan yang makin menjadi-jadi, Karin menjawab "Iyaaaa~ huhuhuuu… aku sangat mencintainya, Naruto~ huaahaaaaa!"
Karin kembali memeluk Naruto, sedangkan Naruto hanya tertegun mendengar pengakuan Karin yang sangat diluar dugaannya itu.
.
.
"Sudah tidak apa-apa?" tanya Shikamaru pada Ino yang kini tengah berbaring di kasurnya.
"Ng, sudah tidak apa-apa. Tadi aku gemetar hanya karena masih sedikit takut saja," jawab Ino lembut.
"Aku akan bicara baik-baik dengannya," ucap Shikamaru.
"Jangan ada kekerasan lagi, aku mohon," pinta Ino.
Shikamaru tersenyum lembut dan mengelus kepala Ino,"Tenang saja."
Mendapat perlakuan lembut dari Shikamaru yang sangat tiba-tiba ini membuat Ino ingin bertanya pada laki-laki yang kini duduk di kasurnya itu. Sebenarnya apa hubungan mereka saat ini? Bisakah Ino menganggap mereka sepasang kekasih? Atau…
"Shikamaru," panggil Ino pelan, Shikamaru menoleh seolah menggantikan sahutannya yang tanpa suara itu, "Sebenarnya apa hubungan kita ini?"
Shikamaru terdiam. Jujur Shikamaru bukan tipe laki-laki seperti Sasuke yang bisa langsung bicara langsung kalau pada wanita yang dicintainya. Begitu pula Neji yang dulu terang-terangan mengklaim Tenten menjadi kekasihnya. Shikamaru melihat wajah Ino yang berubah menjadi sedih, kemudian dia berucap, "Aku mulai mencintaimu."
Ino mendongak kembali, masih tidak percaya apa yang terucap dari mulut laki-laki itu, "Apa? Tadi kau bilang apa?"
"Aku yakin kau dengar tadi. Aku tidak mau mengulanginya lagi," jawab Shikamaru dengan wajah yang memerah.
"Ng," Ino menggelengkan kepalanya, "Kau tidak perlu mengucapkannya sekali lagi, terima kasih ya," ucap Ino tersenyum lembut.
Tidak tahan melihat senyuman Ino, Shikamaru menarik leher gadis itu dan mencium bibirnya. Awalnya Ino terkejut, namun perlahan lumatan demi lumatan tercipta di kamar yang sepi itu, hanya terdengar dentingan piano dari permainan Sakuya yang tercipta di ruang utama. Saat suasana kamar menjadi panas, Shikamaru menghentikan kegiatannya, membuat Ino sedikit bingung.
"Ada apa?" tanya Ino.
"Ah, tidak apa-apa… Sebaiknya… Aku istirahat di kamarku," jawab Shikamaru terbata-bata.
Shikamaru beranjak dan meninggalkan Ino tanpa penjelasan apa-apa. Membuat Ino berpikir tentang ucapan Neji sebelumnya, sebenarnya… ada apa dengan Shikamaru? Kenapa reaksinya tadi sangat mencurigakan? Seolah laki-laki itu menghindari kontak fisik dengannya. Semuanya termenung dalam ruangannya masing-masing. Hanya Sakuya yang kini masih berkutat dengan permainan pianonya. Gadis itu terus memainkan lagu yang terdengar pilu itu, sampai tanpa dia sadari… air mata sudah mengalir deras dari kedua bola matanya yang berwarna biru pucat itu.
A/N : maaf atas keterlambatan update ini yaaaah, dan maaf kalau di chapter ini banyak kekurangan, maklum bikinnya nyicil :p
Special thanks buat istee yang udah bersedia menjadi beta reader kamiii lope lope emuaaah!
dan maaf chapter ini aku belum bisa bales review kalian satu-satu, ngga bisa mangku laptop lama-lama, juga ngga bisa duduk di depan computer lama-lama TT_TT *menyedihkan*
terima kasih doa dari kalian semua ya :D
V3Yagami
