.
.
L.O.V.E (Lust, Obsession, Victim, Ego)
Naruto Belong Masashi Kishimoto
Rated M-MA
Genre : Romance, Hurt/comfort, Crime, Lemon, slight yuri
.
.
"Masih belum mau bicara?" tanya Deidara pada Itachi yang baru saja keluar dari kamar Sakura. Itachi menggelengkan kepalanya, kemudian dia berjalan menuju ruang rapat mereka diikuti oleh Deidara.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Sasori.
"Ck! Ini semua gara-gara ulah Elite Assassin yang bertindak seenaknya!" celetuk Hidan.
"Kita pikirkan itu nanti. Sekarang kalian istirahat dulu saja. Sudah berapa lama kalian tidak pergi sekolah? Besok kalian harus sekolah," ujar Itachi.
"Lama-lama dia seperti bapak-bapak ya," bisik Hidan pada Deidara.
"Hidan, aku mendengarnya," ucap Itachi santai dan membuat Hidan membatu, padahal jarak mereka lumayan jauh.
.
.
Sosok anak kecil berlari mengejar sosok yang terlihat sedikit dewasa dari dirinya. Sosok sang kakak membawa sebuah layang-layang besar menghentikan langkahnya, membuat sang adik yang tadi berusaha untuk mengambil layang-layang itu kini juga menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Nii-san?" tanya sang adik yang masih berumur 4 tahun.
"Ada yang pindahan di sebelah rumah kita," jawab sang kakak, melirik sang adik yang juga menatap sang kakak seolah bertanya apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, sang kakak mulai bicara, "Kita bantu mereka yuk."
Sang adik mengangguk dan meraih tangan sang kakak. Sesampainya mereka di dekat truk yang pintu belakangnya terbuka dan terlihat sepasang suami istri sedang memeriksa barang-barang mereka.
"Permisi, kami dari rumah sebelah. Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya sang kakak yang berumur 7 tahun.
Kedua orang tua itu menoleh pada kedua sosok anak yang kini tersenyum manis. Lalu sang istri membungkukkan tubuhnya dan menepuk kepala sang kakak sambil berkata, "Bisa tolong hibur putri kecil kami? Dia ada di dalam. Dari tadi sejak kami sampai dia terus murung karena tidak mau pindah dari apartemen lamanya."
"Baiklah. Sekarang dimana dia?" tanya sang kakak.
"Di halaman belakang. Ehm, siapa nama kalian?" jawab dan tanya sosok sang suami.
"Aku Itachi Uchiha."
"Sasuke Uchiha."
"Baiklah, selamat berkenalan dengan putri kami yah," ujar sang istri.
Langkah kaki yang terdengar sangat menggebu-gebu. Sang kakak yang bernama Itachi memimpin langkah menuju tempat dimana anak perempuan yang kini sedang murung di halaman belakang. Begitu sampai di halaman belakang, Itachi dan Sasuke sedikit membatu melihat sosok anak kecil yang seumuran dengan Sasuke sedang memeluk boneka beruang dengan wajah yang sangat murung.
"Ehm, hai," sapa Itachi pelan sambil melangkah mendekati anak perempuan itu.
"Kamu kenapa murung?" tanya Sasuke.
"Uhhh, aku tidak suka pindah ke sini. Aku lebih suka di apartemen lamaku," jawab anak perempuan yang memiliki warna rambut pink, sama seperti ibunya.
"Tapi kamu kan baru sampai, belum melihat bagusnya daerah sini," ucap Itachi.
"Tetap saja, aku lebih suka apartemen lamaku," jawab lagi anak perempuan itu dengan nada yang makin lirih.
"Begini, bagaimana kalau kau ikut main dengan kami?" usul Sasuke yang berdiri di hadapannya, "Main dulu dengan kami, lalu bandingkan lagi perasaanmu tadi dan nanti. Bagaimana?"
"Ide bagus, Sasuke," ujar Itachi.
"Ma-Main? Kalian mau main denganku?"
"Tentu saja," jawab Itachi sambil menepuk kepala anak perempuan itu, "Siapa namamu?"
"Sakura… panggil aku Sakura," jawab Sakura riang.
"Ayo kita keluar," ajak Itachi menarik tangan Sakura.
Ingatan itulah yang terpikirkan oleh Sasuke yang kini berendam di bathtub-nya. Pertemuan pertama mereka bertiga dan perjanjian yang diucapkan oleh mereka bertiga. Sasuke sadar kalau dulu Sakura lebih tertarik pada Itachi dari pada dirinya. Tapi lambat laun Sakura berubah menjadi lebih manja pada Sasuke dan itu membuat Sasuke sangat senang. Apalagi dulu Itachi pernah berjanji kalau dia akan terus mendukung perasaannya pada Sakura. Tapi kini kenapa semua harus menjadi berantakan.
"Sial!" geram Sasuke memukul sisi bathtub, "Apa yang harus kulakukan?"
.
.
Hari berganti. Kini sinar matahari pagi sangat cerah menerobos tiap-tiap ruangan yang ada di mansion. Walaupun semua sudah bangun dari tidurnya, tetap saja tidak ada yang berani untuk keluar lebih dulu karena masih merasa canggung atas kejadian kemarin. Maka dimulailah pertemuan antara Sakuya dan Hinata di dapur saat Sakuya berinisiatif untuk membuatkan seluruh anggota Elite Assassin sarapan pagi.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Sakuya ketus sambil meletakkan piring-piring di atas meja makan.
"Ehm, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu-"
"Sakuya tidak mau menjawab!" potong Sakuya sambil membuka celemeknya.
"Sakuya… aku mohon…" terdengar nada serius dari ucapan Hinata dan itu membuat Sakuya mendengarkan apa yag ingin wanita itu tanyakan, "Bagaimana caranya agar aku bisa diterima di sini dengan ramah?"
"…" Sakuya terdiam. Melihat dari eskpresi Hinata sekarang, Sakuya berani jamin kali ini Hinata sedang serius ingin membaur dengan yang lain, "Bantu kami mendapatkan mama-chan kembali."
"Apa?" ucap Hinata terkejut, "Tanpa harus melakukan hal itu… apa tidak ada cara yang lain?"
"Sebenarnya apa sih maumu? Ramah atau tidaknya mereka semua itu tergantung dari dirimu sendiri! Jujur Sakuya tidak suka denganmu! Dan Sakuya muak melihatmu! Sakuya ingin kau pergi dari mansion ini! Sakuya-"
"Sakuya!" teguran kencang membuat Sakuya yang tadi meledak-ledak kini sedikit meredam. Begitu Sakuya menoleh, "Papa-kun... Karin nee-chan…"
"Wah, Sakuya… kamu yang membuat sarapan pagi ini?" tanya Karin terharu melihat tugasnya sudah dikerjakan oleh Sakuya.
"Ehm iya, tapi maaf kalau rasanya tidak enak. Sakuya masih belajar," jawab Sakuya malu-malu.
"Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih Sakuya," ucap Karin sambil memeluk Sakuya.
Seolah mencampakkan kehadiran Hinata, Sasuke menempati kursinya dan mulai menyantap sarapan yang Sakuya buat. Dengan inisiatif, Sakuya pergi membangunkan yang lain. Sementara Sakuya membangunkan yang lain Karin menatap Hinata dengan pandangan sinis.
"Kuberi tahu satu hal padamu. Kami tidak akan pernah bisa menerimamu di sini kalau kau belum bisa mengubah tingkah lakumu yang menyebalkan itu," ujar Karin.
Hinata hanya terdiam dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruang makan. Sedangkan Karin hanya menyeringai usil melihat reaksi Hinata.
"You are horrible," celetuk Sasuke.
"You're welcome," jawab Karin masih dengan seringainya.
Selesai sarapan pagi bersama… sarapan pagi dengan suasana yang sangat canggung, karena yang berkomunikasi dengan lancar saat ini hanyalah Sakuya, Neji dan Karin. Mereka berangkat sekolah dengan jarak yang bisa dibilang cukup jauh. Sasuke berjalan paling depan bersama Shikamaru. Ino, Karin dan Sakuya berjalan di sisi kiri namun dengan jarak 5 meter dari Sasuke. Tidak usah heran karena Ino yang meminta. Sedangkan Neji dan Naruto berjalan paling belakang. Neji menjaga jaraknya pada Ino dan Shikamaru, sedangkan Naruto menjaga jarak dengan Sasuke.
Sesampainya di sekolah, langkah mereka terhenti ketika melihat Sakura dengan terang-terangan datang bersama para W.O. Bagaimana bisa dia melakukan hal yang sudah pasti akan menimbulkan kekacauan?
"Sasuke, jangan dilihat," ucap Karin begitu langkahnya menyamai laki-laki yang kini menatap penuh dengan amarah pada sosok Sakura.
"Apa-apaan itu?" tanya Neji.
"Sakura bersama mereka?" sambung Ino.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" kini Shikamaru yang bertanya.
"Aku bisa jelaskan," jawab Naruto.
"Tidak perlu," potong Sasuke, "Sakura… dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kita."
"Apa?" semua tersentak ketika Sasuke berkata seperti itu dengan ekspresi yang pilu. Semua tahu kalau Sasuke tidak menginginkan hal ini. Namun seperti ada sesuatu yang menahan Sasuke agar tidak berusaha mencoba untuk mengambil Sakura kembali.
Di dalam kelas, mau tidak mau Sakura harus bertatapan dengan Sasuke dan Naruto langsung karena tempat duduk mereka sangat berdekatan. Keadaan makin canggung karena saat ini Sasuke tidak melirik ke arah Sakura sedikitpun. Sakuya hanya bisa menatap dengan tatapan penuh berharap agar hubungan Sasuke dan Sakura bisa kembali seperti semula, beda dengan Naruto yang bersifat netral.
"Sakura-chan, apa kabar?" sapa Naruto dari belakangnya.
"Ah, Naruto… aku baik-baik saja kok, kamu?" jawab Sakura sambil membalikkan tubuhnya.
"Sangat baik. Senang melihatmu sehat kembali," ucap Naruto.
Saat Sakura tidak sengaja bertatapan dengan Sakuya, Sakura tersenyum dan itu membuat Sakuya gugup. Antara ingin menyapa Sakura atau tidak. Sakuya ingin sekali menyapa Sakura tapi dia takut pada Sasuke.
"Apa kabar, Sakuya?" sapa Sakura dengan lembut.
Sapaan Sakura menjatuhkan pertahanan Sakuya. Akhirnya Sakuya tersenyum pada Sakura, "Baik, mama-chan."
Hanya percakapan singkat yang terjadi saat itu karena kehadiran guru telah memotong komunikasi mereka. Sakura sedikit melirik Sasuke. Betapa rindunya wanita itu pada sosok Sasuke yang kini tengah mencampakkan kehadirannya. Apa yang harus Sakura lakukan agar keadaan bisa kembali normal? Untuk saat ini Sakura tidak bisa dulu kembali ke mansion. Tapi… apakah mereka bisa mengerti?
Waktu istirahat telah tiba, dan sesuai perintah Itachi, Gaara membawa Sakura pergi dari kelas agar tidak terlalu sering berkomunikasi dengan Elite Assassin. Bukan maksud Itachi untuk menjauhkan Sakura dari para Elite Assassin, tapi Itachi bisa memprediksikan bagaimana masing-masing anggota Elite Assassin saat ini sejak kejadian kemarin. Akhirnya Gaara membawa Sakura ke taman belakang bersama Deidara, Hidan dan Sasori.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Deidara pada Sakura yang melamun.
"Ng, tidak apa-apa."
"Makan bekalmu, jangan hanya dilihat," ucap Deidara.
"Permisi," ucap seseorang yang membuat semua menoleh.
"Sakuya? Ada apa?" tiba-tiba Sakura menjadi ceria, menyingkirkan bekalnya dan berjalan ke arah Sakuya.
"Mama-chan, aku ingin bertanya sesuatu pada mama-chan."
"Ng, katakan saja."
"Apa mama-chan suatu saat akan kembali pada kami? Kalau iya, kapan mama-chan kembali?"
Sakura terdiam dan yang lain menyimak. Memandang Sakura seolah juga menunggu jawaban apa yang akan terlontar dari mulut Sakura. Sakura tersenyum dan membelai pipi Sakuya, "Tentu saja aku akan kembali kalau sudah saatnya."
Sakuya tersenyum lega, "Lalu, apa alasan mama-chan pergi?"
"Sakuya, kamu tahu kan apa saja yang kulakukan kalau kalian sedang pergi misi? Tidak ada. Aku tidak melakukan apa-apa… apa menurutmua hal itu baik-baik saja untukku? Sementara kalian menempuh bahaya sedangkan aku hanya berada di dalam mansion itu? Tidak Sakuya… tidak…"
"Aku ingin jadi kuat agar aku pantas berdiri di samping Sasuke, ikut bersama kalian menjalani misi red mail, dan bisa tahu perasaan kalian bagaimana menempuh bahaya itu."
"Jadi, mama-chan bukan pergi karena benci pada kami?"
"Tentu saja tida. Aku mencintai kalian semua," jawab Sakura sambil memeluk Sakuya.
Sakuya tersenyum lebar namun terkesan lembut, "Lalu, pertanyaan terakhir!" ujar Sakuya riang, "Apa mama-chan masih mencintai papa-kun?"
Pertanyaan yang paling membuat para W.O penasaran.
"Tentu saja. Aku akan selalu mencintainya," jawab Sakura tersenyum lembut.
Sakuya menyengir, "Hihihi, yeaayy! Terima kasih mama-chan. Sakuya jadi lega… sangaaaaat lega. Sakuya pergi dulu yaa.."
Sakuya membalikkan tubuhnya dan berlari, namun kakinya tersangkut ranting sehingga keseimbangannya goyah. Dengan cekatan Gaara menangkap tubuh Sakuya, "Hati-hati," ucap Gaara.
Merasa tangan Gaara menggenggam lembut perutnya membuat Sakuya merona merah, "a-apa-apaan kau panda-san! Lepaskan aku!" sentak Sakuya dengan wajah yang memerah kemudian melanjutkan larinya setelah menepis tangan Gaara.
Sakura dan yang lain hanya terdiam melihat reaksi Sakuya yang di luar dugaan itu, sedangkan Gaara hanya bengong sambil memandangi telapak tangannya. Sesaat terdegar dengusan dan gumaman dari para W.O yang berdiri di belakang Gaara.
"Huh, amatir," gumam Hidan.
"Sakuya… dan Gaara?" gumam Sakura tidak percaya.
"A-apa-apaan kalian?" tanya Gaara pelan dengan wajah datar namun sedikit merona merah.
.
.
Sepulang sekolah, para Elite Assassin langsung memasuki kamarnya masing-masing. Namun sebelum itu Sakuya memanggil Sasuke, "Papa-kun, boleh bicara sebentar?"
Sasuke menghentikan langkahnya dan menatap Sakuya, "Tadi Sakuya bicara dengan mama-chan, katanya dia punya alasan sendiri. Dia ingin menjadi kuat agar pantas berdiri di samping papa-kun. Mama-chan akan kembali setelah jadi kuat."
Melihat Sakuya yang menjelaskan dengan wajah penuh harapan, Sasuke mengacak-acak rambutnya, "Kalau itu aku sudah tahu, hanya saja… aku tidak suka cara dia pergi dari sini, apalagi…" Sasuke terdiam, dia tidak bisa menjelaskan hubungan antara dirinya, Sakura dan Itachi.
"Dan mama-chan… dia masih mencintai papa-kun. Katanya dia akan selalu mencintai papa-kun," jelas Sakuya yang membuat Sasuke terkejut, "Jadi, Sakuya mohon papa-kun jangan lagi menyebut mama-chan itu mantan wanita yang papa-kun cintai."
"… kau dengar?"
"Ng," Sakuya mengangguk.
Sasuke sedikit tersenyum lembut pada Sakuya, "Terima kasih, Sakuya."
Sakuya tersenyum dan menggenggam tangan Sasuke, "Kejarlah mama-chan sekali lagi, rebut dia kembali."
"Pasti."
.
.
Malam pun tiba. Kini para anggota W.O. berkumpul di ruang utama seperti biasa, namun kini lebih ramai karena Sakura sedang mabuk. Salahkan Hidan yang usil memberikan Sakura sake.
"Hik… dia… hik… kenapa harga dirinya sangat tinggi! Hik… Uchiha brengsek! Hik…"
Melihat Sakura yang mabuk, Itachi tercengang dan langsung melirik Hidan yang kini sedang tertawa terguling-guling.
"Sakura-san, jangan minum lagi," ucap Gaara.
"Diam kau panda!" bentak Sakura, "Hei… hik, kuperingatkan kau… kalau kau sam- hik… pai… hik, menyentuh Sakuya… akan kucongkel kedua bola-hik… matamu."
"…" Sasori hanya bisa diam dengan tatapan menyedihkan pada Sakura yang kini mencengkram kerah Gaara.
"Hidan! Apa maksudmu memberi Sakura sake!" tegur Itachi.
"Aku tadinya hanya usil, tapi Sakura terus-terusan minta tambah."
"Kenapa kau kasih! Ck! Aku harus pergi malam ini, ada pertemuan tentang kematiannya Takeshi. Deidara, tolong jaga Sakura sebentar," pinta Itachi.
"Sip!"
Dan malam pun berjalan dengan hebohnya Sakura yang terus-terusan meneriaki nama Sasuke dengan makian karena telah mencampakkannya hari ini. Ketika semua sudah tertidur termasuk Sakura, Deidara mengangkat tubuh Sakura untuk ditidurkan di kamarnya. Begitu Deidara meletakkan Sakura dan akan pergi, Sakura menarik baju Deidara.
"Jangan pergi~ jangan campakkan aku~" gumam Sakura.
"Mengigau?" tanya Deidara pelan pada dirinya sendiri.
Sakura membuka matanya dan menatap Deidara dengan tatapan yang sangat pilu namun terkesan seksi di mata laki-laki bermabut pirang ini, "Aku mencintaimu…" gumam Sakura sambil perlahan menarik Deidara hingga bibir mereka bertemu. Deidara memejamkan matanya saat Sakura menciumnya. Namun matanya kembali terbelalak ketika mendengar Sakura memanggil, "Sasuke kun~"
Deidara terdiam dan Sakura masih melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu, "Cih, jadi dia yah yang dilihatnya saat ini," gumam Deidara pelan.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanya Sakura.
Deidara menatap Sakura datar kemudian menyeringai, "Ya, aku mencintaimu."
Deidara mencium dan melumat bibir Sakura, diterima oleh Sakura yang mengira bahwa yang melakukan itu ada Sasuke. Tangan Deidara mulai masuk ke dalam baju Sakura, meremas dada kanan Sakura yang sangat lembut,"Ah~ kau lembut sekali, Sakura," bisik Deidara.
"Ngh~ terus Sasuke kun~"
Mendengar nama Sasuke yang keluar membuat Deidara kesal. Akhirnya Deidara melepas semua baju Sakura dan melumat dada Sakura satu persatu, "Nggh~ Sasuke kun~ aku sangat merindukanmu~"
Sambil menghisap, Deidara bergumam, "Ya, aku juga merindukanmu."
Wajah Deidara makin menurun ke arah bagian sensitif Sakura. Begitu laki-laki pirang itu berhadapan dengan kewanitaan Sakura, tanpa ragu dia menjilatnya.
"Aaahnn~ Sasuke kuun~ teruuus~" desah Sakura sambil menjambak rambut Deidara.
Deidara menghentikan jilatannya dan mengubah posisinya. Dibuka celananya dan terlihat kejantanannya yang sudah menegang. Sedikit ragu karena saat ini Sakura sedang tidak sadar bahwa yang melakukan ini bukanlan Sasuke. Tapi melihat wajah Sakura yang sangat menggoda, Deidara tidak bisa menahannya.
Deidara memasukkan kejantanannya dengan satu dorongan yang kuat.
"Aaanghh!" saat sudah masuk, Deidara menatap Sakura dengan tatapan seolah merasa bersalah, "Aku mencintai Sasuke kun~ teruskan Sasuke kun~ miliki aku~"
Kalah pada hawa nafsu yang membelenggu, Deidara memaju mundurkan pinggulnya. Berkali-kali menusuk bagian yang membuat wanita merasakan terbang dan kenikmatan.
"Aahh~ aaaaahh~ Sasuke kuunhh~ "
Sampai akhirnya Sakura mencapai klimaksnya begitu pula Deidara yang mengeluarkan spermanya di luar.
"Hah… hah… hah…" Deidara menjatuhkan dirinya di samping Sakura yang kini sudah tertidur setelah klimaksnya. Deidara hanya bisa terdiam sambil mengutuk dirinya sendiri. Laki-laki itu kemudian membersihkan cairannya sendiri yang menempel di tubuh Sakura. Setelah itu Deidara tidur di samping Sakura, siap menerima konsekuensi apa yang akan terjadi besok.
.
.
Sinar rembulan masih setia menerangi gelapnya malam yang sunyi. Gadis yang kini mondar-mandir di kamarnya terus-terusan bergumam. Dia ingin sekali pergi ke kamarnya Shikamaru dan menanyakan tentang kejadian kemarin kenapa Shikamaru berhenti di tengah-tengah kegiatan panas mereka. Bukan artinya Ino mengharapkan sex, hanya saja ucapan Neji membuat Ino penasaran apa sebenarnya yang telah terjadi pada Shikamaru.
Akhirnya dengan tekad yang kuat Ino berlari menuju kamar Shikamaru. Memang sih ini sudah tengah malam, soalnya kalau siang hari pasti akan banyak gangguan yang akan memotong percakapan mereka. Dengan keberanian yang tinggi, Ino mengetuk pintu kamar Shikamaru. Begitu dibuka.
"Ino? Belum tidur?" tanya Shikamaru yang sudah memakai piyamanya.
"Aku… ingin ngobrol-ngobrol sebentar denganmu, boleh?"
Shikamaru tersenyum, "Tentu, ayo masuk."
Ino melangkahkan kakinya dan duduk di kasur sementara Shikamaru menutup pintu dan mengikuti Ino, "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Shikamaru dengan nada lembut. Akhir-akhir ini Shikamaru menjadi sangat lembut pada Ino, apalagi sejak kejadian Neji hendak memerkosanya.
Ino menatap Shikamaru dan langsung memeluknya, "Aku mencintaimu," gumam Ino.
Shikamaru membalas peluk, "Aku juga mencintaimu. Hei, ada apa tiba-tiba begini?"
"…" Ino menatap Shikamaru dengan perasaan ragu. Akhirnya dia memutuskan untuk melontarkan pertanyaan yang ingin dia tanyakan dari dulu, "Apa yang sebenarnya terjadi padamu dulu?"
"…" ada jeda sebelum Shikamaru menjawab, "Apa yang membuatmu penasaran?"
"Ne-Neji bilang… walaupun kita bersama… tapi kita tidak akan pernah bisa…"
"Sex?" tebak Shikamaru.
"Ng… maksudku, bukan berarti aku mengharapkan hal itu denganmu," jawab Ino gugup.
"Jadi kau tidak mau melakukan sex denganku?" tanya Shikamaru.
"Bukan seperti itu juga maksudku, tapi aku…"
"Hentikan Ino, aku tidak mengerti apa maumu."
"Aku… hanya ingin tahu… apa yang terjadi padamu dulu…" gumam Ino kecil, "Apakah salah kalau aku ingin mengetahui masa lalu orang yang kucintai?"
"Apapun yang terjadi denganku dulu, itu sudah tidak ada hubungannya dengan sekarang," jawab Shikamaru sambil terbaring di tempat tidurnya.
"Tentu saja ada, aku-"
"Tidak ada! Aku lelah, kuizinkan kau tidur di sini."
Tidak ada respon dari Ino yang mendengar nada Shikamaru berubah menjadi dingin. Melihat Shikamaru yang memejamkan matanya, Ino merasa tidak berguna. Masih ada yang disembunyikan oleh laki-laki ini darinya. Mungkin hanya Ino dan Sakuya lah yang tidak mengetahui apa yang terjadi pada Shikamaru.
"Baiklah… mungkin kau tidak percaya padaku… sebaiknya kita akhiri semuanya," ucap Ino dengan nada kecewa dan beranjak dari duduknya. Mendengar ucapan Ino membuat Shikamaru kaget sekaligus marah.
BRAAK
"Jadi apa maumu! Hanya karena aku tidak menceritakannya maka kau memutuskan untuk mengakhiri ini semua!" bentak Shikamaru setelah melempar beberapa pajangan yang terletak di meja samping tempat tidurnya, membuat Ino tersentak dan menoleh.
"T-Tidak, bukan begitu maksud-"
"Kau mau tahu! Biar kuberi tahu kau satu hal yang merupakan aib terbesarku! Kenapa aku tidak mau bercinta denganmu, itu karena dulu aku di perkosa oleh ayah tiriku! Apa salah kalau aku berpikir tidak mau mengotorimu dengan alat yang sudah kotor ini? Hah!"
Tanpa Shikamaru sadari, matanya berkaca-kaca begitu pula dengan Ino yang kini terbelalak mendengar penjelasan Shikamaru.
"Sekarang kau sudah tahu, kau puas? Kalau puas silahkan keluar!" Shikamaru menarik selimut dan membelakangi Ino.
Ino melangkahkan kakinya mendekati sosok Shikamaru. Ini pertama kalinya Ino melihat laki-laki yang biasanya bersikap tegas dan santai berubah menjadi rapuh. Perlahan Ino menjulurkan tangannya pada punggung Shikamaru kemudian dipeluk erat tubuh laki-laki itu. Membuat Shikamaru terkejut atas perlakuan Ino yang sangat tiba-tiba ini.
"Maafkan aku~" ucap Ino lembut, "Maaf… aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu…"
Shikamaru terdiam, menunggu kalimat lanjutan dari Ino.
"Aku… tetap menerimamu apa adanya. Aku akan tetap mencintaimu dalam kondisi apapun… Tadi aku hanya kesal karena kau tidak juga mau terbuka denganku…" Ino memaksa membalikkan tubuh Shikamaru, "Aku… menerimamu dalam kondisi apapun," sambung Ino dengan senyuman lembut.
Tanpa ragu, Shikamaru langsung menyerang Ino. Keduanya saling mencium dan saling melumat dengan panas. Campur antara emosi dan nafsu yang membelenggu, Shikamaru menghentikan ciuman sebentar, "Aku tidak akan berhenti. Walaupun kau memintaku atau merasa jijik dipertengahan, aku tidak akan berhenti."
Ino menatap lurus kedua mata Shikamaru dan dibelainya pipi Shikamaru, "Then don't."
Shikamaru mulai mencium bibir Ino kembali, ciuman yang berbeda dari yang tadi. Ciuman kali ini lebih lembut dan sangat terasa seakan Shikamaru terus menerus mengucapkan kalimat bahwa dia mencintai Ino. Ino melingkarkan kedua lengannya dileher Shikamaru dan laki-laki yang kini menghentikan ciuman itu sekali lagi mengubah posisinya. Kini Shikamaru berada di atas Ino.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir masing-masing hanya gerakan demi gerakan yang tercipta. Shikamaru mulai menjilat leher Ino dan menghisapnya pelan tanpa meninggalkan bekas merah.
"Ngh~"
Mendengar Ino mendesah pelan, tanpa ragu Shikamaru langsung memijat pelan dada kanan Ino. Ino cukup kaget atas tindakan Shikamaru yang sedikit liar itu, tapi gadis itu tidak mau menghentikannya. Dia ingin Shikamaru terus melakukan aksinya tanpa berhenti. Masih sambil saling berciuman, Shikamaru mulai melepas kancing piyama Ino, begitu pula sebaliknya. Sampai kini keadaan mereka telanjang dada. Ino memerah ketika melihat tubuh Shikamaru yang terlihat berbeda saat dia mengobati lukanya. Bahkan Shikamaru pun merona melihat indahnya tubuh Ino.
Shikamaru memimpin kegiatan malam itu, dia kembali mencium Ino dan melepaskan kait bra Ino. Begitu terlepas, Shikamaru membuangnya sembarangan. Ino melepaskan ciumannya.
"Hei! Jangan buang sembarangan! Itu Victoria's Secret!"
"Nanti kubelikan yang baru lagi," bisik Shikamaru sambil menjilat daun telinga Ino.
"Aaahh~" Ino meremas rambut Shikamaru kencang. Shikamaru tahu kalau tubuh Ino sudah memanas, ditambah lagi Shikamaru sekarang sedang memainkan putting Ino yang sudah mengeras.
Shikamaru menurunkan kepalanya dan menghisap payudara yang tidak tersetuh. Ino hanya bisa memejamkan matanya sambil menggigit pelan jarinya sendiri, menahan nikmat yang Shikamaru berikan. Sudah sedikit puas memainkan putting, Shikamaru menurunkan tangannya ke daerah sensitif Ino. Memasukkan jari-jarinya ke dalam celana dalam Ino.
"Tu-Tunggu Shika-"
"Lupa dengan apa yang kubilag tadi?" bisik Shikamaru dengan nada seksi, "Aku tidak akan berhenti walaupun kau memohon."
Shikamaru menemukan benda yang membuat para wanita terangsang hebat. Tidak pernah melakukan sex sebelumnya bukan berarti tidak tahu tekhniknya. Sasuke kadang suka usil pada mereka, Memamerkan kegiatannya dan bagaimana reaksi Sakura kalau Sasuke menyentuh tubuhnya. Dan hal itu membuat Shikamaru penasaran apa yang di ucapkan Sasuke dulu, 'apa benar wanita akan mendesah hebat kalau klitorisnya di goyangkan?'
"Aaahhhnnn!"
Dan apa yang dikatakan oleh Sasuke adalah benar.
"Shi-Shikamaru~ nnghhhh~"
Shikamaru terus menggoyangkan klitoris Ino sembari menghisap payudaranya.
"Aahh~~ aaaangghhh~ nnngggghhh~"
Hisapan Shikamaru terhenti saat merasa jarinya sudah sangat basah.
"Kamu… sudah keluar?" tanya Shikamaru.
Ino tidak menjawab. Malu untuk menjawab maka Ino hanya diam dan memalingkan wajahnya. Shikamaru memaksa Ino agar melihat dirinya, kemudian setelah Ino menoleh Shikamaru menunjukkan jarinya yang penuh dengan cairan Ino dan menjilatnya.
"B-Bodoh! Itu kan kotor!" tegur Ino.
"Berarti kita sama-sama kotor," jawab Shikamaru masih sambil menjilatin jarinya sampai kering, "Apa kau siap?"
Ino mengangguk pelan. Shikamaru membuka celana Ino dan celananya sendiri. Saat Ino melihat kejantanan Shikamaru yang sudah berdiri tegak, wajahnya makin memerah. Namun sebelum Shikamaru memasukkan kejantanannya, dia mendekatkan wajahnya pada kewanitaan Ino dan langsung menjilatnya.
"Hyaaaaaa! Shika- aaangghhhhh! Ngghhh~ aaaaaaaahhhhhh~ unnghhh~
Shikamaru menyeringai ketika mendengar desahan Ino yang tidak karuan. Shikamaru teringat akan ucapan Sasuke, 'kalau mau memasukkannya terlebih dahulu renggangkan dengan jari agar sang wanita tidak terlalu sakit.' Akhirnya Shikamaru memasukkan satu jarinya, membuat Ino makin mendesah. Lalu dua jari sambil memaju mundurkan jari-jarinya. Saat jari ketiga…
"Ahh! Sakit~"
Awalnya memang sakit dan sedikit perih, namun Ino bisa langsung menyesuaikan dirinya dengan irama yang Shikamaru ciptakan.
"Sepertinya sudah bisa," gumam Shikamaru.
Shikamaru melebarkan paha Ino dan menyesuaikan posisi kejantanannya di depan kewanitaan Ino. Saat sudah menempel, Shikamaru mencium bibir Ino lembut, "Buka matamu. Aku ingin kau melihatku saat kita melakukannya."
Ino membuka matanya dan melihat sosok Shikamaru yang berkeringat, membuat kesan seksi pada diri laki-laki itu. Shikamaru mulai memasukkan kejantanannya pelan.
"Aakhh! Sakiittt~ sakiit~" ritih Ino.
"Maaf Ino," gumam Shikamaru dan langsung memasukkan semua benda kebanggaannya.
"Kyaaaa! Aaakhh!"
Ino mencakar punggung Shikamaru hingga berdarah dan Shikamaru terus membelai dan memeluk Ino, menenangkan gadis… wanita itu yang kini sedang menyesuaikan diri dengan ukuran benda yang telah tertanam di dalam lorongnya.
"Bisa kau teruskan," ujar Ino pelan.
"Hn."
Shikamaru memaju mundurkan pinggulnya dengan pelan.
"Aahh~" pertama kalinya Shikamaru mendesah.
"Nghhh~" Ino ikut mendesah, menikmati permainan yang Shikamaru ciptakan.
Selama sepuluh menit mereka melakukan gerakan maju mundur cukup untuk membuat para pemula itu semakit dekat dengan klimaksnya.
"Shika~ maruuu~ Harder… please…" pinta Ino.
Shikamaru menyeringai, "Kau tahu Ino," panggil Shikamaru kemudian menusuk Ino lebih keras.
"Aaaahhh~"
"Wanita… klimaks terbagi dari dua macam," lanjut Shikamaru sambil menusuk Ino sedikit lebih keras lagi.
"Annggghh~~ aaahhh~"
"Pertama.. uuggh~ klimaks karena klitoris."
"Ngghh~ f-faster! Lebih cepat! Aaahhh~"
Shikamaru mempercepat genjotannya dan makin menusuknya lebih keras.
"Kedua… aahhh~ klimaks karena G-spot."
"Aahhhh! Aaahnnn~ teruuss, Shikaa… aaahhh~"
Shikamaru makin mempercepat gerakannya karena dirinya juga sudah tidak bisa menahan lagi. Terus menerus memaju mundurkan pinggulnya dengan kecepatan yang makin cepat, sampai…
"Aaaahhh~ Shikamaruuu~ hyaaaaaa!"
"Aaghhh Ino, aku… aaaaahhh~"
Kedua pinggul mereka berkedut ketika saling mengeluarkan klimaksnya secara bersamaan. Shikamaru menjatuhkan dirinya di atas Ino, mengatur nafas pelan-pelan.
"Hah… hah… hah… maaf, aku mengeluarkannya di dalam," ucap Shikamaru.
"Tidak apa-apa, sebentar lagi aku datang bulan kok," jawab Ino sambil memeluk tubuh Shikamaru di atasnya.
"Ino," Shikamaru melepaskan bendanya dari tubuh Ino dan terbaring di samping wanita yang kini sudah menjadi miliknya itu, "Aku janji… besok aku akan menceritakan semuanya padamu."
Ino tersenyum dan memeluk tubuh Shikamaru, "Aku tunggu," jawab Ino yang memejamkan matanya.
A/N : maaf kalau lemonnya kurang pas, soalnya saya kurang konsentrasi membuat lemon ini, dikarenakan ada beberapa hal yang mengganggu ketenangan hidup saya di apartemen! *jadi curhat*
Icha yukina Clyne : iya, fitri udah smebuh, tapi maish belum boleh ngelakuin kegitana berat, soalnya dia masih ngerasa ngilu di bagian jahitannya
Doremi saku-chan : saku nanti pulang kok
Chadeschan : hehehe, maaf ya kalau ngaret, aku juga baru pulang dari irian, pulkot? Apa itu?
Ran murasaki SS : Hinata sebentar lagi jadi baik kok, tenang aja, hahaha
Mey Hanazaki : chap 12 emang bikin terharu ya? Yang ngetik juga lagi galau sih, hahahahaa *ampun fit*
Sasusaku lover : panjang atau ngga di setiap chapter itu sesuai dengan plot, hehehe
Blueharuchi Uchiha : chapter depan mungkin makin bikin terombang ambing, hahaha
Miku chan : thank you : )
Harappa : hahahaha lagi galau? Sama dong sama yang bikin chp 12, hahaha
GerardErza : ngga kok, Shika ngga kena AIDS, serem banget kena AIDS =.="
Yuukina Scarjou : hai kalian bersaudara, hahaha ya ampun pada bilang cerita nya bikin galau? *lirik fitri yg lagi pundung*
Purol3'love : iya, sekarang suasana mansion emang lagi kacau :D tetep sasusaku kok
Poetrie-chan : Sakura pulang kok, di jemput sasuke malah.
Sagee-chan : suika ngga ada, saya ngga masukin karakter sui di sini :D
Schein Mond : Neji kan sukanya sama Ino ^^, ngga mungkin suka sama sakuya
Bluremi : elite n won anti kerja sama kok, pada dasarnya mereka kan bukan musuh.
Meyrin kyuchan : hahahaha, dari awal kan dibilang Karin cinta sama sakura :D
blackcherryBee : flashbacknya siapa ? hidan?
OYO lechliez : ssippp!
Hikarindychan : itulah laki-laki, kalau udah ngga bsia nahan pasti jadi agresif, termasuk saya, hahahaa
Aiko Furizawa : ngga, sasuke ngomong begitu Cuma karena emosi, kan remaja labil mereka, hahaha
D3rin : Itasaku ngga ada lemonnya kok :D
Uchihaiykha : sasusaku bersatu lagi chapter depan kok, atau chapter depannya lagi (?)
Cerry kuchiki : pairing mereka tunggu sebentar lagi ya :D
Kikyo Fujkazu : hahhaaa, iya semua kacau, sampe yang nulis juga kacau =.="
Karasu uchiha : hah? Iya ya? *maaf kurang teliti*
Ngga log-in : alurnya ngga jelas? Apa karena factor nyicil mungkin ya… Itasaku ngga ada lemonnya :D
Violet-0101 : hahahaa, iya sasuke kasian.
Kim Na Na : wakakakkaa, impotent, hahahahahahaa ya ngga lah, lover eternal ya, nanti aku kasih tau dia
Wakamiya Hikaru No Log in : iya nih udah update
Defbra Ino : PJ? Mau apa? Mau apa? Tinggal bilang, hahahahaa
Ryuuta Kagami : =.= santaai santaaaiii, hahahaa
Ma Simba : hahahaa, fitri udah lumayan sembuh kok :D
Sky pea-chan : nih udah update.
